Docstoc

Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajarn BI Melalui Pemberian Motivasi

Document Sample
Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajarn BI Melalui Pemberian Motivasi Powered By Docstoc
					Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajarn BI Melalui Pemberian Motivasi



20:23:51 22/08/2007 | 4043 pembaca

Pengirim: Musa Ismail (124.81.28.246)

email: musaismail_bks@yahoo.com



Meningkatkan Kreativitas Siswa dalam Pembelajaran Sastra

Melalui Pemberian Motivasi (Reward)

Oleh Musa Ismail

(Guru SMAN 3 Bengkalis, Riau)

Bab I

Pendahuluan



1.1 Latar Belakang

Sebelum membahas lebih jauh, terlebih dahulu saya mengajak kita semua merenungi beberapa
kenyataan pahit yang menjadi permasalahan dunia sastra, terutama di lingkungan pendidikan.
Kenyataan pahit ini bisa kita tinjau dari segi kurikulum, kepedulian siswa, materi pembelajaran, dan
kemampuan guru bahasa dan sastra Indonesia.

1. Kita simak pernyataan sastrawan, Taufiq Ismail!

‘’Pengajaran sastra yang teratur di SMU kita, sejak Indonesia merdeka penuh, baru berlangsung 50
tahun. Berdampingan dengan pengajaran bahasa, pengajaran sastra terdesak ke tepi kursi, hanya diberi
tempat sesempit 20%, sedangkan yang 80% dengan lapang diduduki oleh pengajaran kaidah tata
bahasa’’ (Horison Edisi September 2000:4).



2. Kita simak pula pernyataan Sastrawan dan kritikus sastra, Moh. Wan Anwar!



‘’Dari sekian banyak masalah dalam karya sastra, pembelajaran sastra merupakan masalah pelik karena
implikasinya yang luas terhadap masalah-masalah lainnya. Keterpencilan sastra, kurang lakunya buku
sastra, rendahnya minat baca siswa terhadap sastra, kurangnya (kuantitas dan kualitas) kritik sastra,
misalnya, bisa mengerucut pada persoalan kurang berhasilnya pembelajaran sastra, entah di sekolah
(SLTP/SMU) maupun jurusan (pendidikan) sastra di perguruan tinggi. Dengan lain kata, bila
pembelajaran sastra berhasil, sedikit demi sedikit masalah-masalah itu akan terkikis. Itu sebabnya
pembicaraan dan diskusi mengenai pendidikan sastra selalu menjadi penting adanya’’ (Horison Edisi
Desember 2003:12).



3. Boen S. Oemarjati pula mengatakan bahwa posisi pengajar amatlah penting karena pengajarlah yang
akan memilih bahan dan menghadapi langsung problema pembelajaran sastra di sekolah. Dalam catatan
Ajip Rosidi, masalah pembelajaran sastra, khususnya ketidakberhasilan apresiasi sastra di sekolah, mulai
menjadi pembicaraan resmi para ahli sastra dan kaum pendidik sudah sejak tahun 1955 dalam suatu
simposium di Universitas Indonesia (lihat Catatan Akhir Moh. Wan Anwar dalam Horison Edisi Desember
2003:22-23).

Soal ketidakcintaan siswa terhadap pembelajaran sastra sering kita jumpai ketika proses pembelajaran
berlangsung. Mereka mudah mengeluh ketika guru menugaskannya untuk menulis puisi atau cerpen.
Keluhan itu muncul sama halnya ketika mereka ditugaskan untuk menulis (mengarang) artikel/opini.
Bagi mereka, begitu sulitnya jika berhadapan dengan sastra dan kreativitas menulis (mengarang). Kalau
mereka ditugaskan membaca karya sastra, ada kesan berat di keningnya. Oleh Taufiq Ismail, kenyataan
seperti ini dilukiskan dalam tulisannya berjudul ‘’Benarkah Kini Bangsa Kita Telah Rabun Membaca dan
Lumpuh Menulis?’

1.2 Analisis Masalah

Kenyataan-kenyataan di atas tentu saja berdampak negatif terhadap proses membelajarkan siswa
bersastra di sekolah. Kenyataan pahit tersebut juga terjadi di SMA se-Kecamatan Bengkalis. Masalah-
masalah penting yang teridentifikasi dari pembelajaran sastra di SMA Kecamatan Bengkalis, khususnya
SMA Negeri 3 Bengkalis adalah sebagai berikut.

1. Kemampuan siswa dalam aktivitas dan kreativitas sastra dikungkung oleh ketidakpercayaan diri.

2. Belum adanya motivasi khusus terhadap siswa untuk melakukan aktivitas dan kreativitas sastra.

3. Kurangnya penghargaan kepada siswa yang sudah menunjukkan aktivitas dan kreativitas sastra pada
tahap permulaan.

4. Model pembelajaran yang dilakukan masih tradisional sehingga mematikan aktivitas dan kreativitas
siswa.

5. Dalam hal menulis kreatif, penilaian yang dilakukan guru terlalu bersifat teknik kebahasaan sehingga
kurang menyentuh ke persoalan mutu kreativitas yang dihasilkan siswa.

6. Sistem penilaian yang dilakukan tidak berdasarkan prinsip penilaian yang sebenarnya (authentic
assessment).
7. Muncul kejenuhan ketika pembelajaran sastra berlangsung.

8. Guru dan siswa kurang memanfaatkan media massa cetak untuk mempublikasikan karya kreativitas
mereka.

9. Masih kurangnya kemampuan guru dalam hal menulis kreatif, terutama untuk publikasi di media
massa cetak.



1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan realitas pahit kehidupan sastra di sekolah seperti uraian di atas, maka permasalahan yang
ditelaah dalam makalah ini adalah ‘’Apakah teknik penilaian portofolio dan motivasi penghargaan dapat
meningkatkan aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran sastra?’’

1.4 Definisi Operasional

1. Aktivitas dan kreativitas siswa adalah semua perilaku positif siswa dalam pembelajaran sastra, baik
intrakurikuler maupun ekstrakurikuler seperti mengikuti berbagai lomba/sayembara atau menulis dan
mengirimkannya ke media massa.

2. Penilaian portofolio adalah evaluasi yang bersifat penilaian yang sebenarnya dengan menggabungkan
nilai intra- dan ekstrakurikuler. Penilaian ini berbentuk kumpulan aktivitas dan kreativitas siswa.

3. Motivasi penghargaan adalah dorongan yang diberikan kepada siswa berupa nilai ’’90’’ untuk aspek
psikomotor. Gunanya untuk menggugah aktivitas dan kreativitas siswa dalam pembelajaran sastra.
Bab II

Kajian Teoretis



2.1 Prinsip-Prinsip Pembelajaran Sastra

Ketika kaki hendak melangkah ke sekolah, guru bahasa dan sastra Indonesia haruslah mengubah prinsip
tugasnya dari mengajarkan sastra kepada siswa kepada membelajarkan siswa bersastra. Dengan cara
siswa belajar bersastra berarti ada upaya langsung untuk menikmati karya sastra.

Ketika pembelajaran sastra berlangsung, guru semestinya lebih banyak mengurangi peranannya sebagai
penceramah yang menjejalkan materi-materi. Secara empiris, penjejalan materi inilah yang
mengundang kejenuhan siswa datang begitu cepat. Pembelajaran dengan suasana jenuh tidak bisa
memunculkan kondisi belajar sastra yang sehat. Untuk menciptakan kondisi belajar sastra yang sehat,
guru bahasa dan sastra Indonesia dituntut memahami prinsip-prinsip pembelajaran sastra.

Rizanur Gani, dalam bukunya yang berjudul ‘’Pengajaran Sastra Indonesia’’, menganjurkan beberapa
prinsip pembelajaran sastra berdasarkan respons siswa yang bisa dijadikan pedoman bagi guru bahasa
dan sastra Indonesia. Pertama, wacana sastra haruslah dipilih berdasarkan potensinya yang mampu
menggugah perhatian siswa. Pemilihan yang didasari atas genre, periode sejarah, jenis-jenis sastra
semata tidak mengandung makna yang cukup bagi suatu pengajaran sastra yang baik. Seleksi hendaknya
didasarkan pada keselarasannya dengan kemampuan dan kematangan siswa yang harus membacanya.
Dengan kata lain, wacana pilihan itu relevan dengan kebutuhan pengalaman sastra yang ingin
dikembangkan.
Kedua, proses diskusi hendaklah dikonsentrasikan pada respons siswa semata. Siswa harus didorong
untuk melakukan respons itu, betapapun kelemahannya, selanjutnya mengacu pada proses analisis.
Selagi diskusi tersebut berlangsung, guru seyogyanya membantu siswa membedakan antara apa yang
dibawanya ke dalam wacana itu dan apa yang ditemukannya….Guru jangan sekali-kali mencoba
membentuk respons siswa dengan pertanyaan-pertanyaan yang mengarah pada sudut pandan guru.

Ketiga, guru hendaknya berusaha membina iklim belajar yang kooperatif, bukan yang kompetitif….
Diskusi hendaknya terbina dengan memberikan kesempatan pada siswa untuk mempertajam
wawasannya, mengubah sikapnya, memanfaatkan pengamatan rekannya, dan memperluas perspektif
kerjanya.

Keempat, segala respons sifatnya relatif, tidak ada yang mutlak karena kebermaknaan cipta sastra
dibuat oleh siswa secara pribadi. Kelima, bentuk respons seyogyanya bervariasi. Interpretasi bukan
merupakan kulminasi dari suatu diskusi. Keragaman respons sangat memperkaya khazanah wawasan
dan gagasan masing-masing siswa. Dalam kondisi keberagaman itulah, hasrat bertukar pikiran dapat
dikembangkan secara sehat, menantang, dan merangsang (1998:67—68).

Louise Rosenblatt pun menawarkan prinsip-prinsip pembelajaran sastra sebagai berikut. Pertama, siswa
harus diberi kebebasan untuk menampilkan respons dan reaksinya. Kedua, siswa harus diberi
kesempatan untuk mempribadikan dan mengkristalisasikan rasa pribadinya terhadap cipta sastra yang
dibaca dan dipelajarinya. Ketiga, guru harus berusaha untuk menemukan butir-butir kontak di antara
pendapat para siswa. Keempat, peranan dan pengaruh guru harus merupakan daya dorong terhadap
penjelajahan pengaruh vital yang inheren di dalam sastra itu sendiri.



2.2 Aktivitas dan Kreativitas Siswa

William Burton dalam Mohd. Uzer Usman mengatakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan
belajar siswa sehingga ia mau belajar (1995:21). Pendapat tersebut menekankan akan pentingnya
aktivitas siswa dalam belajar. Selanjutnya, William Burton menggolongkan aktivitas siswa sebagai
berikut.

1. aktivitas visual (visual activities) seperti membaca, menulis, melakukan eksprimen dan demonstrasi

2. aktivitas lisan (oral activities) seperti bercerita, membaca sajak, tanya jawab, diskusi, menyanyi

3. aktivitas mendengarkan (listening activities) seperti mendengarkan penjelasan guru, ceramah, dan
pengarahan

4. aktivitas gerak (motor activities) seperti senam, atletik, menari, dan melukis

5. aktivitas menulis (writing activities) seperti mengarang, membuat makalah, dan membuat surat

Menurut Mohd. Uzer Usman, cara lain untuk melibatkan aktivitas siswa dalam pembelajaran adalah
sebagai berikut.
1. Cara memperbaiki keterlibatan kelas

a. Abadikanlah waktu yang lebih banyak untuk kegiatan belajar mengajar.

b. Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam proses belajar mengajar dengan menuntut respon
yang aktif dari siswa. Gunakan berbagai teknik mengajar, motivasi, serta penguatan (reinforcement).

c. Masa transisi antara berbagai kegiatan dalam proses belajar mengajar hendaknya dilakukan secara
cepat dan luwes.

d. Berikan pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan tujuan mengajar yang akan dicapai.

e. Usahakan agar pengajaran dapat lebih menarik minat murid. Untuk itu, guru harus mengetahui minat
siswa dan mengaitkannya dengan bahan dan prosedur pengajaran.

1. Cara meningkatkan keterlibatan siswa

a. Kenalilah dan bantulah siswa-siswa yang kurang terlibat. Selidiki apa yang menyebabkan dan usaha
apa yang bisa dilakukan untuk meningkatkan partisipasi siswa tersebut.

b. Siapkanlah siswa secara tepat. Persyaratan awal apa yang diperlukan siswa untuk mempelajari tugas
yang baru.

c. Sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan individual siswa. Hal ini sangat penting untuk
meningkatkan usaha dan keinginan siswa untuk berperan secara aktif dalam proses pembelajaran
(1995:26).



2.3 Penilaian Portofolio

Dasim Budimansyah menjelaskan tentang pengertian portofolio sebagai berikut.

’’Portofolio sebenarnya dapat diartikan sebagai suatu wujud benda fisik, sebagai suatu proses social
pedagogis, maupun sebagai adjective. Sebagai suatu wujud benda fisik portofolio itu adalah bundel,
yakni kumpulan atau dokumentasi hasil pekerjaan peserta didik yang disimpan pada suatu bundel.
Misalnya, hasil tes awal (pre-test), tugas-tugas, catatan anekdot, piagam penghargaan, keterangan
melaksanakan tugas terstruktur, hasil tes akhir (post-test), dan sebagainya. Sebagai suatu proses
pedagogis, portofolio adalah collection of learning experience yang terdapat di dalam pikiran peserta
didik baik yang berwujud pengetahuan (kognitif), ketrampilan (skill), maupun nilai dan sikap (afektif).
Adapun sebagai suatu adjective portofolio sering kali disandingkan dengan konsep lain, misalnya dengan
konsep pembelajaran dan penilaian. Jika disandingkan dengan konsep pembelajaran maka dikenal istilah
pembelajaran berbasis portofolio (portofolio based learning), sedangkan jika disandingkan dengan
konsep penilaian, maka dikenal isitilah penilaian berbasis portofolio (portofolio based assessment).

….Postofolio biasanya merupakan karya terpilih dari seorang siswa. Tetapi dapat juga berupa karya
terpilih dari satu kelas secara keseluruhan yang bekerja secara kooperatif membuat kebijakan untuk
memecahkan masalah. Istilah ’’karya terpilih’’ merupakan kata kunci dari portofolio. Maknanya adalah
bahwa yang harus menjadi akumulasi dari segala sesuatu yang ditemukan para siswa dari topik mereka
harus memuat bahan-bahan yang menggambarkan usaha terbaik siswa dalam mengerjakan tugas-tugas
yang diberikan kepadanya, serta mencakup pertimbangan terbaiknya tentang bahan-bahan mana yang
paling penting. Oleh karena itu portofolio bukanlah kumpulan bahan-bahan yang asal comot dari sana-
sini, tidak ada relevansinya satu sama lain, ataupu bahan yang tidak memperlihatkan signifikansi sama
sekali (2002:1-3).



Menurut Budimansyah, model penilaian berbasis portofolio mengacu pada sejumlah prinsip dasar
penilaian. Prinsip-prinsip dasar penilaian dimaksud adalah penilaian proses dan hasil, penilaian berkala
dan bersinambung, penilaian yang adil, dan penilaian implikasi sosial belajar. Sedangkan indikator
penilaian portofolio, yaitu tes formatif dan sumatif, tugas-tugas terstruktur, catatan perilaku harian,
laporan aktivitas di luar sekolah (2001:112-121).




Bab III

Metodologi Penelitian



3.1 Metode Pengumpulan dan Teknik Analisis Data

Pengumpulan data dalam penelitian tindakan kelas ini menggunakan metode observasi terbuka. Dalam
pelaksanaan observasi terbuka ini, peneliti mencatat berbagai persoalan penting yang terjadi selama
proses pembelajaran dan proses tindakan untuk dilakukan pengembangan ke tahap berikutnya.
Sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kualitatif. Dalam analisis data ini,
penulis pun melakukan catatan-catatan khusus terhadap perubahan kualitas terhadap aktivitas siswa
yang terjadi selama pelaksanaan tindakan. Umpamanya, dengan memperhatikan perubahan diri setelah
karyanya dimuat di media massa dan setelah diberikan perolehan nilai ’’9’’ di rapor.



3.2 Rencana Tindakan

1. Perencanaan

Pada tahap ini, penulis mempersiapkan perangkat pembelajaran yang disesuaikan dengan kurikulum.

2. Pelaksanaan Tindakan

A. Pelaksanaan tindakan selama proses pembelajaran di kelas

a. Guru memotivasi siswa dengan berbagai cara. Misalnya, dengan memperlihatkan karya kreatif guru
sendiri yang telah dimuat di media massa, dengan menjanjikan nilai ’’9’’ untuk rapor, dan sebagainya.

b. Guru menginformasikan indikator dan materi pembelajaran.

c. Guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Teknik membagi kelompok ini dilakukan dengan
menggunakan kartu nama yang disesuaikan dengan kondisi lingkungan terdekat siswa. Jumlah kartu
nama disesuaikan pula dengan jumlah siswa. Jumlah penggolongan kartu nama disesuaikan dengan
jumlah kelompok yang ingin dibentuk. Lalu, siswa secara otomatis membentuk kelompok berdasarkan
kartu nama yang diperolehnya.

d. Masing-masing kelompok diberi tugas keluar kelas untuk mengamati objek yang sesuai dengan kartu
nama mereka.

e. Dua puluh menit kemudian, siswa kembali ke kelas dan membentuk kelompok diskusi.

f. Masing-masing kelompok diskusi mengembangkan hasil pengamatannya menjadi karya sastra
(puisi/prosa). Untuk tahap awal, mereka hanya diminta menuntaskan dalam bentuk paragraf yang
berkisar antara 6 sampai 9 kalimat. Guru membimbing selama proses pembelajaran.

g. Hasil karya kelompok dituliskan ke papan tulis untuk diapresiasi. Apresiasi menggunakan teknik
memberikan penghargaan dengan menggunakan tanda bintang. Indikatornya; (1) bahasa yang
digunakan indah dan teratur, (2) kalimat yang membentuk paragraf saling berhubungan dan sesuai
dengan objek pengamatan, dan (3) keindahan dan kerapian tulisan.

h. Antarkelompok siswa saling menanggapi yang dibimbing oleh guru.

i. Salah seorang siswa ditugaskan ke depan untuk merefleksi pembelajaran yang dilakukan.
j. Guru dan atau siswa menyimpulkan materi pembelajaran untuk memantapkan pemahaman siswa.

k. Guru memberikan tugas tambahan di luar jam sekolah.

B. Pelaksanaan tindakan di luar kelas (kegiatan di luar sekolah/ekstrakurikuler)

a. Guru memotivasi dengan menjelaskan cara untuk memperoleh nilai tambahan pada rapor semester.
Misalnya, siswa diminta mengumpulkan karya tulis seperti puisi dan atau cerpen dalam batas waktu
tertentu.

b. Setelah puisi dan atau cerpen terkumpul, langkah awal adalah guru memilih karya yang terbaik.
Secara diam-diam, karya mereka dikirimkan ke salah satu redaksi media cetak, khususnya media cetak
yang mempunyai suplemen untuk siswa seperti Majalah Budaya Sagang.

c. Karya-karya siswa yang telah dimuat menjadi motivasi yang dahsyat untuk memacu aktivitas dan
kreativitas siswa dalam pembelajaran sastra. Apalagi dibuktikan dengan perolehan nilai ’’9’’ di rapor
mereka. Hal ini diberlakukan juga kepada siswa yang memperoleh juara 1 dalam lomba membaca puisi,
lomba berpidato, lomba berbalas pantun, dan lomba menulis.

d. Siswa diberikan latihan-latihan menulis puisi dan cerpen secara berkelanjutan.

e. Hasil karya siswa berupa puisi dan atau cerpen dikirimkan ke redaksi media massa cetak.

Selama pelaksanaan tindakan berlangsung, dilakukan pengamatan. Pengamatan ini berhubungan
dengan situasi pembelajaran di kelas (misalnya, senang, serius, berani berbicara), keaktifan siswa, dan
hasil kreativitas siswa dalam pembelajaran sastra. Langkah berikutnya, guru mengamati dan merefleksi
tindakan yang telah dilaksanakan.
Bab IV

Laporan Hasil/Temuan



Data awal melalui pengamatan menunjukkan bahwa aktivitas dan kreativitas siswa SMA Negeri 3
Bengkalis dalam pembelajaran sastra masih kurang menggairahkan. Kekurangan ini terutama jika
dikaitkan dengan proses kreatif menciptakan karya sastra, baik puisi maupun cerpen. Jangankan
diterbitkan di media massa cetak, mading pun tidak terlaksana. Berbagai kendala intern siswa dan
sekolah menyebabkan hal ini terjadi. Salah satu faktor penyebabnya adalah kurangnya motivasi dan
penghargaan kepada para siswa. Dengan cara penilaian melalui teknik portofolio dan motivasi
penghargaan, ternyata kendala tersebut berhasil diatasi. Sistem penilaian ini telah terbukti
meruntuhkan kebekuan dan kebuntuan siswa SMA Negeri 3 Bengkalis dalam hal pembelajaran sastra.

Penilaian portofolio dengan cara menyuruh siswa mengerjakan tugas tambahan membuktikan bahwa
siswa-siswa SMA Negeri 3 sebenarnya mempunyai kemampuan, aktivitas, dan kreativitas dalam
pembelajaran sastra. Penilaian ini mampu mendorong siswa untuk menghasilkan karya-karya mereka
berupa puisi dan atau cerpen. Sebagai penulis pemula, kemampuan para siswa dapat dikatakan sudah
baik, terutama jika dilihat dari mutu dan jumlah karya yang mereka tampilkan. Namun, mereka tidak
menyadari akan kemampuannya. Hal ini terbukti setelah pertama sekali karya siswa dimuat di Majalah
Budaya Sagang Edisi Februari 2004. Karya siswa yang dimuat dalam edisi ini terdiri dari 3 cerpen.
Masing-masing cerpen tersebut adalah karya Reni Karten S dengan judul ‘’Harapanku’’, Dessy Arishandi
dengan judul ‘’Cinta di Batas Asa’’, dan Rismawati dengan judul ‘’Rintihan Seorang Gadis’’. Sedangkan
karya berbentuk puisi sebanyak 8 judul, yaitu ‘’Pagi Bunda’’, ‘’Ada Apa?’’, ‘’Bulan Mewakili Hatiku’’
(karya Fifi Adliana), ‘’Apakah’’, ‘’Senja Sore Hari’’, ‘’Bocah Kecil dan Tumpukan Koran’’ ( karya Nani
Ristiani), ‘’Kepadamu Tuhan Ampuni Hambamu’’, ‘’Lelah’’ (karya Anggia). Ketika ditunjukkan karya
mereka telah terbit di majalah tersebut, ada perasaan heran, antara percaya dan tidak percaya, dan
penuh haru. Dari sinilah, awal muncul kepercayaan dan kebanggaan diri siswa bahwa mereka
sebenarnya juga mampu melahirkan karya tulis. Semula, ketidakpercayaan diri siswa muncul karena
kebuntuan arah yang harus mereka tempuh. Para siswa bukan tidak mampu melahirkan karya-karya
tulis seperti puisi dan cerpen, tetapi karena tidak tahu ke mana akan ditujukan hasil karya mereka
setelah tuntas diciptakan. Rasa bangga siswa tersebut bertambah setelah di rapor mereka terpampang
nilai ’’90’’ (aspek psikomotor) untuk Mata Pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia, kecuali siswa yang
bolos (alpa). Dari hasil itu juga, para siswa memperoleh honorarium dari redaksi. Honorarium ini pun
berperan sebagai penghargaan dan berpengaruh besar terhadap aktivitas siswa dalam pembelajaran
sastra. Dari penuturan para siswa, pembelajaran seperti ini telah memberikan arah yang jelas ke dunia
nyata. Siswa-siswa menjadi paham bahwa karya mereka itu tidak hanya habis dalam coretan-coretan
yang tidak berfaedah.

Penerbitan karya-karya puisi dan cerpen perdana di Majalah Budaya Sagang telah memicu berbagai
aktivitas dan kreativitas para siswa SMA Negeri 3 untuk menulis dan terus menulis, terutama berupa
puisi dan cerpen. Sejak terbit pertama, SMAN 3 Bengkalis sudah memiliki tradisi menulis. Tidak hanya
itu, beberapa siswa pun ada yang coba mengulas puisi dan cerpen sesuai dengan kemampuan masing-
masing. Pada bulan-bulan berikutnya, para siswa berlomba-lomba mengumpulkan hasil karya mereka
untuk dikirim ke redaksi Majalah Budaya Sagang. Di samping itu, setiap ada lomba menulis dan
membaca puisi, para siswa pun berlomba-lomba untuk ikut serta. Prestasi sebagai Juara 1, 2, 3, dan
juara harapan pun mereka raih. Apa yang terjadi pada diri siswa ini adalah sebagai umpan balik dari
penghargaan melalui nilai rapor. (Model pembelajaran ini diterapkan berdasarkan pengalaman peneliti
di saat duduk di bangku kuliah FKIP Universitas Riau, Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia. Ada seorang dosen memotivasi dengan cara memberikan nilai ’’A’’ jika karya tulis dimuat di
media massa). (hasil aktivitas dan kreativitas siswa SMA Negeri 3 Bengkalis yang diterbitkan di Majalah
Budaya Sagang dapat dilihat pada lampiran).

Dari sistem penilaian portofolio dan penghargaan yang diterapkan dalam pembelajaran sastra terhadap
siswa SMA Negeri 3 Bengkalis, terjadi peningkatan aktivitas dan kreativitas siswa sebagai berikut.

1. aktivitas dan kreativitas menulis puisi dan cerpen untuk dikirimkan ke media massa

2. aktivitas dan kreativitas mengomentari puisi dan cerpen

3. aktivitas dan kreativitas mengikuti lomba baca puisi, berpidato, berbalas pantun

Setelah karya para siswa diterbitkan pertama kali di media massa, hampir setiap bulan berikutnya
mereka melahirkan karya-karya yang baru. Karya-karya tersebut pun mereka kirimkan ke redaksi
majalah tersebut. Hasilnya, hampir setiap bulan pula karya-karya mereka terpilih terbit di ruang ’’Biduk’’
majalah tersebut. Hingga Desember 2004, tercatat sebanyak 100 puisi dan cerpen telah terbit di ruang
’’Biduk’’ Majalah Budaya Sagang, Pekanbaru, dengan jumlah siswa yang menulis sebanyak 15 orang.
Memasuki tahun 2005, jumlah siswa yang menulis semakin bertambah mencapai 30 orang dengan karya
berupa puisi dan cerpen mencapai 180. Sampai bulan Maret 2006, karya siswa yang sudah terbit di
majalah tersebut sudah mencapai 197 karya (puisi dan cerpen). Sebagian besar puisi dan cerpen siswa
berisikan tentang ekspresi jiwa remaja, baik bersifat denotasi maupun konotasi (pragmatik). Namun
demikian, tidak jarang puisi-puisi karya siswa SMA Negeri 3 Bengkalis sudah menukik, terutama dalam
pemilihan kata (diksi), persajakan (aliterasi dan asonansi), dan maknanya. (Contoh puisi siswa yang
diterbitkan di Majalah Budaya Sagang dapat dilihat pada lampiran).

Hal-hal unik yang terjadi dalam pelaksanaan tindakan kelas seperti ini adalah sebagai berikut.

1. Muncul perasaan bangga, baik bagi guru terutama siswa

2. Guru menjadi sangat sibuk karena dijejali oleh karya-karya siswa.

3. Guru senantiasa menjadi tempat bertanya siswa. Para siswa mempertanyakan berbagai soal tentang
hasil karya tulis yang telah disusunnya. Misal, tentang kesesuaian judul dengan isi, penggunaan bahasa,
dan mutunya.

4. Muncul bakat-bakat terpendam yang tidak dapat dijaring dalam pembelajaran reguler.

5. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan, terutama di kelas ketika diterapkan apresiasi terhadap
karya siswa oleh siswa yang lain. Proses apresiasi ini dilakukan dengan memberikan ’’tanda bintang’’
terhadap hasil karya (kelompok) siswa yang lain dengan kriteria tertentu. Suasana kelas penuh dengan
aktivitas dan kreativitas siswa. Bahkan, beberapa siswa sampai melonjak kegirangan. Perhatian para
siswa terhadap pembelajaran sastra pun terkonsentrasi. Iklim belajar seperti ini akan memudahkan guru
untuk mengkondisikan siswa kepada kegiatan menikmati karya sastra.

6. Respon-respon siswa terhadap karya sastra pun menjadi lebih variatif. Siswa melakukan langkah-
langkah seperti kontemplasi, interpretasi, analisis, dan apresiasi. Respons siswa senantiasa bersifat
terbuka. Artinya, untuk setiap pertanyaan, guru tidak menutup kemungkinan bagi siswa lain untuk
melakukan respons.

7. Dengan penilaian portofolio dan motivasi penghargaan, tidak jarang siswa menemukan konsep-
konsep jawaban yang bernas.

8. Siswa menjadi lebih bersemangat dalam pembelajaran karena termotivasi oleh penghargaan.




Bab V

Simpulan dan Saran
5.1 Simpulan

Berdasarkan pembahasan Bab IV di atas, dapat ditarik simpulan sebagai berikut.

1. Teknik penilaian portofolio dan penghargaan terbukti mampu meningkatkan aktivitas dan kreativitas
siswa SMA Negeri 3 Bengkalis dalam pembelajaran sastra, terutama menghasilkan karya tulis berupa
puisi dan atau cerpen.

2. Teknik penilaian portofolio dan penghargaan juga mampu menciptakan iklim belajar yang
menyenangkan.



5.2 Saran

Sebagai pengelola kelas, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia (GBSI) sebaiknya memiliki aktivitas dan
kreativitas menulis. Di samping itu, juga mampu mengarahkan para siswa agar senantiasa menghasilkan
karya tulis dan mengirimkan ke redaksi media massa cetak. Dalam pembelajaran, penggunaan motivasi
penghargaan perlu diterapkan. Dalam menilai, semestinya GBSI menggunakan penilaian portofolio
karena lebih bersifat keadilan.




Sumber Bacaan

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru

Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Portofolio. Bandung: PT Ganesindo

Depdiknas. 2003. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning). Jakarta: Depdiknas

Uzer Usman, Mohd. 2002. Menjadi Guru Profesional. Yogyakarta: PT Remaja Rosdakarya

Gani, Rizanur. 1988. Pengajaran Sastra Indonesia (Respons dan Analisis). Jakarta: Depdikbud

Horison Edisi September 2000, halaman 4—5

________. Edisi Desember 2003, halaman 12—24

Warsanto, Ichsanu Sahit, dkk. 2000. Kaji Latih Bahasa dan Sastra Indonesia 2a. Jakarta: Bumi Aksara

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:5071
posted:3/8/2010
language:Indonesian
pages:13