Docstoc

laporan kkn UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN MENULIS PENDIDIKAN ANAK USIA DINI _PAUD_ DENGAN METODA BELAJAR VISUALISASI DAN KARTU SISWA DI DESA BOJONGKERTA KECAMATAN WARUNGKIARA KABUPATEN SUKABUMI

Document Sample
laporan kkn UPAYA PENINGKATAN PEMAHAMAN MENULIS PENDIDIKAN ANAK USIA DINI _PAUD_ DENGAN METODA BELAJAR VISUALISASI DAN KARTU SISWA DI DESA BOJONGKERTA KECAMATAN WARUNGKIARA KABUPATEN SUKABUMI Powered By Docstoc
					                                    BAB I


                             PENDAHULUAN




1.1 LATAR BELAKANG MASALAH


       Hakikat Pembangunan Nasional adalah pembangunan manusia Indonesia

seutuhnya. Pembangunan nasional ini bukan hanya pembangunan secara fisik

melainkan juga harus diikuti oleh pembangunan yang bersifat non fisik. Sehingga

pembangunan ini meliputi pembangunan dalam aspek ideologi, politik, sosial,

budaya, pertahanan dan keamanan. Aspek-aspek tersebut harus dibangun secara

seimbang dan sinergi untuk menciptakan keharmonisan kehidupan. Pembangunan

bidang ideologi dan politik saja tidak akan berhasil apabila bidang sosial, budaya

dan hankam tidak dibangun, demikian juga sebaliknya. Pada intinya dari berbagai

bidang kehidupan tadi hendak diarahkan kepada terjadinya keselarasan dan

kesinergisan untuk mencapai tujuan pembangunan nasional.


       Pada Undang-Undang Khusus yang mengatur tentang anak yaitu dalam

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan

Anak pada pasal 53 ayat (1): Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan

biaya pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak



                                        1
dari keluarga tidak mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di

daerah terpencil.


       Implikasi undang-undang itu adalah anak dari keluarga tidak mampu akan

mendapatkan     biaya     pendidikan    secara   cuma-cuma     dari     pemerintah.

Permasalahannya, bagaimana pemerintah menyosialisasikan dan membuat

masyarakat mudah mengaksesnya.


       Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang digalakkan di berbagai tempat

di wilayah Indonesia. Pendidikan anak memang harus dimulai sejak dini, agar

anak bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Anak-anak yang mengikuti

PAUD menjadi lebih mandiri, disiplin, dan mudah diarahkan untuk menyerap

ilmu pengetahuan secara optimal.


       Dalam        pembangunan    pendidikan,   berbagai   upaya     pemberdayaan

masyarakat dan peningkatan kualitas sumber daya manusia telah menunjukan

kemajuan-kemajuan yang cukup berarti, tercermin dari membaiknya berbagai

indikator kinerja seperti pengendalian tenaga kerja produktif, meskipun masih

banyak lagi kondisi yang harus diperbaiki dan ditingkatkan. Disamping perlu

terus diupayakan peningkatan mutu kualitas atau derajat pendidikan secara

berkelanjutan untuk itu perlu menjadi perhatian dari seluruh komponen bangsa

agar melaksanakannya secara sungguh-sungguh. Guna kepentingan peningkatan

kualitas dan kapasitas anak-anak dan generasi muda. Tugas mulia ini merupakan
                                         2
kewajiban semua warga negara untuk menjalakannya, termasuk Pemberdayaan

Kesejahteraan Keluarga (PKK).


      Berdasarkan hal terurai di atas dan dalam rangka Kuliah Kerja Nyata

sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat, Sekolah Tinggi Keguruan dan

Ilmu Pendidikan Persatuan Guru Republik Indonesia (STKIP-PGRI) Sukabumi,

penulis tertarik untuk menulis laporan dengan tema: “UPAYA PENINGKATAN

PEMAHAMAN MENULIS PENDIDIKAN ANAK USIA DINI (PAUD)

DENGAN METODA BELAJAR VISUALISASI DAN KARTU SISWA DI

DESA BOJONGKERTA KECAMATAN WARUNGKIARA KABUPATEN

SUKABUMI “.


1.2 IDENTIFIKASI MASALAH


   Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan di atas, berikut ini

penulis dapat mengidentifikasi masalah yang ada di Desa Bojongkerta Kecamatan

Warungkiara Kabupaten Sukabumi sebagai berikut:


   A. Bagaimana upaya peningkatan pemahaman membaca pendidikan anak

      usia dini (PAUD) di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

      Kabupaten Sukabumi ?




                                      3
   B. Bagaimana kondisi pemahaman membaca pendidikan anak usia dini

      (PAUD) di masyarakat Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

      Kabupaten Sukabumi ?


   C. Bagaimana    kualitas,   pemerataan   dan   keterjangkauan   pelayanan

      pemahaman membaca pendidikan anak usia dini (PAUD) di Desa

      Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi ?


   D. Bagaimana peranan PKBM terhadap pemahaman membaca pendidikan

      anak usia dini (PAUD) di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

      Kabupaten Sukabumi ?




                                 BAB II


                       TINJAUAN TEORITIS


2.1 Menyongsong Kualitas Anak Masa Depan dan Pentingnya

   Mendidik Anak Sejak Usia Dini



Pada Undang-Undang Khusus yang mengatur tentang anak yaitu dalam Undang-

Undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak

pada pasal 53 ayat (1): Pemerintah bertanggung jawab untuk memberikan biaya


                                     4
pendidikan dan/atau bantuan cuma-cuma atau pelayanan khusus bagi anak dari

keluarga tidak mampu, anak telantar, dan anak yang bertempat tinggal di daerah

terpencil.

Implikasi undang-undang itu adalah anak dari keluarga tidak mampu akan

mendapatkan     biaya   pendidikan    secara   cuma-cuma      dari   pemerintah.

Permasalahannya, bagaimana pemerintah menyosialisasikan dan membuat

masyarakat mudah mengaksesnya.




Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sedang digalakkan di berbagai tempat di

wilayah Indonesia. Pendidikan anak memang harus dimulai sejak dini, agar anak

bisa mengembangkan potensinya secara optimal. Anak-anak yang mengikuti

PAUD menjadi lebih mandiri, disiplin, dan mudah diarahkan untuk menyerap

ilmu                 pengetahuan                  secara                optimal.

Itulah yang saya alami sebagai tutor Madrasah Ibtidaiyah atau sekolah yang setara

dengan sekolah dasar di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten

Sukabumi karena kebetulan saya mengampu kelas satu. Siswa yang sebelumnya

memperoleh PAUD akan sangat berbeda dengan siswa yang sama sekali tidak

tersentuh PAUD baik informal maupun nonformal. Ibarat jalan masuk menuju

pendidikan dasar, PAUD memuluskan jalan itu sehingga anak menjadi lebih



                                       5
mandiri, lebih disiplin, dan lebih mudah mengembangkan kecerdasan majemuk

anak.




Fenomena yang terjadi di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten

Sukabumi mulai tahun ajaran baru 2007-2008 pemerintah memperbolehkan anak

masuk SD tanpa melalui TK. Anjuran tersebut harus dipertimbangkan lagi jika

pemerintah ingin menyukseskan wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun. Dari hasil

observasi di beberapa MI dan SD, tingkat drop out siswa SD yang tidak melalui

TK lebih tinggi daripada siswa yang melalui TK. Pemerintah harus memikirkan

akibat yang ditimbulkan. Kesenjangan pasti terjadi.




Pemerintah harus lebih tanggap pada fenomena tersebut, karena dengan

memperbolehkan anak masuk SD tanpa melalui TK berarti telah mengabaikan

suatu pendidikan di usia dini yang paling dasar bagi anak. Konsep bermain sambil

belajar serta belajar sambil bermain pada PAUD merupakan pondasi yang

mengarahkan anak pada pengembangan kemampuan yang lebih beragam.

Kebijakan pemerintah kabupaten akan ikut menentukan nasib anak serta kualitas

anak                     di                      masa                    depan.



Masa depan yang berkualitas tidak datang dengan tiba-tiba, oleh karena itu lewat

                                        6
PAUD kita pasang pondasi yang kuat agar di kemudian hari anak bisa berdiri

kokoh      dan      menjadi       sosok     manusia      yang       berkualitas.



Di samping pemerintah, masyarakat adalah komunitas yang sangat berperan untuk

mengembangkan PAUD. Jika kendalanya masalah biaya, masyarakat dalam hal

ini lembaga penyelenggara PAUD bisa menyiasatinya dengan mereduksi biaya

melalui kreativitas membuat alat peraga sendiri, menghilangkan kewajiban

seragam, serta memenuhi gizi anak-anak PAUD melalui program pemerintah.



Alternatif lain PAUD bisa diselenggarakan oleh kelompok perempuan di

masyarakat, dengan     membekali diri melalui pelatihan PAUD (banyak

organisasi/LSM yang bersedia mmeberikan pelatihan cuma-cuma). Mereka bisa

bergantian menjadi pendamping anak-anak pada PAUD. Tentu saja untuk

menerapkan ide ini diperlukan inisiasi pemerintah untuk menyosialisasikan serta

memberdayakan        masyarakat      terutama      di     daerah      terpencil.



PAUD nonformal khusus seperti Taman Pendidikan Alquran juga bisa

diintegrasikan   dengan   PAUD     umum    yang    bertujuan    mengoptimalkan

pengembangan kecerdasan majemuk anak.




Kita bisa memulainya dari mana saja terutama dari diri kita masing-masing.
                                      7
Berikanlah yang terbaik buat anak untuk menyongsong masa depannya, masa

depan anak Indonesia yang cemerlang.




Setiap kali memasuki tahun ajaran baru, biasanya orangtua akan sibuk untuk

mengurusi anak-anaknya mau sekolah dimana. Berbagai masukan berdatangan,

mulai dari informasi lewat iklan, informasi lewat teman dan segala bentuk

informasi lainnya. Orangtua pun kadang-kadang bingung untuk menentukan

pilihan.


Bagi orangtua yang memiliki anak usia 1 sampai 6 tahun akan sibuk dengan

urusan memikirkan sekolah ke Play Group dan Taman Kanak-kanak (TK). Untuk

keluarga yang berkecukupan, masalah pemilihan sekolah akan dilakukan dengan

selektif. Karena mereka sangat menyadari pentingnya pendidikan anak usia dini

(PAUD) dalam menempa karakter dan bekal anak kelak ketika akan memasuki

sekolah dasar (SD).


Masalahnya sekarang adalah, bagaimana dengan keluarga yang tidak mampu ?

Pastilah mereka akan pusing untuk memikirkan sekolah anak-anak mereka.

Jangankan untuk sekolah, untuk makan sehari-hari saja mereka kesulitan.


Padahal, menurut UU No.20 Tahun 2003 Pasal 28 disebutkan, (1) Pendidikan

anak usia dini diselenggarakan sebelum jenjang pendidikan dasar; (2) Pendidikan

                                       8
anak usia dini dapat diselenggarakan melalui jalur pendidikan formal, nonformal,

dan/atau informal; (3) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal

berbentuk taman kanak-kanak (TK), raudatul athfal (RA), atau bentuk lain yang

sederajat; (4) Pendidikan anak usia dini jalur pendidikan nonformal berbentuk

kelompok bermain (KB), taman penitipan anak (TPA), atau bentuk lain yang

sederajat; dan (5) Pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan informal

berbentuk pendidikan keluarga atau pendidikan yang diselenggarakan oleh

lingkungan.


Sebagaimana yang disebutkan dalam Pasal 1 Butir 14 UU No.20 Tahun 2003,

PAUD itu sendiri merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak

sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian

rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani

dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut.


PAUD merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang

menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan

fisik   dan   kecerdasan:       daya   pikir,   daya   cipta,   emosi,   spiritual,

berbahasa/komunikasi, sosial.


Oleh masyarakat, PAUD diindentikkan pendidikan TK. Tentu pendapat ini kurang

tepat mengingat pendidikan TK hanya dialami anak satu atau dua tahun. Itu pun

jika anak sempat mengalami pendidikan TK. Mengingat batasan PAUD adalah
                                         9
usia anak sejak lahir hingga enam tahun, PAUD lebih banyak dilaksanakan

keluarga. Dengan demikian, keluargalah yang paling bertanggung jawab pada

PAUD.


Walau demikian, tentu peran masyarakat tempat anak itu tumbuh tidak sedikit.

Jika budaya di suatu masyarakat (masa lalu) pernah kita dengar ada si tukang

cerita atau pendongeng, hal ini merupakan PAUD yang sangat efektif dalam

memberi berbagai kecerdasan kepada anak usia dini - pada masa itu. Sayang,

sejak hadirnya TV budaya kegiatan masa tua seperti mendongeng sebelum anak

tidur makin langka.


Lantas, apakah pendidikan anak usia dini di Indonesia sudah berjalan dengan baik

dan menjangkau semua sasaran? Jawabnya belum! Baik secara kuantitatif maupun

kualitatif pendidikan anak usia dini di negara kita memang jauh dari memadai,

apalagi membanggakan. Lebih daripada itu bahkan ada kesan bahwa PAUD kita

selama ini memang terabaikan.


Menurut    catatan    United   Nations   Educational   Scientific,   and   Cultural

Organizations atau UNESCO, angka partisipasi pendidikan anak usia dini atau

PAUD      di   Indonesia   masih   tergolong rendah    dibanding negara-negara

berpenghasilan rendah di Asia lainnya. Partisipasi PAUD di Indonesia hanya 22

persen. Angka tersebut lebih rendah dibanding partisipasi PAUD di Filipina yang


                                         10
sebesar 27 persen, Vietnam 43 persen, Thailand 86 persen, dan Malaysia 89

persen.




PAUD TERABAIKAN


Secara kuantitas jumlah anak usia dini di Indonesia memang relatif sangat tinggi,

namun demikian sebagian besar dari mereka itu belum terlayani pendidikannya.

Dari sebanyak sekitar 13,5 juta anak usia 0 sampai dengan 3 tahun ternyata baru

sekitar 2,5 juta atau 18,74 persen yang terlayani. Di sisi lain dari sekitar 12,6 juta

anak usia 4 sampai 6 tahun ternyata baru sekitar 4,6 juta atau 36,54 persen yang

terlayani pendidikannya. Jadi secara kuantitatif anak usia dini kita yang terlayani

pendidikannya masih relatif sangat sedikit jumlahnya.


Bagaimana dengan kualitasnya? Kita semua tahu, dari TK, RA, KB, TPA, atau

bentuk lain yang sederajat yang ada di Indonesia pada umumnya masih belum

memperhatikan kualitas, atau setidak-tidaknya kualitas belum menjadi tujuan

utama.


Kita hendaknya jujur dan objektif, kata Anggota DPD Asal Sumut Parlindungan

Purba, SH, MM bahwa sampai saat ini masih banyak TK yang kembang-kempis

                                         11
karena rendahnya keinginan orang tua mendidikkan putra-putrinya di TK, tidak

adanya guru yang representatif, terbatasnya tempat kegiatan, dan alasan lainnya.


Bagaimana dengan TPA? Tanpa menafikan yang sudah berjalan baik,

penyelenggaraan TPA yang seadanya dengan kurang memperhatikan mutu masih

sangat banyak terjadi di masyarakat. Sama halnya dengan KB? KB yang baik dan

menjadi idola masih sangat terbatas jumlah dan jenisnya, bisa dihitung dengan

jari. Untuk ukuran kota besar, dimana kesibukan kedua orangtua telah menjadikan

TPA dan KB sebagai tempat untuk belajar anak.


"Terkait kualitas pendidikan kita yang rendah dibandingkan dengan kualitas

pendidikan    di   negara-negara    lain      pada   umumnya,   akar   permasalahan

sesungguhnya ada pada terabaikannya PAUD selama ini," tandas Parlindungan.


Dukungan pemerintah dalam menyediakan akses dan layanan PAUD di Indonesia

pun masih rendah. Anggaran pendidikan yang diarahkan untuk anak usia dini

masih terbatas. Kondisi ini berbeda dengan negara-negara di Asia lainnya yang

relatif lebih tinggi. Malaysia, Filipina, dan Thailand anggaran pendidikan usia

dininya rata-rata telah di atas 10 persen.


Pengembangan pendidikan untuk anak usia dini di Indonesia, lanjut Parlindungan

harus dilakukan dengan pendidikan yang lebih sistemik. Untuk menuju ke arah

sana, diperlukan dukungan kebijakan dan investasi dari pemerintah.

                                             12
Dalam sebuah kesempatan, Direktur PAUD Direktorat Jenderal Pendidilan Luar

Sekolah (Ditjen PLS) Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) Gutama

mengakui bahwa angka partisipasi PAUD di Indonesia rendah.


Padahal, PAUD tidak dapat dipandang sebelah mata, karena usia tersebut

merupakan "masa emas" di mana perkembangan otak anak sangat cepat.

Sehingga, harus ada upaya pendidikan memadai pada masa itu.


PERAN KELUARGA


Masih banyak kendala yang dihadapi dalam meningkatkan paritipasi PAUD di

Indonesia, lanjut Gutama. Pasalnya, banyak orang tua yang belum memahami

pentingnya PAUD. Selain itu, PAUD belum menjadi "pendidikan wajib" sebab

belum adanya anggaran khusus untuk sektor pendidikan tersebut.


Kendala lainnya adalah tenaga pendidik yang memenuhi kualifikasi belum

tersedia serta belum semua daerah punya petugas yang menangani PAUD. Untuk

hal ini, Ditjen PLS bakal melakukan upaya untuk meningkatkan kesadaran orang

tua akan pentingnya PAUD dan mendorong terselenggaranya sebuah lembaga

PAUD non-formal.


Ditjen PLS telah memiliki target untuk meningkatkan peran serta orang tua agar

mengikutsertakan anak dalam PAUD. Tahun 2006, kata Gutama, ditargetkan

mampu mencapai 12,5 dari 11,9 juta anak. Kemudian tahun 2007 sebanyak 18
                                      13
dari 12 juta anak, 2008 dari 12,2 juta anak ditarget 26 serta tahun 2009 mendatang

targetnya 35 dari 12,4 juta anak.


Mengingat pentingnya PAUD, pemerintah pusat maupun daerah sudah

sepantasnya memberi perhatian lebih serius terhadap permasalahan ini. Sudah

waktunya pula sebagian dana pendidikan itu diarahkan pada pengadaan sarana

dan prasarana untuk kelangsungan PAUD di daerah masing-masing.


Seperti dikemukakan di atas, PAUD merupakan upaya pembinaan anak sejak lahir

sampai usia 6 tahun melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu

pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani. Tujuannya agar anak

memiliki kesiapan memasuki pendidikan lebih lanjut.


Untuk itu, seperti disampaikan Direktur Jenderal PLS, Ace Suryadi, keluarga

merupakan sarana pendidikan pertama dan utama untuk mendidik anak. Prinsip

PAUD melalui keluarga adalah bentuk pendidikan nonformal yang dapat

mendorong kesiapan anak dalam proses belajar di usia sekolah. Konsep dasar

dirintisnya PAUD berbasis keluarga karena banyak orangtua yang belum

memperoleh kesempatan untuk mengirimkan anaknya ke PAUD, seperti Taman

Penitipan Anak, Taman Kanak-kanak dan sejenisnya. Saat ini, PAUD berbasis

keluarga masih dalah proses pengembangan konsep. Keluarga diharapkan

mempunyai kemampuan mengembangkan prinsip-prinsip mendidik anak yang

baik dan benar. Lebih lanjut, Ace menilai PAUD dipercaya dapat memacu
                                       14
peningkatan mutu pendidikan jangka panjang. Semakin banyak anak yang

dilayani PAUD, semakin banyak anak yang memiliki kesiapan belajar. Jadi, pada

usia sekolah, anak siap untuk mencapai kompetensi yang lebih besar, baik

akademik maupun nonakademik.




                                     15
                                    BAB III


                               PEMBAHASAN




3.1 ANALISIS PERMASALAHAN


3.1.1. Wajar Dikdas 9 Tahun


Konsep pendidikan dasar menurut beberapa para ahli pendidikan mengatakn

bahwa:


   A. John Dewey


         Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamntal

         secara intelektual dan emosional ke arah dan sesama manusia.


   B. Rouseau


         Pendidikan adalah memberi kita pembekalan yang tidak ada pada masa

         anak-nak akan tetpi proses pembentukanny pada masa dewasa.


   C. SA Brahata Dkk


         Pendidikan adalah usah yang sengaja diadakan baik langsung maupun

         tidak langsung untuk memperbaiki anak dalam perkembangannya

         mencapai kedewasaannya.
                                        16
   D. GBHN


         Pendidikan adalah usaha sadar untuk mengembangkan kepribadian dan

         kemampuan di dalam dan diluar sekolah dan berlangsung seumur hidup


         Dari keempat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan

adalah pengaruh bantuan atau tuntutan yang diberikan oleh orang yang

bertanggung jawab kepada anak didik.


         Dalam hal ini pendidikan tanggung jawab orang tua, masyarakat, dan

pemerintah, maka dari itu mempunyai program wajib belajar pendidikan dasar

sesuai dengan pendapat John Dewey pendidikan proses pembentukan kecakapan

fundamental secara intelektual dan emosional.


         Pendidikan khususnya di Negara Indonesia terbagi menjadi 3 bagian,

yaiut:


   A. Pendidikan Sekolah (Pendidikan Formal)


         Pendidikan   formal    yaitu    Pendidikan   yang   berjenjang   dan

         berkesinambungan sejak Pendidikan Anak Usia Dini, Taman Kanak-

         kanak, Sekolah Dasar, Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama, Sekolah

         Menengah Umum, dan Perguruan Tinggi.


   B. Pendidikan Luar Sekolah (Pendidikan Non Formal)


                                        17
       Pendidikan non formal yaitu Pendidikan yang dilakukan diluar sekolah

       resmi tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan seperti tempat kursus

       dan bimbingan belajar.


   C. Pendidikan Keluarga (Pendidikan In Formal)


       Pendidikan in formal yaitu Pendidikan yang dilakukan diluar sekolah

       resmi tidak berjenjang dan tidak berkesinambungan dan dilakukan di

       dalam keluarg rumah tangga masing-masing peserta didik di rumahnya.


3.1.2 Penyelenggaraan PAUD dan Berbagai Permasalahannya


Buat apa anak dimasukkan ke TK (Taman Kanak-kanak), yang hanya belajar

bernyanyi dan menggambar, buang-buang waku dan uang saja. Nanti saja,

langsung masuk sekolah SD (Sekolah Dasar)


UNGKAPAN atau pemahaman seperti itu, masih sering muncul di tengah-tengah

orang tua atau masyarakat awam yang tingkat pendidikannya sangat rendah,

terutama    yang     tinggal    di    kampung-kampung       atau    pedesaan.



Pemahaman seperti itu, tentu saja sangat keliru. Padahal pendidikan anak sejak

usia dini sangat bermanfaat terhadap daya rangsang otak anak. Bahkan agama

menganjurkan pendidikan anak harus dimulai sejak dalam kandungan ibunya.



                                     18
Kualitas anak yang duduk di bangku SD, yang tidak pernah sekolah di TK, tentu

akan sangat jauh berbeda dengan anak yang pernah mengikuti pendidikan usia

dini di TK. Sayang kenyataan ini, belum banyak dipahami para orang tua, baik

karena yang tingkat pendidikannya rendah maupun karena belum adanya

kesadaran akan pentingnya pendidikan akan usia dini, dan beberapa faktor lain.




Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia, sejak tahun 2003, mulai

menggalakkan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dalam upaya

mencetak dan menyiapkan generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan tangguh dalam

menghadapi         berbagai        tantangan        di        masa        depan.



Untuk tahun 2007 ini, Departemen Pendidikan Nasional, menargetkan sekitar 13,

6 juta anak terlayani program PAUD. Target itu, merupakan peningkatan dari

pencapaian tahun 2006, yang hanya 13, 2 juta anak. Sedangkan target tahun 2008

adalah 14, 2 juta anak dan tahun 2009 adalah 15, 3 juta anak (Pelita, 26 Maret

2007).




Beberapa tahun terakhir ini, sejak digulirkannya program PAUD mulai tumbuh

lembaga PAUD, sehingga menambah daftar lembaga-lembaga PAUD baik formal

                                       19
maupun non-formal seperti RA, TPA, TK, Play Group atau Taman Bermain, yang

selama     ini     terkesan     hanya        monopoli    kalangan      tertentu.



Kesan seperti itu, mulai terhapus selain munculnya orang-orang atau tokoh

masyarakat yang memiliki kepedulian untuk mendirikan lembaga pendidikan anak

usia dini secara swadaya bersama-sama masyarakat sekitar baik yang formal

maupun non-formal.




Kondisi seperti itu, misalnya saja seperti yang berlangsung di daerah Desa

Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi. Meskipun baru di

lingkungan masyarakat perkotaan dan di beberapa tempat kompleks perkebunan

milik PTPN (Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara).


Mulai tumbuhnya kesadaran masyarakat terhadap pendidikan anak usia dini,

sudah barang tentu sangat menggembirakan, meski pun berdasarkan data yang

diperoleh penulis dari Ketua PKBM, baru menyentuh sekitar 30 persen dari 200

anak                     usia                     0-6                    tahun.



Dalam peyelenggaraan PAUD di daerah yang berpenduduk sekitar 10.000 jiwa

ini, ditempuh pula melalui Pos Yandu Plus sebagai hasil revitalisasi Pos Yandu,

yang di dalamnya di antaranya diselenggarakan PAUD. Sebuah upaya yang

                                        20
sinergi antara Subdin PLSP Dinas P dan K dengan Kantor BKKBN (Badan

Koordinasi               Keluarga               Berencana)               setempat.



Di Pos Yandu Plus, dalam seminggu berlangsung satu kali, bahkan ada yang

sampai empat kali pertemuan melakukan kegiatan program PAUD. Anak-anak,

selain ditimbang badannya, diberikan makanan gizi tambahan, juga melakukan

kegiatan-kegiatan belajar mengenal huruf, menggambar, bermain ketangkasan dan

kegiatan      lainnya      yang       dapat      merangsang       otak       anak.



Mencermati pogram PAUD yang dilaksanakan di daerah kabupaten, banyak

kendala sehingga upaya yang dilakukan belum bisa secara optimal, karena

banyaknya kendala. Pertama, menyangkut sarana dan prasarana. Mengingat

program ini, baru digulirkan sekitar empat tahun yang lalu, maka sekolah-sekolah

atau       lembaga      PAUD        jumlahnya     masih       sangat      terbatas.



Kedua, masih sangat rendahnya kesadaran para orang tua mengenai arti dan

manfaat pentingnya pendidikan anak usia dini, sehingga enggan atau tidak tertarik

untuk memasukkan putra-putrinya terhadap PAUD atau setingkat TK, RA, TPA,

Taman Bemain




Untuk memecahkan kendala-kendala seperti itu, sudah saatnya pemerintah lebih
                                        21
spektakuler lagi dengan mencanangkan Program Wajib Belajar Usia Dini, yang

diikuti dengan pembangunan fisik dan non-fisik seperti pendanaan untuk tenaga

tutor atau pengajar, dan menumbuhkembangkan peran masyarakat yang mau

berkorban secara materi untuk mendirikan lembaga PAUD non-formal.



Tidak kalah pentingnya, antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah pusat

harus sinergi dalam melaksanakan program ini. Jangan sampai pemerintah daerah

kurang memberikan perhatian yang maksimal dalam kebutuhan anggaran program

ini. Sudah saatnya pemerintah kabupaten mengalokasikan dana melalui APBD

guna                      terselenggaranya                   program                 PAUD.



Dengan begitu, tujuan untuk mencetak generasi bangsa yang cerdas, sehat, dan

mampu menghadapi berbagai tantangan akan dapat terwujud. Wakil Ketua

Yayasan Damandiri, Prof Dr Haryono Suyono pernah mengungkapkan, jika anak-

anak Indonesia sehat, cerdas, karena sejak kecil sudah pandai berdo\'a. Maka,

pemimpin Indonesia di masa mendatang, akan lebih baik dari pemimpin yang

sekarang.


Sebuah praktik nyata ditunjukkannya di sebuah kelas. Guru yang bertindak

sebagai     fasilitator     menguraikan      tema   cerita    tentang   perjalanan   wisata

menggunakan kereta api. Sejumlah anak diajak membentuk barisan panjang kursi

menyerupai badan kereta api. Tiap bangku diduduki masing-masing anak.
                                              22
Seorang      anak        berdiri       di         sisi     ”badan        kereta       api”.



Ia seolah memegang sebuah rambu-rambu yang menandakan kereta api akan

bergerak meninggalkan stasiun. ”Saat ini anak-anak dikenalkan angka-angka

melalui jumlah ”gerbong”, dan hal-hal lain yang berkaitan dengan wisata

menumpang kereta api tadi. Ini pun cara membiasakan mereka bersosialisasi

dengan sesama.




Selain itu, ada praktik model belajar sosiodrama yang nyata. Anak-anak diajak ke

kebun sekolah. Di sini, mereka dikenalkan berbagai jenis tanaman, bebatuan, dan

lain-lain,               sambil                   menghitung                  jumlahnya.



Ini salah satu cara mengajarkan anak bersikap ramah dengan lingkungan sekaligus

memraktikkan             pelajaran               melalui         alam             terbuka.

”Ada pula permainan bingo dengan menggunakan kartu. Anak diminta

menyocokkan angka yang tertulis di kartu dengan angka yang menunjukkan

sebuah           benda            di         kartu           lainnya,”            jelasnya.



Ternyata model belajar ini membuahkan hasil yang mengejutkan. Sekitar 90%

hasil belajar melalui model sosiodrama gampang diserap anak. “Hanya 65%

materi pelajaran yang diserap anak jika mereka belajar lewat model unjuk kerja,”
                                            23
jelas istri dari staf pengajar Fakultas Farmasi Unud, I Nyoman Kajeng Wijaya,

M.Sc.Apt., ini


       Berdasarkan data yang ada, berikut penulis sajikan tabel data penduduk

berdasarkan jenis kelamin di desa Bojongkerta kecamatan Warungkiara kabupaten

Sukabumi.


                                   Tabel 3.1
                 Data Kualitas Angkatan Kerja Desa Bojongkerta
                 Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

      Angkatan Kerja                Laki-laki               Perempuan

  18 – 56 th buta aksara               7                          8

   18 – 56 th tdk tmt SD              100                       162

   18 – 56 th tamat SD               1365                       1261

   18 – 56 th tamat SLTP             1029                       991

  18 – 56 th tamat SLTA              1149                       1090

    18 – 56 th tamat PT                27                        15

Sumber : Profil Desa Bojongkerta kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi




Dari data pada tabel 3.1 dapat disimpulkan persentasi laki-laki dan perempuan

untuk usia 18 s.d 56 tahun buta aksara yaitu 46,7% dan 53,3% , 18 s.d 56 tahun

tidak tamat SD yaitu 38% dan 62% , 18 s.d 56 tahun tamat SD yaitu 51,9% dan

48,1% , 18 s.d 56 tahun tamat SLTP yaitu, 50,9% dan 49,1% 18 s.d 56 tahun

                                       24
tamat SLTA yaitu 51,3% dan 48,7% , 18 s.d 56 tahun tamat PT yaitu , 64,3%

dan 35,7% .


                                       Tabel 3.2
                    Data Pendidikan Formal Desa Bojongkerta
                Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

    Nama           Jumlah        Status          Kepemilikan    Tenaga      Jml
                                                               pengajar    siswa

  Play Grp           3             -                  -             -        -

     TK              -             -                  -             -        -

     SD              5             -             Pemerintah         35      964

    SLTP             1             -                                15      70
Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

Dari data pada tabel 3.2 dapat disimpulkan jumlah sarana pendidikan formal siswa

yang masuk sekolah dengan kebutuhan jauh dari harapan.




                                       Tabel 3.3
             Data Pendidikan Formal Keagamaan Desa Bojongkerta
                Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

Nama           Jumlah       Status               Kepemilikan   Jumlah      Jumlah
                            terakreditasi                      tenaga      siswa
                                                               pengajar

Raudhatul      9            Ya                   Ya            27          630
Athfal


                                            25
Ponpes        2                                            10              70
Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

Dari data pada tabel 3.3 dapat disimpulkan jumlah sarana pendidikan non formal

siswa yang masuk pendidikan dengan kebutuhan jauh dari harapan.

                                      Tabel 3.4
                  Data Tingkat Pendidikan Desa Bojongkerta
               Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

           Tingkat Pendidikan                 Laki-laki         Perempuan

  3 – 6 th yang belum masuk TK                    215              285

  3 – 6 th yang sudah masuk TK                     61              72

  7 – 18 th yang tidak pernah masuk                1                7
  sekolah

  18 – 56 th yang tidak pernah                     7                8
  sekolah

  18 – 56 th pernah SD tetapi tidak               100              162
  tamat

  Tamat SD                                        1365            1261

  Tamat SMP                                       1029             991

  Tamat SMA                                       1147            1090

  Tamat D-1                                        11               7

  Tamat D-2                                        9                5

  Tamat D-3                                        7                3
Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

         Tingkat pendidikan di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

Kabupaten Sukabumi terbilang cukup memprihatinkan. Untuk usia antara 3 – 6
                                         26
tahun yang belum masuk TK sebesar 43% (Laki-laki) dan 57% (Perempuan).

Untuk usia antara 3 – 6 tahun yang masuk TK sebesar 45,9 % (Laki-laki) dan

54,1 % (Perempuan). Untuk usia antara 7 – 18 tahun yang tidak pernah sekolah

sebesar 12,5 % (Laki-laki) dan 87,5 % (Perempuan). Untuk usia antara 18 – 56

tahun yang tidak pernah sekolah sebesar       46,6 % (Laki-laki) dan   53,4 %

(Perempuan). Untuk usia antara 18 – 56 tahun yang pernah masuk SD tetapi tidak

tamat sebesar 38,2 % (Laki-laki) dan 61,8 % (Perempuan). Untuk tamatan SD

sebesar     51,9 % (Laki-laki) dan   48,1 % (Perempuan). Untuk tamatan SMP

sebesar 50,9 % (Laki-laki) dan 49,1 % (Perempuan). Untuk tamatan SMA

sebesar 51,3 % (Laki-laki) dan 48,7 % (Perempuan). Untuk tamatan D-1 sebesar

61,1 % (Laki-laki) dan 48,8 % (Perempuan). Untuk tamatan D-2 sebesar 64,2 %

(Laki-laki) dan 35,8 % (Perempuan). Untuk tamatan D-3 sebesar 70 % (Laki-

laki) dan 30 % (Perempuan).

          Berdasarkan data pada tabel analisis yang telah disajikan sebelumnya,

maka untuk memperjelas hasil analisis, penulis sajikan informasi berupa grafik

sebagai berikut:


                                  Grafik 3.1
                Data Kualitas Angkatan Kerja Desa Bojongkerta
                 Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi
                              Usia 18 s.d 56 Tahun




                                        27
  1600
  1400
  1200
  1000
                                                                               Laki-Laki
   800
                                                                               Perempuan
   600
   400
   200
     0
         Buta Aksara   Tdk tmt SD   Tmt SD      Tmt SMP   Tmt SMA   Tmt PT



Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



                                             Grafik 3.2
                       Data Pendidikan Formal Desa Bojongkerta
                   Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



  120
  100
   80
   60                                                                              Sarana
   40
   20
    0
         Buta Aksara   Tdk tmt SD   PlayGroup        TK       SD        SLTP


Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



                                             Grafik 3.3
              Data Pendidikan Formal Keagamaan Desa Bojongkerta
                   Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



                                                28
  1600
  1400
  1200
  1000
   800                                                                                   Sarana
   600
   400
   200
     0
            Buta Aksara           Tdk tmt SD             MI               Ponpes


Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



                                               Grafik 3.4
                     Data Tingkat Pendidikan Desa Bojongkerta
                  Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



  1600
  1400
  1200
  1000
                                                                                     Laki-Laki
   800
   600                                                                               Perempuan
   400
   200
     0
         Blm TK Sdh TK    Tdk    Pernah Tmt SD    Tmt   Tmt   Tmt D1 Tmt D2 Tmt D3
                          Sklh     SD             SMP   SMA


Sumber: Profil Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi



3.2 ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH


         Berdasarkan hasil analisis maka untuk menjawab masalah yang

teridentifikasi, maka ditetapkan alternatif sasaran pembangunan peningkatan gizi

balita sebagai berikut:
                                                  29
   A. Upaya peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini

       dengan metoda belajar sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan

       Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik;


   B. Kondisi pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan

       metoda belajar sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

       Kabupaten Sukabumi sudah baik;


   C. Kualitas,     pemerataan   dan       keterjangkauan   pelayanan   peningkatan

       pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar

       sosiodrama di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungiara Kabupaten

       Sukabumi ;


   D. Dukungan pembangunan bidang peningkatan pemahaman membaca di

       pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama terhadap

       wajar dikdas 9 tahun di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

       Kabupaten Sukabumi sudah baik.


       Alternatif pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan untuk mencapai

sasaran tersebut adalah sebagai berikut:


   A. Peningkatan jumlah, jaringan dan kualitas peningkatan pemahaman

       membaca di pendidikan anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama;


   B. Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga tutor;

                                           30
   C. Pengembangan sistem jaminan kesehatan teruma bagi rakyat miskin;


   D. Peningkatan sosialisasi PAUD dan wajr dikdas 9 tahunt;


   E. Peningkatan pendidikan pemahaman membaca di pendidikan anak usia

       dini dengan metoda belajar sosiodrama pada masyarakat sejak usia dini;

       dan


   F. Pemeratan dan peningkatan kualitas pemahaman membaca di pendidikan

       anak usia dini dengan metoda belajar sosiodrama.




3.3 PEMILIHAN ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH

       Sebagai langkah alternatif dalam pemecahan masalah pembangunan di

bidang peningkatan pemahaman membaca di pendidikan anak usia dini dengan

metoda belajar sosiodrama di Desa Bojingkerta Kecamatan Warungkiara

Kabupaten Sukabumi, penulis sajikan beberapa alternatif pemecahan masalah

sebagai berikut:


   A. PROGRAM LINGKUNGAN SEHAT.


   Program ini ditujukan untuk membentuk lingkungan sehat disekitar PAUD.

   Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu :


             1) Penyediaan air bersih;



                                         31
       2) Pemeliharaan dan pengawasan kualitas lingkungan;


       3) Pengendalian dampak resiko pencemaran lingkungan;


       4) Pengembangan wilayah sehat.


       5) Pemilihan teknologi pembuangan air limbah


B. PROGRAM UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT.


Program ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah, pemerataan, dan kualitas

pelayanan PAUD melalui sangar kegiatan belajar dan jaringannya. Kegiatan

pokok yang dilakukan yaitu :


       1) Pelayanan penduduk miskin


       2) Pengadaan, peningkatan, dan perbaikan sarana dan prasarana

          PAUD.


       3) Pengadaan peralatan dan perbekalan kesehatan termasuk obat-

          obatan generik


       4) Peningkatan pelayanan kesehatan dasar yang mencakup sekurang-

          kurangnya promosi PAUD, sanitasi air bersih, kesehatan ibu dan

          anak, keluarga berencana, perbaikan gizi, kesehatan lingkunagn,

          pemberantasan penyakit menular, dan pengobatan dasar.



                                 32
C. PROGRAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN PENYAKIT


Program ini di tujukan untuk menekan kematian akibat kurangnya cakupan

gizi. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu:


       1) Pencegahan dan penanggulangan faktor resiko


       2) Peningkatan imunisasi


       3) Penemuan dan tatalaksana prnderita


       4) Peningkatan komunikasi, informasi, dan edukasi.


D. PROGRAM PERBAIKAN GIZI MASYARAKAT


Program ini ditujukan untuk meningkatkan kesadaran ibu rumah tangga

tentang PAUD. Kegitan pokok yang dilakukan yaitu:


       1) Peningkatan pendidikan gizi


       2) Penanggulangan kurang energi energi protein


       3) Penanggulangan gizi lebih


       4) Peningkatan surveilens gizi


       5) Pemberdayaan masyarakat untuk sadar gizi.


E. PROGRAM SUMBER DAYA KESEHATAN


                                   33
Program ini ditujukan untuk meningkatkan jumlah dan mutu penyebaran

tenaga medis untuk peningkatan pengetahuan PAUD. Kegiatan pokok yang

dilakukan yaitu:


       1) Perencanaan tenaga medis untuk peningkatan gizi balita;


       2) Peningkatan keterampilan;


       3) Pemenuhan kebutuhan tenaga medis;


       4) Pembinaan tenaga medis;


       5) Penyusunan standar kompetensi tenaga medis;


F. PROGRAM PENGAWASAN OBAT DAN MAKANAN


Program ini ditujukan untuk menjamin terpenuhinya obat dan makanan untuk

penanggulangan gizi balita. Kegiatan pokok yang dilakukan yaitu:


       1) ;Peningkatan pengawasan obat dan makanan


       2) Peningkatan pengawasan minuman dan makanan siap saji;


       3) Peningkatan dan pengawasan mutu obat dan makanan;


       4) Penguatan kapasitas laboratorium pengawasan obat dan makanan.




                                   34
                                   BAB IV


                      KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 KESIMPULAN


       Berdasarkan bahasan analisis dan bahasan masalah yang telah penulis

lakukan maka diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut:


Berdasarkan hasil analisis maka untuk menjawab masalah yang teridentifikasi,

maka ditetapkan alternatif pemecahan masalah yang dapat dilaksanakan untuk

mencapai sasaran tersebut sebagai berikut:


   A. Upaya peningkatan menulis pendidikan anak usia dini dengan metoda

       visualisasi dan kartu siswa masyarakat Desa Bojongkerta Kecamatan

       Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik;

                                       35
   B. Kondisi menulis pendidikan anak usia dini dengan metoda visualisasi dan

       kartu siswa masyarakat Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara

       Kabupaten Sukabumi sudah baik;


   C. Kualitas, pemerataan dan keterjangkauan pelayanan menulis pendidikan

       anak usia dini dengan metoda visualisasi dan kartu siswa Desa

       Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi sudah baik;


   D. Dukungan pembangunan bidang menulis pendidikan anak usia dini dengan

       metoda visualisasi dan kartu siswa terhadap Program Wajar Dikdas 9

       tahun di Desa Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi

       sudah baik.


4.2. Saran

       Dari hasil evaluasi pelaksanaan program Kuliah Kerja Mahasiswa di Desa

Bojongkerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi , kami dari kelompok

II mengajukan beberapa saran, yaitu sebagai berikut :


Saran Kepada Pemerintah Setempat


   o Melakukan pendekatan partisipatif dan pembinaan sebagai tindak lanjut

       dari hasil program KKN STKIP - PGRI 2008

   o Melakukan perencanaan strategis pembangunan wilayah di tiap-tiap

       kelurahan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi yang dimiliki.
                                       36
   o Melakukan pembinaan dan pengawasan terhadap kinerja aparatur desa

      dalam melayani masyarakat.

   o Meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan yang lebih memadai,

      untuk menghasilkan sumber daya manusia yang bewrkualitas.

   o Meningkatkan sarana dan prasarana kelurahan untuk mendukung kinerja

      para aparatur desa.


Saran Kepada Pihak LPPM STKIP PGRI


   o LPPM Untirta dalam hal ini sebagai panitia dari kegiatan KKN,

      hendaknya menyiapkan konsep KKN secara matang, dimana bukan hanya

      konsep saat akan pelaksanaan KKN saja namun harus ada onsepan untuk

      follow up atau tindak lanjut dari hasil kegiatan KKN, hal ini bisa

      dilakukan dengan menjalin koordinasi dengan pemda setempat.

   o Dalam hal pembekalan KKN sebaiknya dilakukan dengan serius, dimana

      pembekalan yang akan diberikan lebih berisi program KKN secara

      konseptual dan teknis serta informasi terkini tentang gambaran lokasi

      KKN, sehingga ketika peserta KKN diterjunkan ke lapangan sudah

      mempersiapkan segala sesuatunya.

   o Pembagian kelompok, sebaiknya sudah diumumkan jauh-jauh hari,

      sehingga sebelum terjun ke lokasi peserta KKN sudah saling mengenal



                                    37
   dan bisa saling beradaptasi antara yang satu dengan yang lainnya. Selain

   itu, kesiapan kelompok lebih matang.

o Pengontrolan ke lokasi KKN harus lebih diintensifkan lagi, pungsi dari

   POKJA Kecamatan harus dimaksimalkan, sehingga tidak ada kesan

   terlantarkan. Serta koordinasi antara POKJA Kecamatan dengan setiap

   kelompok KKN juga harus diintensifkan, sehingga akan mempermudah

   mandapat informasi tentang perkembangan KKN.




                      DAFTAR PUSTAKA

1. Sekretaris Desa Bojong Kerta Kecamatan Warungkiara Kabupaten

   Sukabumi, 2008, Profil Desa 2008, Bojong kerta




                                  38
2. Sekretaris Negara Republik Indonesia, 2003.Undang-undang RI No. 20

   Tahun 2003 tentang Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional.. Jakarta

   : Sinar Grafika

3. ................., 2004. Rencana Pembangunan Jangka Menengah Bab 27

   Tentang Peningkatan Akses Masyarakat Terhadap Pendidikan yang

   berkualitas. Jakarta

4. W.J.S Poerwadarminta. 1982.Kamus Umum Bahasa Indonesia, Jakarta:

   Balai Pustaka

5. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan

   RI. Laporan Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) 2001: Studi

   Morbiditas dan Disabilitas. Dalam SURKESNAS. Jakarta. 2002:

6. Soekidjo Notoatmodjo. Pendidikan Kesehatan dan Perilaku Kesehatan.

   Jakarta. Penerbit Rineka Cipta.2003:24-28.

7. Perawatan Kesehatan Masyarakat, Drs. Nasrul Effendy.

8. Kebidanan Komunitas, Dr. J. H. Syahlan, SKM

9. Materi Ajar tentang Mutu Pelayanan Kebidanan, Hj. Ulvi Mariatai, SKP.

   M.Kes




                                  39
LAMPIRAN

   -
    40
LAMPIRAN




    41

				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Stats:
views:660
posted:2/6/2010
language:Indonesian
pages:41