BAB I by elipldoc

VIEWS: 176 PAGES: 6

									                                                                                  1




                                      BAB I

                                PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

   Seiring dengan pengembangan ilmu dan teknologi, matematika sebagai salah

satu ilmu dasar dewasa ini telah berkembang sangat pesat baik materi maupun

kegunaannya. Semakin pesatnya perkembangan yang terjadi pada saat ini

menyebabkan tantangan bagi dunia pendidikan. Rendahnya mutu hasil pendidikan

matematika biasanya dipengaruhi beberapa faktor diantaranya siswa, materi

pelajaran, guru, metode mengajar, media dan lain–lain.

   Dalam proses pembelajaran terdapat dua unsur penting yaitu guru dan siswa, dua

unsur ini sangat berpengaruh terhadap proses keberhasilan dalam pembelajaran.

Tugas utama guru dalam proses pembelajaran adalah membelajarkan siswa dengan

menyediakan berbagai fasilitas dan mampu menciptakan lingkungan yang optimal.

Proses pembelajaran akan berlangsung secara maksimal jika kondisi belajar sudah

optimal. Dalam menciptakan suatu suasana pembelajaran yang optimal terdapat

beberapa faktor yang mempengaruhi. Ada beberapa hal yang mempengaruhi proses

pembelajaran seperti materi yang sulit, kurang tersedianya alat peraga yang efektif,

kurang motivasi, kurangnya kesempatan siswa untuk menemukan kembali dan

mengkontruksi konsep–konsep yang telah diajarkan, kurangnya variasi model–model

pembelajaran, merupakan contoh yang dapat menghambat kondisi belajar kurang

maksimal dan optimal (Sutarto Hadi, 2005).
                                                                                  2




   Pada pembelajaran matematika siswa akan belajar lebih baik jika lingkungan

diciptakan alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” apa yang

dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”. Pembelajaran yang berorientasi pada target

penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetensi “mengingat” jangka pendek,

tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka

panjang. Dan itulah yang terjadi di kelas-kelas sekolah kita, termasuk dalam

pembelajaran matematika.

   SMP Negeri 7 Yogyakarta terletak di Desa Tegalrejo Kecamatan Tegalrejo,

Daerah Istimewa Yogyakarta, SMP Negeri 7 Yogyakarta mempunyai 15 kelas yaitu

kelas VII lima kelas, Kelas VIII lima kelas dan kelas IX lima kelas dan setiap kelas

ada 40 siswa, mempunyai empat guru matematika dan semuanya sarjana.

Berdasarkan hasil pengamatan, proses pembelajaran matematika di SMP Negeri 7

Yogyakarta belum berlangsung secara maksimal. Hal tersebut tampak di       beberapa

indikasi siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan matematika kedalam

situasi kehidupan yang real. Prestasi belajar matematika siswa-siwa SMP Negeri 7

Yogyakarta kurang memuaskan. Nilai rata-rata hasil ulangan umum (THB) mata

pelajaran matematika tahun ajaran 2006/2007 semester I masih berada dibawah

KKM yaitu 6, contoh tersebut bahwa membuktikan salah satu faktor dugaan masih

belum optimalnya proses pembelajaran sehingga outputnya belum maksimal.

   Metode pembelajaran yang digunakan oleh guru-guru SMP Negeri 7 Yogyakarta

masih konvensonal yaitu pembelajaran langsung. Metode tersebut merupakan
                                                                                3




metode lama karena pembelajaran berpusat pada guru, komunikasi yang terjadi hanya

satu arah yaitu guru ke siswa. Siswa kurang diberi kesempatan untuk mengkonstruksi

sendiri ide-ide matematika dan mengaitkan pengalaman kehidupan nyata siswa

dengan ide–ide matematika dalam pembelajaran di kelas. Kurangnya penghargaan

yang diberikan oleh guru sehingga motivasinya kurang. Fasilitas khususnya alat

peraga yang disediakan oleh guru matematika masih kurang dan hanya beberapa alat

peraga untuk materi pelajaran tertentu saja.

   Berdasarkan beberapa fakta yang ada perlu dilakukan tindakan oleh guru

matematika dengan cepat untuk menciptakan proses pembelajaran yang optimal.

Proses pembelajaran optimal ketika semua komponen yang ada berfungsi secara

optimal pula, siswa dalam belajar aktif (terjadi komunikasi dua arah) dan siswa

mempunyai motivasi yang lebih tinggi maka          dengan sendirinya prestasinya

meningkat.

   Peneliti berpendapat bahwa salah satu upaya untuk menciptakan kondisi belajar

yang optimal tersebut dalam beproses belajar matematika           adalah dengan

menggunakan model pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) yaitu

pembelajaran yang di tekankan pada keterkaitan antara konsep–konsep matematika

dengan pengalaman sehari–hari anak. Wujud nyata upaya ini dilakukan penelitian

tindakan kelas (PTK) dengan judul ”Peningkatan prestasi belajar matematika melalui

pembelajaran Realistic Mathematics Education (RME) siswa kelas VIII SMP Negeri

7 Yogyakarta tahun 2006/ 2007”.
                                                                                 4




B. Identifikasi Masalah

   Banyak siswa mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan materi matematika

kedalam situasi dunia nyata sehingga pemahaman konsepnya kurang. Hal ini yang

menyebabkan siswa mengalami kesulitan dalam belajar matematika yang

dikarenakan pembelajaran matematika kurang bermakna. Model yang digunakan saat

ini adalah model pembelajaran konvensional, dalam pembelajaran ini yang aktif

adalah guru sehingga kebebasan siswa dalam kegiatan belajar mengajar kurang oleh

karena itu minat belajar matematika siswa kurang.

   Objek matematika yang abstrak menyebabkan siswa mengalamai kesulitan dalam

mempelajari materi matematika. Padahal matematika merupakan mata pelajaran yang

harus dipahami oleh siswa karena matematika merupakan salah satu mata pelajaran

yang di UNASkan. Kesulitan siswa dalam memahami materi matematika biasanya

karena siswa kurang memahami konsep. Untuk dapat memahami suatu materi

matematika siswa harus memahami konsep sebelumnya. Jadi pemahaman konsep

sangat diperlukan untuk mempelajari matematika dengan baik. Realistic Mathematics

Education (RME) merupakan suatu proses pembelajaran yang baru dalam mengatasi

masalah-masalah yang ada dalam pembelajaran. Dengan model pembelajaran ini

diharapkan siswa lebih aktif sehingga siswa tidak mengalami kesulitan dalam belajar

karena pembelajaran yang bermakna.
                                                                                        5




C. Pembatasan Masalah

   Masalah yang akan dibahas dalam penelitian ini adalah pembelajaran matematika

dengan pendekatan Realistic Mathematics Edukation (RME) dapat meningkatkan

prestasi belajar pada siswa kelas VIII SMP NEGERI 7 Yogyakarta tahun ajaran

2006/2007.




D. Rumasan Masalah

   Apakah      pembelajaran     Realistic   Mathematics         Education   (RME)   dapat

meningkatkan prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 7 Yogyakarta?




E. Tujuan Masalah

   Berdasarkan rumusan masalah yang telah ditentukan, maka tujuan yang ingin

dicapai dari penelitian ini yaitu

      Untuk     mengetahui         bagaimana     pelaksanaan     pembelajaran   Realistic

       Mathematics Education (RME)              pada mata pelajaran matematka di SMP

       Negeri 7 Yogyakarta.

      Untuk mengetahui bahwa pembelajaran Realistic Mathematics Education

       (RME) dapat meningkatkan prestasi belajar matematika siswa SMP Negeri 7

       Yogyakarta.
                                                                                  6




F. Manfaat Penelitian

   1. Bagi Kepala Sekolah

        Sebagai masukan dalam pembinaan guru-guru untuk meningkatkan prestasi

        belajar mengajar siswa di sekolah.

   2.   Bagi Guru

        a. Sebagai masukan yang berguna untuk meningkatkan prestasi belajar

           metematika siswanya.

        b. Sebagai    instropeksi   terhadap   kegiatan   pengelolaan   pembelajaran

           matematika yang telah dilaksanakan dan dapat meningkatkan kemapuan

           dalam mengelola proses pembelajaran.

        c. Sebagai alternatif bagi guru dalam pengambilan model pembelajaran

           matematika di SMP Negeri 7 Yogyakarta.

   3. Peneliti

        Sebagai   pengembangan      pengetahuan dan ketrampilan dalam proses

        pembelajaran matematika.

   4. Memberikan informasi bagi guru dan calon guru matematika akan pentingnya

        pemahaman siswa terhadap konsep maateri matematika yang diberikan

        sehingga perlu untuk mendapat perhatian.

								
To top