; Meningkatkan Kualifikasi Guru Pengajar Menjadi Guru Pendidik di Perguruan Buddhis Bodhicitta
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

Meningkatkan Kualifikasi Guru Pengajar Menjadi Guru Pendidik di Perguruan Buddhis Bodhicitta

VIEWS: 6,404 PAGES: 12

  • pg 1
									                                     BAB I
                               PENDAHULUAN


1.1. Latar Belakang Masalah
           Meningkatnya standar tuntutan dunia kerja terhadap kualifikasi lulusan
pendidikan yang semakin berkualitas dan berkompeten serta harapan yang tinggi para
orang tua terhadap prestasi dan keterampilan anak mereka yang bersekolah membuat
pimpinan di Perguruan Buddhis Bodhicitta berupaya melakukan pembenahan diri
untuk tetap bisa berperan dan memberi yang terbaik kepada peserta didik.
           Untuk menghadapi tuntutan situasi di zaman teknologi informatika ini,
yang perlu menjadi fokus perhatian pertama dan utama adalah guru. Sebagian besar
guru tidak memahami peranan dan tanggungjawab mereka sebagai guru pendidik
terhadap peserta didik dalam dunia pendidikan, termasuk di Perguruan Buddhis
Bodhicitta Medan. Kebanyakan guru hanya berperan sebagai guru pengajar daripada
guru pendidik. Akibat dari peran tersebut, peserta didik tidak optimal ditempatkan
sebagai subjek didik sehingga proses pembelajaran yang terjadi lebih bersifat
monolog dari guru ke peserta didik tanpa ada umpan balik dari peserta didik.
           Berkenaan dengan fakta inilah, masalah tersebut diangkat menjadi tema
pembuatan makalah dengan judul ”Meningkatkan Kualifikasi Guru Pengajar Menjadi
Guru Pendidik di Perguruan Buddhis Bodhicitta” dengan harapan seluruh guru di
Indonesia pada umumnya dan di Perguruan Buddhis Bodhicitta pada khususnya dapat
berperan benar-benar sebagai guru yang sesungguhnya, yakni guru pendidik.


1.2. Tujuan
           Tujuan yang hendak dicapai dalam penulisan makalah ini adalah:
a. meningkatkan persentase guru pengajar menjadi guru pendidik
b. guru pendidik dapat menjadi pembimbing ke arah mana peserta didik harus tuju
   agar tidak sia-sia
melalui kegiatan seminar di Perguruan Buddhis Bodhicitta Medan dalam waktu
dekat.




                                        1
1.3. Ruang Lingkup Materi
           Dalam makalah ini akan dipaparkan:
a. definisi guru dan pendidik
b. hakikat, persyaratan, dan sifat guru pendidik
c. perbedaan guru pendidik dengan guru pengajar
dengan harapan para guru dapat memaknai, menjiwai, dan melaksanakan profesinya
sebagai guru pendidik yang profesional.




                                          2
                                    BAB II
                      DASAR TEORI/LANDASAN TEORI


a. Definisi Guru dan Pendidik
           Guru berasal dari bahasa Sanskerta, gu yang berarti kegelapan, dan ru
yang berarti menghalau. Dengan demikian, guru adalah orang yang menghalau
kegelapan serta membawa lebih banyak pemahaman dan pencerahan. Arti harfiahnya
adalah ”berat”, seseorang pengajar suatu ilmu. Guru menurut Wikipedia adalah
pendidik dan pengajar pada pendidikan anak usia dini jalur sekolah (pendidikan
formal) di pendidikan dasar dan pendidikan menengah yang harus memiliki
kualifikasi formal.
           McLeod, (1989) berasumsi guru adalah seseorang yang pekerjaannya
mengajar orang lain. Kata mengajar dapat ditafsirkan menjadi:
1. menularkan pengetahuan dan kebudayaan kepada orang lain (bersifat kognitif)
2. menambah nilai dan keyakinan kepada orang lain (afektif)
3. melatih keterampilan jasmani kepada orang lain (psikomotor)
           Dalam bahasa Indonesia, guru merujuk pendidik profesional dengan tugas
utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan
mengevaluasi peserta didik. Menurut W.J.S. Poerwadarminta, pendidik adalah orang
yang melakukan kegiatan dalam bidang mendidik.


b. Hakikat, Persyaratan, dan Sifat Guru Pendidik
           Menilik definisi-definisi di atas, hakikat pendidik secara fungsional
menunjukkan kepada seseorang yang melakukan kegiatan dalam memberikan
pengetahuan, keterampilan, pendidikan, pengalaman, dan sebagainya, bisa siapa saja
dan dimana saja. Jadi, guru adalah tenaga pendidik yang pekerjaan utamanya
mengajar (UUSPN Tahun 1989 Bab VII Pasal 27 Ayat 3)
           Sebagaimana yang tercantum dalam tujuan pendidikan nasional,
pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak
serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan
bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia



                                       3
yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat,
berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
           Kecakapan dan pengetahuan dasar haruslah dimiliki oleh pendidik.
Winarno Surachmad mengadopsi istilah guru sebagai berikut:
1. pendidik harus mengenal peserta didik yang dipercayakan kepadanya
2. memiliki kecakapan memberi bimbingan
3. memiliki dasar pengetahuan yang jelas tentang tujuan pendidikan di Indonesia
   pada umumnya sesuai dengan tahap-tahap pembangunan
4. memiliki pengetahuan yang bulat utuh dan baru mengenai ilmu yang diajarkan.
           Mengacu pada ungkapan di atas, pendidik bukan asal pandang saja,
melainkan dia harus menyadari akan tugas dan tanggungjawab yang berat. Dia harus
berkompeten di bidangnya, harus memiliki kecakapan dan pengetahuan dasar yang
cukup dan sebagainya. Untuk itu seorang pendidik harus memenuhi berbagai
persyaratan fisik, mental, moral, maupun intelektual yang terangkum dalam
persyaratan profesionalnya.
           Ada 3 (tiga) persyaratan atau ciri dasar (sifat) yang selalu dapat dilihat
pada setiap profesional yang baik mengenai etos kerjanya, yaitu:
1. keinginan untuk menjunjung tinggi mutu pekerjaan (job quality)
2. menjaga harga diri dalam melaksanakan pekerjaan
3. keinginan untuk memberikan layanan kepada masyarakat melalui karya
   profesionalnya.
           An-Nahlawi menyebutkan beberapa karakteristik yang harus dimiliki
pendidik, yakni memiliki watak ikhlas, sabar, jujur, mampu menggunakan metode
mengajar secara bervariasi, mampu mengelola kelas, mengetahui kehidupan psikis
peserta didik. Al-Abrasy memberikan memberikan batasan tentang karakteristik
pendidik, yaitu bersih fisik dari segala kotoran dan bersih jiwa dari segala sifat
tercela, ikhlas, pemaaf, memahami karakter peserta didik serta menguasai metode.
           Pemenuhan syarat-syarat di atas adalah kondisi ideal yang harus dimiliki
oleh seorang pendidik. Bagaimana realitas wajah pendidik di Indonesia?
Pemberitaan-pemberitaan tentang pemerkosaan, pelecehan seks guru terhadap peserta



                                        4
didik, kekerasan guru kepada peserta didik, korupsi waktu, kemampuan mengajar
yang kurang, ketidakmampuan dalam penggunaan media pembelajaran, dan
kesalahan memilih metode, telah menunjukkan kondisi buruknya wajah pendidik di
Indonesia.
             Perbaikan mutu pendidikan tidak hanya difokuskan kepada kurikulum,
sarana prasarana, atau manajerial satuan pendidikan saja, tetapi perhatian harus
diarahkan kepada problem mentalitas dan kapabilitas pendidik. Di samping itu,
kemampuan mengajar dengan menggunakan metode yang tepat merupakan tuntutan
yang harus dipenuhi oleh pendidik. Penggunaan metode diperlukan agar penyampaian
materi atau bahan ajar tercapai dengan baik. Metode ini berkaitan erat dengan
keberhasilan proses pembelajaran yang hasilnya akan menentukan prestasi yang akan
diraih peserta didik.
             Dalam memilih metode mengajar, menurut Zuhairini, seorang pendidik
harus memperhatikan 4 (empat) hal, yakni:
1. kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan tujuan dan bahan pengajaran
2. kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan kemampuan peserta didik
3. kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan fasilitas yang tersedia
4. kesesuaian metode mengajar yang digunakan dengan lingkungan pendidikan.
             Dalam hal ini, kebijakan sertifikasi guru untuk guru (pendidik) sangat
diperlukan      dengan     harapan    terjadi   peningkatan     kompetensi     guru.


c. Perbedaan Guru Pendidik dengan Guru Pengajar
             Pendidikan dan pengajaran adalah dua perkara yang berbeda tetapi banyak
orang yang tidak paham tentang kedua perkara ini. Pendidikan adalah proses
mendidik yang melibatkan penerapan nilai-nilai yang tidak saja melibatkan perkara
fisik dan mental tetapi juga hati dan nafsu karena sesungguhnya yang dididik adalah
hati dan nafsu.    Di dalam pendidikan terdapat proses pemahaman, penghayatan,
penjiwaan, dan pengamalan. Sementara pengajaran adalah proses belajar atau proses
menuntut ilmu. Ia khusus ditujukan pada akal.
             Demikian halnya dengan pendidik dan pengajar. Tidak banyak orang bisa
membedakannya. Semuanya disamaratakan dengan satu sebutan, guru. Berkenaan



                                        5
 dengan kenyataan ini serta untuk memudahkan orang banyak membedakan keduanya,
 penulis menggunakan istilah guru pendidik untuk guru yang melakukan kegiatan
 pendidikan dan guru pengajar untuk guru yang melakukan kegiatan pengajaran. Ada
 perbedaan mendasar antara guru pendidik dengan guru pengajar.


No                   Guru Pengajar                                  Guru Pendidik
 1   Peran utama mengajar                          Peran utama mengajar belajar
 2   Pilihan rasional                              Pilihan moral spiritual
 3   Meningkatkan kesejahteraan hidup dahulu       Mengejar kepuasan batin dahulu
                                                   Sosialisasi nilai luhur untuk hidup &
 4   Transfer ilmu pengetahuan dan teknologi       kehidupan
     Fokus pada diri, keinginan, & kebutuhan       Fokus pada bakat, minat, dan talenta peserta
 5   sendiri                                       didik
                                                   Memandang peserta didik sebagai mitra
 6   Memandang peserta didik sebagai bawahan       potensial
     Gelar akademis merupakan hal yang
 7   terpenting                                    Gelar akademis bukan hal yang terpenting
 8   Lulusan IKIP atau penggantinya                Pembelajar di sekolah besar kehidupan




                                               6
                                       BAB III
                                   PEMBAHASAN

              Secara umum yang menjadi orangtua walau belum tentu pernah menjadi
guru pasti pernah menjadi peserta didik. Semua orang pun tahu sebenarnya pendidikan itu
apa dan sepakat bahwa pendidikan adalah hal yang sangat sangat penting. Dari kecil kita
sudah melihat bagaimana cara orangtua membesarkan dan membimbing anak-anaknya.
Semuanya dilaksanakan tidak dengan cara sim salabim dimana dalam waktu sekejap si
anak tumbuh membesar, berubah dari tidak bisa menjadi bisa, tidak paham menjadi
paham, tidak tahu menjadi tahu, dan sebagainya. Pendidikan memerlukan waktu dan ini
adalah kodrat alam yang tidak bisa dielakkan serta memiliki pengaruh sangat besar
terhadap seorang individu. Sekilas tampak bahwa pendidikan adalah hal yang sangat
sederhana, namun hal yang sederhana itu tidak mudah untuk dijalankan.
              Pendidikan membutuhkan pandangan dan pola pikir, dan ini merupakan
bagian terpenting yang kurang mendapat perhatian utama, selain struktur dan sistem.
Seragam sekolah sangat necis, ada taman sekolah, ruang kelas ber-AC, perpustakaan
yang memuat banyak koleksi buku, guru pembimbing, guru wali kelas, kepala sekolah,
guru-guru dan staf yang bekerja sama memperbaharui sistem pengajaran dan kurikulum,
dan sebagainya yang menjadi fokus perhatian semua sekolah. Namun masalah pendidikan
tetap saja muncul.
              Ada seorang peserta didik yang sangat rajin dan kerja keras dalam
belajarnya namun nilai yang diraih tidak cukup bagus juga. Ia minta dipindahkan ke
sekolah lain yang lebih terspesialisasi bidang studinya yang sesuai dengan minatnya
tetapi ibunya tidak menyetujui permintaannya. Menurut beliau sekolah sekarang adalah
yang terbaik buat anaknya karena kompetisinya sangat ketat. Sekolah lain belum tentu
mampu menyamai. Suatu hari si peserta didik menghadapi ujian matematika dan
memperoleh nilai jelek karena nyata-nyata tidak mampu mengerjakan soal ujian. Ia
sangat sedih. Anak ini, mungkin ditambah faktor-faktor lainnya, akhirnya bunuh diri.
              Suatu hari ada seorang ilmuwan diundang untuk memberikan seminar.
Karena waktu sangat mendesak ia terburu-buru membawa tas kerja langsung naik ke
taksi yang telah menunggu. “Cepat! Cepat! Tolong cepat setirnya! Saya sudah mau telat



                                           7
nih!” Supir taksinya langsung menginjak gas dan hush... Beberapa menit kemudian,
ilmuwan tadi baru teringat, “Ei, Sobat! Tadi saya sudah bilang belum mau ke mana?”
Supir ini lantas menjawab, “Aiya..., mana ada. Saya bingung tapi disuruh cepat, yah…
terpaksa cepat tapi tidak tahu mau ke mana!” Akhirnya ilmuwan itu minta maaf dan
minta ia balikkan arah mobilnya ke tempat yang dituju.
               Dua kisah di atas memperlihatkan dengan jelas bahwa arah jauh lebih
penting dari usaha. Jika arah yang ditentukan salah, segala usaha menjadi sia-sia. Pada
cerita pertama di atas, peserta didik yang bersangkutan telah memiliki arah yang jelas.
Sayangnya ia tidak berada di jalur yang sesuai sehingga sekeras apapun usaha yang telah
diupayakannya, ia membentur tembok akibat dari pandangan dan pola pikir ibunya yang
menganggap sekolah ini bagus, sekolah itu jelek. Dari sudut pandang pendidikan, jika
peserta didik mampu menyadari arah yang dibidiknya dan didukung penuh oleh orangtua,
masyarakat, dan pemerintah, apapun yang didalami sebenarnya tidak menjadi masalah.
Pada cerita kedua, supir taksi dapat dimisalkan sebagai peserta didik yang memiliki
keterampilan mengemudi taksi dengan cepat, namun tidak mengetahui arah yang hendak
dituju, sementara ilmuwan adalah guru pendidik yang membimbing peserta didik ke arah
mana taksi hendak dituju agar usaha peserta didik tidak sia-sia.
               Bagaimana dengan dunia pendidikan di Indonesia khususnya di Perguruan
Buddhis Bodhicitta? Sepertinya tidak jauh berbeda dengan cerita peserta didik yang
malang di atas. Bukan hanya orangtua saja, pandangan dan pola pikir guru, masyarakat,
dan pemerintah pun tidak kondusif terhadap pendidikan sehingga tidaklah mengherankan
kualitas pendidikan yang dihasilkan jauh dari harapan. Indikatornya adalah tidak bisa
berjiwa besar menerima kekalahan, meningkatnya angka kriminalitas, pengguna narkoba,
polusi, dan larisnya bisnis panti jompo. Faktor penyebabnya adalah:
a. pertama, hilangnya visi pendidikan sejati.
b. Kedua, sekolah menjadi komoditas
c. Ketiga, adanya tuntutan revolusi industri yang mengabaikan pendidikan karakter
   individu
d. keempat, langkanya guru pendidik.
               Mari bersama-sama kita menyimak salah satu karya Kahlil Gibran dalam
kitab Perjalanan Sang Nabi yang berjudul Orang Gila.



                                             8
               Di taman sebuah panti jiwa saya melihat seorang lelaki yang berwajah
pucat dan tampan namun penuh keraguan. Saya duduk di sebelah bangku bersebelahan
dengannya lalu bertanya, “Mengapa kamu berada di sini?” Ia menatap saya keheranan
lalu menjawab, “Pertanyaanmu sungguh tak sopan, tetapi saya akan jawab. Ayahku
ingin menjadikanku seperti dirinya, juga pamanku. Ibuku ingin membuatku secitra
dengan ayahnya yang termasyhur. Saudariku mengatakan bahwa suaminya si pelaut
adalah panutan yang baik untukku, sedangkan saudara lelakiku menginginkan saya
seperti dia, menjadi seorang atlet yang berprestasi.
               Guru-guruku pun begitu, guru filsafat, guru musik, dan ahli ilmu logika,
mereka masing-masing telah menetapkan ingin menjadikan diriku cerminan dari diri
mereka. Karena itulah aku kemari. Tak kusangka ternyata di sini lebih gila, tetapi
setidaknya saya bisa menjadi saya sendiri.” Lalu tiba-tiba ia menoleh padaku seraya
berkata, “Hai, beritahu saya, apakah kamu terdorong ke tempat ini juga karena
pendidikan dan bimbingan yang baik?” Jawabku, “Oh, tidak. Saya cuma pengunjung.”
Lalu ia berkata seolah mafhum, “Oh, kamu pasti salah satu penghuni panti jiwa yang
ada di balik tembok panti ini.”
               Profil guru di Perguruan Buddhis Bodhicitta sepertinya tidak berbeda jauh
dengan kisah di atas. Benar-benar guru pengajar sejati. Peserta didik diupayakan kelak
menjadi seperti seseorang bukannya menjadi jati dirinya sendiri. Di sini terjadi proses
transfer pengetahuan seperti apa kata guru pengajar dimana guru pengajar berperan
sebagai mesin perekam dengan peserta didik sebagai kaset dan pelajaran adalah isi
rekaman. Peserta didik tidak dibawa “mengalami” apa yang dipelajarinya, melainkan
hanya “mengetahui” karena diberitahu guru.pengajar. Dampaknya peserta didik hanya
mengingat dalam jangka pendek dan gagal membekali peserta didik memecahkan
persoalan yang dihadapi dalam kehidupan di masa depan.
               Untuk mengubah situasi ini, dibutuhkan guru yang berjiwa pendidik bukan
pengajar. Guru pendidik adalah guru yang melaksanakan pekerjaannya secara
profesional, dedikatif, disiplin, inovatif, kreatif, dan sepenuh hati untuk membantu
peserta didik “mengalami” apa yang dipelajarinya, apa manfaatnya dan bagaimana
mencapai tujuannya dengan berpedoman pada 4 (empat) pilar utama yaitu:
a. belajar mengetahui (learning to know)



                                            9
b. belajar melakukan (learning to do)
c. belajar hidup dalam kebersamaan (learning to live together)
d. belajar menjadi diri sendiri (learning to be).
Bilamana perlu, guru yang bersangkutan dapat menelepon peserta didik untuk
menanyakan apa ada yang tidak dimengerti mengenai pelajaran sekolah.
                 Mencari guru pendidik di zaman yang serba materialis dan konsumtif
seperti sekarang bukanlah perkara mudah. Guru pendidik seperti ini harus mampu
memainkan peran dalam membangun dan memberi rasa percaya diri, gembira, harapan,
metode, dan arah kepada peserta didik sehingga dapat memosisikan sebagai diri sendiri
yang memerlukan bekal untuk hidupnya kelak. Peserta didik mempelajari apa yang
bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya itu, peserta didik
sangat membutuhkan guru pendidik yang dapat mengarahkan dan membimbing, bukan
guru pengajar.
                 Bagaimanakah kualifikasi seorang guru pendidik? Selain yang telah
dijelaskan di atas, guru pendidik adalah seorang guru yang:
     1.   benar-benar mencintai profesi pendidikan sebagai suatu hobi dan panggilan jiwa
          bukan sebagai profesi keterpaksaan demi penghasilan
     2.   mampu menerapkan berbagai strategi tepat dalam mengelola kelas sebagai
          sebuah tim untuk menemukan pengetahuan dan keterampilan bagi anggota kelas
          dengan cara menemukan sendiri bukan dari apa kata guru
     3.   memiliki program kerja yang jelas dan mampu merencanakan setiap
          pembelajaran yang dilakukan (lesson plan) agar berhasil maksimal selain
          menyiapkan Program Semester, Satuan Pelajaran, atau Lembar Kerja Siswa
     4.   memiliki inisiatif, kreativitas, dan sikap kritis untuk melakukan pembaharuan
     5.   tidak pernah merasa puas dengan ilmu yang dimilikinya sehingga mau
          menambah ilmu dan terbuka terhadap perkembangan teknologi
     6.   memandang peserta didik sebagai mitra potensial.




                                            10
                                    BAB IV
                                   PENUTUP


4.1. Kesimpulan
1. Tidak bisa menerima kekalahan, kebanggaan menjadi juara kelas, meningkatnya
   angka kriminalitas, pengguna narkoba, polusi, dan larisnya bisnis panti jompo
   adalah indikator dominannya guru pengajar dibanding guru pendidik.
2. Pendidikan karakter peserta didik telah diabaikan dalam dunia pendidikan.
3. Jumlah guru pendidik lebih sedikit dibandingkan guru pengajar, termasuk di
   Perguruan Buddhis Bodhicitta.


4.2. Saran
1. Perlu diadakan kegiatan secara berkala untuk meningkatkan jumlah guru pendidik
   melalui brainwashing, seminar, workshop, dan lainnya.
2. Perlu sosialisasi softskills bagi seluruh individu di lingkungan Perguruan Buddhis
   Bodhicitta yang meliputi:
   2.1. critical thinking
   2.2. positive thinking
   2.3. leadership
   2.4. integrity
   2.5. self management
   2.6. working with people
   2.7. communication




                                       11
                             DAFTAR PUSTAKA


1. Salim, Alfian, Dibutuhkan Guru Pendidik Bukan Pengajar, Harian Global Medan,
   08 & 15 November 2006.
2. http://katmiati.blogspot.com/2007/05/guru-dan-proses-mengajar-belajar-pmb.html
3. http://niendin.wordpress.com/2008/09/07/profesionalisme-guru-dalam-
   pencapaian-kompetensi-siswa-blm-sempurna-2/
4. http://one.indoskripsi.com/node/7162
5. http://supraptojielwongsolo.wordpress.com/2008/09/18/perbedaan-antara-
   pendidikan-dan-pengajaran/
6. http://www.alfurqon.or.id/component/content/article/64-guru/58-tugas-dan-peran-
   guru
7. http://sutisna.com/pendidikan/strategi-belajar-mengajar/pengertian-guru/
8. http://www.mukhlisfahruddin.web.id/2009/03/hubungan-pendidik-dan-metode-
   pengajaran.html
9. Iim Waliman, dkk. 2001. Pengajaran Demokratis (Modul Manajemen Berbasis
   Sekolah). Bandung : Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat




                                       12

								
To top