iklim di indonesia by erlinadwi

VIEWS: 3,928 PAGES: 4

									   DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TROPIS DI INDONESIA TERHADAP
    EKOLOGI HABITAT HUTAN HUJAN TROPIS SEBAGAI HABITAT
                                 ALAMI ORANGUTAN



         Iklim dapat diartikan sebagai kondisi rata-rata cuaca dalam waktu yang panjang.
Indonesia memiliki tiga jenis iklim yaitu iklim musim (muson), iklim tropika (iklim panas),
dan iklim laut, Iklim Muson terjadi karena pengaruh angin musim yang bertiup berganti arah
tiap-tiap setengah tahun sekali. Angin musim di Indonesia terdiri atas Musim Barat Daya dan
Angin Musim Timur Laut. Angin Musim Barat Daya adalah angin yang bertiup antara bulan
Oktober sampai April sifatnya basah. Pada bulan-bulan tersebut, Indonesia mengalami musim
penghujan Angin Musim Timur Laut adalah angin yang bertiup antara bulan April sampai
Oktober, sifatnya kering. Akibatnya, pada bulan-bulan tersebut, Indonesia mengalami musim
kemarau. Indonesia terletak di sekitar garis khatulistiwa yaitu berada diantara 23° 30’ LU dan
23° 30’ LS. Akibatnya, Indonesia termasuk daerah tropis (panas). Keadaan cuaca di
Indonesia rata-rata panas mengakibatkan negara Indonesia beriklim tropis (panas), Iklim ini
berakibat banyak hujan yang disebut Hujan Naik Tropika. Negara Indonesia adalah negara
kepulauan. Sebagian besar tanah daratan Indonesia dikelilingi oleh laut atau samudra. Itulah
sebabnya di Indonesia terdapat iklim laut. Sifat iklim ini lembab dan banyak mendatangkan
hujan.
         Kondisi yang ideal seperti ini menimbulkan terjadinya interaksi antara iklim regional
dengan biota regional, sehingga menimbulkan terbentuknya hutan hujan tropis. Vegetasi
hutan hujan tropis tidak pernah mengalami gugur daun sehingga tampak selalu hijau
sepanjang tahun. Hutan tropis yang merupakan habitat alami bagi hewan dan tumbuhan.
Keaneka ragaman fauna hutan hujan tropis sangat tinggi, Fauna hutan hujan tropis
menempati semua lapisan tajuk. Kebanyakan hewan yang ada di hutan hujan tropis bersifat
nocturnal dan arborel. Iklim tropis sangat berpengaruh terhadap system kehidupan di daerah
tropis yang memiliki suhu rata-rata bulanan lebih dari 20° C.
         Namun sejak tahun 1998 perubahan iklim mulai dapat dirasakan, dengan
dirasakannya peningkatan suhu udara yang setiap tahun meningkat hingga sekarang.
Perubahan iklim disebabkan oleh pemanasan global, yang berasal dari, sinar matahari yang
terperangkap di atmosfer akibat adanya konsentrasi berbagai jenis gas-gas yang dihasilkan
oleh proses-proses industri, seperti CO2 ( karbon dioksida ), CH4( gas metan ), N2O ( nitrous
oxide), CFCs ( chlorofluor carbon ) dan VOCs ( Volatile arganic compounds ).Gas-gas
tersebut dikenal sebagai gas rumah kaca karena prinsip kerjanya seperti rumah kaca (
greenhouse ), dimana suhu didalam ruang diatur sedemikian rupa sehingga cukup hangat
untuk tanaman agar bisa tumbuh dan berkembang. Beberapa aktivitas lain seperti penggunaan
jenis gas freon untuk mesin pendingin, campuran produk kaleng ’sprey’ juga menghasilkan
gas rumah kaca. Terperangkapnya panas akibat adanya konsentrasi gas-gas tersebut di
atmosfer dikenal dengan istilah ‘efek rumah kaca’. Efek rumah kaca ini berdampak pada
penyerapan energi matahari dan refleksi panas matahari menjadi semakin tinggi, sehingga
meningkatkan suhu udara dibumi dan memicu terjadinya perubahan iklim.
       Dampak dari perubahan iklim yang di tunjukan dengan adanya peningkatan suhu,
yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan yang besar, pada tahun 1998 di Indonesia.
Terjadinya kebakaran tersebut diketahui akibat adanya gejala peningkatan cuaca panas, dan
kekeringan karena curah hujan kurang, hal ini menjadi pemicu terbakarnya jutaan hektar
hutan tropis. Akibat terbakarnya hutan tropis tersebut menghanguskan habitat berbagai
hewan di Indonesia termasuk habitat Orangutan ikut hangus terbakar serta memakan banyak
korban Orangutan dalam jumlah yang signifikan. Sehingga populasi dan habitat Orangutan
berkurang secara derastis. Perubahan iklim dapat merusak system kehidupan Orangutan dan
mengakibatkan menurunnya habitat serta populasi Orangutan.
       Dengan berkurangnya Habitat Orangutan akibat kebakaran hutan tersebut, dapat
menimbulkan kondisi lingkungan yang kurang optimal akan menghambat proses reproduksi
Orangutan sehingga pertumbuhan pupulasi Orangutan akan terhambat bahkan dapat punah
jika kondisi seperti ini terus berlanjut. Ruang gerak Orangutan menjadi sangat berkurang
karena stikadaknya dalam satu hari Orangutan mengembara sejauh 500-900 meter. Untuk
memperoleh makanan yang cukup, rata-rata Orangutan betina membutuhkan daerah
pengembaraan seluas 5-6 kilometer persegi. Sedangkan yang jantan seluas 12-15 kilometer
persegi. Orangutan tergolong mahlukhidup semi soliter, artinya Orangutan jantan senang
berjalan-jalan sendiri, sedangnkan Orangutan betina membawa anaknya kemanapun si Induk
pergi. Suara Orangutan jantan dapat terdengar hingga radius 1 kilometer. Suara atau
panggilan Orangutan berfungsi sebagai alat untuk menandai atau mengawasi arealnya,
memanggil sang betina, atau mencegah Orangutan jantan lainnya yang mengganggu. Dan
para pejantan tidak suka berbagi tempat dengan pejantan yang lain, maka menurut saya jika
kawasan hutan akibat kebakaran yang terjadi secara alami tersebut semakin berkurang dan
tidak dapat memberikan wilayah untuk semua pejantan maka diantara para pejantan akan
terjadi perkelahian. Mending kalau yang kalah pergi tetapi bagaimana jika mati? Hal ini
menjadi salah satu penyebab berkurangnya populasi Orangutan karena berkurangnya
kawasan mereka.
        Selain itu perubahan iklim menjadi ancaman serius terhadap keberadaan orangutan,
terutama pada ketersediaan sumber pakan Orangutan. Karena adanya kenaikan dan
perubahan suhu maupun perubahan curah hujan mengakibatkan terganggunya system
perbungaan dan perbuahan pohon yang menjadi sumber pakan Orangutan. Sehingga akan
berpengaruh terhadap kehidupan orangutan. Bila Orangutan tidak mampu beradaptasi dengan
jenis makanann yang tersedia di habitat yang baru, maka Orangutan dapat mati dan punah
karena kelaparan.
        Jika kepunahan pana orang hutan itu terjadi maka dapat mengganggu proses
pembentukan kembali pada hutan tropis karena Orangutan berperan penting dalam ekosistem.
Peranan utama orangutan adalah, menjaga keseimbangan ekosistem dengan memencarkan
biji-biji dari tumbuhan yang dikonsumsinya. Sehingga berperan penting dalam pemencaran
biji. Ketidakhadiran Orangutan di hutan hujan tropis dapat mengakibatkan kepunahan suatu
jenis tumbuhan yang penyebarannya tergantung oleh Orangutan.
        Maka sebelum kepunahan terjadi pada Orangutan dan pada habitat Orangutan. Salah
satu usaha untuk mengurangi peningkatan pemanasan suhu maka dapat dimulai dari diri
sendiri untuk mengurangi jenis gas freon untuk mesin pendingin, campuran produk kaleng
’sprey’ agar mengurangi terjadinya efek rumah kaca, sehingga peningkatan suhu dapat
berkurang. Adanya volume pengurangan peningkatan suhu maka global warming-pun dapat
di tekan dan tidak menimbulkan kerusakan dan kebakaran hutan yang mengakibatkan
berkurangnya habitat alami semua penghuni satwa terutama pada Orangutan yang tinggal di
hutan tropis kita.
        Selain itu kita juga harus menjaga keberadaan hutan hujan tropis dengan cara tidak
menebangi pohon-pohon tinggi yang dapat merusak hutan. Dan kondisi hutan tropis sangat
fragil (mudah rusak) jadi sekali hutan tropis ini rusak bahkan hancur maka akan berdampak
besar pada kehidupan satwa pada umumnya, dan akan kembali seperti semula dalam jangka
waktu yang sangat lama, karena terbentuknya juga dalam waktu yang lama.
DAMPAK PERUBAHAN IKLIM TROPIS DI INDONESIA TERHADAP
EKOLOGI HABITAT HUTAN HUJAN TROPIS SEBAGAI HABITAT
                ALAMI ORANGUTAN




                  Erlina Dwi Setyowati
                     05304244048
                   Pendidikan Biologi




           JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI
 FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
         UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
                       2009

								
To top