Docstoc

Prosesi Pernikahan Adat Batak

Document Sample
Prosesi Pernikahan Adat Batak Powered By Docstoc
					                                  Pernikahanadat.blogspot.com 2010


Urutan ACARA PESTA ADAT PERNIKAHAN BATAK

- MARSIBUHA BUHAI


Pagi hari sebelum dimulai pemberkatan/catatan sipil/pesta adat, acara dimulai dengan
penjemputan mempelai wanita di rumah disertai dengan makan pagi bersama dan berdoa untuk
kelangsungan                                pesta                               pernikahan,
biasanya disini ada penyerahan bunga oleh mempelai pria dan pemasangan bunga oleh mempelai
wanita dilanjutkan dengan penyerahan Tudu-tudu Ni Sipanganon dan Menyerahkan dengke lalu
makan bersama, selanjutmya berangkat menuju gereja untuk pemberkatan.




BEBERAPA Pengertian POKOK DALAM ADAT PERKAWINAN

   1.  Suhut , kedua pihak yang punya hajatan
   2.  Parboru, orang tua pengenten perempuan=Bona ni haushuton
   3.  Paranak, orang tua pengenten Pria= Suhut Bolon.
   4.  Suhut Bolahan amak : Suhut yang menjadi tuan rumah dimana acara adat di
       selenggrakan.
   5. Suhut naniambangan, suhut yang datang
   6. Hula-hula, saudara laki-laki dari isteri masing-masing suhut
   7. Dongan Tubu, semua saudara laki masing-masing suhut ( Tobing dan Batubara).
   8. Boru, semua yang isterinya semarga dengan marga kedua suhut ( boru Tobing dan boru
       Batubara).
   9. Dongan sahuta, arti harafiah “teman sekampung” semua yang tinggal dalam
       huta/kampung komunitas (daerah tertentu) yang sama paradaton/solupnya.
   10. Ale-ale, sahabat yang diundang bukan berdasarkan garis persaudaraan (kekerabatan atau
       silsilah) .
   11. Uduran, rombongan masing-masing suhut, maupun rombongan masing-masing hula-
       hulanya.
                                Pernikahanadat.blogspot.com 2010


12. Raja Parhata (RP), Protokol (PR) atau Juru Bicara (JB) masing-masing suhut, juru bicara
    yang ditetapkan masing-masng pihak
13. Namargoar, Tanda Makanan Adat , bagian-bagian tubuh hewan yang dipotong yang
    menandakan makanan adat itu adalah dari satu hewan (lembu/kerbau) yang utuh, yang
    nantinya dibagikan.
14. Jambar, namargoar yang dibagikan kepada yang berhak, sebagai legitimasi dan fungsi
    keberadaannya dalan acara adat itu.
15. Dalihan Na Tolu (DNT), terjemahan harafiah”Tungku Nan Tiga” satu sistim kekerabatan
    dan way of life masyarakat Adat Batak
16. Solup, takaran beras dari bambu yang dipakai sebagai analogi paradaton, yang bermakna
    dihuta imana acara adat batak diadakan solup/paradaton dari huta itulah yang dipakai
    sebagai rujukan, atau disebut dengan hukum tradisi “sidapot solup do na ro



                    PROSESI MASUK TEMPAT ACARA ADAT
                       (Contoh Acara di Tempat Perempuan)

   Raja Parhata/Protokol Pihak Perempuan= PRW
   Raja Parhata/Protokol Pihak Laki-laki = PRP
   Suhut Pihak Wanita = SW
   Suhut Pihak Pria    = SP




1. PRW meminta semua dongan tubu/semaraganya bersiap untuk menyambut dan
   menerima kedatangan rombongan hula-hula dan tulang
2. PRW memberi tahu kepada Hula-hula, bahwa SP sudah siap menyambut dan menerima
   kedatangan Hula-hula
3. Setelah hula-hula mengatakan mereka sudah siap untuk masuk, PRW mempersilakan
   masuk dengan menyebut satu persatu, hula-hula dan tulangnya secara berurutan sesuai
   urutan rombongan masuk nanti: dimulai dar Hula-hula Simorangkir
                              Pernikahanadat.blogspot.com 2010




1. 1. Hula-hula, ……
   2. Tulang, …….
   3. Bona Tulang, …..
   4. Tulang Rorobot, …..
   5. Bonaniari, ……
   6. Hula-hula namarhahamaranggi:
      -a…
      - b….
      - c….
      - dst
   7.Hula-hula anak manjae, … dengan permintaan agara mereka bersam-sama masuk dan
   menyerahkan pengaturan selanjutnya kepada hula-hula Simorangkir
2. PR Hulahula, menyampaikan kepada rombongan hula-hula dan tulang yang sudah
   disebutkan PRW pada III , bahwa SW sudah siap menerima kedatangan rombongan hula-
   hula dan tulang dengan permintaan agar uduran Hula-hula dan Tulang memasuki tempat
   acara                    ,                  secara                   bersama-sama.
   Untuk itu diatur urut-urutan uduran (rombongan) hula-hula dan tulang yang akan
   memasuki ruangan. Uduran yang pertama adalah Hula-hula,……, diikuti TULANG
   …….sesuai urut-urutan yang disebut kan PRW pada (3).
3. MENERIMA             KEDATANGAN              SUHUT          PARANAK           (SP).
   Setelah seluruh rombongan hula-hula dan tulang dari SW duduk (acara 4), rombongan
   Paranak/SP                 dipersilakan            memasuki               ruangan.
   PRW, memberitahu bahwa tempat untuk SP dan uduran/rombongannya sudah disediakan
   dan SW sudah siap menerima kedatangan mereka beserta Hula-hula , Tulang SP dan
   uduran/rombongannya


4. PRP menyampaikan kepada dongan tubu Batubara, bahwa sudah ada permintaan dari
   Tobing agar mereka memasuki ruangan.
   Kepada hula-hula dan tulang (disebutkan satu perasatu) yaitu:
   1. Hula-hula, ….
   2. Tulang, …..
   3. Bona Tulang, ….
   4. Tulang Rorobot, …..
   5. Bonaniari , …..
   6. Hula-hula namarhaha-marnggi:
         - a…….
         - b …….
                                    Pernikahanadat.blogspot.com 2010


            - c…….
            - dst
       7. Hula-hula anak manjae…..

       PRP memohon, sesuai permintaan hula-hula SW agar mereka masuk bersama-sama
       dengan SP. Untuk itu tatacara dan urutan memasuki ruangan diatur, pertama adalah
       Uduran/rombongan SP& Borunya, disusul Hula-hula….., Tulang…..dan seterusnya
       sesuai urut-urutan yang telah dibacakan PR Batubara (Dibacakan sekali lagi kalau sudah
       mulai masuk).



                      MENYERAHKAN TANDA MAKANAN ADAT.
                            (Tudu-tudu Ni Sipanganon)




Tanda makanan adat yang pokok adalah: kepala utuh, leher (tanggalan), rusuk melingkar
(somba-somba) , pangkal paha (soit), punggung dengan ekor (upasira), hati dan jantung
ditempatkan dalam baskom/ember besar.

Tanda makanan adat diserahkan SP beserta Isteri didampingi saudara yang lain dipandu PRP,
diserahkan kepada SW dengan bahasa adat, yang intinya menunjukkan kerendahan hati dengan
mengatakan walaupun makanan yang dibawa itu sedikit/ala kadarnya semoga ia tetap membawa
manfaat dan berkat jasmani dan rohani hula-hula SW dan semua yang menyantap nya, sambil
menyebut bahasa adat : Sitiktikma si gompa, golang golang pangarahutna, tung so sadia (otik) pe
naung pinatupa i, sai godangma pinasuna.



                       MENYERAHKAN DENGKE/IKAN OLEH SW
                                    Pernikahanadat.blogspot.com 2010




Aslinya ikan yang diberikan adalah jenis “ihan” atau ikan Batak, sejenis ikan yang hanya hidup
di Danau Toba dan sungai Asahan bagian hulu dan rasanya memang manis dan khas. Ikan ini
mempunyai sifat hidup di air yang jernih (tio) dan kalau berenang/berjalan selalu beriringan
(mudur-udur) , karena itu disebut ; dengke sitio-tio, dengke si mudur-udur (ikan yang hidup
jernih        dan         selalu         beriringan/berjalan        beriringan        bersama)
Simbol inilah yang menjadi harapan kepada penganeten dan keluarganya yaitu seia sekata
beriringan dan murah rejeki (tio pancarian dohot pangomoan).

Tetapi sekarang ihan sudah sangat sulit didapat, dan jenis ikan mas sudah biasa digunakan. Ikan
Masa ini dimasak khasa Batak yang disebut “naniarsik” ikan yang dimasak (direbus) dengan
bumbu tertentu sampai airnya berkurang pada kadar tertentu dan bumbunya sudah meresap
kedalam daging ikan itu.



                                    MAKAN BERSAMA

Sebelum bersantap makan, terlebih dahulu berdoa dari suhut Pria (SP) , karena pada dasarnya SP
yang     membawa       makanan    itu   walaupun      acara     adatnya    di   tempat     SW.
Untuk kata pengantar makan, PRP menyampaikan satu uppasa (ungkapan adat) dalam bahasa
Batak       seperti       waktu        menyerahakan           tanda       makanan         adat:
Sitiktikma          si         gompa,          golang             golang          pangarahutna
Tung,       sosadiape        napinatupa       on,         sai        godangma         pinasuna.

Ungkapan ini menggambarkan kerendahan hati yang memebawa makanan (Batubara), dengan
mengatakan walaupun makanan yang dihidangkan tidak seberapa (pada hal hewan yang diptong
yang menjadi santapan adalah hewan lembu atau kerbau yang utuh), tetapi mengharapkan agar
semua dapat menikmatinya serta membawa berkat.

Kemudian PRP mempersilakan bersantap
                                   Pernikahanadat.blogspot.com 2010


                    MEMBAGI JAMBAR/TANDA MAKANAN ADAT



Biasanya sebelum jambar dibagi, terlebih dahulu dirundingkan bagian-bagian mana yang
diberikan SW kepada SP. Tetapi, yang dianut dalam acara adat yaitu Solup Batam, yang disebut
dengan “JAMBAR MANGIHUT”dimana jambar sudah dibicarakan sebelumnya dan dalam
acara adatnya (unjuk) SW tinggal memberikan bagian jambar untuk SP sebagai ulu ni dengke
mulak. Selanjutnya masing masing suhut membagikannya kepada masing-masing fungsi dari
pihaknya masing-masing saat makan sampai selesai dibagikan




                 MANAJALO TUMPAK (SUMBANGAN TANDA KASIH)

Arti harafiah tumpak adalah sumbangan bentuk uang, tetapi melihat keberadaan masing-masing
dalam acara adat mungkin istilah yang lebih tepat adalah tanda kasih. Yang memberikan tumpak
adalah undangan SUHUT PRIA, yang diantarkan ketempat SUHUT duduk dengan
memasukkannya dalam baskom yang disediakan/ ditempatkan dihadapan SUHUT, sambil
menyalami                      pengenten                      dan                   SUHUT.

Setelah selesai santap makan, PRP meminta ijin kepada PRW agar mereke diberi waktu untuk
menerima para undangan mereka untuk mengantarkan tumpak (tanda kasih)

Setelah PRW mempersilakan, PRP menyampai kan kepada dongan tubu, boru/bere dan
undangannya bahwa SP sudah siap menerima kedatangan mereka untuk mengantar tumpak.

etelah selesai PRP mengucapkan terima kasih atas pemberian tanda kasih dari para undangannya



                             ACARA PERCAKAPAN ADAT

MEMPERSIAPKAN PERCAKAPAN

   1. RPW menanyakan Batubara apakah sudah siap memulai percakapan, yang dijawab oleh
      SP, mereka sudah siap
   2. Masing-masing PRW dan PRP menyampaikan kepada pihaknya dan hula-hula serta
      tulangnya bahwa percakapan adat akan dimulai, dan memohon kepada hula-hulanya agar
      berkenan memberi nasehat kepada mereka dalam percakapan adat nanti

MEMULAI PERCAKAPAN (PINGGAN PANUNGKUNAN) .
                                   Pernikahanadat.blogspot.com 2010




Pinggan Panungkunan, adalah piring yang didalamnya ada beras, sirih, sepotong daging (tanggo-
tanggo) dan uang 4 lembar. Piring dengan isinya ini adalah sarana dan simbol untuk memulai
percakapan adat.

      PRP meminta seorang borunya mengantar Pinggan Panungkunan itu kepada PRW
      PRW, menyampaikan telah menerima Pinggan Panungkunan dengan menjelaskan apa
       arti semua isi yang ada dalam beras itu. Kemudian PRW mengambil 3 lembar uang itu,
       dan kemudian meminta salah seorang borunya untuk mengantar piring itu kembali
       kepada PRP
      PRW membuka percakapan dengan memulainya dengan penjelasan makna dari tiap isi
       pinggan panungkunan (beras, sirih, daging dan uang), kemudian menanyakan kepada
       Batubara makna tanda dan makanan adat yang sudah dibawa dan dihidangkan oleh pihak
       Batubara.
      Akhir dari pembukaan percakapan ini, keluarga Batubara mengatakan bahwa makanan
       dan minuman pertanda pengucapan syukur karena berada dalam keadaan sehat, dan
       tujuan Batubara adalah menyerahkan kekurangan sinamot , dilanjutkan adat yang terkait
       dengan pernikahan anak mereka



                 PENYERAHAN PANGGOHI/KEKURANGAN SINAMOT
                                  Pernikahanadat.blogspot.com 2010


   1. Dalam percakapan selanjutnya, setelah PRW meminta PRP menguraikan apa/berapa yang
      mau mereka serahkan , PRP memberi tahukan kekurangan sinamot yang akan mereka
      serahkan adalah sebsar Rp…Juta, menggenapi seluruh sinamot Rp….Juta. (Pada waktu
      acara Pudun Saut, Batubara sudah menyerahkan Rp 15 juta sebagai bohi sinamot
      (mendahulukan sebagian penyerahan sinamot di acara adat na gok).
   2. Sebelum PR TOBING mengiakan lebih dulu RP TOBING meminta nasehat dari Hula-
      hula dan pendapat dari boru Tobing
   3. Sesudah diiakan oleh PR TOBING, selanjutnya penyerahan kekurangan sinamot kepada
      suhut Tobing oleh Batubara.




                             PENYERAHAN PANANDAION.

Tujuan acara ini memperkenalkan keluarga pihak perempuan agar keluarga pihak pria mengenal
siapa saja kerabat pihak perempuan sambil memberikan uang kepada yang bersangkutan




Secara simbolis, yang diberikan langsung hanya kepada 4 orang saja, yang disebut dengan
patodoan atau “suhi ampang na opat” ( 4 kaki dudukan/pemikul bakul) yang merupakan
symbol pilar jadinya acara adat itu. Dengan demikian biarpun hanya yang empat itu yang
dikenal/menerima langsung, sudah mewakili menerima semuanya. (Mungkin dapat dianalogikan
dengan pemberian tanda penghargaan massal kepada pegawai PNS yang diwakili 4 orang,
masing-masing 1 orang dari tiap golngan I sampai golongan IV)


Kepada yang lain diberikan dalam satu envelope saja yang nanti akan dibagikan Tobing kepada
yang bersangkutan.
                                    Pernikahanadat.blogspot.com 2010



                          PENYERAHAN TINTIN MARANGKUP




Diberikan kepada tulang /paman penganten pria (saudara laki ibu penganten pria). Yang
menyerahkan adalah orang tua penganten perempuan berupa uang dari bagian sinamot itu

Secara tradisi penganten pria mengambil boru tulangnya untuk isterinya, sehingga yang
menerima sinamot seharusnya tulangnya

Dengan diterimanya sebagian sinamot itu oleh Tulang Pengenten Pria yang disebut titin
marangkup, maka Tulang Pria mengaku penganten wanita, isteri ponakannya ini, sudah
dianggapnya sebagai boru/putrinya sendiri walaupun itu boru dari marga lain.



                         PEMBERIAN ULOS oleh Pihak Perempuan.

Dalam Adat Batak tradisi lama atau religi lama, ulos merupakan sarana penting bagi hula-hula,
untuk menyatakan atau menyalurkan sahala atau berkatnya kepada borunya, disamping ikan,
beras dan kata-kata berkat. Pada waktu pembuatannya ulos dianggap sudah mempunyai “kuasa”.
Karena itu, pemberian ulos, baik yang memberi maupun yang menerimanya tidak sembarang
orang , harus mempunyai alur tertentu, antara lain adalah dari Hula-hula kepada borunya, orang
tua kepada anank-anaknya. Dengan pemahaman iman yang dianut sekarang, ulos tidak
mempunyai nilai magis lagi sehingga ia sebagai simbol dalam pelaksaan acara adat.

Ujung dari ulos selalu banyak rambunya sehingga disebut “ulos siganjang/sigodang
rambu”(Rambu, benang di ujung ulos yang dibiarkan terurai)
                                  Pernikahanadat.blogspot.com 2010


Pemberian Ulos sesuai maknanya adalah sebagai berikut:

Ulos Namarhadohoan

No   Uraian Yang Menerima          Keterangan
A    Kepada Paranak
     1. Pasamot/Pansamot         Orang tua pengenten pria
     2. Hela                     Pengenten




B    Partodoan/Suhi Ampang Naopat
     1. Pamarai                Kakak/Adek dari ayah pengenten pria
     2. Simanggokkon            Kakak/Adek dari pengenten pria
     3. Namborunya              Saudra perempuan dari ayah pengenten pria
     4. Sihunti Ampang          Kakak/Adek perempuan dari pengenten pria

Ulos Kepada Pengenten
No Uraian Yang Mangulosi
A    Dari Parboru/Partodoan
     1. Pamarai 1 lembar, wajib Kakak/Adek dari ayah pengenten wanita
     2. Simandokkon Kakak/Adek laki-laki dari pengenten wanita
     3. Namborunya (Parorot) Iboto dari ayah pengenten wanita
     4. Pariban Kakak/Adek dari pengenten wanita
B    Hula-hula dan Tulang Parboru
     1. Hula-hula      1 lembar, wajib
     2. Tulang 1 lembar, wajib
     3. Bona Tulang 1 lembar, wajib
     4. Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib
C    Hula-hula dan Tulang Paranak
     1. Hula-hula      1 lembar, wajib
     2. Tulang 1 lembar, wajib
     3. Bona Tulang 1 lembar, wajib
     4. Tulang Rorobot 1 lembar, tidak wajib
                                  Pernikahanadat.blogspot.com 2010



                  MANGUNJUNGI ULAON (Menyimpulkan Acara Adat)

   1. Manggabei (kata-kata doa dan restu) dari pihak SW Berupa kata-kata pengucapan syukur
      kepada Tuhan bahwa acara adat sudah terselenggara dengan baik:
       a.      Ucapan     terima    kasih     kepada  dongan    tubu    dan    hula-hulanya
       b. Permintaan kepada Tuhan agar rumah tangga yang baru diberkati           demikian
      juga orang tua pengenten dan saudara Batubara yang     lainnya
   2. Mangampu           (ucapan         terima      kasih)      dari       pihak        SP
      Ucapan terima kasih kepada semua pihak baik kepada hula-hula SW maupun kepada SP
      atas terselenggaranya acara adat nagok ini.

   3. Mangolopkon     (Mengamenkan)     oleh   Tua-tua/yang   dituakan   di   Kampung   itu

      Kedua suhut Tobing dan Batubara, menyediakan piring yang diisi beras dan uang (
      biasanya ratusan lembar pecahan Rp1.000 yang baru) kemudian diserahkan kepada Rja
      Huta yang mau mangolopkon Raja Huta berdiri sambil mengangkat piring yang berisi
      beras dan uang olop-olop itu. Dengan terlebih dahulu menyampaikan kata-kata ucapan
      Puji Syukur kepada Tuhan Karen kasih-Nya cara adat rampung dalam suasan dami
      (sonang so haribo-riboan) serta restu dan harapan kemudian diahiri , dengan
      mengucapkan : olop olop, olop olop, olop olop sambil menabur kan beras keatas dan
      kemudian membagikan uang olop-olop itu.

   4. itutup dengan doa / ucapan syukur
      Akhirnya acara adat ditutup dengan doa oleh Hamba Tuhan.Sesudah amin, sam-sam
      mengucapkan: horas ! horas ! horas !

   5. Bersalaman untuk pulang,, suhut na niambangan Batubara menyalami Suhut Tobing



CATATAN:

Sekarang ini ada yang melaksanakan acara paulak une dan maningkir tangga langsung setelah
acara adat ditempat acara adat dilakukan, yang mereka namakan “Ulaon Sadari”
Pernikahanadat.blogspot.com 2010

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:9457
posted:3/4/2010
language:Indonesian
pages:12
Description: Tata Cara Pernikahan adat batak, urutan perkawinan adat batak