GURU DAN RELASI KOLEGIALITAS

Shared by: hoesnaeni
-
Stats
views:
57
posted:
3/7/2010
language:
Indonesian
pages:
1
Document Sample
scope of work template
							GURU DAN RELASI KOLEGIALITAS
Selasa, 30 November 1999 00:00:00 - oleh : ANTON SUNARTO - dilihat 140
GURU DAN RELASI KOLEGIALITAS Oleh: Drs. Anton Sunarto MPd. Seorang guru
tidak pernah menjadi hebat, sendirian saja. Atau seorang Kepala sekolah tidak akan
pernah menjadi kepala sekolah hebat tanpa di dukung oleh guru-guru yang hebat pula.
Untuk menjadi sama-sama hebat, mereka membutuhkan hubungan kolegialitas saling
membutuhkan. Hubungan yang bersifat kolegial dapat memperkuat eksistensi sekolah
berbudaya efektif. Sekolah efektif itu, sekolah yang mampu memberdayakan secara
maksimal fungsi-peran-kemampuan guru dan kepala sekolah menjadi proses pem-
budaya-an sekolah efektif. RELASI DEMOKRATIS, DIALOGIS: guru-guru-kepala
sekolah Dalam era pendidikan yang bersifat terbuka dan demokratis, sewajarnya
hubungan antar guru juga bersifat terbuka, dialogis, demokratis dan saling membantu
untuk mengembangkan kwalitas profesi dan pendampingan peserta didik. Sifat relasi
demokratis ini, sesungguhnya berdasar pada kesadaran akan kesamaan derajat dan nilai.
Bukan otoriter. Ada ”ruang” untuk mengemukakan pendapat, berbicara secara terbuka
antar guru dengan guru sebagai teman sekolega. Atau antara guru dengan pimpinan
sekolah. Tapi dalam banyak kasus, hubungan struktural antara guru dengan kepala
sekolah sering terhambat. Guru (umumnya guru muda) takut kepada kepala sekolah.
Sehingga menciptakan hubungan yang tidak harmonis. Relasi disharmonis antar warga
sekolah dapat berdampak kontra prestasi. Relasi disharmonis bisa jadi, karena beberapa
faktor penghambat. Bisa dari internal guru sendiri, atau eksternal, misalnya: a). Kepala
sekolahnya jauh, main kuasa, tidak akrab dengan gurunya. b). Guru takut dinilai kepala
sekolah. Atau c). model kepemimpinan yang tidak tepat / tidak kena kepada orang-orang
yang dipimpin. Kepala sekolah yang main kuasa terhadap guru, dan otoriter dalam
kepemimipinannya, perlu penyadaran bahwa mereka sendirian tanpa diperkuat guru,
tidak mungkin menyelenggarakan pendidikan di sekolah secara efektif. Pola relasi guru –
guru - kepala sekolah, dalam tugas persekolahan merupakan perwujudan ”paguyuban”
warga sekolah. Paguyuban yang berlandas pada satu kepentingan, pelayanan
mewujudkan pendidikan bermartabat dan berkwalitas

						
Related docs