Docstoc

PENDERITAAN PARA ILMUWAN

Document Sample
PENDERITAAN PARA ILMUWAN Powered By Docstoc
					PARA KARDINAL GENERASI BARU
Oleh: Jum’an

Saya senang mengutip hasil penelitian dari mana-mana sebagai acuan agar
tulisan nampak ilmiah dan bergengsi. Meskipun saya tidak mempunyai niat untuk
membohongi pembaca dan siap menunjukkan sumbernya, mengutip referensi
tidaklah sejujur dan sebersih anda sangka. Ada iktikad dan bekas tangan saya
disitu. Saya memilih, saya menyaring dan saya menerjemahkan (bukan
menafsirkan), yang semuanya berpotensi menimbulkan bias. Bahkan kalau ada
catatan yang menyanggah penelitian itu mungkin sanggahan itu tidak saya kutip.

Tindakan saya yang subjektif, selektif dan tak menyeluruh itu tentu mengandung
risiko yang harus saya tanggung dari segi moril. Mengingat isi tulisan saya yang
hanya ringan-ringan saja, tidaklah akan menimbulkan dampak yang berarti.
Yang lebih menarik untuk kita terawang adalah para ilmuwan yang menghasilkan
penelitian itu sendiri. Misalnya apakah mereka dan penelitiannya bermasalah
atau memang transparan dan ilmiah seperti kita harapkan.

Menurut buku, ilmu pengetahuan adalah jalan mulia untuk mencari kebenaran.
Banyak ilmuwan mengatakan semboyan itu justru merupakan mitos yang kejam.

Kita ingat kisah Galileo Galilei ilmuwan Italia abad ke17 yang dijatuhi hukuman
seumur hidup oleh Vatikan (pada masa Paus Urbanus VIII) karena dianggap
meyebarkan ajaran sesat bahwa bumi beredar mengelilingi matahari, sementara
gereja pada masa itu berkepercayaan sebaliknya. Namanya baru direhabilitir
empat abad kemudian. Bahkan pada bulan Januari 2008 Paus Benediktus masih
ditolak berbicara di Universitas La Sapiensa Roma karena sekelompok professor,
dengan mengutip sejarah Galileo mencap Paus Benedictus sebagai tokoh yang
menentang ilmu pengetahuan dan tidak sepantasnya berbicara didepan kampus.

Tragedi Galileo merupakan awal penderitaan para ilmuwan yang terus berlanjut
sampai saat ini. Bukan dari tekanan Paus atau para kardinal, tetapi justru dari
makhluk sejenis yaitu para ilmuwan yang ada diberbagai otoritas pemerintahan,
media ilmiah dan dalam dunia industri.

Para redaktur jurnal ilmiah yang menentukan hasil riset mana yang pantas
dipublikasikaan mana yang tidak, para ilmuwan dilembaga patent yang
memutuskan hasil penelitian mana yang akan dilindungi mana yang tidak dan
para ilmuwan dipemerintahan yang menentukan proposal riset mana yang perlu
disandang dananya dan mana yang tidak. Alasan mereka mungkin obyektif tetapi
mungkin juga sengaja untuk menghambat penelitian tertentu yang mengancam
prestise ilmiah individu, lembaga atau didasari kepentigan ekonomi.
Penelitian yang menemukan bukti bahwa teori yang sudah mapan ternyata cacat
atau kurang lengkap akan masuk kedalam perangkap para kardinal generasi
baru itu. Dalam ilmu pengetahuan, teori seharusnya menyerah kepada bukti dan
bukan sebaliknya.
Tetapi kalau teori yang lama sudah mapan dan mendasari berbagai cabang
teknologi dan industri yang melibatkan penanaman modal milyaran dolar,
penemuan bukti kecacatan teori itu tentu akan mengancam begitu banyak pihak
dan berakibat luas. Mereka tidak akan diam: jurnal ilmiah akan menolak
mempublikasikan, konferensi ilmiah tidak akan menampilkan, biaya penelitian
dihentikan, penelitinya akan dikritik pedas dan kalau perlu di”Galileo” kan....

Sumber, diantaranya: Suppression of Facts (http://x-journals.com/2009/the-
suppression-of-inconvenient-facts-in-physics/ )

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:49
posted:2/26/2010
language:Indonesian
pages:2
Description: TENTANG PENDERITAAN PARA ILMUWAN