ANALISIS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI BPPNFI REGIONAL IV SURABAYA SUATU PENDEKATAN KESIAPAN INSTITUSI PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM TURUT SERTA MEREALISASIKAN MASYARAKAT INFORMASI IND

Document Sample
ANALISIS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI DI BPPNFI REGIONAL IV SURABAYA  SUATU PENDEKATAN KESIAPAN INSTITUSI PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM TURUT SERTA MEREALISASIKAN MASYARAKAT INFORMASI IND Powered By Docstoc
					Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



       ANALISIS PENERAPAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN
        KOMUNIKASI DI BPPNFI REGIONAL IV SURABAYA
SUATU PENDEKATAN KESIAPAN INSTITUSI PENDIDIKAN NONFORMAL DALAM TURUT
         SERTA MEREALISASIKAN MASYARAKAT INFORMASI INDONESIA 2015


                                Putu Ashintya Widhiartha
                     (Pamong Belajar BPPNFI Regional IV Surabaya)


    The Indonesian government planned that the year of 2015 as the year of the
Indonesia Information Society, where ICT will become the effective tool in the
implementation of government, business sector and public and also the social stratum
communication or ICT for all. In order to achieve this aim during 2010, it is hoped that
the achievement of ICT development reach 70% of the targets of the Information Society,
increase national competitiveness, carry out bureaucracy reformation, and achieve
technopreneurship.
    Indonesian government has recognized that education is the key factor in order to
reach the goal of Indonesian Information Society. It needs an enormous effort to create
breakthroughs and policies about ICT that can lead nonformal education to take
important role in the realization of Indonesian Information Society. This paper is an
analysis of ICT implementation at BPPNFI Region IV Surabaya. Which is as a
nonformal education institution, BPPNFI Region IV should take an important role as
leading institution in the realization of Indonesian Information Society 2015.


Kata kunci: Masyarakat Informasi Indonesia, Kebijakan TIK, TIK dalam pendidikan



A. Latar Belakang

    Sejak Indonesia meratifikasi keputusan World Conference of Information Society

(WSIS) tahun 2003 yang menargetkan pembentukan Masyarakat Informasi Dunia pada

tahun 2015 maka secara resmi Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) telah menjadi

salah satu aspek penting dari peningkatan kualitas sumberdaya manusia Indonesia.

Salah satu target dari pemerintah Indonesia berkaitan dengan WSIS adalah

mewujudkan Masyarakat Informasi Indonesia (MII) 2015. Hal ini nantinya akan ditandai



http://widhiartha2.blogspot.com                                                       1
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



dengan penerapan TIK secara menyeluruh di sektor publik, swasta, pemerintahan dan

sosial kemasyarakatan. Target lain pemerintah adalah dengan pencapaian MII maka

Indonesia akan menjadi negara terdepan dalam penerapan TIK di Asia Tenggara pada

tahun 2015.

    Dalam menentukan keberhasilan dari WSIS 2015, (International Telecomunication

Union (ITU) telah merumuskan indikator sebagai berikut ini (Kelly, 2005):

   Koneksi seluruh desa dengan TIK

   Koneksi seluruh institusi pendidikan dengan TIK

   Koneksi seluruh pusat penelitian ilmiah dengan TIK

   Koneksi seluruh perpustakaan dan museum dengan TIK

   Koneksi seluruh rumah sakit dan pusat kesehatan masyarakat dengan TIK

   Koneksi seluruh institusi pemerintahan dengan TIK

   Kurikulum pendidikan dasar dan menengah yang mengakomodasi TIK

   Akses radio dan televisi untuk seluruh penduduk

   Meningkatkan pengembangan konten internet

   Menjamin akses TIK pada separuh penduduk dunia

    Sedangkan indikator MII 2015 adalah tercapainya 70% indikator WSIS di atas

ditambah beberapa target tambahan dari pemerintah Indonesia sendiri yaitu

dipenuhinya beberapa hasil sebagai berikut : penetrasi PC sebanyak 25 juta, pengguna

Internet mencapai hingga 40 juta, penggunaan telepon tetap menjadi 37,5 juta, serta

penggunaan telepon seluler hingga 125 Juta. E-Industri juga dikembangkan dengan

dibentuknya pusat sertifikasi opensource yang mendukung program Indonesia Go

OpenSource (IGOS), modal ventura, kampanye software legal, dan penegakan HaKI

untuk melindungi hasil ide para peneliti dari pembajakan hasil karya mereka, sehingga



http://widhiartha2.blogspot.com                                                    2
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih inovatif dan banyak mengeluarkan karya

yang baru tanpa perlu khawatir akan perlakuan pembajakan hasil karya mereka (Rusadi,

2008).

    Dalam jangka pendek pemerintah Indonesia juga menargetkan 70% dari indikator

terwujudnya MII di atas harus sudah tercapai pada tahun 2010. Dalam mencapai

berbagai target jangka pendek dan menengah tersebut pemerintah juga menekankan

bahwa pendidikan adalah ujung tombak dalam usaha meraihnya. Hal ini tercermin

dalam    visi   pengembangan       sumberdaya    manusia   di   sektor   TIK   yang

berbunyi ”Implement Longlife Learning Paradigm”. Melalui visi ini pemerintah telah

secara tegas dan eksplisit menyebutkan bahwa pendidikan menjadi unsur utama

terwujudnya MII. Pendidikan dipandang sebagai salah satu pilar utama dari pencapaian

MII selain Pemerintah, Industri, dan Komunitas masyarakat seperti ditampakkan pada

ICT Golden Triangle berikut ini:




                                      Gambar 1
         Golden Triangle dalam Pencapaian MII 2015 (sumbe : DEPKOMINFO)


http://widhiartha2.blogspot.com                                                   3
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



    Dibandingkan dengan jalur pendidikan formal, peran pendidikan nonformal pada

pencapaian MII 2015 dapat dianggap minim. Kebijakan pendidikan nonformal masih

disibukkan   dengan     pencapaian-pencapaian      program     konvensional    semacam

pengentasan buta aksara, wajib belajar pendidikan dasar, dan pembinaan-pembinaan

kelembagaan semacam kursus dan PKBM. Hal ini patut disayangkan, bila mencermati

indikator-indikator terwujudnya Masyarakat Informasi Indonesia 2015 akan terlihat

dengan jelas bagaimana pendidikan nonformal dapat berperan penting dalam

pencapaiannya. Secara alamiah seharusnya pendidikan nonformal memiliki akses luas

ke berbagai komunitas masyarakat, fleksibilitas, dan birokrasi yang tidak berbelit.

    Kebijakan-kebijakan dalam penerapan TIK pada berbagai tingkatan institusi

pendidikan nonformal, baik pusat maupun daerah selama ini masih lebih dimaknai

sebagai pengadaan sarana dan prasarana TIK. Pada tingkat pemanfaatan pun,

penerapan TIK masih terbatas pada penyediaan data dan informasi. Pada implemetasi

untuk program pendidikan, TIK bahkan sering dipahami tidak lebih sebagai kursus

komputer saja. Sebagai sebuah lembaga yang melakukan berbagai kegiatan penelitian

dalam pengembangan model BPPNFI Regional IV Surabaya pun seharusnya memiliki

tanggungjawab dan berani mengambil peran membuat berbagai breakthrough dalam

menjadikan pendidikan nonformal sebagai unsur penting pencapaian MII 2015. Tulisan

berikut ini adalah sebuah analisis kualitatif berdasarkan pengalaman dan pengamatan

penulis tentang kesiapan BPPNFI Regional IV Surabaya mengambil peran sebagai

institusi terdepan dalam menjadikan pendidikan nonformal berperan besar dalam

pencapaian MII 2015.




http://widhiartha2.blogspot.com                                                       4
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009




B. Kondisi Terkini Penerapan TIK di BPPNFI Regional IV Surabaya

    Salah satu ciri institusi pendidikan modern dewasa ini adalah dilibatkannya

teknologi informasi dalam proses penyelenggaraan kegiatan pendidikan. Telah banyak

ditemukan di mana-mana lembaga pendidikan mulai dari tingkat taman kanak-kanak

hingga perguruan tinggi yang berlomba-lomba memanfaatkan teknologi ini dalam

rangka meningkatkan kinerja belajar mengajar yang dilakukan. Terlepas dari berbagai

spektrum pemanfaatan teknologi informasi pada sistem pendidikan – yang menurut

teori paling tidak terdiri dari tujuh peranan utama dan sejumlah fungsi pendukung –

kunci utama keberhasilannya terletak pada kesiapan para pemegang kepentingan

(stakeholder) terkait.(Indrajit, 2006)

    Sebagai institusi pemerintah yang bergerak di bidang pendidikan nonformal

BPPNFI Regional IV Surabaya saat ini secara aktif turut menerapkan TIK pada

berbagai sistem kerjanya. Pada beberapa hal di bidang TIK, BPPNFI Regional IV

Surabaya bahkan termasuk pionir di lingkungan Ditjen PNFI. Pembuatan perangkat

lunak edukasi, portal e-learning, pelatihan online, dan pemberdayaan masyarakat

melalui komunitas TIK adalah contoh-contoh terobosan kebijakan di BPPNFI Regional

IV Surabaya. Walaupun demikian patut disayangkan, terobosan-terobosan berani

tersebut jarang mendapat publikasi dan tindak lanjut yang memadai disebabkan

ketatnya aturan birokrasi sebagai sebuah lembaga pemerintah.

    Dari sisi sumberdaya manusia para karyawan BPPNFI Regional IV Surabaya telah

memiliki kesadaran akan penggunaan TIK baik untuk tugas sehari-hari maupun aktifitas

lain. Lebih dari 50% karyawan memiliki alamat email dan tidak kurang dari 40% aktif

menggunakannya pada aktifitas sehari-hari. Situs jaringan sosial semacam friendsterTM



http://widhiartha2.blogspot.com                                                    5
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



dan facebookTM pun sudah menjadi sesuatu yang akrab bagi para karyawan BPPNFI

Regional IV Surabaya. Pencarian artikel dan tulisan ilmiah juga sudah dilakukan oleh

para pamong belajar pada saat menyusun berbagai naskah model dan kajian. Tingkat

kepemilikan komputer jinjing pun cukup tinggi di lembaga ini (lebih dari 50% untuk

seluruh staf, dan lebih dari 80% untuk pamong belajar). Hal ini menadakan kesadaran

akan penggunaan TIK sudah tidak lagi dianggap asing di lembaga ini.

    Berikut ini adalah penerapan TIK di BPPNFI Regional IV Surabaya dalam berbagai

aspek kerja di institusi ini:

   Pengembangan Model

    BPPNFI Regional IV Surabaya adalah satu-satunya UPT Direktorat Jenderal PNFI

    yang memiliki kelompok studi yang mengkhususkan pada pengembangan model

    TIK pada berbagai program pendidikan nonformal. Selama ini kebijakan-kebijakan

    di Ditjen PNFI dan UPT-nya harus mengacu kepada keempat direktorat yang ada

    (Dikmas, Kursus dan Kelembagaan, PAUD, dan Pendidikan Kesetaraan).

    Keberadaan kelompok studi pamong belajar yang dikhususkan mengembangkan

    model TIK seringkali mengundang kontroversi karena dianggap tidak sejalan

    dengan kebijakan-kebijakan konvensional. Hal ini seharusnya tidak perlu terjadi,

    sebaliknya pemikiran-pemikran baru dah jauh ke depan tersebut seharusnya

    dihargai sebagai sebuah keberanian dalam menjadikan BPPNFI Regional IV

    Surabaya sebagai leading-institution dalam kebijakan-kebijakan penerapan TIK di

    dunia pendidikan nonformal.

         Pada periode 2004-2008, BPPNFI Regional IV Surabaya adalah satu-satunya

    institusi di lingkungan Ditjen PNFI yang mengembangkan perangkat lunak edukasi

    bagi berbagai program pendidikan nonformal. Tidak kurang dari 20 judul perangkat



http://widhiartha2.blogspot.com                                                   6
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



    lunak edukasi telah dikembangkan, bahkan salah satu di antaranya telah

    dinominasikan meraih Indonesia ICT Award yang merupakan penghargaan

    tertinggi tingkat nasional di bidang TIK pada tahun 2008. Berbagai perangkat lunak

    edukasi tersebut tidak didistribusikan secara luas karena minimnya kebijakan

    pendukung. Perangkat-perangkat lunak tersebut hanya didistribusikan secara

    terbatas di lingkungan BPPNFI Regional IV Surabaya dan lembaga-lembaga

    binaannya saja.



   Pelayanan Publik

    BPPNFI Regional IV Surabaya seringkali mendapat tanggungjawab tambahan dari

    Ditjen PNFI untuk melakukan seleksi dan pendampingan bagi lembaga-lembaga

    pendidikan   nonformal    yang      mendapatkan      dana   Bantuan     Operasional

    Penyelenggaraan Program (BOP). Sebagai sebuah kegiatan yang langsung

    menyalurkan dana ke masyarakat, program semacam ini menuntut akuntabilitas

    dan transparansi dalam setiap prosesnya. BPPNFI Regional IV Surabaya

    sebenarnya    memiliki   peluang    untuk   menggunakan     TIK    sebagai   sarana

    menegakkan     transparansi   dan    akuntabilitas   tersebut.    Misalnya   dengan

    menggunakan situs resmi sebagai sarana mengumumkan proses seleksi dan hasil

    seleksi ke masyarakat luas.

        Penyediaan data dan informasi tentang pendidikan nonformal merupakan

    salah satu tugas utama BPPNFI Regional IV Surabaya. Beragam proses

    pendataan telah dilakukan dengan melibatkan stake-holder. Penggunaan TIK pada

    kegiatan ini telah berhasil diterapkan melalui proses entri data secara online dan

    visualisasi data melalui situs resmi BPPNFI Regional IV Surabaya.



http://widhiartha2.blogspot.com                                                       7
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009




   Administrasi dan Ketatausahaan

        BPPNFI Regional IV Surabaya adalah salah satu lembaga di lingkungan Ditjen

    PNFI yang menggunakan perangkat lunak administrasi untuk urusan kepegawaian

    dan persuratan. Perangkat lunak tersebut sangat membantu dalam proses

    penyimpanan dan pencarian arsip surat menyurat dan urusan kepegawaian. Pada

    urusan keuangan, BPPNFI Regional IV Surabaya pun telah memiliki tenaga teknis

    yang mampu mengoperasikan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) dengan baik.



   Peningkatan Kualitas PTK PNF

        Saat   ini   BPPNFI   Regional   IV   Surabaya   memiliki   portal   e-learning

    (http://bppnfi4.web.id) yang digunakan untuk menampung berbagai referensi

    pendidikan nonformal. Hal ini didorong kebutuhan untuk melakukan publikasi

    terhadap berbagai sumber belajar pendidikan nonformal melalui internet. Apabila

    dimungkinkan dari sisi aturan situs tersebut juga dapat digunakan untuk melakukan

    pelatihan online seperti yang dilakukan pada pengembangan model tahun 2008.

    Pada kegiatan tersebut 10 orang pamong belajar SKB mengikuti pelatihan secara

    online dan hasilnya dibandingkan dengan pelatihan tatap muka. Setelah

    dibandingkan pelatihan dengan cara online ini memberikan efisiensi cukup besar

    dari segi waktu dan biaya serta tingkat kompetensi yang tidak terlalu jauh dari

    pelatihan tatap muka (Setiyono, 2008). Hal ini membuktikan peningkatan mutu PTK

    PNF dapat dilakukan dengan cara online apabila telah ada kebijakan yang

    mengaturnya.




http://widhiartha2.blogspot.com                                                      8
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



C. Peluang

    Melihat berbagai kondisi terkini di atas, maka dalam jangka waktu beberapa tahun

ke depan BPPNFI Regional IV Surabaya memiliki beberapa peluang untuk turut serta

dalam pencapaian MII 2015, antara lain:

   Menjadikan model pembelajaran berbasis TIK sebagai sebuah standar bagi

    pendidikan nonformal.

        Pembelajaran dengan TIK akan menjadi pemicu munculnya kultur TIK di

    masyarakat. Peserta didik yang terbiasa menggunakan berbagai sarana dan

    prasarana TIK semacam email, perangkat lunak edukasi, e-learning dan

    sebagainya akan membawa efek kepada orang-orang di sekitarnya. Kepercayaan

    diri yang meningkat sebagai seorang yang melek TIK dapat menghilangkan

    perasaan minder dan terbelakang yang sering muncul pada peserta didik

    pendidikan nonformal.



   Menggunakan     TIK     di   BPPNFI   Regional   IV   Surabaya   sebagai   media

    mengembangkan sistem birokrasi yang akuntabel

        Sebagai lembaga pemerintah, saat ini tuntutan masyarakat akan sistem

    birokrasi yang bersih dan akuntabel semakin meningkat. Dengan TIK hal ini dapat

    dicapai secara lebih efektif dan efisien. Sebagai contoh situs resmi balai adalah

    media melakukan publikasi terhadap berbagai kegiatan BPPNFI Regional IV

    kepada masyarakat. Masyarakat dapat menilai kualitas lembaga ini dengan

    mengakses ke situs tersebut.




http://widhiartha2.blogspot.com                                                    9
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009




   Memperluas penerapan TIK di masyarakat melalui kegiatan pendidikan nonformal

        Sebagai jalur pendidikan dengan sasaran yang luas dan fleksibel disertai

    akses ke masyarakat pada level grassroot, pendidikan nonformal memiliki

    tanggungjawab untuk mensosialisasikan penerapan TIK pada masyarakat. Sebagai

    lembaga yang memiliki pengaruh kuat pada berbagai program pendidikan

    nonformal, BPPNFI Regional IV Surabaya harus menyadari tanggungjawab untuk

    memberikan kemudahan akses mempelajari TIK seluas-luasnya kepada peserta

    didik pendidikan nonformal. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai kegiatan

    semacam pembentukan komunitas TIK di lingkungan pendidikan nonformal atau

    mensyaratkan penerapan TIK untuk para penerima BOP.



D. Kesimpulan dan Rekomendasi

    Dari berbagai pengamatan dan pengalaman di atas, penulis mengambil kesimpulan

bahwa BPPNFI Regional IV Surabaya memiliki sumberdaya manusia dan sarana serta

prasarana yang memadai untuk menjadikan pendidikan nonformal berperan penting

dalam mewujudkan MII 2015. Permasalahan yang mendasar justru pada sisi birokrasi

dan kebijakan yang seringkali masih sebatas pada mengejar target pada berbagai

program tradisional pendidikan nonformal dan kurangnya inisiatif untuk melakukan

berbagai terobosan dalam menerapkan TIK pada pendidikan nonformal. Berikut adalah

beberapa rekomendasi penulis dalam sudut pandang analisis ilmiah:

   Merumuskan Kebijakan yang Berfokus pada TIK

        Sebagai sebuah institusi pemerintah BPPNFI Regional IV menerapkan aturan

    birokrasi yang ketat dalam pengambilan setiap kebijakan. Penerapan TIK hanya



http://widhiartha2.blogspot.com                                               10
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



    dapat optimal apabila para pengambil kebijakan di organisasi memahami maksud

    dan tujuan dari TIK serta dukungan untuk pencapaiannya. Dengan pemahaman

    tersebut dapat dirumuskan kebijakan yang sesuai dan kondusif bagi optimalnya TIK

    di BPPNFI Regional IV Surabaya. Para pengambil kebijakan juga harus memiliki

    inisiatif dalam memberikan masukan bagi lembaga vertikal yang membawahi

    BPPNFI Regional IV Surabaya agar semakin aktif dalam memberikan fokus pada

    TIK dalam rangka mengambil peran untuk mensukseskan tercapainya MII 2015.



   Meningkatkan ICT Habit

        Sumberdaya manusia adalah kunci utama penerapan TIK di sebuah organisasi.

    Sarana dan prasarana saja tidak cukup tanpa adanya suatu kultur lembaga

    terhadap penggunaan TIK. Kebiasaan akan penggunaan TIK dan tidak

    menganggapnya sebagai sebuah momok akan membuat karyawan terbiasa

    terhadap penggunaan TIK. Lembaga bisa menumbuhkan hal ini dengan

    menggunakan TIK pada proses kerja di BPPNFI Regional IV Surabaya. Sebagai

    contoh memberikan pengumuman melalui email, atau memberikan peluang

    berdiskusi antara karyawan dengan pimpinan melalui email, menumbuhkan kultur

    menulis blog bagi karyawan dan berbagai kegiatan lainnya. Semuanya dilakukan

    dengan tujuan memicu munculnya kultur TIK di institusi.



   Menyediakan Sarana dan Prasarana yang Lebih Baik

        Kecepatan akses internet saat ini masih menjadi isu utama di hampir semua

    institusi di Indonesia. Dalam jangka panjang memang hal ini tampak tidak akan

    menjadi masalah. Sebab dengan berbagai proyek peningkatan kapasitas



http://widhiartha2.blogspot.com                                                  11
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



    bandwidth internet semacam Palapa Ring, diharapkan akses internet pada tahun

    2010 tidak lagi menjadi kendala di negara ini. Dalam jangka pendek BPPNFI

    Regional IV Surabaya harus mencari dan memanfaatkan biaya operasional internet

    yang saat ini dimiliki untuk memilih penyedia jasa terbaik dan mampu menyediakan

    akses yang terjamin kecepatan dan reliabilitasnya. Untuk sarana dan prasarana

    yang lain, sebenarnya kualitas yang dimiliki oleh BPPNFI Regional IV Surabaya

    saat ini dapat dianggap sangat memadai. Fasilitas yang dimiliki BPPNFI Regional

    IV antara lain adalah komputer dan notebook lebih dari 50 unit (lebih dari 10 unit

    adalah generasi terbaru), selain itu terdapat 3 buah laboratorium dan berbagai

    fasilitas pendukung lainnya.



   Berhati-hati pada Kegagalan Sistem

        Sistem TIK yang baik adalah sistem yang bekerja secara efektif dan efisien.

    Sebaiknyaberbagai sistem TIK di BPPNFI Regional IV Surabaya dikembangkan

    secara hati-hati dan teruji. Bila perlu menggunakan tenaga auditor TIK independen.

    Sistem semacam pendataan online dan manajemen jaringan komputer masih

    sangat rentan pada kegagalan dan bisa menghamburkan biaya yang tinggi.

    Dengan    kehati-hatian   pada   perencanaan    dan   penerapan    sistem   dapat

    memperkecil kemungkinan kegagalan.



REFERENSI

--- (2006), Kebijakan & Rencana Pemerintah Indonesia di dalam Pemanfaatan &

     Penerapan Teknologi Informasi, Jakarta, DEPKOMINFO

Haddad, W. (2007), ICTs for Education : A Reference Handbook, Part 1: Decision



http://widhiartha2.blogspot.com                                                    12
Naskah ini termuat di Jurnal Pendidikan Nonformal BPPNFI Regional IV Surabaya
Edisi I/2009



     Makers Essentials, Bangkok, UNESCO Bangkok

Indrajit, R. E. (2006), Mengukur Tingkat Kematangan Pemanfaatan Teknologi Informasi

     Untuk Institusi Pendidikan Suatu Pendekatan Kesiapan Pemegang Kepentingan

     (Stakeholder), Prosiding Konferensi Nasional Teknologi Informasi & Komunikasi

     untuk Indonesia, Bandung, ITB

Kelly, T. ( 2005), Indicators for implementing the WSIS Plan of Action, WSIS Thematic

     Meeting on ICT Indicators, Tunisia

Marshall, S., Taylor , W., & Yu, X. (Eds.) (2003), Closing the Digital Divide: Transforming

     Regional Economies and Communities with Information Technology . Greenwood

     Publishing, Westport CT, USA .

Rusadi, U. (2008) The Development Strategy Of Information And Communication

     Technology (ICT) Human Resources In Indonesia, The Third Session of the

     APCICT Governing Council

Setiyono, D. dkk (2008), Laporan Pengembangan Model eLearning untuk Pendidikan

     Nonformal, Surabaya, BPPNFI Regional IV

Toure, K. (2008). Introduction: ICT and Changing Mindsets in Education. In K. Toure,

     T.M.S. Tchombe, & T. Karsenti (Eds.), ICT and Changing Mindsets in Education.

     Bamenda, Cameroon: Langaa; Bamako, Mali: ERNWACA / ROCARE.




http://widhiartha2.blogspot.com                                                         13

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:2718
posted:2/14/2010
language:Indonesian
pages:13
Description: The Indonesian government planned that the year of 2015 as the year of the Indonesia Information Society, where ICT will become the effective tool in the implementation of government, business sector and public and also the social stratum communication or ICT for all. In order to achieve this aim during 2010, it is hoped that the achievement of ICT development reach 70% of the targets of the Information Society, increase national competitiveness, carry out bureaucracy reformation, and achieve technopreneurship. Indonesian government has recognized that education is the key factor in order to reach the goal of Indonesian Information Society. It needs an enormous effort to create breakthroughs and policies about ICT that can lead nonformal education to take important role in the realization of Indonesian Information Society. This paper is an analysis of ICT implementation at BPPNFI Region IV Surabaya. Which is as a nonformal education institution, BPPNFI Region IV should take an important role as leading institution in the realization of Indonesian Information Society 2015.