Docstoc

Teknologi Pengolahan Sampah

Document Sample
Teknologi Pengolahan Sampah Powered By Docstoc
					Teknologi Pengolahan Sampah
http://majarimagazine.com/2007/12/teknologi-pengolahan-sampah/

                                Pernah mendengan PLTSa? Pembangkit Listrik
                                Tenaga Sampah? Suatu isu yang sedang hangat
                                dibicarakan di Kota Bandung, sebuah kota besar di
                                Indonesa yang beberapa waktu yang lalu pernah
                                heboh karena keberadaan sampah yang merayap
                                bahkan hingga badan jalan-jalan utamanya.
                                Jangankan jalan utama, saat Anda memasuki
                                Bandung menuju flyover Pasupati, Anda pasti akan
                                disambut dengan segunduk besar sampah yang
                                hampir menutupi setengah badan jalan. Itu dulu.
                                Sekarang, Kota Bandung sudah kembali menjadi
                                sedia kala dan solusi PLTSa-lah yang sedang
diperdebatkan.

Tujuan akhir dari sebuah PLTSa ialah untuk mengkonversi sampah menjadi energi.
Pada dasarnya ada dua alternatif proses pengolahan sampah menjadi energi, yaitu
proses biologis yang menghasilkan gas-bio dan proses thermal yang menghasilkan
panas. PLTSa yang sedang diperdebatkan untuk dibangun di Bandung menggunakan
proses thermal sebagai proses konversinya. Pada kedua proses tersebut, hasil proses
dapat langsung dimanfaatkan untuk menggerakkan generator listrik. Perbedaan
mendasar di antara keduanya ialah proses biologis menghasilkan gas-bio yang
kemudian dibarak untuk menghasilkan tenaga yang akan menggerakkan motor yang
dihubungkan dengan generator listrik sedangkan proses thermal menghasilkan panas
yang dapat digunakan untuk membangkitkan steam yang kemudian digunakan untuk
menggerakkan turbin uap yang dihubungkan dengan generator listrik.

Proses Konversi Thermal

Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi,
pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan
organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat
antara bahan organik dengan oksigen. Apabila berlangsung secara sempurna,
kandungan bahan organik (H dan C) dalam sampah akan dikonversi menjadi gas
karbondioksida (CO2) dan uap air (H2O). Unsur-unsur penyusun sampah lainnya
seperti belerang (S) dan nitrogen (N) akan dioksidasi menjadi oksida-oksida dalam
fasa gas (SOx, NOx) yang terbawa di gas produk. Beberapa contoh insinerator ialah
open burning, single chamber, open pit, multiple chamber, starved air unit, rotary
kiln, dan fluidized bed incinerator.

                            Incinerator. Sebuah ilustrasi bagian-bagian dalam
                            sebuah incinerator.

                            Pirolisa merupakan proses konversi bahan organik
                            padat melalui pemanasan tanpa kehadiran oksigen.
                            Dengan adanya proses pemanasan dengan temperatur
                            tinggi, molekul-molekul organik yang berukuran besar
                            akan terurai menjadi molekul organik yang kecil dan
                            lebih sederhana. Hasil pirolisa dapat berupa tar, larutan
                            asam asetat, methanol, padatan char, dan produk gas.

Gasifikasi merupakan proses konversi termokimia padatan organik menjadi gas.
Gasifikasi melibatkan proses perengkahan dan pembakaran tidak sempurna pada
temperatur yang relatif tinggi (sekitar 900-1100 C). Seperti halnya pirolisa, proses
gasifikasi menghasilkan gas yang dapat dibakar dengan nilai kalor sekitar 4000
kJ/Nm3.

Proses Konversi Biologis

Proses konversi biologis dapat dicapai dengan cara digestion secara anaerobik
(biogas) atau tanah urug (landfill). Biogas adalah teknologi konversi biomassa
(sampah) menjadi gas dengan bantuan mikroba anaerob. Proses biogas menghasilkan
gas yang kaya akan methane dan slurry. Gas methane dapat digunakan untuk
berbagai sistem pembangkitan energi sedangkan slurry dapat digunakan sebagai
kompos. Produk dari digester tersebut berupa gas methane yang dapat dibakar
dengan nilai kalor sekitar 6500 kJ/Nm3.

                                              Modern Landfill. Konsep landfill
                                              seperti di atas ialah sebuah konsep
                                              landfill modern yang di dalamnya
                                              terdapat suatu sistem pengolahan
                                              produk buangan yang baik.

                                               Landfill ialah pengelolaan sampah
                                               dengan cara menimbunnya di dalam
                                               tanah. Di dalam lahan landfill, limbah
                                               organik akan didekomposisi oleh
                                               mikroba dalam tanah menjadi
                                               senyawa-senyawa gas dan cair.
Senyawa-senyawa ini berinteraksi dengan air yang dikandung oleh limbah dan air
hujan yang masuk ke dalam tanah dan membentuk bahan cair yang disebut lindi
(leachate). Jika landfill tidak didesain dengan baik, leachate akan mencemari tanah
dan masuk ke dalam badan-badan air di dalam tanah. Karena itu, tanah di landfill
harus mempunya permeabilitas yang rendah. Aktifias mikroba dalam landfill
menghasilkan gas CH4 dan CO2 (pada tahap awal – proses aerobik) dan
menghasilkan gas methane (pada proses anaerobiknya). Gas landfill tersebut
mempunyai nilai kalor sekitar 450-540 Btu/scf. Sistem pengambilan gas hasil
biasanya terdiri dari sejumlah sumur-sumur dalam pipa-pipa yang dipasang lateral
dan dihubungkan dengan pompa vakum sentral. Selain itu terdapat juga sistem
pengambilan gas dengan pompa desentralisasi.

Pemilihan Teknologi

Tujuan suatu sitem pemanfaatan sampah ialah dengan mengkonversi sampah tersebut
menjadi bahan yang berguna secara efisien dan ekonomis dengan dampak
lingkungan yang minimal. Untuk melakukan pemilihan alur konversi sampah
diperlukan adanya informasi tentang karakter sampah, karakter teknis teknologi
konversi yang ada, karakter pasar dari produk pengolahan, implikasi lingkungan dan
sistem, persyaratan lingkungan, dan yang pasti: keekonomian.

Kembali ke Bandung. Kira-kira teknologi mana yang tepat sebagai solusi pengolahan
sampah menjadi bahan berguna? Apakah PLTSa sudah merupakan teknologi yang
tepat??
Pengolahan Air Limbah dengan Teknologi Bersih
http://www.shantybio.transdigit.com/?Biology_-
_Dasar_Pengolahan_Limbah:Pengolahan_Air_Limbahdengan_Teknologi_Bersih

Oleh : Anto Tri Sugiarto, Ph.D.

Peneliti pada Pusat Penelitian KIM-LIPI, Kompleks Puspiptek Serpong, Tangerang.

PERKEMBANGAN perindustrian tekstil di kota Bandung yang berawal di
Kecamatan Majalaya sejak tahun 1950-an, dapat merupakan penyebab utama krisis
air bersih di Kota Bandung. Dalam menjalankan kegiatannya, industri tekstil banyak
membutuhkan air bersih yang umumnya diambil dari air tanah. Pengambilan yang
tidak terkontrol selama ini mengakibatkan berkurangnya persediaan air tanah yang
dapat dibutuhkan penduduk Kota Bandung.

Sekarang, krisis air bersih mulai dirasakan masyarakat di Kota Bandung. Namun,
perindustrian tekstil merupakan salah satu sumber penghasilan dan sangat diperlukan
dalam meningkatkan perekonomian masyarakat kota Bandung. Untuk itu, solusi
yang harus dilakukan adalah penggunaan air tanah yang efisien, dan mendaur ulang
air limbah dari buangan air limbah industri merupakan alternatif terbaik bagi Kota
Bandung.

Daur ulang air limbah

Pengolahan limbah cair umumnya dilakukan dengan menggunakan cara biologi
dengan memanfaatkan mikrobiologi untuk menguraikan kandungan senyawa-
senyawa kimia, dan cara fisika atau kimia untuk memisahkan kandungan senyawa
kimia dari air. Namun, permasalahan yang ada dalam pengolahan limbah cair adalah
perubahan teknologi manufaktur yang mengakibatkan terjadinya perubahan
komponen kimia organik yang terbuang. Pada akhirnya mengakibatkan perubahan
karakteristik limbah industri tekstil secara keseluruhan.

Sekarang, banyak komponen kimia yang dihasilkan selama proses manufaktur
menuntut metode pengolahan yang berbeda, terlalu sulit dan mahal untuk diolah
dengan metode pengolahan limbah seperti disebutkan di atas. Selain itu, perubahan
peraturan dan standar baku mutu pembuangan air limbah industri cenderung semakin
ketat. Hal ini berakibat pengolahan air limbah banyak diabaikan kalangan industri,
dan kemungkinan untuk proses daur ulang menjadi sangat sulit.

Dewasa ini, dalam teknologi pengolahan air limbah telah diperkenalkan adanya
teknologi bersih pengolahan air limbah. Teknologi tersebut dinamakan teknologi
oksidasi lanjutan atau advanced oxidation processes (AOP). Teknologi AOP ini
mulai diperkenalkan pada awal tahun 1990-an. Seiring dengan perkembangannya,
saat ini AOP sudah dapat diaplikasikan di industri dengan kemampuan yang lebih
maju dibandingkan dengan teknologi pengolahan air limbah yang ada.

AOP adalah satu atau kombinasi dari beberapa proses seperti ozone, hydrogen
peroxide, ultraviolet light, titanium oxide, photo catalyst, sonolysis, electron beam,
electrical discharges (plasma) serta beberapa proses lainnya untuk menghasilkan
hidroksil radikal. Hidroksil radikal adalah spesies aktif yang dikenal memiliki
oksidasi potensial tinggi 2.8 V melebihi ozone yang memiliki oksidasi potensial
hanya 2.07 V. Hal ini membuat hidroksil radikal sangat mudah bereaksi dengan
senyawa-senyawa lain yang ada di sekitarnya.
Hidroksil radikal sesuai dengan namanya adalah spesies aktif yang memiliki sifat
radikal, di mana mudah bereaksi dengan senyawa organik apa saja tanpa terkecuali,
terutama senyawa-senyawa organik yang selama ini sulit atau tidak dapat diuraikan
dengan metode mikrobiologi atau membran filtrasi. AOP akan sangat tepat untuk
diaplikasikan dalam pengolahan limbah cair dari industi tekstil yang banyak
mengandung senyawa-senyawa organik sebagai zat pewarna (dye).

Salah satu dari AOP yang banyak diaplikasikan pada perindustrian tekstil di Jepang
adalah kombinasi dari ozon dan ultraviolet (Sugitomo, 2000). Kombinasi ini banyak
dipergunakan mengingat selama ini baik teknologi ozon maupun lampu ultraviolet
bukan merupakan hal yang baru dalam proses pengolahan air, terutama dalam proses
pengolahan air bersih/minum, sehingga kombinasi dari keduanya menjadi mudah
untuk diaplikasikan.

Kombinasi ozon dan ultraviolet sangat potensial untuk mengoksidasi berbagai
senyawa organik, minyak, dan bakteri yang mungkin terkandung di dalam limbah
cair. Secara individu pada industri tekstil, ozon dapat dipergunakan untuk
menghilangkan warna dan bau. Demikian juga halnya dengan ultraviolet yang
memiliki kemampuan dalam menghilangkan warna. Namun demikian saat ini banyak
dipergunakan senyawa kimia organik yang lebih kompleks, dan sulit untuk diuraikan
dengan menggunakan ozon atau ultraviolet secara sendirian. Untuk itulah kombinasi
ozon dan ultraviolet dengan hidroksil radikalnya akan sangat efektif dalam
menghilangkan warna, dan bau yang terkandung dalam limbah cair.

Teknologi bersih

Saat ini penelitian terkait pengembangan teknologi AOP meningkat sangat pesat. Hal
ini terjadi dikarenakan AOP dengan hidroksil radikalnya tidak hanya memiliki
kemampuan untuk menguraikan senyawa-senyawa organik, namun sekaligus dapat
menghilangkan kandungan senyawa-senyawa turunan yang mungkin terbentuk
selama proses oksidasi berlangsung.

Hal ini dapat ditunjukkan dengan hanya karbon dioksida dan air saja sebagai hasil
akhir dari proses oksidasi dengan AOP. Proses ini sekaligus menjadikan air hasil dari
proses pengolahan air limbah akan dapat dipergunakan kembali sebagai air baku
dalam proses manufaktur.

Sedangkan untuk kandungan logam berat yang mungkin terkandung di dalam
senyawa organik dapat teroksidasi sehingga dapat dengan mudah dilakukan proses
pemisahan dari air yang telah terproses, dan selanjutnya logam berat akan dapat
didaur ulang kembali dengan menggunakan proses selanjutnya.

Beberapa hal di atas menjadikan AOP sebagai teknologi bersih dalam proses
pengolahan limbah cair pada industri tekstil. Hal ini juga akan berlaku sama dalam
pengolahan limbah cair dari kegiatan industri lainnya.

Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh pusat penelitian KIM-LIPI disimpulkan,
pemanfaatan AOP dalam hal ini kombinasi dari ozon dan ultraviolet memiliki
beberapa keunggulan di antaranya areal instalasi pengolahan air limbah yang tidak
luas, waktu pengolahan cepat, penggunaan bahan kimia sedikit, penguraian senyawa
organik yang efektif, keluaran (output) limbah lumpur (sludge) sedikit, dan air hasil
pengolahannya dapat dipergunakan kembali.
Teknologi pengolahan limbah “medis” cair
http://keslingmks.wordpress.com/2009/05/01/teknologi-pengolahan-limbah-medis-
cair/
Posted on Mei 1, 2009 by zaenabku

Ironis memang ………. Itulah mungkin kata yang pas untuk lembaga yang bernama
rumah sakit (RS). Ternyata salah satu tempat penyembuhan orang sakit ini justru
menjadi sumber penyakit. Hal ini berkaitan dengan limbah yang dihasilkannya tidak
ditangani dengan benar. Begituah jika limbah cair rumah sakit tidak diolah terlebih
dahulu tapi langsung dibuang ke sungai. Memang harus diakui, rumah sakit
merupakan salah satu sumber penghasil limbah berbahaya, baik limbah padat
maupun limbah cair. Pada artikel ini penulis hanya akan memfokuskan pada
penanganan limbah cair.

Limbah cair yang dihasilkan dari sebuah rumah sakit umumnya banyak mengandung
bakteri, virus, senyawa kimia, dan obat-obatan yang dapat membahayakan bagi
kesehatan masyarakat sekitar rumah sakit tersebut. Dari sekian banyak sumber
limbah di rumah sakit, limbah dari laboratorium paling perlu diwaspadai. Bahan-
bahan kimia yang digunakan dalam proses uji laboratorium tidak bisa diurai hanya
dengan aerasi atau activated sludge. Bahan-bahan itu mengandung logam berat dan
inveksikus, sehingga harus disterilisasi atau dinormalkan sebelum ”dilempar”
menjadi limbah tak berbahaya. Untuk foto rontgen misalnya, ada cairan tertentu yang
mengandung radioaktif yang cukup berbahaya. Setelah bahan ini digunakan.
limbahnya dibuang

Banyak pihak yang menyadari tentang bahaya ini. Namun, lemahnya peraturan
pemerintah tentang pengelolaan limbah rumah sakit mengakibatkan hingga saat ini
hanya sedikit rumah sakit yang memiliki IPAL khusus pengolahan limbah cairnya
Teknologi pengolahan limbah

Teknologi pengolahan limbah medis yang sekarang jamak dioperasikan hanya
berkisar antara masalah tangki septik dan insinerator. Keduanya sekarang terbukti
memiliki nilai negatif besar. Tangki septik banyak dipersoalkan lantaran rembesan
air dari tangki yang dikhawatirkan dapat mencemari tanah. Terkadang ada beberapa
rumah sakit yang membuang hasil akhir dari tangki septik tersebut langsung ke
sungai-sungai, sehingga dapat dipastikan sungai tersebut mulai mengandung zat
medis.
Sedangkan insinerator, yang menerapkan teknik pembakaran pada sampah medis,
juga bukan berarti tanpa cacat. Badan Perlindungan Lingkungan AS menemukan
teknik insenerasi merupakan sumber utama zat dioksin yang sangat beracun.
Penelitian terakhir menunjukkan zat dioksin inilah yang menjadi pemicu tumbuhnya
kanker pada tubuh.

Yang sangat menarik dari permasalahan ini adalah ditemukaannya teknologi
pengolahan limbah dengan metode ozonisasi. Salah satu metode sterilisasi limbah
cair rumah sakit yang direkomendasikan United States Environmental Protection
Agency (U.S.EPA) tahun 1999. Teknologi ini sebenarnya dapat juga diterapkan
untuk mengelola limbah pabrik tekstil, cat, kulit, dan lain-lain.

Ozonisasi
Proses ozonisasi telah dikenal lebih dari seratus tahun yang lalu. Proses ozonisasi
atau proses dengan menggunakan ozon pertama kali diperkenalkan Nies dari Prancis
sebagai metode sterilisasi pada air minum pada tahun 1906. Penggunaan proses
ozonisasi kemudian berkembang sangat pesat. Dalam kurun waktu kurang dari 20
tahun terdapat kurang lebih 300 lokasi pengolahan air minum menggunakan
ozonisasi untuk proses sterilisasinya di Amerika.

Dewasa ini, metode ozonisasi mulai banyak dipergunakan untuk sterilisasi bahan
makanan, pencucian peralatan kedokteran, hingga sterilisasi udara pada ruangan
kerja di perkantoran. Luasnya penggunaan ozon ini tidak terlepas dari sifat ozon
yang dikenal memiliki sifat radikal (mudah bereaksi dengan senyawa disekitarnya)
serta memiliki oksidasi potential 2.07 V. Selain itu, ozon telah dapat dengan mudah
dibuat dengan menggunakan plasma seperti corona discharge.

Melalui proses oksidasinya pula ozon mampu membunuh berbagai macam
mikroorganisma seperti bakteri Escherichia coli, Salmonella enteriditis, Hepatitis A
Virus serta berbagai mikroorganisma patogen lainnya (Crites, 1998). Melalui proses
oksidasi langsung ozon akan merusak dinding bagian luar sel mikroorganisma (cell
lysis) sekaligus membunuhnya. Juga melalui proses oksidasi oleh radikal bebas
seperti hydrogen peroxy (HO2) dan hydroxyl radical (OH) yang terbentuk ketika
ozon terurai dalam air. Seiring dengan perkembangan teknologi, dewasa ini ozon
mulai banyak diaplikasikan dalam mengolah limbah cair domestik dan industri.
Ozonisasi limbah cair rumah sakit

Proses pengolahan limbah dengan metode ozonisasi adalah seperti yang ditunjukkan
pada Gambar 1. Limbah cair yang berasal dari berbagai kegiatan laboratorium,
dapur, laundry, toilet, dan lain sebagainya dikumpulkan pada sebuah kolam
equalisasi lalu dipompakan ke tangki reaktor untuk dicampurkan dengan gas ozon.
Gas ozon yang masuk dalam tangki reaktor bereaksi mengoksidasi senyawa organik
dan membunuh bakteri patogen pada limbah cair.

Limbah cair yang sudah teroksidasi kemudian dialirkan ke tangki koagulasi untuk
dicampurkan koagulan. Lantas proses sedimentasi pada tangki berikutnya. Pada
proses ini, polutan mikro, logam berat dan lain-lain sisa hasil proses oksidasi dalam
tangki reaktor dapat diendapkan.

Selanjutnya dilakukan proses penyaringan pada tangki filtrasi. Pada tangki ini terjadi
proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-zat pollutan yang terlewatkan pada
proses koagulasi. Zat-zat polutan akan dihilangkan permukaan karbon aktif. Apabila
seluruh permukaan karbon aktif ini sudah jenuh, atau tidak mampu lagi menyerap
maka proses penyerapan akan berhenti, dan pada saat ini karbon aktif harus diganti
dengan karbon aktif baru atau didaur ulang dengan cara dicuci. Air yang keluar dari
filter karbon aktif untuk selanjutnya dapat dibuang dengan aman ke sungai.
Ozon akan larut dalam air untuk menghasilkan hidroksil radikal (-OH), sebuah
radikal bebas yang memiliki potential oksidasi yang sangat tinggi (2.8 V), jauh
melebihi ozon (1.7 V) dan chlorine (1.36 V). Hidroksil radikal adalah bahan
oksidator yang dapat mengoksidasi berbagai senyawa organik (fenol, pestisida,
atrazine, TNT, dan sebagainya). Sebagai contoh, fenol yang teroksidasi oleh
hidroksil radikal akan berubah menjadi hydroquinone, resorcinol, cathecol untuk
kemudian teroksidasi kembali menjadi asam oxalic dan asam formic, senyawa
organik asam yang lebih kecil yang mudah teroksidasi dengan kandungan oksigen
yang di sekitarnya. Sebagai hasil akhir dari proses oksidasi hanya akan didapatkan
karbon dioksida dan air.

Hidroksil radikal berkekuatan untuk mengoksidasi senyawa organik juga dapat
dipergunakan dalam proses sterilisasi berbagai jenis mikroorganisma,
menghilangkan bau, dan menghilangkan warna pada limbah cair. Dengan demikian
akan dapat mengoksidasi senyawa organik serta membunuh bakteri patogen, yang
banyak terkandung dalam limbah cair rumah sakit.
Pada saringan karbon aktif akan terjadi proses adsorpsi, yaitu proses penyerapan zat-
zat yang akan diserap oleh permukaan karbon aktif. Apabila seluruh permukaan
karbon aktif ini sudah jenuh, proses penyerapan akan berhenti. Maka, karbon aktif
harus diganti baru atau didaur ulang dengan cara dicuci.

Dalam aplikasi sistem ozonisasi sering dikombinasikan dengan lampu ultraviolet
atau hidrogen peroksida. Dengan melakukan kombinasi ini akan didapatkan dengan
mudah hidroksil radikal dalam air yang sangat dibutuhkan dalam proses oksidasi
senyawa organik. Teknologi oksidasi ini tidak hanya dapat menguraikan senyawa
kimia beracun yang berada dalam air, tapi juga sekaligus menghilangkannya
sehingga limbah padat (sludge) dapat diminimalisasi hingga mendekati 100%.
Dengan pemanfaatan sistem ozonisasi ini dapat pihak rumah sakit tidak hanya dapat
mengolah limbahnya tapi juga akan dapat menggunakan kembali air limbah yang
telah terproses (daur ulang). Teknologi ini, selain efisiensi waktu juga cukup
ekonomis, karena tidak memerlukan tempat instalasi yang luas.
Teknologi Pengolahan Air bersih Mampu Atasi Kondisi di Daerah
http://www.technologyindonesia.com/news.php?page_mode=detail&id=87

JAKARTA : Kendati teknologi pengolahan air mampu mengantisipasi berbagai
kondisi hingga wilayah terpencil, namun ketersediaan bahan kimia masih menjadi
kendala di wilayah-wilayah tersebut. Selain itu, masalah manajemen pengelolaan air
bersih masih menghambat pengembangan pengolahan air bersih di tiap wilayah.

''Bahan kimia seperti tawas, soda, kapur dan lainnya memang masih sulit ditemukan
di wilayah terpencil. Hal itulah yang membuat biaya produksi menjadi mahal,'' ujar
Dr Ir Rudi Nugroho, M.Eng, Kelompok Teknologi Kimia dan Lingkungan BPPT di
Jakarta, kemarin (19/6).

Namun demikian, kata Rudi, Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi sudah
memiliki teknologi lengkap pengolahan air bersih untuk berbagai kondisi wilayah.
Seperti halnya wilayah terpencil di Kalimantan Tengah yang memiliki lebih banyak
sumber air payau (rawa) kini sudah dapat ditangani dengan baik. ''Kami sudah
mencapai tahap mengolah air payau menjadi air siap minum,'' ujarnya.

Untuk air payau dengan ph normal (6-9), dan tingkat kekeruhan 10 Mtu, lanjut Rudi,
bisa melalui proses desalinasi yaitu hanya mengurangi kandungan garam dalam air.
Metode yang digunakan untuk proses tersebut melalui sistem penguapan (destilasi),
sistem elektrodialisa (menarik unsur garam dengan bahan kimia) atau membram
(filtrasi dengan berbagai tingkat) ''Yang paling sering digunakan yaitu reverse
osmosis dengan tingkatan filter satu persepuluh ribu mikron,'' ujarnya.

Sedangkan air payau dengan kandungan besi tinggi, ph rendah dan berwarna cokelat,
kata Rudi, harus diolah melalui proses yang cukup panjang. ''Sebelum desalinasi
harus melalui tahapan netralisasi dan pre-treatment,'' ujarnya.

Proses netralisasi, kata Rudi, untuk meningkatkan ph rendah (2-4) menjadi normal
dengan menggunakan kapur dan soda AS. Kemudian diberi bahan penggumpal
(koogulan) lalu masuk tahap proses pengendapan.

Selanjutnya, tahap pre-treatment dengan menggunakan saringan pasir (atau
ultrafiltrasi) dan multimedia filter dengan campuran bahan kimia. Kemudian
mencampurkan karbon aktif untuk menyebap bau dan menghilangkan warna. ''Pada
tahap tersebut masih ada unsur garam sehingga harus melalui proses desalinasi dan
desinfektan untuk menghilangkan bakteri, baru siap untuk dikonsumsi,'' ujarnya.

Sementara itu, Ir Nusa Idaman Said, M.Eng, Kelompok Teknologi Pengelolaan air
Bersih dan Limbah Cair BPPT mengeluhkan manajemen pengolahan air bersih di
berbagai wilayah yang lemah. ''Infrastruktur teknologi yang sudah tersedia menjadi
sia-sia, karena tidak dikembangkan lebih lanjut. Di salah satu wilayah, bahkan
fasilitasnya dicuri,'' ujarnya.

Namun demikian, lanjut Nusa, beberapa wilayah terpencil seperti Dadahop
Kalimantan Tengah dan Kabupaten Selayar Sulawesi Selatan, sudah mampu
mengembangkan teknologi pengolahan air bersih. ''Di Dadahop akan ditingkatkan
kapasitasnya hingga 4 tahun ke depan. Sedangkan di Selayar akan ditambah 4 unit
lagi tahun ini,'' ujarnya. (Lea).
Teknologi Pengolahan Air Sumur Untuk Air Minum
http://www.kamusilmiah.com/teknologi/teknologi-pengolahan-air-sumur-untuk-air-minum/

Sumber: Iptek Net Topik: Teknologi Tags: Air Minum, Karbon Aktif Butiran,
Pengolahan Air Sumur

Air merupakan kebutuhan yang sangat vital bagi kehidupan manusia. Karena itu jika
kebutuhan akan air tersebut belum tercukupi maka dapat memberikan dampak yang
besar terhadap kerawanan kesehatan maupun sosial. Air yang layak diminum,
mempunyai standar persyaratan tertentu yakni persyaratan fisis, kimiawi dan
bakteriologis, dan syarat tersebut merupakan satu kesatuan. Jadi jika ada satu saja
parameter yang tidak memenuhi syarat maka air tesebut tidak layak untuk diminum.
Pemakaian air minum yang tidak memenuhi standar kualitas tersebut dapat
menimbulkan gangguan kesehatan, baik secara langsung dan cepat maupun tidak
langsung dan secara perlahan.

Untuk menanggulangi masalah tersebut, salah satu alternatif yakni dengan cara
mengolah air tanah atau air sumur sehingga didapatkan air dengan kualitas yang
memenuhi syarat kesehatan.

Tujuan teknologi pengolahan air ini adalah unutk meningkatkan kesehatan
masyarakat, khususnya masyarakat yang masih menggunakan air tanah atau air
sumur sebagai sumber kebutuhan air bersih. Sedangkan sasarannya adalah menyebar
luaskan paket teknologi pengolahan air sumur siap minum kepada masyarakat yang
memerlukan.

Unit alat pengolahan air ini dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas air sumur
atau air tanah sehingga langsung dapat diminum tanpa proses pemanasan. Unit alat
ini sangat cocok digunakan untuk keperluan Asrama, Pesantren, Pemukiman padat
penduduk, Dll.

BAHAN
Pasar Silika
Kerikil
Mangan Zeolit
Karbon Aktif Butiran (Granular)
Kaporit

PERALATAN
Spesifikasi teknis peralatan (Kapasitas 10000 liter/hari)
A. Pompa Air Baku
B. Pompa dosing
C. Tangki Bahan Kimia
D. Tangki Reaktor
E. Saringan Pasir Cepat (Sand Filter)
F. Filter Mangan Zeolit
G. Filter Karbon Aktif
H. Filter Cartridge
I. Sterilisator Ultra Violet
CARA PEMBUATAN

Untuk mengolah air sumur menjadi air yang siap minum, proses pengolahannya
adalah seperti ditunjukkan pada gambar 1. Air dari sumur dipompa dengan
menggunakan pompa jet, sambil diinjeksi dengan larutan klorine atau kaporit
dialirkan ke tangki reaktor. Dari tangki reaktor air dialirkan ke saringan pasir cepat
untuk menyaring oksida besi atau oksida mangan yang terbentuk di dalam tangki
reaktor. Setelah disaring dengan saringan pasir, air dialirkan ke filter mangan zeolit.
Filter mangan zeolit berfungsi untuk menghilangkan zat besi atau mangan yang
belum sempat teroksidasi oleh khlorine atau kaporit.
                       TEKNOLOGI TEPAT GUNA
                      Mentri Negara Riset dan Teknologi

Alat Pengolahan | Budidaya Pertanian | Budidaya Perikanan | Budidaya Peternakan |
                  Pengelolaan dan Sanitasi | Pengolahan Pangan


         PENGELOLAAN LIMBAH INDUSTRI RUMAH TANGGA

PENDAHULUAN
Limbah rumah tangga adalah limbah yang berasal dari dapur, kamar mandi, cucian,
limbah bekas industri rumah tangga dan kotoranmanusia. Limbah merupakan
buangan/bekas yang berbentuk cair, gas dan padat. Dalam air limbah terdapat bahan
kimia sukar untuk dihilangkan dan berbahaya. Bahan kimia tersebut dapat memberi
kehidupan bagi kuman-kuman penyebab penyakit disentri, tipus, kolera dsb. Air
limbah tersebut harus diolah agar tidak mencemari dan tidak membahayakan
kesehatan lingkungan. Air limbah harus dikelola untuk mengurangi pencemaran.

   Pengelolaan air limbah dapat dilakukan dengan membuat saluran air kotor dan
   bak peresapan dengan memperhatikan ketentuan sebagai berikut ;

        1.    Tidak mencemari sumber air minum yang ada di daerah sekitarnya
              baik air dipermukaan tanah maupun air di bawah permukaan tanah.
        2.    Tidak mengotori permukaan tanah.
        3.    Menghindari tersebarnya cacing tambang pada permukaan tanah.
        4.    Mencegah berkembang biaknya lalat dan serangga lain.
        5.    Tidak menimbulkan bau yang mengganggu.
        6.    Konstruksi agar dibuat secara sederhana dengan bahan yang mudah
              didapat dan murah.
        7.    Jarak minimal antara sumber air dengan bak resapan 10 m.

       Pengelolaan yang paling sederhana ialah pengelolaan dengan menggunakan
       pasir dan benda-benda terapung melalui bak penangkap pasir dan saringan.
       Benda yang melayang dapat dihilangkan oleh bak pengendap yang dibuat
       khusus untuk menghilangkan minyak dan lemak. Lumpur dari bak pengendap
       pertama dibuat stabil dalam bak pembusukan lumpur, di mana lumpur
       menjadi semakin pekat dan stabil, kemudian dikeringkan dan dibuang.
       Pengelolaan sekunder dibuat untuk menghilangkan zat organik melalui
       oksidasi dengan menggunakan saringan khusus. Pengelolaan secara tersier
       hanya untuk membersihkan saja. Cara pengelolaan yang digunakan
       tergantung keadaan setempat, seperti sinar matahari, suhu yang tinggi di
       daerah tropis yang dapat dimanfaatkan.

       Berikut ini adalah pengelolaan limbah rumah tangga untuk limbah cair, padat
       dan gas.

        1.    Pengelolaan air limbah kakus I.
        2.    Pengelolaan air limbah kakus II.
        3.    Pengelolaan air limbah cucian.
        4.    Pembuatan saluran bekas mandi dan cuci
        5.    Pengelolaan sampah
        6.    Pengelolaan limbah industri rumah tangga.
        7.    Pengelolaan air limbah rumah tangga I
        8.    Pengelolaan air limbah rumah tangga II
        9.    Pengelolaan air limbah
URAIAN SINGKAT

   Industri rumah tangga seperti industri tempe, tahu, rumah makan, dan lain-lain
   perlu dikelola. Limbah dari industri rumah tangga tersebut menimbulkan bau
   yang tidak enak dan mengganggu lingkungan sekitarnya. Salah satu cara
   mengelola limbah rumah tangga adalah dengan membuat 3 bak. Ketiga bak
   tersebut digunakan sebagai tempat pengendapan limbah secara bertahap. Dengan
   demikian air limbah yang keluar dari bak terakhir sudah tidak
   membahayakan lagi.

BAHAN

        1.    Batu bata
        2.    Semen
        3.    Pipa pralon
        4.    Lem
        5.    Pasir
        6.    Lempengan besi

PERALATAN

        1.    Gergaji
        2.    Cetok
        3.    Cangkul
        4.    Parang
        5.    Besi runcing
        6.    Ember
        7.    Skop
        8.    Meteran

PEMBUATAN
Buat bak sebanyak 3 buah dari batu bata dengan campuran pasir dan semen.
Kemiringan saluran harus diperhitungkan. Usahakan jangan sampai ada benda pada
air limbah, sebab apabila ada akan menempel dan menyumbat saluran. Antara bak
satu dengan lainnya dihubungkan pipa pralon, antara satu dengan yang lain letaknya
lebih rendah. Susunan dan sifat air limbah yang berasal dari limbah industri rumah
tangga tergantung pada macam dan jenisnya, industri. Air limbah dapat berupa
limbah dari pabrik susu, rumah makan, pemotongan hewan, pabrik tahu, pabrik
tempe, dsb. Kotoran air limbah yang masuk ke bak I, akan mengapung. Pada bagian
bawah limbah melalui pipa akan terus mengalir ke bak II. Lemak akan tertinggal dan
akan menempel pad dinding. Untuk mengambil lemak perlu diserok. Dalam Bak II
limbah akan mengalami pengendapan, terus ke bak III begitu juga. Dari pipa pralon
pada bak III air limbah akan keluar dan sudah tidak membahayakan lagi. Untuk
membawa lumpur diperlukan kecepatan 0.1m/detik dan untuk membawa pasir kasar
perlu kecepatan 0,2m/detik. Cara pembuatannya dapat dilihat Gambar di bawah ini.
   Gambar    1.   Denah   bak   pengendap    ideal   berbentuk   persegi   panjang




   Gambar 2. Bak limbah industri

PENGGUNAAN

        1.    Untuk membuang limbah industri rumah tangga.
        2.    Untuk membuang kotoran-kotoran yang bersifat cair.

PEMELIHARAAN

        1.    Bak hendaknya sering dibersihkan agar kotorannya tidak mengganggu
              saluran
        2.    Perlu di kontrol saluran-salurannya untuk menghindari kemacetan.
        3.    Jangan membuang limbah berupa padat seperti : kain, kertas, daun-
              daun, plastik, kerikil, dsb.

KEUNTUNGAN
Membuatnya lebih sederhana, bahan-bahannya mudah didapat.

KERUGIAN
Apabila kurang dikontrol akan sering macet, sehingga air akan keluar ke atas dan
mengganggu lingkungan sekitarnya.
Catatan lain-lain :
Periksalah secara berkala apakah lemaknya yang menempel sudah banyak dan perlu
dibersihkan atau apakah ada yang rusak.

Sumber : Buku Panduan Air dan Sanitasi, Pusat Informasi Wanita dalam
Pembangunan PDII-LIPI bekerjasama dengan Swiss Development Cooperation,
Jakarta, 1991.

http://iptek.net.id/ind/warintek/?mnu=6&ttg=5&doc=5e6
Teknologi Pengolahan Limbah B3
Definisi limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah)
suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3)
karena sifat (toxicity, flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau
jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak,
mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.

Berdasarkan sumbernya, limbah B3 dapat diklasifikasikan menjadi:

      Primary sludge, yaitu limbah yang berasal dari tangki sedimentasi pada
       pemisahan awal dan banyak mengandung biomassa senyawa organik yang
       stabil dan mudah menguap
      Chemical sludge, yaitu limbah yang dihasilkan dari proses koagulasi dan
       flokulasi
      Excess activated sludge, yaitu limbah yang berasal dari proses pengolahan
       dengn lumpur aktif sehingga banyak mengandung padatan organik berupa
       lumpur dari hasil proses tersebut
      Digested sludge, yaitu limbah yang berasal dari pengolahan biologi dengan
       digested aerobic maupun anaerobic di mana padatan/lumpur yang dihasilkan
       cukup stabil dan banyak mengandung padatan organik.

Limbah B3 dikarakterisasikan berdasarkan beberapa parameter yaitu total solids
residue (TSR), kandungan fixed residue (FR), kandungan volatile solids (VR), kadar
air (sludge moisture content), volume padatan, serta karakter atau sifat B3 (toksisitas,
sifat korosif, sifat mudah terbakar, sifat mudah meledak, beracun, serta sifat kimia
dan kandungan senyawa kimia).

Contoh limbah B3 ialah logam berat seperti Al, Cr, Cd, Cu, Fe, Pb, Mn, Hg, dan Zn
serta zat kimia seperti pestisida, sianida, sulfida, fenol dan sebagainya. Cd dihasilkan
dari lumpur dan limbah industri kimia tertentu sedangkan Hg dihasilkan dari industri
klor-alkali, industri cat, kegiatan pertambangan, industri kertas, serta pembakaran
bahan bakar fosil. Pb dihasilkan dari peleburan timah hitam dan accu. Logam-logam
berat pada umumnya bersifat racun sekalipun dalam konsentrasi rendah. Daftar
lengkap limbah B3 dapat dilihat di PP No. 85 Tahun 1999: Pengelolaan Limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Silakan klik link tersebut untuk daftar lengkap
yang juga mencakup peraturan resmi dari Pemerintah Indonesia.

Penanganan atau pengolahan limbah padat atau lumpur B3 pada dasarnya dapat
dilaksanakan di dalam unit kegiatan industri (on-site treatment) maupun oleh pihak
ketiga (off-site treatment) di pusat pengolahan limbah industri. Apabila pengolahan
dilaksanakan secara on-site treatment, perlu dipertimbangkan hal-hal berikut:

      jenis dan karakteristik limbah padat yang harus diketahui secara pasti agar
       teknologi pengolahan dapat ditentukan dengan tepat; selain itu, antisipasi
       terhadap jenis limbah di masa mendatang juga perlu dipertimbangkan
      jumlah limbah yang dihasilkan harus cukup memadai sehingga dapat
       menjustifikasi biaya yang akan dikeluarkan dan perlu dipertimbangkan pula
       berapa jumlah limbah dalam waktu mendatang (1 hingga 2 tahun ke depan)
      pengolahan on-site memerlukan tenaga tetap (in-house staff) yang menangani
       proses pengolahan sehingga perlu dipertimbangkan manajemen sumber daya
       manusianya
      peraturan yang berlaku dan antisipasi peraturan yang akan dikeluarkan
       Pemerintah di masa mendatang agar teknologi yang dipilih tetap dapat
       memenuhi standar
Teknologi Pengolahan

Terdapat banyak metode pengolahan limbah B3 di industri, tiga metode yang paling
populer di antaranya ialah chemical conditioning, solidification/Stabilization, dan
incineration.

   1. Chemical Conditioning

   Salah satu teknologi pengolahan limbah B3 ialah chemical conditioning. TUjuan
   utama dari chemical conditioning ialah:

           o   menstabilkan senyawa-senyawa organik yang terkandung di dalam
               lumpur
           o   mereduksi volume dengan mengurangi kandungan air dalam lumpur
           o   mendestruksi organisme patogen
           o   memanfaatkan hasil samping proses chemical conditioning yang
               masih memiliki nilai ekonomi seperti gas methane yang dihasilkan
               pada proses digestion
           o   mengkondisikan agar lumpur yang dilepas ke lingkungan dalam
               keadaan aman dan dapat diterima lingkungan

       Chemical conditioning terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut:

Concentration thickening

Tahapan ini bertujuan untuk mengurangi volume lumpur yang akan diolah dengan
cara meningkatkan kandungan padatan. Alat yang umumnya digunakan pada tahapan
ini ialah gravity thickener dan solid bowl centrifuge. Tahapan ini pada dasarnya
merupakan tahapan awal sebelum limbah dikurangi kadar airnya pada tahapan de-
watering selanjutnya. Walaupun tidak sepopuler gravity thickener dan centrifuge,
beberapa unit pengolahan limbah menggunakan proses flotation pada tahapan awal
ini.

Treatment, stabilization, and conditioning

Tahapan kedua ini bertujuan untuk menstabilkan senyawa organik dan
menghancurkan patogen. Proses stabilisasi dapat dilakukan melalui proses
pengkondisian secara kimia, fisika, dan biologi. Pengkondisian secara kimia
berlangsung dengan adanya proses pembentukan ikatan bahan-bahan kimia dengan
partikel koloid. Pengkondisian secara fisika berlangsung dengan jalan memisahkan
bahan-bahan kimia dan koloid dengan cara pencucian dan destruksi. Pengkondisian
secara biologi berlangsung dengan adanya proses destruksi dengan bantuan enzim
dan reaksi oksidasi. Proses-proses yang terlibat pada tahapan ini ialah lagooning,
anaerobic digestion, aerobic digestion, heat treatment, polyelectrolite flocculation,
chemical conditioning, dan elutriation.

De-watering and drying

De-watering and drying bertujuan untuk menghilangkan atau mengurangi kandungan
air dan sekaligus mengurangi volume lumpur. Proses yang terlibat pada tahapan ini
umumnya ialah pengeringan dan filtrasi. Alat yang biasa digunakan adalah drying
bed, filter press, centrifuge, vacuum filter, dan belt press.

Disposal
Disposal ialah proses pembuangan akhir limbah B3. Beberapa proses yang terjadi
sebelum limbah B3 dibuang ialah pyrolysis, wet air oxidation, dan composting.
Tempat pembuangan akhir limbah B3 umumnya ialah sanitary landfill, crop land,
atau injection well.

   2. Solidification/Stabilization
      Di samping chemical conditiong, teknologi solidification/stabilization juga
      dapat diterapkan untuk mengolah limbah B3. Secara umum stabilisasi dapat
      didefinisikan sebagai proses pencapuran limbah dengan bahan tambahan
      (aditif) dengan tujuan menurunkan laju migrasi bahan pencemar dari limbah
      serta untuk mengurangi toksisitas limbah tersebut. Sedangkan solidifikasi
      didefinisikan sebagai proses pemadatan suatu bahan berbahaya dengan
      penambahan aditif. Kedua proses tersebut seringkali terkait sehingga sering
      dianggap mempunyai arti yang sama. Proses solidifikasi/stabilisasi
      berdasarkan mekanismenya dapat dibagi menjadi 6 golongan, yaitu:

       1. Macroencapsulation, yaitu proses dimana bahan berbahaya dalam limbah
          dibungkus dalam matriks struktur yang besar
       2. Microencapsulation, yaitu proses yang mirip macroencapsulation tetapi
          bahan pencemar terbungkus secara fisik dalam struktur kristal pada
          tingkat mikroskopik
       3. Precipitation
       4. Adsorpsi, yaitu proses dimana bahan pencemar diikat secara elektrokimia
          pada bahan pemadat melalui mekanisme adsorpsi.
       5. Absorbsi, yaitu proses solidifikasi bahan pencemar dengan
          menyerapkannya ke bahan padat
       6. Detoxification, yaitu proses mengubah suatu senyawa beracun menjadi
          senyawa lain yang tingkat toksisitasnya lebih rendah atau bahkan hilang
          sama sekali

      Teknologi solidikasi/stabilisasi umumnya menggunakan semen, kapur
      (CaOH2), dan bahan termoplastik. Metoda yang diterapkan di lapangan ialah
      metoda in-drum mixing, in-situ mixing, dan plant mixing. Peraturan mengenai
      solidifikasi/stabilitasi diatur oleh BAPEDAL berdasarkan Kep-
      03/BAPEDAL/09/1995 dan Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

   2. Incineration
      Teknologi pembakaran (incineration ) adalah alternatif yang menarik dalam
      teknologi pengolahan limbah. Insinerasi mengurangi volume dan massa
      limbah hingga sekitar 90% (volume) dan 75% (berat). Teknologi ini
      sebenarnya bukan solusi final dari sistem pengolahan limbah padat karena
      pada dasarnya hanya memindahkan limbah dari bentuk padat yang kasat mata
      ke bentuk gas yang tidak kasat mata. Proses insinerasi menghasilkan energi
      dalam bentuk panas. Namun, insinerasi memiliki beberapa kelebihan di mana
      sebagian besar dari komponen limbah B3 dapat dihancurkan dan limbah
      berkurang dengan cepat. Selain itu, insinerasi memerlukan lahan yang relatif
      kecil.

      Aspek penting dalam sistem insinerasi adalah nilai kandungan energi (heating
      value) limbah. Selain menentukan kemampuan dalam mempertahankan
      berlangsungnya proses pembakaran, heating value juga menentukan
      banyaknya energi yang dapat diperoleh dari sistem insinerasi. Jenis
      insinerator yang paling umum diterapkan untuk membakar limbah padat B3
      ialah rotary kiln, multiple hearth, fluidized bed, open pit, single chamber,
      multiple chamber, aqueous waste injection, dan starved air unit. Dari semua
       jenis insinerator tersebut, rotary kiln mempunyai kelebihan karena alat
       tersebut dapat mengolah limbah padat, cair, dan gas secara simultan.

Penanganan Limbah B3




Hazardous Material Container

Limbah B3 harus ditangani dengan perlakuan khusus mengingat bahaya dan resiko
yang mungkin ditimbulkan apabila limbah ini menyebar ke lingkungan. Hal tersebut
termasuk proses pengemasan, penyimpanan, dan pengangkutannya. Pengemasan
limbah B3 dilakukan sesuai dengan karakteristik limbah yang bersangkutan. Namun
secara umum dapat dikatakan bahwa kemasan limbah B3 harus memiliki kondisi
yang baik, bebas dari karat dan kebocoran, serta harus dibuat dari bahan yang tidak
bereaksi dengan limbah yang disimpan di dalamnya. Untuk limbah yang mudah
meledak, kemasan harus dibuat rangkap di mana kemasan bagian dalam harus dapat
menahan agar zat tidak bergerak dan mampu menahan kenaikan tekanan dari dalam
atau dari luar kemasan. Limbah yang bersifat self-reactive dan peroksida organik
juga memiliki persyaratan khusus dalam pengemasannya. Pembantalan kemasan
limbah jenis tersebut harus dibuat dari bahan yang tidak mudah terbakar dan tidak
mengalami penguraian (dekomposisi) saat berhubungan dengan limbah. Jumlah yang
dikemas pun terbatas sebesar maksimum 50 kg per kemasan sedangkan limbah yang
memiliki aktivitas rendah biasanya dapat dikemas hingga 400 kg per kemasan.

Limbah B3 yang diproduksi dari sebuah unit produksi dalam sebuah pabrik harus
disimpan dengan perlakuan khusus sebelum akhirnya diolah di unit pengolahan
limbah. Penyimpanan harus dilakukan dengan sistem blok dan tiap blok terdiri atas
2×2 kemasan. Limbah-limbah harus diletakkan dan harus dihindari adanya kontak
antara limbah yang tidak kompatibel. Bangunan penyimpan limbah harus dibuat
dengan lantai kedap air, tidak bergelombang, dan melandai ke arah bak penampung
dengan kemiringan maksimal 1%. Bangunan juga harus memiliki ventilasi yang
baik, terlindung dari masuknya air hujan, dibuat tanpa plafon, dan dilengkapi dengan
sistem penangkal petir. Limbah yang bersifat reaktif atau korosif memerlukan
bangunan penyimpan yang memiliki konstruksi dinding yang mudah dilepas untuk
memudahkan keadaan darurat dan dibuat dari bahan konstruksi yang tahan api dan
korosi.

Mengenai pengangkutan limbah B3, Pemerintah Indonesia belum memiliki peraturan
pengangkutan limbah B3 hingga tahun 2002. Namun, kita dapat merujuk peraturan
pengangkutan yang diterapkan di Amerika Serikat. Peraturan tersebut terkait dengan
hal pemberian label, analisa karakter limbah, pengemasan khusus, dan sebagainya.
Persyaratan yang harus dipenuhi kemasan di antaranya ialah apabila terjadi
kecelakaan dalam kondisi pengangkutan yang normal, tidak terjadi kebocoran limbah
ke lingkungan dalam jumlah yang berarti. Selain itu, kemasan harus memiliki
kualitas yang cukup agar efektivitas kemasan tidak berkurang selama pengangkutan.
Limbah gas yang mudah terbagak harus dilengkapi dengan head shields pada
kemasannya sebagai pelindung dan tambahan pelindung panas untuk mencegah
kenaikan suhu yang cepat. Di Amerika juga diperlakukan rute pengangkutan khusus
selain juga adanya kewajiban kelengkapan Material Safety Data Sheets (MSDS)
yang ada di setiap truk dan di dinas pemadam kebarakan.
                                                           Secured Landfill. Faktor
                                                           hidrogeologi,       geologi
                                                           lingkungan, topografi, dan
                                                           faktor-faktor lainnya harus
                                                           diperhatikan agar secured
                                                           landfill tidak merusak
                                                           lingkungan. Pemantauan
                                                           pasca-operasi harus terus
                                                           dilakukan untuk menjamin
                                                           bahwa badan air tidak
                                                           terkontaminasi         oleh
                                                           limbah B3.


Pembuangan Limbah B3 (Disposal)

Sebagian dari limbah B3 yang telah diolah atau tidak dapat diolah dengan teknologi
yang tersedia harus berakhir pada pembuangan (disposal). Tempat pembuangan
akhir yang banyak digunakan untuk limbah B3 ialah landfill (lahan urug) dan
disposal well (sumur pembuangan). Di Indonesia, peraturan secara rinci mengenai
pembangunan lahan urug telah diatur oleh Badan Pengendalian Dampak Lingkungan
(BAPEDAL) melalui Kep-04/BAPEDAL/09/1995.

Landfill untuk penimbunan limbah B3 diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu: (1)
secured landfill double liner, (2) secured landfill single liner, dan (3) landfill clay
liner dan masing-masing memiliki ketentuan khusus sesuai dengan limbah B3 yang
ditimbun.

                                                  Dimulai dari bawah, bagian dasar
                                                  secured landfill terdiri atas tanah
                                                  setempat, lapisan dasar, sistem
                                                  deteksi kebocoran, lapisan tanah
                                                  penghalang, sistem pengumpulan
                                                  dan pemindahan lindi (leachate),
                                                  dan lapisan pelindung. Untuk kasus
                                                  tertentu, di atas dan/atau di bawah
                                                  sistem       pengumpulan         dan
                                                  pemindahan lindi harus dilapisi
                                                  geomembran. Sedangkan bagian
                                                  penutup terdiri dari tanah penutup,
                                                  tanah tudung penghalang, tudung
                                                  geomembran,        pelapis    tudung
                                                  drainase, dan pelapis tanah untuk
                                                  tumbuhan dan vegetasi penutup.
                                                  Secured landfill harus dilapisi
                                                  sistem pemantauan kualitas air
                                                  tanah dan air pemukiman di sekitar
                                                  lokasi agar mengetahui apakah
                                                  secured landfill bocor atau tidak.
                                                  Selain itu, lokasi secured landfill
                                                  tidak boleh dimanfaatkan agar tidak
                                                  beresiko bagi manusia dan habitat
                                                  di sekitarnya.
Deep Injection Well.
Pembuangan limbah B3 melalui metode ini masih mejadi kontroversi dan masih
diperlukan pengkajian yang komprehensif terhadap efek yang mungkin ditimbulkan.
Data menunjukkan bahwa pembuatan sumur injeksi di Amerika Serikat paling
banyak dilakukan pada tahun 1965-1974 dan hampir tidak ada sumur baru yang
dibangun setelah tahun 1980.

Sumur injeksi atau sumur dalam (deep well injection) digunakan di Amerika Serikat
sebagai salah satu tempat pembuangan limbah B3 cair (liquid hazardous wastes).
Pembuangan limbah ke sumur dalam merupakan suatu usaha membuang limbah B3
ke dalam formasi geologi yang berada jauh di bawah permukaan bumi yang memiliki
kemampuan mengikat limbah, sama halnya formasi tersebut memiliki kemampuan
menyimpan cadangan minyak dan gas bumi. Hal yang penting untuk diperhatikan
dalam pemilihan tempat ialah strktur dan kestabilan geologi serta hidrogeologi
wilayah setempat.

Limbah B3 diinjeksikan se dalam suatu formasi berpori yang berada jauh di bawah
lapisan yang mengandung air tanah. Di antara lapisan tersebut harus terdapat lapisan
impermeable seperti shale atau tanah liat yang cukup tebal sehingga cairan limbah
tidak dapat bermigrasi. Kedalaman sumur ini sekitar 0,5 hingga 2 mil dari
permukaan tanah.

Tidak semua jenis limbah B3 dapat dibuang dalam sumur injeksi karena beberapa
jenis limbah dapat mengakibatkan gangguan dan kerusakan pada sumur dan formasi
penerima limbah. Hal tersebut dapat dihindari dengan tidak memasukkan limbah
yang dapat mengalami presipitasi, memiliki partikel padatan, dapat membentuk
emulsi, bersifat asam kuat atau basa kuat, bersifat aktif secara kimia, dan memiliki
densitas dan viskositas yang lebih rendah daripada cairan alami dalam formasi
geologi.

Hingga saat ini di Indonesia belum ada ketentuan mengenai pembuangan limbah B3
ke sumur dalam (deep injection well). Ketentuan yang ada mengenai hal ini
ditetapkan oleh Amerika Serikat dan dalam ketentuan itu disebutkah bahwa:

   1. Dalam kurun waktu 10.000 tahun, limbah B3 tidak boleh bermigrasi secara
      vertikal keluar dari zona injeksi atau secara lateral ke titik temu dengan
      sumber air tanah.
   2. Sebelum limbah yang diinjeksikan bermigrasi dalam arah seperti disebutkan
      di atas, limbah telah mengalami perubahan higga tidak lagi bersifat berbahaya
      dan beracun.
Jumat, 02 Mei 2008

Teknologi Pengolahan Sampah

http://berita-iptek.blogspot.com/2008/05/teknologi-pengolahan-sampah.html

Sampah memang menjadi masalah di kota - besar di seluruh dunia. Khususnya di
indonesia seperti menumpuknya sampah dijalan - jalan protokol kota bandung.
Belum lagi konflik antara pemerintah dengan warga masyarakat yang lokasinya
menjadi tempat pembuangan akhir (TPA).

Di negara negara maju seperti Denmark, Swis, Amerika dan Prancis. Mereka telah
memaksimalkan proses pengolahan sampah. Tidak hanya mengatasi bau busuk saja
tapi sudah merobah sampah - sampah ini menjadi energi listrik. Khusus di Denmark
54 % sampah di robah menjadi energi listrik.

Teknologi pengolahan sampah ini untuk menjadi energi listrik pada prinsinya sangat
sederhana sekali yaitu:

         Sampah di bakar sehingga menghasilkan panas (proses konversi thermal)
         Panas dari hasil pembakaran dimanfaatkan untuk merubah air menjadi uap
          dengan bantuan boiler
         Uap bertekanan tinggi digunakan untuk memutar bilah turbin
         Turbin dihubungkan ke generator dengan bantuan poros
         Generator menghasilkan listrik dan listrik dialirkan kerumah - rumah atau ke
          pabrik.

Proses Konversi Thermal
Proses konversi thermal dapat dicapai melalui beberapa cara, yaitu insinerasi,
pirolisa, dan gasifikasi. Insinerasi pada dasarnya ialah proses oksidasi bahan-bahan
organik menjadi bahan anorganik. Prosesnya sendiri merupakan reaksi oksidasi cepat
antara bahan organik dengan oksigen.


                                   Pembangkit listrik tenaga sampah yang banyak
                                   digunakan saat ini menggunakan proses insenerasi
                                   salah satu contohnya adalah lihat diagram
                                   disampaing

                                Sampah dibongkar dari truk pengakut sampah dan
                                diumpankan ke inserator. Didalam inserator sampah
dibakar. Panas yang dihasilkan dari hasil pembakaran digunakan untuk merubah air
menjadi uap bertekanan tinggi. Uap dari boiler langsung ke turbin (lihat gambar 2).
Sisa pembakaran seperti debu diproses lebih lanjut agar tidak mencemari lingkungan
(truk mengangkut sisa proses pembakaran).

                                   Teknologi pengolahan sampah ini memang lebih
                                   menguntungkan dari pembangkit listrik lainnya.
                                   Sebagai ilustrasi : 100.000 ton sampah sebanding
                                   dengan 10.000 ton batu bara. Selain mengatasi
                                   masalah polusi bisa juga untuk menghasilkan energi
                                   berbahan bahan bakar gratis juga bisa menghemat
devisa.

				
DOCUMENT INFO
Categories:
Tags:
Stats:
views:14367
posted:2/8/2010
language:Indonesian
pages:20