Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN KURIKULUM 2004 MATA PELAJARAN by eht15743

VIEWS: 4,070 PAGES: 93

									      PENGEMBANGAN MODEL PENILAIAN
KURIKULUM 2004 MATA PELAJARAN SOSIOLOGI
              SMA NEGERI 2 BAE KUDUS



                              SKRIPSI
  Untuk memperoleh gelar sarjana Pendidikan Sosiologi dan Antropologi
                   Pada Universitas Negeri Semarang



                                 oleh

                        Diah Wahyu Anggraini

                           NIM 3501401003




       JURUSAN SOSIOLOGI DAN ANTROPOLOGI
              FAKULTAS ILMU SOSIAL
          UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                       2006
                           PERSETUJUAN PEMBIMBING



     Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan di Sidang Panitia
Ujian Skripsi pada:
     Hari              :
     Tanggal           :




      Pembimbing I                                         Pembimbing II




Drs. Totok Rochana, M.A.                          Drs. A.T Sugeng Priyanto, M.Si
NIP: 131472272                                    NIP: 131813668




                                   Mengetahui,




                      Ketua Jurusan Sosiologi dan Antropologi




                               Dra. Rini Iswari, M.Si
                               NIP: 131567130




                                         ii
                        PENGESAHAN KELULUSAN



     Skripsi ini telah dipertahankan di dalam ruang Sidang Panitia Ujian Skripsi

Jurusan Pendidikan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas

Negeri Semarang pada:

     Hari     : Rabu

     Tanggal : 5 April 2006

                                  Penguji Skripsi:




                              Dra. Elly Kismini, M. Si
                              NIP. 131570079




            Anggota I                                Anggota II




     Drs. Totok Rochana, M. A                Drs. A.T Sugeng Priyanto, M. Si
     NIP. 131472272                          NIP. 131813668



                                    Mengetahui
                                     Dekan




                                Drs. H. Sunardi, MM
                                NIP. 130367998



                                      iii
                                PERNYATAAN



     Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil

karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau

seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini

dikutip atau diajukan berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                      Semarang,              2006




                                                      Diah Wahyu Anggraini




                                        iv
                        MOTO DAN PERSEMBAHAN


Motto
1. Tidak suatu apapun yang menimpa muslim berupa capek, sakit, susah,
   gangguan, gundah, sampai tertusuk duri, kecuali Allah SWT akan menghapus
   dosanya. (HR. Bukhari).
2. Apabila Allah SWT berkehendak terhadap hambaNya suatu kebaikan, maka Ia
   segerakan siksaan di dunia, dan apabila Allah SWT berkehendak terhadap
   seseorang hambaNya suatu keburukan maka Allah SWT menahan dosanya
   sampai pembalasanNya di hari kiamat. (HR. Turmudzi).


                                  Persembahan
                                  Skripsi ini ku persembahkan untuk:
                                  1. Ayah, bunda dan adik-adikku Bayu dan
                                     Dinar    yang     tercinta      yang   selalu
                                     mengasihi, mencintai, dan mensupport
                                     dalam setiap langkahku dan dalam
                                     penyelesaian skripsi ini.
                                  2. Seseorang yang selalu kucintai yang
                                     selalu   memberi        cinta    dan   kasih
                                     sayangnya       serta    mendorong       dan
                                     memberi semangat dalam segala hal.
                                  3. Teman-teman         seperjuangan       Pend
                                     Sosiologi dan Antropologi ‘2001 dan
                                     sahabatku Puji Harti dan Eva Puspitasari
                                     yang selalu menghiburku.




                                     v
                                      SARI

Diah Wahyu Anggraini, 2006, Pengembangan Model Penilaian Kurikulum 2004
Mata Pelajaran Sosiologi SMA Negeri 2 Bae Kudus. Skripsi. Jurusan Sosiologi
dan Antropologi.. Fakultas Ilmu Sosial. Universitas Negeri Semarang.

Kata Kunci: Model penilaian, Kurikulum 2004
Perubahan kurikkulum yang dilakukan oleh pemerintah adalah suatu upaya untuk
meningkatkan mutu pendidikan secara nasional. Pengembangan penilaian yang
dilakukan di SMA negeri 2 Bae Kudus dilakukan untuk menyempurnakan dari
tiga ranah penilaian yang ada pada kurikulum 2004, yaitu ranah kognitif, afektif,
dan psikomotorik. Dengan adanya pengembangan penilaian yang digunakan oleh
guru sosiologi diharapkan akan dapat mencapai tujuan dari kurikulum 2004.
      Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah: 1) Pengembangan
model penilaian apa yang digunakan dalam kurikulum 2004 Mata Pelajaaran
Sosiologi SMA Negeri 2 Bae Kudus? 2) Alasan penggunaan pengembangan
model penilaian pada kurikulum2004? 3) Apa kekurangan dan kelebihan dari
pengembangan model penilaian kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi yang
digunakan?. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengembangan
model penilaian dari ketujuh teknik yang digunakan serta mengetahui alasan
penggunaan pengembangan penilaian tersebut, dan dapat mengetahui kekurangan
dan kelebihan dari pengembangan model penelitian yang digunakan dalam
kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae Kudus.
      Untuk menjawab permasalahan, metode yang digunakan adalah metode
kualitatif. Sumber data penellitian di dapat dari informan dan dokumen. Metode
pengumpulan data bersumber dari dokumentasi, wawancara, dan observasi.
Validitas data menggunakan trianggulasi sumber dan metode penelitian digunakan
untuk menguji keabsahan data. Analisis data yang digunakan adalah non statistik
dengan prosedur sebagai berikut; pengumpulan data, reduksi data, penyajian data,
dan penarikan simpulan atau verifikasi.
      Hasil penilaian menunjukkan bahwa dalam pengembangan model penilaian
kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi SMA Negeri 2 Bae Kudus, dari tujuh
teknik penilaian hanya menggunakan 5 (lima) macam pengembangan atau teknik
yaitu penilaian portofolio, penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian diri,
dan penilaian tes tertulis. Pemilihan dari keempat teknik tersebut disesuaikan
dengan situasi, kondisi, materi, dan sarana prasarana yang tersedia. Dari
pengembangan penilaian yang digunakan akan menyempurnakan dari penilaian
kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga dalam menilai sesuai dengan
ketentuan dan penilaian akan bersifat objektif dan valid. Teknik-teknik yang ada
tidak lepas dari adanya kakurangan dan kelebihan, kekurangannya secara umum
antara lain kurang tepatnya siswa dalam mengumpulkan tugas dan pemahaman
materi yang kurang, selain itu kelebihan dari teknik penilaian secara umum adalah
dapat mengetahui perkembangan prestasi siswa dan merangsang siswa untuk lebih
giat belajar, dari teknik tersebut dan diharapkan guru dapat mensikapi dari
kekurangan yang ada.



                                        vi
      Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dalam memberikan
penilaian guru harus lebih kreatif, yaitu dengan menggunakan tujuh teknik
penilaian yang sesuai dengan Mata Pelajaran Sosiologi serta mengetahui
kekurangan dan kelebihan dari teknik yang digunakan, maka dalam memberi
penilaian akan lebih baik dan sesuai dengan kurikulum 2004. Pengembangan
penilaian tersebut diharapkan akan membuat siswa lebih aktif dalam pelaksanaan
proses belajar mengajar yang sesuai dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi,
sehingga akan mencetak Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkopeten dan
dapat meningkatkan mutu Pendidikan Nasional.
      Saran Pertama, guru hendaknya lebih giat dalam mengikuti penataran atau
diklat untuk meningkatkan pengetahuan tentang penilaian dalan kurikulum 2004.
Kedua, guru diharapkan lebih kreatif dalam memberikan materi dan penilaian agar
hasilnya dapat lebih valid dan objektif. Ketiga, siswa harus giat belajar agar dalam
mengerjakan tugas dapat berhasil dengan baik dan tepat waktu.




                                        vii
                            KATA PENGANTAR



     Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadiran Allah S.W.T yang telah

memberikan petunjuk, kekuatan, dan rahmat-Nya, sehingga penulis dapat

menyelesaikan skripsi dengan baik.

     Skripsi ini sebagai syarat untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan

Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

     Dalam kesempatan ini, perkenankanlah penulis mengucapkan terima kasih

kepada semua pihak yang telah membantu, baik dalam penelitian maupun

penyusunan skripsi. Ucapan terima kasih kepada:

1. Drs.A.T Soegito, S.H, M.M selaku Rektor Universitas Negeri Semarang.

2. Drs. Sunardi, M.M selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri

   Semarang.

3. Dra. Rini Iswari, M.Si selaku Ketua Jurusan Sosiologi dan Antropologi

   Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Semarang.

4. Drs. Totok Rochana, M.A selaku pembimbing I yang telah banyak membantu

   dan membimbing, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan baik.

5. Drs. A.T. Sugeng Priyanto, M.Si selaku pembimbing II yang telah sabar

   membimbing penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan

   baik.

6. Dra. Hj. Sutarsih, M.ed selaku kepala sekolah SMA Negeri 2 Bae Kudus yang

   telah memberikan ijin penelitian.




                                       viii
7. Bapak dan ibu guru SMA Negeri 2 Bae Kudus yang telah meluangkan waktu

   dan tenaga untuk membantu penyelesaian dalam penulisan skripsi ini.

8. Semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penulisan skripsi ini.




                                                  Semarang               2006



                                                             Penulis




                                      ix
                             DAFTAR ISI

                                                                 Halaman

HALAMAN JUDUL………………………………………………………. i

PERSETUJUAN PEMBIMBING…………………………………………. ii

PENGESAHAN KELULUSAN…………………………………………… iii

PERNYATAAN…………………………………………………………… iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………………………. v

SARI …………………………………………………………………….… vi

KATA PENGANTAR…………………………………………………...… viii

DAFTAR ISI……………………………………………………………..…x

DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………….… xii

BAB I PENDAHULUAN……………………………………………….…. 1

  A. Latar Belakang…………………………………………………...… 1

  B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah……………………………… 5

  C. Perumusan Masalah…………………………………………...…… 8

  D. Tujuan Penelitian……………………………………………...…… 8

  E. Kegunaan Penelitian……………………………………………….. 9

  F. Sistematika Penulisan Skripsi……………………………………… 9

BAB II PENELAAHAN KEPUSTAKAAN………………………………. 11

  A. Kurikulum 2004 di SMA…………………………………………... 11

  B. Pengertian Penilaian………………………………………………...15

  C. Pengembangan Model Penilaian Kurikulun Berbasis Kompetensi... 21

  D. Mata Pelajaran Sosiologi…………………………………………... 32



                                   x
  E. Kerangka Berfikir………………………………………………….. 38

BAB III METODE PENELITIAN………………………………………… 40

  A. Lokasi Penelitian…………………………………………………… 40

  B. Fokus Penelitian……………………………………………………. 41

  C. Sumber Data Penelitian……………………………………………..42

  D. Metode Pengumpulan Data………………………………………… 42

  E. Validitas Data……………………………………………………….44

  F. Metode Analisis Data………………………………………………. 45

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN…………………... 48

  A. Hasil Penelitian…………………………………………………….. 48

  B. Pembahasan Hasi Penelitian……………………………………….. 66

BAB V PENUTUP………………………………………………………… 76

  A. Simpulan…………………………………………………………… 78

  B. Saran……………………………………………………………….. 79



DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………… 80

LAMPIRAN-LAMPIRAN………………………………………………....




                          xi
                                      BAB I

                               PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

     Perkembangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan bermasyarakat,

bernegara, bangasa, dan bernegara di Indonesia tidak lepas dari pengaruh

perubahan global, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, serta seni dan

budaya. Perkembangan dan perubahan secara terus menerus ini menuntut

perlunya perbaikan sitem pendidikan nasional termasuk penyempurnaan

kurikulum   untuk    mewujudkan      masyarakat    yang   mampu     bersaing   dan

menyesuaikan diri dengan perubahan zaman tersebut.

     Atas dasar tuntutan mewujudkan masyarakat yang lebih maju diperlukan

upaya peningkatan mutu pendidikan yang harus dilakukan secara menyeluruh

mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-

aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan,

dan seni. Pengembangan aspek-aspek tersebut bermuara pada kompetensi peserta

didik untuk bertahan hidup menyesuaikan diri dan berhasil dimasa datang.

Dengan demikian, peserta didik memiliki ketangguhan, kemandirian, dan jati diri

yang dikembangakan melalui pembelajaran dan dan pelatihan yang dilakukan

secara   bertahap   dan   berkesinambungan.       Oleh    karena   itu   diperlukan

penyempurnaan kurikulum sekolah dan madrasah yang bebasis pada kompetensi

peserta didik. (Depdiknas 2004:1).

     Penyusunan kurikulum 2004 yang berdasarkan pada kompetensi dilakukan

untuk menjawab tuntutan masyarakat terhadap dunia pendidikan dan untuk



                                        1
                                                                                 2



memenuhi peraturan perundang-undangan yang berlaku. Tuntutan masyarakat

berupa harapan agar pendidikan mampu mengembangkan potensi peserta didik

menjadi kompeten dalam menjalani dan mengembangakan kahidupan pribadinya

serta kehidupan sebagai anggota masyarakat dan bangsa.

     Dalam kurikulum 2004, kompetensi dirumuskan dalm bentuk hasil belajar

yang harus dikuasai oleh peserta didik melalui pengalaman belajar yang

berkesinambungan, menyeluruh, dan berkelanjutan. Akumulasi kompetensi yang

dikuasai peserta didik melalui pengalaman belajar dari seluruh mata pelajaran

disetiap satuan pendidikan dimanakan kompetensi lintas kurikiulum. Kompetensi

lintas kurikulum merefleksikan kecakapan yang dapat digunakan dalm kehidupan

dimasyarakat dan kemampuan dasar untuk belajar sepanjang hayat. (Depdiknas

2004:1).

     Peraturan perundang-undangan yang dijadikan pertimbangan dalam

penyusunan kurikulum 2004 adalah Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003,

tentang sistem Pendidikan Nasional. Dalam Undang-Undang Nomor 20

Tahun2004 dinyatakan bahwa kurikulum perlu dikembangkaan berdasarkan

preinsip diversifikasi sesuai dengan pendidikan, potensi daerah, dan peserta didik.

(Depdiknas 2004:1).

     Berkaitan dengan perubahan kurikulum, berbagai pihak menganalisis dan

melihat perlunya diterapkan kurikulum berbasis kompetensi, yang dapat

membekali peseta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan

jaman dan reformasi. Kurikulum berbasis kompetensi diharapkan mampu

memecahkan berbagai persoalan bangsa, khususnya perencanaan, pelaksanaan,
                                                                               3



dan evaluasi terhadap sistam pendidikan secara selektif, efisien, dan berhasil

guna.

        Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) mulai diberlakukan secara

berangsur-angsur pada jenjang pendidikan. Perubahan kurikulum ini harus

diantisipasi dan dipahami oleh berbagai pihak, karena kurikulum sebagai rencana

pembelajaran memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam kesluruhan

kegiatan pembelajaran yang akan menentukan proses dan hasil pendidikan.

        Kurikulum berbasis kompetensi (KBK) merupakan salah satu upaya

pemarintah untuk mencapai keunggulan masyarakat bangsa dalam penguasaan

ilmu dan teknologi seperti yang digariskan dalam garis besar haluan Negara.

(Mulyasa 2004:8).

        Pemberdayaan sekolah dengan memberikan otonomi yang lebih besar, di

samping menunjukkan sikap tanggap pemerintah terhadap tuntutan masyarakat

juga dapat di tujukan sebagai sarana peningkatan efisiensi, mutu, dan pemerataan

pendidikan. Penakanan aspek-aspek tersebut dapat berubah dari waktu ke waktu

sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh pemerintah.

        Sekolah sebagai pelaksanaan pendidikan, baik kepala sekolah, guru, maupun

peserta didik sangat berkepentingan dan akan terkena dampaknya secara langsung

dari setiap perubahan kurikulum.

        Keberhasilan perubahan kurikulum disekolah sangat bergantung pada guru

dan kepala sekolah, karena dua figur tersebut merupakan kunci yang menentukan

serta menggerakkan berbagai komponen dan dimensi sekolah. Dalam posisi
                                                                                 4



tersebut, baik buruknya komponen sekolah yang sangat ditentukan oleh kualitas

guru dan kepala sekolah tanpa mengurangi arti pentig tenaga kependidikan lain.

     Keterlibatan kepala     sekolah dan guru dalam pengambilan keputusan.

Keputusan sekolah juga mendorong rasa kepemilikan yang tinggi terhadap

sekolahnya yang pada akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan

sumberdaya yang ada seefisien mungkin untuk mencapai hasil yang optimal.

     Tujuan utama KBK adalah memandirikan atau memberdayakan sekolah

dalam mengembangkan kompetensi yang akan disampaikan kepada peserta didik

sesuai dengan kondisi lingkungan. Pemberian wewenang (otonomi) kepada

sekolah diharapkan dapat mendorong sekolah untuk melakukan pengambilan

keputusan secara partisipatif. Disamping lulusan yang kompeten, peningkatan

mutu dalam KBK antara lain akan diperoleh melalui reformatif sekolah, yang

ditandai dengan meningkatnya partisipasi orang tua, kerjasama dengan dunia

industri, kelenturan pengelolaan sekolah, peningkatan profesionalisme guru,

adanya hadiah dan hukuman sebagai kontrol, serta hal lain yang dapat

menumbuhkembangkan budaya mutu dalam suasana yang kondusif.

     Disamping kepala sekolah, guru merupakan faktor penting yang besar

pengaruhnya    terhadap    keberhasilan   implementasi   KBK,   bahkan    sangat

menentukan berhasil tidaknya peserta didik dalam belajar. Penyampaian materi

yang harus tepat pada siswa menghasilkan hasil yang memuaskan. Salah satu hal

yang perlu di pahami guru untuk mengefektifkan implementasi KBK disekolah

adalah bahwa semua manusia [siswa] dilahirkan dengan rasa ingin tahu. (Mulyasa

2004:10).
                                                                               5



     Berdasarkan    uraian   diatas   berkaitan   dengan   pengambangan    untuk

pencapaian materi dengan sempurna dalam proses pengajaran, maka peneliti

berminat untuk mengadakan penelitian dengan judul “Pengembangan Model

Penilaian Kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae

Kudus”.



B. Identifikasi dan Pembatasan Masalah

1. Identifikasi Masalah

     Pengembangan kurikulum semakin menuntut siswa belajar lebih keras lagi

karena materi yang semakin banyak dengan tuntutan waktu yang terbatas. Peran

guru sangat diperlukan, karena guru sebagai fasilitator lebih dituntut untuk bisa

menyampaikan materi kepada siswa dengan tepat dan berhasil guna. Dengan

model penilaian yang sudah ditetapkan maka guru harus dapat mengembangkan

model penalaian tersebut dengan metode-metode pembalajaran, agar siswa lebih

memahami materi yang di sampaikan oleh guru.

     Untuk mengetahui seberapa jauh peserta didik telah memiliki kompetensi

dasar perlu dikembangkan suatu sistem penilaian. Sistem penilaian yang

dilakukan harus mencakup seluruh kompetensi dasar dengan menggunakan

indikator yang ditetapkan guru. Sistem penilaian berbasis kompetensi yang

direncanakan adalah sistem penilaiaan yang berkelanjutan. Berkelanjutan dalam

arti semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk menentukan

kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta mengetahui kesulitan

peserta didik.
                                                                               6



     Hasil penilaian dianalisis untuk menentukan tindakan perbaikan, berupa

program remidi. Apabila peserta didik belum mengusai suatu kompetensi dasar,

maka harus mengikuti proses pembelajaran, sedangkan yang sudah menguasai

kompetensi dasar diberi tugas pengayaan. (Depdiknas 2003:19-20).



2. Pembatasan Masalah

     Berdasarkan judul diatas, maka untuk menghindari agar persoalan yang

dibicarakan dalam penelitian ini tidak menyimpang dari tujuan yang ditetapkan

dan menghindari terjadinya salah penafsiran pada istilah yang digunakan, maka

perlu adanya penegasan istilah yang meliputi:

a. Penilaian

     Penilaian adalah suatu proses sistematis yang mengandung pengumpulan

informasi, menganalisis, dan menginterpretasikan informasi tersebut untuk

membuat keputusan-keputusan. (Depdiknas 2004:4). Dengan kata lain, keputusan-

keputusan pendidikan dibuat berdasarkan hasil analisis dan interpretasi atas

informasi yang terkumpul. Informasi yang terkumpul dapat dalam bentuk angka

melalui tes dan deskripsi verbal.

     Pengembangan penilaian disini adalah dengan menggunakan tujuh teknik

penilaian yang sudah ada dalam kurikulum 2004. Dari penilaian yang sudah

ditentukan dalam kurikulum 2004, yaitu penilaian kognitif, afektif, dan

psikomotorik, kemudian dapat dikembangkan dengan tujuh teknik penilaian

diantaranya penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian tertulis, penilaian

proyek, penilaian produk, penilaian portofolio, dan penilaian diri. Dengan
                                                                               7



menggunakan ketujuh teknik tersebut diharapkan akan mencapai penilaian yang

sesuai dengan kurikulum 2004.

b. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

     Kurikulum berbasis kompetesi (KBK) dapat diartikan sebagai suatu konsep

kurikulum yang menekankan pada pengembangan kemampuan melakukan

(kompetisi) tugas-tugas dengan standar performasi tertentu, sehingga hasilnya

dapat dirasakan oleh peserta didik, berupa penguasaan terhadap seperangkat

kompetensi tertentu. (Mulyasa 2004:39). Kurikulum menurut Depdiknas (2004:2)

adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan

pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Kurikulum berbasis

kompetensi memfokuskan pada pemperolehan kompetisi-kompetisi tertentu oleh

peserta didik.

c. Mata Pelajaran Sosiologi

     Mata Pelajaaran Sosiologi adalah suatu ilmu yang diterapkan pada jenjang

SMA merupakan cabang dari ilmu sosial yang memerlukan obyek kajian dan

ruang lingkup. (Depdiknas 2003:8). Obyek kajian sosiologi adalah masyaarakat

yang dilihat dari sudut pandang antar manusia, dan proses yang timbul dari proses

hubungan manusia di dalam masyarakat. (Soekanto 2001:25).

     Dari berbagai macam pengertian tentang Sosiologi di atas maka dapat

disimpulkan bahwa Sosiologi adalah suatu disiplin ilmu yang mempelajari tentang

masyarakat yang saling berinteraksi baik antar individu atau kelompok dimana
                                                                           8



kelompok itu timbul adanya hubungan timbal balik, proses sosial bahkan

perubahan masyarakat.

     Dalam pelaksanaan penyampaian Mata Pelajaran Sosiologi di perankan oleh

seorang guru. Guru sekaligus sebagai pelaksana bertanggung jawab mengatur,

walaupun tingkat otoritasnya tidak sama dalam pengajaran.



C. Perumusan Masalah

     Dari uraian diatas muncullah permasalahan diantaranya:

1. Apa saja pengembangan yang digunakan dalam model penilaian kurikulum

   2004 Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae Kudus?

2. Apa alasan penggunaan pengembangan model penilaian kurikulum 2004 kelas

   X Mata Pelajaran Sosiologi SMU Negeri 2 Bae Kudus?

3. Apa kekurangan dan kelebihan pengembangan yang digunakan dalam model

   penilaian kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae

   Kudus?



D. Tujuan Penelitian

     Tujuan dari penelitian ini adalah; pertama untuk mengetahui pengembangan

dan alasan penggunaan teknik penilaian pada penilaian kurikulum 2004 Mata

Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae Kudus, Kedua untuk mengetahui

kekurangan dan kelebihan pengembangan model penilaian kurikulum 2004 Mata

Pelajaran Sosiologi yang di gunakan di SMA Negeri 2 Bae Kudus.
                                                                                  9



E. Kegunaan Penelitian

1. Secara Teoritis

     Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran

dalam usaha mengembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan yaitu

tentang pengembangan model penilaian kurikulum 2004 kelas X Mata Pelajaran

Sosiologi



2. Secara Praktis

     Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada

pelaksana    pendidikan    terutama   pada    guru   sosiologi,   yaitu   mengenai

pengembangan model penilaian pada kurikulum 2004 dengan menggunakan tujuh

teknik penilaian kurikulum 2004, sebagai masukan dalam penilaian pada

kurikulum 2004, dan sebagai alat penyempurna penilaian kognitif, afektif, dan

psikomotorik. Selain itu juga diharapkan berguna bagi mereka yang tertarik

meneliti masalah ini lebih lanjut.



F. Sistematika Penulisan Skripsi

     Secara garis besar penulisan skripsi ini terdiri sebagi bagian-bagian sebagain

berikut:

1. Bagian Pendahuluan Berisi

     Di uraikan halam judul, persetujuan pembimbing, pengesahan kelulusan,

pernyataan , motto dan persembahan, sari, prakata, daftar isi, daftar lampiran.
                                                                                 10



2. Bagian Isi

      BAB I Pendahuluan, berisi latar belakang, identifikasi dan pembatasan

masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan

sistematika skripsi.

      BAB II Penelaahan Kepustakaan, yang berisi penilaian kurikulum 2004 dan

pengembangan model penilaian dengan tujuh teknik penilaian, kedudukan

kurikulum 2004 di SMA, Mata Pelajaran Sosiologi, dan kerangka berfikir.

      BAB III Metode Penelitian, berisi tentang lokasi penelitian, fokus penelitian,

sumber data penelitian, metode pengumpulan data, validitas data, dan metode

analisis data.

      BAB IV Hasil Penelitian, berisi tentang laporan hasil penelitian dan

pembahasan hasil penelitian.

      BAB V Penutup, berisi tentang kesimpulan yang didasarkan pada hasil

penelitian kemudian dilanjutkan dengan saran-saran.
                                    BAB II

                     PENELAAHAN KEPUSTAKAAN



A. Kurikulum 2004 di SMA

     Kurikulum disempurnakan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara

nasional. Mutu pendidikan yang tinggi diperlukan untuk menciptakan kehidupan

yang cerdas, damai, terbuka, berdemokrasi, dan mampu bersaing sehingga dapat

meningkatkan kesejarteraan semua warga negara Indonesia. Penyempurnaan

kurikulum dilakukan secara responsive terhadap penerapan hak asasi manusia,

kehidupan demokratis, globalisasi, dan otonomi daerah.

     Kurikulum Mata Pelajaran Sosiologi ini adalah salah satu bentuk

pengimplementasian kebijakan pemerintah tentang kurikulum 2004. Dalam

pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, daerah atau sekolah perlu menjabarkan

kurikulum berbasis kompetensi ini dalam bentuk silabus yang memuat target

pencapaian secara nasional dan diperkaya dengan materi-materi lokal sesuai

dengan kondisi, kebutuhan, dan potensi daerah. (Depdiknas 2001:6-7)

     Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh kualitas sumber daya manusia.

Kualitas sumber daya manusia bergantung oleh kualitas pendidikan. Peran

pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai,

terbuka, dan demokratis. Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan harus selalu

dilakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan.




                                       1
                                                                             12



     Kemajuan bangsa Indonesia hanya dapat dicapai melaui penataan

pendidikan yang baik. Upaya peningkatan mutu pendidikan diharapkan dapat

menaikkan harkat dan martabat manusia Indonesia.

     Kurikulum hanya sebuah ‘alat’ sebagai sebuah alat untuk mencapai tujuan

pendidikan, kurikulum harus efektif dan efisien jika sebuah kurikulum tidak

memadai lagi, maka kurikulum perlu disempurnakan. (Noorhadi 2004:1).

     Penyempurnaan kurikulum tersebut mengacu pada Undang-Undang Nomor

20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang berkenaan dengan pasal-

pasal antara lain; pasal 3 tentang Pendidikan Nasional, berfungsi mengembangkan

kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat.

     Kemudian pasal 35 ayat (1) tentang standart nasional pendidikan, Pasal 36

ayat (1) dan (2) tentang pengembangan kurikulum yang dilakukan dengan

mengacu pada standart nasional dan tujuan pendidikan, pasal 37 (1) tentang

muatan wajib pada kurikulum pendidikan dasar dan menengah, pasal 28 ayat (1)

tentang kerangka dasar dan struktur kurikulum dasar dan menengah ditetapkan

oleh pemerintah dan ayat (2) tentang peran koordinasi dan supervise dinas

pendidikan. (Noorhadi 2004:3-4).

     Pengertian kurikulum menurut Depdiknas (2003:7), adalah seperangkat

rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang

digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar untuk

mencapai tujuan pendidikan tertentu. Menurut Oemar Hamalik, (1990:4)

mengatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus

ditempuh oleh murid untuk memperoleh ijasah.
                                                                              13



     Adapun pengertian kurikulum yang lain adalah, bahwa kurikulum adalah

seperangkat rencana dan pengaturan mengetahui tujuan, isi, dan bahan pelajaran

serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan

pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. (Depdiknas 2004:29).

Sesuai dengan pengertian tersebut, kurikulum 2004 berisi seperangkat rencana

dan pengaturan tentang kompetisi untuk mencapai tujuan pendidikan nasional dan

cara pencapaian kompetisi yang sesuai dengan keadaan dan kemampuan daerah.

     Dalam kurikulum ini kompetensi diartikan sebagai pengertian, keterampilan,

sikap, dan nilai-nilai yang diwujudkan dalam kebiasaan berpikir, bersikap dan

bertindak. Kompetensi dikenal melalui sejumlah hasil belajar dan indikator yang

dapat diukur dan diamat. Kompetensi dikenal melalui sejumlah hasil belajar dan

indikator bahan pelajaran (substantive, proses, tidakan, nilai) yang dikembangkan

secara kontekstual dan berwawasan nasional.

     Pada pendidikan kejuruan, kompetensi ditetapkan berdasarkan standar

kompetensi yang di dunia kerja yang akan dimasuki oleh para lulusan. Dan pada

pendidikan umum, kompetensi ditetapkan berdasarkan identifikasi kemampuan

yang diperlukan masyarakat dan tradisi keilmuan.

     Dari dua pengertian tentang kurikulum diatas maka dapat disimpulkan

bahwa kurikulum adalh suatu bentuk pengembangan kemampuan melaui standar

tertentu dan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional.

     Kurikulum berbasis kompetensi merupakan seperangkat rencana dan

pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa,
                                                                               14



penilaian, kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan

dalam pengembangan kurikulum sekolah.

      Kurikulum berbasis kompetensi berorientasi pada

a. Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada peserta didik melalui

     seperangkat pengalaman belajar yang bermakna.

b. Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.

     (Depdiknas 2002:1)

1. Misi dan Visi Kurikulum 2004

Misi Kurikulum 2004

      Upaya peningkatan mutu pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh

mencakup pengembangan dimensi manusia Indonesia seutuhnya, yakni aspek-

aspek moral, akhlak, budi pekerti, perilaku, pengetahuan, kesehatan, keterampilan,

dan seni.

Visi Kurikulum 2004

a)   Mengembangkan kurikulum berbasis kompetensi yang bertitik tolak dari

     kompetensi yang seharusnya dimiliki siswa setelah menyelesaikan pendidikan,

     yakni: pengetahuan, keterampilan, dan nilai serta pola beroikir dan bertindak

     sebagai refleksi atas pemahaman dan penghayatan yang telah dipelajari oleh

     siswa

b) Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi mendudukkan kompetensi

     siswa dengan acuan menentukan materi pelajaran yang digunakan sebagai

     bahan untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Dalam kurikulum
                                                                          15



   berbasis kompetensi, sebuah mata pelajaran berfungsi sebagai wahana

   sekaligus substansi yang perlu dikuasai siswa

c) Pengembangan kurikulum berbasis kompetensi memberikan perhatian pada

   hasil. Orientasi pada hasil menekankan pada penguasaan pengetahuan dan

   keterampilan, serta pemahaman dan penghayatan nilai-nilai secara dan

   terwujud dalam berpikir, berbuat, atau bertindak sebagai dampak pemahaman

   dan penghayatan pengetahuan, keterampilan dan nilai-nilai.

d) Untuk mencapai itu, diterapkan berbagai metode, srategi, dan teknik

   pembelajaran yang dapat meningkatkan kompetensi siswa.

2. Kurikulum berbasis kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

a. Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual

   maupun klasikal.

b. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcome) dan keberagaman.

c. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang

   bervariasi.

d. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang

   memenuhi unsur edukatif.

e. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan

   atau pencapaian suatu kompetensi. (Depdiknas 2002:2-3).



B. Pengertian Penilaian

     Penilaian suatu proses sistematis yang mengandung pengumpulan informasi,

menganalisis, dan mengintepretasikan informasi tersebut untuk membuat
                                                                                   16



keputusan-keputusan berdasarkan hasil analisis dan intepretasi atas informasi

yang terkumpul data dapat dalam bentuk angka melalui tes dan atau diskripsi

verbal. (Depdiknas, 2003: 4). Dalam hal ini penilaian yang digunakan dalam

kurikulum 2004 adalah penilaian berbasis kelas.

     Sedangkan penilaian berbasis kelas merupakan penilaian yang dilakukan

oleh guru untuk mengetahui kemajuan dan hasil belajar siswa, mendiagnosa

kesulitan belajar, memberikan umpan balik, ataupun perbaikan proses belajar

mengajar, dan penentuan kenaikan kelas. (Nurhadi, 2004: 162). Penilaian kelas

terdiri atas ulangan harian, pemberian tugas, dan ulangan umum. Bahan penilaian

kelas dikembangkan berdasarkan pada kurikulum dan dilaksanakan sesuai dengan

kalender pendidikan.

     Pengertian lain menyebutkan bahwa penilaian berbasis kelas merupakan

penilaian yang dilaksanakan terpadu dengan kegiatan belajar mengajar dikelas

melalui pengumpulan kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan

(proyek), kinerja (performance), dan tes tertulis (paper). (Depdikbud, 2002: 21)

     Jadi dapat ditarik kesimpulan dari berbagai pengertian tentang penilaian

kurikulum 2004 adalah suatu proses pengumpulan informasi yang digunakan

untuk mengukur kemampuan siswa untuk dalam mengetahui kesulitan siswa

dalam proses belajar mengajar yang dilakukan baik dengan cara ulangan harian,

pemberian tugas, dan ulangan umum.

     Data yang diperoleh guru selama pembelajaran berlangsung dapat dijaring

dan dikumpulkan melalui hasil yang akan dinilai. Dibawah ini adalah kriteria

yang perlu diperhatikan dalam penilaian, antara lain:
                                                                               17



1. Penilaian dapat dilakukan melalui tes dan non tes.

2. Penilaian harus mencakup tiga aspek kemampuan yaitu; pengetahuan,

   keterampilan, dan sikap.

3. Mengunakan berbagai cara penilaian pada waktu kegiatan belajar sedang

   berlangsung.

4. Pemilihan alat dan jenis penilaian berdasarkan rumusan tujuan pembelajaran.

5. Mengacu pada tujuan dari fungsi penilaian, misal pemberian umpan balik,

   memberikan laporan pada orang tua, dan pemberian informasi pada siswa

   tentang tinkat keberhasilan belajarnya.

6. Alat penilaian harus mendorong kemampuan penalaran dan kreatifitas siswa,

   misalnya testertulis uraian, portofolio, hasil karya siswa, observasi dan lain-

   lain.

7. Mengacu pada prinsip diskriminasi, yakni untuk memilih-milih mana siswa

   yang berhasil dan mana yang gagal dalam menerima pembelajaran.

   (Depdikbud, 2003: 37).

     Pendekatan penilaian berbasis kelas adalah pendekatan penilaian yang lebih

menitik beratkan pada penilaian sebagai alat pembelajaran, bukan tujuan

pembelajaran. Proses penilaian dikembalikan pada konsep awal yaitu menilai apa

yang harus yang dinilai. (Norhadi, 2004: 164).

     Kemudian dalam penilaian kurikulum 2004 mempunyai model penilaian

berbasis kelas yang mengacu pada prinsip dasar sebagai berikut:
                                                                                  18



1. Valid

     Penilaian harus memberikan informasi yang akurat tentang hasil belajar,

misalkan apabila pembelajaran menggunakan pendekatan eksperimen maka

kegiatan melakukan eksperimen harus menjadi salah satu objek yang dilihat.

2. Mendidik

     Penilaian harus memberikan sumbangan positif terhadap pencapaian belajar

siswa. Hasili penilaian harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan

bagi siswa yang berhasil atau sebagai pemicu semangat belajar siswa bagi yang

kurang berhasil.

3. Berorientasi pada Kompetisi

     Penilaian harus menilai pencapaian kompetisi yang dimaksud dalam

kurikulum.

4. Adil

     Penilaian harus adil terhadap semua siswa dengan tidak membedakan latar

belakang sosial-ekonomi, budaya, bahasa, dan kelamin.

5. Terbuka

     Kriteria penialain dan dasar pengambilan keputusan harus jelas dan terbuka

bagi semua pihak (siswa, guru, sekolah, orang tua, dan pihak lain yang terkait)

6. Berkesinambungan

     Penilaian dilakukan secara berencana, bertahab, dan terus menerus untuk

memperoleh gambaran tentang perkembangan belajar siswa.
                                                                           19



7. Menyeluruh

     Penilaian dapat dilakukan dengan berbagai teknik dan prosedur termasuk

mengumpulkan berbagai hasil belajar siswa. Penilaian meliputi pengetahuan

(kognitif), keterampilan (psikomotor), sikap dan menilai (afektif)

8. Bermakana

     Penilaian hendakanya mudah dipahami, mempunyai arti, berguna, dan bisa

ditindaklanjuti oleh semua pihak. (Noorhadi 2004:164)

1. Tujuan Penilaian

     Penilaian dilaksanakan dalam hubungannya dengan tujuan pendidikan yaitu:

1. Mengetahui Status Siswa.

   Agar diketahui status siswa saat tertentu, apakah memperoleh kemajuan atau

   tidak dalam mengikuti pembelajaran dan hasil evaluasi oleh guru yang bias

   menjawabnya.

2. Mengadakan Seleksi

   Hasil penilain bertujuan untuk memilih siswa yang dapat mewakili sekolah

   dalam suatu lomba.

3. Mengetahui Prestasi siswa.

   Agar diketahui prestasi atau pengetahuan yang dicapai siswa, guru haruslah

   mengadakan penilaian.

4. Mengatahui Motivasi Siswa

   Dengan demikian diketahui hasil belajar yang dicapai dan sikap siswa akan

   menjadi pendorong terhadap siswa itu untuk belajar lebih giat.
                                                                          20



5. Mengatahui Kelemahan dan Kesulitan Siswa

   Atas dasar penilaian yang dilakukan oleh guru, maka akan diketahui latar

   belakang siswa yang mengalami kelemahan dan kesulitan belajar.

6. Mengadakan Pengelompokan

   Siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok kecil yand homogen agar

   memudahkan      dalam     pelaksanaan   proses   pembelajaran.   Umumnya

   pengelompokan ini didasarkan pada tingkatan kemampuan dan keterampilan,

   usia, jenis kelamin, dan minat.

7. Menempatkan Siswa

   Untuk menempatkan siswa dalam situasi pembelajaran yang tepat dan sesuai

   dengan kemampuan yang dimiliki siswa.

8. Memberikan Data Pada Pihak Tertentu.

   Dengan memberikan data pada sekolah atau lembaga pendidikan dapat

   melaporkan hasil belajar siswa pada orang tua murid dan juga masyarakat

   yang memerlukan keterangan. (Murdiana 2005:18-19)



2. Cara Pemberian Nilai

     Dalam penialaia yang dilakukan oleh guru ada dua cara yang dapat

dilakukan yaitu:

(1) Tes, biasanya dalam tes digunakan cara seperti tes esai, jawaban singkat,

   pilihan ganda. Tes dapat dilakukan pada setiap akhir pokok bahasan yang

   dinamakan tes formatif, dan tes yang dilakukan pada akhir semester yang

   dinamakan tes sumatif.
                                                                                 21



(2) Non tes, biasanya dilakukan dengan cara pemberian tugas, portofolio,

   melakukan pengamatan, membaca, menyimpulkan, melakukan penelitian,

   meresum, membuat kliping, dan yang lainnya. Sedangkan untuk penilaian

   sikap guru perlu mambuat pedoman pengamatan dengan menggunakan skala

   sikap.

     Ada dua cara pemberian nilai yaitu:

1. Cara kuantitatif, yaitu penyajuan hasil penilaian dengan menggunakan angka

   dengan berpegang pada rentan angka satu sampai sepuluh

2. Cara kualitatif, yaitu penyajian hasil penilaian dengan menggunakan bentuk

   pernyataan verbal, misal baik, baik sekali, kurang, kurang sekali. (Depdikbud

   1995:35).



C. Pengembangan Model Penilaian Kurikulum Berbasis Kompetensi

     Untuk mengetahui sebarapa jauh peserta didik telah dimiliki kompetensi

dasar perlu dikembangkan suatu sistem penilaian. Sistem penilaian yang

dilakukan harus mencakup seluruh kompetensi dasar dengan menggunakan

indikator yang ditetapkan oleh guru. Sistem penilaian berbasis kompetensi yang

direncanakan adalah sistem penilaian yang berkelanjutan.

     Berkelanjutan dalam semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis

untuk menentukan kompetensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta

mengetahui kesulitan peserta didik Untuk itu digunakan berbagai teknik penilaian

dan ujian, yaitu: pertanyaan lisan dikelas, kuis, ulangan harian, tugas rumah, tugas
                                                                              22



kelompok, ulangan praktek mata pelajarannya. Penentuan teknik penilaian yang

digunakan berdasarkan pada kompetensi dasar yang ingin dinilai.

     Pengembangan sistem penilaian berbasisi kompetensi dasar mencakup hal-

hal sebagai berikut:

1. Standar kompetensi: kemampuan yang hasur dimiliki oleh lulusan dalam

   setiap mata pelajran. Hal ini memiliki implikasi yang signifikan dalam

   perencanaan, metodologi, dan pemngelolaan penilaian.

2. Kompetensi dasar: kemampuan minimal dalam mata pelajaran yang harus

   dimiliki lulusan SMA.

3. Rencana penilaian: jadwal kegiatan penilaian dalam satu semester

   dikembangkan bersama dengan pengembangan silabus.

4. Proses penilaian: pemilihan dan pengembangan teknik penilaian, sistem

   pencatatan, dan pengelolaan proses.

5. Proses implementasi: menggunakan berbagai teknik penilaian.

6. Pencatatan dan pelaporan: Pengelolaan system penilaian.

     Beragam teknik dapat dilakukan untuk mengumpulkan informasi tentang

kemajuan belajar peseta didik, baik yang berhubungan dengan proses belajar

maupun hasil belajar. Teknik pengumpulan informasi tersebut pada prinsipnya

adalah cara penilaian kemajuan belajar peserta didik berdasarkan standar

kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dicapai.

     Penilaian kompetensi dasar dilakukan berdasarkan indikator-indikator

pencapaian kompetensi yang memuat satu ranah atau lebih. Dengan indikator-

indikator ini, dapat ditentukan penilaian yang sesuai. Untuk itu ada tujuh teknik
                                                                              23



yang dapat digunakan, yaitu penilaian unjuk kerja, penilaian sikap, penilaian

tertulis, penilaian proyek, penilaian produk, penilaian portofolio, dan penilaian

diri.

a). Penilaian Unjuk kerja

1. Pengertian

        Penilaian unjuk kerja merupakan penilaian yang dilakukan dengan

mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan sesuatu. Penilaian ini cocok

digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik

menunjukkan unjuk kerja. Unjuk kerja dapat diamati seperti: bermain peran,

memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi atau deklamasi, menggunakan

peralatan laboratorium, mengoperasionalkan suatu alat.

Penilaian unjuk kerja perlu mempertimbangkan hal-hal berikut:

a. Langkah-langkah kinerja yang diharapkan dilakukan peserta didik untuk

    menunjukkan kinerja dari suatu kompetensi.

b. Kelengkapan dan aspek yang akan dinilai dalam kinerja tersebut.

c. Kemampuan-kemampuan khusus yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas.

d. Upayakan kemampuan yang akan dinilai tidak terlalu banyak, sehingga semua

        dapat diamati.

e. Kemampuan yang akan dinilai diurutkan berdasarkan urutan yang akan diamati.

2. Teknik Penilaian Unjuk Kerja

        Pengamatan unjuk kerja perlu dilakukan dalam berbagai konteks untuk

menetapkan tingkat pencapaian kemampuan tertentu. Untuk mengamati unjuk

kerja peserta didik dapat menggunakan alat atau instrumen sebagai berikut:
                                                                              24



a. Daftar Cek

   Penilaian unjuk kerja dapat dilakukan dengan menggunakan daftar cek (ya-

   tidak). Pada penilaian unjuk kerja yang menggunakan daftar cek, peserta didik

   mendapat nilai apabila kriteria penguasaan kemampuan tertentu dapat diamati

   oleh penilaian. Jika tidak dapat diamati maka peserta didik tidak dapat nilai.

   Kelemahan dari cara ini adalah penilaian ini hanya memiliki dua penilaian

   mutlak. (contoh daftar cek pada hal lampiran)

b. Skala Rentang

   Penilaian unjuk kerja dengan sekala rentang memungkinkan penilai memberi

   nilai tengah terhadap penguasaan kompetensi tertentu karena pemberian nilai

   lebih dari dua skala. Skala rentang tersebut, misalnya, sangat kompeten-

   kompeten- agak kompeten- tidak kompeten. Penialaian sebaiknya dilakukan

   lebih dari satu penilai agar faktor subyektifitas dapat diperkecil dan hasil

   penilaian dapat akurat.

b). Penilaian Sikap

1. Pengertian

      Sikap berasal dari perasaan (suka- tidak suka) yang terkait dengan

kecenderungan bertindak seseorang dalam merespon sesuatu atau objek. Sikap

juga sebagai ekspresi dari nilai-nilai atau pandangan hidup yang dimiliki oleh

seseorang.

     Sikap terdiri dari tiga komponen, yakni: komponen afektif yaitu perasaan

yang dimiliki seseorang atau penilaian terhadap suatu objek. Komponen kognitif

yaitu kepercayaan atau keyakinan seseorang mengenai mengenai objek, dan
                                                                              25



komponen konatif yaitu kecenderungan untuk berperilaku atau berbuat dengan

cara- cara tertentu berkenaan dengan kehadiran objek sikap.

     Secara umum, objek sikap yang perlu dinilai dalam proses pembelajaran

berbagai macam mata pelajaran adalah sebagai berikut:

a. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap materi pelajaran.

b. Peserta didik perlu memiliki sikap posotif terhadap guru atau pengajar.

c. Peserta didik perlu memiliki sikap positif terhadap proses pembelajaran.

d. Sikap berkaitan dengan nilai-nilai atau norma-norma tertentu yang

   berhubungan dengan sutau materi pelajaran

e. Sikap berhubungan dengan kompetensi afektif lintas kurikulum yang relevan

   dengan mata pelajaran.

2. Teknik Penilaian Sikap

a. Perilaku orang pada umumnya menunjukkan kecenderungan seseorang dalam

   suatu hal. Observasi perilaku di sekolah dapat dilakukan dengan menggunakan

   buku catatan tentang kejadian-kejadian dengan peserta didik selama di

   sekolah.

b. Pertanyaan Langsung

   Kita juga dapat menanyakan secara langsung tentang sikap seseorang berkaita

   dengan sesuatu hal. Berdasarkan jawaban dan reaksi lain yang tampil dalam

   memberi jawaban dapat dipahami sikap peserta didik itu terhadap objek sikap.

c. Laporan pribadi

   Melalui menggunakan teknik ini di sekolah, peserta didik diminta membuat

   ulasan yang berisi pandangan atau tanggapan tentang suatu masalah, keadaan,

   atau hal yang menjadi objek sikap.
                                                                          26



c). Penilaian Tertulis

1. Pengertian

     Penilaian secara terlulis dilakukan dengan tes tertulis. Tes tertulis

merupakan tes dimana soal dan jawaban yang diberikan kepada peserta didik

dalam bentuk tulisan. Dalam menjawab soal peserta didik tidak selalu merespon

dalam bentuk menulis jawaban tetapi dapat juga dalam bentuk yang lain seperti

memberi tanda, mewarna, menggambar, dan lain sebagainya.

2. Teknik Penilaian

Ada dua bentuk soal tes tertulis, yaitu:

a. Soal dengan memilih jawaban

   1) pilihan ganda

   2) dua pilihan (benar- salah, ya- tidak)

   3) menjodohkan

b. Soal mensuplai- jawaban

   1) isian atau melengkapi

   2) jawaban singkat atau pendek

   3) soal uraian

d). Penilaian Proyek

1. Pengertian

     Penilaian proyek merupakan kegiatan penilaian terhadap suatu tugas yang

harus diselesaikan dalam periode atau waktu tertentu. Tugas tersebut berupa

investigasi sejak dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian,

pengolahan, dan penyajian data.
                                                                               27



     Penilaian   proyek      dapat   digunakan,   diantaranya   untuk   mengetahui

pemahaman dan pengetahuan dalam bidang tertentu, kemampuan peserta didik

mengaplikasikan pengetahuan tersebut dalam penyelidikan tertentu, dan

kemampuan peserta didik dalam menginformasikan subyek tertentu secara jelas.

     Dalam penilaian proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu

dipertimbangkan, Yaitu:

a. Kemampuan pengelolaan

   Kemampuan peserta didik dalam memilih topic dan mencari informasi serta

   dalam mengelola waktu pengumpulan data dan penulisan laporan.

b. Relevansi

   Kesesuaian dalam mata pelajaran, dalam hal ini mempertimbangkan tahap

   pengetahuan, keterampilan, dan pemahaman dalam pembelajaran.

c. Keaslian

   Proyek yang dilakukan peserta didik harus merupakan hasil karyanya, dengan

   mempertimbangakan kontribusi guru pada proyek peserta didik, dalam hal ini

   petunjuk atau dukungan.

2. Teknik penilaian proyek

     Penilaian cara ini dapat dilakukan mulai perencanaan, proses selama

pengerjaan tugas, dan terhadap hasil akhir proyek. Dengan demikian guru perlu

menetapkan hal-hal atau tahapan yang perlu dinilai, seperti penyusunan desain,

pengumpulan data, analisis data, kemudian menyiapkan laporan tertulis.
                                                                              28



e). Penilaian Produk

1. Pengertian

     Penilaian produk adalah penilaian terhadap keterampilan dalam membuat

suatu produk dan kualitas produk tersebut. Penilaian produk tidak hanya diperoleh

dari hasil akhir saja tetapi juga proses pembuatannya.

     Penilaian produk meliputi penilaian terhadap kemampuan peserta didik

membuat produk-produk teknologi dan seni, seperti: makanan, pakaian, hasil kaya

seni (patung, lukisan, gambar), dan lain-lain.

     Pengembangan produk meliputi 3 (tiga) tahap dan dalam setiap tahap perlu

diadakan penilaian, yaitu:

a. Tahap persiapan, meliputi: penilaian kemampuan peserta didik meencanakan,

   menggali, dan mengembangkan gagasan, dan mendesain produk.

b. Tahap pembuatan (produk), meliputi: menilai kemampuan peserta didik

   menyeleksi dan menggunakan bahan, alat, dan teknik.

c. Tahap penilaian (appraisal), meliputi: menilai kemampuan peserta didik

   membuat produk sesuai kegunaannya dan memenuhi kriteria keindahan.

2. Teknik Penilaian Produk

Penilaian produk biasanya menggunakan cara holistik atau analitik.

a. Cara holistik, yaitu berdasarkan kesan keseluruhan dari produk, biasanya

   dilakukan pada tahap appraisal.

b. Cara analitik, yaitu berdasarkan aspek-aspek produk, pada semua tahap proses

   pengembangan.
                                                                               29



f). Penilaian Portofolio

1. Pengertian

     Penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan

pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan peserta

didik dalam satu periode tertentu. Informasi perkembangan peserta didik tersebut

dapat berupa karya peserta didik (hasil pekerjaan) dari proses pembelajaran yang

dianggap terbaik oleh peserta didiknya, hasil tes (bukan nilai), piagam

penghargaan atau bentuk informasi lain yang terkait dengan kompetensi tertentu

dalam satu mata pelajaran.

     Berdasarkan informasi perkembangan tersebut, guru dan pesrta didik sendiri

dapat menilai perkembangan kemampuan peserta didik dan terus melakukan

perbaikan. Dengan demikian, portofolio dapat memperlihatkan perkembangan

kemajuan belajar peserta didik melalui karya peserta didik, antara lain: karangan,

puisi, surat, komposisi, musik, makalah, kliping, dan lain-lain.

     Hal-hal yang perlu diperhatikan dan dijadikan pedoman dalam penggunaan

portofolio di sekolah, antara lain:

a. Saling percaya antara guru dan peserta didik

b. Kerahasiaan bersama antara guru dan peserta didik

c. Milik bersama (joint ownership) antara guru dan peserta didik

d. Kepuasan hasil penilaian

e. Kesesuain antara hasil kerja dengan kompetensi yang ada dalam kurikulum

f. Penilaian proses dan hasil

g. Penilain dan pembelajaran
                                                                                  30



2. Teknik Penilaian Portofolio

     Teknik penilaian portofolio di dalam kelas memerlukan langkah-langkah:

a. Penjelasan penggunaan penilaian portofolio pada peserta didik yang tidak

   semata-mata merupaka pengumpulan hasil kerja peserta didik yang digunakan

   oleh guru untuk penilaian, tetapi digunakan juga oleh peserta didik sendiri.

b. Tentukan bersama peserta didik sampel-sampel portofolio apa saja yang akan

   dibuat. Portofolio antara peserta didik satu dengan yang lain boleh berbeda.

c. Kumpulkan dan simpanlah karya-karya tiap peserta didik dalam satu map atau

   folder.

d. Berilah tanggal pembuatan pada setiap bahan informasi perkembangan peserta

   didik sehingga dapat terlihat perbedaan kualitas dari waktu ke waktu.

e. Tentukan kriteria penilaian sampel-sampel portofolio peserta didik beserta

   pembobotannya bersama peserta didik agar tercapai kesepakatan.

f. Mintalah peserta didik menilai karyanya secara berkesinambungan. Guru dapat

   membimbing peserata didik tentang bagaimana cara menilai dengan memberi

   keterangan tentang kelebihan dan kekurangan karya tersebut dan bagaimana

   cara memperbaikinya.

g. Setelah suatu karya dinilai dan ternyata nilainya belum memuaskan, kepada

   peserta didik dapat diberi kesempatan untuk memperbaiki lagi, tetapi antara

   guru dan peserta didik harus ada kesepakat waktu pembuatan tugas perbaikan

   tersebut.

h. Bila perlu, jadwalkan pertemuan untuk membahas portofolio.
                                                                                31



g). Penilaian Diri

1. Pengertian

     Penilaian diri (self assessment) adalah suatu teknik penilaian, di mana subjek

yang ingin dinilai untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan, status, proses,

dan tingkat pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam mata pelajaran

tertentu. Teknik penilain diri dapat digunakan dalam berbagai aspek penilaian,

yang berkaitan dengan kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik

     Penggunaan       teknik   ini   dapat   memberi   dampak    positif   terhadap

perkembangan kepribadian seseorang. Keuntungan penggunaan teknik ini dalam

penilaian di kelas antara lain sebagai berikut:

a. Dapat menumbuhkan rasa percaya diri peserta didik, karena mereka diberi

   kepercayaan untuk menilai dirinya sendiri.

b. Peserta didik menyadari kekurangan dan kelabihan dirinya, karena ketika

   mereka melakukan penilaian, harus melakukan introspeksi terhadap kekuatan

   dan kelemahan yang dimilikinya.

c. Dapat mendorong, membiasakan, dan melatih peserta didik untuk berbuat

   jujur, karena mereka dituntut untuk jujur dan objektif dalam melakukan

   penilaian.

2. Teknik Penilaian

Penilaian diri dilakukan berdasarkan criteria yang jelas dan dengan cara objektif.

Oleh karena itu, penilaian diri oleh peserta didik di kelas perlu melalui langkah-

langkah sebagai berikut:
                                                                              32



a. Menentukan kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai.

b. Menentukan criteria penilaian yang akan digunakan.

c. Merumuskan format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar cek,

   atau sekala rentang.

d. Meminta peserta didik untuk melakukan penilaian diri.

e. Guru mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk mendorong peserta

   didik supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara cermat dan objektif.

f. Menyampaikan umpan balik kepada peserta didik berdasarkan hasil kajian

   terhadap sampel hasil penilaian yang diambil secara acak.



D. Mata Pelajaran Sosiologi

     Mata pelajaran merupakan seperangkat kompetensi dasar yang dibakukan

dan substansi pelajaran mata pelajaran tertentu per satuan dan perkelas selama

masa persekolahan. Mata pelajaran memuat sejumlah kompetensi dasar yang

harus dicapai oleh siswa per kelas dan per satuan pendidikan sesuai dengan

tingkatan pencapaian hasil belajarnya. (Depdiknas 2004:8).

     Sosiologi pada dasarnya mempunyai dua pengertian dasar yaitu sosiologi

sebagai ilmu dan sosiologi sebagai metode. Sebagai ilmu, sosiologi merupakan

kumpulan pengetahuan tentang masyarakat yang disusun secara sistematis

berdasarkan analisis berpikir secara logis. Sebagai metode, Sosiologi adalah

sebuah cara pikir untuk mengungkapkan realitas sosial yang ada dalam

masyarakat dengan prosedur dan teori yang dipertanggung jawabkan secara

ilmiah. (Depdiknas, 2001:9).
                                                                               33



     Sedangkan pengertian sosiologi menurut beberapa ahli diantaranya, menurut

Selo Soemarjan dan Soelaiman Soemardi menyatakan bahwa sosiologi adalah

ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses sosial. Kemudian menurut P.J.

Bouman, mengemukakan bahwa sosiologi adalah ilmu pengetahuan yang

mempelajari hubungan sosial antar sesama manusia (individu dengan individu)

antar individu dengan kelompok, serta sifat dan perubahan-perubahan dalam

lembaga-lembaga dan ide-ide sosial. Secara singkat, Sosiologi adalah tentang

kehidupan manusia dalam lingkungan kelompok.

     Dari devinisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa sosiologi adalah ilmu

pengetahuan yang mempelejari tentang masyarakat yang saling berinteraksi dan

mempunyai hubungan timbal balik proses sosial bahkan perubahan dalam

masyarakat.

1. Ciri-ciri Sosiologi

   Sosiologi mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

1. Bersifat empiris , yaitu didasarkan pada observasi dan akal sehat manusia

   yang hasilnya bersifat spekulatif.

2. Bersifat teoritis, yaitu selalu berusaha menyusun abstraksi dari hasil-hasi

   observasi dan abstraksi itu merupakan kerangka dari unsur-unsur yang

   tersusun secara logis dan bertujuan menjelaskan hubungan timbal balik

3. Bersifat komulatif, yaitu teori-teori sosiologi dibentuk berdasarkan teori yang

   sudah ada, kemudian diperbaiki, diperluas dan diperhalus.

4. bersifat non etis, yaitu tidak mempersoalkan baik buruk suatu fakta tertentu,

   tetapi untuk menjelaskan fakta tersebut.
                                                                                34



2. Fungsi dan Tujuan

Fungsi

Pengajaran sosiologi di Sekolah Menegah Atas berfungsi untuk meningkatkan

kemampuan berfikir, berperilaku, dan berinteraksi dalam keragaman realitas

sosial dan budaya berdasarkan etika.

Tujuan

       Tujuan pengajaran sosiologi di Sekolah Menengah Atas pada dasarnya

mencakup dua sasaran yang bersifat kognitif dan bersifat praktis. Secara kognitif

pengajaran sosiologi dimaksudkan untuk memberikan pengetahuan dasar

sosiologi agar siswa mampu memahami dan menelaah secara rasional komponen-

komponen dari individu, kebudayaan dan masyarakat sebagai suatu sistem

       Sementara    itu   sasaran   yang   bersifat   praktis   dimaksudkan   untuk

mengembangkan keterampilan sikap dan perilaku siswa yang rasional dan kritis

dalam mengembangkan kemajemukan masyarakat, kebudayaan, situasi sosial

serta berbagai masalah sosial yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

(Depdiknas 2001:9)



3. Kompetensi Mata Pelajaran Sosiologi

     Kompetensi standar yang hendak diwujudkan melalui mata pelajaran

sosiologi adalah:

1.    Memahami realitas sosial dalam keanekaragaman budaya dan masyarakat

      yang ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
                                                                                    35



2.    Memahami struktur sosial dan dinamika sosial, serta mampu mengetahui arti

      penting sosiologi dalam kehidupan masyarakat di Indonesia.

3.    Menerapkan pengetahuan dasar sosiologi dalam kehidupan bermasyarakat,

      dengan ditunjukkan oleh kemampuan berorganisasi atu manajemen kelompok

      dan memberikan alternatif pemecahan masalah sosial.

4.    Menganalisis secara praktis dan memecahkan masalah sikap dalam situasi

      yang dihadapi dengan ditunjukkan oleh kemampuan menghargai perbedaan

      yang ada dalam masyarakat.

5.    Melangsungkan komunikasi sosial dengan pelbagai pandangan dan pendirian

      yang dijumpai dalam kehidupan sosial.



4. Materi Pokok Pengajaran Sosiologi

     Pengajaran sosiologi mencakup dua materi dasar yaitu:

1. Elemen masayarakat statis yang meliputi: struktur sosial, organisasi sosial,

     lembaga sosial, kelompok sosial, dan keteraturan sosial.

2. Elemen      masyarakat     dinamis    yang    meliputi:      pengendalian    sosial,

     penyimpangan sosial, mobilitas sosial, dan perubahan sosial.



5. Pendekatan dan Organisasi

       Pendekatan   yang    digunakan    dalam   pembelajaran       sosiologi   adalah

pendekatan pembelajaran aktif yang memfungsikan guru, siswa, dan sarana

belajar secara sinergi. Pendekatan         pembelajaran      ini   dilakukan    dengan

memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
                                                                             36



1. Keseimbangan antara kognisi, keterampilan, afektif, dan keseimbangan antara

   deduksi dan induksi.

2. Penyajian materi perlu menggunakan ilustrasi (contoh, deskripsi , gambaran)

   dan pemberian tugas aktif.

3. Proses pembelajaran dilakukan dengan upaya memfasilitasi tumbuhya

   dinamika kelompok di dalam kelas, sehingga terwujud siswa yang mandiri

   dalam belajar. (Depdiknas 2001:11-12).

     Setiap mata pelajaran tentunya memiliki karakteristik dan struktur keilmuan

yang dapat membedakannya dengan mata pelajaran yang lain. Adapun

karakteristik Mata Pelajaran Sosiologi adalah:

1. Sosiologi merupakan disiplin ilmu intelektual mengenai pengembangan

   pengetahuan yang sistematis dan terandalkan tentang hubungan social

   manusia pada umumnya dan tentang produk hubungan tersebut.

2. Materi Sosiologi mempelajari perilaku dan interaksi perilaku dan kelompok,

   menelusuri asal-usul pertumbuhan serta menganalisis pengaruh kegiatan

   kelompok dan pengaruhnya.

3. Tema-tema esensial dalam Sosiologi disiplin dan bersumber serta merupakan

   kajian tentang masyarakat dan perilaku manusia dengan meneliti kelompok

   yang dibangunnya, kelompok tersebut mancakup keluarga, suku bangsa,

   komunitas dan pemerintahan, dan berbagai organisasi social, agama, politik,

   bisnis, dan organisasi lainnya.
                                                                               37



4. Materi Sosiologi di kembangkan sebagai suatu lembaga pengetahuan ilmiah

   dengan pengembangan teori yang di dasarkan pada observasi ilmiah, bukan

   lagi pada spekulasi di belakang meja atau observasi impresionistis.

     Sedangkan struktur keilmuan materi Pelajaran Sosiologi adalah:

a. Sosiologi dan Antropologi sebagai ilmu tentang perilaku social dalam

   masyarakat.

b. Interaksi sosial dalam dinamika sosial budaya.

c. Sosialisasi dan pembentukan kepribadian.

d. Perilaku menyimpang dan pengendalian sosial.

e. Konflik dan integrasi sosial.

f. Deferensiasi dan stratifikasi sosial.

g. Konsekuensi bentuk struktur sosial terhadap konflik dan integrasi sosial.

h. Dinamika kebudayaan.

i. Kehidupan masyarakat multi kultural.

j. Mobilitas sosial.

k. Perubahan sosial.



6. Standar Kompetensi Sosiologi

     Kompetensi adalah kemampuan yang dapat dilakukan peserta didik yang

mencakup pengetahuan, keterampilan, dan perilaku. Standar adalah arahan atau

acuan bagi pendidik tentang kemampuan dan keterampilan yang menjadi fokus

proses pembelajaran dan penilaian. Jadi standar kompetensi adalah batas dan arah

kemampuan yang harus dimiliki dan dapat dilakukan peserta didik setelah
                                                                          38



mengikuti pembelajaaran suatu mata pelaajaaran tertentu. Cakupan materi yang

terkandung dalam setiap kompetensi cukup luas dan terkait dengan konsep yang

ada dalam suatu mata pelajaran. Sesuai dengan pengertian tersebut, standar

kompetensi Sosiologi adalah kompetensi yang harus dimiliki oleh siswa sebagai

hasil dari pembeljaran Sosiologi.

     Mata Pelajaran Sosiologi di SMA telah di rumuskan dalam tiga standar

kompetensi yaitu:

1. Menganalisis nilai dan norma dalam bentuk keteraturan hidup dalam

   masyarakat.

2. Menganalisis berbagai faktor penyebab konflik sosial dan dampaknya serta

   memberikan alternatif pemecahannya.

3. Menerapkan perilaku yang tepat dalam menghadapi pengaruh atau tantangan

   perubahan sosial. (Depdiknas 2003:2-3).

      Agar pembelajaran sosiologi menjadi lebih bermakna, maka organisasi

pengajaran materi sosiologi dimulai dari memahami keanekaragaman relitas

sosial, dan memahami pengetahuan dasar sosiologi untuk memberikan alternatif

pemecahan masalah sosial, sehingga mampu mengambil sikap dalam situasi sosial

yang dihadapkan.



D. Kerangka Teoritik

     Kerangka teoritik dalam penelitian ini memaparkan dimensi-dimensi kajian

utama, sebagai pedoman kerja baik dalam menyusun metode, pelaksanaan di
                                                                          39



lapangan, maupun pembahasan hasil penelitian. Adapun bagan yang akan menjadi

rambu-rambu dalam menjelaskan pedoman kerja bagi peneliti.


                Bagan Kerangka Berpikir Dalam Penelitian



                                Kurikulum 2004
                              Standar Kompetensi
                                     SMA




                         Penilaian Kurikulum 2004




                    Tujuh Teknik Penilaian Kurikulum 2004
                 (Penilaian Unjuk Kerja, Sikap, Tertulis, Proyek,
                     Produk, Portofolio, dan Penilaian Diri)




                          Mata Pelajaran Sosiologi
                                 di SMA




                            Model Pengembangan
                          Penilaian yang Digunakan



 Alasan Penggunaan                                    Kekurangan dan Kelebihan
Pengembangan Model                                      Pengembangan Model
      Penilaian                                       Penilaian yang Digunakan
                                                          40



        Bagan kerangka teoritis dalam penelitian


                    Kurikulum 2004
                   Standar kompetensi
                         SMA




                Penilaaian kurikulum 2004




                     Mata Pelajaran
                       Sosiologi



Siswa            Proses Belajar Mengajar           Guru
                        Penilaian




                  Model Pengembangan
                 Penilaian yang digunakan




              Kekurangan dan Kelebihan
             Model Pengembangan Penilaian
                    yang digunakan
                                     BAB III

                           METODE PENELITIAN



     Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dimana peneliti dapat

menyajikan hubungan antara peneliti dan responden. Menurut Bogdan dan Taylor

mendefinisikan    metodologi    kualitatif   sebagai   prosedur   penelitian   yang

menghasilkan data deskkriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang

dari perilaku yang dapat diamati. (Moleong, 2002:3)

     Pendekatan ini diarahkan pada latar belakang individu tersebut secara

holistik (utuh). Jadi, dalam hai ini tiak boleh mengisolasikan individu atau

organisasi kedalam variable atau hipotesis, tetapi perlu memandangnya sebagai

bagian dari keutuhan.

A. Lokasi Penelitian

     Lokasi penelitian ini dilakukan di SMA Negeri 2 Bae Kudus, yaitu salah

satu SMA Negeri di Kabupaten Kudus yang sudah melaksanakan kurikulum

2004. SMU Negeri 2 Bae Kudus ini merupakan sekolah yang berada dipinggiran

kota kurang lebih 700m dari jalan utama, dengan kondisi yang jauh dari

keramaian akan menciptakan suasana belajar yang nyaman, sehingga akan

mendukung situasi yang kondusif, dan sekolah ini belum pernah dilakukan

penelitian sebelumnya, dengan alasan ini peneliti memilih SMU Negeri 2 Bae

Kudus sebagai subjek penelitian.




                                        40
                                                                               41



B. Fokus Penelitian

     Fokus penelitian adalah pernyataan masalah yang hendak diteliti dan

dirumuskan secara konkrit dalam bentuk pernyataan, pada dasarnya focus

merupakan pembatasan masalah. (Jazuli, 2001:35). Fokus yang akan dilakukan

pada penelitian ini adalah :

1. Pengembangan yang digunakan dalam penilaian kurikulum 2004, dengan

pertimbangan sebagai berikut:

   1.1 Jenis teknik penilaian yang digunakan, seperti penilaian unjuk kerja,

       proyek, tes tertuluis, sikap, produk, portofolio, dan penilaian diri.

   1.2 Kesesuaian antara pengembangan penilaian yang digunakan dengan situasi

       dan kondisi belajar

   1.3 Kesesuaian pengembangan penilaian dengan materi yang akan diberikan.

   1.4 Kesiapan guru untuk melakukan pengembangan penilaian dengan tujuh

       teknik penilaian yang akan digunakan.

2. Alasan penggunaan pengembangan model penilaian kurikulum 2004, dengan

pertimbangan sebagai berikut:

   2.1 Kesiapan siswa dengan materi, yaitu dengan memahami materi maka akan

       mendukung dalam pelaksanaan penilaian.

   2.2 Kesiapan guru dalam melasanakan penilaian

   2.3 Ketersediaan sarana prasarana untuk pelaksanaan penilaian.
                                                                                42



3. Mengetahui kekurangan dan kelebihan dari model pengembangan penilaian

   yang digunakan, yang meliputi:

   3.1 Kesiapan siswa

   3.2 Kasiapan guru dalam memberikan materi

   3.3 Kesiapan guru dalam membuat instrumen pengembangan penilaian yang

       akan digunakan dalam penilaian.



C. Sumber Data Penelitian

1. Informan

     Informan adalah individu-individu tertentu yang di wawancarai untuk

keperluan informasi, atau orang yang dapat memberikan informasi atau

keterangan data yang diperlukan dari peneliti. Informan tersebut terdiri dari guru-

guru Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae Kudus, yang berjumlah tiga orang dari lima

orang guru sosiologi.

2. Dokumen-dokumen

     Dokumen yang digunakan untuk melengkapi penelitian ini adalah foto,

buku-buku atau data-data mengenai hasil penilaian yang dilakukan oleh guru-guru

Mata Pelajaran Sosiologi di SMA Negeri 2 Bae Kudus.



D. Metode Pengumpulan Data

1. Dokumentasi

     Dokumentasi yaitu pengumpulan data melalui arsip-arsip, buku-buku, dan

lain-lain, yang diperlukan dalam penelitian sebagai bukti yang menunjukkan
                                                                               43



kegiatan yang berhubungan dengan penelitian. Menurut Arikunto (1998:236),

dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal

yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, notulen surat legger,

agenda , dan lain-lain.

     Penelitian ini memerlukan dokumen-dokumen atau arsip-arsip yanh dapat

memberikan gambaran dan keterangan dengan jelas mengenai pengembangan

penilaian di kurikulun 2004 Mata Pelajaran Sosiologi.



2. Metode Wawancara

     Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu di

lakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan

pertanyaan dan yang di wawancarai (interviewee) yang memberikan jawaban atas

pertanyaan itu. (Moleong, 2002: 135).

     Wawancara yang dilakukan oleh peneliti adalah wawancara yang tidak

resmi atau informal, dimana pertanyaan yang berkaitan dengan permasalahan

yang di bahas dalam penelitian ini yaitu tentang pengembangan model penilaian

dalam kurikulum 2004 Mata Pelajaran Sosiologi dan pertanyaan dapat diajukan

dengan bebas pada subjek. Selain itu peneliti juga dibantu dengan adanya

instrumen dan pedoman wawancara yang berisi pertanyaan tentang permasalahan

yang dibahas dan apabila dirasa kurang lengkap maka dapat dikembangkan sesuai

dengan yang ada di lapangan.

     Dalam hal ini pemilihan informan yang dianggap menguasai dan dapat

dipercaya untuk menjadi sumber data yang mantap dan mengetahui tentang
                                                                                44



obyek, yaitu guru-guru dan wakasek bidang kurikulum Mata Pelajaran Sosiologi

yang menggunakan kurikulum 2004.



3. Observasi

     Observasi adalah pengamatan yang dilakukan sejak awal penelitian di mulai.

Kegunaan untuk merekam apa yang terjadi, terutama pada saat intervensi

dilakukan.Sedangkan menurut Arikunto (1998: 145), observasi merupakan

pengamatan yang meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek

dengan menggunakan seluruh alat indra.

     Observasi ini dilakukan untuk melihat kesiapan guru dalam melakukan

pengembangan penilaian dan diharapkan gejala ketidak berhasialn dapat diketahui

sedini mungkin, sehingga langkah apa yang akan diambil sudah dilanjutkan.

observasi dalam penelitian ini menggunakan cara langsung yaitu terhadap

observasi yang relevan dengan kondisi yang ada dan menggunakan instrument

pedoman observasi dengan format cek list.



E. Validitas Data

     Validitas data sangat mendukung dalam menentukan hasil akhir penelitian.

Oleh sebab itu, di perlukan teknik untuk memeriksa data, yaitu teknik triangulasi.

     Triangulasi data adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaat

suatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecakan atau sebagai

pembanding terhadap data itu. (Moleong, 2002: 178).
                                                                          45



     Triangulasi sumber data, yang dilakukan dengan cara mencari data dari

sumber informan, yaitu orang yang terlibat langsung dengan objek. Pengumpulan

data dilakukan dengan cara mencapai data dari sumber atau informan yang

dilakukan dengan mengkaji teori yang relevan.

     Triangulasi dengan sumber berarti membandingkan dan mengecek baik

derajat kepercayaan suatu informan yang diperoleh melalui waktu dan alat yang

berbeda. hal itu dapat dicapai dengan jalan:

1. Membandingkan data hasil pengamatan dengan data hasil wawancara.

2. Memandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum denga apa yang

   dikatakan secara pribadi.

3. Membandingkan hasil wawancara dengan isi suatu dokumen yang berkaitan.



F. Metode Analisis Data

     Menurut Lexy J Moleong (2000: 103), mendefinisikan analisis data sebagai

proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola, kategori, dan

satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan

hipotesis kerja yang disarankan oleh data.

     Dalam penelitian ini peneliti menggunakan model analisis interaktif atau

interaktive analysis models dari Milles dan Huberman dengan langkah-langkah

pengolahan data sebagai berikut:
                                                                             46



1. Pengumpulan data

     Dilaksanakan dengan cara pencarian data yang diperlukan terhadap berbagai

jenis data dan bentuk data yang ada di lapangan, kemudian melaksanakan

pencatatan data di lapangan.



2. Reduksi data

     Apabila data sudah terkumpul, langkah selanjutnya adalah mereduksi yaitu

menggolongkan,      mengarahkan,    membuang    yang    tidak   diperlukan   dan

mengorganisasikannya     sehingga    nantinya   mudah    dilakukan    penarikan

kesimpulan. Jika data yng diperoleh kurang lengkap maka peneliti mencari

kembali data yang diperlukan.



3. Penyajian data

     Adalah sekumpulan informasi tersusun yang memberi kemungkinan adanya

penariakan kesimpulan dan pengambilan tindakan.



4. Penarikan kesimpulan atau verifikasi

     Setelah data disajikan, maka dilakukan penarikan kesimpulan atau

verifikasi. Dalam penarikan kesimpulan ini didasarkan pada reduksi data dan

sajian data yang merupakan jawaban atas masalah yang diangkat dalam penelitian.
                                                                          47



Secara skematis model analisi diatas dapat digambarkan sebagai berikut:



                               Pengumpulan data




                                 Reduksi data




                                 Penyajian data




                             Penarikan kesimpulan
                                atau verifikasi
                                   BAB IV

                HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN



A. Hasil Penelitian

1. Karakteristik Sekolah

     Secara keseluruhan semua SMA negeri maupun swasta sudah melaksanakan

kurikulum 2004 yang diwajibkan pemerintah untuk dilaksanakan, termasuk SMA

Negeri 2 Bae Kudus. SMA Negeri 2 Bae Kudus yang berlokasi dipinggiran kota,

jauh dari pemukiman penduduk, SMA ini dekat dengan dua SMP dan perguruan

tinggi swasta di Kudus, dan jalannya bukan jalan utama jadi lokasi SMA Negeri 2

Bae Kudus sangat cocok untuk belajar dan dapat menjalankan kurikulum 2004.

Hal inilah yang menjadi alasan penulis untuk mengambil SMA Negeri 2 Bae

Kudus sebagai objek penelitian.

     Penelitian dilakukan hanya pada kelas X saja, karena bisa mengetahui

pengembangan penilaian yang digunakan dalam satu tahun pelajaran, sedangkan

kelas XI belum menyelesaikan satu tahun pelajaran dengan tuntas atau dua

semester.



a. Sarana dan Prasarana

     Sarana prasarana yang digunakan dalam pelaksanaan penilaian ini tidak

banyak, yang biasa digunakan hanyalah papan tulis. SMU Negeri 2 Bae Kudus

memiliki satu OHP tetapi tidak digunakan dalam proses belajar mengajar, OHP

hanya digunakan saat diadakan seminar di SMU tersebut. Siswa juga tidak

menggunakan komputer sekolah saat mengerjakan tugas dari guru, karena

komputer sekolah digunakan untuk kalangan guru saja dan biasanya digunakan

                                      48
                                                                               49



untuk membuat soal ulangan-ulangan harian atau tugas-tugas baik tugas individu

maupun kelompok untuk siswa.

     Khusus untuk sarana prasarana pendidikan perpustakaan terdapat satu yang

memepunyai jumlah buku banyak yang terdiri dari buku paket, buku fiksi,

majalah, tabloid, dan koran harian. Kesadaran untuk membaca siswa memang

sangat kurang, Untung Sulistyo menuturkan dengan diberlakukannya kurikulum

berbasisi kompetensi diharapkan akan memicu siswa untuk lebih mendorong

siswa lebih sering belajar di perpustakaan.

Tabel 1. Sarana dan Prasarana dan Media Pembelajaran

No         Nama Media              Jumlah                  Keterangan

1    OHP                              2       Digunakan pada saat seminar dan

                                              tidak digunakan sebagai sarana

                                              pembelajaran.

2    TV                               2       Jarang digunakan sebagai media

                                              pembelajaran.

3    Radio Tape                       2       Digunakan untuk kegiatan seman.

4    Buku-buku pelajarn            > 1000     Buku paket, buku bacaan, buku

     yang menunjang                           referensi.

5    Majalah

6    Surat Kabar

7    Black Board                     >24      Digunakan sebagai media belajar

                                              untuk mengajar dalam kelas.

8    White board                      3       Digunakan untuk pengumuman
                                                                             50



b. Kesiapan Guru

     SMA Negeri 2 Bae Kudus memiliki enam guru Mata Pelajaran Sosiologi,

dan hanya tiga yang mengajar kelas X, yaitu Soleh Prihati Spd, Untung Sulistyo,

dan Noorhayati Spd. Kelas X terdiri atas delapan kelas dan dari delapan kelas

tersebut diampu oleh guru yang berbeda. Kelas X1 sampai X4 diampu oleh Soleh

Prihatin Spd, kelas X6 diampu oleh Untung Sulistyo Spd, Untung Solistyo Spd

hanya mengajar satu kelas saja karena beliau juga merangkap mengajar dikelas

XI, dan kelasX5, X7, X 6 diampu oleh Noorhayati Spd.

     Guru-guru Mata pelajaran Sosiologi belum ada yang berlatar belakang

pendidikan atau lulusan ilmu sosiologi, mereka berlatar belakang Bahasa Inggris,

Seni Rupa, Geografi, Sejarah, Bahasa Arab, dan Elektro. Walaupun mereka tidak

lulusan ilmu sosiologi tapi mereka berusaha belajar sosiologi untuk memberikan

pemahaman dan pembelajaran sosiologi dengan benar pada siswa, walaupun

kadang mereka kesulitan dalam menyesuaian antara latar belakang pendidikan

mereka dengan ilmu sosiologi.

     Guru Mata Pelajaran Sosiologi yang mengajar kelas X ada tiga, yaitu

Untung Sulistyo, S.Pd, Soleh Prihatin, S. Pd, dan Noorhayati, S. Pd. Dari ketiga

guru tersebut hanya satu yang lebih berpengalaman, yaitu Untung Sulistyo, S. Pd

walaupun tidak berlatar belakang pendidikan sosiologi tetapi sudah lebih dari

sepuluh tahun dalam mengajar sosiologi, jadi beliau sudah berpengalaman. Untuk

Soleh Prihatin, S. Pd memang baru dua tahun mengajar sosiologi tetapi belau

sudah paham dengan kurikulum 2004, dan Noorhayati, S. Pd baru mengajar

sosiologi satu tahun. Kesulitan yang dialami terjadi pada saat mereka awal

memegang Mata Pelajaran Sosiologi.
                                                                           51




Tabel 2 Karakteristik Guru Mata Pelajaran Sosiologi SMA N 2 Bae Kudus

No          Nama                NIP       Pendidikan   Pendidikan     Status
                                           Terakhir
1    Untung Sulistyo,        131281567   S1 Seni       IKIP         PNS
     S.Pd                                Rupa          Semarang
2    Drs. Muhtadi            131415632   S1 Bahasa     IKIP         PNS
                                         Arab          Semarang
3    Soleh Prihatin, S. Pd   111300250   S1 Bahasa     UNS Solo     Guru Bantu
                                         Inggris
4    Noorhayati, S. Pd       131567615   S1 Geografi   IKIP         PNS
                                                       Semarang
5    Muryanto, A. Md         131676415   D3 Elektro    IKIP         PNS
                                                       Semarang


     Sumber: dokumentasi SMA N 2 Bae Kudus 2004/2005

     Berlakunnya kurikulum baru maka mereka mau tidak mau harus merubah

cara mengajar mereka, dengan diklat-diklat yang ada mengenai kurikulum 2004

mereka belajar dan menerapkan pada sistem mengajar Mata Pelajaran Sosiologi,

selain itu guru-guru juga harus aktif dan giat dalam mengikuti penataran-

penataran yang dapat menunjang peningkatan Mata Pelajaran Sosiologi dengan

kurikulum 2004 khususnya.

     Persiapan dalam menyampaikan materi guru harus menguasai, walaupun

mereka tidak berlatar belakang pendidikan sosiologi. Penyampaian materi yang

tepat didukung dengan referensi buku yang menunjang sesuai dengan kurikulum

2004 akan mendukung kelancaran dalam menyampaian materi. Selain

menyampaikan materi guru juga harus dapat memberikan contoh-contoh yang
                                                                               52



konkrit agar siswa lebih bisa menyerap materi dengan baik.

     Latar belakang pendidikan yang bukan sosiologi akan menghambat dalam

pemberian nilai maupun dalam penggunaan teknik penilaian, terutama pada guru

yang baru mengampu Mata Pelajaran Sosiologi.Belajar adalah salah satu jalan

agar tepat dalam memberikan materi kepada siswa. Untuk Guru yang sudah

bertahun-tahun dalam mengajar Mata Pelajaran Sosiologi tidak mendapatkan

kesulitan baik dalam memberikan penilain maupun melakukan penilain, sehingga

tujuan dari kurikulum 2004 akan tercapai sesuai ketentuan yang ada.

     Sebelum melakukan penilaian yang harus diperhatikan adalah; (1) melihat

materi yang sudah digunakan, merupaka langkah guru untuk menentukan teknik

penilain apa yang akan digunakan, sehingga tidak salah dalam memilih teknik

penilain agar tujuan dari penilaian akar tercapai, tiap materi akan menentukan

teknik penilaian, jadi guru harus teliti agar tepat dalam memilih teknik penilain,

dan (2) membuat instrumen penilain, yaitu seperti pada teknik penilaian unjuk

kerja, guru harus menyiapkan instrumen penilaiannya agar terarah dalam menilai

dan hal-hal apa saja yang perlu dinilai juga harus dipersiapka sesuai dengan tugas

yang sudah disepakati bersama, yaitu antara murid dan guru sebelum tugas mulai

dikerjakan oleh siswa, jadi pembuatan instrumen juga perlu dilakukan oleh guru

sebelum melakukan penilaian.



c. Situasi dan Kondisi Belajar

     Pelaksanaan penilaian juga harus melihat situasi dan kondisi belajar, seperti

halnya tugas diberikan tidak bersamaan dengan ujian semester maupun ujian
                                                                             53



tengah semester. Jika hal itu dilakukan maka akan terjadi kegagalan dalam

penilain, karena pelaksanaan penilain itu sangat tidak tepat dilakukan dan itu

bukan waktu untuk memberikan tugas ataupun ulangan-ulangan. Situasi dan

kodisi yang tepat akan membantu dalam pelaksanaan penilaian, karena dengan

situasi dan kondisi yang kondusif, yaitu situasi yang menciptakan proses belajar

mengajar yang baik dan kondisi kelas yang mendukung, serta peran siswa dalam

pelaksanaan penilaian.



2. Pengembangan penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2004 Mata

   Pelajaran Sosiologi.

     Pelaksanaan penilaian Mata Pelajaran Sosiologi berdasarkan kurikulum

2004 di SMA Negeri 2 Bae Kudus dimulai tahun ajaran 2004/2005, sehingga

pelaksanaannya sudah diterapkan di kelas X. Adapun pendekatan penilaian

berdasarkan kurikulum 2004 yaitu dengan menggunakan pendekatan berbasis

kelas. Penilaian ini merupakan pendekatan penilaian yang lebih menitik beratkan

pada penilaian sebagai alat pembelajaran bukan tujuan pembelajaran.

     Berdasarkan wawancara dengan guru-guru Mata Pelajaran Sosiologi SMA

Negeri 2 Bae Kudus pada kelas X, yang dilakukan pada tanggal 26, 27, dan 28

Desember 2005, dapat diketahui bahwa mereka hanya menggunakan dua ranah

penilaian saja, yaitu penilaian afektif dan kognitif. Sedangkan penilaian

psikomotorik tidak digunakan, karena memiliki definisi yang jelas serta batasan

penilaian yang belum jelas. Sedangkan dalam pemilihan pengembangan penilaian

dengan tujuh teknik penilaian yang digunakan oleh tiap-tiap guru berbeda.
                                                                                54



     Pengembangan penilaian yang digunakan di SMA Negeri 2 Bae Kudus yang

termasuk dalam penilaian kognitif antara lain:

     Pertama, penilaian portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang

didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangan siswa

dalam waktu periode tertentu. Sebenarnya model penilaian portofolio sudah lama

digunakan hanya saja istilah yang berubah. Penilaian portofolio dilakukan kurang

lebih tiga sampai empat kali dalam satu semester sesuai dengan banyak sedikitnya

materi dan sesuai dengan kebutuhan. Penilaian portofolio dapat diambil melalui

tugas individu dan kelompok. Tugas ini biasanya berupa analisis suatu

permasalahan yang sedang hangat dibicarakan atau studi kasus, kemudian siswa

memberi solusi atau pendapat. Dari hasil kerja tersebut dapat diketahui apakah

siswa sudah bisa menyesuaikan antara teori dan kenyataan yang ada dalam

masyarakat atau belum.

     Pengumpulan tugas portofolio melibatkan siswa dan guru setelah tugas ini

dikumpulkan kemudian guru mengkoreksi hasil kerja siswa dan menaruh nilai

siswa pada daftar nilai portofolio yang sudah disediakan, kemudian dikembalikan

pada siswa dan siswa memberikan tugas yang sudah di nilai untuk serahkan pada

orang tua agar mengetahui nilai anaknya dan mencantumkan tanda tangan

kemudian diperlihatkan pada guru bahwa orang tua sudah mengetahui nilai anak

tersebut, dengan demikian dapat dijadikan masukan untuk semua pihak untuk

bekerja sama dalam meningkatkan belajar dan pembelajran yang sesuai dengan

tujuan dari kurikulum 2004. (contoh format penilaian portofolio lihat lampiran 4).
                                                                               55



     Penilaian portofolio di SMA negeri 2 Bae Kudus ini masih terbatas

mengumpulkan tugas saja dan belum pada taraf sebagai parameter adanya

peningkatan atau kemerosotan nilai siswa dalam memahami materi dan

menyelesaikan tugas. (contoh tugas dan indikator penilaian portofolio dengan

tugas kelompok lihat lampiran 5)

     Kedua, penilaian unjuk kerja merupakan pengamatan guru terhadap kerja

siswa dalam menyelesaikan tugas baik kelompok maupun individu. Tagihan yang

digunakan dalam penilaian unjuk kerja di SMA Negeri 2 Bae Kudus dilakukan

dengan cara tugas kelompok, dan penilaian ini hanya dilakukan oleh Soleh

Prihatin Spd. Hal yang di nilai dalam penilaian unjuk kerja ini berbeda-beda

sesuai dengan materi dan permasalan yang sedang berlangsung, hal yang di nilai

antara lain ketepatan siswa dalam memilih judul, analisis permasalahan yang

tepat, ketepatan dalam menjawab saat presentasi, dan kekompakan antar anggota

saat mengerjakan tugas.

     Ketiga, penilaian diri adalah suatu teknik penilaian dimana siswa yang ingin

dinilai diminta untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan

tingkat pencapaian kompetensi yang telah dipelajari. Penilaian ini di gunakan saat

mengadakan ulangan harian dan biasanya dilaksanakan dua kali dalam satu

semester.

     Menurut Untung Sulistyo Spd penilaian ini dapat meringankan tugas guru,

karena siswa mengoreksi hasil kerjanya sendiri dan guru hanya mengambil

sample 25% dari jumlah siswa di kelas untuk mengukur apakah siswa sudah benar

dalam mengoreksi hasil kerja mereka atau belum, biasanya guru sudah
                                                                                56



memberikan batasan dalam menjawab soal ulangan saat siswa mengoreksi hasil

pekerjaan mereka, apakah dalam megoreksi siswa sudah sesuai atau belum.

Untung sulistyo ini belum pernah terjadi kegagalan dalam melakukan penilaian

ini, sehingga beliau masih menggunakan penilaian diri.

     Soleh Prihatin Spd dan Noorhayati Spd tidak menggunakan teknik penilaian

ini, karena mereka khawatir hasil koreksi siswa tidak sesuai dengan yang

diharapkan atau hasil koreksi mereka tidak objektif dan valid, jika hal itu terjadi

maka mereka harus menyediakan waktu untuk mengoreksi kembali. Sampel yang

diambil juga belum tentu jatuh pada siswa yang pandai, jika sampel jatuh pada

siswa yang kurang pandai maka hasilnyapun akan tidak memuaskan. (contoh

tugas penilaian diri lihat lampiran 5).

     Keempat, penilaian tertulis dilakukan untuk ulangan harian dan ulangan mid

semerter, jika terjadi nilai yang kurang maka diadakan testertulis juga. Soal yang

diberikan berupa soal mensuplai jawaban atau isian, jadi soal dan jawaban yang

diberikan siswa dalam bentuk tulisan. Ulangan harian dilakukan sebanyak lima

kali dalam dua semester. Jika nilai yang diperoleh siswa kurang dari standar yang

sudah ditentukan, maka siswa diwajibkan mengikuti remidi dalam bentuk tes

tertulis juga untuk memperbaiki nilai.

     Sedangkan untuk tes tertulis yang berbentuk soal dengan memilih jawaban

dan esai digunakan untuk melakukan ujian semester. Pada penilaian ini guru tidak

menganggap sebagai pengembangan dari penilaian kurikulum 2004, karena

mereka menganggap hal ini sudah wajib dilakukan oleh setiap guru. (contoh soal

lihat lampiran 5)
                                                                                 57



     Berdasarkan wawancara dengan guru-guru Sosiologi penilaian afektif yang

dilakukan   oleh   guru   menggunakan      satu   macam     pengembangan,     yaitu

pengembangan penilaian yang kelima, penilaian sikap , pengembangan yang

dilakukan oleh guru-guru SMA Negeri 2 Bae Kudus sama, yaitu sesuai dengan

format yang sudah ditentukan oleh sekolah dan penilain sikap sama dengan

penilaian afektif. Penilaian sikap atau afektif ini dari setiap sekolah berbeda-beda

sesuai kebijakan dari sekolah.

     Selaian penilaian kognitif, penilaian afektif juga dilakukan oleh guru di

SMA Negeri 2 Bae Kudus. Kompenen afektif ikut menentukan keberhasilan

peserta didik, karena dari sikap akan mencerminkan kepribadian dari siswa , yaitu

apakah siswa itu pandai atau cerdas, atau siswa tersebut malas dan apakah siswa

itu belajar atau tidak. Berdasarkan wawancara dengan Untung Spd dengan

Noorhayati Spd bahwa penilaian afektif yang dilakukan saat ini menggunakan

jenis tagihan pengamatan yang dilakukan pada saat proses belajar mengajar.

Penilaian afektif dikembangkan dengan menggunakan teknik penilaaian sikap.

     Penilaian sikap adalah, penilaian yang menilai tingkah laku siswa pada saat

proses belajar mengajar. Indikator penilaiannya dari semua guru sosiologi sama

yaitu mereka mengacupada buku pada buku Pedoman Khusus Pengembangan

Silabus Mata Pelajaran Sosiologi dan indikatornya adalah penampilan, sikap,

minat, kerjasama, belajar, tenggang rasa, dan kedisiplinan.(format lihat lampiran).

Untuk skor maksimal adalah 100, kemudian nilai dijumlah kemudian dibagi

jumlah indikator yang ada.(contoh format penilaian sikap SMU Negeri 2 Bae

Kudus lihat lampiran 4)Berdasarkan wawancara dengan guru-guru Sosiologi
                                                                              58



penilaian sikap dilakukan pada saat kegiatan belajar mengajar sedang

berlangsung.

     Berdasarkan penilaian dan pengembangan penilaian yang dilakukan diatas,

maka tujuan dari penilaian akan dapat dicapai, sehingga dapat digunakan untuk

mengetahui apakah siswa sudah atau belum menguasai satu kompetensi dasar

tertentu. Berdasarka teori belajar tuntas, bahwa siswa tidaak diperkenankan

mengerjakan pekerjaan berikutnya sebelum mampu menyelesaikan pekerjaan

sesuai dengan prosedur yang benar dan hasil yang baik, untuk itu sesuai dengan

teori tersebut maka apabila dalam hasil penilaian melalui laporan diketahui siswa

ada yang belum menguasai kompetensi dasar tertentu maka siswa yang

bersangkutan harus melakukan remidi untuk memperbaiki nilai.

     Dari hasil wawancara diatas dapat diambil kesimpulan tidak semua jenis

pengembangan dapat digunakan, hal itu terjadi dengan beberapa alasan. Dalam

melaksanakan penilaian mereka juga pernah mengalami kegagalan, itu

dikarenakan faktor siswa yang kadang tidak tepat dalam pengumpulan tugas,

kurangnya pemahaman siswa denga materi yang diajarkan oleh guru, sarana

prasarana yang kurang memadahi dan tidak menutup kemungkinan dalam

menyampaikan materi atau tugas guru kurang jelas

     Standar penilaian dari setiap SMA di Kabupaten Kudus berbada-beda, SMU

Negeri 2 Bae Kudus menetapkan standar minimal penilaian dari setiap penilaian

adalah 6 (enam), jadi siswa yang mendapat nilai kurang dari enam akan dilakukan

remidi, sehingga standar nilai yang sudah ditentukan dapat tercapai.

     Ketuntasan dalam memberikan penilaian adalah sebagai lambang bahwa
                                                                            59



ketuntasan tiap kompetensi dasar sudah berhasil atau belum. Pengembangan-

pengembangan penilaian yang digunakan akan membantu dalam penyempurnaan

penilaian yang sudah ditentukan yaitu penilaian kognitif, afektif. Sehingga

penilaian pada kurikulum 2004 akan berjalan sesuai dengan ketentuan dan

penilaian dapat dilakukan seobjektif mungkin dan lebih valid.



3. Alasan Penggunaan Penembangan Model Penilian pada Kurikulum 2004

     Penggunaan pengembangan model penilain yang sesuai degan kurikulum

2004 tidak semata-mata asal menggunakan tetapi, mereka menggunakan alasan

tertentu untuk menggunakan teknik penilaian yang dianggap sesuai dengan

kemampuan dan dapat menyempurnakan dari ranah penilaian yang digunakan,

yaitu penilaian kognitif dan penilaian afektif. Alasan-alasannya adalah sebagai

berikut:

     Pertama, penilaian portofolio; dengan alasan yang sama yaitu, dengan

penilain portofolio guru dapat melihat hasil dari kerja siswa dengan demikian

guru juga dapat melihat apakah siswa sudah paham dengan materi yang

disampaikan oleh guru atau belum danapakah guru sudah berhasil atau belum

dalam menyampaikan materi kepada siswa. Noorhayati Spd menambahkan,

penilaian portofolio ini akan memudahkan guru dalam memantau prestasi siswa

dalam belajar.

     Kedua, penilaian unjuk kerja; penilaian unjuk kerja ini dilakukan dengan

tujuan agar siswa lebih peka dengan lingkungan dan masalah-masalah yang

sedang hangat dibicarakan. Tugas unjuk kerja yang diberikan oleh SMA Negeri 2

Bae Kudus bersifat tugas kelompok, jadi siswa juga dilatih untuk bisa bekerja
                                                                                  60



sama dengan orang lain, dapat mendengarkan pendapat orang lain, dan dapat

berbicara didepan kelas pada saat mempresentasikan hasil kerja kelompok mereka

     Soleh Prihatin menambahkan, penilaian unjuk kerja adalah suatu penilaian

yang menilai semua aspek. Aspek-aspek yang dinilai mulai dari siswa memilih

judul yang tepat sampai pada presentasi didepan kelas, sehingga penilaian kognitif

dan penilaian afektif dapat sekaligus dilakukan, dengan alasan tersebut Soleh

Prihatin Spd menggunakan teknik penilaian unjuk kerja. Untung Sulistyo Spd dan

Noorhayati Spd belum menggunakan pengembangan model ini, karena dirasa

belum perlu untuk digunakan, dengan alasan yang sama mengungkapkan

penilaian ini akan menghabiskan banyak waktu.

     Ketiga, penilaian diri; penilaian ini hamya digunakan oleh Untung Sulistyo

Spd. Untung Sulistyo Spd menggunakan penilaian ini karena beliau menganggap

penilaian ini sangat membantu pekerjaan guru dalam mengoreksi hasil jawaban

siswa itu sendiri, selain itu tugas ini juga dapat melatih siswa untuk lebih bersikap

jujur pada diri sendiri agar dalam memberi penilaian akan objektif. Secara

otomatis penilaian ini akan lebih merangsang siswa untuk lebih belajar dengan

giat agar tepat pada saat memberikan penilaian, karena guru tetap memantau

proses siswa dalam memberikan penilaian.

     Keempat, penilaian tes tertulis dilakukan dengan alasan untuk memenuhi

ketentuan yang sudah ada, yaitu setelah tuntas dalam per kompetensi dasar harus

dilakukan ulangan harian untuk mengetahui apakah sudah tuntas dan sudah

berhasil dalam penyampaian atau belum. Jika belum maka segera dilakukan

remidi untuk memperbaikinya.
                                                                                61



     Kelima, penilaian sikap; seperti yang sudah diungkapkan diatas, yaitu

penilaian sikap disini sama dengan penilaian afektif, jadi penilaian ini juga harus

dilakukan dengan alasan penilain sikap ini mencerminkan sifat pribadi dari siswa

itu sendiri. Segala tingkah laku yang diperbuat mulai dari penampilan, sikap,

minat terhadap materi, kerjasama, belajar, tenggang rasa, dan kedisiplinan akan

dinilai oleh guru. Penilaian sikap ini akan memicu siswa untuk belajar dalam

kelas dengan baik, yang akhirnya akan menciptakan situasi belajar mengajar yang

kondusif.



4. Kekurangan dan Kelebihan dari Pengembangan Kurikulum 2004 yang

   Digunakan dalam Mata Pelajaran Sosiologi

     Dalam setiap kebijakan-kebijakan dari pemerintah tidak terkecuali dalam

bidang pendidikan juga ada ketidak sempurnaan, ada kekurangan dan ada

kelebihannya. Dari kekurangan tersebut akan dijadikan acuan untuk dijadikan

penyempurnaan pada kebijakan selanjutnya. Seperti pada pengembangan

penilaian dengan tujuh teknik penilaian terdapat kekurangan dan kelebihan dari

tiap-tiap jenis penilaian. Dari hasil wawancara dengan guru Sosiologi didapati

kekurangan dan kelebiahan dari teknik penilaian yang digunakan. Kekurangan

dan kelebihan dari yang diungkapkan oleh guru-guru Sosiologi hampir sama,

diantaranya:

     Pertama, penilaian portofolio dalam pelaksanaannya melibatkan siswa,

karena hasil dari tugas atau hasil penilaian dari guru di kembalikan pada siswa

agar siswa dapat mengetahui sejauh mana siswa dapat memahami materi yang di
                                                                                62



berikan oleh guru dan guru tentusaja harus sudah mendokumentasikannya dalam

file khusus mata pelajaran sosiologi selain itu dalam penilaian ini wali murid juga

dilibatkan. Dari tugas dan penilaian portofolio ini terdapat kekurangn dan

kelebihan diantaranya:

a. Kekurangan

Pada penilaian ini, menurut guru-guru Sosiologi SMA Negeri 2 Bae Kudus

memberi alasan yang sama yaitu, bila siswa dalam mengerjakan tugas kurang

aktif maka akan menghambat dalam mengumpulkan tugas yang akan berdampak

keterlambatan pada pemberian penilaian, dengan terlambat dalam mengumpulkan

tugas maka pemberian tugas berikutnya juga akan terlambat. Kekurangan yang

lain adalah hasil kerja siswa kadang tidak murni siswa yang mengerjakan sendiri,

karena ada juga siswa yang mencontek pekerjaan teman mereka yang lebih pandai

untuk mendapatkan nilai yang baik.

b. Kelebihan

Seperti yang diungkapkan oleh guru-guru SMA Negeri 2 Bae Kudus, kelebihan

dari penilaian ini adalah guru dapat memantau kemajuan dan kemunduran yang

dialami oleh siswa, kerena guru memiliki catatan nilai dari setiap siswa.

Kemudian Soleh Prihatin Spd menambahkan kelebihan dari penilaian ini adalah

dapat mengetahui apakah guru berhasil dalam memberikan materi pada siswa atau

belum yang sesuai dengan kompetensi dasar yang sudah ditentukan.

       Kedua, penilaian unjuk kerja merupakan tugas yang diberikan oleh guru

yang    bertujuan   mengetahui    tingkat   kemampuan      peserta   didik   dalam

menyelesaikan masalah-masalah dikehidupan nyata. (Depdiknas 2003:39).
                                                                              63



Kemudian dari pengertian diatas dapat dilihat:

a. Kekurangan

Menurut hasil wawancara dengan Soleh Prihatin Spd hampir sama yaitu,

kekurangan dari penilaian ini adalah kurang tepatnya waktu siswa dalam

menyelesaikan tugas karena tugas ini dimulai dari perencanaan, pemilihan

masalah, sampai pada presentasi siswa di depan kelas. Kemudian Soleh Prihatin

Spd menambahkan kekurangan yang lain dalam penilaian ini adalah kurang

pahamnya siswa dengan tugas yang diberikan, sehingga kadang hasil dari tugas

ini tidak sesuai dengan yang diharapkan dan juga ada siswa yang pandai tidak mu

menjawab pertanyaan, hal itu juga akan menyulitkan dalam memberikan penilaian

pada siswa.

b. Kelebihan

Berdasarkan wawancara dengan Soleh Prihatin Spd dengan pemberian tugas ini

siswa akan lebih peka dengan lingkungan karena siswa harus menginformasikan

subjek yang dijadikan tugas, selain itu tugas unjuk kerja dapat melatih siswa

untuk bisa berbicara di depan orang banyak dan berani mengemukakan

pendapatnya. Sedangkan Soleh Prihatin Spd menuturkan tugas unjuk kerja ini

akan menghasilkan nilai yang objektif dan valid, karena penilaian mencakup

banyak aspek dan dalam penilaian unsure penilaian kognitif dan afektif dapat

tercakup dalam tugas ini.

     Ketiga, penilaian sikap merupakan pengembangan dari penilaian afektif, jadi

penilaian ini menilai sikap siswa saat proses belajar mengajar sedang berlangsung

dan penilaian ini tidak membutuhkan instrument dalam memberi nilai pada siswa
                                                                              64



guru hanya menggunakan format penilaian yang sudah ditentukan, yaitu sesuai

dengan Pedoman Khusus Pengembangan Silabus dan Penilaian yang dikeluarkan

oleh Depdiknas tahun 2003.(wawancara dengan Untung Sulistyo Spd)

Kekurangan dan kelebihannya adalah:

a. Kekurangan

Kekurangan yang diungkapkan oleh guru Sosiologi SMA Negeri 2 Bae Kudus

hampir sama, yaitu penilaian ini dilakukan hanya pada saat jam mata pelajaran

berlangsung dan diluar itu guru tidak dapat menilai sikap dari siswa.

b. Kelebihan

Berdasarkan hasil wawancara dengan guru-guru sosiologi dalam hal kelebihan

penilaian sikap adalah penilaian ini akan mudah merangsang siswa untuk lebih

memperhatika materi yang sedang diberikan oleh guru, dengan indicator penilaian

yang sudah ditentukan maka guru akan lebih mudah memantau tingakah laku dan

respon siswa yang berhubungan dengan penyampaian materi oleh guru dan respon

siswa terhadap materi dan guru, dari penilaian ini dapat menggambarkan pribadi

dari siswa yang bersangkutan.

     Keempat, penilaian tertulis merupakan tes dimana soal dan jawaban yang

diberika pada peserta didik dalam bentuk tulisan. (Depdiknas,2004:19).

Berdasarkan     wawancara    dengan     guru-guru    sosiologi   kekurangan   dan

kelebihannya adalah:

a. Kekurangan

Pada tes tertulis siswa dalam mengerjakan tidak jarang mengerjakannya dengan

curang yaitu dengan jalan melihat contekan atau mencontek dari teman yang lebih
                                                                                   65



pandai. Kadang nilai dari siswa yang pandai dan siswa yang kurang pandai

hampir sama bahkan sama. Jadi nilai yang diperoleh kurang sesuai dengan

kemampuan dari siswa yang sebenarnya.

b. Kelebihan

Kelebihan dari penilaian tes tertulis adalah dapat melatih siswa untuk mandiri

dalam mengerjakan soal dan bagi guru dapat mengukur kemampuan siswa dalam

menjawab dan juga dapat digunakan guru sebagai tolak ukur keberhasilan dalam

menyampaikan materi pada siswa.

     Kelima, penilaian diri merupakan data yang diperoleh dari hasil penilaian

tentang kemampuan, kecakapan atau penguasaan kompetensi tertentu, yang

dilakukan oleh peserta didik sendiri dengan kriteria yang sudah ditentukan.

(Depdiknas 2004:33). Berdasarkan wawancara dengan Untung Sulistyo Spd,

mengatakan bahwa dengan penilaian diri ini akan lebih meringankan pekerjaan

guru dalam menilai, tetapi saat siswa memberikan penilaian guru harus tetap

mengawasinya. Noorhayati Spd dan Soleh Prihatin Spd tidak menggunakan

penilaian ini, kerena mereka khawatir dengan hasil penilaian siswa yang dianggap

kurang valid dan akan menghabiskan waktu guru untuk meneliti kembali. Adapun

kekurangan dan kelebihan dari penilaian ini adalah:

a. Kekurangan

Menurut hasil wawancara kekurangan dari penilaian ini adalah kurang jujurnya

siswa dalam memberi penilaian jadi penilaian kurang objektif dan kadang ada

beberapa siswa yang kurang memahami materi dan paham dengan apa yang harus

di nilai sehingga hasil penilaian tidak valid dan sesuai dengan yang diharapkan.
                                                                               66



b. Kelebihan

Kelebihan dari penilaian ini adalah dapat melatih siswa untuk berbuat jujur daan

bersikap objektif dalam memberikan penilaian sesuai dengan ketentuan yang

sudah di buat oleh guru dan akan lebih merangsang siswa untuk lebih mendalami

materi agar dalam memberi penilaian sesuai dengan yang diharapkan.



B. Pembahasan Hasil Penelitian

        Kurikulum berbasis kompetensi yang serentak dilaksanakan pada tahun

2004, menjadi perhatian khusus bagi dunia pendidikan, karena membutuhkan

persiapan dari berbagai aspek. Guru dalam kurikulum 2004 sebagai mediator

dituntut untuk bekerja keras dalam hal memberikan materi sampai pada penilain

yang sesuai dengan kurikulum 2004.

        Penilaian menjadi satu perhatian khusus bagi guru, sebab penialalain dalam

kurikulum 2004 adalah penilaian yang berkelanjutan dan menyeluruh.

Berkelanjutan artinya semua indikator ditagih, kemudian hasilnya dianalisis untuk

menentukan kompentensi dasar yang telah dimiliki dan yang belum, serta untuk

mengetahui kesulitan peserta didik. Dan penialain menyeluruh artinya meliputi

aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Sedang di SMA Negeri 2 Bae Kudus

masih memfokuskan penilaian hanya pada penilaian kognitif dan penilaian afektif

saja.

        Penilaian dalam kurikulum berbasis kompetensi adalah penilaian yang

berbasis kelas yang tidak semata-mata meningkatkan pengetahuan peserta didik,

tetapi kompetensi secara utuh yng merefleksikan pengetahuan, keterampilan, dan
                                                                               67



sikap sesuai dengan kaarakteristik Mata Pelajaran Sosiologi.Di dalam penilaian

kelas yang dilakukan oleh guru dilakukan untuk mengetahui kemauan belajar

siswa, memberikan umpan balik atau perbaikan dalam proses balajar mengajar,

dan menentukan kenaikan kelas.

     Dalam melakukan penilaian guru juga harus menggunakan rambu-rambu

yang sudah ditentukan dalam kurikulum 2004 dan menggunakan prinsip-prinsip

penilaian, yaitu; (1) valid; penilaian harus memberikan informasi yang akurat

tentang hasil belajar, (2) Mendidik; penilaian harus memberikan sumbangan

positif terhadap pencapaian belajar siswa. Hasil penilaian harus dinyatakan dan

dapat dirasakan sebagai penghargaan bagi siswa yang berhasil atau sebagai

pemicu semangat bagi siswa yang kurang berhasil, (3) berorientasi pada

kompetisi; penilaian harus menilai pencapaian kompetisi yang dimaksud dalam

kurikulum, (4) adil; penilaian harus adil terhadap semua siswa tidak membedakan

latar belakang sosial, ekonomi, budaya, bahasa, dan kelamin, (5) terbuka; kriteria

penilaian dan dasar pemgambilan keputusan harus jelas dan terbuka bagi semua

pihak yang bersangkutan, (6) berkesinambungan; penilaian dilakukan secara

berencana, bertahap, dan terus menerus untuk memperoleh gambaran tentang

perkembangan belajar siswa, (7) menyeluruh; penilaian dapat dilakukan dengan

berbagai teknik dan prosedur termasuk mengumpulkan berbagai hasil belajar

siswa, (8) bermakna; penilaian hendaknya mudah dipahami, mempunyai arti,

berguna, dan bisa ditindak lanjuti oleh semua pihak.

     Guru dituntut untuk lebih kretif dalam memberikan penilaian dan guru

disarankan tidak hanya menggunakan satu sumber data penilaian saja tetapi guru
                                                                             68



dapat mengembangakan penilaian yang sesuai dengan jenis, model, dan teknik

penilaian yang ada dalam krikulum2004, untuk memperoleh hasil penilaian dan

pembelajaran yang maksimal maka, guru di SMA Negeri 2 Bae Kudus

menggunakan pengembangan model penilaian dengan tujuh teknik penilaian. Dari

ketujuh macam penilaian yang ada dalam kurikulum 2004 hanya ada empat yang

digunakan, yaitu:

     Pertama, penilaian portofolio; merupakan penilaian berkelanjutan yang

didasarkan pada kumpulan informasi yang menunjukkan perkembangn siswa

dalam suatu periode tertentu. (Depdiknas,2004:22). Portofolio ini menilai

kumpulan karya dan tugas yang dikerjakan oleh siswa, penilaian ini untuk

mengetahui perkembangan unjuk kerja siswa. Penilaian portofolio yang ada di

SMA ini tidak sama dengan tujuan yang yang ada dalam penilaian portofolio. Hal

itu disebabkan kurang pahamnya guru dengan pengertian tentang penilaian

portofolio itu sendiri, karena latar belakang pendidikan mereka yang bukan dari

sosiologi sehingga dapat menghambat dalam pemberian materi yang berakibat

pada pemberian materi.

     Kedua, penilaian unjuk kerja; penilaian ini sering disebut dengan penilaian

autentik atau penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat

kemampuan peserta didik dalam meyelesaikan masalah-masalah di kehidupan

nyata. Penialain unjuk kerja menurut Depdiknas (2004:10) merupakan penilaian

yang dilakukan dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam melakukan

kegiatan. Berdasarkan pada analisis pekerjaan siswa untuk mencapai pada tingkat

yang diinginkan. Penilaian unjuk kerja pada SMA Negeri 2 Bae Kudus dilakukan
                                                                              69



pada materi Sosiologi tertentu saja untuk menilai kompetensi siswa ,seperti

perencanaan, analisis permasalahan, dan presentasi hasil hasil laporan. Pada

penilaian ini guru sudah sesuai dengan yang ada pada petunjuk teknik penialian

unjuk kerja yaitu menilai dengan mengamati kegiatan peserta didik dalam

melakukan sesuatu.

     Ketiga, penilaian sikap; Penilaian ini dilakukan oleh guru pada saat

memberikan materi, dan penilaian ini untuk menilai kompetensi sikap siswa baik

dalam hal pemehaman materi, keaktifan siswa dalam menanggapi materi, dan

lain-lain. Penilaian sikap berasal dari perasaan (suka-tidak suka) yang terkait

dengan kecenderunganbertindak seseorang dalam merespon sesuatu atau objek.

(Depdinas,2004:14).

     Penilaian sikap di SMA Negeri 2 Bae Kudus nilaianya masuk dalam format

penilain afektif. Penilaian sikap atau afektif ini sudah menggunakan format yang

sudah disediakan oleh sekolah dan sudah sesuai dengan teknik penilaian sikap

yang tertera dalam ketentuan oleh Depdiknas.

     Keempat, penilaian tes tertulis ini dilakukan sesuai dengan ketentuan yang

sudah ditetapkan oleh sekolah dan format sudah disediakan. Penilaian tes tertulis

ini digunakan juga sebagai nilai yang dapat mempengaruhi dalam pemberian nilai

di rapor. Penilaian ini termasuk dalam penilaian ranah kognitif yang menguji

kemampuan siswa dalam memahami materi yang diberikan oleh guru.

     Walaupun menurut guru-guru SMA Negeri 2 Bae Kudus tes tertulis yang

dilakukan tidak dianggap masuk dalam pengembangan penilaian tetapi dalam

pelaksanaan penilaian sudah sesuai dengan ketentuan Depdiknas tentang teknik-
                                                                             70



teknik penilaian yang sesuai dengan kurikulum 2004.

     Kelima, penilaian diri, penilaian ini sangat membantu kerja guru dalam

memberikan penilaian pada siswa, karena siswa diminta untuk menilai hasil kerja

mereka tentu saja dengan batasan yang sudah ditentukan oleh guru. Penilaian diri

akan merangsang siswa untuk lebih mendalami materi dan untuk melatih siswa

agar dapat bersikap jujur dan objektif. Penilaian diri menurut Depdiknas

(2004:25) merupakan suatu teknik penilaian, dimana subjek yang ingin di nilai

untuk menilai dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat

pencapaian kompetensi yang dipelajarinya dalam materi tertentu. Jadi teknik dan

tujuan yang dilakukan dalam penilaian diri ini sudah sesuai dengan pengertian

tentang penilain diri oleh Depdiknas.

     Pengembangan model penilain yang digunakan diatas bertujuan untuk

menyempurnakan dari ketiga ranah panilaian kurikulum 2004 yaitu penilaian

kognitif, afektif, dan psikomotorik. Pengembangan penilaian yang digunakan

dalam Mata Pelajaran Sosiologi dapat diarahkan untuk mencapai kompetensi

dasar yang sudah di tentukan. Penilaian dilakukan secara terus menerus agar guru

dapat mengetahui perkembangan peserta didik dan ketuntasan kompetensi dasar.

     Tidak semua siswa akan mendapatkan nilai yang bagus, jika dalam penilaian

siawa memiliki nilai kurang dari 6 (enam) maka siswa tersebut harus melakukan

remidi untuk memperbaiki nilai yang jelek. Maka dapat diharapkan tujuan

penilaian dapat dicapai, sehingga dapat digunakan untuk mengetahui tingkat

pencapaian kompetensi siswa, mengetahui hasil pembelajaran, mengetahui

pencapaia tiap-tiap kompetensi dasar, mengetahui pencapaian kurikulum,
                                                                               71



mendorong siswa untuk giat belajar, dan mendorong guru untuk lebih bersikap

profesional.

     Kemudian untuk menentukan penilaian kognitif guru-guru SMA Negeri 2

Bae Kudus hampir sama terutama pada penilaian portofolio. Pada penilaian

portofolio para guru sudah melakukan kesepakatan bersama untuk melakukan

penilaian ini, Dan penilaian yang lain adalah penilaian unjuk kerja, dalam

penilaian ini guru memiliki kriteria tersendiri dalam melakukan penilaian.

     Kriteria penilaian didasarkan pada materi yang akan disampaikan, jadi

antara guru satu dan yang lainnya berbeda. Selain pengembangan pada penilain

kognitif SMA Negeri 2 Bae Kudus, pengembangan dalam penilaian afektif juga

digunakan yaitu dengan menggunakan penilaian sikap dan penilain diri. Pada

penilain sikap guru menilai hanya pada saat proses belajar mengajar saja, kriteria

dalam penilaian ini diantaranya; keaktifan siswa pada saat proses belajar

mengajar, sikap siswa pada saat guru menyampaikan materi, dan lain sebagainya.

Kemudian pada penialain diri siswa diharapkan lebih belajar dengan giat karena

pada penilain ini siswa untuk menilai hasil dari tugas atau tes tertulis milik

mereka sendiri. Jika siswa tidak menguasai materi dengan baik maka dalam

penilaian akan tidak sempurna.

     Siswa dituntut untuk jujur dalam melakukan penilaian ini. Walaupun dalam

hal ini siswa melakukan penilaian sendiri tetapi guru tetap memberikan rambu-

rambu dalam penilain agar siswa tidak keluar jalur saat melakukan penilaian.

     Dengan demikaian penilain di SMA Negeri 2 Bae Kudus sudah dilakukan

sesuai dengan kriteria penilaian yang meliputi penilaian yang dilakukan dengan
                                                                                  72



cara tes dan non tes.Penilaian yang dilakukan mencakup tiga aspek kemampuan

yaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Penilaian yang dilakukan diharapkan

akan memberi masukan pada berbagai pihak antara lain kepala sekolah, guru yaitu

dengan lebih meningkatkan kualitas dalam mengajar, pada siswa agar lebih giat

dalam belajar sehingga membuat kelancaran dalam proses belajar mengajar

sehingga visi dan misi kurikulum 2004 dapat dilaksanakan lebih sempurna, dan

orang tua murid untuk lebih memberikan dorongan pada anak-anak mereka untuk

lebih mengutamakan belajar.

     Pertama, penilaian portofolio merupakan bentuk penilaian yang bertujuan

sebagai parameter guru dan siswa. Parameter guru, yaitu apakah dalam

menyampaikan materi guru sudah berhasil dan apakah setiap kompetensi dasar

yang harus dicapai sudah terlaksana atau belum, parameter siswa hal ini dapat

dilihat dari nilai-nilai siswa yang didapat baik dari ulangan tertulis atau lesan dan

dari tugas kelompok atau individu siswa. Parameter siswa sudah sesuai dengan

ketentuan dalam teknik penilaian portofolio, sedangkan parameter guru belum

tercapai , karena para guru di SMA Negeri 2 Bae Kudus masih berasumsi bahwa

penilaian portofolio masih terbatas pada pengumpulan nilai saja dan bukan

sebagai tolak ukur bagi mereka dalam menyampaikan materi.

     Kedua, penilaian unjuk kerja, dalam penilaian ini dapat dilakukan secara

individu maupun kelompok, sampai saat ini SMA Negeri 2 Bae Kudus masih

menggunakan tugas ini sebagai tugas kelompok. Ini dikarenakan untuk

memudahkan siswa dalam mengerjakan tugas. Seperti yang kita tahu yang

memberi tugas tidak hanya satu mata pelajaran saja. Disamping itu penilain unjuk
                                                                                73



kerja dapat melatih siswa untuk bisa bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang

lain, sesuai dengan maksud dari Mata Pelajaran Sosiologi. Jadi dengan alasan

tersebut guru lebih menggunakan penilaian unjuk kerja sebagai tugas kelompok.

     Ketiga, penilaian diri. Penilain diri seperti yang ada dalam Depdiknas , yaitu

dapat digunakan untuk dalam berbagai aspek penilaian, yang berkaitan dengan

kompetensi kognitif, afektif, dan psikomotorik. Penilaian diri yang digunakan di

SMA Negeri 2 Bae Kudus masih terbatas pada kompetensi kognitif yaitu menilai

tentang pemahaman siswa yang terlihat pada saat siswa memberikan nilai dan

kompetensi afektif, sedangkan pada kompetensi psikomotoriknya belum bisa

digunakan karena mereka tidak menggunakan penilaian psikomotorik dengan

alasan belum ada batasan yang jelas mengenai penilaian psikomotorik dalam Mata

Pelajaran Sosiologi.

     Keempat, penilaian tes tertulis digunakan untuk mengetahui apakah siswa

siswa sudah menguasai materi atau belum, hal itu dapat dilihat dari jawaban dan

nilai siswa. Penilaian ini digunakan untuk parameter guru dalam menyampaikan

materi sudah berhasil atau belum.

     Kelima, penilaian sikap, pada penilaian ini di SMA Negeri 2 Bae Kudus

khususnya pada Mata Pelajaran Sosiologi sudah sesuai dengan ketentuan yang

berlaku, yaitu dengan menggunakan format yang sudah ada dan format penilaian

itu sudah dibuat oleh Diknas Kabupaten Kudus, sehingga semua SMA baik negeri

maupun swasta pada penilaian sikap atau penilaian afektif indikator yang dinilai

adalah sama.
                                                                            74



     Dalam menggunakan pengembangan model penilaian dengan teknik yang

digunakan terdapat kekurangan dan kelabihan dari masing-masing penilaian yang

digunakan. Kekurangan dan kelebihan dari teknik penilaian yang digunakan yaitu:

     Didalam melakukan penilaian tidak selamanya guru melakukan dengan

lancar, karena dari setiap pengembangan penilaiann memiliki kekurangan yang

dapat menghambat, kekurangan-kekurangan itu diantaranya:

a. Penilaian Portofolio

     Penilaian prtofolio; dalam penilaian ini guru dituntut lebih cermat antara

penilaian dengan pencapaian kompetensi yang harus dikuasai oleh siswa,

sedangkan guru masih harus melakukan hal yang sama dengan mata pelajaran

yang berbeda. Karena belum ada lulusan dari Sosiologi.dan kurangnya

pemahaman guru terhadap penguasaan materi, mengingat latar belakang

pendidikan guru yang tidak sosiologi.

b. Penilaian Unjuk Kerja

     Penilaian unjuk kerja; penilaian ini akan kelihatan kelemahannya pada saat

pelaksaan dari proses penilaian itu sendiri, dan hambatannya antara lain; (1)

waktu penyelesaian tugas lebih lama, dan (2) kurangnya pemahaman materi oleh

siswa sehingga tugas yang di selesaikan belum seperti yang diharapkan.

c. Penilaian Sikap

     Penilaian sikap terdapat kelamahan pada; (1) guru hanya menilai pada saat

proses belajar mengar saja, dan (2) kurangnya keaktifan siswa dalam menanggapi

materi yang diberikan.
                                                                            75



d. Penilaian tes tertulis

      Kelemahan dari penilaian ini adalah; (1) tidak tepatnya siswa dalam

menjawab soal, dan (2) kecurangan siswa dalam mengerjakan ulangan.

e. Penilaian Diri

      Penilaian diri terdapat kelemahan pada; (1) kurangnya pemahan materi oleh

siswa, (2) kurangnya kejujuran siswa dalam melakukan penilaian, dan (3) kurang

jelasnya guru dalam memberikan materi dan memberikan tugas pada siswa.

      Sedangkan selain kekurangan yang ada dalam pengembangan penilaian

yang digunakan ada pula kelebihan dari teknik-teknik penilaian yang digunakan.

Kelebihannya adalah:

a. Penilaian psikomotorik

      Kelebihan dari penilaian ini adalah; (1) dapat mengetahui perkembangan

siswa melalui nilai yang sudah di dokumentasikan, dan (2) dapat mengetahui

ketuntasan dalam belajar dan kompetensi dasar.

b. Penilaian unjuk kerja

      Kelebihan dari penilaian ini adalah; (1) siswa akan lebih peka dengan

lingkungan pada saat melaksanakan tugas, (2) jika tugas dikerjakan dengan

kelompok maka akan memupuk rasa tanggung jawab bersama untuk

menyelesaikan tigas bersama pula, dan (3) akan melatih siswa berani untuk

berpendapat didepan teman-temannya.

c. Penilaian sikap

      Kelabihan dari penilaian ini adalah; (1) akan merangsang siswa untuk

belajar lebih giat, (2) akan merangsang siswa untuk memperhatikan materi saat
                                                                              76



pelajaran sedang berlangsung, dan (3) dapat mengontrol perilaku siswa untuk

berperilaku lebih baik.

d. Penilaian tes tertulis

      Kelebihan dari penilaian ini adalah; (1) merangsang siswa untuk giat dalam

belajar agar dapat mengerjakan soal dengan benar, dan (2) dengan nilai rata-rata

yang dihasilka dapat dijadikan tolak ukur guru apakah sudah berhasil dalam

menyampaikan materi atau belum.

e. Penilaian diri

      Kelebihan dari penilaian ini adalah; (1) dapat meringankan pekerjaan guru

dalam menilai, (2) merangsang siswa untuk mendalami materi yang sudah

diberikan oleh guru, dan (3) melatih siswa untuk jujur dan objektif dalam menilai

hasil kerja mereka sendiri.

      Dengan adanya kekurangan dan kelebihan yang ada maka, guru harus lebih

bisa memilih teknik-teknik mana saja yang lebih tepat untuk digunakan sebagai

penilaian yang sesuia dengan kurikulum 2004. Guru harus lebih kreatif dalam

memberikan penilaian agar penilaian akan lebih objektif, valid, dan dapat

dipertanggung jawabkan. Walaupun sampai sekarang SMA Negeri 2 Bae Kudus

masih dalam tahap pendalaman pada kurikulum 2004, tetapi akan tetap berusaha

untuk mewujudkan misi dan visi Pendidikan Nasional RI.

      Kekurangan dan kelebihan yang ada dalam masing-masing teknik yang

digunakan dapat digunakan sebagai acuan untuk guru agar lebih mendalami

tujuan dari kurikulum 2004 dan untuk pemerintah agar dapat diberikan

pembekalan tentang kurikulum 2004 pada guru agar lebih memahami apa itu
                                                                           77



kurikulum 2004. Kemudian sebagai siswa diharapkan lebih bisa menyesuaikan

difri dengan kurikulum berbasis kompetensi dengan membiasakan diri untuk lebih

mementingkan perannya sebagai pelajar, yaitu belajar. Dengan memahami peran

masing-masing diharapkan dapat mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan

penilaian kurikulum 2004 yang dikenal dengan penilaian kelas.
                                      BAB V

                                   PENUTUP



A. Simpulan

     Berdasarkan jenis penilaian yang digunakan, maka dapat diambil

kesimpulan sebagai berikut:

1. Secara umum SMA Negeri 2 Bae Kudus hanya menggunakan lima model

   penilaian saja, yaitu penilaian portofolio, sikap, unjuk kerja, tes tertulis, dan

   diri. Walaupun dalam kirikulum2004 diperkenalkan dengan tujuh teknik

   penilaian.

2. Penggunaan pengembangan penilaian dilakukan dengan alasan untuk

   meningkatkan     tingkat   validitas   dalam   memberikan     penilaian,   untuk

   mengetahui apakah tujuan dari belajar sudah tercapai atau belum, dan untuk

   mengetahui ketuntasan per kompetensi dasar.

3. Kekurangan dari penilaian yang digunakan antara lain: kurang mendalam

   pemahaman siswa denga materi yang diberikan, ketepatan waktu dalam

   mengerjakan dan mengumpulkan tugas. Dan kelebihannya antara lain dapat

   mendorong siswa untuk giat belajar, melatih siswa untuk jujur dalam

   melakukan penilaian diri, untuk mengetahui tingkat prestasi siswa, dan dapat

   sebagai tolak ukur guru untuk mengetahui keberhasilan dalam memberikan

   materi dan ketuntasan per kompetensi dasar.




                                          78
                                                                           79



B. Saran

     Untuk memperbaiki dan memperlancar dalam memberikan penilaian

berdasarkan kurikulum 2004 pada Mata Pelajaran Sosiologi kelas X, maka penulis

menyarankan:

1. Diadakan diklat atau penataran bagi guru-guru untuk memperdalam

   pengetahuan tentang kurikulum 2004 dan cara penilaian, walaupun sudah

   melaksanakan kurikulum 2004.

2. Guru-guru diharapkan lebih kreatif dalam memberikan materi dan penilaian,

   sehingga nilai yang di dapat akan lebih objektif dan valid. Guru diharapkan

   mengetahui kekurangan dan kelebihan dari setiap penilaian yang digunakan.

3. Siswa hendaknya lebih belajar dengan giat dan tepat waktu dalam

   mengumpulkan tugas, jadi tidak menghambat proses penilaian yang sesuai

   dengan kurikulum 2004.

4. Sekolah supaya memfungsikan sarana dan prasarana untuk siswa, agar tujuan

   dari penilaian dapat tercapai dengan baik.
                            DAFTAR PUSTAKA


Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktek. Jakarta: PT.
         Rineka Cipta.

Depdiknas. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Depdiknas. 2001. Kurikulum Berbasis Kompetensi Mata Pelajaran Sosiologi
        SMA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Depdiknas. 2004. Pedoman Penilaian Kelas. Jakarta: Departemen Pendidikan
        Nasional.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menegah Atas Pola Induk
        Pengembangan Sistem Penilaian. Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Kurikulum 2004 Sekolah Menengah Atas Pola Induk
        Pengembangan Silabus dan Penilaian Mata Pelajran Sosiologi: Jakarta:
        Depdiknas.

Hamalik, Oemar. 2003. Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan
        Sistem. Jakarta: Bumi Aksara.

Jazuli, Moh. 2001. Metode Penelitian Kualitatif. Jurusan Sendratasik Bahasa dan
         Seni Universitas Negeri Semarang.

Kutoyo Sotrisno. 2004. Sosiologi SMA. Jakarta: Grasindo.

Moleong Lexy. 2002. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja
       Rosdakarya.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja
        Rosdakarya.

Mulyasa. 2004. Implementasi Kurikulum 2004. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Murdiana. 2005. Pelaksanaan Penilaian Mata Pelajaran Sosiologi Berdasarkan
        Kurikulum 2004 di SMA Negeri Se- Kabupaten Batang. Skripsi S1 Pada
        Jurusan Sosiologi dan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial Negeri
        Semarang.

Nasution. 1989. Kurikulum dan Pengajaran. Jakarta: PT Bumi Aksara.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004. Jakarta: Grasindo.



                                      80
                                                                           81



Soekanto, Soerjono. 2001. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo
        Persada.

								
To top