Docstoc

PENERAPAN_METODE_PEMBELAJARAN_PORTOFOLIO_DENGAN_PENDEKATAN_SAINS_

Document Sample
PENERAPAN_METODE_PEMBELAJARAN_PORTOFOLIO_DENGAN_PENDEKATAN_SAINS_ Powered By Docstoc
					PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PORTOFOLIO DENGAN PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI dan MASYARAKAT (STM) PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS X SMA NEGERI 15 SEMARANG

SKRIPSI
Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan Ekonomi pada Universitas Negeri Semarang

Oleh Asiyah 3301402078

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2007

PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh Pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi pada : Hari Tanggal : Kamis : 8 Februari 2007

Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Subowo, M.Si M.Si NIP. 131404311

Drs.

Kusmuriyanto,

NIP. 131404304

Mengetahui: Ketua Jurusan Akuntansi

Drs. Sukirman, M.Si NIP. 131967646

ii

PENGESAHAN KELULUSAN

Skripsi ini telah dipertahankan di depan Sidang Panitia Ujian Skripsi Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Semarang pada : Hari Tanggal : Senin : 26 Februari 2007

Penguji Skripsi

Dra. Murwatiningsih, MM. NIP. 130812919

Anggota I

Anggota II

Drs. Subowo, M.Si M.Si NIP. 131404311

Drs.

Kusmuriyanto,

NIP. 131404304

Mengetahui, Dekan Fakultas Ekonomi

Drs. Agus Wahyudin, M.Si NIP. 131658236

iii

PERNYATAAN

Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain, baik sebagian atau seluruhnya. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.

Semarang, 22 Februari 2007

Asiyah NIM. 3301402078

iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO

“ Jika manusia harus lama menanti apa yang diinginkannya maka hilanglah kesabarannya dan sempitlah dadanya. Ia pun lupa bahwa di dalam penciptaan ini Allah memiliki sunah-sunah yang tidak akan berubah; bahwa segala sesuatu ini mempunyai waktu yang telah ditetapkan; bahwa Allah tidak akan dapat dipengaruhi oleh ketergesa-gesaan seorang pun. Setiap buah memiliki batas waktu matang. Ketergesa-gesaan seseorang tidak akan dapat mendatangkan sebelum batas waktunya, sebab ia tunduk pada sunnatullah yang mengaturnya. Tak seorangpun dapat memaksanya”. (Dr. Yusuf Qardhawi) Suatu ilmu tidak akan didapatkan kecuali dengan enam hal: kecerdasan, gemar belajar, sungguh-sungguh, memiliki biaya, bergaul dengan guru dan perlu waktu yang lama. (Imam Syafi’i)

Karya ini aku persembahkan kepada:
Emakku tercinta (Sumiyatun), yang dengan penuh ketegaran dan kesabaran telah menjadi penopang hidupku, dan selalu mendoakanku Bapakku (Mat Saman), yang telah memberikan kepercayaan kepadaku Adekku Kasmuni,dan Sabibbullah, yang selalu memberikan dukungan dan motivasi kepadaku Keluarga besarku, yang telah memberikan dukungan kepadaku Sahabat-sahabat baikku, di Wisma Muslimah Tiga Dara Sekaran Teman-teman seperjuangan, di pendidikan ekonomi akuntansi angkatan 2002 Almamaterku

v

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga skripsi dengan judul “Penerapan Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMA Negeri 15 Semarang” dapat terselesaikan dengan baik. Skripsi ini disusun untuk menyelesaikan studi strata 1 (satu) guna meraih gelar Sarjana Pendidikan. Berkat bantuan dan dukungan berbagai pihak, penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Prof. Dr. Sudijono Sastroatmodjo, M.Si, Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberi kesempatan kepada peneliti untuk menimba ilmu di UNNES. 2. Drs. Agus Wahyudin M.Si, Dekan Fakultas Ekonomi, yang telah memberi kemudahan administrasi dalam perijinan penelitian. 3. Drs. Sukirman, M.Si, Ketua Jurusan Akuntansi, yang telah memberikan kemudahan administrasi dalam penyusunan skripsi. 4. Drs. Subowo, M.Si, Dosen Pembimbing I yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan tulus. 5. Drs. Kusmuriyanto, M.Si, Dosen Pembimbing II yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan tulus. 6. Dra. Murwatiningsih, MM, Dosen Penguji yang telah memberikan bimbingan dan arahan dengan tulus. 7. Drs. Hari Waluyo, Kepala Sekolah SMA Negeri 15 Semarang, yang telah memberi ijin dan membantu dalam penelitian ini. vi

8.

Drs. Budiyono, guru akuntansi kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang, yang telah membantu dalam penelitian ini.

9.

Siswa-siswi kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang yang telah membantu dalam penelitian ini

10. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah memberikan dukungan moral maupun materi dalam penyusunan skripsi ini. Dengan keterbatasan pengetahuan dan kemampuan, penulis yakin bahwa skripsi ini jauh dari sempurna. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini. Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi para pembaca.

Semarang, 22 Februari 2007

Peneliti

vii

SARI Asiyah. 2007. Penerapan Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Pada Mata Pelajaran Ekonomi Kelas X SMA Negeri 15 Semarang. Jurusan Akuntansi Program Studi Pendidikan Ekonomi Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Semarang. Kata Kunci: Penerapan Metode Pembelajaran Pendekatan STM, Hambatan-hambatan Portofolio dengan

Metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM merupakan metode pembelajaran yang dirancang agar peserta didik dapat memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik dengan mengaitkan konsep Sains yang dipelajari, Teknologi dan Masyarakat (STM). Dalam pembelajaran ini siswa mencari data langsung dari mulai identifikasi masalah sampai pelaksanaan gelar kasus (show case) hal ini dapat mendekatkan siswa dengan objek yang dibahas. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini adalah; (1) bagaimana penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 15 Semarang kelas X tahun ajaran 2006/2007?, dan (2) hambatan-hambatan apakah yang ditemui dalam menerapkan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM?. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, pengumpulan data menggunakan metode pengamatan (observasi), wawancara, dan dokumentasi. Kemudian data dianalisis dengan cara menggunakan analisis interaktif. Fokus dalam penelitian ini adalah guru yang mengajar menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dan siswa yang diajar menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang dilaksanakan satu kali dalam setahun yaitu pada semester ganjil dalam kegiatan ekstrakurikuler dari mulai apersepsi/inisiasi/eksplorasi (identifikasi masalah) sampai dengan aplikasi konsep/nilai moral/pengembangan sikap melalui gelar kasus (show case) dalam bentuk portofolio dokumentasi dan portofolio tayangan, di SMA Negeri 15 Semarang kegiatan ini dinamai praktik belajar kewarganegaraan. Pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dapat meningkatkan antusiasme siswa, sehingga siswa menjadi aktif hal ini terlihat siswa sering melontarkan pertayaan dan pernyataan yang jauh dari dugaan guru. Sedangkan hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yaitu waktu, biaya, kompetensi guru, dan kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga, masyarakat khususnya para birokrat. Waktu dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yaitu dimulai pada minggu ke20 (14 Nov 2006) sampai minggu ke-27 (29 Desember 2006). Kompetensi guru ekonomi di SMA Negeri 15 Semarang sudah cukup baik hanya saja mereka belum terbiasa dan masih awam dengan metode pembelajaran seperti ini. Biaya untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM ditanggung oleh siswa. Kerja sama sekolah, keluarga, masyarakat terutama viii

birokrat terjalin pada saat siswa mengunjungi Dinas Kesehatan (DINKES) kota Semarang, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan para Perajin tahu di Kampung Tandang. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM menjadikan siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar mengajar. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yang menonjol adalah jalinan komunikasi antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat khususnya para birokrat masih kurang karena belum terbiasa. Untuk itu diharapkan para guru perlu mencoba pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Selain itu sekolah perlu menjalin kerja sama yang lebih baik dengan keluarga, masyarakat terutama para birokrat untuk menerapkan metode pembelajaran seperti ini atau sejenisnya.

ix

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.............................................................................................. i PERSETUJUAN PEMBIMBING......................................................................... ii PENGESAHAN KELULUSAN .......................................................................... iii PERNYATAAN................................................................................................... iv MOTTO DAN PERSEMBAHAN ........................................................................ v PRAKATA........................................................................................................... vi SARI................................................................................................................... viii DAFTAR ISI......................................................................................................... x DAFTAR TABEL.............................................................................................. xiv DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ xv DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah................................................................................. 1 1.2. Perumusan Masalah ..................................................................................... 10 1.3. Tujuan Penelitian ......................................................................................... 10 1.4. Kegunaan Penelitian .................................................................................... 10 1.5. Penegasan Istilah.......................................................................................... 12 1.6. Sistematika Skripsi....................................................................................... 13

BAB II LANDASAN TEORI 2.1. Belajar dan Pembelajaran............................................................................. 16 2.1.1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran...................................................... 16 2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran ............... 16 2.2. Metode Pembelajaran................................................................................... 19 2.2.1. Pengertian Metode Pembelajaran............................................................ 19 2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembelajaran yang Efektif.............. 19 2.3. Metode Pembelajaran Konvensional............................................................ 22

x

2.3.1. Pengertian Metode Pembelajaran Konvensional .................................... 22 2.4. Metode Pembelajaran Portofolio.................................................................. 24 2.4.1. Pengertian Metode Pembelajaran Portofolio .......................................... 24 2.4.2. Landasan Pemikiran Metode Pembelajaran Portofolio........................... 25 2.4.3. Prinsip Dasar Metode Pembelajaran Portofolio...................................... 28 2.4.4. Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio Kelas................................... 31 2.4.5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Portofolio........................................ 35 2.4.6. Perbedaan Penilaian Portofolio dan Penilaian Konvensional ................. 35 2.5. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM).................................. 36 2.5.1. Pengertian Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)........... 36 2.5.2. Landasan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)............. 40 2.5.3. Karakteristik atau Ciri-ciri Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) ............................................................................... 41 2.5.4. Langkah-langkah Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)............................................................................................................ 42 2.5.5. Kesulitan dan Kendala yang dihadapi dalam Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) .......................................................... 46 2.5.6. Faktor Pendukung dalam Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)...................................................................................................... 47 2.5.7. Perbedaan Metode Pembelajaran Konvensional dan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) ................................................ 47 2.6. Mata Pelajaran Ekonomi .............................................................................. 49 2.6.1. Pengertian Mata Pelajaran Ekonomi....................................................... 49 2.6.2. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi ......................................... 49 2.6.3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Ekonomi ............................................... 50 2.7. Materi Mata Pelajaran Ekonomi tentang Permasalahan Ekonomi................ 50 2.7.1. Masalah Pokok Ekonomi ........................................................................ 50 2.7.2. Sistem Ekonomi ...................................................................................... 51 2.7.3. Peran Pelaku Ekonomi ............................................................................ 53

xi

2.7.4. Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi (Circulair Flow Diagram) ....................................................................................................... 55 2.7.5. Manfaat Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi bagi Pemerintah............... 56 2.8. Kompetensi Guru ......................................................................................... 58 2.8.1. Fungsi, Peranan Guru, dan Kompetensinya............................................ 58 2.8.2. Peranan dan Kompetensi Guru dalam Proses Belajar Mengajar ............ 60 2.9. Kerangka Berpikir........................................................................................ 62

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Pendekatan Penelitian .................................................................................. 73 3.2. Lokasi Penelitian.......................................................................................... 74 3.3. Fokus Penelitian ........................................................................................... 74 3.4. Sumber Data Penelitian.................................................................................. 76 3.4.1. Data Primer ............................................................................................. 77 3.4.2. Data Sekunder ......................................................................................... 77 3.5. Metode Pengumpulan Data .......................................................................... 77 3.5.1. Pengamatan ............................................................................................. 77 3.5.2. Wawancara.............................................................................................. 79 3.5.3. Dokumentasi ........................................................................................... 80 3.6. Keabsahan Data............................................................................................ 81 3.7. Analisis Data ................................................................................................ 83 3.7.1. Pengertian Analisis Data ......................................................................... 83 3.7.2. Bentuk atau Cara Melakukan Analisis Data ........................................... 83 3.8. Prosedur Penelitian ...................................................................................... 89 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Hasil Penelitian ............................................................................................ 91 4.1.1. Gambaran Umum SMA Negeri 15 Semarang ........................................ 91 4.1.2. Pelaksanaan Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang........................................................ 93 a. Persiapan Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang................................................... 93

xii

b. Proses Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang................................................... 95 4.1.3. Evaluasi Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang....................................................... 117 4.1.4. Hambatan-Hambatan Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang ................................... 123 a. Waktu .............................................................................................. 123 b. Biaya ............................................................................................... 124 c. Kompetensi Guru ............................................................................ 124 d. Kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat khususnya, para birokrat ...... 125 4.2. Pembahasan................................................................................................ 126

BAB V PENUTUP 5.1. Simpulan .................................................................................................... 141 5.2. Saran........................................................................................................... 142

Daftar Pustaka ................................................................................................... 144 Lampiran-lampiran............................................................................................ 147

xiii

DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1 Perbedaan Penilaian Portofolio dan Penilaian Konvensional .............. 36 Tabel 2 Perbedaan Metode Pembelajaran Konvensional dan Pendekatan STM ..................................................................................................... 48 Tabel 3 Daftar Masalah dan Pemungutan Suara Tahap Pertama ...................... 98 Tabel 4 Daftar Masalah dan Pemungutan Suara Tahap Kedua......................... 99 Tabel 5 Hasil Penilain Metode Pembelajaran Portofolio dengan

Pendekatan STM ................................................................................ 120 Tabel 6 Hasil Penilain Total (Portofolio Tanyangan) Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan STM Kelas X-3 SMA Negeri Tabel 7 Hasil 15 Semarang .............................................................. 120 Total (Portofolio Presentasi) metode

Penilaian

pembelajaran

Portofolio dengan Pendekatan STM kelas X-3

SMA Negeri 15 semarang................................................................... 121

xiv

DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1 Gambar 2 Gambar 3 Gambar 4 Gambar 5 Gambar 5 Gambar 7 Gambar 8 Gambar 9 Gambar 10 Gambar 11 Gambar 12 Kerucut Pengalaman Belajar.......................................................... 33 Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio...................................... 34 Keterkaitan Sains Teknologi dan Masyarakat................................ 37 Langkah-langkah Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat .................................................................................... 45 Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi Perekonomian Sederhana ....................................................................................... 55 Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi Perekonomian Terbuka .......................................................................................... 56 Kerangka Berpikir......................................................................... 72 Komponen dalam Analisis Data Kualitatif (Interaktif Model ) ..... 85 Kelompok Kecil yang telah dibentuk pada Fase Identifikasi Masalah .......................................................................................... 98 Siswa sedang Menanyakan Proses Pembuatan Tahu ..................... 102 Siswa bersama Bapak Warsino, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat ................................................................................... 102 Pemberian Materi kepada Siswa mengenai Cara Kerja Alat Pendeteksi Formalin (Rapites) pada Waktu Kunjungan ke DINKES ........................................................................................ 104 Para Siswa sedang Mengamati Bahan Pangan dan Produk Pangan yang tidak boleh Dikonsumsi Manusia, Contohnya Formalin, Borak, Pewarna Dll ...................................................... 107 Para Siswa Sedang Memperhatikan Pemaparan dari Pihak BPOM Melalui LCD ..................................................................... 107 Contoh portofolio Tayangan yang dihasilkan oleh Kelompok Portofolio 1,2,3 dan 4.................................................................... 111 Dewan Juri sedang melakukan Penilaian Portofolio Tayangan dan Dokumentasi yang dihasilkan Kelompok Portofolio 1, 2, 3 dan 4 ........................................................................................... 112 Presentasi Kelompok Portofolio 1: Menjelaskan Masalah ........... 113 Presentasi Kelompok Portofolio 2: Mengkaji Kebijakan Alternatif untuk Mengatasi Masalah............................................. 114 Presentasi Kelompok Portofolio 3: Mengusulkan Kebijakan Publik Untuk Mengatasi Masalah ................................................. 114 Presentasi Kelompok Portofolio 4: Membuat Rencana Tindakan........................................................................................ 115 Para Siswa memperhatikan Guru yang sedang Melakukan Refleksi Pengalaman Proses Belajar-Mengajar ............................ 117 Siswa sedang menyampaikan Pertanyaan Kepada Kelompok Portofolio yang sedang Presentasi ................................................ 122 Siswa sedang menyampaikan Pernyataan/Mengomentari Pendapat Siswa Lain ..................................................................... 122

Gambar 13

Gambar 14 Gambar 15 Gambar 16

Gambar 17 Gambar 18 Gambar 19 Gambar 20 Gambar 21 Gambar 22 Gambar 23

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5 Lampiran 6 Lampiran 7 Lampiran 8 Lampiran 9 Lampiran 10 Lampiran 11 Lampiran 12 Silabus dan Sistem Penilaian .................................................... Pengalokasian Waktu Kegiatan Intra dan Ekstrakulikuler....... Rencana Pembelajaran ............................................................. Penilaian Portofolio.................................................................. Pedoman Pengamatan/Observasi ............................................. Pedoman Wawancara ............................................................... Pedoman Dokumentasi ............................................................ Daftar Tim Peneliti................................................................... Daftar Kelompok Portofolio .................................................... Hasil Refleksi Pengalaman Belajar.......................................... Keterkaitan Unsur-unsur Sains Teknologi dan Masyarakat..... Hasil Portofolio Dokumentasi Kelompok Portofolio 1, 2, 3 dan 4 ......................................................................................... Lampiran 13 Surat-surat Penelitian ............................................................... 147 150 152 158 163 164 169 170 172 174 177 178 202

xvi

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional ini merumuskan secara tegas mengenai dasar, fungsi, dan tujuan pendidikan nasional. Pasal 2 Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional menetapkan bahwa pendidikan nasional berdasarkan Pancasila dan UUD 1945, sedangkan fungsinya yaitu mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat, dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tujuan pendidikan nasional adalah mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional). Bertitik tolak dari dasar, fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut menjadi jelas bahwa manusia Indonesia yang hendak dibentuk melalui proses pendidikan bukan sekedar manusia yang berilmu pengetahuan semata tetapi sekaligus membentuk manusia Indonesia yang berkepribadian sebagai warga negara Indonesia yang demokratis dan bertanggung jawab. Kemajuan suatu bangsa sangat ditetukan oleh kualitas sumber daya manusia. Kualitas sumber daya manusia tegantung pada kualitas pendidikan.

1

2

Peran pendidikan sangat penting untuk menciptakan masyarakat yang cerdas, damai, terbuka, dan demokratis. Berdasarkan laporan beberapa lembaga internasional yang berkaitan dengan tingkat daya saing sumber daya manusia Indonesia dengan negara-negara lain menunjukkan fakta yang kurang menggembirakan. Seperti yang terungkapkan dalam catatan Human Development Report tahun 2000 versi UNDP, peringkat HDI (Human Development Indeks) kualitas sumber daya manusia Indonesia

berada di urutan 105 dari 108 negara. Indoesia berada jauh di bawah Filipina (77), Thailand (76), Malaysia (61), Brunei Darussalam (32), Korea Selatan (30), dan Singapura (24). Organisasi internasional lainnya juga menguatkan hal itu. International Educational Achievement (IEA) melaporkan bahwa kemampuan membaca anak SD di Indonesia berada diurutan 38 dari 39 negara yang disurvei. Sementara itu, Thrid Mathematic and Science Study (TIMSS), lembaga yang mengukur hasil pendidikan di dunia, melaporkan bahwa kemampuan matematika anak-anak SMP di Indonesia berada diurutan 34 dari 38 negara, sedangkan kemampuan IPA berada di urutan 32 dari 38 negara (Nurhadi, 2004:6). Rendahnya mutu sumber daya manusia Indonesia tidak lepas dari hasilhasil yang dicapai oleh pendidikan selama ini. Selama ini pendidikan hanya tampak dari kemampuan siswa menghafal fakta-fakta walaupun banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya mereka seringkali tidak memahami secara mendalam subtansi materinya. Dampaknya, sebagian besar dari siswa tidak mampu

menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pengetahuan

3

tersebut akan dimanfaatkan. Mereka sangat perlu untuk memahami konsep-kosep yang berhubungan dengan tempat kerja dan masyarakat pada umumnya di mana mereka akan hidup dan bekerja. Siswa memiliki kesulitan memahami konsep akademik sebagaimana mereka biasa diajarkan, yaitu menggunakan sesuatu yang abstrak dan metode ceramah. Dunia pendidikan dewasa ini cenderung kembali kepada pemikiran bahwa anak akan belajar lebih baik lagi jika lingkungan diciptakan secara alamiah. Belajar akan lebih bermakna jika anak “mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya, bukan “mengetahuinya”. Pembelajaran yang berorientasi target penguasaan materi terbukti berhasil dalam kompetisi “mengingat” jangka pendek, tetapi gagal dalam membekali anak memecahkan persoalan dalam kehidupan jangka panjang. Oleh karena itu pembaharuan pendidikan harus dilakukan. Persoalan rendahnya mutu pendidikan merupakan tantangan yang dihadapi oleh guru setiap hari dan pengembang kurikulum. Persoalan-persoalan tersebut dicoba diatasi dengan penerapan suatu paradigma baru dalam pembelajaran di sekolah, yaitu penerapan kurikulum berbasis kompetensi. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) adalah konsep kurikulum yang dikembangkan Departemen Pendidikan Nasional RI untuk menggantikan kurikulum 1994. KBK dirancang sejak tahun 2000. Dalam tahap-tahap pengembangannya, konsep kurikulum itu dikenal luas sebagai KBK. Setelah dokumen kurikulum tersebut mendekati sempurna dan mulai diterapkan pada tahun 2004, kurikulum tersebut diberi nama kurikulum 2004. Jadi, kurikulum 2004 adalah sama saja dengan KBK.

4

Kurikulum 2004 menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pengembangan daya kognitif, afektif, psikomotor siswa, pengembangan kurikulum bersifat desentralisasi, kurikulum ini menggantikan kurikulum 1994 yang pendekatannya adalah penguasaan ilmu pengetahuan dengan berorientasi pada content education dan pola pengembangan bersifat sentralisasi. Pembelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 15 Semarang masih didominasi oleh pendidikan ekspositorik dan hanya mengejar target yang berorientasi pada ujian akhir, sehingga dalam pembelajaran tersebut para siswa selalu diposisikan sebagai pemerhati ceramah guru. Berdasarkan pengamatan, selama ini dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran guru terbiasa menggunakan metode konvensional, dimana siswa kurang terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran. Siswa cenderung hanya mendengar dan menerima penjelasan dari guru tanpa diberi kasempatan untuk mengutarakan pendapatnya secara lebih luas dan terbuka. Setelah itu, siswa diberi tugas atau latihan yang sifatnya cenderung pada penilaian kognitif saja. Tugas atau latihan tersebut juga tidak selalu dievaluasi, atau dibahas bersama siswa, sehingga siswa tidak mengetahui hasil dari pembelajarannya tersebut. Kondisi seperti itu tidak memberdayakan para siswa untuk mau dan mampu berbuat untuk memperkaya belajarnya (learning to do) dengan meningkatkan interaksi dengan lingkungannya. Sehingga tidak akan bisa membangun pemahaman dan pengetahuan terhadap dunia sekitarnya (learning to know). Lebih jauh lagi mereka pun tidak memiliki kesempatan untuk membangun pengetahuan dan kepercayaan dirinya (learning to

5

be), maupun kemampuan berinteraksi dengan berbagai individu atau kelompok yang beragam (learning to live together) di masyarakat (Depdiknas, 2004: 9-10). Menurut Bapak Budiyono (Guru ekonomi SMA Negeri 15 Semarang) dengan metode konvensional kemampuan siswa dalam mengaplikasikan apa yang telah diperoleh di kelas ke dalam kehidupan nyata masih kurang, karena banyak pembelajaran/materi ekonomi yang tidak berhubungan secara langsung dengan kondisi nyata. Guru pun tidak bisa bertindak sebagai pihak yang mengkondisikan dan memotivasi siswa untuk belajar (director of learning) karena siswa tidak dibiasakan mandiri untuk memperkaya pengalaman belajarnya dan guru terlalu protected kepada siswa. Salah satu usaha yang tidak pernah guru tinggalkan, bagaimana memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilan kegiatan belajar-mengajar, metode pembelajaran merupakan cara atau strategi yang digunakan guru dalam melaksanakan kegiatan belajar-mengajar. Menurut Djamarah dan Zain (2002:82) metode memiliki kedudukan sebagai alat motivasi ekstrinsik, sebagai strategi pengajaran, dan sebagai alat untuk mencapai tujuan. Sebagai alat motivasi ekstrinsik dalam KBM menurut Sardiman A.M (dalam Djamarah dan Zain, 2002:83) metode berfungsi sebagai alat perangsang dari luar yang dapat membangkitkan belajar seseorang, sebagai strategi pengajaran metode berfungsi sebagai teknik penyajian

pembelajaran agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien. Sedangkan sebagai alat mencapai tujuan metode berfungsi sebagai alat penunjang kegiatan

6

belajar-mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pembelajaran. Dalam memilih metode mangajar guru tidak boleh memilih secara asalasalan. Metode yang digunakan haruslah metode yang direncanakan berdasarkan pertimbangan perbedaan individu di antara siswa, yang dapat memberi feedback dan inisiatif murid untuk memecahkan masalah yang dihadapinya. Dapat dikatakan berhasil tidaknya kegiatan pembelajaran, tergantung pada efektif tidaknya metode mengajar yang dipergunakan oleh guru dalam proses belajarmengajar. Namun berdasarkan hasil pengamatan, dengan metode pembelajaran konvensional yang selama ini diterapkan oleh seorang guru, hasil pembelajaran yang diinginkan belum dapat tercapai secara optimal, karena siswa belum diberi kesempatan secara luas untuk mengembangkan minat, bakat, dan kemampuannya. Pembelajaran yang dilakukan terkesan monoton dan tidak menggairahkan siswa untuk belajar lebih aktif lagi. Hal itu mengakibatkan siswa kurang berminat untuk mengikuti dan melaksanakan proses belajar-mengajar, sehingga tujuan

pembelajaran yang diinginkan tidak dapat tercapai secara optimal. Berdasarkan wawancara dengan Bu Shanti (Guru ekonomi SMA Negeri 15 Semarang) untuk menyampaikan mata pelajaran ekonomi harus dilakukan dengan mengkombinasikan beberapa metode yaitu ceramah, penugasan, studi lapangan. Berkenaan dengan metode studi lapangan beliau menyatakan bahwa pembelajaran ekonomi memang seharusnya siswa dibawa ke lapangan untuk memahami peristiwa ekonomi dan berlatih untuk memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat karena ilmu ekonomi merupakan ilmu yang

7

berkembang dan teori-teorinya selalu berubah sesuai perkembangan zaman. Dengan metode ini siswa sangat senang, responsif, termotivasi untuk belajar, banyak pertanyaan dan pernyataan yang dilontarkan siswa kepada guru. Selain itu siswa dapat memahami secara langsung teori yang dipelajari dengan aplikasinya di masyarakat, guru pun tidak over protected dan mereka dapat berperan sebagai director of learning karena siswa menjadi subyek dalam pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengujikan metode pembelajaran sebagai alternatif untuk mengatasi rendahnya mutu pendidikan nasional, sekaligus membuat pembelajaran ekonomi di Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 15 Semarang lebih inovatif, yaitu dengan metode pembelajaran berbasis portofolio (Portfolio Based Learning) dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) (STS). Pengajaran berbasis masalah merupakan salah satu pendekatan dan strategi pembelajaran yang mendukung pelaksanaan kurikulum 2004, yang di dalamnya dikembangkan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, Pengajaran berbasis masalah (problem based learning) adalah suatu pendekatan pengajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berfikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran (Nurhadi, 2004:109) Metode pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM merupakan alternatif cara belajar aktif (CBSA) dan mengajar guru aktif (CMGA). atau dalam bahasa inggrisnya Science Technology Society Approach

8

Karena sebelum, selama, dan sesudah proses pembelajaran guru dan siswa dihadapkan pada sejumlah kegiatan. Dalam pembelajaran ini termuat beberapa metode pembelajaran seperti inquiry, problem solving, discovery, peristiwa, ceramah dan diskusi. Diharapkan siswa akan mendapat banyak manfaat baik hasil belajar utama (yang berinternalisasi secara manusiawi dan mantap) maupun hasil pengiring akademik sosial dan sikap pangertian. Di samping itu melalui pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, pengertian, pemahaman, dan daya nalar siswa semakin kreatif dan kritis analitik, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Pendekatan yang digunakan dalam pembelajaran Ekonomi adalah pendekatan pemecahan masalah-masalah ekonomi di masyarakat terutama dalam mencari alternatif pemecahannya. Agar pembelajaran lebih bermakna maka penyajian materi dimulai dari mengidentifikasi fakta tentang peristiwa dan permasalahan ekonomi, pemahaman beberapa konsep dan ilmu dasar ekonomi, mencari alternatif pemecahan masalah ekonomi serta menilai kebaikan dan keburukan kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi (Fajar, 2004:129). Dari uraian tentang mata pelajaran ekonomi di atas, sangatlah tepat apabila dalam praktik kegiatan pembelajarannya menggunakan pembelajaran portofolio, yaitu portofolio sebagai model pembelajaran dengan pendekatan STM. Hal ini merupakan suatu alternatif dan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Dengan pembelajaran ini siswa dihadapkan pada masalah sehari-hari dan berusaha

9

mencari alternatif pemecahannya. Dengan kata lain melalui pembelajaran ini mendekatkan konsep yang dipelajari pada obyek secara nyata seperti yang dikehendaki pada pendekatan mata pelajaran pengetahuan sosial di atas. Penelitian ini digunakan untuk membantu guru-guru PS (Pengetahuan Sosial) terutama yang mengampu mata pelajaran ekonomi dalam meningkatkan kemampuan dan keterampilan dalam kegiatan pembelajarannya dan

mengembangkan model pembelajaran di kelas yang memotivasi dan mengarahkan minat belajar siswa diharapkan dengan kondisi seperti itu pada akhirnya prestasi siswa dapat meningkat. Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti mngambil judul “PENERAPAN METODE PEMBELAJARAN PORTOFOLIO DENGAN

PENDEKATAN SAINS TEKNOLOGI dan MASYARAKAT (STM) PADA MATA PELAJARAN EKONOMI KELAS X SMA NEGERI 15 SEMARANG” Adapun alasan dari pemilihan judul tersebut di atas adalah karena

sepanjang pengetahuan peneliti, belum ada peneliti lain yang melakukan penelitian mengenai penerapan metode pembelajaran portofolio dengan perndekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) pada mata pelajaran ekonomi. Selain itu, proses pembelajaran ekonomi yang berlangsung di sekolah selama ini lebih berfokus pada guru, sehingga siswa memiliki kecenderungan untuk bersikap pasif. Hal ini akan berdampak negatif terhadap hasil belajar siswa. Dengan demikian penerapan metode pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM dapat digunakan sebagai solusi alternatif bagi masalah tersebut. 1.2. Perumusan Masalah

10

Metode pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM merupakan salah satu metode pembelajaran dalam kurikulum 2004, sekarang sudah mulai diterapkan. Tetapi sebagai metode pembelajaran yang baru, penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM belum dapat diketahui secara nyata. Oleh kerena itu, penulis tertarik untuk meneliti penerapan metode pembelajaran porofolio dengan pendekatan STM, sehingga penulis mengangkat permasalahan sebagai berikut: a. Bagaimana penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. b. Hambatan-hambatan apakah yang ditemui dalam menerapkan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang.

1.3.Tujuan Penelitian Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka peneliti memiliki tujuan sebagai berikut: a. Untuk mengetahui bagaimana penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. b. Untuk mengetahui hambatan-hambatan dalam menerapkan metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. 1.4. Kegunaan Penelitian Kegunaan yang dapat diperoleh dari penelitian ini dapat berupa kegunaan secara teoritis dan kegunaan secara praktis.

11

a. Kegunaan secara praktis 1. Bagi siswa Siswa dapat mengenal berbagai kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat. 2. Bagi pihak sekolah Dapat digunakan sebagai bahan masukan untuk mengadakan variasi metode pembelajaran guna meningkatkan prestasi belajar siswa. 3. Bagi pihak pemerintah kota Semarang melalui Dinas Pendidikan Sebagai bahan pertimbangan untuk pembuatan kebijakan-kebijakan baru tentang pendidikan. b. Kegunaan secara teoritis 1. Pembaca Menambah pengetahuan pembaca tentang seluk-beluk dunia penelitian. 2. Peneliti berikutnya Hasil penelitian dapat menjadi masukan bagi peneliti-peneliti lain untuk mengadakan penelitian serupa di masa yang akan datang. 3. Peneliti yang bersangkutan Menambah hasil pengetahuan yang telah dimiliki peneliti dan merupakan wahana menerapkan ilmu pengetahuan yang telah didapat di bangku kuliah.

12

1.5. Penegasan Istilah Untuk menghindari salah penafsiran tentang istilah yang digunakan dalam penulisan ini maka perlu dibuat definisi operasional dan istilah-istilah sebagai berikut. a. Metode Pembelajaran Konvensional Merupakan metode pembelajaran dimana pembelajaran lebih terfokus pada guru dan kurang menekankan keaktifan siswa (Djamarah dan Zain, 2000:108). Dengan kata lain guru memegang peranan utama dalam

mengendalikan proses belajar-mengajar dan dalam menentukan isi dan proses belajar b. Metode Pembelajaran Berbasis Portofolio Portofolio yaitu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan yang telah ditentukan (Fajar, 2004:47). Metode pembelajaran ini meliputi proses pemilihan, pembandingan, kerjasama dan penetapan tujuan dalam mencari dan mengumpulkan informasi untuk memecahkan suatu masalah. c. Pendekatan STM Pendekatan menurut masalah. Dagun (2005:811) STM adalah berarti cara cara

menangani/memecahkan

Pendekatan

menangani/memecahkan masalah melalui keterhubungkaitan antara sains, teknologi, dan masyarakat. Dalam pendekatan ini siswa diharapkan memahami keterkaitan antara Sains, Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam mengatasi masalah. Sains di sini diartikan ilmu yang sedang dipelajari siswa (ekonomi),

13

teknologi yang ditekankan adalah dari sudut dampak penggunaan teknologi baik secara positif maupun negatif, dan masyarakat di sini adalah pihak yang menerima dampak dari penggunaan teknologi tersebut. d. Mata Pelajaran Ekonomi Dalam Kamus Besar Indonesia, ekonomi yaitu ilmu mengenai asas-asas produksi, distribusi dan pemakaian barang serta kekayaan (2002:287). Sedangkan dalam kurikulum 2004 mata pelajaran Ekonomi yaitu ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya yang ada melalui pilihan-pilihan kegiatan produksi, konsumsi, dan atau distribusi. Materi pelajaran ekonomi yang digunakan untuk menerapkan metode portofolio dengan pendekatan STM adalah tentang masalah ekonomi. Materi tersebut diberikan pada semester satu dengan standar kompetensi kemampuan memahami perilaku pelaku ekonomi dalam kaitan dengan kelangkaan, pengalokasian sumber daya, dan barang melalui mekanisme pasar.

1.6. Sistematika Skripsi Sistematika dalam penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian pokok, yaitu bagian awal, bagian isi, dan bagian akhir. Bagian awal skripsi terdiri dari halaman judul, halaman persetujuan, halaman pengesahan, halaman pernyataan, motto dan persembahan, prakata, sari, daftar isi, daftar tabel, daftar istilah, daftar gambar, dan daftar lampiran.

14

Bagian isi skripsi terdiri dari lima bab, yaitu sebagai berikut: Bab Pertama. Pendahuluan yang merupakan gambaran menyeluruh dari skripsi yang meliputi: latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, penegasan istilah dan sistematika penulisan skripsi. Bab Kedua. Landasan Teori. Pada bab ini berisi mengenai telaah pustaka dari sejumlah teori yang relevan dengan tema dalam penulisan ini, yang meliputi tulisan mengenai belajar dan pembelajaran, metode pembelajaran, metode pembelajaran konvensional, metode pembelajaran portofolio, pendekatan STM, mata pelajaran ekonomi, materi mata pelajaran ekonomi (masalah ekonomi), kompetensi guru. Selain telaah pustaka juga terdapat kerangka berpikir yang berupa penjelasan yang berfungsi sebagai pedoman kerja, baik dalam menyususn metode, pelaksanaan di lapangan, maupun pembahasan hasil penelitian. Bab Ketiga. Metode Penelitian. Dalam bab ini terdiri atas pendekatan penelitian, lokasi penelitian, fokus penelitian, sumber data penelitian, metode pengumpulan data, keabsahan data, analisis data, prosedur penelitian. Bab keempat. Hasil Penelitian dan Pembahasan. Dalam bab ini berisi hasil penelitian yang meliputi: (1) gambaran umum SMA Negeri 15 Semarang; (2) pelaksanaan pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang (persiapan pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang, proses pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang); (3) evaluasi

15

pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang; (4) hambatan-hambatan pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang Bab Kelima. Penutup. Dalam bab ini berisi simpulan mengenai kesimpulan yang ditarik dari analisis data dan saran atau masukan sebagai hasil rekomendasi. Bagian akhir skripsi, dalam bagian ini berisi daftar pustaka dan lampiranlampiran.

BAB II LANDASAN TEORI

2.1. Belajar dan Pembelajaran 2.1.1. Pengertian Belajar dan Pembelajaran Menurut Winkel dalam (Darsono, 2000:4) belajar yaitu suatu aktivitas mental atau psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang maknanya adalah pengalaman. Pengertian belajar secara umum yaitu terjadinya perubahan dalam diri orang yang belajar kerena pengalaman (Darsono, 2000:4). Belajar merupakan kegiatan aktif siswa dalam membangun makna atau pengalaman. Dengan demikian, guru perlu memberikan dorongan kepada siswa untuk menggunakan otoritasnya dalam membangun gagasan. Tanggung jawab belajar berada pada siswa, tetapi guru bertanggung jawab untuk menciptakan situasi yang mendorong prakarsa, motivasi, dan tanggung jawab siswa untuk belajar sepanjang hayat.

2.1.2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Belajar dan Pembelajaran Telah dikemukakan sebelumnya bahwa belajar adalah hal yang menimbulkan proses perubahan tingkah laku dan kecakapan. Sampai dimana perubahan itu dapat tercapai atau dengan kata lain, berhasil atau tidak bergantung pada beberapa faktor. mempengaruhi belajar yaitu: Menurut Slameto (2003:54) faktor-faktor yang

16

17

a. Faktor Intern Yang termasuk dalam faktor intern antara lain: 1. Faktor jasmaniah Yang termasuk faktor jasmaniah yaitu faktor kesehatan dan cacat tubuh. Kesehatan seseorang berpengaruh terhadap belajarnya. Proses belajar akan terganggu bila kesehatan seseorang terganggu. Demikian juga dengan cacat tubuh, siswa yang mempunyai cacat tubuh, belajarnya juga akan terganggu. Jika hal ini terjadi, hendaknya siswa tersebut belajar pada lembaga pendidikan khusus atau diusahakan alat bantu agar dapat menghindari atau mengurangi pengaruh kecacatannya itu. 2. Faktor psikologis Faktor yang tergolong dalam faktor psikologis yaitu antara lain; intelegensi, perhatian, minat, bakat, motif, dan kematangan. 3. Faktor kelelahan Kelelahan dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu kelelahan jasmani dan kelelahan rohani. Kelelahan jasmani terlihat dengan kondisi tubuh yang lemah dan kurang bersemangat. Kelelahan rohani dapat dilihat adanya kelesuan dan kebosanan, sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu menjadi hilang. b. Faktor Ekstern Yang termasuk dalam faktor ekstern yaitu: 1. Faktor keluarga

18

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa; cara orang tua mendidik, hubungan antara anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi rumah tangga. 2. Faktor sekolah Faktor sekolah yang mempengaruhi belajar ini mencakup metode mengajar, disiplin sekolah, standar pelajaran, keadaan gedung, metode belajar dan tugas rumah. 3. Faktor masyarakat Masyarakat merupakan faktor ekstern yang juga berpengaruh terhadap belajar siswa. Pengaruh itu terjadi karena keberadaan siswa dalam masyarakat. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang mengakibatkan perubahan tingkah laku, sedangkan pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh guru sedemikian rupa, sehingga tingkah laku siswa berubah ke arah yang lebih baik. Belajar-mengajar adalah dua kegiatan yang terjadi dalam satu kesatuan waktu dengan pelaku yang berbeda. Pelaku belajar adalah siswa dan pelaku mengajar adalah guru. Kegiatan siswa belajar dan guru adalah mengajar berlangsung dalam proses yang bersamaan untuk mencapai tujuan instruksional. Sehingga, proses belajar berarti hubungan aktif antara guru dengan siswa yang berlangsung dalam ikatan tujuan instruksional.

19

2.2. Metode Pembelajaran 2.2.1. Pengertian Metode Pembelajaran Agar proses pembelajaran dapat berlangsung efektif maka dalam proses belajar-mengajar guru seharusnya menggunakan strategi yang disebut strategi belajar-mengajar. Menurut Gulo (2002:3), strategi belajar-mengajar adalah rencana dan cara-cara membawakan pengajaran agar segala prinsip dasar dapat terlaksana dan segala pengajaran dapat dicapai. Di mana cara membawakan pengajaran itu dapat diartikan sebagai pola dan urutan umum perbuatan gurumurid dalam kegiatan belajar-mengajar, sedangkan pola dan urutan umum perbuatan guru murid itu merupakan suatu kerangka umum kegiatan belajarmengajar yang tersusun dalam suatu rangkaian bertahap menuju tujuan yang telah ditetapkan.

2.2.2. Faktor-faktor yang Mempengarui Pembelajaran yang Efektif Menurut Slameto (2002:83), untuk meningkatkan belajar yang efektif perlu memperhatikan beberapa hal berikut ini: a. Kondisi internal Yang dimaksud dengan kondisi internal adalah kondisi atau situasi yang ada di dalam diri siswa itu sendiri, misalnya kesehatannya, keimanannya, ketentramannya dan sebagainya.

20

b. Kondisi eksternal Yang dimaksud dengan kondisi eksternal adalah kondisi yang ada di luar diri pribadi manusia, umpamanya kebersihan rumah, penerangan, serta keadaan lingkungan fisik lainnya. c. Strategi belajar Belajar yang efisien tercapai bila dapat menggunakan strategi belajar yang tepat. Strategi belajar digunakan untuk mencapai hasil yang maksimal. Metode mengajar merupakan suatu cara atau jalan yang harus dilalui dalam mengajar. Dalam lembaga pendidikan, agar murid atau peserta didik dalam belajar dapat menerima, menguasai dan lebih-lebih mengembangkan hasil pelajaran, maka cara-cara mengajar harus tepat, efisien, dan efektif. Metode mengajar guru yang kurang baik akan mempengaruhi belajar siswa menjadi kurang baik pula. Metode mengajar yang kurang baik dapat terjadi misalnya, karena guru kurang persiapan dan kurang menguasai bahan pelajaran sehingga guru tersebut menyajikannya kurang jelas. Selain itu guru biasa mengajar dengan metode ceramah saja, sehingga siswa menjadi bosan, mengantuk, pasif, dan hanya mencatat materi yang disampaikan. Guru yang berani mencoba metode-metode yang baru, dapat membantu meningkatkan kegiatan belajar-mengajar dan meningkatkan motivasi siswa untuk belajar. Oleh karena itu agar siswa dapat belajar dengan baik, maka metode mengajar harus diusahakan tepat, efisien, dan efektif.

21

Mengajar yang efektif adalah mengajar yang dapat membawa belajar siswa yang efektif pula (Slameto, 2003:92). Lebih lanjut ia mengemukakan bahwa untuk melaksanakan mengajar yang efektif diperlukan syarat-syarat antara lain: a. Belajar secara aktif, baik mental maupun fisik Dalam belajar siswa harus mengalami aktivitas mental misalnya, mampu berpikir kritis, mampu mengalisis dan sebagainya. Selain itu, siswa juga harus mengalami aktivitas jasmani seperti mengerjakan sesuatu. b. Guru harus mempergunakan banyak metode pada waktu mengajar (variasi metode) Metode yang bervariasi mengakibatkan penyajian bahan pelajaran lebih menarik perhatian siswa, mudah diterima sehingga kelas menjadi hidup. c. Guru akan mengajar efektif mengajar. Dengan perencanaan yang matang dapat menimbulkan daya kreatif guru waktu mengajar sehingga dapat meningkatkan proses belajar-mengajar. d. Pelajaran di sekolah perlu dihubungkan dengan kehidupan nyata di masyarakat. Hal tersebut dimaksudkan agar bila siswa telah selesai pendidikannya, siswa tidak canggung bila bekerja di masyarakat. e. Guru harus mampu menciptakan suasana yang demokratis di sekolah. Dengan suasana yang demokratis akan menciptakan kondisi yang bila selalu membuat perencanaan sebelum

menyenangkan dan mengembangkan kemampuan berpikir siswa.

22

Mengingat belajar adalah proses bagi siswa dalam membangun gagasan atau pemahaman sendiri, maka kegiatan belajar-mengajar hendaknya memberikan kesempatan kepada siswa untuk melakukan hal itu secara lancar dan termotivasi. Suasana belajar yang diciptakan guru harus melibatkan siswa secara aktif seperti mengamati, bertanya, menjelaskan dan sebagainya. Tidak membantu siswa terlalu dini, menghargai usaha siswa walaupun hasilnya belum memuaskan dan menantang siswa sehingga berbuat dan berpikir merupakan contoh strategi guru.

2.3. Metode Pembelajaran Konvensional 2.3.1. Pengertian Metode Pembelajaran Konvensional Metode pembelajaran konvensional merupakan pembelajaran yang berorientasi pada guru di mana kegiatan pembelajaran dikendalikan penuh oleh guru. Guru memegang peranan utama dalam menentukan isi dan proses belajar, yang dalam pelaksanaannya guru menerapkan suatu metode pembelajaran tertentu. Metode yang digunakan dalam pembelajaran konvensional yaitu sebagai berikut: a. Metode Ceramah Metode ceramah merupakan metode pembelajaran tradisional atau konvensional, karena banyak menuntut keaktifan guru daripada anak didik (Djamarah dan Zain, 2002:109). Meski demikian, metode ini tetap tidak bisa ditinggalkan begitu saja dalam kegiatan pembelajaran apalagi dalam pendidikan di pedesaan, yang kekurangan fasilitas.

23

Metode ceramah yaitu penuturan bahasa secara lisan (Djamarah dan Zain, 2002:110). Bila guru menggunakan metode ceramah, berarti guru memberikan penjelasan secara lisan kepada sejumlah siswa dan siswa mendengarkan serta mencatat sepenuhnya. Metode ini menyebabkan siswa tidak aktif, karena mendengarkan dan mencatat saja, sehingga siswa cenderung menjadi malas, mengantuk, dan bosan. b. Metode Tanya Jawab Metode tanya jawab yaitu cara penyajian dalam bentuk pertanyaan yang harus dijawab terutama dari guru kepada siswa (Djamarah dan Zain, 2002:107). Metode ini meliputi cara penggunaan pertanyaan yang bisa dilakukan di dalam pelaksanaan mengajar sehari-hari. Metode ini menjadi kurang efektif, karena memerlukan waktu yang tidak sedikit di dalam mengukur dan mengetahui kemampuan siswa dalam menjawab pertanyaan yang diajukan. c. Metode Pemberian Tugas Metode pemberian tugas yaitu metode penyajian bahan di mana guru memberikan tugas tertentu agar siswa melakukan kegiatan belajar-mengajar (Djamarah dan Zain, 2002:98). Pemberian tugas tidak sama dengan pekerjaan rumah. Metode ini diberikan karena dirasakan bahan pelajaran terlalu banyak dan waktu sedikit. Menurut Djamarah dan Zain (2002:98), metode ini kurang efektif terutama karena biasanya untuk tugas kelompok yang mengerjakan hanya beberapa siswa, selain itu tugas yang diberikan terkesan monoton sehingga dapat menimbulkan kebosanan siswa.

24

Dalam pembelajaran konvensional, guru memegang peran utama mengendalikan kegiatan belajar-mengajar. Peran aktif siswa kurang diperhatikan. Guru dianggap pemberi informasi, sedangkan siswa sebagai penerima informasi, tetapi kurang memperhatikan kemampuan siswa dalam menerima dan menyerap materi yang disampaikan. Evaluasi yang dilaksanakan bersifat menghafal. Peserta didik kurang bisa menghubungkan antara materi pembelajaran dengan fenomena yang terjadi dalam masyarakat atau kehidupan masyarakat sehari-hari. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan Fajar (2004:27), yaitu dalam pembelajaran konvensional, peserta didik kurang dapat menghubungkan pengetahuan yang diperolehnya dengan teknologi masa kini. Hal ini diduga karena proses evaluasi hanya pada penyerapan atau pemahaman materi yang disampaikan dan mengabaikan hubungan antara materi yang disampaikan dengan kemampuan siswa dalam menganalisis suatu permasalahan atau kasus. Meskipun demikian, metode pembelajaran ini tidak dapat ditinggalkan begitu saja.

2.4. Metode Pembelajaran Portofolio 2.4.1. Pengertian Metode Pembelajaran Portofolio Menurut Fajar (2004:47), portofolio berasal dari bahasa inggris “portfolio” yang artinya dokumen atau surat-surat. Dapat juga diartikan sebagai kumpulan kertas-kertas berharga dari suatu pekerjaan tertentu. Pengertian portofolio di sini adalah suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang di tentukan. Panduan-panduan ini beragam tergantung pada mata pelajaran dan tujuan penilaian portofolio. Biasanya

25

portofolio merupakaan karya terpilih dari seorang siswa, tetapi dalam metode pembelajaran ini setiap portofolio berisi karya terpilih dari satu kelas siswa secara keseluruhan yang bekerja secara keseluruhan secara kooperatif memilih,

membahas, mencari data, mengolah, menganalisa dan mencari pemecahan terhadap suatu masalah yang dikaji. Metode pembelajaran berbasis portofolio merupakan suatu bentuk dari praktik belajar kewarganegaraan, yaitu suatu inovasi pembelajaran yang dirancang membantu peserta didik memahami teori secara mendalam melalui pengalaman belajar praktik empirik. Menurut Boediono (dalam Budimansyah, 2002:3), praktik belajar ini dapat menjadi program pendidikan yang mendorong kompetensi, tanggung jawab, partisipasi peserta didik, belajar menilai dan mempengaruhi kebijakan umum, memberanikan diri untuk berperan serta dalam kegiatan antar siswa, antar sekolah dan antar anggota masyarakat. Menurut ERIC Digest (2000), “Portfolio are used in various profession together…; art students assemble a portfolio for art class”. Portofolio merupakan kumpulan hasil belajarnya. Portofolio, selain sangat bermanfaat dalam memberikan informasi mengenai kemampuan dan pemahaman siswa serta

memberikan gambaran mengenai sikap dan minat siswa terhadap pelajaran yang diberikan, juga menunjukkan pencapaian atau peningkatan yang diperoleh siswa dari proses pembelajaran (Mangoensaputro, 2004:1).

2.4.2. Landasan Pemikiran Metode Pembelajaran Portofolio

26

Sebagai suatu inovasi dalam pembelajaran berbasis portofolio dilandasi beberapa landasan pemikiran sebagai berikut (Budimansyah, 2003a:5-8): a. Empat Pilar Pendidikan Empat pilar pendidikan sebagai landasan metode pembelajaran bebasis portofolio adalah learning to do, learning to know, learning to be, and learning to live together, yang dicanangkan oleh UNESCO. Hal ini mengandung arti bahwa proses pembelajaran kita tidak boleh memperlakukan peserta didik bak botol kosong yang selalu dijejali berbagai informasi melalui ceramah. Dampak dari pendekatan ini, peserta didik mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do), yaitu melalui interaksi dengan lingkungannya, baik lingkungan fisik, sosial maupun budaya. Peserta didik pun mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya (learning to know). Berdasarkan hasil interaksinya dengan lingkungan peserta didik pun dapat membangun pengetahuannya dan kepercayaan dirinya (learning to be). Melalui pemberdayaan ini diharapkan peserta didik akan mampu berinteraksi secara harmonis, baik dengan individu atau kelompok lainnya secara bervariasi (learning to live together). b. Pandangan Konstruktivisme Konstruktivisme mengajarkan tentang sifat dasar bagaimana manusia belajar, menurut Richardson (dalam Depdiknas, 2004:10), menyatakan bahwa menurut konstruktivisme belajar adalah constructing understanding atau

knowledge, dengan cara mencocokkan fenomena, ide, atau aktivitas yang baru dengan pengetahuan yang telah ada dan percaya bahwa sudah dipelajari. Dalam

27

hal ini kata kuncinya adalah construct. Konsekuensinya peserta didik dalam proses pembelajaran seharusnya bersungguh-sungguh membangun ini atau makna dalam sudut pandang pembelajaran bermakna dan bukan sekedar hafalan atau tiruan. Guru tidak semata-mata hanya memberikan materi pelajaran yang sifatnya teoritis kepada siswa. Siswa harus mampu membangun pengetahuan dalam alam pikirannya. Guru dapat membantu dalam proses ini dengan cara-cara pembelajaran yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan dengan kebutuhan siswa untuk menemukan atau menerapkan sendiri ideide dan dengan mengajak siswa agar dengan menyadari dan dengan sadar menggunakan strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar. c. Pembelajaran Demokratis (Democratic Teaching) Melalui kegiatan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM peserta didik dilatih dan dibiasakan untuk hidup berdemokrasi. Proses demokrasi dimulai dari perumusan permasalahan kelas sampai pada penyajian portofolio. Hal ini tampak pada aktivitas dan kreativitas siswa yang begitu bebas mengekspresikan berbagai pengalaman belajarnya. Hal ini sudah barang tentu merupakan upaya positif dalam mewujudkan kehidupan demokrasi, termasuk di negara Indonesia. Democratic teaching adalah suatu bentuk untuk mewujudkan sekolah sebagai pusat kehidupan demokrasi melalui proses pembelajaran yang demokratis. Secara democratic teaching pembelajaran adalah proses yang dilandasi oleh nilainilai demokratis, yaitu penghargaan terhadap kemampuan, menunjang keadilan, menerapkan persamaan kesempatan, dan memperhatikan keragaman peserta didik.

28

Dalam praktiknya, para pendidik hendaknya memposisikan peserta didik sebagai insan yang harus dihargai kemampuannya dan diberi kesempatan untuk mengembangkan potensinya.

2.4.3. Prinsip Dasar Metode Pembelajaran Portofolio Metode pembelajaran berbasis potofolio mengacu pada sejumlah prinsip dasar pembelajaran (Budimansyah, 2002:8-13). Prinsip-prinsip dasar

pembelajaran yang dimaksud adalah prinsip belajar aktif

(student active

learning), kelompok belajar kooperatif (cooperative learning), pembelajaran partisipatorik, dan mengajar yang reaktif (reactive teaching) serta pembelajaran yang menyenangkan (joifull learning). a. Prinsip Belajar Siswa Aktif Aktivitas siswa dalam proses pembelajaran metode portofolio tampak sekali. Hal ini dapat dilihat dari tahap-tahap atau langkah-langkah kegiatan, di mana hampir semua langkah kegiatan melibatkan seluruh aktivitas siswa ketika siswa mengidentifikasi permasalahan. Begitu juga ketika kegiatan perumusan masalah kelas. Pada tahap pengumpulan informasi, siswa pun secara aktif mendatangi berbagai nara sumber yang telah disepakati bersama untuk dijadikan acuan dalam perumusan kebijakan dan solusinya. Ketika proses pengumpulan data selesai, di bawah bimbingan guru siswa aktif melaporkaan hasil-hasil temuannya. Setelah portofolio selesai dibuat, dilakukan public sharing dalam kegiatan gelar kasus (show case) di hadapan dewan juri. Kegiatan ini merupakan

29

puncak penampilan siswa, sebab segala jerih payah siswa diuji dan diperdebatkan di hadapan dewan juri.

b. Kelompok Belajar Kooperatif Proses pembelajaran dengan metode pembelajaran portofolio secara jelas dan nyata menerapkan prinsip belajar kooperatif, yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerjasama. Kerjasama antara siswa dan antara komponen-komponen lain di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua siswa dan lembaga terkait. Hasil kerjasama antar siswa jelas terlihat pada saat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama. Semua pekerjaan disusun, orangorangnya ditentukan, siapa mengerjakan apa, merupakan satu bentuk kerjasama itu. Kerjasama dengan lembaga terkait diperlukan pada saat para siswa merencanakan mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau suatu kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. c. Pembelajaran Partisipatorik Metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM juga menganut prinsip dasar pembelajaran partisipatorik, sebab melalui metode ini siswa belajar sambil melakoni (learning by doing). Salah satu bentuk pelakonan itu adalah siswa belajar hidup berdemokrasi. Mengapa terdapat pelakonan hidup berdemokrasi? sebab dalam tiap langkah metode ini memiliki makna yang hubungannya dengan praktik hidup berdemokrasi. Sebagai contoh pada saat memilih masalah untuk kajian kelas memiliki makna bahwa siswa dapat

30

menghargai dan menerima pendapat

yang didukung suara terbanyak.

Mengajarkan demokrasi itu harus dalam suasana yang demokratis dan untuk mendukung kehidupan yang demokratis (teaching democracy in and for democracy). Tujuan ini hanya dapat dicapai dengan belajar sambil melakoni atau dengan kata lain harus menggunakan prinsip belajar partisipatorik. d. Mengajar yang Reaktif Guru harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran selalu menarik, tidak membosankan. Guru harus punya sensitifitas yang tinggi untuk segera mengetahui apakah kegiatan pembelajaran sudah membosankan siswa. Jika hal ini terjadi, guru harus segera mencari cara untuk menanggulanginya. Inilah tipe guru yang reaktif itu. Menurut Budimansyah (2002:12-13), ciri-ciri guru reaktif itu adalah diantaranya sebagai berikut: 1. Menjadikan siswa sebagai pusat belajar. 2. Pembelajaran dimulai dengan hal-hal yang sudah diketahui dan dipahami siswa. 3. Selalu berupaya membangkitkan motivasi belajar siswa dengan membuat materi pelajaran sebagai suatu hal yang menarik dan berguna bagi kehidupan siswa. 4. Segera mengenali materi atau metode pembelajaran yang membuat siswa bosan. Bila ini segera ditemui, ia segera menanggulanginya. e. Pembelajaran yang Menyenangkan Metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM menganut prinsip dasar bahwa belajar itu harus dalam situasi yang menyenangkan (joyfull

31

learning). Melalui metode ini para, siswa diberi keleluasaan untuk memiliki tema belajar yang menarik bagi dirinya.

2.4.4. Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio Kelas Metode pembelajaran portofolio merupakan salah satu metode yang menekankan kegiatan belajar siswa untuk aktif dan kreatif. Dalam hal ini siswa harus peka terhadap permasalahan-permasalahan yang ada di masyarakat dan ikut serta berusaha untuk mencari dan menyelesaikan masalah-masalah yang terjadi dengan cara-cara yang positif Langkah-langkah metode pembelajaran portofolio, menurut Center For Civic Education (dalam Depdiknas, 2004:16-38), yaitu sebagai berikut: a. Mengidentifikasi Masalah yang ada dalam Masyarakat Pada kegiatan langkah ini terdapat beberapa kegiatan yang dilakukan guru bersama siswa, yaitu: mendiskusikan tujuan, mencari masalah apa saja yang diketahui tentang masalah-masalah di masyarakat dan memberi tugas pekerjaan rumah tentang masalah-masalah yang ada di lingkungan masyarakat yang mereka anggap penting. b. Memilih Masalah untuk Kajian Kelas Para siswa (kelas) mengkaji terlebih dahulu pengetahuan yang telah mereka miliki tentang masalah-masalah yang ada di masyarakat, dengan langkah sebagai berikut: 1. Mengkaji informasi yang dianggap paling penting.

32

2. Mengadakan pemilihan secara demokratis tentang masalah yang akan mereka kaji secara musyawarah atau pengambilan suara (voting).

c. Mengumpulkan Informasi tentang Masalah yang dikaji oleh Kelas Langkah-langkah dalam tahap ini yaitu sebagai berikut: 1. Mengidentifikasi sumber-sumber informasi. 2. Tinjau ulang untuk memperoleh dan mendokumentasikan informasi. 3. Pengumpulan informasi. d. Mengembangkan Portofolio Kelas Dalam buku panduan guru kami bangsa Indonesia ….proyek

kewarganegaraan (dalam Depdiknas, 2004:28), dijelaskan bahwa langkah-langkah yang harus ditempuh pada tahap ini yaitu sebagai berikut: 1. Kelas dibagi dalam empat kelompok. 2. Guru mengulas tugas-tugas rinciannya untuk portofolio. 3. Gunakan informasi yang dikumpulkan oleh tim portofolio dan gunakan pula informasi yang dikumpulkan oleh tim peneliti. 4. Membuat portofolio. e. Penyajian Portofolio (Show Case) Dalam menyelenggarakan gelar kasus (show case), guru sebagai pihak penyelenggara hendaknya melakukan hal-hal sebagai berikut: 1. Persipan show case. 2. Pembukaan show case.

33

3. Penyajian keempat kelompok yang telah dibentuk disertai tanya jawab oleh dewan juri. 4. Selingan. 5. Tanggapan hadirin. 6. Pengumuman dewan juri. 7. Kriteria dan format penilaian. f. Refleksi Pengalaman Belajar Dalam kegiatan refleksi ini siswa diajak melakukan evaluasi tentang apa dan bagaimana mereka belajar. Tujuan dari refleksi ini yaitu untuk belajar menghindari kesalahan di masa yang akan datang dan meningkatkan kinerja siswa. Dengan merefleksi pengalaman belajar siswa maka sangat mendukung modus pengalaman belajar yang digambarkan melalui kerucut ini dijelaskan sebagai berikut: Yang kita ingat 10 % 20 % 30 % 40 % 70 % 90 %
baca dengar lihat Lihat dan dengar katakan Katakan dan lakukan

dapat

Modus verbal

visual

berbuat

Gambar 1 Kerucut Pengalaman Belajar Sumber: Peter (dalam Fajar, 2004:88)

34

Kita belajar 10% dari apa yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi, kreativitas, kemandirian, kerjasama, kepemimpinan dan kecakapan hidup peserta didik guna membentuk watak serta meningkatkan peradaban dan martabat bangsa (Fajar, 2004:15). Untuk lebih jelasnya langkah-langkah pendekatan sains teknologi dan masyarakat dapat dilihat pada gambar 2 di bawah ini.

1. Identifikasi Masalah

2. Memilih
Masalah

3. Mengumpulkan
Informasi tentang

Masalah yang dikaji 4. Mengembangkan
Portofolio

5. Penyajian
Portofolio

Gambar 2 Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio Sumber: Budimansyah, 2003b:82

2.4.5. Kelebihan dan Kelemahan Metode Portofolio

35

Menurut Nuryani Rustaman (dalam Depdiknas, 2004:40-41), kelebihan dan kelemahan metode portofolio dengan pendekatan STM adalah sebagai berikut:

a. Kelebihan 1. Memungkinkan pendidik mengakses kemampuan peserta didik untuk membuat, menghasilkan berbagai tugas akademik. 2. Memungkinkan pendidik menilai keterampilan atau kecakapan peserta didik. 3. Mendorong kolaborasi antara peserta didik dengan pendidik, antara peserta didik dengan peserta didik lainnya. 4. Memungkinkan pendidik mengintervensi proses dan menentukan di mana pendidik tersebut perlu membantu. b. Kelemahan 1. Memerlukan waktu relatif lama. 2. Pendidik harus tekun, sabar, dan terampil. 3. Tidak ada kriteria yang standar.

2.4.6. Perbedaan Penilaian Portofolio dan Penilaian Konvensional Perbedaan penilaian berbasis portofolio dan penilaian konvensional dapat di lihat pada tabel 1sebagai berikut:

36

Tabel 1. Perbedaan Penilaian Portofolio dan Penilaian Konvensional Penilaian Portofolio Penilaian Konvensional (Tes) 1. Penilaian berdasarkan seluruh 1. Penilaian berdasarkan sejumlah tugas dan hasil kerja yang tugas yang terbatas. berkaitan dengan kinerja yang dinilai. 2. Siswa turut menilai 2. Hanya guru yang menilai berdasarkan tes tertulis. perkembangan yang berlangsung selama proses. 3. Penilaian diri oleh siswa menjadi 3. Penilaian diri siswa bukan tujuan. merupakan tujuan. siswa dengan 4. Menilai siswa berdasarkan 4. Menilai menggunakan satu kriteria. pencapaian masing-masing dengan mempertimbangkan perbedaan sosial. penilaian tidak 5. Penilaian melibatkan guru, siswa 5. Proses kolaborasi. dan orang tua. hanya 6. Penilaian mencakup kemajuan 6. Penilaian memperhatikan hasil akhir. usaha dan pencapaian. 7. Penilaian, penganggaran dan 7. Pembelajaran testing, dan pengajaran terpisah. pembelajaran terkait. Sumber: Nurhadi, 2004:177-178

2.5. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) 2.5.1. Pengertian Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Menurut Poedjiadi (dalam Fajar, 2004:24), secara etimologi kata teknologi berasal dari dua kata bahasa Yunani yaitu kata tecne dan logos. Tecne artinya seni (art) atau keterampilan. Logos artinya kata-kata yang terorganisir atau wacana ilmiah yang mempunyai makna. Sedangkan Fischer (dalam Fajar, 2004:24),

memberikan definisi bahwa teknologi merupakan keseluruhan upaya yang dilakukan masyarakat dalam mengadakan benda untuk memperoleh kenyamanan dan keamanan bagi diri manusia itu sendiri, teknologi juga dapat diartikan sebagai kegiatan eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan manusia (Dagun, 2005:916).

37

Menurut Dagun sains dapat diartikan sebagai ilmu yang teratur (sistematik) yang dapat diuji atau dibuktikan kebenarannya (2005:767) Perkembangan teknologi memerlukan dukungan teori dan penemuan sains untuk melandasi pengetahuan praktisnya. Sedangkan dengan menerapkan konsepkonsep sains dalam teknologi diperoleh teknologi baru ataupun solusi untuk persoalan yang terjadi. Jadi antar sains dan teknologi saling melengkapi, sangat erat satu sama lainnya. Keterkaitan antara Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dapat dilihat pada gambar 3 di bawah ini. MASYARAKAT

SAINS APLIKASI SAINS

LINGKUNGAN

TEKNOLOGI

Gambar 3 Keterkaitan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM). Sumber: Binadja, 2002:10 Ziman dalam (Fajar, 2004:25), mencoba mengungkapkan bahwa konsepkonsep dan proses-proses sains seharusnya sesuai dengan kehidupan sehari-hari. Aikenhead dalam (Fajar, 2004:29), menyatakan bahwa masyarakat merupakan lingkungan pergaulan sosial serta kaidah-kaidah yang dianut oleh suatu kelompok masyarakat, dan lebih jauh lagi Ryan dalam (Fajar, 2004:29), menguraikan pengaruh sains dan teknologi terhadap masyarakat, yaitu dalam tanggung jawab

38

sosial, menyelesaikan masalah praktis dan sosial, serta konstribusi terhadap ekonomi, militer dan berpikir sosial. Dari uraian Ryan dapat diartikan, masyarakat (society) mempengaruhi dan dipengarui oleh sains dan teknologi (Fajar, 2004:29). Di samping itu masyarakat mempengaruhi sains dan teknologi dalam hal: pengendalian dana, kebijakan, aktivitas sains, industri, militer, etika (dalam program penelitian), industri pendidikan. Ziman dalam (Fajar, 2004:29), menggolongkan masyarakat berdasarkan keterkaitannya terhadap sains dan teknologi menjadi empat kelompok, yaitu: a. Masyarakat awam. b. Masyarakat ilmuan. c. Masyarakat mediator dan meta sains. d. Masyarakat alternatif. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) merupakan salah satu pendekatan pembelajaran yang dapat memberikan harapan untuk menciptakan manusia yang berkualitas dan peka terhadap masalah-masalah yang timbul di masyarakat (Rusmansyah, 2003:1). Pendekatan ini dimaksudkan untuk menjembatani kesenjangan antara kemajuan iptek, membanjirnya informasi ilmiah dalam dunia pendidikan, dan nilai-nilai iptek itu sendiri dalam kehidupan masyarakat sehari-hari (Rusmansyah, 2003:1). Sedangkan menurut Poedjiadi (2005:123) menyatakan bahwa tujuan dari pendekatan STM adalah untuk membentuk individu yang memiliki literasi sains dan teknologi serta memiliki kepedulian terhadap masalah masyarakat dan lingkungannya.

39

Lebih jauh lagi Poedjiadi (2005:123-124) menerangkankan bahwa seseorang yang memiliki literasi sains dan teknologi, adalah yang memiliki kemampuan menyelesaikan masalah menggunakan konsep-konsep sains yang diperoleh dalam pendidikan sesuai jenjangnya, mengenal produk teknologi yang ada di sekitarnya beserta dampaknya, mampu menggunakan produk teknologi dan memeliharanya, kreatif membuat hasil teknologi yang disederhanakan dan mampu mengambil keputusan berdasarkan nilai (aplikasi keterkaitan unsur-unsur STM dapat dihat di lampiran 11). Sains dan teknologi berkembang terus sesuai dengan perkembangan pemikiran manusia, namun dalam hal ini tidaklah berarti manusia diperalat teknologi. Manusialah yang seharusnya memilih menggunakan teknologi yang tepat guna untuk mengelola alam secara bijak dengan memperhatikan nilai metafisika dan nilai-nilai yang terkait. Dengan demikian memiliki literasi sains dan teknologi tidak hanya mampu membaca dan menulis sains dan teknologi, akan tetapi menyadari dampak dan peduli terhadap lingkungan sosial atau alam. Beberapa istilah telah dikemukakan oleh para pendidik atau praktisi pendidikan untuk menyebut pendekatan portofolio yang digunakan dalam penelitian ini yakni Science Technology Society (STS) yang diterjemahkan dengan Sains Tehnologi dan Masyarakat (STM atau SATEMAS), Science Environment Technology (SET) dan Science Environment Technology Society (SETS) yang intinya sebenarnya sama (Fajar, 2004: 24). Dalam tulisan ini istilah yang digunakan adalah Sains Teknologi dan Masyarakat (STM), karena yang dipentingkan adalah kaitan antara sains dan

40

teknologi serta manfaatnya bagi masyarakat. Lingkungan pasti terkait dalam istilah tersebut, tetapi yang merasakan dampak teknologi terhadap lingkungan adalah manusia atau masyarakat oleh karenanya istilah yang digunakan istilah masyarakat saja. Walaupun diakui bahwa sains dan teknologi lebih cenderung pada ilmuilmu kealaman, namun pendekatan ini dalam pengajaran ekonomi bukan

merupakan hal yang bertentangan. Sebenarnya terdapat keterkaitan erat antara pendidikan atau pembelajaran IPA dan IPS. Kondisi ini dapat terlihat dari kenyataan bahwa untuk mengatasi masalah yang ada di masyarakat sangat dibutuhkan kajian dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dalam ilmu-ilmu sosial dan humaniora pada dasarnya memberikan pemahaman tentang kaitan antara sains teknologi dan masyarakat dan merupakan wahana untuk melatih kepekaan penilaian peserta didik terhadap dampak lingkungan sebagai akibat perkembangan sains dan teknologi (Poedjiadi, 2005:134). 2.5.2. Landasan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Pendekatan STM dilandasi oleh tiga hal penting yaitu: a. Adanya keterkaitan yang erat antara sains, teknologi dan masyarakat. b. Dalam belajar-mengajar menganut pandangan konstruktivisme, yang pada pokoknya menggambarkan bahwa si pelajar membentuk atau membangun pengetahuannya melalui interaksinya dengan lingkungan.

41

c. Dalam pengajarannya terkandung lima ranah, yang terdiri atas ranah pengetahuan, ranah sikap, ranah proses sains, ranah kreativitas, dan ranah hubungan dan aplikasi (Rusmansyah, 2003:3).

2.5.3. Karakteristik atau Ciri-ciri Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Menurut Yager dalam (Fajar, 2004:25) program-program STM pada umumnya mempunyai karakteristik atau ciri-ciri sebagai berikut: a. Identifikasi masalah-masalah setempat. b. Penggunaan sumber daya setempat yang digunakan dalam memecahkan masalah. c. Keikutsertaan yang aktif dari siswa dalam mencari informasi untuk memecahkan masalah. d. Perpanjangan pembelajaran di luar kelas dan sekolah. e. Fokus kepada dampak sains dan teknologi terhadap siswa. f. Satu pandangan bahwa isi dari pada siswa bukan hanya konsep-konsep saja yang harus dikuasai siswa dalam kelas. g. Penekanan pada keterampilan proses di mana siswa dapat menggunakan dalam memecahkan masalah. h. Penekanan pada kesadaran karir yang berkaitan dengan sains dan teknologi. i. Kesempatan bagi siswa untuk berperan sebagai warga negara identifikasi bagaimana sains dan teknologi berdampak di masa depan. j. Kebebasan atau otonomi dalam proses belajar.

42

2.5.4. Langkah-langkah Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Kekhasan dari model ini adalah bahwa pada pendahuluan dikemukakan isu-isu masalah yang ada di masyarakat yang dapat digali dari siswa, tetapi jika guru tidak berhasil memperoleh tanggapan dari siswa dapat saja dikemukakan sendiri. Tahap ini disebut dengan inisiasi atau mengawali, memulai, dan dapat pula disebut dengan invitasi yaitu undangan. Apersepsi dalam kehidupan juga dapat dilakukan, yaitu mengaitkan peristiwa yang telah diketahui siswa dengan materi yang akan dibahas, sehingga tampak adanya kesinambungan pengetahuan, karena diawali dengan hal-hal yang telah diketahui siswa sebelumnya yang ditekankan pada keadaan yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Pada pendahuluan ini guru juga dapat melakukan eksplorasi terhadap siswa melalui pemberian tugas untuk melakukan kegiatan lapangan atau di luar kelas secara berkelompok. Proses pembentukan konsep (tahap ke-2) dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan metode. Misalnya pendekatan keterampilan proses, pendekatan sejarah, pendekatan kecakapan hidup, metode demonstrasi, eksperimen di labolatorium, diskusi kelompok, bermain peran dan lain-lain. Pada akhir tahap ke2 diharapkan melalui konstruksi dan rekonstruksi siswa menemukan konsepkonsep yang benar atau merupakan konsep-konsep para ilmuan. Selanjutnya berbekal pemahaman konsep yang benar siswa melanjutkan analisis isu atau masalah yang disebut aplikasi konsep dalam kehidupan (tahap ke-

43

3). Adapun konsep-konsep yang telah dipahami siswa dapat diaplikasikan dalam kehidupan mereka sehari-hari. Selama proses pembentukan konsep, penyelesaian masalah dan/atau analisis isu, (tahap ke-2 dan tahap ke-3) guru perlu meluruskan kalau-kalau ada miskonsepsi selama kegiatan belajar berlangsung. Kegiatan ini disebut pemantapan konsep. Apabila selama proses pembentukan konsep tidak tampak ada miskonsepsi yang terjadi pada siswa, demikian pula setelah akhir analisis isu dan penyelesaian masalah, guru tetap melakukan pemantapan konsep

sebagaimana tampak pada alur pembelajaran (tahap ke-4) melalui penekanan pada konsep-konsep kunci yang penting diketahui dalam bahan kajian tertentu. Hal ini dilakukan karena konsep-konsep kunci yang ditekankan pada akhir pembelajaran akan memiliki retensi lebih lama dibandingkan dengan kalau tidak dimantapkan atau ditekankan oleh guru pada akhir pembelajaran. Pada tahap ke-5 adalah penilaian, ada enam ranah yang terlibat dalam pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) dapat dirinci sebagai berikut. a. Konsep, fakta, generalisasi, diambil dari bidang ilmu tertentu. b. Proses diartikan dengan bagaimana proses memperoleh konsep. c. Kreativitas mencakup lima perilaku individu, yaitu: 1. Kelancaran. Perilaku ini merupakan kemampuan sesesorang dalam menunjukkan banyak ide untuk menyelesaikan masalah-masalah. 2. Fleksibilitas. Seseorang kreatif yang fleksibel mampu menghasilkan berbagai macam ide di luar ide yang biasa dilakukan orang.

44

3. Orginilitas. Seseorang yang memiliki orginilitas dalam mencobakan suatu ide memiliki kekhasan yang berbeda dibandingkan dengan individu lain. 4. Elaborasi. Seseorang memiliki kemampuan elaborasi mampu menerapkan ide-ide secara rinci. 5. Sensitivitas. Kemampuan kreatif terakhir adalah peka terhadap masalah atau situasi yang ada di lingkungannya. d. Aplikasi konsep dalam kehidupan sehari-hari. e. Sikap, yang dalam hal ini mencakup menyadari kebesaran Tuhan, menghargai hasil penemuan ilmuan dan penemu produk teknologi, namun menyadari kemungkinan adanya dampak produk teknologi, peduli terhadap masyarakat yang kurang beruntung dan memelihara kelestarian lingkungan. f. Cenderung untuk ikut melaksanakan tindakan nyata apabila terjadi sesuatu dalam lingkungannya yang memerlukan peran sertanya (Poedjiadi, 2005:126132). Untuk lebih jelasnya langkah-langkah pendekatan sains teknologi dan masyarakat dapat dilihat pada gambar 4 di bawah ini.

TAHAP I

PENDAHULUAN: INISIASI/INVITASI/APERSEP PENDAHULUAN: SI/EKSPLORASI THD SISWA INISIASI/INVITASI/APER SEPSI/EKSPLORASI THD SISWA

ISU ATAU MASALAH

TAHAP II

45

PEMBENTUKAN/PENGEM BANGAN KONSEP

PEMANTAPAN KONSEP

APLIKASI KONSEP DLM KEHIDUPAN : PENYELESAIAN MASA LAH ATAU ANALISIS ISU

PEMANTAPAN KONSEP

PEMANTAPAN KONSEP

PENILAIAN

Gambar 4 Langkah-langkah Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat Sumber: Poedjiadi, 2005:126

Langkah-langkah Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan STM adalah sebagai berikut : 1. Apersepsi/inisiasi/invitasi/eksplorasi, ekonomi) 2. Pembentukan dan pengembangan konsep/nilai/moral atau (memilih masalah untuk kajian kelas) 3. Aplikasi konsep/nilai/moral melalui tugas kokurikuler atau (mengumpulkan informasi tentang masalah yang akan dikaji oleh kelas) 4. Aplikasi konsep/nilai/moral dan pengembangan sikap melalui penyusunan/ pembuatan portofolio, atau (mengembangkan portofolio kelas) atau (mengidentifikasi masalah

46

5. Aplikasi konsep/nilai moral dan pengembangan sikap melalui gelar kasus (show case) atau penyajian portofolio 6. Refleksi pengalaman belajar.

2.5.5. Kesulitan dan Kendala yang dihadapi dalam Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Pembelajaran menggunakan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) apabila dirancang dengan baik, memakan waktu lebih lama bila dibandingkan dengan metode lainnya. Bagi guru tidak mudah untuk mencari isu atau masalah pada tahap pendahuluan yang terkait dengan topik yang dibahas atau dikaji, karena hal ini memerlukan adanya wawasan luas dari guru dan melatih tanggap terhadap masalah lingkungan. Guru perlu menguasai konsep materi yang terkait dengan konsep dan proses sains yang dikaji selama pembelajaran. Penyusunan perangkat penilaian memerlukan usaha untuk mempelajari secara khusus, misalnya untuk menilai kreativitas seseorang (Poedjiadi, 2005:137)

2.5.6. Faktor

Pendukung

dalam

Pendekatan

Sains

Teknologi

dan

Masyarakat (STM) Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) yang lengkap yang dilakukan oleh seorang guru cukup dilakukan satu kali saja dalam satu semester.

47

Apabila dalam satu semester seorang guru telah melakukan satu kali pembelajaran dengan pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) maka siswa telah mengalami pembelajaran Sains Teknologi Masyarakat sejumlah mata pelajaran pelajaran yang ada di sekolah. Perguruan tinggi memiliki potensi untuk menyediakan topik-topik dan alat penilaian dalam bentuk leaflets atau booklets yang tersedia dengan harga ringan sebagai bahan bacaan bagi guru-guru pra universitas. Mereka akan sangat

tertolong apabila ada bahan bacaan yang diperlukan untuk menambah pengetahuan dengan cara yang mudah dengan harga yang murah (Poedjiadi, 2005:137).

2.5.7. Perbedaan Metode Pembelajaran Konvensional dan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM) Perbandingan metode pembelajaran konvensional dengan pendekatan STM (Fajar, 2004:27-28) dapat dilihat pada tabel 2 berikut ini. Tabel 2 Perbedaan Metode Pembelajaran Konvensional dan Pendekatan STM Metode konvensional
A. Kaitan dan Aplikasi Bahan Pelajaran 1. Peserta didik tidak melihat nilai dan 1. atau manfaat yang mereka pelajari. 2. Peserta didik tidak dapat 2. menghubungkan sains yang dipelajari dengan teknologi masa kini.

Pendekatan STM
Peserta didik dapat menghubungkan yang mereka pelajari dengan kehidupan sehari-hari. Peserta didik memperhatikan perkembangan teknologi dan melalui fakta tersebut melihat manfaat dan relevansi konsep sains dan teknologi.

B.

1. Kreativitas 1. Peserta didik kurang memiliki kemampuan untuk bertannya. 2.

Peserta didik lebih banyak bertannya, dan seringkali memberikan pertanyaan yang diluar dugaan guru. Peserta didik terampil dalam

48

2. Peserta didik kurang efektif dalam mengidentifikasi sebab akibat dari situasi tertentu. C. Sikap 1. Peserta didik hanya memiliki sedikit ide-ide. 2. Minat peserta didik terhadap sains menurun dengan menaiknya tingkat. 3. Sains menurunkan rasa ingin tahu. 4. Guru dianggap sebagai pemberi informasi. 5. Peserta didik melihat sains untuk dipelajari. 1. 2. 3. 4. 5.

mengidentifikasi kemungkinan penyebab dan efek hasil observasi dan kegiatan tertentu. Peserta didik terus-menerus memiliki ide-ide. Minat peserta didik bertambah dari tingkat ketingkat. Peserta didik ingin tahu tentang dunia fisik. Guru dianggap sebagai fasilitator. Peserta didik melihat sains sebagai alat untuk menyelesaikan masalah

D.

1. Proses 1. Peserta didik melihat proses sains sebagai keterampilan yang dimiliki ilmuan. 2. Peserta didik melihat proses sains 2. sebagai sesuatu untuk dipraktikkan karena merupakan suatu syarat. Pengetahuan/Konsep 1. Pengetahuan diperlukan untuk 1. malaksanakan test. 2. Pengetahuan hanya dipandang 2. sebagai hasil belajar. 3. Retensi berlangsung singkat. 3.

Peserta didik melihat proses sebagai keterampilan yang digunakan.

sains dapat

Peserta didik melihat sains sebagai keterampilan yang harus dikembangkan untuk kebutuhan mereka sendiri.

E.

Peserta didik melihat pengetahuan sains sebagai sesuatu yang diperlukan. Pengetahuan dipandang sebagai bekal untuk menyelesaikan masalah. Peserta didik lebih lama melupakan informasi yang diperoleh, dan dapat melaksanakan transfer belajar dengan baik.

2.6. Mata Pelajaran Ekonomi 2.6.1. Pengertian Mata Pelajaran Ekonomi Dalam kurikulum 2004, ekonomi dinyatakan sebagai ilmu tentang perilaku dan tindakan manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya yang banyak, bervariasi, dan berkembang dengan sumber daya produksi, konsumsi, dan atau distribusi. yang ada melalui kegiatan

49

2.6.2. Fungsi dan Tujuan Mata Pelajaran Ekonomi a. Fungsi Fungsi mata pelajaran ekonomi adalah mengembangkan kemampuan siswa untuk berekonomi, dengan cara mengenal kenyataan dan peristiwa ekonomi, memahami konsep dan teori serta berlatih dalam memecahkan masalah ekonomi yang terjadi di lingkungan masyarakat. b. Tujuan Tujuan mata pelajaran Ekonomi di Sekolah Menengah Tingkat Atas (SMA) adalah: (1) membekali siswa sejumlah konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di lingkungan setingkat indvidu/rumah tangga, masyarakat dan negara (2) membekali sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya, (3) membekali siswa nilai-nilai serta etika ekonomi dan memiliki jiwa wirausaha, (4) meningkatkan kemampuan berkompetensi dan bekerjasama dalam masyarakat yang majemuk, baik dalam skala nasional maupun skala internasional (Kurikulum Mata Pelajaran ekonomi, 2004:2).

2.6.3. Ruang Lingkup Mata Pelajaran Ekonomi Ruang lingkup mata pelajaran ekonomi di SMA adalah perilaku ekonomi dan kesejahteraan yang secara rinci mencakup aspek-aspek sebagai berikut; ketergantungan, spesialisasi dan pembagian kerja, perkoperasian kewirausahaan,

50

dan pengelolaan keuangan perusahaan (Kurikulum Mata Pelajaran ekonomi, 2004:2). Pembelajaran Ekonomi di SMA menggunakan pendekatan pemecahan masalah di mana siswa dapat memecahkan masalah-masalah ekonomi di masyarakat terutama dalam mencari alternatif pemecahan masalah ekonomi. Agar pembelajaran lebih bermakna maka penyajian materi dimulai dari mengidentifikasi fakta tentang peristiwa dan permasalahan ekonomi, pemahaman beberapa konsep dan ilmu dasar ekonomi, mencari alternatif pemecahan masalah ekonomi serta menilai kebaikan dan keburukan kebijakan pemerintah dalam mengatasi masalah ekonomi.

2.7. Materi Mata Pelajaran Ekonomi tentang Permasalahan Ekonomi 2.7.1. Masalah Pokok Ekonomi a. Masalah Pokok Ekonomi menurut Aliran Klasik Menurut teori ilmu ekonomi klasik, masalah pokok ekonomi masyarakat dapat digolongkan kepada tiga permasalahan penting, yaitu. 1. Masalah Produksi 2. Masalah Distribusi 3. Masalah Konsumsi b. Masalah Pokok Ekonomi menurut Aliran Modern 1. Barang dan jasa apa yang akan diproduksi ? (What) ? 2. Bagaiman cara memproduksi ? (How) ? 3. Untuk siapa barang dan jasa dihasilkan ? (For Whom) ?

51

2.7.2. Sistem Ekonomi Permasalahan masyarakat yang telah disebutkan sebelumnya diusahakan pemecahannya. Usaha tersebut diwujudkan melalui sistem ekonomi yang dipilih suatu negara. Sistem ekonomi adalah parangkat atau alat yang digunakan untuk menjawab secara tuntas masalah apa, bagaimana, dan untuk siapa barang diproduksi (Sukwiaty dkk, 2005:22). Pada dasarnya di dunia ini hanya ada dua bentuk sistem ekonomi, yaitu sistem ekonomi liberal dan sistem ekonomi sosialis. Kedua sistem tersebut saling bertentangan satu sama lainnya. Akan tetapi, kenyataannya tidak ada satu negara pun di dunia ini yang melaksanakan kedua sistem tersebut di atas secara murni. Agar jelasnya di bawah ini akan diuraikan satu persatu sistem ekonomi yang ada. a. Sistem Ekonomi Tradisional Dalam sistem ekonomi tradisional, masalah apa, bagaimana, dan untuk siapa, dijawab dengan adanya adat atau tradisi turun-temurun. b. Sistem Ekonomi Komando Dalam sistem ini, pemerintah sangat dominan. Peran ini diwujudkan dalam satu komando, baik produksi maupun konsumsi. Pemerintah akan menentukan apa, bagaimana, dan untuk siapa barang yang akan diproduksi. Pemerintah juga yang menentukan siapa yang kaya dan siapa yang miskin. c. Sistem Ekonomi Pasar (Kapitalis/Liberal) Sistem ekonomi pasar menyerahkan jawaban permasalahan ekonomi seluruhnya kepada pasar. Dalam sistem ekonomi pasar, harga, pasar dan laba sangat menentukan jawaban terhadap pertanyaan apa, bagaimana, dan untuk

52

siapa. Sistem ekonomi ini dibentuk oleh kekuatan yang ada di pasar, yaitu kekuatan permintaan dan penawaran. Dengan demikian, sistem ekonomi liberal dapat diartikan sebagai suatu sistem ekonomi yang berorientasi pada pasar. Pada sistem tersebut, kegiatan ekonomi sepenuhnya diserahkan kepada pihak swasta (masyarakat) dan pemerintah (penguasa) tidak ikut campur secara langsung dalam kegiatan ekonomi. d. Sistem Ekonomi Campuran. Sistem ekonomi campuran merupakan sistem ekonomi yang mengambil sebagian unsur-unsur pasar, tradisional, dan komando. Hal ini didasari kesadaran saling ketergantungan antar negara dan adanya pengaruh ekonomi global. Dalam sistem ekonomi campuran ini, mekanisme harga dan pasar bebas yang dianut oleh sistem ekonomi pasar bebas dapat berdampingan dengan adanya perencanaan dari pusat seperti yang dianut oleh sistem ekonomi komando. Satu hal yang harus dipahami, bahwa pada sistem ekonomi campuran terdapat peranan pemerintah untuk mengendalikan pasar yang bertujuan agar ekonomi tidak lepas sama sekali dan menguntungkan para pemilik modal yang besar sehingga membentuk monopoli.

2.7.3. Peran Pelaku Ekonomi Di dalam perekonomian, senantiasa terdapat pelaku-pelaku kegiatan ekonomi. Menurut pembagian pertama, pelaku ekonomi di bagi menjadi 2 (dua), yaitu perusahaan dan rumah tangga. Perusahaan adalah mereka yang di dalam proses perekonomian sebagai pihak yang berfungsi menyediakan barang dan jasa,

53

sedangkan rumah tangga adalah pihak yang menikmati atau pengguna barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan (Sukwiaty dkk, 2005:22). Antar kelompok pelaku ekonomi tersebut terjadi interaksi karena mereka saling membutuhkan sehingga terjadi arus lingkar kegiatan ekonomi (circular flow of economic activity) yang menggambarkan adanya arus barang yang mengalir dari dan kepada masing-masing pelaku ekonomi tersebut. a. Rumah Tangga Rumah tangga adalah kelompok masyarakat sebagai pemilik faktor-faktor produksi (tanah, tenaga, kerja, modal dan wirausaha). Untuk dapat melaksanakan kegiatan konsumsinya, setiap individu atau rumah tangga harus memiliki pendapatan. Pendapatan tersebut dapat diperoleh dari perusahaan dengan cara sewa (rent), upah (wage), bunga (interest), laba (profit). Dari kegiatannnya dapat kita lihat peranan rumah tangga konsumen sebagai berikut: 1. Rumah tangga berperan sebagai pemasok faktor-faktor produksi kepada perusahaan untuk kegiatan produksi. 2. Rumah tangga berperan sebagai pemakai (konsumen) barang dan jasa yang dihasilkan perusahan untuk memenuhi kebutuhan hidup. b. Perusahaan Dalam kegiatan ekonomi yang dimaksud dengan kegiatan produksi adalah usaha yang teratur yang menghasilkan barang dan jasa guna memenuhi kepentingan orang lain. Kegiatan tersebut dilakukan oleh perusahaan. Peran perusahaan dalam kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut.

54

1. Sebagai produsen. 2. Sebagai distributor. 3. Sebagai agen pembangunan. c. Pemerintah Pemerintah merupakan pihak yang mempunyai peranan penting dalam perekonomian. Di dalam perekonomian pemerintah bertugas untuk mengatur, mengendalikan serta mengadakan kontrol terhadap jalannya roda perekonomian agar negara dapat maju dan rakyat dapat hidup dengan layak dan damai. 1. Peranan pemerintah sebagai pengatur. 2. Peranan pemerintah sebagai pengontrol. 3. Peranan pemerintah sebagai penguasa. 4. Peranan pemerintah sebagai konsumen. 5. Peranan pemerintah sebagai produsen/investor. d. Masyarakat Luar Negeri 1. Masyarakat luar negeri sebagai konsumen. 2. Masyarakat luar negeri sebagai produsen. 3. Masyarakat luar negeri sebagai investor. 4. Sumber tenaga ahli.

2.7.4. Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi (Circulair Flow Diagram) a. Perekonomian Sederhana (Perekonomian Dua Sektor)

55

Gambar 5 Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi Perekonomian Sederhana Sumber: Sukwiaty, dkk (2005:30)

b. Perekonomian Terbuka (Perekonomian Empat Sektor)

Gambar 6 Model Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi Perekonomian Terbuka Sumber: Sukwiaty, dkk (2005:32)

56

2.7.5. Manfaat Diagram Interaksi Pelaku Ekonomi bagi Pemerintah Manfaat yang dapat diperoleh pemerintah dengan mempelajari diagram interaksi pelaku ekonomi tersebut adalah sebagai berikut. a. Sebagai media pemerintah dengan menganalisis aliran arus uang dan arus barang, dalam kegiatan ekonomi nasional agar kebijakan yang hendak ditempuh dalam stabilitas ekonomi nasional mudah dikendalikan. b. Sebagai alat bantu bagi pemerintah dalam mengawasi dan mengatur kebutuhan akan barang dalam negeri dengan arus barang/uang dari luar negeri (ekspor, impor). c. Untuk menetukan pola pembangunan nasional. d. Mengetahui perhitungan dan distribusi pendapatan dan produk nasional, perhitungan kebijakannya e. Mengetahui gambaran tentang arus investasi dan pembangunan dari dalam atau luar negeri (swasta nasional/swasta asing). f. Pengawasan devisa negara terhadap neraca pembayaran luar negeri. g. Mengetahui hak-hak dan kewajiban-kewajiban negara terhadap pelaku-pelaku ekonomi lainnya. h. Mencari bentuk/struktur ekonomi nasional dengan perkembangan globalisasi ekonomi. i. Mengetahui sumber-sumber penerimaan negara terutama yang berasal dari pajak. j. Menjalin hubungan kerja sama internasional dengan negara lain. pendapatan nasional dan RAPBN termasuk kebijakan-

57

Sedangkan manfaat yang dapat diperoleh masyarakat dengan mempelajari diagram interaksi pelaku ekonomi tersebut adalah sebagai berikut. a. Sebagai media untuk mengetahui sumber-sumber produk barang dan jasa yang dibutuhkan oleh masyarakat. b. Sebagai mediator untuk mengetahui pekerjaan apa saja yang dapat dilakukan masyarakat untuk memperoleh penghasilan berupa uang (sewa, upah, bunga atau bagian laba perusahaan). c. Sebagai media untuk mengetahui hak dan kewajiban masyarakat terhadap pelaku ekonomi lainnya terutama terhadap negara dan bangsa. d. Untuk mengetahui sumber penghasil produk yang dibutuhkan oleh masyarakat dan menawarkan faktor-faktor produksi yang dimilikinya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

2.8. Kompetensi Guru Guru adalah suatu jabatan profesional, yang melalui syarat-syarat fisik, mental atau kepribadian, pengetahuan, dan keterampilan (Hamalik, 2002:59). Kompetensi profesional guru merupakan salah satu kompetensi yang harus dimiliki guru dalam jenjang pendidikan apapun, yang mencakup kompetensi kepribadian dan kemasyarakatan. Kompetensi tersebut saling berkaitan secara terpadu pada seorang guru. Guru yang terampil tentu harus memiliki pribadi yang baik dan mampu melakukan hubungan sosial kemasyarakatan.

58

2.8.1. Fungsi, Peranan Guru, dan Kompetensinya Peranan guru sebagai pendidik dan pengajar akan dilaksanakan bila guru memenuhi syarat-syarat kepribadian dan penguasaan ilmu. Guru akan mampu mendidik dan mengajar bila memiliki kestabilan emosi, memiliki rasa tanggung jawab yang besar untuk memajukan anak didik, bersikap realistis, bersikap jujur, serta sikap terbuka dan peka terhadap perkembangan, terutama terhadap inovasi pendidikan. Sehubungan dengan peranannya sebagai pendidik dan pengajar, guru harus menguasai ilmu, antara lain mempunyai pengetahuan yang luas, menguasai bahan pelajaran serta ilmu-ilmu yang berkaitan dengan bidang yang di ajarkannya, menguasai teori dan praktik mendidik, teori kurikulum, metode pelajaran, dan sebagainya (Hamalik, 2002:43). Untuk melaksanakan peranan guru sebagai anggota masyarakat, guru harus memenuhi syarat-syarat kepribadian dan penguasaan ilmu tertentu. Guru harus bersikap terbuka, tidak otoriter, bersikap ramah, serta simpati dan empati terhadap pimpinan, teman sejawat, dan para siswa. Agar guru mampu mengembangkan pergaulan dengan masyarakat, dia perlu menguasai psikologi sosial, khususnya mengenai hubungan antara manusia dalam rangka dinamika kelompok (Hamalik, 2002:43). Contoh kompetensi guru dalam hal ini yaitu kemampuan guru dalam menghubungkan antara materi pembelajaran dengan kehidupan perekonomian masyarakat. Peranan kepemimpinan akan berhasil jika guru mempunyai kepribadian, seperti kondisi fisik yang sehat, percaya pada diri sendiri, cepat mengambil keputusan, dan bertindak adil. Untuk itu guru harus memiliki berbagai

59

keterampilan yang dibutuhkan sebagai seorang pemimpin, seperti; bekerja dalam tim, keterampilan berkomunikasi, keterampilan membuat keputusan yang cepat, tepat, rasional, dan praktis (Hamalik, 2002:44).

2.8.2. Peranan dan Kompetensi Guru dalam Proses Belajar-mengajar Menurut Adam dan Dickey, (dalam Hamalik, 2002:48), terdapat 13 peranan guru dalam kelas di antaranya yaitu; (a) guru sebagai pengajar, menyampaikan ilmu pengetahuan, perlu memiliki keterampilan memberikan informasi dalam kelas, (b) guru sebagai pemimpin kelas, perlu memiliki keterampilan cara memimpin kelompok-kelompok murid, (c) guru sebagai pembimbing, perlu memiliki keterampilan cara mengarahkan dan mendorong kegiatan belajar siswa, (d) guru sebagai pengatur lingkungan, perlu memiliki keterampilan mempersiapkan dan menyediakan alat dan bahan pelajaran, (e) guru sebagai partisipan, perlu memiliki keterampilan cara memberikan saran, mengarahkan pemikiran kelas, dan memberikan penjelasan, (f) guru sebagai ekspeditur, perlu memiliki keterampilan menyelidiki sumber-sumber masyarakat yang akan digunakan, (g) guru sebagai perencana, perlu memiliki keterampilan cara memilih, dan meramu bahan pelajaran secara profesional, (h) guru sebagai supervisor, perlu memiliki keterampilan mengawasi kegiatan anak dan ketertiban kelas, (i) guru sebagai motivator, perlu mempunyai keterampilan mendorong motivasi belajar kelas, (j) guru sebagai penanya, perlu memiliki keterampilan cara bertannya yang merangsang kelas berpikir dan cara memecahkan masalah, (k) guru sebagai pengajar, perlu memiliki keterampilan cara memberikan

60

penghargaan terhadap anak-anak yang berprestasi, (l) guru sebagai evaluator, perlu mempunyai keterampilan cara menilai anak-anak secara objektif, kontinyu, dan komprehensif, (m) guru sebagai konselor, perlu memiliki keterampilan cara membantu anak-anak yang mengalami kesulitan tertentu. Guru mempunyai tanggung jawab untuk melihat sesuatu yang terjadi di dalam kelas untuk membantu proses perkembangan siswa. Penyampaian materi pelajaran hanya merupakan salah satu dari berbagai kegiatan dalam belajar. Di samping itu perkembangan ilmu dan teknologi serta perkembangan sosial budaya yang berlangsung dengan cepat telah memberikan tantangan kepada setiap indivdu. Kesempatan belajar makin terbuka melalui berbagai sumber dan media. Guru hanya merupakan salah satu media dan sumber belajar. Maka dengan demikian peranan guru dalam belajar, menjadi lebih luas dan lebih mengarah kepada peningkatan motivasi belajar siswa. Melalui peranannya sebagai pengajar, guru diharapkan mampu mendorong siswa untuk senantiasa belajar dalam berbagai kesempatan melalui berbagai sumber dan media. Guru hendaknya mampu membantu setiap siswa untuk secara efektif dapat

mempergunakan berbagai kesempatan belajar dan berbagai sumber serta media belajar, sehingga diharapkan siswa dapat belajar secara efektif. Dalam uraian di atas, jelas bahwa peranan guru telah meningkat dari sebagai pengajar menjadi struktur direktur pengarah belajar. Selain sebagai

direktur belajar, guru juga mempunyai peranan sebagai perencana dan pengelola pengajaran. Sebagai direktur belajar, tugas dan tanggung jawab guru menjadi lebih meningkat yang di dalamnya termasuk fungsi-fungsi guru sebagai perencana

61

pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator belajar, dan sebagai pembimbing. Sebagai perencana pengajaran, guru diharapkan mampu merencanakan pembelajaran secara efektif. Untuk itu harus memiliki pengetahuan yang cukup tentang prinsip-prinsip belajar sebagai dasar dalam merancang kegiatan pembelajaran, seperti merumuskan tujuan, memilih bahan, memilih metode, dan sebagainya. Sebagai pengelola, seorang harus mampu mengelola kelas dan proses belajar-mengajar dengan menciptakan kondisi-kondisi belajar sedemikian rupa sehingga setiap siswa belajar secara efektif dan efisien. Dalam fungsinya sebagai penilai hasil belajar, seorang guru hendaknya secara terus-menerus mengikuti hasil-hasil belajar yang telah dicapai siswa dari waktu ke waktu. Informasi yang diperoleh melalui evaluasi merupakan umpan balik terhadap proses belajar-mengajar, yang akan dijadikan sebagai titik tolak untuk memperbaiki dan meningkatkan proses belajar-mengajar selanjutnya. Dengan demikian proses belajar-mengajar akan senantiasa ditingkatkan terus-menerus dalam mencapai hasil belajar yang optimal (Slameto, 2003:98-99). Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kompetensi guru tidak bisa terlepas dari fungsi, peranan, tanggung jawab guru sebagai pengajar yang baik, berkepribadian yang baik. Guru juga harus biasa dan siap menerima perubahan, terutama perubahan dalam kurikulum dan sistem pendidikan yang saat ini terus dikembangkan ke arah yang lebih baik.

62

2.9. Kerangka Berpikir Belajar dan pembelajaran adalah suatu kegiatan yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Dengan belajar manusia dapat mengembangkan potensipotensi yang dibawanya sejak lahir. Aktualisasi potensi ini sangat berguna bagi manusia untuk dapat menyesuaikan diri dalam pemenuhan kebutuhannya. Kebutuhan manusia makin lama makin bertambah, baik kualitasnya maupun kuantitasnya. Tanpa belajar manusia tidak mungkin dapat memenuhi kebutuhankebutuhan tersebut. Kegiatan belajar dan pembelajaran dapat berlangsung dimanamana, misalnya di lingkungan keluarga, di sekolah, dan di masyarakat. Belajar dan pembelajaran di sekolah sifatnya formal. Semua komponen dalam proses belajar dan pembelajaran direncanakan secara sistematis. Komponen guru sangat berperan dalam membantu siswa untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Jadi seorang guru dituntut mempunyai pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang profesional dalam membelajarkan siswa-siswanya. Masing-masing guru memberi tekanan yang berbeda-beda terhadap komponen-komponen pengajaran itu. Pemberian tekanan pada aspek tertentu pada strategi belajar-mengajar itu sangat tergantung pada persepsi guru tentang esensi mengajar. Jika pengertian mengajar sebagai usaha untuk menciptakan sistem linkungan yang mengoptimalkan kegiatan belajar, mengajar dalam arti ini adalah usaha untuk menciptakan suasana belajar bagi siswa secara optimal. Yang menjadi pusat perhatian dalam proses belajar-mengajar yaitu siswa atau peserta didik (Gulo, 2002:5).

63

Guru-guru yang efektif mempunyai pengaruh yang kuat dan positif terhadap para siswa, sedangkan guru-guru yang lemah akan menimbulkan ketidaksenangan siswa terhadap sekolah dan belajar formal. Salah satu tugas yang dilaksanakan oleh guru di sekolah yaitu memberikan pelayanan kepada siswa agar mereka menjadi siswa atau anak didik yang selaras dengan tujuan sekolah itu. Melalui bidang pendidikan, guru mempengaruhi berbagai aspek kehidupan, baik sosial, budaya, maupun ekonomi. Dalam keseluruhan proses pendidikan, guru merupakan faktor utama yang bertugas sebagai pendidik. Guru memegang berbagai jenis peranan yang mau tidak mau harus dilaksanakannya sebagai seorang guru. Belajar diartikan sebagai usaha untuk mengubah tingkah laku. Belajar adalah proses yang berlangsung di dalam diri seseorang yang mengubah tingkah lakunya, baik tingkah laku dalam berpikir, bersikap, dan berbuat. Mengajar adalah usaha untuk menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan terjadinya proses belajar itu secara optimal (Gulo, 2002:8). Sistem lingkungan ini terdiri atas beberapa komponen, termasuk guru yang saling berinteraksi dalam menciptakan proses belajar-mengajar terarah pada tujuan tertentu. Oleh karena itu guru tidak bisa membawa pembelajaran sekehendak hatinya dan mengabaikan tujuan yang telah dirumuskan. Menurut pakar pendidikan, praktik mengajar di sekolah-sekolah pada umumnya lebih banyak berpusat pada guru. Artinya guru mengajar ia lebih

mempersiapkan dirinya supaya berhasil dalam menyampaikan materi pelajaran. Ia harus menguasai materi, harus menguasai metode mengajar, mampu melakukan

64

evaluasi mengajar dan lain-lain. Tanpa memperhatikan bahwa siswa-siswanya dapat belajar atau tidak. Jadi siswa hanya sebagai objek, padahal siswa adalah subjek pendidikan. Oleh karena itu diharapkan guru selalu ingat bahwa tugasnya adalah membelajarkan siswa dengan kata lain membuat siswa dapat belajar untuk mencapai hasil yang optimal yaitu siswa memperoleh pengalaman sehingga tingkah laku siswa dapat bertambah, baik kuantitas maupun kualitasnya yang meliputi pengetahuan, keterampilan dan nilai atau norma yang berfungsi sebagai pengendali sikap dan perilaku siswa. Peran peserta didik di dalam proses belajar-mengajar yaitu berusaha secara aktif untuk mengembangkan kegiatan belajar. Guru hanya menciptakan situasi yang memaksimalkan kegiatan belajar peserta didik, kegiatan pendidikan akan mengalami kegagalan kalau kegiatan mengajar tidak menghasilkan kegiatan belajar (Gulo, 2002:23). Proses belajar-mengajar yang terarah pada peningkatan kualitas manusia secara utuh meliputi dimensi-dimensi kognitif intelektual, keterampilan, dan nilainilai. Berbeda dengan ilmu pengetahuan dan keterampilan, nilai itu sendiri tidak dapat diajarkan seperti mengajar ilmu pengetahuan. Nilai hanya dapat ditangkap jika ia tampil dalam situasi tertentu untuk pembentukan kepribadian melalui proses belajar. Mengajar yaitu suatu usaha untuk mengajar. Oleh karena itu seorang guru harus mampu memancarkan nilai-nilai yang bersumber dari kasih, baik dalam penampilan dirinya secara pribadi maupun mampu dalam pengelolaan kegiatan belajar-mengajar.

65

Hasil belajar merupakan perubahan perilaku yang diperoleh pembelajaran setelah mengalami aktivitas belajar (Anni, 2004:4). Perubahan aspek-aspek

perubahan perilaku tersebut tergantung pada apa yang dipelajari oleh pembelajar. Oleh karena itu apabila pembelajar mempelajari pengetahuan tentang konsep, maka perubahan perilaku yang diperoleh adalah berupa penguasaan konsep. Dalam pembelajaran, perubahan perilaku yang harus dicapai oleh pembelajar setelah melaksanakan aktivitas belajar dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Menurut Geriach dan Ely (dalam Anni, 2004:4), tujuan pembelajaran merupakan deskripsi tentang perubahan perilaku yang diinginkan atau deskripsi produk yang menunjukkan bahwa belajar telah terjadi. Tak ada satupun kegiatan belajar-mengajar yang tidak menggunakan metode pengajaran dan salah satu usaha guru yang tidak pernah guru tinggalkan adalah, bagaimana kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian dalam keberhasilan belajar-mengajar. Salah satu kedudukan metode adalah sebagai alat untuk mencapai tujuan (Djamarah dan Zain, 2002:84-85). Tujuan adalah cita-cita yang akan dicapai dalam kegiatan belajar-mengajar. Tujuan adalah pedoman yang memberi arah ke mana kegiatan belajar-mengajar akan dibawa. Guru tidak bisa membawa kegiatan belajar-mengajar menurut sekehendak hatinya dan mengabaikan tujuan yang telah dirumuskan. Tujuan dari kegiatan belajar-mengajar tidak akan pernah tercapai selama komponen-komponen lain yang tidak diperlukan. Salah satunya adalah komponen metode.

66

Dengan memanfaatkan metode secara akurat, guru akan mampu mencapai tujuan pengajaran sehingga metode akan berfungsi sebagai pelicin pengajaran menuju tujuan. Jadi, guru sebaiknya menggunakan metode yang dapat menunjang kegiatan belajar-mengajar, sehingga dapat dijadikan sebagai alat yang efektif untuk mencapai tujuan pengajaran. Menurut Dra. Roestiyah NK (dalam Djamarah dan Zain, 2002:84), guru harus mempunyai strategi agar anak didik dapat belajar secara efektif dan efisien, mengenai pada tujuan yang diharapkan. Salah satu langkah untuk memiliki strategi itu adalah harus menguasai teknik-teknik penyajian atau disebut metode mengajar. Terhadap perbedaan daya serap anak didik misalnya dalam kegiatan belajar-mengajar tidak semua anak didik mampu berkonsentrasi dalam waktu yang relatif lama. Daya serap anak didik terhadap bahan yang diberikan juga bermacam-macam, ada yang cepat, ada yang sedang, dan ada yang lambat. Dalam hal ini metode merupakan strategi pengajaran yang tepat untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Interaksi edukatif antara guru dan anak didik, terlihat pada saat guru menyampaikan bahan pelajaran kepada anak didik dan kelas. Bahan pelajaran yang guru berikan itu akan kurang memberikan dorongan (motivasi) kepada anak didik bila penyampaiannya menggunakan strategi yang kurang tepat, hal tersebut menyebabkan kelas kurang bergairah dan kondisi anak didik yang kurang kreatif dikarenakan penentuan metode yang kurang sesuai dengan sifat bahan dan tidak sesuai dengan tujuan pengajaran.

67

Dengan fenomena yang seperti itu maka salah satu kegiatan yang harus dilakukan guru adalah pemilihan dan penentuan metode yang bagaimana yang akan dipilih untuk mencapai tujuan pengajaran. Kegagalan guru mencapai tujuan pengajaran akan terjadi jika pemilihan penentuan metode tidak dilakukan dengan pengenalan terhadap karakteristik dari masing-masing metode pengajaran, dengan begitu penyediaan lingkungan belajar yang kreatif bagi kegiatan belajar anak di kelas akan mengalami kegagalan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam proses kegiatan belajar-mengajar harus ada pendekatan, di mana dalam pendekatan tersebut harus dapat menciptakan sistem lingkungan yang memungkinkan semua kemampuan siswa dapat dikembangkan dalam proses belajar. Komponen-komponen dalam diri siswa itu disusun sedemikian sehingga aktivitas siswa dapat dikerahkan secara maksimal dengan arah yang tepat. Untuk maksud tersebut guru harus berusaha memahami kedudukan metode sebagai salah satu komponen yang ikut ambil bagian bagi keberhasilann kegiatan pembelajaran (Djamarah dan Zain, 2002:82). Tujuan mata pelajaran Ekonomi di SMA dan MA adalah; (a) membekali siswa sejumlah konsep ekonomi untuk mengetahui dan mengerti peristiwa dan masalah ekonomi dalam kehidupan sehari-hari, terutama yang terjadi di lingkungan setingkat individu/rumah tangga, masyarakat dan negara; (b) membekali siswa sejumlah konsep ekonomi yang diperlukan untuk mendalami ilmu ekonomi pada jenjang selanjutnya; (c) membekali siswa-siswa etika ekonomi dan memiliki jiwa wirausaha; (d) meningkatkan kemampuan berkompetensi dan bekerjasama dalam masyarakat yang majemuk baik dalam skala nasional atau

68

skala internasioanal (Kurikulum Mata Pelajaran Ekonomi, 2004:2). Jika dilihat dari segi tujuan dari pelajaran ekonomi maka sangatlah tepat apabila dalam praktik kegiatan pembelajarannya menggunakan pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM baik portofolio sebagai metode pembelajaran maupun sebagai penilaian. Dengan metode pembelajaran ini siswa diharapkan dapat meningkatkan pengertian, pemahaman, dan daya nalar siswa semakin kreatif dan kritis analitik, yang pada akhirnya diharapkan meningkatkan hasil belajar siswa. Melalui metode pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM para siswa dibawa pada proses belajar yang aktif (active learning) dan belajar yang menyenangkan (joyfull learning). Mengapa model ini akan membawa siswa pada proses belajar aktif ? Sebab siswa belajar dengan melakukan sesuatu (learning to do) mengenai alasan model ini menawarkan proses belajar yang menyenangkan? Sebab siswa belajar dengan penuh variasi, tidak monoton dan menjadikan lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar. Dua aspek itulah yang merupakan kekuatan metode ini, yakni siswa belajar secara aktif dalam suasana yang menyenangkan. Metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM merupakan suatu inovasi pembelajaran yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami teori melalui pengalaman belajar praktik empirik, tidak terkecuali implikasi pengalaman belajar dalam masyarakat. Portofolio merupakan alat untuk penilaian secara teru-menerus, meliputi pemilihan, pembandingan, penilaian

69

pribadi, kerjasama, dan penetapan tujuan yang berlangsung dapat dilihat hasilnya oleh siswa. Belajar hendaknya melahirkan implikasi sosial, yakni pengaruh proses dan hasil belajar bagi kehidupan orang lain (Budimansyah, 2002:115-116). Belajar bukan hanya sekedar memperoleh nilai yang baik atau lulus ujian, melainkan harus berimplikasi lebih luas pada ranah sikap dan keterampilan. Metode penilaian dalam portofolio dengan pendekatan STM tidak terbatas menilai kemampuan kognitif semata-mata, tetapi juga menilai kemampuan-kemampuan implikasi sosial belajar. Maksudnya yaitu untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, sebab pengalaman belajar itulah yang secara fungsional diperlukan siswa dalam kehidupan nyata kelak, karena untuk dapat berkiprah dalam sistem kehidupan nyata diperlukan sejumlah kemampuan dan keterampilan, bukan hanya selembar nilai atau ijazah. Demikian juga dengan pembelajaran ekonomi, kemampuan atau keterampilan sangat diperlukan dalam mengaplikasikan ilmu ekonomi. Dengan pembelajaran berbasis portofolio dengan pendekatan STM diharapkan siswa

dapat memahami dan menganalisis apa yang mereka peroleh. Oleh karena itu, siswa harus lebih sering diajak untuk mencari fakta-fakta mengenai kegiatan perekonomian untuk kemudian menganalisisnya. Dalam penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM guru dituntut untuk melaksanakan peran dan fungsinya sebagai seorang pengajar yang profesional. Guru profesional yang bekerja melaksanakan fungsi dan tujuan sekolah harus memiliki kompetensi-kompetensi yang dituntut agar mampu

70

melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya. Guru yang kompeten akan lebih mampu menciptakan lingkungan belajar yang efektif, menyenangkan, dan akan lebih mampu mengelola kelasnya, sehingga belajar para siswa berada pada tingkat optimal. Menurut Hamalik (2002:38), guru dinilai kompeten secara profesional apabila memiliki karakteristik kompetensi antara lain: (a) guru mampu mengembangkan tanggung jawab sebaik-baiknya, (b) guru mampu melaksanakan peran-peranannya secara berhasil, (c) guru mampu bekerja dalam usaha mencapai tujuan pendidikan (tujuan instruksional) sekolah, (d) guru mampu melaksanakan perannannya dalam proses balajar-mengajar di kelas. Dengan demikian guru diharapkan bisa mengaitkan materi pelajaran dengan kenyataan dalam kehidupan bermasyarakat. Selain itu guru juga diharapkan dapat mengaktifkan siswa agar terjadi pembelajaran yang dinamis dan mengadakan penilaian yang dilakukan secara terus-menerus agar perkembangan siswa selalu dapat diketahui sehingga dengan kompetensi profesional tersebut guru mengaitkan konsep pembelajaran dengan konsep pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Dapat dikatakan bahwa metode portofolio dengan pendekatan STM merupakan metode penyempurna metode-metode konvensional yang selama ini diterapkan dalam proses pembelajaran. Sehingga dengan penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM dapat menjadi metode pembelajaran yang efektif, yang dapat meningkatkan prestasi atau hasil belajar.

.

71

Metode Portofolio dengan Pendekatan Sains Teknologi dan Masyarakat (STM)
(Masukan instrumental)

Peserta didik memahami teori

Siswa

Proses pembelajaran Ekonomi

melalui pengalaman belajar dalam

Masukan instrumental

Masukan lingkungan

masyarakat.

Materi/ kurikulum

Guru

Sarana (alat/me dia)

Lingkungan sosial lingkungan guru, pegawai Tata Usaha

Lingkungan fisik suasana sekolah, keadaan gedung dan sarana lain

Gambar 7 Kerangka Berpikir

BAB III METODE PENELITIAN

3.1. Pendekatan Penelitian Dalam suatu penelitian pendekatan sangatlah penting guna keberhasilan dalam suatu penelitian. Adapun pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif atas dasar perspektif dan teori yang mendukungnya, memiliki ciri yang tidak sama dengan penelitian tradisional. Karakteristik metodologi penelitian kualitatif menurut Bogdan dan Taylor adalah (1) induktif, (2) holistik, (3) naturalistik, (4) memahami masyarakat yang dikaji dari sudut pandangan emik, (5) mengesampingkan subjektif peneliti, (6) mencoba memahami secara detail masyarakat yang distudi, (7) humanistik, (8) menekankan validitas dalam penelitiannya, (9) semua latar belakang dan orang berharga untuk diteliti, dan (10) merupakan karya seni. Dalam sebuah penelitian kualitatif tidak bertujuan melakukan pengukuran atau tidak menggunakan prosedur-prosedur

statistik dalam menjelaskan hasil penelitian (Joyomartono, 1995). Akan tetapi penelitian kualitatif lebih mementingkan penjelasan mengenai hubungan antar gejala yang diteliti. Sasaran dalam penelitian kualitatif adalah prinsip-prinsip atau pola-pola yang secara umum dan mendasar, berlaku dan mencolok berdasarkan atas perwujudan gejala-gejala yang dikaji yang analisisnya terpusat pada maknanya (dalam Fatimah, 2005:39).

72

73

3.2. Lokasi Penelitian Penelitian ini di lakukan di SMA Negeri 15 Semarang di Jalan Kedung Mundu Raya No. 34 Semarang RT. 02 /RW I. Penerapan Metode Portofolio dengan pendekatan STM di laksanakan pada kelas X-3 semester satu tahun ajaran 2006/2007, dengan alasan berdasarkan survei pendahuluan kekritisan dan keaktifan siswa dalam pembelajaran ekonomi masih kurang terutama dalam hal memahami praktik ekonomi di lapangan.

3.3. Fokus Penelitian Penentuan fokus penelitian memiliki dua tujuan. Pertama, penetapan fokus dapat membatasi studi. Jadi dalam hal ini fokus akan membatasi bidang inkuiri. Kedua, penetapan fokus berfungsi untuk memenuhi krtiteria inklusif-ekslusif atau memasukkan-mengeluarkan suatu informasi yang diperoleh (Moleong, 2005: 94). Di dalam penelitian ini yang menjadi fokus penelitian ini adalah penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM pada mata pelajaran ekonomi yang meliputi: a Penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yang akan di teliti: 1. Langkah-langkah metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM 2. Tugas-tugas terstruktur: a) Melakukan pengamatan di lapangan. b) Melakukan wawancara di lapangan.

74

c) Menyusun laporan pengamatan/wawancara di lapangan. d) Penilaian portofolio tanyangan, portofolio dokumentasi, portofolio presentasi. e) Penilaian aktivitas individual. b Aktivitas guru yang akan diteliti: 1. Persiapan guru meliputi: a) Membuat perencanaan pengajaran. b) Mempersiapkan bahan yang akan diajarkan. c) Memilih metode yang akan digunakan. 2. Proses dalam pembelajaran meliputi: a) Cara guru mengajar. b) Cara guru menyampaikan materi. c Aktivitas siswa yang akan diteliti: 1. Antusias siswa terhadap mata pelajaran ekonomi . 2. Keberanian siswa dalam mengungkapkan pendapatnya. 3. Keaktifan siswa dalam mata pelajaran ekonomi. 4. Kekritisan siswa mengkaji masalah-masalah ekonomi yang ada di masyarakat d Hambatan-hambatan dalam penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yang akan diteliti: 1. Waktu. 2. Biaya . 3. Kompetensi guru.

75

3.4. Sumber Data Penelitian Dalam penelitian ini, sumber data yang diperoleh dari informan-informan, dengan cara membatasi jumlah informan, akan tetapi apabila informasi atau data yang diperoleh telah lengkap maka dengan sendirinya penelitian ini telah selesai. Teknik sampling dalam penelitian kualitatif jelas berbeda dengan nonkualitatif. Dalam penelitian kualitatif peneliti sangat erat kaitannya dengan faktor-faktor kontekstual. Jadi maksud sampling dalam hal ini ialah menjaring sebanyak mungkin informasi dari berbagai sumber dan bangunannya

(construction). Dengan demikian tujuannya bukan dikembangkan ke dalam generalisasi. Tujuannya adalah untuk merinci kekhususan yang ada ke dalam ramuan konteks yang unik. Maksud kedua dari sampling adalah menggali informasi yang akan menjadi dasar dari rancangan dan teori yang muncul. Oleh sebab itu, pada penelitian kualitatif tidak ada sampel acak, tetapi sampel tujuan (purposive sample) (Moleong, 2005:224). Sugiyono (2006:300) menyatakan bahwa dalam penelitian kualitatif, teknik sampling yang sering digunakan adalah purposive sampling dan snowball sampling. Purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tetentu. Sedangkan snowball sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit, lamalama menjadi besar. Data informan yang digunakan atau diperlukan dalam penelitian dikaji dari sumber data berikut:

76

3.4.1. Data Primer Data primer adalah data yang dikumpulkan atau diperoleh langsung dari lapangan oleh orang yang melakukan penelitian atau orang yang bersangkutan. Informan lapangan meliputi: a. Guru ekonomi yang menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. b. Siswa yang diajar oleh guru dengan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM.

3.4.2. Data Sekunder Data sekunder yaitu data tentang penerapan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang yang diperoleh secara tidak langsung, dari sumbernya yaitu buku-buku, makalah-makalah penelitian, arsip atau dokumen dan sumber lain yang relevan (Hasan, 2002:82).

3.5. Metode Pengumpulan Data Penelitian di samping menggunakan metode yang tepat, juga perlu memilih teknik dan alat pengumpulan data yang relevan (Rahman, 1999:71). Metode yang digunakan untuk proses pengumpuan data dalam penelitian ini adalah 3.5.1. Pengamatan Metode ini dilakukan dengan cara melakukan pengamatan secara langsung terhadap fenomena yang akan diteliti. Di mana dilakukan pengamatan atau

77

pemusatan perhatian terhadap objek yang diamati dengan menggunakan seluruh alat indera, jadi mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, pendengaran, penciuman, peraba, pengecap (Arikunto, 2002:128). Dalam penelitian ini peneliti mengamati langsung penerapan metode pembelajaran dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. Teknik observasi yang digunakan dengan menerapkan pencatatan berkala atau incidental record dan anecdental record di mana pencatatan dilakukan menurut urutan kejadian dan urutan waktu yang tidak dilakukan secara terus menerus melainkan pada waktu tertentu dan terbatas, pada jangka waktu yang ditetapkan untuk tiap-tiap kali pengamatan. Peneliti menggunakan teknik di atas didasari oleh beberapa alasan sebagai berikut: a. Banyaknya gejala yang dapat diselidiki dengan observasi sehingga hasilnya sulit dibantah. b. Banyaknya objek yang hanya bersedia diambil datanya hanya dengan observasi. c. Kejadian yang serempak yang hanya dapat diamati dan dicatat secara serempak pula dengan memperbanyak observer. d. Banyaknya kejadian yang dipandang kecil yang tidak dapat ditangkap oleh alat pengumpul data yang lain, ternyata sangat menentukan hasil penelitian justru diungkap oleh observasi (Rahman, 1999:76).

Berkaitan dengan jenis pengamatan peneliti menggunakan metode pengamatan langsung yaitu peneliti terjun langsung di Sekolah Menengah Atas Negeri 15 Semarang untuk menerapkan metode portofolio dengan pendekatan

78

STM pada pelajaran ekonomi di kelas X-3, sedangkan yang dijadikan fokus pengamatan dalam penelitian ini adalah: a. Langkah-langkah metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM b. Penilaian guru dan cara guru mengajar dalam pembelajaran portofolio dengan menggunakan pendekatan STM. c. Aktivitas siswa dalam pembelajaran portofolio dengan menggunakan pendekatan STM.

3.5.2. Wawancara Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu. Percakapan itu dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu pewawancara (intervewer) yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai (intervewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu (Moleong, 2005:186). Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstruktur. Wawancara tidak terstruktur adalah wawancara yang dilakukan secara informal, di mana pertanyaan-pertanyaan tentang sikap kenyakinan subjek atau keterangan lainnya yang berkaitan dengan penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM pada mata pelajaran ekonomi dapat diajukan secara bebas kepada subjek. Wawancara itu digunakan untuk mengungkapkan data tentang penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan alat pengumpul data berupa pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada guru dan siswa SMA Negeri 15 Semarang. Wawancara dilakukan dengan membuat instrumen dan pedoman pertanyaan yang menghendaki jawaban yang

79

luas, wawancara ini dapat dikembangkan apabila masih diperlukan untuk melengkapi data-data yang masih kurang. Wawancara yang mendalam pada umunya sulit untuk distop, baik dalam arti yang diperoleh, maupun informan yang dirancangkan. Oleh sebab itu teknik ini juga dibantu oleh teknik yang lain yang lebih dikenal bola salju (snow bolling). Maksudnya adalah pewawancara harus siap menerima informan baru/keterangan baru yang tidak termasuk dalam daftar pertanyaan. Sementara informan muncul akibat bola salju yang diperlukan (Sudjarwo, 2001:76). Sedangkan dalam penelitian ini yang menjadi fokus wawancara adalah: a. Aktivitas dalam kelas. b. Penugasan yang diberikan oleh guru. c. Metode yang diterapkan oleh guru. d. Kesulitan guru dalam penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM.

3.5.3. Dokumentasi Dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, prasasti, notulen, surat legger, agenda dan lain sebagainya (Arikunto, 2002:206). Dalam metode ini alat pengumpul data tentang penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM pada mata pelajaran ekonomi di SMA Negeri 15 Semarang adalah laporan kegiatan siswa yang ditugaskan guru yang berupa bundel (portofolio) dan sumber lain yang relevan.

80

3.6. Keabsahan Data Uji keabsahan data penelitian sering hanya ditekankan pada uji validitas dan reliabilitas. Dalam penelitian kualitatif, kriteria utama terhadap data hasil penelitian adalah valid, reliabel, dan obyektif. Validitas merupakan derajat ketepatan antara data yang terjadi pada objek penelitian dengan data yang dapat dilaporkan oleh peneliti. Dengan demikian data yang valid adalah data yang tidak berbeda antara data yang dilaporkan oleh peneliti dengan data yang sesungguhnya terjadi pada objek penelitian (Sugiyono, 2006:363). Stainback (dalam Sugiyono, 2006:364) menyatakan bahwa reliabel adalah merupakan derajat konsistensi dan stabilitas data atau temuan. Dalam pandangan positivistik (kualitatif), suatu data dinyatakan reliabel apabila dua atau lebih peneliti dalam objek yang sama menghasilkan data yang sama, atau peneliti yang sama dalam waktu berbeda menghasilkan data yang sama, atau sekelompok data yang apabila dipecah menjadi dua menunjukkan data yang tidak jauh berbeda. Dalam penelitian kuantitatif, untuk mendapatkan data yang valid dan reliabel, yang diuji validitas dan reliabilitasnya adalah instrumen penelitiannya, sedangkan dalam penelitian kualitatif yang diuji datanya. Oleh karena itu Stainback menyatakan bahwa penelitian kualitatif lebih menekankan pada aspek validitasnya. Untuk mendapatkan validitas data dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik triangulasi sebagai teknik pemeriksaan data. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain

81

di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding data itu (Moleong, 2005:330). Teknik triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik triangulasi dengan memanfaatkan penggunaan metoda dan sumber. Teknik triangulasi dengan memanfaatkan metoda yaitu teknik pemeriksaan keabsahan data yang dilakukan dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik/metode yang berbeda, dalam hal ini data yang diperoleh dengan wawancara, lalu dicek dengan observasi, dan dokumentasi. Sedangkan teknik triangulasi dengan memanfaatkan sumber yaitu, membandingkan dan mengecek balik derajad kepercayaan suatu informasi yang diperoleh melalui waktu dan alat yang berbeda dengan kata lain keabsahan data dilakukan dengan cara mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Hal ini dicapai dengan jalan: a. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. b. Membandingkan apa yang dikatakan orang di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. c. Membandingkan apa yang dikatakan orang-orang tentang situasi peneliti dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. d. Membandingkan keadaan pada perspektif seseorang dengan berbagai pendapat orang lain. e. Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. (Moleong, 2005:330-331)

82

3.7. Analisis Data 3.7.1. Pengertian Analisis Data Bogdan dan Taylor (dalam Hasan, 2002:97) mendefinisikan analisis data sebagai suatu proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesis itu. Menurut Bogdan dan Biklen (dalam Moleong, 2005:248), menyatakan bahwa analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain. Moleong (2005:75) menyatakan bahwa yang dimaksud analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja yang dirumuskan oleh data.

3.7.2. Bentuk atau Cara Melakukan Analisis Data Analisis data kualitatif dilakukan secara induktif, yang berarti penelitian kualitatif tidak dimulai dari deduksi teori tetapi dimulai dari lapangan yakni fakta empirik. Peneliti terjun langsung ke lapangan, mempelajari, menganalisis dan menarik kesimpulan dari fenomena yang ada di lapangan. Analisis dalam penelitian kualitatif dilakukan bersamaan dengan proses pengumpulan data (Sugiyono, 2006:336). Dengan demikian pada saat wawancara, peneliti sudah

83

melakukan analisis terhadap jawaban yang diwawancarai. Bila jawaban yang diwawancarai setelah dianalisis terasa belum memuaskan, maka peneliti akan melanjutkan pertanyaan lagi, sampai pada tahap tertentu, diperoleh data yang dianggap kredibel. Miles and Huberman dalam Sugiyono (2006:337-338) mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus-menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Aktivitas dalam analisis data, yaitu reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan (conlusion drawing/verification). Langkah-langkah analisis ditunjukkan pada gambar 8.

Pengumpulan Data

Penyajian Data

Reduksi Data Penarikan Kesimpulan

Gambar 8 Komponen dalam Analisis Data Kualitatif (Interaktif Model ) Sumber: Miles and Huberman (dalam Sugiyono, 2006:338)

84

a. Reduksi Data. Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemfokusan,

penyederhanaan dan transformasi data kasar yang dikumpulkan dari lapangan, atau dengan kata lain mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya dan membuang yang tidak perlu. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang jelas, dan memudahkan peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan. Dalam penelitian ini proses reduksi data dapat dilihat melalui kegiatan pengumpulan data. Berdasarkan pengamatan, wawancara, dan dokumentasi data diperoleh dari lapangan. Pengamatan dilakukan saat pembelajaran ekonomi berlangsung di dalam kelas dan saat mengadakan kunjungan ke Perajin tahu Tandang, DINKES dan BPOM. Pengamatan ini juga dilakukan pada saat pagelaran kasus (show case), data yang diperoleh dari pengamatan yaitu mengenai langkah-langkah pembelajaran ekonomi, cara mengajar dan cara penilaian guru serta aktivitas siswa dengan menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Wawancara dilakukan saat siswa mengadakan kunjungan ke Perajin tahu Tandang, DINKES, dan BPOM. Kegiatan ini juga dilakukan pada saat gelar kasus (show case) dan refleksi pengalaman belajar. Selain siswa guru ekonomi juga diwawancarai, jumlah siswa yang diwawancarai ada 25 siswa dan 3 guru ekonomi di SMA negeri 15 semarang. Data yang diperoleh melalui wawancara adalah mengenai aktivitas siswa dalam kelas, penugasan yang diberikan oleh guru,

85

metode yang diterapkan oleh guru, kesulitan atau hambatan dalam menerapkan metode portofolio dengan pendekatan STM. Dokumentasi digunakan untuk mencari data berupa catatan, buku, surat kabar, agenda dan lain-lain. Dalam penelitian ini data dokumentasi berupa fotofoto penelitian, laporan kegiatan siswa yang ditugaskan guru yang berupa bundel (portofolio dokumentasi) dan sumber lain yang relevan misalnya buku-buku bacaan, silabus, rencana pembelajaran, dan pengalokasian waktu kegiatan intrakulikuler dan ektrakurikuler dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Data kasar yang telah diperoleh tersebut dianalisis dengan teknik triangulasi metoda dan sumber (mengecek data dari berbagai metode dan sumber penelitian). Hal ini dicapai dengan jalan: 1. 2. Membandingkan data hasil pengamatan dengan hasil wawancara. Membandingkan apa yang dikatakan guru/siswa di depan umum dengan apa yang dikatakan secara pribadi. 3. Membandingkan apa yang dikatakan guru/siswa tentang situasi peneliti dengan apa yang dikatakan sepanjang waktu. 4. Membandingkan keadaan pada perspektif guru/siswa dengan berbagai pendapat orang lain. 5. Membandingkan hasil wawancara dengan isi sesuatu dokumen yang berkaitan. b. Penyajian Data.

86

Setelah data direduksi, maka langkah selanjutnya adalah mendisplaykan data/menyajikan data. Dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dengan uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya. Dalam hal ini Miles and Huberman dalam Sugiyono (2006:341) menyatakan bahwa yang paling sering untuk menyajikan data dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Data yang disajikan dalam penelitian ini meliputi: 1. 2. Gambaran umum SMA Negeri 15 Semarang. Pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. a Persiapan pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 semarang. b Proses pembelajaran metode portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 semarang. 3. Evaluasi pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. 4. Hambatan-hambatan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang. c. Penarikan Kesimpulan. Langkah ketiga dalam analisis data kualitatif menurut Miles and Huberman dalam Sugiyono (2006:344) adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Penarikan kesimpulan merupakan langkah terakhir dari analisis data. Dalam penarikan kesimpulan harus didasarkan pada sajian data. Jika dalam

87

penarikan kesimpulan masih terdapat kekurangan data dalam reduksi data maka peneliti menggali kembali pada catatan dari lapangan. Apabila pada catatan itu tidak ditemukan maka peneliti kembali melakukan pengumpulan data yang perlu dilakukan. Hal-hal yang disimpulkan dalam penelitian ini yaitu: 1. Tentang penerapan metode portofolio dengan pendekatan STM, dengan pendekatan ini antusiasme siswa dalam kegiatan pembelajaran meningkat dan siswa mengetahui aplikasi teori yang dipelajari dalam kehidupan sehari-hari di masyarakat. Mereka pun mendapat sumber pembelajaran dari lapangan atau lingkungan masyarakat sehingga dapat memberikan pengalaman bagi siswa. 2. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM.

3.8. Prosedur Penelitian Prosedur penelitian diawali dengan kegiatan menyusun rencana pengajaran sebagai berikut ini. a. Menyusun silabus pembelajaran ekonomi kelas X semester satu, dengan menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM. b. Menyusun rencana pembelajaran ekonomi kelas X semester satu, dengan menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM. c. Menyusun alokasi waktu kegiatan intrakulikuler dan kokulikuler dalam pembelajaran ekonomi kelas X semester satu dengan menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM.

88

d. Membuat skenario pembelajaran ekonomi dengan metode portofolio dengan pendekatan STM. sebagai berikut: Langkah-langkah pembelajaran yang dimaksud adalah (1) pendahuluan: inisiasi/invitasi/apersepsi/eksplorasi

terhadap siswa

(siswa mengidentifikasi masalah yang akan dikaji oleh

masing-masing kelompok); (2) pembentukan atau pengembangan konsep (siswa mengumpulkan informasi dari berbagai sumber tentang masalah yang dikaji); (3) aplikasi konsep dalam kehidupan: penyelesaian masalah atau analisis isu (siswa mengkaji dan menentukan solusi atau alternatif pemecahan masalah dan menyusun rencana kebijakan publik. Kegiatan ini dilakukan di dalam kelas di bawah bimbingan guru dan menyempurnakan di luar sekolah (kelompok mandiri); dan (4) pemantapan konsep (siswa menyajikan portofolio kelas, kegiatan ini dilakukan dalam diskusi kelas dan masingmasing kelompok portofolio secara bergiliran mempresentasikan hasil karyanya sesuai topik masing-masing); (5) penilaian (refleksi pembelajaran) e. Mempersiapkan sarana dan prasarana pendukung yang diperlukan. f. Menyusun lembar pengamatan untuk menilai kondisi selama proses belajarmengajar berlangsung. g. Menyusun pedomam wawancara untuk mengetahui tanggapan guru dan siswa tentang penerapan pembelajaran ekonomi dengan menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM. h. Menyusun rancangan evaluasi untuk melihat hasil belajar siswa pada tiga ranah, yakni kognitif, afektif, dan psikomotor .

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian 4.1.1 Gambaran Umum SMA Negeri 15 Semarang Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 15 Semarang berdiri berdasarkan surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 0212/1992 tertanggal 15 mei 1992. Proses berdirinya SMA Negeri 15 Semarang dibantu oleh pemerintah dengan pemberian tanah di Jalan Kedung Mundu Semarang. Pada mulanya proses kegiatan belajar-mengajar di SMA Negeri 15 Semarang diampu oleh Guru SMA Negeri 11 Semarang. Setelah satu tahun, tepat pada bulan Juli 1992 warga SMA Negeri 15 Semarang telah menempati gedung sendiri oleh SMA Negeri 15 Semarang. Proses pergantian Kepala Sekolah SMA Negeri 15 Semarang juga telah

mengalami beberapa penggantian. Kepala Sekolah pertama adalah dipegang oleh Ibu Soemiarsih, B.A dari tahun 1992 sampai dengan tahun 1995, kemudian digantikan dengan Kepala Sekolah kedua, yaitu Drs. Gatot Bambang Hastowo dari tahun 1995 sampai dengan tahun 1999 dilanjutkan dengan Kepala Sekolah ketiga yaitu Dra. Andjar Prijatni, M.Si yaitu sampai tahun 2002. Kepala Sekolah keempat yaitu Drs. Sentot Widodo dari tahun 2002 sampai dengan 2005, dan kepemimpinan sekarang dipegang oleh Drs. Hari Waluyo. SMA Negeri 15 Semarang terletak di Jalan Kedung Mundu Raya No. 34 Semarang RT. 02/RW. I Kecamatan Sambiroto Kabupaten Tembalang. Bangunan

89

90

yang mengelilingi SMA Negeri 15 Semarang yaitu sebelah barat perumahan penduduk, sebelah timur perumahan penduduk, sebelah timur perumahan Kini Jaya, sebelah selatan perumahan Sambiroto Baru, sebelah utara jalan raya dan pertokoan. Kondisi lingkungan sekolah terletak di daerah yang cukup kondusif dan strategis, sangat baik untuk kegiatan proses belajar-mengajar karena letaknya yang jauh dari hiburan dan pusat keramaian. Selain itu untuk mencapai SMA Negeri 15 Semarang banyak sekali akses yang bisa dicapai. Angkutan umum yang mudah didapat dan fasilitas-fasilitas kendaraan umum lain yang memudahkan menuju ke SMA Negeri 15 Semarang. Jarak SMA Negeri 15 semarang dengan pusat kota ± 15 km. Luas tanah SMA Negeri 15 Semarang 7000 m2 dan luas bangunan 4.087 m2 terdiri dari 20 ruang teori dimana kelas X 7 kelas, kelas XI 7 kelas, kelas XII 6 kelas, dan 19 ruang penunjang lainnya terdiri dari ruang Kepala Sekolah, ruang Wakil Kepala Sekolah, ruang guru, ruang Bimbingan dan Koseling (BK), ruang Tata Usaha (TU), ruang labolatorium, ruang praktik komputer, ruang perpustakaan, tempat ibadah (masjid), ruang OSIS, ruang Usaha Kesehatan Sekolah (UKS), ruang koperasi, ruang kantin, kamar kecil, ruang gudang, ruang agama (kristen), ruang keamanan, ruang tamu, ruang media dan alat bantu. Tenaga pengajar/guru di SMA Negeri 15 Semarang terdiri dari 61 guru, pendidikan guru tersebut mulai dari Diploma III (D3), Sarjana Muda (SARMUD), sampai Sarjana Strata Satu (S1). Untuk Guru ekonomi terdiri dari 5 guru yaitu Dra. Inmarduraras mengampu kelas XIII IS-1, XII IS-2. Drs. Budiyono mengampu kelas X-1, X-2, X-3, X-4. Dra. Sri Antini mengampu kelas XI IS-2

91

dan XI IS-3 dan Dra. Shanti lusiana Ikhtiarini mengampu kelas XI IS-1 serta Tri Datu Handayani S.Pd yang mengampu kelas X-5, X-6, X-7 dan kelas XII-1 dan XII-2. Namun yang melaksanakan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM hanya pada kelas X-3, sedangkan tenaga non kependidikan (karyawan) terdiri dari 13 karyawan mereka berpendidikan dari SMP, SMA/ SMEA, Diploma III (D3), sampai Sarjana Strata satu (S1). Mereka semua di bawah pimpinan Drs. Hari Waluyo selaku Kepala Sekolah. Jumlah yang aktif belajar di SMA Negeri 15 Semarang pada tahun pelajaran 2005/2006 sebanyak 878 siswa dengan perincian kelas X = 305 siswa, kelas XI = 309 siswa, dan kelas XII = 264 siswa. Kondisi orang tua siswa sangat beragam dari pegawai negeri, TNI/POLRI, karyawan swasta, wiraswasta dan buruh.

4.1.2

Pelaksanaan Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang

a. Persiapan Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang Persiapan/perencanaan merupakan suatu hal yang sangat penting, agar dapat melaksanakan suatu pembelajaran dengan baik begitu juga agar siswa lebih paham dan mengerti tentang pembelajaran yang akan digunakan. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007) bahwa untuk mempersiapkan pembelajaran, guru harus mempersiapkan administrasi

pembelajaran. Awal pertemuan memberikan penjelasan tentang apa dan

92

bagaimana pembelajaran ekonomi dengan menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM. Oleh karena itu guru dituntut untuk mempersiapkan rencana pembelajaran/administrasi pembelajaran sesuai dengan kurikulum. Kurikulum yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah kurikulum KBK yang nantinya akan mengetahui proses belajar dan hasil belajar yang

berkesinambungan. Hal-hal yang perlu dipersiapkan secara administratif adalah Silabus dan Rencana Pembelajaran (RP), hal tersebut diperlukan untuk mempermudah dalam kegiatan belajar-mengajar (KBM) sehingga materi yang diberikan oleh guru mudah dipahami oleh siswa. Dalam silabus dibagi menjadi dua kegiatan yaitu kegiatan intrakulikuler dan kegiatan ekstrakulikuler. Kegiatan dalam

pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang diberi nama Praktik Belajar Kewarganegaraan maksudnya adalah membelajarkan siswa mempengaruhi berbagai kebijakan publik, ini merupakan upaya pendidikan untuk warga negara demokratis. Dengan demikian proses pembelajaran berlangsung secara interdisipliner, yaitu memfokuskan pada berbagai gejala kemasyarakatan yang muncul, baik tingkat pusat maupun daerah; mempelajari isu-isu dunia yang sesungguhnya (kontekstual); menerapkan belajar kooperatif dan melakukan penilaian model. Kompetensi dasar dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM pada tahun 2005/2006 adalah menganalisis

permasalahan ekonomi dan pemecahannya berdasarkan sistem ekonomi yang berlaku.

93

b. Proses Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang Dalam melaksanakan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM harus memperhatikan pedoman pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yang telah ditentukan. Siswa lebih senang dan antusias terhadap pembelajaran dengan metode ini karena siswa bebas mengungkapkan

pendapatnya. Dalam rencana pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dibagi menjadi dua kegiatan yaitu kegiatan intrakulikuler dan ekstrakulikuler (lihat pada lampiran 2). Pada kegiatan intrakulikuler guru menerangkan pokok bahasan sesuai materi (permasalahan ekonomi) sedangkan dalam kegiatan ekstrakulikuler siswa mengembangkan portofolio dengan pendekatan STM. Langkah-langkah pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yang dilakukan oleh siswa kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang 2005/2006 sebagai berikut: 1. Apersepsi/Inisiasi/Invitasi/Eksplorasi (Identifikasi Masalah) Pada tahap awal guru bercerita tentang materi berkenaan dengan pokok bahasan (Permasalahan Ekonomi), nilai-nilainya dikaitkan dengan pelaksanaan kehidupan sehari-hari, guru dapat membimbing dan memotivasi siswa untuk mengemukakan isu-isu/masalah yang berkaitan dengan permasalahan ekonomi dengan mengkaitkan unsur-unsur Sains Teknologi dan Masyarakat (STM), berdasarkan pengetahuan yang dimilikinya. Langkah berikutnya adalah identifikasi masalah, hal tersebut dapat ditempuh dengan cara seluruh siswa membaca dan mendiskusikan masalah-

94

masalah yang ditemukan di masyarakat. Pertama-tama guru memperlihatkan buku/ majalah/koran/print out internet, yang berisi artikel yang ada kaitannya dengan konsep yang dibahas, kemudian siswa dibagi kelompok-kelompok kecil yang terdiri 4-6 orang, jadi terbentuk 8 kelompok kecil (dapat dilihat pada gambar 8). Kelompok ini bertugas untuk menyakinkan bahwa masalah yang ditentukan adalah yang penting, menyangkut banyak orang, dan perlu penanganan segera. Siswa menguji permasalahan yang dipilih dengan pertanyaan-pertanyaan seperti: (1) apakah permasalahan itu dianggap penting oleh siswa dan anggota masyarakat pada umumnya?; (2) apakah masalah tersebut mendesak untuk

ditangani dan apakah telah ada pihak yang menangani baik kelompok ataupun lembaga?; (3) siapa yang harus bertanggung jawab menyelesaikan masalahmasalah tersebut, masyarakat/pemerintah?; apabila merupakan tanggung jawab pemerintah, sudah adakah kebijakan yang telah diambil pemerintah untuk menanganinya? dan jika ada, apakah kebijakan tersebut ada hasilnya?; (4) apakah keuntungan dan kerugiannya?; (5) apakah terjadi silang pendapat di masyarakat mengenai kebijakan tersebut?; (6) apakah kebijakan sudah sempurna atau masih perlu perbaikan atau diganti mengapa ?. Identifikasi masalah dan penentuan masalah akan dikaji oleh tiap-tiap kelompok, sehingga siswa meningkatkan kepekaan terhadap masalah-masalah tersebut.

95

Gambar 8 Kelompok kecil yang telah dibentuk pada fase identifikasi masalah Sumber: Dokumen Pribadi

2. Pengembangan dan Pemantapan Konsep/Nilai/Moral (Memilih Masalah) Guru memotivasi dan membimbing siswa untuk mengemukakan isu/masalah yang dilakukan dengan pemungutan suara (voting), agar masalah yang dipilih benar-benar berkualitas maka proses pemilihan dapat dilakukan dengan dua tahap pada tahap satu, setiap siswa menentukan tiga pilihan secara terbuka dengan memberikan tanda pagar pada masing-masing masalah. Oleh Karena itu, setelah seluruh siswa menentukan pilihan, maka akan tampak pada daftar masalah pada pengelompokkan pemilihan tahap satu yang terlihat pada tabel 3 di bawah ini.

96

Tabel 3 Daftar Masalah untuk Kajian Kelas dan Pemungutan Suara Tahap Pertama
No. 1. 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 Masalah untuk Kajian Kelas Omzet Penjualan Perajin Tahu Tandang merosot akibat isu formalin Sukses bandeng presto & bandeng duri lunak, pilihan usaha tepat Menganyam besek, menganyam harapan & Pedagang keranjang bambu di pasar Bulu Udang naik Perajin kerupuk ganti dengan ikan Produksi jamur masih di bawah permintaan Pasar Sriboga bertumpu pada industri Industri jamu makin terpuruk & jamu mulai tercemar bahan kimia obat Kelangkaan pupuk masih berlanjut Puluhan perajin kompor terancam gulung tikar Kegelisahan produsen mebel bambu Harga beras lokal naik Tally ///// ///// ///// ///// / ///// ///// ///// ///// //// ///// ///// // ///// ///// ///// ///// ///// ///// ///// ///// /// ///// // / / / //// //// / ///// ///// 129 Frekuensi 21 24 12 12 6 6 6 9 9 6 18 129

JUMLAH Catatan: Pemilih 43 Siswa (Sumber: Data Olahan, 2006)

Pemilihan tahap satu cukup tiga masalah, oleh karena jika melihat daftar di atas maka terdapat tiga masalah yang paling banyak dipilih pada pemilihan tahap satu tersebut, yaitu (1) sukses bandeng presto & bandeng duri lunak, pilihan usaha tepat (2) omzet penjualan Perajin tahu Tandang merosot akibat isu formalin, (3) harga beras lokal naik. Sehubungan kelas harus memilih satu masalah sehingga diadakan pemungutan suara lagi yaitu tahap kedua dengan cara terbuka, pemilihan tahap kedua dapat dilihat pada tabel 4 di bawah ini.

97

Tabel 4 Daftar Masalah untuk Kajian Kelas dan Pemungutan Suara Tahap Kedua No Masalah untuk Kajian Kelas Tally Jumlah 1 Sukses bandeng presto & bandeng duri lunak, ///// ///// ///// 15 pilihan usaha tepat 2 Omzet Penjualan Perajin Tahu Tandang ///// ///// ///// 17 merosot karena isu formalin // 3 Harga beras lokal naik ///// ///// / 11

JUMLAH Catatan: Pemilih 43 Siswa (Sumber: Data Olahan, 2006)

43

Berdasarkan data pemilihan tahap kedua maka yang paling banyak memperoleh suara adalah Omzet Penjualan Perajin Tahu Tandang merosot akibat isu formalin (memperoleh 17 suara). Oleh karena itu masalah tersebut akan menjadi kajian kelas. Dengan demikian siswa yang tidak menjatuhkan pilihan pada masalah tersebut juga harus menghargai dan menerima pilihan yang didukung suara terbanyak, sehingga siswa merasakan salah satu bentuk hidup demokratis. Di akhir tahap ini guru membimbing siswa untuk menentukan sumber-sumber informasi berkenaan dengan masalah yang dikaji kelas. 3. Aplikasi Konsep/Nilai/Moral melalui Tugas Kokulikuler (Mengumpulkan Informasi berkenaan dengan Masalah yang dikaji di kelas) Setelah kelas melakukan pemungutan suara (voting) kelas mendapatkan isu/ masalah tentang “Omzet penjualan Perajin Tahu Tandang merosot akibat isu formalin”, untuk mengumpulkan informasi masalah yang dikaji di kelas guru membimbing siswa untuk membagi kelas dalam pencaharian informasi/data di luar kelas sebagai tugas kokurikuler. Kelas dalam kegiatan ini dibagi ke dalam tim-tim peneliti (daftar tim peneliti lihat pada lampiran 8), setiap tim hendaknya bertanggung jawab untuk mengumpulkan informasi dari sumber yang berbeda.

98

Anggota tim peneliti bertugas untuk melakukan kunjungan sekaligus wawancara atau pengamatan langsung, mereka memulainya dengan

memperkenalkan diri kemudian memberitahukan alasan mengapa tim peneliti mengunjungi mereka. Kegiatan penelitian ini dilakukan di luar kelas yang merupakan kerja kelompok yang tersruktur. Siswa mencari data tentang penurunan omzet penjualan tahu tandang akibat isu formalin dengan cara mendatangi nara sumber misalnya Ketua Perajin Tahu di kampung Tandang, Dinas Kesehatan (DINKES) kota Semarang, Badan pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Sebenarnya masih ada Dinas lain yang harus dikunjungi seperti Dinas Perindustrian dan Perdagangan (DISPERINDAG), Yayasan Perlindungan dan Pelanyanan Konsumen (YP2K) serta POLISI namun karena keterbatasan waktu dan masalah perizinan serta data yang telah diperoleh dirasa sudah cukup memadai maka diputuskan hanya mengunjungi tiga nara sumber saja. Siswa mencari data yang diperlukan tidak menggunakan jam pelajaran tetapi pulang dari sekolah. Kunjungan pertama siswa dalam rangka untuk memperoleh informasi berkenaan dengan masalah yang dikaji kelas adalah Perajin tahu tandang yang dilaksanakan hari rabu, tanggal 6 Desember 2006, pukul 14.00-15.30 WIB. Kedatangan siswa di kampung Tandang, kelurahan Jomblang, kecamatan Candi Sari disambut baik oleh Ketua Tahu Tandang Bapak Warsino. Di sini para siswa memperoleh informasi antara lain tentang proses pembuatan tahu, cara

mendistribusikan/menjual tahu-tahu yang telah dihasilkan, dan dampak ketika isu formalin merebak terhadap penjualan tahu. Pada kesempatan ini siswa

99

menanyakan kepada Bapak Warsino “upaya apa yang di tempuh para perajin tahu di kampung Tandang untuk menghadapi merebaknya isu tersebut?” Jawaban dari Bapak Warsino “penangulangan masalah ini yaitu dengan mengadakan kerjasama dengan BPOM, DINKES kota Semarang, DISPERINDAG” untuk mengadakan penyuluhan dan mengetes tahu yang dihasilkan serta dengan mencantumkan tulisan “BEBAS FORMALIN” pada setiap produk tahu. Mereka berharap dengan kerjasama tersebut maka penyalahgunaan formalin dalam tahu dapat diatasi dan masyarakat tidak sangsi lagi untuk mengkonsumsi tahu sehingga secara tidak langsung omzet penjualan tahu tandang dapat kembali seperti semula. Berdasarkan hasil survei, keseriusan isu formalin terhadap perajin tahu berdampak sangat besar, dengan adanya isu ini pemasaran tahu menurun drastis. Biasanya Bapak Warsino dapat memasarkan 70-80 ton tahu perhari, setelah adanya isu penggunaan formalin pada tahu, pemasarannya menurun sampai 60%, dan ini sangat merugikan para Perajin tahu Tandang yang tidak ikut serta dalam penyalahgunaan formalin. Selain di Semarang penyebaran isu formalin pada tahu tersebar di berbagai daerah dan kota-kota lain di Indonesia. Survei ini memberikan pengalaman berharga bagi siswa. Mereka menjadi lebih paham tentang kegiatan produksi, distribusi, konsumsi, serta perilaku produsen dan konsumen secara nyata. Dalam hal ini siswa bukan hanya mendapat teori di kelas saja namun praktiknya di lapangan. Pada gambar 10 dan 11 berikut ini dapat dilihat kegiatan siswa saat berkunjung di Perajin tahu Tandang.

100

Gambar 10 Siswa sedang menanyakan bagaimana proses pembuatan tahu pada waktu kunjungan ke Perajin tahu Tandang. Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar 11 melengkapi informasi yang dibutuhkan, selain di Perajin tahu Untuk Siswa bersama Bpk Warsino, Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) “Mandiri Lestari” setelah mengadakan wawancara. Sumber: Dokumen Pribadi tandang siswa juga melakukan survei di Dinas Kesehatan (DINKES) kota Semarang, yang terletak di Jalan Pandanaran No. 79 Kode Pos 50243. Survei ini

101

berlangsung pada hari kamis tanggal 7 Desember 2006, mulai pukul 14.00-15.30 WIB. Siswa memperoleh pengalaman yang tidak kalah pentingnya, dengan mengadakan survei ini siswa dapat bertannya sepuas-puasnya kepada pejabat DINKES karena mereka sangat berkompeten sesuai dengan permasalahan yang sedang dikaji. Salah satu pertanyaan yang disampaikan kepada mereka adalah “Bagaimana dampak tahu berformalin bagi kesehatan manusia?” jawaban dari Bapak Much. Haryono selaku pihak dari DINKES dari divisi PMKL menyatakan bahwa jika formalin sampai terhirup, mengenai kulit, atau bahkan tertelan maka akibat yang ditimbulkan dapat berupa: luka bakar pada kulit, iritasi pada saluran pernafasan, reaksi alergi dan bahaya kanker pada manusia. Lebih lanjut beliau mengungkapkan bahwa DINKES selalu menandai bahan-bahan makanan yang akan dikonsumsi masyarakat dengan ditandai “DINKES RISP/RIRT, hal ini menunjukkan bahan makanan tersebut aman dikonsumsi oleh masyarakat. Di dalam Keterangan Menkes 722 tercantum semua bahan pemutih, pengawet dan lain-lain yang boleh dimakan dan yang tidak boleh dipakai. Para siswa menanyakan “ Sanksi apa yang diberlakukan bagi para Perajin tahu yang telah dinyatakan positif menggunakan formalin sebagai bahan pengawet?”. Jawaban dari Bapak Much. Haryono adalah “Kebijakan pemerintah dalam hal ini DINKES kota Semarang untuk menangani masalah formalin yang digunakan sebagai pengawet tahu adalah mulai dengan cara menegur/memberi peringatan, mencabut ijin usaha (kerjasama dengan DISPERINDAG), bahkan sampai disidang dan disidik lalu didenda sampai 600 juta.” DINKES juga memberikan hasil pemeriksaan yang dilakukan di sejumlah perajin tahu di

102

Semarang, untuk

Perajin tahu tandang dinyatakan bebas formalin. Upaya

DINKES untuk memotong mata rantai penyebaran formalin secara bebas dan disalahgunakan yaitu bekerjasama dengan BPOM untuk memeriksa bahan

pangan di pasar-pasar dengan cara mendeteksi bahan pangan tersebut dengan Rapites (alat pendeteksi formalin). Pada gambar 12 berikut ini dapat dilihat kegiatan pemberian materi pada waktu kunjungan siswa di DINKES.

Gambar 12 Pemberian materi kepada siswa mengenai cara kerja alat pendeteksi formalin (Rapites). Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kunjungan siswa berakhir di Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di jalan Madukoro No. 88 Blok AA, kunjungan ini berlangsung hari rabu tanggal 13 Desember 2006, mulai pukul 14.30-15.00 WIB. Badan ini mempunyai tugas berkenaan dengan pembinaan, pengawasan, dan penanganan mutu produk

103

pangan. Pihak BPOM sangat antusias sekali menyambut kedatangan para siswa, meskipun kedatangannya terlambat akibat cuaca yang tidak mendukung. Mereka menjelaskan tentang bahan pangan, keamanan, mutu dan gizi pangan, faktor kerusakan bahan pangan, prinsip pengolahan bahan pangan, pewarna yang

dilarang sampai pada pengawet yang berbahaya bagi kesehatan manusia di dalamnya termasuk formalin. Mereka memaparkan bahwa formalin merupakan larutan formaldehyde dalam air dan dilarang digunakan dalam pangan sebagai pengawet. Mereka juga menjelaskan bahwa formalin tidak selamanya buruk atau berdampak negatif, karena formalin bisa juga digunakan bagi pihak industri plastik, sebagai bahan anti besi, bahan konstruksi, kertas, karpet, tekstil, cat, mebel, pengawet mayat. Namun ada pula pihak-pihak yang menyalahgunakan formalin sebagai bahan pengawet makanan, salah satunya sebagai pengawet tahu agar tahu tahan lama dan tetap bagus, padahal ini sangat berbahaya bagi kesehatan manusia. Para siswa tidak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk menanyakan beberapa hal berkenaan masalah yang dikaji kelas, salah satunya dalah “Bagaimana mengetahui secara pasti adanya formalin pada produk pangan dalam hal ini tahu dan bagimana pula ciri-ciri tahu yang berformalin ?” Ibu Winarni selaku pihak yang mewakili BPOM menjawab “Bahwa untuk mengetahui tahu itu berformalin atau tidak bisa dilakukan deteksi formalin secara kualitatif maupun kuantitatif secara akurat dan hanya dapat dilakukan di labolatorium dengan menggunakan pereaksi kimia, namun bisa juga dilakukan secara sederhana yaitu dengan alat pengetes formalin yang dikenal dengan sebutan RAPITES”. Alat ini

104

bisa dibeli dan dijual secara bebas, masyarakat luas pun bisa menggunakannya. Sedangkan berkenaan dengan ciri-ciri tahu yang berformalin beliau menjelaskan “Ada tiga hal yang harus diperhatikan antara lain: (1) tahu tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar (25 o C) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 o C); (2) tahu terlampau keras, namun tidak padat; (3) bau agak menyengat, bau formalin (dengan kandungan formalin 0,5 - pm)”. Pihak BPOM juga menjelaskan tentang dasar hukum tentang pelanggaran penyalahgunaan formalin pada pangan antara lain Permenkes No. 722/ Menkes/ Per/ IX/ 1998, Permenkes RI No 472/ Menkes / Per/ V/ 1996, Kepmen Perindag No. 254/ MPP/ 7/ 2000, dan Permen Dag No. 04/ M-Dag/ Per/ 2/ 2006. Mereka juga memberi contoh-cotoh bahan pangan dan produk pangan yang berbahaya untuk dikonsumsi manusia, untuk lebih jelasnya kegiatan siswa di BPOM dapat dilihat pada gambar 13 dan 14 di bawah ini.

Gambar 13 Para siswa sedang mengamati bahan pangan dan produk pangan yang tidak boleh dikonsumsi manusia, contohnya formalin, borak, pewarna dll. Sumber: Dokumen Pribadi

105

Gambar 14 Para siswa sedang memperhatikan pemaparan dari pihak BPOM melalui LCD Sumber: Dokumen Pribadi Dengan siswa melakukan wawancara dengan berbagai nara sumber misalnya Perajin tahu Tandang, DINKES, BPOM, siswa mendapat pengalaman yang berharga dan tidak terlupakan. Wawancara yang dilakukan oleh siswa

sangat penting, karena para siswa secara individu harus membuat laporan survei dari masing-masing obyek yang dikunjungi sebagai bahan untuk membuat

portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Data-data yang diperoleh siswa cukup banyak dan dapat dipertanggungjawabkan karena langsung dari nara sumber di lapangan. Dengan kunjungan ini siswa tidak malu bertannya di depan umum sehingga hal ini sangat membantu dalam menumbuhkan sikap percaya diri yang tinggi dan dengan kunjungan ini pula secara tidak langsung siswa tersebut belajar sambil bermain. Hal yang perlu ditekankan dalam kunjungan tersebut siswa dapat memahami bahwa segala sesuatu saling memiliki keterkaitan. Sebagai contoh

106

untuk menyelesaikan masalah/isu formalin banyak pihak yang telibat dari kajian ekonomi, pengetahuan alam, sampai pada kajian sosial dengan kata lain untuk menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan kajian interdisipliner. Selain itu yang harus dipahami mereka bahwa teknologi jika digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab dapat mengancam kehidupan manusia. Dalam hal ini pengolahan tahu yang dicampur dengan formalin sebagai pengawet dapat

membahayakan kesehatan manusia dan kegiatan perekonomian menjadi lesu karena omzet penjualan tahu mengalami penurunan, kegiatan survei tersebut juga menyadarkan siswa bahwa apa yang mereka pelajari (ekonomi) di kelas ternyata mempunyai keterkaitan dengan kehidupan nyata contohnya yaitu proses produksi tahu, pendistribusian tahu atau penjualan tahu, dan pemanfaatan tahu oleh masyarakat (konsumsi) sampai pada kasus lesunya kegiatan perekonomian. 4. Aplikasi Konsep/Nilai/Moral dan Pengembangan Sikap melalui

Penyusunan/Pembuatan Portofolio (Mengembangkan Portofolio) Pada langkah ini para siswa dengan berbekal dengan informasi yang diperoleh dari lapangan memulai mengembangkan portofolio kelas. Namun sebelumnya kelas dibagi menjadi empat kelompok portofolio yaitu: a. Kelompok Portofolio Satu: Menjelaskan masalah. Kelompok ini bertanggung jawab untuk menjelaskan masalah yang menjadi kajian kelas; mereka juga harus menjelaskan mengapa masalah tersebut penting untuk dikaji dan mengacu tingkat/badan pemerintah tertentu yang harus memecahkan masalah tersebut.

107

b. Kelompok Portofolio Dua: Mengkaji kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Kelompok ini bertanggung jawab untuk menjelaskan berbagai kebijakan alternatif untuk memecahkan masalah. c. Kelompok Portofolio Tiga: Mengusulkan kebijakan publik untuk mengatasi masalah. Kelompok ini bertanggung jawab untuk mengusulkan dan menjastifikasi kebijakan publik yang disepakati untuk menyelesaikan masalah. d. Kelompok Portofolio Empat: Membuat rencana tindakan. Kelompok ini bertanggung jawab untuk membuat rencana tindakan yang menunjukkan bagaimana warga negara dapat mempengaruhi pemerintah untuk menerima kebijakan yang didukung oleh kelas. Kelompok portofolio yang dibentuk (dapat dilihat pada lampiran 9), harus menjalankan tanggung jawabnya masing-masing, di mana kelompok portofolio ini beranggotakan tim peneliti yang berasal dari Perajin tahu Tandang, DINKES, dan BPOM. Mereka telah memiliki informasi yang memadai untuk mengembangkan portofolio karena telah memiliki laporan secara tertulis dari kegiatan survei tersebut. Portofolio yang dikembangkan di SMA Negeri 15 Semarang (khususnya kelas X-3) yaitu portofolio tayangan dan portofolio dokumentasi. Portofolio seksi penayangan adalah portofolio yang ditayangkan sebagai bahan presentasi kelas pada saat gelar kasus (show case). Portofolio penayangan terdiri atas empat lembar papan poster/papan busa (stereofom) yang ukuran lebar 75 cm dan tinggi 90 cm. Adapun seksi dokumentasi adalah portofolio yang disimpan pada sebuah map jepit (binder) yang berisi data-data dan informasi lengkap setiap kelompok

108

(dapat dilihat pada lampiran 12). Portofolio dokumentasi ini merupakan kumpulan-kumpulan bahan-bahan terbaik sebagai dokumen atau bukti penelitian yang berupa berita, artikel, hasil wawancara, foto, bahan-bahan tersebut dipisahkan sesuai dengan kelompok yang mempunyai tugas masing-masing. Di bawah ini merupakan contoh portofolio tayangan yang dihasilkan masing-masing kelompok portofolio (lihat gambar 15).

Gambar 15 Contoh portofolio tayangan yang dihasilkan oleh kelompok portofolio 1, 2, 3 dan 4. Sumber: Dokumentasi Pribadi

5. Aplikasi Konsep/Nilai/Moral dan Pengembangan Sikap melalui Gelar Kasus (Show Case) Setelah portofolio kelas dibuat, kelas melakukan gelar kasus (show case) di hadapan dewan juri (Judges). Dewan juri adalah tiga orang dari sekolah atau masyarakat, namun dalam gelar kasus ini hanya dihadiri 2 orang dewan juri saja yang merupakan Guru Ekonomi (lihat gambar 16) karena dewan juri yang satunya berhalangan untuk hadir.

109

Gambar 16 Dewan Juri sedang melakukan penilaian portofolio tayangan yang dihasilkan kelompok portofolio 1, 2, 3 dan 4. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Setelah setiap kelompok mengetahui tujuan gelar kasus (show case), siswa juga perlu mengadakan persiapan. Hal-hal yang perlu disiapkan sebelum gelar kasus (show case) diadakan adalah portofolio itu sendiri, penyajian lisan, tempat pelaksanaan, juri, dan moderator. Sebelum gelar kasus (show case) kelima

komponen-komponen tersebut harus benar-benar disiapkan, sebab jika salah satu komponen tersebut belum siap gelar kasus (show case) tidak dapat dilaksanakan. Gelar kasus (show case) dilaksanakan pada hari Jum’at tanggal 29 Desember 2006 mulai dari pukul 11.00 WIB-14.00 WIB, karena pada pukul tersebut sudah selesai pembelajaran maka para siswa bisa terfokus pada pelaksanaan gelar kasus (show case) saja. Dalam pelaksanaan gelar kasus (show case) mereka harus benar-benar menguasai materi kelompoknya karena setiap kelompok memiliki tugas yang berbeda-beda dan mereka pun harus siap

110

menjawab pertanyaan-pertanyaan baik dari dewan juri atau dari anggota kelompok yang lain. Dalam gelar kasus (show case) siswa menyajikan portofolio tayangannya secara lisan di hadapan juri dan para hadirin. Siswa harus bisa

mempertanggungjawabkan

hasil karnyanya, setiap kelompok satu persatu

menampilkan hasil karyanya. Penampilan dari masing-masing kelompok portofolio dapat dilihat pada gambar 17, 18, 19, dan 20 berikut ini

Gambar 17 Presentasi kelompok portofolio 1: menjelaskan masalah. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

111

Gambar 18

Presentasi kelompok portofolio 2: mengkaji kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Gambar 19 Presentasi kelompok portofolio 3: mengusulkan kebijakan publik untuk mengatasi masalah. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

112

Gambar 20 Presentasi kelompok portofolio 4: membuat rencana tindakan. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

6. Refleksi Pengalaman Belajar Setelah kegiatan gelar kasus (show case) selesai, siswa melakukan kegiatan refleksi pengalaman belajar. Merefleksi berarti bercermin maksudnya pengalaman apa yang baru saja diperoleh para siswa baik secara individual maupun kelompok. Untuk kegiatan refleksi diri ini siswa diajak untuk melakukan evaluasi tentang apa dan bagaimana mereka belajar. Untuk melakukan refleksi pengalaman belajar guru menanyakan beberapa hal kepada siswa antara lain yaitu : (1) Apa yang telah siswa (secara individu/kelompok) pelajari tentang cara-cara membuat kebijakan untuk mengatasi masalah yang dikaji di kelas?; (2) Keterampilan apa yang telah siswa (secara individu/kelompok) peroleh melalui kegiatan belajar ekonomi menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM?; (3) Apakah keuntungan dan kerugian belajar dalam tim?; (4) Apa yang telah siswa (secara individu/kelompok) lakukan dengan baik dalam

113

proses belajar ekonomi dengan menggunakan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatn STM?; (5) bagaimanakah siswa (secara individu/kelompok) dapat meningkatkan keterampilan memecahkan masalah?; (6) apakah yang kelas ingin lakukan secara berbeda, seandainya membuat portofolio lain pada masa yang akan datang? (keterangan refleksi diri dapat dilihat pada lampiran 10). Dengan siswa melakukan refleksi diri, siswa dan guru memperoleh kesimpulan bahwa betapa pentingnya siswa mengembangkan keterampilanketerampilan mempengaruhi pembuatan kebijakan publik. Para siswa akan menggunakan keterampilan-keterampilan ini di masa yang akan datang, apabila kelak siswa tersebut dewasa dan berperan sebagai warga negara yang proaktif. Karena masalah-masalah baru memerlukan kebijakan publik yang baru, oleh karena itu kebijakan publik itu pun harus diganti. Membantu kebijakan publik untuk mengatasi masalah dan menentukan pendirian terhadapnya merupakan tanggung jawab warga negara dalam masyarakat yang demokratis. Kegiatan refleksi belajar dapat dilihat pada gambar 21 di bawah ini

Gambar 21 Para siswa memperhatikan guru yang sedang melakukan refleksi proses belajar-mengajar. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

114

4.1.3

Evaluasi Pembelajaran Metode Portofolio dengan Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang Penilaian dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM

meliputi penilaian portofolio tampilan/tayangan, presentasi secara kelompok dan keseluruhan, dan portofolio dokumentasi secara keseluruhan. Aspek-aspek yang dinilai pada portofolio tampilan/tayangan secara kelompok meliputi kelengkapan, kejelasan, informasi, hal-hal yang mendukung, grafis dan bagian dokumen. Deskripsi setiap aspek yang dinilai antara kelompok portofolio 1, 2, 3 dan 4 saling berbeda. Sedangkan aspek yang dinilai pada portofolio tampilan/tayangan secara keseluruhan meliputi persuasif, mencakup: alasan yang menyatakan bahwa (1) masalah yang dikaji adalah penting; (2) kebijakan yang diusulkan mengarah pada pemecahan masalah; (3) kebijakan yang digunakan adalah konstitusional. Kegunaan mencakup: (1) kebijakan yang diusulkan adalah realistis; (2) pendekatan-pendekatan untuk memperoleh dukungan adalah realistis; (3) memperhatikan hambatan-hambatan nyata. Koordinasi mencakup: bagian-bagian portofolio (1) berkaitan dengan yang lain; (2) menghindari pengulangan (2)

informasi. Refleksi mencakup: (1) menunjukkan terjadinya refleksi; menunjukkan terjadinya proses pembelajaran.

Penilaian portofolio presentasi/lisan secara kelompok meliputi beberapa aspek antara lain pemahaman, argumentasi, responsif, dan kerjasama kelompok. Deskripsi setiap aspek yang dinilai antara kelompok portofolio 1, 2, 3, dan 4 saling berbeda.

115

Sedangkan aspek yang dinilai pada portofolio presentasi/lisan secara keseluruhan meliputi aspek persuasif mencakup: (1) keseluruhan penyajian

menimbulkan daya tarik terhadap kebijakan publik yang diusulkan oleh kelas. Kegunaan mencakup: (1) kebijakan yang diusulkan bersifat realistis; (2) pendekatan-pendekatan untuk memperoleh dukungan adalah realistis; (3) memperhatikan hambatan-hambatan nyata. Koordinasi mencakup: masing-

masing penampilan (1) berhubungan dengan yang lain; (2) masing-masing penyajian dibangun dan dikembangkan atas penyajian sebelumnya. Refleksi

mencakup: (1) menunjukkan terjadinya refleksi; (2) menunjukan terjadinya proses belajar. Untuk setiap aspek, berilah skor kepada tiap kelompok portofolio 1, 2, 3, dan 4 dengan skala 1-5, dimana 5 adalah skor tertinggi dan 1 adalah skor terendah. Penilaian diberikan terhadap masing-masing dari aspek yang dinilai bukan uraiannya, dimana skor 1 = rendah, 2 = cukup, 3 = rata-rata, 4 = di atas rata-rata, 5 = istimewa. Penilaian portofolio dokumentasi kelompok ada beberapa aspek antara lain kelengkapan mencakup: (1) catatan lapangan; (2) copy sumber asli; (3) data-data lapangan. Kejelasan mencakup: (1) terorganisasi dengan baik; (2) tertulis dengan baik; (3) mudah dipahami. Informasi mencakup: (1) akurat; (2) cukup; (3) penting. Hal-hal yang mendukung mencakup: (1) contoh- contoh yang berkaitan dengan hal utama; (2) cukup beralasan untuk dikemukakan. Grafis mencakup: (1) berkaitan dengan isi bagian; (2) pemberian judul yang tepat; (3) memberi

116

informasi; (4) meningkatkan pemahaman. Bagian dokumentasi mencakup: (1) cukup; (2) dapat dipercaya; (3) berkaitan dengan tayangan; (4) selektif. Dengan adanya penilaian di atas guru dan siswa dapat mengetahi hasilnya. Nilai-nilai ini dibuat sebagai patokan sejauh mana siswa memahami portofolio yang dibuat. Hasil penilaian pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang yaitu untuk portofolio tayangan, portofolio dokumentasi, dan portofolio presentasi setiap kelompok mempunyai nilai yang berbeda. Seperti yang terlihat pada tabel 5 di bawah ini.

Tabel 5 Hasil Penilain Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan STM Kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang. Kriteria dan Uraian (Nilai) Kelompok Rata-rata T D P I 83 84 85 84

II

85

85

85

85

III

83

79

78

80

IV

76

80

76

77

JUMLAH

82

82

81

82

Sumber: Data Olahan, 2006

117

Tabel 6 Hasil Penilain Total (Portofolio Tayangan) Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan STM Kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang NO Kriteria dan Uraian Skor Penilaian

1 2 3 4 5

Skor Bagian Satu Skor Bagian Dua Skor Bagian Tiga Skor Bagian Empat Skor Keseluruhan

83 85 83 76 85 82

Skor rata-rata Sumber: Data Olahan, 2006

Tabel 7 Hasil Penilain Total (Portofolio Presentasi) Metode Pembelajaran Portofolio dengan Pendekatan STM Kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang. NO Kriteria dan Uraian Skor Penilaian

1 2 3 4 5

Skor Bagian Satu Skor Bagian Dua Skor Bagian Tiga Skor Bagian Empat Skor Keseluruhan

86 86 78 76 84 82

Skor Rata-rata Sumber: Data Olahan, 2006

Berdasarkan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), bahwa kondisi siswa sebelum dan sesudah diterapkan metode pembelajaran ini

118

mengalami perubahan. Siswa menjadi aktif dan berani mengungkapkan pendapatnya di hadapan umum, wawasan dan pengetahuan siswa tentang permasalahan ekonomi mengalami peningkatan, kadang-kadang materi yang tidak didapatkan di sekolah tetapi diperoleh di lapangan. Pada gambar 22 dan 23 dapat dilihat keaktifan siswa saat gelar kasus (show case).

Gambar 22 Siswa sedang menyampaikan pertanyaan kepada kelompok portofolio yang sedang presentasi. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

Gambar 23 Siswa sedang menyampaikan pernyataan/mengkomentari pendapat siswa yang lain. Sumber: Dokumentasi Pribadi.

119

4.1.4

Hambatan-Hambatan Pembelajaran

Metode

Portofolio

dengan

Pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang a. Waktu Waktu merupakan faktor penting untuk menentukan materi-materi apa yang akan diajarkan pada siswa. Pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dimulai pada minggu ke-19, minggu ke-20 (14 November 2006). Siswa melaksanakan identifikasi masalah dan menggali masalah yang ada di masyarakat, dilanjutkan dengan mencari data/nara sumber (minggu ke-24 dan minggu ke-25), minggu ke-26 siswa menyelesaikan portofolio dokumentasi dan portofolio tanyangan. Pada akhir semester (minggu ke-27 tepatnya hari jum’at 29 Desember 2006) dilaksanakan gelar kasus (show case) dilanjutkan dengan

refleksi diri. Pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dilaksanakan pada sore hari sepulang sekolah yang disebut dengan kegiatan ektrakulikuler sehingga tidak mengganggu kegiatan intrakulikuler, sehingga bagi guru waktu tidak menjadi hambatan yang berarti. Berdasarkan wawancara dengan siswa (12 Januari 2007) siswa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengumpulkan data dari nara sumber secara mendetail. Oleh karena itu siswa harus ekstra keras dan kerjasama antar anggota kelompok harus terjalin dengan baik agar data yang diperoleh dapat maksimal. Alokasi waktu kegiatan pembelajaran ekonomi dengan pendekatan STM (dapat dilihat pada lampiran 2). b. Biaya Biaya merupakan faktor yang penting karena tanpa biaya pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM tidak terlaksana, terutama dalam pelaksanaan

120

gelar kasus (show case). Berdasarkan wawancara dengan siswa (29 Desember 2006), biaya untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dari mulai identifikasi masalah, sampai pelaksanaan gelar kasus (show case) para siswa mengadakan iuran sendiri. Pihak Sekolah belum mengalokasikan biaya untuk kegiatan pembelajaran seperti ini, mengingat pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM belum pernah diterapkan di SMA Negeri 15 Semarang. Kepada pihak sekolah khusunya Kepala sekolah hendaknya memberi dorongan moril maupun materil untuk terselenggaranya penerapan metode ini. Dalam hal dorongan materil, dapat dirintis pembiayaan penerapan metode ini secara swadaya. Oleh karena itu Kepala Sekolah dengan persetujuan Komite Sekolah dapat memasukkan kegiatan ini ke dalam rencana kerja.

c. Kompetensi Guru Kompetensi guru sangat penting karena dengan kompetensi guru, pembelajaran akan berjalan lancar dan materi-materi yang diberikan akan mudah dipahami siswa. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), sekolah yang melaksanakan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM belum ada meski secara alami sudah diterapkan, karena kompetensi gurunya masih kurang, terutama tentang penerapan pembelajaran portofolio dengan

pendekatan STM. Mereka masih awam selain itu dengan adanya kurikulum yang materinya padat guru dituntut untuk menyampaikan materi tepat pada waktunya sehingga guru tidak mempunyai kesempatan untuk melakukan inovasi dalam

121

pembelajaran. Hambatan lain untuk menerapkan metode ini adalah siswa belum terbiasa untuk berpikir kritis dan belajar mengambil pengalaman di lapangan sehingga guru harus dengan sabar dan tekun untuk membimbing siswa dalam pembelajaran. Untuk menjalankan metode ini seorang guru ditunjuk peranannya dari mulai sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator dan sebagai pembimbing. Jadi seorang guru tidak hanya menjalankan peranannya sebagai pihak yang memberi materi/informasi ke siswa namun guru juga tidak terlepas dari fungsi, peranan, tanggung jawab guru sebagai pengajar yang baik dan berkepribadian baik. mengarahkan dan

d. Kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat khususnya, para birokrat. Kerja sama antara sekolah dengan lembaga terkait diperlukan pada saat siswa merencanakan untuk mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Misalnya mengunjungi Dinas Kesehatan (DINKES) kota Semarang, Badan Pengawas Obat dan Makanan

(BPOM), mengamati proses pembuatan tahu di kampung Tandang dan sebagainya. Kegiatan para siswa itu tentu saja perlu dibekali surat pengantar dari Kepala Sekolah selaku penanggung jawab kegiatan sekolah, pemrosesan izin ke lembaga yang terkait kadang membutuhkan waktu yang lama dan prosedur yang berbelit-belit.

122

Orang tua perlu juga diberi pemahaman (memberi surat pemberitahuan kegiatan ke orang tua), sehingga manakala anaknya pulang agak terlambat dari sekolah karena melakukan kunjungan lapangan mereka bisa memakluminya. Dari peristiwa ini tampak perlunya kerja sama antara sekolah dengan orang tua dalam upaya membangun kesepahaman. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), bahwa untuk membawa siswa belajar di lapangan secara langsung (instansi pemerintah/masyarakat) memiliki resiko dan tanggung jawab yang besar, kepada orang tua siswa misalnya jika terjadi kecelakaan lalu lintas, atau kejadian lain yang tidak diinginkan. Karena selama ini mereka belum memberikan respon yang positif mengenai metode pembelajaran yang setipe dengan metode portofolio dengan pendekatan STM. Mereka beranggapan bahwa pembelajaran di sekolah itu hanya dilaksanakan di dalam kelas saja.

4.2 Pembahasan Fajar (2004: 169-171) mengatakan bahwa langkah-langkah pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yaitu (1) apersepsi, inisiasi,

invitasi/eksplorasi (identifikasi masalah), (2) pengembangan dan pemantapan konsep/nilai/moral (memilih masalah), (3) aplikasi konsep/nilai/moral melalui tugas kokurikuler (mengumpulkan informasi berkenaan masalah yang dikaji kelas), (4) aplikasi konsep/nilai/moral dan pengembangan sikap melalui penyusunan/ pembuatan/portofolio (mengembangkan portofolio), (5) aplikasi konsep/nilai/moral dan pengembangan sikap melalui gelar kasus/show case

123

(penyajian portofolio), (6) refleksi pengalaman belajar. Dalam pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM siswa SMA Negeri 15 Semarang dilaksanakan pada semester I/ganjil dengan perincian dimulai pada minggu ke-19, minggu ke-20 (14 November 2006). Siswa melaksanakan identifikasi masalah dan menggali masalah yang ada di masyarakat, dilanjutkan dengan mencari data/nara sumber (minggu ke-24 dan minggu ke-25), minggu ke26 siswa menyelesaikan portofolio dokumentasi dan portofolio tayangan. Pada akhir semester (minggu ke-27 tepatnya hari jum’at 29 Desember 2006) dilaksanakan gelar kasus (show case) dilanjutkan dengan refleksi diri. Pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM berlajalan dengan lancar karena didukung oleh pihak sekolah yang memberikan surat perizinan, guru yang mempunyai kompetensi cukup bagus dan siswa aktif hanya saja dibutuhkan kerja sama yang erat lagi dengan pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat khususnya, para birokrat. Langkah-langkah pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang sudah cukup baik hal ini tampak pada hasil penelitian. Pelaksanaan gelar kasus (show case) merupakan puncak pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, dalam gelar kasus ( show case) siswa melakukan penyajian lisan di depan dewan juri dan hadirin. Menurut Budimasyah, (2003a:70), ada empat tujuan pokok dari kegiatan gelar kasus ( show case) ini a Untuk menginformasikan kepada hadirin tentang pentingnya masalah yang diidentifikasi di masyarakat.

124

b

Untuk menjelaskan dan mengevaluasi kebijakan alternatif untuk mengatasi masalah sehingga hadirin dapat memahami keuntungan dan kerugian setiap kebijakan tersebut.

c

Untuk mendiskusikan kebijakan yang dipilih kelas sebagai kebijakan yang terbaik untuk mengatasi masalah.

d

Untuk membuktikan bagaimana kelas dapat menumbuhkan dukungan dalam masyarakat, lembaga legislatif dan eksekutif yang terkait dengan penyusunan kebijakan publik. Dengan mengetahui tujuan gelar kasus (show case) masing-msing

kelompok bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Untuk mendapatkan hasil yang maksimal setiap kelompok harus memperhatikan tujuan tersebut. Oleh karena itu sebelum portofolio dilaksanakan guru menerangkan apa dan bagaimana pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM itu. Siswa kelas X-3 SMA Negeri 15 Semarang menyelenggarakan gelar kasus ( show case) berjalan lancar dan siswa dengan percaya diri mempresentasikan tugas kelompoknya. Mereka pun dengan baik mempertanggungjawabkan pekerjaannya di depan dewan juri dan hadirin. Hal ini juga karena motivasi guru yang cukup baik, dan dalam pembelajaran guru berperan sebagai fasilitator. Budimansyah (2003a:5-7) mengatakan bahwa pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM memiliki beberapa landasan pemikiran salah satunya adalah pandangan konstruktivisme. Pandangan konstruktivisme menganggap bahwa siswa mulai dari usia taman kanak-kanak sampai perguruan tinggi memiliki gagasan/pengetahuan tentang lingkungan dan peristiwa/gejala

125

lingkungan di sekitarnya, meskipun gagasan/pengetahuan ini sering kali naif dan miskonsepsi. Siswa dapat menemukan dan menerapkan sendiri ide-idenya atau gagasan-gagasannya, walaupun kadang-kadang gagasan siswa tidak masuk akal namun guru harus tetap mendukung. Selain konstruktivisme, empat pilar pendidikan juga merupakan landasan pemikiran pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM antara lain learning to do, learning to know, learning to be, dan learning to live together. Peserta didik harus diberdayakan agar mau dan mampu berbuat untuk memperkaya pengalaman belajarnya (learning to do). Dengan meningkatkan interaksinya dengan lingkungannya baik lingkungan fisik, sosial, maupun budaya, sehingga mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya terhadap dunia sekitarnya (learning to know). Para siswa untuk memahami konsep-konsep yang diajarkan di sekolah tidak hanya melalui pemaparan dari guru dengan ceramah saja, namun mereka terjun langsung di lapangan untuk mencari informasi untuk menyelesaikan masalah ekonomi yang dikaji kelas melalui kerja sama yang cukup solid diantara teman sekelompoknya. Berdasarkan hasil interaksinya dengan lingkungan peserta didik pun dapat membangun pengetahuannya terhadap dan kepercayaan dirinya (learning to be). Melalui pemberdayaan ini diharapkan peserta didik akan mampu berinteraksi secara harmonis, baik dengan individu atau kelompok lainnya secara bervariasi (learning to live together). Kegiatan belajar-mengajar harus mempunyai prinsip, menurut

Budimansyah (2003a:9-15) prinsip pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM meliputi prinsip belajar siswa aktif, kelompok belajar kooperatif (berbasis

126

kerja sama), pembelajaran partisipatorik dan reaktif teaching. Keaktifan siswa dapat dilihat dari aktivitasnya mulai dari fase perencanaan di kelas untuk survei ke lapangan, pembuatan portofolio tanyangan, melakukan wawancara, pada fase kegiatan survei di lapangan, dan pembuatan portofolio kelas. Kerja sama dilakukan antara siswa dan antar komponen-komponen di sekolah, termasuk kerjasama sekolah dengan orang tua dan lembaga terkait. Kerja sama antar siswa jelas terlihat pada saat kelas sudah memilih satu masalah untuk bahan kajian bersama. Semua pekerjaan disusun, orangnya ditentukan, siapa mengerjakan apa, merupakan bentuk kerja sama itu. Kerja sama sekolah dengan orang tua terlihat pada saat sekolah membuat surat pemberitahuan kegiatan survei kepada orang tua, dan kerja sama sekolah dengan lembaga terkait terlihat pada saat siswa mengadakan kunjungan ke DINKES, BPOM dan Perajin tahu Tandang. Salah satu bentuk pelakonan dalam pembelajaran ini adalah pelakonan hidup berdemokrasi, yang dapat dilihat pada saat siswa memilih masalah untuk kajian kelas yang memiliki makna bahwa siswa dapat menghargai dan menerima pendapat yang didukung suara terbanyak. Reaktif teaching berlangsung saat guru harus menciptakan strategi pembelajaran yang tepat agar siswa mempunyai motivasi yang tinggi. Motivasi yang tinggi itu akan tercipta jika guru dapat menyakinkan siswa akan kegunaan materi pelajaran bagi kehidupan nyata, demikian guru harus dapat menciptakan situasi sehingga materi pelajaran tidak membosankan. Suasana belajar yang menyenangkan, tercipta pada saat siswa memilih tema belajar yang menarik bagi dirinya. Setelah itu siswa mengidentifikasi

127

sejumlah masalah ekonomi yang ada di masyarakat, kemudian memilih salah satu di antaranya untuk bahan kajian kelas (omzet penjualan tahu tandang merosot akibat isu formalin). Fase selanjutnya mereka terjun ke masyarakat mencari data dan informasi untuk memecahkan masalah tersebut (kunjungan ke DINKES, BPOM dan Perajin Tahu Tandang). Pengalaman terjun ke masyarakat adalah salah satu pengalaman belajar riil yang menyenangkan bagi mereka. Di samping memiliki sejumlah kompetensi untuk hidup bermasyarakat, seperti misalnya memiliki kemampuan melakukan wawancara, melakukan observasi, membuat laporan perjalanan, mampu bergaul dengan masyarakat, menyelami aspirasi mereka, dan sebagainya. Kompetensi-kompetensi tersebut kelak di kemudian hari sangat bermanfaat bagi para siswa untuk hidup di masyarakat. Pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dilaksanakan pada sore hari yang disebut kegiatan ekstrakulikuler, sehingga tidak mengganggu kegiatan intrakulikuler. Portofolio yang dikembangkan di SMA Negeri 15 Semarang yaitu portofolio dokumentasi dan portofolio tayangan, pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang sangat membantu siswa untuk belajar mengkritisi fenomena/peristiwa kegiatan perekonominan dan belajar mengambil pengalaman di lapangan selain itu menurut Bapak Budiyono “Melalui pembelajaran metode ini guru mempunyai wawasan yang lebih dan menyadari bahwa apa yang diajarkan di sekolah ternyata telah tertinggal jauh dengan apa yang ada di lapangan”. Oleh karena itu berdasarkan hasil wawancara, observasi, dan dokumentasi pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM merupakan a. Proses Pembelajaran Menantang dan Menyenangkan

128

Portofolio merupakan suatu kumpulan pekerjaan siswa dengan maksud tertentu dan terpadu yang diseleksi menurut panduan-panduan yang telah ditentukan (Budimansyah, 2003a:4). Melalui pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, kesan mata pelajaran ekonomi sebagai mata pelajaran yang tidak menarik, membosankan bagi siswa ternyata dapat diatasi. Melalui pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM pula, proses mata pelajaran ekonomi berlangsung dengan menyenangkan dan menantang. Berdasarkan hasil wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), bahwa pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM menyenangkan dan

tidak membosankan. Jadi hal itu mendorong siswa untuk aktif dan kreatif. Dengan keaktifan siswa guru lebih mudah memberikan materi dan siswa menjadi lebih paham. Fajar (2004:44) pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, dikatakan juga upaya mendekatkan siswa kepada objek yang dibahas. Pengajaran yang menjadikan materi yang dibahas bagi mereka langsung dihadapkan kepada siswa atau secara langsung mencari informasi tentang hal yang dibahas ke alam atau masyarakat sekitarnya. Siswa melakukan wawancara dengan nara sumber langsung bukan hanya dengan masyarakat biasa namun dengan pejabat pemerintah yang sangat berkompeten dibidangnya yang kadang kala sulit ditemui. Siswa senang juga karena dapat berkelana untuk mencari informasi seperti halnya di Dinas Kesehatan (DINKES) kota semarang, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Perajin Tahu di kampung Tandang.

129

Kegiatan yang diikuti dan dialami siswa mencakup: (1) melakukan identifikasi masalah kebijakan publik di masyarakat; (2) memilih masalah sebagai kejian kelas; (3) mengumpulkan informasi atau data masalah yang diteliti; (4) mengembangkan portofolio (dokumentasi dan tayangan); (5) menyajikan portofolio dalam gelar kasus (show case); (6) merefleksikan pengalaman belajar. Dengan kegiatan-kegiatan di atas, guru dengan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM tidak lagi dominan, karena dengan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM justru siswa mendapatkan ruang yang cukup luas untuk berapresiasi dan berkreasi terhadap mata pelajaran ekonomi. Dengan demikian maka kegiatan-kegiatan dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM memberi tantangan belajar sendiri bagi siswa menjadi meningkat karena siswa terlibat, mencari, mengalami, bahkan menemukan kebermaknaan dalam belajar. b. Kebermaknaan Belajar Salah satu dampak pembelajaran yang berpusat pada guru dengan dominasi ceramah siswa kurang memiliki kebermaknaan belajar. Hal ini terjadi karena pengalaman belajar yang diperoleh terbatas. Dengan aktivitas lebih banyak mendengar. Hal ini tidak terjadi pada pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM. Fajar (2004:15) pembelajaran itu harus (1) berpusat pada peserta didik; (2) mengembangkan kreatifitas; (3) menciptakan kondisi yang menyenangkan dan menantang; (4) bermuatan nilai, etika, logika; dan (5) menyediakan pengalaman yang beragam. Dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM siswa merupakan sentral pembelajaran dan guru sebagai fasilitator, siswa memperoleh

130

pengalaman belajar yang sangat bermakna bagi dirinya. Pengalaman-pengalaman yang bermakna tersebut, diantaranya pengalaman sosial dalam kerja kelompok (cooperation learning); pengalaman akademik melalui pemecahan masalah (problem solving); menyusun makalah atau laporan sebagai publikasi ilmiah yang menarik dan mepresentasikan dengan membuat presentasi tayangan. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007) bahwa meskipun dengan metode portofolio dengan pendekatan STM, siswa memiliki keterampilan dan pemahaman yang lebih terhadap kondisi di lapangan, berkenaan dengan materi yang diajarkan (yang tidak diperoleh melalui metode ceramah), namun metode ceramah/konvensional masih tetap digunakan karena dalam hal penyampaian/ pencapaian materi yang harus diajarkan metode konvensional lebih efektif. Sehingga guru harus mengalokasikan waktu yang tepat agar kedua metode tersebut dapat di laksanakan secara bersama-sama. c. Siswa Lebih Aktif dalam Belajar-Mengajar Pembelajaran ekonomi yang menggunakan metode portofolio dengan pendekatan STM, mampu memperdayakan siswa dalam merekonstruksi pengetahuan, sikap, dan keterampilan belajarnya. Siswa pun aktif merespon apa yang diberikan guru. Bahkan ada pertanyaan-pertanyaan di luar dugaan guru, karena siswa di lapangan menemukan sendiri secara langsung. Melalui pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM pada akhirnya siswa akan proaktif mampu mengembangkan alternatif-alternatif kebijakan yang dapat ditawarkan dan didesakkan melalui cara-cara yang ilmiah dan proporsional untuk diadopsi oleh pemerintah.

131

Budimansyah (2003a:9) mengatakan bahwa pembelajaran

portofolio

dengan pendekatan STM memiliki prinsip dasar salah satunya adalah prinsip belajar siswa aktif. Dalam prinsip belajar siswa aktif, pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM keaktifan siswa hampir di seluruh proses pembelajaran mulai fase perencanaan di kelas, kegiatan lapangan, dan pelaporan. Begitu pula keaktifan siswa X-3 SMA Negeri 15 Semarang dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM sangat menonjol dari mulai identifikasi masalah, mencari data, pembuatan portofolio dan pelaksanaan gelar kasus (show case). Dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM keaktifan siswa dinilai oleh guru agar guru mengetahui siswa yang aktif dan pasif di kelas, dan guru dapat memotivasi siswanya. Siswa mendapat pengalaman-pengalaman belajar di dalam kelas maupun di luar kelas. Dengan adanya pengalaman-pengalaman belajar siswa melakukan refleksi belajar. d. Kemampuan Merefleksikan Hasil Belajar Salah satu keberhasilan dalam belajar apabila hasil belajar yang diperoleh siswa mampu bertahan lama. Hasil belajar yang tahan lama ini diperoleh apabila siswa mampu merefleksikan hasil belajarnya. Sugandi (2004:44) bahwa refleksi adalah cara berpikir tentang apa yang baru dipelajari atau berpikir ke belakang tentang apa-apa yang sudah dilakukan di masa lalu. Dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, kemampuan siswa untuk merefleksikan hasil belajar ini dapat ditumbuhkan, sebab proses pembelajaran memungkinkan untuk itu. Siswa dapat mengukur sejauh mana penguasaan materi pelajaran dan penggunaannya untuk memecahkan masalah masyarakat dan negara.

132

Fajar (2004:88) mengatakan bahwa siswa belajar 10% dari apa yang kita lihat, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari apa yang kita lihat, 50% dari apa yang kita lihat dan dengar, 70% dari apa yang kita katakan, dan 90% dari apa yang kita katakan dan lakukan. Dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM siswa melakukan penyajian portofolio dan terjun langsung mencari informasi atau data di lapangan, sehingga seperti yang dilihat di atas siswa dapat menyerap materi sebesar 90%. Dengan demikian, kegiatan belajar-mengajar mata pelajaran ekonomi yang menggunakan memberdayakan metode siswa portofolio dalam dengan pendekatan STM mampu dan

merekonstruksi

pengetahuan,

sikap,

keterampilan belajarnya. Melalui refleksi diri siswa dilatih untuk memiliki kemampuan bersikap kritis, peka, dan peduli terhadap persoalan lingkungan dalam rangka pembentukan warga negara Indonesia yang cerdas, terampil, kreatif, dan berkarakter. Dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM ada hambatanhambatannya misalnya waktu, biaya, kompetensi guru, serta kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat khususnya, para birokrat. Hambatan-hambatan tersebut sangat menghambat proses belajar-mengajar di kelas apabila tidak cepat diatasi. Djamarah dan Zain (2002:3) mengatakan bahwa untuk menentukan waktu sebaiknya melihat pelaksanaan program. Waktu merupakan faktor penting untuk menentukan materi-materi apa yang diajarkan pada siswa. Waktu tersebut tidak bisa diabaikan karena dengan waktu tujuan pembelajaran itu dapat tercapai

133

dengan tepat. Berdasarkan pengamatan, pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dimulai pada minggu ke-19, minggu ke-20 (14 November 2006) siswa melaksanakan identifikasi masalah dan menggali masalah yang ada di masyarakat, dilanjutkan dengan mencari data/nara sumber (minggu ke-24 dan minggu ke-25), minggu ke-26 siswa menyelesaikan portofolio dokumentasi dan portofolio tayangan. Pada akhir semester (minggu ke-27 tepatnya hari jum’at 29 Desember 2006) dilaksanakan gelar kasus (show case) dilanjutkan dengan refleksi diri. Pelaksanaan kegiatan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM sudah cukup baik, karena pembelajaran tersebut dapat dilaksanakan dengan lancar dan tidak mengganggu pembelajaran intrakulikuler. Djamarah dan Zain, (2002:49) mengatakan bahwa dalam pembelajaran perlu ada biaya untuk mendukung sarana dan prasarana agar proses belajarmengajar berjalan lancar. Biaya merupakan faktor yang penting karena tanpa biaya pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM tidak terlaksana, terutama dalam pelaksanaan gelar kasus (show case). Berdasarkan wawancara dengan siswa (29 Desember 2006), biaya untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM dari mulai identifikasi masalah, sampai pelaksanaan gelar kasus (show case) para siswa mengadakan iuran sendiri. Pihak Sekolah belum mengalokasikan biaya untuk kegiatan pembelajaran seperti ini, mengingat pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM belum pernah dilaksnakan di SMA Negeri 15 Semarang. Kepada pihak sekolah khususnya Kepala Sekolah hendaknya memberi dorongan moril maupun materil untuk terselenggaranya penerapan metode ini. Dalam hal dorongan moril Kepala

134

Sekolah memberi suntikan mental kepada guru untuk rajin mengajak siswa belajar di lapangan atau di luar sekolah, dan secara materil, dapat dirintis pembiayaan penerapan metode ini secara swadaya. Oleh karena itu Kepala Sekolah dengan persetujuan Komite Sekolah dapat memasukkan kegiatan ini ke dalam rencana kerja. Guru adalah jabatan profesional, yang meliputi syarat-syarat fisik, mental atau kepribadian, pengetahuan, atau keterampilan (Hamalik, 2002:59). Guru dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM hanya sebagai fasilitator saja, karena dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM keaktifan siswa sangat diutamakan untuk mendukung proses belajar-mengajar. Kompetensi guru sangat penting karena dengan kompetensi guru, pembelajaran akan berjalan lancar dan materi-materi yang diberikan akan mudah dipahami siswa. Salah satunya adalah kompetensi profesional yang harus dimiliki guru dalam jenjang pendidikan apapun, yang mencakup kompetensi kepribadian dan kemasyarakatan. Kompetensi tersebut saling berkaitan secara terpadu pada seorang guru. Guru yang terampil mengajar tentu harus memiliki pribadi yang baik dan mampu melaksanakan hubungan sosial kemasyarakatan. Berdasarkan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), sekolah yang melaksanakan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM belum ada karena kompetensi gurunya masih kurang, terutama tentang penerapan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM di SMA Negeri 15 Semarang mereka masih awam, dan guru pun telah terbebani dengan muatan kurikulum yang sarat akan kepadatan materinya sehingga guru tidak ada kesempatan untuk melakukan inovasi pembelajaran.

135

Meski begitu guru diharapkan mau mempelajari dan akhirnya mencoba metode ini mengingat manfaatnya yang begitu besar bagi guru dan kemajuan siswa. Untuk menjalankan metode ini seorang guru ditunjuk peranannya dari mulai sebagai perencana pengajaran, pengelola pengajaran, penilai hasil belajar, sebagai motivator dan sebagai pembimbing. Jadi seorang guru tidak hanya menjalankan peranannya sebagai pihak yang memberi materi/informasi ke siswa namun guru juga tidak terlepas dari fungsi, peranan, tanggung jawab guru sebagai pengajar yang baik dan berkepribadian baik. Jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga, dan masyarakat khususnya, para birokrat sangat penting untuk melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan metode ini karena dalam pembelajaran siswa tidak hanya dilakukan di dalam kelas saja. Kerja sama dengan lembaga terkait diperlukan pada saat siswa merencanakan untuk mengunjungi lembaga tertentu atau meninjau kawasan yang menjadi tanggung jawab lembaga tertentu. Misalnya mengunjungi Dinas Kesehatan (DINKES) kota Semarang, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), mengamati proses pembuatan tahu di kampung Tandang dan sebagainya. Kegiatan para siswa itu tentu saja perlu dibekali surat pengantar dari Kepala Sekolah selaku penanggung jawab kegiatan sekolah, pemrosesan izin ke lembaga yang terkait kadang membutuhkan waktu yang lama dan prosedur yang berbelit-belit. Berdasarkan pengamatan dan wawancara dengan Bapak Budiyono (14 Januari 2007), bahwa untuk membawa siswa belajar di lapangan secara langsung (instansi pemerintah/masyarakat) memiliki resiko dan tanggung jawab yang besar

136

kepada orang tua siswa, misalnya jika terjadi kecelakaan lalu lintas, atau kejadian lain yang tidak diinginkan. Karena selama ini mereka belum memberikan respon yang positif mengenai metode pembelajaran yang setipe dengan metode portofolio dengan pendekatan STM, mereka beranggapan bahwa pembelajaran di sekolah itu hanya dilaksanakan di dalam kelas saja. Dengan demikian maka pihak sekolah harus berusaha memberikan pemahaman kepada orang tua salah satunya membuat surat pemberitahuan kegiatan dan surat izin sehingga kesepahaman antara pihak sekolah dengan pihak yang terkait dapat terjalin dengan baik.

BAB V PENUTUP

5.1.1

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan hal-hal berikut: 1. Suasana belajar dan proses pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM, siswa bebas mengungkapkan pendapatnya dan siswa juga dapat

menyampaikan kritik dan sarannya dengan bebas namun sesuai dengan aturan. Kegiatan yang dilaksanakan oleh siswa dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM meliputi : (1) apersepsi/inisiasi/eksplorasi (melakukan identifikasi masalah); (2) pengembangan dan pemantapan konsep/nilai/moral (memilih masalah untuk dikaji di kelas); (3) aplikasi konsep/nilai/moral melalui tugas kokurikuler (mengumpulkan informasi/data masalah yang dikaji); (4) aplikasi konsep/nilai/ moral dan pengembangan sikap melalui penyusunan/pembuatan portofolio (mengembangkan portofolio sebagai hasil survei di lapangan); (5) aplikasi konsep/nilai/moral dan pengembangan sikap melalui gelar kasus/show case (menyajikan portofolio dalam diskusi kelas dan penyajian tayangan); dan (6) merefleksikan pengalaman belajarnya, kegiatankegiatan tersebut dapat meningkatkan antusiasme siswa dalam belajarmengajar Dengan pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM siswa akan mengetahui bahwa apa yang telah kita pelajari di kelas (sains), mempunyai keterkaitan yang erat dengan kehidupan sehari-hari di masyarakat.

137

138

Dan Siswa juga mengetahui bahwa belajar tidak hanya di sekolah namun bisa juga melalui sumber/nara sumber langsung dari lapangan, lingkungan masyarakat, dan media lain seperti koran, majalah, dan internet. Sehingga dapat memberikan pengalaman langsung bagi siswa. 2. Hambatan-hambatan dalam pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM yaitu waktu, biaya, dan kompetensi guru, serta kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat khususnya para birokrat. Hambatan yang menonjol yaitu kurang adanya jalinan komunikasi yang erat antara pihak sekolah, keluarga dan masyarakat khususnya para birokrat.

5.1.2

Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan disarankan 1. Bagi guru yang mengampu mata pelajaran lain misalnya matematika, biologi, sejarah, fisika, bahasa Indonesia, bahasa inggris, dan tekhnologi informatika dapat mencoba penggunaan metode pembelajaran portofolio dengan pendekatan STM ini. Dengan memperhatikan modifikasi tertentu seuai sifat, karakteristik keilmuannya, terutama guru yang kesulitan dalam meningkatkan antusiasme siswa dalam belajar. 2. Bagi siswa dalam belajar-mengajar supaya senantiasa aktif dan kritis agar proses belajar menjadi kondusif dan bermakna sesuai dengan tujuan pembelajaran.

139

3. Bagi pihak sekolah, orang tua, instansi pemerintah dan masyarakat untuk dapat memberikan dukungan baik secara materiil dan moril kepada anaknya dalam kegiatan belajar-mengajar terutama jika pembelajaran dilakukan di luar sekolah.

140

DAFTAR PUSTAKA

Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES. Arikunto, Suharsimi. 2002. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta. Binadja, Achmad. 2002. Pembelajaran Sains berwawasan SETS untuk Pendidikan Dasar disampaikan dalam Pelatihan Pelatih Guru Sains Madrasah Ibtidaiyah dan Tsanawiyah Se Jawa Tengah. Budimansyah, Dasim. 2002. Model Pembelajaran dan Penilaian Berbasis Portofolio. Bandung: PT. Genesindo. -----. 2003a. Model Pembelajaran Ekonomi Berbasis Portofolio. Bandung: PT. Genesindo. -----. 2003b. Model Pembelajaran Kimia Berbasis Portofolio. Bandung: PT. Genesindo. Dagun, Save M. 2005. Kamus Besar: Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Lembaga Pengkajian Kebudayaan Nusantara (LPKN). Darsono, Max. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Semarang: IKIP Semarang Pres. Depdiknas. 2004. Praktek Belajar Pengetahuan Sosial Berbasis Portofolio. Jakarta: CV. Mini Jaya Abadi. Djamarah, Syaiful Bahri dan Zain, Aswan. 2002. Strategi Belajar-mengajar. Jakarta PT Rineka Cipta. Fajar, Arnie. 2004. Prtofolio: Dalam Pembelajaran IPS. Bandung: PT Remaja Roesdakarya. Fatimah, Nurul. 2005. ‘Peranan Industri Pengolahan Serat Rami Dalam Kehidupan Sosial Ekonomi Masyarakat (Studi Kasus Pada Desa Pecekelan Kecamatan Sapuran Kabupaten Wonosobo)’. Skripsi. Semarang: FIS Unnes. Gulo, W. 2002. Strategi Belajar-mengajar. Jakarta: Grasindo. Hamalik, Oemar. 2003. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Jakarta: Bumi Aksara.

141

Hasan, Iqbal. 2002. Langkah-langkah Penelitian. Jakarta: Rosda Karya. Joyomartono, Mulyono. 1995. Mengenal Penelitian Kualitatif. Makalah. Disampaikan dalam Penataran Peneliti Pemula Dosen-dosen IKIP Semarang. (26-28 Januari 1995). Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. 2002. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka. Mangkoesaputro, Arief. 2004. model Pembelajaran Portofolio Sebuah Tinjauan Kritis. Arif_Mangkoesaputro@yahoo.com. (13 Mei 2005). Moleong, Lexy J. 2005. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung PT. Remaja Rosda Karya. Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004: Pertayaan dan Jawaban. Jakarta: Gramedia. Poedjiadi, Anna. 2005. Sains Teknologi Masyarat: Model Pembelajaran Kontekstual Bermuatan Nilai. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pusat Kurikulum. 2004. Kurikulum Depdiknas. 2004 Mata Pelajaran Ekonomi. Jakarta:

Rahman, Maman. 1999. Strategi dan Langkah-langkah Penelitian. Semarang: IKIP Semarang Press. Rumansyah Dan Yudha Irhasyuarna. 2003. Prospek Penerapan Pendekatan Sains Teknologi Masyarakat (STM) Dalam Pembelajaran Kimia Di Kalimantan Selatan.www.Depdiknas.90.id./jurnal/29/prospek_penerapan_pendek atan_sai. htm- 62R Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhuinya. Jakarta: PT Rineka Cipta. Sudjarwo, H. 2001. Metodologi Penelitian Sosial. Bandar lampung: CV Mandar Maju. Sugandi, Achmad, dkk. 2004. Teori Pembelajaran. Semarang: UPT MKK UNNES. Sugiyono, 2006. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan, Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D: Bandung: Alfabeta.

142

Sukwiaty, dkk. 2005. Ekonomi Kelas 1 SMA: Kurikulum Berbasis Kompetensi. Bandung: Yudistira.