Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

TUGAS PENGATAR KOMUNIKASI by boysumpeq

VIEWS: 4,397 PAGES: 19

									                     TUGAS PENGATAR KOMUNIKASI



                         NAMA      : SABAR

                         NIM       : 091024024

                         KELAS     : TP A 2009



JAWABAN SOAL



1. a. Komunikasi merupakan suatu proses yang vital. Mengapa dikatakan vital? Komuikasi

     merupakan suatu proses yang sangat penting dan terjadi disetiap kegiatan manusia.

     Banyak komponen atau unsur-unsur yang terjadi pada proses komunikasi tersebut.

     Dalam komunikasi kita mengenal istilah evasi, persepsi, retorika serta teknologi

     komunikasi. Unsur-unsur atau komponen yang ada tersebut dapat membangun istilah-

     istilah yang telah disebutkan tadi. Komunikasi menjadi sangat penting saat proses

     tersebut berjalan efektif dan sesuai dengan apa yang diharapkan. Banyak kegiatan

     manusia yang tidak bisa lepas dari komuikasi, bahkan saat diampun manusia sering

     berkomunikasi dengan dirinya sendiri. Dalam kehidupan sosial, komunikasi mengambil

     peran yang sangat penting, dimana komunikasi yang dilakukan oleh seseorang

     merupakan tolak ukur dari karakter yang dimiliki. Kebanyakan orang yang memiliki

     kepandaian berkomunikasi sosial biasanya dipersepsi oleh orang lain sebagai individu

     yang berkarakter baik. Inti dari komunikasi itu sendiri adalah penyaluran pesan kepada

     orang lain. Komunikasi yang efektif dan efisien dapat membuat proses penyaluran

     pesan dapat berjalan dengan baik, sehingga makna dari pesan yang disampaikan dapat

     ditangkap.
  b. Teknologi pendidikan merupakan suatu kajian baik teori maupun praktek dimana suatu

     teknologi yang ada dapat dikembangkan dan diaplikasikan sesuai dengan aspek-aspek

     yang ada guna kepentingan pendidikan. Disini komunikasi mengambil peranan sebagai

     suatu kajian ilmu yang digunakan sebagai cara atau strategi dalam penyampaian pesan

     secara efektif dan efisien. Teknologi pendidikan nantiya akan mencetak seorang

     teknolog dibidang pendidikan yang akan berada dibidang garapan seperti pembuatan

     media pembelajaran, penyusunan kurikulum pendidikan, dan kegiatan optimalisasi

     pendidikan lainnya. Dari kegiatan-kegiatan tersebut diperlukan suatu strategi agar

     pesan-pesan dari produk yang dihasilkan kita dapat dipahami oleh orang lain, khusunya

     peserta didik.

2. a. Berikut merupakan beberapa definisi komunikasi menurut para ahli:

     1) Wiliam Albig, Komunikasi adalah penyampaian lambing-lambang yang berarti

        diantara individu.

     2) Harold dan Havland, Komunikasi adalah proses dimana seseorang individu atau

        komunikator mengoverkan peransang, biasanya dengan lambing-lambang bahasa

        untuk merubah tingkah laku individu lain.

     3) D. Lawrence Kincaid dan Wilbur Schramm, Komunikasi adalah proses saling

        berbagi atau menggunakan informasi secara bersama, dan pertalian antara para

        peserta dalam proses komunikasi.

     4) Louis Forsdale, Komunikasi adalah suatu proses memberikan signal menurut aturan

        tertentu, sehingga dengan cara ini suatu system dapat didirikan, dipelihara, dan

        diubah.

     5) Brent D. Ruben, Komunikasi manusia adalah suatu proses melalui individu dalam

        hubungannya,    dalam   kelompok    dalam    organisasi   dan     dalam   masyarakat
     menciptakan,       mengirimkan,       dan      menggunakan    informasi     untuk

     mengkoordinasilingkungannya dan orang lain.

b. Menurut saya definisi komunikasi adalah suatu proses penyampaian pesan dan makna

  kepada individu atau perorangan, kelompok atau organisasi, serta masyarakat, sehingga

  menimbulkan efek bagi penerima tersebut yang dilakukan secara langsung atau tidak

  langsung serta dilakukan baik secara sadar atau tidak sadar,

  Penjelasan dari definisi saya ini adalah sebagai berikut:

  Komunikasi merupakan suatu proses untuk menyampaikan pesan baik itu berupa

  informasi, data-data, maksud atau keinginan. Pesan tersebut mengandung sebuah atau

  beberapa makna yang nantinya akan dipersepsi oleh penerima pesan. Pesan yang yang

  kita sampaikan dapat dilakukan dengan komunikasi kepada individu atau perorangan,

  kelompok atau organisasi dan masyarakat luas. Masing-masing penerima pesan tersebut

  memiliki tingkat pemahaman yang berbeda-beda, hal itu mengakibatkan efek yang

  ditimbulkan dari pesan yang kita sampaikan terhadap masing-masing individu dapat

  berbeda-beda. Namun secara umum proses komunikasi yang kita lakukan dapat

  dikatakan berhasil jika penerima pesan menerima efek dari apa yang kita sampaikan.

  Efek-efek yang dapat ditimbulkan dari proses komunikasi dapat berupa perubahan

  sikap dan perilaku, pemikiran, bahkan dapt menjadi sebuah konsep bagi orang lain, dan

  tentunya efek-efek yang ditimbulkan tersebut dapat bersifat konstruktif. Proses

  komunikasi dapat dilakukan secara langsung yakni dengan cara bertatap muka secara

  langsung baik itu secara perorangan maupun kelompok, sedangkan secara tidak

  langsung kita dapat menggunakan alat atau media yang dapat kita gunakan untuk

  berkomunikasi. Di era moderen ini, banyak alat atau media yang dapat kita gunakan

  untuk berkomunikasi seperti, komputer dan internet, hand phone dengan layanan SMS,

  MMS, Chating, dsb. Dalam kehidupan sehari-hari baik sadar ataupun tidak sadar kita
     banyak melakukan aktivitas yang berhubungan dengan komunikasi. Salah satu jenis

     komunikasi yang kita lakukan dan sering tidak kita sadari adalah komnikasi nonverbal.

3. Prinsip-prinsip Komunikasi

   1) Komunikasi adalah sutu proses simbolik

       Manusia adalah satu-satunya makhluk yang menggunakan lambang. Salah satu

       kebutuhan pokok komunikasi manusia adalah kebutuhan simbolisasi atau penggunaan

       lambang. Lambang atau simbol adalah sesuatu yang digunakan untuk menunjuk dan

       menyebut sesuatu lainnya berdasarkan kesepakatan sekelompok orang. Lambang

       meliputi kata-kata (pesan verbal), perilaku nonverbal, dan obyek yang maknanya

       disepakati bersama, misalnya pada saat upacara bendera di sekolah kita mengibarkan

       bendera setengah tiang, yang menandakan kita sedang berduka cita.

   2) Setiap perilaku memiliki potensi komunikasi.

       Kita tidak bisa tidak berkomunikasi. Kita selalu berkomunikasi bahkan ketika kita

       berpikir bahwa kita tidak sedang berkomunikasi atau tidak ingin berkomunikasi.

       Bahkan diam-pun bisa berarti sesuatu, tetapi ini tidak berarti bahwa semua perilaku

       adalah komunikasi. Komunikasi baru tercipta ketika seseorang memberi makna pada

       perilaku orang lain atau perilakunya sendiri. Sebagai contohnya, seorang mahasiswa

       duduk paling belakang di kelas dengan wajah tanpa ekspresi dan tatapan kosong.

       Meskipun mahasiswa tersebut berkata bahwa ia sedang tidak berkomunikasi dengan

       dosen atau dengan mahasiswa lain tetapi dari perilaku mahasiswa tersebut jelas-jelas

       tersirat bahwa dia tidak tertarik dengan materi di kelas karena itu melamun atau ingin

       segera kelas bubar.

       Mungkin implikasi terbesar dari prinsip bahwa komunikasi itu adalah hal yang tidak

       terelakkan adalah bahwa kita perlu sebisa mungkin belajar mengontrol, menggunakan

       seefektif mungkin segala macam aspek perilaku kita karena segala sesuatu mengenai
   diri kita itu kita komunikasikan baik kita sadari atau tidak sadari. Tidak hanya kata-

   kata yang kita ucapkan tetapi juga cara kita berpakaian, cara kita berjalan, cara kita

   mengeluh, cara kita berterima kasih, cara kita melakukan kontak mata atau

   menghindari kontak mata untuk mengkomunikasikan semuanya.

3) Komunikasi mempunyai dimensi isi dan hubungan.

    -   Dimensi isi (verbal), menunjukkan muatan (isi) komunikasi, yaitu apa yang

        dikatakan.

    -   Dimensi hubungan (nonverbal), menunjukkan bagaimana cara mengatakannya

        yang juga mengisyaratkan bagaimana seharusnya pesan itu ditafsirkan.

   Oleh karena itu, isi yang sama bisa bermakna berbeda jika disampaikan dengan cara

   yang berbeda. Misalnya seorang dosen berkata pada mahasiswanya ”temui saya

   sesudah kelas bubar” dengan ”tolong nanti sehabis kuliah kita ketemu di ruang

   dosen”. Isinya sama tetapi dari cara penyampaiannya yang berbeda bisa menghasilkan

   makna berbeda. Yang pertama mungkin karena diucapkan dengan nada tinggi kita

   bisa menebak apa yang akan terjadi nanti, mungkin mahasiswa akan kena marah.

   Dalam komuniaksi massa, pemilihan jenis media adalah dimensi hubungan, karena

   dalam komunikasi massa diharapkan massa mengetahui pesan yang kita sampaikan

   sehingga media diperlukan dalam proses ini.

4) Komunikasi itu berlangsung dalam berbagai tingkat kesengajaan.

   Komunikasi dilakukan dari berbagai tingkat kesengajaan, dari komunikasi yang tidak

   disengaja sama sekali hingga komunikasi yg benar-benar direncanakan dan disadari.

   Kesengajaan bukanlah syarat untuk terjadinya komunikasi. Meskipun kita sama sekali

   tidak bermaksud menyampaikan pesan kepada orang lain, perilaku kita potensial

   untuk ditafsirkan orang lain. Kita lebih banyak mengeluarkan pesan non verbal yang

   tdk sengaja dibanding verbal. Kita tidak dapat mengendalikan orang lain untuk
   menafsirkan atau tidak menafsirkan tindakan kita. Kadang komunikasi sengaja dibuat

   tidak sengaja. Misalnya ketika kita menguap sebenarnya menguap lebih pada proses

   fisik yang terjadi tanpa kita inginkan karena kita mengantuk, tetapi misalnya ketika

   kita sudah bosan berda di kelas dan merasa bahwa materi yang diberikan dosen tidak

   menarik maka mahaiswa akan sengaja menguap berkali-kali hingga dosen

   menyadarinya dan segera mengakhiri perkuliahan.

5) Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu.

   Makna pesan juga bergantung pada konteks fisik atau ruang, waktu, sosial dan

   psikologis. Makna terhadap pesan yang sama belum tentu sama dalam ruang atau

   waktu yang berlainan. Sebagai contohnya adalah tertawa terbahak-bahak, atau

   memakai pakaian warna merah sebagai perilaku nonverbal yang tidak menjadi

   masalah jika kita berada dalam suatu pesta, tetapi akan menjadi sangat tidak pantas

   apabila kita berada dalam situasi pemakaman atau teriak-teriak dalam mendukung

   kesebelasan yang sedang bertanding, akantetapi berbeda kalau kita sedang sendirian

   dan di jalanan.

6) Komunikasi melibatkan prediksi peserta komunikasi

   Ketika individu berkomunikasi mereka meramalkan efek komunikasi mereka. Dengan

   kata lain komunikasi juga terikat aturan atau tata krama. Kita dapat memprediksi

   perilaku komunikasi orang lain berdasarkan peran sosialnya, misalnya kita tahu

   bagaimana tatakrama dalam berbahasa ketika berbicara dengan orang tua atau dosen

   kita. Komunikasi terikat oleh aturan atau etika. Prediksi tidak selalu disadari dan

   sering berlangsung cepat. Hingga derajat tertentu ada keteraturan perilaku manusia

   sehingga bisa diprediksi.

7) Komunikasi itu bersifat sistemik.

   Ada dua sistem dasar dalam transaksi komunikasi :
   a. Sistem Internal adalah seluruh sistem nilai yang dibawa oleh seorang individu

      ketika ia memasuki suatu situasi komunikasi Sistem Internal mengandung semua

      unsur   yang   membentuk     individu   yang   unik   (kepribadian,   intelegensia,

      pengetahuan, agama, dll) yang pada dasarnya tersembunyi (frame of reference &

      field of experience)

   b. Sistem Eksternal terdiri dari unsur-unsur dalam lingkungan di luar individu,

      termasuk kata-kata yang ia pilih untuk berbicara, isyarat fisik peserta komunikasi,

      kegaduhan di sekiatarnya, penataan ruangan, cahaya dan temperatur ruangan.

8) Semakin mirip latar belakang sosial budaya, semakin efektif proses komunikasi.

   Komunikasi yang efektif adalah komunikasi yang hasilnya sesuai dengan harapan

   para pesertanya (pihak yang melakukan komunikasi). Adanya latar belakang yang

   sama diantara para pelaku komunikasi membuat suatu situasi komunikasi lebih

   berpotensi untuk mencapai keefektifan.

   Kenyataannya, tidak pernah ada individu yang sama persis. Bahkan anak yang kembar

   identik dan dibesarkan di tempat yang sama-pun tidak akan mempunyai state of mind

   yang sama persis. Namun kesamaan dalam hal-hal tertentu seperti umur, suku, bahasa,

   tingkat pendidikan akan mendorong suatu proses komunikasi berlangsung lebih

   efektif.

9) Komunikasi bersifat nonsekuensial.

   Kebanyakan situasi komunikasi bersifat dua arah. Meskipun ada model komunikasi

   linear atau satu arah tetapi pada akhirnya komunikasi tersebut akan bersifat dua arah,

   karena pada akhirnya suatu situasi komunikasi akan menimbulkan adanya umpan

   balik. Oleh karena itu peran komunikator dan komunikan dalam suatu percakapan 2

   individu atau lebih tidak melekat dan terus berganti. Sehingga sudah tidak bisa

   dibedakan lagi antara pesan dan umpan balik.
10) Komunikasi bersifat prosesual, dinamis dan transaksional.

   Suatu proses komunikasi adalah proses yang berkesinambungan, tidak mempunyai

   awal dan tidak mempunyai akhir. Komunikasi itu melibatkan sebuah proses

   penyesuaian     karena     itu   komunikasi    sifatnya      dinamis   bukan   stabil.

   Komunikasi bersifat transaksional karena pada saat hampir bersamaan kita melakukan

   encoding dan decoding, pada saat hampir bersamaan kita itu mengirim dan menerima

   pesan.

   Implikasi dari komunikasi sebagai proses yang dinamis dan transaksional adalah

   bahwa para peserta komunikasi mengalami perubahan (dari sekedar pengetahuan

   hingga perubahan dalam memandang dunia yang akhirnya mengarah pada perubahan

   perilaku)

11) Komunikasi bersifat irreversible.

   Beberapa sistem itu sifatnya dapat ditarik atau diulang kembali, seperti ketika kita

   mendinginkan air pada suhu tertentu hingga berubah menjadi es lalu kita

   mengulangnya kembali dengan merubah es kembali menjadi air. Tetapi ada sistem

   yang sifatnya irreversible prosesnya hanya bergerak menuju satu arah tidak dapat

   ditarik kembali menuju ke arah sebelumnya, dan komunikasi termasuk sistem ini.

   Komunikasi adalah suatu proses yang tidak bisa ditarik kembali. Tindakan

   komunikasi yang telah kita lakukan adalah telah terjadi dan tidak mungkin ditarik

   kembali. Sekali kita mengirimkan suatu pesan, kita tidak dapat mengendalikan

   pengaruh pesan tersebut bagi khalayak, apalagi menghilangkan efek pesan tersebut

   sama sekali. Menurut Devito bahkan karena sifat irreversible-nya kita perlu waktu

   untuk mempertahankan atau membenarkan perilaku kita yang diterima orang lain

   secara negatif. Metode paling umum yang kita gunakan untuk menghadapi reaksi

   negatif dari individu lain terhadap perilaku kita adalah dengan melakukan excuse atau
      beralasan (berusaha melakukan pembenaran terhadap perilaku yang “sudah” terlanjur

      kita   lakukan    dan   ternyata   mendapat   reaksi   negatif   dari   individu   lain).

      Sifat irreversible ini adalah implikasi dari komunikasi sebagai suatu proses yang

      selalu berubah. Prinsip ini setidaknya menyadarkan kita bahwa kita harus berhati-hati

      dalam mengirimkan suatu pesan kepada orang lain karena efeknya tidak bisa

      ditiadakan sama sekali meskipun kita sudah berusaha meralatnya.

   12) Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan berbagai masalah.

      Banyak persoalan dan konflik antarmanusia disebabkan oleh masalah komunikasi.

      Namun komunikasi itu sendiri bukanlah obat mujarab (panasea) untuk menyelesaikan

      persoalan atau konflik itu, karena persoalan atau konflik tersebut mungkin berkaitan

      dengan masalah struktural. Esensi dari konflik harus tetap dicari dan diselesaikan.

      Misalnya konflik antara OPM dengan pemerintah, diamana OPM menginginkan

      untuk mendirikan negara sendiri dan melepaskan sendiri. Hal itu terjadi karena

      pemerintah kurang memperhatikan kesejahteraan masyarakat di Papua dan hanya

      mengeruk kekayaan untuk kesejahteraan pusat. Akar permasalahan ini tidak akan

      selesai meskipun pemerintah melakukan komunikasi yang efektif tanpa menjanjikan

      dan mewujudkan secara nyata untuk kesejahteraan masyarakat di daerah tersebut.

4. a. Komponen-komponen komunikasi:

   1) Pengirim atau komunikator (sender)

      Adalah pihak yang mengirimkan pesan kepada pihak lain. Komunikator dapat

      mengirimkan pesan secara langsung atau tidak langsung kepada pihak lain.

   2) Pesan (message)

      Adalah isi atau maksud yang akan disampaikan oleh satu pihak kepada pihak lain.

      Pesan yang disampaikan dapat berupa pesan verbal, nonverbal atau objek lainnya.
 3) Saluran (channel)

    Adalah media dimana pesan disampaikan kepada komunikan. dalam komunikasi

    antar-pribadi (tatap muka) saluran dapat berupa udara yang mengalirkan getaran

    nada/suara. Teknologi komunikasi yang ada juga dapat digunakan sebagai salah satu

    media komunikasi.

 4) Penerima atau komunikate (receiver)

    Adalah pihak yang menerima pesan dari pihak lain. Penerima pesan dapat berupa

    individu, kelompok atau organisasi dan masyarakat luas.

 5) Umpan balik (feedback)

    Adalah tanggapan dari penerimaan pesan atas isi pesan yang disampaikannya. Salah

    satu tanda komunikasi yang efektif ditandai dengan adanya feedback.

 6) Protokol

    Adalah aturan yang disepakati para pelaku komunikasi tentang bagaimana komunikasi

    itu akan dijalankan. Aturan tersebut dapat berupa penggunaan tata bahasa, kode-kode

    tertentu, yang disepakati secara universal.

b. Model komunikasi yang saya pilih adalah model komunikasi
c. Model komunikasi menurut saya adalah sebagai berikut:




  Dari model komunikasi yang saya buat dapat saya jelaskan sebagai berikut. Dalam

  proses komunikasi penyampaian pesan disalurkan melalui suatu media. Komunikasi

  secara langsung atau tatap muka secara langsung juga menggunakan media angin

  sebagai perantara penyalur pesan. Apalagi komunikasi yang secara tidak langsung dan

  menggunakan media yang berupa alat-alat atau teknologi komunikasi yang ada seperti

  internet, telepon, HP dan lain sebagainya. Media yang digunakan baik secara langsung

  ataupun tidak langsung ada sebuah aturan-aturan yang disepakati bersama sehingga

  proses komunikasi tersebut dapat berjalan. Aturan-aturan yang disepakati tersebut dapat

  berupa aturan universal, kelompok, atau region tertentu baik secara tertulis (sebagai

  suatu sistem baku) dan tidak tertulis (tatanan sosial daerah). Sebagai contoh adalah

  penggunaan teknologi internet sebagai media komunikasi. Internet memiliki sebuah

  aturan (protokol) yang biasa disebut sebagai IP internet Protokol. Internet protokol

  tersebut mengandung kode-kode yang digunakan sebagai aturan baku, sehingga

  seseorang dapat menggunakan internet untuk berkomunikasi. Dalam penggunaan media

  juga terdapat noise (gangguan) seperti alat komunikasi yang digunakan mengalami
kerusakan, sehingga proses komunikasi menjadi terhambat. Banyak sekali gangguan-

gangguan yang ditimbulkan oleh media itu sendiri dan orang lain diluar proses

komunikasi tersebut. Dalam model komunikasi yang saya gambarkan tersebut, terjadi

proses feedback antara pemberi pesan (komunikator) dan penerima pesan (komunikan).

Sehingga pada suatu proses komunikasi dapat terjadi peristiwa dimana komunikator

bisa menjadi komunikan dan komunikan bisa menjadi komunikator. Mengapa saya bisa

beranggapan seperti itu? Kondisi internal dan kondisi eksternal masing-masing individu

tidak ada yang sama satu sama lain. Pada proses komunikasi seperti alat indera yang

dimiliki oleh individu, terkadang kondisinya berbeda-beda dalam menangkap pesan

yang disampaikan. Kondisi psikis juga mempengaruhi dalam proses komunikasi, psikis

seseorang sangat berpengaruh dalam mempersepsi dan menginterpretasikan serta

filtrasi terhadap pesan yang ditangkap. Hal lain yang penting adalah kondisi

lingkungan, seperti lingkungan sosial, agama, budaya serta pengalaman yang dimiliki

baik itu pengalaman yang memang dimiliki melalui proses yang formal atau tidak.

Sebagai contoh, seseorang yang biasa hidup dilingkungan yang kental dengan agama,

biasanya ia lebih menguasai pengetahuan agama dibandingkan dengan orang lain yang

biasa hidup dilingkungan lain. Dalam komunikasi yang dibangun oleh sesorang dengan

orang lain terkadang mengangkat suatu topik yang berubah-ubah sehingga masing-

masing orang memiliki kemampuan terhadap topik-topik yang diangkat. Untuk itu

posisi sebagai komunikator sewaktu-waktu dapat berubah menjadi sebagi komunikan.

Terkadang kita bisa dan atau tidak bisa memberikan efek atau pengaruh kepada orang

yang kita berikan sebuah pesan dan juga terkadang kita bisa dan atau tidak bisa untuk

terpengaruh terhadap pesan yang diberikan orang lain kepada kita, baik itu secara sadar

atau tidak sadar.
5. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi dalam proses komunikasi. Ada 2 faktor yang

  mempengaruhi persepsi yakni kator situasional dan faktor personal.

  Faktor situasional yang dapat mempengaruhi persepsi orang terhadap kita antara lain:

  1) Cara menyebut sifat orang. Jika kita diperkenalkan sebagai orang yang sedikit ilmunya

     tetapi banyak amalnya, maka orang akan mempersepsi kita sebagai orang baik (positif),

     tetapi ketika orang memperkenalkan kita sebagai orang yang banyak amalnya tetapi

     sayang tidak berilmu, maka citra yang terbangun adalah negatif.

  2) Jarak; jarak fisik, jarak keakraban, jarak sosial maupun jarak pemikiran. Orang yang

     bergaul akrab dengan ulama biasanya dipersepsi sebagai ahli agama, yang bergaul

     akrab dengan koruptor terkenal biasanya dipandang ikut kecipratan, yang banyak

     berhubungan dengan presiden biasanya diangap orang penting, orang yang sering

     berbicara Marxisme sering dipersepsi sebagai Komunis, dan sebagainya.

  3) Gerakan tubuh. Berkacak pinggang atau membusungkan dada sering dipersepsi sebagai

     sombong, menundukkan kepala sering dipersepsi sebagai sopan atau rendah hati,

     mengangkat muka dipersepsi sebagai berani dan betopang dagu suka dipersepsi sebagai

     sedih.

  4) Petunjuk Wajah. Wajah adalah cermin jiwa. Berseri-seri dipersepsi sebagai gembira

     atau ikhlas, kusut muka sebagai stress. Wajah memang bisa dibaca meski orang bisa

     tertipu oleh wajah manis, hati serigala dan wajah garang, hati lembut.

  5) Cara mengucapkan lambang verbal. Perkataan manis yang diucapkan oleh orang marah

     bermakna lebih tajam dibanding kata kata kasar yang diucapkan dengan wajah ceria.

  6) Penampilan. Penampilan fisik, pakaian, kendaraan, rumah, bisa menggambarkan citra

     seseorang, tetapi bagi orang yang kredibilitas akhlaknya sudah teruji, penampilan fisik

     tidak akan merngubah citranya. Dalam hal orang yang sudah dikenal keluhuran

     akhlaknya, orang akan melihat siapa yang memakai, bukan apa yang dipakai.
  Adapun faktor personal yang mempengaruhi persepsi orang terhadap kita atau sebaliknya

  adalah pengalaman dan konsep diri. Bagi orang yang telah lama hidup bersama kita, jika

  dalam hidup kita konsisten dalam kebaikan, maka orang tidak akan percaya terhadap gosip

  negatif tentang kita. Sebaliknya jika dalam hidup kita yang panjang banyak perilaku buruk

  yang kita lakukan dan diketahui oleh banyak orang, maka orang tidak akan percaya ketika

  suatu hari kita berpenampilan sebagai orang 'alim.

  Konsep diri juga sangat besar pengaruhnya dalam berkomunikasi. Konsep diri adalah

  pandangan dan perasaan orang terhadap diri sendiri. Konsep diri bisa bersifat psikis, fisik

  dan sosial. Orang yang konsep dirinya positif, ia tetap yakin dan percaya diri dalam

  berkomunikasi sehingga memperteguh citra baik yang telah dimilikinya, sebaliknya orang

  yang konsep dirinya negatif terlalu memperhitungkan respon orang sehingga kredibilitas

  dirinya justru tidak nampak.

6. Penggunaan bahasa dan makna dalam komunikasi verbal

  1) Definisi fungsional melihat bahasa sebagai alat yang dimiliki bersama ( socially shared

     means )untuk mengungkapkan gagasan. Artinya bahasa hanya dapat dipahami bila ada

     kesepakatan diantara angota-anggota kelompok sosial untuk memakainya. Karena

     seperti kita ketahui, kata-kata diberi arti secara arbitrer (semaunya) oleh kelompok-

     kelompok. Kita tak pernah memusingkan mengapa bagian tubuh organisme mulai batas

     leher ke atas disebut kepala; sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita mengenal

     objek yang disebut sebagai pohon dan buah kelapa. Kembali kepada fungsi dari bahasa

     itu sendiri adalah sebagai penamaan dari suatu objek (labeling), interaksi dengan orang

     lain, dan transmisi pesan dan informasi.

  2) Definisi formal yang menyatakan bahwa bahasa merupakan semua kalimat yang

     terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa yang berlaku. Setiap

     bahasa memiliki peraturan penyusunan bahasa (grammar) masing-masing. Bahasa
       Indonesia mempunyai tata bahasa yang berbeda dari bahasa Inggris, Prancis, spanyol

       dan sebagainya. Jika kita ingin menghasilkan kalimat yang bermakna menurut suatu

       bahasa, maka kita harus menguasai tata bahasa yang bersangkutan.

     Makna muncul dari hubungan khusus antara kata (sebagai simbol verbal) dan manusia.

     Makna tidak melekat pada kata-kata-kata, namun kata-kata membangkitkan makna dalam

     pikiran orang. Jadi tidak ada hubungan langsung antara suatu obyek dan simbol yang

     digunakan untuk merepresentasikannya. Pemahaman adalah perasaan subyektif kita

     mengenai simbol itu. Makna denotatif adalah makna yang sebenarnya (faktual) dan lebih

     bersifat publik. Makna konotatif lebih bersifat pribadi yakni makna di luar rujukan

     obyektifnya. Tentunya jauh sekali kaitan antara makna kata kitab dan batik. Kata itu

     muncul dan dipakai berdasarkan kesepakatan masyarakatnya saja, tak bisa dicarikan

     alasan logisnya.

7.

8.

9. Faktor-faktor yang dapat membentuk komunikator menjadi efektif:

1) Faktor Internal

Faktor ini berasal dari dalam diri seorang komunikator. Faktor-faktor yang lain yang

mendukung faktor internal ini adalah:

     a. Intelegensi

         Tidak dapat dipungkiri bahwa tingkat intelegensi seseorang sangat berpengaruh

         kepada pembentukan seorang komunikator yang baik. Seseorang yang memiliki

         intelegensi yang mumpuni dalam bidang tertentu akan sangat mungkin menguasai dan

         memahami materi-materi bidang tersebut. Bagaimana orang tersebut mampu

         membuat sebuah kejelasan (clarity), ketepaatan (accuracy), konteks (context), dan

         alur (flow) yang baik dalam melakukan komunikasi kepada orang lain, baik itu
    komunikasi intrapersonal, interpersonal dan publik (massa). Kemampuan intelegensi

    seseorang erat kaitannya kepada jenjang pendidikan formal yang ditempuh. Namun

    banyak hal lain seprti pendidikan informal, nonformal sebagai pengalaman-

    pengalaman di luar pendidikan formal yang dapat berpengaruh terhadap kemampuan

    intelegensi seseorang. Untuk itu seorang komunikator hendaknya bisa mengasah

    intelegensinya disuatu bidang yang memang ia merasa bisa kuasai.

b. Psikologis

    Faktor lain yang sangat berpengaruh adalah faktor psikologis seorang komunikator.

    Faktor ini lebih kepada sikap mental seorang komunikator terhadap apa yang

    disampaikan dan apa yang diterima terhadap apa yang disampaikan tersebut. Seorang

    komunikator yang baik hendaknya harus merasa yakin dan memiliki keparcayaan diri

    terhadap apa yang ia sampaikan kepada orang lain. Tak hanya itu, ia juga harus bisa

    dan siap menerima umpan balik dari apa yang disampaikannya, baik berupa

    tanggapan, saran, atau kritik.

c. Kondisi fisik

    Jika seorang komunikator telah memiliki intelegensi yang mumpuni, mental yang

    baik maka ia juga harus memperhatikan kondisi fisiknya. Alat indera yang ada

    hendaknya harus dioptimalkan dalam proses komunikasi. Kebanyakan komunikator

    menggunakan tubuh mereka untuk melakukan komunikasi dengan orang lain. Terkait

    dengan bahasa nonverbal, bahasa tubuh juga memegang peranan penting untuk

    mendukung bahasa verbal yang ditampilkan oleh seorang komunikator agar lebih

    efektif.

2) Faktor Eksternal

Faktor ini merupakan faktor pendukung yang berasal dari luar diri seorang komunikator.

Faktor-faktor yang lain yang mendukung faktor eksternal ini adalah:
  a. Penggunaan media

     Selain factor internal yang berpengaruh, salah satu factor eksternal yakni penggunaan

     media sebagai sarana seorang komunikator, sedikit banyak juga membantu dalam

     proses komunikasinya. Penggunaan media yang tepat akan lebih meyakinkan orang

     lain (komunikan) terhadap apa yang disampaikannya. Pada era kemajuan teknologi

     komunikasi ini, komunikator banyak menggunakan media-media guna mendukung

     terhadap apa yang disampaikan. Baik itu media interaktif, semiinteraktif, ataupun

     noninteraktif sudah banyak dan dapat digunakan. Untuk itu sebagai seorang

     komunikator yang baik, selain kemapuan-kemapuan internal yang sudah mumpuni tadi

     hendaknya juga bisa memilih serta menggunakan media-media yang ada agar

     komunikasi berjalan lebih efektif.

  b. Kondisi lingkungan

     Salah satu kondisi eksternal yang memiliki jangkauan luas dalam proses komunikasi

     adalah kondisi lingkungan seorang komunikator. Mengapa kondisi lingkugan memiliki

     jangkauan yang sangat luas? Kondisi lingkugan mencakup banyak aspek seperti

     lingkugan agama, lingkugan sosial, lingkungan budaya dsb. Untuk itu seorang

     komunikator harus pandai melihat kondisi lingkungan yang ada baik itu kondisi

     lingkugan tempat tinggalnya sendiri maupun kondisi lingkungan orang lain, yang

     terkait dengan proses komunikasi dengan orang pada lingkungan tersebut. Hal itu tidak

     lain adalah bertujuan untuk meminimalkan kemungkinan terjadi evasi terhadap apa

     yang disampaikan.

10. Hambatan yang terjadi dalam proses komunikasi dapat dibedakan menjadi 2 yakni

   hambatan objektif dan subjektif:

   1) Hambatan Obyektif, yakni gangguan dan halangan terhadap jalannya komunikasi

      yang tidak disengaja, dibuat oleh pihak lain atau mungkin disebabkan oleh keadaan
        yang tidak memungkinkan misal, gangguan cuaca, gangguan lalu-lintas dsb.

        Sedangkan hambatan yang secara objektif juga bisa disebabkan oleh kemampuan

        komunikasi yang kurang baik, Approach/Pendekatan penyajian kurang baik, Timing

        tidak cocok, Penggunaan media yang keliru.

      2) Hambatan Subyektif, yakni gangguan yang sengaja dibuat oleh orang lain.

        Disebabkan karena adanya Pertentangan kepentingan, Prejudice, Tamak, Iri hati,

        Apatisme, dsb.

      Sedangkan evasi sendiri dapat berarti gejala mencemooh dan mengelakan suatu

      komunikasi untuk mendeskreditkan atau menyesatkan pesan komunikasi. Upaya-upaya

      yang dilakukan untuk melakukan evasi adalah:

      1) Mencacatkan     Pesan   Komunikasi (Message     made   invalid)   yakni,   kebiasaan

        mencacatkan pesan komunikasi dengan menambah-nambah pesan yang negatif.

      2) Mengubah Kerangka Referensi (Changing frame of reference) yakni, Kebiasaan

        mengubah kerangka referensi menunjukkan seseorang yang menanggapi komunikasi

        dengan diukur oleh kerangka referensi sendiri.

11.

								
To top