Documents
Resources
Learning Center
Upload
Plans & pricing Sign in
Sign Out

Psikologi Islam

VIEWS: 2,795 PAGES: 10

Muhasabah dalam perspektif Psikologi dan Psikoterapi Islam

More Info
									   MUHASABAH SEBAGAI PSIKOTERAPI ISLAM
Tugas ini ditujukan untuk memenuhi nilai UAS pada mata kuliah
                     Islam dan Psikologi




        TUGAS MATA KULIAH ISLAM DAN PSIKOLOGI


                           DOSEN

                  Prof. Dr. Abdul Mujib, M.Ag




                        Disusun Oleh:

                    Mutia Kusuma Dewi
                       107070002312

                        Kelas : V – A




                    FAKULTAS PSIKOLOGI

       UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

                             (UIN)

                          JAKARTA

                             2009
        MUHASABAH SEBAGAI PSIKOTERAPI ISLAM

       Menurut Prawitasari, 1993 (dalam Subandi, 2000) istilah psikoterapi (dan
konseling) memiliki pengertian sebagai suatu cara yang dilakukan oleh para
profesional (psikolog, psikiater, konselor, dokter, guru, dsb.) dengan tujuan untuk
menolong klien yang mengalami problematika psikologis. Lebih lanjut Prawitasari
menjelaskan tentang tujuan psikoterapi secara lebih spesifik meliputi beberapa aspek
kehidupan manusia antara lain:

          a. Memperkuat motivasi untuk melakukan hal-hal yang benar,
          b. Mengurangi tekanan emosi melalui pemberian kesempatan untuk
              mengekspresikan perasaan yang dalam,
          c. Membantu klien mengembangkan potensinya,
          d. Mengubah kebiasaan dan membentuk tingkah laku baru,
          e. Mengubah struktur kognitif,
          f. Meningkatkan pengetahuan dan kapasitas untuk mengambil keputusan
              dengan,
          g. Meningkatkan pengetahuan diri dan insight,
          h. Meningkatkan hubungan antar pribadi,
          i. Mengubah lingkungan sosial individu,
          j. Mengubah proses somatik supaya mengurangi rasa sakit dan
              meningkatkan kesadaran tubuh melalui latihan-latihan fisik,
          k. Mengubah status kesadaran untuk mengembangkan kesadaran, kontrol
              dan kreativitas diri.

       Dari kutipan di atas tampak jelas bahwa persoalan yang ditangani oleh
psikoterapis barat menyangkut masalah-masalah yang bersifat fisiologis-emosional-
kognitif-behavioral-sosial. Meskipun jangkauannya bervariasi, seringkali konotasi
menjadi sempit, yaitu hanya mengarah kepada suatu usaha dalam proses
penyembuhan, menghilangkan persoalan dan gangguan. Walaupun sebenarnya ada
beberapa psikoterapis yang memasukan isu pengembangan diri sebagai agenda dalam
terapi. Tetapi secara umum orang akan selalu beranggapan bahwa jika ada seseorang
sedang menjalani suatu psikoterapi, berarti sedang berusaha menyembuhkan diri.
           Gambaran mengenai Psikoterapi Islam sendiri memiliki ruang lingkup dan
jangkauan yang lebih luas. Selain menaruh perhatian pada proses penyembuhan,
psikoterapi Islam sangat menekankan pada usaha peningkatan diri, seperti
membersihkan kalbu, menguasai pengaruh dorongan primitif, meningkatkan derajat
nafs, menumbuhkanakhlaqul karimah dan meningkatkan potensi untuk menjalankan
amanah sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi. Mappiare, 1996 (dalam
Subandi,      2000)    menekankan    bahwa       psikoterapi   Islam     bertujuan    untuk
mengembalikan seorang pribadi pada fitrahnya yang suci atau kembali ke jalan yang
lurus. Lebih jauh lagi Hamdani, 1996-a (dalam Subandi, 2000) menyebutkan bahwa
psikoterapi juga perlu memberikan bimbingan kepada seseorang untuk menemukan
hakekat dirinya, menemukan Tuhannya dan menemukan rahasia Tuhan.

           Psikoterapi Islam tidak hanya memberikan terapi pada orang-orang yang
"sakit" sesuai dengan kriteria mental-psikologis-sosial, tetapi juga perlu ikut
menangani orang-orang yang "sakit" secara moral dan spiritual. Jadi ukuran yang
dijadikan sebagai standar untuk menentukan kriteria suatu tingkah laku itu perlu
diterapi atau tidak, yang pertama-tama adalah nilai moral-spiritual dalam Islam. Baru
kemudian mengacu pada kriteria-kriteria psikologi yang ada.

           Teori-teori psikologi pada umumnya terlalu berorientasi pada manusia
atauantroposentris (Bastaman, 1995 dalam Subandi, 2000), sehingga ukuran
kebenarannya juga dari kacamata manusiawi. Sedangkan dalam perspektif psikologi
Islami dalam hal ini psikoterapi Islam kebenarannya harus dikembalikan kepada Al-
Quran dan sunnah (Al-Hadis).

           Muhammad Mahmud Mahmud (dalam Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir,
2001), seorang psikolog muslim ternama membagi psikoterapi Islam dalam dua
kategori, pertama, bersifat duniawi berupa pendekatan dan teknik-teknik pengobatan
psikis       setelah      memahami       psikopatologi     dalam       kehidupan      nyata.
Psikoterapi duniawi merupakan hasil daya upaya manusia berupa teknik-teknik terapi
atau         pengobatan       kejiwaan       yang        didasarkan       atas       kaidah-
kaidah insaniyah. Kedua, bersifat ukhrawi, berupa bimbingan mengenai nilai-nilai
moral, spiritual dan agama, dan kedua model psikoterapi ini satu sama lain saling
terkait.
       Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakir (2001) psikoterapi dalam Islam
yang dapat menyembuhkan semua aspek psikopatologi, baik yang bersifat duniawi,
ukhrawi maupun penyakit manusia modern.

Urgensi Muhasabah
       Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan
ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai
urgensi dari muhasabah.
   1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:
              „Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan
       berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan
       bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang
       menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.
              Sebagai sahabat yang dikenal „kritis‟ dan visioner, Umar memahami
       benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas,
       Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan
       meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan
       akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita
       sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.
   2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:
          „Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya
   sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya‟.
          Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur.
   Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah,
   sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak
   dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena
   beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa
   mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi,
   yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.
   3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir
       akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk
       mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya. Allah swt. menjelaskan
       dalam Al-Qur‟an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari
       kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya‟ (21): 1].
Aspek-Aspek Muhasabah.
       Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim.
a. Aspek Ibadah
       Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena
ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-
Dzaariyaat (51): 56]
b. Aspek Pekerjaan & Perolehan Rizki
       Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan
ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap
bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek
ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:
       Dari Ibnu Mas‟ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda,
„Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya
tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana
dipergunakannya,       hartanya   darimana   ia   memperolehnya   dan      ke   mana
dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.‟ (HR. Turmudzi)
c. Aspek Kehidupan Sosial Keislaman
       Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan
sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia.
Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan
Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:
       Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, „Tahukah kalian
siapakah orang yang bangkrut itu?‟ Sahabat menjawab, „Orang yang bangkrut
diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki
perhiasan.‟ Rasulullah saw. bersabda, „Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang
yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga
datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain,
memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala
kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis,
sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan
pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)
       Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana
digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan
membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia
juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang
negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta
tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi
keburukannya.    Bahkan    karena   kebaikannya    tidak   cukup   untuk   menutupi
keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut
dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya
dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini.


Muhasabah Sebagai Psikoterapi Islam.

       Muhasabah berasal dari kata hasibah yang artinya menghisab atau
menghitung. Dengan kata lain MUHASABAH bisa diartikan dengan EVALUASI
atau proses menilai diri sendiri. Muhasabah adalah salah satu ajaran Islam yang dapat
digunakan untuk membantu seseorang dalam menangani masalah. Ajaran Islam
seperti yang termuat dalam Alquran dan Hadis Rasulullah saw memerintahkan supaya
umat Islam selalu melakukan instropeksi dan evaluasi terhadap dirinya sendiri. Allah
swt sebagaimana yang tercantum dalam surah al-Hasyr ayat 18 berfirman :

                                        
    
     
    
                                                                           

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap
diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan
bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu
kerjakan”

       Selanjutnya Rasulullah saw., bersabda:

Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang
pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal
untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang
dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah
swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, „Hadits ini adalah hadits hasan‟)
Umar r.a.
„Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah
(bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab
itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi)
dirinya di dunia.



       Berdasarkan ayat 18 surah al-Hasyr dan Hadis Rasulullah saw di atas, maka
setiap orang muslim dituntut untuk selalu melakukan muhasabah. Muhasabah artinya
mengadakan perhitungan dan kritik, atau evaluasi oleh dirinya sendiri terhadap apa
yang sudah, sedang, dan akan dikerjakannya (Jaelani, 2000). Evaluasi terhadap diri
sendiri meliputi evaluasi terhadap pemanfaatan umurnya dari waktu ke waktu dan hal-
hal yang telah dilakukan oleh anggota tubuhnya, termasuk oleh fikirannya, kata-
katanya, dan sebagainya. Kita bisa memulai proses muhasabah dengan melangkah
mundur dari kehidupan kita dan mengamati keadaan yang melibatkan diri kita
sekarang–hubungan kita dengan orang-orang, pekerjaan, rumah, dan komunitas sosial
yang lebih luas. Sediakan waktu untuk memeriksa motif-motif yang menyertai
keterlibatan diri kita dalam aktivitas-aktivitas tertentu; selamilah harapan-harapan kita
terhadap orang-orang tertentu; tanyakan mengapa kita memprakarsai cara-cara
tertentu dalam bertindak. Rasululloh SAW menyuruh kita ber-muhasabah setiap hari.
Terlebih menjelang tidur, sebagai sarana kita menutup hari dengan syukur (ketika
menemukan kebaikan telah kita lakukan) atau taubat (ketika menjumpai dosa dan
kesalahan telah dikerjakan). Kita menghitung apa saja kebaikan yang sudah
dikerjakan hari ini dan keburukan apa saja yang telah dilakukan. Kemudian berpikir
untuk menentukan langkah apa yang akan kita lakukan untuk meningkatkan kebaikan
di hari esok dan mencegah agar tak mengulang melakukan dosa. Semakin sering kita
melakukan muhasabah, kita akan semakin lebih berhati-hati dalam berbuat.

       Muhasabah dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain sebagaimana
yang dianjurkan oleh Al-Ghazali (1989: 430) yang menyatakan bahwa muhasabah
dapat dilakukan setiap menjelang tidur di tempat pembaringan dengan posisi
terlentang. Sambil berbaring terlentang di tempat tidur, seseorang dianjurkan untuk
mengenali dan memahami keterbatasan-keterbatasan yang terdapat pada dirinya
sendiri, juga mengevaluasi hal-hal yang pernah ia dilakukan, apa kesalahan dan
kekurangannya, dan mengapa ia berbuat begitu. Jika hal-hal yang telah diperbuatnya
ditemukan kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan, maka seharusnya ia
berusaha memperbaiki kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan tersebut
untuk diperbaiki di masa yang akan datang.

       Muhasabah seperti yang dianjurkan oleh agama Islam di atas agaknya mirip
dengan teknik self-observation, teknik self-evaluation, atau teknik self-criticism
dalam istilah psikologi, atau teknik self-analysis dalam Psikoanalisa, yaitu suatu usaha
individu untuk memahami diri sendiri, serta mengenali kelemahan atau keterbatasan
dirinya (Chaplin, 1997).

       Psikoterapi islami mengenal terapi, yaitu pembersih diri (pengosongan diri
atau sterilisasi dari sifat buruk dan hawa nafsu. Tahap pembersihan diri Taap ini
secara khusus memiliki tujuan untuk dapat mengenali menguasai dan membersihkan
diri dari sifat-sifat, cara berpikir, atau kebiasaan buruk yang sudah melekat dalam diri
seseorang. Menurut Subandi, ada beberapa teknik yang digunakan untuk
membersihkan diri, yaitu a). teknik pengenalan diri yang terdiri atas Talqin,
instropeksi dan pemantauan diri (muhasabah), b). teknik pengembangan control diri
yang meliputi teknok “puasa dan teknik paradox, c). teknik pembersihan diri yang
meliputi teknik dzikir, teknik puasa dan teknik membaca Al-Qur‟an. Tahap tersebut,
dapat kita sebut sebagai muhasabah, karena pada terapi tersebut seseorang dituntut
untuk membersihkan dirinya dari segala macam hal-hal yang buruk, hal ini sesuai
dengan makna muhasabah. Dengan bermuhasabah, maka kita akan menjadi pribadi
yang sehat secara mental, karena dengan bermuhasabah kita telah mengetahui diri kita
sebenarnya. Segala kesalahan yang lalu dan kelemahan akan kita ketahui. Maka,
terbentuklah pribadi yang sehat. Hal ini sesuai dengan tujuan psikoterapi Islam yang
mengatakan    bahwa     pskoterapi   merupakan     usaha   peningkatan    diri,   seperti
membersihkan kalbu, menguasai pengaruh dorongan primitif, meningkatkan derajat
nafs, menumbuhkan akhlaqul karimah dan meningkatkan potensi. Dengan kita
bermuhasabah, maka tujuan-tujuan tersebut akan terpenuhi.
                                  KESIMPULAN



          Muhasabah dapat dikatakan sebagai bentuk tahapan psikoterapi islam. Karena
dalam muhasabah, seseorang membersihkan dirinya, serta mengevaluasi. Secara
khusus memiliki tujuan untuk dapat mengenali menguasai dan membersihkan diri dari
sifat-sifat, cara berpikir, atau kebiasaan buruk yang sudah melekat dalam diri
seseorang.

          Ketika seseorang sedang mengalami „sakit‟ (sakit mental atau pun fisik), maka
dianjurkan untuk bermuhasabah agar mengenali dan memahami keterbatasan-
keterbatasan yang terdapat pada dirinya sendiri, juga mengevaluasi hal-hal yang
pernah ia dilakukan, apa kesalahan dan kekurangannya, dan mengapa ia berbuat
begitu. Jika hal-hal yang telah diperbuatnya ditemukan kekurangan-kekurangan dan
kesalahan-kesalahan, maka seharusnya ia berusaha memperbaiki kekurangan-
kekurangan dan kesalahan-kesalahan tersebut untuk diperbaiki di masa yang akan
datang.
                          DAFTAR PUSTAKA


Najati, M. Utsman. 1985. Al-Qur‟an dan Ilmu Jiwa. Bandung : Pustaka.

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. (2001). Nuansa-nuansa psikologi islam. Jakarta :

      PT. Raja Grafindo Persada.

Bugi, Muhammad. Makna Muhasabah. Browsing Google pada tanggal 30 Desember
      2009. Pada Website : Dakwatuna.Com.

Chaplin, J. P. (1997). Kamus lengkap psikologi. Terjemahan Kartini Kartono.
      Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.

								
To top