Surat Dakwaan

Reviews
Shared by: donni setiawan
Categories
Tags
Stats
views:
2020
rating:
1.3(3)
reviews:
0
posted:
11/21/2008
language:
English
pages:
0
DOKUMENTASI PENGADILAN HAM AD HOC KASUS TIM-TIM DAKWAAN No. Reg. Perkara : 11/HAM/TIM-TIM/07/2002 A.n TERDAKWA NOER MUIS Program Monitoring Pengadilan HAM Tim-Tim Tanggal 2 Juli 2002 Surat Dakwaan Kasus M. Noer Muis KEJAKSAAN AGUNG RI PENUNTUT UMUM AD HOC PERKARA PELANGGARAN HAM BERAT DI TIMOR TIMUR “ UNTUK KEADILAN” SURAT DAKWAAN _____________________________________________ Nomor : Reg. Perkara: 11/HAM/TIM-TIM/07/2002 TERDAKWA M. NOER MUIS PENGADILAN HAM AD HOC JAKARTA PUSAT JAKARTA, 2 Juli 200 SURAT DAKWAAN Nomor : REG PERKARA : 11/HAM/TIM-TIM/07/2002 I. TERDAKWA : Nama Lengkap : M Noer Muis Temjpat Lahir : Kuala Simpang Aceh Timur Umur / Tgl Lahir : 47 tahun/22 Agustus 1953 Jenis Kelamin : Laki-laki Kebangsaan/kewarganegaraan : Indonesia Tempat tinggal : Jl Mampang Prapatan 4/57 Jakarta Selatan (2 Tahun lalu) Agama : Islam Pekerjaan : TNI-AD Pendidikan : Lemhanas KRA XXX III (33) II. PENAHANAN : Terhadap terdakwa tersebut diatas baik pada tingkat penyelidikan maupun penuntutan tidak dilakukan penahanan. III. DAKWAAN KESATU : Bahwa ia terdakwa M. NOER MUIS, selaku komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timu, pada kurun waktu antara tanggal 13 Agustus 1999 sampai dengan tanggal 30 Maret 2000 dan membawahi 13 (tiga belas) KODIM yaitu : 1. Kodim Los Palos dengan Dandim 2. Kodim Baucau dengan Dandim 3. Kodim Viqueque dengan Dandim 4. Kodim Manatuto dengan Dandim 5. Kodim Dilli dengan Dandim 6. Kodim Aileu dengan Dandim 7. Kodim Same dengan Dandim 8. Kodim Liquisa dengan Dandim 9. Kodim Ermera dengan Dandim 10. Kodim Maliana dengan Dandim : : : : : : : : : : Letkol Inf Sudrajat Letkol Art Richard Hutajulu Letkol Inf Gustaf Heru Letkol Art Lexi Ponton Letkol Inf Sujarwo Letkol Inf Maman Rahman Letkol Inf Suwondo Letkol Inf Asep Kuswani Letkol Inf Muhamad Nur Letkol Kav Siagian kemudian diganti dengan Letkol Inf B Suprianto : Letkol Inf Gatot Rusdiyanto : Letkol Inf Ahmad Mas Agung diganti oleh Letkol Czi Lilik Kushadianto. : Letkol Art B Sungesti 11. Kodim Ainaro dengan Dadim 12. Kodim Suai dengan Dandim 13. Kodim Ambeno dengan Dandim Serta mempunyai tugas pokok, wewenang, dan tanggungjwab yaitu membina potensi geografi, demografi dan kondisi sosial diwilayah untuk menjadi ruang, alat dan kondisi juang sehingga mampu mendukung sistem pertahanan di wilayah dalam rangka mendukung sistem pertahanan Kodam. Khusus di Timor-Timur pada pelaksanaan jejak pendapat adalah mensukseskan jajak pendapat tahun 1999; dapat berkoordinasi dengan unsur-unsur kemanan, unsur-unsur Pemda dan unsur lainnya baik daripemerintah Indonesia maupun Institusi Internasional lainnya yang ada di Timor-Timur (UNAMET, CIPPOL, UMNO, UNHCR, ICRC) dalam rangka mensukseskan Jajak Pendapat 1999 dan bertanggungjawab kepada Pangdam IX/Udayanan selaku Pangkoops dalam rangka mensukseskan pelaksanaan jajak pendapat sesuai dengan rincian tugas yang diberikan, akan tetapi tugas pokok, wewenang dan tanggungjawab tersebut tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya yaitu pada hari Minggu tanggal 5 September 1999 sekira pukul 14.30 WITA dan hari senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 19.15 WITA serta hari senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 13.30 WITA atau setidak tidaknya pada waktu lain dalam bulan September 1999, bertempat di Diosis Dilli dan di rumah kediaman Saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli serta di gerjea Ave Maria Suai atau setidak-tidaknya di suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan Negeri Dilli Timor-Timur, namun berdasarkan pasal 2 Keppres RI No 96 Tahun 2001 tanggal 01 Agustus 2001 tentang perubahan atas Keppres No 53 Tahun 2001 tentang pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang memeriksa dan memutus perkara ini , terdakwa M NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur atau yang secara efektif bertindak sebagai Komandan Militer dapat di pertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada di dalamn yuridiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan oleh pasukan yang berada di bawah Komando dan pengendaliannya yang efektif karena terdakwa selaku atasan yang membwahi Kodim Dilli dan Kodim Suai berikut jajarannya, atau di bawah kekeuasaan dan pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak dilakukan pengendalian pasukan secara patut yaitu terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandang Resort Militer 164 Wira Dharma Tim-Tim, mengetahui atau atas dasar keadaan saat itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahui oleh terdakwa bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa tidak melakukan tindakan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa tidak melakukan tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya baik untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut sehingga terjadi penyerangan ke Diosis Dilli yang mengakibatkan jatuh korban pensusuk sipil setidak-tidaknya 3 (tiga) orang atau lebioh meninggal dunia dan pengrusakan serta pembakaran rumah kediaman saksi Mgr CARLOS FLIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) yang menimbulkan korban penduduk sipil setidak-tidak 10 (sepuluhy) orang atau lebih meninggal dunia maupun penyerangan ke komplek Gereja Khatolik Ave Maria Suai yang menimbulkan korban penduduk sipil setidaktidaknya 26 (dua puluh enam) orang atau lebih meninggal dunia, atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan dan penuntutan, perbuatan terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur tersebut dilakukan dengan cara-cara antara lain sebagai berikut : • Bahwa bermula setelah adanya pengumuman hasil jejak pendapat pada tanggal 04 September 1999 bagi warga Timor-Timur untuk memilih tetap berintegrasi dengan pemerintah, bangsa dan negara Indonesia atau menyatakan diri ikut sebagai warga negara dari pemerintahan yang berdiri sendiri, yang ternyata dimenangkan oleh kelompok anti Integrasi (pro kemerdekaan) sehingga timbul situasi memanas dan terjadi ketegangan antara kelompok yang menyatakan anti Integrasi (pro kemerdekaan) dengan kelompok pro integrasi. • Bahwa dari situasi yang memanas setelah adanya jajak pendapat tersebut kemudian pada hari minggu pada tanggal 05 september 1999 sekira pukul 14.30 WITA setelah pengumuman hasil jajak pendapat massa kelompok pro integrasi yang mengalami kekalahan dalam pemungutan suara menduga adanya kecurangan yang dilakukan pihak UNAMET beserta kelompok kemerdekaan dalam perhitungan pemungutan suara, dimana pihak UNAMET sendiri tidak bertindak netral dalam pelaksanaan pemungutan suara. Keberatan yang diajukan massa kelompok pro integrasi yang tidak ditanggapi pihak UNAMET telah menimbulkan ketidakpuasan massa kelompok pro integrasi dan sebagai pelampiasan ketidakpuasan tersebut terjadi penyerangan ke Diosis Dilli, yang dilakukan oleh anggota Milisi , Pasukan TNI dan anggota POLRI terhadap kelompok pro kemerdekaan yang mengungsi dan berlindung di Diosis Dilli dengan cara menembak menggunakan senjata apai, senjata api rakitan, melakukan penusukan dan pembacokan dengan menggunakan parang dan samurai terhadap para pengungsi dari kelompok massa pro kemerdekaan yang sedang berlindung di Kantor Diosis Dilli. • Bahwa penyerangan ini telah dilaporkan oleh Dandim Dilli maupun Anggota Kodim Dilli yang bertugas di lapangan kepada terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur, namun pihak Danrem dan aparat lainnya tidak melakukan tindakan lokalisir bahkan tidak melakukan pencegahan maupun tindakan penghentian atas serangan yang dilakukan oleh Anggota Milisi, pasukan TNI dan Anggota POLRI terhadap kelompok pro Kemerdekaan atau setidak-tidaknya pihak Korem 164 Wira Dharma Timor-Timur atau aparat lainnya tidak berusaha melakukan tindakan perampasan atau pelucutan atas senjata tajam maupun senjata api rakitan yang dibawa oleh kelompok penyerang sehingga akibat kejadian tersebut telah jatuh korban penduduk sipil setidak-tidaknya 3 (tiga) orang atau lebih meninggal dunia yang masing-masing bernama : 1. Jose malton Da Costa. 2. Fransisco. 3. Engenio Da Costa. Dan Kantor Diosis Dilli dirusak serta di bakar. • Bahwa pada hari Senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 09.15 WITA massa kelompok pro integrasi, anggota milisi, pasukan TNI dan anggota Polisi dengan dilengkapi senjata tajam, senjata api dan senjata api rakitan melakukan aksi ketidakpuasan mereka terhadap hasil jejak pendapat dan bergerak menuju tempat kediaman saksi Mgr CARLOS FILPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli yang mereka ketahui sebagai tempat mengungsi dan berlindung massa kelompok pro kemerdekaan yang terdiri dari penduduk sipil. Setiba ditempat kediaman skasi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO), kelompok integrasi, pasukan milisi, pasukan TNI dan anggota Polri menembaki rumah saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) lalu mereka memaksa pengungsi dari kelompok pro kemerdekaan yang sedang berlindung di rumah saksi Mgr. CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) untuk keluar rumah, setelah para pengungsi dari kelompok kemerdekaan keluar dan berkumpul di taman Bunda Maria di depan rumah saksi Mgr. CARLOS FILPE XIMENES BELO (USKUP BELO) tidak lama kemudian terdengar suara teriakan “serang” lalu kelompok pro integrasi, anggota milisi, pasukan TNI dan anggota Polri melakukan penyerangan dengan cara menembaki para pengungsi dari kelompok pro kemerdekaan, mengakibatkan korban penduduk sipil setidak-tidaknya 10 (sepuluh) orang atau lebih meninggal dunia di mana salah seorang diantaranya bernama NUNU disamping itu mereka juga melakukan pengrusakan serta membakar rumah saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES (USKUP BELO). • Bahwa sebelum kejadian penyerangan tersebut Saksi Mgr. CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) pada tanggal 06 September 1999 pagi hari meemanggil saksi MANUEL ABRANTES untuk bersama-sama ke Korem, setibanya di Korem Saksi MANUEL ABRANTES dan Saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menuju ke ruang tunggu di lantai dasar, tidak berapa lama Danrem 164 Wira Dharma Timor0Timur yaitu terdakwa M. NOER MUIS turun dari lantai II untuk menerima kedatangan mereka, lalu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENE BELO (USKUP BELO) mengatakan kepada Danrem “bahwa kedatangan kami Bapak Komandan karena situasi keamanan di Kota Dilli sangat mencekam karena tembakan dan sudah abnyak pengungsi datang ke rumah USKUP, jadi bagaimana bisa, menghentikan tembakan-tembakan itu, bisa kembali aman, normal “ kemudian terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur mengatakan “yang mulia Bapak USKUP kita ke lapngan saja sekaligus menyampaikannya kepada Bapak Pangab/Menhankam yang akan datang dari Jakarta” kemudian merekapun ikut ke lapangan terbang Comoro untuk menyambut tamu-tamu penting dari Jakarta yang antara lain Pangab/Menhankam Jendral WIRANTO; • Setelah itu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menyampaikan pertanyaan kepada Jendral WIRANTO “Apakah Bapak bisa memulihkan situasi kemanan dan memerintahkan untuk dikeluarkan rintanganrintangan (halangan-halangan) yang banyak di jalan berupa kayu dan juga para milisi itu sendiri yang mengambilalih keamanan di jalan-jalan serta memeriksa setiap orang yang lewat jalan itu kalau ada pro kemerdekaan yang lewat” Jenderal WIRANTO sambil menunjuk ke arah terdakwa M NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur berkata “pak Danrem ini perintah untuk anda, keluarkan milisi itu dan kembalikan keadaan normal” , Kapolda TimorrTimur ada di belakang saksi saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) waktu itu, disampingnya ada Wakapolda dan beberapa Polisi berpangkat Kolonel, selanjutnya saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) untuk kedua kalinya berbicara agar Pak Jendral memulihkan situasi kemanan di Timor-timur khususnya Dilli, agar milisi dikendalikan dan rintangan-rintangan yang ada di jalan dilepaskan, Jendral WIRANTO menjawab “Ya USKUP” sehingga dengan demikian terdakwa selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur mengetahui adanya konsentrasi penduduk sipil yang mengungsi di rumah kediaman saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENS BELO (USKUP BELO). • Bahwa sebelum terjadi penyerangan tersebut saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) pada tanggal 06 September 1999 sesudah makan pagi sebelum terjadi penyerangan menelpon ke Kapolda Timor-Timur (TIMBUL SILAEN) minta truck untuk mengevakuasi pengungsi dari Dilli ke Bau Cau, kemudian Kapolda Timor-Timur TIMBUL SILAEN bilang “lebih baik USKUP telpon langsung kepada Danrem” , lalu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menelpon ke terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur dan minta truck serta perlindungan, tapi terdakwa M NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur hanya menjawab “tidak ada kendaraan” namun permintaan saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) tersebut tidak dipenuhi oleh terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur. • Bahwa pada hari Senin Tanggal 06 September sekira pukul 13.30 WITA massa kelompok masyarakat pro integrasi yaitu anatara lain Izedio Manek, Olivio Mendoza Moruk alaias Olivia Mou, Martinus Bere Motornus dan Vasco Da Cruz yang tergabung dalam Milisi Laksaur di bawah pimpinan Olivio Moruk, pasukan TNI dan anggota Polri melakukan tindakan penyerangan terhadap penduduk sipil termasuk para Biarawan dan Biarawati yang mengungsi dan berada di dalam Komplek gereja Ave Maria Suai dengan menggunakan senjata api anatara lain jenis laras panjang (sejenis M-16) maupun senjata api rakitan serta dengan menggunakan senjata tajam tanpa adanya suatu tindakan pencegahan ataupun tindakan penghentian dari aparat keamanan khusunya Kodim Suai dan Korem 164 Wira Dharma Timor-Timur di bawah Komando terdakwa M NOER MUIS sehingga akibat kejadian tersebut jatuh korban penduduk sipil setidak-tidaknya 26 (duapuluh enam) orang atau lebih meninggal dunia yang terdiri dari 17 (tujuh belas) orang laki-laki dan 9 (sembilan) orang perempuan , anatara lain : 1. ROMO TARSIUS DEWANTO , sesuai Visum Et Repertum Nomor: 002//T.T.3002/SK II/XI/1999 tanggal 30 November 1999 yang dibuat oleh dr. Budi Sampurna, SH Spf. Dr Herkuntanto, SH, Spf dan dr. Agung Widjajanto, Tim dokter Forensik dari bagian Ilmu kedokteran Forensik Fakultas Kedikteran Universitas Indonesia RSUP Nasional Dr Cipto Mangungkusumo Jl Salemba Raya 6 Jakarta Pusat. 2. ROMO HILARIO MADEIRA , sesuai Visum Et Repertum Nomor: 002//T.T.3002/SK II/XI/1999 tanggal 30 November 1999 yang dibuat oleh dr. Budi Sampurna, SH Spf. Dr Herkuntanto, SH, Spf dan dr. Agung Widjajanto, Tim dokter Forensik dari bagian Ilmu kedokteran Forensik Fakultas Kedikteran Universitas Indonesia RSUP Nasional Dr Cipto Mangungkusumo Jl Salemba Raya 6 Jakarta Pusat. 3. ROMO FRANSISCO SOARES , sesuai Visum Et Repertum Nomor: 003//T.T.0032/SK II/Xi/1999 tanggal 30 Nopember 1999 yang di buat oleh dr. Budi Sampurna, SH Spf. Dr Herkuntanto, SH, Spf dan dr. Agung Widjajanto, Tim dokter Forensik dari bagian Ilmu kedokteran Forensik Fakultas Kedikteran Universitas Indonesia RSUP Nasional Dr Cipto Mangungkusumo Jl Salemba Raya 6 Jakarta Pusat. Dan korban yang meninggal dunia lainnya sesuai Visum et Repertum Nomor 004//T.T.3002/SK II/XI/1999 tanggal 30 Nopember 1999 sampai dengan Nomor 026//T.T.3003/SK II/XI/1999 tanggal 30 Nopember 1999 yang terhimpun di dalam Laporan penggalian Kuburan dan pemeriksaan Jenasah Nomor : T.T.3002 /SK II/XI/1999. • Bahwa terdakwa mengetahui atau atas darasr keadaan pada waktu itu seharusnya mengetahui selaku Komandan Resort militer 164 Wira Dharma Timuor-Timur sedang adanya serangan atau baru saja terjadi serangan yang merupakan pelanggaran Hak asasi manusia yang berat yang meluas dan sistematik terhadap penduduk sipil yang mengungsi ke kantor Diosis Dilli dandi rumah kedianan saudara saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) serta di Gereja Ave Maria Suai, namun terdakwa tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekeuasaannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut dan terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur tidak menyerahkan pelaku yang melakukan penyerangan terhadap penduduk sipil yang mengungsi ke kantor Diosis Dilli, dan di rumah kediaman saksi Mgr Carlos FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli serta di Gereja Ave Maria Suai kepada pejabatan yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. • Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 42 Ayat (1) huruf a dan b. jo Pasal 7 Huruf b .jo Pasal 37 Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. DAN KEDUA : Bahwa ia terdakwa M. NOER MUIS, selaku komandang Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timu, pada kurun waktu antara tanggal 13 Agustus 1999 sampai dengan tanggal 30 Maret 2000 dan membawahi 13 (tiga belas) KODIM yaitu : 11. Kodim Los Palos dengan Dandim 12. Kodim Baucau dengan Dandim 13. Kodim Viqueque dengan Dandim 14. Kodim Manatuto dengan Dandim 15. Kodim Dilli dengan Dandim 16. Kodim Aileu dengan Dandim 17. Kodim Same dengan Dandim 18. Kodim Liquisa dengan Dandim 19. Kodim Ermera dengan Dandim 20. Kodim Maliana dengan Dandim : : : : : : : : : : Letkol Inf Sudrajat Letkol Art Richard Hutajulu Letkol Inf Gustaf Heru Letkol Art Lexi Ponton Letkol Inf Sujarwo Letkol Inf Maman Rahman Letkol Inf Suwondo Letkol Inf Asep Kuswani Letkol Inf Muhamad Nur Letkol Kav Siagian kemudian diganti dengan Letkol Inf B Suprianto : Letkol Inf Gatot Rusdiyanto : Letkol Inf Ahmad Mas Agung diganti oleh Letkol Czi Lilik Kushadianto. : Letkol Art B Sungesti 11. Kodim Ainaro dengan Dadim 12. Kodim Suai dengan Dandim 13. Kodim Ambeno dengan Dandim Serta mempunyai tugas pokok, wewenang, dan tanggungjwab yaitu membina potensi geografi, demografi dan kondisi sosial diwilayah untuk menjadi ruang, alat dan kondisi juang sehingga mampu mendukung sistem pertahanan di wilayah dalam rangka mendukung sistem pertahanan Kodam. Khusus di Timor-Timur pada pelaksanaan jejak pendapat adalah mensukseskan jajak pendapat tahun 1999; dapat berkoordinasi dengan unsur-unsur kemanan, unsur-unsur Pemda dan unsur lainnya baik daripemerintah Indonesia maupun Institusi Internasional lainnya yang ada di Timor-Timur (UNAMET, CIPPOL, UMNO, UNHCR, ICRC) dalam rangka mensukseskan Jajak Pendapat 1999 dan bertanggungjawab kepada Pangdam IX/Udayanan selaku Pangkoops dalam rangka mensukseskan pelaksanaan jajak pendapat sesuai dengan rincian tugas yang diberikan, akan tetapi tugas pokok, wewenang dan tanggungjawab tersebut tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya yaitu pada hari Minggu tanggal 5 September 1999 sekira pukul 14.30 WITA dan hari senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 19.15 WITA serta hari senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 13.30 WITA atau setidak tidaknya pada waktu lain dalam bulan September 1999, bertempat di Diosis Dilli dan di rumah kediaman Saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli serta di gerjea Ave Maria Suai atau setidak-tidaknya di suatu tempat lain yang masih termasuk dalam daerah hukum pengadilan Negeri Dilli Timor-Timur, namun berdasarkan pasal 2 Keppres RI No 96 Tahun 2001 tanggal 01 Agustus 2001 tentang perubahan atas Keppres No 53 Tahun 2001 tentang pembentukan Pengadilan Hak Asasi Manusia Ad Hoc pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berwenang memeriksa dan memutus perkara ini , terdakwa M NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur atau yang secara efektif bertindak sebagai Komandan Militer dapat di pertanggungjawabkan terhadap tindak pidana yang berada di dalamn yuridiksi Pengadilan HAM, yang dilakukan oleh pasukan yang berada di bawah Komando dan pengendaliannya yang efektif karena terdakwa selaku atasan yang membwahi Kodim Dilli dan Kodim Suai berikut jajarannya, atau di bawah kekeuasaan dan pengendaliannya yang efektif dan tindak pidana tersebut merupakan akibat dari tidak dilakukan pengendalian pasukan secara patut yaitu terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Tim-Tim, mengetahui atau atas dasar keadaan saat itu seharusnya mengetahui bahwa pasukan tersebut sedang melakukan atau baru saja melakukan pelanggaran Hak Asasi Manusia yang berat yaitu kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukan sebagai bagian dari serangan dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahui oleh terdakwa bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa tidak melakukan tindakan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa bahwa serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil berupa pembunuhan dan terdakwa tidak melakukan tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekuasaannya baik untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut sehingga terjadi penyerangan ke Diosis Dilli yang mengakibatkan jatuh korban pensusuk sipil setidak-tidaknya 4 (empat) orang atau lebih menderita luka-luka dan pengrusakan serta pembakaran rumah kediaman saksi Mgr CARLOS FLIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) yang menimbulkan korban penduduk sipil setidak-tidak 1 (satu) orang atau lebih menderita luka-luka atau menyerahkan pelakunya kepada pejabat yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan, perbuatan terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur tersebut dilakukan dengan cara-cara antara lain sebagai berikut : • Bahwa bermula setelah adanya pengumuman hasil jejak pendapat pada tanggal 4 September 1999 bagi warga Timor-Timur untuk memilih tetap berintegrasi dengan pemerintah, bangsa dan negara Indonesia atau menyatakan diri ikut sebagai warga negara dari pemerintahan yang berdiri sendiri, yang ternyata dimenangkan oleh kelompok anti Integrasi (pro kemerdekaan) sehingga timbul situasi memanas dan terjadi ketegangan antara kelompok yang menyatakan anti Integrasi (pro kemerdekaan) dengan kelompok pro integrasi. • Bahwa dari situasi yang memanas setelah adanya jajak pendapat tersebut kemudian pada hari minggu pada tanggal 05 september 1999 sekira pukul 14.30 WITA setelah pengumuman hasil jajak pendapat massa kelompok pro integrasi yang mengalami kekalahan dalam pemungutan suara menduga adanya kecurangan yang dilakukan pihak UNAMET beserta kelompok kemerdekaan dalam perhitungan pemungutan suara, dimana pihak UNAMET sendiri tidak bertindak netral dalam pelaksanaan pemungutan suara. Keberatan yang diajukan massa kelompok pro integrasi yang tidak ditanggapi pihak UNAMET telah menimbulkan ketidakpuasan massa kelompok pro integrasi dan sebagai pelampiasan ketidakpuasan tersebut terjadi penyerangan ke Diosis Dilli, yang dilakukan oleh anggota Milisi , Pasukan TNI dan anggota POLRI terhadap kelompok pro kemerdekaan yang mengungsi dan berlindung di Diosis Dilli dengan cara menembak menggunakan senjata api, senjata api rakitan, melakukan penusukan dan pembacokan dengan menggunakan parang dan samurai terhadap para pengungsi dari kelompok massa pro kemerdekaan yang sedang berlindung di Kantor Diosis Dilli. • Bahwa penyerangan ini telah dilaporkan oleh Dandim Dilli maupun Anggota Kodim Dilli yang bertugas di lapangan kepada terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur, namun pihak Danrem dan aparat lainnya tidak melakukan tindakan lokalisir bahkan tidak melakukan pencegahan maupun tindakan penghentian atas serangan yang dilakukan oleh Anggota Milisi, pasukan TNI dan Anggota POLRI terhadap kelompok pro Kemerdekaan atau setidak-tidaknya pihak Korem 164 Wira Dharma Timor-Timur atau aparat lainnya tidak berusaha melakukan tindakan perampasan atau pelucutan atas senjata tajam maupun senjata api rakitan yang dibawa oleh kelompok penyerang sehingga akibat kejadian tersebut telah jatuh korban penduduk sipil setidak-tidaknya 4 (empat) orang atau lebih menderita luka-luka yaitu : 1. Nelio Mesquito Da Costa Rego. 2. Nonato Soares. 3. Joao Bernadino Soares. 4. Vivcente A.G Sousa Dan Kantor Diosis Dilli dirusak serta di bakar. • Bahwa pada hari Senin tanggal 06 September 1999 sekira pukul 09.15 WITA massa kelompok pro integrasi, anggota milisi, pasukan TNI dan anggota Polisi dengan dilengkapi senjata tajam, senjata api dan senjata api rakitan melakukan aksi ketidakpuasan mereka terhadap hasil jejak pendapat dan bergerak menuju tempat kediaman saksi Mgr CARLOS FILPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli yang mereka ketahui sebagai tempat mengungsi dan berlindung massa kelompok pro kemerdekaan yang terdiri dari penduduk sipil. Setiba ditempat kediaman skasi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO), kelompok integrasi, pasukan milisi, pasukan TNI dan anggota Polri menembaki rumah saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) lalu mereka memaksa pengungsi dari kelompok pro kemerdekaan yang sedang berlindung di rumah saksi Mgr. CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) untuk keluar rumah, setelah para pengungsi dari kelompok kemerdekaan keluar dan berkumpul di taman Bunda Maria di depan rumah saksi Mgr. CARLOS FILPE XIMENES BELO (USKUP BELO) tidak lama kemudian terdengar suara teriakan “serang” lalu kelompok pro integrasi, anggota milisi, pasukan TNI dan anggota Polri melakukan penyerangan dengan cara menembaki para pengungsi dari kelompok pro kemerdekaan, mengakibatkan korban penduduk sipil setidak-tidaknya 10 (sepuluh) orang atau lebih meninggal dunia di mana salah seorang diantaranya bernama NUNU disamping itu mereka juga melakukan pengrusakan serta membakar rumah saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES (USKUP BELO). • Bahwa sebelum kejadian penyerangan tersebut Saksi Mgr. CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) pada tanggal 06 September 1999 pagi hari meemanggil saksi MANUEL ABRANTES untuk bersama-sama ke Korem, setibanya di Korem Saksi MANUEL ABRANTES dan Saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menuju ke ruang tunggu di lantai dasar, tidak berapa lama Danrem 164 Wira Dharma Timor0Timur yaitu terdakwa M. NOER MUIS turun dari lantai II untuk menerima kedatangan mereka, lalu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENE BELO (USKUP BELO) mengatakan kepada Danrem “bahwa kedatangan kami Bapak Komandan karena situasi keamanan di Kota Dilli sangat mencekam karena tembakan dan sudah abnyak pengungsi datang ke rumah USKUP, jadi bagaimana bisa, menghentikan tembakan-tembakan itu, bisa kembali aman, normal “ kemudian terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur mengatakan “yang mulia Bapak USKUP kita ke lapngan saja sekaligus menyampaikannya kepada Bapak Pangab/Menhankam yang akan datang dari Jakarta” kemudian merekapun ikut ke lapangan terbang Comoro untuk menyambut tamu-tamu penting dari Jakarta yang antara lain Pangab/Menhankam Jendral WIRANTO; • Setelah itu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menyampaikan pertanyaan kepada Jendral WIRANTO “Apakah Bapak bisa memulihkan situasi kemanan dan memerintahkan untuk dikeluarkan rintanganrintangan (halangan-halangan) yang banyak di jalan berupa kayu dan juga para milisi itu sendiri yang mengambilalih keamanan di jalan-jalan serta memeriksa setiap orang yang lewat jalan itu kalau ada pro kemerdekaan yang lewat” Jenderal WIRANTO sambil menunjuk ke arah terdakwa M NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur berkata “pak Danrem ini perintah untuk anda, keluarkan milisi itu dan kembalikan keadaan normal” , Kapolda TimorrTimur ada di belakang saksi saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) waktu itu, disampingnya ada Wakapolda dan beberapa Polisi berpangkat Kolonel, selanjutnya saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) untuk kedua kalinya berbicara agar Pak Jendral memulihkan situasi kemanan di Timor-timur khususnya Dilli, agar milisi dikendalikan dan rintangan-rintangan yang ada di jalan dilepaskan, Jendral WIRANTO menjawab “Ya USKUP” sehingga dengan demikian terdakwa selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur mengetahui adanya konsentrasi penduduk sipil yang mengungsi di rumah kediaman saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENS BELO (USKUP BELO). • Bahwa sebelum terjadi penyerangan tersebut saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) pada tanggal 06 September 1999 sesudah makan pagi sebelum terjadi penyerangan menelpon ke Kapolda Timor-Timur (TIMBUL SILAEN) minta truck untuk mengevakuasi pengungsi dari Dilli ke Bau Cau, kemudian Kapolda Timor-Timur TIMBUL SILAEN bilang “lebih baik USKUP telpon langsung kepada Danrem” , lalu saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) menelpon ke terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur dan minta truck serta perlindungan, tapi terdakwa M NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur hanya menjawab “tidak ada kendaraan” namun permintaan saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) tersebut tidak dipenuhi oleh terdakwa M. NOER MUIS selaku Danrem 164 Wira Dharma Timor-Timur. • Bahwa terdakwa mengetahui atau atas dasar keadaan pada waktu itu seharusnya mengetahui selaku Komandan Resort militer 164 Wira Dharma Timuor-Timur sedang adanya serangan atau baru saja terjadi serangan yang merupakan pelanggaran Hak asasi manusia yang berat yang meluas dan sistematik terhadap penduduk sipil yang mengungsi ke kantor Diosis Dilli dan di rumah kedianan saudara saksi Mgr CARLOS FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) serta di Gereja Ave Maria Suai, namun terdakwa tidak mengambil tindakan yang layak dan diperlukan dalam ruang lingkup kekeuasaannya untuk mencegah atau menghentikan perbuatan tersebut dan terdakwa M. NOER MUIS selaku Komandan Resort Militer 164 Wira Dharma Timor-Timur tidak menyerahkan pelaku yang melakukan penyerangan terhadap penduduk sipil yang mengungsi ke kantor Diosis Dilli, dan di rumah kediaman saksi Mgr Carlos FILIPE XIMENES BELO (USKUP BELO) di Dilli serta di Gereja Ave Maria Suai kepada pejabatan yang berwenang untuk dilakukan penyelidikan, penyidikan dan penuntutan. • Sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam pasal 42 Ayat (1) huruf a dan b. jo Pasal 7 Huruf b .jo Pasal 9 huruf h jo Pasal 40 Undang-Undang Nomor 26 tahun 2000 tentang Pengadilan Hak Asasi Manusia. Jakarta 2 Juli 2002 JAKSA Penuntut Umum Ad Hoc WIDODO SUPRIADY, SH, MM Jaksa Muda NIP 230014543 Jaksa Penuntut Umum Ad Hoc Pengganti Diah Srikanti, SH. MH Jaksa Muda NIP 230019937

Related docs
SURAT
Views: 31  |  Downloads: 0
CONTOH SURAT PERJANJIAN MEMBINA RUMAH
Views: 831  |  Downloads: 37
surat
Views: 70  |  Downloads: 3
SURAT MEMO
Views: 367  |  Downloads: 11
Format Lamaran Pekerjaan
Views: 202  |  Downloads: 14
Surat__Gujarat
Views: 83  |  Downloads: 1
Surat Kuasa
Views: 11893  |  Downloads: 203
surat dikcam2
Views: 0  |  Downloads: 0
surat pengalaman kerja
Views: 930  |  Downloads: 23
AGENDA SURAT MASUK DEPARTEMEN AGAMA
Views: 78  |  Downloads: 2
Surat Izin Usaha Perdagangan (SIUP)
Views: 331  |  Downloads: 5
premium docs
Other docs by donni setiawan
UU RI No 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan
Views: 2036  |  Downloads: 75
Akta Pendirian PT
Views: 1909  |  Downloads: 176
Akta Pendirian CV
Views: 2065  |  Downloads: 182
Surat Pengakuan Hutang
Views: 1907  |  Downloads: 168
UU RI No 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan Syariah
Views: 1026  |  Downloads: 40
UU RI No 5 Tahun 1997 Tentang Psikotropika
Views: 823  |  Downloads: 35
RUU Pornigrafi
Views: 349  |  Downloads: 21
Surat Gugatan Perceraian
Views: 5076  |  Downloads: 160
Surat Gugatan Sederhana
Views: 3485  |  Downloads: 152
Surat Kuasa
Views: 11893  |  Downloads: 203
Perjanjian Sewa Menyewa Tanah
Views: 6754  |  Downloads: 435
Perjanjian Sewa Menyewa
Views: 6615  |  Downloads: 349
Logo UCY
Views: 46  |  Downloads: 0