Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Apakah HIV itu

VIEWS: 2,947 PAGES: 12

									Apakah HIV itu ?

HIV, yang merupakan singkatan dari Human Immunodeficiency Virus adalah Virus penyebab
AIDS

       HIV terdapat di dalam cairan tubuh seseorang yang telah terinfeksi seperti di dalam
        darah, air mani atau cairan vagina
       Sebelum HIV berubah menjadi AIDS, penderitanya akan tampak sehat dalam waktu kira-
        kira 5 sampai 10 tahun.
       Walaupun tampak sehat, mereka dapat menularkan HIV pada orang lain melalui
        hubungan seks yang tidak aman, tranfusi darah atau pemakaian jarum suntik secara
        bergantian.

Bagaimana HIV ditularkan ?

HIV dapat ditularkan melalui 3 cara, yaitu :

       Hubungan seks (anal, oral, vaginal) yang tidak terlindungi dengan orang yang telah
        terinfeksi HIV.
       Transfusi darat atau penggunaan jarum suntik secara bergantian.
       Melalui Alat Suntik.

HIV tidak ditularkan melalui jabatan tangan, sentuhan, ciuman, pelukan, menggunakan
peralatan makan/minum yang sama, gigitan nyamuk, memakai jamban yang sama atau tinggal
serumah.

Gejala-Gejala AIDS

       Merasa kelelahan yang berkepanjangan
       Deman dan berkeringat pada malam hari tanpa sebab yang jelas.
       Batuk yang tidak sembuh-sembuh disertai sesak nafas yang berkepanjangan.
       Diare/mencret terus-menerus selama 1 bulan
       Bintik-bintik berwarna keungu-unguan yang tidak biasa
       Berat badan menurun secara drastis lebih dari 10% tanpa alasan yang jelas dalam 1
        bulan.
       Pembesaran kelenjar secara menyeluruh di leher dan lipatan paha.

Bagaimana mengetahui Orang yang Sudah Terinfeksi HIV ?

Hanya melalui penglihatan, Anda tidak bisa tahu apakah seseorang sudah terinfeksi HIV atau
tidak.

       Pada kenyataannya, pengidap HIV terlihat sangat sehat.
       Satu-satunya cara untuk mengetahui hai ini adalah melalui tes darah HIV
       Di Indonesia, terdapat cukup banyak LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) yang dapat
        membantu
       Anda untuk mendapatkan pelayanan tes darah.

TES HIV
Orang yang terinfeksi HIV tidak dapat diketahui dari penampilan fisiknya saja karena orang
tersebut terlihat seperti orang sehat lainnya. Jadi, untuk menentukan seseorang terinfeksi HIV
atau tidak harus dilakukan pemeriksaan darah.

Pemeriksaan darah bertujuan untuk mendeteksi ada atau tidaknya anti bodi HIV di dalam darah.
Antibodi HIV ini dihasilkan oleh tubuh sebagai reaksi system kekebalan tubuh terhadap infeksi
HIV. Oleh sebab itu, pemeriksaan ini lebih tepat disebut "Tes Antibodi HIV" bukan tes AIDS.

Perlukan Tes HIV ?
Jika anda merasa memiliki kemungkinan terinfeksi HIV, maka sebaiknya segera memeriksakan
diri. Hal ini penting untuk memastikan status anda. Jika anda positif, dapat segera dilakukan
perawatan kesehatan lebih lanjut yang intensif agar dapat menjaga kondisi dan mencegah
penularan kepada orang lain.

Melindungi Diri Dari HIV/AIDS

       Jangan melakukan hubungan sesk dengan pasangan yang anda tidak ketahui kondisi
        kesehatannya.
       Hindari berganti-ganti pasangan seksual.
       Gunakanlah kondom dalam melakukan hubungan seks, jika salah satu atau keduanya
        terinfeksi HIV
       Jika membutuhkan transfusi darah, mintalah kepastian bahwa darah yang akan diterima
        bebas HIV
       Gunakan alat suntik sekali pakai
       Hindari mabuk-mabukan dan narkotik yang membuat Anda lupa diri.

Bagaimana caranya untuk tes HIV ?

       Sebelum anda memeriksakan diri, konsultasilah terlebih dahulu kepada konselor atau
        tenaga kesehatan yang berpengalaman.
       Ketahui dan pahami pengertian HIV/AIDS, faktor resiko dan cara penularan, introspeksi
        diri dan cara pencegahannya.
       Apabila anda sudah yakin dan siap menerima segala resiko dan test HIV, silahkan
        periksa.
       Pilihlah pemeriksaan tanpa identitas untuk menjaga kerahasiaan anda.
       Test HIV dapat dilakukan dirumah sakit atau laboratorium kesehatan yang melayani Test
        HIV sesuai rujukan dari konselor anda (Tempat konsultasi dapat dilihat pada brosur ini)
       Konsultasikan kembali hasil tes tersebut dan minta penjelasan arti dari hasil tes tersebut
        kepada konselor atau tenaga kesehatan yang berpengalaman.

 Apakah AIDS itu ?

AIDS yang merupakan kependekan dari Acquired Immune Deficiency Syndrome adalah
sindroma menurunkan kekebalan tubuh yang disebabkan oleh HIV.

       Orang yang mengidap AIDS amat mudah tertular oleh berbagai macam penyakit, karena
        sistem kekebalan di dalam tubuhnya telah menurun.
       Sampai sekarang belum ada obat yang dapat menyembuhkan AIDS.
       Agar dapat terhindar dari HIV/AIDS, anda harus tahu bagaimana cara penularan dan
        pencegahannya.
 Apakah IMS itu ?

IMS (Infeksi Menular Seksual) sering juga disebut penyakit Kelamin, yaitu penyakit-penyakit
yang sebagian besar ditularkan melalui hubungan seks atau hubungan kelamin.

orang yang mengidap IMS memiliki resiko yang lebih besar untuk terinfeksi HIV, karena luka
yang terbuka memberikan jalan masuk bagi HIV.

HIV terutama ditularkan lewat hubungan seks, karena itu HIV juga termasuk jenis IMS.

 Apakah Tanda-tanda atau Gejala-gejala IMS ?

Beberapa tanda atau gejala IMS adalah sebagai berikut :

      Ada cairan yang keluar dari penis, vagina atau dubur. Terasa pedih atau panas sewaktu
       buang air kecil dan/atau melakukan hubungan seks.
      Nyeri di perut bagian bawah (wanita), buah pelir (laki-laki), serta pantat dan kaki. Pada
       wanita seringkali gejala ini tidak dirasakan, walaupun sebenarnya sudah terkena IMS.
      Melepuh, lecet, kutil, ruam dan/atau pembengkakan di sekitar kelamin, alat kelamin
       dan/atau mulut.
      Gejala seperti itu juga meliputi demam, pusing nyeri otot dan/atau pembengkakan
       kelenjar.
      Jika anda merasakan salah satu tanda atau gejala diatas, segera periksa diri ke dokter
       atau layanan kesehatan terdekat.


PenYeBab AIDS
Penyebab AIDS

Penyebab timbulnya penyakit AIDS belum dapat dijelaskan sepenuhnya. Seperti yang
telah dijelaskan sebelumnya bahwa virus HIVtelah ada di dalam tubuh sebelum
munculnya penyakit AIDS ini. Namun kenyataan bahwa tidak semua orang yang
terinfeksi virus HIV ini terjangkit penyakit AIDS menunjukkan bahwa ada faktor-faktor
lain yang berperan di sini. Penggunaan alkohol dan obat bius, kurang gizi, tingkat stress
yang tinggi dan adanya penyakit lain terutama penyakit yang ditularkan lewat alat
kelamin merupakan faktor-faktor yang mungkin berperan. Faktor yang lain adalah waktu.
Penelitian terakhir menunjukkan bahwa kesempatan untuk terkena AIDS meningkat,
bukannya menurun dikarenakan faktor waktu.

Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa HIV secara terus menerus memperlemah
sistem kekebalan tubuh dengan cara menyerang dan menghancurkan kelompok -
kelompok sel-sel darah putih tertentu yaitu sel T-helper. Normalnya sel T-helper ini (juga
disebut sel T4) memainkan suatu peranan penting pada pencegahan infeksi. Ketika terjadi
infeksi, sel-sel ini akan berkembang dengan cepat, memberi tanda pada bagian sistem
kekebalan tubuh yang lain bahwa telah terjadi infeksi. Hasilnya, tubuh memproduksi
antibodi yang menyerang dan menghancurkan bakteri-bakteri dan virus-virus yang
berbahaya.

Selain mengerahkan sistem kekebalan tubuh untuk memerangi infeksi, sel T-helper juga
memberi tanda bagi sekelompok sel-sel darah putih lainnya yang disebut sel T-
suppressor atau T8, ketika tiba saatnya bagi sistem kekebalan tubuh untuk menghentikan
serangannya.

Biasanya kita memiliki lebih banyak sel-sel T-helper dalam darah daripada sel-sel T-
suppressor, dan ketika sistem kekebalan sedang bekerja dengan baik, perbandingannya
kira-kira dua banding satu. Jika orang menderita penyakit AIDS, perbandingan ini
kebalikannya, yaitu sel-sel T-suppressor melebihi jumlah sel-sel T-helper. Akibatnya,
penderita AIDS tidak hanya mempunyai lebih sedikit sel-sel penolong yaitu sel T-helper
untuk mencegah infeksi, tetapi juga terdapat sel-sel penyerang yang menyerbu sel-sel
penolong yang sedang bekerja.

Selain mengetahui bahwa virus HIV membunuh sel-sel T-helper, kita juga perlu tahu
bahwa tidak seperti virus-virus yang lain, virus HIV ini mengubah struktur sel yang
diserangnya. Virus ini menyerang dengan cara menggabungkan kode genetiknya dengan
bahan genetik sel yang menularinya. Hasilnya, sel yang ditulari berubah menjadi pabrik
pengasil virus HIV yang dilepaskan ke dalam aliran darah dan dapat menulari sel-sel T-
helper yang lain. Proses ini akan terjadi berulang-ulang.

Virus yang bekerja seperti ini disebut retrovirus. Yang membuat virus ini lebih sulit
ditangani daripada virus lain adalah karena virus ini menjadi bagian dari struktur genetik
sel yang ditulari, dan tidak ada cara untuk melepaskan diri dari virus ini. Ini berarti
bahwa orang yang terinfeksi virus ini mungkin terinfeksi seumur hidupnya. Selain itu
dapat berarti bahwa orang yang mengidap HIV dapat menulari sepanjang hidup.
Cara virus ini merusak fungsi sistem kekebalan tubuh belum dapat diungkapkan
sepenuhnya. Teori yang terbaru namun belum dapat dibuktikan kebenarannya
menyatakan bahwa rusaknya sistem kekebalan yang terjadi pada pengidap AIDS
mungkin dikarenakan tubuh menganggap sel-sel T-helpernya yang terinfeksi sebagai
“musuh”. Jika demikian kasusnya, lalu apa yang akan dilakukan oleh mekanisme
pertahanan tubuh yaitu mulai memproduksi antibodi untuk mencoba menyerang sel-sel T
yang telah terinfeksi. Akan tetapi antibodi juga akan diproduksi untuk menyerang sel T-
helper yang tidak terinfeksi, mungkin juga merusak atau membuat sel-sel ini tidak dapat
berfungsi sebagaimana mestinya. Jika demikian, HIV akan menyerang sistem kekebalan
tubuh tidak hanya dengan membunuh sel-T tetapi dengan mengelabuhi tubuh dengan
membiarkan tubuh sendiri yang menyerang mekanisme pertahanannya.

HIV tidak hanya menyerang sistem kekebalan tubuh. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa virus ini juga merusask otak dan sistem saraf pusat. Otopsi yang dilakukan pada
otak pengidap AIDS yang telah meniggal mengungkapkan bahwa virus ini juga
menyebabkan hilangnya banyak sekali jaringan otak. Pada waktu yang bersamaan,
peneliti lain telah berusaha untuk mengisolasi HIV dengan cairan cerebrospinal dari
orang yang tidak menunjukkan gejala-gejala terjangkit AIDS. Penemuan ini benar-benar
membuat risau. Sementara para peneliti masih berpikir bahwa HIV hanya menyerang
sistem kekebalan, semua orang yang terinfeksi virus ini tetapi tidak menunjukkan gejala
terjangkit AIDS atau penyakit yang berhubungan dengan HIV dapat dianggap bisa
terbebas dari kerusakan jaringan otak. Saat ini hal yang cukup mengerikan adalah bahwa
mereka yang telah terinfeksi virus HIV pada akhirnya mungkin menderita kerusakan otak
dan sistem saraf pusat.


 SITUASI HIV/AIDS di INDONESIA SAAT INI ?
@ Data Depkes tahun 2006 melaporkan 6.987 orang menderita AIDS dan 4.617 orang
terinfeksi HIV di 32 Propinsi di Indonesia. Jumlah ini akan terus meningkat, jika tidak
ditanggulangi. Selama ini, pengetahuan tentang penularan dan pencegahan HIV/AIDS
sudah disebarluaskan melalui berbagai media, namun kesadaran dan pemahaman
masyarakat untuk bersama-sama menanggulangi HIV/AIDS di Indonesia masih rendah.
Stigma dan Diskriminasi oleh masyarakat masih terjadi, sehingga menghambat upaya
pencegahan, pelayanan, perawatan dan dukungan terkait dengan penanggulangan
HIV/AIDS. Seluruh komponen masyarakat perlu peduli, aktif dan konsisten memberikan
kontribusi nyata sesuai kemampuannya masing-masing untuk menanggulangi epidemi
HIV/AIDS di Indonesia.


Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini?
Ditulis oleh Safri Ishmayana pada 11-07-2005




                               AIDS merupakan penyakit yang paling ditakuti pada saat
ini. HIV, virus yang menyebabkan penyakit ini, merusak sistem pertahanan tubuh (sistem
imun), sehingga orang-orang yang menderita penyakit ini kemampuan untuk
mempertahankan dirinya dari serangan penyakit menjadi berkurang. Seseorang yang
positif mengidap HIV, belum tentu mengidap AIDS. Banyak kasus di mana seseorang
positif mengidap HIV, tetapi tidak menjadi sakit dalam jangka waktu yang lama. Namun,
HIV yang ada pada tubuh seseorang akan terus merusak sistem imun. Akibatnya, virus,
jamur dan bakteri yang biasanya tidak berbahaya menjadi sangat berbahaya karena
rusaknya sistem imun tubuh.

Karena ganasnya penyakit ini, maka berbagai usaha dilakukan untuk mengembangkan
obat-obatan yang dapat mengatasinya. Pengobatan yang berkembang saat ini, targetnya
adalah enzim-enzim yang dihasilkan oleh HIV dan diperlukan oleh virus tersebut untuk
berkembang. Enzim-enzim ini dihambat dengan menggunakan inhibitor yang nantinya
akan menghambat kerja enzim-enzim tersebut dan pada akhirnya akan menghambat
pertumbuhan virus HIV.

HIV merupakan suatu virus yang material genetiknya adalah RNA (asam ribonukleat)
yang dibungkus oleh suatu matriks yang sebagian besar terdiri atas protein. Untuk
tumbuh, materi genetik ini perlu diubah menjadi DNA (asam deoksiribonukleat),
diintegrasikan ke dalam DNA inang, dan selanjutnya mengalami proses yang akhirnya
akan menghasilkan protein. Protein-protein yang dihasilkan kemudian akan membentuk
virus-virus baru.
                           Gambar 1A Struktur Virus HIV




                             Gambar 1B Daur hidup HIV

Obat-obatan yang telah ditemukan pada saat ini menghambat pengubahan RNA menjadi
DNA dan menghambat pembentukan protein-protein aktif. Enzim yang membantu
pengubahan RNA menjadi DNA disebut reverse transcriptase, sedangkan yang
membantu pembentukan protein-protein aktif disebut protease.

Untuk dapat membentuk protein yang aktif, informasi genetik yang tersimpan pada RNA
virus harus diubah terlebih dahulu menjadi DNA. Reverse transcriptase membantu proses
pengubahan RNA menjadi DNA. Jika proses pembentukan DNA dihambat, maka proses
pembentukan protein juga menjadi terhambat. Oleh karena itu, pembentukan virus-virus
yang baru menjadi berjalan dengan lambat. Jadi, penggunaan obat-obatan penghambat
enzim reverse transcriptase tidak secara tuntas menghancurkan virus yang terdapat di
dalam tubuh. Penggunaan obat-obatan jenis ini hanya menghambat proses pembentukan
virus baru, dan proses penghambatan ini pun tidak dapat menghentikan proses
pembentukan virus baru secara total.

Obat-obatan lain yang sekarang ini juga banyak berkembang adalah penggunaan
penghambat enzim protease. Dari DNA yang berasal dari RNA virus, akan dibentuk
protein-protein yang nantinya akan berperan dalam proses pembentukan partikel virus
yang baru. Pada mulanya, protein-protein yang dibentuk berada dalam bentuk yang tidak
aktif. Untuk mengaktifkannya, maka protein-protein yang dihasilkan harus dipotong pada
tempat-tempat tertentu. Di sinilah peranan protease. Protease akan memotong protein
pada tempat tertentu dari suatu protein yang terbentuk dari DNA, dan akhirnya akan
menghasilkan protein yang nantinya akan dapat membentuk protein penyusun matriks
virus (protein struktural) ataupun protein fungsional yang berperan sebagai enzim.




                          Gambar 2 (klik untuk memperbesar)

Gambar 2 menunjukkan skema produk translasional dari gen gag-pol dan daerah di mana
produk dari gen tersebut dipecah oleh protease. p17 berfungsi sebagai protein kapsid, p24
protein matriks, dan p7 nukleokapsid. p2, p1 dan p6 merupakan protein kecil yang belum
diketahui fungsinya. Tanda panah menunjukkan proses pemotongan yang dikatalisis oleh
protease HIV (Flexner, 1998).

Menurut Flexner (1998), pada saat ini telah dikenal empat inhibitor protease yang
digunakan pada terapi pasien yang terinfeksi oleh virus HIV, yaitu indinavir, nelfinavir,
ritonavir dan saquinavir. Satu inhibitor lainnya masih dalam proses penelitian, yaitu
amprenavir. Inhibitor protease yang telah umum digunakan, memiliki efek samping yang
perlu dipertimbangkan. Semua inhibitor protease yang telah disetujui memiliki efek
samping gastrointestinal. Hiperlipidemia, intoleransi glukosa dan distribusi lemak
abnormal dapat juga terjadi.
                           Gambar 3 (klik untuk memperbesar)

Gambar 3 menujukkan lima struktur inhibitor protease HIV dengan aktivitas
antiretroviral pada uji klinis. NHtBu = amido tersier butil dan Ph = fenil (Flexner, 1998).

Uji klinis menunjukkan bahwa terapi tunggal dengan menggunakan inhibitor protease
saja dapat menurunkan jumlah RNA HIV secara signifikan dan meningkatkan jumlah sel
CD4 (indikator bekerjanya sistem imun) selama minggu pertama perlakuan. Namun
demikian, kemampuan senyawa-senyawa ini untuk menekan replikasi virus sering kali
terbatas, sehingga menyebabkan terjadinya suatu seleksi yang menghasilkan HIV yang
tahan terhadap obat. Karena itu, pengobatan dilakukan dengan menggunakan suatu terapi
kombinasi bersama-sama dengan inhibitor reverse transcriptase. Inhibitor protease yang
dikombinasikan dengan inhibitor reverse transkriptase menunjukkan respon antiviral
yang lebih signifikan yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lebih lama (Patrick
& Potts, 1998).

Dari uraian di atas, kita dapat mengetahui bahwa sampai saat ini belum ada obat yang
benar-benar dapat menyembuhkan penyakit HIV/AIDS. Obat-obatan yang telah
ditemukan hanya menghambat proses pertumbuhan virus, sehingga jumlah virus dapat
ditekan.

Oleh karena itu, tantangan bagi para peneliti di seluruh dunia (termasuk Indonesia)
adalah untuk mencari obat yang dapat menghancurkan virus yang terdapat dalam tubuh,
bukan hanya menghambat pertumbuhan virus. Indonesia yang kaya akan
keanekaragaman hayati, tentunya memiliki potensi yang sangat besar untuk
ditemukannya obat yang berasal dari alam. Penelusuran senyawa yang berkhasiat
tentunya memerlukan penelitian yang tidak sederhana. Dapatkah obat tersebut ditemukan
di Indonesia? Wallahu a’lam.
Pustaka:

   1. Flexner, C. 1998. HIV-Protease Inhibitor. N. Engl. J.Med. 338:1281-1293
   2. Patrick, A.K. & Potts, K.E. 1998. Protease Inhibitors as Antiviral Agents. Clin.
      Microbiol. Rev. 11: 614-627.


Apa itu HIV?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

HIV ada singkatan dari Human Immunodeficiency Virus. Virus yang menyebabkan
rusaknya/melemahnya sistem kekebalan tubuh manusia.

[ Kembali ke atas ]

· Bagaimana virus HIV bisa menimbulkan rusaknya sistem kekebalan manusia ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

Virus HIV membutuhkan sel-sel kekebalan kita untuk berkembang biak. Secara alamiah
sel kekebalan kita akan dimanfaatkan, bisa diibaratkan seperti mesin fotocopy. Namun
virus ini akan merusak mesin fotocopynya setelah mendapatkan hasil copy virus baru
dalam jumlah yang cukup banyak. Sehingga lama-kelamaan sel kekebalan kita habis dan
jumlah virus menjadi sangat banyak.

[ Kembali ke atas ]

· Dimanakah virus HIV ini berada ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

HIV berada terutama dalam cairan tubuh manusia. Cairan yang berpotensial mengandung
virus HIV adalah darah, cairan sperma, cairan vagina dan air susu ibu. Sedangkan cairan
yang tidak berpotensi untuk menularkan virus HIV adalah cairan keringat, air liur, air
mata dan lain-lain

[ Kembali ke atas ]

· Apakah CD4 itu ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

CD 4 adalah sebuah marker atau penanda yang berada di permukaan sel-sel darah putih
manusia, terutama sel-sel limfosit. CD 4 pada orang dengan sistem kekebalan yang
menurun menjadi sangat penting, karena berkurangnya nilai CD4 dalam tubuh manusia
menunjukkan berkurangnya sel-sel darah putih atau limfosit yang seharusnya berperan
dalam memerangi infeksi yang masuk ke tubuh manusia. Pada orang dengan sistem
kekebalan yang baik, nilai CD4 berkisar antara 1400-1500. Sedangkan pada orang
dengan sistem kekebalan yang terganggu (misal pada orang yang terinfeksi HIV) nilai
CD 4 semakin lama akan semakin menurun (bahkan pada beberapa kasus bisa sampai
nol)

[ Kembali ke atas ]

· Apa fungsi sel CD4 ini sebenarnya ?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00

Sel yang mempunyai marker CD4 di permukaannya berfungsi untuk melawan berbagai
macam infeksi. Di sekitar kita banyak sekali infeksi yang beredar, entah itu berada dalam
udara, makanan ataupun minuman. Namun kita tidak setiap saat menjadi sakit, karena
CD4 masih bisa berfungsi dengan baik untuk melawan infeksi ini. Jika CD4 berkurang,
mikroorganisme yang patogen di sekitar kita tadi akan dengan mudah masuk ke tubuh
kita dan menimbulkan penyakit pada tubuh manusia

[ Kembali ke atas ]

· Apa gejala orang yang terinfeksi HIV menjadi AIDS?
Diperbaharui terakhir: 0000-00-00
Bisa dilihat dari 2 gejala yaitu gejala Mayor (umum terjadi) dan gejala Minor (tidak
umum terjadi):

Gejala Mayor:
- Berat badan menurun lebih dari 10% dalam 1 bulan
- Diare kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
- Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan
- Penurunan kesadaran dan gangguan neurologis
- Demensia/ HIV ensefalopati

Gejala MInor:
- Batuk menetap lebih dari 1 bulan
- Dermatitis generalisata
- Adanya herpes zostermultisegmental dan herpes zoster berulang
- Kandidias orofaringeal
- Herpes simpleks kronis progresif
- Limfadenopati generalisata
- Infeksi jamur berulang pada alat kelamin wanita
- Retinitis virus sitomegalo

[ Kembali ke atas ]

· Bagaimana HIV menjadi AIDS?
Diperbaharui terakhir: 2009-06-15

Ada beberapa Tahapan ketika mulai terinfeksi virus HIV sampai timbul gejala AIDS:
1. Tahap 1: Periode Jendela
- HIV masuk ke dalam tubuh, sampai terbentuknya antibody terhadap HIV dalam darah
- Tidak ada tanda2 khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV belum bisa mendeteksi keberadaan virus ini
- Tahap ini disebut periode jendela, umumnya berkisar 2 minggu - 6 bulan

2. Tahap 2: HIV Positif (tanpa gejala) rata-rata selama 5-10 tahun:
- HIV berkembang biak dalam tubuh
- Tidak ada tanda-tanda khusus, penderita HIV tampak sehat dan merasa sehat
- Test HIV sudah dapat mendeteksi status HIV seseorang, karena telah terbentuk
antibody terhadap HIV
-Umumnya tetap tampak sehat selama 5-10 tahun, tergantung daya tahan tubuhnya (rata-
rata 8 tahun (di negara berkembang lebih pendek)

3. Tahap 3: HIV Positif (muncul gejala)
- Sistem kekebalan tubuh semakin turun
- Mulai muncul gejala infeksi oportunistik, misalnya: pembengkakan kelenjar limfa di
seluruh tubuh, diare terus menerus, flu, dll
- Umumnya berlangsung selama lebih dari 1 bulan, tergantung daya tahan tubuhnya

4. Tahap 4: AIDS
- Kondisi sistem kekebalan tubuh sangat lemah
- berbagai penyakit lain (infeksi oportunistik) semakin parah

[ Kembali ke atas ]

								
To top