KAJIAN BUDIDAYA TANAMAN PADI PADA LAHAN MARGINAL DI BAWAH

Document Sample
KAJIAN BUDIDAYA TANAMAN PADI PADA LAHAN MARGINAL DI BAWAH Powered By Docstoc
					KAJIAN BUDIDAYA TANAMAN PADI PADA LAHAN MARGINAL DI BAWAH JAMBU
                    METE DI LOMBOK BARAT NTB

                                     Sudarto, Arif S. dan Putu Cakra
                                 Balai Pengkajian Teknologi Pertanian NTB


                                                   ABSTRAK

           Luas areal pertanaman jambu mete di Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat seluas 21.252,16 ha yang
terdiri dari tanaman belum menghasilkan (TBM): 11.936,87 ha, tanaman menghasilkan (TM): 6.630,88 ha dan tanaman
rusak/mati (TR) : 2.684,41 ha. Untuk mengoptimalkan pemanfaatan lahan diantara tanaman jambu mete pada musim
hujan, petani biasanya mengusahakan tanaman pangan diantaranya tanaman padi gogo. Jenis padi yang ditanam seperti
IR 64 dan ada beberapa petani yang menanam padi lokal. Jenis padi IR 64 yang ditanam di NTB akhir-akhir ini diketahui
sangat rentan terhadap serangan virus penyakit tungro, sehingga seringkali gagal panen. Untuk mengantisipasi
perkembangan virus tungro, maka diintroduksikan jenis padi lain yaitu padi varietas Situbagendit. Pengkajian tanaman
padi pada lahan marginal di bawah tanaman jambu mete dilakukan pada tahun 2004 yang mencangkup luasan 10 ha
dengan melibatkan 20 KK sebagai petani kooperator dan dilakukan secara on farm research (OFR), menggunakan lahan
petani, kerjasama dengan petani serta operasionalnya dilapangan mendapat bimbingan langsung dari petugas lapang yang
dibantu oleh peneliti/penyuluh. Hasil pengkajian menunjukkan secara agronomi pertumbuhan padi varietas Situbagendit
relatif lebih baik untuk parameter tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah, berat 1000 biji dan produksi
yang dihasilkan. Selain itu varietas Situbagendit juga relatif tahan terhadap kekeringan dan naungan pohon jambu mete
dibanding dengan padi IR64, begitu pula produksi yang dihasilkan juga tampak lebih tinggi yaitu sebanyak 2.957 kg/ha
kering panen dibanding 1.721 kg/ha kering panen. Keuntungan bersih petani yang diperoleh adalah padi varietas
Situbagendit mencapai Rp. 1.314.500,- dengan B/C ratio 0,80%.
Kata kunci : budidaya, padi, jambu mete, lahan marginal



                                               PENDAHULUAN

         Luas areal pertanaman jambu mete di Nusa Tenggara Barat sampai sekarang tercatat
55.440,16 ha yang tersebar diseluruh kabupaten dan diusahakan pada lahan kering. Luas areal
tanaman jambu mete di Kabupaten Lombok Barat seluas 21.252,16 ha (38,33%); Lombok Tengah
seluas 3.390,00 ha (06,11%); Lombok Timur seluas 4.238 ha (07,64%); Sumbawa seluas 9.201 ha
(16,59%); Dompu seluas 12.964 ha (23,38%); dan Kabupaten Bima seluas 4.395 ha (07,92%)
(BPS, 2003; Disbun NTB, 2003). Luas areal pertanaman jambu mete di Kabupaten Lombok Barat
rata-rata berumur 6 tahun dan dalam pengelolaannya kebanyakan petani masih tradisional baik
tanaman jambu mete sebagai tanaman pokok maupun tanaman semusim sebagai tanaman sela.
Tanaman sela yang biasa diusahakan oleh petani selain tanaman palawija juga tanaman padi.
Sjafrudin et.al (1996) menyatakan pada umumnya petani membudidayakan tanaman jambu mete
masih tradisional dan ditanam secara monokultur. Untuk mengoptimalkan lahan di bawah tanaman
jambu mete dan memberi nilai tambah yang dapat meningkatkan pendapatan petani dapat
diusahakan tanaman semusim yang tahan kekeringan. Tanaman padi (jenis padi gogo) merupakan
salah satu tanaman yang dapat diusahakan di antara tanaman jambu mete. Untuk memperkecil
kompetisi kedua jenis tanaman tersebut jarak tanam harus diatur sedemikian rupa sehingga
memberi ruang bagi tanaman padi untuk memperoleh persyaratan tumbuh yang optimal. Budidaya
tanaman padi pada areal perkebunan jambu mete diharapkan menjadi peluang kedua setelah
persawahan tadah hujan dalam mendukung swasembada pangan yaitu melalui penerapan sistem
pertanian padi pada lahan kering di bawah jambu mete. Dinas Perkebunan Propinsi Nusa Tenggara
Barat (2003); Dinas Pertanian Tanaman Pangan Nusa Tenggara Barat (2003) melaporkan luas areal
tanaman padi gogo di Nusa Tenggara Barat baru mencapai 13.958 ha, dan peluang perluasan areal
sekitar 112.432 ha (Abdulgani, 1990). Jumlah produksi tanaman padi gogo mencapai 23.646 ton
dengan rata-rata produksi 1,6 ton per hektar, produksi ini ternyata masih lebih rendah dari pada
produksi nasional yaitu 1,7 ton per hektar.(Ma’shum, et.al.).
        Dari kenyataan di atas menunjukkan bahwa peluang uuntuk meningkatkan produksi padi
melalui penerapan beberapa komponen teknologi masih memungkinkan seperti penggunaan
varietas baru. Budidaya padi sistem gogo pada lahan kering merupakan salah satu alternatif
pengembangan padi dengan memanfaatkan curah hujan yang ada, sehingga pada sistem tanam padi
gogo pengolahan tanah dan tanam dilakukan sebelum musim penghujan dengan demikian
kebutuhan air selama pertumbuhannya dapat terpenuhi.


                                  BAHAN DAN METODA

        Pengkajian dilakukan secara on farm reseach di lahan petani, melibatkan petani secara
aktif dan berlokasi di dusun Lembah Pedik desa Akar-Akar kecamatan Bayan, pada areal seluas
10 ha pada lahan kering di bawah perkebunan jambu mete dengan melibatkan 20 KK sebagai
petani kooperator. Pengkajian dilakukan pada bulan Januari sampai dengan bulan Mei 2004.
Pendekatan yang digunakan adalah zero one relationship approach dengan mengelompokan petani
dalam dua kelompok yaitu petani kooperator sebagai pengguna teknologi introduksi dan petani non
kooperator (existing technology) (Manwan dan Oka, 1991).
         Paket teknologi yang dikaji meliputi: penggunaan benih unggul Situbagendit, pengolahan
tanah, jarak tanam teratur, pemupukan berimbang, pengendalian hama dan penyakit serta panen.
        Pengolahan tanah dilakukan dua kali dengan cara dibajak dengan ternak sapi, bajak
pertama dengan maksud membalik tanah kemudian bajak ke dua meratakan tanah, dan pengolahan
tanah tersebut dilakukan sebelum musim hujan.
        Benih padi yang digunakan sebanyak 30 kg per hektar. Penanaman dilaksanakan sebelum
hujan turun (nadong bahasa lokal) dengan sistem tugal 5 biji/lubang. Jarak tanam yang digunakan
20 x 20 cm membujur arah timur-barat. Jarak dari tanaman jambu mete 2 meter.
        Jenis pupuk yang digunakan urea 200 kg, SP-36 100 kg dan KCl 75 kg per hektar. Pada
pemupukan pertama dosis pupuk yang digunakan urea 75 kg ditambah seluruh dosis pupuk SP-36
dan KCl, sedangkan pupuk susulan urea diberikan pada tanaman menjelang primordia dengan
dosis 125 kg (sisanya).
        Penyiangan dilakukan dua kali dan penyiangan selanjunya tergantung pada pertumbuhan
gulma. Pengendalian hama dan penyakit menggunakan kosep pengendalian hama terpadu (PHT),
apabila tingkat serangan hama di atas ambang ekonomi untuk itu monitoring terhadap populasi
serangan, kelompok telur dan intensitas serangan perlu dilakukan.
        Jenis data yang diamati adalah data agronomi dan sosial ekonomi. Data agronomi terdiri
dari tinggi tanaman, jumlah anakan produktif, jumlah gabah dan berat 1000 biji. Data sosial
ekonomi meliputi jenis, jumlah dan harga input produksi, tenaga kerja dan harga satuan hasil.
Untuk mengetahui tingkat pendapatan yang diperoleh petani yang menerapkan paket teknologi
introduksi (petani kooperator) dan pendapatan yang diperoleh petani non koperator digunakan
analisa pendapatan terhadap biaya produksi (B/C ratio) (Husni Malian, 2004).


                                HASIL DAN PEMBAHASAN

Keragaan Agronomi
       Untuk mengukur komponen hasil tanaman padi pada masa pertumbuhannya data-data
agronomi yang dikumpulkan meliputi tinggi tanaman (cm), jumlah anakan produktif (batang),
jumlah gabah (biji), berat 1000 biji (gram) dan produksi (kg/ha).
        Hasil pengukuran parameter pertumbuhan dan hasil pada Tabel 1 terlihat bahwa paket
teknologi yang diintroduksikan pada petani kooperator ada kecenderungan hasil yang diperoleh
lebih baik dibanding dengan teknologi petani non kooperator. Hal ini menunjukkan bahwa peran
dari pemupukan lengkap dan berimbang N, P dan K merupakan unsur hara esensial yang sangat
diperlukan oleh tanaman selama fase pertumbuhannya. Pertumbuhan tanaman berlangsung normal
yang secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap komponen produksi. Bila kekurangan
salah satu unsur tersebut terjadi maka akan menyebabkan tanaman tumbuh tidak normal karena
unsur hara ini diperlukan sebagai sumber energi dalam proses metabolisme (Nurita dan Anwar,
1999). Selanjutnya De Data (1987) menyatakan bahwa nitrogen pada tanaman padi berperan
dalam hal: a) meningkatkan tinggi dan jumlah anakan; b) meningkatkan ukuran daun dan jumlah
gabah; c) meningkatkan jumlah butir gabah per malai; dan d). meningkatkan persentase gabah
bernas. Peranan unsur hara fosfor antara lain: a) mendorong perkembangan akar tanaman; b)
mendorong pembungaan lebih awal; c) mendorong perkembangan akar; dan d) mendorong
perkembangan gabah dan menghasilkan pangan yang bermutu. Sedangkan peranan unsur kalium
antara lain: a) mendorong pembentukan anakan; b) meningkatkan ukuran dan berat gabah; c)
meningkatkan respon terhadap fosfor; dan d) memainkan peranan penting dalam proses-proses
fisiologi tanaman termasuk membuka dan menutupnya stomata dan ketahanan terhadap kondisi
iklim yang tidak menguntungkan.
Tabel 1. Keragaan agronomi kajian budidaya tanaman padi pada lahan marginal dibawah jambu mete di Lombok
         Barat, 2004.

             Parameter                    Teknologi introduksi                  Teknologi petani
  - Tinggi tanaman (cm)                                  55,87                            56,42
  - Jumlah anakan produktif (btg)                        19,24                            17,86
  - Jumlah gabah (biji)                                 147,93                            91,26
  - Berat 1000 biji (gr)                                 16,97                            13,43
  - Produksi (kg/ha)                                  2.957,00                         1.721,00

Keragaan Ekonomi
       Penggunaan sarana produksi pada petani kooperator dan petani non kooperator disajikan
pada Tabel 2. di bawah ini.
Tabel 2. Penggunaan sarana produksi kajian budidaya tanaman padi pada lahan marginal dibawah jambu mete di
         Lombok Barat, 2004.

                                                Tekn. introduksi                    Tekn. petani
              Uraian
                                          Fisik              Biaya (Rp)       Fisik           Biaya (Rp)
  Benih (kg/ha)                            30                    150.000       30                 150.000
  Pupuk :
  - Urea (kg/ha)                          200                    300.000      250                 375.000
  - SP-36 (kg/ha)                         100                    180.000       -                     -
  - KCl (kg/ha)                            75                    142.500       -                     -
  Pestisida :
  - Matador (lt)                            -                       -          2                  270.000
  Total                                     -                    772.500       -                  795.000

         Sarana produksi yang dipergunakan oleh petani kooperator lebih lengkap dan selama
pertumbuhan gangguan hama dapat dibaikan sedangkan pada petani non kooperator serangan hama
terjadi di atas ambang ekonomi dan dilakukan penyemprotan, sehingga total biaya yang diperlukan
lebih rendah dari pada petani non kooperator. Benih yang dipergunakan relatif sama yaitu 30 kg/ha
dengan finansial sebesar Rp. 150.000,- . Introduksi pemupukan yang diaplikasikan meliputi Urea
200 kg, SP-36 100 kg dan KCl 75 kg per hektar, sedangkan petani non kooperator hanya
menggunakan Urea saja sebanyak 250 kg per hektar. Dengan perbedaan penggunaan pupuk
tersebut biaya sarana produksi petani kooperator lebih besar dibanding petani non kooperator,
sehingga produksi gabah yang diperoleh juga terdapat perbedaan (Tabel 1).
Tenaga Kerja
Tabel 3. Penggunaan tenaga kerja kajian budidaya tanaman padi pada lahan marginal dibawah jambu mete di Lombok
         Barat, 2004.

                                                 Tekn. introduksi                     Tekn. petani
               Uraian
                                            Fisik                Biaya (Rp)   Fisik           Biaya (Rp)
  -   Persiapan                                  10              100.000        10                100.000
  -   Pengolahan tanah                           16              400.000        16                400.000
  -   Tanam                                      13              130.000        13                130.000
                                              Tekn. introduksi                      Tekn. petani
               Uraian
                                            Fisik         Biaya (Rp)         Fisik           Biaya (Rp)
  - Penyiangan                                30           300.000             32                320.000
  - Pemupukan                                  6            60.000              4                 40.000
  - Pemberantasan H/P                          -                 -              4                 40.000
  - Panen                                     12           120.000             12                120.000
  Total                                       87           870.000             91                910.000

        Tenaga kerja untuk pengolahan tanah berasal dari tenaga ternak sapi sebanyak 16 pasang
dan tidak terdapat perbedaan finansial antara petani kooperator dan petani non kooperator yaitu
masing-masing sebesar Rp. 400.000,-. Tenaga kerja manusia curahan waktu diperhitungkan dalam
HOK (hari orang kerja) dengan ongkos sebesar Rp. 10.000,- per hari kecuali tenaga ternak sapi
untuk mengolah tanah dengan ongkos sebesar Rp. 25.000,- per hari perpasang. Biaya tertinggi yang
dikeluarkan adalah biaya penyiangan yang masing-masing Rp. 300.000,- untuk petani kooperator
dan Rp. 320.000,- untuk petani non kooperator. Terdapat selisih terhadap total biaya yang
dipergunakan antara petani kooperatot dan non kooperator, petani kooperator sebesar Rp. 870.000,-
dan petani non kooperator sebesar Rp. 910.000,-. Besarnya nilai tersebut terletak pada kegiatan
penyiangan dan penyemprotan hama, dimana petani non kooperator harus mengeluarkan tambahan
biaya untuk penyemprotan sebsar Rp. 40.000,-. Pendapatan usahatani yang diperoleh petani
kooperator dan petani non kooparator disajikan pada Tabel 4.
Tabel 4. Analisa usahatani kajian budidaya tanaman padi pada lahan marginal dibawah jambu mete di Lombok Barat,
         2004.

                  Uraian                            Tekn. introduksi                 Tekn. petani
  Hasil GKP (kg/ha)                                      2957                            1721
  Penerimaan (Rp/ha)                                 2.975.000                       1.721.000
  Biaya :
  - Sarana produksi (Rp/ha)                            772.500                         795.000
  - Tenaga kerja (Rp/ha)                               870.000                         910.000
  Total biaya produksi (Rp/ha)                       1.642.500                       1.705.000
  Pendapatan bersih (Rp/ha)                          1.314.500                          16.000
  B/C ratio                                               0.80                           0.009

        Penerimaan dimaksud adalah hasil yang dicapai dari setiap perlakuan dan dikalikan dengan
harga yang berlaku saat itu. Hasil yang diperoleh pada petani kooperator sebanyak 2957 kg/ha
gabah kering panen (GKP) dengan harga gabah yang berlaku pada saat panen sebesar Rp. 1.000,-
per kilogram sehingga penerimaan sebesar Rp. 2.957.000,- dan petani non kooperator hasil yang
diperoleh sebanyak 1721 kg/ha gabah kering panen dengan penerimaan sebesar Rp. 1.721.000,-.
Sedangkan pendapatan merupakan selisih dari penerimaan dengan total biaya yang digunakan
selama berlangsungnya proses produksi. Jadi pendapatan yang diperoleh petani kooperator sebesar
Rp. 1.314.500,- dan petani non kooperator sebesar Rp. 16.000,- per hektar.


                                              KESIMPULAN

1. Paket teknologi yang diintroduksikan pada petani kooperator ada kecenderungan hasil yang
   diperoleh lebih baik dibanding dengan teknologi petani non kooperator.
2. Total biaya sarana produksi petani kooperator lebih rendah dari pada petani non kooperator
   yakni masing-masing sebesar Rp. 772.500,- dan Rp. 795.000,-.
3. Biaya tenaga kerja pada petani kooperator lebih rendah dari pada petani non kooperator yakni
   masing-masing sebesar Rp. 870.000,- dan Rp. 910.000,-. Hal ini terjadi karena petani non
   kooperator ada tambahan kegiatan pada penyiangan dan pemberantasan hama.
4. Pendapatan yang diperoleh oleh petani kooperator sebesar Rp. 1.314.500,- jauh lebih besar dari
   petani non koopeator yaitu sebesar Rp. 16.000,-.
                                    DAFTAR PUSTAKA

Abdulgani, J.Y., 1990. Alternatif Teknologi Penanganan Untuk Pemanfaatan Lahan di NTB.
         Lokakarya 11-13 September 1990. Mataram. Badan Penelitian dan Pengembangan
         Pertanian. Balittan. Malang.
A. Husni Malian, 2004. Analisis Ekonomi Usahatani dan Kelayakan Finansial Teknologi Pada
         Skala pengkajian. Pusat Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Badan
         Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
BPS, 2003. Nusa Tenggara Barat Dalam Angka. Biro Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Barat.
         Mataram.
De Data, S.K., 1987. Advances in Soil ertility Research and Nitrogen Fertilizer Management For
         Low Land Rice. In Eficiency of Nitrogen Fertilizer For Rise. Los Banos. Philippines:
         International Rice Research Institute.
Disbun. 2003. Data Statistik Perkebunan Nusa Tenggara Barat. Dinas Perkebunan Provinsi Nusa
         Tenggara Barat. Mataram.
Diperta, 2003. Data Statistik Pertanian Nusa Tenggara Barat. Dinas Pertanian Provinsi Nusa
          Tenggara Barat. Mataram.
Ma’shum, M., Salim Priyatna, Rida Iswati, M. Husni Idris dan Sudarto, 1997. Optimalisasi
        Pemberian Masukan Organik, Pemupukan Nitrogen dan Fosfor Untuk Padi Gogo.
        Lembaga Penelitian Universitas Mataram Bekerja Sama dengan Proyek Penelitian
        Sistem Usahatani Nusa Tenggara/NTAADP. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian
        Naibonat. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Manwan, I. dan Made Oka, A., 1991. Konsep Penelitian Sistem Usahatani dan Penelitian
        Pengembangan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan. Badan Penelitian
        dan Pengembangan Pertanian.
Nurita dan K. Anwar, 1999. Pemanfaatan Residu Fospat pada Pertanaman Padi di Lahan Sulfat
         Masam. Simposium Penelitian Tanaman Pangan IV Bogor 22-24 Nopember 1999: 75-80
         p.
Sjafrudin, H., G. Kartono dan M. Taufiq. 1996. Keragaan Pengembangan Jambu Mete di Sulawesi
          Tenggara. Prosiding Forum Komunikasi Komoditas Jambu mete. Bogor 5-6 maret 1996.
          Balai Penelitian Tanaman rempah dan Obat. Badan Penelitian dan Pengembangan
          Pertanian.