; proposal skripsi bab I dan II p. Matematika 7D ikip pgri madiun 2010 Harisset
Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out
Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

proposal skripsi bab I dan II p. Matematika 7D ikip pgri madiun 2010 Harisset

VIEWS: 3,005 PAGES: 33

  • pg 1
									                                     BAB I

                              PENDAHULUAN



A. Latar Belakang

          Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah, kegiatan belajar

   mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Keberhasilan pencapaian

   tujuan pendidikan terutama ditentukan oleh proses belajar mengajar yang

   dialami siswa. Siswa yang belajar akan mengalami perubahan baik dalam

   pengetahuan, pemahaman, ketrampilan, nilai dan sikap. Agar perubahan

   tersebut dapat tercapai dengan baik, maka diperlukan barbagai faktor. Adapun

   faktor untuk menghasilkan perubahan yang diharapkan yaitu bagaimana cara

   untuk mengefektifkan pemahaman konsep. Karena pemahaman konsep

   merupakan salah satu tujuan yang dicapai dari kegiatan belajar mengajar yang

   ditandai dengan adanya perubahan seperti tersebut di atas.

          Dalam dunia pendidikan, pemahaman konsep merupakan faktor yang

   sangat penting, karena pemahaman konsep yang dicapai siswa tidak dapat

   dipisahkan dengan masalah pembelajaran. Untuk mencapai pemahaman

   konsep yang baik diperlukan suasana belajar yang tepat, agar siswa senantiasa

   meningkatkan aktivitas belajarnya dan bersemangat. Proses pembelajaran

   yang menarik dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa. Dengan demikian,

   diharapkan pemahaman konsep siswa dapat berkembang. Dengan efektifnya

   pemahaman konsep, berarti tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan baik.




                                       1
          Rendahnya pemahaman konsep siswa terjadi karena rendahnya

   motivasi siswa dalam belajar matematika terutama pada pokok bahasan

   Persamaan Linear satu Variabel. Penyebab utama rendahnya motivasi siswa

   karena kurangnya variasi model pembelajaran dan guru kurang dapat memilih

   model pembelajaran yang tepat. Selama ini yang terjadi, pembelajaran hanya

   berpusat pada guru, dan siswa tidak dilibatkan secara aktif.

       Metode Examples non examples dan Numbered Heads Together sesuai

dengan materi garis dan sudut karena melalui Examples non examples, siswa akan

diberi gambar dan petunjuk materi, kemudian siswa meganalisa gambar.

Sedangkan guru membimbing jika siswa mengalami kesulitan, sehingga siswa

akan bersikap aktif, mandiri, dan bertanggung jawab dalam menyeleseikan

permasalahannya. Pada metode Numbered head together siswa akan diberikan

permasalahan atau soal untuk didiskusikan dan dikerjakan secara berkelompok,

sehingga siswa dapat saling bertukar pikiran dalam menyeleseikan permasalahan.

Meskipun demikian, guru tetap membimbing setiap kelompok jika ada kelompok

yang mengalami kesulitan dalam menyeleseikan permasalahan yang ditugaskan.

       Berdasarkan uraian diatas, mendorong peneliti untuk membandingkan

prestasi belajar antara metode Examples non examples dengan metode Numbered

heads together pada siswa kelas VIIA dan VIIB Semester II SMPN 2 Wungu,

Kabupaten Madiun, Tahun Pelajaran 2009/2010.




                                        2
B. Identifikasi Masalah

       Berdasarkan    uraian   pada    latar   belakang   masalah,   maka   dapat

diidentifikasikan permasalahan sebagai berikut :

       1. Perbedaan metode Examples non examples dan metode Numbered

           heads together terhadap prestasi belajar.

       2. Faktor-faktor yang menyebabkan salah satu dari kedua metode

           pembelajaran tersebut lebih baik.



C. Batasan Masalah

       Supaya pembahasan tidak terlalu luas, maka peneliti membatasi masalah

sebagai berikut :

       1. Perbedaan Metode Examples non examples dan metode Numbered

           heads together terhadap prestasi belajar matematika siswa kelas VIIA

           dan VIIB SMPN 2 Wungu, Kab. Madiun, Tahun Pelajaran 2009/2010

       2. Faktor-faktor yang menyebabkan salah satu dari kedua metode

           pembelajaran tersebut yang lebih baik.

D. Rumusan Masalah

       Keberhasilan suatu proses pembelajaran tidak hanya ditekankan pada

produk atau hasil belajar siswa, tetapi juga ditekankan pada metode pembelajaran

yang digunakan. Karena metode pembelajaran yang sesuai dengan materi akan

mempengaruhi keberhasilan dalam proses pembelajaran. Peneliti menggunakan

dua metode yaitu metode Examples non examples dan metode Numbered heads

together. Kedua metode pembelajaran ini melibatkan keaktifan siswa dan memacu


                                         3
siswa berfikir kritis. Dalam penelitian ini, akan dibandingkan metode Examples

non examples dan metode Numbered heads together yang berdasarkan pada hasil

belajar matematika siswa materi PLSV.

       Berdasarkan pada identifikasi masalah dan batasan masalah, dapat

dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

       1. Apakah ada perbedaan metode Examples non examples dan metode

          Numbered heads together terhadap prestasi belajar matematika siswa

          kelas VIIA dan VIIB SMPN 2 Wungu, Kab. Madiun Tahun Pelajaran

          2009/2010?

       2. Apakah faktor yang menyebabkan salah satu dari kedua metode

          pembelajaran tersebut lebih baik?




E. Tujuan Penelitian

       Tujuan dari penelitian ini adalah :

       1. Untuk mengetahui perbedaan metode Examples non examples dan

          metode Numbered heads together terhadap prestasi belajar siswa kelas

          VIIA dan VIIB SMPN 2 Wungu, Kab. Madiun Tahun Pelajaran

          2009/2010.




                                         4
      2. Untuk mengetahui faktor yang menyebabkan salah satu dari kedua

          metode pembelajaran yang lebih baik.



F. Manfaat Penelitian

      1. Bagi guru matematika

           Sebagai masukan supaya dapat memilih metode pembelajaran yang

          tepat dan sesuai dengan materi.

      3. Bagi Peneliti

          Sebagai Pengetahuan tentang perbedaan antara metode Examples non

          examples dan metode Numbered heads together

      4. Bagi Siswa

          Memberikan motivasi untuk meningkatkan belajarnya, dan mendorong

          siswa untuk berfikir kritis dan lebih termotivasi dalam memahami

          konsep garis dan sudut.

      5. Bagi Sekolah

          Dapat meningkatkan mutu pelajaran matematika khususnya konsep

          PLSV




          .


                                       5
                                     BAB II


           KAJIAN PUSTAKA DAN HIPOTESIS PENELITIAN




A. Kajian Pustaka


   1. Pengertian Belajar


                Menurut pengertian secara psikologis, Belajar merupakan suatu

         proses perubahan yaitu perubahan dalam tingkah laku sebagai hasil

         dari interaksi dengan lingkungannya dalam memenuhi kebutuhan

         hidupnya.


                Menurut Sudjana (2000:86) Belajar adalah kegiatan seseorang

         yang belajar baik dilakukan secara sengaja maupun secara kebetulan.


                Menurut Winkel (1987:360) Belajar adalah suatu aktifitas

         mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan

         lingkungan    yang     menghasilkan     perubahan-perubahan    dalam

         pengetahuan, pemahaman, ketrampilam dan nilai sikap serta

         perubaham itu bersifat relatif konstan dan berbekas.


                Menurut Oemar Hamalik (2003:28) Belajar adalah suatu proses

         perubahan tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan.


                Dalam arti luas, proses belajar dapat dipahami dengan salah

         satu bentuk aktifitas psikis atau mental yang belangsung dalam proses

                                      6
      interaksi aktif dengan lingkungan, yang menghasilkan perubahan-

      perubahan dalam pengetahuan kognitif, pemahaman, nilai sikap dan

      ketrampilan. Konteks perubahan tersebut Nampak dalam tingkah laku

      siswa atau prestasi siswa.


              Menurut Slameto (1987:3) Belajar adalah suatu proses usaha

      yang dilakukan individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah

      laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu

      itu sendiri.


              Berdasarakan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa Belajar

      adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memperoleh

      suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai

      hasil pengalaman individu itu sendiri melalui interaksi dengan

      lingkungan.


2. Pengertian Prestasi Belajar


              Menurut Purwodarminto (1985:768) Prestasi belajar adalah

      hasil yang telah dicapai (dilakukan, dikerjakan dan sebagainya) dengan

      damikian pengertian prestasi dapat dikatakan sebagai hasil yang telah

      dicapai dari kegiatan belajar. Hasil ini bisa berupa pengetahuan,

      ketrampilan, tingkah laku, sikap maupun nilai.


              Prestasi belajar yang diperoleh siswa dalam pengalaman

      intelektualitasnya merupakan salah satu bukti yang menunjukkan

      keberhasilan siswa di sekolah. Menurut Sumadi Suryabrata (1984:3)
                                  7
      dikatakan bahwa prestasi belajar merupakan nilai yang tercantum

      dalam rapor dan merupakan perumusan terakhir yang diberikan guru

      mengenai kemajuan atau prestasi siawa selama masa tertentu.

      Sedangkan Muhibbin Syah (1995:45) mengatakan bahwa prestasi

      belajar    adalah   perubahan       segenap   ranah   psikologis   sebagai

      pengalaman dan proses belajar siswa.


                Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa

      pengertian prestasi belajar adalah suatu hasil interaksi yang telah

      dicapai seseorang berupa pengetahuan, ketrmpilan, tingkah laku, sikap

      maupun nilai dari kegiatan belajar.




3. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar


                Prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor

      baik yang berasal dari diri siswa itu sendiri (internal) maupun dari luar

      diri siswa (eksternal).


                Menurut Uzer Usman (1993:9-10) ada beberapa factor yang

      dapat mempengaruhi prestasi belajar yaitu:


      a. Faktor yang berasal dari diri siswa sendiri (Internal), meliputi:


          1. Faktor Jasmaniah


                 Kesehatan


                                      8
       Kesehatan adalah keadaan atau hal sehat.


    Cacat tubuh


       Cacat tubuh adalah sesuatu yang menyebabkan kurang baik

       atau kurang sempurna mengenai tubuh atau badan.


2. Faktor Psikologis


    Intelegensi


       Intelegensi adalah kecakapan yang terdiri dari tiga jenis

       yaitu kecakapan untuk menghadapi dan menyesuaikan ke

       dalam situasi yang baru dengan cepat dan efektif,

       mengetahui/ menggunakan konsep-konsep yang abstrak

       secara efektif, mengetahui relasi dan mempelajarinya

       dengan cepat.


    Perhatian


       Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa

       harus   mempunyai        perhatian   terhadap   bahan   yang

       dipelajarinya. Bahan pelajaran sebaiknya menarik perhatian

       agar anak tidak bosan.


    Minat


       Minat    adalah    kecenderungan       yang     tetap   untuk

       memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan.

                         9
        Bakat


           Bakat adalah kemampuan untuk belajar, adalah penting

           untuk mengtahui bakat siswa dan menempatkan siswa

           belajar di sekolah sesuai dengan bakatnya.


        Motif


           Motif erat sekali hubungannya dengan tujuan yang akan

           dicapai.


        Kematangan


           Kematangan adalah suatu tingkat/ fase dalam pertumbuhan

           seseorang dimana tubuhnya sudah siap untuk melaksanakan

           kecakapan baru.


        Kesiapan


          Kesiapan untuk memberi respon atau bereaksi. Kesiapan itu

          timbul dari dalam diri seseorang dan juga berhubungan

          dengan kematangan.


b. Faktor-faktor yang berasal dari luar diri sendiri (Eksternal),

   meliputi:


   1. Faktor sosial, terdiri atas:


      a. Lingkungan keluarga:


                             10
    Hubungan antar orang tua


    Hubungan antar orang tua dan anak


    Keadaan sosial ekonomi keluarga


   b. Lingkungan sekolah:


       Guru


       Kurikulum


       Organisasi sekolah


       Keadaan fisik sekolah dan fasilitas pendidikan


       Hubungan sekolah dengan orang tua


       Lokasi sekolah


   c. Lingkungan masyarakat


2. Faktor budaya


3. Faktor lingkungan spiritual/keagamaan




                       11
4. Prestasi Belajar Matematika


          Prestasi belajar matematika dapat dipahami melalui nilai yang

   diperoleh siswa sebagai akibat adanya proses belajar matematika

   dalam kurun waktu tertentu yang diberikan oleh guru matematika

   kepada siswa-siswanya.


5. Pembelajaran Kooperatif
a. Pengertian Pembelajaran Kooperatif
          Pembelajaran kooperatif mencakup suatu kelompok kecil siswa
   yang bekerja sebagai sebuah tim untuk menyelesaikan suatu masalah,
   menyelesaikan suatu tugas atau mengerjakan sesuatu untuk mencapai
   tujuan bersama lainnya. Bukanlah pembelajaran kooperatif jika siswa
   duduk bersama dalam kelompok-kelompok kecil dan mempersilakan
   salah seorang diantaranya untuk menyelesaikan pekerjaaan seluruh
   kelompok. Pembelajaran kooperatif menekankan pada kehadiran
   teman sebaya yang berinteraksi antar sesamanya sebagai sebuah tim
   dalam menyelesaikan atau membahas sebuah masalah atau tugas.
b. Ciri-ciri Pembelajaran Kooperatif
    i. Siswa   bekerja   dalam    kelompok   secara   kooperatif   untuk
       menuntaskan materi belajarnya.
   ii. Kelompok dibentuk dari siswa yang memiliki kemampuan tinggi,
       sedang, dan rendah.
  iii. Bilamana mungkin, anggota kelompok barasal dari ras, budaya,
       suku, jenis kelamin berbeda-beda.
  iv. Penghargaan lebih berorientasi kelompok ketimbang individu.
c. Tujuan Pembelajaran Kooperatif
    i. Hasil Belajar Akademik
   ii. Penerimaan terhadap Perbedaan Individu
  iii. Pengembangan Ketrampilan Sosial

                                 12
d. Langkah-langkah Pembelajaran Kooperatif
             Fase                             Kegiatan guru
  Fase 1
   Menyampaikan tujuan Guru menyampaikan semua tujuan pelajaran yang
   dan memotivasi siswa   ingin   dicapai    pada    pelajaran tersebut    dan
                          memotivasi siswa belajar.
  Fase 2
   Menyajikan informasi   Guru menyajikan informasi kepada siswa dengan
                          jalan demonstrasi atau lewat bahan bacaan.
  Fase 3
   Mengorganisasikan      Guru menjelaskan kepada siswa bagaimana
   siswa      ke    dalam caranya      membentuk     kelompok    belajar   dan
   kelompok-kelompok      membantu setiap kelompok agar melakukan
   belajar                transisi secara efisien.
  Fase 4
   Membimbing             Guru membimbing kelompok-kelompok belajar
   kelompok bekerja dan pada saat mereka mengerjakan tugas mereka.
   belajar
  Fase 5
   Evaluasi               Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi
                          yang      telah   dipelajari   atau   masing-masing
                          kelompok mampresentasikan hasil belajarnya.
  Fase 6
   Memberikan             Guru mencari cara-cara untuk menghargai baik
   penghargaan            upaya maupun hasil belajar individu maupun
                          kelompok.




                                  13
6.   Metode Examples Non Examples dan Numbered Head Together


        Metode Examples Non Examples dan Numbered Head Together

merupakan metode pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran

kooperatif tidak sama dengan sekedar belajar dalam kelompok. Ada unsur-

unsur dasar pembelajaran kooperatif yang membedakan, antara lain:

Saling ketergantungan positif, Tanggung jawab perseorangan, Tatap muka,

Komunikasi antar anggota dan proses belajar kelompok. Pelaksanaan

model pembelajaran kooperatif dengan benar akan memungkinkan

pendidik mengelola kelas dengan lebih            efektif. Sehingga   akan

menghasilkan prestasi belajar siswa tidak sama dengan prestasi belajar

yang diajar dengan pembelajaran yang klasikal.


a. Metode Examples non Examples


Langkah-langkah dalam Metode pembelajaran Examples non examples :


1. Guru menyiapkan gambar-gambar sesuai dengan tujuan pembelajaran


2. Guru menempatkan gambar dipapan atau ditayangkan melalui OHP


3. Guru memberi petunjuk dan memberi kesempatan pada siswa untuk

     memperhatikan atau menganalisa gambar.


4. Melalui diskusi kelompok 2-3 orang siswa, hasil diskusi dari analisa

     gambar tersebut dicatat pada kertas


5. Tiap Kelompok diberi kesempatan membaca hasil diskusinya


                                 14
6. Mulai dari komentar/ hasil diskusi siswa, guru mulai menjelaskan

   materi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.


b. Metode Numbered Head Together (NHT)


Langkah-langkah dalam Metode pembelajaran Numbered Head Together

(NHT) :


1. Siswa dibagi dalam kelompok, setiap siswa dalam setiap kelompok

   mendapat nomor.


2. Guru    memberikan       tugas    dan    masing-masing   kelompok

   mengerjakannya.


3. Kelompok mendiskusikan jawaban yang benar dan memastikan tiap

   anggota kelompok dapat mengerjakannya / mengetahui jawabannya.


4. Guru memangil salah satu nomor siswa dengan nomor yang dipanggil

   melaporkan hasil kerja sama mereka.


5. Tanggapan dari teman lain, kemudian guru menunjuk nomor yang lain.


6. Kesimpulan




                               15
B. Kerangka Berpikir
          Metode pembelajaran merupakan salah satu komponen dalam
   pembelajaran yang mempunyai arti kegiatan-kegiatan guru selama proses
   pembelajaran berlangsung. Semakin tepat memilih metode pembelajaran
   diharapkan makin efektif dalam mencapai tujuan. Oleh karena itu guru perlu
   memperhatikan dalam memilih metode pembelajaran sehingga jangan sampai
   keliru dalam menentukan metode pembelajaran yang berakibat kurang
   efektifnya pembelajaran di sekolah.
          Metode pembelajaran model Exampels non Exampels dan NHT
   merupakan model pembelajaran yang mempunyai strategi pembelajaran
   penerapan bimbingan antar teman. Dalam pembelajaran ini siswa diberi
   Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk dikerjakan secara kelompok sehingga dapat
   menghantarkan siswa memahami konsep.
          Melalui metode ini siswa diajak belajar mandiri, dilatih untuk
   mengoptimalkan kemampuannya dalam menyerap informasi ilmiah yang
   dicari, dilatih menjelaskan temuannya kepada pihak lain dan dilatih untuk
   memecahkan masalah. Jadi melalui metode ini siswa diajak berpikir dan
   memahami materi pelajaran, tidak hanya mendengar, menerima dan
   mengingat-ingat saja. Namun dengan metode ini keaktifan, kemandirian dan
   ketrampilan siswa dapat dikembangkan, sehingga pemahaman materi
   diharapkan dapat dikembangkan dan akhirnya pemahaman konsep yang
   diperoleh dapat berkembang secara PLSV sangat tepat apabila disampaikan
   dengan menggunakan model pembelajaran Exampels non Exampels dan NHT



C. Hipotesis Penelitian


              Sesuai dengan masalah yang dikemukakan dalam penelitian ini,

      penulis dapat mengajukan hipotesis sebagai berikut:




                                         16
         1. Ada perbedaan prestasi belajar antara          metode    Examples non

            Examples dengan Numbered Head Together (NHT)




D. MATERI


Materi


         Memahami bentuk aljabar, persamaan dan pertidaksamaan linier
         satu variabel.




         a. kalimat benar dan kaliamat salah
            Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai berbagai macam
            kalimat, misalnya :
            1. Susilo Bambang Yudoyo adalah Presiden RI sekarang.
                Kalimat tersebut merupakan kalimat benar.
            2. Monas terletak di Solo.
                Kalimat tersebut merupakan kalimat salah.
         b. kalimat Terbuka
            kalimat yang belum dapat ditentukan benar atau salahnya, misalnya:
            1. Satu minggu ada x hari.
            2. X + 2 < 5
         c. Menyelesaikan kalimat terbuka
            1. Satu minggu ada x hari.
                Penyelesaiaan : Kaliamat tersebut akan bernilai benar jika x diganti
                                  7. dan kalimat akan bernilai salah jika x diganti 6
                                  atau bilangan lain selain 7.
            2. X+2 < 5


                                          17
       Penyelesaiaan : kalaimat tersebut akan bernilai banar jika x diganti
                         1 dan 2. dan kalimat tersebut akan bernilai salah
                         jika jika x diganti 3 dan seterusnya.
d. Memahami Persamaan Linier Satu Variabel ( PLSV )
   ► Persamaan Linier adalah kalimat terbuka yang memiliki hubungan
       sama denagn dan variabelnya berpangkat satu.
   ► Persamaan Linier        Satu Variabel adalah Persamaan linier yang
       memuat satu variabel.
       Contoh : 2x – 3 = 1
e. menyelesaikan persamaan dengan subtitusi.
Artinya : Menyelesaiakan persamaan dengan mengganti variabel dengan
bilangan-bilangan yang telah ditentukan sehingga persamaan tersebut
menjadi kalimat benar.


   a. Persamaan yang ekuivalen
       Dengan dengan persamaan atau dikatakan ekuivalen jika
       mempunyai penyelesaiaan yang sama notasi ekuivalen adalah
       Conntoh :
       X+5 = 12        2 x  10  24
       Jadi x + 5 = 12 dan 2x + 10 =24 adalah setara.
   b. menyelesaiakan persamaan dengan menambah atau mengurangi
       kedua ruas dengan bilangan yang sama.
       Setiap persamaan tetap ekuivalen jika kedua ruas persamaan
       ditambah atau dikuarangi dengan bilangan yanag sama.
       Contoh :
       X + 6 = 10
    x  6  6  10  6         kedua ruas dikurangi 6
       Jadi X + 6 = 10  x  6  6  10  6 setara.
   c. Menyelesaiakan persamaan dengan mengalikan atau membagi
       kedua ruas dengan bilangan yang sama.


                                 18
Setiap persamaan tetap ekuivalen jika kedua ruas persamaan dikali
atau dibagi dengan bilangan yanag sama.
Contoh :
    2x = 10
    2    10
     x                kedua ruas dibagi 2
    2     2
                 2    10
Jadi 2x = 10      x    setara
                 2     2




                         19
                                    BAB III
                           METODE PENELITIAN




A. Metode Penentuan Obyek Penelitian
   1. Populasi
               Populasi   adalah   keseluruhan   subyek   penelitian   (Arikunto,
      2002:108). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah
      seluruh siswa kelas VII semester II SMPN 2 WUNGU MADIUN yang
      terdiri dari tujuh kelas, yaitu VIIA, VIIB, VIIC, VIID, VIIE, VIIF, dan
      VIIG. Penetapan populasi yang menjadi sasaran penelitian beserta
      karakteristiknya merupakan hal yang penting sebelum menentukan sampel
      penelitian.
   2. Sampel
               Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti
      (Arikunto, 2002:109). Dalam penelitian ini pengambilan sampel dilakukan
      secara random, yaitu dengan mengambil dua kelas dari populasi dengan
      syarat kedua kelas tersebut homogen.
               Pada penelitian ini, penulis mengambil secara acak dua kelas
      sebagai kelas eksperimen.. Sampel ditentukan dengan cara sampling
      klaster. Dalam sampling ini, populasi dibagi-bagi menjadi beberapa kelas.
      Secara acak kelas-kelas yang diperlukan diambil dengan proses
      pengacakan. Setiap anggota yang berada di dalam kelas yang diambil
      secara acak tadi merupakan sampel yang diperlukan.
      a. Kelompok eksperimen I
         Pada kelompok ini akan diberikan suatu treatment atau perlakuan yang
         dalam hal ini adalah model pembelajaran Exampels dan Non
         Exampels. Dalam hal ini yang menjadi kelompok eksperimen adalah
         kelas VII D.
      b. Kelompok eksperimen II


                                       20
             Pada kelompok ini akan diberikan suatu treatment atau perlakuan yang
             dalam hal ini adalah model pembelajaran NHT. Dalam hal ini yang
             menjadi kelompok eksperimen II adalah kelas VIIB.
B. Variabel Penelitian
             Variabel adalah obyek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian
   suatu penelitian (Arikunto, 2002:96). Dalam penelitian ini ada dua variabel
   yaitu :
   1. Variabel bebas
       Variabel bebas adalah variabel yang akan dipelajari pengaruhnya terhadap
       variabel terikat (Rianto, 1996:12)
       Dalam penelitian ini yang menjadi variabel bebas adalah model
       pembelajaran kooperatif tipe Exampels Non Exampels dan NHT.
   2. Variabel terikat
       Variabel terikat adalah variabel yang menjadi titik pusat permasalahan
       (Rianto, 1996:12).
       Dalam penelitian ini yang menjadi variabel terikat adalah prestasi belajar
       pokok bahasan PLSV pada siswa kelas VII semester II SMPN 2 Wungu
       Madiun Tahun Ajaran 2009/2010
C. Metode Pengumpulan Data
             Mengumpulkan data merupakan kegiatan penting dalam sebuah
   penelitian. Dengan adanya data-data itulah peneliti menganalisisnya untuk
   kemudian dibahas dan disimpulkan dengan panduan serta referensi-referensi
   yang berhubungan dengan penelitian tersebut. Sedangkan yang dimaksud
   dengan data adalah hasil pencatatan peneliti, baik berupa fakta maupun angka
   (Arikunto, 2002:96).
             Adapun metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :
   1. Metode Dokumentasi
       Metode dokumentasi berarti cara mengumpulkan data dengan mancatat
       data yang sudah ada (Rianto, 1996:83). Dalam penelitian ini, peneliti
       mengumpulkan data berupa nama-nama siswa kelas VII dan nilai raport
       matematika semester I.
                                         21
2. Metode Observasi
   Metode ini digunakan untuk memperoleh data mengenai kemampuan
   pengelolaan pembelajaran kooperatif tipe Exampels Non Exampels dan
   NHT oleh guru dan aktivitas siswa dalam memahami konsep. Adapun
   aspek yang diamati dalam pengelolaan pembelajaran kooperatif tersebut
   oleh guru adalah :
   a. menyampaikan tujuan pembelajaran;
   b. memberi motivasi kepada siswa;
   c. menyiapkan materi bahan ajar yang harus dikerjakan kelompok;
   d. menjelaskan materi baru secara singkat;
   e. membagi siswa dalam kelompok;
   f. membimbing kelompok-kelompok dalam merumuskan masalah;
   g. membimbing diskusi kelompok dalam memecahkan permasalahan
      kelompok;
   h. memberikan kesempatan siswa bertanya dan menjawab pertanyaan
      baik kepada guru maupun sesama siswa;
   i. memberi tes kecil;
   j. membimbing siswa menarik kesimpulan.
   Sedangkan aspek yang diamati pada aktivitas siswa adalah :
   i. siswa mampu menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari;
   ii. siswa mampu mengklasifikasikan objek-objek berdasarkan dipenuhi
      tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut;
   iii. siswa mampu menerapkan konsep secara algoritma;
   iv. siswa mampu memberikan contoh atau kontra contoh dari konsep yang
      telah dipelajari;
   v. siswa mampu menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk
      representasi matematika;
   vi. siswa mampu mengaitkan berbagai konsep;
   vii. siswa mampu mngembangkan syarat perlu dan atau syarat cukup suatu
      konsep.


                                  22
   3. Metode Tes
      Metode tes ini digunakan untuk mendapatkan data nilai hasil belajar
      pemahaman konsep matematika pada pokok bahasan PLSV setelah
      diadakan perlakuan yang berbeda. Dalam penelitian ini, tes diberikan
      hanya satu kali kepada kelompok eksperimen dan kelompok kontrol, tes
      ini diberikan setelah kelompok eksperimen dikenai perlakuan (treatment)
      yang dalam hal ini adalah model pembelajaran Exampels non Exampels
      dan NHT pada kelas kontrol, dengan tujuan untuk mendapatkan data akhir.
      Tes ini diberikan kepada kedua kelompok dengan alat yang sama. Hasil
      pengolahan data ini digunakan untuk menguji hipotesis penelitian.
D. Prosedur Penelitian
          Langkah-langkah yang ditempuh dalam penelitian ini adalah :
   1. Pembuatan Instrumen Penelitian
                Untuk kepentingan penelitian, instrumen yang digunakan dalam
      penelitian ini adalah instrumen tes. Tes yang peneliti gunakan berupa tes
      uraian, yaitu sejenis tes untuk mengukur prestasi belajar siswa yang
      memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian kata-kata, soal
      bentuk ini menuntut kemampuan siswa untuk dapat mengorganisir,
      menginterpretasikan dan menghubungkan pengertian-pengertian yang
      telah dimiliki, dengan kata lain tes uraian menuntut siswa untuk dapat
      mengingat kembali dan terutama harus mempunyai daya kreativitas yang
      tinggi.
                Adapun kebaikan-kebaikan tes bentuk uraian adalah :
      a. mudah disiapkan dan disusun;
      b. tidak memberi banyak kesempatan untuk berspekulasi dan untung-
          untungan;
      c. mendorong siswa untuk berani mengemukakan pendapat serta
          menyusun dalam kalimat yang bagus;
      d. dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami suatu masalah yang
          diteskan.
                                                           (Arikunto, 2002:163).
                                       23
           Sedangkan langkah-langkah pembuatan instrumen penelitian ini
   adalah sebagai berikut :
   a. pembatasan terhadap bahan yang diteskan;
       Bahan yang akan diteskan adalah PLSV.
   b. menentukan waktu yang disediakan;
       Jumlah waktu yang disediakan untuk tes uji coba adalah 90 menit.
   c. menentukan jumlah soal;
       Banyaknya butir soal yang akan diteskan untuk uji coba adalah 12
       soal.
   d. menentukan tipe soal;
       Tipe soal yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah tes uraian.
   e. menentukan kisi-kisi soal.
2. Uji Coba Instrumen Penelitian
         Uji coba instrumen merupakan langkah yang sangat penting dalam
   proses pengembangan instrumen, karena dari uji coba inilah diketahui
   informasi mengenai mutu instrumen yang digunakan. Uji coba dalam
   penelitian ini, dilakukan dengan cara menberikan tes kepada kelompok
   yang bukan merupakan sampel penelitian, melainkan kelompok lain yang
   masih satu populasi, serta kelompok uji coba ini harus normal dan
   homogen.
         Dalam penelitian ini uji coba instrumen dilakukan pada siswa kelas
   VII SMPN 2 Wungu Madiun. Jumlah soal yang diujicobakan sebanyak 12
   butir soal. Adapun analisis yang digunakan dalam pengujian instrumen ini
   meliputi validitas, taraf kesukaran, daya pembeda, dan reliabilitas.
         Langkah-langkah analisisnya adalah sebagai berikut :
   a. Validitas
       Sebuah tes dikatakan valid apabila tes tersebut dapat mengukur apa
       yang hendak diukur (Arikunto, 2002:65).
       Dalam penelitian ini, validitas yang dicari adalah validitas isi karena
       instrumen yang digunakan bertujuan untuk mengukur tingkat
       pemahaman konsep siswa terhadap materi pelajaran.
                                    24
   Adapun rumus yang digunakan untuk mencari validitas instrumen tes
   adalah rumus korelasi product moment , yaitu :
                          N  XY   X  Y
   rxy 
                N  X   2
                                          
                                X  N  Y 2   Y 
                                      2                   2
                                                              
   keterangan :
   rxy          = koefisien korelasi tiap item

   N            = banyaknya subjek uji coba

    X = jumlah skor item
    Y = jumlah skor total
    X = jumlah kuadrat skor item
            2




    Y = jumlah kuadrat skor total
           2



    XY = jumlah perkalian skor total dan skor item
   Kemudian hasil rxy dikonsultasikan dengan r tabel product moment

   dengan   5% , jika r hitung < dari r tabel, maka alat ukur dikatakan
   valid.
                                                                   (Arikunto, 2000:72)
b. Taraf Kesukaran
   Teknik perhitungan taraf kesukaran butir soal adalah menghitung
   berapa persen testi yang gagal menjawab benar atau ada di bawah
   batas lulus (passing grade) untuk tiap-tiap item.
   Adapun rumus yang digunakan untuk mencari taraf kesukaran soal
   bentuk uraian adalah :
           jumlah             tes     yang gagal
   TK                                           X 100%
             jumlah             peserta     tes
   Dalam penelitian ini testi dikatakan gagal jika tingkat kebenaran dalam
   menjawab kurang dari 65%.
   Untuk menginterpolasikan nilai taraf kesukaran soal digunakan tolok
   ukur sebagai berikut :

                                               25
   0%  TK  27%                       soal mudah
   28%  TK  72%                      soal sedang
   73%  TK  100%                     soal sukar
                                                                (Arifin, 1991:135)
  Untuk memperoleh hasil belajar yang baik, sebaiknya proporsi antara
  tingkat kesukaran item dijabarkan dengan asumsi bahwa kelompok
  siswa (testi) itu distribusinya secara normal sehingga proporsi tersebut
  dapat diatur sebagai berikut :
   item sukar 25%, item sedang 50%, item mudah 25% atau
   item sukar 20%, item sedang 60%, item mudah 20% atau
   item sukar 15%, item sedang 70%, item mudah 15%
  Dapat dikatakan bahwa penyusunan suatu item dilakukan dengan
  mempertimbangkan tingkat kesukaran item, maka diharapkan hasil
  yang           didapat       siswa    dapat   menggambarkan     prestasi   yang
  sesungguhnya.
                                                                (Arifin, 1991:134)
c. Daya Pembeda
  Teknik yang digunakan untuk menghitung daya pembeda bagi tes
  bentuk uraian adalah dengan menghitung dua rata-rata (mean) yaitu
  antara rata-rata dari kelompok atas dengan rata-rata kelompok bawah
  dari tiap-tiap soal. Untuk menghitung daya pembeda soal uraian dapat
  digunakan rumus:

   t
                MH  ML
            x              x2
                      2            2
                  1

                 ni ni  1
  keterangan :
  t             = daya beda
  MH            = rata-rata dari kelompok atas
  ML            = rata-rata dari kelompok bawah

   x
            2
        1       = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok atas


                                         26
    x
              2
          2       = jumlah kuadrat deviasi individual dari kelompok bawah

   ni             = 27 % x N
   N              = banyaknya peserta tes
   n1             = banyak peserta tes kelompok atas
   n2             = banyak peserta tes kelompok abawah
   Jika thitung > ttabel dengan derajat kebebasan = (n1 - 1) + (n2 – 2) dengan
   taraf signifikan 5 % maka daya pembeda soal tersebut signifikan.
                                                             (Arifin, 1991:141)


d. Reliabilitas
   Reliabilitas adalah ketetapan suatu tes apabila diteskan kepada subyek
   yang sama (Arikunto, 2002:90). Suatu tes dikatakan reliabel jika dapat
   memberikan hasil yang tetap apabila diteskan berkali-kali, atau dengan
   kata lain tes dikatakan reliabel jika hasil-hasil tes tersebut
   menunjukkan ketetapan. Adapun rumus yang digunakan untuk mencari
   reliabilitas soal tes bentuk uraian adalah rumus alpha, yaitu :

                  1
                                 2
            n
    r11       1
          n 1    t2

   Keterangan
    r11           = reabilitas yang dicari

    
              2
          i       = jumlah varians skor tiap-tiap item

    
              2
          t       = varians total

   n              = banyak item
                                                          (Arikunto, 2003:109)
   Rumus varians item soal, yaitu :

                                x     2

                    x   2
                             
    i                             n
       2

                             n



                                             27
Keterangan

x           = jumlah item soal

x   2
             = jumlah kuadrat item soal

n            = banyak item
Rumus varians total yaitu :

                             Y 2

                 Y   2
                          
                           n
         2
     t
                          n


Y           = jumlah skor soal

Y   2
             = jumlah kuadrat skor soal

n            = banyak soal
Kriteria pengujian reliabilitas tes dikonsultasikan dengan harga r
product moment pada table, jika            rhitung   >   rtabel   maka item tes yang
diujicobakan reliabel.
                                                                   (Arikunto, 2003:97)




                                      28
Metode Analisis Data
   1. Analisis Data Tahap Awal
      e. Uji Normalitas
         Uji normalitas digunakan untuk mengetahui kenormalan kelas
         eksperimen, kelas kontrol dan kelas uji coba instrumen. Perhitungan
         dilakukan dengan data dari nilai raport semester I mata pelajaran
         matematika.
         Hipotesis yang digunakan adalah :




         Adapun rumus yang digunakan adalah rumus chi-kuadrat, yaitu:


         Keterangan :




      f. Uji Homogenitas Varians
         Uji homogenitas varians digunakan untuk mengetahui apakah kedua
         kelas yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai varians
         yang sama atau tidak, jika kedua kelompok mempunyai varians yang
         sama maka dikatakan kedua kelompok homogen.
         Hipotesis yang digunakan adalah :


                                    29
      Rumus yang digunakan adalah :




      Rumus yang digunakan adalah :




   g. Uji Kesamaan Rata-Rata
      Analisis data dengan uji t digunakan untuk menguji hipotesis.




      Maka untuk menguji hipotesis digunakan rumus :


      keterangan :




                                                        (Sudjana, 1996:239)
2. Analisis Data Tahap Akhir
   Setelah diperoleh data yang diperlukan dalam penelitian, maka dilakukan
   uji hipotesis tahap akhir.
                                  30
a. Uji Normalitas
   Langkah–langkah pengujian normalitas tahap ini sama dengan
   langkah-langkah uji normalitas pada tahap awal.
b. Uji Kesamaan Dua Varians (Homogenitas)
   Langkah–langkah pengujian homogenitas tahap ini sama dengan
   langkah-langkah uji homogenitas pada tahap awal.
c. Uji Kesamaan Rata-Rata (Uji Pihak Kanan)
   Hipotesis yang diajukan dalam uji kesamaan rata-rata dengan uji pihak
   kanan adalah sebagai berikut :




   Uji kesamaan rata-rata dilakukan dengan menggunakan rumus sebagai
   berikut :
    Varians kedua kelas berbeda
       Rumus yang digunakan adalah :


    Varians kedua kelas sama
       Rumus yang digunakan adalah :




       (Sudjana, 1996:241)
       keterangan :




                               31
E. Hasil Uji Coba Instrumen Penelitian
   1. Validitas Soal
      Berdasarkan perhitungan dengan rumus korelasi product moment , maka
      diperoleh soal yang valid adalah soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11, 12.
      Adapun yang tidak valid adalah soal nomor 6, 7, dan 9. Untuk contoh
      perhitungannya terdapat pada lampiran 13 halaman 84.
   2. Reliabilitas
      Setelah dilakukan perhitungan dengan menggunakan rumus alpha
      terhadap hasil uji coba tes diperoleh            rhitung   = 0,74 , sedangkan harga   rtabel   =
      0,312. Jadi    rhitung   >   rtabel   sehingga tes yang diuji cobakan reliabel Untuk
      perhitungan selengkapnya terdapat pada lampiran 16 halaman 89.
   3. Tingkat Kesukaran Butir Soal
      Setelah dilakukan analisis taraf kesukaran pada soal uji coba dalam
      penelitian ini, diperoleh hasil sebagai berikut :
      a. yang termasuk kriteria mudah, yaitu soal nomor 2, 4, 5 dan 9;
      b. yang termasuk kriteria sedang, yaitu soal nomor 1, 3, 10 dan 12;
      c. yang termasuk kriteria sukar, yaitu soal nomor 6, 7, 8 dan 11.
      Untuk contoh perhitungannya terdapat pada lampiran 15 halaman 88.
   4. Analisis Daya Pembeda Soal
      Berdasarkan hasil uji coba tes dengan á = 5 % dan dk = 20, diperoleh ttabel
      = 1,72. Berdasarkan hasil perhitungan daya pembeda, didapatkan bahwa
      item soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11 dan 12 memiliki daya pembeda
      signifikan. Untuk contoh perhitungannya terdapat pada lampiran 14
      halaman 86.
   5. Penentuan Instrumen
      Berdasarkan hasil perhitungan analisis validitas, reliabilitas, tingkat
      kesukaran dan daya pembeda soal, maka item soal uji coba yang dipilih
      sebagai instrumen untuk mengambil data pada penelitian ini sebanyak 9
      buah item soal, yaitu soal nomor 1, 2, 3, 4, 5, 8, 10, 11, dan 12. Sedang
                                                  32
soal yang tidak dipakai adalah soal nomor 6, 7 dan 9. Untuk perhitungan
selengkapnya terdapat pada lampiran 12 halaman 82.




                              33

								
To top