Mutu Pelayanan Mutu Pelayanan Farmasi di Puskesmas Kota Padang by gvl14091

VIEWS: 0 PAGES: 21

									                Working Paper Series No.21
                   Juli 2006, First Draft




  Mutu Pelayanan
 Mutu Pelayanan Farmasi
di Puskesmas Kota Padang



       Linarni Jamil,
    Mubasysyir Hasanbasri




WORKING PAPER SERIES
                                                                                                 Daftar Isi
     Daftar Isi ..............................................................................................................ii
     Abstract ...............................................................................................................iii
     Latar Belakang .................................................................................................. 1
     Metode ................................................................................................................ 3
     Hasil dan Pembahasan..................................................................................... 4
       Mutu Pelayanan Farmasi.............................................................................4
                Rata-rata Waktu Penyiapan Obat ................................................... 4
                Rata-rata Waktu Penyerahan Obat................................................. 4
                Persentase Jumlah Obat Sesuai Resep yang Diserahkan
                   Kepada Pasien................................................................................. 5
                Persentase Jumlah Jenis Obat yang Diserahkan Sesuai Resep
                   Kepada Pasien................................................................................. 6
                Persentase Penggantian Resep........................................................... 6
                Persentase Label yang Lengkap....................................................... 6
                Persentase Pengetahuan Pasien ......................................................... 7
         Manajemen Obat. ........................................................................................8
                Perencanaan obat................................................................................. 8
                Penyimpanan Obat............................................................................... 9
                Penggunaan Obat...............................................................................11
         Pelatihan...................................................................................................... 12
         Supervisi....................................................................................................... 13
     Kesimpulan........................................................................................................14
     Saran .................................................................................................................15
     Daftar Pustaka.................................................................................................15




ii                                           Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
                                      Abstract
      Service Quality Of Pharmaceutical and Pharmacist Assistant in
             The Primary Health Care Of Padang Municipality

                     Linarni Jamil1, Mubasysyir Hasanbasri2

Background: Service of drugs will determine the effectiveness of treatment efforts
which have been implemented by health care provider to the patient. It is considered
as qualified when patients obtained drugs that suitable with doctor’s receipt and they
obtained information about how to use it. In the Primary Health Care of Padang
municipality, there were still some problems found such as patients have to wait for a
long time because the drugs preparation takes a long time; incomplete drugs
labelling; and there was incomplete information/not giving information regarding the
given drugs when giving it to the patient; although the drugs management already
obtained training on drugs management as well as continuous supervision by the
pharmaceutical company and health office of Padang municipality as well as Primary
Health Care’s management, service of drugs did not yet showed an optimum result.
Objective: The aim of this research was to find out the service quality of
pharmaceutical in the Primary Health Care of Padang municipality.
Method: This was an observational research that used qualitative and quantitative
methods with cross sectional design, and the data was analysed descriptively.
Result: The result of the research showed that the average time for drugs preparation
was 23-149 seconds, average time for giving the drugs was 2-33 seconds,
percentage of drugs that was given and suitable with the receipt was 95,4%,
percentage of drugs item that was given and suitable with the receipt was 100%,
percentage of receipt replacement was 0%, percentage of complete label was 2,1%,
and percentage of patient’s knowledge was 9,1%. Percentage of available drugs
item suitability with DOEN was 95-97%, average of drugs availability level was 3,8
months, percentage of suitability between drugs with stock card was 60-100%,
percentage of expired drugs was 0%, percentage of broken drugs was 0%,
percentage of drugs that was not included in the receipt was 1,3-15,78%, percentage
of antibiotic utilization was 0-47%, percentage of injection utilization was 0% and
polipharmaceutical was 2,5-3,9.
Conclusion: Service quality of pharmaceutical in Padang municipality was not good in
a way such as incomplete and or not giving information to the patient, substraction on
the number of drugs that suitable with the receipt given to the patient, incomplete
label stated in patient’s drugs package, and lack of patient’s knowledge regarding




1   Master of Health Service Management & Policy, Gadjah Mada University
2   Master of Health Service Management & Policy, Gadjah Mada University




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                                iii
     the obtained drugs. On the other hand, service quality of pharmaceutical in the
     Primary Health Care of Padang municipality was good in a way such as no drugs
     replacement that suitable with the receipt and no substraction on drugs type that was
     given to the patient.
     Keyword: Pharmaceutical service quality, drugs management, supervision training




iv                              Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
                                              Latar Belakang
Pelayanan kesehatan yang bermutu merupakan salah satu kebutuhan
dasar yang diperlukan setiap orang. Puskesmas adalah salah satu
organisasi pelayanan kesehatan yang pada dasarnya adalah
organisasi jasa pelayanan umum. Oleh karenanya, puskesmas sebagai
pelayanan masyarakat perlu memiliki karakter mutu pelayanan prima
yang sesuai dengan harapan pasien, selain diharapkan memberikan
pelayanan medis yang bermutu.1
Jaminan mutu (Quality Assurance) dalam pengelolaan dan pelayanan
obat di puskesmas merupakan suatu hal yang perlu dilakukan karena
obat yang diinventariskan di puskesmas menyerap dana yang cukup
besar yaitu lebih kurang 30-40% dari anggaran pembangunan
kesehatan di masing-masing Kabupaten/Kota. Puskesmas merupakan
tulang punggung pelayanan kesehatan di perifer. Pasien yang
berkunjung ke puskesmas mempunyai tingkat pendidikan yang relatif
rendah dibandingkan dengan pasien di perkotaan. Latar belakang
pendidikan petugas di kamar obat puskesmas sangat beragam mulai
dari tenaga apoteker, asisten apoteker, perawat, pekarya dan lain-
lain.2 Manajemen obat di puskesmas bertujuan agar dana yang
tersedia   dapat     digunakan    dengan     sebaik-baiknya   dan
berkesinambungan guna memenuhi kepentingan masyarakat yang
berobat ke puskesmas.3 Pencapaian tujuan dan sasaran sistem
pengelolaan obat, maka aspek pelayanan obat perlu diarahkan untuk
menjamin penyerahan obat yang benar kepada pasien disertai
dengan dosis dan jumlah obat yang tepat dalam wadah yang dapat
menjamin mutu obat, serta informasi yang jelas dan benar yang
disampaikan saat pasien menerima obat.4
Kota Padang memiliki 19 puskesmas, 56 puskesmas pembantu dan 18
puskesmas keliling roda empat.5 Walaupun petugas pengelola obat
sudah pernah mengikuti pelatihan manajemen obat yang diadakan
oleh Kanwil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat tahun 1998 dan sekali



Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan             1
    2 tahun dilakukan pertemuan sehari yang membahas tentang
    manajemen obat puskesmas yang diadakan oleh Dinas Kesehatan
    Kota Padang, serta secara berkala pihak Gudang Farmasi dan Seksi
    Farmasi di Dinas Kesehatan Kota Padang telah melakukan supervisi
    dan pembinaan, ternyata masih ditemui masalah baik dalam
    manajemen obat, maupun dalam pelayanan obat antara lain masih
    adanya (10%) obat yang bukan Daftar Obat Esensial Nasional
    (DOEN) tersedia di puskesmas. Kurang lebih 80% puskesmas
    melakukan perencanaan kebutuhan obat belum sesuai dengan
    kebutuhan sesungguhnya, sehingga terdapat stok obat yang berlebih
    tapi dilain pihak terdapat stok obat yang kosong. Pada tahap
    penyimpanan obat di gudang obat puskesmas, misalnya masih ada
    puskesmas yang belum menggunakan sistem FIFO dan FEFO dalam
    penyimpanan. Pengisian kartu stok obat tidak dilakukan secara rutin
    setiap hari, sehingga menyebabkan perbedaan catatan antara
    barang yang ada dengan kartu stok, masih ditemukan obat rusak,
    kadaluarsa atau tidak pernah digunakan dalam jangka waktu yang
    cukup lama. Begitu juga dengan masalah pendistribusian, permintaan
    obat dari puskesmas pembantu sering tidak dapat dilayani
    sepenuhnya karena obat tidak mencukupi untuk puskesmas induk.
    Masalah juga ditemukan pada saat pelayanan obat dimana pasien
    harus menunggu lama karena lamanya waktu penyiapan obat (143
    detik), pelabelan obat yang kurang lengkap (hanya mencantumkan
    aturan pakai pada kemasan plastik bening menggunakan spidol), dan
    sewaktu penyerahan obat, tidak diberikannya/tidak lengkapnya
    informasi tentang obat yang diberikan kepada pasien (rata-rata
    waktu penyerahan obat 12,32 detik). Permasalahan yang juga
    dijumpai di puskesmas adalah masalah penggunaan obat yang tidak
    rasional antara lain penggunaan antibiotik yang masih tinggi (30 %)
    pada kasus ISPA non pneumoni dan diare non spesifik. Berbagai
    masalah uraian diatas maka dapat dirumuskan masalah penelitian
    berikut, bagaimana mutu pelayanan farmasi di puskesmas Kota
    Padang, yang dikaitkan dengan manajemen obat, supervisi dan
    pelatihan.


2                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
Tujuan penelitian tersebut adalah : (1) Mempelajari gambaran
tentang mutu pelayanan farmasi di puskesmas kota Padang; (2)
Mempelajari pelaksanaan manajemen obat di puskesmas kota
Padang; (3) Mempelajari pelatihan manajemen obat yang pernah
diikuti oleh tenaga pengelola obat puskesmas; (4) Mempelajari
efektifitas supervisi yang dilakukan oleh Gudang Farmasi, Dinas
Kesehatan Kota Padang dan Pimpinan Puskesmas.


                                                       Metode
Penelitian ini merupakan penelitian non eksperimental/observasional
dengan metode campuran. Analisis data menggunakan rancangan
cross-sectional secara deskriptif dengan mengukur variabel mutu
pelayanan farmasi, manajemen obat, pelatihan dan supervisi.
Penelitian dilakukan di puskesmas Kota Padang. Waktu penelitian
Januari 2006 dengan unit analisis 19 puskesmas Kota Padang. Subjek
penelitian adalah Kepala Puskesmas, Kepala Gudang Farmasi dan
Kepala Seksi Farmasi Dinas Kesehatan Kota Padang, serta Pengelola
Obat Puskesmas (Asisten Apoteker) dan pasien. Mutu Pelayanan
Farmasi adalah pelayanan obat yang baik yang dilakukan oleh
petugas pengelola obat (Asisten Apoteker), Manajemen Obat adalah
suatu rangkaian kegiatan yang meliputi perencanaan, penyimpanan,
pendistribusian dan penggunaan obat, serta pelayanan obat
Pelatihan adalah pelatihan manajemen obat yang pernah diikuti oleh
pengelola obat (Asisten Apoteker) puskesmas. Supervisi adalah
pengawasan secara terencana oleh Petugas Gudang Farmasi dan
Dinas Kesehatan Kota Padang serta Pimpinan Puskesmas terhadap
pelaksanaan manajemen obat di puskesmas Kota Padang serta
menjaga manajemen obat agar tidak menyimpang dari ketentuan.




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan             3
                               Hasil dan Pembahasan
    Mutu Pelayanan Farmasi.
    Mutu pelayanan farmasi diukur dari tujuh indikator, yaitu rata-rata
    waktu penyiapan obat, rata-rata waktu penyerahan obat, persentase
    jumlah obat yang diserahkan sesuai resep, persentase jenis obat yang
    diserahkan sesuai resep, persentase penggantian resep, persentase
    label yang lengkap, dan persentase pengetahuan pasien.
    Rata-rata Waktu Penyiapan Obat
    Pengukuran dilakukan mulai resep masuk ke loket sampai nama pasien
    dipanggil, hal ini berhubungan dengan waktu tunggu pasien. Hasil
    pengamatan terhadap 570 pasien waktu penyiapan obat diperoleh
    rata-rata sebesar 71 detik dengan range 23-149. Penelitian ini tidak
    jauh berbeda dengan penelitian yang yang dilakukan oleh Tubagus
    (1996) menemukan rata-rata waktu penyiapan obat 65-98 detik.6
    Dan di Tanzania 78 detik.7
    Hasil pengamatan memperlihatkan beberapa (31,6) puskesmas
    mempunyai rata-rata waktu penyiapan obat melebihi rata-rata, hal
    ini disebabkan karena kurangnya jumlah tenaga pengelola obat
    (Asisten Apoteker) yang melayani obat dibanding jumlah kunjungan
    resep yang harus dilayani, satu orang asisten apoteker untuk 90-100
    resep pasien per hari.
    Rata-rata Waktu Penyerahan Obat
    Pengukuran dimulai dari nama pasien dipanggil sampai pasien
    meninggalkan loket. Hal ini berhubungan dengan adanya informasi
    atau kelengkapan informasi yang diberikan. Hasil pengamatan
    terhadap 570 pasien waktu penyerahan obat diperoleh rata-rata
    sebesar 13 detik dengan range 2-33 detik. Penelitian oleh Tubagus
    (1996) memperlihatkan rata-rata waktu penyerahan obat 6-12
    detik.6
    Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa sebagian besar (63,2%)
    puskesmas mempunyai waktu penyerahan dibawah rata-rata, hal ini



4                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
disebabkan karena pasien tidak diberi informasi yang lengkap
tentang obat yang diterimanya, bahkan ada yang tidak diberi
informasi sama sekali. Pasien yang mendapatkan informasi baik
cenderung secara aktif akan berpartisipasi dalam pengobatannya
dan mendukung saran-saran yang diberikan bahkan ia akan lebih
bertanggung jawab dalam mengatur pengobatannya (Barber,
2000).8
Hermawan (1997) dalam penelitiannya menyimpulkan bahwa
pelayanan pemberian informasi obat hanya sebatas aturan pakai dan
cara pemakaiannya, sedangkan informasi yang lebih spesifik seperti
indikasi, kontra indikasi, efek samping obat, tindakan yang harus
dilakukan apabila terjadi efek samping, kenapa pengobatan harus
diteruskan dan lain sebagainya, hampir tidak pernah dilakukan.9
Persentase Jumlah Obat Sesuai Resep yang Diserahkan Kepada Pasien
Pengukuran dilakukan dengan mengamati apakah obat yang
diserahkan kepada pasien cukup jumlahnya sesuai atau kurang dari
yang dimaksudkan dalam resep. Pengukuran ini juga dapat
menggambarkan tingkat kecukupan obat di kamar obat/apotik. Hasil
pengamatan terhadap 570 resep per pasien persentase jumlah obat
yang diserahkan sesuai resep kepada pasien 95,4% dengan range
94-100%. Penelitian di Nepal yang menemukan persentase jumlah
penyerahan obat sesuai resep kepada pasien 73%.7
Hasil pengamatan memperlihatkan bahwa hampir semua puskesmas
mengurangi jumlah obat, yang tertulis dalam resep 10, yang
diberikan 9 (hanya berlaku untuk jenis obat yang jumlahnya tertulis
dalam resep 10), sedangkan jumlah lain tidak dikurangi, khusus
antibiotik, jumlah yang diberikan tidak pernah dikurangi. Alasan yang
diberikan oleh hampir semua petugas pengelola obat puskesmas
adalah untuk menanggulangi dalam pemeriksaan BPKP karena
adanya obat pecah dari kemasan asli, adanya obat jatuh saat
penyiapan obat dan adanya obat hilang. Namun ada beberapa
(10,52%) puskesmas yang tidak mengurangi jumlah obat yang




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                5
    diberikan dengan alasan kalau terjadi hal diatas, maka dicatat di
    buku pengeluaran.
    Persentase Jumlah Jenis Obat yang Diserahkan Sesuai Resep Kepada
    Pasien
    Pengukuran dilakukan dengan mengamati apakah obat yang
    diserahkan kepada pasien cukup jumlah jenis sesuai yang
    dimaksudkan dalam resep. Pengukuran ini dapat menggambarkan
    tingkat kecukupan obat di kamar obat/apotik. Hasil pengamatan
    terhadap 570 pasien, jenis penyerahan obat sesuai resep diperoleh
    100%. Hal ini karena petugas memberi tahu sebelumnya kepada
    pembuat resep tentang item obat yang tersedia di puskesmas.
    Persentase Penggantian Resep
    Pengukuran dilakukan dengan mengamati berapa banyak item obat
    dalam resep yang diganti baik oleh petugas maupun oleh penulis
    resep (presciber) karena alasan obat tidak tersedia atau habis. Hasil
    pengamatan terhadap 570 resep pada 19 puskesmas menunjukkan
    0% penggantian resep. Hal ini disebabkan karena adanya
    pemberitahuan sebelumnya dari petugas kepada pembuat resep
    tentang obat apa yang masih ada, dan obat apa yang sudah habis.
    Persentase Label yang Lengkap
    Pengukuran dilakukan dengan mengamati kelengkapan label dari
    ditulisnya nomor urut resep, tanggal, nama pasien, aturan pakai serta
    cara pakai dengan nilai setiap item 1 dan nilai maksimal 5. Nilai 1
    diperoleh apabila hanya mencantumkan aturan pakai pada label,
    nilai 2 diperoleh apabila mencantumkan aturan pakai dan nama
    pasien dan nilai 3 diperoleh apabila mencantumkan aturan pakai,
    nama pasien dan cara pakai/peringatan. Nilai 4 diperoleh apabila
    mencantumkan aturan pakai, nama pasien, cara/waktu pakai dan
    tanggal. Nilai 5 diperoleh apabila mencantumkan aturan pakai, nama
    pasien, cara/waktu pakai, tanggal dan nomor urut resep. Hasil
    pengamatan terhadap 570 obat pasien yang dilabeli, ternyata nilai
    berkisar antara 1 sampai 3 dengan komposisi 453 sampel (79,5%)
    mempunyai nilai 1, 105 sampel (18,4%) mempunyai nilai 2, serta


6                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
hanya 12 sampel (2,1%) nilai 3, selanjutnya 0% untuk nilai 4 dan nilai
5. Diperoleh hasil hanya 2,1% puskesmas mencantumkan aturan pakai
nama dan cara/waktu pakai/peringatan pada label obat yang ditulis
pada kemasan kantong plastik bening dengan menggunakan spidol.
Penulisan nama pada label hanya dilakukan apabila ada 2 pasien
mempunyai alamat yang sama. Hanya sebagian kecil puskesmas
(2,1%) yang mencantumkan cara pakai/peringatan pada label yaitu
“kapan perlu” untuk obat demam dan analgetik. Alasan yang
dikemukan oleh petugas adalah kalau label dibuat lengkap maka
pasien akan lama menunggu, sedangkan pasien banyak. Penelitian
yang dilakukan di Region hanya 10,2% yang mempunyai label yang
benar.7 Semua puskesmas hanya memakai kemasan kantong plastik
bening yang langsung ditulis aturan pakai pada kantong plastik
tersebut dengan menggunakan spidol. Untuk yang dibotol dan salep,
langsung ditulis dengan spidol pada kemasannya tanpa menempelkan
etiket. Yang perlu ditulis pada etiket adalah, nama pasien, aturan
pakai obat dan waktu pakai, contoh : malam hari, sebelum makan dan
sesudah makan.10
Persentase Pengetahuan Pasien
Pengukuran ini dimaksud untuk melihat apakah ada diberikan
informasi kepada pasien tentang obat yang diterimanya sehubungan
dengan aturan pakai, cara pakai dan peringatan lainnya dan
seberapa jauh informasi yang diberikan tersebut dapat
diterima/dimengerti oleh pasien, dan diberikan nilai pada setiap item
pertanyaan. Nilai berkisar antara 1 sampai 3. nilai 1 diberikan bila
pasien hanya dapat menjawab 1 pertanyan dengan benar, nilai 2
diberikan bila pasien dapat menjawab 2 pertanyaan dengan benar
dan nilai 3 bila pasien mampu menjawab 3 pertanyaan dengan
benar. Dari 570 pasien terlihat , 370 pasien (64,9%) mampu
menjawab 1 pertanyaan dengan benar, dan 148 pasien (25,9%)
mampu menjawab 2 pertanyaan dengan benar serta 52 pasien
(9,1%) mampu menjawab 3 pertanyan dengan benar. Diperoleh hasil
hanya 9,1% pasien mampu menjawab tentang aturan pakai dan



Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                7
    cara/waktu pakai serta peringatan lain. Hal ini disebabkan karena
    informasi yang diberikan petugas kepada pasien tentang obat yang
    diterima kurang lengkap. Sejak diterimanya hak pasien untuk
    memperoleh     informasi   tentang   keadaan      kesehatan   dan
    pengobatannya, maka pasien tidak lagi dilakukan sebagai objek,
    melainkan sebagai partner.11
    Manajemen Obat.
    Manajemen obat diukur dari aspek perencanaan, penyimpanan,
    pendistribusian dan penggunaan obat.
    Perencanaan obat
    Perencanaan     obat    di   pukesmas    Kota    Padang      belum
    mempertimbangkan waktu tunggu, sisa stok, waktu kekosongan obat
    serta DOEN dan pola penyakit. Pengelola obat puskesmas melakukan
    permintaan obat hanya memperhitungkan jumlah pemakaian obat
    pada periode sebelumnya ditambah dengan 10-30%, artinya
    pengelola obat melakukan permintaan obat tidak pernah menghitung
    stok optimum yang menjadi dasar permintaan obat ke gudang
    farmasi, sehingga kesinambungan ketersediaan jumlah dan jenis obat
    di puskesmas tidak terjamin. Pengamatan dilakukan terhadap
    dokumen perencanaan meliputi LPLPO dan catatan harian penerimaan
    dan pengeluaran obat baik di gudang puskesmas maupun di kamar
    obat.
    Persentase Kesesuaian Item Obat yang Tersedia dengan DOEN
    Pengukuran ini dimaksudkan untuk memastikan bahwa jenis obat yang
    tersedia di puskesmas sudah berdasarkan DOEN yang terbaru. Hal ini
    diperlukan karena penetapan obat dalam DOEN telah
    mempertimbangkan, analisis biaya manfaat dan obat yang benar-
    benar dibutuhkan untuk puskesmas, sehingga dapat meningkatkan
    efektifitas dan efisiensi pemanfaatan dana pengadaan obat. Dari
    pengukuran obat yang tersedia sesuai DOEN diperoleh 95-97%, hal
    ini menunjukkan masih tersedia beberapa jenis obat bukan DOEN di
    puskesmas seperti, becefort, bioneuron,    asam mefenamat dan




8                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
piroxicam. Pengadaan obat dengan merek dagang tersebut adalah
pengadaan tahun 2004, yang masih bersisa di puskesmas. Dari hasil
wawancara dengan Kepala Gudang Farmasi (GFK), bahwa
penyediaan obat bukan DOEN atas permintaan pukesmas.
Persentase Tingkat Ketersediaan Obat
Pengukuran ini dilakukan untuk memastikan obat yang tersedia di
puskesmas dapat memenuhi kebutuhan populasi, berarti jumlah obat
tersedia di gudang minimal harus sama dengan stok selama waktu
tunggu kedatangan obat untuk menjamin kesinambungan pelayanan
obat untuk mendukung pelayanan kesehatan di puskesmas. Hasil
pengukuran diperoleh tingkat ketersedian obat dipuskesmas 1-15
bulan. Dari hasil wawancara dengan petugas mengatakan bahwa
akhir-akhir ini ketersediaan obat di gudang jarang yang mengalami
kekurangan apalagi kosong, karena setiap permintaan yang
dilakukan oleh puskesmas hampir semua dipenuhi oleh gudang farmasi
baik jumlah maupun jenisnya.
Penyimpanan Obat.
Penyimpanan obat dimaksudkan untuk memelihara mutu obat,
menghindari penggunaan yang tidak bertanggung jawab, menjaga
kelangsungan persediaan, memudahkan pencarian dan pengawasan.
Metode penyimpanan untuk setiap puskesmas bervariasi, tergantung
pada keadaan fasilitas penyimpanan. Umumnya puskesmas sudah
melakukan rotasi obat dengan sistim FIFO dan FEFO, dan menyusun
secara alfabetis, meskipun masih ada ditemukan yang tidak, hal ini
karena keterbatasan ukuran gudang yang bervariasi dari yang beru-
kuran 2x2 m2, gelap, sampai pada berukuran 3x4 m2, terang serta
mempunyai cukup sirkulasi udara. Umumnya puskesmas Kota Padang
tidak mempunyai meja khusus untuk pekerjaan administrasi gudang,
sehingga pekerjaan tersebut dikerjakan di ruang lain seperti di ruang
kamar obat. Untuk keamanan gudang, umumnya puskesmas sudah
mempunyai pintu/kunci ganda dan kunci hanya dipegang oleh
pengelola obat penanggung jawab gudang.




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan               9
     Persentase Kecocokan antara Obat dan Kartu Stok.
     Pengukuran ini dilakukan untuk memastikan tingkat ketepatan sistem
     pencatatan stok yang mencerminkan keadaan nyata sistem obat,
     karena sistem pencatatan stok yang tidak akurat, akan menyebabkan
     kerancuan untuk melihat obat kurang atau obat berlebih. Hasil
     pengukuran terhadap kecocokan antara kartu stok dengan keadaan
     obat yang sebenarnya diperoleh 60-100%. Terjadinya ketidak
     cocokan antara jumlah obat pada kartu stok dengan yang
     sebenarnya disebabkan karena pengisian kartu stok oleh petugas
     obat tidak dilakukan pada saat transaksi (menerima dan
     mengeluarkan) obat. Dari hasil pengamatan masih ada puskesmas
     yang tidak meletakkan kartu stok bersamaan/berdekatan dengan
     obat yang bersangkutan, dengan alasan ukuran gudang yang terlalu
     sempit, sehingga susah melakukan pencatatan di gudang obat, dan
     keadaan gudang yang ada rayapnya menyebabkan kartu stok rusak
     apabila diletakkan pada masing-masing jenis obat serta keadaan
     gudang yang selalu digenangi air,karena daerah banjir.
     Persentase Obat Kadaluarsa dan Obat Rusak
     Pengukuran ini dimaksudkan untuk memastikan tidak adanya obat
     kadaluarsa di puskesmas karena adanya obat kadaluarsa dan obat
     rusak mencerminkan ketidak tepatan permintaan dan atau kurang
     baiknya pengamatan mutu dalam penyimpananan obat dan atau
     perubahan pola penyakit. Dari hasil pengukuran          diperoleh
     persentase obat kadaluarsa dan obat rusak 0%. Dari hasil
     wawancara dengan petugas mengatakan bahwa tidak terdapatnya
     obat kadaluarsa dan obat rusak di puskesmas karena semua obat
     kadaluarsa dan obat rusak di puskesmas sudah diambil oleh gudang
     farmasi untuk dilakukan pemusnahan.
     Persentase Obat yang tidak Diresepkan
     Pengukuran ini dimaksudkan untuk melihat obat-obat yang tidak
     pernah diresepkan selama 6 bulan (stok mati), karena obat yang
     tidak pernah diresepkan akan menyebabkan terjadinya kelebihan



10                        Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
obat. Untuk itu perlu dilakukan komunikasi antara pengelola obat
dengan pengguna obat agar tidak terjadi hal seperti itu. Dari hasil
pengukuran diperoleh persentase obat yang tidak diresepkan 1,3-
15,78%. Hal ini menggambarkan bahwa terdapatnya beberapa jenis
obat yang menjadi stok mati seperti obat-obat malaria yaitu kuinin
HCl inj, klorokuin, disebabkan karena jarangnya kasus malaria di Kota
Padang, dan dari hasil wawancara dengan Kepala Gudang Farmasi
Kota Padang mengatakan bahwa pengadaan obat malaria ini
adalah pengadaan P2M Pusat.
Pendistriusian Obat
Distribusi obat dilakukan sekali sebulan dari puskesmas ke sub-sub unit
antara lain, sub unit dilingkungan puskesmas (kamar obat/apotik,
laboratorium), puskesmas pembantu, puskesmas keliling, posyandu dan
polindes. Pendistribusian ini berdasarkan pada permintaan sub unit
tersebut ke gudang obat puskesmas dengan menggunakan LPLPO sub
unit. Untuk kegiatan di posyandu, puskesmas keliling dan di kamar
suntik pengadaannya dilaksanakan melalui kamar obat/apotik.
Penggunaan Obat
Pengendalian penggunaan obat perlu dilakukan untuk menjaga
kualitas pelayanan obat dan meningkatkan efisiensi pemanfaatan
dana obat. Penggunaan obat di puskesmas Kota Padang baik jenis
maupun jumlahnya sangat tergantung pada peresepan yang
dilaksanakan di poliklinik oleh prescriber. Meskipun sudah ada buku
pedoman pengobatan di puskesmas, ternyata tidak semua prescriber
patuh menggunakannya.
Persentase Pemakaian Antibiotik
Pengukuran ini dimaksudkan untuk melihat tingkat kerasionalan obat di
puskesmas dengan indikator penggunaan antibiotika pada kasus
diare non spesifik dan ISPA non pneumoni. Pemakaian antibiotika
pada ke dua kasus ini merupakan penggunaan obat yang tidak
rasional karena tidak sesuai dengan pedoman pengobatan yang ada.
Hasil pengukuran persentase penggunaan antibiotika pada bulan
Desember 2005 adalah 0-47%. Dari hasil pengamatan terhadap



Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                11
     pola peresepan di puskesmas Kota Padang, pemakaian antibiotika
     yang tinggi ini disebabkan karena prescriber (pembuat resep) tidak
     menggunakan standar pengobatan yang ada di puskesmas, dan ini
     banyak dilakukan terutama apabila pembuat resepnya belum
     mendapatkan pelatihan Penggunaan Obat Secara Rasional (POSR),
     seperti dokter PTT dan lainnya.
     Persentase Pemakaian Injeksi
     Pengukuran ini dimaksudkan untuk melihat tingkat kerasionalan obat di
     puskesmas dengan indikator penggunaan injeksi pada kasus myalgia.
     Pemakaian injeksi pada kasus ini merupakan penggunaan obat yang
     tidak rasional karena tidak sesuai dengan pedoman pengobatan
     yang ada. Hasil pengukuran persentase penggunaan injeksi pada
     kasus myalgia pada bulan Desember 2005 adalah 0%. Dari hasil
     wawancara dengan Pimpinan Puskesmas mengatakan bahwa untuk
     pemakaian injeksi pada kasus myalgia, para pembuat resep sudah
     mempedomani standar pengobatan.
     Polifarmasi
     Pengukuran ini dimaksudkan untuk melihat tingkat kerasionalan obat.
     Peresepan polifarmasi mencerminkan penggunan obat yang tidak
     rasional yang berdampak pada inefisiensi/pemborosan. Pengukuran
     polifarmasi melihat jumlah jenis obat seluruh sampel resep untuk
     pasien dengan diagnosa tunggal untuk penyakit yang ditetapkan,
     misalnya diare akut non spesifik, ISPA non pneumoni dan myalgia .
     Hasil pengukuran terhadap rata-rata obat per lembar resep berkisar
     antara 2,5-3.9.
     Pelatihan
     Sejak otonomi daerah Januari tahun 2001, Dinas Kesehatan Kota
     Padang belum pernah melakukan pelatihan manajemen obat untuk
     pengelola obat puskesmas, dengan alasan karena keterbatasan dana,
     yang dilakukan hanya pertemuan sehari tentang manajemen obat
     bagi pengelola obat puskesmas, yang diadakan sekali 2 tahun. Oleh
     karena itu peneliti menilai aspek pelatihan dari pelatihan yang




12                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
pernah diikuti oleh pengelola obat puskesmas yang diadakan pada
tahun 1998 oleh Kanwil Kesehatan Propinsi Sumatera Barat.
Dari hasil wawancara dengan pengelola obat puskesmas dan
informasi dari Dinas Kesehatan Kota Padang, bahwa dari 56 Asisten
Apoteker (AA) yang menyebar di 19 puskesmas Kota Padang, hanya
24 orang yang sudah pernah mengikuti pelatihan dan 32 orang
asisten apoteker yang belum pernah mengikuti pelatihan manajemen
obat. Pelatihan ini diadakan selama 5 hari, dengan narasumber yang
berasal dari Ditjen. POM Depkes. R.I dan Dinas Kesehatan Propinsi
Sumatera Barat. Pelatihan perlu dilakukan untuk meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan dan perubahan perilaku pada
penampilan kerja.12 Pelatihan secara konvensional dalam kelompok
besar umumnya tidak banyak memberikan perbaikan, pelatihan
kelompok kecil, umumnya akan lebih bermanfaat, apalagi disertai
dengan pemantauan dan supervisi.11
Supervisi
Penilaian supervisi dilihat dari supervisi yang dilakukan oleh Dinas
Kesehatan kota Padang, Gudang Farmasi dan Pimpinan Puskesmas.
Dari hasil jawaban responden, supervisi manajemen obat yang
dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang sekali setahun, supervisi
oleh gudang farmasi sekali setahun dan supervisi oleh Pimpinan
Puskesmas ada yang menjawab setiap bulan (45,3%) dan 54,7%
menjawab setiap 3 bulan. Supervisi merupakan salah satu fungsi dari
manajemen dan kepemimpinan dimaksudkan untuk memastikan bahwa
staf pelaksana telah melaksanakan kegiatan secara efektif.13
Hampir semua responden (pengelola obat 19 puskesmas) mengatakan
bahwa supervisi yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Kota Padang
dan Gudang Farmasi menyampaikan cara pengelolaan dan
pelayanan obat yang baik, menanyakan masalah yang dihadapi
sehubungan dengan pengelolaan dan pelayanan obat, tapi tidak
memberikan umpan balik serta evaluasi hasil supervisi kepada
puskesmas yang bersangkutan. Supervisi yang disertai dengan umpan




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan             13
     balik dan diskusi kelompok kecil berhasil meningkatkan upaya tertib
     distribusi obat.14


                                                      Kesimpulan
     Mutu pelayanan farmasi di puskesmas Kota Padang belum baik yaitu
     tidak diberikannya informasi saat penyerahan obat kepada pasien,
     adanya pengurangan jumlah obat sesuai resep yang diberikan
     kepada pasien, kurang lengkapnya label yang dicantumkan pada
     kemasan obat pasien, informasi yang diberikan oleh petugas tentang
     obat tidak lengkap.
     Manajemen obat di puskesmas Kota Padang belum baik yaitu masih
     tersedianya obat bukan DOEN (Daftar Obat Esensial Nasional) di
     puskesmas, ketersediaan obat di puskesmas belum efisien, yang
     terlihat dari tingkat ketersediaan disatu sisi masih rendah. Tingkat
     ketersediaan obat berlebih dan masih tingginya persentase ketidak
     cocokan antara kartu stok dengan keadaan obat sebenarnya. Masih
     adanya stok obat mati, masih tingginya penggunaan antibiotik dan
     polifarmasi untuk kasus ISPA non pnemoni dan diare non spesifik. Tidak
     adanya obat kadaluarsa dan obat rusak di puskesmas, tidak ada lagi
     penggunaan injeksi pada kasus myalgia.
     Pelatihan manajemen obat di puskesmas Kota Padang belum pernah
     dilakukan karena keterbatasan dana, hanya pertemuan sehari
     tentang manajemen obat yang diadakan setiap dua 2 tahun sekali.
     Petugas pengelola obat (Asisten Apoteker) pernah mengikuti pelatihan
     manajemen obat tahun 1998 yang diadakan oleh Kanwil Kesehatan
     Propinsi Sumatera Barat. Dari 56 petugas Asisten Apoteker, terdapat
     24 orang yang pernah dilatih dan 32 yang belum pernah dilatih.
     Supervisi terhadap manajemen obat di puskesmas yang dilakukan
     oleh Gudang Farmasi dan Dinas Kesehatan Kota Padang sekali dalam
     6 bulan, tidak disertai dengan umpan balik dan evaluasi, serta
     penilaian yang kurang tajam, terbukti dari tidak adanya arsip




14                         Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
dokumen umpan balik dan evaluasi tertulis yang disampaikan kepada
pimpinan puskesmas.


                                                              Saran
Perlu dilakukan peningkatan mutu pelayanan farmasi di puskesmas,
terutama terhadap aspek pelayanan obat di apotik puskesmas mulai
dari resep masuk ke loket apotik sampai obat diserahkan kepada
pasien. Puskesmas memastikan bahwa pasien mengerti dengan obat
dan pengobatan yang diterimanya, dengan cara mencantumkan label
yang lengkap, memberikan informasi yang lengkap kepada pasien
dan tidak mengurangi jumlah obat yang diberikan kepada pasien.
Perlu dilakukan peningkatan terhadap manajemen obat mulai dari
perencanaan, penyimpanan, pendistribusian dan penggunaan obat
seperti penekanan penghitungan obat berdasarkan stok optimum,
tidak melakukan permintaan obat yang bukan DOEN, pencatatan
mutasi obat dilakukan pada saat penerimaan dan pengeluaran obat.
Dan penekanan penggunaan buku pedoman pengobatan.
Perlu dilakukan pelatihan manajemen obat terhadap pengelola obat
(Asisten Apoteker) di puskesmas, karena masih banyak pengelola obat
yang belum pernah dilatih dan sudah lamanya waktu pelatihan yang
diikuti oleh pengelola obat yang sudah pernah dilatih.
Perlu dilakukan supervisi dan monitoring yang berkesinambungan oleh
Gudang Farmasi dan Dinas Kesehatan Kota Padang yang disertai
dengan umpan balik, evaluasi serta penilaian yang tajam baik lisan
maupun tertulis terhadap pelaksanaan manajemen obat di puskesmas.


                                              Daftar Pustaka
1. Wijono., 1997. Manajemen Mutu                  Pelayanan   Kesehatan.
   Airlangga. Universitas Press. Surabaya.




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                 15
     2. Departeman Kesehatan RI., 2002. Daftar Tilik Jaminan Mutu
        (Quality Assurance) Pelayanan Kefarmasian di Pelayanan
        Kesehatan Dasar. Dep.Kes. RI. Jakarta.

     3.   Departeman Kesehatan RI., 2003. Materi Pelatihan Pengelolaan
          Obat di Kabupaten/Kota. Dep.Kes. RI. Jakarta.

     4. Quick, J.D., Hume, M.L., Rankin, J.R., O’Connor, R.W., 1997.
        Managing Drug Supply. 2nd ed. Revised and Expandet. Kumarin
        Press. West Hartford.

     5. Dinas Kesehatan Kota Padang., 2005. Laporan Tahunan Dinas
        Kesehatan Kota Padang 2005. Kota Padang Propinsi Sumatera
        Barat.

     6. Tubagus., 1996. Dampak Penempatan Asisten Apoteker Terhadap
        Pengelolaan dan Mutu Pelayanan Mutu Obat di Puskesmas. Tesis
        Program Studi S2 IKM. UGM. Yogyakarta.

     7. WHO., 1993. How to Investigate Drug Use in Health Facilities.
        Selected Drug Use Indicators. Action Programme on Essentiale
        Drugs. WHO Geneva.

     8. Barber, N., Wilson, A., 2000. Churchill’s Clinical Pharmacy Survival
        Guideline. Hartcourt Publisher Limited. London.

     9. Hermawan., 1997. Cakupan informasi dalam proses penyerahan
        obat dengan resep di Apotek Kotamadya Yogyakarta. Skripsi
        Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

     10. Departeman Kesehatan RI., 2004. Pedoman Pengelolaan Obat
         Publik dan Perbekalan Kesehatan di Puskesmas. Dep.Kes. RI.
         Jakarta.

     11. Santoso, B., Suryawati, S., Prawitasari, J.E., 1996. Small Group
         Intervention VS Formal Seminar for Improving Appropriate Drug
         Use. Soc.Sci.Med. vol.42 (8) : 1163-1168.

     12. Truelove, S., 1995. The Handbook of Training and Development.
         Black Well Publish.Ltd., Massachusetts.



16                          Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan
13. Flahault, D., Piot, M., Franklin, A., 1998. The Supervision of Health
    Personnel at Distric Level. WHO. Geneva.

14. Purwiyati., 2002. Upaya Tertib Distribusi Obat Melalui Supervisi
    dengan Umpan Balik dan Diskusi Kelompok Kecil di Puskesmas
    Kabupaten Sleman. Tesis Program Studi S2 IKM. UGM.
    Yogyakarta.




Magister Kebijakan dan Manajemen Pelayanan Kesehatan                  17

								
To top