Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif

Document Sample
Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif
Shared by: Ekuasita Widya
Stats
views:
600
posted:
2/12/2010
language:
Malay
pages:
3
Gerakan Membumikan Gagasan Hukum

Progresif



Oleh: A L . W I S N U B R O T O



“The live of the law has not been logic;

it has been experience”

(Oliver Wendell Holmes)



Istilah “hukum progresif” barangkali tidak terlalu baru bagi para

pemerhati hukum, namun demikian kehadirannya disikapi secara

berbeda oleh sekalian pengemban profesi hukum di negeri ini. Sebagian

merasa asing dan aneh dengan konsep tradisi berhukum yang ditawarkan

oleh hukum progresif. Sebagian bisa memahami namun merasa pesimis

dan skeptis. Sebagian lagi bahkan menolak dan dengan sinis mengatakan

bahwa gagasan hukum progresif tersebut terlalu idealis dan tidak

realistis.

Namun demikian ada pula yang merespon positif gagasan hukum

progresif tersebut dan secara antusias dengan penuh harapan mencoba

untuk menjadikannya sebagai spirit dalam memperbaiki cara berhukum

di negeri ini yang “mandul” akibat terseret arus tradisi pemikiran

legalistis-positivistik. Salah satu “pendukung” gagasan hukum progresif

ini adalah sekelompok anak muda yang menamakan diri sebagai Serikat

Pekerja Hukum Progresif (SPHP) yang pada tanggal 1-3 Juni yang lalu

mengadakan Kongres Nasional I di Yogyakarta.



Ketidaksengajaan Kesamaan Visi

Sekalipun antara pendirian SPHP oleh para aktivis advokasi

hukum dan pemunculan gagasan penegakan hukum progresif oleh

Profesor Satjipto Rahardjo tidak ada keterkaitannya, namun setelah

keduanya saling mengenal, ternyata terdapat kesamaan visi, yakni: (1)

bertolak dari keprihatinan terhadap penegakan hukum di Indonesia dan

(2) menolak status quo dalam tradisi berhukum dan mengupayakan

berbagai terobosan dalam memaknai hukum dalam mewujudkan

keadilan. Perbedaannya barangkali hanya dalam hal pembahasaannya

saja yang terkait dengan masing-masing ruang gerak yakni ranah aksi

(praktis) bagi SPHP dan ranah ide (akademis) bagi Prof. Tjip.

Terkait dengan perbedaan ranah tersebut maka perlu adanya

konsep pemikiran untuk menjembatani keduanya agar upaya

pengembangannya tetap terjaga dalam visi yang searah.



Pokok-pokok Gagasan Hukum Progresif

Sejak dimunculkannya pada tahun 2002, telah bermunculan banyak

tulisan yang mencoba mengeksplorasi gagasan hukum progresif dalam

aspek keilmuan. Sekalipun ide hukum progresif belum bisa dipandang





Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif Al. Wisnubroto – KamusHukum.com 1

sebagai teori yang final (sesuai dengan hakekatnya sebagai law in making

atau on going process), namun dari sedemikian banyak tulisan dan kajian

mengenai hukum progresif dapat ditarik sebuah pokok gagasan. Pertama,

paradigma hukum progresif adalah hukum untuk manusia yang

mengandung makna bahwa manusia merupakan sentral dalam cara

berhukum.

Kedua, prinsip-prinsip hukum progresif adalah: Tidak ingin

mempertahankan status quo dalam berhukum; Mengutamakan faktor dan

peran manusia di atas hukum; Membaca peraturan adalah membaca

maknanya bukan teks-nya; Membebaskan dari kelaziman yang keliru dan

menghambat pencapaian tujuan hukum; Mengutamakan modal empati,

rasa-perasaan, dedikasi, kesungguhan, kejujuran dan keberanian; Hukum

bukan mesin namun lebih merupakan jerih payah manusia yang

bernurani.

Dengan demikian hukum progresif merubah cara berhukum dari

sekedar menerapkan hukum positif secara tekstual menjadi cara

berhukum dengan mendayagunakan hukum dengan tujuan, misi dan

dimensi spiritual.



Mengaktualisasikan dalam sebuah gerakan

Sekalipun sistem hukum (termasuk cara berhukum) di Indonesia

saat ini masih bertumpu pada hukum modern yang sangat dominan

dengan tradisi legal-positivistic-nya, namun gagasan hukum progresif

bukan merupakan sesuatu yang mengada-ada. Dalam catatan sejarah

penegakan hukum di Indonesia setidaknya kita pernah mengenal

beberapa nama penegak hukum yang pernah melakukan terobosan

progresif dalam mengatasi kebuntuan hukum positif, sebut saja misalnya:

Bismar Siregar, Adi Andoyo Sutjipto, Asikin Kusumaatmadja (Hakim);

Baharudin Lopa (Jaksa); Hoegeng (Kepolisian) dll. Belum lagi menurut

hasil studi Bank Dunia (2005) dalam laporannya yang berjudul:

“Menciptakan Peluang Keadilan” terdapat temuan mengenai “terobosan

dalam Penegakan Hukum di tingkat lokal” yang dilakukan oleh “penegak

hukum mandiri” baik di lingkungan pengadilan, kejaksaan maupun

pengadilan. Di luar itu masih lagi bisa di temukan sejumlah advokat dari

sejumlah lembaga bantuan hukum atau kantor hukum yang berorientasi

non-profit, yang berani melawan “kelaziman yang keliru” dalam praktek

peradilan.

Itu artinya bahwa sekalipun ada secercah harapan mewujudkan

cara berhukum yang lain ditengah hegemoni model hukum

modern/positif. Langkah konkrit yang bisa ditawarkan dalam

“membumikan” gagasan hukum progresif agar tidak dipandang sebagai

sesuatu yang berada di “awang-awang” (sebatas perenungan intelektual

semata) adalah dengan menjadikannya sebagai gerakan hukum progresif.

Dalam aras aksi (praktis) gerakan hukum progresif dapat

dikonsentrasikan pada advokasi perubahan perilaku bagi para

pengemban profesi hukum, khususnya bagi aparatur penegak hukum







Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif Al. Wisnubroto – KamusHukum.com 2

yang berwenang menyusun kebijakan dan keputusan. Sebagaimana

diketahui bahwa dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat

“extra-ordinary” tidak lagi bisa dilakukan dengan cara berhukum yang

lazim berdasarkan peraturan maupun kebiasaan praktek, sehingga

memperlukan pembebasan dari tradisi berhukum tersebut. Dalam hal

demikian diperlukan orang-orang yang luar biasa pula dalam arti mampu

melakukan optimalisasi hukum secara bernurani. Jadi konsep gerakan

hukum progresif pada dasarnya adalah merubah tradisi cara berhukum.

Sekalipun terminologi “gerakan” berkonotasi pada aksi namun

pengembangan hukum progresif dalam aras ide (akademis) juga harus

dilakukan terus-penerus. Dalam hal ini diperlukan studi-studi untuk

menghimpun dan menyiapkan teori-teori yang mendukung hukum

progresif. Jadi dengan demikian ruang lingkup dan sasaran hukum

progresif sebenarnya amat luas meliputi seluruh pengemban profesi

hukum baik akademisi maupun praktisi termasuk yang berkarya dalam

birokrasi formal.

Mengingat sedemikian luasnya penyebaran sasaran hukum

progresif dan sedemikian kompleks dan rumitnya persoalan yang

mempengaruhi perilaku pengemban profesi hukum, maka gerakan

hukum progresif dapat diawali dengan melakukan rekam jejak perilaku

para pengemban profesi hukum di berbagai lingkungan kerjanya dan

membentuk jaringan sebagai wahana untuk saling menjaga komitmen,

saling memberi dukungan dan saling memberikan inspirasi bagi

pengembangan cara berhukum yang progresif.

Melalui media jaringan diharapkan “virus” hukum progresif dapat

efektif menyebar dan mempengaruhi perubahan tradisi dan perilaku

sistem bekerjanya hukum di negeri ini dalam upaya mengatasi krisis

hukum yang dialami oleh bangsa Indonesia. Semoga.



AL. WISNUBROTO,

Anggota Serikat Pekerja Hukum Progresif (SPHP) dan

Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP.

Tinggal di Yogyakarta.









Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif Al. Wisnubroto – KamusHukum.com 3


Share This Document


Related docs
Other docs by Ekuasita Widya
Festival Malioboro Map
Views: 239  |  Downloads: 9
UU 36 th 2009 Tentang Kesehatan
Views: 9090  |  Downloads: 1656
Kontribusi Hukum Progresif bagi Pekerja Hukum
Views: 1649  |  Downloads: 142
UU Informasi dan Transaksi Elektronik Th 2009
Views: 3938  |  Downloads: 244
Denah Taman Parkir Abubakar Ali
Views: 176  |  Downloads: 0
Pedoman penanganan tindak pidana korupsi - KPK
Views: 3773  |  Downloads: 295
UU no 4 Th 1992 Tentang Perumahan dan Pemukiman
Views: 1606  |  Downloads: 198
RUU Tipiti Naskah Akademik
Views: 1335  |  Downloads: 84
Merevisi KUHAP
Views: 1564  |  Downloads: 63
UU 24 th 2004 Lembaga Penjamin Simpanan
Views: 754  |  Downloads: 62
by registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!