Salam sejahtera ! Penggunaan teknologi tinggi dalam pengamatan by nfk14697

VIEWS: 48 PAGES: 1

									Salam sejahtera !

Penggunaan      teknologi   tinggi dalam    pengamatan    penyakit    di masyarakat       ternyata  sangat
membantu.     Dalam artikel pertama diuraikan       bagaimana    pemanfaatan       data lingkungan    hasil
penginderaan jauh (satelit) Landsat TM untuk estimasi intensitas penularan (KLB) malaria dengan
ketepatan estimasi mencapai 95%. Dalam hal penerapan teknologi pengendalian                  vektor secara
hayati, diuraikan pengaruh media yang mengandung          confidor 5 WP terhadap efektivitas cacing
parasit Romanomermis iyengari stadium pre parasit dalam menginvasi             larva Anopheles aconitus,
di mana efektifitasnya    menurun seiring dengan meningkatnya      konsentrasi pestisida pada media.

Pengetahuan,    sikap dan perilaku (PSP) masyarakat juga merupakan            hal yang penting dalam
pemberantasan     penyakit. Di Lombok Timur NTB diketahui masyarakat             mempunyai   PSP yang
kurang    mendukung      terhadap   pemberantasan    malaria,  di mana pada mal am hari mereka
mempunyai kebiasaan beraktivitas di luar rumah dan para suami menginap di ladang yang tidak
terlindung dari gigitan nyamuk. Persepsi masyarakat Jakarta terhadap penyakit hantavirus, yaitu
penyakit    demam     berdarah    dengan    sindrom   renal yang   ditularkan     melalui  udara yang
terkontaminasi   urin atau feses tikus ternyata masih salah, dimana masyarakat mempersepsikannya
sebagai penyakit typhus.

Dalam artikel lain diuraikan tentang dampak pencemaran udara dalam ruangan terhadap kesehatan
balita di Indramayu     dan dampak kebisingan terhadap ketulian karyawan rumah sakit di DKI
Jakarta. Karyawan yang bekerja di bagian boiler dan laundry mempunyai        risiko untuk terkena
ketulian 6,4 kali lebih besar dibanding karyawan yang bekerja di bagian umum.

Pada bagian akhir jurnal disajikan dua artikel hasil penelitian tentang besarnyahllbllngan    faktor
praktek kesehatan ibll hamil terhadap kejadian kematian perinatal. Diketahlli, ibll yang melakukan
praktek kesehatan secara tidak adekuat mempunyai risiko 2,3 kali lebih besar untllk mengalami
kematian perinatal dibanding yang melakukan praktek kesehatan secara adekuat setelah dikontrol
dengan variabel jenis kelamin anak, umur ibu, pendidikan,        paritas, jarak kehamilan,  riwayat
merokok dan keluhan kehamilan.


Semoga artikel-artikel   tersebut menambah  wawasan kita tentang faktor fisiko kesehatan llntuk
kemlldian menjadi masukan dalam penyelesaian      masalah. Redaksi senantiasa menllnggu artikel-
artikel basil penelitian ekologi kesehatan, baik dari pembaca di lingkungan   Badan Litbangkes
maupun di luar Badan Litbangkes.


Selamat membaca '

Redaksi

								
To top