Docstoc

jerami

Document Sample
jerami Powered By Docstoc
					jerami

LATAR BELAKANG

Ternak ruminansia (sapi, kerbau, domba dan kambing) dapat memanfaatkan sisa-sisa hasil pertanian seperti jerami padi. Pada musim kemarau, jerami padi (kering) merupakan pakan ternak utama untuk daerah tertentu seperti Blora, Purwodadi, Wonogiri, Gunung Kidul, dsb, dimana ketersediaan air menjadi kendala, bahkan tidak jarang untuk mendapatkan jerami padi pada musim kemarau, petani-peternak terpaksa mencari keluar daerah atau membeli dengan harga yang lebih murah. Jerami padi sebagai pakan mempunyai be-berapa kelemahan yaitu rendahnya kecernaannya karena tingginya kandungan serat (berlignin) dan rendahnya kandungan nilai gizi (protein, bahan organik, dsb). Upaya untuk membantu meme-cahkan permasalaahan kuantitas dan kualitas pakan adalah dengan menggunakan teknologi fermentasi. Pada prinsipnya, penggunaan jerami fermentasi dapat dilakukan dengan menggunakan jerami segar habis panen atau jerami kering. Pada saat jerami padi melimpah seperti setelah selesai panen, jerami dapat difermentasi untuk selan-jutnya disimpan hingga 6 bulan dari pembuatan. Ditinjau dari kuantitas nutriennya (nilai gizi), fermnetasi dapat meningkatkan nilai gizi jerami.

PERSYARATAN
 

Kadra air jerami padi 40-45 %. Terlindung dari hujan dan sinar matahari secara langsung.

BAHAN-BAHAN
o o

Jerami kering atau jerami segar setelah diangin-anginkan (kadar air ± 40 %). Starter berupa Starbio atau lainnya sebanyak 0,50 kg untuk setiap 100 kg jerami padi. Pupuk urea 0,50 kg untuk setiap 100 kg jerami padi. Air sebanyak 40 liter untuk setiap 100 kg jerami padi kering; sedangkan untuk jerami segar tidak perlu ditambahkan air.

o o

CARA PEMBUATAN (untuk 100 kg )
   

Timbang jerami padi kering 100 kg.

Sediakna air sebanyak 40 liter dalam ember. Timbang starter sebanyak 0,50 kg dan urea sebanyak 0,50 kg. Jerami ditumpuk sejajar lapis demi lapis dengan ketebalan 25 cm (dengan ukuran dasar panjang 2,50 m x lebar 2,50 m). Diatas lapisan disiram air yang telah dicampur urea sampai merata (untuk jerami kering; sedangkan untuk jerami segar tidak perlu disiram air). Ditaburi starter hingga merata. Ditumpuki selapis jerami padi (± 25 cm) sambil diinjak-injak hingga memadat. Diulangi lagi penyiraman air diatas lapi-san jerami padi tersebut hingga merata. Diulangi lagi penaburan starter hingga merata dan demikian seterusnya hingga selesai. Setelah selesai, bagian atas ditutupi daun-daun kering seperti daun pisang atau daun lainnya. Pembuatan jerami padi selesai dan dibiarkan minimal 3-4 minggu.



 











Setelah 3-4 minggu jerami padi fermentasi (tape dami) siap diberikan kepada ternak, namun sebelum diberikan terlebih dahulu dianginanginkan.

JERAMI PADI FERMENTASI YANG BAIK
 

Baunya agak harum.

Warna kuning agak kecoklatan (warna dasar jerami masih nampak kelihatan). Teksturnya lemas (tidak kaku) Tidak busuk dan tidak berjamur.

 

http://insidewinme.blogspot.com/2007/11/pembuatan-jerami-padifermentasi.html

Beda Tepung bulu
Peningkatan populasi ternak secara umum harus diimbangi dengan penyediaan dan pemberian pakan yang memadai baik dalam kuantitas, kualitas maupun kontinyuitas . Pakan ruminansia umumnya terdiri dari hijauan dan konsentrat. Semakin sempitnya lahan pertanian sebagai akibat pesatnya perkembangan pembangunan pemukiman dan industri, menyebabkan ketersediaan lahan untuk tanaman hijauan pakan secara otomatis semakin berkurang . Disisi lain ketersediaan bahan baku pakan penyusun konsentrat bersaing dengan kebutuhan untuk pangan. Konsekuensinya

produktivitas ternak, khususnya ternak ruminansia belum optimal . Salah satu alternatif untuk mengatasi masalah di atas, adalah upaya pemanfaatan berbagai macam produk samping pertanian dan agroindustri . Namun demikian JETANA et al ., (1998) dan WINUGROHO (1999) melaporkan bahwa bermacam produk samping pertanian mempunyai kualitas yang cukup rendah. Oleh karena itu, jika ransum ternak tersusun hanya berasal dari produk samping pertanian, produktivitas ternak yang mengkonsumsi ransum tersebut menjadi rendah . Hal ini disebabkan kebutuhan ternak akan nutrien tidak terpenuhi (JETANA et al ., 1998; KANJANAPRUTHIPONG et al ., 2001). Sebagai solusinya, untuk dapat memenuhi kebutuhan ternak akan nutrien agar dapat berproduksi secara optimal, pakan ekstra atau tambahan perlu diberikan (GARG, 1998). Beberapa produk samping pertanian dan agroindustri tertentu dilaporkan mengandung nutrien yang cukup tinggi, serta belum dimanfaatkan secara optimal sebagai hahan baku pakan. Hal ini disebabkan, selain kurangnya informasi ketersediaan dan manfaat produk tersebut, juga disebabkan produk tersebut memiliki nilai biologis yang rendah. Produk samping dimaksud adalah produk samping dari pemotongan ayam, seperti bulu dan darah.

NILAI NUTRISI TEPUNG BULU AYAM Studi kandungan nutrisi yang dilakukan menunjukkan bahwa bulu ayam mengandung "nutrient" yang cukup jumlahnya (Tabe13) . Tabel 3. Kandungan nutrien tepung bulu ayam a) NRC (1996) b) HARTADI et al. (1997) c) Hasil analisa Laboratorium Balitnak, Ciawi, Bogor *DE = 0,76 GE Hal yang sama dilaporkan oleh NATIONAL RESEARCH COUNCIL (1996) dan HARTADI et al. (1997) . Berdasarkan hasil analisa di laboratorium maka diketahui bahwa nilai kandungan nutrisi tepung bulu ayam dari TPA yang ada di daerah Jakarta dan Bogor lebih rendah, baik itu bahan kering, protein kasar, lemak, Ca dan P dibandingkan dengan kandungan nutrisi tepung bulu ayam yang dilaporkan NRC (1996). Sedangkan kandungan energinya lebih tinggi (3952 kkal/kg) dibandingkan dengan yang dilaporkan NRC (1996) yaitu sebesar 3000 kkal/kg . Dari Tabel 3 . terlihat bahwa kandungan protein kasar bulu ayam berkisar 83-92%. Nilai tersebut sama dengan yang dilaporkan peneliti terdahulu (WRAY, 1979; HAN dan
WARTAZOA Vol. 14 No. 1 Th . 2004 PARSONS, 1991 ; TANDTIYANANT et

al., 1993) . Kandungan protein kasar bulu ayam tersebut lebih tinggi dari kandungan protein kasar bungkil kedelai (42,5 %) dan tepung ikan yang hanya mencapai 66,2%, yang umumnya dipergunakan sebagai komponen utama sumber protein dalam konsentrat/ransum. Namun demikian kandungan protein kasar yang tinggi tersebut belum disertai dengan nilai biologis yang tinggi .

Tingkat kecernaan bahan kering dan bahan organik bulu ayam secara in vitro masing-masing hanya sebesar 5,8% dan 0,7%. Rendahnya nilai kecernaan tersebut disebabkan bulu ayam tergolong dalam protein fibrous/serat. Oleh karena itu, diperlukan sentuhan teknologi, agar kualitas protein tercerna bulu ayam dapat ditingkatkan. Keunggulan penggunaan tepung bulu ayam untuk ternak ruminansia adalah adanya sejumlah protein yang tahan terhadap perombakan oleh mikroorganisme rumen (rumen undegradable protein/RUP), namun mampu diurai secara enzimatis pada saluran pencernaan pascarumen. Nilai RUP tersebut berkisar antara 53-88%, sementara nilai kecernaan dalam rumen berkisar 12-46%. Pada tahun 2003 (Tabel 1) terlihat bahwa produksi bulu unggas yang dapat dihasilkan adalah 72 .680 ton dan dari jumlah tersebut tersedia protein kasar sejumlah 66.140 ton . Dengan asumsi bahwa setiap 1 satuan ternak (ST) ruminansia (1 ST setara dengan bobot hidup 250 kg) mendapat ransum sebanyak 3% yang tersusun dari 50% hijauan dan 50% pakan konsentrat, sementara kandungan protein kasar pakan konsentrat adalah 18% dan dari jumlah protein kasar pakan konsentrat tersebut, bulu unggas mampu memasok maksimal 40%, maka bulu unggas pada tahun 2003 yang berjumlah 66.140 ton dapat memasok protein kasar untuk 671 .131,3 ST selama satu tahun. PENGOLAHAN BULU AYAM Kendala utama penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum untuk ternak adalah rendahnya daya cerna protein bulu. Hal tersebut disebabkan sebagian besar kandungan protein kasar berbentuk keratin (SRI INDAH, 1993). Dalam saluran pencernaan, keratin tidak dapat dirombak menjadi protein tercerna sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh ternak . Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, bulu ayam harus diberi perlakuan, dengan memecah ikatan sulfur dari sistin dalam bulu ayam tersebut. Pengolahan tepung bulu ayam dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu perlakuan fisik dengan temperatur dan tekanan ("autoclave"), perlakuan kimia dengan asam dan basa (NaOH, HCI), perlakuan enzim (PAPADOPOULOS et al., 1985) dan fermentasi dengan mikroorganisme (WILLIAM et al., 1991). Teknik hidrolisis bulu ayam yang telah banyak dilakukan yaitu

Nutrien
Bahan kering (%) Serat kasar (%) Protein kasar (%) Lemak (%)

Tepung bulu a)

Tepung bulu b)

Tepung bulu c)

93,3 0,9 85,8 7,21

91

91,96

Tidak 0,6 dianalisa 81,7 3 83,74 3,81

Abu (%) Ca (%) P (%) DE (kkal/kg)

GE (kkal/kg) a) NRC (1996) b) HARTADI et al. (1997) c) Hasil analisa Laboratorium Balitnak, Ciawi, Bogor *DE = 0,76 GE

3,5 1,19 0,68 3.000 0

3,7 0,25 0,65 2.200 0

2,76 0,17 0,13 3.952* 5.200

PENGOLAHAN BULU AYAM Kendala utama penggunaan tepung bulu ayam dalam ransum untuk ternak adalah rendahnya daya cerna protein bulu. Hal tersebut disebabkan sebagian besar kandungan protein kasar berbentuk keratin (SRI INDAH, 1993). Dalam saluran pencernaan, keratin tidak dapat dirombak menjadi protein tercerna sehingga tidak dapat dimanfaatkan oleh ternak . Agar dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, bulu ayam harus diberi perlakuan, dengan memecah ikatan sulfur dari sistin dalam bulu ayam tersebut. Pengolahan tepung bulu ayam dapat dilakukan dengan empat cara, yaitu perlakuan fisik dengan temperatur dan tekanan ("autoclave"), perlakuan kimia dengan asam dan basa (NaOH, HCI), perlakuan enzim (PAPADOPOULOS et al., 1985) dan fermentasi dengan mikroorganisme (WILLIAM et al., 1991). Teknik hidrolisis bulu ayam yang telah banyak dilakukan yaitu dengan asam alkali . Selain itu penggunaan tekanan dan suhu tinggi juga telah digunakan, khususnya pada skala industri yaitu menggunakan tekanan sebesar 3 Bar, suhu 105 °C selama 8 jam dengan kelembaban 8-10%, kadar air 40%, dan ini akan menghasilkan tepung bulu ayam dengan kadar protein f 76%, akan tetapi teknik ini membutuhkan biaya mahal dan kualitas protein bulu ayam menurun karena terdenaturasi akibat suhu tinggi .

Beda dedak
Dedak sebagai Bahan Pakan Sapi
Sunday, August 23, 2009 By abrianto

Dedak adalah hasil samping proses penggilingan padi. Untuk menghasilkan beras, bulir padi harus digiling, yaitu suatu proses untuk memecahkan kulit padi menjadi beras pecah kulit. Selanjutnya dilakukan proses penyosohan untuk mendapatkan beras berwarna putih yang disukai konsumen. Secara umum, proses penggilingan padi menghasilkan :
   

Biji beras utuh……………….55% Biji beras patah……………..15% Kulit………………………..20% Dedak halus atau bekatul……10%

Dari proses penyosohan itulah lapisan kecokelatan yang menyelimuti biji beras dilepaskan. Lapisan ini disebut dedak atau bekatul padi (rice bran). Dedak ini harus dilepas dari biji beras karena mengandung enzim lipase yang membuatnya tengik sehingga tak cocok untuk konsumsi manusia. Sebenarnya, dedak mengandung paling tidak 65 persen dari zat gizi mikro penting yang terdapat pada beras dan komponen tanaman bermanfaat yang disebut fitokimia, berbagai vitamin (thiamin, niacin, vitamin B-6), mineral (besi, fosfor, magnesium, potassium), asam amino, asam lemak esensial, dan antioksidan (Hariyadi, 2003). Kandungan kaya gizi itu, membuat dedak menjadi bahan pangan fungsional yang penting, yang mengurangi risiko terjangkitnya penyakit dan meningkatkan status kesehatan tubuh. Dedak juga merupakan bahan bersifat hipoalergenik dan sumber serat makan (dietary fiber) yang baik. Oleh sebab itu dedak pada awalnya dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Pemanfaatan dedak sebagai bahan pakan ternak sudah umum dilakukan. Pada usaha pembibitan sapi , dedak padi dapat menggantikan konsentrat komersial hingga 100%, terutama pada dedak padi kualitas sedang sampai baik yang biasa disebut dengan pecah kulit (PK) 2 atau sparator.

Akan tetapi penggunaan dedak padi sebagai pakan ternak, tetap harus diwaspadai kualitasnya. Kandungan nutrisinya sangat bervariasi, bergantung pada jenis padi dan jenis mesin penggiling, serta kemurnian dari dedak itu sendiri. Pada saat dedak padi sulit dicari, para penjual dedak padi seringkali mengurangi mutunya untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Modusnya dengan cara sebagai berikut :


Mengurangi kandungan beras-menir dalam dedak, pemisahan sparator,dan penambahan tepung batu kapur, limbah rumput laut, tanah putih, tepung jerami padi. Hal ini terjadi seiring dengan berkembangnya teknologi mesin penghalus (hummer mill). Mencampurkan sekam yang sudah digiling kedalam dedak. Sekam adalah kulit gabah hasil samping dari proses penggilingan padi. Sekam tidak layak sebagai bahan pakan ternak karena kandungan serat kasar tinggi (35.3%). Pakan yang mengandung dedak dengan kandungan sekam 10% biasanya kurang berpengaruh, tetapi lebih dari 10% akan menurunkan performan ternak ayam broiller dan menurunkan produksi ayam petelur. Untuk ternak ruminansia kandungan sekam dalam dedak masih bisa ditelorir tidak lebih dari 25%. Hal ini dikarenakan ternak ruminansia memerlukan serat lebih tinggi dibandingkan dengan Unggas. Untuk mengetahui kandungan sekam dalam dedak dapat dilakukan di laboratorium, tetapi hal ini memerlukan waktu yang cukup lama dan rumit. Saat ini sudah ditemukan cara untuk mendeteksi kandungan sekam dalam dedak yang lebih cepat dan praktis yaitu dengan Li_Test.



Pada musim panen keberadaan Dedak Padi memang cukup banyak dan seringkali disimpan untuk pemakaian jangka panjang. Akan tetapi dedak padi tidak dapat disimpan lama karena :
1. Mudah rusak oleh serangga dan bakteri. 1. Mudah berjamur, yang dipengaruhi oleh kadar air, suhu serta kelembaban yang membuat jamur cepat tumbuh. Hal ini dapat diatasi dengan Zeolit dan kapur, yang berfungsi sebagai pengering atau penyerap air dari jaringan dedak padi. Penambahan zeolit atau kapur dapat meningkatkan daya simpan dedak padi sampai dengan 12 minggu. 1. Mudah berbau tengik, yang disebabkan oleh enzim lipolitik/perioksidase yang terdapat dalam dedak karena kandungan asam lemak bebas dalam dedak meningkat selama penyimpanan. Aktivitas enzim tersebut dapat dihambat antara lain dengan cara silase. Silase adalah suatu jenis produk yang dihasilkan melalui fermentasi dari bahan yang mempunyai kandungan air yang tinggi. Kini sudah tersedia teknologi stabilisasi dedak padi. Stabilisasi dedak padi meliputi netralisasi/inaktifasi enzim lipase, yakni senyawa yang mudah teroksidasi yang menyebabkan dedak cepat busuk dengan mengeluarkan bau tengik. Enzim lipase itu merembes ke dedak pada cara penggilingan padi tradisional. Langkah lainnya pada stabilisasi termasuk perlakuan methanolik terhadap komponen-komponen minyak mudah menguap pada padi. Dengan

langkah-langkah stabilisasi tersebut dedak mempertahankan kandungan nutrisi yang cukup kaya meliputi serat-serat, vitamin B kompleks, mineral, phytosterol, banyak jenis antioksidan, dan fraksi-fraksi minyak dan protein yang stabil.

Popularitas dedak padi belakangan ini benarbenar telah naik. Produk yang tadinya hanya sebagai pelengkap makanan ternak, belum lama ini mulai dikenal sebagai produk elit duniauntuk industri pangan. Dedak padi hasil stabilisasi menjadi salah satu bahan ramuan favorit bagi makanan dan daging olahan. Bahkan berpeluang menggeser peranan isolat protein kedelai pada produk-produk daging teremulsi. Henk W. Hoogenkamp menuturkan dalam ”Asia Pacific Food Industry”, perusahaan pengolahan makanan dan daging di berbagai negara termasuk di Asia kini mulai berlomba memprogramkan penggunaan dedak padi stabilisasi sebagai bahan/ramuan kunci bagi optimalisasi kualitas produk mereka. Hasil-hasil penelitian di lembaga-lembaga penelitian dan universitas di Amerika Serikat, Eropa dan Asia (Thailand dan Pilipina) telah mengkonfirmasi kemampuan dedak padi stabilisasi mengikat air dengan intensitas yang tinggi untuk jangka waktu yang lebih panjang dibanding isolat protein kedelai pada tingkat penggunaan 4%. Dedak padi yang telah dikenal sebagai bahan untuk makanan suplemen dan fungsional, dalam bentuk terstabilisasi memiliki potensi untuk meningkatkan sifat fungsional dan stabilisasi emulsi daging dan daging giling kasar. Satu rangkaian penelitian oleh sejumlah perguruan tinggi yang dilanjutkan dengan uji coba di pabrik membuka jalan bagi dedak padi untuk menjadi salah satu bahan bagi para teknolog pangan yang mencari bahan substitusi isolat protein kedelai. Pengakuan akan kelayakan dedak padi stabilisasi itu juga tercermin pada sikap Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang telah membolehkan penggunaan dedak padi stabilisasi sebagai bahan pengikat pada berbagai produk daging dan unggas

Dedak berpotensi dikembangkan dalam industri pangan, farmasi, dan pangan suplemen (termasuk dietary supplement). Dedak padi dapat sebagai bahan baku produk sereal serta bahan dasar produk minuman fungsional yang mengandung vitamin B kompleks, gamma orizinol, tokoferol, tokotrienol, kolin, inositol, kalsium, dan potasium. Dedak juga dapat dijadikan sumber minyak berkualitas tinggi yang diperoleh dari proses ekstraksi. Hasil penelitian yang mengejutkan, minyak dedak padi (rice brand oil) bermanfaat untuk penderita diabetes karena kemampuannya mengurangi kadar gula dalam darah. Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Nutritional Biochemistry (Maret 2002) menyebutkan bahwa suplementasi minyak dedak padi mampu menurunkan kadar gula (glukosa) dalam darah, untuk penderita diabetes tipe I maupun tipe II. Peluang lain adalah tepung beras yang mempunyai sifat fisik dan sensor yang khas, sehingga berpotensi sebagai bahan baku pangan. Salah satu sifat penting itu adalah nonalergenik sehingga secara khusus dapat dimanfaatkan sebagai substitusi tepung lain, terutama tepung terigu untuk orang yang alergi terhadap gluten dan produk lainnya. Selain itu, tepung beras dapat diproses secara ekstrusi menjadi berbagai produk pasta, keripik, sereal sarapan, dan makanan ringan lainya. Tepung beras diperoleh dengan menggiling beras pecah atau patah, yaitu beras yang ukurannya kurang dari 3/4 ukuran biji utuh. Jadi, merupakan hasil samping dengan ekonomi lebih rendah. Peneliti dari Departemen Pertanian Amerika (USDA), Radjit S. Kadan, berhasil mengembangkan metode pembuatan french fries dari tepung beras. Salah satu keunggulannya, ternyata selama masa penggorengan sedikit menyerap minyak, yaitu 25-50 persen. Dengan karakteristik seperti ini, french fries dari tepung beras ini bisa menjadi alternatif bagi konsumen yang ingin mengurangi lemak. Hasil penelitian ini dipublikasikan dalam majalah Agricultural Research (Mei 2002). http://duniasapi.com/dedak-sebagai-bahan-pakan-sapi/

beda molasses
molase, gula hasil sampingan, coklat cair sisa setelah panas kristalisasi sukrosa (gula komersial) dalam proses penyulingan. Molase mengandung gula terutama yang uncrystallizable serta beberapa sisa sukrosa. Centrifuges digunakan untuk mengeringkan molase lepas dari kristal sukrosa. Molasses sering diolah kembali untuk mengambil sisa-sisa ini lebih banyak sukrosa. Nilai yang lebih baik, seperti New Orleans dan Barbados molase tetes molase-unreprocessed dan karena itu lebih ringan dalam warna dan mengandung lebih sukrosa-yang digunakan untuk memasak dan gula-gula dan dalam produksi rum. Nilai terendah, disebut sejenis minuman keras murah, terutama digunakan dalam campuran pakan ternak dan di industri pembuatan alkohol. Tebu tebu, tinggi tanaman keras tropis (jenis saccharum, terutama S.

officinarum) dari keluarga Gramineae (rumput keluarga), mungkin dibudidayakan di Asia asli dari jaman prasejarah. ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. adalah sumber utama molasses; pabrik gula lainnya, misalnya, gula bit, menghasilkan jenis rendah. Nama molase kadang-kadang diterapkan untuk sirup diperoleh dari gandum dan gula maple. Di Britania Raya, molasses disebut karamel. tebu, tinggi tanaman keras tropis (jenis saccharum, terutama S. officinarum) dari keluarga Gramineae (rumput rumput, setiap tanaman dari keluarga Gramineae, yang penting dan didistribusikan secara luas kelompok tumbuhan vaskular, memiliki rentang adaptasi yang luar biasa. Numbering sekitar 600 9.000 genera dan spesies, membentuk rumput klimaks vegetasi (lihat ekologi) dengan sangat ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. keluarga), mungkin dibudidayakan di Asia asal mereka dari jaman prasejarah. Tebu agak mirip jagung dan sorgum, dengan malai terminal besar dan noded tangkai. Dalam zaman Alkitab, salah satu agen pemanis yang dikenal di dunia adalah madu. Tidak sampai Abad Pertengahan bahwa "madu-bantalan India buluh" diperkenalkan ke Timur Tengah dan menjadi diakses ke Eropa, di mana gula dijual dari druggists 'rak sebagai obat yang mahal atau mewah. Belakangan, tanaman tebu diperkenalkan oleh penjelajah Spanyol dan Portugis dari 15 dan 16 persen. seluruh Dunia Lama dan Baru tropis, dan industri rotan besar dengan cepat mengambil bentuk. Saat ini, tebu dan gula bit (lihat bit bit, akar dua tahunan atau tahunan dari keluarga sayur Chenopodiaceae (goosefoot keluarga). The bit (Beta vulgaris) sudah dibudidayakan sejak pra-Kristen kali. ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. ), Sebuah tanaman beriklim dikembangkan sebagai sumber gula komersial c.1800, adalah dua sumber ekonomi utama gula gula, senyawa karbon, hidrogen, dan oksigen milik kelas substansi yang disebut karbohidrat. Gula jatuh ke dalam tiga kelompok: monosakarida, disakarida, dan trisaccharides. ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. . Kuba dan India bersama-sama menghasilkan persentase besar di dunia tropis gula, gula tebu. Tebu dipanen dengan menebang batang tanaman, yang kemudian ditekan beberapa kali untuk mengambil jus. Jus terkonsentrasi oleh penguapan menjadi gelap, lengket gula, sering dijual secara lokal. Gula halus, kurang bergizi sebagai makanan, dapat diperoleh dengan menimbulkan luar komponen non-gula. Hampir sukrosa murni sukrosa (s ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. , Itu merupakan produk komersil utama. Produk sampingan yang diperoleh dari molase tebu termasuk molase, gula hasil sampingan, coklat cair sisa setelah panas kristalisasi sukrosa (gula komersial) dalam proses penyulingan. Molase mengandung gula terutama yang uncrystallizable serta beberapa sisa sukrosa. ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. , Rum rum, minuman alkohol dibuat dari produk tebu yang difermentasi. Disusun oleh fermentasi, penyulingan, dan penuaan, itu terbuat dari molase dan busa yang naik ke puncak rebus air tebu. ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. , Alkohol, bahan bakar, pakan ternak, dan dari sisa batang, kertas dan wallboard. Tebu diklasifikasikan dalam divisi Magnoliophyta Magnoliophyta (măg'nōlēŏf `ətə) ..... Klik link untuk informasi lebih lanjut. , Kelas Liliopsida, ketertiban Cyperales, keluarga Poaceae (Gramineae).


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Categories:
Tags:
Stats:
views:4659
posted:1/28/2010
language:Indonesian
pages:11
Description: jerami merupakan pakan limbah yang sangat berguna bagi ternak ruminansia. sebab ternak ruminansia mampu mengolah produksinya dengan baik pada lambungnnya walaupun kualitas pakan yang diberikan tersebut jelek.