Docstoc

PENDEKATAN MULTIKULTURAL UNTUK PENYEMPURNAAN KURIKULUM NASIONAL

Document Sample
PENDEKATAN MULTIKULTURAL UNTUK PENYEMPURNAAN KURIKULUM NASIONAL Powered By Docstoc
					pagina 1
PENDEKATAN MULTIKULTURAL UNTUK PENYEMPURNAAN KURIKULUM NASIONAL *) Oleh : S. Hamid Hasan **) *) Pernah disajikan pada seminar Pengembangan Kurikulum **) Prof. Dr. S. Hamid Hasan adalah Guru Besar Tetap pada Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung.

ABSTRAK Masyarakat dan bangsa Indonesia memiliki keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi. Keragaman tersebut berpengaruh langsung terh PENDAHULUAN Pengembangan kurikulum untuk negara yang besar, penuh ragam, dan miskin, seperti Indonesia, bukanlah suatu pekerjaan mudah. Keragaman sosial, budaya, as Keragaman sosial, budaya, aspirasi politik, dan kemampuan ekonomi adalah suatu realita masyarakat dan bangsa Indonesia. Realita tersebut memang berposisi s

Posisi keragaman sebagai variabel bebas memang berada pada tataran sekolah dan masyarakat di mana suatu kurikulum dikembangkan dan diharapkan menjadi KURIKULUM DAN LANDASAN PENGEMBANGAN Sudah sejak lama para ahli pendidikan dan kurikulum menyadari bahwa kebudayaan adalah salah satu landasan pengembangan kurikulum (Taba, 1962) di sampin The environment of the curriculum is external insofar as the social order in general establishes the milieu within which the schools operate; it is internal insofar as e Kedudukan kebudayaan dalam suatu proses kurikulum teramat penting tetapi dalam proses pengembangan seringkali para pengembang kurikulum kurang mempe Secara intrinsik, filosofi, visi, dan tujuan pendidikan, para pengembang kurikulum sangat dipengaruhi oleh latar belakang pendidikan, pandangan hidup, dan keyaki Landasan lain yang diperlukan dalam pengembangan kurikulum adalah teori belajar yaitu teori tentang bagaimana siswa belajar. Selama ini, orang berbicara tenta Sayangnya, teori belajar yang dikembangkan berdasarkan pandangan psikologi ini sering memiliki asumsi bahwa siswa belajar dalam suatu situasi yang value free Lebih lanjut, studi Webb (1990) dan Burnett (1994) menunjukkan bahwa proses belajar siswa yang dikembangkan melalui pertimbangan budaya menunjukkan has PENDEKATAN MULTIKULTURAL UNTUK KURIKULUM Indonesia adalah negara yang kaya dengan budaya seperti dinyatakan dalam motto nasional "Bhinneka Tunggal Ika (Bhina = berbeda banyak; Tunggal = Satu). K Keberlakuan Undang-Undang nomor 22 tahun 1999 tentang otonomi daerah tidak akan secara langsung menjadikan pendekatan multikultural berlaku dalam penge Literatur mengenai pendidikan multikultural menunjukkan adanya keragaman dalam pengertian istilah tersebut. Banks (1993:3) menyatakan bahwa meskipun tidak Andersen dan Cusher (1994:320) mengatakan bahwa multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Definisi ini lebih luas dibandingkan dari y Pengertian pendidikan multikultural seperti di atas tentu terbatas dan hanya berguna bagi para pengembang kurikulum dalam satu aspek saja yaitu dalam proses m Atas dasar posisi multikulutral sebagai pendekatan dalam pengembangan kurikulum maka pendekatan multikultural untuk kurikulum diartikan sebagai suatu prinsip KURIKULUM MULTIKULTURAL MASA MENDATANG Proses pengembangan kurikulum haruslah meliputi tiga dimensi kurikulum yaitu kurikulum sebagai ide, kurikulum sebagai dokumen, dan kurikulum sebagai proses

Pengembangan ide berkenaan dengan penentuan filosofi kurikulum, model kurikulum yang digunakan, pendekatan dan teori belajar yang digunakan, pendekatan/m Kedua dimensi kurikulum ini dapat dikembangkan pada tingkat nasional baik dalam konteks otonomi dengan desentralisasi kewenangan pengembangan kurikulum Altematif lain adalah kurikulum sebagai ide dikembangkan pada tingkat nasional sedangkan kurikulum dalam bentuk dokumen dapat dikembangkan di daerah. Sep Alternatif kedua ini dapat dilakukan jika daerah telah memiliki tenaga pengembang yang cukup. Jika belum maka sebaiknya alternatif pertama yang dipilih sedangk Pengembangan kurikulum sebagai proses terjadi pada unit pendidikan atau sekolah. Pengembangan ini haruslah didahului oleh sosialisasi agar para pengembang a. Pengembangan Kurikulum Sebagai Ide Pengembangan kurikulum sebagai ide adalah langkah awal dan langkah yang sangat menentukan karakteristik kurikulum di masa mendatang: apakah yang akan d Suatu prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan kurikulum multikultural adalah ketiadaan keseragaman dalam kurikulum seperti yang terjadi pada saa Untuk kurikulum multikultural pendekatan pendidikan disiplin ilmu bagi kurikulum pendidikan dasar harus ditinggalkan sama sekali. Selain tidak semua orang akan Kurikulum harus secara tegas menyikapi bahwa siswa bukan belajar untuk kepentingan mata pelajaran tetapi mata pelajaran adalah untuk medium mengembangk Secara teknis filsafat kurikulum pendidikan dasar harus berubah dari esensialisme ke progresif, humanisme, dan rekonstruksi sosial. Melalui filsafat ini masyarakat Kurikulum untuk SMU dapat dikembangkan berdasarkan pendekatan pendidikan disiplin ilmu sedangkan untuk SMK pendekatan teknologi/vokasional. Meskipun d Apabila kurikulum pendidikan dasar harus diutamakan pada pengembangan kepribadian kemanusiaan siswa pada kurikulum pendidikan menengah ini penekanan Dalam pengembangan kepribadian ini pendekatan multikultural menghendaki kurikulum mampu menjadi media pengembangan kebudayaan lokal tetapi juga meru b. Pengembangan Kurikulum Sebagai Dokumen Pengembangan kurikulum sebagai dokumen menyangkut pengembangan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, pengalaman belajar, dan evaluasi. Sesuai dengan pendekatan multikultural, sumber kualitas yang dinyatakan dalam kurikulum tidak pula terbatas pada kualitas yang ditentukan oleh disiplin ilmu sem Kurikulum multikultural menghendaki adanya pengertian konten yang berbeda dari pengertian yang dianut dalam kurikulum terutama oleh Kurikulum 1975 dan 198 Masyarakat sebagai sumber belajar harus dapat dimanfaatkan sebagai sumber konten kurikulum. Oleh karena itu, nilai, moral, kebiasaan, adat/tradisi, dan cultural Pengembangan komponen proses dalam kurikulum sebagai dokumen menghendaki pendekatan yang menempatkan siswa sebagai subjek dalam belajar. Dalam p

c. Pengembangan Kurikulum Sebagai Proses Pengembangan kurikulum sebagai proses sangat ditentukan oleh guru. Baik dalam konteks sentralisasi maupun dalam konteks otonomi, peran guru tersebut tetap Ada empat hal yang harus diperhatikan guru dalam mengembangkan kurikulum sebagai proses, yaitu: (1) posisi siswa sebagai subjek dalam belajar, (2) cara belaj KESIMPULAN A. Kurikulum yang menggunakan pendekatan pengembangan multikultural haruslah didasarkan pada prinsip: Keragaman budaya menjadi dasar dalam menentukan filsafat, teori, model, dan hubungan sekolah dengan lingkungan sosial-budaya setempat; Keragaman budaya menjadi dasar dalam mengembangkan berbagai komponen kurikulum seperti tujuan, konten, proses, dan evaluasi; Budaya di lingkungan unit pendidikan adalah sumber belajar dan objek studi yang harus dijadikan bagian dari kegiatan belajar siswa; dan Kurikulum berperan sebagai media dalam mengembangkan kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional. B. Pengembangan kurikulum masa depan yang berdasarkan pendekatan multikultural dapat dilakukan berdasarkan langkah-langkah sebagai berikut: 1. Mengubah filosofi kurikulum dari yang berlaku seragam seperti saat ini kepada filosofi yang lebih sesuai dengan tujuan, misi, dan fungsi setiap jenjang pendidika 2. Teori kurikulum tentang konten (curriculum content) haruslah berubah dari teori yang mengartikan konten sebagai aspek substantif yang berisikan fakta, teori, ge 3. Teori belajar yang digunakan dalam kurikulum masa depan yang memperhatikan keragaman sosial, budaya, ekonomi, dan politik tidak boleh lagi hanya mendas 4. Proses belajar yang dikembangkan untuk siswa haruslah pula berdasarkan proses yang memiliki tingkat isomorphism yang tinggi dengan kenyataan sosial. Artin 5. Evaluasi yang digunakan haruslah meliputi keseluruhan aspek kemampuan dan kepribadian peserta didik, sesuai dengan tujuan dan konten yang dikembangkan

PUSTAKA ACUAN Andersen, R. dan Cusher, K. (1994). Multicultural and intercultural studies, dalam Teaching Studies of Society and Environment (ed. Marsh,C.). Sydney: Prentice-H Banks, J. (1993). Multicultural education: historical development, dimensions, and practice. Review of Research in Education, 19: 3-49. Boyd, J. (1989). Equality Issues in Primary Schools. London: Paul Chapman Publishing, Ltd. Burnett, G. (1994). Varieties of multicultural education: an introduction. Eric Clearinghouse on Urban Education, Digest, 98. Carter, R.T. dan Goodwin, A.L. (1994). Racial identity and education. Review of Research in Education, 20:291-336. Cooper, H. dan Dorr, N. (1995). Race comparisons on need for achievement: a meta analytic alternative to Graham's Narrative Review. Review of Educational Res Darling-Hammond, L. (1996). The right to learn and the advancement of teaching: research, policy, and practice for democratic education. Educational Researcher, Dewantara, Ki Hajar (1936). Dasar-dasar pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman

Dewantara, Ki Hajar (1945). Pendidikan, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa. Dewantara, Ki Hajar (1946). Dasar-dasar pembaharuan pengajaran, dalam Karya Ki Hajar Dewantara Bagian Pertama: Pendidikan. Yogyakarta: Majelis Luhur Per Eggleston, J.T. (1977). The Sociology of the School Curriculum. London: Routledge & Kegan Paul. Garcia, E.E. (1993). Language, culture, and education. Review of Research in Education, 19:51 -98. Hasan, S.H. (1996). Local Content Curriculum for SMP. Paper presented at UNESCO Seminar on Decentralization. Unpublished. Hasan, S.H. (1996). Multicultural Issues and Human Resources Development. Paper presented at International Conference on Issues in Education of Pluralistic So Oliver, J.P. dan Howley, C. (1992). Charting new maps: multicultural education in rural schools. ERIC Clearinghouse on Rural Education and Small School. ERIC D Print, M. (1993). Curriculum Development and Design. St. Leonard: Allen & Unwin Pty, Ltd.