LANDASAN HUKUM SYARA' BANK SYARIAH

					KUMPULAN TUGAS KULIAH
JURUSAN EKONOMIKA DAN BISNIS ISLAM
STAIN SURAKARTA

        LANDASAN HUKUM SYARA’ BANK SYARIAH
                                  Muh. Syihab Habib Kamal
                                 Oka_muhammad@yahoo.co.id
                                      STAIN SURAKARTA
                                                 2009




      Islam memandang bahwa bumi dan segala isinya merupakan “amanah dari
Allah kepada manusia sebagai khalifah di muka bumi ini, untuk dpergunakan
sebesar-besarnya bagi kesejahteraan ummat manusia. Untuk mencapai tujuan
yang suci ini, Allah tidak meninggalkan manusia sendirian tetapi diberikannya
petunjuk melalui para Rasul-Nya. Dalam petunjuk ini Allah berikan segala
sesuatu yang dibutuhkan manusia, baik aqidah, akhlak, maupun syari’ah.
      Dua komponen yang pertama (aqidah dan akhlak) sifatnya konstan dan tidak
mengalami perubahan dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun komponen
syari’ah senantiasa diubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf peradaban ummat,
dimana seorang rasul diutus. Seperti disabdakan oleh Rasulullah, bahwa : “Saya
dan Rasul-rasul yang lain tak ubahnya bagaikan saudara sepupu, syari’at mereka
banyak tetapi agama (aqidah)nya satu (yaitu mentauhidkan Allah)”.
      Melihat kenyataan ini syari’ah Islam sebagai suatu syari’at yang dibawa
rasul terakhir mempunyai keunikan tersendiri, ia bukan saja komprehensif tetapi
juga universal. Sifat-sifat istimewa ini mutlak diperlukan sebab tidak akan ada
syari’at lain yang datang untuk menyempurnakannya.1
      Syari’at yang bersifat komprehensif dan universal dibuktikan dengan adanya
hukum yang mengatur muamalah manusia khususnya dibidang ekonomi. Hukum-
hukum syara’ yang ada digunakan sebagai pijakan dasar hukum untuk diciptakan
cakupan hukum yang lebih luas (komprehensif) dan universal dengan atau sesuai
kreatifitas para ulama ahli fiqih.
      Dalam hal ini kita akan mengkhususkan tentang adanya landasan hukum
syari’at perbankan islam. Ayat-ayat Al-qur’an, As-sunnah, dan ijma’ yang
digunakan landasan hukum perbankan islam di masa kekinian dan sejauh mana
para ulama berijtihad tentang hukum-hukum bertransaksi dalam perbankan islam.

___________
 1
     Drs. Muhammad, M.Ag, Bank Syariah : Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman, hlm. 55-
     56
     Oleh karenanya landasan hukum syari’at ini akan menjadi cikal bakal berdiri
perbankan islam sebagai solusi menghadapi sistem perekonomian dunia yang
semakin dhalim dan memberi wadah kaum muslimin untuk bermuamalah sesuai
dengan syari’at islam.


A. Pengertian Bank Islam
         Istilah lain yang digunakan untuk sebutan bank islam adalah bank
   syariah. Secara akademik, istilah islam dan syariah memang mempunyai
   pengertian yang berbeda. Namun secara teknis untuk penyebutan bank islam
   dan bank syariah mempunyai pengertian yang sama.
         Menurut ensiklopedia islam, bank islam adalah lembaga keuangan yang
   usaha pokoknya memberikan kredit dan jasa-jasa lalu lintas pembayaran serta
   peredaran uang yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip-prinsip
   syariat islam.
         Berdasarkan rumusan tersebut, bank islam berarti bank yang tata cara
   beroperasinya didasarkan pada tata cara bermuamalat secara islam, yakni
   mengacu kepada ketentuan-ketentuan Al-qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan
   pengertian “muamalat adalah ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan
   manusia dengan manusia, baik hubungan pribadi maupun antara perorangan
   dengan masyarakat. Muamalah ini meliputi bidang kegiatan jual-beli (ba’e),
   bunga (riba), piutang (qoroah), gadai (rohan), memindahkan utang (hawalah),
   bagi untung dalam perdagangan (qiro’ah), jaminan (dhomah), persekutuan
   (syirqoh), persewaan dan perburuhan (ijaroh).
         Di dalam operasionalnya bank islam harus mengikuti dan atau
   berpedoman kepada praktik-praktik usaha yang dilakukan di zaman rasulullah,
   bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya tetapi tidak dilarang oleh
   Rasulullah atau bentuk-bentuk usaha baru sebagai hasil ijtihad para
   ulama/cendekiawan muslim yang tidak menyimpang dari ketentuan Al-qur’an
   dan Al-hadist.




                                                                              2
B. Mu’amalah Bisnis di Zaman Rasulullah
        Perbankan adalah suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama
   yaitu menerima simpanan uang meminjamkan uang, dan jasa pengiriman
   uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum muslimin. Fungsi-fungsi bank
   telah dikenal sejak jaman Rasulullah SAW, fungsi-fungsi tersebut adalah
   menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi
   dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang.
        Rasulullah SAW yang dikena julukan al Amin, dipercaya oleh
   masyarakat Mekah menerima simpanan harta sehingga pada saat terakhir
   sebelum Rasul hijrah ke Madinah, beliau meminta Sayyidina Ali ra untuk
   mengembalikan semua titipan itu kepada yang memilikinya. dalam konsep
   ini, yang dititipi tidak nemanfaatkan harta titipan tersebut
        Seorang sahabat Rasulullah, Zubair bin al Awwam, memilih tidak
   menerima titipan harta. Beliau lebih suka menerimanya dalam bentuk
   pinjaman Tindakan Zubair ini menimbulkan implikasi yang berbeda:
   pertama, dengan mengambil uang itu sebagai pinjaman, beliau mempunyai hak
   untuk memanfaatkannya; kedua, karena bentuknya pinjaman, maka ia
   berkewajiban mengembalikannya utuh.
        Sahabat lain, Ibnu Abbas tercatat melakukan pengiriman uang ke Kufah.
   Juga tercatat Abdullah bin Zubair di Mekah juga melakukan iman uang ke
   adiknya Misab bin Zubair yang tinggal di Irak.
        Penggunaan cek juga telah dikenal luas sejalan dengan meningkatnya
   perdagangan antara negeri Syam dengan Yaman, yang paling tidak
   berlangsung dua kali setahun. Bahkan di jaman Umar bin Khattab ra
   menggunakan cek untuk membayar tunjangan kepada mereka yang berhak.
   Dengan cek ini kemudian mereka mengambil gandum di Baitul Mal yang
   ketika itu diimpor dari Mesir.
        Pemberian modal untuk modal kerja berbasis bagi hasil, seperti
   mudharabah, musyarakah, muzara ah, musaqah, telah dikenal sejak awal diantara
   kaum Muhajirin dan kaum Anshar.
        Jelaslah bahwa ada individu-individu yang telah melaksanakan fungsi ikan




                                                                               3
 di      jaman      Rasulullah       SAW,       meskipun       individu      tersebut     tidak
 melaksanakan seluruh fungsi perbankan. Ada yang melaksanakan fungsi
 menerima titipan harta, ada sahabat yang melaksanakan fungsi pinjaman
 uang, ada yang melaksakan fungsi pengiriman uang, dan ada yang
 memberikan modal kerja.
          Beberapa istilah perbankan modern bahkan berasal dan khazanah ilmu
 fiqh, seperti istilah kredit (English: credit; Romawi : credo) yang diambil
 dari istilah qard. Credit dalam bahasa inggris berarti meminjamkan :redo berarti
 kepercayaan: sedangkan card dalam flqih berarti jamkan uang atas dasar
 kepercayaan. Begitu pula istilah cek i: check; France : Cheque) yang
 diambil dari istilah saq (suquq). Dalam bahasa Arab berarti pasar,
 sedangkan cek adalah alat bayar isa digunakan di pasar.2
          Pada zaman pra-islam, sebenarnya telah ada bentuk-bentuk perdagangan
 yang sekarang dikembangkan di dunia bisnis modern. Bentuk-bentuk itu
 misalnya : al-Musyarakah (joint venture), al-Ba’iu Takjiri (venture capital), al-
 Ijarah (leasing), al-Ba’iu Takjiri (here-purchase), at-Takaful (insurance), al-
 Ba’iu Bithaman Ajil (instalment-sale), kredit pemilikan barang (al-
 Murabahah) pinjam dengan tambahan bunga (riba).
          Bentuk-bentuk perdagangan tersebut telah berkembang di jazirah arab
 karena letaknya yang amat strategis bagi perdagangan waktu itu, khususnya
 berpusat di kota Makkah, Jeddah, dan Madinah. Jazirah arab yang berada di
 jalur perdagangan antara asia afrika – eropa kemungkinan besar telah
 dipengaruhi oleh bentuk-bentuk ekonomi Mesir Purba, Yunani kuno dan
 Romawi sekitar 2500 tahun sebelum masehi telah mengenal system
 perbankan. Demikian pula Babilonia yang sekarang menjadi wilayah Irak juga
 telah mengenal system perbankan ± 2000 tahun sebelum masehi. Dengan
 demikian apabila islam melarang praktik riba pada ± 2633 tahun kemudian
 (sekitar tahun 633 Masehi), maka larangan itu berarti tidak hanya ditujukan
 kepada perorangan selaku mukallaf tetapi juga ditujukan kepada lembaganya.
 Larangan membungakan uang ini tidak hanya terdapat di dalam ajaran Islam.
 Agama-agama samawi lainnya seperti Kristen dan Yahudi juga melarangnya.

___________
 2
     M.Nadratuzzaman Hosen, AM Hasan Ali, A. Bahrul Muhtasib, Materi Dakhwah : Ekonomi Syariah,
     hlm.95 - 96


                                                                                                  4
Misalnya didalam perjanjian lama kita Exodus (keluaran) pasal 22 ayat 25
dinyatakan, “jika engkau meminjam uang kepada salah seorang penagih
hutang terhadap dia, janganlah kamu bebankan bunga uang kepadanya”.
     Demikian pula dalam Deuteronotif (kitab ulangan) pasal 23 ayat 19
dinyatakan “janganlah engkau membungakan uang kepada saudaramu baik
uang maupun bahan makanan atau apa saja yang dapat dibungakan”.
    Pada dasarnya Islam memandang bahwa bumi dan segala isinya
merupakan amanah dari Allah SWT kepada seluruh manusia sebagai khalifah
di muka bumi ini, untuk dipergunakan sebesar-besarnya bagi kesejahteraan
umat manusia. Untuk mencapai tujuan yang suci ini, Allah SWT tidak
meninggalkan manusia sendirian tetapi diberikannya petunjuk melalui
Rasulnya. Dalam petunjuk ini Allah SWT berikan segala sesuatu yang
dibutuhkan manusia, baik aqidah, akhlak, maupun syari’ah.
    Dua komponen pertama (aqidah dan akhlak) sifatnya konstan dan tidak
mengalami perubahan dengan berbedanya waktu dan tempat. Adapun
komponen syari’ah senantiasa diubah sesuai dengan kebutuhan dan taraf
peradaban umat, di mana seorang Rasulullah diutus. Seperti disabdakan oleh
Rasulullah, bahwa: “saya dan Rasul-Rasul yang lain tak ubahnya sebagai
saudara sepupu, syari’at mereka banyak, tetapi agama (aqidah)nya satu (yaitu
mentauhidkan Allah SWT )”.
    Melihat kenyataan ini, syari’at Islam sebagai suatu syari’at yang dibawa
Rasulullah   terakhir   mempunyai    keunikan   tersendiri,   ia   bukan   saja
komperhensif tetapi juga universal. Sifat-sifat istimewa ini mutlak diperlukan
sebab tidak akan ada syari’at lain yang datang untuk menyempurnakannya.
    Komperhensif, berarti ia merangkum seluruh aspek kehidupan baik ritual
maupun sosial (ibadat maupun muamalah). Ibadah diperlukan dengan tujuan
untuk menjaga ketaatan, dan harmonisnya hubungan manusia dengan
khaliqnya, serta untuk meningkatkan secara kontinyu tugas manusia sebagai
khalifah di muka bumi ini. Ketentuan-ketentuan muamalah diturunkan untuk
menjadi rule of game dalam keberadaan manusia sebagai makhluk sosial.
   Dulu Muhammad al Amin bermitra dengan Siti Khadijah ra dalam suatu




                                                                             5
   usaha perdagangan seperti tertera dalam skema berikut ini:




      Siti Khatijah           barang dagangan (modal)         Muhammad al Amin




                                   PASAR

                                   Keuntungan
          Bagian keuntungan                             Bagian keuntungan
          + pokok modal




         Skema Mudharabah Muhammad al Amin clan Siti Khadijah


      Waktu itu Siti Khadijah r.a. menyerahkan modal berupa barang dagangan
   kepada Muhammad al Amin bin Abdullah. Oleh Muhammad al Amin barang-
   barang tersebut diperjualbelikan di pasar. Keuntungan dan hasil usaha tersebut
   kemudian dibagi untuk Siti Khadijah ra clan Muhammad al Amin. Besarnya
   bagian masing-masing sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat. Inilah yang
   disebut dengan bagi hasil. Cara kerja tersebut ditiru oleh bank syariah.


C. Landasan Hukum Syara’ Perbankan Islam dan Produk-Produknya
      Kerangka kegiatan mualamat secara garis besar dapat dibagi kedalam tiga
   bagian besar, politik, social, dan ekonomi. Dari ekonomi dapat diambil tiga
   turunan lagi yaitu : konsumsi, simpanan, dan investasi. Berbeda dengan
   system lainnya, Islam mengajarkan pola konsumsi yang moderat, tidak
   berlebihan juga keterlaluan. Lebih jauh, dengan tegas Al-qur’an Surat Al-Isra
   (17) ayat 27 melarang terjadinya perbuatan tadzir, “Sesungguhnya orang-
   orang yang melakukan itu adalah saudara-saudaranya syaitan”.




                                                                                 6
      Doktrin Al-quran ini secara ekonomi dapat diartikan mendorong
terpupuknya surplus ekonomi dalam bentuk simpanan, untuk dihimpun,
kemudian dipergunakan dalam membiayai investasi, baik untuk perdagangan
(trade), produk (manufacture), dan jasa (service).
      Dalam konteks inilah kehadiran lembaga keuangan seperti bank, mutlak
adanya (dharurah), karena ia bertindak sebagai intermediate antara unit supply
dengan unit demand.3


Al-Wadi’ah (Simpanan)
      Dalam tradisi fiqih Islam, prinsip titipan atau simpanan dikenal dengan
prinsip al-wadi'ah. Al-wadi'ah dapat diartikan sebagai titipan murni dari satu
pihak ke pihak lain, baik individu maupun badan hukum, yang harus dijaga dan
dikembalikan kapan saja si penitip menghendaki.
Landasan Syari’ah
1. AI-Qur'an

  "Sesungguhnya Allah menyuruh kamu untuk menyampaikan amanat (titipan),
  kepada yang berhak menerimanya...."(an-Nisaa': 58)



  "..jika sebagian kamu mempercaYai sebagian Yang lain, hendaklah yang
  dipercaya itu menunaikan amanatnya (utangnya) dan hendaklah ia
  bertakwa kepada Allah Tuhannya...."(al-Baqarah: 283)
2. Al-Hadist
        Abu        Hurairah         meriwayatkan          bahwa         Rasullulah         saw.
  bersabda,”sampaikanlah ( tunaikanlah) amanat kepada yang berhak
  menerimanya dan jangan membalas khianat kepada orang yang telah
  mengkhianatimu."(HR Abu Dawud dan menurutTirmidzi hadits ini
  hasan, sedang Imam Hakim mengkategorikannya sahih)
        Ibnu Umar berkata bahwasanya Rasulullah telah bersabda, "Tiada
  kesempurnaan iman bagi setiap orang yang tidak beramanah, tiada
  shalat bagi yang tidak bersuci. " (HR Thabrani)



___________
  3
      Drs. Muhammad, M.Ag, Bank Syariah : Analisis Kekuatan, Kelemahan, Peluang dan Ancaman, hlm. 16


                                                                                               7
3. Ijma
  Para tokoh ulama islam sepanjang zaman telah melakukan ijma (consensus)
  terhadap legitimasi al-wadi’ah karena kebutuhan manusia terhadap hal ini jelas
  terlihat, seperti dikutip oleh Dr. Azzuhaily dalam al-Fiqh al-Islam wa
  Adillatuhu dari kitab al-Mughni wa Syarh Kabir li Ibni Qudhamah dan
  Mubsuth li Imam Sarakhsy.”


Al-Musyarakah (Partnership)
   Al-musyarakah adalah akad kerja antara dua pihak atau lebih untuk suatu
usaha tertentu dimana masing-masing pihak memberikan kontribusi dana (atau
amal/expertise) dengan kesepakatan bahwa keuntungan dan risiko akan
ditanggung bersama sesuai dengan kesepakatan.
Landasan syariah
1. Al-Quran :
  “….maka mereka berserikat pada sepertiga….” (An-Nisa :12)


  “Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu
  sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain kecuali orang
  yang beriman dan mengerjakan amal sholeh.” ( Shaad : 24)

  Kedua ayat diatas menunjukkan perkenaan dan pengakuan Allah SWT akan
  adanya perserikatan dalam kepemilikan harta. Hanya saja dalam surah an-
  Nisa : 12 perkongsian terjadi secara otomatis (jabr) karena waris,
  sedangkan dalam surah Shaad : 24 terjadi atas dasar akad (ikhtiyari).
2. Al-Hadist
  Dari abu hurairah, Rasulullah SAW bersabda , “Sesungguhnya Allah azza
  wa Jalla berfirman, ‘Aku pihak ketiga dari dua orang yang berserikat
  selama salah satnya tidak mengkhianati lainnya.” ( HR Abu Dawud
  no.2936, dalam kitab al-Buyu, dan Hakim)




                                                                              8
   Hadist tersebut menunjukkan kecintaan Allah kepada hamba-hamba-Nya
   yang melakukan perkongsian selama saling menjunjung tinggi amat
   kebersamaan dan menjauhi pengkhianatan.
3. Ijma
   Ibnu Qudamah dalam kitabnya, al-muhni, telah berkata, “Kaum muslimin
   telah berkonsesus terhadap legitimasi musyarakah secara global walaupun
   terdapat perbedaan pendapat dalam beberapa elemen darinya.”


Al-Mudharabah (Trust Invesment/ Financing)
    Mudharabah adalah akad kerja sama usaha antara dua pihak dimana pihak
pertama (shahibul maal) menyediakan seluruh (100%) modal, sedangkan
pihak lainnya menjadi pengelola.
Landasan syariah
Secara umum, landasan dasar syariah al-mudharabah lebih mencerminkan
anjuran untuk melakukan usaha. Hal ini tampak dalam ayat-ayat dan hadist
berikut ini.
1. Al-Qur’an
  “… dan dari orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebagian
  karunia Allah SWT… “ (al-Muzzamil : 20)
  Yang menjadi wajhud-dilalah atau argument dari surah al-Muzammil : 20
  adalah adanya kata yadhribun sama dengan akar kata mudharabah yang
  berarti melakukan suatu perjalanan usaha.
  “Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu di muka bumi
  dan carilah karunia Allah SWT ….. “ (al-Jumuah : 10)


2. Al-Hadist
   Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Sayyidina Abbas bin Abdul
   Muthalib jika memberikan dana ke mitra usahanya secara mudharabah ia
   mensyaratkan agar dananya tidak dibawa mengarungi lautan, menuruni
   lembah yang berbahaya, atau membeli ternak. Jika menyalahi peraturan
   tersebut,   yang   bersangkut   tanggung   jawab   atas   dana   tersebut.




                                                                           9
  Disampaikanlah syarat-syarat tersebut kepada Rasulullah saw. dan
  Rasulullah pun membolehkannya."(HR Thabrani)


  Dari Shalih bin Shuhaib ra bahwa Rasulullah saw bersabda, "Tiga hal
  yang di dalamnya terdapat keberkatan: jual beli secara tangguh,
  muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk
  keperluan rumah, bukan untuk dijual." (HR Ibnu Majah no. 2280, kitab
  at-Tijarah)
3. Ijma
  Imam Zailai telah menyatakan bahwa para Sahabat telah berkonsensus terhadap
  legitimasi pengolahan harta yatim secara Mudharabah. Kesepakatan para
  sahabat ini sejalan dengan spirit hadits yang dikutip Abu Ubaid".


Al-Murabahah (Sale and Purchase)
Al-Murabahah adalah jual beli barang pada harga asal dengan tambahan
keuntungan yang disepakati. Penjual harus memberi tahu harga produk yang ia
beli dan menentukan suatu tingkat keuntungan sebagai tambahan.
Landasan Syari’ah
1. Al-Qur’an
   “…. Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba…..” (al-
   Baqarah : 275)
2. Al-Hadist
       Dari Suhaib ar-Rumi r. a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, "Tiga hal
  yang di dalamnya terdapat keberkahan: jual beli secara tangguh,
  muqaradhah (mudharabah), dan mencampur gandum dengan tepung untuk
  keperluan rumah, bukan untuk dijual."(HR Ibnu Majah)


Al-Ijarah (Operational Lease)
   Al-Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa, melalui
pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan atas
barang itu sendiri.




                                                                          10
Landasan Syari’ah
1. Al-Qur’an
  “Dan, jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, tidak dosa bagimu
  apabila kamu memberikan pembayaran menuru tyang patut. Bertakwalah
  kamu kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah Maha Melihat apa yang kamu
  kerjakan" (al-Baqarah: 233)

2. Al-Hadist
  Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah saw. bersabda,
  "Berbekamlah kamu, kemudian berikanlah olehmu upahnya kepada
  tukang bekam.” (HR Bukhari dan Muslim)

   Dari Ibnu Umar bahwa Rasulullah bersabda, "Berikanlah upah pekerja
   sebelum keringatnya kering."(HR Ibnu Majah)


Al-Wakalah (Deputyship)
Wakalah atau wikalah berarti penyerahan, pendelegasian, atau pemberian
mandate. Dalam bahasa arab, hal ini dapat dipahami sebagai at-tafwidh.
Contoh kalimat “aku serahkan urusanku kepada Allah” mewakili pengertian
istilah tersebut.
Atau wakalah dapat diartikan sebagai pelimpahan kekuasaan oleh seseorang
kepada orang lain dalam hal-hal yang diwakilkan.
Landasan Syari’ah
Islam mensyariatkan al-wakalah karena manusia membutuhkannya. Tidak
setiap orang mempunyai kemampuan atau kesempatan untuk menyelesaikan
segala urusannya sendiri. Pada suatu kesempatan, seseorang perlu
mendelegasikan suatu pekerjaan kepada orang lain untuk mewakili dirinya.
1. Al-Qur’an

  "Dan demikianlah Kami bangkitkan mereka agar saling bertanya di
  antara mereka sendiri. Berkata salah seorang di antara mereka, 'Sudah
  berapa lamakah kamu berada di sini?' Mereka menjawab, 'Kita sudah




                                                                        11
     berada (di sini) satu atau setengah hari.' Berkata (yang lain Iagi),
     'Tuhan kamu lebih mengetahui berapa lamanva kamu berada (di sini).
     Maka, suruhlah sa/ah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan
     membawa uang perakmu ini dan hendaklah ia lihat manakah makanan yang
     lebih baik dan hendaklah ia membawa makanan itu unhukmu, dan
     hendaklah ia berlaku lemah lembut, dan janganlah sekali-kali
     menceritakan halmu kepada seseorang pun. (al-Kahfi: 19)


      Ayat ini melukiskan perginya salah seorang ash-habul kahfi yang bertindak
      untuk dan atas nama rekan-rekannya sebagai wakil mereka dalam memilih
      dan membeli makanan.
      Ayat lain yang menjadi rujukan al-wakalah adalah kisah tentang Nabi
      Yusuf a.s. saat la berkata kepada raja,
      'Jadikanlah aku bendaharawan negara (Mesir). Sesungguhnya aku adalah
      orang yang pandai menjaga Iagi berpengalaman."(Yusuf: 55)


2. Al-Hadist

     "Bahwasanya Rasulullah saw. mewakilkan kepada Abu Rafi' dan seorang
     Anshar untuk mewakilinya mengawini Maimunah bintil-Harits."(Malik no.
     678, kitab al-Muwaththa', bab Haji)

     Dalam kehidupan sehari-hari Rasulullah telah mewakilkan kepada orang lain
     untuk berbagai urusan. I)i antaranya adalah membayar utang, mewakilkan
     penetapan had dan membayarnya, mewakilkan pengurusan unta, membagi
     kandang hewan, dan lain-lainnya.
3. Ijma
     Para ulama pun bersepakat dengan ijma atas dibolehkannya wakalah.
     Mereka bahkan ada yang cenderung mensunnahkannya dengan alasan bahwa
     hal tersebut termasuk jenis ta’awun atau tolong-menolong atas dasar
     kebaikan dan takwa. Tolong-menolong diserukan oleh AI-Qur’an dan
     disunnahkan oleh Rasulullah saw.4

___________
 4
     Muhammad Syafi’I Antonio, Bank Syariah dari Teori ke Praktik, hlm. 85-122




                                                                                 12
D. Kesimpulan
       Bank islam berarti bank yang tata cara beroperasinya didasarkan pada
  tata cara bermuamalat secara islam, yakni mengacu kepada ketentuan-
  ketentuan Al-qur’an dan Al-Hadist. Sedangkan pengertian “muamalat adalah
  ketentuan-ketentuan yang mengatur hubungan manusia dengan manusia, baik
  hubungan pribadi maupun antara perorangan dengan masyarakat. Muamalah
  ini meliputi bidang kegiatan jual-beli (ba’e), bunga (riba), piutang (qoroah),
  gadai (rohan), memindahkan utang (hawalah), bagi untung dalam perdagangan
  (qiro’ah), jaminan     (dhomah), persekutuan (syirqoh), persewaan dan
  perburuhan (ijaroh).
       Perbankan adalah suatu lembaga yang melaksanakan tiga fungsi utama
  yaitu menerima simpanan uang meminjamkan uang, dan jasa pengiriman
  uang. Di dalam sejarah perekonomian kaum muslimin. Fungsi-fungsi bank
  telah dikenal sejak jaman Rasulullah SAW, fungsi-fungsi tersebut adalah
  menerima titipan harta, meminjamkan uang untuk keperluan konsumsi
  dan keperluan bisnis, serta melakukan pengiriman uang.
     Islam mengajarkan pola konsumsi yang moderat, tidak berlebihan juga
  keterlaluan. Lebih jauh, dengan tegas Al-qur’an Surat Al-Isra (17) ayat 27
  melarang terjadinya perbuatan tadzir, “Sesungguhnya orang-orang yang
  melakukan itu adalah saudara-saudaranya syaitan”.
     Doktrin Al-quran ini secara ekonomi dapat diartikan mendorong
  terpupuknya surplus ekonomi dalam bentuk simpanan, untuk dihimpun,
  kemudian dipergunakan dalam membiayai investasi, baik untuk perdagangan
  (trade), produk (manufacture), dan jasa (service).


E. Saran
     Rancang pembangunan Perbankan Islam memang sudah terbukti dapat
  maju dan berkembang di Indonesia. Namun disayangkan bila semakin
  berkembangnya Perbankan Islam melenceng dari landasan hukum syariat.
     Dasar-dasar hukum syariat tidak bisa seenaknya digunakan untuk
  melegalkan transaksi-transaksi perbankan, misalnya saja adanya obligasi




                                                                             13
   syariah. Hal ini masih menjadi perdebatan di kalangan ulama. Oleh karena itu
   diperlukan pengkajian ulang oleh para ahli ekonomi islam dan ulama tentang
   hal-hal yang masih menjadi perdebatan.




                            DAFTAR PUSTAKA




Drs. H.M. Syarif Arbi, M.M. 2002. Mengenal Bank dan Lembaga Keuangan Non-
     Bank. Djambatan : Jakarta.
Drs. Muhammad, M.Ag, 2006. Bank Syariah : analisa kekuatan, kelemahan,
     peluang, dan ancaman. Ekonisia : Jogjakarta.
M.Nadratuzzaman Hosen, AM Hasan Ali, A. Bahrul Muhtasib. 2008. Materi
     Dakhwah : Ekonomi Syariah. PKES : Jakarta.
Muhammad Syafi’i Antonio. 2001. Bank Syariah : dari Teori ke Praktik. Gema
     Insani : Jakarta.




                                                                            14

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Tags:
Stats:
views:8758
posted:3/6/2010
language:Indonesian
pages:14