Makalah Pendidikan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan

Document Sample
Makalah Pendidikan Al-Islam Dan Kemuhammadiyahan Powered By Docstoc
					www.ariefprawiro.co.nr

                                    TAUHID

HAKEKAT DAN KEDUDUKANNYA

       Allah berfirman:

“ Aku ciptakan jin dan manusia tiada lain hanyalah untuk beribadah kepadaKu” (QS.
Adz-Dzariyat : 56)

“ Dan sesungguhnya Kami ntelah mengutus seorang rasul pada tiap umat untuk
menyerukan : “Beribadahlah kepada Allah saja dan jauilah thaghut.” (QS. An-Nahl:36)

“ Beribadahlah kamu sekalian kepada Allah (saja) dan jangan berbuat syirik
kepadaNya” (An-Nisa : 36)

       Tauhid secara mutlak adalah berilmu dan mengakui keesaan Allah dengan sifat-
sifat-Nya yang sempurna, mengikrarkan ketauhidan-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang
agung lagi mulia dan mengesakan-Nya dalam ibadah.

Macam-macam Tauhid

Pertama: Tauhid Asm’ wa Sifat
        Yaitu meyakini secara mutlak akan ke-Esaan Allah yang Maha mulia dengan
segala kesempurnaan-Nya, dan dengan sifat-sifat-Nya yang agung, mulia lagi indah yang
tiada sekutu bagi-Nya dalam bentuk apapun. Yang demikian itu dengan cara menetapkan
apa yang telah Allah tetapkan untuk diri-Nya atau yang telah ditetapkan Rasul akan
keagungan dan kemuliaan nama dan sifat-Nya, memahami secara benar tentang makna
dan hukumnya sesuai yang dimaksud dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah tanpa adanya
penafian (meniadakan), ta’thil (menghilangkan), tahrif (merubah) maknanya dan tamtsil
(menyerupakan) dengan yang lain.
        Dan juga menafikan apa yang Allah nafikan untuk diri-Nya atau yang dinafikan
Rasul untuk Nya, seperti sifat-sifat cela, aib, kekurangan dan hal-hal yang bisa
menghilangkan kesempurnaan-Nya.

Kedua: Tauhid Rububiyah
       Yaitu hendaknya hamba meyakini bahwa Allah adalah Rabb yang Esa, Yang
Menciptakan, memberi rizki dan mengatur alam dengan sendirian. Dia yang mengatur
semua makhluk dengan nikmatnya, khususnya para anbiya’ dan pengikutnya yang
berakhidah shalihah, berakhlak baik, ilmunya bermanfaat dan beramal kebajikan. Inilah
tarbiyah yang sangat bermanfaat untuk hati dan ruh demi mendapatkan kebahagiaan
dunia akhirat.
Ketiga: Tauhid Uluhiyah
       Tauhid ini disebut juga Tauhid Ibadah. Yaitu mengilmui dan mengakui hanya
Allah-lah yang berhak atas uluhiyah dan ubudiyah dari seluruh makhluk, mengkhususkan
segala bentuk peribadatan hanya kepada-Nya dan memurnikan dien hanya untuk Allah
saja.
       Tauhid Uluhiyah menuntut adanya tauhid Rububiyah dan Tauhid Asma’wa sifat.
Tauhid ini mencakup keduanya. Sebab tauhid ini adalah salah satu sifat yang mencakup
segala sifat kesempurnaan, termasuk di dalamnya sifat-sifat rububiyah dan keagungan.
Sesungguhnya Dia adalah “al-Ma’luh” (yang diilahkan) dan “al-Ma’bud” (yang
diibadahi), karena Dialah yang memberi segala keutamaan dan kebaikan kepada para
hamba Nya. Ke-Esaan Allah dengan segala sifat kesempurnaan dan ke-Esaan-Nya
dengan Rububiyah-Nya menuntut pengesaan terhadap Uluhiyah-Nya, yaitu agar mereka
hanya beribadah kepada Allah saja.
       Semua rasul menyeru kepada tauhid ini. Mereka melarang kesyirikan dan
berbagai macam tandingan, khususnya dengan Muhammad dan Al-Qur’an.
Sesungguhnya Allah telah memerintahkan perkara ini dan mewajibkannya. Dia telah
menetapkannya dengan penetapan yang agung dan menjelaskannya dengan penjelasan
yang agung pula. Ia mengabarkan bahwa tiada kebahagian dan keberhasilan kecuali
dengan tauhid ini. Semua dalil aqli, naqli, alamiah dan kejiwaan merupakan bukti yang
menunjukkan tauhid ini serta kewajibannya.
       Tauhid adalah hak Allah yang wajib dilaksanakan oleh hamba, ini merupakan
urusan dien yang paling besar, landasan yang paling pokok landasan dari semua amal.

“Orang-orang yang beriman dan tidak menodai iman mereka dengan kezhaliman
(syirik), mereka itulah yang mendapatkan ketentraman dan mereka itulah yang
mendapatkan hidayah.” (QS. Al-An’am : 82).

      Keistimewaann tauhid yang merupakan hasil dari pengaruhnya yang mulia dan
buahnya yang indah. Tidak ada sesuatupun yang bisa membuahkan hasil sebaik tauhid.
Dengan tauhid kehidupan di dunia dan akhirat menjadi baik.


TAKUT KEPADA SYIRIK

       Allah SWT brfirman:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang menjadi tauladan, senantiasa patuh
kepada Allah dan menghadapkan diri kepada-Nya dan senantiasa patuh kepada Allah
dan menghadapkan diri hanya kepada-Nya dan sama sekali dia bukan termasuk orang-
orang yang berbuat syirik kepada Allah.” (QS. An-Nisa : 120)

“Dan orang-orang yang tidak berbuat syirik kepada Rabb mereka.” (QS. Al-Muk’minun
: 120).
       Tauhid yang murni adalah yang bersih dan tidak ada noda-noda syirik baik yang
kecil maupun yang besar, noda bid’ah ucapan maupun bid’ah keyakinan dan amalan,
serta yang bersih dari maksiat. Kemurnian tauhid ini akan terwujud dengan adanya
keikhlasan yang sempurna, baik dalam ucapan, amalan maupun iradah (kehendak)nya,
selamat dari syirik akbar, yang membatalkan asas aqidahnya, dan selamat dari syirik kecil
yang mengurangi kesempurnaan tauhid, juga terbebas dari bid’ah dan maksiat yang
mengotori tauhid yang berpengaruh sangat jelek.
       Murninya tauhid adalah tunduk kepada Allah dengan sempurna dan tawakkal
yang kuat kepada-Nya sehingga hatinya tidak condong sedikitpun kepada makhluk di
setiap kondisi, tidak meminta kemuliaan kepada mereka dan tidak meminta apapun
kepada mereka di mana dan kapan saja, tapi zhahir dan batinnya, ucapan dan
perbuatannya, cinta dan bencinya dan semuanya ditujukan hanya mencari ridha Allah
dengan mengikuti petunjuk rasul.
       Dalam hal ini manusia ada beberapa tingkatan. Allah berfirman:

“Dan setiap derajat sesuai dengan amal mereka.” (QS. Al-Ahqaf : 19)

        Tauhid yang murni tidak bisa diperoleh hanya dengan angan-angan, tidak hanya
dengan berdo’a yang tanpa bukti dan khayalan-khayalan kosong, tapi kemurnian tauhid
bisa didapat dengan hal-hal yang menenangkan hati, berupa keyakinan, ‘aqidah yang
terbukti dengan berbuat kebaikan, berakhlaq mulia dan shalih.

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik tetapi Dia mengampuni segala
dosa selain (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya”. (QS. An-Nisa’ ; 116)

        Syirik dalam Uluhiyah dan Ibadah bisa menghilangkan tauihid.
        Syirik ada dua macam:
1.Syirik besar yang nampak
2.Syirik kecil Yang tak tampak

        Syirik besar adalah: Membuat tandingan bagi Allah dan menyerunya
sebagaimana ditujukan kepada Allah atau melakukan suatu bentuk ibadah kepada
(tandingan)nya seperti ibadah yang ditujukan kepada Allah. Syirik macam ini
menghilangkan ketauhidan dari diri seseorang. Orang musyrik yang beginilah yang Allah
haramkan masuk surga dan tempat kembalinya adalah neraka.
        Syirik kecil adalah: Semua ucapan dan perbuatan yang menghantarkan kepada
kesyirikan seperti sikap ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap makhluk, yang tidak
termasuk dalam kategori menyembah seperti sumpah dengan selain Allah, melakukan
riya’ dan sebagainya.
    Bila kesyirikan sudah menghilangkan ketauhidan seseorasng, maka ia wajib masuk
neraka dan kekal didalamnya, ia diharamkan masuk surga jika syirik itu besar dan
kebahagiaan itu tidak akan didapat kecuali bila terhindar dari syirik.
TAFSIRAN “TAUHID” DAN SYAHADAH “LA ILAHA ILLALLAH”

   Diriwayatkan dalam shahih Muslim, bahwa Nabi Muhammad saw bersabda:

“Barang siapa yang mengucapkan La Ilaha Illallah dan mengingkari sesembahan selain
Allah, haramlah harta dan darhnya, sedang hisap (pehitungannya) nya adalah terserah
kepada Allah ‘Aza wa jalla”.

       Makna dari kedua lafadz (tauhid dan syahadat) adalah sama, satu bahasan yang
sama maksudnya dan saling berhubungan.
       Hakekat tafsir dari syahadat yang sempurna adalah bara’ (berlepas diri) dari
sesembahan selain Allah, tidak membuat tandingan-tandingan bagi Allah, tidak mencintai
sesuatupun melebihi cintanya kepada Allah, atau mentaati mereka seperti taatnya kepada
Allah dan tidak beramal untuk mereka sebagaimana beramal untuk Allah yang
kesemuanya bisa menafikan La Ilaha Illallah.
       Bahwa mengucapkan La Ilaha Illallah haruslah yakin akan kewajiban ibadah
yang hanya kepada Allah saja, tidak ada sekutu-Nya dan mengikrarkannya lisan maupun
keyakinannya. Disamping keharusan beribadah hanya kepada Allah saja, tunduk dan taat
kepada-Nya, jugas harus bara’ kepada selain-Nya dalam hal beribadah, ketaatan dan
ketundukan yang bisa menghilangkan makna syahadat, baik ucapan perbuatan maupun
dalam keyakinan.
                                    PENUTUP

        Diantara fadhilah tauhid adalah bahwa ia merupakan penyebab terbesar untuk
mencegah kesempitan hidup di dunia dan di akhirat dan bisa terhindar dari siksa
keduanya.
        Karena tauhidlah seseorang tercegah dari kekekalan di neraka bila di dalam
hatinya masih terdapat iman walaupun sebesar biji sawi. Bila tauhid seseorang sempurna
ia akan terhindar dari neraka. Orang bertauhid sempurna akan mendapatkan petunjuk
secar sempurna pula dan merasa aman di dunia dan di akhirat.
        Tauhid adalah satu-satunya sebab untuk mendapatkan ridha Allah dan pahalanya.
Orang yang paling bahaigia.




       `