MASALAH-MASALAH SOSIAL

Document Sample
MASALAH-MASALAH SOSIAL Powered By Docstoc
					  MASALAH-MASALAH SOSIAL
DALAM KUMPULAN NASKAH DRAMA
 MENGAPA KAU CULIK ANAK KAMI
 KARYA SENO GUMIRA AJIDARMA



                SKRIPSI
    untuk mencapai gelar Sarjana Sastra




                     oleh

    Nama               : Aminatul Fajriyah
    NIM                : 2150401518
     Program Studi     : Sastra Indonesia
    Jurusan             : Bahasa dan Sastra Indonesia




   FAKULTAS BAHASA DAN SENI
 UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
              2005
                                        SARI

Fajriyah, Aminatul. 2005. Masalah-masalah Sosial dalam Kumpulan Naskah Drama
       Mengapa Kau Culik Anak Kami Karya Seno Gumira Ajidarma. Skripsi. Jurusan
       Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri
       Semarang. Pembimbing I Drs. Moh Doyin M.Si. Pembimbing II Sukadaryanto
       M. Hum.
Kata Kunci : Masalah sosial dan faktor sosial.

        Kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira
Ajidarma adalah sebuah drama yang dikemas dan diangkat dari permasalahan di Jakarta.
Kumpulan drama tersebut memaparkan sebuah kisah nyata yang disajikan dalam dunia
rekaan. Peristiwa ini menimbulkan penderitaan bagi warga akibat tindak kerusuhan yang
terjadi dan konflik sosial antara pemerintah, gerilyawan, ninja, pejabat yang ingin
berkuasa dan warga Jakarta. Masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan naskah drama
ini yaitu adanya pemerkosaan, penculikan, penganiayaan masyarakat Jakarta yang
dilakukan oleh orang yang ingin menguasai negara Indonesia.
        Permasalahan yang muncul adalah masalah sosial apa saja yang terdapat dalam
kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma,
faktor-faktor apa saja yang memunculkan adanya masalah-masalah sosial dalam
kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma.
        Metode yang digunakan dalam kajian ini adalah metode analitik deskriptif dengan
pendekatan sosiologi sastra. Hal ini menggambarkan tentang masalah-masalah dan
faktor-faktor yang memunculkan adanya masalah sosial dalam kumpulan naskah drama
Mengapa Kau Culik Anak Kami karena karya sastra tidak bisa dipahami apabila
dipisahkan dari lingkungan masyarakat.
        Dalam penelitian ini yaitu masalah sosial pada tiga drama dalam kumpulan
naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami yaitu kejahatan, penindasan, pelacuran.
Kejahatan terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak
Kami”, “Jakarta 2039”. Penindasan terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”, dan
pelacuran terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”. Sedangkan faktor yang
memunculkan adanya masalah sosial yaitu faktor psikologis, faktor alam, dan faktor
biologis. Faktor psikologis terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa
Kau Culik Anak Kami”, “Jakarta 2039”. Faktor alam dan faktor biologis hanya terdapat
dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”.
        Hasil kerja ini diharapkan dapat memunculkan penelitian baru dari penelitian
sastra, khususnya pada penelitian berbentuk drama atau sejenisnya. Hendaknya
penelitian ini dapat memberikan kemajuan ilmu sastra yang dapat bermanfaat bagi
pengajaran sastra. Bagi masyarakat hendaknya dapat mengambil hikmah dari masalah
kejahatan, penindasan dan pelacuran.
                                              ii
                           PERSETUJUAN PEMBIMBING


       Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian
Skripsi.




                                                   Semarang, 25 Agustus 2005




Pembimbing I,                                             Pembimbing II,




Drs. Mukh Doyin, M.Si                                     Drs. Sukadaryanto M.Hum
NIP. 132106367                                            NIP. 131764057




                                            iii
                                     PENGESAHAN



         Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan panitia ujian skripsi Fakultas Bahasa
dan Seni Universitas Negeri Semarang pada:


Hari           :
Tanggal        :




                                       Panitia Ujian



Ketua,                                                          Sekretaris,




Prof. Dr. Rustono                                        Drs. Agus Yuwono M. Hum
NIP 131281222                                            NIP 132049997




Penguji I,                          Penguji II,                        Penguji III,




Dra. L.M. Budiyati, M.Pd     Drs. Sukadaryanto, M.Hum           Drs. Mukh Doyin, M.Si
NIP 130529511                NIP 131764057                      NIP 132106367




                                            iv
                                   PERNYATAAN




       Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya
saya sendiri, bukan jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk
berdasarkan kode etik ilmiah.




                                                Semarang, 25 Agustus 2005




                                                     Aminatul Fajriyah




                                  v
                       MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Motto

 Jika kamu melahirkan suatu kebaikan atau menyembunyikan atau memaafkan

 kesalahan (orang lain) maka sesungguhnya Allah Maha Pemaaf lagi Maha Kuasa (Q.S

 An Nissa: 149)




                       Persembahan

                       Setetes peluh dan sebentuk karya kecil ini kupersembahkan

                        untuk:

                       1. Allah Swt “ peniup nafas kehidupanku”

                       2. Muhammad “pemberi tuntunan hidupku”

                       3. Ayahanda Boharudin dan Ibunda Siti Mutmainah “mutiara

                          kasih yang tak berujung”

                       4. Kakakku Amin Fatoni “ teman dan penasihat sejatiku”

                       5. Pujaan hatiku Chris Muh Hayat “permata hatiku dalam

                          ketulusan”

                       6. Almamaterku tercinta “memberi kesempatan kepadaku

                          untuk belajar”




                                       vi
                                       PRAKATA


      Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt, hanya dengan limpahan

rahmat, taufik dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul

Masalah-masalah Sosial dalam Kumpulan Naskah Drama Mengapa Kau Culik Anak

Kami karya Seno Gumira Ajidarma. Dalam menyelesaikan skripsi ini, penulis

mendapatkan bimbingan dan bantuan yang sangat berarti dari berbagai pihak yang

berupa motivasi, saran dan dukungan.

      Penulis menyadari sepenuhnya bahwa terselesaikannya skripsi ini yidak terlepas

dari masukan, arahan dan bimbingan yang diberikan dengan tulus, ikhlas dan sabar oleh

Drs Mukh, Doyin, M.Si. Dosen Pembimbing I dan Drs. Sukadaryanto M. Hum Dosen

Pembimbing II, selama menyusun skripsi ini. Pada kesempatan ini penulis juga

menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:

1. Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan fasilitas;

2. Dekan Fakultas Bahasa dan Sastra yang telah memberikan kesempatan kepada penulis

   dalam penulisan skripsi ini;

3. Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan kemudahan dalam

   penyusunan skripsi ini;

4. Seluruh dosen dan karyawan Fakultas Bahasa dan Seni, khususnya jurusan Bahasa

   dan Sastra Indonesia yang telah bersedia memberikan data-data yang penulis

   perlukan dalam menyelesaikan skripsi ini;



                                         vii
5. Teman-teman Sastra Indonesia angkatan 2001 yang telah memberikan semangat dan

   dorongannya;

6. Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, sehingga penulis dapat

   menyelesaikan skripsi ini.

      Mudah-mudahan segala amal dan kebaikan yang telah diberikan kepada penulis

mendapatkan ridho dan balasan dari Allah Swt.

      Akhir kata penulis berharap agar skripsi ini berguna bagi almamater tercinta dan

bermanfaat bagi yang membacanya.




                                        Semarang, September 2005




                                                 Penulis




                                        viii
                           DAFTAR ISI


SARI…………………………………………………………………… ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING……………………………………... iii
PENGESAHAN……………………………………………………….. iv
PERNYATAAN……………………………………………………….. v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN…………………………………….. vi
KATA PENGANTAR……………………………………………….… vii
DAFTAR ISI…………………………………………………………… ix
BAB I. PENDAHULUAN
     1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………. 1
     1.2 Rumusan Masalah………………………………………….. 7
     1.3 Tujuan Penelitian………………………………………….... 7
     1.4 Manfaat Penelitian………………………………………….. 8
BAB II. LANDASAN TEORETIS
     2.1 Pandangan Umum Tentang Sosiologi Sastra……………… 9
        2.1.1 Konsep Dasar Ian Watt Tentang Sosiologi Sastra….. 12
        2.1.2 Hubungan Masyarakat Sosial dengan Karya Sastra… 13
     2.2 Masalah Sosial……………………………………………… 14
     2.3 Faktor-faktor Timbulnya Masalah Sosial………………….. 31
BAB III. METODE PENELITIAN
     3.1 Pendekatan Penelitian……………………………………… 37
     3.2 Sasaran Penelitian…………………………………………. 37
     3.3 Teknik Analisis Data………………………………………. 38
BAB IV. MASALAH SOSIAL DAN FAKTOR PENYEBABNYA
      DALAM KUMPULAN NASKAH DRAMA MENGAPA
       KAU CULIK ANAK KAMI KARYA SENO GUMIRA
       AJIDARMA
     4.1 Masalah-masalah Sosial dalam Drama Mengapa Kau Culik
        Anak Kami………………………………………………… 40



                                    ix
        4.1.1 Kejahatan……………………………………………. 40
        4.1.2 Penindasan…………………………………………… 66
        4.1.3 Pelacuran…………………………………………….. 69
  4.2 Faktor yang Memunculkan Adanya Masalah Sosial Dalam

     Kumpulan Naskah Drama Mengapa Kau

     Culik Anak Kami……………………………………………..                     75

  4.2.1 Faktor Psikologis………………………………………….                  76

  4.2.2 Faktor Alam……………………………………………….                      89

   4.2.3 Faktor Biologis…………………………………………..                  90

BAB V. PENUTUP
     5.1 Simpulan…………………………………………………..                      93
     5.2 Saran………………………………………………………. 94
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………. 95
LAMPIRAN……………………………………………………………. 97




                                     x
                                         BAB I
                                  PENDAHULUAN


1.1 Latar Belakang Masalah

       Pengarang membuat karya sastra berdasarkan kenyataan yang terjadi oleh

manusia. Karya sastra dibuat sesuai dengan pengalaman kehidupan pengarang di

masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra dapat diartikan sebagai suatu gambaran

mengenai kehidupan sehari-hari di masyarakat. Suharianto (1982:11) menyatakan bahwa

karya sastra merupakan rekaan pengarang berdasarkan pengamatannya atas kehidupan

masyarakat sehari-hari.

       Kesusastraan merupakan karya seni yang di dalamnya berupa nilai-nilai tentang

karya sastra dan bukan karya sastra. Dengan mempelajari karya sastra, seseorang harus

belajar dari masyarakat melalui adat istiadat di suatu daerah. Hal ini sesuai dengan

pendapat Sumardjo (1999:194) bahwa nilai-nilai dalam karya sastra tidak begitu saja

lahir tanpa adanya pengorbanan, tetapi dengan belajar dari masyarakat.

       Selain sebagai karya seni yang memiliki imajinasi dan sosial, sastra juga dianggap

sebagai karya kreatif yang dimanfaatkan sebagai alat atau sarana intelektual. Sejalan

dengan tersebut, Faruk (1999:84) menyatakan bahwa kesusastraan berfungsi untuk

mendidik semua orang berfikir secara jernih atau halus, tidak berprasangka buruk pada

orang lain. Jassin (1983:4) menyatakan bahwa seseorang perlu menghayati pengalaman

kehidupan yang ia peroleh di dunia ini kemudian diterapkan dalam karya satra yang akan

menarik perhatian orang lain.
      Karya sastra cenderung mempermasalahkan manusia dan kemanusiaan, hidup dan

kehidupan. Permasalahan tersebut dihayati oleh pengarang kemudian diungkapkan

melalui tulisannya. Menurut Altenbernd dan Lewis (dalam Nurgiyantoro 2002:2-3) prosa

naratif yang bersifat imajinatif berkaitan dengan hubungan-hubungan antar manusia.

      Sumardjo (1983:4) menyatakan bahwa sastra menjadikan seseorang bertingkah

laku bijaksana karena memiliki pesan moral yang baik dari pengarang untuk penikmat

karya sastra. Hal ini sejalan dengan Suharianto bahwa karya sastra menjadikan seseorang

peka terhadap masalah kemanusiaan sehingga manusia senantiasa membantu orang yang

kesusahan, dan karya sastra juga mampu mendorong manusia berperilaku yang

bermanfaat bagi kehidupan (1982:21).

      Berdasarkan pendapat di atas, karya sastra membicarakan masalah kehidupan di

masyarakat yang sedang terjadi. Dengan membaca karya sastra akan mendapat informasi

tentang keadaan sosial yang belum pernah kita alami, sehingga kita dapat mengetahui

masalah-masalah sosial melalui karya sastra. Disamping itu, pengarang juga mengajak

pembaca untuk melihat, merasakan, dan menghayati kehidupan di dunia ini seperti yang

dirasakan pengarang melalui karyanya.

      Salah satu karya sastra yang digunakan untuk dipentaskan adalah drama. Drama

adalah karya sastra berupa cerita melalui dialog para tokoh. Istilah drama berasal dari

Yunani yang berarti “perbuatan atau pertunjukan”. Maka dari itu, seseorang yang ingin

menikmati dan memahami karya sastra drama harus dengan menontonnya (Suharianto

1982:68).
       Moulton (dalam Soemanto 2001:3) mendefinisikan drama sebagai bentuk seni

yang mengungkapkan cerita lewat dialog-dialog atau percakapan para tokoh. Definisi itu

bisa dimaksudkan sebagai pengertian action, sehingga drama itu sendiri merupakan

penggambaran dari action. Hal ini sesuai dengan pendapat Balthazar Verhagen (dalam

Harymawan 1993:2) drama adalah suatu kesenian menggerakan tubuh yang

dimaksudkan untuk melukiskan sifat dan sikap manusia.

       Drama sering dihubungkan dengan teater. Teater mempunyai makna yang luas

dibandingkan dengan drama, dan drama juga dimasukkan dalam pengertian teater. Teater

itu bisa drama, gedung pertunjukan, panggung, bisa juga sebagai bentuk tontonan yang

dipentaskan di depan orang banyak (Waluyo 2003:3).

       Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa drama merupakan karya sastra yang

disajikan berupa dialog atau percakapan para tokoh baik yang dipentaskan maupun

berupa teks.

       Pengarang mengungkapkan permasalahan atau temanya dalam karya sastra

melalui unsur strukturnya. Salah seorang pengarang yang menampilkan permasalahan

sosial adalah Seno Gumira Ajidarma. Seperti diketahui, Seno Gumira Ajidarma adalah

seorang pengarang yang banyak menulis novel, cerpen dan drama. Beberapa hasil

karyanya antara lain Saksi Mata (berupa kumpulan cerpen), Mengapa Kau Culik Anak

Kami (berupa kumpulan naskah drama), Iblis Tak Pernah Mati (berupa kumpulan

cerpen), semua itu merupakan tulisan yang sesuai dengan pembelaan kaum tertindas.

Mahasiswa, perempuan malam, tentara, polisi, intel, buruh selalu menjadi objek yang

menarik untuk disimak alur ceritanya.
      Seno Gumira Ajidarma dilahirkan tanggal 19 Januari 1958 di Boston, Amerika

Utara, tetapi dibesarkan di Yogyakarta. Belajar menulis sejak 1974 dan mulai bekerja

sebagai wartawan sejak 1977 di Jakarta. Pernah bekerja untuk harian Merdeka, pernah

menjadi pemimpin Redaksi Sinema Indonesia (1980), Redaktur Zaman (1983 - 1984)

dan sejak 1985 menjadi redaktur Jakarta–Jakarta. Kumpulan sajaknya Granat dan

Dinamit bersama Arie Sudarmaji Muksin (1975), Mati Mati Mati (1975) Bayi Mati

(1978), dan Catatan–catatan Sato (1978). Kumpulan cerpennya: Manusia Kamar (1978),

Atas Nama Malam (1999), Sebuah Pertanyaan Untuk Cinta (1999). Mendapat berbagai

pertanyaan untuk penulisan cerita pendek, antara lain: cerpen terbaik Kompas 1992

untuk cerpen Pelajaran Mengarang, penghargaan penulisan karya sastra 1995 dari Pusat

Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayan untuk

kumpulan cerpen Saksi Mata dan South Eash Asia (SEA) Write Award 1997 dari

kerajaan Thailand untuk penulisan karya sastra Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi, dan

hadiah sastra 1997 untuk Negeri Kabut.

      Kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira

Ajidarma berisi masalah sosial. Kumpulan naskah drama ini menarik untuk dianalisis

karena adegan-adegan dan dialog-dialog yang ditampilkan sangat dekat dengan realitas.

Pilihan kata-katanya juga diambilkan dari dialog sehari-hari. Bila pembaca berasal dari

kalangan demonstran, mungkin akan mengenal seting-seting yang ditampilkan.

Kumpulan drama ini diterbitkan oleh Galang Press Yogyakarta pada tahun 2001 dengan

188 halaman.
       Beberapa masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan naskah drama ini yaitu

adanya pemerkosaan para pelacur yang dilakukan oleh segerombolan ninja, kehidupan

keras dan kisah cinta yang dialami para pelacur, tentang mahasiswa yang suka demo

memperjuangkan demokrasi dan menentang kesewenang-wenangan yang akhirnya

mahasiswa beserta pejabat tinggi ditangkap oleh kelompok yang ingin menguasai negara,

tentang pembunuhan dengan semena-mena, dan permasalahan lain dalam kehidupan

sehari-hari.

       Cinta, pembebasan, pembelaan, fitnah dan kekerasan selalu terjadi dalam masalah

sosial yang diangkat dalam drama ini. Seperti karya-karyanya yang lain, Seno yang

pernah menjadi Redaktur Pelaksana Majalah Metropolis suka mengangkat tema cinta

untuk menyelesaikan permasalahan yang diangkat dalam karyanya. Beberapa karya Seno

lainnya pernah dibawakan oleh tokoh teater nasional di beberapa acara besar di Jakarta

maupun Yogyakarta.

       Ia terkenal dengan keahlian dalam melukiskan keindahan kata-kata yang

menggambarkan perasaan cinta, duka, kekejaman dan kebahagiaan dengan penjelasan

secara lugas dan enak dibaca.

       Kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami, karya yang satu ini

merupakan sebuah reuni bagi Seno Gumira Ajidarma setelah lama absen dari dunia

teater, tiba-tiba Seno membuat tiga naskah drama yang ditulis dalam satu buku sekaligus

dengan judul “Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak Kami”, “Jakarta

2039”, dan juga ada komentar dari Landung Simatupang, tokoh teater besar asal

Yogyakarta, yang turut angkat bicara dalam hasil karya naskah drama tiga judul tentang
kekerasan politik ini. Komentarnya “Cara Ngomong dan Komitmen” ada dalam sub

judul “Dokumen” halaman 180 di buku Kumpulan Naskah Drama Mengapa Kau Culik

Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma.

        Itulah peristiwa yang diangkat oleh Seno Gumira Ajidarma dalam sebuah drama

setelah melihat kenyataan yang ada di Indonesia. Menurutnya dalam dunia politik tanah

air, tindakan penculikan masih bisa, biasa dan sering diterapkan sebagai penekan atau

pembungkam mulut mereka yang berseberangan pendapat dan tindakan pemerkosaan

juga semakin merajalela.



1.2 Rumusan Masalah

        Berdasarkan uraian di atas maka masalah yang akan diungkap dalam skripsi

adalah:

1. Masalah sosial apa saja yang terdapat dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau

     Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma?

2.    Faktor-faktor apa saja yang memunculkan adanya masalah-masalah sosial dalam

     kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya               Seno Gumira

     Ajidarma?



1.3 Tujuan Penelitian

        Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Mengungkap masalah sosial apa saja yang terdapat dalam kumpulan naskah drama

     Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma.
2. Mengungkap faktor-faktor yang memunculkan adanya masalah-masalah sosial dalam

   kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira

   Ajidarma.



1.4 Manfaat Penelitian

      Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:

1. Memberikan informasi tentang masalah sosial apa saja yang terdapat dalam kumpulan

   naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma.

2. Menambah pengetahuan pembaca tentang faktor-faktor yang memunculkan adanya

   masalah-masalah sosial dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak

   Kami karya Seno Gumira Adjidarma.
                                        BAB II

                              LANDASAN TEORETIS



2.1 Pandangan Umum Tentang Sosiologi Sastra

       Sosiologi berasal dari kata Latin socius yang berarti “kawan atau masyarakat” dan

kata Yunani logos yang berarti “ilmu”. Jadi sosiologi adalah ilmu mengenai masyarakat

(Soekanto 1983:4).

       Secara harfiah sosiologi berasal dari bahasa Latin socius yang artinya “sahabat,

kawan” dan logos yang artinya “ilmu pengetahuan”. Jadi sosiologi adalah ilmu tentang

cara bergaul yang baik dalam masyarakat (Gunawan 2000:3).

       Sosiologi adalah ilmu tentang hubungan manusia yang satu dengan manusia yang

lain (Alvin Bertrand dalam Gunawan 2000:3).

       Wellek dan Warren (1995:110) menjelaskan bahwa sosiologi menjabarkan

pengaruh dan kedudukan sastra terhadap manusia dalam masyarakat. Hal ini berkaitan

dengan pendapat Roucek dan Warren (dalam Soekanto 1982:19) sosiologi merupakan

ilmu yang mempelajari manusia dalam masyarakat.

       Menurut William F. Ogburn dan Meyeer F. Nimkoff (dalam Syani 1994:5)

sosiologi merupakan proses menyesuaikan manusia dengan lingkungannya yang hasilnya

dikaitkan dengan organisasi masyarakat. Sedangkan menurut Kamus Besar Bahasa

Indonesia (2001:1085) sosiologi adalah pengetahuan atau ilmu tentang sifat, perilaku dan

perkembangan masyarakat.
       Swingewood (dalam Faruk 1994:1) berpendapat bahwa sosiologi adalah ilmu

mempelajari manusia dan organisasi-organisasi sosial dalam masyarakat.

       Sosiologi menurut Bottomore (dalam Soekanto 1983:7) adalah ilmu positif yang

modelnya sejenis dengan ilmu-ilmu alam, seperti model dari fisika dan model dari

biologi.

       Sosiologi adalah suatu gambaran tentang cara manusia menyesuaikan diri dengan

lingkungannya yang berhubungan dengan proses dan lembaga sosial yang ada di

lingkungan tersebut (Damono 1984:6).

       Sosiologi sastra memandang karya sastra berhubungan dengan masyarakat.

Seperti dikatakan oleh Baribin (1989:34) bahwa cara kerja pendekatan sosiologi dipandu

oleh hubungan karya sastra dengan kelompok sosial, hubungan selera masyarakat dengan

kualitas karya sastra, serta hubungan gejala yang timbul di sekitar pengarang dengan

karyanya.

       Perspektif sosiologi sastra dibagi menjadi 3 yaitu (1) memandang sastra sebagai

dokumen sosial, (2) memandang situasi sosial pengarang,

(3) memandang cara yang dipakai pengarang dalam membuat karyanya berkaitan dengan

kondisi sosial budaya dan peristiwa sejarah (Laurenson dalam Fananie 2000:133).

       Sastra merupakan hasil cipta seorang pengarang dengan menggunakan manusia

dan sekitarnya (masyarakat) sebagai sarana untuk mengungkapkan ide-idenya. Disini

terlihat antara sosiologi dan sastra mempunyai objek yang sama, yaitu manusia dan

masyarakat, perbedaannya terletak pada pendekatannya. Sosiologi memfokuskan pada

analisis ilmiah dan objektif, sedangkan sastra memfokuskan penghayatan melalui
perasaan. Maka dari itu, sosiologi dan sastra mempunyai hubungan yang erat. Sosiologi

mempelajari masalah sosial dalam masyarakat, sedangkan sastra merupakan media untuk

mendokumentasi masalah-masalah sosial.

       Jadi dapat dijelaskan bahwa yang dimaksud sosiologi sastra adalah suatu

pendekatan terhadap karya sastra dengan mempertimbangkan segi-segi kemasyarakatan.

       Pandangan tentang sosiologi sastra menurut Wellek dan Warren (dalam Damono

1984:3)   bahwa     sosiologi   sastra   membicarakan     tentang   pengarang   yang

mempermasalahkan status sosial dan ideologi sosial pengarang.

       Menurut Ian Watt (dalam Damono 1984:3) sosiologi sastra menampilkan keadaan

masyarakat dan fakta-fakta sosial dalam karyanya.

       Sosiologi sastra mempermasalahkan lingkungan kebudayaan dan peradaban yang

menghasilkan (Grebstein dalam Damono 1984:4). Hal ini sesuai dengan pandangan

Swingewood (dalam Faruk 1999:1) tentang sosiologi sastra, bahwa sosiologi sastra

mempelajari manusia dan organisasi-organisasi sosial dalam masyarakat.

       Berdasarkan pendapat di atas, jelaslah bahwa sosiologi sastra berhubungan

dengan manusia imajiner serta masalah-masalah sosialnya yang terjadi dalam

masyarakat.



2.1.1 Konsep Dasar Ian Watt Tentang Sosiologi Sastra

       Penelitian ini menggunakan pendapat dari Ian Watt yang menitikberatkan pada

sastra sebagai cermin masyarakat. Sosiologi sastra berurusan dengan manusia dalam

masyarakat yang saling melengkapi dan sulit untuk terpisah-pisah.
       Menurut Ian Watt kecenderungan utama terhadap karya sastra ada 3 yaitu:

pertama, konteks sosial pengarang. Keadaan sosial dalam masyarakat mempengaruhi

pengarang dalam membuat karya sastra. Berkaitan dengan cara pengarang mendapatkan

pekerjaan, profesional dalam mengarang, masyarakat yang dituju oleh pengarang.

       Kedua, sastra sebagai cermin masyarakat. Karya sastra ditampilkan berdasarkan

keadaan masyarakat beserta masalah-masalah sosial oleh pengarang dalam karyanya.

       Ketiga, fungsi sosial sastra. Ada 3 fungsi sastra yaitu (a) sebagai pembaharu dan

perombak (b) sebagai penghibur belaka (c) sebagai pengajar sesuatu dengan cara

menghibur.

       Berdasarkan klasifikasi di atas, dapat diperoleh gambaran bahwa sosiologi sastra

merupakan pendekatan terhadap sastra dengan masyarakat yang mempunyai cakupan

luas mengenai pengarang, teks sastra sebuah karya sastra serta pembacanya. Oleh karena

itu, penulis menggunakan klasifikasi sosial menurut Ian Watt karena pengarang

menampilkan keadaan masyarakat dan fakta-fakta sosial dalam karyanya.



2.1.2 Hubungan Masalah Sosial Dengan Karya Sastra

       Hubungan antara masalah sosial dengan sastra bersifat deskriptif (memaparkan

sesuatu apa adanya sesuai dengan bentuk atau kenyataan yang ada). Hal yang harus

diperhatikan ada 3 yaitu: Pertama, sosiologi pengarang, profesi pengarang dan institusi

pengarang. Masalah yang dihadapi mencakup dasar ekonomi produksi sastra, latar

belakang sosial, status pengarang dan ideologi pengarang yang terlihat dari berbagai

kegiatan pengarang di luar karya sastra. Kedua, isi karya sastra, tujuan, serta hal-hal yang
tersirat dalam karya sastra itu sendiri dan yang berkaitn dengan masalah sosial. Ketiga,

pembaca dan dampak sosial karya sastra.

          Sastra dan masalah sosial mempunyai perbedaan, namun dapat memberikan

penjelasan tentang sastra (Laurenson and Swingewood dalam Fananie, 2000:132). Sastra

adalah karya seni ekspresi kehidupan manusia. Dengan demikian, antara karya sastra

dengan sosial merupakan dua bidang yang berbeda, tetapi keduanya saling melengkapi.

          Jadi dapat disimpulkan bahwa karya sastra adalah karya yang menyajikan

persoalan-persoalan yang berhubungan dengan tata nilai dan bentuk dari kondisi sosial

yang terdapat dalam kehidupan manusia.



2.2 Masalah Sosial

          Masalah sosial adalah suatu kehidupan masyarakat yang sebelumnya normal

menjadi terganggu akibat perubahan pada unsur-unsur dan kepentingan masyarakat

(Syani 1992:182).

          Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:719) masalah adalah suatu

persoalan yang harus diselesaikan (dipecahkan jalan keluarnya),       sedangkan sosial

(2001:1085) adalah segala sesuatu yang berkenaan dengan kemasyarakatan. Jadi masalah

sosial adalah persoalan yang mengganggu pikiran manusia yang berkenaan dengan

masyarakat.

          Soekanto (1990:358) masalah sosial adalah segala sesuatu tidak sesuai antara

unsur-unsur kebudayaan atau masyarakat yang membahayakan kehidupan kelompok

sosial.
       Selain meneliti gejala-gejala kemasyarakatan, sosiologi mempelajari masalah-

masalah sosial. Dengan demikian, sosiologi juga berusaha mempelajari masalah sosial

seperti kejahatan, konflik antar ras, kemiskinan, perceraian, pelacuran, peperangan dan

lain-lain. Dalam hal ini, sosiologi bertujuan untuk menemukan sebab-sebab terjadinya

masalah sosiologi, tidak terlalu menekankan pada pemecahan atau jalan keluar dari

masalah tersebut.

       Soekanto (1990:365) membagi beberapa masalah sosial yang dihadapi dalam

masyarakat, yaitu sebagai berikut:


1. Kemiskinan

       Kemiskinan adalah suatu keadaan seseorang yang tidak mampu memelihara

dirinya sendiri dan memanfaatkan tenaga mental maupun fisiknya untuk mencukupi

kebutuhan hidup (Soekanto 1990:365).

       Pada masyarakat modern, kemiskinan menjadi suatu problem sosial. Biasanya

mereka, merasa miskin bukan karena kurang makan, pakaian atau perumahan. Tetapi

karena harta miliknya dianggap tidak cukup memenuhi kebutuhan yang tidak pokok

(mewah). Hal ini terlihat di kota-kota besar, seperti Jakarta. Seseorang dianggap miskin

karena tidak memiliki radio, televisi atau mobil, sehingga benda-benda sekunder menjadi

persoalan antara miskin atau kaya. Persoalan lain dalam kemiskinan adalah karena

adanya arus urbanisasi yang gagal mendapatkan pekerjaan. Bagi mereka, kemiskinan

disebabkan tidak mampu memenuhi kebutuhan primer sehingga timbul tunakarya, tuna

susila, dan sebagainya.
       Kemiskinan dapat diartikan sebagai suatu keadaan seseorang, keluarga atau

anggota masyarakat tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan dalam kehidupan sehari-

hari (Syani 194:190). Sedangkan menurut Emil Salim (dalam Syani 1994:190)

kemiskinan merupakan pendapatan yang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup

yang pokok seperti pangan, pakaian, tempat tinggal, dan lain-lain.

       Dengan adanya berbagai nilai dan norma sosial yang baru dapat mengakibatkan

bergesernya ukuran-ukuran taraf kehidupan, kemudian menjadi suatu kelaziman bagi

masyarakat.

       Ukuran kaya dan miskin dapat dilihat melalui kemampuan atau jumlah pemilikan

nilai-nilai ekonomis. Jika seseorang mengalami kesulitan ekonomi dan tidak cukup untuk

memenuhi kebutuhan pokoknya, maka keadaan tersebut dapat menimbulkan masalah-

masalah sosial, seperti tuna karya, tuna susila, tuna wisma, dan lain-lain.


2. Kejahatan

       Kejahatan disebabkan karena adanya kondisi dan proses sosial yang

menghasilkan perilaku-perilaku sosial. Analisis terhadap kondisi dan proses-proses

tersebut menghasilkan dua kesimpulan. Pertama tinggi rendahnya angka kejahatan

berhubungan erat dengan bentuk dan organisasi sosial dimana kejahatan itu terjadi

misalnya gerak sosial, persaingan serta pertentangan kebudayaan, ideologi politik,

agama, ekonomi. Kedua, para sosiolog berusaha untuk menentukan proses-proses yang

menyebabkan seseorang menjadi penjahat (Soekanto 1982:366-367).

       Perilaku jahat dipelajari dalam interaksi dengan orang lain. Sedangkan orang

tersebut mendapatkan perilaku jahat sebagai hasil interaksi yang dilakukannya dengan
orang-orang yang berperilaku dengan kecenderungan melawan norma-norma hukum

yang ada.

       Kejahatan bisa disebabkan karena terpengaruh pada alat-alat komunikasi, seperti

buku, surat kabar, filam, televisi, radio. Alat-alat komunikasi tersebut memberikan

sugesti kepada orang perorangan untuk menerima atau menolak perilaku jahat tersebut

(Soekanto 1982:368).

       Syani (2002:189) menyatakan bahwa kejahatan disebabkan oleh adanya

ketimpangan sosial, seperti krisis ekonomi, adanya keinginan yang tidak tersalurkan,

tekanan-tekanan mental, dendam dan sebagainya. Hal ini timbul karena adanya

perubahan masyarakat dan kebudayaan yang teramat cepat.

       Tindakan kriminal tidak hanya tumbuh dari dalam diri manusia itu sendiri, tetapi

bisa terpengaruh dari luar, seperti pergaulan dengan orang yang lain yang mempunyai

unsur tindakan kejahatan.

       Cara mengatasi masalah kejahatan bisa dilakukan dengan cara rehabilitasi. Ada 2

teknik rehabilitasi. Pertama, menciptakan sistem dan program yang bertujuan untuk

menghukum orang-orang jahat. Misalnya hukuman penjara, hukuman kurungan dan

hukuman bersyarat. Kedua, menciptakan usaha agar penjahat dapat berubah menjadi

orang baik. Misalnya dalam menjalani hukuman bersyarat, si terhukum diusahakan

diberikan pekerjaan dan diberikan konsultasi psikologis. Sedangkan apabila di lembaga

pemasyarakatan, para narapidana diberikan pendidikan serta latihan-latihan untuk

menguasai bidang-bidang tertentu agar setelah masa hukuman selesai mempunyai modal

untuk mencari pekerjaan di masyarakat.
3. Disorganisasi Keluarga

       Disorganisasi keluarga adalah perpecahan keluarga, karena ada anggota yang

gagal memenuhi kewajiban-kewajibannya sesuai dengan peranan sosial (Soekanto

1982:370).

       Disorganisasi sosial bisa terjadi karena perceraian, kurangnya komunikasi antar

anggota keluarga, salah satu keluarga meninggalkan rumah karena meninggal dunia,

dihukum atau karena peperangan, suami sebagai kepala keluarga gagal memenuhi

kebutuhan-kebutuhan primer keluarganya atau mungkin karena dia mengambil seorang

istri lagi. Pada umumnya masalah tersebut disebabkan karena kesulitan untuk

menyesuaikan diri dengan tuntutan kebudayaan.

       Pada dasarnya, disorganisasi keluarga disebabkan keterlambatan menyesuaikan

dengan situasi sosial-ekonomi yang baru pada masyarakat yang sangat kompleks.



4. Generasi Muda dalam Masyarakat Modern

       Masalah generasi muda pada umumnya ditandai oleh keinginan untuk melawan

dan sikap apatis (sikap masa bodoh). Sikap melawan mungkin disertai dengan suatu rasa

takut bahwa masyarakat akan hancur karena perbuatan-perbuatan menyimpang.

Sedangkan sikap apatis biasanya disertai rasa kecewa terhadap masyarakat, sehingga

bersikap masa bodoh terhadap segala perkembangan di masyarakat (Soekanto 1982:371).

       Generasi muda biasanya menghadapi masalah sosial dan biologis. Apabila

seseorang mencapai usia remaja, secara fisik dia telah matang, tetapi untuk dikatakan

dewasa dalam arti sosial masih diperlukan faktor-faktor lainnya. Dia perlu belajar banyak
mengenai nilai dan norma-norma masyarakatnya. Pada masyarakat bersahaja hal itu

tidak menjadi masalah, karena anak memperoleh pendidikan dalam lingkungan

kelompok kekerabatan. Perbedaan kedewasaan sosial dengan kematangan biologis tidak

terlalu mencolok, posisinya dalam masyarakat antara lain ditentukan oleh usia.

       Kehidupan di masyarakat modern cenderung timbul ketidakseimbangan antara

kedewasaan sosial dan kedewasaan biologis, tetapi remaja merasa dirinya telah dewasa

secara biologis tetapi secara sosialnya belum. Padahal dalam masyarakat kompleks,

kemajuan seseorang ditentukan oleh kemampuan atau keahlian, bukan karena usia.

Sedangkan generasi tua tidak memberikan kesempatan pada generasi muda untuk

menunjukkan kemampuannya.

       Di kota-kota besar sebagian besar generasi muda merasa kurang mendapat

perhatian dari orang tuanya. Hal ini disebabkan para orang tua sibuk mencari nafkah dan

bagi kalangan ekonomi mampu sibuk dengan urusan di luar rumah bahkan di luar negeri.


5. Penindasan

       Penindasan diakibatkan adanya kesenjangan sosial baik antara si kaya dan si

miskin yang biasa disebut kesenjangan ekonomi relatif maupun antara pribumi dan non

pribumi (Suaedy 2000:3-9)

       Kesenjangan terjadi karena adanya jarak yang jauh dari akumulasi ekonomi yang

dimiliki oleh satu kelompok masyarakat dengan kelompok masyarakat lain. Misalnya

banyak konglomerat yang Indonesia yang dimodali oleh bank-bank negara, sedangkan

banyak pengusaha kecil ke bawah yang bangkrut, sehingga penumpukan modalnya
sangat lambat sekali dan para pengusaha menengah ke bawah tersebut tidak dapat

bekerja kembali. Hal ini yang menimbulkan adanya penindasan.

       Dengan peristiwa seperti ini pemerintah perlu menghentikan perlakuan khusus

kepada kelompok usaha yang besar-besar dari mendapat fasilitas, dan berbagai macam

peraturan khusus yamng mengistimewakan mereka. Pemberian fasilitas khusus dan

perlakuan yang adil berkaitan dengan modal dan pasar pengusaha menengah ke bawah.

       Kesenjangan antara pribumi dan non pribumi bisa memicu kecemburun yang

mengarah pada kekerasan dan penindasan. Hal ini dikarenakan adanya diskriminasi dari

para pejabat.



6. Pelanggaran Terhadap Norma-norma Masyarakat.

       a. Pelacuran

       Pelacuran adalah pekerjaan menyerahkan diri kepada umum untuk melakukan

perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah (Soekanto 1990:374).

       Sebab-sebab terjadinya pelacuran haruslah dilihat dari faktor-faktor endogen dan

eksogen. Diantara faktor-faktor endogen dapat disebutkan nafsu kelamin yang besar,

sifat malas dan keinginan yang besar untuk hidup mewah. Diantara faktor-faktor eksogen

yang utama adalah faktor ekonomis, urbanisasi yang tak teratur, keadaan perumahan

yang tak memenuhi syarat. Sebab utamanya adalah konflik mental, situasi hidup yang

tidak menguntungkan pada masa anak-anak dan pola kepribadian yang kurang dewasa,

ditambah dengan inteligensi yang rendah tarafnya.
       Pelacuran merupakan masalah sosial yang cukup besar pengaruhnya terhadap

perkembangan moral. Pelacuran bisa mengakibatkan masalah bagi generasi muda dan

keluarga, bisa juga menyebabkan penyakit kelamin dan AIDS (Syani 2002:193).

       Pelacuran berkembang karena dorongan tekanan sosial, keputusasaan, pelarian

bagi yang putus cinta, kehilangan pekerjaan, dan juga bisa karena banyak yang

menggandrunginya dengan disediakannya fasilitas lokasi yang memadai untuk

melakukan perbuatan melacur. Sangatlah mengkhawatirkan apabila pelacuran dijadikan

profesi, sehingga melacur sudah masuk ke dalam jiwa para pelaku apalagi bila mereka

beranggapan bahwa pekerjaan itu adalah pekerjaan yang mudah dilakukan dan tidak

memerlukan ketrampilan khusus.

       Cara mencegah pelacuran bisa dilakukan penelitian terhadap wanita yang

memiliki gejala adanya gangguan-gangguan mental dengan usaha pembinan sekuritas

dan kasih sayang yang stabil.

       b. Delinkuensi Anak-anak

       Delinkuensi anak-anak yang terkenal di Indonesia adalah masalah cross boys dan

cross girl yang merupakan sebutan bagi ank-anak muda yang tergabung dalam suatu

ikatan/organisasi formal atau semi formal dan yang mempunyai tingkah laku yang

kurang/tidak disukai oleh masyarakat pada umumnya. Delinkuensi anak-anak meliputi

pencurian, perampokan, pencopetan, penganiayaan, pelanggaran susila, penggunaan

obat-obat perangsang dan mengendarai mobil tanpa mengindahkan norma-norma lalu

lintas (Soekanto 1990:375).
      Delinkuensi diartikan sebagai kenakalan. Istilah kenakalan berasal dari kata

“nakal”, dari bahasa Jawa dari kata ana akal yang artinya ada akal atau timbul akalnya.

Maksudnya bahwa seorang anak kecil yang mulai timbul akalnya memiliki semangat

ingin tahu yang besar untuk menirukannya. Misalnya anak kecil mengambil gelas dari

meja karena kurang kemampuannya sehingga ia memecahkan gelas tersebut sampai

pecah berantakan. Dengan kejadian tersebut anak tersebut dikatakan sebagai “anak

nakal” (Gunawan 2000:89).

      Fuad Hasan (dalam Gunawan 2000:89) menyatakan bahwa delinquensi adalah

perbuatan yang dilakukan oleh seseorang baik masih anak-anak, remaja maupun sudah

dewasa yang melanggar norma-norma sosial.

      Kenakalan remaja timbul dalam masa pubertas saat jiwa dalam keadaan labil

sehingga mudah terpengaruh oleh lingkungan. Beberapa penyebab kenakalan remaja

yaitu: (a) keluarga yang retak atau orang tua yang sibuk dengan urusan pekerjaan

sehingga anak kurang mendapat kasih sayang dan perhatian dari orang tuanya, (b) situasi

keluarga, sekolah dan lingkungan yang membosankan sehingga melakukan perbuatan

yang menyenangi hatinya tapi justru merugikan orang lain, (c) lingkungan masyarakat

yang tidak memungkinkan untuk kehidupan masa depan, seperti masyarakat yang penuh

dengan gosip, manipulasi, korupsi, membeda-bedakan antara kaya dan miskin.

      Mengatasi kenakalan remaja dengan cara memberikan penjelasan kepada remaja

tentang bahaya perbuatan yang ia lakukan, misalnya ngebut di jalan maka orang tua

menjelaskan bahaya yang akan ia dapatkan. Selain itu, remaja perlu didik untuk

meningkatkan keimanan terhadap Tuhan Yang Maha Esa agar tidak mudah atau goyah
dalam menghadapi cobaan hidup. Remaja dilatih untuk mengikuti berbagai kesibukan

dalam keluarga dan masyarakat dengan suka bergotong-royong, suka menumbuhkan

sikap harga-menghargai dan kerjasama, toleransi, dan masih banyak yang lain. Dalam

mengatasi kenakalan remaja yang terpenting adalah peranan orang tua dan

lingkungannya.


       c. Alkoholisme

       Masalah alkoholisme dan pemabuk pada kebanyakan masyarakat pada umumnya

tidak berkisar pada apakah alkohol itu boleh atau dilarang dipergunakan. Persoalan

pokoknya adalah siapa yang boleh menggunakannya, dimana, bilamana dan dalam

kondisi bagaimana (Soekanto 1990:376).

       Pengaruh orang mabuk terhadap kehidupan keluarga. Hasil penelitian Joan

Jackson dengan judulnya The Adjustment of the Family to the Crisis of Alcobolism

(dalam Soekanto 1990:377) tertuju pada kepala rumah tangga yang pemabuk. Proses

terjadi secara bertahap, awalnya suami mulai minum-minum walaupun masih jarang

tetapi istri mulai menderita tekanan batin dan hubungan antara suami dan istri mulai

sedikit terganggu.

       Kemudian frekuensi minum-minum meningkat dan hubungan antara suami, istri

dan anak semakin menegang. Apabila tak ada kedamaian suami dan istri mengambil

jalan untuk hidup sendiri-sendiri agar permasalahan bisa diselesaikan, akhirnya peranan

kepala rumah tangga diganti oleh istri. Segala urusan anak-anak dan ekonomi menjadi

tanggung jawab istri tanpa adanya suami. Hingga suatu saat suami sadar dan dia ingin

kembali lagi pada keluarganya dan akan kembali ke kehidupan norma, tapi perbuatan
yang dia lakukan dulu belum bisa dilupakan oleh istri dan anaknya sehingga masih ada

keraguan untuk menerima si suami itu.

      Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana terdapat satu pasal yang mengatur

tentang keadaan mabuk sebagai penjahat. Terdapat dalam pasal 300 yang isinya:

(1) Diancam dengan pidana penjara paling lama satu tahun atau denda paling banyak

   empat ribu lima ratus rupiah:

   1. Barangsiapa dengan sengaja menjual atau memberikan minuman yang

       memabukkan kepada seseorang yang kelihatan mabuk.

   2. Barangsiapa dengan sengaja membikin mabuk seorang anak yang umurnya belum

       cukup enam belas tahun.

   3. Barangsiapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa orang untuk

       minum-minuman yang memabukkan.

(2) Jika perbuatan mengakibatkan luka-luka berat, yang bersalah diancam dengan pidana

   penjara paling lama tujuh tahun.

(3) Jika perbuatan mengakibatkan kematian, yang bersalah diancam dengan pidana

   penjara paling lama sembilan tahun.

(3) Jika yang bersalah melakukan kejahatan tersebut dalam menjalankan pencahariannya,

   dapat dicabut haknya untuk menjalankan pencarian itu.

      Selain itu, peraturan lain yang berhubungan dengan pelanggaran terdapat dalam

pasal 494 yang menyatakan bahwa:

(1) Barangsiapa dalam keadaan mabuk di muka umum merintangi lalu lintas, atau

   mengganggu ketertiban, atau mengancam keamanan orang lain, atau melakukan
   sesuatu yang harus dilakukan dengan hati-hati atau dengan mengadakan tindakan

   penjagaan tertentu lebih dahulu agar jangan membahayakan nyawa atau kesehatan

   orang lain, diancam dengan pidana kurungan paling lama enam hari, atau pidana

   denda paling banyak tiga ratus tujuh puluh lima rupiah.

(2) Barangsiapa ketika melakukan pelanggaran belum lewat satu tahun sejak adanya

   pemidanaan yang menjadi tetap karena pelanggaran yang sama, atau karena hal yang

   dirumuskan dalam pasal 536, dijatuhkan pidana kurungan paling lama dua minggu.

   Sebenarnya ruang lingkup pasal ini sangat luas, akan tetapi dikualifikasikan sebagai

   pelanggaran, sehingga ancaman hukuman relatif ringan.


      d. Homoseksual

      Secara sosiologi, homoseksual adalah perbuatan seksual dengan sesama jenis.

Pria yang melakukan sikap tindak demikian disebut homoseksual, sedangkan lesbian

merupakan sebutan bagi sesama wanita yang melakukan hubungan seksual. Mereka

menderita konflik batiniah yang menyangkut identitas diri yang bertentangan dengan

identitas sosial sehingga ada kecenderungan untuk mengubah karakteristik seksualnya.

      Masyarakat Yunani Kuno sudah lama mengenal homoseksual. Di Inggris pada

akhir abad ke-17 homoseksualitas dipandang sebagai tingkah laku seksual dan peranan

yang timbul dari keinginan maupun aktivitas para homoseks.

      Masyarakat Barat lesbianisme dikenal melalui Sappho yang hidup di Pulau

Lesbospada abad ke-6 sebelum Masehi. Awalnya dia memperjuangkan hak-hak wanita,

sehingga banyak pengikutnya, tetapi dia jatuh cinta kepada beberapa pengikutnya dan
menulis puisi cinta. Maka dari itu, Sappho mendapatkan kepuasan seksual dengan

sesama wanita. Menurutnya, kecantikan wanita tidak lepas dari seksualnya.

         Homoseksual ada 3 kategori, yaitu: (1) golongan aktif , artinya mencari mitra

kencan di bar-bar homoseksual. (2) golongan pasif, artinya menunggu kedatangan

seseorang yang mau diajak kencan. (3) golongan situasional, artinya kadang aktif kadang

pasif.

         Homoseksual disebabkan karena keyakinan, bahwa moral seseorang tidak diberi

kesempatan untuk membentuk kepribadiannya sendiri. Di negara barat, homoseksual

terjadi karena dorongan kuat untuk mengadakan persamaan kedudukan dan peranan

wanita dengan pria.


         e. Kependudukan

         Penduduk suatu negara, pada hakikatnya merupakan sumber yang penting bagi

pembangunan, sebab penduduk merupakan subyek serta objek pembangunan. Sedangkan

negara bertanggung jawab meningkatkan kesejahteraan dan mengambil langkah

pencegahan terhadap gangguan kesejahteraan (Soekanto 1990:386).

         Di Indonesia banyak gangguan yang menimbulkan masalah kependudukan antara

lain bagaimana menyebarkan penduduk agar tercipta kepadatan penduduk yang

menyeluruh dan bagaimana cara menurunkan angka kelahiran.

         Tujuan utama dari suatu proses pembangunan untuk meningkatkan produktivitas

dan kemakmuran penduduk secara menyeluruh. Usaha tersebut dapat mengalami

gangguan-gangguan antara lain pertumbuhan yang terlalu cepat karena tingginya angka

kelahiran.
      Pertambahan penduduk yang semakin meningkat dan tidak terkontrol secara

efektif dapat menghambat pelaksanaan pembangunan. Hal ini menyebabkan sumber

penghidupan masyarakat semakin terbatas. Maka dari itu, pemerintah mencanangkan

program Keluarga Berencana dan Transmigrasi bertujuan untuk meningkatkan

kemakmuran masyarakat dan pemerataan jumlah penduduk di seluruh wilayah tertentu.


      f. Lingkungan Hidup

      Menurut Soekanto (1990:387) lingkungan hidup dibedakan menjadi 3 kategori,

yaitu (a) lingkungan fisik (berupa benda mati yang ada di sekeliling manusia), (b)

lingkungan biologis (berupa segala sesuatu di sekeliling manusia yang berupa organisme

yang hidup), (c) lingkungan sosial (berupa orang-orang baik individual maupun

kelompok yang berada di sekitar manusia).

      Kehidupan lingkungan di dalam masyarakat berbeda. Hal ini terlihat di

lingkungan perkotaan dan pedesaan, lingkungan tempat tinggal pertanian, dan lain-lain.

Lingkungan terjadi karena adanya interaksi antara organisme-organisme hidup tertentu

yang membentuk suatu keserasian atau keseimbangan tertentu dengan lingkungan.

Apabila pada suatu saat terjadi gangguan pada keserasian tersebut, maka pada saat lain

terjadi proses penyerasian kembali. Keseluruhan lingkungan hidup tertentu tersebut

biasanya dinamakan masyarakat organisme hidup atau biotic community.

      Organisme hidup terdiri dari manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan yang saling

mempengaruhi dan dipengaruhi oleh lingkungan. Unsur yang paling dominan dalam

lingkungan hidup ini adalah manusia (Syani 2002:194).
       Ekosistem berpengaruh besar terhadap manusia. Misalnya pengaruh sinar matahari

yang merupakan bentuk energi kehidupan yang dibutuhkan oleh setiap organisme. Sinar

matahari berpengaruh besar terhadap manusia dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan

yang berbeda zonasinya (Soekanto 1990:390).

       Hubungan antara manusia dengan lingkungannya akan terganggu apabila ada

desakan kebutuhan manusia dan kurangnya kesadaran akan lingkungan hidup yang

menyebabkan lingkungan hidup menjadi rusak. Misalnya membuang kotoran di

sembarang tempat, menebang pohon secara liar, menggunakan zat kimia untuk

mendapatkan ikan yang banyak dan lain-lain. Akibatnya lingkungan hidup menjadi rusak

kemudian terjadi kebakaran, banjir, pencemaran air dan masih banyak yang lain sehingga

manusia menjadi menderita karena bencana yang menimpanya.


       g. Birokrasi

       Birokrasi adalah suatu organisasi yang bertujuan mengerahkan tenaga dengan

teratur dan terus menerus, untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Birokrasi bisa juga

disebut organisasi yang bersifat hirarkis (urutan atau tingkatan dari atas ke bawah atau

sebaliknya) yang bertujuan untuk mengkoordinasikan pekerjaan orang-orang untuk

kepentingan pelaksanaan tugas-tugas administratif (Soekanto 1990:391).

       Di dalam sosiologi pengertian tersebut menunjuk pada suatu keadaan yang netral,

artinya sosiologi tidak mempersoalkan apakah birokrasi itu bersifat menghambat atau

melancarkan berputarnya roda pemerintahan.
       Max Weber (dalam Soekanto 1990:391) menjelaskan tentang ciri-ciri birokrasi

dan cara terlaksananya, yaitu (a) Adanya ketentuan tegas mengenai kewenangan yang

didasarkan pada peraturan hukum dan administrasi,

(b) Tingkat dan derajat wewenang merupakan sistem yang tegas, seperti hubungan antara

atasan dan bawahan, (c) Ketatalaksanaan suatu birokrasi yang modern didasarkan pada

dokumen-dokumen tertulis, disusun dan dipelihara aslinya ataupun salinannya, (d)

Pelaksanaan birokrasi harus memerlukan latihan dan keahlian khusus sesuai dengan

bidang-bidangnya, (e) Pelaksanaan birokrasi kadang tidak sesuai dengan ketentuan yang

ada bahwa waktu bekerja pada organisasi dibatasi, tetapi kadang kenyataannya bila

birokrasi sedang berkembang para pelaksana bekerja dengan penuh, (f) Pengetahuan

tentang peraturan-peraturan dalam birokrasi memerlukan cara yang khusus kesemuanya

dapat dipelajari, meliputi hukum, ketatalaksanaan administrasi dan perusahaan.

       Dengan memperhatikan ciri-ciri birokrasi yang telah diuraikan di atas, dapat

dikatakan bahwa birokrasi mencakup lima unsur yaitu: organisasi, pengerahan tenaga,

sifat yang teratur, bersifat terus-menerus, dan mempunyai tujuan.

       Berdasarkan klasifikasi di atas mengenai masalah-masalah sosial, jelaslah bahwa

dalam masyarakat banyak problem yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari

yang mengakibatkan terganggunya stabilitas dan kesejahteraan masyarakat itu sendiri.



2.3 Faktor-Faktor Timbulnya Masalah Sosial

       Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001:312) faktor adalah hal, keadaan

atau peristiwa yang ikut menyebabkan atau mempengaruhi terjadinya sesuatu.
Sedangkan sosial adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan masyarakat atau

kemasyarakatan. (2001:961). Dengan demikian faktor sosial merupakan suatu keadaan

atau mempengaruhi        terjadinya sesuatu berhubungan dengan masyarakat atau

kemasyarakatan.

          Menurut Daldjuni (dalam Syani 2002:187) ada empat faktor timbulnya masalah

sosial:

   a. Faktor Alam (ekologis-geografi)

          Faktor ini berkaitan dengan gejala menipisnya sumber daya alam. Hal ini

disebabkan sifat manusia yang ingin mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya tanpa

memperhatikan pelestarian dan pengawetan lingkungan. Bisa juga karena bertambahnya

penduduk yang begitu pesat, sehingga persediaan sumber daya alam berkurang (Syani

2002:187).

          Keadaan alam atau lingkungan sangat berpengaruh besar terhadap struktur serta

organisasi sosial. Hal ini sesuai dengan pendapat Buckle (salah seorang tokoh dari

mazhab alam) bahwa taraf kemakmuran suatu masyarakat tergantung pada keadaan

alam. Huntington dalam bukunya Civilization and Climate menyebutkan bahwa faktor

iklim menentukan mentalitas manusia. (Gunawan 2000:8).

          Ekologi berkaitan dengan lingkungan fisik dan manusia yang harus beradaptasi.

Ia meliputi sifat-sifat tanah, sifat iklim, pola hujan, sifat kehidupan tanaman dan

binatang, serta ketersediaan sumber daya alam. Ekologi merupakan lingkungan eksternal

yang harus menyesuaikan diri dengan sistem sosiokultural, karena ekologi bukanlah

bagian dari sistem sosiokultural. (Sanderson 2003:60-61)
       Namun, faktor ekologis merupakan faktor yang mempengaruhi berbagai aspek

kehidupan sosial, maka ekologi diperlakukan sebagai komponen dasar sistem

sosiokultural.


   b. Faktor Biologis

       Faktor ini menyangkut tentang pertambahan penduduk dengan pesat yang

dirasakan secara nasional, regional ataupun lokal dan berhubungan dengan masalah

pemukiman dan kesehatan masyarakat baik di desa maupun di perkotaan (Syani

2001:187).

       Kebutuhan biologis manusia ada 3 unsur yaitu: (a) dorongan untuk makan, (b)

dorongan untuk mempertahankan diri, (c) dorongan untuk melangsungkan jenis

(berhubungan dengan pasangan untuk mendapatkan keturunan).

       Faktor biologis merupakan watak seseorang yang diwariskan melalui darah. Dari

segi badaniah, orang dapat dibedakan menurut warna kulit, tinggi badan, rambut dan

sebagainya. Sedangkan dari segi rohaniah dibedakan menurut bakat, kecerdasan,

temperamen (seperti giat, optimis, penyabar, pemarah dan lain-lain). Watak manusia bisa

berubah tetapi sifat asli yang tumbuh dari lahir sulit untuk dihilangkan (Nasution

1979:35).


   c. Faktor Psikologi

       Faktor ini berhubungan dengan mental seseorang yang mengalami keguncangan

dan penyakit kejiwaan (Syani 2002:188).
      Salah satu tokoh mazhab terkenal dengan ungkapannya “La societe’ c’est

I’imitation” atau masyarakat suatu proses imitasi adalah Gabriel Tarde. Imitasi adalah

hubungan timbal balik sosial dan pergaulan antar manusia yang berkaitan dengan

kejiwaan seseorang sehingga kepribadian seseorang dipengaruhi oleh faktor psikologis,

seperti dorongan, perasaan, dan minat (Gunawan 2000:9).

      Menurut Nasution (1979:94) pendekatan terhadap gejala penyakit jiwa ini

dilakukan melalui 2 jalan, yaitu dengan jalan menghindarkan timbulnya penyakit jiwa

(preventif) dan usaha menyembuhkan orang yang sudah sakit jiwa (repressif).

      Usaha preventif merupakan usaha menemukan sebab-sebab timbulnya penyakit

jiwa. Dua hal yang harus diselidiki (a) Situasi kehidupan pada masa kanak-kanak.

Pengaruh masa kanak-kanak dibentuk oleh orang tua dan orang-orang terdekat, berupa

perasaan kasih dan perasaan kecewa, perasaan rendah diri dan menggambarkan tentang

diri seseorang. Usaha yang dilakukan yaitu memberikan kasih sayang pada anak, melatih

anak bersikap disiplin. (b) Masa dewasa atau menjelang dewasa dianggap sebagai masa

yang mengandung krisis emosional, terdapat konflik antar kemauan dan kenyataan,

kekecewaan karena tekanan moral, saling bersaing dan sebagainya. Usaha yang

dilakukan dengan cara menambah kesejahteraan sosial, meliputi memperbaiki keadaan

perumahan dan kesehatan, memberikan jaminan-jaminan sosial (kondisi kerja, hak

pensiun, dan lain-lain). Jenis-jenis narkotika harus dihindari karena juga bisa

menimbulkan kejiwaan seseorang dapat terganggu.

      Sedangkan usaha repressif ada dua jalan yang harus ditempuh dalam usaha untuk

menyembuhkan penderita penyakit jiwa, yaitu (a) metode psycho-analyse yaitu
menganalisa konflik mental si penderita dan membantu mengatasinya secara sadar.

Untuk menggali apa-apa yang tersembunyi dari lapangan tak sadar, maka dipakai metode

tanya jawab. Ini merupakan pekerjaan psychiater yang bekerja menyusun kembali

pikiran manusia yang kusut bagai benang. (b) dengan cara mengubah keadaan sekitar

pasien, bahwa sakit jiwa disebabkan hal-hal yang dialami si penderita pada suatu

lingkungan dan keadaan tertentu.


   d. Faktor Sosial

       Faktor ini berhubungan dengan kebijaksaan ekonomi dan politik yang

dikendalikan oleh masyarakat (Syani 2002:188).

       Pembentukan kepribadian seseorang bisa terjadi karena lingkungan sosial, seperti

lingkungan pergaulan. Misalnya bergaul atau hidup di lingkungan intelek menjadi suka

membaca dan belajar, bila hidup di lingkungan penjudi bisa menjadi orang yang suka

mabuk (Gunawan 2000:20).

       Berdasarkan klasifikasi di atas, dapat dijelaskan bahwa penyebab terjadinya

masalah sosial cenderung dari faktor-faktor yang mendukung sehingga ketimpangan

sosial dapat terjadi.
                                         BAB III

                              METODE PENELITIAN



3.1 Pendekatan Penelitian

      Pendekatan sosiologi sastra digunakan untuk menganalisis isi kumpulan naskah

drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karena karya sastra Ian Watt yang dititikberatkan

pada sastra sebagai cermin masyarakat.

      Pengkajian isi drama Mengapa Kau Culik Anak Kami dengan sosiologi sastra Ian

Watt dilakukan dengan cara mengaitkan isi serta hal-hal yang tersirat dalam drama

tersebut dengan masalah-masalah sosialnya. Pendekatan sosiologi sastra juga digunakan

untuk mengungkapkan masalah sosial yang terdapat dalam drama tersebut.

      Skripsi ini menggunakan pendekatan sosiologi sastra karena kumpulan naskah

drama yang akan dikaji yaitu kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik anak Kami

karya Seno Gumira Ajidarma banyak membicarakan tentang masalah sosial yang terjadi

dalam kehidupan di masyarakat.


3.2 Sasaran Penelitian

      Sasaran dalam penulisan skripsi ini adalah masalah sosial dan faktor-faktor sosial

yang terdapat dalam kumpulan naskah Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno

Gumira Ajidarma.

      Data dalam skripsi ini adalah teks yang memuat masalah-masalah sosial dan

faktor-faktor sosial dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami yang

memunculkan masalah sosial. Sumber data dalam penulisan skripsi ini adalah teks
kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma

yang diterbitkan oleh Galang Press pada tahun 2001.


3.3 Teknik Analisis Data

       Teknik yang digunakan untuk menganalisis data adalah teknik analisis deskriptif.

Teknik ini dilakukan dengan menganalisis aspek sosial yang terdapat dalam kumpulan

naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma. Penelitian

ini menggunakan metode deskriptif analitik. Deskriptif artinya memaparkan masalah

sosial dalam masyarakat. Analitik berarti bersifat analisis.

       Jadi metode deskriptif analitik adalah metode untuk memaparkan masalah-

masalah dan faktor-faktor yang memunculkan adanya masalah sosial dalam kumpulan

naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno Gumira Ajidarma dengan

menggunakan teori Ian Watt. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa metode yang

digunakan dalam skripsi ini adalah metode deskriptif analitik.

       Hasil analisis inilah akan diperoleh deskripsi tentang masalah sosial dalam drama

tersebut melalui beberapa langkah, yaitu sebagai berikut:

1. Membaca kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami secara seksama

   upaya dapat memahami secara mendalam kandungan isi yang ada dalam drama

   tersebut.

2. Menentukan peristiwa-peristiwa yang berhubungan dengan masalah sosial.

3. Menganalisis kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak Kami karya Seno

   Gumira Ajidarma berdasarkan masalah sosial dan faktor-faktor yang ada di

   dalamnya.
4.   Menarik simpulan dari hasil analisis kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik

     Anak Kami yang dikaji menggunakan pendekatan sosiologi sastra dan metode

     deskriptif analitik.
                                        BAB IV

  MASALAH SOSIAL DAN FAKTOR PENYEBABNYA DALAM KUMPULAN

      NASKAH DRAMA MENGAPA KAU CULIK ANAK KAMI KARYA SENO

                                GUMIRA AJIDARMA.


4.1   Masalah Sosial Dalam Kumpulan Naskah Drama Mengapa Kau Culik Anak

      Kami


       Masalah yang ada dalam kumpulan naskah drama Mengapa Kau Culik Anak

Kami ada 3 yaitu kejahatan, peperangan dan pelacuran.


4.11 Kejahatan

       Masalah kejahatan terjadi akibat adanya faktor biologis dan faktor sosial. Faktor

biologis berhubungan dengan keinginan manusia untuk hidup mewah tanpa mau bekerja

sehingga berani melakukan kejahatan. Faktor sosial berhubungan dengan lingkungan

hidup seseorang. Apabila hidup di lingkungan baik maka tingkah laku seseorang akan

baik, tetapi bila hidup di lingkungan orang jahat maka seseorang selalu berbuat

kejahatan.

       Kejahatan terdapat dalam 3 drama yaitu “Tumirah Sang Mucikari, “Mengapa Kau

Culik Anak Kami” dan “ Jakarta 2039.

       Pembakaran termasuk kejahatan karena menyebabkan orang sengsara. Dalam

drama “Tumirah Sang Mucikari” ada peristiwa pembakaran rumah bordir (rumah para

pelacur) yang dilakukan oleh para ninja. Hal ini terdapat dalam kutipan sebagai berikut:
      NINJA 2 :
      Bakar semua! Bakar!
      NINJA 3 :
      Habiskan!
      NINJA 4 :
      Ganyang!
      NINJA 5 :
      Kerjain!
      (MKCAK 2001:21)

      Kutipan di atas dapat diketahui bahwa di rumah bordir (tempat para pelacur

menjual tubuhnya) terjadi kekacauan yang dilakukan oleh serombongan ninja.

Sebelumnya mereka menyusup masuk ke rumah bordir tersebut kemudian ikut

berajojing, setelah lagu berakhir tiba-tiba mereka mengacau. Ninja 1 menembakkan

mesin ke udara, sedangkan ninja-ninja yang lain ada yang mengobrak-abrik bangunan

bordir, menendang, melempar, dan membakarnya. Memang tujuan utama para ninja

adalah membuat onar di masyarakat.

      Pemerkosaan yang telah para lakukan di rumah bordir itu membuat mereka

bahagia perbincangan yang selalu mereka bahas adalah menyangkut perbuatan yang

mereka lakukan. Berikut ini kutipan percakapan para ninja mengenai peristiwa

pemerkosaan yang telah mereka lakukan :

      NINJA I :
      Yah, seperti dulu. Bukankah dari dulu tugas kita cuma itu? Kita selalu dikirim
      untuk menculik, membunuh, dan memperkosa.
      NINJA 6 :
      Yeah. Kita adalah regu pemerkosa.
      NINJA 3 :
      Masih ingat waktu kita memperkosa satu desa.
      NINJA 7 :
      Satu desa! Yeah. Kita perkosa atau desa. Kalau mereka tidak mau mengaku
      dimana suami dan pacar-pacar mereka berada, kita perkosa mereka.
      NINJA 8 :
      Perempuan yang malang. Sudah ditindas suami, diperkosa ninja pula!
       (MKCAK 2001:29)

       Kutipan di atas, para ninja sedang membicarakan tentang pemerkosaan yang telah

mereka lakukan, mereka merasa bangga bila berhasil membuat onar di beberapa desa.

Para ninja itu memperkosa perempuan yang tidak mau mengakui keberadaan suami atau

pacar perempuan tersebut. Karena, menurut ninja-ninja itu laki-laki yang mereka cari

adalah orang yang sangat berbahaya untuk mencapai tujuan mereka.

       Para ninja tidak mempunyai rasa belas kasihan kepada siapapun walaupun itu

dengan wanita. Mereka tidak pandang bulu laki-laki atau wanita, bahkan banyak wanita

yang mereka interograsi sambil menyuduti dengan rokok atau disetrum apabila sudah

lemas mereka perkosa bergiliran. Terlihat dalam kutipan berikut:

       NINJA 4 :
       Kita pernah menculik seorang perempuan, menginterograsi dia sambil
       menyudutinya dengan rokok, lantas kita setrum dia, setelah lemas kita perkosa
       bergiliran.
       NINJA I :
       Perempuan yang malang !
       NINJA 2 :
       Perempuan yang malang !
       NINJA 3 :
       Perempuan yang malang !
       NINJA 4 :
       Kita juga dikirim untuk memperkosa perempuan Cina. Kita ajak para
       pengangguran untuk ikut memperkosa.
       (MKCAK 2001:30)


       Kutipan di atas dapat diketahui bahwa di ruangan yang tersembunyi/tidak

diketahui oleh orang umum, para ninja sedang membicarakan tentang kejahatan mereka

terhadap perempuan yaitu menculik, menginterograsi sambil menyudutinya dengan
rokok dan menyetrumnya, kemudian memperkosa. Mereka juga mengajak para

pengangguran untuk memperkosa perempuan Cina.

       Kekejaman selalu dilakukan oleh para ninja, mereka merasa bangga sekali karena

rencananya berhasil. Kemudian mereka saling bersulang sambil mengangkat gelasnya

masing-masing pertanda tak ada kegagalan dalam beraksi. Berikut ini kutipan para ninja

yang sedang berbahagia:

       PARA NINJA :
       Hura ! Misi kita berhasil !
       NINJA I :
       Untuk pemerkosaan.
       NINJA 2 :
       Untuk kekejaman.
       NINJA 3 :
       Untuk kemenangan.
       (MKCAK 2001:31)

       Kutipan di atas dapat diketahui bahwa suatu kebanggaan bagi para ninja apabila

mereka telah melakukan kerusuhan dalam masyarakat. Mereka merasa rencana untuk

menghancurkan bangsa ini sudah ada tanda-tanda berhasil. Dengan keberhasilan itu,

mereka saling bersulang demi suatu kemenangan. Satu kemenangan berarti rencana

mereka untuk menguasai negara mulai ada peluang ini merupakan tanda dari

keberhasilan dari kerja mereka.

       Setelah melakukan pemerkosaan di rumah bordir, para ninja membicarakannya

kembali dengan suara keras. Mendengar pembicaraan itu ninja 1 marah karena ninja

yang lain berbicara keras-keras mengenai pemerkosaan yang mereka lakukan. Dia takut

kalau hal ini terdengar orang mereka bisa celaka, dia memberi komentar banyak kepada

para ninja. Terdapat dalam kutipan berikut:
   NINJA 1 :
   Sudah! Ninja-ninja goblok! Ninja-ninja burik! ninja-ninja pembunuh dan pemerkosa!
   Dengarlah kata-kataku, kata-kata seorang pemimpin. Jangan banyak cakap diluaran.
   Jangan banyak bacot. Biarkan para analisis politik membual dengan ngawur. Biarkan
   mereka merasa diri sok pintar. Biarkan semua orang terkecoh. Ini hanya bisa berhasil
   jika kita diam. Ninja punya kebanggaan, tapi bukan kebanggaan yang bisa dicerita-
   ceritakan. Tidak ada seorang pun yang akan tahu jasa-jasa kita, karena kita tidak akan
   mungkin mengaku bahwa kita menculik, membunuh, dan memperkosa. Kita
   hanyalah alat politik. Biarlah mereka yang menugaskan kita dengan dingin tanpa
   perasaan itu menanggung akibatnya.
   (MKCAK 2001:32)

       Ninja 1 meminta kepada ninja-ninja yang lain agar jangan banyak omong apalagi

kalau diluar tempat persembunyian mereka, biarkan semua orang terkecoh karena tidak

ada seorang pun yang tahu kalau yang melakukan ini semua (menculik, membunuh,

memperkosa) adalah para ninja yang tak berkemanusiaan.

       Sekarang ini pemerkosaan sudah merajalela, pihak yang berwajib harus

bertanggung jawab dalam kasus pemerkosaan. Hal ini terdapat dalam drama “Tumirah

Sang Mucikari”, seorang polisi sedang menginterograsi Tumirah, seorang pelacur yang

menjadi korban pemerkosaan. Berikut ini adalah kutipan percakapan antara Tumirah

dengan seorang polisi:

       TUMIRAH :
       Nah ! Baru datang polisi sekarang ! Kalau ada kerusuhan mereka pergi !
       Kerusuhan selesai, baru muncul lagi ! Apa maumu Pak Polisi ? mau ngamar atau
       interograsi.
       POLISI :
       Saya datang cuma mau minta keterangan, Mbak Tumirah.
       TUMIRAH :
       Bukannya mau mengamankan saya?
       POLISI :
       Tidak, Mbak Tumirah. Saya cuma mau tanya-tanya.
       TUMIRAH :
       Mau tanya-tanya atau menuduh?
       POLISI :
       Mbak Tumirah, pertanyaan seperti itu bisa dianggap tuduhan lho !
      TUMIRAH :
      Sama kan kaya’ polisi? Katanya bertanya padahal menuduh !
      POLISI :
      Maaf Mbak Tumirah, saya cuma menjalankan tugas.
      TUMIRAH :
      Nah, ini ilmu maling satu lagi. Ilmu menghindar dari tangggungjawab. Saya cuma
      disuruh memukul. Saya cuma disuruh menculik, lantas menginterograsinya
      sambil menempeleng. Saya cuma disuruh menteror. Akhirnya saya memang
      disuruh menembak mahasiswa dari atas gedung. Itu semua cuma tugas, jadi
      bukan tanggungjawab saya. Bagaimana?
      (MKCAK 2001:35-36)

      Tumirah, seorang germo dan anak buahnya telah diperkosa oleh para ninja.

Mendengar berita ini seorang polisi datang ke tempat persinggahan Tumirah. Dia

menginterograsi tentang kejadian pemerkosaan itu kepada Tumirah, tetapi Tumirah

marah. Dia tidak ingin peristiwa ini diungkit-ungkit lagi. Polisi mendesak terus karena

ini adalah tugasnya sebagai polisi yaitu menuntaskan masalah yang sedang dihadapi oleh

masyarakat. Tumirah bertambah marah kalau semua itu hanya sebagai tugas bukan

tangggung jawab, apabila ada orang yang disuruh menculik, menginterograsi sambil

menempeleng, dia mau saja karena ini merupakan tugas. Begitu pula apabila disuruh

menembak.

      Penduduk ikut serta mengamankan desanya dengan adanya kegiatan ronda. Tiga

peronda berusaha meringkus sosok ninja yang berguling ke sana kemari dan penduduk

ikut membantunya. Antisipasi penduduk dalam memberantas seseorang yang biasa

melakukan kerusuhan dapat terlihat dalam kutipan sebagai berikut:

   ORANG-ORANG :
   Tertangkap dia sekarang.
   ORANG-ORANG :
   Pembunuh !
   ORANG-ORANG :
   Pemerkosa !
   ORANG-ORANG :
   Tukang fitnah !
   SESEORANG :
   Ayo, kita adili sekarang !
   (MKCAK 2001:47)

        Pada waktu ronda, tiga peronda melihat sosok ninja kemudian mereka sepakat

untuk    meringkusnya     dengan   jaring,   akhirnya   tertangkap.   Banyak     orang

mengerumuninya. Mereka ada yang membawa pentungan. Kemudian jaring itu dikerek

ke atas sehingga sosok ninja bergentungan dan bergoyang-goyang. Orang-orang

membencinya, mereka ingin sekali mengadili ninja itu dengan cara menyilet wajahnya,

menyudutinya dengan rokok dan masih banyak yang lain.

        Apabila menangkap maling harus dengan jalur hukum janganlah sekali-kali main

hakim sendiri. Dalam drama ini penduduk membuat jaksa dan hakim gadungan sedang

mengadakan persidangan saat ada salah satu ninja tertangkap. Orang-orang bagaikan

pengunjung pengadilan berbaris rapi, diantara pengunjung juga ada para pelacur dengan

wajah sayu. Cara kerja para jaksa dan hakim gadungan dapat terlihat dalam kutipan

sebagai berikut:

   JAKSA :
   Saudara-saudara yang terhormat. Inilah pengadilan rakyat. Malam ini kita mengadili
   ninja dalam jaring itu. Makhluk terkutuk yang telah mengacaukan kedamaian seenak
   perutnya. Makhluk pengadu domba. Alat politik pencipta keresahan.
   HAKIM :
   Jadi dia cuma alat?
   JAKSA :
   Biar Cuma alat harus dihukum juga. Mana biangnya kagak ketahuan lagi. (ganti
   nada) Saudara-saudara yang terhormat, ingatlah baik-baik, apa saja yang telah
   dilakukan ninja sialan ini dalam sejarah negeri kita. Ia menjadi penembak misterius,
   menembaki preman-preman tanpa pengadilan. Ia menjadi teroris, menculik orang-
   orang dari rumahnya sendiri, mengajukan pertanyaan yang bukan-bukan sambil
   menyudut rokok, ujung-ujungnya memperkosa. Setiap kali bertanya ia menempeleng.
   Setiap menempeleng ia kentut.
   (MKCAK 2001:49-50).

        Jaksa dan hakim gadungan mengadili sosok ninja yang telah tertangkap. Mereka

bagaikan jaksa dan hakim asli, walaupun ada sedikit bayolan yang menghiasi

persidangan. Jaksa menyebutkan beberapa kesalahan–kesalahan ninja yang telah

diperbuat kepada warga desa antara lain sebagai penembak misterius, menjadi teroris,

menculik, dan menginterograsi orang yang diculik dengan penganiayaan dan

memperkosa.

       Segala kesalahan yang merugikan orang banyak harus diadili di pengadilan.

Penduduk membuat jaksa gadungan dan mengadili ninja yang tertangkap. Berikut ini

kutipan jaksa gadungan mengadili si terdakwa:

   JAKSA :
   Ya boleh saja kan? Ninja kan manusia juga, meski tidak punya perasaan. Masih
   banyak lagi dosa ninja-ninja sebangsa dia. Interograsi sambil menyetrum, mengiris
   telinga orang, dan menyuruh orang tidur di atas balok es. Ninja-ninja macam
   beginian yang menyuruh orang mengakui hal-hal yang tak dilakukannya secara
   paksa. Teroris ! Fasis !
   (MKCAK 2001:50)

       Setelah ninja itu tertangkap, orang-orang membentuk pengadilan rakyat. Orang-

orang merupakan warga desa itu sendiri, mereka membuat hakim, jaksa gadungan. Saat

itu jaksa gadungan mengadili ninja itu, sebelum divonis hukuman yang pantas untuk

ninja itu, jaksa menyebutkan kesalahan-kesalahan yang ninja itu lakukan.

       Keputusan hakim tidak dapat diganggu gugat. Hakim memutuskan bahwa sosok

ninja yang tertangkap itu diberi hukuman “hukum picis”. Maka dari itu, penduduk harus

menerima keputusan itu. Berikut ini kutipannnya:

   HAKIM :
   Saudara-saudara yang terhormat ! Dengan restu saudara-saudara sekalian, saya
   sebagai hakim pengadilan rakyat ini memutuskan:
   Ninja sialan pengganggu keamanan ini dihukum picis! Seret dia keluar kota. Ikat ke
   tiang. Setiap orang harus menyiletnya lantas membubuhi garam.
   (MKCAK 2001:52).

       Hakim memberi hukuman picis pada ninja itu, orang-orang antri seperti tak habis-

habisnya melakukan hukum picis. Hukum picis adalah memberi hukuman kepada yang

bersalah berupa penganiayaan yang sesuai dengan yang ninja itu lakukan selama ini

kepada orang-orang yang tidak bersalah. Ninja itu digantung kemudian setiap orang

menyilet dimana-mana sambil membubuhi garam.

       Tumirah memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi, walaupun dia sudah diperkosa

oleh segerombolan ninja tetapi tetap saja membantu ninja yang sedang dalam

kesengsaraan karena dianiaya oleh massa. Dia menyuruh anak buahnya untuk ikut serta

menolong ninja yang malang itu. Para pelacur menyanggupi permintaan Tumirah,

mereka membantu Tumirah menyeret sosok ninja ke sebuah tempat untuk dirawat. Rasa

belas kasihan yang tinggi dalam diri Tumirah dapat terlihat       pada kutipan sebagai

berikut:

   TUMIRAH :
   Kasih air. Lap yang bersih. Coba-coba buka selubung wajahnya.
   TUMIRAH :
   Dasar pelacur goblok. Karena kita manusia, tahu! Karena kita ini manusia! mau
   ditindas sampai gepeng, mau diperkosa sampai dobol, mau dirajam sampai hancur,
   hanya satu hal kita tidak boleh kehilangan, yaitu kemanusiaan kita, ngerti? Kalau kita
   mau menindas juga, kalau kita mau memperkosa dan merajam siapapun yang lewat
   di kampung kita, itu hanya menjadikan kita sama saja dengan para bajingan itu,
   ngerti nggak? meski aku ini cuma germo lulusan SMP, jelek-jelek aku ini mengerti
   menjaga hati. Kita ini perempuan, jangan pernah kita kehilangan keperempuanan
   kita. Kita punya cara sendiri untuk melawan. Jangan mau didikte untuk menjadi
   makhluk seperti mereka. Melawan kekerasan dengan kekerasan cuma cara orang
   bego. Itu bukan cara manusia, itu cara monyet! Paham? Buruan, buka dulu
   topengnya!
   (MKCAK 2001:57)

      Kutipan di atas menjelaskan tentang kerjasama antara Tumirah dan anak buahnya

menolong ninja yang teraniaya. Para pelacur membantu Tumirah menyeret sosok ninja

ke sebuah tempat untuk dirawat akibat siksaan dari warga. Mereka menyiksa sosok ninja

itu sampai ia tidak bisa berbuat apa-apa. Dalam keadaan seperti ini, Tumirah merasa

kasihan dan menyuruh berhenti menyiksa ninja. Kemudian ia menyuruh anak buahnya

untuk merawat dan membuka wajah ninja. Sebelumnya anak buah Tumirah tidak

menyetujui usul Tumirah, tetapi setelah didesak dan dinasehati oleh Tumirah, mereka

melaksanakan dengan terpaksa.

      Orang yang sudah melakukan kejahatan pasti akan terus melakukan kejahatan itu,

apalagi bila rencananya berhasil. Para ninja bergembira karena bisa membohongi

penduduk dengan cara membuat orang yang tidak bersalah berdandan seperti ninja

akhirnya ninja gadungan itu tertangkap dan diberi hukuman picis oleh hakim. Kemudian

ninja 1 menyebutkan misi yang harus dijalankan.

       NINJA:
   Jadi, saudara-saudara, sudah kita jalankan tugas pemimpin kita dengan baik. Semua
   kekacauan ini secara politis baik untuk kedududkan kita. Kita masih akan terus
   melakukan teror, menciptakan keresahan, memata-matai, menyadap pembicaraan
   telepon, menculik, memfitnah, dan mengadu domba. Semua itu penting untuk posisi
   kita. Biarkan semua orang saling bertarung, saling mencurigai, dan saling mengasak.
   Biarkan pasukan pemerintah dan pra gerilyawan bertempur terus sepanjang abad.
   Kita membutuhkan keresahn ini, kita memang menghendaki kekacauan ini, karena
   kita benci perdamaian. Masyarakat yang damai adalah masyrkat yang mengerikan.
   Kita harus tetap selamat dalam kerusuhan, di dalam masyarakat yang cerdas dan
   damai. Kita akan cuma jadi kerbau, gentong nasi, badak, paling banter jadi centeng
   pasar. Di dalam masyarakat yang rusuh kita adalah para pendekar. Kita harus selalu
   menciptakan keresahan demi keberadaan kita. Ayo saudara-saudara, mari kita
   bersulang.
   (MKCAK 2001:59)
       Kutipan di atas dapat diketahui bahwa para ninja akan terus melakukan

kekerasan, teror, menciptakan keresahan, menyadap pembicaraan telepon, menculik,

memfitnah dan mengadu domba. Mereka menginginkan semua orang saling mencurigai,

saling bertarung dan saling menggasak, mereka jug menginginkan pasukan pemerintah

dan para gerilyawan bertempur terus sepanjang abad. Para ninja memang menghendaki

kekacauan karena mereka benci kedamaian.

       Kabar tentang pemerkosaan pasti akan cepat terdengar kemana-mana apalagi

yang diperkosa seluruh pelacur yang tinggal di rumah bordir. Jadi jangan salahkan siapa-

siapa bila ada yang datang menginginkan informasi lebih lengkap. Begitu juga dengan

seorang intel datang ke rumah bordir untuk menemui Tumirah, ia berniat untuk mencari

tahu tentang kejadian pemerkosaan yang dilakukan oleh ninja-ninja pada Tumirah dan

pelacur yang lain. Percakapan antara intel dengan Tumirah dapat terlihat dalam kutipan

sebagai berikut:

   INTEL:
   Dari tadi juga sudah jelas saya ini bego! Apa masih perlu dibilang bego lagi?
   TUMIRAH:
     Bukan cuma kamu yang bego, bego! Seluruh situasi ini bego, ngerti? Aku memang
   cuma germo, tapi germo mana pun juga baca koran yang sibuk berkaok-kaok itu.
   Aku ngertilah kalian takut aku membocorkan mcam-mcam informasi. Komandan
   pasukn pemerintah maupun komandan para gerilyawan juga selalu tidur di sini.
   Kalau mau, aku bisa saling membocorkan rahsia mereka. Tapi kau tidak begitu,
   karena ku memang tidak peduli. Lalu tiba-tiba ada sepasukan ninja memperkosa
   anak-anakku. Aku tidak bisa tidak peduli, dan aku pasti melawan, tapi pasti tidak
   dengan cara kalian. Kami tidak mau menjadi sama dengan kalian, monyet-monyet
   tidak tahu diri. Kami akan melakukan apapun yang bisa kami lakukan. Karena aku
   germo, dan barangkali memang lahir sebgai germo, ya aku buka kembali rumah
   bordir ini. Titik. Cuma itu yang aku busa. Kalau kau melakukan sesuatu yang aku
   tidak mampu, itu namanya sok tahu! Menurut aku nih, kalau aku boleh punya
   pendapat, setiap orang harus kembali kepada dirinya sendiri. Tentara ya jadi tentara
   yang baiklah, jangan jadi ninja. Intel ya jadi intel sajalah jangan jdi teroris. Pelacur
   yaa jadi pelacur sajalah jangan jadi politikus! Kecuali kalau, memang dari sononya
   sudah jadi tukang adu domba, biarlah di neraka domba-domba balas mengadu kepala
   mereka sampai moncrot!
   (MKCAK 2001:75).

       Seorang intel menemui Tumirah untuk menanyakan peristiwa pemerkosaan

Tumirah dan para pelacur lain yang dilakukan oleh segerombolan ninja. Tumirah tidak

mau memberitahu keterangan apa-apa, justru ia menasehati intel itu bahwa jadi orang

jangan sok tahu harus menjadi dirinya sendiri, misal kalau jadi pelacur jadi pelacur

sajalah jadi jangan jadi politikus, kalau jadi intel jadi intel sajalah jangan jadi teroris.

       Kejahatan yang terdapat dalam drama “Mengapa Kau Culik Anak Kami” adalah

masalah pembunuhan. Orang-orang mengepung orang yang bersalah dan membunuhnya

dengan sadis. Itu yang dilihat ibu Satria waktu masih kecil. Satria adalah anak yang

diculik karena ia dapat berpikir kritis dan bersikap tegas dalam hal politik

       Kenangan masa lalu yang mengerikan merupakan kenangan yang sulit dilupakan.

Hal ini dialami oleh ibu yang mempunyai kenangan yang pahit. Berikut ini kutipan masa

lalu ibu:

   IBU :
   Sebetulnya tidak. Semuanya jelas. Siapa yang bisa melupakannya? Aku masih kecil
   waktu itu. Malam-malam semua orang berkumpul. Mereka membawa golok, clurit,
   pentungan dan entah apa lagi. Mereka mengepung rumah itu selepas tengah malam.
   Mereka berteriak-teriak, karena yang dicari naik ke atas genteng. Orang itu lari dari
   atap satu ke atap lain seperti musang. Kadang- kadang dia jatuh, merosot. Orang-
   orang mengejarnya juga seperti mengejar musang. Aku masih ingat suara gedebukan
   di atas genteng itu. orang-orang mengejar dari gang ke gang. Suaranya juga
   gedebukan. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan parang. Orang itu lari,
   terpeleset, hampir jatuh, ke bawah, merayap lagi. Sampai semua tempat terkepung.
   Orang itu terkurung.
   BAPAK :
   Sudahlah Bu! Sudah lebih dari tigapuluh tahun.
   IBU :
   Aku tidak bisa lupa. Bukan hanya karena kejadian yang dialami orang itu, tapi apa
   yang dialami keluarganya. Dia punya anak, punya istri, punya ibu. Mereka semua
   melihat dia dikejar seperti musang. Melihat dengan mata kepala sendiri orang itu
   merosot dari atas genteng ketika terpeleset dan tidak ada lagi yang bisa dipegang.
   Orang- orang di bawah menunggunya dengan parang.
   (MKCAK 2001:90).

       Ibu tidak bisa melupakan kejadian tiga puluh tahun yang lalu, saat terjadi

pembantaian. Orang-orang mengepung rumah salah satu orang yang dianggap

membahayakan penduduk. Mereka membawa golok, clurit, pentungan dan benda tajam

yang lain. Orang itu lari dari atap satu ke atap yang lain seperti musang, saat ia terperosot

dari genteng dan jatuh di bawah telah menunggu orang-orang dengan parang.

       Membuat kerusuhan hingga menghilangkan nyawa seseorang merupakan suatu

masalah kejahatan. Ibu membicarakan mengenai peristiwa seseorang yang digorok

seperti binatang saat dia masih kecil. Peristiwa itu baginya terus melekat hingga kini.

Berikut ini kutipannya:

   IBU:
   Orang-orang itu menghabisinya seperti menghabisi seekor musang. Orang itu digorok
   seperti binatang. Ibu menutupi mataku. Tapi aku tidak bisa melupakan sinar matanya
   yang ketakutan. Aku masih ingat sinar mata orang- orang yang mengayunkan
   linggisnya dengan hati riang. Kok bisa. Kok bisa terjadi semua itu. Bagaimana
   perasaan anaknya mendengar jeritan bapaknya? Bagaimana perasaan istrinya
   mendengar jeritan suaminya? Bagaiman perasaan ibunya mendengar jeritan anaknya?
   Apa bapak yakin setelah tigapuluh tahun lebih mereka bisa melupakannya? Mereka
   mungkin ingin lupa. Tapi apa bisa? Politik itu apa sih, kok pakai menyembelih orang
   segala?
   BAPAK:
   Untuk apa kamu mengingat- ingat ini semua?
   IBU:
   Itulah pertanyaan itu juga. Untuk apa? Tapi aku tidak sengaja mengingat- ingatnya.
   Aku ingat begitu saja. Kenangan itu menempel seperti lintah. Dia lewat seperti
   kenangan.
   (MKCAK 2001:91)

       Ibu bercerita kepada bapak ketika dia masih kecil, ibu melihat kejadian sadis yang

dilakukan oleh orang yang tak punya kemanusiaan. Mereka membunuh orang seperti
membunuh binatang dan ini hanya sebagian kecil dari kekejaman politik pada masa itu.

Mereka     sama   sekali    tidak   memikirkan    keluarganya,   seandainya   keluarganya

diperlakukan seperti itu.

       Manusia    yang ingin        memiliki   kekuasaan   yang tinggi   biasanya tidak

memperhatikan orang lain, dia hanya mementingkan kepentingan sendiri dan bila ada

kata-kata atau tingkah laku yang tidak berkenan dihatinya tidak segan-segan dia

menyuruh orang untuk menangkapnya kemudian dianiaya. Pikiran penguasa seperti itu

bisa dikatakan sebagai penguasa yang bego. Hal ini sesuai dengan kutipan sebagai

berikut:

    BAPAK:
   Aku cuma ingat bagaimana orang-orang menjauh ketika semua itu menimpa kita.
   Orang yang malang malah dijauhi. Ada yang bilang, “sorry aku baru menelpon
   sekarang, ini pun dari telepon umum, karena aku takut teleponku kena sadap, aku
   harap semuanya baik-baik saja. Sorry, aku takut, aku punya anak kecil soalnya.
   “Hmmm. Saudara-saudara menjauh semuanya. Takut. Seperti kita ini punya penyakit
   sampar.
   IBU:
   Habis begitu caranya menulai. Pikiran kok dianggap menyatu dengan darah.
   BAPAK:
   Cara berpikir apa itu ya?
   IBU:
   Cara berpikir orang bego!
   BAPAK:
   Bego tapi berkuasa.
   IBU:
   Begitu berkuasanya sehingga merasa berhak menguasai pikiran, dan sangat
   tersinggung kalau orang berpikir lain.
   BAPAK:
   Sangat tersinggung
   IBU:
   Sangat tersinggung. Maka mengamuklah dengan pentungan, penangkapan,
   penculikan, penganiayaan.
   (MKCK 2001:93-94).
       Para penguasa yang sudah mendapatkan kekerasan tinggi hanya mementingan

kepentingan dirinya sendiri, mereka tidak memperdulikan orang lain walaupun orang itu

sangat memerlukan bantuan, meraka tidak akan membantunya. Pikiran para penguasa

sudah menyatu dengan darah sehingga bila ada pikiran orang lain yang tidak berkenan di

hati para penguasa, orang tersebut akan ditangkap, diculik dan dianiaya.

       Peristiwa penjarahan sering terjadi dimana-mana dan tidak memandang siapa

yang akan dijarah, walaupun itu sebuah mayat mereka akan tetap menjarahnya. Bapak

mengingatkan kembali peristiwa masa lalu kepada ibu tentang penjarahan terhadap

mayat. Penjarahan ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

   BAPAK:
   Penduduk pinggir kali, kere-kere itu, menunggu mayat- mayat yang lewat. Mereka
   menggaet mayat- mayat dengan bambu yang diberi pengait diujungnya. Mereka geret
   mayat- mayat itu ketepian, lantas mereka jarah.
   IBU:
   Bapak ingat semunya itu. Padahal itu ceritaku.
   BAPAK:
   Penduduk mengambil arloji, ikat pinggang, cincin dan akhirnya menjebol gigi emas
   dari mayat- mayat itu.
   (MKCAK 2001:99)

       Dengan adanya kekerasan yang semakin merajalela di sekitar penduduk,

menjadikan manusia tidak mempunyai etika, bahkan yang lebih parah lagi rasa

kemanusiaan hilang begitu saja. Penduduk tidak mau peduli dengan siapa mereka

menjarah, mayat pun mereka mau menjarahnya. Sebelumnya mereka menunggu mayat

lewat. Bila mayat sudah kelihatan maka mereka menyeret mayat ke tepian. Tanpa basa-

basi mereka mengambil semua barang milik mayat-mayat itu. Ada arloji, ikat pinggang,

bahkan dan yang menjebol gigi dari mayat itu.
       Penculikan juga merupakan masalah kejahatan. Tidak hanya anak kecil saja yang

diculik, orang dewasa pun banyak yang diculik karena dianggap berbahaya untuk negara.

Berikut ini kutipan pembicaraan antara bapak dan ibu mengenai penculikan pejabat:

   BAPAK:
   Mereka mempunyai daftar nama dan menganalisisnya satu persatu!
   IBU:
   Lantas memutuskan untuk menculiknya?

   BAPAK:
    Lantas memutuskan untuk menculiknya!
   (MKCAK 2001:105)

       Sifat orang jahat adalah mampu berbuat apa saja asalkan tujuannya tercapai.

Begitu juga dalam drama ini , para penculik mempunyai tijuan untuk menguasai negara,

apabila ada yang menghalangi niatnya itu tidak segan-segan mereka membunuhnya

tetapi dengan cara disiksa terlebih dahulu. Sebelumnya mereka mempunyai daftar nama-

nama orang yang berbahaya untuk negara. Mereka berencana untuk menculiknya, tetapi

terlebih dahulu mereka menganalisis apakah dia berbahaya untuk negara atau tidak.

       Perencanaan menculik diperhatikan dengan seksama kemudian baru dilaksanakan

dengan hati-hati agar rencananya berhasil. Bapak dan ibu sedang membicarakan rencana

penculikan yang dilakukan oleh orang-orang yang ingin menguasai negara dengan

menculik orang yang bagi mereka berbahaya (menjadi penghalang akan tujuan mereka

yaitu ingin menguasai negara). Hal ini terlihat pada kutipan sebagai berikut:

    BAPAK:
   (bercerita dengan gerak)
   Mereka merencanakan penculikan. Menentukan saat untuk mengambil. Mereka
   mengincar. Saat mana tidak ada orang. Supaya tidak ada saksi.
   IBU:
   Heran! Darimana datangnya gagasan itu?
   BAPAK:
   Mereka mendorongnya masuk mobil. Dibawa berputar-putar dengan mata tertutup.
   (MKCAK 2001:113).

       Penculik professional mampu mengatur cara penculikan secara sistematis.

Terlebih dahulu mereka merencanakan penculikan itu di waktu yang tepat, saat tidak ada

orang agar tidak ada saksi yang melihatnya. Kemudian dia dimasukkan mobil dan

dibawa berputar-putar dengan mata tertutup. Itu adalah salah satu cara menculik.

       Bagaimana perasaan sang ibu apabila anaknya tak kunjung pulang karena dia

diculik. Pedih, sedih bercampur jadi satu, tetapi ibu tidak dapat berbuat apa-apa. Seperti

yang dialami oleh ibunya Satria, sudah lama Satria diculik dan sampai saat ini belum

terdengar kabarnya. Setiap hari ibu memikirkan anaknya. Hal ini terlihat pada kutipan

sebagai berikut:

   IBU :
   Untuk apa Satria dibunuh, untuk apa? Dia tidak melakukan kejahatan apa-apa. Dia
   tidak bisa memimpin pemberontakan. Anak sekurus itu.
   BAPAK :
   Kurus dan sakit-sakitan. Tapi pikirannya tajam.
   IBU :
   Kenapa ada orang yang begitu takut kepada pikiran, sampai-sampai harus menculik
   dan membunuh pemilik pikiran itu.
   (MKCAK 2001:120)

       Satria anak satu-satunya telah diculik karena ia anak yang panda dan suka

memberontak. Bagi penculik dia sangat berbahaya karena dengan adanya penerus bangsa

seperti itu akan menjadi penghalang dalam tujuan mereka yaitu ingin menguasai negara.

Sudah lama dia tidak terdengar kabarnya padahal teman-temannya yang juga diculik

sudah dikembalikan tetapi Satria belum dikembalikan juga.

       Penculik tidak segan-segan berbuat kasar pada orang yang diculiknya. Selama

korban tidak mengatakan hal yang sebenarnya penculik masih terus menganiya korban.
Bapak menjelaskan pada ibu tentang penganiayaan yang dilakukan oleh para penculik

terhadap anaknya, Satria. Berikut ini kutipan pembicaraan antara bapak dengan ibu:

   BAPAK:
   Mereka bertanya sambil mengemplang. Bertanya sambil menyetrum. Mereka
   menginginkan jawaban seperti yang mereka kehendaki. Interograsi kok seperti itu.
   Maksa! Dan si Satria itu orangnya ngeyelan. Mana mau dia ngaku meski disakiti.
   IBU:
   Sebaiknya dia ngaku supaya dilepas
   BAPAK:
   Apa yang akan diakuinya? Dia tidak bisa mengakui hal-hal yang tidak pernah
   dilakukannya selanjutnya. Kita kan tahu Satria ini ngeyelan. Jangan-jangan dia
   nantang minta disetrum lagi!
   (MKCAK 2001:122).

       Interograsi yang dilakukan para penculik sangat sadis. Mereka bertanya sambil

mengemplang dan menyetrum, apabila jawaban tidak sesuai dengan yang dikehendaki

mereka mengulangi perbuatan mereka, yaitu mengemplang dan menyetrum. Perasaan

orang tua Satria sangat sedih bila teringat anaknya, apalagi Satria orangnya ngeyelan

pasti dia disiksa terus menerus. Pedih hati orangtua Satria membayangkan hal tersebut:

   IBU:
   Jadi mereka dengan sadar melakukan pemaksaan. Menculik. Menanyai sambil
   menempeleng dan menyetrum. Atau menyuruhnya tidur di atas balok es. Orang-
   orang yang dilepaskan bercerita seperti itu kan?
   BAPAK:
   Aku juga tidak habis pikir. Mereka sengaja beli balok es. Beli! Beli di mana mereka
   ya?
   IBU:
   Beli? Mungkin bikin sendiri!
   BAPAK:
   Bikin? Hahahahaha! Orang-orang yang tidak jegos! Pasti beli! “Saya mau beli balok
   es yang cukup untuk tidur orang dewasa,” katanya.
   IBU:
   Kukira tidak beli. Minta.
   (MKCAK 2001:125)
       Setelah menculik orang-orang yang dianggap berbahaya untuk negara, penculik

menanyai sambil menempeleng dan menyetrum, kadang menyuruh tidur di atas balok es.

Cara mendapatkan balok es itu belum tentu membeli mungkin minta dengan memaksa.

       Tanpa disadari politik menyengsarakan rakyat. Banyak rakyat menderita gara-

gara politik dikarenakannya pejabat KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme)

mengakibatkan adanya krisis moneter, sehingga harga barang-barang menjadi naik dan

rakyat membayar pajak negara bertambah banyak karena untuk membayar hutang

kepada negara lain.

   IBU :
   Politik itu sejarahnya tidak ada yang beres. Orang-orang diciduk, orang-oramg
   disembelih, orang-orang dipenjara dan dibuang tanpa pengadilan. Aku masih ingat
   semua kisah sedih yang tidak bisa diucapkan itu. Keluarga yang kehilangan
   bapaknya, anak yang kehilangan ibunya, istri yang kehilangan suaminya. Mereka
   tidak mengucapkan apa-apa. Tidak bisa mengucapkan apa-apa. Tertindas. Keplenat.
   Tidak pernah ngomong karena takut salah. Padahal tentu saja tidak ada yang lebih
   terluka, tersayat, dan teriris selain kehilangan orang-orang tercinta dalam
   pembantaian. Orang-orang diperkosa demi politik, orang-orang dibakar, harta
   bendanya dijarah, bagaiman orang bisa hidup dengan tenang? Hanya politik yang
   bisa membuat orang membunuh atas nama agama. Mana ada agama membenarkan
   pembunuhan. Apakah ini tidak terlalu berbahaya? Politik hanya peduli dengan
   kekuasaan. Politik tidak pernah peduli dengan manusia. Apalagi hati manusia. Apa
   kamu bisa membayangkan Pak, luka di setiap keluarga itu?
   (MKCK 2001:132-133)

       Politik tidak ada yang benar, hanya bisa membuat manusia menderita. Orang-

orang diciduk, disembelih, dipenjara dan dibuang tanpa pengadilan. Banyak keluarga

yang kehilangan bapaknya, anak yang kehilangan ibunya, istri yang kehilangan

suaminya. Demi politik orang diperkosa, penjarahan dan banyak orang yang dibakar.

Yang jelas politik hanya mementingkan kekuasaan semata.
       Dalam drama “Jakarta 2039” masalah yang sering terjadi juga masalah kejahatan.

Penjarahan, pemerkosaan selalu ada dalam drama ini. Peristiwa yang sulit untuk

dilupakan dan selalu meninggalakan bekas itu terjadi pada tanggal 13-14 Mei 1998,

hingga memendam rasa itu sampai tanggal 14 Februari 2039.

       Dalam drama ini menjelaskan tentang orang tua menasehati anaknya agar dia

tidak mendapat sesuatu yang tidak diinginkan. Berikut ini kutipan seorang ibu

menasehati anaknya agar dia tidak pulang ke rumah:

   MAMA:
   Jangan pulang, Clara. Kompleks perumahan sudah dikepung, rumah-rumah tetangga
   sudah dijarah dan dibakar, Papa, Mama, Monica, dan Sinta, terjebak di dalam rumah
   dan tidak bisa kemana-mana. Jangan pulang, selamtkan diri kamu, pergilah langsung
   ke Cengkareng, terbang ke Singapore atau Hongkong, pokoknya ada tiket. Kamu
   selalu bawa paspor kan? Tinggalkan mobilnya di tempat parkir. Kalau terpaksa ke
   Sydney tidak apa-apa. Pokoknya selamat. Di sana kan ada Oom dan Tante.
   (MKCAK 2001:144)

       Kutipan di atas dapat dilihat bahwa Clara adalah gadis berketurunan Tionghoa

tetapi sudah berkewarganegaraan Indonesia. Suatu hari saat dia pulang dari kerja di jalan

dia di telepon ibunya untuk tidak pulang ke rumah, lebih baik pergi ke rumah tantenya di

Sydney karena sedang ada pembakaran dan penjarahan rumah-rumah milik Tionghoa.

       Sebagai anak seharusnya menuruti perintah orang tuanya agar tidak menyesal

kemudian. Setiap perkataan orang tua biasanya ada benarnya. Hal ini dibuktikan pada

kutipan sebagai berikut:

   CLARA:
   Saya masih ngotot. Jadi saya putuskan sayalah yang harus mengusahkan supaya
   profit perusahaan patungan kami di Hongkong, Beijing, dan Makao diperbesar.
   Tetesannya lumayan untuk menghidupi para buruh, meskipun produksi kami sudah
   berhenti. Itu sebabnya saya sering mondar-mandir ke luar negeri dan selalu ada
   paspor di tas saya.
   Tapi kenapa saya harus lari sekarang, sementara keluarga saya terjebak seperti tikus
   di rumahnya sendiri? Saya melaju lewat jalan tol supaya cepat sampai di rumah. Saya
   memang mendengar banyak kerusushan belakangan ini. Demonstrasi mahasiswa
   dibilang huru-hara. Terus terang saya tidak tahu persis apa yang terjadi. Saya terlalu
   tenggelam dalam urusan bisnis. Koran cuma saya baca judul-judulnya. Itu pun
   maknanya belum pernah jelas. Namun setidaknya saya yakin pasti bukan mahasiswa
   yang membakar dan menjarh kompleks perumhan, pertokoan, dan mobil-mobil uang
   lewat. Bahkan bukan mahasiswa pun sebenarnya tidak ada urusan membakar-bakari
   orang kalau tidak ada yang sengaja membakar-bakar.
   Saya tancap gas. BMW melaju seperti terbang. Di kiri dan kanan jalan terlihat api
   menerangi malam. Jalan tol itu sepi, BMW terbang sampai 120 kilometer per jam.
   Hanya dalam sepuluh menit saya akan segera tiba di rumah. Tapi di ujung itu saya
   lihat segerombolan orang. Sukar sekali menghentikan mobil. Apakah saya harus
   menabraknya? Pejalan kaki tidak dibenarkan berdiri di tengah jalan tol, tapi saya
   tidak ingin menabraknya. Saya menginjak rem, tidak langsung, karena mobil akan
   berguling-guling. Sedikit-sedikit saya mengerem, dan toh roda mobil itu
   berbunyi....... (MKCAK 2001:145-146)

        Clara menancapkan gas mobilnya dengan cepat setelah mendapat telepon dari

mamanya bahwa keluarganya terjebak di rumahnya. Dia tidak memperdulikan banyak

massa yang menjarah, membakar rumah tetangga dan mengepung rumahnya, di

benaknya hanya ingin menyelamatkan keluarganya. Kerusuhan belakangan ini memang

sering terjadi, tetapi dia tidak begitu memperdulikannya. Pelaku semua itu bukan

mahasiswa, hanya mahasiswa kadang ikut terlibat karena mereka berada di tempat yang

terjadi kerusuhan. Dia berhenti di jalan tol karena banyak orang yang bergerombol di

sana.

        Kejahatan bisa terjadi kapan dan dimana saja, kita tak tahu akan mendapat

musibah itu. Kadang-kadang kita di jalan dicegat perampok dan disuruh mengeluarkan

isi dalam tas, semuanya kita tahu hal itu akan menimpa kita. Seperti halnya yang dialami

oleh Clara. Dalam perjalanan pulang ke rumah dia dicegat oleh segerombolan orang

yang tak bertanggung jawab. Perampokan ini dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:
   CLARA :
   Saya mendengar suara kap mobil digebuk. Seseorang menarik saya dengan kasar
   lewat jendela. Saya dilempar seperti karung dan terhempas di jalan tol.
   SUARA 2:
   Sialan! Mata lu sipit begitu ngaku-ngaku orang Indonesia!
   CLARA:
   Pipi saya menempel di permukaan bergurat jalan tol. Saya melihat kaki-kaki lusuh
   dan berdaki yang mengenakan sandal jepit, sebagian tidak beralas kaki, hanya satu
   yang memakai sepatu. Kaki-kaki mereka berdaki dan penuh dengan lumpur yang
   sudah mengering.
   SUARA 3 :
   Berdiri !
   CLARA :
   Saya berdiri. Saya melihat seseorang melihat ke dalam dashboard, lantas mengambil
   tas saya. Isinya ditumpahkan ke jalan. Berjatuhanlah dompet, bedak, cermin, sikat
   alis, sikat bulu mata, lipstik, Hp. Dompetnya segera diambil, uangnya langsung
   dibagi-bagi setengah rebutan. Sejuta rupiah uang tunai amblas dalam sekejap.
   Di dalam dompet ada foto pacar saya. Orang yang mengambil dompet tadi
   mengeluarkan foto itu lantas mendekati saya.
   (MKCAK 2001:148)

       Clara adalah orang Cina yang sudah berkewarganegaraan WNI, ada warga yang

tidak suka dengan Cina akhirnya Clara dicegat mobilnya dan dijarah seisi dompetnya

sejuta rupiah amblas dalam sekejap.

       Orang biadab tidak punya rasa belas kasihan. Dia tega melakukan apa saja

asalkan mendapat keuntungan yang besar, walau itu dengan wanita sekalipun. Justru

karena wanita mereka dengan penuh semangat memperkosanya. Hal ini terlihat dalam

kutipan sebagai berikut:

   CLARA:
   Saya ditempeleng sampai jatuh. Seseorang yang lain ikut melongok foto itu.
   SUARA 5:
   Huh! Pacarnya orang Jawa!
   CLARA:
   Saya teringat pacar saya. Saya tidak pernah peduli dia Jawa atau Tionghoa, saya
   cuma tahu cinta.
   SUARA:
   Periksa! Masih perawan atau tidak dia!
   CLARA :
   Tangan saya secara refleks bergerak memegang rok span saya, tapi tangan saya tidak
   bisa bergerak. Ternyata masih ada dua orang yang masing-masing memegangi tangan
   kanan dan tangan kiri saya. Terasa rok saya ditarik. Saya menyepak-nyepak. Lagi-
   lagi dua pasang tangan menangkap kedua kaki saya.
   Aaaaaah! Tolongngng! Saya menjerit. Mulut saya dibungkam telapak kaki berdaki.
   Wajah orang yang menginjak saya itu tampak dingin sekali. Berpuluh-puluh tangan
   menggerayangi dan meremas-remas tubuh saya.
   (MKCAK 2001:149-150)

      Clara menceritakan kejadian saat dia diperkosa. Dia berusaha memegang roknya

tetapi tangannya tidak dapat bergerak, ternyata masih ada dua orang yang memegangi

tangan kanan dan tangan kirinya. Kemudian roknya ditarik, dia menyepak-nyepak,

mulutnya dibungkam. Berpuluh-puluh tangan menggerayangi dan meremas-remas

tubuhnya.

      Seseorang    yang    sudah   dipercaya    sepenuhnya     biasanya   mengkhianati

kepercayaannya, semua itu hanya karena nafsu yang tidak dapat dicegah dalam diri

orang tersebut. Berikut ini kutipan orang biadab yang sudah terlanjur dipercaya oleh

seorang wanita:

   TUKANG CERITA:
   Perempuan yang tertindas. Pemerkosa jahanam. Dalam dua hari itu Jakarta menjadi
   neraka. Perempuan yang telah diperkosa kembali di antar puing-puing bangunan
   yang terbakar. O, maafkan saya Penonton yang terhormat, maafkan saya dengan
   cerita yang pahit ini. Maafkan. Saya tidak mempunyai bahan cerita yang lain hari ini.
   Tapi itulah yang terjadi di kota Tuan-tuan dan Puan-puan pada bulan Mei 1998,
   seperti saya saksikan dari langit, dalam pengembaraan saya dari ruang dan waktu
   yang satu, ke ruang dan waktu yang lain…….
   (MKCAK 2001:158)

      Sungguh kejamnya orang yang mengkhianati kepercayaan. Orang yang diajak

berkeluh kesah bertujuan agar dia mampu membantunya sengaja menambah beban

penderitaan yang ditimpa oleh Clara. Tukang cerita itu menanyakan kejadian yang
sedetailnya tentang pemerkosaan yang dialami oleh Clara kemudian tukang cerita

mencatatnya untuk dibuat laporan. Selesai bercerita, dia tertidur. Clara bergerak kainnya

agak merosot memperlihatkan bagian atas tubuhnya. Lelaki itu memperhatikan tampak

dia terangsang, tak lama kemudian lelaki memperkosanya. Clara kembali menangis

dalam kesedihan dan penderitaannya.

       Penjarahan, kebakaran, pemerkosaan ada dimana-mana. Susana menjadi panas,

tak ada keadilan dan kedamaian hati. Keadaan itu terjadi saat peristiwa kerusuhan di

Jakarta 13-14 Mei 1998. Berikut ini penuturan Clara yang diceritakan kembali oleh

tukang cerita:

   TUKANG CERITA:
   Berbagai gerombolan bergerak membakari took-toko. Mereka membawa jerigen
   berisi bensin, menuangnya ke tumpukan barang-barang yang mudah terbakar, dan
   menyulutnya.
   Kebakaran serentak terjadi dimana-mana. Terjadi kepanikan. Sejumlah orang
   memberi komando di sana sini. Kekacauan dengan segera menyebar. Seorang
   perempuan diseret-seret diantara kobaran api yang menyala-nyala. Semua toko di
   deretan itu telah dijarah dan dibakar. Api berkobar dan asap kelabu menutupi
   bintang-bintang. Suara perempuan terdengar menjerit-jerit di balik tembok.
   Diantara puing yang masih mengepulkan asap, segerombolan orang mengerumuni
   dua perempuan seperti anjing-anjing buduk mengerumuni bangkai. Dua perempuan
   itu menjadi rebutan, diseret ke sana kemari seperti barang mati.
   Pakaian yang melekat di badan mereka tinggal serpih-serpih kain yang tidak jelas lagi
   bentuknya. Kulit mereka yang putih, penuh dengan bekas luka. Wajah kedua
   perempuan itu pucat dan sangat ketakutan.
   (MKCAK 2001:171)

         Dalam kerusuhan tanggal 13-14 Mei 1998 banyak terjadi kebakaran, penjarahan

dan pemerkosaan. Semua toko dijarah kemudian dibakar. Diantara puing-puing yang

masih mengepulkan asap banyak wanita diperkosa beramai-ramai.



4.1.2 Penindasan
      Penindasan merupakan suatu perbuatan atau cara memperlakukan seseorang

dengan sewenang-wenang.

      Penindasan berkaitan dengan faktor psikologis. Faktor ini menyangkut tentang

jiwa seseorang sehingga bila kejiwaannya terganggu seseorang akan hilang rasa

kemanusiaannya dan tidak segan-segan untuk melakukan kekerasan.

      Penindasan hanya terjadi dalam drama “Tumirah Sang Mucikari” menyangkut

tentang perebutan kekuasaan antara kelompok pemerintah dengan kelompok gerilyawan.

      Seperti biasa di hutan dekat rumah bordir milik Tumirah terdengar suara

tembakan. Keadaan ini menjadi topik pembicaraan para pelacur yang tinggal di sekitar

rumah bordir, khususnya di rumah bordir. Pada sore hari Tumirah dan Minah sedang

berbincang-bincang tentang keadaan negara ini yang kerap kali terjadi peperangan

hingga tak ada henti-hentinya. Hal ini terdapat dalam kutipan percakapan antara Tumirah

dengan Minah:

   TUMIRAH :
   Kemarin mereka bertempur di bukit-bukit sebelah barat, kan?
   MINAH :
   Kemarin itu gerilyawan yang terpancing Mbak, mereka tidak bisa kembali ke hutan
   dan dibantai habis disitu.
   TUMIRAH :
   Heran. Seneng sekali sih saling tembak begitu ? Mending kalau masih anak-anak. Ini
   sudah besar-besar. Komandannya malah sudah beruban. Yang pasukan pemerintah,
   yang gerilyawan, sama saja, menganggap perang adalah sesuatu yang benar, hebat,
   wajib, tugas ksatria taik kucinglah. Bertempur terus hampir setiap hari. Katanya
   zaman semakin maju, kok manusia tidak tambah pinter, masih terus saling
   membunuh seperti orang primitif. Heran. Kodok saja tidak begitu
   (MKCAK 2001:12).

      Tumirah dan Minah sedang membicarakan tentang perang yang tak kunjung reda.

Dengan adanya peperangan manusia menjadi semakin bodoh. Pasukan pemerintah dan
gerilyawan tidak memikirkan nasib rakyatnya akibat perang, bagi mereka perang adalah

sesuatu yang wajib, hebat, dan tugas ksatria.

       Penindasan dalam peperangan selalu ada, kehidupan yang damai, tenteram sulit

didapat saat terjadi perang. Di dalam pikiran mereka hanyalah meraih kemenangan

dalam perang dan mendapatkan kekuasaan. Tumirah bingung melihat semua itu, dia

berfikir apakah mereka tidak mempunyai perasaan cinta. Hal ini dijelaskan dalam

kutipan berikut:

   TUMIRAH :
   Sudah bertahun-tahun aku hidup di medan perang ini, dan aku tahu kalau orang-
   orang yang saling bertempur itu sebenarnya juga punya cinta. Aku tidak bisa
   mengerti, bagaimana caranya akal manusia menerima bahwa pembunuhan itu boleh.
   Ini perang, kata mereka kalau kutanya. Ini perang, aku tahu. Barangkali aku bodoh,
   maklumlah aku cuma lulusan SMP. Tapi apakah pertanyaanku ini masih bodoh? Apa
   betul manusia itu begitu pintarnya sehingga bisa membenarkan pembunuhan atas
   nama kehormatan? Apa iya sih perang itu betul-betul soal kehormatan? Yeah. Perang
   saja terus sampai mampus.
   (MKCAK 2001: 20)

       Kutipan di atas menggambarkan sosok Tumirah yang sedang melamun

memikirkan negara ini yang selalu perang. Dia tidak bisa mengerti dengan akal manusia

yang menerima pembunuhan itu diperbolehkan, mungkin dia merasa bodoh karena cuma

lulusan SMP. Tetapi dia berfikir apakah orang pintar membenarkan pembunuhan bahkan

itu suatu kehormatan. Lalu dia tidak peduli akan hal itu dan merasa yakin bahwa orang-

orang yang saling bertempur itu sebenarnya juga punya cinta.

       Setiap hari selalu terdengar suara tembakan di hutan. Orang sekitar sudah terbiasa

mendengar suara itu jadi tidak asing lagi bagi mereka. Para pelacur lebih mengutamakan

urusannya sendiri, ada yang mejeng, merokok, menyisir rambut dan saling mencari kutu
sambil membicarakan tentang peperangan yang menyebabkan banyak koraban jiwa. Hal

ini terlihat pada kutipan berikut:

   TUMIRAH :
   Coba dengar. Mereka mulai lagi. Berapapun pasukan pemerintah didatangkan, para
   gerilyawan tidak mati-mati. Setelah bertempur 20 tahun lebih, anak-anak mulai
   menggantikan bapaknya. Anak-anak yang lahir dari hasil perkawinan di dalam hutan.
   Anak-anak yang merangkak diantara mayat-mayat saat terjadi pemboman bertubi-
   tubi. Anak-anak yang menonton rudal sebagai kembang api. Bagaimana
   mengalahkan generasi seperti itu? Mereka mengira kehidupan adalah peperangan.
   Sejak pendaratan kapal-kapal 20 tahun yang lalu, kehidupan sudah berubah di sini.
   Hidup hanyalah teror, teror, dan teror tapi bagaimana sih caranya mengalahkan suatu
   bangsa? Bala tentara bisa disiasati, tapi bagaimana dengan bangsa? Apakah kita harus
   menembak bayi-bayi dalam perut ibunya? Eh, yang beginian pun dilakukan juga.
   Kandungan disobek bayonet dan bayinya diambil. Heran. Kok bisa-bisanya lahir
   manusia sekejam itu. Tapi kita tidak boleh menyerah. Betapapun kita harus terus
   hidup. Betapapun……Betapapun……….
   (MKCAK 2001:62)

       Kutipan di atas diketahui bahwa pertempuran berlangsung di kejauhan, suara

tembakan terdengar bertubi-tubi. Pasukan pemerintah dan para gerilyawan tidak bosan-

bosannya berperang, padahal pertempuran sudah berlangsung 20 tahun lebih. Anak-anak

merangkak diantara mayat-mayat, mereka menonton rudal sebagai kembang api.

Tumirah bicara dalam hati bagaiman dengan penerus bangsa apabila dari kecil sudah

terbiasa melihat, mendengar keadaan seperti ini. Kekejaman demi kekejaman semakin

merajalela, kandungan disobek dan bayinya diambil. Sungguh kejam dunia ini. Tumirah

heran mengapa manusia seperti itu lahir di dunia.



4.1.3 Pelacuran

       Masalah lain dalam kumpulan naskah drama ini adalah pelacuran. Pelacuran

berkaitan dengan faktor biologis, faktor sosial dan faktor psikologis. Faktor biologis

berhubungan dengan keinginan untuk mendapatkan kekayaan yang berlimpah sehingga
seorang wanita melakukan sesuatu demi tercapai keinginannya. Faktor sosial

berhubungan dengan nafsu seks yang tinggi, dan faktor psikologis berhubungan dengan

kejiwaan seseorang, misalnya depresi karena diperkosa.

       Masalah ini hanya terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”. Pelacuran

janganlah dijadikan sebagai profesi karena ini menyangkut kesehatan. Apabila seseorang

sering melakukan hubungan seks dengan berganti-ganti orang banyak penyakit yeng

menyerang orang tersebut, misalnya AIDS, sipilis dan masih banyak penyakit yang lain.

       Dalam drama ini, Tumirah menghidupi kebutuhan hidupnya dengan menjual

tubuhnya, sudah lama dia bekerja sebagai pelacur. Berhubung sudah tua, dia tidak begitu

banyak melayani laki-laki dalam sehari sehingga dia memilih jadi germo saja agar tidak

sering memuaskan nafsu laki-laki. Terlihat dari kutipan sebagai berikut:

   TUMIRAH :
   Yeah, Tumirah namaku. Germo pekerjaanku. Muncikari kata Kamus Besar Bahasa
   Indonesia. Sudah tua aku sebenarnya. Empat puluh tahun. Cukup layak untuk
   pensiun. Dan aku memang sudah pensiun sejak beberapa tahun lalu. Badanku tidak
   kuat lagi rasanya. Melayani laki-laki bernafsu sampai empat atau enam kali sehari.
   Dulu malah sampai delapan sepuluh kali. Sekarang tidak kuat lagi aku. Boyokku
   pegel linu. Untung tahu sedikit-sedikit tentang pergermoan. Tidak ada yang bisa
   kukerjakan. Sekarang selain jadi germo. Kuajari anak-anakku cara memikat dan
   mengikat laki-laki. Sehingga meskipun sudah punya pacar dan anak istri, siapapun
   selalu kembali kemari untuk menghidupi kami. Yeah. Dunia selalu membutuhkan
   pelacur. Profesi yang tertua, kata orang. Aku bukan ahli sejarah, tapi aku setuju,
   selama manusia lahir masih dengan alat kelamin, pelacuran akan tetap ada.
   (MKCAK 2001:16)

      Tumirah adalah seorang germo di salah satu lokalisasi di Jakarta. Ia sudah

berumur 40 tahun, tubuhnya sudah tidak kuat lagi melayani laki-laki sehingga pensiun

menjadi pelacur. Kini ia menjadi germo dan mengajari anak-anak cara memikat dan

mengikat laki-laki. Buktinya rumah bordir tempat mereka singgah, selalu ramai dengan
pengunjung. Tumirah yakin bahwa selama manusia lahir dengan alat kelamin, pelacur

akan tetap ada.

       Manusia hidup di dunia ini pasti memiliki cinta. Dalam kesendiriannya Tumirah

duduk merenungi nasibnya saat ini, dia berpikir apakah manusia sekarang sudah tidak

memiliki cinta lagi. Apakah mereka yang selalu berbuat onar tidak memiliki keluarga

hingga mereka tega menyakiti orang bahkan bersama keluarganya. Kebingungan ini

terlihat pada kutipan sebagai berikut:

   TUMIRAH :
   Apa mungkin? Apa mungkin manusia tidak mengenal cinta? Ini yang selalu membuat
   aku tidak mengerti. Seorang penjahat pun punya ibu, dan apakah mungkin seorang
   manusia itu tidak mencintai ibunya sendiri? Aku dulu seorang pelacur. Sekarang
   kadang-kadang juga masih melacur kalau masih ada yang mau pake’, tapi aku juga
   seorang perempuan. Aku tidak bisa membayangkan seorang perempuan tanpa cinta.
   Aku dulu pernah punya keluarga, punya suami, dua kali malah, punya anak-aku tahu
   apa itu cinta, kangen, rindu, aku tahu.
   (MKCAK 2001: 19).

       Kutipan di atas menjelaskan bahwa setiap orang mengenal cinta. Entah itu cinta

dengan keluarga, dengan lawan jenis, atau cinta dengan yang lainnya. Pelacur seorang

perempuan, mereka juga memiliki cinta. Begitu juga penjahat, dia pasti memiliki cinta

dengan keluarganya. Perasaan cinta juga dirasakan oleh Tumirah, dulu dia pernah punya

keluarga, punya suami, punya anak.

       Pelacuran bisa disebabkan karena perempuan itu diperkosa, mereka yang telah

menjadi korban pemerkosaan sudah bingung harus berbuat apa, mau minta tanggung

jawab harus dengan siapa mau menyesal itu bukan keslhannya tapi karena kebejatan laki-

laki yang bernafsu tinggi akhirnya mereka melacur diri agar dia bisa melupakan
kenangan masa lalu. Dalam kutipan di bawah ini akan Tumirah menjelaskan tentang

pelacuran:

   TUMIRAH :
   Apakah yang bisa lebih kejam bagi seorang perempuan selain derita perkosaan?
   Biarpun mereka pelacur, mereka punya hati. Mereka menjual tubuh, tapi tidak
   menjual cinta. Bahkan seorang pelacur pun tidak berhak diperkosa ! Ada yang
   diperkosa, ada yang dirajam, ada yang dipenggal kepalanya. Hidup macam apa ini?
   (MKCAK 2001: 54).

       Para pelacur dan Tumirah baru diperkosa oleh para ninja. Mereka sangat

menderita akibat perkosaan itu, walau sebagai pelacur dan menjual tubuh kepada laki-

laki tetapi itu semua dengan perasaan dan tidak dengan paksaan. Beda sekali dengan

perkosaan, ninja ingin menikmati tubuh para pelacur itu dengan cara memaksa. Hal

inilah yang membuat harga diri para pelacur itu terinjak-injak.

       Menolong seseorang jangan memandang apakah dia baik padaku atau tidak. Kita

harus selalu ikhlas menolong oranglain. Tumirah menolong orang yang telah

memperkosa dia dan anak buahnya, tetapi dia tidak mempunyai rasa dendam. Di saat dia

membutuhkan bantuan orang lain tak sungkan-sungkan Tumirah menolongnya. Hal ini

terlihat dari kutipan sebagai berikut:

   TUMIRAH :
   Pikir sendiri ! Tidak ada gunanya kukasih tahu juga.
   LASTRI :
   Mbak Tumirah, kami ini cuma para pelacur. Cuma lulusan SD. Mana kami tahu
   jawabnya kenapa. Kami hanya tahu, hutang darah harus dibayar dengan darah.
   TUMIRAH :
   Apa kamu membalas dengan cara memperkosa ninja-ninja itu? Enak bener mereka!
   TUMINI :
   Aduh, Mbak Tumirah, saya bingung, saya tidak bisa berfikir!
   TUMIRAH :
   Tugas pelacur memang bukan berfikir. Tapi para pemikir kerjanya Cuma melacur.
   Mereka cuma sibuk melacurkan pikiran-pikirannya. Bantu aku dulu, nanti aku kasih
   tahu.
   (MKCAK 2001:56)

      Tumirah berusaha menolong sosok ninja tapi para pelacur bingung, sebelum

menolongnya mereka bersikeras ingin mengetahui mengapa harus membantu sosok ninja

itu. Tumirah menyuruh mereka untuk memikir jawabannya sendiri tapi mereka menjadi

semakin bingung. Akhirnya mereka tidak memperdulikan hal itu, karena tugas pelacur

bukan berfikir tetapi tugasnya melacurkan tubuhnya.

      Perasaan cinta kadang datang dengan tiba-tiba, cinta juga tidak memandang umur,

kaya atau miskin, cantik atau jelek asalkan ada perasan cinta semuanya sulit untuk

dicegah. Begitu pula dengan kisah cinta antara Lastri dan Mahmud, walaupun Lastri

seorang pelacur Mahmud tetap cinta dengan Lastri malah mereka berencana untuk

menikah. Lastri memastikan Mahmud, pacarnya, apakah dia benar-benar cinta dengan

Lastri atau hanya untuk menghilangkan rasa kesepian saja. Berikut ini kutipan

percakapan mereka:

   LASTRI :
   Mahmud, apa kamu bisa mencintai seorang pelacur.
   MAHMUD :
   Aku tak tahu apa yamg kamu maksudkan dengan pelacur itu Lastri. Aku hanya tahu
   kalau aku mencintai kamu.
   LASTRI :
   Meskipun aku tidur dengan banyak laki-laki.
   MAHMUD:
   Yah, aku cemburu juga sih. Tapi bukannya cemburu itu juga perlu?
   LASTRI :
   Kamu tidak keberatan aku jadi seorang pelacur?
   MAHMUD :
   Kamu adalah seorang pelacur, dan aku mencintai kamu. Apalagi yang harus
   kukatakan?
   LASTRI :
   Kamu ngomong begitu bukan karena kesepian kan?
   MAHMUD :
   Yah, orang yang bertempur setiap hari seperti aku pun mengenal cinta Lastri. Jangan
   menyama ratakan semua orang. Kamu ingin bukti apa lagi dariku Lastri, terakhir kali
   bertemu, aku bahkan sudah melamarmu jadi istriku. Kawinlah denganku Lastri.
   (MKCAK 2001:64-65)

       Kutipan di atas dapat dijelaskan bahwa Lastri merasa kurang yakin apakah

Mahmud benar-benar mencintainya atau hanya untuk menghilangkan rasa kesepian saja.

Kemudian dia bicara jujur pada Mahmud, ternyata Mahmud benar-benar cinta dengan

Lastri dan berniat untuk menikahinya. Walaupun Lastri seorang pelacur Mahmud tetap

mencintainya dan dia tidak akan peduli apa pekerjaan Lastri selama ini.

       Dalam percintaan kadang ada perasaan tidak percaya apalagi bila ada seorang

wanita yang kehormatannya sudah direnggut oleh orang lain dan ada seorang laki-laki

yang benar-benar mencintainya ingin menikahi wanita itu. Di dalam pikiran wanita dia

menganggap itu hanya lelucon saja tapi bagi laki-laki itu suatu keseriusan. Hal ini sesuai

dengan kisah cinta antara Lastri dengan Mahmud, berikut ini kutipan percakapan

mereka:

   LASTRI :
   Sudah pelacur, pernah diperkosa pula. Kamu masih mau mengawini aku?
   MAHMUD :
   Astaga! Lastri ! sudah berapa tahun kita pacaran? Masa’ sampai sekarang kamu
   belum kenal aku juga? Meskipun aku ini tidak sekolah dan hidupku hanya berisi
   pertempuran, aku bukan jenis orang tolol yang menganggpa keperawanan itu penting,
   dan mengukur kesucian seseorang hanya dari tubuhnya. Apalah artinya jadi pelacur,
   apalah artinya perkosaan, kalau aku mencintai kamu dan kamu mencintai aku. Aku
   tahu kita semua menderita atas penghinaan itu, tapi kita sudah pasti tidak menjadi
   betul-betul hina karena sebuah penghinaan. Orang yang paling hina adalah orang
   yang menghina. Hal ini jelas. Orang yang dihina selalu lebih mulia dari orang yang
   menghinanya. Ini juga jelas. Anak kecil saja tahu. Janganlah terlalu meragukan aku
   Lastri. Jangan terseret semua kebodohan itu. Jangan terjebak perangkap kehormatan
   yang tolol. Ini memang sebuah luka, tapi kita tidak perlu hancur karenanya. Kita
   punya cinta, dan cinta akan menyelamatkan kita.
   (MKCAK 2001:66-67).
       Mahmud benar-benar mencintai Lastri, ia tidak menganggap keperawanan itu

penting dan mengukur kesucian seseorang dari tubuhnya. Ia juga tidak peduli akan

pelacur, perkosaan yang terpenting keduanya saling mencintai. Laki-laki itu beranggapan

bahwa orang yang dihina selalu lebih mulia dari orang yang menghina.



4.2 Faktor Yang Memunculkan Adanya Masalah Sosial dalam Kumpulan Naskah

     Drama Mengapa Kau Culik Anak Kami

       Faktor penyebab masalah sosial yang terdapat dalam kumpulan naskah drama

Mengapa Kau Culik Anak Kami ada 3 yaitu faktor psikologis, faktor peperangan, dan

faktor biologis.

4.2.1 Faktor Psikologis

       Faktor psikologis terdapat pada 3 drama yaitu drama “Tumirah Sang Mucikari”,

“Mengapa Kau Culik Anak Kami, “Jakarta 2039”.

       Dalam drama “Tumirah Sang Mucikari” kejiwaan seseorang terganggu

disebabkan orang tersebut mengalami peristiwa yang membuat trauma sehingga dia

menjadi stress. Begitu pula yang dirasakan oleh para pelacur yang baru saja diperkosa.

Para pelacur merintih kesakitan sambil setelah diperkosa oleh para ninja. Mereka

terkapar penuh penderitaan sambil memanggil-manggil nama “ibu” sebutan untuk

Tumirah.

   TUMIRAH:
   Anak-anakku! Anak-anakku! Di mana kalian anak-anakku?
   PELACUR 1:
   Ibu! Aku disini! Tolong aku Ibu!
   PELACUR 2:
   Ibu! Ibu! Tolong!
   PELACUR 3:
   Ibu! Sakit sekali, Ibu!
   PELACUR 4:
    Aduuuuhhh!! Sakiiiiiiiiiiittt!
   PELACUR 5:
    Ibu! Ibu! Dimanakah kamu?
   PELACUR 6:
   Ibu! Tolong! Aku berdarah!
   PELACUR 7:
   Darah! Tolong! Darah!
   PELACUR 8:
   Ibu! Ibu!
   PELACUR 9:
   Aku berdarah! Aku berdarah!
   PELACUR 10:
    Aku berdrah! Aku berdarah!
   PELACUR 11:
   Aku berdarah! Aku berdarah!
   PELACUR 12:
   Ibu! Aku ingin mati!
   TUMIRAH:
   (berdiri dengan gontai)
   Anak-anakku! Ibu di sini Nak, ibu di sini!
   (MKCAK 2001:23-24)

       Para pelacur mengalami penderitaan dan tekanan batin setelah mereka diperkosa

oleh para ninja, mereka merintih kesakitan sambil memanggil-manggil nama Tumirah

yang biasa disebut dengan “ibu” karena ia adalah germo para pelacur di situ. Tumirah

bingung harus berbuat apa untuk menenangkan hati para anak buahnya, ia sendiri juga

ikut menjadi korban dalam peristiwa pemerkosaan itu.

       Psikologis menyangkut tentang jiwa manusia. Orang yang sudah terkena

gangguan jiwa sulit untuk melupaknnya. Mereka trauma akan kejadian yang

menimpanya. Tumirah mengalami hal seperti itu setelah dia diperkosa bergiliran oleh

para ninja. Berikut ini tekanan batin yang dialami oleh Tumirah:

   TUMIRAH :
   Semuanya sudah berlalu, berlalu, seperti angina yang berlalu. Para pelacur terindah
   yang paling layak dicintai dan paling bersemangat dalam hidup ini telah hancur. Tapi
   inilah kehancuran yang dikehendaki. Inilah kehancuran yang bisa dijual.
   Kemaksiatan terlalu pantas dikorbankan. Apalah artinya para pelacur di dunia ini?
   Mereka boleh dihina dan dihancurkan, boleh diinjak-injak dan dilecehkan, seolah-
   olah mereka begitu pantas dan layak diperkosa. Kekejaman, oh, kekejaman.
   Darimana kata itu datang kalau tidak dari kekejaman itu sendiri? Apakah karena kami
   hanya pelacur maka kami tidak boleh memperjuangkan harga diri kami? Tapi
   nyatanya kehancuran kami ini dijual. Menghancurkan kemaksiatan adalah jualan
   yang paling laris belakangan ini. Hueeek! Aku mau myuntah memikirkan ulah para
   politisi. Mereka itulah para pelacur dalam arti yang sebenarnya. Mending kalau
   menjual barangnya sendiri, para politisi itu paling pinter menjual bukan Cuma
   barang, tapi juga bangkai orang lain. Dasar pemakan bangkai!
   (MKCAK 2001: 24-25)
       Para pelacur yang biasa dihina dan dilecehkan memiliki rasa yang tidak pantas

hidup dalam masyarakat, apalagi para pelacur itu diperkosa mereka merasa harga dirinya

tambah diinjak-injak seolah-olah begitu pantas diperkosa.

       Psikologis menyangkut tentang jiwa manusia. Orang yang sudah terkena

gangguan jiwa sulit untuk melupakannya. Mereka stress akan kejadian yang

menimpanya, dapat dikatakan sebagai trauma dalam kehidupan. Setelah terjadi

pemerkosaan besar-besaran, Tumirah didatangi seorang polisi dan dia berniat untuk

menginterograsi Tumirah tentang kejadian pemerkosaan di rumah bordir. Hal ini terlihat

dalam kutipan sebagai berikut:

    TUMIRAH:
   Semua juga melihat mereka, tapi kalau mereka bertopeng bagaimana? Namanya juga
   ninja.
   POLISI:
   (mengeluarkan catatan)
   Jadi, jam berapa ninja-ninja itu mulai datang?
   TUMIRAH:
   Eh, langsung main tanya! Saya tidak mau jawab! Minggat kamu! Tidak mau tahu
   orang baru susah! Minggat! Minggat! Minggaaaaaattttt!
   (MKCAK 2001:37)
      Polisi mendatangi Tumirah di rumah bordirnya untuk menanyakan tentang

peristiwa pemerkosaan yang dilakukan oleh para ninja. Sebagai korban dan juga sebagai

germo di tempat pelacuran itu, Tumirah mendapat sorotan untuk menceritakan kejadian

itu secara kronologis, tetapi Tumirah menolak karena ia tidak ingin mengingat kejadian

itu lagi. Maka dari itu, dia akan mengusir orang yang datang ke rumah bordir bila

tujuannya untuk menanyakan tentang peristiwa pemerkosaan yang menimpa Tumirah

dan anak buahnya.

      Peristiwa pemerkosaan membawa berita yang cepat tersebar, orang berbondong

untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya, khususnya mereka yang bekerja sebagai

pencari berita, penegak hukum, pengacara dan pekerjaan lain yang berhubungan erat

dengan berita. Tetapi bagi mereka yang menjadi korban akan menjadi tertekan akibat

ditanyakan secara detail sehingga si korban akan teringat kembali kejadian pahit itu.

Seorang wanita yang keperawanannya telah direnggut, apalagi dengan paksa pasti

merskan tekanan batin yang luar biasa. Begitu juga dengan kisah para pelacur dan

Tumirah yang sedang berduka, mereka meratapi sesuatu yang telah terjadi. Berikut ini

kutipannya:

   TUMINI:
   Mbak Tumirah, apa yang harus kukatakan kepada diriku? Aku merasa tidak punya
   badan, tubuh seperti tidak menginjak bumi, pikiran melayang-layang.
   MINAH:
   Siapa orang-orang itu Mbak? Apa salah kita kepada mereka?
   LASTRI :
   Kenapa mereka berbuat seperti itu Mbak, kenapa?
   TUMIRAH :
   Apa yang harus kukatakan kepada anak-anakkku? Apa yang harus kukatakan kepada
   siapapun di muka bumi ini? Apa yang bisa diucapkan oleh seorang wanita korban
   pemerkosaan? Mereka memang punya mulut, tapi apakah bahasa akan pernah cukup
   mewakili? Kalau sudah begini, siapa yang peduli kepada kami?
   (MKCAK 2001:38)

      Kutipan di atas dapat diketahui bahwa setelah para pelacur diperkosa oleh para

ninja, hidupnya bagai tak punya badan, tubuh seperti tidak menginjak bumi dan pikiran

melayang-layang. Mereka ingin berkata sebenarnya dia salah apa dan siapa yang peduli

padanya. Semua orang hanya menghina dan tak tahu ratapan yang para pelacur itu

rasakan.

      Mengapa orang yang jahat itu tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan

keluarga, pacar atau orang yang terdekat dengan korban bila dianiaya. Walaupun

Tumirah seorang pelacur, dia mempunyai pacar dan mereka berdua saling mencintai.

Tumirah menangis di depan mayat Sukab yang mati karena difitnah oleh para ninja

dengan cara mendandani Sukab dengan berpakaian seperti ninja, sehingga ia ditangkap

warga dan disiksa.

   TUMIRAH :
   Sukab, oh Sukab! Baru kenal sebentar, kamu kok sudah mati. Tidak mudah punya
   sahabat di dunia yang serba culas ini Sukab…..Akhir hidup kamu, kok bisa jadi
   seperti ini Sukab. Jadi bulan-bulanan permainan, jadi korban. Sukab, Sukab, kasihan
   sekali kamu Sukab. Aku tidak tahu apa maunya orang-orang itu. Diam saja, seperti
   orang yang tertindas, kamu melawan malah masuk perangkap, oalah Sukab, Sukab,
   apa yang membenarkan hadirnya kelicikan, apa yang membenarkan pengorbanan
   kehidupan. Kita semua tidak tahu apa-apa. Kita cuma mau tentram, tenang-tenang
   menjalankan pekerjaan kita. Itupun sudah dimaki banyak orang. Sukab, Sukab, kamu
   orang baik sukab, malang benar nasib kamu……
   (MKCAK 2001: 61)

      Tumirah menangis tersedu-sedu di depan mayat Sukab, pacarnya. Ia merasa

dendam yang kedua kalinya pada para ninja biadab itu. Pertama dia beserta anak

buahnya diperkosa bergiliran, kedua pacarnya difitnah dengan cara berdandan seperti
ninja agar ia tertangkap dan dihabisi oleh warga masyarakat. Tujuan para ninja berhasil,

Sukab tertangkap dan dia dihukum picis oleh warga masyarakat hingga meninggal.

        Adanya masalah sosial yang beragam dalam masyarakat mengakibatkan adanya

faktor psikologis. Dalam drama Mengapa Kau Culik Anak Kami kejiwaan seseorang

terganggu karena adanya penculikan dan pembunuhan.

       Saat masih kecil ibu melihat darah yang menyiprat kemana-mana. Ia mengingat

kembali kenangan pahit dan menceritakan kepada suaminya. Hal ini terlihat pada kutipan

berikut ini:

   IBU :
   Waktu itu aku tidak tahu kalau sekolah libur. Aku berangkat ke sekolah. Ketika
   sampai di kelas, aku cuma mencium bau amis darah. Darah orang-orang disiksa
   menyiprat di tembok, papan tulis, dan bangku- bangku. Di mana-mana orang
   bergerombol, berteriak-teriak, mencari orang-orang yang diburu.

   BAPAK :
   Wak-tu
   IBU :
   Begitu buruk. Begitu mengerikan. Tapi mengapa kita sekarang mengulangnya?
   BAPAK :
   Satria!
   (MKCAK 2001:92)

       Waktu ibunya Satria masih kecil dia mencium bau amis di kelasnya, darah orang-

orang menyiprat dimana-mana ada yang di tembok, papan tulis, dan bangku-bangku. Di

mana-mana orang bergerombol, berteriak-teriak mencari orang yang diburu.

       Bentuk teror bisa berupa telepon, bisa berupa surat tetapi yang sering dilakukan

menggunakan telepon. Bapak dan ibu mengingat kembali saat mereka diteror lewat

telepon, hal ini terlihat dari kutipan berikut ini:

   IBU:
   Dulu Satria sering diteror lewat telepon.
   BAPAK:
   Ya, aku tahu. Aku juga sering diteror, dikira Satria.
   IBU:
   (setelah jeda).
   Ah, Satria, Satria.
   (MKCAK 2001:95)

       Satria dianggap sebagai orang yang berbahaya bagi rencana para pemberontak

karena ia mampu berpikir kritis dan berani berbicara di depan umum, maka dari itu

Satria sering di teror lewat telepon kadang bapaknya juga sering diteror dikira Satria.

       Sekarang ini setiap orang sudah memiliki hati nurani. Banyak orang tega

menculik bahkan membunuh. Ibu tertekan batinnya bila teringat anaknya yang diculik

dan ada orang yang membahas tentang penculikan. Berikut ini kutipan pembicaraan

bapak dengan ibu:


   IBU:
   Kita semua sudah terlatih tidak menggunakan hati nurani.
   BAPAK:
   Kita?
   IBU:
   Memangnya siapa yang suka menjarah rame-rame, membakar rame-rame,
   memperkosa rame-rame, menyembelih rame-rame. Siapa?
   BAPAK:
   Itu kan tidak setiap hari.
   IBU:
   Bapak ini pikirannya bagaimana sih? Apa maksudnya kita boleh sekali-kali
   menjarah?
   BAPAK:
   Bu, itu semua kan karena ada yang menggosok-gosok!
   IBU:
   (setelah jeda)
    Hati nurani. Hati nurani. Kemana kamu?
   BAPAK:
   Zaman sudah gila seperti ini. Hati nurani kamu tanyakan!
   IBU:
   Jadi Bapak sudah ingat sekarang?
   BAPAK: Gila! Mereka menculik anak kita! Bagaimana aku bisa lupa? (MKCAK
   2001:115)

       Semua orang mau berbuat apa saja asalkan mendapatkan upah yang besar.

Mereka akan mengatakan bahwa ini adalah tugas apabila ada orang yang menegurnya,

kadang kita berpikir apakah mereka tidak memiliki hati nurani sampai tega membunuh

orang dengan keji. Contohnya orangtua Satria sampai saat ini Satria belum kembali ke

rumah karena diculik oleh segerombolan orang yang ingin berkuasa. Hati mereka

tersiksa, selalu menanti kehadiran anaknya. Apakah para penculik itu tidak pernah

memikirkan apabila kejadian itu menimpa pada dirinya.

       Setiap orang pasti memiliki mempunyai rasa rindu. Seseorang yang sedang

dilanda rindu hatinya serasa tersiksa, aplagi bila kerinduan ibu dengan anaknya. Sungguh

sangat menyiksa. Ibu mengeluh dengan suaminya karena rindu dengan Satria yang telah

diculik oleh orang yang ingin menguasai negara. Berikut ini kutipan perbincangan antara

bapak dan ibu yang sedang mengalami tekanan batin:

   IBU :
   Aku sampai sengaja menyetrum diriku, ingin ikut merasakan penderitaan Satria.
   Aduh, Satria, Satria, baru apa dia sekarang?
   BAPAK :
   Kamu harus siap dengan penderitaan. Orang-orang yang dilepaskan bercerita tentang
   bagaimana mereka bukan cuma ditanyai sambil dikemplang, ditanyai sambil
   disetrum. Belum bener juga lantas kepalanya dimasukkan ke air sampai megap-
   megap. Rata-rata pengalamannya hampir sama.
   (MKCAK 2001:123)

       Kutipan dia atas terlihat bahwa ibu sedang teringat anaknya, Satria, yang diculik

oleh orang yang ingin berkuasa. Sang ibu itu dengan sengaja menyetrumkan diri agar

ikut merasakan kepedihan anaknya, ia membayangkan perlakuan mereka pada Satria,

ingin ia menjerit dimanakah Satria berada.
       Drama Jakarta 2039 menceritakan peristiwa kerusuhan pada tanggal 13-14 Mei

1998, kejadian ini banyak wanita yang diperkosa oleh massa.

       Kepedihan hati orang yang baru diperkosa sangatlah tersiksa. Dia ingin berontak

tapi pada siapa, ingin meminta keadilan tapi pada siapa. Semuanya serba tidak menentu.

Begitu pula yang dialami Clara, wanita yang diperkosa ramai-ramai oleh orang yang

tidak dia kenal. Dia hanya bisa meratapi hidupnya, berikut ini kutipannya:

   CLARA:
   Saya tidak tahu berapa lama saya pingsan. Waktu saya membuka mata, saya hanya
   melihat bintang-bintang. Di tengah semesta yang begitu luas, siapa yang peduli
   dengan nasib saya? Saya masih terkapar di jaln tol. Angin malam yang basah bertiup
   membawa bau sangit. Saya menengok dan melihat BMW saya sudah terbakar.
   Rasanya baru sekarang saya menyadari, apa artinya keindahan api yang mewakili
   bencana. Isi tas saya masih berantakan seperti semula. Saya lihat lampu HP saya
   berkedip-kedip cepat, tanda ada seseorang meninggalkan pesan.
   Saya mau beranjaks, tapi tiba-tiba selangkangan saya terasa sangat perih. Bagaikan
   ada tombak dihunjamkan dia antara kedua paha saya. O, betapa pedihnya hati saya
   tidak bisa saya ungkapkan. Saya tidak punya kata-kata untuk itu. Saya tidak punya
   bahasa. Saya hanya tahu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris untuk urusan bisnis.
   Kata orang, bahasa Cina sangat kaya dalam hal menggambar perasaan, tapi saya tidak
   bisa bahasa Cina sama sekali dari dialek manapun. Saya cuma seorang perempuan
   Tionghoa yang lahir di Jakarta dan sejak kecil tenggelam dalam urusan dagang. Saya
   bukan ahli bahasa, bukan pula penyair. Saya tidak tahu apakah di dalam Kamus
   Besar Bahasa Indonesia ada kata yang bisa mengungkapkan rasa sakit, rasa terhina,
   rasa pahit, dan rasa terlecehkan yang dialami seorang perempuan yang diperkosa
   bergiliran oleh banyak orang karena dia seorang perempuan Tionghoa. Sedangkan
   pacar saya saja begitu hati-hati bahkan hanya untuk mencium bibir saya.
   Selangkangan saya sakit, tapi saya tahu itu akan segera sembuh. Luka hati saya,
   apakah harus saya bawa sampai mati? Siapakah kiranya yang akan membela kami?
   Benarkah kami dilahirkan hanya untuk dibenci? (MKCAK 2001:152)

       Pada saat pingsan Clara diperkosa oleh massa yang tidak suka dengan orang

Tionghoa. Waktu siuman, dia melihat mobil BMW nya sudah terbakar dan

selangkangannya terasa perih bagaikan ada tombak yang menghujamkan pahanya. Dia

merasa terhina dan terlecehkan sebagai seorang wanita yang diperkosa bergiliran oleh
banyak orang. Dia berpikir apakah ada orang yang membela dirinya, mengapa dia

dilahirkan untuk dibenci.

       Anak yang hidup sendiri merasa kesepian, dirinya menginginkan kebahagiaan

sejati dengan adanya teman yang senantiasa menemani dan mengajak untuk

mencurahkan perasaannya. Hidupnya di dunia ini bagai terasing. Berikut ini ungkapan

hati anak Clara sebagai berikut:

   ANAK CLARA :
   Kalaulah aku mengakui kepadamu, wahai diriku, itu bukanlah karena aku hampir
   mati dirajam kesepian. Meskipun aku hidup sendiri sampai sekarang, aku adalah
   seorang perempuan yang bisa mengatasi masalahku- apakah itu bernama kesepian,
   apa itu bernama penderitaan dalam pengkhianatan cinta seorang bajingan.
   Tapi kali ini, aku merasa tiba-tiba saja terlontar ke sebuah dunia antah nerantah yang
   tidak kukenal. Betapa aku tidak akan merasa terasing dengan dunia yang kuhidupi
   setiap hari, jika mendadak daja aku tidak mengenal diriku sendiri? Siapakah aku,
   wahai diriku?
   Aku melayang dalam sebuah ruang gelap dan hampa tiada habisnya. Melayang,
   mengambang, melayang.
   (MKCK 2001:160)

       Anak Clara bicara dalam kesendirian bahwa dia menderita dalam pengkhianatan

cinta seorang bajingan. Dia bagai terasing hidup dalam dunia ini. Ingin sekali dia

bercerita pada seseorang untuk dijadikan tempat mengadu, mencurahkan semua yang ada

dalm isi hatinya. Tetapi kenapa dia tidak menemukan kebersamaan itu. Dia serasa

melayang mengambang dalam sebuah ruang yang gelap dan hampa

       Anak yang dibuang oleh ibunya semasa kecil pasti merasakan kesedihan yang

mendalam, karena kehadirannya di dunia ini tidk diinginkan oleh orang tuanya, maka dia

dibuang. Dalam drama ini anak belum mengetahui anak siapa sebenarnya. Hal ini terlihat

dalam kutipan sebagai berikut:

   ANAK CLARA:
   Sudah lama aku tidak menangis. Bagus juga untuk membuang semua kekesalanku.
   Namun penderitaanku yang satu ini tidak tertanggungkan. Betapa berat sudah diriku
   ditinggal Papa, dan semakin berat setelah ditinggalkan Mama. Namun yang paling
   menyesakkan adalh cerita Mama sebelum meninggal. Aku ternyata hanyalah seorang
   anak pungut. Aku seorang anak pungut yang diambil dari Yayasan Cinta Kasih.
   Tentu kamu akan mengatakan aku seorang yang beruntung, namun semua
   keberuntungan itu hanya menyebabkan aku yang bersalah. Seolah-olah seluruh
   kehidupan yang telah kujalani bukanlah hakku sama sekali. Tapi sebenarnya bukan
   itu yang menyesakkan dadaku, wahai diriku, yang mengejutkan dan menyakitkan
   adalah kenyataan bahwa aku tidak mungkin mengetahui siapa ayah dan ibuku.
   Aku telah datang ke Yayasan Cinta Kasih untukmencari tahu siapa diriku. Aku siap
   untuk menerima kenyataan seperti apa adanya. Apakah aku anak pelacur yang
   mendapatkan anak haram dari preman kelas teri? Aku tidak peduli. Aku ingin
   mendapat kejelasan siapa diriku.
   Betapapun pahit, hal itu lebih baik daripada kegelapan yang tiba-tib mengepung
   kehidupanku. Apakah aku bayi yang ditemukan di tong sampah? Apakah aku anak
   seorang ibu beranak sembilan di sebuah perkampungan kumuh, yang tak sanggup
   lagi merawat anaknya? Apakah aku anak gelandangan? Semua itu tidak menjadi
   masalah bagiku. Namun cerita yang kudapat sungguh tidak pernah akan kuduga
   dalam mimpi sekalipun.
   Di Yayasan Cinta kasih itu tinggal satu orang yang mengenal asal usulku. Tentu,
   tentu ada arsip yang bisa dicari. Tapi, arsip yang kudapati hanya menyebutkan soal
   penyerahan diriku kepada Mama dan Papa yang melakukan adopsi. Kolom asal usul
   dalam formulir itu kosong sama sekali. Bahkan Yayasan Cinta Kasih pun tak tahu
   siapa ayah dan ibuku.
   Tapi, wahai diriku, bukanlah misteri ini yang menyesakkan dadaku. Seorang petugas
   di sana memberitahu, seorang bekas perawat yang tua sekali barangkali mengerti asal
   usulku. Jadi, akupun menemuinya.
   Ternyata ia sudah begitu lemah dan terbaring sakit di rumah jompo tanpa bisa berdiri
   lagi. Aku jelaskan diriku siapa, apa tujuanku, dan apa yang kudapatkan diarsip
   Yayasan Cinta Kasih. Matanya tiba-tiba bercahaya…….
   (MKCAK 2001:161-162)

      Anak Clara tidak tahu sebenarnya dia anak siapa. Dulu waktu masih kecil dia

dirawat oleh Yayasan Cinta Kasih. Kemudian ada pasangan suami istri yang belum

punya anak iangin mengadopsi dia. Setelah dia besar dan Papa Mamanya meninggal dia

baru diberi tahu bahwa dia adalah anak pungut. Pedih hati ini mendengar berita itu.

Dalam kepedihan hatinya dia mencari orang tua kandung dengan cara mendatangi

Yayasan Cinta Kasih, disana arsipnya telah hilang. Untung saja ada petugas yang
memberitahu bahwa ada perawat tua yang mengetahui asal usulnya, tanpa pikir panjang

dia menemui perawat itu. Setelah menceritakan tujuannya datang ke situ, wanita itu

menangis, anak Clara tak kuasa melihatnya.

       Rahasia yang disimpan terus menerus tak tenang hidupnya sebelum diceritakan

pada yang bersangkutan. Ingin rasanya perawat tua itu menceritakan kejadian yang

sebenarnya tapi dia bingung, berdosakan bila dia membocorkan rahasia yang sudah lama

terpendam, tetapi bila dia tidak menceritakan hidupnya belum tenang serasa masih punya

beban. Hal ini terlihat dalam kutipan sebagai berikut:




   PEREMPUAN TUA:
   Hanyalah kamu yang aku pikirkan belakangan ini, karena aku masih belum rela mati
   jika belum mengungkapkan rahasia ini. Tapi, aku tak tahu bagaimana caranya
   mencari kamu……
   ANAK CLARA:
   Begitulah diriku, dari wanita tua yang sudah delapan puluh tahun umurnya itu, aku
   menjadi tahu bahwa diriku bukanlah diriku yang selama ini kukenal. Ternyata aku
   anak hasil pemerkosaan.
   Ibuku diperkosa beramai-ramai dalam kerusuhan massal, yang melanda Jakarta
   tanggal 13-14 Mei 1998. Aku lahir tepat sembilan bulan kemudian pada tanggal 14
   Februari 1999.
   Selama hamil, ibuku sakit jiwa. Ia tidak pernah bicara. Ia tidak pernah tersenyum.
   Dan sering membentur-benturkan kepalanya ke tembok. Begitu aku lahir, ia langsung
   sembuh.
   Aku diserahkan kepada Yayasan Cinta Kasih, dengan sebuah keranjang yang
   diletakkan di muka pintu.
   Tak jelas lagi di mana surat dan keranjang itu sekarang. Perawat tua itu meninggal
   seminggu setelah menceritakan asal usulku. Asal usul yang mnejelaskan sebuah
   kegelapan. Seluruh riwayat hidupku bagaikan terhapus dengan seketika.
   Aku Cuma seorang anak yang dibuang karena merupakan aib bagi ibuku. Tak
   seorang pun menghendaki keberadaanku di dunia. Ini hari ulang tahunku yang ke 40.
   aku merasa lahir kembli dengan sebuah kutukan. Aku bukan anak cinta kasih. Aku
   adalah anak kekejaman.
   (MKCAK 2001:162-164).
           Perempuan tua yang dulu berprofesi sebagai perawat menceritakn hal yang

sebenarnya bahwa anak Clara adalah anak hasil pemerkosan dalam kerusushan di Jakarta

tanggal 13-14 Mei 1998. Selama hamil, ibunya sakit jiwa tetapi setelah dia lahir sembuh

kembali dan membawa bayi itu ke Yayasan Cinta Kasih. Anak Clara bersedih mengapa

dia hidup dalam sebuah kegelapan yang manjadikan suatu kekejaman. Kenapa ia

dilahirkan dalam sebuah kutukan. Dia hanya bisa pasrah, meneriam sesuatu yang sudah

terjadi.




4.2.2 Faktor Alam

           Faktor ini berkaitan dengan kehidupan manusai dan lingkungan yang harus

beradaptasi. Beberapa sifat iklim, sifat tanah, sifat kehidupan tanaman dan binatang.

Semua keadaan alam ini rusak karena adanya peperangan yang tak kunjung reda. Faktor

ini hanya ada dalam drama Tumirah Sang Mucikari.

           Drama ini menjelaskan sosok Tumirah yang senang menyendiri apabila

mendengarkan kicauan burung, desiran sungai dan suara-suara alam yang lain. Hatinya

akan tenang dan damai sedamai yang ia raskan saat bergaul dengan suasana alam.

    TUMIRAH:
    Sebenarnya ini sebuah tempat yang indah kalau tidak ada pertempuran. Rumah-
    rumah ini selalu di bawah pohon-pohon yang rindang di tepi hutan. Ada sungai lewat
    di tepian. Sungai yang tidak terlalu dalam, jernih airnya, ikan-ikan dan batu-batu
    didasarnya kelihatan. Karena cahaya matahari, batu-batu itu kadang berwarna
    pelangi, indah sekali. Aku suka duduk di tepi sungai itu, memikirkan hal-hal yang
    baik. Di sebelah sana ada air terjun, kecil saja, tapi suaranya terdengar kesini kalau
    sepi. Aku senang mendengarkan semua suara-suara itu. Kicau burung, desir sungai,
    hembusan angin, gugur daun, bisikan rumput, asal jangan suara tembakan, kapan
   kami bisa dijauhkan dari suara-suara mesin pembunuh itu. Kapan kami bisa diam,
   tapi bercakap-cakap dengan alam. Manusia begitu kerdil sehingga merasa dirinya
   besar. Menganggap dunia ini hadir untuk mereka. GR sekali. Apa sebenarnya yang
   sudah dipelajari manusia sepanjang sejarah kehidupan mereka di bumi selain cara
   untuk merusak dan saling menyakiti? Manusia yang selalu ingin menguasai, manusia
   yang tidak pernah belajar untuk hidup bersama angin, hutan, sungai, dan burung-
   burung. Sedangkan dengan sesamanya saja manusia susah sekali hidup bersama. Ah,
   jangan-jangan manusia memang sudah menjadi makhluk terkutuk. Iya ya? Terkutuk
   untuk selalu memikirkan kepentingannya sendiri. Tapi, tapi, siapa yang
   mengutuknya? Tidak mungkin Tuhan bukan? Lha wong katanya Tuhan itu Maha
   Baik. Aduh, aku bingung.
   (MKCAK 2001:75).

       Tumirah duduk termenung sendiri membayangkan keadaan alam ini apabila tak

ada peperangan pasti alam ini akan sejuk dan segar dipandang mata, suara kicau burung,

desir sungai, hembusan angin, asalkan jangan suara tembakan yang membuat hati ini

selalu cemas. Dia ingin perang itu berakhir dan hidup secara damai. Kenapa semua

manusia selalu berebut kekuasaan, apakah tidak ada yang mau mengalah. Dia mau

bertanya tapi pada siapa, dia bingung sendiri memikirkan kehidupan disekitarnya itu.



4.2.3 Faktor Biologis

       Faktor ini berkaitan dengan kebutuhan biologis manusia dalam kehidupan sehari-

hari yaitu kebutuhan untuk makan, sandang, tempat tinggal dan melangsungkan

perkawinan untuk mendapatkan keturunan.

       Keturunan berhubungan erat dengan faktor biologis, dengan adanya hubungan

intim bisa mengakibatkan lahirnya buah hati. Sebelum melakukannya harus ada proses

merayu agar terbina kemesraan. Hal ini sesuai dalam drama”Tumirah Sang Mucikari”,

yang menjelaskan proses merayu antara Tumirah dan Sukab. Berikut ini proses merayu

dua sejoli:
   TUMIRAH :
   Sukab!
   SUKAB :
   Tumirah!
   (mereka berpelukan, setelah lepas mereka saling mengambil jarak).
   SUKAB :
   Kamu makin cantik saja Tumirah. Makin montok.
   TUMIRAH :
   Sudahlah Sukab! Setiap kali ketemu pasti merayu.
   Padahal tidak dirayu saja aku pasti mau. Kemana saja kamu selama ini Sukab?
   Kau lihat, kami sudah habis sekarang.
   (MKCAK 2001:40).

       Setelah lama tidak bertemu dua pasangan yang sedang dilanda asmara itu saling

melepas rindu, mereka berpelukan dan saling merayu. Sukab adalah pacar Tumirah

setiap kali bertemu dia selalu merayu pacarnya, hal itu membuat hati Tumirah menjadi

bahagia tapi malu.

       Sifat manusia dibawa sejak lahir yang dikategorikan sebagai faktor biologis.

Sukab memiliki sifat mudah tersinggung, apalagi bila ada kata-kata yang kurang

berkenan di hatinya. Berikut ini kutipn percakapan antara Tumirah dengan Sukab:

   TUMIRAH :
   Sukab! Jangan marah dong!
   SUKAB :
   Tidak. Aku tidak marah. Kamu benar. Bisa apa aku? Aku cuma tukang jual obat.
   TUMIRAH :
   Sukab…..
   SUKAB :
   Ya?
   TUMIRAH :
    Sini!
   (MKCAK 2001:41).

       Saat Tumirah sedang berbincang-bincang dengan Sukab ada kata-kata yang

menyinggung perasaan Sukab sehingga dia marah dan berniat untuk meninggalkan

Tumirah. Tumirah berusaha membujuk Sukab agar dia tidak marah dan berbagai rayuan
dia keluarkan karena dia sudah tahu kalau Sukab orangnya pemarah. Akhirnya usaha

Tumirah tidak sia-sia, Sukab tidak jadi pergi dan kemarahannya mereda.

       Timbulnya masalah sosial disebabkan adanya perubahan kebudayaan yang

teramat cepat. Masalah sosial biasanya terjadi pada masyarakat yang sedang berubah

kehidupannya. Misalnya proses kehidupan dari miskin menjadi kaya atau adanya

modernisasi yang menyebabkan munculnya alat-alat canggih, sehingga masyarakat

masih canggung untuk menerima perubahan itu karena mereka baru merasakan

kehidupan yang sebelumnya belum pernah dialaminya. Beraneka ragam masalah sosial

tergantung pada aspek kehidupan masyarakat, ini menyebabkan anggota masyarakat

menjadi hidupnya tidak tenang. Faktor penyebabnya karena masyarakat belum siap

untuk menerima perubahan kebudayaan sehingga kejiwaan masyarakat menjadi

terganggu, misalnya orang tersebut menjadi stres.
                                        BAB V
                                      PENUTUP




5.1 Simpulan


        Berdasarkan pada pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagai berikut:

1.   Kejahatan merupakan perilaku yang bertentangan dengan nilai dan norma yang

     berlaku dan telah disahkan oleh hukum tertulis. Kejahatan terdapat dalam drama

     “Tumirah Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak Kami”, ”Jakarta 2039”.

     Penindasan merupakan suatu perbuatan atau cara memperlakukan seseorang dengan

     sewenang-wenang. Penindasan terdapat dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”.

     Pelacuran merupakan suatu pekerjaan menyerahkan diri kepada umum untuk

     melakukan perbuatan-perbuatan seksual dengan mendapat upah. Pelacuran terdapat

     dalam drama “Tumirah Sang Mucikari”.

2. Faktor psikologis merupakan faktor yang berhubungan dengan mental seseorang yang

     mengalami keguncangan dan penyakit kejiwaan terdapat dalam drama “Tumirah

     Sang Mucikari”, “Mengapa Kau Culik Anak Kami”, “Jakarta 2039”.

     Faktor alam merupakan faktor berkaitan dengan gejala menipisnya sumber daya

     alam. Faktor biologis merupakan faktor yang berhubungan dengan keadaan dan sifat

     makhluk hidup.

     Faktor alam dan faktor biologis hanya terdapat dalam drama “Tumirah Sang

     Mucikari”.
5.2 Saran

       Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan sebagi berikut:

   -   Hendaknya penelitian ini dapat memberikan kemajuan ilmu sastra yang dapat

       bermanfaat bagi pengajaran sastra, khususnya penelitian berbentuk drama dan

       sejenisnya.

   -   Hendaknya masyarakat dapat mengambil hikmah drai masalah kejahatan,

       penindasan dan pelacuran.
                                   DAFTAR PUSTAKA




Alwi, Hasan. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.


Baribin, Raminah. 1989. Kritik dan Penilaian Sastra. Semarang: IKIP Semarang Press.


Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Pusat
            Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.


Fananie,, Zainuddin. 2002. Telaah Sastra. Surakarta: Muhammadiyah University.


Faruk. 1999. Pengantar Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.


Gunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.


Harymawan, RMA. 1986. Dramaturgi. Bandung: Remaja Rosdakarya.


Jassin, H.B. 1983. Sastra Indonesia Sebagai Warga Dunia Sastra. Jakarta: Gramedia.


Nasution, Adam. 1979. Sosiologi. Bandung: Alumni.


Nurgiyantoro, Burhan. 2002. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University.


Sanderson, Stephen K. 2003. Makro Sosiologi. Jakarta: Raja Grafindo.


Soekanto, Soerjono. 1983. Beberapa Teori Sosiologi Tentang Struktur Masyarakat. Jakarta:
            Rajawali.


--------------------------. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Soemanto, Bakdi. 2001. Jagat Teater. Yogyakarta: Media Pressindo.


Suaedy, Ahmad. 2000. Kekerasan Dalam Perspektif Pesantren. Jakarta: Grasindo


Suharianto. S. 1982. Dasar-dasar Teori Sastra. Surakarta: Widya Duta.


Sumardjo, Jakob. 1999. Konteks Sosial Novel Indonesia 1920-1977. Bandung: Alumni.


Syani, Abdul. 1994. Sosiologi Skematika, Teori dan Terapan. Jakarta: Bumi Angkasa.


Waluyo, Herman. J. 1986. Drama, Teori dan Pengajarannya. Yogykarta: Hanindita.


Wellek dan Warren. 1995. Teori Kesusatraan (diindonesiakan oleh Melani Budianta).
           Jakarta: Gramedia Pustaka Umum
LAMPIRAN


                                       SINOPSIS



1. DRAMA TUMIRAH SANG MUCIKARI

         Drama ini terdiri dari 3 babak, yang diperankan oleh Tumirah, Minah, Tumini,

Lastri dan para pelacur lain, Sukab, Mahmud, rombongan penari dan dangdut, para ninja,

para peronda dan orang kampung, seorang pengacara, wartawan, polisi, hakim, jaksa,

intel.

         Drama Tumirah Sang Mucikari menceritakan tentang lika-liku kehidupan para

pelacur saat pemberontakan antara pasukan pemerintahan dengan pasukan gerilyawan.

         Para pelacur itu tinggal di rumah-rumah bordir terletak di tepi hutan tidak jauh

dari tempat dua pasukan itu berperang. Pasukan pemerintah maupun para gerilyawan

menjadi langganan di rumah bordir. Rumah itu hanya berpintu kain dan beratap rumbia,

dindingnya kombinasi gedek dan kayu. Meskipun sederhana, rumah itu romantis, artistik

dan segalanya remang-remang. Di samping kamar-mamar juga terdapat ruang untuk

makan, minum dan ajojing. Sayup-sayup terdengar lagu dangdut dari radio.

         Suatu hari rombongan Didi Nini Thowok sebagai rombongan penari dan penyanyi

dangdut memeriahkan suasana di rumah itu bertujuan untuk mempengaruhi para pasukan

pemerintah dan gerilyawan datang ke rumah itu.. Malam itu rombongan Didi Nini

Thowok membawakan Tari Saminten Edan, kemudian Tumirah menyanyi lagu dangdut

berjudul “Hidupku Untuk Cinta”, semua orang saling berajojing. Ketika sedang asyik

berajojing, tiba-tiba rombongan ninja datang menyusup, mereka ikut ajojing dan para
pelacur melayani meskipun mengalami kebingungan. Setelah lagu berakhir, tiba-tiba

sejumlah ninja mengacau, ninja 1 menembakkan senapan mesin ke udara, ninja-ninja

lain segera mengacau, mengobrak-abrik bangunan bordir dan membakarnya. Para ninja

memperkosa para pelacur, rombongan yang mencoba membela dihajar dan ditendangi,

sebagian ada yang dibunuh. Para pelacur juga ada yang dibunuh karena terlalu sulit

diperkosa. Akhirnya kerusuhan selesai, ninja menghilang, sedangkan para pelacur sudah

terkapar penuh penderitaan. Mereka berpikir, walaupun bekerja sebagai pelacur tetapi

bila diperkosa harga diri mereka terasa diinjak-injak, mereka merasakan kepedihan yang

mendalam.

      Setelah kejadian itu, Tumirah yang menjadi germo dalam rumah itu selalu

didatangi oleh pengacara, wartawan, polisi, intel. Dia tidak mau menjawab segala

pertanyaan yang dilontarkan oleh tamu-tamunya itu, dia lebih baik diam daripada

membeberkan aib yang telah menimpanya.

      Para ninja tertawa penuh kemenangan. Tujuan mereka hanya ingin mengadu

domba agar perbuatan ini orang mengira adalah perbuatan pasukan pemerintah atau

pasukan gerilyawan. Jadi pasukan pemerintah akan mengira pelakunya pasukan

gerilyawan, begitu pula sebaliknya pasukan gerilyawan akan mengira pelakunya pasukan

pemerintah, sehingga orang akan bingung dan saling baku hantam. Apabila situasi sudah

kacau, para ninja akan mengambil alih kekuasaan. Dengan begitu kekuasaan itu akan

dipegang dan dipimpin oleh para ninja.

      Pada saat Sukab (pacar Tumirah) berda di rumah bordir bersama tUmirah, tiba-

tiba rombongan ninja datang datang dan menculik Sukab. Ternyata rencana menculik
Sukab hanya ingin memperalat Sukab agar dia dikira ninja yang telah membuat

kerusuhan di desa itu. Sukab didandani seperti ninja kemudian dia disuruh datang ke

desa itu, melihat ada ninja para peronda menangkap dan mengadilinya. Saat mengadili

Sukab yang berdandan seperti ninja orang kampung, para pelacur ikut menyaksikannya.

Orang kampung membuat hakim dan jaksa gadungan agar ada keadilan dalam memberi

hukuman.

      Akhirnya hakim memutuskan bahwa ninja tersebut diberi hukuman picis, oleh

karena itu penduduk saling berebut menyiksa ninja tersebut. Mereka menyilet tubuh

Sukab di seluruh bagian, dirasa kondisi Sukab lemas tak berdaya topeng penutup wajah

dibuka oleh Tumirah, alangkah terkejutnya dia melihat wajah pacarnya ada di depan

mata. Orang yang mereka kira ninja ternyata pacar Tumirah. Semua orang disitu kaget.

Mereka marah sekali karena telah ditipu oleh ninja biadab itu. Tumirah menangisi mayat

Sukab, para pelacur mendekat. Di lain pihak para ninja tertawa penuh kemenangan,

rencana yang telah mereka jalankan berjalan mulus. Para ninja sepakat akan terus

melakukan teror, menciptakan keresahan dan mengadu domba warga agar semua orang

saling bertarung, saling mencurigai. Mereka menginginkan pasukan pemerintah dan

pasukan gerilyawan bertempur terus sepanjang abad karena para ninja benci perdamaian.



2. DRAMA MENGAPA KAU CULIK ANAK KAMI

      Drama ini diperankan oleh bapak dan ibu Satria (anak yang diculik karena

bersikap kritis), terdiri dari 2 babak. Mengapa Kau Culik Anak Kami adalah sebuah

drama yang berisi percakapan antara bapak dan ibu tentang penculikan orang-orang yang
dirasa berbahaya oleh orang yang ingin menguasai negara. Putra mereka berdua, Satria

namanya juga menjadi korban atas penculikan itu karena dia kritis dan berani dalam

berbicara, dia juga berani mati demi membela tanah airnya.

       Percakapan itu dimulai pada saat ibu sedang membaca buku berjudul Cara

Melawan Teror, perlu dibaca oleh mahasiswa, aktivis, wartawan, penasehat hukum dan

berbagai profesi yang rawan teror. Kemudian dia jadi teringat anaknya yang diculik dan

mengingatkan suaminya agar dai selalu teringat anaknya.

       Mereka juga membicarakan tentang kejadian masa lalu, peristiwa penculikan dan

penganiayaan   orang.   Bapak    menggambarkan      bgaimn   penculik   merencanakan

penculikan, menentukan saat tepat untuk mengambil, mereka mengincar, saat tidak ada

orang mereka berani menculiknya supaya tidak ada saksi.

       Setelah itu para aktivis disiksa dengan cara disetrum kemudian disuruh tidur di

atas balok es untuk membuat para aktivis mengakui kesalahan apa saja yang dia perbuat,

padahal dia tidak pernah melakukan hal-hal yang menurut para penculik itu salah.

Mereka menginterograsi sambil mengemplang, sambil menyetrum menginginkan

jawaban seperti yang mereka kehendaki.

       Seorang ibu yang putranya ikut diculik merasa prihatin melihat keadaan para

aktivis yang menjadi korban penculikan. Dia membayangkan bagaimana keadaan

putranya di sana, apakah dia masih hidup atau sudah mati. Dia sangat

mengkhawatirkannya, kata orang yang terakhir kali melihat Satria, dia memakai kaos

oblong putih bertuliskan Hard Rock Café yang dikirim Yanti dari New York. Setelah itu

tak ada kabarnya lagi. Orang tuanya mengharap agar Satria masih hidup dan kenangan
putranya masih ada di rumah terkenang selamanya. Mereka merasa seolah-olah Satria

masih berada bersama mereka. Setiap hari ibu Satria menyiapkan sarapan untuk Satria

kalau tiba-tiba putranya yang telah menghilang itu pulang dengan selamat. Makanan

kesukaan satria selalu tersedia di atas meja makan yaitu roti pakai isi telor ceplok

setengah matang dilapisi beef bacon dan minumnya kopi susu.

       Sudah setahun lebih Satria tidak pulang. Setiap malam sang ibu berdo’a

mengharapkan keselamatan putranya. Dia menginginkan kejelasan, apakah Satria masih

hidup atau sudah mati. Apabila dia sudah mati karena dibunuh berkat pendiriannya itu

maka apapun pendiriannya, dia mati terhormat, hal itu sangat membanggakan kedua

orang tuanya. Tapi kalau memang dia disekap begitu lama sehingga mereka sekarang

belum kembali. “Mengapa, mengapa, mengapa, mengapa, mengapa kau culik anak

kami”. Begitulah jeritan hati kedua orang tua Satria.



3. DRAMA JAKARTA 2039

       Drama ini terdiri dari 3 babak yang diperankan oleh Clara, anak Clara, tukang

cerita, massa pembuat kerusuhan, perawat tua

       Peristiwa yang ada dalam drama ini sebenarnya adalah sebuh tragedi yang

diceritakan oleh Clara (sebagai pelaku utama) kepada tukang cerita. Tukang cerita itu

ingin mengerti kisah yang dialami Clara bertujuan untuk dibuat laporan. Clara bercerita

dengan bahasa yang sulit dimengerti, karena apa yang dialami dan dirasakan seolah-olah

tidak terkalimatkan. Kejadian yang dilontarkan oleh wanita cantik ini membuat batin

tersiksa, hingga membuat tukang cerita (biasa disebut lelaki berseragam) ini terharu
mendengarnya. Ceritanya terpatah-patah, kalimatnya tidak nyambung, kata-kata

bertebaran tak terangkai sehingga tukang cerita harus menyambung-nyambung sendiri.

      Cerita ini adalah cerita yang sudah dibuat dengan bahsa tukang cerita itu sendiri.

Pada suatu malam sekitar pukul 22.00 tepatnya tanggal 14 Mei 1998 ada gadis cantik

keturunan Tionghoa sedang mengendarai BMWnya menuju ke rumahnya.

      Di tengah jalan dia ditelpon mamanya agar jangan pulang karena ada kerusuhan

di kompleks rumahnya. Rumah-rumah tetangga sudah dijarah isinya dan dibakar

sedangkan keluarga Clara sudah dikepung oleh massa, papa, mama, dan kedua adiknya

yaitu Monica dan Sinta sudah terjebak di dalam rumah dan tidak bisa kemana-mana.

Mereka menyuruh Clara menyelamatkan diri ke Singapura atau Hongkong, rumah om

dan tantenya. Tetapi Clara tidak menggubris omongan mamanya, dia tetap melaju

mobilnya malah bertambah cepat. Mendengar semua itu hatinya panik, ingin sekali

membantu keluarganya yang dalam kesusahan. Dia melaju lewat jalan tol supaya cepat

sampai di rumah. Dia tancap gas BMWnya melaju seperti terbang. Jalan tol itu sepi,

hanya dalam 10 menit dia segera tiba di rumah. Tapi di ujung jalan dia melihat

segerombolan orang. Dia mengendarai mobil pelan-pelan sambil menginjak rem sedikit-

sedikit, tiba-tiba dia menginjak rem dengan kerasnya hingga terdengar suara ciiiiit.

Orang-orang mengetuk-ngetuk kaca mobil dengan keras, dia disuruh turun dari mobil.

Clara segera membuka kaca jendela, setelah orang-orang tahu kalau dia gadis Tionghoa,

dia dipaksa keluar, setelah keluar gadis itu ditendang hingga pipinya menempel di

permukaan bergurat dengan aspal. Lantas tasnya diambil, isinya diambil ke jalan
dompetnya segera diambil uang sejuta rupiah langsung dibagi-bagi setengah rebutan.

Kemudian mereka secara bergiliran memperkosa Clara.

      Dia menceritakan semuanya pada tukang cerita itu, tak berapa lama kemudian

Clara tertidur dengan pulas, tanpa sepengetahuannya ternyata tukang cerita itu sudah

berada di atas tubuhnya dia kaget dan menangis. Tukang cerita itu bercerita bahwa tadi

tak sengaja melihat lekuk tubuh Clara yang memperlihatkan bagian atas tubuhnya,

tampaklah tukang cerita itu terangsang dan ia memandang ludah ketika memandangnya,

jadi dia tak kuasa melihat pemandangan itu. Clara kembali menangis, mengapa hidupnya

begitu menyedihkan.

      Pada tanggal 14 Februari 2039 anak Clara sudah besar, dia tingga di sebuah

apartemen sendirian. Waktu masih kecil dia dipungut oleh seorang psangan suami istri

kaya yang belum mempunyai anak. Dia mengetahui hal ini setelah ditinggal mama dan

papa tirinya. Mereka meninggal dunia dan menceritakan semuanya kepada anak Clara.

Kemudian dia mencari data tentang asal usulnya di Yayasan Cinta Kasih, yayasan yang

telah dititipkan anak itu olah Clara, tetapi semua petugas di yaysan itu tang

mengetahuinya karena arsipnya telah hilang. Ada petugas yang memberitahu bahwa ada

perawat tua yang mungkin mengetahui asal usulnya.

      Tanpa pikir panjang, dia langsung menemui perawat tua itu, perempuan itu

sedang berbaraing karena sakit. Dia menceritakan bahwa anak Clara itu adalah anak dari

seorang wanita keturunan Tionghoa yang telah diperkosa beramai-ramai dalam

kerusuhan masal di Jakarta pada tanggal 13-14 Mei 1998. selama hamil, ibunya sakit

jiwa, tidak pernah bicara, tidak pernah tertawa dan sering membentur-benturkan
kepalanya ke tembok. Begitu lahir, ibunya langsung sembuh. Anak Clara diserahkan

kepada Yayasan Cinta Kasih dengan sebuah keranjang yang diletakkan di muka pintu.

Akhirnya anak dan ibu tidak bertemu, kerinduan ini tidak akan bisa terobati karena

mereka sama-sama tidak mengetahui wajah ibu dan anak itu.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:25541
posted:2/20/2010
language:Indonesian
pages:104