Penyulingan Minyak Nilam

					Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                               ISSN 1410-9891



              Pengaruh Pemakaian Bahan Bakar Terhadap
           Kinerja Penyulingan Minyak Nilam Di Dua Wilayah
           Takiyah Salim*, Halomoan P. Siregar*,Supriyatno**, Dedi Sumaryadi*
                 * Balai Besar Pengembangan Teknologi Tepat Guna LIPI
                            Jl. K.S. Tubun no.5, Subang,41213
    Telp: 0260-411 478, 412878,faksimili: 0260-411 239,e-mail:takiy_tsa@yahoo.com.au
                               ** Pusat Penelitian Fisika LIPI
                      Kompleks LIPI,Jl.Sangkuriang Gd.80, Bandung
        Telp: 022-2507773, faksimili:0260-2503050,e-mail:priyatno@p3ft.lipi.go.id

                                                    Abstrak

        Telah dilakukan evaluasi pengaruh pemakaian kayu bakar terhadap kinerja proses di dua
        wilayah lokasi penyulingan minyak nilam ( Banyumas dan Purbalingga ). Unit yang dievaluasi
        mempunyai system yang sama yaitu sistem uap langsung dengan kapasitas 200 kg bahan baku .
        Kayu bakar yang digunakan adalah kayu pinus ( Purbalingga) dan albasia( Banyumas).
        Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pemakaian kayu pinus di Purbalingga memberikan
        keuntungan rerata per proses lebih tinggi (49,09% dan 45,65%) dan rendemen minyak rerata
        lebih tinggi ( 1,58% dan 1,63%) dibanding pemakaian kayu albasia di Banyumas(keuntungan
        rerata 10,23% dan rendemen rerata 1,5%).
        Di Banyumas pemakaian ban bekas sebagai bahan bakar dapat meningkatkan
        keuntungan(13,67%),sedang pemakaian minyak tanah memberi keuntungan terendah(5,54%)

                                                   Abstract

        Evaluation on the effect of fire wood utilization on the process performance of patchouli oil
        distillation has been done at two region i.e. Purbalingga and Banyumas districts.The
        distillation units which were evaluated have similar system direct steam distillation at 200 kgof
        raw material capacity.
        The result of this study shows that utilizationof pinus wood in Purbalingga gives higher
        profit(49,.09% and 45,65% in average) and higher yield(1,58% and 1,63% in average.
        Utilization of albasia wood in Banyumas gives less profit(10,23%) as well as the yield(1.5%.).
        Utilization of rubber tire waste as fuel in Banyumas increases its profit(13,67%),while
        kerosene utilization gives the lowest profit(5,54%)

                                                1.Pendahuluan

         Minyak nilam merupakan salah satu unggulan dari komoditas mlnyak atsiri Indonesia.Dari seluruh
kebutuhan minyak nilam didunia sekitar 90% dipasok dari Indonesia( Manurung,2002 ).Di Indonesia pada
umumnya minyak nilam diproduksi oleh penyuling-penyuling dengan skala kecil yang mempunyai keterbatasan
modal dan teknologi ( Takiyah Salim,2005).Disamping keterbatasan –keterbatasan tersebut,hal lain yang dirasa
merugikan penyuling tradisional adalah fluktuasi harga yang tidak menentu dan dalam penjualan harga minyak
ditentukan oleh pembeli(pedagang pengumpul ). Kondisi yang juga banyak ditemui dilapangan, karena
terbatasnya modal maka para penyuling menggunakan alat yang kurang memenuhi syarat untuk produksi minyak
nilam sehingga kualitas minyak yang dihasilkan tidak memenuhi standar,efisiensi rendah , pemakaian bahan
bakar boros.
        Dalam upaya membantu para penyuling minyak nilam skala kecil BBPTTG LIPI Subang telah
melakukan bantuan dan pembinaan kepada para penyuling dibeberapa wilayah antara lain:
Banyumas,Purbalingga dan Subang. Bantuan yang diberikan meliputi :bantuan teknologi unit penyulingan,
bimbingan proses produksi dan manajemen usaha melalui program IPTEKDA LIPI.

Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                  1
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif
Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                           ISSN 1410-9891

        Bantuan peralatan diimplementasikan melalui bantuan dalam bentuk kredit dan bimbingan manajemen
teknologi , sehingga kinerja dari peralatan tersebut mempunyai kinerja yang relatif lebih baik.
Seperti kita ketahui kinerja dari proses penyulingan minyak nilamditentukan oleh rendemen hasil minyak .
Faktor-faktor yang mempengaruhi rendemen adalah pemilihan proses,kualitas bahan baku,kualitas uap yang
digunakan dan waktu proses ( Siregar,H.P,2002). Pemilihan bahan bakar,disain tungku dan ketel uap akan
berpengaruh terhadap kinerja dari proses penyulingan tersebut karena akan menentukan kualitas uap yang
dihasilkan.
         Dalam memberi bantuan kepada para penyuling skala kecil , LIPI mengimplementasikan tungku yang
dirancang agar dapat digunakan untuk pemakaian berbagai jenis bahan bakar seperti :minyak
tanah/residu,kayu,karet bekas,ampas daun nilam dan sebagainya ( Supriyatno,2003). Hal ini dilakukan untuk
mengantisipasi agar penyuling lebih mudah dalam mengoptimalkan proses produksinya.
        Makalah ini akan membahas pengaruh pemakaian dua jenis kayu bakar (pinus dan albasia ) tehadap
kinerja unit penyulingan minyak nilam binaan LIPI di wilayah Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten
Banyumas. Disamping itu juga akan dibahas pemakaian bahan bakar alternatif (karet dan minyak tanah yang
dilakukan oleh penyuling di Banyumas dalam rangka mengoptimalkan proses produksinya.Kinerja yang dihitung
disini adalah rendemen hasil minyak nilam dan keuntungan yang diperoleh per proses.

                                               2. Metodologi

       Metodologi yang digunakan dalam studi ini adalah :pengumpulan data lapangan( primer dan sekunder )
pada proses penyulingan di tiga unit penyulingan minyak nilam binaan BBPTTG LIPI di Purbalingga dan
Banyumas. Di Purbalingga evaluasi dilakukan didua unit binaan yaitu di desa Tlahab Lor dan desa Gondang,
Kecamatan Karangreja,sedang unit yang di Banyumas di desa Pernasidi, Kecamatan Cilongok. Ketiga unit ini
mempunyai kapasitas dan system penyulingan yang sama, yaitu 200 kg bahan baku dengan sistem destilasi uap
langsung. Kemudian dilakukan perhitungan rerata: konsumsi bahan baku, konsumsi bahan bakar, hasil
minyak/rendemen,biaya energi per proses,biaya produksi dan keuntungan per proses.
       Biaya produksi per proses, prosentase biaya energi terhadap biaya produksi, rendemen, dan keuntungan
dihitung dengan rumus –rumus seperti berikut:

                         BP=(UP+PAB+SST+BM+BU) + (BB+BBk+KMS)                                       (1)

                         PR= HJ-BP                                                               (2)
                         E=BB/BP x 100%                                                          (3)
                         R=JM/JB x 100%                                                          (4)
Keterangan : BP= biaya produksi/proses(Rp), UP=upah naker(Rp), PAB=pemeliharaan alat&bangunan(Rp),
SST=penyusutan alat&bangunan(Rp), BM=bunga modal(investasi+kerja)(Rp), BU=biaya umum(Rp), BB=biaya
bahan bakar(Rp), BBk=biaya bahan baku(Rp), KMS=biaya kemasan (Rp), PR= Keuntungan/proses(Rp.),
HJ=Harga jual minyak/proses(Rp.), E= prosentase biaya energi/biaya produksi(%),R=rendemen(%), JM=hasil
minyak/proses(kg), JB=jumlah bahan baku/proses(kg)
       Dasar perhitungan yang dipakai adalah harga tahun 2005(periode bulan Februari- Maret) dimana harga
jual minyak = Rp 240.000,-(fluktuasi harga antara Rp.240.000,- s.d Rp. 250.000,- ).

                                               3. Hasil dan Pembahasan
        Gambar 1 menunjukkan gambar skematik dari unit penyulingan yang dipasang di desa Pernasidi,
Banyumas dan desa Tlahab Lor, Purbalingga
Spesifikasi dari unit tersebut adalah:
        Kapasitas penyulingan :200 kg bahan baku/proses( terdiri dari 2 unit ketel bahan masing-masing
berkapasitas 100 kg bahan baku ). Kapasitas ketel uap: 100 kg uap/jam. Tipe penyulingan : uap langsung .
Dimensi ketel suling: DxH: 115x120 cm terbuat dari baja SS,tebal 2 mm. Dimensi ketel uap: DxH:120x120
cm,bahan pelat MS,tebal:4 mm.Tungku: bahan batu bata dimensi:LxWxH:300x190x200 cm dengan cerobong
bahan dari plat eser dengan DxH: 250x6000 cm,bahan bakar: minyak tanah/residu, kayu, karet dll. Kondensor :
pipa SS dengan kolam pendingin ,ukuran kolam LxWxH:5x4x0,6 meter, pipa pendigin dengan ukuran bervariasi
dari DxL: 1,5”x2 meter, DxL:1,25”x 6 meter,dan DxL:1”x12 meter.Pemisah minyak: terbuat dari pelat baja SS
,terdiri dari dua silinder bentuk annulus dengan DluarxH: 40x70 cm, silinder dalam dengan D: 20 cm.,berfungsi
sebagai pemisah minyak dari air kondensat berdasar beda berat jenis(Takiyah Salim,2001).


Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                 2
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif
Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                               ISSN 1410-9891

     Sedangkan gambar skematik dari unit               penyuling   minyak    nilam    yang   dipasang    di   desa
Gondang,Purbalingga dapat dilihat pada gambar 2.




    Gambar 1. Unit penyuling minyak nilam di desa Tlahab Lor, Purbalingga dan desa Pernasidi,Banyumas




       Gambar 2. Unit Penyuling di desa Gondang Purbalingga ( Sumber: Supriyatno,2002)

        Adapun spesifikasi unit yang dipasang di desa Gondang, Purbalingga adalah sbagai berikut : Tungku
boiler: konstruksi dinding isolasi terbuat dari batu merah, ruang bakar terbuat dari bata tahan api, grate penurun
abu dari batu.Dimensi tungku:LxHxW=205x190x210 cm,dilengkapi cerobong dari bahan plat eser dengan
dimnsi:DxH=15x800cm.Tungku ini dirancang dapat digunakan untukpengapian dengan berbagai macam bahan


Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                      3
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif
Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                               ISSN 1410-9891

bakar. Ketel uap:Jenis pipa api konvesional, bentuk silinder tegak dengan kapasitas uap: 100s.d 150 kg uap/jam,
bahan dari pelat MS dengan dimensi DxH=145x120 cm. Ketel bahan terbuat dari baja SS,kapasitas:200kg bahan
baku ranting&daun nilam,dimensi:DxH=116x260 cm. Kolam pendingin: konstruksi dari bata merah, pasir dan
semen, dimensi LxWxd=100x210x90 cm.Pipa pengembun/pedingin: bahan pipa SS,diameter bervariasi dari2”,
1,50”, 1” dan 0,75”.Pemisah minyak: terbuat dari baja SS ,Dluar:40 cm.D dalam:30 cm dan tinggi;50 cm(
Sumber:Takiyah Salim,2002).
         Adapun hasil kinerja proses dari hasil evaluasi yang dilakukan terhadap tiga unit penyulingan tersebut
                                   dapat dilihat pada tabel 1. seperti berikut,

     Tabel 1. Pengaruh pemakaian bahan bakar terhadap rendemen hasil minyak nilan di Purbalingga dan
Banyumas.
     No.     Jenis bahan        Konsumsi           Jumlah rerata     Rerata hasil       Lokasi unit
                 bakar         bahan bakar/      bahan baku yang        minyak/     penyulingan minyak
                              prosesa(rerata) diolah/proses(kg)        rendemen            nilam
                                                                         (kg/%)
      1.     Kayu pinus         368,83 kg                246           4,05/1,58        Desa Tlahab
                                                                                      Lor,Purbalingga
      2.     Kayu pinus           480 kg               232,47          3,86/1,63           Desa
                                                                                    Gondang,Purbaligga
      3.    Kayu albasia      2 M3(±50 kg)*            202,50           3,04/1,5*      Desa Pernasidi,
                                                                                         Banyumas
      4.     Karet(: ban         150 kg*               202,50           3,04/1,5*      Desa Pernasidi,
                 bekas)                                                                  Banyumas
      5.    Minyak tanah         80 liter*             202,50           3,04/1,5*          Desa
                                                                                    Pernasidi,Banyumas
     Catatan : tanda * merupakan data sekunder yang diberikan oleh pemilik penyulingan
      (Sumberdata:Sugirwo,2005)
     Sumber data : hasil uji coba di lapangan , rata-rata waktu penyulingan di Purbalingga= 8 jam,
      sedang di Banyumas sekitar 10 jam. Rata-rata sehari dilakukan 2 kali proses penyulingan.

        Dari table 1. Terlihat bahwa pemakaian kayu pinus di Purbalingga memberi hasil minyak/rendemen yang
lebih tinggi dibanding hasil yang diperoleh di Banyumas. Hal ini dapat dimaklumi karena pemakaian kayu
albasia di Banyumas sebagai bahan bakar lebih sedikit dibanding pemakaian kayu pinus di Purbalingga. Sehingga
jumlah panas yang dipakai untuk menghasilkan uap lebih besar dibanding panas yang diperoleh dari unit
penyuling di Banyumas. Seperti kita ketahui bahwa nilai kalor dari kayu albasia sebetulnya lebih tinggi dari nilai
kalor dari kayu pinus ( kayu albasia:4664 kkal/kg sedang kayu pinus: 4625kkal/kg dengan efisiensi pembakaran
0,15 – 0,30 ). Disini perlu pula diketahui bahwa kayu albasia yang digunakan berupa kayu sebetan ( bark ), yang
merupakan limbah dari penggergajian kayu yang nilai kalornya kemungkinan lebih rendah dari nilai kalor kayu
albasia seperti tersebut diatas. Sedang kayu pinus yang di Purbalingga merupakan tunggul kayu sisa penebangan
pohon pinus dari perkebunan milik PERHUTANI kemungkinan mempunyai nilai kalor yang hampir sama
dengan nilai kalor kayu pinus seperti tersebut diatas. Karena jumlah konsumsi kayu yang digunakan di Banyumas
lebih sedikit maka panas yang diperoleh juga lebih kecil. Disamping itu pengaruh kualitas bahan baku juga
menentukan hasil penyulingan. Perlu diketahui bahwa penyuling di Purbalingga lebih mudah mendapatkan bahan
baku dengan kualitas yang lebih bagus dibanding penyuling di Banyumas. Karena lokasi penyuling di
Purbalingga merupakan lokasi perkebunan tanaman nilam sehingga penyuling dapat memilih kualitas daun nilam
yang lebih bagus dari petani/pemasok. Sedang penyuling dari Banyumas dalam mendapatkan bahan baku sangat
tergantung dari suplai pemasok daun nilam yang kualitasnya kurang homogen karena berasal dari berbagai lokasi
perkebunan.
        Penggunaan karet dan minyak tanah di Banyumas dari data yang diperoleh menghasilkan rendemen yang
sama,walaupun minyak tanah mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi yaitu sebesar 9280 kkal/liter dengan factor
panas 50%).Demikian pula nilai kalor karet,kemungkinan juga mempunyai nilai kalor yang lebih tinggi dari
kayu. Kemungkinan menggunakan minyak tanah dan karet dapat meghasilkan rendemen lebih tinggi dapat dilihat
dari evaluasi perhitungan pada tahun 1999/2000. Data yang diperoleh dari penggunaan minyak tanah sebesar 60
liter dapat menghasilkan rendemen 1,67%. Sedang penggunaan ban bekas dengan konsumsi per proses 61,25 kg
dicampur dengan ampas daun nilam sisa penyulingan memberikan rendemen 1,69% ( Takiyah Salim,2005).


Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                      4
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif
Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                               ISSN 1410-9891

       Hasil dari perhitungan ekonomi, pengaruh penggunaan bahan bakar terhadap hasil keuntungan yang
diperoleh dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini,

         Tabel.2. Pengaruh pemakaian bahan bakar terhadap hasil keuntungan penyulingan minyak nilam.

   No.      Jenis        Biaya           Harga       Keuntungan/proses      Prosentase       Lokasi
            bahan    Produksi/proses   Jual/proses        (Rp/%)           biaya energi/   Penyulingan
            bakar         (Rp.)           (Rp.)                             total biaya      Minyak
                                                                           produksi per      Nilam
                                                                            proses( % )
    1.      Kayu        651.963,-      972.000,-      320.037,-/49,09          7,52        Desa Tlahab
            pinus                                                                          Lor,Purbali-
                                                                                              ngga
    2.      Kayu        636.059,-      926.400,-      240.341,-/45,65         10,04           Desa
            pinus                                                                           Gondang
                                                                                           Purbalingga
    3.      Kayu        661.885,-      729.600,-       67.715,-/10,23          7,55           Desa
           Albasi                                                                           Pernasidi
              a                                                                             Banyumas
    4.     Minya        691.885,-      729.600,-       37.715,-/5,45          11,56           Desa
           k tanah                                                                          Pernasidi
                                                                                            Banyumas
    5.      Karet(      641.885,-      729.600,-       87.715,-/ 13 67         4,67           Desa
             ban                                                                           Pernasidi,Ba
            bekas)                                                                           nyumas

   Keterangan : dasar perhitungan biaya produksi , keuntungan dan prosentase biaya energi adalah:
                - Harga bahan baku periode Februari – Maret 2005, di Purbalingga =Rp.2200,-/kg
                - Harga bahan baku periode yang sama,di Banyumas = Rp.2700,-/kg
                - Harga kayu pinus di Purbalingga Rp. 133,-/kg dan kayu albasia di Banyumas Rp.25.000,-
                    /M3
                - Harga karet( ban bekas) di Banyumas Rp. 200,-/kg
                - Harga minyak tanah di Banyumas Rp.1000,-/liter

        Dari hasil perhitungan pada tabel 2 diatas dapat dilihat bahwa pemakaian kayu pinus di desa Tlahab Lor
memberikan keuntungan yang paling tinggi yaitu rerata 49,09% per proses dengan nilai rerata Rp.320.037,-.
Keuntungan rerata penyuling di desa Gondang lebih rendah yaitu 45,65% atau Rp. 240.341,- per proses.
Sedangkan penggunaan kayu albasia di Banyumas mempunyai keuntungan rerata lebih rendah dibanding
keuntungan yang diperoleh dari dua unit di Purbalingga yaitu 10 23% atau Rp.67.715,- per proses. Hal ini
disebabkan karena rendemen hasil di Banyumas yang dihasilkan adalah terendah(1,50%), disamping kapasitas
muat ketel bahan paling kecil ( 202,50 kg/proses ) dan harga bahan baku yang sangat tinggi yaitu Rp.2700,-/kg
dibanding harga bahan baku di Purbalingga yaitu Rp.2200,-/kg. Di Purbalingga meskipun rendemen di desa
Gondang lebih tingg dibanding rendemen di desa Tlahab Lor namun karena kapasitas muat unit di Tlahab Lor
lebih tinggi maka keuntungan per proses yang diperoleh lebih rendah karena jumlah minyak yang dapat dijual
lebih sedikit. Apabila dilihat prosentase biaya energinya maka prosentase biaya energi tertinggi per proses adalah
10,22% yang ditanggung oleh penyuling didesa Gondang karena konsumsi kayunya lebih besar ,sedang di Tlahab
Lor walaupun sama-sama menggunakan kayu pinus biaya energi yang ditanggung lebih rendah yaitu 7,52% dari
total biaya produksi. Karena masukan panas pada penyulingan di desa Gondang lebih besar maka rendemen yang
diperolehpun lebih tinggi (lihat tabel 1). Sedang biaya energi per proses di Banyumas dengan menggunakan kayu
albasia relative rendah yaitu 7,55% dari total biaya produksi.
        Penggunaan minyak tanah di Banyumas mempunyai keuntungan yang paling rendah apabila dibandingkan
penggunaan bahan bakar lainnya seperti terlihat pada tabel 2 yaitu 5,45% dengan biaya energi paling tinggi yaitu
11,56%. Hal ini disebabkan karena mahalnya harga minyak tanah sehingga biaya produksi meningkat. Sehingga
dengan kinerja proses yang sama keuntungan yang diperoleh menurun. Perlu dilaporkan disini bahwa saat ini
penyuling di Banyumas sudah jarang menggunakan minyak tanah untuk bahan bakar pada proses penyulingan.


Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                      5
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif
Kebijakan Energi dan Energi Alternatif
                                                                                             ISSN 1410-9891

        Untuk mengoptimalkan kinerja proses dalam hal ini menurunkan biaya produksi agar keuntungan yang
diperoleh meningkat, maka penyuling di Banyumas beralih menggunakan bahan bakar dari ban bekas. Dari tabel
2 terlihat bahwa pemakaian karet/ban bekas dapat menurunkan biaya produksi perproses,sehingga keuntungan
meningkat menjadi Rp.87.715,- atau 13,67% per proses. Biaya energi yang diperlukan juga menurun menjadi
5,45% per total biaya produksi dibanding pemakaian biaya energi yang dibutuhkan dengan penggunaan bahan
bakar lainnya.Namun demikian pemakaian ban bekas menimbulkan dampak pencemaran udara ( abu terbang)
dan limbah abu sisa pembakaran yang belum diteliti manfaatnya, dimana saat ini hanya dibuang disekitar lokasi
penyuling yang lama-lama akan mengganggu lingkungan.

                                                   4. Kesimpulan.

       Dari evaluasi di tiga unit penyulingan ( 2 unit di Purbalingga dan 1 unit di Banyumas), dapat disimpulkan
bahwa pemakaian bahan bakar kayu pinus di Purbalingga menghasilkan rendemen/hasil minyak nilam yang lebih
tinggi dibanding penggunaan limbah/sebetan kayu albasia di Banyumas karena masukan panasnya / konsumsi
kayunya lebih besar . Keuntungan yang diperoleh dari penggunaan kayu pinus di Purbalingga juga lebih tinggi (
49,09% dan 45,65) dibanding penggunaan kayu albasia di Banyumas(10,23%). Keuntungan ini disamping
dipengaruhi oleh penggunaan bahan bakar juga harga daun nilam yang diproses yang sangat signifikan
mempengaruhi besarnya total biaya produksi , karena biaya energidari kayu pinus maupun albasia relative lebih
kecil dibanding total biaya produksi yang diperlukan.Pemakaian minyak tanah menurunkan keuntungan yang
diperoleh karena mahalnya harga minyak yang meningkatkan biaya produksi. Sedang pemakaian karet/ban bekas
dapat meningkatkan keutunga karena biaya produksi dapat ditekan dengan murahnya harga karet/ban bekas
sebagai bahan bakar. Namun penanggulangan pencemaran dari pemakaian karet sebagai bahan bakar perlu
dilakukan dengan mengembangkan teknologi tungku yang dapat mengurangi dampak pencemaran tersebut.

                                                 5. Daftar Pustaka.

1.      Guenther, E.,(1987),” Minyak Atsiri”,Jilid I , ( terjemahan oleh S. Ketaren ),UI-Press,      cetakan I,
       Jakarta.

2.      Manurung,T.R.,(2002),” Peluang dan Hambatan Dalam Peningkatan Ekspor Minyak Atsiri”,Workshop
       NasionalMinyak Atsiri,Direktorat Jendral Industri Dagang Kecil Menengah,hal 1-3,Bogor.

3.      Siregar H.P dan Takiyah Salim, (2002),” Penyulingan Nilam dengan Kapasitas Ketel Bahan 200 Kg”,
       Proseding Seminar Nasional “Kejuangan “Teknik Kimia, Jurusan Teknik Kimia,Fakultas Teknologi
       INdustri UPN “Veteran Jogjakarta, D04-1-D04-6.

4.      Supriyatno, et al,(2003), “Kinerja Energi Tungkul dan Ketel Suling Unit Penyuling Minyak Nilam”,
       Proseding Seminar Nasional Teknoin 2003, hal C23-2.

5.      Takiyah Salim, (2005), “Evaluasi Pemakaian Tiga Jenis Bahan Bakar Tehadap Kinerja Unit
       Penyulingan Minyak Nilam”, Proseding Seminar Teknik Kimia”Kejuangan” , Hal B23-1- B23-4.

6.      Takiyah Salim et al, (2003, “ Pengembangan Usaha Ekonomi Industri Kecil Di Wilayah Banyumas Jawa
       Tengah”, Laporan Akhir Pengembangan Dan Implementasi Teknologi Tepat Guna”, Proyek Penelitian
       dan Pengembangan Perekayasaan LIPI, UPT BPTTG LIPI Subang, Hal 71-84.

7.      Takiyah Salim et al, (2002, “ Pengembangan Usaha Ekonomi Minyak Atsiri di “Jawa Tengah” Kecil Di
       Wilayah Banyumas Jawa Tengah”, Laporan Akhir Pengembangan Dan Implementasi Teknologi Tepat
       Guna”, Proyek Pengembangan dan Peningkatan Kemampuan Teknologi, UPT BPTTG LIPI Subang, Hal
       36-50.

8.      Tony Luqman Lutong dan Yeyet Rahmayati, (1994) “Produksi dan Perdagangan Minyak Atsiri”
       Cetakan 1, hal 131-132, Penebar Swadaya, Jakarta.




Peningkatan Daya Saing Nasional Melalui Pemanfaatan Sumber                                                    6
Daya Alam untuk Pengembangan Produk dan Energi Alternatif

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:6652
posted:3/7/2010
language:Indonesian
pages:6
dra suyatmi dra suyatmi membantu KS mincuk.blogspot.com
About orangnya simpel, tidak neko-neko