USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG MASYARAKAT SEKITAR PESANTREN MELALUI PEMANFAATAN by sigitnisty

VIEWS: 3,688 PAGES: 17

									Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


      USAHA PENGGEMUKAN SAPI POTONG MASYARAKAT SEKITAR
               PESANTREN MELALUI PEMANFAATAN
                  LIMBAH INDUSTRI TAPIOKA
            KOPERASI ESA PESANTREN MASLAKUL HUDA



LATAR BELAKANG

        Desa Ngemplak Kidul kecamatan Margoyoso kabupaten Pati (17 km arah utara dari Kota
Pati) selama bertahun-tahun telah menjadi sentra industri rakyat (home industry) yang
memproduksi tepung tapioka. Usaha ini diawali sekitar tahun 60-an. Pada saat itu permintaan
pasar akan tepung tapioka cukup besar seiring dengan pertumbuhan perekonomian nasional
dengan Program Repelita yang dicanangkan oleh Pemerintah. Bahkan permintaan pasar dunia
akan tepung tapioka yang sebagian besar untuk bahan baku industri makanan itu juga meningkat
pesat. Dengan potensi pasar yang berkembang terus maka tak pelak usaha produksi tepung
tapioka di desa Ngemplak Kidul banyak bertumbuhan seperti jamur di musim hujan. Saat ini
bahkan telah menjalar di desa-desa sekitar desa Ngemplak Kidul, diantaranya desa Sidomukti,
Mojoagung, Waturoyo, Ketanen dan lain-lain.

        Selain potensi pasar yang tinggi, secara geografis desa Ngemplak Kidul memang terletak
di posisi yang sangat startegis. Hal tersebut dikarenakan posisi desa Ngemplak Kidul terletak di
jalur utama perekonomian kabupaten Pati yaitu jalur Pati-Tayu dan berjarak 17 km dari Pati.
Dengan posisi tersebut hubungan transportasi dengan daerah-lainnya bahkan dengan jalur
Pantura menjadi dekat sehingga mobilisasi bahan baku (ketela pohon) dan barang jadi (tepung
tapioca) menjadi mudah dan ekonomis. Selain hal tersebut dengan terletak di kaki gunung Muria
menjadikan desa Ngemplak Kidul mempunyai kandungan air tanah yang sangat berlimpah
dimana air merupakan kebutuhan utama industri tapioka. Juga ditunjang kandungan air yang
cukup mineral, banyaknya kandungan klorida yang sangat dibutuhkan untuk pengendapan
saripati ketela pohon, maka air tanah desa Ngemplak Kidul sangat cocok untuk pembuatan
tepung tapioka.

        Saat ini terdapat sekitar 300-an pengusaha, baik berkapasitas besar maupun kecil, yang
melakukan usaha produksi tepung tapioka di desa Ngemplak Kidul dan desa-desa sekitarnya.
Dengan rata-rata mempekerjakan 25 sampai 30 tenaga kerja maka tenaga kerja yang terserap di
industri ini berkisar 9.000-an orang. Rata–rata setiap pengusaha memproduksi 8 ton tepung
tapioka per-minggu. Dengan produksi sebesar itu sentra industri tepung tapioka desa Ngemplak
Kidul cukup diperhitungkan oleh pedagang-pedagang besar seperti dari Tasikmalaya (eksportir
tapioka) selain podusen tepung tapioka di daerah lainnya seperti di Wonogiri, Banjarnegara,
Lampung dll.

        Di sisi perkembangan ekonomi, sentra industri rakyat tepung tapioka desa Ngemplak
Kidul memberikan andil yang cukup besar atas pertumbuhan ekonomi               kabupaten Pati,
khususnya kecamatan Margoyoso. Dengan pertambahan devisa daerah dan terserapnya


                                                                                     Halaman 1
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


angkatan kerja dapat berimbas kepada perkembangan komoditas ekonomi lainnya seperti
sandang, papan dan kebutuhan-kebutuhan sekunder.

LANDASAN PEMIKIRAN

         Banyaknya manfa’at yang didapat dari sentra industri rakyat tepung tapioka ini ternyata
usaha ini juga berandil besar terhadap rusaknya ekosistem (lingkungan hidup) wilayah
kecamatan Margoyoso dan kecamatan sekitarnya yang diakibatkan oleh polusi dari limbah
industri tapioka tersebut yang tidak ditangani secara baik. Sebenarnya berbagai upaya
pengolahan limbah tersebut telah dilakukan baik oleh pemerintah kabupaten Pati maupun
pemerintah pusat, namun sampai saat ini belum menunjukkan perbaikan yang berarti pada
lingkungan hidup kecamatan Margoyoso. Memang harus diakui bahwa kebanyakan pertumbuhan
industri rakyat yang berlangsung di berbagai tempat selalu tidak dibarengi dengan sistem
penataan tata ruang dan pengolahan limbah yang memadai. Para pengusaha, apalagi
pengusaha kecil, kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan hidup dan
ekosistem hayati disekitar tempat usahanya sangat rendah. Dengan pemikiran pragmatis yang
hanya bertumpu pada peritungan-perhitungan ekonomis semata, maka hal-hal diatas sering
mereka abaikan.

         Industri tepung tapioka desa Ngemplak Kidul mengasilkan bebarapa limbah yaitu limbah
padat berupa kulit ketela dan ampas, dan juga limbah cair berupa air buangan pengendapan
tapioka (lindur). Ampas ketela dan lindur bila dibiarkan dalam beberapa hari akan membusuk
sehingga menimbulkan bau yang tidak enak (seperti bau tinja). Limbah-limbah tersebut oleh para
pengusaha biasanya untuk limbah cair dan ampas yang tidak diolah langsung dibuang di sungai-
sungai sekitar desa Ngemplak Kidul, termasuk desa Kajen di mana Pesantren maslakul Huda
terletak, sehingga sungai-sungai tersebut menjadi berwarna putih kecoklatan yang menimbulkan
bau busuk yang sangat menyengat. Pembusukan limbah tersebut menimbulkan beberapa racun
yang dihasilkan dari reaksi kimia akibat pembusukan tadi dan juga mendatangkan beberapa
bakteri, maka air di sungai-sungai tersebut ikut tercemar padahal sungai-sungai tadi mengairi
1281 hektar sawah dan 768 hektar tambak di wilayah kecamatan Margoyoso dan sekitarnya.
Kerusakan yang paling parah adalah budi daya udang windu di pertambakan kecamatan
Margoyoso dan sekitarnya selalu gagal panen karena banyak udang yang mati sebelum usia
panen. Hal tersebut tentunya menimbulkan kerugian pada petani tambak dan sawah yang sangat
besar.

         Selain hal tersebut penyedotan air tanah yang sangat tinggi lambat laun dapat
mengurangi kandungan air tanah dan apabila menipis, maka akan terjadi perembesan air laut
karena desa Ngemplak Kidul hanya berjarak 5 km dari garis pantai. Untuk mengasilkan 1
kilogram tepung tapioka maka prosesnya membutuhkan air sebanyak 7 liter. Dengan perhitungan
tersebut, apabila setiap minggu mengasilkan 8 ton kali 300 pengusaha atau sama dengan 2400
ton tapioka, maka air tanah yang disedot sebanyak 16.800.000 liter air per-minggu. Dapatlah
dibayangkan betapa besar debit air yang dibutuhkan dalam industri tapioca tersebut.


                                                                                      Halaman 2
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


        Untuk limbah padat yaitu kulit ketela dan ampas saat ini sebagian sudah termanfa'atkan
walaupun belum seluruhnya. Kulit ketela biasanya ditumpuk kemudian apabila kering dibakar,
sedangkan ampas oleh sebagian warga Ngemplak Kidul dikeringkan untuk kemudian dapat dijual
sebagai bahan baku pakan ternak atau konsentrat. Namun apabila musim hujan ampas tersebut
sedikit termanfaatkan karena pengolahan ampas sebagai bahan pakan ternak membutuhkan
sinar matahari untuk pengeringan yang sangat sedikit pada waktu musim hujan. Oleh karena itu
pada musim hujan banyak ampas yang terbengkelai dan kalau sudah banyak menumpuk
biasanya dibuang di sungai-sungai. Dalam pembuatan tepung tapioka biasanya setiap 1 ton
ketela pohon menghasilkan 300 - 350 kg tapioca, dan sisanya merupakan limbah yang mana 400
kg berupa limbah cair dan 250 kg berupa limbah padat. Bisa dibayangkan apabila seminggu desa
Ngemplak Kidul memproduksi tepung tapioka sebanyak 2400 ton, maka limbah padat yang
dihasilkan mencapai 9600 ton, suatu jumlah limbah yang sangat besar.

        Ampas dan kulit ketela pohon oleh masyarakat sekitar desa Ngemplak Kidul
dimanfaatkan sebagai bahan makanan sapi ternak. Kedua bahan pakan tersebut memang
sangat baik untuk pertumbuhan sapi karena kulit ketela dan ampas mempunyai kandungan
kalori, protein, hidrat arang, lemak, kalsium, fosfor, zat besi yang cukup tinggi dan juga
mengandung beberapa jenis vitamin, dimana kandungan tadi sangat baik untuk pertumbuhan
sapi ternak tersebut. Apalagi jika ditambah bahan makanan lain seperti katul, ampas tahu,
hijauan dan lain sebagainya.

        Melihat melimpahnya limbah tapioka dan zat-zat yang terkandung di dalamnya
sebagaimana diatas, maka limbah-limbah tersebut, yakni ampas dan kulit ketela, sangat
potensial untuk diolah menjadi pakan ternak sapi yang bermutu dan ekonomis. Untuk itulah
beberapa waktu yang lalu Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (BPPM) Pesantren
Maslakul Huda, Kajen Margoyoso Pati bekerja sama dengan Fakultas Kimia Universitas
Diponegoro, Semarang menyelenggarakan pelatihan dan penelitian terhadap pengolahan limbah
tapioka sebagai bahan pakan ternak sapi potong. Pelatihan tersebut mengikut sertakan
kelompok-kelompok peternak di wilayah kecamatan Margoyoso. Di dalam pelatihan tersebut
diajarkan tentang pembuatan pakan sapi yang dapat memberikan peningkatan berat sapi secara
signifikan dalam jangka waktu yang relatif singkat. Hasil pelatihan dan penelitian telah diuji
cobakan pada salah satu kelompok peternak di desa Ngemplak Kidul. Dari uji coba tersebut
dengan pemberian pakan tadi secara intensif, dapat menambah berat sapi sebesar 3 sampai 4
kg setiap hari sehingga proses penggemukan atau populer disebut pengereman yang biasanya
dilakukan dalam jangka waktu 4 sampai 6 bulan kini cukup dilakukan dalam jangka waktu 2
sampai 2,5 bulan dan menghasilkan bobot sapi yang lebih berat. Dengan waktu pengereman
yang singkat dan hasil yang lebih baik, maka biaya selama pengereman menjadi lebih ekonomis
dan pendapatan penjualan menjadi lebih besar. Untuk itulah proses pengereman dengan pakan
tadi menjadi usaha yang sangat prospektif dan menguntungkan.

        Sapi merupakan hewan yang paling banyak diternakkan oleh penduduk Kabupaten Pati.
Hampir semua wilayah kecamatan di kabupaten Pati mulai dari ujung selatan yakni kecamatan

                                                                                   Halaman 3
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


Pucakwangi hingga ujung utara yakni kecamatan Dukuhseti penduduknya banyak memelihara
sapi. Menurut data dari Kantor Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Pati hewan-hewan
yang diternakkan masyarakat setempat adalah sapi (37%), kerbau (10%) kambing (18%), ayam
(9%), itik (17%) dan selebihnya hewan ternak lain. Umumnya yang mereka lakukan adalah
penggemukan sapi. Sedangkan pembibitan melalui inseminasi buatan (kawin suntik) atau cara
konvensional. Sedangkan cara berternak ada yang dilakukan sendiri atau bersama-sama dengan
membentuk kelompok-kelompok.

POTENSI PASAR

        Indonesia merupakan negara pengimpor sapi dan daging sapi guna memenuhi
permintaan daging sapi dalam negeri yang terus meningkat dari tahun ke tahun. Apalagi pada
bulan-bulan tertentu seperti hari Lebaran dan Lebaran Qurban permintaan daging sapi sangat
tinggi sehingga harga daging sapi melonjak. Produksi daging sapi dalam negeri selama 5 tahun
terakhir selalu terjadi peningkatan rata-rata 7,6 % per-tahun (data Biro Pusat Statistik 2001). Hal
tersebut dikarenakan jumlah rumah pemotongan hewan yang meningkat seiring dengan
meningkatnya permintaan kebutuhan konsumsi daging sapi yang cukup tinggi. Selain itu
permintaan akan kualitas produksi daging juga semakin beragam, hal itu ditandai dengan impor
daging untuk restoran-restoran internasional yang semakin banyak dengan meminta kualitas
tertentu, seperti warna, keempukan, marbling atau pelemakan daging yang sesuai. Dengan
peningkatan permintaan tersebut tak pelak harga daging sapi menjadi cukup tinggi yaitu berkisar
Rp 40.000,- sampai Rp 45.000,- per-kilogram. Melihat keadaan pasar tersebut pengembang-
biakan sapi (penggemukan) menjadi potensi bisnis yang cukup menjanjikan.

TUJUAN

Tujuan dari kegiatan ini adalah ;

1. Memulihkan keberdayaan masyarakat sasaran.

2. Menciptakan lapangan kerja baru yang berbasis potensi lokal.

3. Meningkatkan pendapatan / penghasilan masyarakat sasaran.

4. Menggerakkan roda perekonomian daerah.

5. Mengelola lingkungan lokal secara berkelanjutan

6. Meningkatkan peran pesantren di masyarakat.

OUT PUT (DAMPAK SOSIAL DAN EKONOMI)

Dengan usaha kegiatan penggemukan sapi ini diharapkan mempunyai dampak positif berupa:

    1. Tergarapnya potensi dan sumber daya lokal untuk dikembangkan menjadi kegiatan
        usaha yang produktif dan konstruktif.

    2. Kestabilan lingkungan sosial dan keamanan karena masyarakat sasaran (anggota)
        mempunyai lahan ekonomi secara mandiri.


                                                                                        Halaman 4
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


    3. Termanfaatkannya limbah padat       home industri tapioka (kulit dan ampas ketela)
        menjadi bahan pakan sapi bermutu dan ekonomis.

    4. Dengan tergarapnya limbah industri tapioka dapat mengurangi polusi lingkungan
        hidup masyarakat kecamatan Margoyoso akibat industri tapioka.

    5. Secara makro, akan terpenuhinya kebutuhan daging dalam negeri dengan pasokan
        lokal, meminimalisir impor sehingga menghemat devisa.

BENTUK KEGIATAN

        Dalam proyek ini bentuk kegiatannya adalah penggemukan sapi potong secara intensif
yang dilakukan oleh kelompok-kelompok peternak yang dikoordinir oleh Koperasi ESA (Eka
Serba Abadi) Tehnik penggemukan yang biasa disebut kereman yaitu sapi dipelihara dengan
cara dikerem (disekap) dalam kandang pada jangka waktu 2 bulan, tanpa dipekerjakan sama
sekali, namun diberikan makanan yang dibuat dari limbah tapioca tadi. Makanan yang diberikan
terdiri dari ampas ketela pohon, kulit ketela pohon, dedak (katul), ampas tahu, hijau-hijauan
(rumput atau perdu), konsentrat, ditambah dengan pupuk KCL, SP36, dicampur zat pengurai
yaitu NOPKOR dan zat penghilang bau yaitu MOFU. Banyaknya makanan yang diberikan kurang
lebih 10 % dari berat badan sapi, contohnya, apabila berat sapi 300 kg, maka makanan yang
diberikan secara berangsur-angsur adalah 30 kg sehari (pagi dan sore). Selama pemeliharaan
agar sapi senantiasa sehat maka dilakukan pengobatan, pemberian vitamin, jamu-jamuan dan
vaksinasi. Vaksinasi yang perlu diberikan biasanya vaksin penyakit mulut, kuku anthrax dan
lainnya. Sedangkan penimbangan dan pemantauan dilakukan secara reguler 1 bulan sekali.
Dengan demikian dalam waktu yang relatif singkat (2 bulan) dapat memberikan berat badan
seperti yang diharapkan diatas tadi.

STRATEGI DAN TEHNIS PELAKSANAAN

Tehnis pelaksanaan kegiatan ini adalah :

    A. Sosialisasi

       Sebelum Proyek Penggemukan Sapi ini dilakukan maka langkah pertama yang
       diupayakan adalah melakukan sosialisasi atas proyek ini kepada masyarakat sasaran.
       Hal tersebut dimaksudkan agar proyek ini betul-betul dapat diterima masyarakat sehingga
       mereka akan antusias untuk mendukungnya. Langkah-langkah yang dilakukan dalam
       program sosialisasi ini adalah :

       1) Menghubungi masyarakat peternak lingkungan proyek sebagai studi kasus untuk
           mengetahui secara dekat kebutuhan dan harapan mereka.

       2) Menghubungi lembaga kemasyarakatan yang ada di masyarakat sasaran, dalam hal
           ini BPD, RW, RT, pemuka masyarakat dan tokoh agama. Hal ini dilakukan dengan
           tujuan untuk mengetahui respon mereka dan juga mendapatkan input-input yang dapat
           mendukung proyek ini serta sesuai dengan kondisi dan harapan masyarakat sasaran.


                                                                                   Halaman 5
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


        3) Menghubungi tokoh formal di kecamatan dan desa masyarakat sasaran (Camat,
            Kepala desa dan perangkatnya). Pada tingkat ini dimaksudkan untuk mencari
            dukungan terhadap proyek.

        4) Melakukan pendekatan dengan dinas-dinas terkait, dalam hal ini adalah Dinas
            Peternakan Kabupaten Pati dll.

    B. Pelaksanaan

       a) Kegaiatan usaha dilakukan secara kelompok.

       b) Sebelum diberikan hewan ternak, anggota diberikan diklat yang diadakan oleh
            Koperasi ESA bekerjasama dengan Biro Pengembangan Pesantren dan Masyarakat
            (BPPM) Pesantren Maslakul Huda, Kajen agar anggota peternak memperoleh
            pengetahuan dan pemahaman yang baik atas hewan ternaknya dan cara pengolahan
            pakan sehingga proses penggemukannnya akan dilakukan secara benar.

       c) Setiap anggota kelompok memperoleh 2 ekor sapi dewasa yang akan digemukkan.

       d) Peternak anggota harus mempunyai tabungan minimal sebesar Rp. 1.000.000,- di
            Koperasi ESA. Tabungan ini dimaksudkan agar setiap anggota mempunyai rasa
            andarbeni (ikut memiliki) terhadap program ini sehingga mereka dapat komitmen dan
            konsisten dalam bekerja.

       e) Sapi yang akan digemukkan adalah sapi bakalan jenis lokal berumur sekitar 2-3 tahun
            dengan kondisi sehat dan postur yang baik. Ciri-ciri sapi bakalan yang baik antara lain;
            mempunyai kerangka yang besar, tulang iga kuwung, pantat tidak lancip, kaki besar
            dan kuat, kuku papak dan sejajar, mulut berujung papak, pelupuk mata tebal,
            mempunyai nafsu makan besar, bulu bersinar, bersih. Sapi bakalan tersebut diperoleh
            dari pasar setempat kemudian diserahkan kepada anggota kelompok untuk
            digemukkan. Proses penggemukan menurut perhitungan ekonomis dilakukan selama 2
            bulan. Selama masa penggemukan peternak anggota akan disuplai makanan dan
            suplemen (jamu/vitamin) hewan ternaknya sebagaimana anggaran dibawah nanti.

       f)   Pakan diupayakan dan diolah secara kolektif dalam satu kelompok dan didistribusikan
            kepada anggota kelompoknya masing-masing.

       g) Peternak anggota berkewajiban menjaga dan merawat sapi-sapi tersebut agar
            sanantiasa dalam pertumbuhan dan kesehatan yang stabil. Juga mengupayakan hija-
            hijauan sebagai salah satu bahan pakan ternak tersebut.

       h) Untuk perkandangan akan dibebankan kepada peternak anggota. Adapun pembuatan
            kandang dan pengelolaan sapi-sapi tersebut akan dibimbing oleh Koperasi ESA
            melalui pelatihan.




                                                                                         Halaman 6
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


       i)   Setiap kelompok harus menyelenggarakan kegiatan administrasi yang tertib dan
            terkontrol serta diakhir periode ketua kelompok harus membuat laporan kegiatan dan
            keuangan.

       j)   Selama masa penggemukan tersebut hewan-hewan ternak tadi akan dikontrol secara
            berkala, yakni 1 bulan sekali. Kontrol dilakukan untuk mengukur kesehatan dan tingkat
            pertumbuhannya agar tetap dalam grafik pertumbuhan sesuai program. Kontrol akan
            dilakukan oleh seorang mantri hewan yang ditunjuk.

       k) Setelah 2 bulan sapi-sapi tersebut kemudian dijual dengan harga penawaran tertinggi.
            Harga penjualan diprediksikan sesuai harga pasar saat ini adalah Rp 7.600.000,- per-
            ekor .

       l)   Pendapatan penjualan kemudian dikurangi oleh harga pokok produksi selama proses
            penggemukan berlangsung. Selanjutnya harga pokok produksi tadi dipergunakan
            untuk dibelikan lagi sapi yang akan dilakukan proses penggemukan periode II, begitu
            seterusnya.

       m) Saldo dari pengurangan biaya pokok produksi menjadi laba kotor yang akan dikurangi
            dengan :

             Tabungan anggota sebesar 10%
             Dana Sosial sebesar 3%
             PPh Pasal 25 sebesar 5 %
       n) Setelah pengurangan tersebut diperoleh laba bersih yang akan dibagi dua yakni :

             Untuk cicilan pengembalian Revolving Fund sebesar 35 %
             Untuk Anggota peternak sebagai pendapatan mereka sebesar 65 %

MANFA’AT PROYEK

        Proyek ini selesai dalam 36 periode atau selama 3 tahun. Setelah periode ke-36 tersebut
setiap kelompok dan anggotanya diharapkan :

 a. Setiap anggota mempunyai masing-masing minimal 1 ekor sapi.

 b. Kelompok berkembang secara dinamis yang memungkinkan mereka melakukan usaha-
    usaha lain yang menguntungkan.

 c. Setiap kelompok mampu mengelola kegiatan usaha dan keuangannya secara mandiri.

 d. Setiap kelompok dapat berkembang menjadi lembaga ekonomi masyarakat yang mandiri.

 e. Pesantren melalui Koperasi ESA dapat menjalin kerjasama imbal balik yang secara sosial
    dan ekonomi dengan masyarakat sekitar, sehingga memperkuat posisi pesantren sebagai
    agen perubahan dan pengembangan masyarakat.

 f. Permasalahan limbah tapioka dapat sedikit terkurangi sehingga membantu terciptanya
    lingkungan yang bersih dan sehat.


                                                                                      Halaman 7
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


STRUKTUR DAN MANAJEMEN

        Pelaksana program ini adalah Koperasi ESA (Eka Serba Abadi) Pesantren Maslakul huda
desa Kajen kecamatan Margoyoso kabupaten Pati. Sedangkan struktur organisasi dan
personalia proyek ini adalah:

Pengarah                          : 1. Kadinas Pertanian dan Peternakan Pati
                                   2. Kabag Sosial Badan Pemberdayaan
                                      Masyarakat dan Sosial (BPMS) kabupaten Pati.
Penasehat                         : Camat Margoyoso

Tim monitoring / evaluasi         : Dinas Sosial dan Instansi terkait
Pen. Jawab/Manajer Proyek : Ketua Koperasi ESA

Staff                             : 1. Keuangan

                                   2. Mantri hewan Dinas Peternakan Kawedanan Tayu-Pati

Koordinator kelompok I            : Sholihin

Koordinator kelompok II           : Arwani Kohlejo

Koordinator kelompok III          : Sholhan Syadzali

Kontak person                     : Maslahul Fuad 0295-4150066




                                                                                     Halaman 8
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


                           STRUKTUR MANAJEMEN USAHA PENGGEMUKAN SAPI
                                                          KOPERASI


                                  TIM MONITOR DAN
                                     EVALUASI :
                                  DINAS SOSIAL DAN
                                  INSTANSI TERKAIT
                                                                                                KELOMPOK I :
                                                                                                KETUA / ADM.
                                                                                                 ANGGOTA




                                           MANAJER                                              KELOMPOK II :
                                           PROYEK                                               KETUA / ADM.
                                                                                                  ANGGOTA




                                                                                                KELOMPOK III :
                                                                                                KETUA / ADM.
                    STAF :                                PEMBANTU
                                                                                                  ANGGOTA
                  KEUANGAN                                  UMUM
                 MANTRI HEWAN




     Keterangan :                  Garis Pembinaan / Pengarahan

                                   Garis Koordinasi




Deskripsi kerja:

        Untuk mengoptimalkan kinerja pengelola proyek tersebut, maka masing-masing elemen
dalam struktur manajemen diatas mempunyai tugas dan kewenangan yang tercover dalam
deskripsi kerja sebagai berikut :



 JABATAN               OPERASIONAL                                                   MANAJERIAL
                             HARIAN                         KHUSUS                       HARIAN                   KHUSUS
                    1. Melakukan sosialisasi        1. Membuat            laporan 1. Mengkoordinir           1. Mengkonsep dan
Manajer Proyek         proyek ini kepada pihak-        kegiatan setiap periode.      pelaksanaan    kegiatan    membuat
                       pihak terkait.               2. Melakukan       kerjasama     proyek.                    perencanaan
                    2. Memimpin           seluruh      dengan        pihak-pihak 2. Menyelenggarakan rapat-     kegiatan.
                       kegiatan       operasional      terkait.                      rapat koordinasi dan 2. Membuat
                       harian proyek.               3. Menjaga/mengamankan           evaluasi.                  keputusan-
                    3. Melakukan         kegiatan      aset-aset proyek.          3. Melakukan pengarahan       keputusan     atas
                       administrasi proyek.                                          dan pengawasan kepada      kebijakan usaha.
                                                                                     staf    dan   pembantu 3. Mempertanggung-
                                                                                     umum.                      jawabkan
                                                                                                                pelaksanaanproyek

                                                                                                               Halaman 9
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM



  JABATAN              OPERASIONAL                                                  MANAJERIAL
                            HARIAN                       KHUSUS                          HARIAN                     KHUSUS
                    1. Mengelola      keuangan   1. Mengatur,       mencatat 1.Melakukan evaluasi dan           1.Merencanakan
 Staf Keuangan         proyek.                      danmenjaga/mengamank pengawasan               distribusi      anggaran
                    2. Membagi             dan      an kelancaran arus kas.    keuangan setiap kelompok.          pendapatan dan
                       mendistribusikan dana     2. Membuat          laporan 2.Melakukan       pembinaan          belanja      setiap
                       pada pos-pos anggaran        keuangan bulanan dan manajemen               keuangan         periode.
                       yang telah diputuskan.       tiap periode.              kepada setiap kelompok.          2.Memberikan
                    3. Membuat administrasi                                                                       pertimbangan thd.
                       keuangan.                                                                                  aspek keuangan
                                                                                                                  kpd. manajer
                                                                                                                3.Mempertanggung-
                                                                                                                  jawabkan      hasil
                                                                                                                  kerjanya.
                   1. Mengontrol, mengawasi 1. Membuat                 laporan 1. Melakukan pendidikan,        1. Mempertanggung-
 Staf Kesehatan       dan mengevaluasi bobot       pertumbuhan             dan    pengarahan          dan         jawabkan      hasil
      hewan           pertumbuhan           dan    kesehatan          sapi-sapi   pembinaan cara beternak         kerjanya.
                      kesehatan       sapi-sapi    ternak tiap bulan.             kepada peternak.
                      ternak.
                    1. Mendistribusikan pakan 1. Membuat          admisintrasi 1. Koordinasi       dengan 1. Mempertanggung-
Pembantu Umum           (komboran)          dan    distibusi    pakan      dan    manajer proyek.            jawabkan    hasil
                        suplemen ke gudang         suplemen.                                                 kerjanya.
                        transit        masing2 2. Merawat          kendaraan
                        kelompok.                  inventaris.
                    2. Membantu         tugas2
                        manajer.
                    1. Mengatur, membagi dan 1. Bersama                Manajer 1. Mengkoordinir           1. Mempertanggung-
Ketua Kelompok         mendistribusikan pakan       melakukan       pembelian     anggotanya.                jawabkan    hasil
                       dan suplemen kpd.            dan penjualan sapi2 2. Memberikan pengarahan             kerjanya.
                       anggotanya.                  ternak anggotanya.            dan pengawasan kepada
                    2. Menyelenggarakan          2. Membuat            laporan    anggotanya
                       kegiatan     administrasi    pembelian dan penjualan.
                       pada kelompoknya.         3. Membuat laporan hasil
                                                    kerja kelompoknya setiap
                                                    periode.
                                                 4. Menjaga      kepercayaan
                                                    anggotanya.

                   1. Menyediakan      rumput    1. Bersama            ketua 1. Koordinsi dengan ketua 1. Mempertanggung-
Peternak Anggota      pakan untuk sapi ternak       kelompok     melakukan      kelompoknya.              jawabkan    hasil
                      sesuai dengan porsi           pencatatan atas sirkulasi                             kerjanya.
                      yang ditetapkan.              pakan dan suplemen.
                   2. Menjaga dan merawat
                      sapi ternak.



   Pengarah        1. Memberikan informasi
                      dan pengarahan atas
                      pelaksanaan proyek.
   Penasehat        1. Memberikan advis dan
                       dukungan moril atas
                       pelaksanaan proyek ini.



ANGGARAN BIAYA

         Proyek penggemukan sapi Koperasi ESA Pesantren Malakul Huda ini menelan biaya
sebesar Rp 544.200.000,- (terbilang; lima ratus empat puluh empat juta dua rtaus ribu
rupiah)1 yang mana biaya tersebut dialokasikan dari:



                                                                                                                Halaman 10
     Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


     a. Modal iuran anggota sebesar              Rp   40.000.000,-

     b. Dana bantuan guliran                     Rp 504.200.000,-

     Untuk dana bantuan guliran (Revolving Fund) diajukan kepada Gubernur Jawa Tengah (APBD
     2009), dan pihak-pihak penyandang dana lain yang berkepentingan.



     Adapun perincian anggaran biaya adalah sebagai berikut :

           KOMPONEN                             URAIAN               BIAYA      WAKTU          JUMLAH
     AKTIVA TETAP
     (SARANA) :
     1. Gudang transit pakan           3 unit                 Rp 2.000.000                Rp     6.000.000
     2. Komputer + printer             1 set                  Rp 5.000.000                Rp     5.000.000
     3. Meja, kursi dan ATK:           1 paket                Rp 1.000.000                Rp     1.000.000
     4. Lemari arsip                   1 unit                 Rp    700.000               Rp       700.000
     5. Mobil pick-up                  1 unit                 Rp 45.000.000               Rp    45.000.000
        (second)
     6. Timbangan sapi                 1 unit                 Rp 5.000.000                Rp     5.000.000
     7. Mesin pengolah pakan           1 unit                 Rp 10.000.000               Rp    10.000.000
                                                                                 Jumlah   Rp    72.700.000
     AKTIVA LANCAR
     (MODAL KERJA) :
     1. Sosialisasi program            1 kali                 Rp 3.000.000                Rp   3.000.000
     2. Diklat / bina anggota          1 kali                 Rp 4.000.000                Rp   4.000.000
     3. Pembelian sapi                 80 ekor                Rp 5.000.000                Rp 400.000.000
     4. Pakan                          80 ekor                Rp    10.000      61 hari   Rp 48.800.000
     5. Suplemen                       80 ekor                Rp     2.500      8 kali    Rp   1.600.000
     6. Honorarium :
        a. Manajer proyek              1 orang                Rp 1.000.000      2 bulan   Rp     2.000.000
        b. Staff :
           1. Keuangan                 1 orang                Rp      600.000   2 bulan   Rp     1.200.000
           2. Pemb. Umum               1 orang                Rp      300.000   2 bulan   Rp       600.000
        c. Koord. Kel/adm.             3 orang                Rp      300.000   2 bulan   Rp     1.800.000
     7. Chek-up dan timbang
         badan sapi                    80 ekor                Rp       10.000   2 bulan   Rp     1.600.000
     8. Operasional:
         a. Manajer                    1 orang                Rp      200.000   2 bulan   Rp      400.000
         b. Staff                      1 orang                Rp      150.000   2 bulan   Rp      300.000
         c. Pembantu Umum              1 orang                Rp      150.000   2 bulan   Rp      300.000
     9. Operasional kelom. :
        a. Pengadaan pakan             2 X 3 X 3 gudang       Rp       25.000   2 bulan   Rp     900.000
        b. Pembelian                   80 kali angkutan       Rp       25.000   1 kali    Rp   2.000.000
        c. Penjualan                   80 kali angkutan       Rp       25.000   1 kali    Rp   2.000.000
        d. Rapat kelompok              3 kelompok             Rp       50.000   2 bulan   Rp     300.000
        e. Lain-lain                   3 kelompok             Rp       50.000   2 bulan   Rp     300.000
     10. Perawatan kendaraan                                  Rp      400.000             Rp     400.000
     11. Adm. dan telepon                                     Rp      200.000   2 bulan   Rp     400.000
     12. Biaya lain-lain                                      Rp      300.000   2 bulan   Rp     600.000
                                                                                 Jumlah   Rp 472.500.000
     Biaya Keseluruhan:
1.      AKTIVA TETAP                                                                      Rp 72.700.000
2.      AKTIVA LANCAR                                                                     Rp 472.500.000

     JUMLAH SEMUA                                                                         Rp 544.200.000



                                                                                               Halaman 11
 Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


 Keterangan ;

I. AKTIVA TETAP (SARANA) :

     1. Gudang transit, untuk tempat transit pakan pada kelompok-kelompok peternak. Setiap
         kelompok disediakan 1 gudang dan diupayakan berlokasi di areal dekat domisili kelompok
         hingga memudahkan anggota kelompok untuk mengaksesnya.

     2. 1 set perangkat komputer, untuk memudahkan kegiatan bank data dan administrasi
         selama proyek ini berlangsung.

     3. Meja, kursi dan alat tulis kantor (ATK), sebagai sarana pendukung untuk kegiatan
         administrasi proyek dan kelompok-kelompok peternak.

     4. Lemari arsip, untuk menyimpan dan menjaga arsip-arsip selama pelaksanaan proyek ini
         berlangsung.

     5. Mobil pick-up, sebagai sarana kerja untuk mendistribusikan kebutuhan-kebutuhan
         kelompok (angkutan pembelian dan penjualan sapi-sapi, pakan, suplemen, dll) agar
         kinerja pelaksanaan proyek ini menjadi lebih efektif dan optimal. Mobil jenis Kijang/L 300
         pick-up dalam keadaan second dan kondisi baik.

     6. Timbangan sapi, dipergunakan untuk mengukur dan memantau pertumbuhan sapi selama
         masa penggemukan.

     7. Mesin pengolah pakan, untuk mencacah dan mengolah pakan dimana bahan-bahan
         pakan tadi dilumatkan dalam mesin tersebut sehingga menghasilkan pakan yang siap
         saji.

II. AKTIVA LANCAR (MODAL KERJA) :

     1. Sosialisasi program, pengenalan dan sosialisasi kepada masyarakat sasaran. Dalam hal
         ini melibatkan camat Margoyoso, kepala desa lokasi proyek, Kepala BPD lokasi proyek,
         tokoh masyarakat, pekerja sosial masyarakat (PSM) setempat dan dinas instansi terkait.

     2. Diklat, biaya yang dikeluarkan dalam kegiatan diklat kepada seluruh calon anggota
         peternak.

     3. Pembelian sapi jenis lokal berumur sekitar 2 tahun dalam keadaan normal ditetapkan
         sesuai harga pasar sebesar Rp. 5.000.000,-. Sebanyak 80 ekor untuk 40 peternak awal.

     4. Pakan sapi berupa comboran yang terdiri dari ampas ketela pohon, kulit ketela pohon,
         dedak (katul), ampas tahu, hijau-hijauan (rumput atau perdu), konsentrat, ditambah
         dengan pupuk KCL, SP36, dicampur zat pengurai yaitu NOPKOR dan zat penghilang bau
         MOFU, serta tetes dan garam. Komboran diberikan 1 kali setiap hari (berangsur pagi dan
         sore).




                                                                                        Halaman 12
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


    5. Suplemen, selain pakan sapi-sapi tersebut, diberikan makanan suplemen berupa jamu-
        jamuan atau vitamin secara temporer, yaitu 4 kali dalam satu bulan. Hal tersebut
        bertujuan agar sapi-sapi selalu dalam keadaan sehat dan bertambahnya napsu makan.

    6. Chek-up dan penimbangan sapi, dalam hal ini Koperasi ESA menyediakan seorang
        mantri hewan yang selalu memantau keadaan dan kesehatan sapi-sapi tersebut agar
        tetap dalam perkembangan pertumbuhan (penggemukan) sesuai program. Chek-up dan
        penimbangan dilakukan 1 bulan sekali.

    7. Selama pelaksaan kegiatan ini, ditetapkan seorang manajer proyek sebagai koordinator
        proyek sekaligus pengarah lapangan dibantu dengan 2 orang staf yakni staf keuangan
        yang bertugas sebagai pengelola keuangan proyek dan dibantu dengan 1 orang
        pembantu umum yang bertugas sebagai pendistribusi pakan dan pekerjaan lainnya.
        Sedangkan tiap-tiap kelompok ditunjuk seorang ketua kelompok sekaligus mengurusi
        administrasi setiap kelompoknya.

    8. Anggaran operasional pengelolaan ditetapkan dalam satu periode kegiatan ini (3 bulan)
        untuk :

            a) Operasional pengelola meliputi operasional manajer, staff, dan pembantu umum.

            b) Operasional kelompok meliputi operasional pengadaan pakan, pembelian dan
                  penjualan sapi-sapi ternak, rapat-rapat kelompok dan lain-lain.

    9. Adminstrasi dan telepon, sebagai biaya administrasi dan penggunaan sarana telepon
        untuk kegiatan proyek.

    10. Perawatan kendaraan, sebagai biaya perawatan untuk kendaraan sarana proyek selama
        1 periode agar senantiasa dalam keadaan laik pakai.

    11. Biaya lain-lain, sebagai cadangan lain-lain untuk pos anggaran tak terduga.



ANALISIS KEUANGAN

Analisis keuangan dan sirkulasi arus kas dapat dilihat dalam lampiran 1 proposal ini.

MONITORING (PEMANTAUAN DAN EVALUASI)

Selama proyek ini berjalan diadakan kegiatan monitoring secara reguler terhadap pelaksanaan
proyek ini dimaksudkan untuk melihat sampai sejauh mana proyek ini berjalan sesuai rencana
dan mencapai tujuan-tujuannya dan mengevaluasi kinerja pengelola proyek agar terhindar dari
deviasi dan unefisiensi. Monitoring diadakan setiap 1 periode berakhir dan dilakukan oleh tim
monitoring yang terdiri dari Koperasi ESA dan Instansi terkait.

PENUTUP

Demikian proposal usaha penggemukan sapi Koperasi ESA Pesantren Maslakul Huda. Besar
harapan kami dengan terealisasinya kegiatan ini menjadi salah satu alternatif solusi yang

                                                                                        Halaman 13
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


berdampak positif terutama terhadap masyarakat sasaran dan lingkungan sosial sekitarnya.
Bagaimanapun akhirnya kita sendiri yang harus berupaya mencari pemecahan atas persoalan-
persoalan yang terjadi sebagaimana pesan Allah SWT dalam Al Qur’an surat Ar Ra’d ayat 11
yang artinya, Sesungguhnya Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum (komunitas
masyarakat) selagi mereka tidak berusaha merubahnya sendiri.

Oleh karena itu kami berharap atas dukungan dan partisipasi kongkrit British Council melalui
program kewirausahaan sosial ISSN atas upaya yang akan kami lakukan ini. Akhirnya atas
perhatian, dukungan dan partisipasinya kami ucapkan terima kasih sebesar-besarnya.




                                                                                     Halaman 14
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


LAMPIRAN 1 :

               ANALISIS KEUANGAN PROYEK PENGGEMUKAN SAPI KOPERASI ESA MASLAKUL HUDA



Asumsi-asumsi biaya yang dipakai di bawah ini bersifat progresif, dimana kecenderungan harga-
harga selalu naik. Asumsi-asumsi tersebut selanjutnya diterangkan di bawah ini sebagi berikut :

A. INVESTASI

     Total investasi sebesar Rp 544.200.000,- terdiri dari :

      I. Pengumpulan tabungan 40 anggota masing-masing @Rp 1.000.000,- sehingga
          semuanya sebesar Rp. 40.000.000,-.

      II. Dana Revolving Fund sebesar Rp 504.200.000.

     Modal sebesar Rp 544.200.000,- selanjutnya diinvestasikan dalam proyek ini secara bergulir
     (revolving fund) dimana setiap periode berlangsung 3 bulan dengan interval maksimal 10
     hari. Setiap satu periode ditargetkan menambah anggota peternak baru rata-rata 4-5 orang.

B.   PENGELUARAN

     Pos Anggaran Pengeluaran yang ditetapkan dalam pelaksanaan proyek ini meliputi :

     I.   Pengadaan sarana

          Pengadaan sarana berupa berupa:

          a) Pengadaan gudang transit sebanyak 3 unit @Rp 2.000.000,- , semua senilai Rp
               6.000.000,-
          b) Pengadaan 1 set komputer senilai Rp 5.000.000,-
          c) Pengadaan meja kursi dan ATK untuk pengelola senilai Rp 1.000.000,-
          d) Pengadaan lemari untuk penyimpanan arsip 1 unit senilai Rp 700.000,-
          e) Pengadaan mobil pick-up (second) 1 unit senilai Rp 45.000.000,-
          f)   Timbangan sapi 1 unit senilai Rp 5.000.000,-
          g) Mesin pengolah pakan 1 unit senilai Rp 10.000.000,-
          h) Biaya sosialisasi program sebesar Rp 3.000.000,-
          Seluruh sarana tersebut didepresiasi (penyusutan) menggunakan metode straight line
          selama 12 periode dengan nilai residu 0% kecuali untuk kendaraan dengan nilai residu
          26%.
      II. Modal kerja

          Modal kerja dialokasikan pada 2 kelompok yakni ;

          Biaya Variabel

          a) Pembelian 80 ekor sapi @Rp 5.000.000,-

          b) Pembelian pakan @Rp 10.000,- selama 61 hari (2 bulan).


                                                                                      Halaman 15
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


           c) Pembelian suplemen/jamu @Rp 2.500,- , 8 kali dalam 1 periode (2 bulan).

           d) Cek-up dan penimbangan sapi @Rp 10.000,- satu bulan sekali selama 2 bulan.

           e) Operasional kelompok berupa :

                 1. Biaya pengadaan pakan 6 rit @Rp 25.000,- untuk 3 gudang transit selama 2
                    bulan.

                 2. Biaya angkutan pembelian 80 ekor sapi @Rp 25.000,-.

                 3. Biaya angkutan penjualan 80 sapi @Rp 25.000,-.

                 4. Biaya pertemuan 3 kelompok @Rp 50.000,- sebulan selama 2 bulan.

                 5. Biaya lain-lain 3 kelompok @Rp 50.000,- sebulan selama 2 bulan.

           f)   Biaya pelatihan dan pembinaan anggota setiap anggota @Rp 100.000,-

          Biaya Tetap

           a) Operasional pengelola proyek :

                1. Manajer proyek 1 orang Rp 200.000,- sebulan selama 2 bulan.

                2. Staf 1 orang dan pembantu umum 1 orang Rp 300.000 sebulan selama 2 bulan.

           b) Honorarium pengelola proyek :

                1. Manajer proyek 1 orang Rp 1.000.000 sebulan selama 2 bulan.

                2. Staf 1 orang @ Rp 600.000,- sebulan selama 2 bulan

                3. Pembantu umum 1 orang Rp 300.000,- sebulan selama 2 bulan.

                4. Koordinator kelompok sebagai tenaga administrasi kelompok 3 orang @Rp
                   300.000,- sebulan selama 2 bulan.

           c) Perawatan kendaraan Rp 400.000 dalam 1 periode.

           d) Administrasi dan telepon Rp 200.000,- sebulan selama 2 bulan.

           e) Monitoring dan evaluasi Rp 600.000 dalam 1 periode.

           f)   Pengeluaran lain-lain (tak terduga) Rp 300.000 sebulan selama 2 bulan.

           g) Bagi hasil 2 % dari modal Revolving Fund selama 2 bulan.

C.    PENDAPATAN

      I. Setelah 2 bulan dilakukan penjualan 80 ekor sapi dengan harga jual pasar Rp 7.600.000,-
         per-ekor (harga bulan Januari 2009)

     II. Perolehan penjualan selanjutnya dikurangi sejumlah biaya pengeluaran (biaya pokok
         produksi) sehingga diperoleh laba kotor .

     III. Laba kotor tersebut selanjutnya dikurangi :



                                                                                         Halaman 16
Created on 2/19/2009 8:01:00 AM


          1. Tabungan anggota sebesar 10 % dari laba kotor

          2. Dana sosial (untuk keperluan sosial kelompok) sebesar 3 % dari laba kotor.

          3. Pembayaran PPh Pasal 25 sebesar 5 % dari laba kotor.

   IV. Setelah pengurangan diatas sisa penjualan tersebut menjadi laba bersih yang menjadi
        laba bagi hasil (revenue sharing) dimana :

          1. 65 % diberikan kepada peternak sebagai hasil kerjanya selama 6 bulan.

          2. 35 % menjadi dana guliran (revolving fund) untuk modal kerja anggota baru, begitu
              seterusnya dalam setiap periode.

D. KETERANGAN LAIN

     1. Karena dana bersifat guliran (revolving), maka perhitungan Return on Invesment (ROI)
         dan Payback Period tidak dibuat.

     2. Apabila investasi membutuhkan pengangsuran (pinjaman) pada setiap periode, maka
         akan terjadi perubahan-perubahan asumsi menyesuaikan pos pengembalian kredit




                                                                                     Halaman 17

								
To top