1 KAJIAN KONSERVASI TANAH PADA LAHAN KERING PALAWIJA Di

Document Sample
1 KAJIAN KONSERVASI TANAH PADA LAHAN KERING PALAWIJA Di Powered By Docstoc
					          KAJIAN KONSERVASI TANAH PADA LAHAN KERING PALAWIJA
                        Di Sub DAS SAPI BANJARNEGARA
               (Study of Soil Conservation at Annual Cropping Dry Land
                          At Sapi Subwatershed Banjarnegara)


                                             Oleh

                 Beny Harjadi, Ugro Hari Murtiono, Nurhadi Djaingsastro


                                         SUMMARY

       General problem of annual crop farming at dry land is limited income for farmers, due
to small area and low productivity. Crop planted are peanut, maize, cassava and chilli. The
Study area is located at Sapi Sub Watershed, Pengantulan sub Village, Wanadri Village,
Bawang Sub District, Banjarnegara District.
The main job is farmer and only few of them has side job (labour, bussines man). The Result
shows that soil type is Kandiudults with texture clay loam to silty loam, medium drainage, Soil
CEC low – medium, low pH. Land use capability IVg with land suitability classification is
marginal for annual cropping (maize, cassava and chilli) and is not suitable for peanut. Calcite
or dolomit limeare applied to increase soil pH, with soil conservation technique to prevent run-
off and erosion are recommended. Erosion rate is higher than tolerable erosion rate (T value
16.1 to 20 ton/ha/year), with K (land erodibility) value 0.27 to 0.45. Actual erosion rate is 72
ton/ha/year Monthly rainfall 21.1 mm with maximum 150.7 mm. Run off rate is 0.7 % to 5.4%,
which means soil has fast permeability and easy to reserve water from soil surface. Growth and
plant production (cassava, maize and peanut) is served as indicator of high and low land
productivity.
Keywords : Erosion, Dry Land, Horticulture, Soil Conservation

                                    I. PENDAHULUAN


A. Latar Belakang
Usahatani palawija pada lahan kering atau tegalan merupakan sumber pendapatan yang
diprioritaskan, sementara sempitnya lahan dan produktivitasnya menjadi kendala.         Hal ini
disebabkan lahan kering terdapat pada lahan yang kurang subur dan berada pada kelerengan
yang miring sampai curam. Keadaan tersebut diperparah dengan pengelolaan yang tidak sesuai
dengan kaidah-kaidah praktek konservasi.       Pengelolaan lahan oleh penduduk yang tidak
seimbang dengan kemampuan lahannya akan menyebabkan penurunan produktivitas dan
kerusakan lahan. Produktivitas lahan yang rendah akan mengakibatkan rendahnya tingkat
pendapatan dan rendahnya tingkat kesejahteraan masyarakat. Upaya-upaya yang diinginkan
petani sangat berkaitan erat dengan kondisi sosial-ekonomi petani yang bersangkutan. Salah

                                                                                              1
satu aspek yang sangat perlu diperhatikan dalam upaya-upaya konservasi adalah kondisi sosial
ekonomi.   Dengan diketahuinya kondisi sosial-ekonomi serta adanya pemahaman terhadap
indigenous teknologi maupun kelembagaan yang berkembang di masyarakat diharapkan dapat



dijadikan dasar keterlibatan masyarakat dalam upaya-upaya konservasi tersebut.        Sebagian
petani sudah banyak yang menerapkan praktek konservasi tanah sesuai dengan saran-saran para
penyuluh. Namun demikian petani masih merasakan keberatan biaya yang harus dibebankan
karena dianggap terlalu mahal. Selain itu terbatasnya tenaga kerja menjadi kendala.


Tujuan Penelitian
Tujuan penelitan yaitu mendapatkan teknik konservasi tanah yang sesuai dengan kondisi lahan
kering palawija, yang relatif murah, ramah lingkungan, diminati petani, dapat meningkatkan
kesuburan tanah serta melibatkan peran serta masyarakat secara aktif .



                                     II. METODOLOGI


A. Lokasi Penelitian

Penelitian dilaksanakan di Sub DAS Sapi, Dusun Pengantulan (Blok Jambon dan Kali Gintung),
Desa Wanadri, Kecamatan Bawang, Kabupaten Banjarnegara. Lokasi tersebut pada koordinat
geografis 108o 30’ BT – 108o 45’ BT dan 7o 20’ LS – 7o 40’LS (Gambar 1). Luas SubDAS Sapi
adalah 34.555 ha sebagian besar merupakan lahan kritis dengan mata pencaharian utama
penduduk adalah bertani .
Ketinggian tempat lokasi penelitian dari permukaan laut 500 m (Statistik Kecamatan Bawang,
1995). Curah hujan tahunan 3.473 mm. Curah hujan terendah terjadi pada bulan Agustus
sebesar 98 mm dan curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari sebesar 530 mm
(Pengamatan perkiraan hujan di Kecamatan Bawang 1980 s/d 1998). Klasifikasi hujan termasuk
tipe A dengan nilai Q sebesar 0,0 (Schmidt dan Ferguson, 1951).




                                                                                            2
                  Sub DAS SAPI
              Kab. BANJARNEGARA




                                                                     Lokasi Kajian
                                                                     Desa Wanadri




Gambar 1. Lokasi Kajian Erosi Lahan Kering Palawija, di Desa Wanadri, Kec.Bawang,
          Sub DAS SAPI, Kab. Banjarnegara



B. Bahan dan Alat
          Bahan yang diperlukan pada kegiatan penelitian ini antara lain : pH meter, kantong
plastik sampel, peta-peta (tanah, penggunaan lahan, administrasi, topografi dll), pupuk organik,
pupuk an-organik, racun hama penyakit, quisioner sosek, bibit dll.
          Sedangkan peralatan yang dipergunakan antara lain : stik pemantau degradasi lahan,
nomer sampel tanaman, sedimen trap, Abney level, meteran panjang dan pendek, cangkul, tustel,
GPS, ballpoint OHP Fine, penakar hujan manual (Ombrometer).


C. Metode Penelitian
1. Metode Pendekatan
          Metode pendekatan yang dilakukan pada kajian ini meliputi beberapa kegiatan antara
lain :
         a. Analisis teknik pengelolaan lahan kering palawija yang biasa diterapkan masyarakat
            petani meliputi analisis kondisi biofisik dan sosek masyarakat lahan kering palawija.
         b. Analisis kelayakan teknik konservasi tanah dan air dan kelayakan ekonomis yang
            sesuai dengan keinginan masyarakat setempat.
         c. Analisis teknologi konservasi tanah dan air yang direkomendasikan dan sesuai
                                                                                                    3
         keinginan masyarakat serta kebijakan pemerintah (diagram alir kegiatan Gambar 2).

Dari hasil analisis tersebut dilakukan evaluasi dan perbaikan teknik konservasi tanah yang
sesuai untuk lahan kering palawija..Pengamatan kondisi biofisik dengan mengumpulkan
parameter biofisik lahan meliputi jenis dan pola tanam, pengolahan lahan, teknik konservasi,
erosi dan limpasan, infiltrasi, ambang batas erosi yang diperkenankan, sifat fisik dan kesuburan
tanah. Pengamatan kondisi sosial ekonomi masyarakat dilakukan dengan mengamati persepsi
dan motivasi masyarakat terhadap kegiatan konservasi tanah pada lahan kering palawija,
khususnya para pemilik lahan yang masuk pada Sub DAS SAPI baik yang didalam area
penelitian maupun diluar area (kontrol). Disamping itu juga diamati




                                                                                              4
        Sistem pengelolaan             Teknis pengelolaan lahan
           lahan kering               kering palawija yang biasa
             palawija                         diterapkan



                                     Analisis          Analisis Sosek
                                  Biofisik kondisi      Masyarakat
                                   lahan kering          pengelola
                                     palawija          lahan kering




                             T     Kelayakan                             T
       Perbaikan dan                 teknis                                  Teknologi ramah
                             i                                           i
    rekomendasi teknis             konservasi                                lingkungan,
                             d                                           d
         yang tepat               tanah dan air                              ekonomis,     dan
                             a                                           a
                             k                                           k   diminati petani




                                                                                 Analisis
           Analisis
                                     Ya                    Ya                perubahan sosek
          perubahan
                                                                               masyarakat
        biofisik lahan              Teknologi konservasi tanah
                                    dan        air        yang
                                    direkomendasikan       dan                                   T
T
                                    sesuai          keinginan                                    i
i
                                    masyarakat            serta                                  d
d
                                                                                                 a
a          Kelayakan                                                           Kelayakan         k
k     teknis setelah ada     Ya                                     Ya         ekonomis
          perbaikan                                                          setelah adopsi
        teknologi baru                                                       teknologi baru



      Gambar 2. Diagram Alur Kajian Erosi pada Lahan Kering Palawija




                                                                                                     5
2. Teknik Pengamatan
        Pengamatan parameter biofisik dilakukan pada masing-masing plot yang mencerminkan
pola atau sistem usahatani lahan kering palawija. Sedangkan pengamatan produksi, finansial,
sosial ekonomi, persepsi dilakukan dalam skala petani yang mendapatkan perlakuan dan petani
di luar perlakuan (kontrol).
Perlakuan teknik konservasi vegetatif di DAS dengan menambahkan beberapa jenis tanaman
pengendali erosi yang terdiri dari: tanaman penguat teras, tanaman tepi, tanaman pengisi,
tanaman sisipan, tanaman pagar, dan tanaman bawah naungan. Jenis tanaman konservasi tanah
vegetatif yang akan diterapkan disesuaikan dengan kendisi setempat, iklim dan keinginan petani.


3. Pengumpulan dan Pengolahan Data
        Pengumpulan data sosial ekonomi masyarakat mengenaipersepsi dan motivasi petani,
input output usahatani, produksi, waktu panen, pola tanam, ketersediaan tenaga kerja dan
pengolahan lahan dll. Untuk mewujudkan keberhasilan teknologi konservasi yang akan
dikembangkan dalam penelitian ini, maka masyarakat secara aktif akan dilibatkan dalam
perencanaan, implementasi, monitoring, dan evaluasi. Parameter yang akan diamati adalah
sifat-sifat fisik dan kimia tanah, erosi, aliran permukaan, produktivitas tanaman, dan kondisi
sosial ekonomi.
Pengumpulan data biofisik dengan mengamati setiap plot baik yang diberi perlakuan maupun
kontrol antara lain :
Pengambilan sampel tanah pada saat dimulai penelitian dan akhir penelitian untuk melihat
perubahan fisik maupun kimia tanah
Pengamatan curah hujan dan erosi
Pertumbuhan, produksi tanaman baik pada tanaman palawija maupun tanaman pengendali erosi
dan pola tanam selama satu tahun.


4. Analisis Data
        Analisis deskriptif sesuai dengan kondisi alami sistem usahatani lahan kering palawija
pada saat perlakuan maupun tanpa perlakuan, yang menyangkut data biofisik di lapangan
maupun sosial ekonomi masyarakat




                                                                                             6
                            III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1.KONSERVASI TANAH YANG DITERAPKAN
 A. Perlakuan I
    Perlakuan yang diterapkan pada perlakuan I ini meliputi : kombinasi antara teknik
    konservasi tanah vegetatif dan pemupukan Teknik konservasi tanah vegetatif yaitu
    tanamann hibrida singkong (lanting, lampung, dan aldira 4) dengan jarak tanam 75 x 75
    cm, jagung hibrida ( P 11 ) pada bibir teras dengan jarak 75 cm,kacang tanah diantara
    singkong denngan jarak tanam 25r x 25 cm, rumput pada tampngan teras dengan jarak
    tanam 10 x 20 cm. Teknik konservasi tanah pemupukan : kapur kalsit/dolomit (5 ton/ha)
    diberikan pada saat pengolahan tanah, pupuk NPK (Urea = 350 kg/ha diberikan tiga kali
    saat tanam pada umur 3 minggu dan masa produksi , dan KCL sekali pada saat awal
    tanam = 50 kg/ha), dan pupuk organik 10 ton/ha.


 B. Perlakuan II
    Perlakuan yang diterapkan pada perlakuan II ini meliputi : kombinasi antara teknik
    konservasi tanah mekanis dan vegetatif . Teknik konservasi tanah mekanis meliputi
    perbaikan teras (perbaikan konturing), dan perbaikan saluran pembuangan air (SPA) dga
    drop struktur. Teknik konservasi tanah vegetatif yaitu    tanamann    hibrida singkong
    (lanting, lampung, dan aldira 4) dengan jarak tanam 75 x 75 cm, jagung hibrida ( P 11 )
    pada bibir teras dengan jarak       75 cm, kacang tanah diantara singkong denngan jarak
    tanam 25 x 25 cm, rumput pada tampngan teras dengan jarak tanam 10 x 20 cm.


 C. Perlakuan III
   Perlakuan yang diterapkan pada perlakuan III ini meliputi : kombinasi antara teknnik
   konservasi tanah mekanis, vegetataif dan pemupukan. Teknik konservasi tanah mekanis
   meliputi perbaikan teras (perbaikan konturing), dan perbaikan saluran pembuangan air
   (SPA) dga drop struktur. Teknik konservasi tanah vegetatif yaitu       tanaman hibrida
   singkong (lanting, lampung, dan aldira 4)
    dengan jarak tanam 75 x 75 cm, jagung hibrida ( P 11 ) pada bibir teras dengan jarak 75
    cm, kacang tanah diantara singkong denngan jarak tanam       25 x 25 cm, rumput pada
    tampngan teras dengan jarak tanam 10 x 20 cm. Teknik konservasi tanah pemupukan :
                                                                                         7
                                   kapur kalsit/dolomit (5 ton/ha) diberikan pada saat pengolahan tanah, pupuk NPK (Urea
                                   = 350 kg/ha diberikan tiga kali saat tanam pada umur 3 minggu dan masa produksi , dan
                                   KCL sekali pada saat awal tanam = 50 kg/ha), dan pupuk organik 10 ton/ha.


                 D. Kontrol
                                   Tanpa perlakuan ; pada perlakuan kontrol ini kegiatan yang dilakukan sesuai dengan
                                   kebiasaan yang dilakukan oleh petani.


                                   Pada masing masing perlakuan dipasang drum/ bak kolektor untuk mengukur erosi yang
terjadi dan penakar hujan untuk mengetahui besarnya hujan pada perlakuan tersebut. Pada
perlakuan I pada plot II B dengan pemilik lahan Kastuji, perlakuan II pada plot IA dengan
pemilik lahan Kadikromo, perlakuan III pada plot IB dengan pemilik lahan Purwadi dan
perlakuan kontrol pada plot IIA dengan pemilik lahan Mario. Pada masing-masing perlakuan
diukur erosinya untuk mengetahui seberapa jauh efektifitasnya.




II.Hasil Pengukuran Erosi



                                                                                                                                    EROSI & RUN OFF FEB 2002
                                            ER OS I & R U N OFF JAN 2002


                            7.00                                                                                 20.00
                                                                                                                 18.00
                            6.00
                                                                                                                 16.00
                                                                                            EROSI & RUN OFF
 ERO SI & RU N O FF




                            5.00                                                                                 14.00                                          MAX (TON/HA)
                                                                            MAX (TO N/HA)
                                                                                                                 12.00                                          JML (TON/HA)
                            4.00                                            JML (TO N/HA)
                                                                                                                 10.00                                          MAX (M3)
                            3.00                                            MAX (M3)
                                                                                                                  8.00
                                                                            JML (M3)                                                                            JML (M3)
                            2.00                                                                                  6.00
                                                                                                                  4.00
                            1.00
                                                                                                                  2.00
                            0.00                                                                                  0.00
                                      IA        IB         IIA        IIB                                                     IA        IB       IIA      IIB
                                              B LO K M IKRO DAS                                                                       BLOK MIKRO DAS




                                            EROSI & RUN OFF MRT 2002                                                                EROSI & RUN OFF APR 2002


                            20.00                                                                                     14.00
                            18.00
                                                                                                                      12.00
                            16.00
       ER O SI & RUN O FF




                                                                                                    EROSI & RUN OFF




                            14.00                                                                                     10.00
                                                                            MAX (TON/HA)                                                                        MAX (TON/HA)
                            12.00                                                                                      8.00
                                                                            JML (TON/HA)                                                                        JML (TON/HA)
                            10.00
                                                                            MAX (M3)                                   6.00                                     MAX (M3)
                             8.00
                                                                                                                                                                JML (M3)
                                                                            JML (M3)
                             6.00                                                                                      4.00
                             4.00
                                                                                                                       2.00
                             2.00                                                                                                                                              8
                             0.00                                                                                      0.00
                                       IA        IB         IIA       IIB                                                      IA        IB       IIA     IIB
                                              BLOK MIKRO DAS                                                                          BLOK MIKRO DAS
Pada bulan Januari 2002 erosi tertinggi terjadi pada blok IIA dan terendah pada blok IB,
sebaliknya aliran permukaan tertinggi pada blok I A, dan terendah pada blok II B. Hal ini erosi
terendah pada daerah yang telah dilakukan perlakuan konservasi tanah (SPA, perbaikan teras
dan penanaman rumput). Walaupun aliran permukaan tinggi namum erosi relatif rendah, ,secara
berurutan dapat dikemukakan untuk nilai erosi dari yang tertinggi yaitu blok IIA, IA, IIB, dan IB
sebaliknya aliran permukaan dari yang tertinggi yaitu paa blok IA, IIA, IB dan II B.


        Pada bulan Februari 2002 erosi tertinggi terjadi pada blok IIB terendah pada blok IB,
sedang aliran permukaan tertinggi terjadi pada blok IA dan terendah pada blok II B. sehingga
perlakuan konservasi tanah secara mekanis, vegetatif dan pemupukan dapat mengendalikan erosi
walaupun aliran permukaan relatif tinggi.

Secara berurutan dapat dikemukakan untuk nilai erosi dari yang tertinggi yaitu blok IIB, IA, IIA,
dan IB sebaliknya aliran permukaan dari yang tertinggi yaitu paa blok IA, IB, II A dan II B.


        Pada bulan Maret 2002 erosi tertinggi terjadi pada blok IIB terendah pada blok IB,
sebaliknya aliran permukaan tertinggi terjadi pada blok IA dan blok I B Hal tersebut
menunjukkan untuk jumlah air yang relatif sama maka pada blok I A dan IB lebih sedikit
partikel tanah yang terangkut Secara berurutan nilai erosi dari yang tertinggi yaitu blok IIB, IA,
IIA, dan IB sebaliknya aliran permukaan dari yang tertinggi yaitu pada blok IA, IB, II A dan
IIB .
        Pada bulan April 2002 erosi tertinggi terjadi pada blok IB terendah pada blok II A, Hal
ini berhubungan erat dengan banyaknya aliran yang terjadi pada blok IA dan blok I B lebih
banyak dari blok IIA, dan II B, sehingga bulan januari merupakan pengecualian dari bulan
sebelumnya, dimana terjadi sebaliknya, hal ini diakibatkan tanah sudah jenuh air sehingga
infiltrasi lebih lambat dan kecepatan permeabilitas sudah jenuh air dan kecepatan permeabilitas
menurun yang mengakibatkan aliran permukaan yang mengalir membawa partikel tanah. Secara
berurutan dapat dikemukakan untuk nilai erosi dari yang tertinggi yaitu blok IB, IA, IIB, dan II
A sebaliknya aliran permukaan dari yang tertinggi yaitu pada blok IA, II A, II dan IB.


        Dari hasil pengamatan erosi tersebut diatas maka dapat diuraikan bahwa dari ketiga
perlakuan konservasi tanah      yang diterapkan maka perlakuan yang paling efektif adalah
                                                                                                9
perlakuan tiga (P3) yang merupakan kombinasi teknik konservasi tanah mekanis, vegetatif dan
pemupukan hal ini diindikasikan dari walaupun aliran permukaan yang terjadi sangat tinggi
erosi yang terjadi menunjukkan kecenderungan yang rendah


III. Sosial Ekonomi Masyarakat


3.1. Perilaku Pengelolaan lahan
       Petani yang pernah diberi penyuluhan dengan yang belum disuluh oleh PLP atau PKL
berimbang artinya separuh responden mengatakan pernah diberi penyuluhan dan separuhnya lagi
merasa belum pernah diberi penyuluhan. Dari responden yang pernah mendapatkan penyuluhan
mengatakan bahwa intensitas penyuluhan dalam setahun kurang dari 3 kali.       Materi yang
disajikan dalam penyuluhan biasanya meliputi pertanian, penghijauan, dan konservasi tanah.
Dalam mengolah lahan petani mengikuti arah pengolahan dari atas ke bawah dan sebagian kecil
yang mengatakan arah pengolahan dari bawah ke atas. Sedangkan larikan tanaman mengikuti
arah kontur atau nyabuk gunung bukan mengikuti arah matahari seperti pada larikan tanaman
untuk lahan-lahan yang datar. Pupuk yang biasa dipakai petani selain pupuk kandang juga
menggunakan pupuk pabrik (NPK, an-organik) dan sedikit yang hanya menggunakan pupuk
kandang saja. Mulsa atau bahan penutup tanah atau pelindung agar tidak mudah terdispersi
partikel tanah oleh percikan air hujan yang akan menyebabkan tanah mudah tererosi, banyak
yang tidak menggunakan karena takut sanitasi tanahnya kurang terawat.
       Lahan tegalan hampir semuanya sudah diteras dengan bentuk teras sebagian besar teras
bangku dengan tanaman penguat teras gebalan rumput.        Arah teras mengikuti kontur atau
nyabuk gunung dan sebagian besar sudah dibuat SPA (Saluran Pembuangan Air) diantara
kepemilikan tanah yang berbeda dengan bentuk saluran berupa terjunan alami.
       Kesimpulan perilaku pengelolaan lahan di Desa Wanadri adalah separuh petani yang
disuluh telah menerapkan teknik KTA (Konservasi Tanah dan Air) ternyata telah diikuti oleh
petani yang lain atau dimungkinkan juga mengikuti kebiasaan nenek moyang mereka
sebelumnya. Maka petugas penyuluh di lapangan belum melakukan terobosan yang berarti
dalam rangka pengawetan tanah dengan menjaga kesuburan dengan menjaga timbulnya proses
erosi besar-besaran. Namun demikian petani sebagian besar sudah mengikuti kaidah KTA dari
turun temurun terbukti dari cara pengolahan tanah dan arah tanaman sesuai kontur, pemberian
pupuk berimbang antara pupuk organik dengan pupuk an-organik serta pembuatan teras bangku

                                                                                        10
dengan gebalan rumput pada tampingan teras. Penentuan jenis tanaman yang harus ditanam pada
lahan tegalan adalah pamong desa atau juga sesuai keinginanya sendiri. Dalam menanam
mereka menggunakan pranata mangso, hanya sedikit yang mengabaikan hal tersebut.
Mereka menanam tanaman palawija di tegalan sejak nenek moyang dulu dan turun temurun
dengan cara dan jenis tanaman yang tidak pernah berubah. Jual hasil panen, karena sebagian
besar berupa singkong dan ada pabrik pengolah tepung tapioka maka hasil panen selalu dibawa
ke pabrik. Dari hasil penjualan pernah merasa rugi dan sedikit yang mengatakan jarang rugi.
Sistem pengolahan lahan dilakukan sendiri dan meminta bantuan tenaga upahan yang diambil
dari tetangganya sendiri, sehingga tidak mengalami kesulitan untuk mencari tenaga kerja.
       Ternak yang dipelihara sebagian besar kambing dan domba atau bersama sama dengan
beternak unggas dan ayam, dan sedikit yang memelihara sapi dan kerbau (ternak besar).
Manfaat yang diperoleh dari memelihara ternak antara lain : kotorannya untuk pupuk kandang,
atau sebagai tabungan dan tambahan penghasilan kalau ternaknya sudah besar. Pakan ternak
sebagian diperoleh dari tegalan dan sedikit yang diperoleh dari tempat lain misalnya membeli
atau mencari dari desa lain. Menurut petani di dusun Pengantulan desa Wanadri tanaman yang
paling menguntungkan bagi mereka adalah singkong.
       Kesimpulan tentang usahatani di Desa Wanadri adalah : petani dalam menanam tanaman
pada saat pengelolaan usahataninya memperhatikan arahan dari para pamong desa dan juga
melihat pranata mangsa juga mengikuti adat istiadat dan kebiasaan yang diajarkan oleh nenek
moyang sebelumnya. Hasil utama dari lahan tegalan adalah singkong dan biasanya diolah
sendiri dan dibantu oleh tenaga upahan dari tetangga dekatnya. Dalam rangka menambah
penghasilan dan menyediakan pupuk untuk meningkatkan kesuburan tanah maka petani
memelihara ternak kecil dan sebagian ternak besar untuk diambil kotorannya.


3.2. Sumber Pendapatan
       Dari hasil bertani 21 0rang mengatakan cukup dan 11 orang mengatakan tidak cukup.
Anggota keluarga yang mencari nafkah sebagian besar hanya kepala keluarganya dan yang
membantu biasanya anak dan istri dalam bidang pertanian dan perdagangan. Anggota keluarga
bertani dan berdagang dalam rangka membantu cari nafkah dilakukan di desa sendiri. Waktu
yang diperlukan untuk dagang dan bertani tersebut adalah sepanjang hari dan bukan hanya
musiman saja. Pengeluaran bulanan sebagian besar kurang dari Rp.500.000,- tapi untuk
kebutuhan pertanian sudah dicukupi dari hasil pertanian, namun pengeluaran terbesar masih

                                                                                           11
untuk konsumsi yaitu untuk membeli lauk pauk, minyak dan lain-lain. Untuk mencari tambahan
pendapatan warga dusun Pengantulan Desa Wanadri sebagian besar mengatakan merantau atau
dengan melakukan pekerjaan lain. Pekerjaan lain tersebut masih dalam bentuk pertanian dan
dagang serta pertambangan pasir putih. Namun lapangan pekerjaan setempat belum dapat
menjanjikan sehingga sebagian masih merantau ke kota lain.
       Kesimpulan dari sumber pendapatan di Desa Wanadri adalah warga setempat untuk
kebutuhan sebulan masih relatif kecil yaitu kurang dari Rp. 500.000,- sehingga dari hasil
pertanian yang sedikit manganggap sudah cukup. Padahal kalau dilihat standard gizi dan kalori
yang harus dipenuhi belum dapat dicapai. Untuk menambah pendapatan yang tidak hanya
mengandalkan dari pertanian saja, petani setempat melakukan pekerjaan sampingan menjadi
buruh, berdagang dan menambang pasir putih atau ada juga yang merantau ke luar kota tapi
tidak selalu kota metropolitan.




                                    IV. KESIMPULAN




1. Perlakuan    kombinasi teknik konservasi tanah mekanis, vegetatif dan pemupukan (P3)
   menunjukkan hasil yang paling baik dicerminkan dengan aliran permukaan tinggi erosi yang
   dihasilkan relatif rendah, sehingga perlakuan ini merupakan teknik konservasi tanah yang
   paling effektif

2. Petani sebagian besar sudah menerapkan kaidah-kaidah praktek konservasi tanah dari turun
   temurun dengan cara pengolahan tanah dan arah tanaman sesuai kontur, pemberian pupuk
   berimbang antara pupuk organik dan anorganik serta pembuatan teras bangku dengan
   gebalan rumput pada tampingan teras
3. Usaha tani yang dilakukan di daerah penelitian menunjukkan bahwa petani alam menanam
   tanaman pada saat pengolahan memperhatikan arahan dari pamong desa, melihat pranoto
   mongso, dan mengikuti kebiasaan yang diajarkan oleh nenek moyang sebelumnya.
4. Sumber pendapatan petani selain dari pertanian juga melakukan pekerjaan sampingan
   menjadi buruh, berdagang, menambang pasir putih dan merantau keluar kota.




                                                                                          12
                                   DAFTAR PUSTAKA


Achlil, K., 1982. Kriteria Lahan Kritis Dalam rangka Program PHTA. Dep. Tan.,
        DirJen Hut., Dir.Reb & Rehab., Proyek P3DAS, Solo.

Agus, F., 1998. Aplikasi Teknik Konservasi Tanah Pada Lahan Kritis di Indonesia.
      Kumpulan Makalah Ekspose Hasil Penelitian Teknik Rehabilitasi dan Reboisasi Lahan
      Kritis. Wanariset II Kuok, Balai Penelitian Kehutanan Pematang Siantar.

Bols, P.L., 1978. The Iso-Erodent Map of Java and Madura. Belgian Technical
       Assistance Project ATA 105. Soil Research Institute, Bogor.

Cramb, R.A., and R.A. Nelson, 1998. Investigating Contraints to the Adoption of
     Recommended Soil Conservation Technology in the Philippines. In Soil Erotion at
     Multiple Scales. Edited by F.W.T. Penning devries, F.Agus and J.Kerr. Cabi Publishing,
     New York – USA.

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, 1989. Kamus Besar Bahasa Indonesia,
    Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pemngembangan Bahasa, Balai
     Pustaka, Jakarta.

Departemen Pertanian, 1995. Lahan Kering dan Permasalahannya. Seri Usahatani
     Lahan Kering, Balai Informasi Pertanian, Jawa Tengah.

Departemen Pertanian, 1976. Vademecum : Kehutanan Indonesia, Dep.Tan., Dirjen
     Kehutanan, Jakarta.

DHV Consulting Engineers, 1989. Study on Catcment Preservation and on
   Environmental Impact of the Water Supplay Project of Bandung and Sukabumi.
   Ministry of Public Works, Directorate General Cipta Karya.

Donie, S., 2000. Laporan Kajian Teknik Konservasi Tanah pada Lahan Sayuran.
     Pengkajian dan penerapan hasil penelitian kehutanan BTPDAS Surakarta, Sumber dana
     DIK-S DPL/DR tahun anggaran 2000. Dept.Kehutanan, Balibanghut, BTPDAS Solo.

Hardjosoemantri, K., 1986. Aspek Hukum Peran Serta Masyarakat dalam pengelolaan
     Lingkungan Hidup. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Kartasubrata, J., 1991. Agroforestry, Pusat Studi Pembangunan, Lembaga Penelitian
     Institut Pertanian Bogor, Fakultas Kehutanan, IPB. Bogor.

Lal, P.K. Coughlan and K. Menz, 1998. Designing and Implementing Outcome-Oriented Soil
      Conservation Research. In Soil Erotion at Multiple Scales. Edited by F.W.T. Penning
      devries, F.Agus and J.Kerr. Cabi Publishing, New York – USA.

Lal, R., 1998. Agronomic Conguence of Soil Erotion. In Soil Erotion at Multiple Scales.
      Edited by F.W.T. Penning devries, F.Agus and J.Kerr. Cabi Publishing, New York –
      USA.
                                                                                          13
Lubis, D., M.Thamrin, A.Ispandi, Djumali dan N.L. Nurida, 1992. Perkembangan
   Usahatani Konservasi di Lahan Volkanik di DAS Brantas Hulu. Prosiding :
   “Penelitian dan Pengembangan Sistem Usahatani Konservasi di Lahan Kering DAS
     Jratunseluna dan Brantas”. Pertanian lahan kering dan konservasi tanah penelitian terapan
     (UACP-FSR). Balitbang Pertanian., Proyek Penelitian Penyelamatan Hutan dan Air,
     Cipayung.

Prakosa, D. Triwilaida, Y.Gunawan, dan S. Susilawati, 1996. Studi Pengendalian Erosi Metode
     Vegetatif (Rumput) di Sub DAS Gobeh, Wonogiri. Prosiding : Diskusi Hasil Penelitian
     BTPDAS Surakarta, P2TPDAS, Solo.

Prakosa, D., 2000. Kesesuaian Jenis Pohon untuk Konservasi Tanah pada Lahan Alang- alang
     di Sub DAS Pasudaan, Kalimantan Selatan, P2TPDAS, BTPDAS Surakarta.

Sitompul, S.M., dan B. Guritno, 1995. Analisis Pertumbuhan Tanaman. Faperta
    Unibraw. Gajah Mada University Press, Yogyakarta.

Sutono dan A. Abdurachman, 1997. Pemanfaatan Soil Conditioner dalam Upaya
    Merehabilitasi Lahan Terdegradasi. Prosiding Pertemuan Pembahasan dan
     Komunikasi Hasil Penelitian Tanah dan Agroklimat. Makalah Review :
     p 107-122.
Tala’ohu dan Suwardjo, 1993. Penelitian Konservasi dan Rehabilitasi pada Lahan
     Kering di Dusun Sawit III, PIR IV Tasa, Betung, Sumatra Selatan. Prosiding
     Pertemuan Teknis Penelitian tanah dan Agroklimat, Pusat Penelitian Tanah dan
     Agroklimat.

Thamrin, M. dan T. Hendarto, 1992. Peranan Penataan Lahan dana Tanaman dalam
    Pengendalian Erosi pada Tanah Lithic Troporthent di Desa Sumber Kembar, Blitar.
    Prosiding sminar hasil penelitian pertanian lahan kering dan konservasi tanah. Proyek
    pnenelitian dan penyelamatan hutan, tanah dan air. Balitbang Pertanian, Dep.Tan.

Triwilaida, Sumaryati, Farida dan Y.Gunawan, 2000. Pengembangan Sistem       usahatani
     Pertanaman Lorong (Alley Cropping) di Areal Pertumbuhan Awal
     Hutan Rakyat. Prosiding : “Ekspose hasil penelitian BTPDAS Surakarta”.,
     Surakarta.

Wischmeier, W.H., C.B.Johnson, dan B.V. Cross, 1971. A Soil erodibility nomograph
    for farmland and construction sites. Journal of Soil and Water Conservation. (26) : 189-
    193.




                                                                                           14
                            DAFTAR HADIR
     DALAM RANGKA EKSPOSE HASIL LITBANG TEKNOLOGI PENGELOLAAN DAS
                     DI WONOSOBO, 9 SEPTEMBER 2002


NO.               NAMA                     INSTANSI
 1                    2                         3
1.     Trisni S                Disbun Propinsi Jawa Tengah
2.     Rofiqul Umam            Disperta Kab. Kebumen
3.     Agus Subekti            Bappeda Kab. Kebumen
4.     Fresti P                Kapedalda
5.     Tumin Haryanto          Diperta Kab. Kebumen
6.     Sukono                  Dipertan
7.     Moeljadi                Bappeda Kab. Wonosobo
8.     Giyati                  Diperta
9.     Gunarso                 Bappeda
10.    Sunardi                 LH Kab. Temanggung
11.    Sudarmadji              Subdinhut Kab. Banjarnegara
12.    Pandiyono               BKSDA Propinsi Jawa Tengah
13.    Tulus Widiatmo          Bag. Pemb. dan LH Banjarnegara
14.    Sodri Sunadri           Subdinhut
15.    Tusdi                   Penyuluh Kehutanan Banjarnegara
16.    Baldwin Hartono         Bappedal Propinsi Jawa Tengah
17.    Warih Suryokoco         Bag. LH Kab. Wonosobo
18.    Syahrul Donie           BP2TPDAS IBB Solo
19.    Agus H                  Bappeda Kab. Banjarnegara
20.    Joko N. Prabowo         Diperta Kab. Temanggung
21.    Agus Setyabudi          Dishutbun Kab. Temanggung
22.    Purwiyanto W.           BP2TPDAS IBB Solo
23.    Paimin                  BP2TPDAS IBB Solo
24.    Sukresno                BP2TPDAS IBB Solo
25.    Karyoto                 Dishutbun Kab. Wonosobo
26.    Isworo                  Dishutbun Kab. Wonosobo
27.    Widi Hartanto           Bappedal Propinsi Jawa Tengah
28.    Tjuk Panudju            Perhutani Kedu Selatan
29.    Haryadi
30.    Hernawati               Dishut Propinsi Jawa Tengah
31.    Suroto Wahyu Sejati     Dishutbun Kab. Wonosobo
32.    Sutrisno                Dishutbun Kab. Wonosobo
33.    D. Soehardono PD        Dishutbun Kab. Wonosobo
34.    Munthohar               Bapeda kab. Wonosobo
35.    Nata                    Dishutbun Kab. Wonosobo
36.    Reni Andriana           Dishutbun Kab. Wonosobo
37.    Suci Budiyati           Dishutbun Kab. Wonosobo
38.    Farida                  BP2TPDAS IBB Solo
39.    Tyas Mutiara Basuki     BP2TPDAS IBB Solo
40.    Dody Prakosa            BP2TPDAS IBB Solo


                                                                    15
 1                         2                               3                     4
41.      C. Nugroho SP                      BP2TPDAS IBB Solo
42.      Irfan BP                           BP2TPDAS IBB Solo
43.      Dewi Retna I                       BP2TPDAS IBB Solo
44.      Agung Budi S                       BP2TPDAS IBB Solo
45.      Sri Marsono                        BP2TPDAS IBB Solo
46.      Beny Harjadi                       BP2TPDAS IBB Solo
47.      Nur Ainun Jariyah                  BP2TPDAS IBB Solo
48.      Sikamto                            BP2TPDAS IBB Solo
49.      Nunung Puji Nugroho                BP2TPDAS IBB Solo
50.      Purwanto                           BP2TPDAS IBB Solo
51.      Soewarti                           BP2TPDAS IBB Solo
52.      Eko Priyanto                       BP2TPDAS IBB Solo


                                                  Surakarta, 9 September 2002

     Mengetahui                                   Sekretaris,
     Pemimpin Proyek Penelitian TPDAS KBI
     Tahun Anggaran 2002



     Sri Marsono, S. IP.                          Nunung Puji Nugroho, S. Hut.
     NIP. 080 055 596                             NIP. 710 034 383




                                                                                     16