MODEL OPTIMASI POLA TANAM PADA LAHAN KERING DI DESA

Document Sample
MODEL OPTIMASI POLA TANAM PADA LAHAN KERING DI DESA Powered By Docstoc
					         MODEL OPTIMASI POLA TANAM PADA LAHAN KERING
  DI DESA SARIMUKTI KECAMATAN PASIRWANGI KABUPATEN GARUT.
                              oleh :
       Roni Kastaman, Dwi Rustam Kendarto, Awan Mustafa Aji


                                 ABSTRAK

        Sub sektor tanaman pangan merupakan penyumbang terbesar terhadap
sektor pertanian sehingga sektor pertanian tersebut dapat menghasilkan nilai
Produk Domestik Bruto yang tidak kalah bersaing dengan sektor industri,
perdagangan dan jasa. Kabupaten Garut sebagai salah satu sentra pertanian
Jawa Barat dalam kebijakan Rencana Tata Ruang dan Wilayah tahun 2001
menjadikan sub sektor tanaman pangan khususnya tanaman lahan kering
sebagai salah satu tujuan pengembangan di tiap kecamatan. Hal ini disebabkan
luas pertanian lahan kering di kabupaten Garut lebih besar dibandingkan lahan
sawah. Walaupun demikian pendapatan yang diperoleh petani sebagai
pelaksana kegiatan pertanian di Kabupaten tersebut masih relatif rendah. Hal
ini disebabkan karena penguasaan lahan petani yang sempit dan perencanaan
usaha tani yang belum dilakukan dengan baik. Salah satu cara peningkatan
pendapatan petani adalah dengan penerapan optimasi pola tanam sebagai
bentuk perencanaan usaha tani yang baik.
        Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan pola tanam yang
optimal sehingga keuntungan maksimal dapat tercapai, tujuan lain yang ingin
dicapai adalah untuk mengetahui tingkat pendapatan sebelum dilakukan dan
sesudah dilakukan optimasi, selain itu penelitian ini bertujuan memberikan
solusi alternatif sebagai upaya memaksimumkan keuntungan petani.
        Penelitian ini merupakan studi kasus di desa Sarimukti kecamatan
Pasirwangi kabupaten Garut yang dilaksanakan pada bulan Desember 2004
sampai dengan Maret 2005 dengan metode deskriptif survei dan metode analisis
optimasi menggunakan metode Program Sasaran (Goal Programming). Data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah data primer berupa wawancara,
pengukuran langsung, observasi dan data sekunder berupa peta, data yang
didapat dari instansi terkait.
        Pola tanam optimal yang dihasilkan pada musim tanam I adalah pola
tanam optimal pada musim tanam I adalah kol/kubis (57,2 Ha), kembang kol
(74,1 Ha) dan sawi (50,7 Ha). Musim tanam II komoditas yang ditanam kentang
(30,4 Ha), kembang kol (50,7 Ha), buncis (26,39 Ha), sawi (12,37 Ha), kacang
merah (30,16 Ha) dan cabe (31,97 Ha) sedangkan untuk musim tanam III
komoditas yang ditanam adalah kol/kubis (124,8 Ha) dan kembang kol (57,2 Ha)
Keuntungan setelah optimasi meningkat sebesar Rp 30.340.700. Pola tanam
optimal alternatif yang bisa diterapkan adalah kentang, kembang kol, buncis,
sawi, kacang merah dan cabe untuk musim tanam I. Musim tanam II alternatif
pola tanam optimal adalah kol/kubis dan kembang kol. Musim tanam III yaitu
kol/kubis, kembang kol dan sawi. Pola tanam alternatif lain adalah kol/kubis
dan kembang kol untuk musim tanam I. Musim tanam II adalah kol/kubis,
kembang kol dan sawi sedangkan musim tanam III, alternatif pola tanam
optimal adalah kentang, kembang kol, buncis dan sawi




                                     1
I. PENDAHULUAN

       Mata pencaharian suatu daerah dapat dilihat dari nilai Produk Domestik
Bruto daerah tersebut. Umumnya di Indonesia sektor pertanian masih
merupakan sektor yang banyak ditekuni oleh masyarakat. Hal tersebut
dibuktikan dengan besarnya Produk Domestik Bruto yang dihasilkan sektor ini.
       Jawa Barat adalah salah satu kawasan yang masyarakatnya masih hidup
dari sektor pertanian. Produk Domestik Bruto Regional Jawa Barat tahun 2001
untuk sektor pertanian tersebut sebesar Rp.30.987.578 juta (16.04%) dan tahun
2002 sebesar Rp. 33.391.149 juta (15,6%) (BPS, 2002). Nilai tersebut masih
cukup besar dibandingkan sektor lain seperti perdagangan dan jasa. Hal ini
menunjukkan bahwa pertanian masih memiliki peran yang besar dalam
pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat.
       Besarnya nilai Produk Domestik Bruto yang dihasilkan dari sektor
pertanian Jawa Barat ternyata sebagian besar disumbangkan oleh sub sektor
tanaman pangan sebanyak Rp.24.194.148 juta (78%) pada tahun 2001 dan
sebesar Rp.25.085.178 juta (75%) pada tahun 2002, sedangkan sisanya
merupakan sumbangan dari sub sektor tanaman perkebunan, peternakan,
kehutanan dan perikanan.
       Tanaman pangan terdiri dari tanaman padi-padian, palawija dan
sayuran. Data tentang penggunaan lahan untuk tanaman pangan di Jawa Barat
tahun 2002 disajikan dalam Tabel 1.

   Tabel 1. Luas Penggunaan Lahan Tanaman Pangan di Jawa Barat (2002)
        Jenis Penggunaan                       Luas lahan
        Sawah Irigasi                          548.055
        Sawah Tadah Hujan                      268.988
        Tegalan                                269.436
        Ladang                                 27.640
        Kebun Campuran                         808.659
   Sumber : BPS (2002)

        Jawa Barat memiliki potensi lahan lebih luas untuk tanaman pangan non
padi-padian dari pada luas lahan untuk tanaman padi-padian. Hal ini
ditunjukkan dengan luas lahan sawah irigasi dan sawah tadah hujan lebih kecil
dibandingkan dengan luas lahan tegalan, ladang dan kebun campuran seperti
yang ditunjukkan pada Tabel 1.
        Wilayah Jawa Barat yang menjadi sentra pengembangan tanaman
pangan lahan kering yaitu wilayah dataran tinggi bagian tengah Jawa Barat.
Salah satu daerah sentra pertanian tersebut yaitu Kabupaten Garut.
        Berdasarkan Rencana Tata Ruang Wilayah Kabupaten Garut (2001)
pengembangan pertanian tanaman pangan lahan kering akan dikembangkan
pada seluruh bagian wilayah kecamatan di Kab. Garut kecuali Kecamatan
Leuwigoong dan Kecamatan Banyuresmi yang peruntukannya hanya untuk lahan
sawah. Hal ini sesuai dengan luas penggunaan lahan kering di Kabupaten Garut
sebesar 108.648 Ha yang lebih banyak dari lahan sawah dengan luas hanya
49.477 Ha (BPS, 2003).
        Keberhasilan pengembangan pertanian tanaman pangan lahan kering
tersebut tidak hanya melibatkan instansi terkait sebagai perumus kebijakan
tetapi juga petani sebagai pelaksana kegiatan pertanian. Nilai Produk Domestik
Bruto sektor pertanian yang cukup besar seharusnya juga diimbangi dengan




                                                                            1
peningkatan kesejahteraan petani sebagai pelaksana kegiatan pertanian, tetapi
pada kenyataannya pendapatan yang diperoleh oleh para petani masih rendah.


Tabel 2. Pendapatan Rata-rata Petani Sayuran Per Musim di Kab.Garut 2002
Komoditas           Produktivitas          Harga        Pendapatan
                    (Kw/Ha)                (Rp/kg)      (Rp.)

Kentang              119,4                 2.000        716.400
Kol/kubis            240,5                 1.000        1.202.500
Wortel               111,22                1.000        2.780.500
Tomat                109,45                2.000        875.600
Sawi                 240,5                 1.000        1.202.500
Cabe                 109,45                2.000        1.313.400
    Sumber: Dinas   Tanaman Pangan, 2002

       Berdasarkan sensus pertanian (2003) sebanyak 222.961 petani (79%) dari
282.334 petani di Kab. Garut merupakan petani yaitu memiliki tanam kurang
dari seperempat hektar (<0,25Ha), padahal sebanyak 282.334 petani tersebut
hanya mengandalkan sektor pertanian untuk kebutuhan hidupnya. Hal tersebut
menyebabkan pendapatan petani untuk satu musim masih relatif kecil. Rata-
rata pendapatan petani tersebut sebesar Rp.250.000 per bulan seperti yang
ditunjukkan pada Tabel 2.


Tabel 3. Luas Panen Tanaman Sayuran di Kab. Garut Tahun 2000-2003 ( hektar)
                       Tahun
 Komoditas
                   2000          2001           2002          2003
 Kentang           4.868         5.204          5.318         6.427
 Kol/kubis         4.625         4.014          4.140         4.692
 Petsay            2.507         2.014          2.021         2.194
 Wortel            1.590         1.760          2.130         2.978
 Kacang merah      4.214         4.101          2.712         4.250
 Cabe              15.176        4.278          5.496         3.911
 Tomat             7.113         2.722          3.360         3.709
 Buncis            2.817         1.056          729           1.104
   Sumber: BPS Garut (2003)

        Pendapatan rendah petani juga disebabkan pola tanam yang dilakukan
oleh para petani berubah-ubah secara tajam tiap tahun, seperti yang
ditunjukkan oleh Tabel 3. Hal ini membuktikan bahwa petani melakukan
kegiatan pertaniannya tanpa adanya pola tanam yang teratur.
        Penguasaan lahan yang sempit tidak mungkin dapat diatasi karena
peningkatan populasi yang menyebabkan penggunaan lahan beralih fungsi
menjadi perumahan atau fasilitas lain. Salah satu cara yang dapat dilakukan
untuk mengatasi rendahnya pendapatan petani adalah dengan perencanaan
usaha tani yang baik.
        Perencanaan usaha tani merupakan suatu teknik untuk menerapkan cara
berfikir ekonomi dimana bertujuan menge mbangkan potensi sumberdaya yang
dimiliki petani agar usaha tani yang dilakukan lebih menguntungkan (Anindita,
Kanto, Wahyudi, 1999)




                                                                           2
       Penentuan pola tanam optimal merupakan salah satu perencanaan usaha
tani yang dapat dilakukan agar rendahnya pendapatan petani dapat diatasi, jika
pola tanam optimal dapat dilakukan dengan baik maka kelangkaan sumberdaya
seperti luas lahan yang relatif sempit dapat diatasi dan keuntungan maksimal
dapat tercapai
       Tujuan pola tanam optimal yaitu keuntungan maksimal mempunyai nilai
kuantitatif sehingga dalam perencanaan pola tanam optimal tersebut
diperlukan pendekatan secara kuantitatif dengan pertimbangan bahwa
pendekatan kuantitatif selalu didasarkan pada seperangkat analisis empiris
yang terukur sifatnya, sebaliknya pendekatan kualitatif didasarkan pada
pertimbangan judgement pembuat keputusan (Soekartawi, 1995).

II. IDENTIFIKASI MASALAH

       Masalah yang dapat diidentifikasi berdasarkan uraian di atas adalah
bagaimana deskripsi model pola tanam optimal yang dapat diterapkan pada
tingkat petani agar memberikan keuntungan yang paling tinggi baginya.

III. TUJUAN PENELITIAN

1. Tujuan penelitian adalah menentukan pola tanam yang optimal sehingga
   keuntunan maksimal dapat tercapai.
2. Mengetahui tingkat keuntungan yang didapat sebelum dan sesudah
   optimalisasi pola tanam
3. Memberikan alternatif solusi sebagai upaya memaksimumkan keuntungan
   petani melalui optimasi pola tanam.

IV. KEGUNAAN PENELITIAN

      Hasil penelitian ini diharapkan memiliki kegunaan:
1. Sebagai acuan atau pertimbangan bagi perumus kebijakan (policy makers)
   atau pembuat keputusan (decission makers) mengenai penggunaan lahan,
   tenaga kerja yang efisien dan optimal yang dapat diterapkan, sehingga
   dapat menghasilkan biaya minimal dan keuntungan maksimal
2. Sebagai acuan bagi peneliti lain yang ingin meneliti lebih dalam tentang
   optimasi perencanaan sektor pertanian di tempat lain.
3. Sebagai acuan bagi para petani untuk mengaplikasikannya pola tanam
   optimal di lahan mereka guna peningkatan pendapatan dengan
   memanfaatkan sumber daya yang dimiliki para petani.

V. METODOLOGI PENELITIAN

5.1. Tempat dan Waktu

       Penelitian dilaksanakan pada bulan Desember 2004 sampai dengan Maret
2005 di Desa Sarimukti Kecamatan Pasirwangi Kabupaten Garut. Analisis dengan
menggunakan piranti lunak komputer dilakukan di Studi Komputer Jurusan
Teknik dan Manajemen Industri Pertanian Fakultas Teknologi Industri Pertanian
Universitas Padjadjaran.




                                                                            3
5.2. Alat dan Bahan Penelitian
       Alat yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah :
1. Komputer Prosesor Intel Pentium 4, 2.0 GHz, memori 120 MB, HDD 40 GB,
   FDD 3 ½, untuk pengolahan data dan analisis data
2. Kuesioner
3. Kalkulator
4. GPS (Global Position System)
5. Piranti lunak (software) Goal Programming, seperti QSB for Windows untuk
   analisis optimasi.

       Bahan yang digunakan adalah data primer dan data sekunder yang
diperlukan dan terkait dengan penelitian yang akan dilakukan.
       Data Primer didapat dari pengukuran secara langsung atau hasil survei
yang dilakukan terhadap petani yang terdapat di Desa Sarimukti.
       Data sekunder adalah data yang di dapat dari instansi terkait
diantaranya dinas pertanian setempat, kecamatan, pasar setempat. Data
tersebut meliputi data :
    1. Data curah hujan dari stasiun curah hujan darajat
    2. Harga jual komoditas dari petani
    3. Jumlah tenaga kerja pertanian di Desa Sarimukti
    4. Profil desa / kecamatan
    5. Peta penggunaan lahan 1: 25.000 (Kanwil BPN Prov. Jawa Barat, 2001)
    6. Peta tanah 1: 25.000 (Pemerintah Kabupaten Garut, 2001)

5.3. Metode Penelitian
        Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
deskriptif survei, sedangkan metode analisis hasil digunakan goal
programming (program sasaran). Inti dari goal programming ini adalah
menentukan serangkaian kombinasi sumberdaya (input) untuk
mendapatkan sejumlah input tertentu sesuai dengan tujuan (goal) yang
diinginkan. Prinsip dasar metode ini sebenarnya hampir sama dengan
linier programming, hanya saja ada elaborasi pada fungsi tujuan dan
fungsi kendalanya, dimana masing-masing bisa lebih dari satu, terutama
dari sisi tujuannya (bisa 2 atau lebih tujuan / goal).
        Dalam proses analisisnya digunakan piranti lunak QSB for window
untuk memudahkan dalam proses perhitungan, lebih cepat dan lebih
akurat.
        Tahapan prosedur penelitian yang dilakukan adalah sebagai
berikut :




                                                                          4
                  Gambar 1. Tahapan Prosedur Penelitian

VI. HASIL DAN PEMBAHASAN

       Hasil observasi menunjukkan bahwa lahan kering yang dimiliki daerah
penelitian seluas 182 Ha. Kawasan ini memiliki ketinggian anatara 1483-1518
mdpl. Jenis tanah yang dimiliki adalah jenis tanah andosol dengan pH antara 4-
6 atau rata-rata 5,3. Iklim di kawasan ini termasuk ke golongan III, berdasarkan
Mohr (1993) .
       Tingkat pendidikan petani masih rendah 83,33% memiliki tingkat
pendidikan sekolah dasar saja. Luas lahan yang dimiliki umumnya adalah
kepemilikan sendir dengan luas lahan rata-rata kurang dari 0,5 Ha (56,67 %)
       Pola tanam petani dilakukan secara bergilir, sehingga satu tanaman
umumnya ditanam tidak lebih dari satu kali dalam satu tahun. Sebesar 20%
petani responden melakukan pola tanam dalam setahun yaitu kentang -
kol/kubis – tomat Pola tanam tersebut menghasilkan keuntungan sebesar Rp.
63.000.000 /Ha.
       Berdasarkan hasil analisis komoditas yang mungkin ditanam berdasarkan
pada kebiasaan pola tanam petani dan komoditas lain yang menjadi andalan
Kab.Garut adalah kentang, kol/kubis, tomat, wortel, cabe, kacang merah,




                                                                              5
sawi, buncis, kembang kol, bawang daun. Komoditas tersebut kemudian
berdasarkan pendapatan, biaya tenaga kerja dan dilakukan optimasi dengan
program goal programming untuk dihasilkan konfigurasi pola tanam yang tepat
sehingga keuntungan maksimal dapat tercapai.
       Analisis dilakukan secara bertahap dengan cara analisis seperti pada
tebel berikut :

Tabel 4. Cara Analisis Optimasi Pola Tanam
Cara Analisis                              Urutan Analisis
Analisis I             Musim Tanam I     Musim Tanam II      Musim Tanam III
Analisis II          Musim Tanam II      Musim Tanam III     Musim Tanam I
Analisis III         Musim Tanam III     Musim Tanam I       Musim Tanam II

      Deskripsi komoditas dan luas areal tanam menurut skenario musim
tanam pada lokasi penelitian yang dijadikan acuan pada Tabel 4. di atas
adalah sebagaimana disajikan pada Tabel 5, Tabel 6 dan Tabel 7.

Tabel 5. Penggunaan Lahan Optimal dalam Setahun Menggunakan Cara
         Analisis I
  Komoditas                   Luas Penggunaan Lahan (Ha)
                    MusimTanam I     Musim Tanam II   Musim Tanam III
 Kembang Kol                  57,2             74,1              50,7
 Kentang                         -                 -            49,82
 Kol/Kubis                   124,8             57,2                   -
 Sawi                            -             50,7             24,93
 Buncis                          -                 -            56,55
 Luas Lahan                    182              182               182


Tabel 6. Penggunaan Lahan Optimal dalam Setahun Menggunakan Cara
         Analisis II
  Komoditas                     Luas Penggunaan Lahan (Ha)
                     Musim Tanam I     MusimTanam II    Musim Tanam III
 Kembang Kol                    50,7             57,2              74,1
 Kentang                        30,4                 -                  -
 Kol/Kubis                         -            124,8              57,2
 Sawi                          12,37                 -             50,7
 Kacang                        30,16                 -                  -
 Merah
 Cabe                          31,97                 -                  -
 Buncis                        26,39                 -                  -
 Luas Lahan                      182              182               182




                                                                               6
Tabel 7. Penggunaan Lahan Optimal dalam Setahun Menggunakan Cara
         Analisis III
  Komoditas                      Luas Penggunaan Lahan (Ha)
                      Musim Tanam I     MusimTanam II    Musim Tanam III
Kembang Kol                      74,1             50,7              57,2
Kentang                             -             30,4                   -
Kol/Kubis                        57,2                 -            124,8
Sawi                             50,7            12,37                   -
Kacang Merah                        -            30,16                   -
Cabe                                -            31,97                   -
Buncis                              -            26,39                   -
Luas Lahan                        182              182               182


     Tujuan yang ingin dicapai dalam optimasi                 ini   adalah
memaksimalkan pendapatan dan meminimalkan biaya.

Persamaan untuk memaksimalkan pendapatan adalah :

Max :
A1 KTG+ A2 WRT+ A3 TMT+ A4 CB+ A5 KMR + A6 KOL + A7 KBK + A8 SWI + A9
DBW + A10 BCS

dimana :
A1, A2, ...,A10     : Pendapatan tiap komoditas per hektar
KTG, WRT,..., BCS   : Komoditas yang dioptimasi

Persamaan untuk meminimalkan biaya adalah :

Min :
B1 KTG+ B2 WRT+ B3 TMT+ B4 CB+ B5 KMR + B6 KOL + B7 KBK + B8 SWI + B9
DBW + B10 BCS

dimana :
B1, B2, ...,B10     : Biaya tiap komoditas per hektar
KTG, WRT,..., BCS   : Komoditas yang dioptimasi

Fungsi kendala yang digunakan dalam optimasi ini adalah kendala luas lahan
dan kendala tenaga kerja. Fungsi kendala lahan dituliskan dengan persamaan:
KTG+WRT+TMT+CB+KMR+KOL+BCS+DBW+SWI = 182

dimana masing-masing komoditas memiliki peluang yang sama untuk ditanam di
kawasan penelitian, sedangkan nilai 182 Ha merupakan luas lahan kering di
kawasan penelitian.

    Kendala yang digunakan kedua adalah tenaga kerja, kendala ini didasrkan
pada tenaga kerja yang tersedian untuk melakukan kegiatan pertanian. Tenaga
kerja ini dibagi menjadi kendala tenaga kerja selama 4 bulan. Hal ini
disebabkan fungsi kerja dari masing-masing bulan yang berbeda.




                                                                         7
   Fungsi kendala untuk kendala tenaga kerja ini adalah :
   • Bulan I :
      250KTG+200WRT+250TMT+
      250CB+200KMR+200KOL+
      200BCS+250DBW+
      250SWI<=41.405

   •    Bulan II :
        225KTG+115WRT+240TMT+
        165CB+55KMR+120KOL+
        55BCS+217DBW+
        85SWI<=27.846
   • Bulan III :
        70KTG+120WRT+120TMT+
        120CB+40KMR+70KOL+75BCS+
        115DBW125KBK+50SWI<= 16.107
   • Bulan IV :
        85KTG+75WRT+120TMT+205CB+70KMR+75KOL+125KBK+
        110DBW+60SWI<= 18.837
Keterangan :
KTG : Kentang, WRT : Wortel,
 TMT : Tomat, CB : Cabe,
 KMR : Kacang merah,
KOL : Kol/ kubis, KMK : Kembang kol, BCS: Buncis, DBW : Daun bawang,
 BCS : Buncis

       Hasil dari optimasi merekomendasikan analisis III sebagai analisis pola
tanam terbaik yaitu tanam optimal pada musim tanam I dengan komoditas yang
ditanam kol/kubis (57,2 Ha), kembang kol (74,1 Ha) dan sawi (50,7 Ha). Musim
tanam II komoditas yang ditanam kentang (30,4 Ha), kembang kol (50,7 Ha),
buncis (26,39 Ha), sawi (12,37 Ha), kacang merah (30,16 Ha) dan cabe (31,97
Ha) sedangkan untuk musim tanam III komoditas yang ditanam adalah kol/kubis
(124,8 Ha) dan kembang kol (57,2 Ha). Keuntungan dari pola tanam tersebut
adalah sebesar Rp. 82.304.000 atau meningkat sebesar Rp 30.340.700 dari
Rp 51.963.300 sebelum dilakukan optimasi.

Tabel 8. Perbedaan Keuntungan Pola Tanam Sebelum dan Sesudah
         Optimasi
                      Analisis I      Analisis II     Analisis III
Setelah Optimasi       76.610.000      80.620.000       82.304.000
(Rp/Ha)
Sebelum Optimasi       51.963.300      51.963.300       51.963.300
(Rp/Ha)
Selisih                24.646.700      28.656.700       30.340.700


        Hasil analisis II dan I juga dapat dijadikan alternatif pola tanam optimal.
Hal ini disebabkan pola tanam dengan analisis II dan I memiliki keuntungan yang
lebih besar dibandingkan pola tanam yang biasa dilakukan oleh petani biasanya.
Pola tanam alternatif hasil analisis II adalah pola tanam kentang (30,4 Ha),
kembang kol (50,7 Ha), buncis (26,39 Ha), sawi (12,37 Ha), kacang merah



                                                                                 8
(30,16 Ha) dan cabe (31,97 Ha) untuk musim tanam I. Musim tanam II alternatif
pola tanam optimal adalah kol/kubis (124,8 Ha) dan kembang kol (57,2 Ha).
Musim tanam III yaitu kol/kubis (57,2 Ha), kembang kol (74,1 Ha) dan sawi
(50,7 Ha). Peningkatan keuntungan yang diperoleh untuk pola tanam tersebut
adalah Rp.28.656.700.
       Pola tanam alternatif lainnya dari hasil analisis I adalah pola tanam
kol/kubis (124,8 Ha) dan kembang kol (57,2 Ha) untuk musim tanam I. Musim
tanam II komoditas yang ditanam adalah kol/kubis (57,2 Ha), kembang kol (74,1
Ha) dan sawi (50,7 Ha), sedangkan untuk musim tanam I alternatif pola tanam
optimal adalah kentang (49,82 Ha), kembang kol (50,7 Ha), buncis (56,55 Ha)
dan sawi (24,93 Ha). Peningkatan keuntungan dari musim tanam tersebut
adalah Rp.24.646.700.


VII. KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan
1. Hasil analisis pola tanam optimal merekomendasikan pola tanam optimal
   pada musim tanam I dengan komoditas yang ditanam kol/kubis (57,2 Ha),
   kembang kol (74,1 Ha) dan sawi (50,7 Ha). Musim tanam II komoditas yang
   ditanam kentang (30,4 Ha), kembang kol (50,7 Ha), buncis (26,39 Ha), sawi
   (12,37 Ha), kacang merah (30,16 Ha) dan cabe (31,97 Ha) sedangkan untuk
   musim tanam III komoditas yang ditanam adalah kol/kubis (124,8 Ha) dan
   kembang kol (57,2 Ha)
2. Keuntungan yang diperoleh setelah optimasi meningkat sebesar
   Rp 30.340.700 dari Rp 51.963.300 sebelum dilakukan optimasi menjadi
   Rp. 82.304.000 sesudah dilakukan optimasi.
3. Pola tanam optimal yang bisa menjadi alternatif bagi petani yaitu pola
   tanam kentang (30,4 Ha), kembang kol (50,7 Ha), buncis (26,39 Ha), sawi
   (12,37 Ha), kacang merah (30,16 Ha) dan cabe (31,97 Ha) untuk musim
   tanam I. Musim tanam II alternatif pola tanam optimal adalah kol/kubis
   (124,8 Ha) dan kembang kol (57,2 Ha). Musim tanam III yaitu kol/kubis
   (57,2 Ha), kembang kol (74,1 Ha) dan sawi (50,7 Ha).
4. Pola tanam alternatif lainnya adalah pola tanam kol/kubis (124,8 Ha) dan
   kembang kol (57,2 Ha) untuk musim tanam I. Musim tanam II komoditas
   yang ditanam adalah kol/kubis (57,2 Ha), kembang kol (74,1 Ha) dan sawi
   (50,7 Ha), sedangkan untuk musim tanam III, alternatif pola tanam optimal
   adalah kentang (49,82 Ha), kembang kol (50,7 Ha), buncis (56,55 Ha) dan
   sawi (24,93 Ha)

7.2. Saran
1. Model optimasi yang digunakan dalam penelitian ini meliputi satu kawasan
   pertanian, oleh karena itu perlu adanya sinergi antara satu petani dengan
   yang lain untuk membentuk kelompok sehingga pola tanam optimal dengan
   tujuan memaksimalkan keuntungan dapat tercapai.
2. Model yang digunakan hanya menggunakan 2 fungsi kendala yaitu tenaga
   kerja dan lahan, sehingga untuk kasus lain sebenarnya dapat pula dicoba
   untuk faktor kendala lain yang lebih dari 2 fungsi seperti penggunaan
   pupuk, kebutuhan air dan lain-lain.




                                                                           9
DAFTAR PUSTAKA

Balai Pusat Statistik (2002) Jawa Barat Dalam Angka 2002. Balai Pusat
       Statistik. Bandung
Balai Pusat Statistik Garut (2003) Garut Dalam Angka 2003. Balai Pusat
       Statistik Garut. Garut
Kastaman, Roni. (2004) Ekonomi Teknik Untuk Pengembangan
       Kewirausahaan. Pustaka Giratuna dan ELOC-UNPAD. Bandung
Levin, David Rubin, Joel Stilon dan Everette Gradner (1993) Pengambilan
       Keputusan Secara Kualitatif (Quantitative Approaches to
       Management). PT Raja Grafindo Persada. Jakarta
Mubyarto (1989) Pengantar Ekonomi Pertanian Lembaga Penelitian,
       Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES). Jakarta
Reijntjes, Haverkort dan Bayer (1992) Pertanian Masa Depan Pengantar
       Pertanian     Berkelanjutan    dengan    Input   Luar    Rendah.
       Kanisius.Yogyakarta
Rodjak, Abdul (1996) Disertasi. Optimasi Pola Usaha Tani Lahan Kering
       dalam Hubungannya dengan Pendapatan Petani, Penyerapan
       Tenaga Kerja dan Konservasi Lahan. Pasca Sarjana Universitas
       Padjadjaran. Bandung
Siswanto (1993) Goal Programming dengan Menggunakan Lindo. PT. Elex
       Media Komputindo, PT Gramedia. Jakarta
Soekartawi (1995) Linier Programming Teori dan Aplikasinya Khususnya
       dalam Bidang Pertanian. Rajawali Pers. Jakarta.
Soekartawi (1995) Multi Objective Goal Programming (Program Tujuan
      Ganda) Teori dan Aplikasinya. PT. Gramedia Widiasarana
      Indonesia. Jakarta




                                                                     10
Lampiran 1. Gambar Tampilan Program Komputer QSB for Windows Yang
            Digunakan Untuk Analisis Ini




                                                                    11