Isu dan Masalah Perencanaan Pembangunan Daerah

Description

Lokakarya Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah-Kampus IPDN Jatinangor, 26 November 2008

Reviews
Shared by: Dadang Solihin
Categories
Stats
views:
2408
rating:
2(1)
reviews:
0
posted:
11/26/2008
language:
Indonesian
pages:
0
BAPPENAS Isu dan Masalah Perencanaan  Pembangunan Daerah Drs. H. Dadang Solihin, MA Direktur Evaluasi Kinerja Pembangunan Daerah‐Bappenas Lokakarya Penyusunan Rencana Pembangunan Daerah o a a ya e yusu a e ca a e ba gu a ae a Kampus IPDN Jatinangor, 26 November 2008 www.dadangsolihin.com 2 Materi Tujuan Pembangunan Pembangunan Daerah  Pembangunan Daerah Pergeseran Paradigma: From Government to Governance Berbagai Pengertian tentang Perencanaan Berbagai Pengertian tentang Perencanaan • Kegagalan Perencanaan • Bias bias dalam Perencanaan Pembang nan Bias‐bias dalam Perencanaan Pembangunan Sistem Perencanaan yang Berhasil Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional (SPPN) Si t P P b N i l (SPPN) Apa Tujuan Pembangunan? Apa Tujuan Pembangunan? (Todaro: the three objectives of development) 1. Peningkatan standar hidup (levels of living) setiap orang,  baik pendapatannya, tingkat konsumsi pangan, sandang,  p p y g p g g papan, pelayanan kesehatan, pendidikan, dll. 2. Penciptaan berbagai kondisi yang memungkinkan tumbuhnya  rasa percaya diri (self‐esteem) setiap orang. 3. Peningkatan kebebasan (freedom/democracy) setiap orang. www.dadangsolihin.com 3 www.dadangsolihin.com 4 How? 1. Mengurangi disparitas atau ketimpangan pembangunan 1 Mengurangi disparitas atau ketimpangan pembangunan antar daerah  antar sub daerah  antar s b daerah antar warga masyarakat (pemerataan dan keadilan). 2. Memberdayakan masyarakat dan mengentaskan kemiskinan. 2 M b d k k td t k k i ki 3. Menciptakan atau menambah lapangan kerja. 4. Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat  i k k d d k j h k daerah. 5. Mempertahankan atau menjaga kelestarian sumber daya  5 M t h k t j k l t i b d alam agar bermanfaat bagi generasi sekarang dan generasi  masa datang (berkelanjutan). masa datang (berkelanjutan). www.dadangsolihin.com 5 Pembangunan Daerah (1) Pembangunan Daerah (1) Pembangunan daerah pada hakekatnya adalah upaya  terencana untuk meningkatkan kapasitas pemerintahan  daerah sehingga tercipta suatu kemampuan yang andal dan sehingga tercipta suatu kemampuan yang andal dan  profesional dalam: memberikan pelayanan kepada masyarakat,  • memberikan pelayanan kepada masyarakat • mengelola sumber daya ekonomi daerah. www.dadangsolihin.com 6 Pembangunan Daerah (2) Pembangunan Daerah (2) Pembangunan daerah juga merupakan upaya untuk  memberdayakan masyarakat di seluruh daerah sehingga:  • t i t tercipta suatu lingkungan yang memungkinkan masyarakat  t li k ki k k t untuk menikmati kualitas kehidupan yang lebih baik, maju,  dan tenteram,  dan tenteram • memperluas pilihan yang dapat dilakukan masyarakat bagi  p peningkatan harkat, martabat, dan harga diri.  g , , g Pembangunan Daerah (3) Pembangunan Daerah (3) • Pembangunan daerah dilaksanakan melalui penguatan  otonomi daerah dan pengelolaan sumber daya yang  mengarah pada terwujudnya tata kepemerintahan yang baik  mengarah pada terwujudnya tata kepemerintahan yang baik (good governance).  • Pelaksanaan pembangunan daerah yang baik hanya dapat Pelaksanaan pembangunan daerah yang baik hanya dapat  dilakukan apabila terjadi keseimbangan peran dari tiga pilar,  yaitu: pemerintah, dunia usaha swasta, dan masyarakat. www.dadangsolihin.com 7 www.dadangsolihin.com 8 Pembangunan Daerah (4) Pembangunan Daerah (4) • Pemerintahan (legislatif, eksekutif, dan yudikatif) memainkan  peran yang menjalankan dan menciptakan lingkungan politik  dan hukum yang kondusif bagi unsur‐unsur lain.  dan hukum yang kondusif bagi unsur unsur lain • Peran dunia usaha swasta adalah mewujudkan penciptaan  lapangan kerja dan pendapatan.  lapangan kerja dan pendapatan • Masyarakat berperan dalam penciptaan interaksi sosial,  ekonomi dan politik.  p Pergeseran Paradigma: From G Government t G t to Governance Government Memberikan hak ekslusif bagi negara untuk mengatur hal-hal p publik, Aktor di luarnya hanya dapat disertakan sejauh negara gj y mengijinkannya. Governance Persoalan-persoalan publik adalah urusan bersama p pemerintah, civil society dan y dunia usaha sebagai tiga aktor utama. www.dadangsolihin.com 9 www.dadangsolihin.com 10 Pelaku Pembangunan: Paradigma  Governance Interaksi antara Pemerintah, Dunia Usaha Swasta, dan Masyarakat  yang bersendikan transparansi, akuntabilitas, partisipatif, dsb. b dik i k bili i i if d b Tenaga Kerja Kontrol Kontrol Pelaku Pembangunan: Stakeholders Pelaku Pembangunan: Stakeholders STATE Executive Judiciary d Legislature Public service Military Police CITIZENS Community-based organizations C it b d i ti Non-governmental organizations Professional Associations Religious groups Women’s groups Media organized into: Dunia Usaha  Swasta Pemerintah Masyarakat Nilai Pertumbuhan Pasar Redistibusi Melalui Pelayanan BUSINESS Small / medium / large enterprises Multinational Corporations Financial institutions Stock exchange Apabila sendi‐sendi tersebut dipenuhi, maka Governance akan  Good. www.dadangsolihin.com 11 www.dadangsolihin.com 12 Troika:  Pola Hubungan antara Pemerintah, Dunia Usaha Swasta,  Pola Hubungan a dan Masyarakat Ternyata  Pemerintah Masih Diperlukan P i t h M ih Di l k Masyarakat, Masyarakat Bangsa, dan Negara Masyarakat y Pemerintah VISI Good Governance Dunia Usaha www.dadangsolihin.com 13 www.dadangsolihin.com 14 Permasalahan Pembangunan Daerah (1) Permasalahan Pembangunan Daerah (1) 1. Pembangunan Ekonomi  Meningkatnya pengangguran dan kemiskinan Menurunnya fungsi intermediasi perbankan untuk  mengembangkan sektor riil  Pola persebaran investasi untuk PMA dan PMDN secara  P l b i i k PMA d PMDN nasional belum merata dan menunjukkan ketimpangan  yang cukup tinggi antarwilayah yang cukup tinggi antarwilayah 2. Pembangunan Sosial  Menurunnya kemampuan pemerintah dalam pelayanan‐ Menurunnya kemampuan pemerintah dalam pelayanan‐ pelayanan sosial dasar (pendidikan, kesehatan dan gizi). Permasalahan Pembangunan Daerah (2) Permasalahan Pembangunan Daerah (2) 3. Pembangunan Prasarana Wilayah  Terbatasnya tingkat pelayanan jaringan transportasi antar  dan intra wilayah.  d i t il h Menurunnya kapasitas pemerintah daerah dalam  pengaturan dan pengelolaan infrastruktur.  pengaturan dan pengelolaan infrastruktur Menurunnya kapasitas dan ketersediaan sumberdaya  tenaga listrik.  tenaga listrik Meningkatnya masalah kelangkaan air bersih dan air  minum.  minum. Menurunnya kapasitas pembiayaan untuk memenuhi  p y kebutuhan pelayanan infrastruktur. 15 www.dadangsolihin.com 16 www.dadangsolihin.com Permasalahan Pembangunan Daerah (3) Permasalahan Pembangunan Daerah (3) 4. Pembangunan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup  Menurunnya kualitas permukiman (kemacetan, kawasan  kumuh, pencemaran lingkungan (air, udara, suara,  k h li k ( i d sampah).  Berkurangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau (RTH)  Berkurangnya ruang publik dan ruang terbuka hijau (RTH) di wilayah perkotaan.  Alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan  Alih fungsi lahan pertanian produktif menjadi lahan permukiman secara signifikan. Permasalahan Pembangunan Daerah (4) Permasalahan Pembangunan Daerah (4) Pembangunan SDA dan LH (lanjutan) Pembangunan SDA dan LH (lanjutan) Meningkatnya urbanisasi dan aglomerasi perkotaan.  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) belum sepenuhnya  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) belum sepenuhnya menjadi acuan dalam pemanfaatan ruang dan fokus hanya  pada Perencanaan.  Penurunan luas kawasan Hutan Tropis dan kawasan resapan  air, serta meningkatnya DAS kritis.  Kejadian bencana alam gempa, banjir dan longsor yang  frekuensinya meningkat dan dampaknya semakin meluas,  terutama pada kawasan yang berfungsi lindung. d k b f l d www.dadangsolihin.com 17 www.dadangsolihin.com 18 Permasalahan Pembangunan Daerah (5) Permasalahan Pembangunan Daerah (5) 4. Permasalahan Khusus  Lemahnya daya saing investasi Pembangunan daerah tertinggal belum ditangani secara  terpadu antar sektor dan antara pemerintah, masyarakat,  dan dunia usaha dan dunia usaha Pemekaran daerah yang belum mampu menyejahterakan  masyarakat Rendahnya proses pembangunan dan penguatan stabilitas  keamanan di daerah perbatasan negara. keamanan di daerah perbatasan negara. Definisi Perencanaan Definisi Perencanaan Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat melalui serangkaian pilihan‐pilihan. Menentukan : Menemukan (mengungkapkan dan meyakinkan). Tindakan : Spesifik dan berkaitan dengan persoalan pelaksanaan : Spesifik dan berkaitan dengan persoalan pelaksanaan Tepat : Dikaitkan dengan tindakan Pilihan‐pilihan : 1. Pemilihan tujuan dan kriteria 2. Identifikasi seperangkat alternatif yang konsisten dengan preskripsi dengan  pemilihan alternatif yang memungkinkan pemilihan alternatif yang memungkinkan 3. Arahan tindakan mengenai tujuan yang telah ditentukan www.dadangsolihin.com 19 www.dadangsolihin.com 20 Syarat Perencanaan Syarat Perencanaan Harus memiliki, mengetahui, dan memperhitungkan: 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. Tujuan akhir yang dikehendaki. Sasaran‐sasaran dan prioritas untuk mewujudkannya (yang  mencerminkan pemilihan dari berbagai alternatif).  Jangka waktu mencapai sasaran‐sasaran tersebut. Masalah‐masalah yang dihadapi. Modal atau sumber daya yang akan digunakan serta pengalokasiannya. kebijakan‐kebijakan untuk melaksanakannya. Orang, organisasi, atau badan pelaksananya. Mekanisme pemantauan, evaluasi, dan pengawasan pelaksanaannya. Syarat Perencanaan . . . Syarat Perencanaan • • • • • Faktual dan Realistis Logis dan Rasional Fleksibel Komitmen Komprehensif atau  Komprehensif atau menyeluruh www.dadangsolihin.com 21 www.dadangsolihin.com 22 Fungsi/Manfaat Perencanaan Fungsi/Manfaat Perencanaan Sebagai penuntun arah Minimalisasi ketidakpastian Minimalisasi ketidakpastian Minimalisasi inefisiensi sumberdaya Minimalisasi inefisiensi sumberdaya Penetapan standar dan pengawasan kualitas www.dadangsolihin.com 23 Kegagalan Perencanaan K l P www.dadangsolihin.com 24 Kegagalan Perencanaan (1) Kegagalan Perencanaan (1) 1. Penyusunan perencanaan tidak tepat, mungkin karena: informasinya kurang lengkap,  metodologinya belum dikuasai,  perencanaannya tidak realistis  id k li i sehingga tidak mungkin pernah  bisa terlaksana pengaruh politis terlalu besar  sehingga pertimbangan‐ pertimbangan teknis  pertimbangan teknis perencanaan diabaikan. Kegagalan Perencanaan (2) 2. Perencanaannya mungkin baik, tetapi pelaksanaannya  tidak seperti seharusnya.  p y kegagalan terjadi karena tidak berkaitnya perencanaan dengan  pelaksanaannya.  p p p p , aparat pelaksana tidak siap atau tidak kompeten,  masyarakat tidak punya kesempatan berpartisipasi sehingga tidak  mendukungnya. www.dadangsolihin.com 25 www.dadangsolihin.com 26 Kegagalan Perencanaan (3) Kegagalan Perencanaan (3) 3. Perencanaan mengikuti paradigma yang ternyata  tidak sesuai dengan kondisi dan perkembangan  tid k id k di i d k b serta tidak dapat mengatasi masalah mendasar  negara berkembang.  g g Misalnya, orientasi semata‐ mata pada pertumbuhan  yang menyebabkan makin  melebarnya kesenjangan.  Dengan demikian, yang  Dengan demikian, yang keliru bukan semata‐mata  perencanaannya, tetapi  falsafah atau konsep di balik  falsafah atau konsep di balik perencanaan itu. Kegagalan Perencanaan (4) Kegagalan Perencanaan (4) 4. Karena perencanaan diartikan sebagai pengaturan total  kehidupan manusia sampai yang paling kecil sekalipun.  Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan  Perencanaan di sini tidak memberikan kesempatan berkembangnya prakarsa individu dan  pengembangan kapasitas serta potensi masyarakat  secara penuh.  Sistem ini bertentangan dengan hukum penawaran  dan permintaan karena pemerintah mengatur  dan permintaan karena pemerintah mengatur semuanya.  p y g g Perencanaan seperti inilah yang disebut sebagai  sistem perencanaan terpusat (centrally planned  system). 27 www.dadangsolihin.com 28 www.dadangsolihin.com Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  g (1) Bias pertama  Adanya kecenderungan berpikir bahwa: – dimensi rasional dari pembangunan lebih penting dari dimensi  moralnya,  – dimensi material lebih penting daripada dimensi  d e s ate a eb pe t g da pada d e s kelembagaannya, dan  – dimensi ekonomi lebih penting dari dimensi sosialnya.  Bias‐bias dalam Bias bias dalam Perencanaan Pembangunan g www.dadangsolihin.com 29 Akibat dari anggapan itu ialah alokasi sumber daya  Akibat dari anggapan itu ialah alokasi sumber daya pembangunan diprioritaskan menurut jalan pikiran  yang demikian. www.dadangsolihin.com 30 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (2) Bias kedua Pendekatan pembangunan yang berasal dari atas lebih  sempurna daripada pengalaman dan aspirasi  p pembangunan di tingkat bawah (grass‐root).   g g (g ) Akibatnya kebijakan pembangunan menjadi kurang  efektif karena kurang mempertimbangkan kondisi yang  nyata dan hidup di masyarakat.  nyata dan hidup di masyarakat Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan  Pembangunan (3) Bias ketiga Pembangunan masyarakat banyak di tingkat bawah  Pembangunan masyarakat banyak di tingkat bawah lebih memerlukan bantuan material daripada  keterampilan teknis dan manajerial.  Anggapan ini sering mengakibatkan pemborosan  sumber daya dan dana, karena: – kurang mempersiapkan keterampilan teknis dan manajerial kurang mempersiapkan keterampilan teknis dan manajerial  dalam pengembangan sumber daya manusia, dan  – mengakibatkan makin tertinggalnya masyarakat di lapisan  bawah.  bawah www.dadangsolihin.com 31 www.dadangsolihin.com 32 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (4) Bias keempat Teknologi yang diperkenalkan dari atas selalu jauh lebih  ampuh daripada teknologi yang berasal dari masyarakat  ampuh daripada teknologi yang berasal dari masyarakat itu sendiri.  Anggapan demikian dapat menyebabkan pendekatan  pembangunan yang: pembangunan yang: terlalu memaksa dan menyamaratakan teknologi tertentu  untuk seluruh kawasan pembangunan di tanah air yang sangat  luas dan beragam tahap perkembangannya ini.  luas dan beragam tahap perkembangannya ini pendekatan pembangunan terlalu mengabaikan potensi  teknologi tradisional yang dengan sedikit penyempurnaan dan  pembaharuan mungkin lebih efisien dan lebih efektif untuk  pembaharuan mungkin lebih efisien dan lebih efektif untuk dimanfaatkan dibandingkan dengan teknologi impor. Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (5) Bias kelima Lembaga‐lembaga yang telah berkembang di kalangan  rakyat cenderung tidak efisien dan kurang efektif bahkan  rakyat cenderung tidak efisien dan kurang efektif bahkan menghambat proses pembangunan.  Anggapan ini membuat lembaga‐lembaga masyarakat di  lapisan bawah kurang dimanfaatkan dan kurang ada ikhtiar  lapisan bawah kurang dimanfaatkan dan kurang ada ikhtiar untuk memperbaharui, memperkuat serta  memberdayakannya.  Bahkan justru terdapat kecenderungan untuk  memperkenalkan lembaga‐lembaga baru yang asing dan  tidak selalu sejalan dengan nilai dan norma masyarakat.  www.dadangsolihin.com 33 www.dadangsolihin.com 34 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (6) Bias keenam Masyarakat di lapisan bawah tidak tahu apa yang  diperlukannya atau bagaimana memperbaiki nasibnya.  diperlukannya atau bagaimana memperbaiki nasibnya Oleh karena itu, mereka harus dituntun dan diberi petunjuk  dan tidak perlu dilibatkan dalam perencanaan meskipun  yang menyangkut dirinya sendiri.  k d d Akibat dari anggapan ini banyak proyek‐proyek  pembangunan yang ditujukan untuk rakyat, tetapi salah pembangunan yang ditujukan untuk rakyat, tetapi salah  alamat, tidak memecahkan masalah, dan bahkan merugikan  rakyat.  Bias ini melihat masyarakat sebagai objek dan bukan subjek  Bias ini melihat masyarakat sebagai objek dan bukan subjek pembangunan. Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  g (7) Bias ketujuh Orang miskin adalah miskin karena bodoh dan malas.  Orang miskin adalah miskin karena bodoh dan malas. Dengan demikian, cara menanganinya haruslah bersifat  paternalistik seperti memperlakukan orang bodoh dan  malas, dan bukan dengan memberi kepercayaan.  l d b k d b ik Dengan anggapan demikian masalah kemiskinan  dipandang lebih sebagai usaha sosial (charity) dan  dipandang lebih sebagai usaha sosial (charity) dan bukan usaha penguatan ekonomi.  www.dadangsolihin.com 35 www.dadangsolihin.com 36 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (8) Bias kedelapan i k d l Ukuran efisiensi pembangunan yang salah diterapkan,  y , misalnya ICOR, diartikan bahwa investasi harus selalu  diarahkan pada yang segera menghasilkan bagi  pertumbuhan.  Padahal upaya pemberdayaan masyarakat, akan  Padahal upaya pemberdayaan masyarakat akan menghasilkan  pertumbuhan,  bahkan  merupakan   sumber pertumbuhan yang lebih lestari (sustainable),  tetapi umumnya dalam kerangka waktu (time frame)  tetapi umumnya dalam kerangka waktu (time frame) yang lebih panjang.  Anggapan yang demikian beranjak dari konsep  pembangunan yang sangat bersifat teknis dan tidak  b b f k d d k memahami sisi‐sisi sosial budaya dari pembangunan dan  potensi yang ada pada rakyat sebagai kekuatan  pembangunan.  www.dadangsolihin.com 37 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan Pembangunan  (9) Bias kesembilan  • Sektor pertanian dan perdesaan adalah sektor tradisional,  kurang produktif, dan memiliki masa investasi yang panjang,  kurang produktif, dan memiliki masa investasi yang panjang, karena itu kurang menarik untuk melakukan investasi modal  besar‐besaran di sektor itu.  • Oleh karenanya bermitra dengan petani dan usaha kecil di Oleh karenanya, bermitra dengan petani dan usaha kecil di  sektor pertanian dan perdesaan dipandang tidak  menguntungkan dan memiliki risiko tinggi.  • Anggapan ini juga telah mengakibatkan prasangka dan  menghambat upaya untuk secara sungguh‐sungguh  membangun usaha pertanian dan usaha kecil di perdesaan.  www.dadangsolihin.com 38 Bias‐ Bias‐Bias dalam Perencanaan  Pembangunan (10) Bias kesepuluh Kegiatan investasi makin cenderung terpusat di  Kegiatan investasi makin cenderung terpusat di perkotaan, di sektor industri yang justru banyak  disubsidi dan diproteksi, yang akibatnya juga  mendorong urbanisasi.  d b i i Pengalaman Taiwan dan Jepang menunjukkan bahwa  investasi di wilayah perdesaan dapat meningkatkan  investasi di wilayah perdesaan dapat meningkatkan pertumbuhan dan sekaligus pemerataan yang  menyebabkan ekonominya menjadi kukuh.  Sistem Perencanaan yang Berhasil Sistem Perencanaan yang Berhasil • Sistem perencanaan yang mendorong berkembangnya  mekanisme pasar dan peran serta masyarakat.  mekanisme pasar dan peran serta masyarakat. • Dalam sistem ini perencanaan dilakukan dengan  menentukan sasaran‐sasaran secara garis besar, baik di  bidang sosial maupun ekonomi, dan pelaku utamanya  adalah masyarakat dan usaha swasta. www.dadangsolihin.com 39 www.dadangsolihin.com 40 Perencanaan yang Ideal • Prinsip partisipatif: masyarakat yang akan memperoleh  manfaat dari perencanaan harus turut serta dalam  manfaat dari perencanaan harus turut serta dalam prosesnya.  • Prinsip kesinambungan: perencanaan tidak hanya berhenti  pada satu tahap; tetapi harus berlanjut sehingga menjamin  d t t h t t ih b l j t hi j i adanya kemajuan terus‐menerus dalam kesejahteraan, dan  jangan sampai terjadi kemunduran.  • Prinsip holistik: masalah dalam perencanaan dan  pelaksanaannya tidak dapat hanya dilihat dari satu sisi (atau  sektor) tetapi harus dilihat dari berbagai aspek, dan dalam  ) p g p , keutuhan konsep secara keseluruhan. • Mengandung sistem yang dapat berkembang (a learning  and adaptive system). and adaptive system) • Terbuka dan demokratis (a pluralistic social setting). Sistem Perencanaan  Sistem Perencanaan  Pembangunan Nasional (SPPN) www.dadangsolihin.com 41 www.dadangsolihin.com 42 Latar Belakang AMANDEMEN KEEMPAT UUD NKRI  1945 Tidak ada GBHN Pemilihan Presiden secara langsung Pemilihan Kepala Daerah secara  Pemilihan Kepala Daerah secara demokratis UU 23/2003 tentang Pemilihan  Presiden REFORMASI PEMERINTAHAN DAERAH UU 32 /2004 tentang  Pemerintah Daerah P i t hD h Desentralisasi dan otonomi daerah Pemilihan Kepala Daerah Secara  Langsung Penyusunan RAPBN berpedoman pada  RKP Penyusunan RAPBD berpedoman pada  Penyusunan RAPBD berpedoman pada RKPD UU 1/2004 tentang Perbendaharaan Negara UU 15/2004 tentang Pemeriksaan dan Tanggungjawab Keuangan Negara UU 15/2004 t t P ik d T j bK N www.dadangsolihin.com 43 Landasan Filosofis Landasan Filosofis • Cita‐cita Nasional sebagaimana tercantum dalam Pembukaan UUD  NKRI Tahun 1945 adalah berkehidupan kebangsaan yang bebas,  bersatu, berdaulat, adil, dan makmur; • T j Tujuan Nasional dengan dibentuknya pemerintahan adalah untuk  N i ld dib k i h d l h k melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia,  memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan  j j , p bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia; • Tugas Pokok Setelah Kemerdekaan adalah menjaga kemerdekaan  serta mengisinya dengan pembangunan yang berkeadilan dan  demokratis yang dilaksanakan secara bertahap dan  berkesinambungan; • Agar kegiatan pembangunan berjalan efektif, efisien, dan  bersasaran maka diperlukan perencanaan pembangunan. www.dadangsolihin.com 44 Mengamanatkan CaPres  menyampaikan Visi, Misi, Program menyampaikan Visi Misi Program REFORMASI PENGELOLAAN KEUANGAN NEGARA UU 17/2003 tentang Keuangan  Negara Apa itu SPPN Apa itu SPPN SPPN adalah satu kesatuan tata cara  perencanaan pembangunan  perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana‐ rencana pembangunan dalam  rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah,  dan tahunan  yang dilaksanakan oleh unsur  penyelenggara negara dan  masyarakat di tingkat pusat dan  daerah. www.dadangsolihin.com 45 Asas SPPN 1) Pembangunan nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi dengan  prinsip‐prinsip kebersamaan, berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan  prinsip prinsip kebersamaan berkeadilan berkelanjutan berwawasan lingkungan, serta kemandirian dengan menjaga keseimbangan kemajuan  dan kesatuan nasional. 2) Perencanaan pembangunan nasional disusun secara sistematis, terarah,  terpadu, menyeluruh, dan tanggap terhadap perubahan. 3) SPPN diselenggarakan berdasarkan asas umum penyelenggaraan SPPN diselenggarakan berdasarkan asas umum   penyelenggaraan  negara : Asas  kepastian hukum Asas  tertib penyelenggaraan negara Asas kepentingan umum Asas keterbukaan Asas  proporsionalitas  Asas  profesionalitas Asas akuntabilitas www.dadangsolihin.com 46 Tujuan SPPN Tujuan SPPN Mendukung koordinasi antar-pelaku pembangunan. Menjamin terciptanya integrasi, sinkronisasi, dan sinergi baik antar-Daerah, antar-ruang, antar-waktu, antar-fungsi pemerintah maupun antara Pusat dan Daerah. Menjamin keterkaitan dan konsistensi antara perencanaan, penganggaran, pelaksanaan, dan pengawasan pengawasan. Mengoptimalkan partisipasi masyarakat. Menjamin tercapainya penggunaan sumber daya secara efisien, efektif, berkeadilan, dan berkelanjutan. www.dadangsolihin.com 47 Tahapan Perencanaan h 1. Penyusunan Rencana Rancangan Rencana Pembangunan Nasional / g g Daerah Rancangan Rencana Kerja Dep/Lembaga/ SKPD Musyawarah Perencanaan Pembangunan Rancangan Akhir Rencana Pembangunan 2. 2 Penetapan Rencana RPJP Nas dgn UU dan RPJP Daerah dgn Perda RPJM dengan Peraturan Presiden / Kepala Daerah RKP / RKPD dengan Peraturan Presiden / p Kepala Daerah www.dadangsolihin.com 48 Tahapan Perencanaan Tahapan Perencanaan p 3. Pengendalian Pelaksanaan Rencana Proses Perencanaan Proses Perencanaan Pendekatan Politik: Pemilihan Presiden/Kepala Daerah menghasilkan rencana pembangunan hasil proses politik (public choice theory of planning), khususnya penjabaran Visi dan Misi dalam RPJM/D. Dilakukan oleh masing masing pimpinan masing-masing SKPD. Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari masing-masing pimpinan SKPD sesuai dengan tugas dan kewenangannya. 4. Evaluasi Pelaksanaan Rencana Proses Teknokratik: Menggunakan metode dan kerangka berpikir ilmiah oleh g j yang g lembaga atau satuan kerja y g secara fungsional bertugas untuk itu. Partisipatif: Dilaksanakan dengan melibatkan seluruh stakeholders, antara lain melalui Musrenbang. Proses top-down dan bottom-up: Dilaksanakan menurut jenjang pemerintahan. Kepala SKPD melakukan evaluasi pelaksanaan e ca a pembangunan SKPD pe ode periode rencana pe ba gu a S sebelumnya. Kepala Bappeda menyusun evaluasi rencana pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pimpinan SKPD i i SKPD. Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana pembangunan daerah untuk periode berikutnya. berikutnya Sumber: UU25/2004 S b www.dadangsolihin.com 49 www.dadangsolihin.com 50 Ruang Lingkup Perencanaan Ruang Lingkup Perencanaan NASIONAL Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJP Nasional) (RPJP-Nasional) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJM-Nasional) Renstra Kementerian / Lembaga (Renstra KL) Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Rencana Kerja Kementerian / Lembaga (Renja KL) Penetapan UU (Ps. 13 Ayat 1) Per Pres (Ps. 19 Ayat 1) Dokumen Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah ( (RPJP-Daerah) ) Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJM Daerah) (RPJM-Daerah) Renstra Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renstra SKPD) Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Rencana Kerja Satuan Kerja Perangkat Daerah (Renja SKPD) Alur Perencanaan dan Penganggaran 20 Tahunan 5 Tahunan Renstra R t KL Pedoman Pedoman DAERAH Penetapan Perda (Ps. 13 Ayat 2) Peraturan KDH (Ps. 19 Ayat 3) Tahunan Renja R j KL Pedoman RKA-KL Rincian Ri i APBN Pemerin ntah Pusat Diacu Dijabar kan Pedoman RPJP Nasional Diacu Pedoman RPJM Nasional RKP RAPBN APBN Diperhatikan Pedoman Diserasikan melalui Musrenbang Peraturan Pimpinan KL (Ps. 19 Ayat 2) Per Pres (Ps. (Ps 26 Ayat 1) Peraturan Pimpinan KL (Ps. (Ps 21 Ayat 1) Peraturan Pimpinan SKPD (Ps. 19 Ayat 4) Peraturan KDH (Ps. (Ps 26 Ayat 2) Peraturan Pimpinan SKPD ( Ps 21 Ayat 3) Ps. 51 RPJP Daerah RPJM Daerah Dijabar kan RKP Daerah Pedoman RAPBD APBD Pe emerintah h Daerah Pedoman Diacu Pedoman Renstra SKPD Renja j SKPD Pedoman RKA SKPD Rincian APBD UU SPPN www.dadangsolihin.com UU KN 52 www.dadangsolihin.com Isi RPJP Isi RPJP NASIONAL Penjabaran Tujuan Nasional ke dalam: • Visi dan Penjabarannya; j y ; • Misi; • Arah Pembangunan Nasional • Kewilayahan • Sarana – Prasarana • Bidang Kehidupan Mekanisme Penyusunan RPJP Nasional Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Ditetapkan Dengan UndangUndang Presiden DAERAH Mengacu pada RPJP Nasional dan memuat: • Visi dan Penjabarannya; j y ; • Misi; • Arah Pembangunan Daerah • • • • Kewilayahan Sarana Prasarana Urusan Wajib Urusan Pilihan DPR Diajukan sebagai RUU RPJP Inisiatif Pemerintah Men nteri PPN Dihimpun dan Dikaji Evaluasi RPJP(-1) Pemikiran Visioner Rancangan Awal RPJP Musrenbang Jangka Panjang Rancangan Akhir RPJP Nas RPJP Nasional Penyele enggara Neg gara Evaluasi RPJP(-1) RPJP( 1) Pemikiran Visioner Aspirasi Pemangku Kepentingan Acuan bagi RPJP Daerah D h Masyarak kat Evaluasi RPJP(-1) Pemikiran Visioner Aspirasi Pemangku Kepentingan www.dadangsolihin.com 53 www.dadangsolihin.com 54 Langkah Penyusunan RPJPD Langkah Penyusunan RPJPD Visi, misi, dan arah  pembangunan Daerah  Mengacu pada RPJP  Nasional. Isi RPJM Isi RPJM RPJM NASIONAL Penjabaran visi, misi, program Presiden; Berpedoman pada RPJP Nasional RPJM DAERAH Penjabaran visi, misi program Kepala isi misi, Daerah; Berpedoman pada RPJP Daerah dan memperhatikan RPJM Nasional 1. 2. 3. 3 4. Strategi Pembangunan Daerah Kebijakan Umum Arah K bij k K A h Kebijakan Keuangan Daerah D h Program –program SKPD, Lintas SKPD, SKPD Kewilayahan, Lintas kewilayahan yang memuat kegiatan pokok dalam: • Kerangka Regulasi • Kerangka Anggaran 56 Rancangan  RPJPD Musrenbang  RPJPD Penyusunan  Rancangan  Rancangan Akhir Penetapan  Rancangan RPJPD  menjadi Perda 1. 2. 3. 3 4. Proses Teknokratik  oleh Bappeda l h d Bahan  Rancangan RPJP Melibatkan  lb k Masyarakat Oleh Bappeda Oleh Bappeda Oleh DPRD Oleh DPRD Strategi Pembangunan Nasional Kebijakan Umum Kerangka Ek K k Ekonomi M k i Makro Program – program Kementerian, Lintas kementerian, kementerian Kewilayahan, dan Lintas kewilayahan yang memuat kegiatan pokok dalam: • Kerangka Regulasi • Kerangka Anggaran www.dadangsolihin.com 55 www.dadangsolihin.com Penyusunan Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Presiden Dilantik Presiden 2 bulan 3 bulan Langkah Penyusunan RPJMD (1) Sidang Kabinet Sidang Kabinet Ditetapkan dengan Peraturan Presiden Indikator Bappeda menyusun Rancangan Awal RPJMD a) b) c) d) ) Visi,Misi Kepala Daerah Strategi Pembangunan Daerah Kebijakan Umum Kerangka Ekonomi Daerah g Visi, Misi, Program Kepala Daerah Terpilih (2) (3) Kemente erian PPN RPJP Nasional Perencanaan Teknokratik Rancangan Awal RPJM Nasional Rancangan RPJM Nasional Musrenbang Jangka Menengah Nasional Rancangan Akhir RPJM Nasional RPJM Nasional SKPD Menyusun Renstra SKPD Program SKPD (4) Kem menterian / Le embaga Data Keuangan Moneter, Statistik, dan Data Sektoral e) Program SKPD Rancangan Renstra - KL Penyesuaian Renstra - KL Bappeda menyelenggarakan pp y gg MUSRENBANG RPJMD Bappeda menyusun Rancangan Akhir RPJMD Aspirasi Masyarakat M k t yg Teramati Visi, Misi, Program CaPres (5) Penetapan RPJMD ( ) (7) Pemangku Kepentingan Pembangunan Pemilu Visi, Misi, Program Presiden Terpilih a) ) b) c) d) e) ) Visi, Misi Kepala Daerah p Strategi Pembangunan Daerah Kebijakan Umum Kerangka Ekonomi Daerah Program SKPD g Masyarakat t (6) Digunakan sebagai pedoman penyusunan Rancangan RKPD www.dadangsolihin.com 57 www.dadangsolihin.com 58 Isi Renstra KL & Renstra Isi Renstra‐KL & Renstra‐SKPD Isi Renstra‐KL & Renstra‐ RKP Isi RKP/D Isi RKP/D RKP Daerah Penjabaran RPJM Daerah; P j b D h Mengacu pada RKP 1. Prioritas Pembangunan Daerah 2. Rancangan Kerangka Ekonomi Makro Daerah 3. Arah Kebijakan Keuangan Daerah 4. Program –program SKPD, Lintas SKPD, Kewilayahan, K il h Lintas kewilayahan yang memuat kegiatan dalam: • Kerangka Regulasi • Kerangka Anggaran Penjabaran RPJM Nasional P j b N i l 1. Prioritas Pembangunan Nasional 2. Rancangan Kerangka Ekonomi Makro 3. Arah Kebijakan Fiskal 4. Program – program Kementerian, Lintas k Li t kementerian, t i Kewilayahan, dan Lintas kewilayahan yang memuat kegiatan dalam: • Kerangka Regulasi • Kerangka Anggaran 59 Renstra-KL Berpedoman pada RPJM Nasional Isi: 1. Visi-Misi 2. Tujuan, Strategi, dan Kebijakan 3. Program-program 4. Kegiatan Indikatif g Renstra-SKPD Berpedoman pada RPJM p p Daerah Isi: 1. Visi-Misi 2. Tujuan, Strategi, dan Kebijakan 3. Program-program 4. Kegiatan Indikatif g www.dadangsolihin.com www.dadangsolihin.com 60 Mekanisme Penyusunan RKP Isi Renja KL & Renja Isi Renja‐KL & Renja‐SKPD Isi Renja‐KL & Renja‐ Renja-KL Penjabaran Renstra KL Isi: 1. 1 Kebijakan KL 2. Program dan Kegiatan Pembangunan g Dilaksanakan Pemerintah Mendorong Partisipasi Masyarakat M k t Renja-SKPD Penjabaran Renstra RKPD Isi: 1. 1 Kebijakan SKPD 2. Program dan Kegiatan Pembangunan g Dilaksanakan Pemerintah Mendorong Partisipasi Masyarakat M k t www.dadangsolihin.com 61 www.dadangsolihin.com 62 (8) Langkah Penyusunan RKPD Bappeda menyusun Rancangan Awal RKPD (9) (10) SKPD Menyusun Renja SKPD Program SKPD MUSRENBANG Desa/Kelurahan/Kecamatan (11.a) Rancangan Akhir RKPD (11.b) MUSRENBANG Kab/Kota a. a Sinkronisasi Program SKPD b. Harmonisasi Dekon dan TP (12) MUSRENBANG Prov Sbg g Wakil Pemerintah Pusat a. Harmonisasi Dekon dan TP Mei April Maret Pengendalian dan Evaluasi (1) Pengendalian dan Evaluasi (1) Pengendalian pelaksanaan rencana pembangunan dilakukan  oleh masing‐masing pimpinan kementerian/lembaga/satuan  kerja perangkat daerah. kerja perangkat daerah Menteri/Kepala Bappeda menghimpun dan menganalisis hasil  pemantauan pelaksanaan rencana pembangunan dari pelaksanaan rencana pembangunan dari  masing‐masing pimpinan kementerian/lembaga/satuan kerja  perangkat daerah sesuai dengan tugas dan kewenangannya. a) Prioritas Pembangunan Daerah b) Kebijakan Umum c) Kerangka Ekonomi Daerah Pagu Indikatif d) Program SKPD a) b) c) d) Prioritas Pembangunan Kebijakan Umum Kerangka Ekonomi Daerah Program SKPD (15) Penetapan RKPD (14) (13) Bappenas menyelenggarakan (4) MUSRENBANGNAS a. Sinkronisasi Program KL/SKPD b. Harmonisasi Dekon dan TP www.dadangsolihin.com 63 www.dadangsolihin.com 64 April Sebagai pedoman penyusunan Rancangan APBD Pengendalian dan Evaluasi (2) Pengendalian dan Evaluasi (2) Pimpinan kementerian/lembaga/Kepala SKPD melakukan  Pi i k i /l b /K l SKPD l k k evaluasi kinerja pelaksanaan rencana pembangunan  kementerian/lembaga/SKPD periode sebelumnya. / g / p y Menteri/Kepala Bappeda menyusun evaluasi rencana  pembangunan berdasarkan hasil evaluasi pimpinan  kementerian/lembaga/SKPD. k i /l b /SKPD Hasil evaluasi menjadi bahan bagi penyusunan rencana  pembangunan nasional/daerah untuk periode berikutnya. pembangunan nasional/daerah untuk periode berikutnya TERIMA KASIH www.dadangsolihin.com 65 Dadang Solihin’s Profile Dadang Solihin currently is Director for Regional Development  Dadang Solihin currently is Director for Regional Development Performance Evaluation at Indonesian National Development  Planning Agency (Bappenas). He holds MA degree in Economics from  y , p p y University of Colorado, USA. His previous post is Director for System  and Reporting of Development Performance Evaluation at Bappenas.  Beside working as Assistant Professor at Graduate School of Asia‐Pacific Studies,  g , Waseda University, Tokyo, Japan, he also active as Associate Professor at University  of Darma Persada, Jakarta, Indonesia. He got various training around the globe, included Shanghai International Program  He got various training around the globe, included Shanghai International Program for Development Evaluation Training (2008), Public Officials Capacity Building  Training Program for Government Innovation, Seoul –Korea (2007), Advanced  g g gy g , International Training Programme of Information Technology Management, at  Karlstad City, Sweden (2005). the Training Seminar on Land Use and Management,  Taiwan (2004). Developing Multimedia Applications for Managers, Kuala Lumpur,  Malaysia (2003). Applied Policy Development Training, Vancouver, Canada (2002).  Local Government Administration Training Course, Hiroshima, Japan (2001). and  Regional Development and Planning Training Course, Sapporo, Japan (1999). He  published more than five books regarding local autonomous.  You can reach Dadang Solihin by email at dadangsol@yahoo.com or by his mobile  at +62812 932 2202 www.dadangsolihin.com 67

Related docs
premium docs
Other docs by Dadang Solihin