Docstoc

makalah imunologi

Document Sample
makalah imunologi Powered By Docstoc
					MAKALAH IMUNOLOGI SEROLOGI
  SIFAT DAN MACAM REAKSI
     ANTIGEN ANTIBODY
  Dosen : dr. Luhur Agus Slameta




        Nama Kelompok :
         Dyah Paraswati
          Evi Imronah
         Grita Andriyani
             Sairoh

 AKADEMI ANALIS KESEHATAN
      PEKALONGAN
           2008
 SIFAT DAN MACAM REAKSI ANTIGEN
            ANTIBODY

     Salah satu sifat dari antibodi adalah
kemampuan bereaksi khas dengan antigen yang
menimbulkannya. Serologi adalah ilmu yang
mempelajari reaksi antara antigen dengan
antibodi di dalam serum. Reaksi serologi dapat
dipakai untuk menentukan antibodi / antigen
jika salah satu dari hal tersebut telah diketahui
dan untuk mengukur kadar titer.
I. Reaksi Presitipasi
   Prinsip : dengan mekanisme pembentukan jala
   artinya prepresitipasi terbentuk bila terjadi
   pembentukan jala oleh antigen yang bervalensi
   banyak, berikutnya dengan antidodi bervalensi 2
   dalam perbandingan yang beranekaragam yang
   hasil reaksinya tergantung perbandingan tersebut.
   Guna untuk mengetahui kenaikan titer zat anti
   presipitin dalam darah
a.   Uji cincin : Antibodi dalam tabung dialiri antigen
     akan terbentuk presipitasi pada perbatasan berupa
     zona putih.
b.   Cara gelas alas : Serum pada gelas digoyangkan, lihat
     dengan mikroskop ada / tidak kristal yang terbentuk.
c.   Uji tabung reaksi : Serum ditambah antigen maka
     akan terbentuk presipitasi.
d.   Cara difusi pada gel : Presipitat yang terjadi relative
     terikat pada gel / agar-agar sehingga mudah diamati.
     Apabila antigen / antibodi lebih dari satu maka tiap
     antigen antibodi akan membentuk garis dari
     presitipasi terpisah.
 Bila pretisipasi telah diambil dan dipereaksi
 akan didapatkan 3 daerah interaksi antigen
                    antibodi :

1.   Suatu daerah yang berlebihan antibodi dimana
     terdapat antibodi yang belum terikat.
2.   Suatu daerah keseimbangan dimana antigen antibodi
     berpresipitasi seluruhnya dan tidak ada yang bebas.
3.   Suatu daerah yang berlebihan antigen dimana semua
     antibodi telah diikat oleh antigen dan masih ada
     antigen yang bebas.
II.    Reaksi  Pengikatan    Komplemen
       (Complement Fixation)
      Komplemen dapat melekat pada kompleks antigen
antibodi, dan bila antigen tidak berupa sel maka
pengikatan komplemen ini tidak dapat dilihat begitu
saja. Untuk membuktikan adanya pengikatan
komplemen diperlukan suatu indikator yang terdiri dari
campuran suspensi sel darah merah domba dan larutan
amboseptor / serum yang mengandung antibodi
terhadap sel darah merah domba, jadi suatu indikator
berupa sensifized cell.
    Tahap-tahap reaksi pengikatan
            komplemen :


   Tahap I      :
   Ag dicampur Ab. Salah satu dari kedua bahan ini
    telah diketahui.
   Ditambah komplemen
               Membentuk kompleks → komplemen terikat



Ag sesuai
dengan Ab

            Tidak terbentuk kompleks → komplemen bebas
Tahap II   : Ditambahkan SDM dan antibodinya
             sebagai indikator untuk mengetahui
             apakah masih ada komplemen
             bebas di dalam larut.
         Pada pembacaan akan
               terlihat :
Reaksi (+)→   tidak ada hemolisis karena komplemen
              telah terikat pada kompleks Ag, Ab yang
              sesuai.
Reaksi (-)→   hemolisis karena komplemen tidak
              terikat bila antigen tidak sesuai dengan
              antibodi dan tidak dibentuk kompleks.
Yang perlu diperhatikan pada reaksi
     pengikatan komplemen :
   Serum yang diperiksa harus dipanaskan
    dahulu pada suhu 560C– 30 menit
    (inaksit komplemen)
   Kekuatan komplemen harus diukur
    dengan titrasi terhadap sel indikator
   Kontrol terhadap serum penderita
   Kontrol terhadap antigen
           Difusi Tunggal Radial
   Antibodi dicampur dalam agar, antigen yang
    dimasukkan dalam tabung akan berdifusi dan
    bereaksi dengan antibodi membentuk
    lingkaran presipitasi putih. Diameter lingkaran
    dapat dipakai sebagai ukuran konsentrasi
    antigen, bila dibandingkan dengan larutan
    antigen yang diketahui konsentrasinya.
            Imunoelektroforesis

Dilakukan dengan cara memasukkan
antigen ke dalam lubang pada agar
kemudian dialiri listrik yang mengakibatkan
pemisahan dari berbagai fraksi protein
didalam Larutan Antigen. Bila fraksi-fraksi
ini direaksikan dengan antibodi maka fraksi
yang sesuai akan menunjukan presipitasi.
Reaksi Aglutinasi

Adalah reaksi antara antibodi dengan antigen yang terdapat
dipermukaan sel sehingga dibentuk anyaman dan ikatan silang
antara sel-sel dengan perantaraan antibodi. Mekanisme
terjadinya aglutinasi tidak berbeda dengan pesipitasi.
Pada kedua macam reaksi ini, antibodinya bersifat multivalen.
Terjadi ikatan silang dengan antigen yang sesuai.

Perbedaan dengan reaksi presipitasi : Antigen pada presipitasi
berupa larutan molekuler / suspensi klorida, sedangkan pada
reksi Aglunitasi berupa partikel cukup besar yang tidak larut.
Reaksi Aglunitasi dapat dikerjakan secara makroskopik didalam
tabung-tabung aglunitasi/dengan cara mikroskopik pada gelas
alas dengan antiserum dengan setetes suspensi kuman (biasa
disebut spot agglunation / slide agglutination)
REAKSI SILANG (CROSS REACTION) PADA REAKSI
                AGLUNATION.

Permukaan sel kuman mengandung beberapa
macam antigen dan ada kemungkinan bahwa
satu Antigen yang serupa / hampir sama
ditemukan pada 2 jenis kuman. Serum yang
mengandung antibodi terhadap satu kuman
mungkin memberikan reaksi aglutinasi silang.
Hal ini mempersukar diagnosis kuman dengan
cara aglunitasi.
                        Jenis Aglunitasi H, O, Vi.
    Well Felix (1917) menemukan antigen protecus (AgO, Ag Somatik)
                  berlainan dengan antigen flagel (AgH)
      Antibodi H → didapat dengan cara menyuntikan kuman yang
       masih bergerak dalam bentuk suspensi kuman hidup atau
       dimatikan dengan antigen somatik dirusak dengan formalin,
       kedalam binatang percobaan. Titer yang didapat biasanya tinggi
       karena antibodi mempunyai afinitas tinggi terhadap flagel dam
       mudah bergerombolnya flagel. Pada manusia titer yang tinggi
       menunjukkan adanya infeksi / perahdifaksinasi, tetapi tidak ada
       hubungannya dengan derajat kekebalan. Karena antigen H tidak
       berhubungan dengan virulensi.

      Antibodi O → didapat dengan cara menyuntikkan kuman yang
       flagelnya telah dirusak dengan campuran alkohol dan dieram
       pada 37 0C selama 24 – 36 jam.

      Antibodi Vi → terdapat pada kuman yang baru diasingkan dan
       terbatas pada salmonella typhosa serta beberapa jenis kuman
       enterik non pathogen. Vi kependekan dari virulensi. Adanya
       antigen Vi pada permukaan sel kuman menghambat reaksi
       aglutinasi dengan serum yang mengadung antibodi O.
HEMAGLUTINASI
Suatu ablutinasi sel darajh merah
Hemoglutinasi karena antibodi terhadap antigen
pada permukaan sel darah merah.
Hemoglutinasi karena Virus / ricketsia.
Hemoglutasi dimana SDM hanya berfungsi
sebagai pembawa antigen.
IMMUNAFLUORESCENSI

Zat warna seperti pada voreserin dan rodamin
dapat di gabungkan antibodi tanpa
mempengarushi sifatnya yang khas. Kompleks
Ab dengan zat warna ini akan tetap mengikat
antigen dan bila dilihat dengan mikroskop UV
akan tampak fluoresensi
                a. Fluoresensi langsung (direct tesko)
Zb digabungkan dengan zat woma berfluoresensi dan konjugatini
dipakai untuk mendeteksi antigen contoh : pada sediaan hapus
lendir tenggorok.

       b. Fluoresensi tidak langsung (indirect rest)
Ag direaksikan dahulu dengan Ab untuk kemudian di warnai
dengan konjugat tediri dari anti Ag dan fluorokrom

         c. Teknik sandwich
Misalkan kita ingin melihat berapa banyak sel amposit yang
membuat antibodi terhadap polisakarida kuman pneumokopus
dibuat sediaan sel amfosit dan difiksasi dengan etanol. Kemudian
disiram dengan larutan yang mengandung polisakarida
pneumokosit, dibiarkan sebentar dan kemudian dicuci untuk
menghilangkan zat yang tidak menempel pada limfosit setelah itu
dilarutan Ab terhadap polreaparida yang dilabel sehingga sel
limfosit yang mengikat polisakarida karena membuat Ab
terhadapnya akan tampak berfluoresensi.
RADIO-IMMUONASSAY (RIA)

Mula-mula dibuat kurva standar dengan Ag
dan antibodi yang diketahui untuk mengetahui
kadar Ab. Ab tersebut dicampurkan dengan Ag
berlabel dengan diketahui kemudian Ag yang
bebal dipisahkan dari antigen yang terikat
pada Ab diukur dan hasilnya dimasukkan pada
kurva standar. Dari hasil tersebut akan
diketahui kadar Ag dengan mereaksikannya
dengan Ab berlabel yang kadarnya diketahui.