Your Federal Quarterly Tax Payments are due April 15th Get Help Now >>

KULIAH PERTAMA EKOLOGI AKUATIK by anangkadarsah

VIEWS: 4,357 PAGES: 10

Tulisan ini diperoleh saya sewaktu mengikuti kuliah semester ganjil program pascasarjan s2 SITH ITB mata kuliah ekologi akuatik. Juga tulisan saya mengenai MANAJEMEN EKOSISTEM DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI SEBAGAI SALAHSATU SUMBER DAYA AIR DI INDONESIA.

More Info
									                                KULIAH PERTAMA
                              EKOLOGI AKUATIK
                               Dr. Noorsalam Rahman Nganro
                         Selasa, 18 Agustus 2009, pukul 15.00-17.00

       Pengampu memulai perkuliahan dengan mengatakan bahwa setiap makhluk hidup
adalah memiliki perbedaan tersendiri, juga memiliki fungsi yang berbeda ,sehingga karena
perbedaan itu tidak akan terjadi persaingan malah akan saling membantu dan bekerjasama
secara berkesinambungan.
       Belajar mengenai ekologi, kita akan diingatkan mengenai arti dan pengertian secara
mendalam. Ekologi diartikan sebagai ilmu yang mempelajari ekosistem, sedangkan akuatik
adalah objek atau bidang kajiannya.    Ekosistem sendiri artinya sistem yang mengelola eko
atau rumah, dimana di rumah itu sendiri terjadi 1) interaksi 2), interkoneksi 3). berhubungan
4). keterkaitan.   Semua hubungan yang terjadi bersifat utuh dimana interaksi terjadi antara
makhluk hidup (MH) dengan MH, Makhluk Non Hidup (MNH) dengan MNH, dan antara
MH dengan MNH.
       Lalu apa saja yang harus diketahui dari ekosistem? Hendaknya kita mempelajari
komponen apa saja yang terdapat di dalamnya dan struktur penyusun apa saja yang
menyusun suatu ekosistem.       Dan yang paling penting adalah apa fungsi masing-masing
interaksi yang terjadi. Terutama fungsinya ekosistem adalah dapat menghasilkan makanan,
udara bersih yang sangat dibutuhkan oleh manusia.
       Ruang lingkup ekologi meliputi individu sampai dengan biosfer (ekosistem bumi)
yang terdiri atas lingkungan hidup dan geografi serta meliputi skala ruang dan waktu. Oleh
karena itu, ekosistem memiliki beberapa ciri utama antara lain :
   1. Adanya interaksi antara makhluk hidup dengan makhluk non hidup
   2. terjadi aliran energi
   3. terjadi siklus materi
   4. terdapat batas diantara komponen pendukung ekosistem dan dapat dibedakan
   5. memiliki karakteristik atau sifat khas yang dominan
Kelima ciri diatas inilah yang disebut sebagai fungsi ekosistem dimana hal tersebut dapat
dikategorikan sebagi jasa ekosistem terhadap manusia.
       Secara alamiah, ekosistem telah memiliki mekanisme untuk bertahan hidup yakni
dengan adanya pendukung komponen ekosistem. Komponen pendukung ekosistem meliputi
produsen (100%),herbivora/konsumen 1 (10%), carnivora/konsumen 2 (1%), dan top
carnivora (0,1%) serta tidak lupa kelompok dekomposer yang komposisinya sekitar 20-25%.


AK-SITH 2009
Semua komponen ekosistem ini memerlukan sinar matahari, terutama produsen yang
menggunakan sekitar 1% cahaya matahari menghasilkan energi 100% digunakan oleh
herbivora dan seterusnya. Sehingga apabila jumlah penduduk Indonesia sebanyak 250 juta
orang maka diperlukan energi yang dihasilkan oleh produsen sebanyak 250 juta x 1000
Energi yang dihasilkan produsen. Bisa dibayangkan
       Sebagai contoh apabila kita akan membudidayakan ikan (budidaya perikanan) maka
yang harus kita perhitungkan adalah berapa banyak pakan yang akan diberikan untuk setiap
ekor ikan yang dipelihara. Darimana asal pakan ikan tersebut? Sebagian besar tentu berasal
dari tanaman yang notabene merupakan produsen. Kita asumsikan bahwa tanaman talas
misalnya akan dipakai sebagai unsure pokok pakan ikan. Untuk dapat memperoleh 10 kg
talas kering maka dibutuhkan 100 kg tanaman talas. Untuk menghasillkan 100 kg tanaman
talas berapa luas tanah yang diperlukan. Dengan demikian dalam masalah budidaya pun kita
harus memperhatikan prinsip ekologi agar proses aliran energi berjalan dengan seimbang.
Dan apabila ekosistem dirusak maka yang akan terjadi adalah ketidakseimbangan yang
berakibat kepada kerusakan dan bencana alam.
       Berdasarkan penyusunnya ekosistem akuatik dibedakan menjadi tiga bagian utama
yaitu : ekosistem air tawar, ekosistem ekosistem brackish, dan ekosistem laut marine. Yang
membedakan diantara ketiga sub ekosistem tersebut adalah salinitasnya (kadar garam).
Silakan dicari perbedaan lain dan cirri-ciri spesifik masing-masing sub ekosistem tersebut.
       Sedikit selingan, apa yang dimaksud dengan bioindikator dan biomonitoring?
Manakah yang lebih penting? Bioindikator atau indkator biologis merupakan suatu penanda
biologis yang diperoleh dari pengalaman orang atau ahli yang sering mengamati suatu
tempat, sehingga ditemukan organism yang sering muncul dan dapat dijadikan sebagai suatu
cirri ekosistem. Misalnya untuk perairan air tawar apabila DO kurang atau sama dengan 0
maka tubifex akan menjadi bioindikator perairan tersebut telah tercemar, adapun kehadiran
ikan pada badan perairan menandakan perairan tersebut bersih dan DO sudah pasti diatas 3.
       Yang perlu diperhatikan adalah ekosistem yang kita tempati adalah beranekaragam
dan memiliki fungsi yang spesifik sehingga masing –masing tidak bersinggungan namun
bekerjasam untuk satu tujuan. Didalam suatu ekosistem pun makin banyak spesies berbeda
yang hidup, maka makin bagus ekosistem itu tumbuh dan berkembang,                     Dimana
keuntungannya, masing-masing individu akan berinteraksi dengan tujuan tertentu.




AK-SITH 2009
TUGAS PERTAMA EKOLOGI AKUATIK

  Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Sebagai Solusi Menjaga Kelestarian Hidup Penduduk
                (Diskusi Kuliah Ekologi Akuatik - ITB, 24 Agustus 2009)
                         Pembimbing : Dr. Noorsalam R. Nganro

    MANAJEMEN EKOSISTEM DALAM PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN
     SUNGAI SEBAGAI SALAHSATU SUMBER DAYA AIR DI INDONESIA
                                 oleh:
                     Anang Kadarsah/NIM.20609008

1. Pengertian ekosistem
         Sebuah ekosistem adalah daerah geografis di mana variabel yang ada didalamnya
seperti tanaman, hewan, pemandangannya dan iklim semua berinteraksi bersama. Seluruh
permukaan bumi dapat dijelaskan oleh kehadiran serangkaian ekosistem. Makhluk hidup
yang beranekaragam dan kehidupan yang selalu berubah merupakan bagian dari ekosistem,
Dalam sebuah ekosistem, semua aspek lingkungan (makhluk hidup dan makhluk non hidup)
berinteraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Setiap spesies mkhluk hidup akan
mempengaruhi kehidupan organisme lainnya yang berada di sekitar mereka
(http://www.abheritage.ca/abnature/Ecosystems/intro.htm).
         Sebuah ekosistem dan daerah aliran sungai dapatlah dikatakan sama, namun
berdasarkan kepentingannya jelas sekali berbeda. Satu daerah aliran sungai dapat tersusun
dari beberapa ekosistem, dan sebaliknya ekosistem yang berukuran besar akan melingkupi
berbagi tipe daerah aliran sungai. Daerah aliran sungai disebut berdasarkan perbedaan
ketinggian dari permukaan laut dan aliran airnya. Dengan demikian, "sebuah daerah aliran
sungai merupakan suatu area di daratan dimana semua air permukaan mengalir menuju suatu
ttik pusat." Baik didalam ecosistem dan daerah aliran sungai semua factor yang ada
terintegrasi, baik berupa siklus pemeliharaan proses ekologi dan komponen manusia
(http://el.erdc.usace.army.mil/emrrp/emris/emrishelp/how_does_an_ecosystem_relate_to_a_
watershed_ecosystem_management.htm).




                    Gambar 1.Jejaring makanan pad ekosistem akuatik
          (http://www.gtbay.org/downloads/faqsheets/Watershed_Ecosystem.pdf).




AK-SITH 2009
                   Gambar 2. Interaksi Fungsional pada Ekosistem Sungai
(http://bebas.vlsm.org/v12/sponsor/Sponsor-Pendamping/Praweda/Biologi/Image/1-7e-2.jpg).

       Informasi ekologis yang diperoleh dari kedua gambar diatas menunjukkan bahwa
sepanjang daerah aliran sungai daerah limnetik dan bentik, merupakan wilayah yang paling
produktif karena komoditas utama ekosistem perairan (seperti ika, dan burung air) banyak
tinggal di daerah ini dan juga pengaruh interaksi dari daratan dan sinar matahari akan
langsung terasa di daerah ini. Sedangkan produktivitas daerah aliran sungai sangat
dipengaruhi oleh produktivitas daerah limnetik dan litoral.

2. Pendekatan klasik
      Selama ini pendekatan yang dilakukan dalam rangka pengelolaan sumberdaya alam
tujuannya terbatas dalam skala ruang (misalnya lokal, regional, nasional dan lintas) dan
waktu (misalnya pendek, menengah dan jangka panjang). Namun, dua model skala
pendekatan diatas sampai saat ini belum memenuhi kaidah pengelolaan yang benar menurut
prinsip penerapan manajamen berbasis ekosistem, sebagaimana contoh berikut ini :
 1. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
     Sumber Daya Air Bab I Ketentuan Umum Pasal 1:
       a. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang terkandung di dalamnya.
       b. Air adalah semua air yang terdapat pada, di atas, ataupun di bawah permukaan
          tanah, termasuk dalam pengertian ini air permukaan, air tanah, air hujan, dan air
          laut yang berada di darat.
       c. Air permukaan adalah semua air yang terdapat pada permukaan tanah. Air tanah
          adalah semua air yang terdapat dalam lapisan tanah atau batuan di bawah
          permukaan tanah.
       d. Sumber air adalah tempat atau wadah air alami dan/atau buatan yang terdapat pada,
          di atas, ataupun di bawah permukaan tanah.
       e. Wilayah sungai adalah kesatuan wilayah pengelolaan sumber daya air dalam satu
          atau lebih daerah aliran sungai dan/atau pulau-pulau kecil yang luasnya kurang dari
          atau sama dengan 2.000 km2.
       f. Daerah aliran sungai adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan
          dengan sungai dan anak-anak sungai, yang berfungsi menampung, menyimpan,
          dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara
          alamiah yang batas di darat merupakan pemisah topografis dan batas di laut sampai


AK-SITH 2009
           dengan daerah perairan yang masih terpengaruh aktivitas daratan.
        g. Cekungan air tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi oleh batas hidrogeologis,
           tempat semua kejadian hidrogeologis seperti proses pengimbuhan, pengaliran, dan
           pelepasan air tanah berlangsung.
 2. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
     Sumber Daya Air Bagian Kesatu Umum Pasal 4
            a. Pengelolaan sumber daya air diselenggarakan dengan berlandaskan pada:
                    i. kebijakan pengelolaan sumber daya air pada tingkat nasional, provinsi,
                       dan kabupaten/kota;
                   ii. wilayah sungai dan cekungan air tanah yang ditetapkan; dan
                  iii. pola pengelolaan sumber daya air yang berbasis wilayah sungai.
            b. Pengelolaan air tanah pada cekungan air tanah sebagaimana dimaksud pada
               ayat (1) huruf b diatur dalam peraturan pemerintah tersendiri.
 3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pengelolaan
     Sumber Daya Air Umum Pasal 4 Bagian Kedua Kebijakan Pengelolaan Sumber Daya
     Air Pasal 5 bahwa Kebijakan pengelolaan sumber daya air mencakup aspek konservasi
     sumber daya air, pendayagunaan sumber daya air, pengendalian daya rusak air, dan
     sistem informasi sumber daya air yang disusun dengan memperhatikan kondisi wilayah
     masing-masing.
       Pendekatan klasik yang digunakan berdasarkan pengambilan keputusan yang ada
umumnya gagal untuk mengatasi tekanan dari dalam manusia. Hal ini dapat dilihat dari
kesadaran mereka mengenai lingkungan hidup terutama dilihat dari segi pemahaman mereka
terhadap layanan penting ekosistem.
       Kesalahan pandangan ini disebabkan karena pembuatan definisi ekosistem dibuat
sempit, berdasarkan wilayah administratif, tanpa memperhatikan unsur kepentingan
ekosistem yang menyeluruh. Selain itu. konflik kepentingan kesukuan, dan ekonomi dengan
alasan otonomi merupakan faktor utama penyebab kesalahan pengelolaan sumber daya alam
sekarang ini.

3. Ecosystem management
      IUCN bagian Komisi Ekosistem Management (IUCN-CEM) mendefinisikan
manajemen ekosistem sebagai sebuah proses yang terintegrasi secara ekologis, sosial-
ekonomi, dan kelembagaan menjadi faktor analisis komprehensif dan tindakan untuk
mempertahankan dan meningkatkan kualitas ekosistem saat ini dan masa depan. Intinya
adalah untuk mewujudkan pengelolaan ekosistem yang berkelanjutan, efisien, dan adil
menggunakan sumber daya alam yang ada (http://www.fsd.nl/naturevaluation/72219).
      Pendekatan melalui manajemen ekosistem adalah kegiatan yang relatif bersifat baru.
Sehingga manajemen ekosistem dikatakan sebagai garis kebijakan baru mengenai lingkungan
mengenai peranan utama manusia untuk mengelola sumber daya alam. Manajemen ekosistem
tidak hanya sekadar ilmu pengetahuan belaka, tetapi ditambahkan juga keterampilan
mengenai cara pengelolaan sumber daya alam, dengan tujuan untuk pembentukan kembali
konsep dasar cara manusia bekerja sama dengan alam sekitarnya (Grumbine, R.E. 1994).
      Kesejahteraan manusia, ketahanan pangan dan mata pencaharian yang berkelanjutan
akan menjadi isu penting di masa mendatang yang dihubungkan dengan ketersediaan dan
keanekaragaman ekosistem yang tersedia di permukaan bumi. Manajemen ekosistem
menuntut pemahaman kita tentang pentingya fungsi ekosistem dalam mendukung dan
mengatur proses kehidupan di muk bumi (http://www.fsd.nl/naturevaluation/72219).
      Manajemen ekosistem diakui memiliki peran penting agar manusia sebagai manajer
memiliki kesadaran dan empati terhadap keanekaragaman hayati. Manajemen ekosistem
bertujuan untuk menghindari kesalahan komunikasi manusia dengan alam ketika mereka


AK-SITH 2009
akan mengambil manfaat tanpa merusak nilai-nilai ekosistem sehat yang ada
(http://www.fsd.nl/naturevaluation/72219).
       Pendekatan ekosistem saat ini merupakan hal mendasar dan penting untuk segera
dilakukan setelah ditinggalkan bertahun-tahun dalam rangka mengelola sumber alam di muka
bumi. Mengapa hal ini harus dilakukan? Karena semua komponen ikut berinteraksi
membentuk sistem biotik didukung oleh sistem fisik, dimana manusia juga terlibat di
dalamnya.      Dalam hal ini konsep ekosistem dapat diterapkan menyeluruh pada semua
permukaan bumi, atau pada hamparan benua, atau bahkan ladang tempat petani bekerja.
Konsep pendekatan ekosistem untuk mengelola sumber daya alam adalah hal sangat penting
dilakukan pada saat pertumbuhan penduduk yang sangat cepat, tingkat konsumsi yang
semakin meningkat, dan perubahan lingkungan global yang sangat sangat cepat (Chapin,
2002).
       Adapun lingkup prinsip manajemen ekosistem telah diatur dalam Nomor 42 Tahun
2008 tentang Pengelolaan Sumber Daya Air meliputi :
    a. proses penyusunan dan penetapan kebijakan, pola, dan rencana pengelolaan sumber
        daya air;
    b. pelaksanaan konstruksi prasarana sumber daya air, operasi dan pemeliharaan sumber
        daya air; dan
    c. konservasi sumber daya air dan pendayagunaan sumber daya air serta pengendalian
        daya rusak air.
    d. Untuk mendukung pengelolaan sumber daya air, Pemerintah dan Pemerintah Daerah
        menyelenggarakan sistem informasi sumber daya air sesuai dengan kewenangannya.
    e. Dalam hal pembiayaan pengelolaan sumber daya air sangat diperlukan untuk
        mendukung terselenggaranya pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan.
        Pengguna sumber daya air wajib menanggung biaya jasa pengelolaan sumber daya air
        (biaya ini bukan pembayaran atas harga air, melainkan penggantian sebagian biaya
        yang diperlukan untuk pengelolaan sumber daya air).
    f. Masalah perizinan dalam penggunaan sumber daya air merupakan instrumen
        pengendalian untuk mewujudkan ketertiban pengelolaan sumber daya air, melindungi
        hak masyarakat dalam memperoleh akses atas air bagi pemenuhan kebutuhan pokok
        sehari-hari dan pertanian rakyat dalam sistem irigasi yang telah ada, serta menjamin
        hak ulayat masyarakat hukum adat setempat.
        Sistem manajemen ekosistem di daerah aliran sungai merupakan sistem unggul yang
memadukan berbagai potensi dan peran komponen ekosistem daerah aliran sungai.
Penerapan pola ini akan menimbulkan berbagai keuntungan positif bagi pelestarian
lingkungan, pemerintah daerah, dan masyarakat yang menikmati fasilitas ala mini.
        Meskipun demikian, peraturan yang telah dikeluarkan ini masih banyak memiliki
celah kosong yang dapat dimanfaatkan oleh fihak tertentu, untuk berbuat curang dan
merugikan kepentingan social, ekonomis, dan ekologis suatu daerah aliran sungai. Salahsatu
poin penting yang tidak ditemukan adalah diperlukan partisipasi menyeluruh bagi semua
penduduk yang tinggal di tepi daerah aliran sungai mulai dari hulu dan hilir untuk turut serta
berpartisipasi menjaga keutuhan ekosistem tempat tinggal mereka. Selain itu, pendidikan
untuk membangkitkan kesadaran warga akan pentingnya daerah aliran sungai ini bagi
kelangsungan hidup semuanya juga belum nampak tertulis dalam peraturan pemerintah ini.




AK-SITH 2009
Penutup
       Berdasarkan uraian yang telah dipaparkan pada tulisan diatas, yang terkait
dengan pengelolaan sumber daya air khususnya di daerah aliran sungai maka pemakaian
konsep manajemen ekosistem sangat baik digunakan sebagai kaidah dasar untuk mengelola
sumber daya air di Indonesia. Konsep manajemen ekosistem merupakan konsep induk
dengan kaca pandang yang lebih luas, terintegrasi dan mencakup semua proses interaksi
yang terjadi di dalam ekosistem, dengan melibatkan pengaturan batas wilayah, tata ruang,
kepentingan social, ekonomi, dan pengelolaan lingkungan hidup secara berkelanjutan.

Daftar Pustaka
PP    No.42/2008 Mengenai Pengelolaan Sumber Daya Air.                http://digilib-
       ampl.net/detail/detail.php?kode=267&row=0&tp=perundangan&ktg=pp&kd_link=

Grumbine, R.E. 1994. What Is Ecosystem Management? Conservation Biology. Page 27-38
     Volume 8. No 1. March 1994

Chapin, F.S., Matson, P.A., dan Money, H.A. 2002. Principles of Terrestrial Ecosystem
      Ecology. Springer-Verlag New York, Inc.

The   Watershed Ecosystem. .           Diunduh tanggal 27 Agustus           2009    dari
      http://www.gtbay.org/downloads/faqsheets/Watershed_Ecosystem.pdf




AK-SITH 2009
KULIAH KEDUA

Ekosistem akuatik memiliki ciri dimana didalamnya terdapat interaksi antar factor biotic dan
abiotik, dari interaksi tersebut menghasilkan suatu fungsi tertentu ekosistem yang dapat
dimanfaatkan oleh manusia. Interaksi yang terjalin dalam ekosistem akuatik akan
membentuk sifat dan karakter ekosistem tertentu, dan sifat=sifat inilah yang dipelajari untuk
teknik budidaya.
Pengetahuan ekologi adalah akan sangat bermanfaat apabila kita mmempelajari karakter
makhluk hidup, sifat-sifatnya di alam, sehingga diketahui aspek-aspek ekonomisnya yang
dapat digunakan untuk budidaya. Dengan membudidayakan organism tersebut berarti kita
mendukung carrying capacities.
Ekosistem akuatik memiliki ciri khusus yaitu salinitas. Salinitas akan berkorelasi dengan
kedalaman. Makin dalam perairan tersebut, makin rendah salinitasnya.
      Ada dua tipe zona kehidupan akuatik :
 1. Salt water atau marine
    Ciri dari ekosistem marine adalah salinitas yang tinggi. Kandungan garam tertinggi
    terdiri atas Natrium dan Chlor. Salinometer adalah alat pengukur salinitas. Satuan
    ukuran yang dipakai adalah ppt (part per ton). Misal salinitas air laut jawa adalah 35
    ppt. artinya dalam setiap satu ton (1000 kg) terdapat 35 gram air laut yan dikeringkan.
    Ikan laut memiliki sel khusus yang berbeda dengan ikan air tawar. Apabila ikan laut
    dimasukkan ke dalam air tawar, sel-selnya akan mengalami pecah atau lisis. Sedangkan
    apabila ikan air tawar dimasukkan ke dalam air laut yang mengandung NaCl maka
    selnya akan mengkerut.
            1. Estuarines
               1. Marshes : terdiri atas rumput
               2. Bogs : berlumpur
               3. Swamps : bakau
            2. Coastline/pesisir
               1. Coral Reef : mikroalga/zooxanthelle
               2. Continental shelf/shallow water/tembus sinar matahari sampai kedalaman
                   200 meter, terdapat coral reef
            3. Open ocean/deep sea
 2. Freshwater
            1. Surface water
               1. Lentic
                   1. Swamps
                   2. Bogs
                   3. Marshes
                   4. Lakes
                   5. Ponds
                   6. Standing water
               Daerah lentic adalah wilayah tangkapan air yang sangat berguna sebagai
               tempat cadangan air/recharging. Sehingga bisa membagi air ke wilayah lain
               melalui saluran lotic/discharging.
               2. Lotic
                   1. Streams
                   2. Rivers
                   3. Creeks/selokan
                   4. Flowing water/reservoar
            2. Wetlands


AK-SITH 2009
           3. Groundwater
               1. Aquifier
               2. Underground lakes
Aquatic environments/Sifat fisik dan kimia perairan
   1. Light/cahaya
       Cahaya akan membentuk suatu daerah yang dinamakan Euphotic zone yakni zona
       yang masih dijangkau oleh penetrasi cahaya. Dan terjadinya fotosintesis secara
       terbatas. Daerah ini juga sensitive terhadap kekeruhan.         Cahaya juga akan
       memanaskan badan air, sehingga terjadi stratifikasi suhu pada lapisan atas, tengah,
       dan bawah.
   2. Dissolved gas
       Seperti oksigen pada siang hari kadarnya tinggi karena sumbangan dari tanaman dan
       dilepaskan ke atmosfer.
   3. Nutrien
       Nutrien tersedia di perairan sesuai dengan kedalaman dan kondisi perairan tersebut.
       Manusia berpengaruh terhadap ketersediaan nutrient di alam. Pemakaian deterjen
       berlebihan akan menumpuk fosfat pada perairan. Hutan gundul juga berkontribusi
       atas penumpukan urea N di perairan. Besarnya konsentrasi P dan N akan memacu
       eutrofikasi.
Organisme akuatik
   1. Plankton : free floating animals and plants
           a. Fitoplankton : plant planktonic
           b. Zooplankton : animal planktonic
   2. Nekton : strong swimming cruising organism
           a. Fish
           b. Turtles
           c. Whales
   3. Benthos : bottom dwilling organisms
           a. Oysters
           b. Lobsters
           c. Worms
Pada perairan arus deras, biasanya terdapat hewan bivalvia yang menangkap makanan dengan
menyaring. Sedangkan arus lembut terdapat mollusca yang berfungsi sebagai feeder,
pemakan bahan organic, pada substrat lumpur. Oleh karena itu, manajemen yang baik di
alam adalah bagaimana meremajakan hewan tersebut melalui pemeliharaan intensif/budidaya
agar kelestarian sumber daya alam terjaga (tersedia air bersih, dan udara bersih yang
bermanfaat bagi manusia).




AK-SITH 2009
     Terumbu karang adalah hewan. Makanannya 90 berasal dari simbion alga, 10 persen
     dari tentakel menangkap ikan kecil, mengeluarkan racun, karang ini hidupnya secara
     potosintetik.
     Karang bisa dikatakan indikator laut. Shallow water kurang dari 200 meter, dan deep
     water lebih dari itu.
     Zooxanthelle – pigmen peremaja kulit –baik pasang maupun surut tetap tidak berubah
     Law of ten percent : hukum dalam jaring makanan
     Sea urchin – bintang laut – lobster –
     Aragonit adalah materi pembentuk kalsium. Ini menunjukkan adanya pengasaman di
     dunia. Ph rendah menyebabkan kalsifikasi terhambat, pertumbuhan karang mati,
     dampaknya – ukuran ikan yg diatas 50 cm berkurang di seluruh dunia
     Emisi orang indonesia 0,52 ton/capita/tahun/orang
     Kemampuan lautan indonesia 300 juta ton carbon per tahun
     Tanaman bisa menetralkan air asam tambang -bioremediator– sebagai pupuk –
     TANAMAN PERINTIS – agrowisata –air bagus-menyiram-
     Harus ada sekian persen tutupan vegetasi.




AK-SITH 2009

								
To top