Kepemimpinan Rasulullah SAW

Document Sample
Kepemimpinan Rasulullah SAW Powered By Docstoc
					                   Kepemimpinan Rasulullah SAW
                       Oleh Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.A.




TIDAK diragukan lagi bahwa Nabi Muhammad SAW adalah seorang pemimpin yang
sangat berhasil. Bayangkan, hanya dalam waktu lebih kurang 23 tahun--13 tahun
priode Makkah dan 10 tahun priode Madinah--beliau telah berhasil merobah
kekufuran menjadi keimanan, kemusyrikan menjadi ketauhidan, kemaksiatan menjadi
ketaatan. Dalam masa sesingkat itu Nabi Muhammad SAW telah berhasil merobah
masyarakat Arab yang jahiliyah menjadi masyarakat madani yang berperadaban
tinggi dan mulia. Di mana rahasia kesuksesan kepemimpinan beliau?
        Ada beberapa faktor yang menyebabkan kepemimpinan beliau sangat berhasil:
1. Nabi Muhammad SAW sejak kecil telah memiliki kepribadian yang mulia. Nabi
adalah seorang mitsali (teladan) mulai masa kanak-kanak, remaja, dewasa dan
seterusnya sampai akhir hayat beliau. Tidak ada sedikitpun noda hitam dalam
kehidupan Nabi, baik dalam kehidupan pribadi, keluarga maupun bermasyarakat.
Sejak muda Nabi sudah dikenal oleh masyarakat Makkah sebagai Al-Amin, orang
yang sangat dipercaya. Sifat amanah, ditambah dengan shidiq, tabligh, fathanah,
istiqamah, shabar, pemaaf, lapang dada, penyayang dan sifat-sifat mulia lainnya
menjadi modal besar bagi beliau dalam memimpin. Allah sendiri memuji Nabi
sebagai seorang yang memiliki akhlaq yang agung. Allah SWT berfirman:



                                                          ٍ ِ َ ٍ ُُ         َ َ َ ‫وإ ِ ﱠ‬
                                                                                        َ
Dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. (Q.S. Al-Qalam
68:4)



2. Dalam memimpin Nabi selalu dibimbing oleh wahyu, baik wahyu langsung
maupun tidak langsung. Secara bertahap selama 22 tahun 2 bulan 22 hari Allah SWT
menurunkan firman-Nya berupa ayat-ayat Al-Qur'an, yang berisi perintah, larangan,
bimbingan, kisah , sejarah, ilmu pengetahuan dan lain sebagainya. Jika ada
pertanyaan turun ayat menjawabnya. Jika ada kejadian atau peristiwa turun pula ayat
meresponnya. Adakalanya bimbingan hanya diberikan dalam bentuk makna,
sedangkan redaksinya datang dari Nabi sendiri. Bagian inilah yang kemudian kita
kenal dengan hadits qudsi. Jika tidak ada bimbingan wahyu, Nabi berijtihad sendiri di
bawah pengawasan wahyu. Jika ijtihad Nabi salah, wahyu turun meluruskan atau
mengoresksinya.
3. Dalam hal-hal yang bersifat ijtihadiyah, tidak jarang Nabi bermusyawarah dengan
para sahabat, paling sering dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khathab.
Adakalanya Nabi bermusyawarah dengan Muhajirin dan Anshar, atau dengan
perwakilan masing-masing suku baik dari kalangan Anshar maupun Muhajirin. Jika
terjadi perbedaan pendapat Nabi menyelesaikannya dengan sangat bijaksana. Semua
pendapat dihormati oleh Nabi, sekalipun pada akhirnya bukan pendapat tersebut yang
diambil.. Misalnya tentang tawanan perang Badar, terjadi perbedaan pendapat yang
tajam antara Abu Bakar dan Umar bin Khathab. Menurut Abu Bakar sebaiknya
tawanan perang itu dibebaskan dengan meminta tebusan. Mereka adalah famili dan
saudara-saudara kita juga. Bagi yang tidak sanggup membayar tebusan dapat
membayarnya dengan jasa mengajarkan membaca dan menulis. Tetapi menurut
Umar, sebaiknya semua tawanan dibunuh karena mereka adalah musuh Allah dan
Rasul-Nya. Sebelum memutuskan mengambil pendapat Abu Bakar, Nabi mengatakan
bahwa, kalau diibaratkan malaikat, Abu Bakar adalah malaikat Mikail yang
menebarkan rahmah. Kalau diibaratkan nabi, Abu Bakar seperti nabi Ibrahim yang
pemaaf. Sedangkan Umar, ibarat malaikat Jibril yang bertugas menurunkan azab, dan
seperti nabi Nuh yang meminta keada Tuhan jangan biarkan seorang kafirpun tersisa
di permukaan bumi. Kedua-duanya sama-sama mulia. Nabi sama sekali tidak
menggunakan politik belah bambu, satu diinjak yang satu lagi diangkat. Jika seorang
pemimpin tidak mampu mengelola perbedaan pendapat dapat menimbulkan konflik,
bahkan perpecahan.
4. Sebagai seorang pemimpin Nabi selalu bersama umat dan merasakan apa yang
dirasakan oleh mereka. Jika umat menderita, beliau lebih merasakan lagi penderitaan
itu. Nabi sangat ingin umatnya sejahtera dan bahagia. Beliau pengasih dan penyayang
terhadap umatnya. Sekalipun umatnya berbuat salah, Nabi tetap bersikap lemah
lembut dan tidak kasar. Allah SWT menjelaskan sifat Nabi tersebut dalam firman-
Nya.
 ُ َْ َ ٌ     ِ َ ْ‫َ ِﱡ‬     َ ِ ْ َ َ ٌ ِ َ ْ ُ ِ ُ َ‫َ َ ْ َ ء ُ ْ ر ُ ل ﱢ ْ أ‬
                                                            ٌ َ      َ
                                                      ٌ ِ ‫ِ ْ ُ ْ ِ ِ َ رؤوف ر‬
                                                          ‫َ ُ ٌ ﱠ‬
Sungguh Telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa
olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu,
amat belas kasihan lagi Penyayang terhadap orang-orang mukmin.(Q.S. At-Taubah
9:128)


 ْ ِ ‫َ َ ُ ْ و َ ْ ُ َ َ ًّ َ ِ َ ا ْ َ ْ ِ َ َ ﱡ ْا‬
                                             َ                 ِّ
                                                           ِ ‫َِ َ ر ْ َ ٍ ﱢ َ ﷲ‬
                                                                         َ
َ ْ َ َ ‫ْ َ ْ ِ ْ َ ُ ْ و َ ورْ ھُ ْ ِ ا َ ْ ِ َ ِذا‬
           َ                      ِ َ                     ‫َ ْ ِ َ َ ْ ُ َ ْ ُ ْ وا‬
                                                            َ
                                    َ ِ ‫ِ ﱡ اْ ُ َ َ ﱢ‬        ّ ‫ِّ ﱠ‬
                                                         ُ َ‫َ َ َ ﱠ ْ َ َ ﷲ إِن ﷲ‬
Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri
dari sekelilingmu. Karena itu ma'afkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka,
dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu
telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah
menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya. (Q.S. Ali Imran 3:159)


5. Dalam memimpin, Nabi tidak hanya mengarahkan dan membimbing dari balik
meja, tetapi juga terjun langsung ke lapangan. Baik dengan bimbingan wahyu, atau
dengan berijtihad dan bermusyawarah dengan para sahabat. Nabi mengatur strategi
dan taktik perjuangan, baik dalam peperangan maupun perdamaian. Kita dapat
membaca dalam buku-buku fiqh sirah, bagaimana strategi dakwah Nabi pada priode
Makkah dan Madinah. Pada masa-masa awal Nabi menempuh strategi merahasiakan
semuanya, baik amal maupun pengorganisasian. Setelah itu masuk priode beramal
secara terbuka, tetapi tetap merahasiakan organisasi, sampai akhirnya datang priode
dakwah secara terbuka. Ada priode menahan diri dengan tabah menghadapi tekanan
dan siksaan dari musuh, tidak seorang pun dibolehkan melawan. Tetapi ada priode
diizinka perang dan konfrontasi terbuka.
6. Sebagai pemimpin kata-kata Nabi sangat didengar, karena beliau seorang yang
konsisten. Tidak ada beda antara kata dan perbuatan. Sebelum mengajarkan sesuatu,
Nabi melakukannya lebih dahulu. Ada kalanya Nabi tidak berbicara dengan kata-kata,
tetapi dengan perbuatan dan keteladanan. Nabi disiplin dan adil dalam menegakkan
hukum, tanpa pandang bulu. Tatkala Usamah bin Zaid diutus oleh beberapa orang
pemuka Quraisy untuk memintakan keringanan hukum bagi seorang perempuan
Quraisy yang terbukti mencuri dan harus dipotong tangannya, tapi dengan tegas
menolaknya. Bahkan beliau menegaskan jangankan perempuan itu, andaikata Fatimah
binti Muhammad yang mencuri, Nabi akan tetap potong tangannya. Tetapi jika
kesalahan-kesalahan yang dilakukan umatnya menyangkut diri beliau pribadi, Nabi
lebih suka memaafkan.
7. Menurut Afzalur Rahman 2002:73-97) Nabi Muhammad SAW memiliki banyak
kualitas besar yang membuatnya disayang dan menjadi idola baga para pengikutnya.
Beliau sangat baik hati, lemah lembut, sederhana dan mencintai serta memikat hati
orang-orang yang telah siap mengorbankan semua milik mereka untuk beliau. Di atas
semua itu:
a. Nabi gagah dan berani. Beliau menghadapi sejumlah bahaya dan bencana pada satu
waktu, tetapi tidak pernah memperlihatkan suatu kelemahan atau sifat penakut. Beliau
bertempur di banyak pertempuran besar, bahkan di bawah serangan hebat, tetapi
beliau tidak pernah bergerak satu inci pun dari tempatnya. Beliau selalu berada paling
dekat dengan perbatasan musuh ketika perang telah merajalela. Beliau tetap mantap
dan bertemur dalam posisinya sendiri, sementara yang lain lari. Hal itu terlihat
misalnya dalam perang Uhud dan Hunain, ketika banyak para sahabat                telah
melarikan diri dari medan tempur, namun beliau tetap dalam posisinya, bertempur dan
menyeru orang-orang lain agar kembali. Inilah keteguhan hati dan keberanian yang
telah menyelamatkan situasi atas kedua peristiwa tersebut.
b. Nabi memiliki kontorol diri yang penuh atas dirinya sendiri di bawah segala situasi
dalam damai dan perang. Di Makkah, beliau menderita di tangan para peguasa suku
Quraisy selama 13 tahun dan menanggung semua kekerasan dan penderitaan dengan
kegigihan yang sabar dan tidak pernah kehilangan wataknya. Di Madinah beliau
menghadapi situasi perang yang berbeda, tetapi menghadapi mereka semua dengan
tenang, penuh percaya diri da tidak pernah panik.
c. Nabi melewati hingga selesai satu riode dari pederitaan dan kekerasan di Makkah
tetapi menerimanya dengan ketekunan yang sabar da tidak pernah menggerutu atau
mengeluhkanya. Beliau selalu memperlakukan lawannya dengan tingkah laku yang
terbaik.     Untuk membesarkan hati Nabi dalam waktu-waktu sulit Al-Qur'an
memberikan kepada beliau contoh-contoh dari para Rasul sebelumnya. "Maka
bersabarlah kamu seperti orang-orang yang mempunyai keteguhan hati dari rasul-
rasul yang telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan (azab) bagi
mereka... (Q.S. Al-Ahqaf 46:35)
d. Nabi telah menuntut perlakuan jujur kepada semua dan membenci perbedaan-
perbedaan di antara manusia. Ketika masjid pertama dibangun di Madinah, beliau
bekerja seperti ekerja biasa bersama para sahabatnya. Dalam perang Ahzab, beliau
bersama-sama secara sepadan dalam penggalian parit dengan sahabat-sahabatnya dan
membawa semacam mangkok besari dari tana di atas bahunya. Beliau selalu
memperlakukan orang-orang dengan keadilan dan kejujuran yang absolut.
e. Nabi memiliki suatu kepribadian yang menarik yang semua sahabatnya lebih
mencintainya daripada sesuatu apa pun lainnya di dunia ini. Beliau telah diberkati
dengan penamilan yang menarik setiap orang dan setiap orang menghormati serta
mematuhinya.




Demikianlah sebagian rahasia kesuksesan Nabi jadi pemimpin yang dapat diungkap
dalam tulisan singkat ini. Tentu lebih banyak lagi sifat-sifat mulia dari kepemimpinan
beliau yang belum diungkapkan. Beberapa bagian akan kita uraikan secara khusus
seperti musyawarah, menegakkan keadilan, sifat shidiq, amanah dan istiqamah dan
juga tentang amar ma'ruf nahi munkar.