ANALISIS PENGARUH KEPEMIMPINAN, BUDAYA KERJA, DAN SARANA PRASARANA by zlr11756

VIEWS: 2,188 PAGES: 14

									   ANALISIS PENGARUH KEPEMIMPINAN, BUDAYA KERJA, DAN
SARANA PRASARANA TERHADAP PRESTASI SISWA SMA DI KOTA
                                 SURAKARTA

                                   Heriyanto
                                 M. Wahyuddin

              Program Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surakarta
             Jalan A. Yani, Tromol Pos 1, Pabelan, Surakarta 67102

                                   ABSTRACT

Target of research is to know leadership factor influence, cultural of activity, and
supply to SMA student achievement in Surakarta, and to know most dominant
factor in influencing SMA student achievement in Surakarta. This research takes
location at senior high school country and private sector in Town Surakarta. This
Research is conducted in March - June 2006, with amount of population counted
1.998 people. Amount of taken sample in this research is 100 responders. Method
at this research is regression logistic binary, test accuracy model regression used
to assess accuracy regression model in this research is measured with chi-square
value with test Hosmer and Lemeshow. Pursuant to result of logistic binary
regression analysis obtained that independent variable consisting of leadership,
cultural of activity, and supply have positive association to and significance to
proved student achievement with sig value at third variable altogether < 0,05.
From three the free variable in the reality cultural variable of activity represent
most dominant factor, this matter is proved from result of B expertise test or Exp
(B) equal to 2,683, and coefficient beta value equal to 0,987 which actually is
bigger than other variable

Keyword: leadership, cultural of activity, achievement.

A. PENDAHULUAN
         Dalam rangka membantu membebaskan masyarakat dari kebodohan dan
    keterbelakangan yang mengakibatkan rendahnya kualitas sumber daya
    manusia, pendidikan memegang peranan yang sangat penting. Pendidikan
    merupakan kebutuhan mendasar dalam upaya meningkatkan kualitas sumber
    daya manusia. Dengan pendidikan, manusia akan menjadi berkualitas dan
    pada gilirannya akan meningkatkan produktivitas dan kemajuan bangsanya.
         Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
    Nasional menyebutkan bahwa jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal,
nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya.
Pendidikan nonformal atau yang biasa disebut dengan jalur pendidikan luar
sekolah memiliki peranan memberikan pelayanan pendidikan kepada warga
masyarakat karena faktor usia, waktu (kesempatan) dan sosial ekonomi yang
tidak memungkinkan mereka untuk mengikuti pendidikan melalui jalur
pendidikan sekolah. Salah satu pendidikan formal adalah Sekolah Menengah
Atas (SMA).
     Tujuan    penyelenggaraan    pendidikan    tingkat   SMA     berdasarkan
Keputusan Mendiknas Nomor 053/V/2001, tanggal 9 April 2001, tentang
Pedoman Pelayanan Minimal Penyelenggaraan Persekolahan Bidang
Pendidikan Dasar dan Menengah adalah: (a) meningkatkan pengetahuan
siswa untuk melanjutkan pada jenjang pendidikan tinggi dan mampu
mengembangkan diri sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan,
tehnologi, dan kesenian; dan (b) meningkatkan kemampuan siswa sebagai
anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan
lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar.
      Bertolak dari tujuan penyelenggaraan tersebut, kurikulum yang dipakai
memiliki tujuan untuk mencapai standar kompetensi siswa dengan tamatan
yang diharapkan sebagai berikut: (a) memiliki akhlak dan budi pekerti yang
luhur; (b) menguasai materi pelajaran sebagaimana yang tercamtum dalam
susunan       program pengajaran SMA; (c) memiliki pengetahuan dan
ketrampilan dasar untuk hidup dalam masyarakat; dan (d) memiliki
kemampuan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi.
      Perubahan yang signifikan di bidang pendidikan setelah terbitnya
Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor: 114/U/2001, Tanggal 11 Juli
2001, Tentang Penilaian Hasil Belajar Secara Nasional, membawa dampak
yang besar, terutama pada diri siswa yang dituntut belajar sesuai harapan yang
mengacu pada peningkatan mutu pendidikan secara nasional. Di dalam pasal
2, ayat (1) dijelaskan bahwa penilaian hasil belajar secara nasional bertujuan
untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik dan untuk mengetahui
mutu pendidikan pada satuan, jenis atau jenjang/tingkat pendidikan tertentu.
  Dampak tersebut sangat dirasakan terutama pada diri siswa dan sekolah-
  sekolah yang kualitas belajar mengajarnya rendah sehingga capaian
  kelulusannya secara umum juga rendah.
        Untuk meningkatkan mutu pendidikan, perlu dilakukan penjaminan
  mutu sesuai dengan standar, norma, kriteria, dan pedoman penyelenggaraan
  pendidikan nasional. Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) adalah
  sebuah lembaga baru yang dibentuk oleh Mendiknas melalui Keputusan
  Nomor: 087/0/2003, tanggal 4 juli 2003, tentang organisasi dan tata kerja
  LPMP. Salah satu fungsi dari LPMP adalah merancang model-model
  pembelajaran di sekolah sesuai dengan kebutuhan daerah dan standar mutu
  nasional.
        Di dalam penyelenggaraan Sekolah Menengah Atas (SMA), tingkat
  keberhasilannya ditentukan oleh standar pelayanan minimal (SPM). Untuk
  mengetahui apakah SPM ini telah diterapkan dengan baik dan benar,
  diperlukan suatu indikator keberhasilan. Dalam indikator keberhasilan
  tertuang berbagai indikator dan ukuran ketercapaian minimal sesuai dengan
  komponen yang ada di dalam SPM. Komponen SPM terdiri dari: kurikulum,
  peserta didik, ketenagaan, sarana prasarana, organisasi, pembiayaan,
  manajemen sekolah, dan peran serta masyarakat.
        Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dilakukannya penelitian ini
  adalah untuk menganalisis pengaruh faktor kepemimpinan, budaya kerja, dan
  sarana prasarana terhadap prestasi siswa SMA di Surakarta dan untuk
  mengetahui faktor yang paling dominan dalam mempengaruhi prestasi siswa
  SMA di Surakarta.


C. METODE PENELITIAN
  1. Kerangka Dasar Pemikiran
        Prestasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor di
  antaranya adalah kepemimpinan kepala sekolah, budaya kerja, dan sarana
  prasarana belajar sekolah yang dimiliki. Dengan kepemimpinan kepala
  sekolah yang baik, budaya kerja segenap karyawan dan guru yang
mendukung proses belajar mengajar siswa, serta ditunjang oleh sarana dan
prasarana yang memadai, prestasi belajar siswa akan lebih baik. Berikut
diagram kerangka dasar pemikiran penelitian ini.


                                   Gambar 1
                            Kerangka Dasar Pemikiran

           Kepemimpinan


             Budaya Kerja                              Prestasi
                                                       Be-lajar
                                                        Siswa
                Sarana
               Prasarana



2. Data dan Sumber Data
      Data yang digunakan penelitian ini diperoleh dari data primer yang
dikumpulkan melalui penyebaran angket kepada guru dan karyawan SMA
negri dan swasta di kota Surakarta yang dijadikan sampel. Adapun data-data
tersebut adalah:
a. Tanggapan responden tentang kepemimpinan kepala sekolah;
b. Tanggapan responden tentang budaya kerja di lingkungan SMA;
c. Tanggapan responden tentang sarana dan prasarana;
d. Tanggapan responden tentang prestasi siswa.


3. Populasi, Sampel, dan Teknik Sampling
       Populasi penelitian ini adalah seluruh pegawai/karyawan SMA di
   Surakarta yang berjumlah 1.998 orang terbagi dalam 39 SMA. Adapun
   teknik sampling yang digunakan adalah random sampling yaitu
   pengambilan sampel yang dilakukan secara acak tanpa memperhatikan
   strata yang ada dalam populasi itu. Mengingat besarnya jumlah populasi
   dan wilayah penelitian, maka dalam penelitian ini ditetapkan besarnya
   sampel sebesar 100 orang.
4. Analisis Data
   a. Model Analisis Regresi Logistik
              Untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi prestasi siswa
   digunakan alat analisis dengan menggunakan model regresi logistik.
   Model logistik dirancang untuk melakukan prediksi keanggotaan grup.
   Regresi logistik digunakan bila variabel-variabel prediktor (predictors)
   merupakan campuran antara variabel diskrit dan kontinyu dan distribusi
   data yang digunakan tidak normal (Wahyuddin, 2004:34).
              Kelebihan metode regresi logistik adalah lebih fleksibel dibanding
   teknik lain yaitu:
   1)        Regresi logistik tidak memiliki asumsi normalitas atas variabel
         bebas yang digunakan dalam model. Artinya, variabel penjelas tidak
         harus memiliki distribusi normal, linier, memiliki varian yang sama
         dalam setiap grup.
   2)    Variabel-variabel prediktor dalam regresi logistik, bisa merupakan
         campuran dari variabel kontinyu, diskrit, dan dikotomis.
   3)        Regresi logistik sangat bermanfaat digunakan apabila distribusi
         respon atas variabel hasil diharapkan nonlinier dengan satu atau lebih
         variabel prediktor.


   Persamaan umum analisis regresi logistik dinyatakan sebagai berikut.
                 eu
        Ŷi=
               1 + eu
        Di mana probabilitas yang diestimasi dengan                          kasus sebanyak
        i=1,……,n dan µ adalah the usual linier regression equation, di mana
        µ = A + b1X1 + b2X2 + b3X3 + b4X4 + b5X5 + ……..+ bkXk
        dengan konstanta A, koefisien regresi bi, dan variabel-varibel prediktor
        Xj   dengan jumlah k prediktor (j=   1, 2 ,3, 4 , 5,......, k   ).

               Pada penelitian ini, analisis untuk membedakan antara siswa
        yang berprestasi dan tidak berprestasi digunakan model logistik binary
   dan multinomial, dilakukan dengan menggunakan persamaan berikut
   ini:
   D Pr estasi = β 0 + β 1 X 1 + β   2   X2 + β 3X3+ V



   Di mana         D prstasi adalah dummy prestasi (di mana nilai 1 adalah

   berprestasi dan nilai 0 adalah tidak berprestasi), sedangkan X 1 , X2, X3,
   masing-masing adalah kepemimpinan, budaya kerja, dan sarana
   prasarana.


b. Uji Ketepatan Model
      Uji ketepatan model regresi digunakan untuk menilai ketepataan
model regresi dalam penelitian ini diukur dengan nilai chi square dengan
uji Hosmer dan Lemeshow. Pengujian ini akan melihat nilai goodness of fit
test yang diukur dengan nilai chi square pada tingkat signifikansi 5%.
      Keputusan penerimaan hipotesis didasarkan pada kriteria sebagai
berikut.
      H0 = model yang dihipotesiskan fit dengan data.
      HA = model yang dihipotesiskan tidak fit dengan data.


      Untuk menguji hipotesis digunakan                        model Hosmer and
Lemeshow’s goodness of fit test. Jika nilai                 Hosmer and Lemeshow’s
goodness of fit test statistik sama dengan atau kurang dari 0,05, maka
hipotesis nol ditolak yang berari ada perbedaan signifikan antara model
dengan nilai observasinya, yang goodness fit model tidak baik, karena
model tidak dapat memprediksi nilai observasinya. Jika nilai statistik
Hosmer and Lemeshow’s goodness of fit lebih besar dari 0,05, maka
hipotesis    nol     tidak     dapat        ditolak   dan   berarti   model   mampu
memprediksikan nilai obsevasinya atau dapat dikatakan model dapat
ditemui karena cocok dengan observasinya (Ghozali, 2001:218).
     c.   Variabel Hasil (Outcome)
            Berdasarkan pertimbangan studi empiris sebelumnya, untuk
     menentukan sejauh mana prestasi siswa terkonsentrasi pada siswa yang
     berprestasi dan siswa yang tidak berprestasi, maka studi ini menggunakan
     variabel hasil penilaian prestasi siswa (Y ik ). Variabel ini diperoleh
     berdasarkan jawaban angket.


C. ANALISIS DATA
  1. Model Regresi Binary Logistic
            Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model
     regresi binary logistic yaitu model lain dari analisis regresi untuk
     menjelaskan pola hubungan antara variabel independen dan dependen.
     Variabel independen penelitian ini adalah variabel kepemimpinan, budaya
     kerja, dan sarana prasarana, sedangkan variabel dependen dalam penelitian
     ini menggunakan variabel prestasi siswa dengan skala biner (bernilai 0
     dan 1). Prestasi siswa dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan
     ukuran prestasi/tidak prestasi, sehingga dalam penelitian ini menggunakan
     model regresi binari.
            Model regresi binary logistic dilakukan dengan      menggunakan
     persamaan berikut ini.
            Dpres = β0 + β1Kep + β2Bud + β3Pras + e



            Di mana:
            Dpres = prestasi siswa
            Kep     = kepemimpinan
            Bud     = budaya kerja
            Pras    = sarana prasarana
            e       = error
            Setelah dilakukan estimasi dan berbagai uji dengan komputer
     hasilnya dapat disajikan sebagai berikut.
                                            Tabel 1
                             Uji Koefisien Regresi Binary Logistik

            Variabel                    B           Wald               P
konstanta                            -84,443        17,012        0,000
Kepemimpinan (kep)                    0,632         4,886         0,027
Budaya kerja (BUD)                    0,987         7,163         0,007
Sarana prasarana (PRAS)               0,580         6,695         0,010
      Sumber: Hasilolah data tahun 2006


               Hasil pengujian      model regresi binary logistic dengan variabel
      dependen prestasi atas prestasi siswa (Y) diperoleh persamaan sebagai
      berikut.
               DPRES= -84,443 + 0,632KEP + 0,987BUD + 0,580PRAS + e
                          (4,886)               (7,163)      (6,695)



      Persamaan di atas dapat ditafsirkan bahwa ketiga variabel tersebut
      mempunyai pengaruh yang positif dan signifikan.


  2. Uji Ketepatan Model Regresi
               Untuk menilai ketepatan model regresi binary logistic dalam
      penelitian ini diukur dengan nilai chi square dengan uji Hosmer dan
      Lemeshow. Uji ketepatan model regresi binary logistic dengan uji Hosmer
      and Lemeshow diperoleh nilai chi square = 12,318 dengan level keyakinan
      sebesar 0,138. Angka tersebut lebih besar dari 0,05 atau 5 persen maka Ho
      diterima. Hal ini berarti model regresi binary logistic dengan variabel
      dependen prestasi siswa adalah sesuai dengan data sehingga layak dipakai
      untuk analisis selanjutnya.


  3. Uji Koefisien Regresi
            Uji koefisien regresi dalam penelitian ini untuk mengetahui
     signifikansi pengaruh masing-masing variabel independen terhadap
     variabel dependen. Pengujian ini dilakukan dengan melihat nilai
   signifikansi Wald yang dilaporkan pada print out SPSS. Berdasarkan hasil
   analisis dapat diuraikan sebagai berikut hasil pengujian masing-masing
   variabel.
       Uji signifikansi pengaruh variabel kepemimpinan, budaya kerja, dan
   sarana prasarana terhadap prestasi siswa. Dari hasil analisis regresi binary
   logistic diketahui bahwa semua variabel independen berpengaruh
   signifikan terhadap variabel prestasi siswa. Hal ini ditunjukkan dari nilai
   signifikansi Wald < 0,10 atau 10 persen.


4. Uji Ekspektasi B
          Setelah dilakukan pengujian model regresi binari terungkap bahwa
   prediktor yang tepat digunakan sebagai variabel untuk memprediksi
   prestasi siswa adalah variabel yang telah memberikan hasil yang signifikan
   yaitu variabel kepemimpinan, budaya kerja, dan sarana prasarana. Nilai
   Exp (B) yang dilaporkan pada output SPSS dapat digunakan sebagai
   petunjuk untuk mengetahui besarnya kontribusi yang diberikan masing-
   masing variabel terhadap prestasi siswa. Berdasarkan hasil pengujian
   model regresi binary logistic diperoleh hasil uji ekspektasi B atau nilai
   Exp (B) dari variabel yang signifikan seperti nampak pada tabel 2 di
   bawah ini.
                                       Tabel 2
                                   Uji Ekspektasi B

      Variabel Independen      Nilai Exp
                                  (B)
     Kepemimpinan (kep)           1,881
     Budaya kerja (bud)           2,683
     Sarana prasarana (pras)      1,786
     Sumber: diolah dari sumber primer.

   Keterangan:
    ** = Signifikan pada α = 0,05
          Melihat besarnya nilai ekstektasi B atau nilai Exp (B) di atas,
   menunjukkan bahwa variabel budaya kerja mempunyai pengaruh yang
     lebih besar nilai Exp (B) = 2,683 terhadap prestasi siswa dibandingkan
     variabel kepemimpinan dan sarana prasarana. Hal ini menunjukkan bahwa
     variabel budaya kerja memberikan kontribusi yang paling besar
     dibandingkan variabel lain.


D. PENUTUP
          Berdasarkan hasil analisis regresi binary logistic diperoleh bahwa
  variabel independen yang terdiri dari kepemimpinan, budaya kerja, dan sarana
  prasarana berpengaruh positif dan signifikan terhadap prestasi siswa. Hasil uji
  koefisien regresi diperoleh bahwa semua variabel independen yang terdiri dari
  kepemimpinan, budaya kerja, dan sarana prasarana berpengaruh signifikan
  terhadap prestasi siswa. Dari hasil uji ekspektasi B atau Exp (B) diketahui
  bahwa kontribusi yang diberikan variabel budaya kerja terhadap prestasi
  siswa adalah yang paling besar dibandingkan variabel kepemimpinan dan
  sarana prasarana. Hal ini ditunjukkan dengan besarnya nilai Exp (B) = 2,683
  yang paling besar dari nilai Exp (B) variabel yang lain.
        Mengingat budaya kerja memberikan kontribusi yang cukup besar
  terhadap prestasi siswa pada Sekolah Menengah Atas (SMA) di kota
  Surakarta, disarankan agar di dalam meningkatkan prestasi siswa dipandang
  perlu untuk meningkatkan disiplin melaksanakan jam belajar-mengajar,
  melaksanakan kewajiban sesuai jadwal, kehadiran tepat waktu, memberikan
  penghargaan bagi guru dan karyawan yang berprestasi, serta memberikan
  sangsi bagi yang melanggar peraturan.
         Kepemimpinan juga memberikan konstribusi yang cukup signifikan
  terhadap prestasi siswa. Oleh sebab itu, perlunya seorang kepala sekolah
  selalu mempertimbangkan pendapat dari bawahan, mampu menjalin
  kerjasama dengan institusi lain, menciptakan situasi yang kondusif, bersikap
  jujur dan terbuka, dan mempunyai kemampuan manajerial yang baik.
         Sarana dan prasarana merupakan suatu kebutuhan yang harus tersedia
  bagi setiap sekolah karena mampu meningkatkan prestasi belajar siswa.
  Sarana prasarana yang dibutuhkan sekolah meliputi: ruang kelas yang cukup
sesuai jumlah murid, fasilitas ruang untuk kepala sekolah, guru, tata usaha,
ruang tamu, kamar mandi/WC, aula, tempat ibadah, tersedianya peralatan
kesenian (band, gamelan), peralatan untuk olah raga, ruang perpustakaan,
ruang laboratorium untuk IPA maupun IPS, peralatan penunjang kegiatan
misalnya LCD, OHP, komputer, televisi, dan AC.
                             DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Zainal. 1990. Evaluasi Instruksional, Prinsip Tehnik Prosedur. Bandung:
        PT Remaja Rosdakarya.

Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek.
       Bandung: Rineka Cipta.

As’ad, Moh. 1996. Teori Ilmu Sumber Daya Manusia, Psikologi Industri (Edisi
       Keempat). Yogjakarta: Liberty.

Badawi, Ahmad.1995. Kelompok Belajar sebagai Teknik Penyuluhan dan Metode
      Pengajaran. Yogyakarta: FIB Universitas Gajah Mada.

Depdiknas. 2003. Pedoman Penyusunan Standar Pelayanan Minimal
      Penyelenggaraan Persekolahan Bidang Pendidikan Dasar dan Menengah.
      Jakarta: Dirten Pendasmen.

Depdiknas. 2003. Pola Induk Pengembangan Sistem Penilaian, Kurikulum
      berbasis kompetensi Sekolah Menengah Atas (SMA). Jakarta.

Ghofur, Abdul. 2004. Himpunan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional
      Republik Indonesia. Jakarta: Depdiknas.

Hadi, Sutrisno. 2000. Statistik. Yogyakarta: Penerbit Andi.

Hadisusanto, Dirto. 1998. Capita Selekta Pendidikan dan Masalah-Masalah
      Pokoknya. Yogyakarta IKIP Yogjakarta.

Kartono, Kartini. 1985. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta: Rajawali.

Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara RI Nomor: 15/KEP/M.PAN/
      04/2002, tentang Pedoman Pengembangan Budaya Kerja Aparatur
      Negara, Jakarta.

Luciana, S. Ashid. 2005. ”Pengaruh Upah, Motivasi, dan budaya Kerja terhadap
       Prestasi Kerja Pegawai di Perusahaan Plastik Bintang Fajar Surakarta”
       (Tesis). Surakarta: Program Pascasarjana UMS.

Mulyasa, Enco. 2004. Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: PT Remaja
      Rosdakarya.

Nawawi, Handari. 1985. Metodologi Penelitian Bidang Sosial. Yogjakarta: UGM.

Negoro, Adi. 1954. Ensiklopedia Umum dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: PT
      Bulan Bintang.
Osborn, D. Peter. P. 2000. Memangkas Birokrasi (Edisi Revisi). Jakarta: LPPM.

Prasetyastuti, Etty. 2003. ”Pengaruh Motivasi Kerja, Kepemimpinan, Promosi
       jabatan terhadap Prestasi Kerja Pegawai Dinas Pertanian Tanaman Pangan
       Propinsi Jawa Tengah” (Tesis). Surakarta: Program Pascasarjana UMS.

Purwadarminto. 1979. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Samani, Muchlas. 1999. Panduan Manajemen Sekolah. Jakarta: Depdiknas.

Santoso, Singgih. 2001. Buku Latihan SPSS Statistik Parametrik (Edisi Pertama).
       Jakarta: PT Elex Media Komputindo.

Setiaji, Bambang. 2004. Panduan Riset dengan Pendekatan Kuantitatif.
        Surakarta: Pascasarjana UMS.

Siagian, Sondang. P. 1995. Teori Motivasi dan Aplikasinya (Cetakan Kedua).
       Jakarta: PT Rineka Cipta.

Singgih, D. Gunarso. 1980. Psikologi untuk Membimbing. Jakarta: Gunung Mulia.

Sofo, F. 2003. Pengembangan Sumber Daya Manusia (Esdisi I). Surabaya:
       Airlangga.

Sudjana, Nana. 1995. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung:
       Remaja Rosdakarya.

Sugiyono. 2002. Metodologi Penelitian Bisnis. Bandung: Alfabeta.

Tirtonegoro, Sutratinah. 1989. Anak Supernormal dan Program Pendidikannya.
       Jakarta: Gramedia.

Undang-Undang     Republik Indonesia No 20 tahun 2003 tentang Sistem
      Pendidikan Nasional. Jakarta: BP Panca Usaha.

Wahjosumidjo. 1994. Kepemimpinan Kepala Sekolah Tinjauan Teoritik dan
      Permasalahannya. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Wahyuddin, M. 2004. Industri dan Orientasi Ekspor: Dinamika dan Analisis
     Spasial. Surakarta: Muhammadiyah University Press.

West, M.A. 2000. Mengembangkan Kreativitas dalam Organisasi (Edisi 1).
      Yogjakarta: Kanisius.

Widijastoeti, Erna. 2005. “Pengaruh Motivasi dan Disiplin terhadap Prestasi Kerja
       Pegawai Kantor Kecamatan Kartasura” (Tesis). Surakarta: Program
       Pascasarjana.
Winkel, W.S. 1978. Bimbingan dan Penyuluhan di Sekolah Menengah. Jakarta:
      Gramedia.

								
To top