Merevisi KUHAP

Document Sample
Merevisi KUHAP
Shared by: Ekuasita Widya
Stats
views:
1565
posted:
2/11/2010
language:
Indonesian
pages:
6
Merevisi KUHAP

“Menyelamatkan” Sistem Peradilan Pidana

(Refleksi seperempat abad diberlakukannya KUHAP)

Al. Wisnubroto



Terselenggaranya sistem peradilan pidana yang adil dalam negara



hukum harus didukung dengan perundang-undangan yang menjamin



pelaksanaan penegakan hukum (pidana) sesuai dengan fungsi dan



wewenang masing-masing aparatur penegak hukum ke arah tegaknya



hukum, keadilan dan perlindungan harkat dan martabat manusia,



ketertiban serta kepastian hukum. Guna memenuhi kebutuhan tersebut,



maka dua puluh lima tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 31 Desember



1981, Pemerintah Republik Indonesia telah mensahkan Undang-Undang



RI Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana yang juga disebut



dengan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana atau KUHAP.



Pada awal dimunculkannya KUHAP, bangsa Indonesia sangat



bangga atas terciptanya karya kodifikasi dan unifikasi hukum acara pidana



nasional tersebut. Terlebih dengan kelebihan-kelebihan yang bersifat



mendasar dibandingkan dengan HIR (Het Herziene Inlandsch Reglement)



yang berlaku sebelumnya, kehadiran KUHAP telah memberikan harapan



besar bagi terwujudnya penegakan hukum pidana yang lebih efektif, adil



dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, sehingga tidak heran



jika pada awal-awal diberlakukannya, KUHAP disebut-sebut dikalangan



pemerhati hukum sebagai “Karya Agung” bangsa Indonesia.



Apapun sebutannya, setelah KUHAP diberlakukan selama kurun



waktu sepempat abad (25 tahun), ternyata semakin menampakkan







Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 1

adanya keterbatasan. Harapan-harapan terhadap KUHAP telah berubah



menjadi pertanyaan-pertanyaan setelah pada kenyataannya masih saja



terjadi pelanggaran hak asasi manusia pada proses peradilan pidana. Di



sisi lain ternyata KUHAP masih saja menampakkan peluang-peluang



untuk ditafsirkan sekehendak pihak yang berkepentingan sehingga justru



semakin kehilangan aspek kepastian hukumnya. Lobang-lobang



kevakuman ketentuan yang diatur dalam KUHAP sering menimbulkan



persoalan dalam pelaksanaannya.





Berbagai keterbatasan KUHAP



Dari pengalaman praktek peradilan pidana maupun dari kajian



akademis, setidaknya ada tiga kategori persoalan rumusan ketentuan



dalam KUHAP. Pertama, persoalan yang sama sekali belum ada



aturannya dalam KUHAP, seperti masalah alat bukti baru seiring dengan



perkembangan teknologi, masalah perlindungan korban dan saksi,



masalah keberadaan Lembaga Pemantau Peradilan (Court



Monitoring/Judicial Wacht), masalah korporasi senagai subjek hukum



pidana; Kedua, persoalan yang telah diatur dalam KUHAP, namun aturan



tersebut tidak lengkap, rancu, atau tidak singkron dengan aturan yang



lain, seperti masalah Peninjauan Kembali (PK) misalnya tidak jelas



apakah selain terpidana atau ahli warisnya boleh mengajukan PK,



masalah Praperadilan misalnya apakah tidaksahnya penyidikan (di luar



Pasal 1 butir 10 jo. Pasal 77 KUHAP) juga merupakan materi



praperadilan, masalah ketidaksingkronan antara Pasal 67 yang



menyatakan putusan perkara cepat tidak dapat dibanding, dengan Pasal



205 (3) KUHAP yang menyatakan putusan perkara cepat yang berupa





Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 2

perampasan kemerdekaan dapat dimintakan banding, dan lain



sebagainya (kategori ini merupakan bagian terbanyak, sekitar 26 pasal



dalam KUHAP perlu direvisi); Ketiga, persoalan yang secara prinsip



maupun aturannya sudah jelas dalam KUHAP namun namun lemah dalam



pelaksanaanya, seperti fenomena yang seringkali nampak pada



pelaksanaan KUHAP dalam kasus-kasus riel seperti sulitnya akses



bantuan hukum pada pemeriksaan pendahuluan, adanya indikasi masih



seringnya terjadi proses pemeriksaan dengan pendekatan kekerasan dan



tekanan psikis maupun fisik, benturan kewenangan antara aparatur



penegak hukum, tindakan penegak hukum tanpa dasar hukum yang jelas



dan berbagai kejanggalan dalam praktek hukum lainnya merupakan bukti



keterbatasan KUHAP. Sebagai subsistem substansi hukum, maka apabila



ketidakpastian, celah-celah maupun kevakuman hukum dalam KUHAP



yang semakin menganga dibiarkan terus, maka cepat atau lambat pasti



akan mempengaruhi bekerjanya Sistem Peradilan pidana, bahkan



bukannya tidak mungkin akan mengarah para kerusakan Sistem Peradilan



Pidana.





Menghadapi Perkembangan Masyarakat



Sebagai salah satu perangkat hukum yang menjadi dasar bagi



aparatur penegak hukum dalam melaksanakan tugas penegakan hukum



pidana yang merupakan bagian dari politik kriminal, KUHAP tidak terlepas



dari aspek sosial yang menyangkut perkembangan masyarakat. Dalam



masyarakat yang berkembang seiring dengan perkembangan ilmu



pengetahuan dan teknologi (iptek), maka kehadiran media baru (media



penyimpanan magnetik/elektrik, virtualcommunication, based on





Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 3

computerize system) telah menyebabkan kewenangan aparatur penegak



hukum dan sistem pembuktian yang diatur dalam KUHAP (yang based on



conventional medium) dirasakan sebagai kendala utama bagi



penyelesaian kasus-kasus kejahatan inkonvesional yang terjadi.



Perubahan mendasar sosial politik pasca reformasi yang sebagian



dampaknya mempengaruhi pada restrukturisasi badan-badan kepolisian



negara dan badan-badan kehakiman dalam rangka meningkatkan



profesionalisme aparatur penegak hukum serta meletakkan kedudukan



kekuasaan kehakiman sebagaimana mestinya, tentu membawa



konsekuensi pada keharusan penyesuaian pada KUHAP. Disamping itu



bergesernya kultur pemerintahan otoriter yang cenderung secara represif



membatasi produk hukum yang mengedepankan perlindungan hak asasi



manusia, maka pertama-tama harus dikaji apakah asas-asas dalam



KUHAP telah memberikan perlindungan hak asasi manusia tanpa kecuali,



kedua apakah asas-asas tersebut telah dijabarkan secara sempurna



dalam ketentuan-ketentuan yang diatur dalam pasal-pasal KUHAP. Dalam



hal ini seiring dengan semakin terbukanya sistem di era globalisasi ini,



tidak menutup kemungkinan penyesuaian the spirit of rule dalam KUHAP



dengan trend perlindungan hak asasi manusia di dunia internasional (yang



berkaitan dengan penyelenggaraan peradilan) tanpa menanggalkan aspek



falsafah dan pandangan hidup bangsa Indonesia.





Tergantung pada political will



Salah satu keterbatasan model hukum positif adalah keterikatannya



pada ruang dan waktu. Oleh sebab itu KUHAP yang pada tanggal 31



Desember 2006 telah diberlakukan selama seperempat abad lamanya,





Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 4

perlu diperbaharui dalam rangka mengantisipasi persoalan yang muncul



akibat keterbatasan pengaturan KUHAP dan ketertinggalan aspek-aspek



yang diatur dalam KUHAP seiring dengan perkembangan masyarakat.



Pembaharuan KUHAP tersebut perlu diawali dengan kajian mendalam



terhadap KUHAP, dan selanjutnya melakukan langkah-langkah merevisi



KUHAP berdasarkan hasil kajian tersebut.



Persoalan yang mendasar sebenarnya terletak pada political will



pemerintah dalam menetapkan arah politik hukum dalam merancang



perundang-undangan hukum acara pidana dalam rangka membangun



Sistem Peradilan Pidana yang handal. Hal tersebut perlu dipertanyakan



mengingat sudah seperempat abad sejak diberlakukan dan terbukti



selama diberlakukan banyak menimbulkan permasalahan seperti



ketidakpastian atau penerapan berdasarkan interpretasi yang



kontroversial, namun KUHAP tetap saja masih “perawan” atau dengan



kata lain belum nampak kesungguhan pemerintah untuk merevisi.



Sekalipun sejak beberapa tahun silam telah dipersiapkan draft KUHAP



“baru” (revisi UU. No. 8 Tahun 1981) oleh sebuah tim yang dipimpin oleh



Prof. Andi Hamzah, namun nampaknya pembahasan RUU KUHAP



tersebut kurang memperoleh prioritas dan bahkan kini gaungnyapun



semakin tak terdengar.



Sebagaimana diketahui bahwa dalam negara hukum modern,



substansi hukum yang berupa perangkat peraturan perundang-undangan



merupakan subsistem yang penting. Subtansi hukum yang beresensikan



kepastian hukum, keadilan dan kemanfaatan hukum secara sistemik akan



mempengaruhi subsistem struktur hukum baik secara kelembagaan







Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 5

maupun personalnya untuk menyesuaikan diri yang pada akhirnya akan



merombak subsistem kultur hukum yang harmonis dan kondisif bagi



terciptanya ketertiban masyarakat. Semua itu artinya merevisi KUHAP



sebagai sumber kodifikasi dan payung peraturan hukum acara pidana di



Indonesia menjadi Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana yang



beresensikan kepastian, keadilan dan kemanfaatan hukum serta



mencerminkan perlindungan HAM secara sistemik akan “menyelamatkan”



Sistem Peradilan Pidana Indonesia yang belakangan ini nampak semakin



“terpuruk” diterpa berbagai kasus tindak pidana yang diselesaikan dengan



hukum acara pidana yang semakin “kedodoran”. Memasuki tahun ke



duapuluh enam di tahun 2007 siapa yang mau peduli?



*) Al. Wisnubroto, S.H.,M.Hum.,

Pengajar Fakultas Hukum Universitas Atma Jaya Yogyakarta

dan Mahasiswa Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP









Merevisi KUHAP Al. Wisnubroto KamusHukum.com - 6


Share This Document


Related docs
Other docs by Ekuasita Widya
Draf point damai Omni-Prita
Views: 1868  |  Downloads: 33
Kontributor Panggung Festival Malioboro 2009
Views: 216  |  Downloads: 3
Pedoman penanganan tindak pidana korupsi - KPK
Views: 3774  |  Downloads: 295
Form Permohonan Kunjungan ke Istana
Views: 1345  |  Downloads: 50
PP 10 Th 1993 tentang Benda Cagar Budaya
Views: 2055  |  Downloads: 133
Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif
Views: 600  |  Downloads: 54
Kasus Korupsi - KPK 2008, tahap banding
Views: 857  |  Downloads: 37
by registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!