Docstoc

Jelang Ramadhan

Document Sample
Jelang Ramadhan Powered By Docstoc
					Jelang Ramadhan, Walikota Pantau Harga Kebutuhan Pokok
Selasa, 26 Agustus 2008 00:00
Humas

PEKANBARU-Menjelang bulan suci ramadhan, harga kebutuhan pokok di pasar tradisional masih stabil.
Beberapa barang bahkan menunjukkan penurunan harga. Walau pun ada beberapa barang yang
harganya mengalami kenaikan. Demikian hasil pantauan Walikota Pekanbaru Herman Abdullah yang
turun langsung ke dua pasar tradisional di Pekanbaru, yakni Pasar Sail dan Pasar Palapa Selasa (26/7).

Dalam rombongan walikota, ikut serta Ketua DPRD Pekanbaru Teguh Pribadi Arsyad, unsur muspida,
Kepala Bappeda Yusman Amin, Kadis Pasar Marpel, Kadis Perhubungan Pria Budi, Kadis Koperasi Ida
Triyani, Kabag Ekonomi Zulfikar dan unsur terkait lainnya. Dalam kesempatan berdialog dengan
pedagang, walikota mendapat informasi bahwa pasokan sembako tidak ada masalah. Stok mencukupi.
Sehingga harga-harga kebutuhan pokok masyarakat relatif stabil.

Harga jual bawang merah stabil Rp12 ribu begitu juga bawang putih Rp8 ribu/kg. Cabe turun dari Rp20
ribu/kg menjadi Rp18 ribu/kg. Minyak goreng curah turun dari Rp9 ribu/kg menjadi Rp8.500/kg, telur
dari Rp30 ribu/papan menjadi Rp27 ribu/papan. Kenaikan harga terjadi untuk tomat dari Rp5 ribu/kg
menjadi Rp7 ribu/kg, ayam potong dari Rp18 ribu/kg menjadi Rp19 ribu/kg, ikan bilis dari Rp30 ribu/kg
menjadi Rp40 ribu/kg, serta daging sapi yang mencapai Rp60 ribu/kg.

Dalam kesempatan tersebut, walikota pun melontarkan ide untuk penggemukan sapi potong. Sapi
tersebut nantinya dilepas ke pasaran menjelang puasa atau lebaran. Mengingat saat-saat itu, kebutuhan
masyarakat terhadap daging meningkat sehingga harganya juga melonjak naik. "Tolong sampaikan ke
Distan agar tahun depan dibuat kebijakan baru, penggemukan sapi potong. Menjelang puasa atau hari
raya, sapi tersebut dipotong dan dijual ke pasaran dengan harga subsidi. Sehingga dapat menekan
lonjakan harga," jelas wako.

Sedang untuk Pasar Palapa yang berlokasi di Jalan Durian, wako melontarkan rencana renovasi pasar
pada 2010 mendatang melalui dana APBD Pekanbaru. Renovasi diperlukan mengingat kebutuhan pokok
yang dijual pedagang di Pasar Palapa cukup lengkap. Namun kios dan los pedagang kurang layak.
Sehingga pembeli banyak yang enggan untuk belanja di sana. Rencana renovasi langsung disambut
antusias pedagang. Namun pedagang minta diantisipasi tempat penampungan sementara dan bangunan
pasar diharapkan tidak bertingkat.

Sumber: Humas Pemko
ATASI DENGAN BUDAYA HEMAT
Tim Info News BPPI Medan, 29/05/2008 - Mulai pukul 00.00 Wib, Sabtu dini hari
(24/5/2008), pemerintah secara resmi menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).
Kenaikan harga BBM rata-rata bahan 28,7 %. Dengan rincian, bensin naik dari Rp 4.500
menjadi Rp. 6.000/liter. Solar dari Rp 4.300 menjadi Rp 5.500/liter. Sedangkan minyak
tanah dari Rp 2.000 menjadi Rp. 2.500/liter. Kebijakan Pemerintah Pusat Selalu Tak Tepat
Sasaran Pengamat Ekonomi dari Unri (Universitas Negeri Riau) Detri Karya
mengungkapkan berbagai kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat banyak yang
tidak tepat sasaran dan tidak bertahan lama. Detri mencontohkan, Bantuan Langsung
Tunai (BLT) yang saat ini menjadi ulasan pemberitaan banyak sekali yang tidak dapat
menikmatinya, kalau pun dapat apakah sesuai dengan Rp 100.000-nya daerah Jawa
dengan di Riau. Jika tidak sama berarti ada kesalahan yang mesti diperbaiki. Tetapi itu
tidak pernah dilakukan sama sekali. Belum lagi jika kita kaitkan dampak dari BLT itu,
seberapakah nilai positif dan negatif nya. Saat pemerintah memberikan bantuan, tentu saja
masyarakat merasa terbantu walau beberapa saat. Tetapi jika telah dihilangkan bantuan
tersebut, masayarakat akan menagih karena terbiasa sudah dibantu. Jika begitu berarti
sama saja pemerintah memberikan ikan, tetapi bukan kail. Coba kalau kail lalu diajarkan
menggunakan, masyarakat akan bisa mandiri, ungkapnya di depan wartawan. Sumber :
riauinfo.com, 28/05/2008 Masyarakat Diminta Dukung Kebijakan Pemerintah Sebelum
pengumuman kenaikan BBM, Bupati Bengkalis H Syamsurizal menghimbau
masyarakatnya untuk memahami kebijakan yang diambil pemerintah untuk menaikan
harga BBM. Hal itu disampaikan Syamsurizal usai melantik pejabat eselon IV di Gedung
Daerah Datuk Laksamana Raja Dilaut, Jum�at (23/5/2008) pagi. Bahkan, kepada pejabat
yang dilantik, Syamsurizal berpesan agar dapat mensosialisasikannya dengan baik dan
meminta masyarakat mendukung kebijakan itu. �Sesuai rencana, Sabtu dini hari ini,
pemerintah secara resmi akan menaikan harga BBM. Kebijakan ini merupakan sesuatu
yang sulit yang terpaksa diambil pemerintah. Namun kebijakan tersebut harus diambil dan
dilaksanakan demi perbaikan ekonomi masyarakat Indonesia. Seluruh pejabat di lingkup
Pemkab dan masyarakat Bengkalis harus mendukungnya,� kata Syamsurizal, kala itu.
Sumber : riauinfo.com, 24/05/2008 Penjualan Pedagang Eceran Minyak Bensin Menurun
Beberapa pedagang minyak bensin eceran di Pekanbaru mengeluhkan hasil penjualannya
pasca Bahan Bakar Minyak (BBM) naik. Bahkan, jika sebelum adanya kenaikan BBM
dalam sehari mampu menjual 7 sampai dengan 12 liter sehari, kini rata-rata hanya 2
sampai 3 liter saja. Seperti yang diungkapkan Messi pedagang eceran minyak bensin yang
ada di jalan Garuda Kecamatan Marpoyan Damai, Rabu (28/5). Katanya penjualan minyak
bensin saat ini relatif lebih seidkit kadang-kadang hanya mampu menjual 3 liter saja dalam
sehari, bahkan tidak ada yang membeli. Sumber : riauinfo.com, 28/05/2008 KENAIKAN
HARGA BARANG TAK TERKENDALI Kesalahan Pemerintah Pusat, Bukan Pemerintah
Daerah Sikap saling mendahului dalam mengambil keputusan menaikkan harga diberbagai
sektor seakan tak terhindari. Kebutuhan rumah tangga misalnya, telah naik sebelum Bahan
Bakar Minyak (BBM) dinaikkan. Meski hanya kenaikkan sedikit, yang jelas belum ada
keputusan dari pemerintah. Pengamat Ekonomi dari Unri Detri Karya dalam paparannya
Rabu (28/5) mengatakan, meski demikian kita tidak boleh menyalahkan sepenuhnya
kepada pemerintah daerah, tetapi pemerintah pusatlah yang salah dalam mengambil
kebijakan. Mestinya jauh-jauh hari sebelum kenaikkan BBM, harus ada sosialisai beserta
langkah yang akan diambil akibat efek dari kebijakan itu. Seharusnya sebelum keputusan
itu diambil, ada langkah antisipasi yang dikeluarkan pemerintah pusat ke pemerintah
daerah. Sehingga masyarakat benar-benar siap menghadapinya. Sumber : riauinfo.com,
28/05/2008 Kenaikan Harga BBM Bakal Picu Inflasi Pekanbaru Lebih Kencang Kenaikan
harga BBM yang diberlakukan pemerintah mulai Sabtu (24/5) lalu dipastikan akan
membuat inflasi yang terjadi di Pekanbaru lebih kencang lagi. Jika saat ini inflasi
Pekanbaru mencapai 7,5 persen, diperkirakan akhir tahun nanti bisa mencapai 10 persen.
Tingginya inflasi di Pekanbaru itu dapat dilihat dari semakin mahalnya harga berbagai
kebutuhan pokok masyarakat. Kenaikan harga kebutuhan pokok ini akan terus terjadi
seiring dengan mulai naiknya ongkos angkutan dan sebagainya. Pemimpin Bank Indonesia
(BI) Pekanbaru Gatot Sudiono mengatakan, jika harga-harga kebutuhan pokok naik
proporsional dengan kenaikan harga BBM, maka inflasi yang terjadi di Pekanbaru pada
akhir tahun nanti bisa mencapai 10 persen bahkan lebih. Sumber : riauinfo.com,
27/05/2008 HADAPI KENAIKAN HARGA BBM Sopir Oplet Naikkan Tarif 50 Persen
Kenaikan harga BBM berpengaruh langsung kepada angkutan umum. Makanya tidak
heran para sopir oplet (angkot) di Pekanbaru secara sepihak menaikkan ongkos
angkutannya dari semula Rp 2.000 menjadi Rp 3.000 atau naik sebesar 50 persen.
Naiknya ongkos angkutan ini dilakukan secara spontan oleh para sopir oplet tanpa adanya
kesepakatan terlebih dahulu antara organda dengan Pemko Pekanbaru. "Kami tidak
mungkin menunda-nunda lagi menaikkan ongkos angkutan, karena BBM sudah naik,"
ungkap Randi (37) salah seorang sopir oplet. Sumber : riauinfo.com, 26/05/2008 Analisis
Mulai pukul 00.00 Wib, Sabtu dini hari (24/5/2008), pemerintah secara resmi menaikkan
harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Kenaikan harga BBM rata-rata bahan 28,7 %. Dengan
rincian, bensin naik dari Rp 4.500 menjadi Rp. 6.000/liter. Solar dari Rp 4.300 menjadi Rp
5.500/liter. Sedangkan minyak tanah dari Rp 2.000 menjadi Rp. 2.500/liter. Kenaikan harga
yang ketika kalinya dilakukan pemerintah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil
Presiden Yusuf Kalla itu diumumkan secara resmi Menteri Energi dan Sumber Daya
Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro pukul 21.30 Wib, Jum�at malam (23/5/2008) di
Kantor Menteri Perekonomian dan dihadiri Menteri Keuangan Sri Mulyani, Menko Kesra
Aburizal Bakri, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan Menteri Perhubungan Syafii Djamal.
Kebijakan dengan menaikkan BBM ini seperti sedia kala tentu saja menuai banyak protes
masyarakat. Mengapa tidak, dengan menaikkan BBM akan berdampak luas bagi
kehidupan masyarakat, hal ditimbulkan bisa saja semakin memperburuk krisis multidimensi
yang ada, baik itu lintas ekonomi, sosial, moral dan lainnya. Mengapa sebenarnya
pemerintah mengambil langkah ini, apakah tidak ada jalan lain yang bisa ditempuh selain
menaikkan BBM. Kalau ditinjau sejenak alur naikknya harga BBM ini tidak terlepas dari
percaturan harga minyak dunia, dimana telah mencapai 132 dolar AS per barel. Apabila
pemerintah menunda kenaikan BBM, maka pemerintah harus mengorban dana APBN
sekitar Rp 220 trilyun untuk mensubsidi. Membengkak dari jumlah sebelumnya yang hanya
Rp 128 trilyun. Sedangkan subsidi sebagian besar atau sekitar 70 persennya, dinikmati
oleh masyarakat kelas menengah ke atas. Bukan oleh masyarakat miskin. Dengan
keputusan menaikan harga BBM tersebut, pemerintah bisa menghemat APBN. Dapat
melakukan pembangunan untuk kepentingan masyarakat banyak. Sedangkan untuk
membantu masyarakat miskin pemerintah memberikan Bantuan Langsung Tunai (BLT).
Pemerintah juga menyadari bahwa kebijakan ini merupakan sesuatu yang sulit yang
terpaksa diambil pemerintah. Namun kebijakan tersebut harus diambil dan dilaksanakan
demi perbaikan ekonomi masyarakat Indonesia. Segala kebijakan atau keputusan tentunya
akan berdampak, baik itu positif ataupun negatif. Dengan dikeluarkannya kebijakan ini
beberapa dampak yang dialami masyarakat berdasarkan hasil pantauan melalui media
online, di Pekanbaru misalnya : - Tingkat penjualan pedagang eceran minyak bensin terjadi
penurunan. Dari sehari mampu menjual 7 sampai dengan 12 liter sehari, menurun menjadi
rata-rata hanya 2 sampai 3 liter saja. Hal ini disebabkan para pengendara lebih cendrung
membeli ke SPBU. Apalagi harga di eceran lebih tinggi yakni rata-rata Rp 7.000 per liter. -
Kenaikan harga barang menjadi tak terkendali. Sikap saling mendahului dalam mengambil
keputusan menaikkan harga diberbagai sektor seakan tak terhindari. Sebelum kenaikan
BBM, pedagang telah menaikkan harga barang kebutuhan rumah tangga walaupun tidak
drastis (sedikit demi sedikit). - Tarif angkutan umum juga telak dinaikkan oleh pengelola
angkutan setempat mencapai 50%. Bahkan sebelum organda mengeluarkan pengumuman
resmi kenaikan tarif angkutan. Inisiatif sepihak dari angkutan umum ini dianggap sesuatu
hal yang tidak bisa dihindari karena dipicu oleh kenaikan biaya operasional dampak
kenaikan BBM. - Kenaikan BBM juga dipastikan akan memicu kenaikan inflasi di
Pekanbaru yang diperkirakan mencapai 10%. Dengan tingginya inflasi itu, bank sentral
tentunya akan bertindak dengan membuat kebijakan baru dibidang suku bunganya.
Rekomendasi - Namun nampaknya keselarasan persepsi dan misi ini nampaknya masih
perlu dibina antara pemerintah dengan masyarakat, bisa saja melalui langkah antisipasi
jauh hari sebelumnya, sosialisasi sosialisai beserta langkah yang akan diambil akibat efek
dari kebijakan itu. Sehingga proses pencapaian visi dapat lebih lapang dengan adanya
dukungan dari segenap pihak. Benar saja sebagai negara berdemokrasi protes sah-sah
saja, tapi hendaknya harus ada unsur damai di dalamnya tanpa unsur kekerasan apalagi
dengan mengorbankan nyawa ataupun kerugian materi yang akan semakin memperburuk
keadaan. - Kondisi sekarang bukan saatnya bersungut-sungut lagi tetapi nampaknya
masyarakat harus lebih mengencangkan ikat pinggang menghadapi gejolak yang ada dan
lebih berpikir kritis dan mencari peluang yang ada dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai
moral. - Hendaknya pemerintah juga harus tetap melakukan pengamatan dan evaluasi
yang konferensif terhadap kebijakan yang ada beserta dampak yang diakibatkan, sehingga
diharapkan adanya terobosan-terobosan baru dalam upaya meringankan beban rakyat
untuk saat ini maupun jangka waktu yang akan datang. - Diharapkan agar semua elemen
pemerintah dan masyarakat melakukan gerakan hemat energi. (mdg)
Harga Sembako
Pekanbaru Turun
Ditulis Oleh ilyas
Wednesday, 30 September 2009
PEKANBARU QRONLINE – Usai lebaran, secara berangsur-angsur harga sembilan bahan
pokok (sembako) sudah mulai menurun, Rabu, (30/09) Berdasarkan pantauan Dinas
Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Pekanbaru pasca libur lebaran harga
sejumlah kebutuhan pokok turun.



“untuk harga beberapa kebutuhan pokok menjelang lebaran lalu mengalami kenaikan yang
cukup tinggi, saat ini setelah libur lebaran kembali turun bahkan ada yang kembali normal,”
kata Suraji kepala disperindak kota Pekanbaru .

Seperti harga cabe merah menjelang lebaran mencapai Rp40 ribu Kgo, sekarang turun
menjadi Rp24 ribu Kg. dibandingkan harga normal masih tergolong mahal.mencapai 20
persen dari harga normal.

kemudian daging sapi kembali normal Rp60 ribu dari harga beberapa hari menjelang
lebaran sempat dijual antara Rp65 ribu hingga Rp70 ribu perkilogramnya. Begitu juga
dengan harga daging ayam ras sempat naik menjadi Rp22 ribu kini turun menjadi Rp19
ribu.

Untuk harga bawang merah yang sebelum lebaran mencapai Rp16 ribu per kilogram kini
turun drastis menjadi Rp10 ribu per kilogram. Sedangkan harga bawang putih masih
bertahan Rp15 ribu, dari harga normal Rp12 ribu per kilogram.

Sedangkan harga gula pasir, masih bertahan di level Rp10 ribu per kilogramnya, dan hingga
saat ini belum ada sedikitpun penurunan harga.lanjutnya

"Untuk kasus harga gula pasir merupakan kasus nasional, jadi jika harga nasional turun,
kemungkinan akan berdampak juga untuk wilayah Pekanbaru", kata Suraji.

Sementara itu, kata Suraji, untuk harga beras masih stabil. Baik, saat bulan Ramadhan,
hingga setelah libur lebaran ini.

Beras bulog masih berada pada kisaran harga Rp5.500/Kg, beras Palembang belida, berada
pada level Rp6.750 per kilogramnya. Untuk beras mundam per kilonya Rp7 ribu, sedangkan
harga beras Pandan Wangi Rp8 ribu, dan beras Ramos masih Rp8.200 per kilonya.

Selanjutnya, untuk harga telur juga masih normal. Untuk telur ayam bras per butirnya
Rp900, telur ayam kampung Rp1.200 per butir, dan telur itik seharga Rp1.500 per butir.
jelasnya

 kami dari pihak pemerintah, berharap agar para pedagang turut berpartisipasi menjaga
stabilitas harga kebutuhan pokok. Diharapkan, para pedagang agar tak terlalu tinggi
mengambil keuntungan harga bahan-bahan kebutuhan pokok.
Para pedagang kami himbau jangan terlalu tinggi mengambil keuntungan saat menjual
bahan kebutuhan pokok sekitar 15 persen atau 20 persen saja, agar terjangkau oleh
masyarakat", ujarnya.

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:69
posted:2/11/2010
language:Indonesian
pages:6