Docstoc

sastra

Document Sample
sastra Powered By Docstoc
					                                            Aug 21, '05 4:17 PM
   Sastra Islam [Lagi]
                                            for everyone

Peradaban Islam tidak akan pernah mati karena keabadiannya berkaitan dengan ruh yang
berjalan di kedalaman simpul-simpul sel dan pembuluh darahnya. Ruh itu bernama spirit
al-Quran, kalimat Allah yang abadi.

***
Percaya atau tidak, bahwa sastra adalah salah satu dari sekian unsur pembentukan
peradaban itu sendiri. Sedang, peradaban Islam tidak akan pernah lekang oleh panas dan
tidak akan pernah musnah ditelan masa, karena ia datang dari Pencipta Peradaban. Maka
bukan hal yang kebetulan kalau para ulama fiqh, filsuf, bahkan para sufi sekalipun adalah
orang-orang yang sangat intens dan peduli akan sastra… baik syair maupun non-syair.
Siapa yang tidak kenal Ibnu Sina (Avicena), Imam Syafii, Ibnu Muqaffa, Aljahiz, dan
lain-lain. Mereka bukan hanya filsuf dan sufi, pemikir dan ahli fikih, melainkan kampium
puisi yang karyanya terus dipelajari jutaan orang di segala penjuru dunia hingga kini.

***
Mereka tidak menyibukkan diri dengan filsafat sastra, ataupun grusah-grusuh dengan
definisi ataupun konsep. Yang menakjubkan mereka mempunyai beberapa teori (bukan
definisi) sastra. terutama kreasi syair. Secara umum teori-teori ini dikembangkan oleh
tiga kelompok:
Pertama, kelompok yang mementingkan segi "asas manfaat". Mereka menilai sisi
hikmah sastra lebih penting ketimbang sisi daya tarik atau efek emosi yang ditularkan
kepada para penikmat sastra.
Kedua, kebalikan kelompok yang pertama. Mereka ini termasuk kelompok yang lebih
mengedepankan dimensi estetika dan efektifitas emosi. Tidak penting apakah
mengandung hikmah, "adding value" dan manfaat bagi pembacanya, ataukah tidak.
Ketiga, kelompok yang memadukan segi manfaat dan estetika sekaligus. Kelompok
ketiga ini yang banyak mendominasi sastra Arab Klasik.

Tapi ternyata gerakan pembaruan terhadap sastra Islam terus berlanjut. Di tangan Al-
Jahiz, sastra Islam mulai ada perubahan. Di tangannya, ia meletakkan pondasi,
metodologi dan sekaligus karakteristik khusus sastra Islam. Melalui karya-karyanya yang
spektakuler, Al-Jahiz berhasil membuka cakrawala baru tentang visualisasi bentuk dan
karakter tokoh/psikologi manusia (nafsiyat insaniyah). Al-Jahiz bahkan mampu
mengorbitkan beberapa tokoh tipologis yang tetap kondang sepanjang sejarah. Sebut saja
misalnya tokoh "Si Bakhil" dalam beberapa karyanya. Tokoh tersebut masih tetap
melegenda hingga kini. Begitu juga tokoh lainnya. Bukan hanya itu, Al-Jahiz juga
memelopori pembaruan sajak dan pembaruan bentuk-bentuk retorika yang kemudian
menjadi lebih variatif, sama seragamnya dengan keragaman tokoh dan letak geografis
para pencipta karya sastra yang terbentang dari kota ke kota, bahkan antar-negara.

Kemudian pembaruan juga terjadi dalam wilayah "tematis", terutama setelah terjadi
pelbagai konflik politik dan sekte-sekte pemikiran menjalar ke arena fiqh, hukum dan
perspektif politik. Dan setelah terpengaruh berbagai doktrin-doktrin Islam, maka
muncullah syair zuhud dan asmara kawula muda (al hubb al 'udzri). Pada fase
selanjutnya muncul pula syair mabuk, sebagai reaksi dari perubahan negatif fundamental
yang berhubungan dengan "rasa" (emosi)dan hubungan sosial budaya. Lalu pembaruan
juga menyentuh qasidah (sajak Arab yang biasanya dinyanyikan) . Maka qasidah juga
ada yang kita kenal dengan maqthuat (syair yang baitnya terpenggal-penggal), tawasyih
(sebuah lirik untuk mendendangkan lagu tertentu), ruba'iyyat (syair yang susunan baitnya
terdiri dari empat qafiyah), dan jenis-jenis lain yang mencipta keragaman qafiyah (bentuk
sajak) namun tetap mempertahankan wazan (pola baku syair), lalu memasukkan unsur-
unsur kosa kata dan derivasi baru ke dalam bahasa Arab yang mengundang pro dan
kontra.

***
Menurut saya, sastra Islam merupakan salah satu unsur peradaban Islam dan lidah
dakwah yang efektif. Memang dampaknya lambat, tidak seperti dakwah lisan yang
langsung mengena, tapi kemudian menghilang bersama hilangnya pendakwah. Namun
sastra Islam, melalui pena, mampu mencurahkan keteladanan, peduli dengan action
ketimbang kata-kata.

Barangkali ada beberapa kelompok yang menentang pendapat di atas, tapi itu hanya
segelintir orang. Rongrongan terhadap sastra Islam mungkin terus berlanjut. Tapi,
jawaban kami cukup sederhana: bahwa mukjizat Islam terbesar adalah al-Quran… kalam
yang turun dari langit, dengan pelbagai benteng kebenaran, keindahan dan penuh
mukjizat. Sedangkan dakwah, kata al-Quran, harus melalui pendekatan hikmah, nasehat
yang       baik,     dan     dengan       cara      debat.      (Al-Nahl:     125).

***
Beberapa kajian berupaya menjadikan sastra pada madhmun (substansi) dan syakl
(bentuk). Kendatipun sulit untuk membedakan mana yang disebut dengan substansi dan
bentuk, hanya saja penyederhanaan ini terkadang penting yang nampaknya warisan dari
filsafat klasik yang melakukan pengklasifikasian atau pembedahan ulang, agar mencapai
kepada pengertian yang lebih jelas tentang hal yang bersifat riil atau abstrak. Maka tidak
mengherankan kalau tiba-tiba semua studi sastra berupaya menjelaskan akar konsep dan
filosofisnya atau menerjemahkan konsepnya tentang manusia, alam dan kehidupan ke
alam realita dengan jalur cerita, novel atau teater. Bahkan ke dalam syair.

Lalu ada kelompok lain yang berusaha memaksakan kehendak (qahr). Maka akibatnya
adalah misteri, karena mereka tenggelam ke dalam simbol-simbol dan pikiran murni.
Selanjutnya adalah kecenderungan mereka untuk menerka-nerka terhadap alam lain,
menjalin dialog antar mereka sendiri, dan selanjutnya mereka kehilangan hubungan
"kudus" dengan orang lain.

***
Misteri dan kegelapan yang menghantui sastra modern sekarang ini adalah hal yang
cukup menakutkan untuk hari ini dan masa depan. Sebab itu adalah bagian dari keanehan,
dan menjadi salah satu sistem. Bahkan filsafat tersendiri yang dianggap oleh para kritikus
sebagai parameter modernisasi dan ibda' (kreasi). Maka muncullah kehidupan yang serba
sulit di Barat, kehancuran spiritual, kemegahan materi, cara-cara mekanis di setiap gerak
hidup sehari-hari, kehancuran rumah tangga, tekanan individu, dekadensi moral dan
pemikiran atas nama kebebasan, kelainan jiwa yang mematikan, dan lain sebagainya.
Apabila ini semua sudah telah menciptakan sastra dan seni yang 'sakit' (di Barat) lalu
apakah itu berarti kita harus menciptakan persepi yang sama terhadap yang terjadi di
sana? Lalu, apakah dengan demikian kekuasan yang 'serba boleh' menciptakan iklim
yang        sama       kondusifnya       dengan       yang       ada      di       Barat?

***
Sastra Islam adalah sastra tanggungjawab. Sartre menyatakan kalau kemerdekaannya
dimulai ketika tuhan sudah mati. Nauzubillah. Mengapa demikian? Karena filsafatnya
dibangun di atas pondasi penolakan terhadap agama, nilai-nilai moral, dan tradisi masa
lalu. Dia tidak berpegangan pada komitmen nilai-nilai masa lalu. Seluruh eksistensialis –
bukan      hanya    Sastre-   adalah     si   empunya     nilai-nilai  baru     tersebut.
Sastra Islam adalah sastra tanggungjawab yang tumbuh dari bingkai Islam itu sendiri. Ia
tidak akan pernah jatuh ke dalam kubangan dusta filsafat yang terhitung ratusan
jumlahnya. Filsafat eksistensialisme, misalnya, tidak hanya satu bahkan puluhan.
Materialisme pun berkembang, khususnya dalam penerapannya, bahkan, menjadi agama
baru. "Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang sesungguhnya
persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran". (QS. 53:28)

Dalam kebenaran itulah –bukan prasangka- sastra Islam akan terus bergerak. Senjata
utamanya       adalah      "kalimah     thayyibah"      (kata-kata    yang     baik).
"Tidakkah kamu kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan
kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke
langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah
membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat".
(QS. 14:24-25)

Sastra Islam sangat menekankan pada substansi pemikiran yang bersumber dari nilai-nilai
Islam. Dari substansi dan bentuk seni tersebut terjadi satu tenun yang mencurahkan
ekspresi yang paling "sahih".

Sastra Islam juga memuat pesan-pesan kehidupan, kasus-kasus yang terjadi di dalamnya,
fenomena hidup dan problematikanya. Tentu saja yang penggambaran tersebut
berkesesuaian dengan persepsi Islam yang benar terhadap kehidupan itu sendiri, tanpa
pemalsuan fakta, menciptakan ilusi yang merusak, menyebar kesesatan, atau bahkan
mendekor hipokrasi. Sastra Islam harus mampu membidik setan-setan yang tersesat,
arogansi dan kezaliman, membangkitkan ambisi orang-orang lemah, menolong orang-
orang yang dizalimi, "meminimalisir" musibah dan kesedihan orang-orang yang tersiksa,
serta menjadi pengkabar gembira dengan kebaikan, cinta, kebenaran dan estetika.

Sastra Islam tidak akan pernah sia-sia. Sebab kehidupan, kisah manusia, peran nasib,
peristiwa kelahiran atau kematian manusia semuanya itu bukanlah kesia-siaan. (Qs. Al-
Mu'minun: 115). Juga tidak menafikan kalau kehidupan adalah "kesenangan yang
menipu" atau hanya ".....permainan, senda gurau, perhiasan dan bermegah-megah
diantara kalian, dan saling memperbanyak harta dan anak" (QS. Al-Hadid: 20). Dunia
ini hanyalah ujian, cobaan, dan ladang untuk beramal, kita diciptakan untuk maksud dan
tujuan tertentu. Allah telah melukiskan jalan, syariat, peraturan dan nilai-nilai. Dan
seorang Mu'min mampu untuk melakukan perannya yang benar dalam kehidupan ini dan
melewati jalan yang sudah digariskan oleh Allah (inayah ilahi) agar ia bahagia, selamat
dan sentausa.

***
Sastra Islam bukan kaidah baku. Atau satu formula yang terhindar dari kehidupan dan
alam nyata. Atau khutbah nasehat yang dipenuhi nash-nash dan hukum. Melainkan
gambar indah yang tumbuh dan terus berkembang. Mempercantik diri dengan menambah
indah dan agung, dan membuatnya lebih berpengaruh dan efektif. Sastra Islam tidak akan
pernah mengharamkan inovasi-inovasi baru yang bermanfaat dan menghibur, karena
kehidupan itu terus berubah dan berkembang. Begitu juga manusia dan jalan-jalan
kehidupannya secara praktis, ilmiah, dan menghibur, sehingga sastra kita tetap berada
dalam arena nilai-nilai islam yang murni, berpegang teguh pada esensi dan tujuannya
(jauhar wa ghayah).

***
Sastra Islam adalah sastra hati yang hidup, emosi yang sehat, persepsi yang benar, fantasi
yang konstruktif, feeling yang lurus, tidak terjebak pada penyimpangan individual, emosi
yang sakit, atau penyakit falsafi yang virus-virusnya menjalar ke dalam air, udara, seni,
pemikiran bahkan ke dalam perilaku.

***
Sastra Islam adalah sastra yang "jelas", tidak akan pernah bersayap dan penuh bias-bias
menyesatkan, atau hitam kecoklatan "samar-samar", atau keputusasaan yang
menggelincirkan. Maka, kejelasan adalah pantai teraman bagi mereka yang gundah.

Maka sastra Islam tidak akan pernah muncul kecuali dari orang-orang yang dianugerahi
keyakinan, dibahagiakan kepuasan, dikenyangkan oleh manhaj Allah, dan meminum
sumber-sumber aqidah yang bersih. Lalu dari sinilah muncul sastra yang benar.

Inilah Sastra Islam yang universal itu:
- Ekspresi seni yang indah dan efektif.
- Timbul dari hati yang beriman.
- Mampu menerjemahkan alam, manusia dan kehidupan.
- Berdasarkan fondasi keyakinan Muslim.
- Mampu membangkitkan asas manfaat dan hiburan.
- Mampu menggerakkan fikiran dan emosi.
- Memberi inspirasi untuk membuat keputusan dan aktifitas.

Kairo, 21 Agustus 2005

http://religiusta.multiply.com/journal/item/27
Kaum Muslim menyebarkan agamanya. Ternyata mereka bukan
hanya orang-orang yang pandai berbuat tetapi juga rajin
belajar. Secara politis, pemerintah-pemerintah Muslim
menyadari keterbatasan mereka dan kemajuan banyak kerajaan
dan kebudayaan yang ditaklukkan oleh tentara-tentara mereka.
Lembaga-lembaga         lokal,   gagasan-gagasan,    dan
personil-personil diasimilasi dan diadaptasi dengan
norma-norma Islam agar para pembesar Islam dapat mengambil
pelajaran dari pengetahuan mereka yang sudah lebih maju.
Perpustakaan-perpustakaan besar serta pusat-pusat
penerjemahan didirikan; buku-buku penting yang berisi ilmu
pengetahuan, kedokteran, dan filsafat Barat dan Timur
dikumpulkan dan diterjemahkan, seringkali oleh orang-orang
Kristen dan Yahudi, dari bahasa Yunani, Latin, Persia,
Koptik, Syria, dan Sanskrit ke dalam bahasa Arab. Dengan
begitu, buku-buku sastra, ilmu pengetahuan, dan kedokteran
menjadi lebih mudah didapat.
Zaman penerjemahan diikuti oleh suatu periode kreativitas
besar, karena generasi baru para ilmuwan dan ahli pikir
Muslim yang terpelajar kini membangun dengan ilmu
pengetahuan yang mereka peroleh dan memberikan sumbangan
mereka dalam bidang penuntutan ilmu. "Proses pengislaman
tradisi-tradisi itu telah berbuat lebih jauh daripada
sekadar mengintegrasikan dan memperbaiki. Hal itu telah
menghasilkan energi kreatif yang luar biasa. Periode
kekhalifahan merupakan salah satu pengembangan
kebudayaan."<1> Itulah zaman tokoh-tokoh besar filsafat dan
ilmu pengetahuan: Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Farabi.
Pusat-pusat utama belajar, dengan perpustakaan-perpustakaan
besar, bermunculan di Kordova, Palermo, Nisyapur, Kairo,
Baghdad, Damaskus, dan Bukhara, mengungguli Eropa yang
tenggelam dalam abad-abad kegelapan. Kehidupan kebudayaan
dan politik para Muslim dan juga non-Muslim di kerajaan dan
negara Islam dilakukan di dalam kerangka Islam dan bahasa
Arab, walaupun terdapat perbedaan-perbedaan agama dan suku.
Gagasan-gagasan dan praktek-praktek yang baru diislamkan dan
diarabisasikan. Peradaban Islam merupakan produk dinamika
dan proses kreatif suatu perubahan dimana orang-orang Islam
meminjam kebudayaan lain secara bebas. Hal itu menunjukkan
adanya keterbukaan dan keyakinan diri yang timbul karena
kedudukan sebagai penguasa, bukan hamba, penakluk dan bukan
yang ditaklukkan. Berbeda dengan abad ke-20, kaum Muslim
pada saat itu merasa mengendalikan dan aman. Mereka merasa
bebas meminjam dari Barat, karena identitas dan otonomi
mereka tidak terancam oleh ancaman dominasi politik dan
kebudayaan. Mereka meminjam, tetapi mereka juga memberikan
warisan kepada Barat. Pola lalu-lintas kebudayaan
sebelumnya, berbalik ketika Eropa, yang bangkit dari
abad-abad kegelapan, mengubah pusat-pusat belajar kaum
Muslim     dengan      tujuan  memperbaiki       kembali
peninggalan-peninggalan yang hilang dan belajar dari
kemajuan-kemajuan orang-orang Islam dalam bidang matematika,
kedokteran, dan sains.
<1>:
Marshall G.S. Hedgson, The Venture of Islam, 3 jilid
(Chicago: University of Chicago Press, 1974), I: 235.

http://id.shvoong.com/humanities/1666540-peradaban-islam/
Selasa, 25 Agustus 2009
Kontribusi Sastra Islam Terhadap Sastra Dunia


Sastra Arab memasuki episode baru sejak agama Islam diturunkan di
Jazirah Arab yang ajarannya disampaikan melalui Alquran. Kitab suci
umat Islam itu telah memberi pengaruh yang amat besar dan
signifikan terhadap bahasa Arab. Bahkan, Alquran tak hanya memberi
pengaruh terhadap sastra Arab, namun juga terhadap kebudayaan
secara keseluruhan. Sebagian orang menyebut Alquran sebagai karya
sastra terbesar. Namun, sebagian kalangan tidak mendudukan Alquran
sebagai karya sastra, dengan asumsi karena merupakan firman Allah
SWT yang tak bisa disamakan dengan karya manusia. Teks penting
lainnya dalam      agama Islam adalah        hadits atau sunnah.

Sastra Arab jahiliah memiliki ciri-ciri yang umumnya yang
menggambarkan suatu kebanggaan terhadap diri sendiri (suku),
keturunan, dan cara hidup. Sastra Arab atau Al- Adab Al-Arabi tampil
dalam beragam bentuk prosa, fiksi, drama, dan puisi. Sastra Arab
menjadi salah satu embrio ikon peradaban islam di bidang sastra.
Sastra menempati posisi penting dalam sejarah peradaban Islam.
Sejarah sastra Islam dan sastra Islami tak lepas dari perkembangan
sastra Arab. Sebab, bahasa Arab merupakan bahasa suci Islam dan
Alquran. Bahasa Arab dalam bentuk klasiknya atau bentuk Qurani
mampu memenuhi kebutuhan religius, sastra, artistik dan bentuk
formal                                                      lainnya.

Sastra Arab mulai berkembang sejak abad ke-6 M, ketika masyarakat
Arab masih berada dalam peradaban jahiliyah. Dikenal ada dua karya
sastra penting yang terkemuka yang ditulis sastrawan Arab di era pra-
Islam.    Keduanya      adalah   Mu’allaqat      dan   Mufaddaliyat.

Jejak dan perjalanan hidup Muhammad SAW yang begitu memukau
dunia juga telah mendorong para sastrawan Muslim untuk
mengabadikannya dalam sebuah biografi yang dikenal sebagai Al-
Sirah Al-Nabawiyyah. Sarjana Muslim yang pertama kali menulis
sejarah hidup Nabi Muhammad adalah Wahab bin Munabbih. Namun,
Al-Sirah Al-Nabawiyyah yang paling populer ditulis oleh Muhammad
bin                                                         Ishaq.

Sejarah mencatat, sastra sangat berkembang pesat di era keemasan
Islam. Di masa kekhalifahan Islam berjaya, sastra mendapat perhatian
yang amat besar dari para penguasa Muslim. Pada era itu, masyarakat
Muslim sudah gemar membacakan puisi dengan diiringi musik. Pada
zaman itu, puisi masih sederhana. Puisi Arab yang kompleks dan
panjang disederhanakan menjadi lebih pendek dan dapat disesuaikan
dengan musik. Sehingga puisi dan musik pada masa itu seperti dua
sisi    mata      uang    yang       tak    dapat     dipisahkan.

Sastra makin tumbuh di era kekuasaan Daulah Abbasiyah - yang
berkuasa di Baghdad pada abad ke-8 M. Masa keemasan kebudayaan
Islam serta perniagaan terjadi pada saat Khalifah Harun Ar-Rasyid dan
puteranya Al-Ma’mun berkuasa. Pada era itu, prosa Arab mulai
menempati tempat yang terhormat dan berdampingan dengan puisi.
Puisi sekuler dan puisi keagamaan juga tumbuh beriringan.

Para sastrawan di era kejayaan Abbasiyah turut mempengaruhi
perkembangan sastra di Eropa era Renaisans. Salah seorang
sastrawan yang melahirkan prosa-prosa jenius pada masa itu bernama
Abu ‘Uthman ‘Umar bin Bahr al- Jahiz (776 M - 869 M) - cucu seorang
budak berkulit hitam. Karya terkemuka Al-Jahiz adalah Kitab al-
Hayawan, atau ‘Buku tentang Binatang’ sebuah antologi anekdot-
anekdot binatang - yang menyajikan kisah fiksi dan non-fiksi. Selain
itu, karya lainnya yang sangat populer adalah Kitab al-Bukhala.

referensi: Poaseos Asiaticae Commen tarii Libri Sex (1774 M) oleh
William Jones (1746 M -1794 M)

http://www.kavalera.co.cc/2009/08/kontribusi-islam-bagi-sastra-dunia.html

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Stats:
views:744
posted:3/3/2010
language:Indonesian
pages:9