Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT DINAS PERTANIAN PROVINSI NTB by izj14562

VIEWS: 1,942 PAGES: 29

									PEMERINTAH PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
      DINAS PERTANIAN PROVINSI NTB
             MATARAM - 2007
                                          1
       LATAR BELAKANG DAN TUJUAN

• Instruksi   Presiden    Kepada   menteri
  pertanian, Gubernur dan Walikota seluruh
  indonesia untuk meningkatkan produksi
  beras sebesar 2 juta ton.
• Propinsi NTB akan meningkatkan produksi
  beras sebesar 40.000 ton melalui upaya
  khusus untuk mendukung Peningkatan
  Produksi Beras Nasional (P2BN) 2 juta ton
  tahun 2007.

                                          2
         SASARAN PRODUKSI PADI 2007 NTB
            MENDUKUNG GERAKAN P2BN


          ARAM III                                KENAIKAN
 Luas Panen : 339.762 Ha                    Luas Panen : TETAP
   Prov. : 45,48 Ku/Ha                    Produktivitas. : 2,07 Ku/Ha
Prod. : 1.545.254 ton GKG                  Prod. : 77.263 ton GKG




                       SASARAN P2BN 2007
                     Luas Panen : 339.762 jt Ha
                        Prov. : 47,55 Ku/Ha
                     Prod. : 1.622.517 ton GKG
                                                                        3
                    SASARAN TAMBAHAN PRODUKSI PADI TAHUN 2007
     MELALUI GERAKAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT.


                                ARAM III 2006       Tambahan Total Sasaran Produksi
No     Kabupaten/Kota   L. PANEN PROV. PRODUKSI Produksi TON GKG TON BERAS
                           (HA)   (KU/HA) (TON GKG) (TON GKG)

 1     MATARAM              3.899    49,81     19.423       971    20.394      12.889
 2     LOMBOK BARAT        40.162    46,92    188.448     9.422 197.871       125.054
 3     LOMBOK TENGAH       75.372    46,44    350.051    17.503 367.554       232.294
 4     LOMBOK TIMUR        59.210    47,26    279.850    13.993 293.843       185.709
 5     SUMBAWA             61.373    45,14    277.049    13.852 290.901       183.850
 6     SUMBAWA BARAT       15.918    46,85     74.580     3.729    78.309      49.491
 7     DOMPU               32.653    40,40    131.928     6.596 138.524        87.547
 8     BIMA                44.428    44,27    196.670     9.834 206.503       130.510
 9     KOTA BIMA            6.747    40,40     27.256     1.363    28.619      18.087
             NTB          339.762     45,48 1.545.254    77.263 1.622.517   1.025.431

                                                                                        4
SASARAN LUAS TANAM, PANEN, PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI PADI
            TAHUN 2007 DALAM MENDUKUNG P2BN
                 DI NUSA TENGGARA BARAT
NO       KABUPATEN/                SASARAN INTENSIFIKASI
              KOTA    LUAS PANEN     PRODUKTIVITAS         PRODUKSI *)
                         (HA)           (KW/HA)               (TON)
  1   MATARAM              2.988            51,21               20.394
  2   LOMBOK BARAT        37.666            48,05              197.871
  3   LOMBOK TENGAH       70.512            48,38              367.554
  4   LOMBOK TIMUR        57.462            48,95              293.843
  5   SUMBAWA             61.116            45,60              290.901
  6   SUMBAWA BARAT       16.195            48,71               78.309
  7   DOMPU               32.875            42,83              138.524
  8   BIMA                55.789            45,02              206.503
  9   KOTA BIMA            6.586            41,93               28.619
      JUMLAH             341.189            46,77             1.622.517



                                                                          5
     SASARAN LUAS TANAM, PANEN, PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI JAGUNG
                  TAHUN 2007 DI NUSA TENGGARA BARAT


NO     KABUPATEN/                         SASARAN
          KOTA  LUAS TANAM      LUAS PANEN PRODUKTIVITAS     PRODUKSI
                    (Ha)           (HA)         (KW/HA)        (TON)
1 MATARAM                 30              29         28,33             81
2 LOMBOK BARAT         6.260           5.948         28,13         16.732
3 LOMBOK TENGAH        3.500           3.325         29,46          9.796
4 LOMBOK TIMUR        13.000          12.350         29,84         36.847
5 SUMBAWA             13.702          13.017         29,46         38.345
6 SUMBAWA BARAT        3.035           2.883         31,12          8.973
7 DOMPU                5.000           4.751         29,38         13.960
8 BIMA                 7.500           7.123         29,82         21.240
9 KOTA BIMA            1.500           1.425         30,10          4.289
  NTB                 53.527          50.851         29,55        150.263

                                                                        6
     SASARAN LUAS TANAM, PANEN, PRODUKTIVITAS DAN PRODUKSI KEDELAI
                  TAHUN 2007 DI NUSA TENGGARA BARAT


NO    KABUPATEN/                          SASARAN
         KOTA   LUAS TANAM      LUAS PANEN PRODUKTIVITAS PRODUKSI *)
                    (Ha)           (HA)         (KW/HA)    (TON)
1 MATARAM              1.227           1.166         14,00     1.632
2 LOMBOK BARAT         4.661           4.428         12,50     5.535
3 LOMBOK TENGAH       21.031          19.979         12,06    24.095
4 LOMBOK TIMUR         1.136           1.078         12,13     1.308
5 SUMBAWA             11.408          10.838         13,05    14.143
6 SUMBAWA BARAT        4.505           4.281         12,86     5.504
7 DOMPU               16.545          15.719         11,92    18.736
8 BIMA                25.894          24.599         12,45    30.626
9 KOTA BIMA            1.500           1.425         12,20     1.739
  NTB                 87.907          83.512         12,37   103.317

                                                                     7
     REALISASI LUAS TANAM PADI, JAGUNG, KEDELAI MT. 2006/2007 (OKT – MAR)
                      DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
                       KEADAAN S.D. BULAN PEBRUARI 2007

NO    KABUPATEN/               PADI                             JAGUNG                       KEDELAI
         KOTA         SASARAN REALISASI         %       SASARAN REALISASI    %       SASARAN REALISASI    %
                        (Ha)    (Ha)                      (Ha)    (Ha)                 (Ha)    (Ha)
 1 MATARAM                   1.457     1.587   108,92         1       -          -         1       -        -
 2 LOMBOK BARAT          26.655       24.267    91,04      3.962    2.448    61,79       809       649    80,22
 3 LOMBOK TENGAH         55.458       51.697    93,22      2.768    2.265    81,83      8.970    2.769    30,87
 4 LOMBOK TIMUR          53.366       37.761    70,76      7.780    5.650    72,62       140       156   111,43
 5 SUMBAWA               51.842       41.202    79,48     12.942   10.973    84,79      1.063      613    57,67
 6 SUMBAWA BARAT         11.855        5.137    43,33      3.020    1.686    55,83       189       96     50,79
 7 DOMPU                 28.084       23.245    82,77      4.732    1.842    38,93      5.299    1.660    31,33
 8 BIMA                  48.300       46.015    95,27      5.827    7.430   127,51      9.846    6.550    66,52
 9 KOTA BIMA              4.405        3.168    71,92      1.435    1.054    73,45        811    1.736   214,06
      NTB               281.422      234.079    83,18     42.467   33.348    78,53     27.128   14.229    52,45

Realisasi berdasarkan RKSP




                                                                                                                  8
     REALISASI LUAS PANEN PADI, JAGUNG, KEDELAI MT. 2006/2007 (OKT – MAR)
                      DI PROVINSI NUSA TENGGARA BARAT
                      KEADAAN S.D. BULAN PEBRUARI 2007

NO        KOMODITI                   JANUARI                     PEBRUARI
                             SASARAN REALISASI   %       SASARAN REALISASI   %
                               (Ha)    (Ha)                (Ha)     (Ha)


1. PADI                         3.828    2.981   77,87     38.125    4.860   12,75


2. JAGUNG                        939       426   45,37      5.271    1.442   27,36


3. KEDELAI                        49         -     -        2.182       4     0,18


Realisasi berdasarkan RKSP




                                                                                     9
KETERSEDIAAN BENIH PADI, JAGUNG, KEDELAI
        DI NUSA TENGGARA BARAT
      (Keadaan s.d. 20 Maret 2007)



             PADI : 1.843 TON
(Perkiraan s.d. September 2007 : 5.783 TON)
       JAGUNG KOMPOSIT : 20,95 TON
        JAGUNG HIBRIDA : 29,70 TON
            KEDELAI : 554 TON




                                              10
          KEBUTUHAN BENIH PADI, JAGUNG, KEDELAI
DI NUSA TENGGARA BARAT DALAM MENDUKUNG PROGRAM P2BN
                      TAHUN 2007



             PADI HIBRIDA : 3,9 TON
          PADI INHIBRIDA : 3.652 TON
          JAGUNG KOMPOSIT : 274,67 TON
          JAGUNG HIBRIDA : 240.68 TON
              KEDELAI : 1.767 TON




                                                      11
 Sebaran Benih Padi, Jagung dan Kedelai di NTB

• Komposisi varietas dominan PADI : Ciherang,
  Cigeulis, Cilosari, Ciliwung, IR-64, Cimelati, dan
  Widas.
• Jagung Komposit : Lamuru, Srikandi Kuning
. Daerah sebaran : Sumbawa, Bima dan Lotim.
• Kedelai : Wilis, Anjasmoro
  Daerah sebaran : Loteng, Dompu



                                                   12
 SASARAN LUAS AREAL TANAM PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI MELALUI
  BENIH BERBANTUAN BERDASARKAN HASIL REVISI POK TERAKHIR
            DI MASING-MASING KABUPATEN SE-NTB

NO   KABUPATEN/                   PADI                             JAGUNG                 KEDELAI
        KOTA          NON HIBRIDA           HIBRIDA       HIBRIDA        NON HIBRIDA
                    Luas     Volume       Luas Volume Luas Volume Luas Volume Luas Volume
                   Tanam      Benih      Tanam Benih Tanam Benih Tanam Benih Tanam Benih
                    (Ha)       (kg)       (Ha)    (kg) (Ha)     (kg)    (Ha)     (kg) (Ha)     (kg)

 1 KOTA MATARAM      1.446      36.158               -     31     465       -       -    441      17.640
 2 LOMBOK BARAT     25.032     625.800     160   2.400 5.382 80.730       715 21.450 5.413       216.520
 3 LOMBOK TENGAH    24.475     611.880     100   1.500    400   6.000   5.996 179.880 11.230     449.200
 4 LOMBOK TIMUR     24.800     620.000               - 2.667 40.000       822 24.664 1.000        40.000
 5 SUMBAWA          32.710     817.750               - 2.100 31.501         -       - 7.500      300.000
 6 SUMBAWA BARAT     7.850     196.250               -    231   3.460       -       -    491      19.646
 7 DOMPU            11.662     291.550               - 1.600 24.000       649 19.484 7.418       296.720
 8 BIMA             16.001     400.020               - 3.300 49.500       492 14.760 10.690      427.600
 9 KOTA BIMA         2.116      52.909               -    335   5.025     481 14.430       -           -
   NTB             146.093   3.652.316     260   3.900 16.045 240.681   9.156 274.668 44.183   1.767.326
                                                                                                    13
KENDALA UTAMA DALAM PELAKSANAAN P2BN DAN PENYALURAN BENIH
           BERBANTUAN DI KABUPATEN/KOTA SE-NTB
•   Seluruh Kabupaten / Kota yang mendapat alokasi bantuan benih tahun 2007 secara
    hukum setelah menelaah PERMENTAN Nomor : 23/PERMENTAN/SR.120/2/2007 tanggal
    26 Februari 2007 dan memperhatikan surat Menteri Pertanian Nomor :
    41/SR.120/N/2/2007 tanggal 26 Pebruari 2007 Perihal Mekanisme Pengadaan Benih
    Berbantuan Bagi Petani 2007 dan ketentuan yang tertuang dalam Kepres Nomor : 80
    tahun 2003, maka pihak Kabupaten/Kota tidak berani mengambil sikap untuk melakukan
    proses pengadaan benih berbantuan tahun 2007. Untuk itu diperlukan paying hukum yang
    setingkat yang tidak akan menyalahi aturan.
•   Memperhatikan Lampiran PERMENTAN Nomor : 24/PERMENTAN/SR.120/2/2007 tanggal
    26 Februari 2007 tentang harga Referensi Benih Padi Non Hibrida, Jagung Komposit, dan
    kedelai Bersertifikat, maka beberapa hal yang perlu dipertanyakan adalah dasar
    penentuan terhadap pilihan varietas (dalam SK berdasarkan potensi hasil).
•   Karena keterlambatan proses pengadaan benih berbantuan tahun 2007, maka program ini
    tidak dapat seluruhnya dialokasikan pada MT. 2007 (April s.d. September 2007) dan akan
    berlanjut pada MT. 2007/2008 (Oktober – Desember) sehingga berdampak terhadap
    sasaran Peningkatan Produksi Beras Nasional (P2BN) di Provinsi NTB.
•   Untuk mempercepat proses pengadaan benih berbantuan tersebut, diharapkan proses
    revisi POK di Pusat dapat dipercepat.
•   Mengingat keraguan kabupaten dalam hal proses pengadaan dan kebutuhan benih petani
    pada MT. 2007 sudah mendesak, maka salah satu alternatif adalah program bantuan ini
    dapat dilakukan melalui Pola BLM pada kelompok tani.
•   Ketersediaan benih jagung dan Kedelai di NTB sampai bulan maret 2007 belum dapat
    memenuhi kebutuhan benih untuk program bantuan benih 2007 yang harus dimulai pada
    MT. 2007.
                                                                                       14
      UPAYA – UPAYA YANG HARUS DILAKUKAN DALAM RANGKA
     PENINGKATAN PRODUKSI PADI TAHUN 2007 DI PROVINSI NTB

•   Dari sisa musim tanam padi bulan Maret s.d. September 2007 Ha harus
    dapat diamankan sehingga memperkecil luas areal yang mengalami gagal
    panen.
•   Dilakukan upaya peningkatan produktivitas padi dari 45,48 ku/Ha GKG
    pada tahun 2006 menjadi 47,55 ku/ha pada tahun 2007 dengan cara :
       Peningkatan Penggunaan benih padi berlabel melalui subsidi benih seluas
       146.093 ha dan padi hibrida seluas 260 Ha.
       Peningkatan penggunaan pupuk berimbang
       Perbaikan kesuburan tanah melalui penggunaan pupuk organik dengan
       memanfaatkan pupuk kandang dari ternak sapi.
       Perbaikan budidaya tanaman antara lain penerapan PTT, Pola SRI, Jajar
       Legowo.
       Perbaikan jaringan Irigasi.
       Peningkatan pengendalian Hama dan penyakit guna mengurangi kerusakan
       tanaman.
    Melakukan kerjasama dengan PERGURUAN TINGGI dan LITBANG untuk
    mendapatkan teknologi yang inovatif dan sesuai dengan kebutuhan petani.
    Revitalisasi Penyuluhan


                                                                            15
                 PERMASALAHAN UMUM YANG MENJADI
                  KENDALA DALAM SEKTOR PERTANIAN

•   Alih fungsi lahan pertanian
•   Pemilikan modal petani yang sangat terbatas
•   Penggunaan sarana produksi on farm yang masih sangat minimal seperti
    penggunaan benih/varietas unggul bersertifikat, pupuk yang dianjurkan, serta
    obat – obatan atau pestisida alami maupun kimia yang bersifat tidak resisten
•   Tingkat kehilangan hasil masih tinggi
•   Harga sarana produksi yang sangat tinggi dibandingkan dengan harga gabah
    maupun komoditas lainnya pada saat panen;
•   Pelaksanaan pasca panen terutama dalam kegiatan pengolahan hasil sampai
    ketingkat pemasaran (off farm) yang belum optimal menyebabkan produksi
    yang dicapai tidak dapat memberikan nilai tambah yang optimal
•   Rusaknya jaringan irigasi di beberapa tempat, sehingga air irigasi tidak dapat
    dimanfaatkan secara optimal.
•   Curah hujan yang sangat minim sehingga pertanaman terancam kekeringan.
•   Sumber-sumber Mata Air Yang Semakin Berkurang
•   Penerapan Konservasi Lahan Yang Belum Dapat Berjalan Sesuai Harapan




                                                                                16
PERMASALAHAN…….. (lanjutan)
•   penyuluhan pertanian tidak berjalan seperti yang diharapkan. Sehingga
    terjadi stagnasi diseminasi teknologi dari sumber teknologi (Litbang,
    Perguruan Tinggi) kepada para petani sebagai pengguna teknologi.
•   Penggunaan sarana produksi yang masih minim di tingkat petani seperti
    belum seluruh petani menggunakan benih bersertifikat, pemberian pupuk
    berimbang seperti rekomendasi yang dianjurkan serta penggunaan
    pestisida yang aman bagi lingkungan tetapi efektif untuk melindungi
    tanaman dari seerangan organisme penggangu.
•   Harga sarana produksi yang cukup tinggi dan harga jual hasil yang relatif
    rendah sering menjadi slah satu faktor penghambat bagi kebanyakan
    petani untuk melaksanakan penerapan teknologi berusaha tani yang baik
    dan benar.
•   Lemahnya permodalan para petani, sementara dana yang disediakan
    pemerintah tidak dapat diakses secara maksimal oleh petani karena
    prosedur perbankan sangat sulit untuk dipenuhi oleh petani.
•   Kelembagaan di tingkat petani belum berkembang dan berjalan baik,
    sehingga kesempatan untuk menjalin kemitraan dengan para pelaku bisnis
    yang bergerak dalam bidang pertanian, sulit dilakukan.
•   Sempitnya lahan usaha khususnya lahan sawah rat-rata 0,3 Ha/KK.


                                                                           17
         INFO BMG
• Dengan sering munculnya Badai
  Tropis di Selatan Nusa Tenggara
  Sejak awal Maret 2007 maka
  curah hujan pada bulan Maret,
  April dan Mei 2007 diperkirakan
  NORMAL

                                18
                        DISKUSI
• Sumbawa :
   – Mohon dukungan Departemen Pertanian dalam pembangunan
     prasarana dan sarana irigasi.

• Dompu :
   – Payung Hukum mendukung Keppres no. 80
   – Disarankan kepada Menteri Pertanian untuk bersurat kepada
     Presiden untuk mempercepat pengadaan benih.
• Bima :
   – Kondisi Lahan terbatas
   – Musim Hujan terbatas
   – Pengadaan benih secara PL, berdasarkan instruksi Walikota
     Bima, sehingga dropping benih akan segera dilaksanakan.


                                                                 19
• Sumbawa Barat :
  – Penegasan dengan surat Presiden.
  – Pengadaan Benih dengan cara BLM.
  – Keputusan Bersama Muspida Provinsi untuk
    mendukung pelaksanaan PL.
• Lombok Timur :
  – Payung hukum untuk pengadaan benih.
  – Surat Mentan Tanggal 21 Pebruari 2007.
  – Kurangnya sinkronisasi Surat mentan tentang
    pengadaan benih secara PL.
  – Sasaran diluncurkan pada MH. 2007/2008
    (Oktober – Desember 2007).
                                               20
• Lombok Tengah :
   – Mengupayakan pelaksanaan dengan peraturan/payung hukum
     yang ada.
   – Kendala Pupuk, terutama non urea.
   – Program Pupuk Organik
   – Dana LUEP diharapkan tetap berjalan.
   – Diversifikasi pangan sebagai alternatif pangan pokok.
• Lombok Barat :
   – Mendukung P2BN dengan SK Bupati tentang Tim Pembina
     sampai ke Tingkat Desa sebagai upaya untuk mengembalikan
     Swasembada Pangan (Operasi Tekad Makmur) melalui P2BN.
   – Laju Pertambahan Penduduk lebih besar dari laju penambahan
     produksi pangan.
   – Penggunaan Pupuk Organik dan kontinyuitas penyediaan
     pupuk.
   – Pengawalan Air giring-giring.
   – Pengawalan P2BN, dengan Regenerasi Penyuluh Lapangan.
   – Diversifikasi Pangan.

                                                              21
• Kota Mataram :
  – Prosedur sudah berjalan
  – Payung hukum yang lebih tegas yang
    setingkat Kepres, karena perbedaan persepsi
    waktu dalam hukum dan teknis.
• WAGUB :
  – Tidak berani PL : Dompu, KSB, Lotim,
    Mataram
  – Berani : Sumbawa, Loteng, Kota Bima, Lobar.



                                              22
• Bulog :
  – Jangan hanya memperhatikan hulu dan On Farm,
    tetapi juga sistem hilir menjadi perhatian.
  – Penentuan HPP berjalan lambat.
  – 2007 membeli gabah dua kali lipat dari tahun 2006
    (120.000 ton setara beras).
  – Kebijakan yang sering bertentangan dengan kondisi
    di lapangan.
• Dinas Pertanian Provinsi :
  – Dukungan terhadap percepatan pengadaan benih
    dengan mempercepat payung hukum.
  – Kesiapan benih


                                                        23
• PUSRI
  – Ketersediaan pupuk sudah lebih dari 8000 ha,
    realisasi sudah lebih dari 50 %.
• PETROKIMIA
  – STOK 800 ton di P. Lombok + 400 ton di
    Sumbawa +175 Bima
  – Idealnya, Stok Pupuk Non Urea, SP-36,
    sebanyak 25.000 ton. dalam mendukung
    Pemupukan Beriimbang, maka perlu
    mendapat perhatian dari menteri pertanian
    dalam penetapan alokasi pupuk bersbsidi di
    NTB.

                                                 24
• PERTANI
   – Kemampuan penyediaan benih padi + 2500 ton/th.
   – Diharapkan semua cocok : cocok aturan, cocok komitmen.
• SHS
   – Pengadaan stok bekerjasama dengan penangkar lokal.
   – Stok Benih Padi 23 rb ton/tahun, jagung hibrida 1.600 ton/tahun,
     jagung komposit 3000 ton/tahun kedelai 7 rb ton/tahun.
• KTNA
   – Informasi bantuan telah sampai ke tingkat petani, sehingga
     diharapkan pengadaan benih untuk segera karena petani sudah
     menunggu.
• Kimpraswil
   – Hujan buatan untuk mendukung P2BN
   – Dana pengeboran sebesar 30 M untuk pembuatan sumur air
     tanah 34 titik.
   – Rehabilitasi jaringan irigasi yang rusak, pembuatan embung-
     embung kecil.


                                                                   25
• FAPERTA
 – Sedang dilakukan uji multi lokasi Galur
   Harapan Varietas Lahan Kering
 – Diversifikasi Pangan dalam proses pengkajian
   yang lebih lanjut.




                                             26
                          SOLUSI
• DR. Ir. AHMAD DIMYATI, MS.
  – Aspek yang belum siap luncur : payung hukum, dapat
    menggunakan surat Menteri tanggal 22 Maret 2007.
  – Empat Kabupaten yang sudah siap diharapkan melanjutkan
    proses pengadaan benih.
  – Surat Menteri tanggal 23 Maret 2007, telah menjelaskan solusi
    PL, BLM, dsb.
  – Permentan No. 23 telah direvisi dengan permentan No. 34
    merupakan implementasi dari Kepres 80 tahun 2003.
  – Tidak Perlu Kepres atau inpres baru untuk menegaskan /
    dispensasi Kepres 80, karena berlaku khusus untuk pengadaan
    benih dalam Program P2BN.
  – Revisi POK KAbupaten dari pusat telah selesai dan dapat
    digunakan untuk segera mencairkan anggaran.
  – Diversifikasi pangan dapat dijadikan alternatif untuk membantu
    perekonomian, namun saat ini beras masih menjadi komoditas
    utama yang sangat penting dan menentukan, sehingga stok
    beras harus tetap dijaga.

                                                                 27
   – Diversifikasi   pangan     tidak    dapat   digalakkan    tanpa
     memperhatikan ketersediaan beras.
   – Program pendukung Diversifikasi pangan bekerjasama dg
     kehutanan a.l. melalui Agroforestry komoditas sukun, kentang.
• DR. Ir. ISKANDAR ANDI NUHUNG, MS.
   – P2BN di NTB telah berjalan cukup baik hanya perlu membenahi
     masalah-masalah yang ada di lapangan.
   – Bulog diharapkan komitmen dengan petani
   – Diharapkan    kepada     pihak   Kabupaten     untuk   tidak
     mempermasalahkan lagi peraturan yang dapat digunakan
     sebagai payung hukum. Pengadaan benih dapat mengacu pada
     Permentan No. 34 Tahun 2007.
• Berdasarkan arahan dari Wakil Gubernur NTB, Rapat
  Koordinasi P2BN hendaknya dilaksanakan minimal
  sebulan sekali di tingkat provinsi, dan apabila ada
  masalah yang mendesak dapat dilaksanakan lebih dari
  satu kali.

                                                                  28
29

								
To top