UNDANGAN REUNI UNTUK PAK GURU

Document Sample
UNDANGAN REUNI UNTUK PAK GURU Powered By Docstoc
					UNDANGAN REUNI UNTUK PAK GURU
Sampai didepan pintu pagar, langkahku terhenti sejenak. Kutatap rumah sederhana
didepanku, rumah guruku. Rumah ini dulu akrab kusinggahi. Ternyata tak ada yang
berubah. Selalu di cat warna putih, … warna kesayangan guruku. Tetapi kali ini warna
itu kelihatan agak kelabu, .. warna putih yang bercampur debu. Rumah yang kukenal
itu, … keadaannya sekarang bertambah kumuh. Dulu masih kelihatan rapi, tembok
masih       kelihatan     bersih,    ..…tetapi    kini     seperti     tak   terawat    lagi.
Halaman depan sedikit nampak berbeda. Tanaman hias yang dulu tidak ada, … kini
subur menghiasi sudut pagar depan candela kamar. Tempat itu dulu kolam kecil untuk
ikan     lele     …   katanya     bisa    di    panen     setiap    tiga   minggu     sekali.
Sepi ... sepi ... rumah ini nampak sepi. Tembok retak disana-sini, … seakan rumah tak
berpenghuni. Sementara rumah disekitarnya sudah jauh berbeda. Disana-sini sudah
dibangun                                     dan                                 direnovasi.
Kulanjutkan langkahku …. Sampai didepan pintu ... aku agak ragu mengetuknya.
Dalam hati aku bertanya, ... apakah betul masih rumah guruku ... ? Kaca cendela yang
kotor ... selambu gordeyn yang sobek ... daun pintu yang rusak, .... ? ..... apa betul ini
rumah guruku...? Guru yang dulu mengajar aku … ? guru yang pantas digugu dan
ditiru                                                                                  ….?
Aku masih ingat ketika guruku memaknai peribahasa “ Rajin pangkal pandai, hemat
pangkal kaya, kenyang pangkal berak”. Ingat betul ketika mengajarkan setiap anak
agar “mikul dhuwur mendhem jero” terhadap orang tua. Masih ingat lawakan-
lawakannya didepan kelas. Masih ingat sisipan nasehat-nasehatnya disela-sela
menyampaikan                                                                      pelajaran.
Pak Guru, ….mungkin kamu sudah lupa, ... tetapi nasehatmu penuh makna. Mungkin
nasehat       itu    yang     membuat       aku    saat     ini    “sowan”      pak    guru.
Guruku.
Kubandingkan dengan keadaanku saat ini. Rumah jauh lebih bagus. Mobil ada dan
kubawa, keluarga sehat sejahtera tanpa kekurangan. Seketika itu Ingat akan nasehat
pak guru … “ Belajar yang rajin untuk masa depanmu “. Dan sekarang .... ? apa yang
diinginkan pak guru tentang masa depan itu sudah ada padaku. Jauh berbeda dengan
keadaanmu wahai guruku. Rumahmu kelihatan bagus dulu dari pada sekarang.
Sungguh                 ...             diluar              yang               kubayangkan.
Namun disela-sela lamunanku, … aku kagum pada guruku. Kubayangkan pak guru
masih tetap tegar dan asyik mengajar. Kubayangkan pak guru masih tetap semangat
menasehati anak-anak untuk masa depan. Oooh … pak guru … kau perjuangkan nasib
anak-anak orang ... kadang anakmu sendiri terabaikan. Kau pernah beri ilmu padaku
sementara kamu sendiri tak punya ilmu untuk menata ekonomimu. Tetapi kau ikhlas
menjalani ... meniti hari demi hari. Murid-muridmu silih berganti, ... dan kau seakan
berhenti dijalan ini ... kesederhanaan yang abadi. Teringat olehku syair lagu "
pahlawan tanpa tanda jasa " ... dan tanpa kusadari ... bibirku menyanyikan syair lagu
itu. Baru berhenti ketika tiba-tiba seorang ibu membuka pintu. Oh ini isteri guruku.
UNDANGAN REUNI yang ada ditasku segera kuambil dan kuberikan dengan penuh
rasa hormat pada ibu itu, … isteri guruku… ternyata sekarang parasnya lebih cantik
isteriku. Tetapi Pak guru, …. sampai kapanpun aku menghormatimu. Kadang aku
berpikir, ... kehidupanmu tidak sebanding dengan ilmumu. Nasehatmu terngiang-
ngiang di telingaku, … tetapi kehidupanmu merupakan bayang-bayang yang
menakutiku. Salam hormatku untuk pak guru. Yaa Allah .. beri rahmat dan hidayah
kepada              semua             bapak            ibu           guruku.           Amin.

( Cerita ini ditulis dari curahan hati salah seorang murid tahun pelajaran 1989/1990
pada penulis 3 tahun yang lalu, …. dan ketika itu guru belum mendapat tunjangan
profesi                                                                            )
Terima kasih kepada Pemerintah yang telah memberikan tunjangan profesi guru.
Semoga kehidupan keluarga bapak/ibu guru bisa sejahtera dan lebih maju. Di
pundakmu terbeban pertanyaan bagaimana supaya pendidikan bisa lebih maju.
Jawabannya adalah pekerjaanmu.

( Oleh : Hermadi, S.Pd )

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:1818
posted:3/6/2010
language:Indonesian
pages:1
About Guru SMP