Menelusuri & Memaknai Hukum Progresif

Document Sample
Menelusuri & Memaknai Hukum Progresif
Shared by: Ekuasita Widya
Stats
views:
5006
posted:
2/6/2010
language:
Indonesian
pages:
12
MENELUSURI DAN MEMAKNAI



HUKUM PROGRESIF*)



Oleh:



Al. Wisnubroto **)



A. Mengapa Hukum Progresif?



Belakangan ini muncul kesan bahwa proses hukum seringkali tidak

mampu menyelesaikan persoalan secara tuntas apalagi memberikan

keadilan substantif bagi para pihak. Proses hukum lebih nampak sebagai

“mesin peradilan” yang semata-mata hanya berfungsi mengejar target

penyelesaian perkara yang efektif dari sisi kuantitas sesuai dengan tahap-

tahap dan “aturan main” yang secara formal ditetapkan dalam peraturan.

Hukum dan proses peradilan seringkali merasa terkendala ketika

harus dihadapkan pada kasus-kasus yang semakin rumit dan kompleks

seiring dengan perkembangan masyarakat yang sangat dipacu oleh sistem

global.

Sistem hukum modern yang telah terlanjur diformat dalam sekat-sekat

pembagian bidang hukum secara “tradisionil hitam putih” (Perdata,

Administrasi, Pidana dst.) menjadi gagap ketika dituntut harus

menyelesaikan perkara-perkara yang berada pada “ranah abu-abu” (tidak

nampak jelas batas antara persoalan etika, privat atau publik).

Secara paradigmatik dapat dijelaskan bahwa modernisme terkait

dengan berkembangnya tradisi pemikiran yang mengedepankan rasionalitas

daripada hal-hal yang bersifat metafisika sebagai mana yang berkembang

dalam era sebelumnya. Tradisi pemikiran ilmu pengetahuan didominasi

paradigma Cartesian/Baconian/Newtonian telah merubah dunia menuju



*)

Bahan FOCUS GROUP DISCUSSION LBH Yogyakarta dan SPHP (Serikat Pekerja Hukum

Progresif), Yogyakarta, 8 April 2006.

**)

Al. Wisnubroto, S.H.,M.Hum., Dosen Tetap FH UAJY & Mahasiswa PDIH-UNDIP.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 1

pada era masyarakat modern dengan modernismenya. Secara singkat

tradisi tersebut adalah cara berpikir yang menonjolkan aspek rasional, logis,

memecah/memilah (atomizing), matematis, masinal, deterministik dan linier 1 .

Perkembangan IPTEK yang sangat pesat pasca era “pencerahan” di

dunia sains dan seni secara nyata juga berpengaruh terhadap

perkembangan (perubahan) di bidang sosial, politik, ekonomi dan juga

hukum. Di bidang sosial misalnya terjadi perubahan dari tipe masyarakat

agraris menuju pada masyarakat industri yang bersifat liberal. Di bidang

politik nampak pada terbentuknya negara modern dengan platform

konstitusional dan demokrasinya. Di bidang ekonomi muncul sistem

perekonomian terbuka yang membuka pasar bebas dan cenderung bersifat

kapitalistik.

Tak pelak lagi perubahan yang terjadi pada masyarakat modern

tersebut juga diikuti dengan perubahan pada tatanan hukumnya, yakni

muncul dan berkembangannya tatanan hukum modern atau lebih dikenal

dengan sebutan hukum sistem hukum positif.

Pada awalnya sistem hukum positif dipandang bisa memberikan

harapan untuk mengatur berbagai persoalan pada masyarakat modern

sehingga (diprediksikan) bisa mencapai ketertiban dalam hidup

bermasyarakat. Namun demikian, pada kenyataannya dan dalam

perkembangannya, sifat hukum positif yang netral dan liberal, justru

menjadikan hukum modern semakin “terasing” dari realitas-realitas yang

terus berkembang semakin pesat 2 .

Surutnya kejayaan cara berpikir Cartesian/Baconian/Newtonian

setelah munculnya teori-teori baru pada dunia sains seperti teori relativitas

dan teori keos telah merubah cara pandang terhadap kebenaran. Pada



1

Satjipto Rahardjo (Khudzaifah Dimyati, ed.), 2004. Ilmu Hukum: Pencarian,

Pembebasan dan Pencerahan, Surakarta: Muhammadiyah University Press. Halaman

35.

2

Positivisme secara universal bisa mengakibatkan keterpurukan hukum, karena terlalu

mengandalkan teori dan pemahaman legalistik-positivistik yang hanya berbasis pada

peraturan tertulis (rule bound) belaka maka kita takkan pernah menangkap hakikat

kebenaran. Lihat: Achmad Ali, 2002. Keterpurukan Hukum di Indonesia: Penyebab

dan Solusinya, Jakarta: Ghalia Indonesia. Halaman 19.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 2

kenyataannya metode berpikir secara mekanistis, terukur, linier dst. pada

positivisme menyebabkan terjadinya pereduksian makna dan manipulasi

fakta yang menyebabkan kegagalan dalam memahami realita secara benar

dan utuh. Hal demikian nampaknya terjadi pula pada model hukum modern

yang masih bertahan dengan dominasi positivismenya yang semakin sulit

menjadi sarana untuk mengatasi persoalan-persoalan yang berkembang

pada masyarakat pascaindustri.

Fenomena yang nampak jelas menunjukkan perubahan paradigma

pada masyarakat pascaindustri atau yang disebut juga sebagai masyarakat

informasi adalah perkembangan IPTEK telah mencapai tahap yang sangat

mutakhir. Salah satu produk IPTEK yang kini menjadi simbol kemajuan

adalah IT (Information Technology). Teknologi inilah yang secara

revolusioner merombak paradigma-paradigma yang ada sebelumnya. Sebut

saja misalnya perubahan paradigma itu terjadi pada sistem teknologi, yakni

dari sistem manual menjadi sistem digital/elektronik, yang mengakibatkan

perubahan terhadap realitas yang ada yakni dari hard reality menjadi virtual

reality atau hypperreality 3 .

Perubahan-perubahan paradigma secara revolusioner tersebut yang

dalam bahasanya Thomas Khun disebut dengan istilah “lompatan

paradigmatik” 4 atau dalam bahasanya Fritjof Capra disebut dengan istilah

“ingsutan paradigma”, secara nyata telah menciptakan wajah baru pada pola

perilaku termasuk tatanan nilai-nilai di berbagai belahan dunia, sehingga lalu

muncul “era” atau “aliran” posmodernisme yang mencoba merespon,





3

Teknologi telematika telah melahirkan sebuah dimensi ketiga dalam fenomena kehidupan

masyarakat. Dimensi pertama (hard reality) adalah kenyataan dalam kehidupan empiris

yang secara fisik bisa dilihat/didengar/dirasakan; dimensi kedua (soft reality) adalah

kenyataan dalam kehidupan simbolik dan nilai-nilai yang dibentuk; dimensi ketiga (virtual

reality) adalah kenyataan dalam kehidupan dunia mayantara (cyber space). Lihat: Ashadi

Siregar, 2001. Negara, Masyarakat dan Teknologi Informasi, Makalah dalam “Seminar

Tenologi Informasi, Pemberdayaan Masyarakat dan Demokrasi” Dies Natalis FISIPOL

UGM ke-46, Yogyakarta 19 September 2001.

4

Menurut Khun, revolusi sains muncul jika paradigma yang lama mengalami krisis dan

akhirnya orang mencampakkannya serta merangkul paradigma yang baru. Baca: Thomas

Khun, 1989. Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains (The Structure of Scientific

Revolutions, diterjemahkan oleh: Tjun Surjaman), Bandung: Remadja Karya CV. Halaman

57-83.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 3

mengoreksi, mengkritisi bahkan mengecam berbagai kesalahan dalam

modernisme.

Sebenarnya secara filosofis ada aliran pemikiran yang dekat dengan

semangat posmodernisme, seperti: Legal Realism dan Critical Legal Studies.

Legal realism antara lain mengajarkan bahwa peraturan perundang-

undangan bisa dikesampingkan jika ternyata keberadaannya menghalangi

pencapaian keadilan. Critical Legal Studies bahkan sejak awal bersikap

bahwa peraturan perundang-undangan harus dihindari karena proses

penyusunannya sarat dengan muatan kepentingan yang timpang.

Penerapan legal realism dan critical legal studies dalam praktek

penegakan hukum di Indinesia pada saat ini jelas tidak realistis karena

keberadaan paradigma hukum positif masih mendominasi dunia hukum di

Indonesia. Disamping itu pada kenyataannya bagaimanapun kritikan atau

kecaman posmodernisme terhadap modenisme toh terbukti belum mampu

menghadang derasnya arus liberalisme, kapitalisme dan positivisme.

Berkaitan dengan realitas-realitas tersebut maka konsep (penafsiran)

hukum progresif dianggap jalan tengah yang terbaik. “Ajaran” hukum

progresif tidak “mengharamkan” hukum positif namun tidak juga

mendewakan ajaran hukum bebas. Progresivisme tetap berpijak pada aturan

hukum positif, namun disertai dengan pemaknaan yang luas dan tajam.

Keluasan dan ketajaman pemaknaan hukum progresif bahkan lebih dari apa

yang dikembangkan dalam sociological jurisprudence, namun mencakup

pula aspek psikologis dan filosofis.





B. Keterbatasan Pendekatan Hukum Modern

Istilah “Hukum Modern” yang dipergunakan dalam tulisan ini sekedar

untuk menyebut model hukum pada masyarakat modern yang bersifat

liberal, individualistik dan rasional. Model ini juga sekedar untuk

membedakan dengan model hukum pada masyarakat tradisional yang lebih

bersifat komunal dan magis. Dalam perkembangannya keberadaan hukum

modern tidak terbatas pada lingkup benua asalnya saja (eropa) namun telah



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 4

merambah pula (dan semakin mendominasi) negara-negara berkembang,

termasuk Indonesia.

Masalah eksistensi hukum modern tidak terlepas dari latar belakang

sejarahnya yang seiring dengan perkembangan sosial dan kultural di Eropa.

Hukum Modern muncul di Eropa setelah melalui proses perjalanan yang

sangat panjang dan “berdarah-darah” (istilah dari Prof. Satjipto Rahardjo).

Hukum modern muncul di Eropa pada awal abad XIX yang saat itu

didominasi oleh alam pemikiran positivistik sehingga menghasilkan doktrin

Rule of Law yang bercirikan: 5

1. Formal rules: tertulis dalam bentuk peraturan peraundang-undangan;

2. Procedures: dilaksanakan melalui “aturan main” yang ketat;

3. Methodologist: mendewakan logika dalam penerapannya;

4. Bureaucreacy: hanya lembaga-lembaga formal yang diakui memiliki

otoritas untuk membuat, melaksanakan dan mengawasi hukum (legislatif,

eksekutif dan Yudikatif).

Munculnya ciri-ciri tersebut karena konteks sejarahnya menculnya

hukum modern dalam Constitutional State sebagai reaksi terhadap

“kekacauan” yang diakibatkan oleh sistem hukum era sebelumnya yakni

Absolutisme. Sehingga pada awalnya memang model hukum modern ini

cukup efektif dalam upaya penertiban masyarakat.

Namun dalam perkembangannya, terutama di luar negara-negara

Eropa Kontinental, model hukum positif sebagai ciri hukum modern semakin

tidak “ampuh” dalam mengatasi perkembangan kasus-kasus yang dipicu

oleh perubahan sosial akibat pesatnya kemajuan teknologi. Oleh sebab itu

negara-negara maju seperti Amerika Serikat mencoba untuk

memformulasikan sistem hukumnya dengan apa yang disebut “Anglo-

American Common Law”.

Sebab utama kegagalan model hukum modern dalam mengantisipasi

perubahan sosial akibat pesatnya teknologi di bidang transportasi,





5

Periksa: Al. Wisnubroto, 1996. Iptek, Perubahan Masyarakat dan Hukum: Dalam Kajian

Aspek-Aspek Pengubah Hukum, (Paper, tidak diterbitkan). Halaman 20.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 5

komunikasi dan informasi adalah sifatnya yang cenderung otonom, sehingga

tidak fleksibel dan dengan sendirinya sulit untuk menjadi responsif terhadap

perkembangan rasa keadilan.

Kenyataan yang sangat tidak menguntungkan adalah keberadaan

hukum modern di Indonesia. Apabila dilihat dari latar belakang sejarahnya,

hukum modern yang “dipaksakan” berlaku dalam politik pembangunan

hukum Indonesia sejak jaman kolonial, hingga Indonesia merdeka 6 , adalah

ibarat “benda asing” yang tidak tumbuh secara alami seiring dengan

perkembangan masyarakat dan budaya Indonesia (Not developed from

within but imposed from out side).

Keadaan demikian lebih dalam perkembangannya lebih diperparah

lagi dengan kelemahan pada proses pembuatan hukum dan proses

penegakan hukum di Indonesia. Secara umum proses pembuatan hukum ke

dalam bentuk tertulis (sebagai salah satu tuntutan hukum modern untuk

menjadi positif dan publik 7 ) hampir selalu membawa dampak pereduksian

makna. Prof. Satjipto Rahardjo telah menggambarkan dengan bernas proses

pereduksian makna tersebut yakni bagaimana makna “pencuri” yang

menurut Jakob Sumardjo dapat diartikan ke dalam 15 jenis “maling” dalam

bahasa Jawa menjadi satu arti “pencurian” dalam Pasal 362 KUHP 8 . Ini

menunjukkan bahwa hukum positif sudah “cacat” sejak dilahirkan.

Secara spesifik proses pembuatan hukum positif di Indonesia

belakangan ini menunjukkan keadaan yang cenderung tidak semakin baik.

Hal tersebut dapat diamati dari beberapa indikator sebagai berikut:









6

Hukum modern ditransplantasikan oleh pemerintah Kolonial Belanda di Hindia Belanda

melalui kebijakan yang disebut dengan “bewuste rechtspolitiek” yakni kebijakan membina

tata hukum kolonial secara sadar, pada tahun 1830-an hingga tahun 1890-an. Periksa:

Soetandyo Wignjosoebroto, 1994. Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional: Dinamika

Sosial Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Jakarta: PT. Grafindo Persada.

Halaman 19 dan Halaman 56.

7

Roberto Mangabeira Unger, 1976. Law in Modern Society: Toward a Critism of Social

Theory, New York: The Free Press. Halaman 238.

8

Satjipto Rahardjo, 2005. Penafsiran Hukum Yang Progresif, (Bacaan untuk Mahasiswa

Program Doktor Ilmu Hukum Undip), Semarang: t.p. Halaman 4.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 6

1. Pandangan pada umumnya mengemuka adalah rendahnya kapasitas

dan kualitas SDM yang ada pada lembaga pembuat hukum positif di

Indonesia khususnya anggota DPR;

2. Proses penyusunan sebuah produk perundang-undangan yang pada

umumnya memakan waktu yang sangat panjang dan biaya yang sangat

mahal;

3. Kepentingan politik dan ekonomi yang masih sangat menonjol pada

setiap proses penyusunan produk perundang-undangan;

4. Masih kurangnya partisipasi publik pada proses penyusunan produk

perundang-undangan mulai dari draf RUU hingga pada pembahasan di

lembaga legislatif.

Keadaan tersebut akan berimplikasi pada produk hukum positif

(perundang-undangan) di Indonesia yang berkualitas rendah, timpang, tidak

memiliki kemampuan mewujudkan keadilan substansial dan tidak memiliki

kemampuan untuk merespon perkembangan masyarakat (termasuk

kemajuan IPTEK).

Sementara itu kuatnya pengaruh paham positivis secara umum

menyebabkan proses penegakan hukum yang cenderung legalistik,

formalistik dan mekanistik 9 . kondisi penegakan hukum di Indonesia dari

waktu ke waktu nampak tidak semakin baik. Hal tersebut dapat dilihat dari

beberapa indikator sebagai berikut:

1. Kebijakan yang bersifat partikularistik sehingga menyebabkan kesulitan

dalam mewujudkan sistem peradilan terpadu;

2. Kuatnya pengaruh kekuatan politik dan ekonomi yang membuat

lembaga-lembaga peradilan tidak independen;

3. Sistem rekrutmen dan pembinaan SDM (khususnya aparatur penegak

hukum) yang masih “setengah-setengah”;







9

Kenyataan yang paling mudah diamati khususnya pada perilaku hakim Indonesia yang

dalam berbagai kasus nampak hanya sebagai “corong undang-undang”. Periksa: Al.

Wisnubroto, 1997. Hakim dan Peradilan di Indonesia: Dalam Beberapa Aspek Kajian,

Yogyakarta: Penerbit UAJY. Halaman 86-88.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 7

4. Keterbatasan fasilitas pendukung proses penegakan hukum, termasuk

sistem kontraprestasi bagi aparatur penegak hukum;

5. Kurang berfungsinya mekanisme kontrol dalam penyelenggaraan

peradilan 10 .

Keadaan demikian telah menyebabkan berbagai “ketidakberdayaan” dalam

proses penegakan hukum. Ketidakberdayaan tersebut dapat berupa:

ketidakberanian untuk mengambil sikap atau pilihan tindakan yang secara

formal bertentangan atau tidak ada aturannya dalam Undang-Undang;

ketidakmampuan untuk secara kreatif menafsirkan Undang-Undang dalam

penyelesaian perkara baru yang belum ada aturannya; dan

ketidakmampuan/ketidakmauan untuk membuat terobosan atau inovasi

dalam pemaknaan sebuah aturan dalam undang-undang untuk mewujudkan

keadilan sesuai dengan rasa keadilan masyarakat.

Pendek kata implementasi hukum modern secara otonom dengan

pendekatan sempit akan menyebabkan hukum tercerabut dari

masyarakatnya sehingga hanya akan menghasilkan keadilan formal (bukan

keadilan substansial).





C. Deskripsi Mengenai Ide Hukum Progresif

Sosok “Hukum Progresif” sangat lekat dengan pencetusnya yakni

Profesor Satjipto Rahardjo. Hal demikian tidak berlebihan karena pada

kenyataannya Prof. Tjip ini tidak sekedar sebagai penggagas awal tetapi

sekaligus juga “pejuang” dan “pengembang” hukum progresif 11 . Oleh sebab





10

Blumberg antara lain mengatakan: “The Court, unlike most other formal organization, functions as a

genuinely ‘close community’ in that it succesfully conceals the true nature of its routune operation

from outsider…”. Lihat: Abraham S. Blumberg, 1970. Criminal Justice System, Chicago:

Quangdrale Books. Halaman 70. Kelemahan mekanisme kontrol dipandang dapat menambah

ketertutupan sistem peradilan.

11

Sekalipun tidak sama persis, sebelumnya Van Gerven/Leitjen dalam bukunya yang berjudul:

“Theorie en Praktijk van de Rechtsvinding” telah memperkenalkan Aliran Progresif dalam penemuan

hukum yang berpendapat bahwa hukum dan perubahan merupakan alat untuk perubahan-

perubahan sosial. Lihat: Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, 1993. Bab-bab tentang

Penemuan Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti bekerjasama dengan Konsorsium Ilmu

Hukum Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan The Asia Foundation. Halaman

5.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 8

itu apa yang tertulis pada bagian ini tidak lebih dari kilas balik dari gagasan-

gagasan beliau 12 .

Gagasan hukum progresif muncul sebagai reaksi keprihatinan

terhadap keadaan hukum di Indonesia yang sedemikian rupa sehingga

muncul pendapat dari pengamat internasional hingga masyarakat awam

bahwa sistem hukum Indonesia adalah yang terburuk di seluruh dunia. Fakta

yang tidak dapat dipungkiri adalah semakin tak berdayanya hukum

Indonesia dalam upaya mewujudkan keadilan dan kesejahteraan

masyarakat Indonesia.

Prinsip utama yang dijadikan landasan hukum progresif adalah:

“Hukum adalah untuk manusia”, bukan sebaliknya. Jadi manusialah yang

merupakan penentu dan dipahami dalam hal ini manusia pada dasarnya

adalah baik. Prinsip tersebut ingin mengeser landasar teori dari faktor hukum

ke faktor manusia. Konsekuensinya hukum bukan lah merupakan sesuatu

yang mutlak dan final tetapi selalu “dalam proses menjadi” (law as process,

law in the making) yakni menuju kualitas kesempurnaan dalam arti menjadi

hukum yang berkeadilan, hukum yang mampu mewujudkan kesejahteran

atau hukum yang peduli terhadap rakyat.

Dari sudut teori, maka hukum progresif meninggalkan tradisi analitical

jurisprudence atau rechtsdogmatiek dan mengarah pada tradisi sociological

jurisprudence. Jadi sebenarnya konsep hukum progresif sangat dekat

dengan beberapa teori hukum yang telah mendahuluinya, antara lain:

1. Konsep hukum responsif (responsive law) yang selalu dikaitkan dengan

tujuan-tujuan di luar narasi tekstual hukum itu sendiri

2. Legal Realism;

3. Freirerechtslehre;



12

Sumber utama tulisan ini adalah: Satjipto Rahardjo, “Indonesia Inginkan Penegakan

Hukum Progresif”, dalam: Kompas, 15 Juni 2002. Halaman 4; Satjipto Rahardjo, Hukum

Progresif: Penjelajahan Suatu Gagasan, Makalah, disampaikan pada Jumpa Alumni

Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP, Semarang 4 September 2004 dan Satjipto Rahardjo,

Hukum Progresif Sebagai Dasar Pembangunan Ilmu Hukum Indonesia, Makalah,

disampaikan dalam Seminar Nasional “Menggagas Ilmu Hukum (Progresif) Indonesia”,

Kerjasama IAIN Walisongo dengan Ikatan Alumni PDIH UNDIP, Semarang 8 Desember

2004.



Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 9

4. Critical Legal Studies.

Pendek kata, hukum progresif bersifat membebaskan diri dari

dominasi tipe hukum liberal yang tidak selalu cocok diterapkan pada negara-

negara yang telah memiliki sistem masyarakat berbeda dengan sistem

masyarakat asal hukum modern (dalam hal ini adalah Eropa).

Konsep “progresivisme” bertolak dari pandangan kemanusiaan

sehingga berupaya merubah hukum yang tak bernurani menjadi institusi

yang bermoral. Paradigma “hukum untuk manusia” membuatnya merasa

bebas untuk mencari dan menemukan format, pikiran, asas serta aksi-aksi

yang tepat untuk mewujudkan tujuan hukum yakni keadilan, kesejahteran

dan kepedulian terhadap rakyat. Satu hal yang patut dijaga adalah jangan

sampai pendekatan yang bebas dan longgar tersebut disalahgunakan atau

diselewengkan pada tujuan-tujuan negatif.

Akhirnya, masalah interpretasi atau penafsiran menjadi sangat urgen

dalam pemberdayaan hukum progresif dalam rangka untuk mengatasi

kemandegan dan keterpurukan hukum. Interpretasi dalam hukum progresif

tidak terbatas pada konvensi-konvensi yang selama ini diunggulkan seperti

penafsiran gramatikal, sejarah, sistematik dan sebagainya, namun lebih dari

itu berupa penafsiran yang bersifat kreatif dan inovatif sehingga dapat

membuat sebuah terobosan dan “lompatan” pemaknaan hukum menjadi

sebuah konsep yang tepat dalam menjangkau hukum yang bermoral

kemanusiaan.

Dengan demikian sebenarnya penegakan hukum progresif tidak

hanya terbatas dari sisi penerapan hukum namun seyogyanya ditopang oleh

sisi formulasi hukumnya. Jadi “PR” kita untuk membumikan gagasan hukum

progresif masih sangat panjang.





Jakal, dini hari, 8 April 2006









Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 10

DAFTAR REFERENSI



Ali, Achmad, 2002. Keterpurukan Hukum di Indonesia: Penyebab dan

Solusinya, Jakarta: Ghalia Indonesia.



Blumberg, Abraham S., 1970. Criminal Justice System, Chicago: Quangdrale

Books.



Khun, Thomas, 1989. Peran Paradigma Dalam Revolusi Sains (The Structure of

Scientific Revolutions, diterjemahkan oleh: Tjun Surjaman), Bandung:

Remadja Karya CV.



Rahardjo, Satjipto, “Indonesia Inginkan Penegakan Hukum Progresif”, dalam:

Kompas, 15 Juni 2002.



----------, (Khudzaifah Dimyati, ed.), 2004. Ilmu Hukum: Pencarian, Pembebasan

dan Pencerahan, Surakarta: Muhammadiyah University Press.



----------, Hukum Progresif: Penjelajahan Suatu Gagasan, Makalah, disampaikan

pada Jumpa Alumni Program Doktor Ilmu Hukum UNDIP, Semarang 4

September 2004



----------, Hukum Progresif Sebagai Dasar Pembangunan Ilmu Hukum

Indonesia, Makalah, disampaikan dalam Seminar Nasional “Menggagas

Ilmu Hukum (Progresif) Indonesia”, Kerjasama IAIN Walisongo dengan

Ikatan Alumni PDIH UNDIP, Semarang 8 Desember 2004.



----------, 2005. Penafsiran Hukum Yang Progresif, (Bacaan untuk Mahasiswa

Program Doktor Ilmu Hukum Undip), Semarang: t.p.



Siregar, Ashadi, 2001. Negara, Masyarakat dan Teknologi Informasi, Makalah

dalam “Seminar Tenologi Informasi, Pemberdayaan Masyarakat dan

Demokrasi” Dies Natalis FISIPOL UGM ke-46, Yogyakarta 19 September

2001.



Sudikno Mertokusumo dan A. Pitlo, 1993. Bab-bab tentang Penemuan Hukum,

Bandung: Citra Aditya Bakti bekerjasama dengan Konsorsium Ilmu Hukum

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI dan The Asia Foundation.



Unger, Roberto Mangabeira, 1976. Law in Modern Society: Toward a Critism of

Social Theory, New York: The Free Press.



Wignjosoebroto, Soetandyo, 1994. Dari Hukum Kolonial Ke Hukum Nasional:

Dinamika Sosial Politik Dalam Perkembangan Hukum di Indonesia, Jakarta:

PT. Grafindo Persada.



Wisnubroto, Al. 1996. Iptek, Perubahan Masyarakat dan Hukum: Dalam Kajian

Aspek-Aspek Pengubah Hukum, (Paper, tidak diterbitkan).









Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 11

----------, 1997. Hakim dan Peradilan di Indonesia: Dalam Beberapa Aspek

Kajian, Yogyakarta: Penerbit UAJY.









Wisnubroto, Al.: Menelusuri dan Memaknai Hukum Progresif 12


Share This Document


Related docs
Other docs by Ekuasita Widya
Draf point damai Omni-Prita
Views: 1868  |  Downloads: 33
Kontributor Panggung Festival Malioboro 2009
Views: 216  |  Downloads: 3
Pedoman penanganan tindak pidana korupsi - KPK
Views: 3774  |  Downloads: 295
Form Permohonan Kunjungan ke Istana
Views: 1345  |  Downloads: 50
PP 10 Th 1993 tentang Benda Cagar Budaya
Views: 2055  |  Downloads: 133
Gerakan Membumikan Gagasan Hukum Progresif
Views: 600  |  Downloads: 54
Kasus Korupsi - KPK 2008, tahap banding
Views: 857  |  Downloads: 37
by registering with docstoc.com you agree to our
privacy policy

You are almost ready to download!

You are almost ready to download!