sunnah - sunnah puasa

Document Sample
sunnah - sunnah puasa Powered By Docstoc
					Menghidupkan Bulan Ramadhan dengan Sunnah
Puasa
Sabtu, 08 Agustus 2009 07:47 Muhammad Abduh Tuasikal Hukum Islam - Puasa

“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)

Berikut adalah beberapa sunnah atau amalan-amalan yang dianjurkan ketika
melakukan puasa. Semoga bermanfaat.

[1] Mengakhirkan Sahur
Nabi kita shallallahu „alaihi wa sallam telah memerintahkan dan menganjurkan
kepada orang yang hendak berpuasa agar makan sahur. Beliau shallallahu „alaihi wa
sallam bersabda,

                                                              ‫أر د أ يص و ف يزسّح ثش ي‬
                                                            ٍَْ ٍ‫َ َا َ ٌَْ َ ُٕ َ َهْ َ َ َ َرْ ِ َْٗء‬
“Barangsiapa ingin berpuasa, maka hendaklah dia bersahur.” (HR. Ahmad.
Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani karena memiliki banyak syawahid. Lihat
Shohihul Jami‟)
Nabi kita shallallahu „alaihi wa sallam memerintahkan demikian karena di dalam
sahur terdapat keberkahan. Dari pembantu Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam –
Anas bin Malik radhiyallahu „anhu- berkata bahwa Rasulullah shallallahu „alaihi wa
sallam bersabda,

                                                                 َ ِ ُٕ َ ‫َ َ ًَ َ َ ُٔا َِ َ ِٗ ان‬
                                                                 ‫ركخسّحر فإٌ ف سّح ر ة‬        ‫ر‬
“Makan sahurlah karena sesungguhnya pada sahur itu terdapat berkah.” (HR.
Bukhari dan Muslim)
Keberkahan yang dimaksudkan di sini di antaranya adalah dengan makan sahur
seseorang akan menjadi kuat berpuasa mulai dari terbit fajar hingga matahari
tenggelam. (Lihat Syarh Riyadhus Sholihin, 3/451, Darul Kutub Al „Ilmiyah)
Barokah lain juga adalah sebagai pembeda antara puasa Yahudi-Nashrani (Ahlul
Kitab) dengan umat ini. Dari Amr bin „Ash radhiyallahu „anhu, Rasulullah
shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

                                      ِ َ َ ‫َصْ ُ َب َيْ َ ِ َب ِ َب َ ِ َب ِ َْْ ِ انْ ِ َب ِ َكَْ ُ ان‬
                                      ‫ف م ي ث ٍ صي يُ ٔصي و أ م كز ة أ هخ سّحر‬
“Perbedaan antara puasa kita (umat Islam) dan puasa ahlul kitab terletak pada
makan sahur.” (HR. Muslim). Orang ahli kitab ketika berpuasa, mereka makan sahur
sebelum pertengahan malam dan mereka tidak makan sahur sama sekali. Kaum
muslimin diberi keutamaan dalam berpuasa yaitu diberi kemudahan untuk makan
sahur.
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam juga melarang untuk meninggalkan sahur, di
mana beliau shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,
  ‫ٔيالئكزّ سّح ر أ هّ ثركخ فال رذع ِ ٔن أ ي رع أحذك ج عخ ي ي ء فإٌ هّ عّز ٔجم‬
  َ َ َ َ َ َ َ‫َ َ َ ِ َ َ ُ ان َ ُٕ ُ َكُْ ُ َ َ َ ٌ َ َ َ َ ُٕ ُ ََْٕ ٌَْ َجْ َ َ َ َ ُ ُىْ َرْ َ ً ٍِْ َب ٍ َِ َ ان‬
                                                                                     ٍ ‫يصه ٌ عه ًزسّحر‬
                                                                                     َ ‫ُ َُٕ َ ََٗ ان ُ َ َ ِ ِي‬
“Sahur adalah makanan yang penuh berkah. Oleh karena itu, janganlah kalian
meninggalkannya sekalipun hanya dengan minum seteguk air. Karena sesungguhnya
Allah dan para malaikat bershalawat kepada orang-orang yang makan sahur.” (HR.
Ahmad. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami‟)
Dan sangat dianjurkan untuk mengakhirkan waktu sahur hingga menjelang fajar. Hal
ini dapat dilihat dalam hadits Anas dari Zaid bin Tsabit bahwasanya beliau pernah
makan sahur bersama Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, kemudian beliau
shallallahu „alaihi wa sallam berdiri untuk menunaikan shalat. Kemudian Anas
berkata,”Berapa lama jarak antara adzan dan sahur kalian?” Kemudian Zaid
berkata,”Sekitar 50 ayat”. (HR. Bukhari dan Muslim)

[2] Menyegerakan berbuka
Menyegerakan berbuka akan mendatangkan kebaikan. Rasulullah shallallahu „alaihi
wa sallam bersabda,

                                                                         َ ْ‫َ َ َا ُ ان َب ُ ِ َيْ ٍ َب َ َُٕا انْ ِط‬
                                                                         ‫ال يّز ل ُ س ثخ ر ي عجه ف ر‬
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan
berbuka.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Menyegerakan berbuka juga berarti seseorang konsisten dalam menjalankan sunnah
Nabinya shallallahu „alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam
bersabda,

                                                     َ ُْٕ ُ ‫َب َ َا ُ ُ َ ِٗ ََٗ ُ َ ِٗ َب َىْ َُْ َ ِرْ ِ ِطْ ِ َب ان‬
                                                     ‫ن رّز ل أيز عه سُز ي ن ر زظ ثف رْ ج و‬
“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu
munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban dan Ibnu Khuzaimah.
Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih Targib wa Tarhib). Dan inilah
yang ditiru oleh Syi‟ah Rafidhah, mereka meniru Yahudi dan Nashrani dalam berbuka
puasa yaitu baru berbuka ketika munculnya bintang. Semoga Allah melindungi kita
dari kesesatan mereka. (Lihat Shifat Shoum Nabi, hal. 63)
Nabi kita shallallahu „alaihi wa sallam biasa berbuka puasa sebelum menunaikan
shalat maghrib dan bukanlah menunggu hingga shalat maghrib selesai dikerjakan.
Inilah contoh dan akhlaq dari suri tauladan kita shallallahu „alaihi wa sallam.
Sebagaimana Anas bin Malik radhiyallahu „anhu berkata,

     ِ َ‫ُفْ ِ ُ ََٗ ُ َ َب ٍ َجْ َ ٌَْ ُ َِ َ ٌَِْ َىْ َ ٍُْ ُ َ َب ٌ -صهٗ اهلل عهيّ ٔسهى- َب َ َ ُٕ ُ ان‬
     ّ ‫ك ٌ رس ل ه‬                           ‫ي طر عه رطج د ق م أ يصهٗ فإ ن رك رطج د‬
                                                  ‫رًر د فإ ن رك حس حسٕ د ي ي فعم‬
                                                       ‫ء‬
                                                  َ َ ٍَ ‫ٖ َ َ َا ٍ ٌَِْ َىْ َ ٍُْ َ َب َ َ َا ٍ ٍِْ َب‬
“Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam biasanya berbuka dengan rothb (kurma
basah) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada rothb, maka beliau berbuka
dengan tamr (kurma kering). Dan jika tidak ada yang demikian beliau berbuka
dengan meminum air putih.” (HR. Abu Daud, dikatakan hasan shohih oleh Syaikh Al
Albani dalam Shohih wa Dho‟if Sunan Abu Daud). Hadits ini menunjukkan bahwa
ketika berbuka dianjurkan berbuka dengan kurma (rothb atau tamr) sebagaimana yang
beliau shallallahu „alaihi wa sallam lakukan.
[3] Berdo’a ketika berbuka
Perlu diketahui bersama bahwa do‟a ketika berbuka adalah salah satu do‟a yang
mustajab dan tidak akan ditolak. Maka berdo‟alah dengan penuh keyakinan bahwa
do‟amu akan dikabulkan. Nabi shallallahu „alaihi wa sallam bersabda,

                        ِ ُْٕ‫َ َ َ ٌ َ ُ َ ُ َعْ َ ُ ُ ُ ا ِ َب ُ انْ َب ِ ُ َان َب ِ ُ ِي َ ُفْ ِ ُ َ َعْ َ ُ انْ َظ‬
                        ‫ثالثخ ال ررد د ٕرٓى إلي و ع دل ٔ ص ئى ح ٍ ي طر ٔد ٕح ً ه و‬
“Ada tiga orang yang do‟anya tidak ditolak : [1] Pemimpin yang adil, [2] Orang
yang berpuasa ketika dia berbuka, [3] Do‟a orang yang terdzolimi.” (HR. Tirmidzi,
Ibnu Hibban, dan Ibnu Majah. Dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih
wa Dho‟if Sunan Tirmidzi)
Do‟a ketika berbuka adalah sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar
radhiyallahu „anhuma bahwa dulu Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam ketika
berbuka beliau membaca :

                                               ّ‫رْت ظًأ ٔ زهذ عر ق ٔثجذ أل ر إ ش ء ه‬
                                               ُ َ‫َ َ َ ان َ َُ َاثْ ََ ِ انْ ُ ُٔ ُ َ َ َ َ ا َجْ ُ ٌِْ َب َ ان‬
“Dzahabadh dhoma‟u wabtallatil „uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa
haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)”
(HR. Abu Daud. Dikatakan hasan oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho‟if
Sunan Abi Daud)

[4] Memberi makan orang berbuka
Para pembaca sekalian, beri makanlah kepada orang yang berpuasa karena ini akan
mendatangkan pahala dan kebaikan yang melimpah ruah. Lihatlah apa yang
Rasulullah shallallahu „alaihi wa sallam sabdakan,

                     ‫ر ص ئى ش ئ ي فطر ص ئً ك ٌ نّ ي م أ رِ غ ر أ ّ ال ي قص ي أ‬
                     َ ٍِْ ُ ُ َُْ َ ُ َ َ َ ْ‫جْ ِ ان َب ِ ِ َيْ ًب ٍَْ َ َ َ َب ِ ًب َب َ َ ُ ِثْ ُ َجْ ِ ِ َي‬
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang
yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit
pun juga.” (HR. Tirmidzi dan dikatakan shohih oleh Syaikh Al Albani dalam Shohih
wa Dho‟if Sunan Tirmidzi)

[5] Memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan
Di antara petunjuk Nabi shallallahu „alaihi wa sallam adalah memperbanyak berbagai
macam ibadah di bulan Ramadhan. Jibril „alaihis sallam biasa membacakan Al
Qur‟an kepada beliau shallallahu „alaihi wa sallam di bulan Ramadhan. Dan apabila
Jibril menemui Nabi shallallahu „alaihi wa sallam, terlihat bahwa beliau shallallahu
„alaihi wa sallam adalah orang yang paling suka memberi bagaikan hembusan angin.
Beliau shallallahu „alaihi wa sallam adalah sebaik-baik manusia yang paling banyak
bersedekah, berbuat ihsan (kebaikan), membaca Al Qur‟an, shalat, dzikir dan i‟tikaf.
(Zadul Ma‟ad, II/29, Ibnul Qayyim, , Mawqi‟ul Islam-Maktabah Syamilah)


Alhamdulillahilladzi bi ni‟matihi tatimmush sholihaat, wa shallallahu „ala nabiyyina
Muhammad wa „ala alihi wa shohbihi wa sallam.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:166
posted:2/12/2010
language:Indonesian
pages:3