ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERTUMBUHAN EKONOMI DIY by lpx20272

VIEWS: 10,256 PAGES: 91

									ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

 PERTUMBUHAN EKONOMI DIY TAHUN 1990-2004


                     SKRIPSI




                         Oleh :


         Nama                : Nelly Nur Laili
         Nomor Mahasiswa : 03.313.087
         Program Studi       : Ilmu Ekonomi


       UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
             FAKULTAS EKONOMI
                ILMU EKONOMI
                 YOGYAKARTA
                         2007
ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
          PERTUMBUHAN EKONOMI DIY
                  TAHUN 1990 – 2004


                       SKRIPSI


Disusun dan diajukan untuk memenuhi syarat ujian akhir
    guna memperoleh gelar Sarjana jenjang strata 1
              Program Studi Ilmi Ekonomi,
                pada Fakultas Ekonomi
              Universitas Islam Indonesia




                         Oleh
       Nama                     : Nelly Nur Laili
       Nomor Mahasiswa          : 03.313.087
       Program Studi            : Ilmu Ekonomi




      UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
              FAKULTAS EKONOMI
                  YOGYAKARTA
                         2007




                           i
                  PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME



“ Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang

pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi,

dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang

pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu

dalam naskah ini dan disebutkan dalam referensi. Dan apabila dikemudian hari

terbukti bahwa pernyataan ini tidak benar maka saya sanggup menerima hukuman

/ sangsi apapun sesuai peraturan yang berlaku.”




                          Yogyakarta, 4 Agustus 2007

                                     Penulis,




                                  Nelly Nur Laili




                                        ii
                    PENGESAHAN


ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
          PERTUMBUHAN EKONOMI DIY
                   TAHUN 1990-2004




   Nama                 : Nelly Nur Laili
   Nomor Mahasiswa : 03.313.087
   Program Studi        : Ilmu Ekonomi




              Yogyakarta, Agustus 2007
           Telah disetujui dan disahkan oleh
                   Dosen Pembimbing,




             Dra. Diana Wijayanti, M.Si




                          iii
iv
                  MOTTO
4JJI tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan

kemampuannya.

                                                        (QS. Al Mu’minun:62)

Sungguh, 4JJI tidak akan memgubah nasib suatu kaum Sampai mereka

sendiri yang mengubah dirinya.

                                                            (QS. Ar Ra’du:11)

Sesungguhnya sesudah Kesulitan itu pasti ada Kemudahan.

                                                         (QS. Asy Syarh:5&6)

Kemalasan tidak lebih dari kebiasaan beristirahat saat belum letih.

                                                              (Jules Renard)

Mendapat kepercayaan itu mudah, yang lebih mudah lagi menghancurkan,

tapi yang sulit adl membina dan menjaga kepercayaan itu.

Berbuat kesalahan adl hal yang biasa.Tetapi memperbaiki semua kesalahan

adl hal yang sangat luar biasa.

Hidup ini akan menjadi penuh arti, apabila mempunyai arti / manfaat untuk

orang lain.

Usaha tanpa do’a itu “SOMBONG”, do’a tanpa usaha itu “SIA-SIA”

                                                                      (Penulis)




                                  v
           HALAMAN PERSEMBAHAN



Seiring rasa syukurku, karya ini Kupersembahkan untuk :

                       ALLAH SWT

Yang begitu Sempurna, yang selalu melimpahkan Rahmat &

           Hidayah_Nya kepada semua Umat_Nya

                  NABI MUHAMMAD S.A.W
     Sebagai suri tauladan kita, menuju jalan_Nya
 PAPA ACHMAD TAUFIK & MAMA MARIYATUL QIBTIYAH TERCINTA

Sebagai ungkapan trimakasih & tanda baktiku kepadamu..

   Mb Ella & Mas Nur,Adik2ku Lia & Nila, Kel.Besarku

 Sebuah tanggung jawab yg besar untukku..thx bt kasih

      syg, bantuan, support & do’anya slama ni..

           Seseorang yg mengisi ruang hatiku

      Mkch ats cinta & sygmu slama ni..Mkch tlah

 mendampingiku saat suka & duka, karna kamu aku bisa..

                  Sahabat & teman2ku

 Yang slalu mendo’akanku & membantuku dlm sgala hal..

       Almamater yg kubanggakan Dan untuk   waktu

       yang telah mengubahku menjadi lebih baik.. 

                             

                             



                           vi
                              KATA PENGANTAR




       Alhamdulillah, Puji dan Syukur atas kekuatan yang diberikan Allah

padaku untuk bisa berjuang menyelesaikan amanah dan segala kewajibanku

sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul ANALISIS

FAKTOR-FAKTOR              YANG       MEMPENGARUHI          PERTUMBUHAN

EKONOMI DIY TAHUN 1990–2004. Skripsi ini tersusun sebagai salah satu

syarat untuk menyelesaikan pendidikan program Sarjana Strata Satu (S1) pada

Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

       Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna karena

keterbatasan yang penulis miliki. Terima kasih atas segala kritik dan saran yang

bersifat membangun yang telah dan akan penulis terima. Penulis menghaturkan

terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Dra. Diana Wijayanti, M.Si selaku

dosen pembimbing skripsi yang telah memberikan bimbingan, waktu, tenaga,

arahan, dan motivasi dengan segala ketelitian dan kesabarannya sehingga skripsi

ini dapat terselesaikan.

       Penyusunan skripsi ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa bantuan

berbagai pihak, untuk itu penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-

besarnya kepada:

   1. Bapak Drs. Asmai Ishak, M.Bus, Ph.D selaku Dekan Fakultas Ekonomi

       Universitas Islam Indonesia.




                                       vii
2. Bapak Dr. Jaka Sriyana, SE., M.Si. selaku Kaprodi Ilmu Ekonomi

   Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.

3. Bapak Suharto, SE.,M.Si. selaku Dosen Pembimbing Akademik.

4. Mamiku....Ibu Dra. Diana Wijayanti, M.Si terimakasih bu’ atas

   bimbingannya slama ini..Maaf kalau ada yg kurang berkenan..

5. Seluruh Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia khususnya

   jurusan Ilmu Ekonomi yang telah memberikan Ilmu yang sangat berharga.

6. Bapak Anjar sang juru kunci jurusan IE yang banyak membantu dalam hal

   Akademik.

7. Papa & Mama tercinta yang selalu menguatkan diriku dengan kasih syg,

   do’a, dan kesabarannya slama ini. Maafkan anakmu ini bila ada yg tdk

   berkenan. Tidak ada ucapan yg bisa ku ungkapkan, hnya terimakasih &

   terimakasih..

8. Mbak Ella & Mas Nur, Selamat Menempuh Hidup Baru yaaaa..mg jd Kel

   Sakinah Mawadah Warahmah, dpt momongan yg sholeh & sholehah,

   amien4x..

9. D’Lia “mksh dah jd t4 curhatku slama ni”, rajin kul biar cpt jd

   “SH”....D’Nila & Adi ndut ‘oopzz’, blajar yg rajin dah mo UNAS, mg dpt

   Univ Negri, amien4x..

10. Kel.Besarku & ponakan2 di Palembang, Lampung, Jepara, Karawang,

   Jogja..terimakasih atas support & do’anya..

11. My Love ”Yasin” yg mengisi hatiku..Mksh bt cinta & sygny slama

   ni..”trimakasih u/ dirimu yg sangat bijaksana, memahamiku &




                                  viii
   mencintaiku apa adanya”.. terimakasih atas semangat, dukungan &

   do’anya, kau sumber inspirasi dlm menyelesaikn skripsi ni. Cpt nyusul ya

   luv..I Love U..

12. Sobat2ku Ria nduut yg slalu ngomelin ak, shingga t’selesaikan tanggung

   jwb ni..Thx 4 alls, Hana SE, Dewi SE, Henty SE, Wini mkch bt do’a n

   dukungan, bantuan, mksh dah mau jd sobat baikku & crita indah slama

   ni..Miz U alls..

13. Temen2 IE ’03 Huda, Asep, Arifin SE, Amen, Amar SE, Adi Brebes SE,

   Narto SE, Bagus SE, Iroel SE, Najib SE, Yandi, Rochman, Danang SE,

   Minggus SE, Tile, Rifqi, Wisnu, Nophal, Teguh, Ucup SE, Citra, Juned,

   Adi yusri SE, Reza, Kentung, Bryan, Syifa, Arie, Alek, Agil, Ajay SE,

   Asnan SE, N smua sperjuangan IE ’03..matur nuwun kagem sedoyo

   nipun..”Smoga qt sll mnjadi sbuah kisah klasik u/ masa dpn”..slh satu crita

   t’indah dhati, sjuta memory akn t’rekam dlm hti ni..

14. ‘02 mas Dwi thx ats bantuannya slama ni..Doni, Prof., Agung jempol,

   Ya2k, Caplin, T.Dedy, Saugi, ’04 nitha, uci’, irwan, angga & Kel. Besar

   IE ’00-‘07..thx bt smuanya..

15. Teman2 KKN unit 20 Akie, Rangga, Sunar, Tary, Donny, maReta,

   Anshor, Bohaiy, Dita, Tiwi, Pras, Roni..”thx u/ 3bln yg indah”.. Bpk Ibu

   Hardoko, Kel.Besar Dukuh Ngemplak Caturharjo.. DPL KKN Bpk Edy..

   Sbuah crita yg g mungkin t’gantikn..

16. Bpk, Ibu Guru, temen2 MAN Yk 3, PRENS n kel, mksh ats smua crita

   indah dimasa SMA kita..




                                   ix
   17. Kel. Besar Mas Yasin & ponakan2 di Mlangi (ibu & bpk alm, mb ikah +

       suami, mb mus + suami, mb iroh, mas inung)..trimakasih atas do’a &

       dukungannya..

   18. Temen2ku di Mlangi (i’un, oyie’ vina, edy ina, dll) mksh bt do’a N

       sholawatnya....

   19. Hanafi, Tanto Indah, kirno, Yoga Lia, Makrop Mira,mb dewi, mb asri,

       Aan, Bogel, Conge, Mb Mar, Idut ilung, kemaL, ujank .... thx atas do’a &

       dukungannya..

   20. Semua pihak yang penulis tidak bisa sebutkan satu persatu yang telah

       memberi masukan-masukan dan bantuan guna penyelesaian skripsi ini.

       Terima kasih....Terima kasih....Terima kasih....Terima kasih....

          Semoga segala amalan yang baik tersebut akan memperoleh balasan

   rahmat dan karunia dari Allah SWT, Amien. Penulis menyadari sepenuhnya

   akan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang ada pada penulis

   sehingga tidak menutup kemungkinan bila skripsi ini masih banyak

   kekurangan.

       Akhir kata, penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat

bagi yang berkepentingan.



                                                      Yogyakarta, 4 Agustus 2007

                                                                  Penulis




                                                              Nelly Nur Laili



                                         x
                                               DAFTAR ISI




Halaman Judul....................................................................................................... i

Halaman Pernyataan Bebas Plagiarisme............................................................... ii

Halaman Pengesahan Skripsi ................................................................................ iii

Halaman Pengesahan Ujian................................................................................... iv

Halaman Motto ..................................................................................................... v

Halaman Persembahan .......................................................................................... vi

Halaman Kata Pengantar...................................................................................... vii

Halaman Daftar Isi ................................................................................................ xi

Halaman Daftar Tabel ........................................................................................... xv

Halaman Daftar Gambar ....................................................................................... xvi

Halaman Daftar Lampiran.....................................................................................xvii

Halaman Abstraksi ..............................................................................................xviii



BAB I PENDAHULUAN.................................................................................... 1

1.1 Latar Belakang Masalah.................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................... 8

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ....................................................................... 8

1.4 Sistematika Penulisan ..................................................................................... 10




                                                          xi
BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI ............................... 12

2.1.Kajian Pustaka................................................................................................. 12

2.2 Landasan Teori................................................................................................ 13

     2.2.1 Pengertian Pertumbuhan Ekonomi ........................................................ 13

     2.2.2 Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan ........................................... 15

     2.2.3 Teori Pertumbuhan Ekonomi Harrod-Domar........................................ 15

     2.2.4 Teori Investasi........................................................................................ 17

     2.2.5 Teori Ekspor........................................................................................... 18

     2.2.6 Teori Pariwisata..................................................................................... 19

     2.2.7 Teori Industri......................................................................................... 21

2.3 Hubungan Antara Variabel Dependen dengan Variabel Independen..............22

     2.3.1. Pengaruh PMDN terhadap Pertumbuhan ekonomi................................22

     2.3.2. Pengaruh Ekspor terhadap Pertumbuhan ekonomi................................23

     2.3.3. Pengaruh Pariwisata terhadap Pertumbuhan ekonomi...........................24

     2.3.4. Pengaruh Jumlah Perusahaan Disektor Industri terhadap Pertumbuhan

                ekonomi ...............................................................................................25

2.4 Hipotesis.......................................................................................................... 26



BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 27

3.1 Jenis dan Sumber Data ................................................................................... 27

3.2 Definisi Variabel..............................................................................................27

3.3 Metode Analisis Data.......................................................................................29

     3.3.1 Metode Regresi Kuadrat Terkecil...........................................................29




                                                           xii
      3.3.2 Pemilihan Model Regresi........................................................................29

      3.3.3 Uji Hipotesis (Uji-t)............................................................................... 31

      3.3.4 Uji Hipotesis (Uji-F)...............................................................................32

      3.3.5 Koefisien Determinasi (R2).....................................................................33

      3.4 Uji Asumsi Klasik......................................................................................35

           3.3.4.1 Multikolinearitas............................................................................35

           3.4.2 Uji Heteroskedastisitas......................................................................36

           3.4.3 Uji Autokorelasi................................................................................37



BAB IV HASIL DAN ANALISIS DATA...........................................................40

4.1     Deskripsi Data……………………….…………..…………………………40

4.2 Uji Spesifikasi Model.......................................................................................41

4.3 Uji Kuantitatif…………………………………………….………………….42

4.4     Uji Statistik....................................................................................................43

      4.4.1 Uji F – Test Statistik........................................................................... 43

      4.4.2     Uji t – Test Statistik.............................................................................45

      4.4.3     Koefisien Determinasi R2 (Goodness Of Fit)......................................49

  4.5 Uji Asumsi Klasik………………………………………………………...49

4.5.1      Uji Multikolinieritas……………………………………………………...49

4.5.2      Uji Heterokedastisitas…………………………………………………....50

4.5.3      Uji Autokorelasi …………………………………………………….…..52

4.6        Analisis Ekonomi………………………………………………………..54

      4.6.1. Penanaman Modal Dalam Negeri………………………………….....54



                                                          xiii
    4.6.2. Ekspor ...................................................................................................54

    4.6.3. Pariwisata.............................................................................................. 56

    4.6.4. Jumlah Perusahaan Disektor Industri.....................................................58



BAB V SIMPULAN DAN IMPLIKASI............................................................ 59

  5.1 Simpulan...................................................................................................... 59

  5.2 Implikasi.......................................................................................................60



Daftar Pustaka

Lampiran




                                                         xiv
                                      DAFTAR TABEL



TABEL                                                                                             Halaman

   1.1 Pertumbuhan Ekonomi Indonesia tahun 1995-2005...............................5

   1.2 Pertumbuhan Ekonomi DIY tahun 1990-2005.......................................6

   3.1 Uji Statistik Durbin-Watson..................................................................39

   4.1. Data Observasi .....................................................................................40

   4.2. Hasil Uji MWD.....................................................................................42

   4.3. Hasil Regresi.........................................................................................43

   4.4. Hasil Uji Multikolinieritas....................................................................50

   4.5. Hasil Uji Heteroskedastisitas................................................................52

   4.6. Hasil Uji Autokorelasi..........................................................................52




                                                    xv
                                    DAFTAR GAMBAR



Gambar                                                                                       Halaman

   3.1 Daerah Autokorelasi...............................................................................38

   4.1. Kurva Distribusi F Pertumbuhan Ekonomi DIY.................................. 44

   4.2. Kurva Distribusi t PMDN......................................................................45

   4.3. Kurva Distribusi t Ekspor......................................................................46

   4.4. Kurva Distribusi t Pariwisata................................................................47

   4.5. Kurva Distribusi t Jumlah Perusahaan di Sektor Industri.....................48




                                                 xvi
                                   DAFTAR LAMPIRAN



Lampiran

     1. Data Observasi.....................................................................................64

     2. Data Log...............................................................................................65

     3. Uji MWD.............................................................................................66

     4. Hasil Analisis Regresi Utama..............................................................67

     5. Uji Heteroskedastisitas.........................................................................68

     6. Uji Autokorelasi...................................................................................69

     7. Uji Multikolinieritas.............................................................................70




                                                  xvii
                                 Abstraksi


        Penelitian ini berjudul “Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi
Pertumbuhan Ekonomi DIY tahun 1990-2004”. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis pengaruh dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), Ekspor,
Pariwisata, dan Jumlah Perusahaan Disektor Industri terhadap Pertumbuhan
Ekonomi di DIY tahun 1990 – 2004. Metode analisis yang digunakan dalam
penelitian ini adalah Regresi Kuadrat Terkecil/OLS (ordinary least square),
dengan data time series tahunan Periode 1990 – 2004 yang bersumber dari
Badan Pusat Statistik Indonesia dan Dinas Pariwisata DIY. Pengujian statistik
meliputi uji t, uji F dan R-square (koefisien determinasi) serta uji asumsi klasik
yaitu multikolinearitas, heteroskedastisitas dan autokorelasi.
        Hasil analisis data menunjukkan bahwa Penanaman Modal Dalam
Negeri (PMDN), Ekspor, Pariwisata, Jumlah Perusahaan Disektor Industri
berpengaruh terhadap Pertumbuhan Ekonomi di DIY. Hasil Regresi antara
Variabel Dependen dengan Variabel Independen adalah R-Squared = 0,952151
dan F-Statistik = 49,74804 sehingga secara bersama-sama variabel Penanaman
Modal Dalam Negeri (PMDN), Ekspor, Pariwisata, Jumlah Perusahaan Disektor
Industri berpengaruh positif terhadap Pertumbuhan Ekonomi di DIY. Untuk
pengujian terhadap uji asumsi klasik tidak terdapat multikolinieritas,
heteroskedastisitas dan autokorelasi. Sehingga mengharapkan kepada peneliti
lain yang sejenis untuk melengkapi baik dengan menambah variabel atau data-
data yang digunakan sehingga dapat memberikan hasil yang lebih baik.




                                     xviii
                                    BAB I

                             PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

      Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian

 yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah

 dan kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi dapat

 dipandang sebagai masalah makroekonomi dalam jangka panjang. Dari satu periode

 ke periode lainnya kemampuan suatu negara untuk menghasilkan barang dan jasa

 akan meningkat. Kemampuan yang meningkat ini disebabkan karena faktor-faktor

 produksi akan selalu mengalami pertambahan dalam jumlah dan kualitasnya.

 Investasi akan menambah jumlah barang modal. Teknologi yang digunakan menjadi

 berkembang. Disamping itu tenaga kerja bertambah sebagai akibat perkembangan

 penduduk, dan pengalaman kerja dan pendidikan menambah ketrampilan mereka.

      Perkembangan kemampuan memproduksi barang dan jasa sebagai akibat

 pertambahan faktor-faktor produksi pada umumnya tidak selalu diikuti oleh

 pertambahan produksi barang dan jasa yang sama besarnya. Pertambahan potensi

 memproduksi kerap kali lebih besar dari pertambahan produksi yang sebenarnya.

 Dengan demikian perkembangan ekonomi adalah lebih lambat dari potensinya.

      Pertumbuhan ekonomi mencerminkan kegiatan ekonomi. Pertumbuhan

 ekonomi dapat bernilai positif dan dapat pula bernilai negatif. Jika pada suatu



                                       1
                                                                              2




periode perekonomian mengalami pertumbuhan positif, berarti kegiatan ekonomi

pada periode tersebut mengalami peningkatan. Sedangkan jika pada suatu periode

perekonomian mengalami pertumbuhan negatif, berarti kegiatan ekonomi pada

periode tersebut mengalami penurunan.

      Pertumbuhan ekonomi merupakan kunci dari tujuan ekonomi makro. Hal ini

didasari oleh tiga alasan. Pertama, penduduk selalu bertambah. Bertambahnya

jumlah penduduk ini berarti angkatan kerja juga selalu bertambah. Pertumbuhan

ekonomi akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi angkatan kerja. Jika

pertumbuhan ekonomi yang mampu diciptakan lebih kecil daripada pertumbuhan

angkatan kerja, hal ini mendorong terjadinya pengangguran. Kedua, selama

keinginan dan kebutuhan selalu tidak terbatas, perekonomian harus selalu mampu

memproduksi lebih banyak barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan

kebutuhan tersebut. Ketiga, usaha menciptakan kemerataan ekonomi (economic

stability) melalui retribusi pendapatan (income redistribution) akan lebih mudah

dicapai dalam periode pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

             Dengan adanya mekanisme penanaman modal merupakan langkah

  awal kegiatan produksi suatu negara. Begitu juga halnya dengan investasi yang

  merupakan langkah awal kegiatan pembangunan ekonomi. Dalam upaya

  menumbuhkan perekonomian, setiap negara senantiasa berusaha menciptakan

  iklim yang dapat menggairahkan investasi. Sasaran yang dituju bukan hanya

  masyarakat atau kalangan swasta dalam negeri, tapi juga investasi asing.
                                                                                   3




       Penerimaan investasi dalam negeri maupun investasi asing merupakan

salah satu pos penerimaan negara yang memberikan kontribusi cukup potensial

dalam hal pembiayaan anggaran dan belanja negara. Laju pertumbuhan

perekonomian yang didasarkan pada alur investasi positif menggambarkan gerak

pacu positif dengan dukungan beberapa faktor penunjang lainnya. Pertumbuhan

ekonomi dan hubungannya dengan keberlanjutan pembangunan diketahui bahwa

peningkatan output sektor-sektor ekonomi riil dapat dibentuk melalui mekanisme

pertambahan kapasitas produksi.

       Dalam     suatu     pembangunan      sudah     pasti   diharapkan   terjadinya

pertumbuhan. Untuk mencapai sasaran tersebut, diperlukan sarana dan prasarana,

terutama dukungan dana yang memadai. Disinilah peran serta investasi

mempunyai cakupan yang cukup penting karena sesuai dengan fungsinya sebagai

penyokong pembangunan dan pertumbuhan nasional melalui pos penerimaan

negara sedangkan tujuannya adalah untuk menunjang pelaksanaan pembangunan

nasional dalam rangka meningkatkan pemerataan pertumbuhan ekonomi dan

stabilitas nasional ke arah peningkatan kesejahteraan rakyat.

       Alur Investasi merupakan pembentukan modal yang mendukung peran

swasta dalam perekonomian yang berasal dari dalam negeri. Harrod Domar

menyatakan, dalam mendukung pertumbuhan ekonomi diperlukan investasi-

investasi baru sebagai stok modal seperti Penanaman Modal Dalam Negeri

(PMDN).     Dengan       adanya   semakin    banyak     tabungan   yang    kemudian

diinvestasikan, maka semakin cepat terjadi pertumbuhan ekonomi. Akan tetapi
                                                                                 4




secara riil, tingkat pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada setiap tabungan dan

investasi tergantung dari tingkat produktivitas investasi tersebut (Todaro M., 1993

: 65-66).

       Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dapat diartikan sebagai

pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk

membeli barang-barang produksi, untuk menambah kemampuan memproduksi

barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian yang berasal dari investasi

dalam negeri. Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun

sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif, maka

output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka

panjang juga akan meningkat. Jelas dengan demikian bahwa investasi khususnya

Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) memainkan peranan penting dalam

menentukan jumlah output dan pendapatan. Kekuatan ekonomi utama yang

menentukan investasi adalah hasil biaya investasi yang ditentukan oleh kebijakan

tingkat bunga dan pajak, serta harapan mengenai masa depan (Samuelson dan

Nordhaus, 1993 : 183).

       Pertumbuhan ekonomi nasional yang dihitung melalui GNP ( Gross

National Product ) dapat juga dijadikan indikator atas laju perekonomian nasional

yang dalam hal ini menyangkut efektifitas dari tingkat investasi alam maupun luar

negeri. Selama dekade 10 tahun terakhir ( periode 1995 – 2005 ) terlihat

perubahan yang fluktuatif. Laju pertumbuhan terbesar tercatat pada tahun 1995

dengan nilai GDP sebesar Rp. 1.340.379,2 Milliar dengan laju pertumbuhan
                                                                            5




sebesar 8,22 % dari tahun sebelumnya. Angka laju tersebut ternyata mengalami

penurunan hingga pada klimaks penurunan minimum pada tahun 1998 hingga

mencapai kondisi (minus) sebesar -13,12 % dengan nilai nominal Rp. 1.314.474,3

Milliar. Kondisi ini adalah kondisi krisis ekonomi yang berpengaruh terhadap

hampir semua sektor ekonomi tak terkecuali pertumbuhan ekonomi nasional.



                                Tabel 1.1
                   Pertumbuhan Ekonomi Indonesia
         periode 1995-2005 atas dasar harga konstan tahun 2000

         Tahun      GDP tahun dasar 2000      Laju Pertumbuhan
                       (Milliar rupiah)               (%)
        1995             1.340.379,2                  8,22
        1996             1.445.172,6                  7,82
        1997             1.513.093,9                  4,69
        1998             1.314.474,3                 -13,12
        1999             1.324.873,4                  0,79
        2000             1.389.769,6                  4,89
        2001             1.442.984,6                  3,83
        2002             1.506.124,4                  4,37
        2003             1.579.559,0                  4,87
        2004             1.660.578,8                  5,12
        2005             1.749.546,9                  5,35
   Sumber : Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai edisi. (data diolah)


      Pada masa pasca krisis ekonomi terdapat gejolak perbaikan saat periode

tahun 1999 dengan sedikit kenaikan yang mencapai laju pertumbuhan 0,79 %

dengan nilai pertumbuhan nasional sebesar Rp. 1.324,873,4 Milliar dan terus

mencapai kenaikan hingga periode tahun 2005 dengan nilai nominal
                                                                               6




       Rp. 1.749.546,9 Milliar dengan mencatat angka laju pertumbuhan

ekonomi sebesar 5,35 % dari tahun 2004.

       Dengan adanya laju pertumbuhan ekonomi nasional dapat dilihat marak

lesunya iklim investasi di Indonesia, karena dengan melihat sisi pertumbuhan

nasional terlihat semakin besar atau kecilnya output total dari suatu negara yang

mencerminkan produktifitas nasional yang dalam bahasan ini dikaitkan dengan

dana investasi dalam maksimalisasi total produksi yang mendorong pada tingkat

laju pertumbuhan nasional.

                               Tabel 1.2
                       Pertumbuhan Ekonomi DIY
                            tahun 1990-2005

         Tahun                  GRDP             Laju Pertumbuhan
                             (Juta rupiah)              (%)
          1990               1.085.093,00                4,57
          1991               1.141.438,00                5,19
          1992               1.220.607,00                6,94
          1993               4.058.028,00                6,39
          1994               4.387.074,00                8,11
        1995             4.741.903,00                    8,09
        1996             5.111.563,00                    7,80
        1997             5.378.525,00                    3,51
        1998             4.777.199,00                   -11,18
        1999             4.824.445,72                    0,99
        2000             5.017.709,21                    4,01
        2001            14.055.070,59                    4,26
        2002            14.687.284,33                    4,50
        2003            15.360.408,85                    4,58
        2004            16.146.423,44                    5,12
        2005            16.939.682,45                     4,73
   Sumber : Laporan Tahunan BPS, berbagai edisi.
                                                                             7




        Pada masa pasca krisis ekonomi terdapat gejolak perbaikan saat periode

tahun 1999 dengan sedikit kenaikan yang mencapai laju pertumbuhan 0,99 %

dengan nilai pertumbuhan ekonomi sebesar Rp. 4.824.445,72 dan terus mencapai

kenaikan hingga periode tahun 2005 dengan nilai nominal Rp. 16.939.682,45

dengan mencatat angka laju pertumbuhan ekonomi sebesar 4,73 % dari tahun

2004.

        Apabila hal diatas dikaitkan dengan kondisi yang ada di Daerah Istimewa

Yogyakarta, dinilai terdapat cakupan yang sangat strategis dan berpotensi untuk

mencapai target pertumbuhan investasi dimana guna memenuhi kebutuhan dana

tersebut peran sektor swasta sangat besar, lebih kurang 75% dari dana yang ada

dan sisanya disediakan oleh pemerintah. Hampir 50% dari investasi swasta

ditanamkan pada sektor industri, sebab berdasarkan dari data yang ada sektor

industri merupakan alternatif pertama dengan asumsi mampu mendatangkan

keuntungan yang relatif besar.

        Dengan adanya pemasalahan ini maka penulis tertarik untuk mengadakan

penelitian    tentang   pertumbuhan     ekonomi     dan    fakor-faktor   yang

mempengaruhinya di Daerah Istimewa Yogyakarta dengan Judul “Analisis

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi DIY tahun

1990-2004”.
                                                                                     8




1.2 Rumusan Masalah

             Berdasarkan dari penjelasan pada latar belakang diatas, maka dapat

   dirumuskan beberapa permasalahan untuk dilakukan penelitian, yaitu :

   1.        Apakah penanaman modal dalam negeri (PMDN) DIY berpengaruh

             terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?

   2.        Apakah Ekspor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?

   3.        Apakah Pariwisata berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi DIY ?

   4.        Apakah Jumlah perusahaan disektor industri        berpengaruh terhadap

             pertumbuhan ekonomi DIY?



1.3.Tujuan dan Manfaat Penelitian

        1.3.1. Tujuan Penelitian

                Tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui:

        1.      Menganalisa seberapa besar pengaruh variabel penanaman modal

                dalam negeri (PMDN) terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah

                Istimewa Yogyakarta.

        2.      Menganalisa seberapa besar pengaruh variabel Ekspor terhadap

                pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.

        3.      Menganalisa seberapa besar pengaruh variabel Pariwisata terhadap

                pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.
                                                                            9




4.     Menganalisa seberapa besar pengaruh variabel Jumlah perusahaan

       disektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa

       Yogyakarta.

1.3.2. Manfaat Penelitian

  1. Bagi Penulis

                Sebagai salah satu syarat mendapat gelar sarjana pada Fakultas

       Ekonomi      Universitas   Islam   Indonesia,   dan   juga   menambah

       pengetahuan dan pengalaman penulis agar dapat mengembangkan

       ilmu yang diperoleh selama mengikuti perkuliahan di Fakultas

       Ekonomi jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Islam Indonesia, selain

       itu penulis dapat membandingkan antara teori dan praktek yang terjadi

       di lapangan.

  2. Bagi Instansi Terkait

                Penelitian merupakan syarat yang wajib bagi penulis dalam

       menyelesaikan studi, maka penulis mengadakan penelitian ini dan

       hasilnya diharapkan mampu memberikan informasi dan penambahan

       wawasan bagi pihak-pihak terkait dengan permasalahan ekonomi,

       dengan demikian diharapkan dapat menentukan kebijakan dengan

       tepat.
                                                                                         10




        3. Bagi Dunia Ilmu Pengetahuan

                      Penelitian ini dapat dijadikan sumbangan pemikiran atau studi

               banding bagi mahasiswa atau pihak yang melakukan penelitian yang

               sejenis. Di samping itu, guna meningkatkan keterampilan, memperluas

               wawasan yang akan membentuk mental mahasiswa sebagai bekal

               memasuki lapangan kerja.




1.4 Sistematika Penulisan

               Sistematika penulisan skripsi ini terdiri dari beberapa bab yaitu

      bebagai berikut:

      BAB I       PENDAHULUAN

                  Bab ini membahas beberapa unsur antara lain latar belakang

                  masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan

                  sistematika penulisan skripsi.

      BAB II      KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI

                  Bab ini berisi tiga bagian: pertama, berisi pendokumentasian dan

                  pengkajian hasil dari penelitian-penelitian yang pernah dilakukan

                  pada area yang sama. Kedua, mengenai teori yang digunakan

                  untuk mendekati permasalahan yang akan diteliti. Landasan teori

                  ini berisi teori-teori sebagai hasil dari studi pustaka. Teori-teori

                  yang didapat akan menjadi landasan bagi penulisan untuk
                                                                              11




          melakukan pembahasan dan pengambilan kesimpulan mengenai

          judul yang penulis pilih. Ketiga, merupakan formalisasi hipotesis.

          Hipotesis ini dipandang sebagai jawaban sementara atas rumusan

          masalah, sehingga hipotesis yang disusun adalah merupakan

          pernyataan yang menjawab pertanyaan pada rumusan masalah.

BAB III   METODE PENELITIAN

          Bab ini menguraikan tentang metode analisis yang digunakan

          dalam penelitian dan data-data yang digunakan berserta sumber

          data.

BAB IV    HASIL DAN ANALISIS

          Bab ini berisi semua temuan-temuan yang dihasilkan dalam

          penelitian. Menguraikan tentang deskripsi data penelitian dan

          penjelasan tentang hasil dan analisis.

BAB V     SIMPULAN DAN IMPLIKASI

          Bab ini berisi tentang dua hal yaitu simpulan yang berisi tentang

          kesimpulan-kesimpulan yang langsung diturunkan dari seksi

          diskusi dan analisis yang dilakukan pada bagian sebelumnya, dan

          implikasi penelitian yang berisi tentang hasil dari kesimpulan

          sebagai jawaban atas rumusan masalah, sehingga dari sini dapat

          ditarik benang merah apa implikasi teoritas penelitian ini.
                                                                                  12




                                      BAB II

                  KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORI



2.1. Kajian Pustaka

            Ace   Kusnadi   (1998),   menganalisis   tentang   ”Faktor-faktor   yang

   mempengaruhi pertumbuhan ekonomi di Jawa Barat tahun 1983-1996”. Penulis

   menggunakan variabel investasi, ekspor, subsidi daerah otonom dan tenaga kerja.

   Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa variabel investasi, ekspor

   dan tenaga kerja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa

   Barat. Subsidi daerah otonom juga berpengaruh signifikan. Hal ini menunjukkan

   bahwa propinsi Jawa Barat masih mempunyai ketergantungan yang besar

   terhadap kucuran dana dari pemerintah pusat. Kondisi ini harus segera mendapat

   perhatian yang besar, karena pada umumnya, dimasa otonomi daerah seperti

   sekarang ini, pemerintah daerah dituntut harus mandiri khususnya daerah Jawa

   Barat.

            Prabowo Supranto (2004), dalam penelitiannya “Analisis faktor-faktor

   yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 1986-2002”. Data yang

   digunakan dalam bentuk data tahunan tahun 1986-2002. Dan alat analisis yang

   digunakan adalah analisis regresi berganda dengan metode OLS (Ordinary Least

   Square). Variabel bebas yang digunakan adalah investasi asing, total nilai ekspor,

   jumlah tenaga kerja, tabungan domestik dan hutang luar negeri. Kesimpulan yang

   diperoleh dari penelitian ini adalah variabel investasi asing, total nilai ekpor,
                                                                                 13




   jumlah tenaga kerja, dan tabungan domestik, berpengaruh positif dan signifikan

   terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sedangkan hutang luar negeri,

   berpengaruh negatif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

          Muhammad Shodiq Firmanto (2005), dengan judul “Faktor-faktor yang

   mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Indonesia periode 1984-2002”. Dalam

   penelitian ini menggunakan metode analisa deskriptif, analisis regresi dan

   pendekatan ekonometri. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini

   adalah total nilai ekspor, investasi, dan jumlah tenaga kerja di sektor

   perekonomian. Berdasarkan hasil analisis dapat dilihat variabel-variabel bebas

   secara bersama-sama mempengaruhi pertumbuhan ekonomi tahun 1984-2002.

   Dari hasil analisis ini juga diketahui bahwa, dua varibel bebas yaitu total nilai

   ekspor dan jumlah tenaga kerja berpengaruh signifikan kearah positif, sedangkan

   varibel investasi tidak berpengaruh signifikan ke arah positif terhadap

   pertumbuhan ekonomi tahun 1984-2002.



2.2. Landasan Teori

      2.2.1. Pengertian Pertumbuhan Ekonomi

          Menurut Prof. Simon Kuznets, mendefinisikan pertumbuhan ekonomi

    sebagai ”kenaikan jangka panjang dalam kemampuan suatu negara untuk

    menyediakan       semakin   banyak   jenis   barang-barang   ekonomi     kepada

    penduduknya. Kemampuan ini tumbuh sesuai dengan kemajuan teknologi, dan

    penyesuaian kelembagaan dan idiologis yang diperlukannya. Definisi ini
                                                                            14




mempunyai 3 (tiga) komponen: pertama, pertumbuhan ekonomi suatu bangsa

terlihat dari meningkatnya secara terus-menerus persediaan barang; kedua,

teknologi maju merupakan faktor dalam pertumbuhan ekonomi yang

menentukan derajat pertumbuhan kemampuan dalam penyediaan aneka macam

barang kepada penduduk; ketiga, penggunaan teknologi secara luas dan efisien

memerlukan adanya penyesuaian di bidang kelembagaan dan idiologi sehingga

inovasi yang dihasilkan oleh ilmu pengetahuan umat manusia dapat

dimanfaatkan secara tepat (Jhingan, 2000:57).

     Pertumbuhan ekonomi adalah suatu proses kenaikan output perkapita

dalam jangka panjang, dimana penekanannya pada tiga hal yaitu proses, output

perkapita dan jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi adalah suatu “proses”

bukan suatu gambaran ekonomi pada suatu saat. Disini kita melihat aspek

dinamis dari suatu perekonomian, yaitu melihat bagaimana suatu perekonomian

berkembang atau berubah dari waktu ke waktu. Tekanannya pada perubahan

atau perkembangan itu sendiri.

     Pertumbuhan     ekonomi     juga   berkaitan   dengan   kenaikan   ”output

perkapita”. Dalam pengertian ini teori tersebut harus mencakup teori mengenai

pertumbuhan GDP dan teori mengenai pertumbuhan penduduk. Sebab hanya

apabila kedua aspek tersebut dijelaskan, maka perkembangan output perkapita

bisa dijelaskan. Kemudian aspek yang ketiga adalah pertumbuhan ekonomi

dalam perspektif jangka panjang, yaitu apabila selama jangka waktu yang cukup
                                                                         15




panjang tersebut output perkapita menunjukkan kecenderungan yang meningkat

(Boediono, 1992:1-2).



2.2.2.   Teori Pertumbuhan Ekonomi Solow-Swan

         Menurut teori ini garis besar proses pertumbuhan mirip dengan teori

  Harrod-Domar, dimana asumsi yang melandasi model ini yaitu:

         1. Tenaga kerja (atau penduduk) tumbuh dengan laju tertentu,

            misalnya P per tahun.

         2. Adanya fungsi produksi Q = f (K, L) yang berlaku bagi setiap

            periode.

         3. Adanya kecenderungan menabung (prospensity to save) oleh

            masyarakat yang    dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dari

            output (Q). Tabungan masyarakat S = sQ; bila Q naik S juga naik,

            dan sebaliknya.

         4. Semua tabungan masyarakat di investasikan S = I = ∆K.

         Sesuai dengan anggapan mengenai kecenderungan menabung, maka

  dari output disisakan sejumlah proporsi untuk ditabung dan kemudian di

  investasikan. Dengan begitu, maka terjadi penambahan stok kapital

  (Boediono, 1992: 81-82).



2.2.3. Teori Pertumbuhan ekonomi Harrod-Domar
                                                                           16




      Teori pertumbuhan Harrod-Domar ini dikembangkan oleh dua ekonom

sesudah Keynes yaitu Evsey Domar dan Sir Roy F. Harrod. Teori Harrod-

Domar ini mempunyai asumsi yaitu:

        1. Perekonomian dalam keadaan pengerjaan penuh (full employment)

            dan barang-barang modal yang terdiri dalam masyarakat

            digunakan secara penuh.

        2. Perekonomian terdiri dari dua sektor yaitu sektor rumah tangga

            dan sektor perusahaan.

        3. Besarnya tabungan masyarakat adalah proporsional dengan

            besarnya pendapatan nasional, berarti fungsi tabungan dimulai dari

            titik nol.

        4. Kecenderungan untuk menabung (marginal propensity to save =

            MPS) besarnya tetap, demikian juga ratio antara modal-output

            (capital-output ratio = COR) dan rasio pertambahan modal-output

            (incremental capital-output ratio = ICOR).

      Menurut Harrod-Domar, setiap perekonomian dapat menyisihkan suatu

proporsi tertentu dari pendapatan nasionalnya jika hanya untuk mengganti

barang-barang modal yang rusak. Namun demikian untuk menumbuhkan

perekonomian tersebut, diperlukan investasi-investasi baru sebagai tambahan

stok modal. Hubungan tersebut telah kita kenal dengan istilah rasio modal-

output (COR).
                                                                             17




         Dalam teori ini disebutkan bahwa, jika ingin tumbuh, perekonomian

harus menabung dan menginvestasikan suatu proporsi tertentu dari output

totalnya. Semakin banyak tabungan dan kemudian di investasikan, maka

semakin cepat perekonomian itu akan tumbuh (Lincolyn, 2004:64-67).



2.2.4.   Teori Investasi

          Investasi adalah penambahan barang modal secara netto yang positif.

Investasi dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu investasi riil dan investasi

finansial. Yang dimaksud dengan investasi riil adalah investasi terhadap barang-

barang tahan lama (barang-barang modal) yang akan digunakan dalam proses

produksi. Sedangkan investasi finansial adalah investasi terhadap surat-surat

berharga, misalnya pembelian saham, obligasi, dan surat bukti hutang lainnya.

          Pertimbangan-pertimbangan utama yang perlu dilakukan dalam

melakukan (memilih) suatu jenis investasi riil adalah tingkat bunga pinjaman

yang berlaku (i), tingkat pengembalian (rate or return), dari barang modal, dan

prospek (harapan berkembang) proyek investasi (Guritno, 1998: 81).

          Arus sumber-sumber keuangan internasional dapat terwujud dalam

dua bentuk. Yang pertama adalah penanaman modal asing yang dilakukan pihak

swasta (private foreign investment) dan investasi portofolio, terutama berupa

penanaman modal asing ”langsung” yang biasanya dilakukan oleh perusahaan-

perusahaan raksasa multinasional. Disamping itu, terdapat pula arus permodalan
                                                                           18




serupa dari bank-bank swasta internasional, yang dana investasinya berupa

portofolio (Todaro, 2000: 156).




2.2.5.   Ekspor

         Kegiatan      ekspor   adalah   sistem   perdagangan   dengan   cara

  mengeluarkan barang-barang dari dalam negeri keluar wilayah pabean

  Indonesia dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Ekspor merupakan total

  barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke negara lain, termasuk

  diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu tahun tertentu

  (Sasandara, 2005).

         Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah

  negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada

  gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan

  tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan

  dan pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan, 2000).

         Ekspor maupun impor merupakan faktor penting dalam merangsang

  pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekspor impor akan memperbesar

  kapasitas konsumsi suatu negara meningkatkan output dunia, serta

  menyajikan akses ke sumber-sumber daya yang langka dan pasar-pasar

  internasional yang potensial untuk berbagai produk ekspor yang mana tanpa
                                                                          19




produk-produk tersebut, maka negara-negara miskin tidak akan mampu

mengembangkan kegiatan dan kehidupan perekonomian nasionalnya. Ekspor

juga dapat membantu semua negara dalam menjalankan usaha-usaha

pembangunan mereka melalui promosi serta penguatan sektor-sektor ekonomi

yang mengandung keunggulan komparatif, baik itu berupa ketersediaan

faktor-faktor produksi tertentu dalam jumlah yang melimpah, atau keunggulan

efisiensi alias produktifitas tenaga kerja. Ekspor juga dapat membantu semua

negara dalam mengambil keuntungan dari skala ekonomi yang mereka miliki.

Untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan pembangunan pada

umumnya, setiap negara perlu merumuskan dan menerapkan kebijakan-

kebijakan internasional yang berorientasi ke luar. Dalam semua kasus,

kemandirian yang didasarkan pada isolasi, baik yang penuh maupun yang

hanya sebagian, tetap saja secara ekonomi akan lebih rendah nilainya daripada

partisipasi ke dalam perdagangan dunia yang benar-benar bebas tanpa batasan

atau hambatan apapun (Todaro dan Smith, 1993).



2.2.6. Pariwisata

       Menurut Herman V. Schulalard seorang ahli ekonomi, bangsa Austria

dalam tahun 1910 telah memberikan batasan pariwisata sebagai berikut:

“Menurut pendapatnya yang dimaksudkan dengan kepariwisataan adalah

sejumlah   kegiatan   terutama   yang   ada   kaitannya    dengan   kegiatan

perekonomian yang secara langsung berhubungan dengan masuknya
                                                                         20




pendiaman dan bergeraknya orang-orang asing keluar masuk suatu negara,

kota atau daerah” (Oka, 1996).

         Kepariwisataan dapat dirumuskan dengan berbagai cara, namun fokus

besarnya adalah tentang wisatawan yang jauh dari tempat tinggalnya dan jasa-

jasa pelayanan yang digunakannya, termasuk sarana-sarana angkutan, makan

dan pelayanan tempat menginap, hiburan, dan atraksi-atraksi wisata. Ekonomi

pariwisata membahas dampak ekonomi dari perjalanan atas beberapa sektor

pariwisata dan metode-metode kuantitatif yang dapat diterapkan untuk

peramalan pariwisata dan proyek-proyek kepariwisataan. Istilah “tourism”

(kepariwisataan) mencakup orang-orang yang melakukan perjalanan pergi

dari rumahnya dan perusahaan-perusahaan yang melayani mereka dengan cara

memperlancar atau mempermudah perjalanan mereka atau membuatnya lebih

menyenangkan. Seorang wisatawan didefinisikan sebagai seseorang yang

berada jauh dari tempat tinggalnya (jarak jauhnya ini berbeda-beda).

Pariwisata sebagai suatu konsep dapat dipandang dari berbagai perspektif

yang berbeda. Pariwisata adalah suatu kegiatan melakukan perjalanan dari

rumah terutama untuk maksud usaha atau bersantai. Pariwisata adalah suatu

bisnis dalam penyediaan barang dan jasa bagi wisatawan dan menyangkut

setiap    pengeluaran   oleh     atau   untuk   wisatawan/pengunjung   dalam

perjalanannya. Kepariwisataan adalah suatu lingkup usaha yang terdiri atas

ratusan komponen usaha, sebagiannya besar sekali, tetapi sebagian besar

usaha kecil, termasuk di dalamnya angkutan udara, kapal-kapal pesiar
                                                                       21




(cruise), kereta api, agen-agen penyewaan mobil, pengusaha tur dan biro

perjalanan, penginapan, restoran dan pusat-pusat konvensi. Terdapat juga

usaha jasa-jasa penerimaan tamu dan perusahaan perkemahan serta sebagian

toko-toko pengecer, toko-toko makanan, serta pom bensin. Pariwisata dapat

dipandang sebagai suatu lembaga dengan jutaan interaksi, suatu kebudayaan

dengan suatu sejarah, kumpulan pengetahuan, dan jutaan jumlah orang yang

merasa dirinya sebagai bagian dari kelembagaan ini (Lundberg dan

Krishnamoorthy, 1997).

       Industri pariwisata dapat didefinisikan sebagai kumpulan dari

bermacam-macam perusahaan yang secara bersama menghasilkan barang-

barang dan jasa-jasa (goods and service) yang dibutuhkan wisatawan pada

khususnya dan traveller pada umumnya selama dalam perjalanannya. RS.

Damarjadi mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan industri pariwisata

dijelaskan sebagai berikut: “Industri pariwisata merupakan rangkuman dari

berbagai macam bidang usaha yang secara bersama-sama menghasilkan

produk maupun jasa/layanan atau service yang nantinya baik secara langsung

ataupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama perawatannya

(Oka, 1996).



2.2.7. Industri

       Industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan

mengubah suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan
                                                                         22




sehingga menjadi barang jadi atau setengah jadi dan atau barang yang kurang

nilainya menjadi barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat

kepada pemakaian terakhir.

       Menurut BPS (1985:15), Industri merupakan perusahaan atau usaha

industri yang merupakan satu unit (kesatuan) usaha untuk melakukan kegiatan

ekonomi, bertujuan menghasilkan barang atau jasa terletak pada suatu

bangunan/lokasi tertentu dan mempunyai catatan administrasi tersendiri

mengenai produksi dan struktur biaya serta ada seorang atau lebih yang

bertanggung jawab atas resiko usaha tersebut.

       Menurut Dumairy, industri mempunyai dua pengertian, yaitu :

Pertama, industri dapat berarti himpunan perusahaan-perusahaan sejenis.

Dalam konteks ini misalnya, industri kosmetika berarti himpunan perusahaan-

perusahaan penghasil kosmetika; industri tekstil maksudnya himpunan pabrik

atau perusahaan tekstil. Kedua, industri dapat menuju pada suatu sektor

ekonomi yang didalamnya terdapat kegiatan produktif yang mengolah bahan

mentah menjadi barang jadi atau setengah jadi. Kegiatan pengolahan itu

sendiri dapat bersifat masinal, elektrikal, atau bahkan manual.

       Sedangkan menurut undang-undang No. 5 Th. 1984, yang dimaksud

industri adalah kegiatan ekonomi yang mengolah bahan mentah, bahan baku,

barang setengah jadi atau barang jadi menjadi barang yang nilainya lebih

tinggi untuk penggunaannya termasuk perekayasaan industri.
                                                                                23




2.3 Hubungan Antara Variabel Dependen dengan Variabel Independen

   2.3.1. Pengaruh PMDN terhadap Pertumbuhan ekonomi

          Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dapat diartikan sebagai

   pengeluaran atau pembelanjaan penanaman modal atau perusahaan untuk

   membeli barang-barang produksi, untuk menambah kemampuan memproduksi

   barang dan jasa yang tersedia dalam perekonomian yang berasal dari investasi

   dalam negeri. Investasi menghimpun akumulasi modal dengan membangun

   sejumlah gedung dan peralatan yang berguna bagi kegiatan produktif, maka

   output potensial suatu bangsa akan bertambah dan pertumbuhan ekonomi jangka

   panjang juga akan meningkat. Jelas dengan demikian bahwa investasi khususnya

   Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) memainkan peranan penting dalam

   menentukan jumlah output dan pendapatan. Jadi PMDN memiliki hubungan

   positif terhadap pertumbuhan ekonomi.



   2.3.2. Pengaruh Ekspor terhadap Pertumbuhan ekonomi

          Ekspor merupakan total barang dan jasa yang dijual oleh sebuah negara ke

   negara lain, termasuk diantara barang-barang, asuransi, dan jasa-jasa pada suatu

   tahun tertentu (Sasandara, 2005).

          Fungsi penting komponen ekspor dari perdagangan luar negeri adalah

   negara memperoleh keuntungan dan pendapatan nasional naik, yang pada

   gilirannya menaikkan jumlah output dan laju pertumbuhan ekonomi. Dengan
                                                                             24




tingkat output yang lebih tinggi lingkaran setan kemiskinan dapat dipatahkan dan

pembangunan ekonomi dapat ditingkatkan (Jhingan, 2000).

       Ekspor maupun impor merupakan faktor penting dalam merangsang

pertumbuhan ekonomi suatu negara. Ekspor impor akan memperbesar kapasitas

konsumsi suatu negara meningkatkan output dunia, serta menyajikan akses ke

sumber-sumber daya yang langka dan pasar-pasar internasional yang potensial

untuk berbagai produk ekspor yang mana tanpa produk-produk tersebut, maka

negara-negara miskin tidak akan mampu mengembangkan kegiatan dan

kehidupan perekonomian nasionalnya. Ekspor juga dapat membantu semua

negara dalam menjalankan usaha-usaha pembangunan mereka melalui promosi

serta penguatan sektor-sektor ekonomi yang mengandung keunggulan komparatif,

baik itu berupa ketersediaan faktor-faktor produksi tertentu dalam jumlah yang

melimpah, atau keunggulan efisiensi alias produktifitas tenaga kerja.

       Ekspor juga dapat membantu semua negara dalam menganbil keuntungan

dari skala ekonomi yang mereka miliki. Untuk meningkatkan pertumbuhan

ekonomi dan pembangunan pada umumnya (Todaro dan Smith, 1993 ).

       Ekspor mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi,

artinya ketika ekspor mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi juga

mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila ekspor mengalami penurunan maka

pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan.



2.3.3. Pengaruh Pariwisata terhadap Pertumbuhan ekonomi
                                                                              25




         Pariwisata adalah suatu kegiatan melakukan perjalanan dari rumah

terutama untuk maksud usaha atau bersantai. Pariwisata adalah suatu bisnis dalam

penyediaan barang dan jasa bagi wisatawan dan menyangkut setiap pengeluaran

oleh atau untuk wisatawan/pengunjung dalam perjalanannya. Kepariwisataan

adalah suatu lingkup usaha yang terdiri atas ratusan komponen usaha,

sebagiannya besar sekali, tetapi sebagian besar usaha kecil, termasuk di dalamnya

angkutan udara, kapal-kapal pesiar (cruise), kereta api, agen-agen penyewaan

mobil, pengusaha tour dan biro perjalanan, penginapan, restoran dan pusat-pusat

konvensi. Pariwisata mempunyai hubungan positif dengan pertumbuhan ekonomi,

artinya ketika pariwisata mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi juga

mengalami kenaikan dan sebaliknya apabila pariwisata mengalami penurunan

maka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan.



2.3.4.   Pengaruh    Jumlah     Perusahaan     Disektor    Industri    terhadap

Pertumbuhan ekonomi

    Industri adalah suatu kegiatan ekonomi yang melakukan kegiatan mengubah

suatu barang dasar secara mekanis, kimia, atau dengan tangan sehingga menjadi

barang jadi atau setengah jadi dan atau barang yang kurang nilainya menjadi

barang yang lebih tinggi nilainya, dan sifatnya lebih dekat kepada pemakaian

terakhir. Jumlah perusahaan disektor industri mempunyai hubungan positif

dengan pertumbuhan ekonomi, artinya ketika jumlah perusahaan disektor industri

mengalami kenaikan maka pertumbuhan ekonomi juga mengalami kenaikan dan
                                                                                  26




   sebaliknya apabila jumlah perusahaan disektor industri mengalami penurunan

   maka pertumbuhan ekonomi mengalami penurunan.




2.4 Hipotesis

          Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah:

        1.      Diduga PMDN berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

                pertumbuhan ekonomi DIY tahun 1990-2004.

        2.      Diduga Ekspor berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

                pertumbuhan ekonomi DIY tahun 1990-2004.

        3.      Diduga Pariwisata berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap

                pertumbuhan ekonomi DIY tahun 1990-2004.

        4.      Diduga Jumlah perusahaan disektor industri berpengaruh secara positif

                dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY tahun 1990-2004.
                                                                                  27




                                     BAB III

                             METODE PENELITIAN



3.1. Jenis dan Sumber Data

           Data yang digunakan adalah data sekunder yang terdiri dari satu variabel

   terikat yaitu Pertumbuhan Ekonomi dan empat variabel bebas yaitu Penanaman

   Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan Disektor

   Industri. Data sekunder ini bersumber dari Badan Pusat Statistik dan Dinas

   Pariwisata DIY.

3.2. Definisi Variabel.

   a. Pertumbuhan ekonomi

              Adalah nilai total atas segenap output akhir yang dihasilkan oleh suatu

       perekonomian di suatu daerah tertentu. Data operasional yang digunakan

       dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat

       Statistik berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta

       Rp per tahun.

   b. Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN)

              Adalah keseluruhan Penanaman Modal Dalam Negeri yang telah

       disetujui oleh pemerintah menurut kegiatan sektor ekonomi di Daerah

       Istimewa Yogyakarta. Data operasional yang digunakan dalam penelitian ini

       diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik berdasarkan

       perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta Rp per tahun.
                                                                            28




c. Ekspor

            Adalah jumlah keseluruhan ekspor barang dan jasa ke luar wilayah

   pabean di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data operasional yang digunakan

   dalam penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat

   Statistik berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Juta

   Rp per tahun.

d. Pariwisata

            Adalah keseluruhan jumlah pendapatan dari wisatawan Asing dan

   Domestik yang datang ke Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta yang

   dihitung dari banyaknya jumlah wisatawan yang menginap di hotel, baik hotel

   berbintang maupun non bintang. Data operasional yang digunakan dalam

   penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Dinas Pariwisata

   Daerah     Istimewa   Yogyakarta   berdasarkan   perhitungan   tahunan   dan

   dinyatakan dalam bentuk Juta per tahun.

e. Jumlah Perusahaan Disektor Industri

            Adalah jumlah keseluruhan jumlah perusahaan disektor industri yang

   ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Data operasional yang digunakan dalam

   penelitian ini diambil dari data yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statistik

   berdasarkan perhitungan tahunan dan dinyatakan dalam bentuk Unit per

   tahun.
                                                                             29




3.3. Metode Analisis Data

   3.3.1. Metode Regresi Kuadrat Terkecil

         Analisis data yang dilakukan dengan Metode Regresi Kuadrat Terkecil/OLS

   (ordinary least square), dengan fungsi Produk Domestik Regional Bruto = f

   (PMDN, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan Disektor Industri), maka

   persamaan regresi adalah :

                      Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4X4 + e

   Keterangan:

            Y           = Produk Domestik Regional Bruto Atas Dasar Harga

                        Konstan 1993 (Juta Rp)

            X1        = Penanaman Modal Dalam Negeri (Juta Rp)

            X2        = Ekspor (Juta Rp)

            X3        = Pariwisata (Juta Rp)

            X4        = Jumlah Perusahaan Disektor Industri (Unit)

            β0        = Konstanta regresi

            β1, β2, β3 = Koefisien regresi

            e         = Kesalahan pengganggu

   3.3.2. Pemilihan Model Regresi

          Pemilihan model regresi ini menggunakan uji Mackinnon, White and

   Davidson (MWD) yang bertujuan untuk menentukan apakah model yang akan di

   gunakan berbentuk linier atau log linier.
                                                                               30




           Persamaan matematis untuk model regresi linier dan regresi log linier

adalah sebagai berikut :

Linier     Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4X4 + e

Log Linier LnY = β0 + β1LnX1 + β2 LnX2 + β3 LnX3 + β4LnX4 + e

Untuk melakukan uji MWD ini kita asumsikan bahwa

Ho : Y adalah fungsi linier dari variabel independen X (model linier)

H1 : Y adalah fungsi log linier dari varibel independen X (model log linier)

Adapun prosedur metode MWD adalah sebagai berikut :

 1. Estimasi model linier dan dapatkan nilai prediksinya (fitted value) dan

     selanjutnya dinamai F1.

 2. Estimasi model log linier dan dapatkan nilai prediksinya, dan selanjutnya

     dinamai F2.

 3. Dapatkan nilai Z1 = ln F1-F2 dan Z2 = antilog F2-F1

 4. Estimasi persamaan berikut ini :

           Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4X4 + β5Z1 +e

     Jika Z1 signifikan secara statistik melalui uji t maka kita menolak hipotesis

     nul dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan

     sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis nul dan

     model yang tepat digunakan adalah model linier

 5. Estimasi persamaan berikut :

     LnY = β0 + β1LnX1 + β2 LnX2 + β3 LnX3 + β4LnX4 + β5Z2 +e
                                                                               31




     Jika Z2 signifikan secara statistik malalui uji t maka kita menolak hipotesis

     alternatif dan model yang tepat untuk digunakan adalah model log linier dan

     sebaliknya jika tidak signifikan maka kita menerima hipotesis alternatif dan

     model yang tepat untuk digunakan adalah model linier. (Agus Widarjono,

     2005).


3.3.3. Uji Hipotesis (Uji-t)

       Pengujian tingkat significant dari masing-masing koefisien regresi

digunakan uji t-test yaitu (Abdul Hakim,2000 : 193) :

       - Ho : bi = 0, artinya variabel independen tidak mempengaruhi variabel

           dependen.

       - Ha : bi > 0, artinya variabel independen mempengaruhi variabel

           depanden secara positif.

       - Ha : bi < 0, artinya variabel independen mempengaruhi variabel

           dependen secara negatif.

                        b1
       t – hitung =
                       SDb1

       Dimana :

       b1 = adalah penaksir koefisien bi

       SD = Standar Deviasi

              Dengan derajat keyakinan tertentu, maka jika :

       -    t-hitung < t tabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, artinya secara
                                                                           32




           individu tidak ada pengaruh yang berarti antara variabel independen

           terhadap variabel dependen.

       -   t-hitung > t tabel, maka Ho ditolak dan Ha diterima, artinya secara

           individu terdapat pengaruh yang berarti antara variabel independen

           terhadap variabel dependen.



3.3.4. Uji Hipotesis (Uji-F)

       Pengujian semua koefisien penaksir regresi secara serentak maka

       pengujian tersebut dilakukan dengan uji F-test yaitu :

       Ho : β1 = β2 = β3 = β4 = 0, artinya variabel independen tidak

                                mempengaruhi variabel dependen.

       Ha : β1 ≠ β2 ≠ β3 ≠ β4 ≠ 0, artinya variabel independen berpengaruh

                                          terhadap variabel dependen.

       Rumus F-hitung sebagai berikut :

                       R /( k − 1)
       F-hitung =
                    (1 − R ) /( n − k )

       Dimana :

                  R = Koefisisen determinasi

                  k = Banyaknya variabel bebas

                  n = Banyaknya sampel

       Maka dengan derajat keyakinan tertentu :

       o      Jika F-hitung < F tabel, maka Ho diterima yang berarti secara
                                                                            33




               bersama-sama variabel independen secara signifikan tidak

               dipengaruhi variabel dependen.

       o       Jika F-hitung > F tabel, maka Ho ditolak yang berarti secara

               bersama-sama         variabel   independen   secara   signifikan

               mempengaruhi variabel dependen.

               Pengujian terakhir yaitu mengukur keeratan hubungan antara

       variabel bebas dan tidak bebas terhadap sesuatu himpunan data hasil

       pengamatan, yang serius disebut dengan koefisien determinasi (R)

       sehingga semakin tinggi R maka semakin erat hubungan antara variabel

       bebas dan variabel tidak bebasnya.



3.3.5. Koefisien Determinasi
               Koefisien determinasi menunjukkan besarnya pengaruh variabel
       bebas secara serentak terhadap variabel terikat. Menurut Sumodiningrat
       (2002), R2 adalah sebuah fungsi yang tidak pernah menurun
       (nondecreasing) dari jumlah variabel bebas yang terdapat dalam model
       regresi. Bertambahnya jumlah variabel bebas, maka R2 akan meningkat
       dan tidak pernah menurun. Menurut Algifari (1997), untuk
       menginterpretasikan koefisien determinasi dengan memasukkan
       pertimbangan banyaknya variabel independen dan sampel yang digunakan
       dalam penelitian, khususnya dalam model regresi linier berganda,
       menggunakan koefisien determinasi yang telah disesuaikan (Adjusted R2).
       Adapun rumus Adjusted R2, adalah sebagai berikut : (Sumodiningrat,
       2002)
                ⎛ n - 1 ⎞ ⎛ RSS ⎞
       R2 = 1 – ⎜       ⎟⎜      ⎟
                ⎝ n - k ⎠ ⎝ TSS ⎠
       Dimana :

       R2 = Adjusted R2
                                                                                 34




          RSS = Residual Sum Square (Jumlah Kuadrat Sisa)

          TSS = Total Sum Square (Jumlah Kuadrat Total)

          Adapun untuk mengetahui variabel bebas yang berpengaruh paling

          dominan terhadap variabel terikat, dilakukan dengan melihat harga

          koefisien β. Semakin besar koefisien β suatu variabel bebas, maka akan

          semakin besar pengaruhnya terhadap variabel terikat.




3.4. Uji Asumsi Klasik

          Penaksir-penaksir yang bersifat BLUE (best liniar unbiased estimator)

   yang diperoleh dari penaksir liniar kuadrat terkecil (ordinary least square) maka

   harus memenuhi seluruh asumsi-asumsi klasik.

   3.4.1. Multikolinearitas

               Merupakan suatu keadaan dimana satu / lebih variabel independen

        dapat dinyatakan sebagai kombinasi linier dari variabel lainnya. Hubungan

        yang terjadi bisa sempurna, bisa juga tidak sempurna. Multikolinearitas

        dapat dideteksi dengan melihat R2 yang tinggi. Multikolinearitas menjadi

        masalah jika derajat kolininearitasnya tinggi, jika derajat kolinearitasnya

        rendah maka tidak menjadi masalah yang berarti. Dengan metode Klein
                                                                               35




     derajat multikolinearitas dapat dilihat melalui koefisien determinasi parsial

     dari regresi antara variabel dependen yang digunakan dalam model

     penelitian. Jika r2 Xi, Xj ≤ R2 Y, X1, X2……..Xk                maka tingkat

     multikolinearitas yang akan terjadi cukup rendah dan tidak menjadi

     masalah.

            Satu asumsi model regresi klasik adalah bahwa tidak terdapat

     multikolinieritas diantara variabel yang menjelaskan termasuk dalam model.

     Multikolinieritas berarti adanya hubungan linier yang “sempurna” atau

     pasti, di antara beberapa atau semua variabel yang menjelaskan dari model

     regresi Masalah multikolinieritas bisa timbul karena berbagai sebab,

     Pertama sifat-sifat yang terkandung dalam kebanyakan variabel ekonomi

     berubah bersama-sama sepanjang waktu. Besaran-besaran ekonomi

     dipengaruhi oleh faktor-faktor yang sama. Oleh karena itu, sekali faktor-

     faktor yang mempengaruhi itu menjadi operatif, maka seluruh variabel akan

     cenderung berubah dalam satu arah. Kedua, penggunaan nilai lag (lagged

     values) dari variabel-variabel bebas tertentu dalam model regresi. Pengujian

     terhadap gejala multikolinearitas dapat dilakukan dengan membandingkan

     koefisien determinasi parsial, (r2) dengan koefisien determinasi majemuk

     (R2) regreasi awal atau yang disebut dengan metode Klein rule of Thumbs.

     Jika r2 < R2 maka tidak ada multikolineraitas. (Gujarati, 1995).



3.4.2. Heterokedastisitas
                                                                       36




       Heteroskedastisitas adalah keadaan dimana faktor gangguan tidak

memiliki varian yang sama. Adanya heteroskedastisitas dalam model

analisis mengakibatkan varian dan koefisien-koefisien OLS tidak lagi

minimum dan penaksir-penaksir OLS menjadi tidak efisien meskipun

penaksir OLS tetap tidak bias dan konsisten. Metode yang digunakan untuk

mendeteksi adanya heteroskedastisitas pada penelitian ini adalah pengujian

White, langkah pengujiannya antara lain:

1. Estimasi persamaan model dan dapatkan residualnya.

2. Melakukan regresi pada persamaan berikut yang disebut regresi

   auxiliary

3. Hipotesis nul dalam uji ini adalah tidak ada heteroskedastisitas. Uji

   White didasarkan pada jumlah sampel (n) dikalikan dengan R2 yang

   akan mengikuti distribusi Chi-squares dengan degree of freedom

   sebanyak variabel independen tidak termasuk konstanta dalam regresi

   auxiliary. Nilai hitung statistik Chi-squares (χ2) dapat dicari dengan

   formula sebagai berikut:

                              n R2 ≈ χ2df

4. Jika nilai Chi-squares hitung (n. R2) lebih besar dari nilai χ2 kritis

   dengan derajat kepercayaan tertentu (α) maka ada heteroskedastisitas

   dan sebaliknya jika Chi-squares hitung lebih kecil dari nilai χ2 kritis

   menunjukkan tidak adanya heteroskedastisitas. (Gujarati, 1995).
                                                                                     37




3.4.3. Autokorelasi

              Adalah keadaan dimana faktor-faktor pengganggu yang satu dengan

       yang lain saling berhubungan, pengujian terhadap gejala autokorelasi dapat

       dilakukan   dengan    uji     Durbin-Watson    (DW),   yaitu     dengan      cara

       membandingkan antara DW statistik ( d ) dengan dL dan dU, jika DW

       statistik berada diantara dU dan 4- dU maka tidak ada autokorelasi.

              Penentuan ada tidaknya autokorelasi dapat dilihat dengan jelas

       dalam gambar 3.1 berikut ini :



                                       Gambar 3.1
                                   Daerah Autokorelasi

    Kriteria Pengambilan Keputusan :
     auto-       Daerah          Tidak ada            Daerah             auto-
     korelasi    keragu-raguan autokorelasi           keragu-raguan      korelasi
     positif                                                             negatif




0            dl               du               4-du              4-dl            4
                                                                             38




                                    Tabel 3.1
                          Uji Statistik Durbin-Watson

    Nilai Statistik                             Hasil



 0<d<dl                    Menolak hipotesis nul; ada autokorelasi

                           positif

 dl≤d≤du                   Daerah keragu-raguan; tidak ada keputusan

 du≤d≤4-du                 Menerima      hipotesis      nul;   tidak   ada

                           autokorelasi positif/negatif

 4-du≤d≤4-dl               Daerah keragu-raguan; tidak ada keputusan

                           Menolak hipotesis nul; ada autokorelasi
 4-dl≤d≤4
                           negatif



       Atau dengan cara lain untuk mendeteksi adanya autokorelasi dalam

model bisa dilakukan menggunakan uji LM atau Lagrange Multiplier. Salah

satu cara untuk menghilangkan pengaruh autokorelasi tersebut adalah dengan

memasukkan lag variabel dependen kedalam model regresi. Misalnya pada

model regresi :

                      Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4X4 + e
                                                                      39




       yang diyakini terdapat autokorelasi, untuk menghilangkan pengaruh

autokorelasi dalam model regresi tersebut dapat dilakukan dengan

memasukkan lag variabel dependen (PDRB) ke dalam model sehingga model

regresi tersebut menjadi:

 Y = β0 + β1X1 + β2 X2 + β3 X3 + β4X4 + b5Y (t-1) (Gujarati , 2003)
                                                                                                    40




                                            BAB IV

                             HASIL DAN ANALISIS DATA



4.1     Deskripsi Data

                Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series yang

        merupakan data tahunan, yang dimulai dari tahun 1990 sampai tahun 2004.

        Penelitian mengenai analisis faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan

        ekonomi DIY disini menggunakan data PDRB sebagai variabel dependen

        (variabel tidak bebas) untuk mewakili pertumbuhan ekonomi. Variabel

        independen terdiri dari PMDN, ekspor, pariwisata, dan jumlah perusahaan

        disektor industri.

                                                  Tabel 4.1
                                               Data Observasi

       obs          Y              X1               X2               X3                 X4
      1990       9159241         306905           389100         25980213461            162
      1991       9634857         412033           403036         23998046772            215
      1992      10303121         530697           481733         20340666220            247
      1993      10901831        625431           2117420         24061984333            248
      1994      11699390        686307           2342510         28061983999            263
      1995      12955802        905693           2528263         30559231000            290
      1996      13958968        1064588          2702618         32776282900            358
      1997      14449327        1283716          2703776         22696380121            362
      1998      12833873        1299966          1656437         16261468848            400
      1999      12960802        1962201          1629642         20214132771            347
      2000      13480000        1815183          5360059         23671736991            397
      2001      14056000        1814240          5952265         22665082879            394
      2002      14689000        1961916          6265385         27212192095            397
      2003      15360000        2405967          6724101         23028745903            402
      2004      16149000        1801967          7022007         27738075532            411
      Sumber Data :    Badan Pusat Statistuk DIY, Statistik Indonesia, berbagai tahun penerbitan.
                                                                                   41




     Keterangan :

     Y    : PDRB (Juta Rupiah)

     X1   : PMDN (Juta Rupiah)

     X2   : Ekspor (Juta Rupiah)

     X3   : Pariwisata (Juta Rupiah)

     X4   : Jumlah perusahaan disektor industri (Unit)

            Data PDRB yang digunakan adalah PDRB riil atau berdasarkan tahun

     dasar. Sedangkan, Data PMDN, Data Ekspor, Data Pariwisata, dan Data Jumlah

     perusahaan disektor industri menggunakan data pertahun.

            Dari data yang digunakan sebagai bahan penelitian diperoleh dari kantor

     Badan Pusat Statistik (BPS) dan Dinas Pariwisata DIY. Data PDRB, Data

     PMDN, Data Ekspor, Data Pariwisata, dan Data Jumlah perusahaan disektor

     industri diperoleh dari Statistik Yogyakarta dari berbagai edisi yang diterbitkan

     oleh BPS.



4.2 Uji Spesifikasi Model

          Mengingat pentingnya spesifikasi model untuk menentukan bentuk suatu

     fungsi suatu model empirik dinyatakan dalam bentuk linier ataukah nonlinier

     dalam suatu penelitian, maka dalam penelitian ini juga akan dilakukan uji

     tersebut. Penelitian kali ini akan menggunakan uji MacKinnon, White,

     Davidson (MWD test).
                                                                                  42




          Hasil estimasi dari uji MWD dapat dilihat dibawah ini:

                                            Tabel 4.2
                                          Hasil Uji MWD

    Variabel          Nilai Statistik t   Nilai Tabel t α (=5%)   Probabilitas
        Z1             3.426719             1.812                     0,0075
        Z2            -1.403593             1.812                     0,1940
     Sumber: Data diolah dengan Eviews (lampiran)


          Berdasarkan dari hasil regresi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa

     dengan menggunakan uji MWD terlihat perbedaan yang berarti antara kedua

     bentuk fungsi model empiris (linier dengan log-linier) tersebut. Dengan derajat

     kepercayaan 95% ( α = 5%) bentuk fungsi model empiris linier tidak baik

     digunakan, karena baik Z1 signifikan secara statistik dengan probabilitas 0,0075

     dan Z2 tidak signifikan secara statistik dengan probabilitas 0,1940 sehingga

     model yang baik digunakan adalah log-linier (Z2).



4.3 Uji Kuantitatif

          Setelah kita melakukan regresi dan menghasilkan persamaan yang

     digunakan adalah persamaan linier dan setelah dilakukan uji asumsi klasik dapat

     dipastikan bahwa model sudah tidak mengandung masalah multikolinieritas,

     heteroskedasitas, dan autokorelasi lagi. Dengan kata lain, model sudah layak

     digunakan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan apakah hipotesa

     alternatif diterima atau ditolak. Pengaruh PMDN, ekspor,         pariwisata, dan

     jumlah perusahaan disektor industri terhadap pertumbuhan ekonomi DIY
                                                                                 43




       dihitung dengan menggunakan rumus regresi linier sederhana, diperoleh

       persamaan sebagai berikut :

              LY = ßo + ßıLXı + ß2LX2 + β3LX3 + β4LX4 + μi

              LY = 3.373714 + 0.076583LX1 + 0.018497LX2 + 0.216146LX3 +

      0.362358LX4


                                     Tabel 4.3
         Hasil Regresi Antara Variabel Dependen Dengan Variabel Independen


                  Variabel     Koefisien     Standar       t-statistik
                                Regresi       Error
                    LC       3.373714        1.039419      3.245769
                    LX1      0.076583        0.068530      1.117505
                    LX2      0.018497        0.033206      0.557025
                    LX3      0.216146        0.093749      2.305581
                    LX4      0.362358        0.141362      2.563343
                   Sumber : Olahan Data Eviews.

                 R-Squared      = 0,952151

                 F-Statistik    = 49,74804



4.4    Uji Statistik

      4.4.1   Uji F – Test Statistik

              1. Hipotesis

                 Ho: β1 = β2 = β3= β4, artinya secara bersama-sama variabel X1, X2,

                                       X3, X4 tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan

                                       ekonomi DIY (Y).
                                                                         44




Ha:β1 ≠ β2 ≠ β3≠ β4, artinya secara bersama-sama variabel X1, X2,

                       X3,       X4    berpengaruh    terhadap    jumlah

                       pertumbuhan ekonomi DIY (Y).

F tabel = (α = 0,05: k-1: n-k)

       = (α = 0,05: 4: 10) = 3,48

F hitung = 49,74804

                   Gambar 4.1
  Kurva Distribusi F Pertumbuhan Ekonomi DIY




          Daerah                                   Daerah
          penerimaan Ha                         penolakan Ho

                                      Ftabel = 3.48 Fhitung = 49,74804

 Karena Fhitung   >   Ftabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti

 secara     bersama-sama         variabel   independen     mempengaruhi

 pertumbuhan ekonomi DIY (Y).
                                                                                     45




4.4.2   Uji t – Test Statistik

        a. Uji t terhadap parameter Penanaman Modal Dalam Negeri (X1)

           1. Hipotesis

               Ho: βi ≤ 0,        artinya variabel Penanaman Modal Dalam

                                  Negeri     tidak berpengaruh positif terhadap

                                  pertumbuhan ekonomi DIY (Y).

               Ha :βi > 0,        artinya variabel Penanaman Modal Dalam

                                  Negeri      berpengaruh        positif     terhadap

                                  pertumbuhan ekonomi DIY (Y).

           t tabel = (α = 0,05 : df = 10 ) = 1,812

           t hitung = 1,117505


                                 Gambar 4.2
            Kurva Distribusi t Penanaman Modal Dalam Negeri




                      Daerah                                Daerah
                      penolakan Ha                          Penerimaan Ho
                                               t tabel =1,812 t hitung = 1,1175505
                                                                          46




    Karena t hitung    <   t tabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak. Berarti

    secara individu variabel Penanaman Modal Dalam Negeri (X1)

    berpengaruh positif dan           tidak signifikan terhadap   pertumbuhan

    ekonomi DIY (Y).

b. Uji t terhadap parameter Ekspor (X2)

    1. Hipotesis

        Ho: βi ≤ 0,        artinya variabel ekspor(X2) tidak berpengaruh

                           positif terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

        Ha : βi > 0,       artinya variabel ekspor(X2) berpengaruh positif

                           terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

        t tabel   = (α = 0,05 : df = 10 ) = 1,812

        t hitung = 0,557025


                             Gambar 4.3
                       Kurva Distribusi t Ekspor




                                           Daerah
     Daerah
                                           penolakan Ha
     penerimaan Ho

t hitung = 0,557025 t tabel = 1,812
                                                                          47




          Karena t hitung   <   t tabel , maka Ho diterima dan Ha ditolak.

Berarti secara individu variabel ekspor (X2) berpengaruh positif dan tidak

signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

c. Uji t terhadap parameter Pariwisata (X3)

    1. Hipotesis

        Ho: βi ≤ 0,      artinya variabel pariwisata (X3) tidak berpengaruh

                         positif terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

        Ha : βi > 0,     artinya variabel pariwisata (X3) berpengaruh positif

                         terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

        t tabel   = (α = 0,05 : df = 10 ) =1,812

        t hitung = 2,305581

                              Gambar 4.4
                       Kurva Distribusi t Pariwisata




                                        Daerah
          Daerah                        penerimaan Ha
       penolakan Ho

t hitung = 2,305581 t tabel = 1,812
                                                                            48




          Karena t hitung   >   t tabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima.

Berarti secara individu variabel pariwisata (X3) berpengaruh positif dan

signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY.

d. Uji t terhadap parameter Jumlah perusahaan disektor industri

   (X4)

   1. Hipotesis

       Ho: βi ≤ 0,          artinya variabel Jumlah perusahaan disektor

                            industri tidak berpengaruh positif terhadap

                            pertumbuhan ekonomi DIY (Y).

       Ha :βi > 0,          artinya variabel jumlah perusahaan disektor

                            industri    berpengaruh      positif     terhadap

                            pertumbuhan ekonomi DIY (Y).

       t tabel = (α = 0,05 : df = 10 ) = 1,812

       t hitung = 2,563343


                       Gambar 4.5
 Kurva Distribusi t Jumlah perusahaan disektor industri




              Daerah                                  Daerah
              penerimaan Ha                        penolakan Ho
                                       t tabel =1,812 t hitung = 2,563343
                                                                                    49




               Karena t hitung   >   t tabel , maka Ho ditolak dan Ha diterima. Berarti

               secara individu variabel Jumlah perusahaan disektor industri(X4)

               berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi

               DIY.



4.4.3   Koefisien Determinasi R2 (Goodness Of Fit)

               Pengujian ini dimaksudkan untuk mengetahui ketepatan yang baik

        dalam analisis, yang ditunjukan oleh besarnya koefisien determinasi R2.

        berdasarkan hasil estimasi di dapat nilai koefisien determinasi R2 sebesar

        0,952151 yang menunjukkan bahwa variabel independen yaitu Penanaman

        Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata, dan Jumlah perusahaan disektor

        industri mampu menjelaskan atau mempengaruhi variabel dependen sebesar

        95,21% dan sisanya 4,79% dipengaruhi oleh variabel lain diluar variabel

        Penanaman Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata, dan Jumlah perusahaan

        disektor industri.



 4.5 Uji Asumsi Klasik

   4.5.1 Uji Multikolinieritas

                      Uji multikolinieritas dapat dilakukan dengan menggunakan

           metode deteksi Klien yaitu dengan melakukan regresi auxiliary dengan

           mendapatkan determinasinya R2x1….x4, dan membandingkan koefisien
                                                                               50




        determinasi auxiliary dengan koefisien determinasi (R2) model regresi

        aslinya yaitu Y dengan variabel independen. Jika R2x1….x4 lebih besar dari

        R2 maka model mengandung unsur multikolinieritas antara variabel

        independennya dan sebaliknya maka tidak ada korelasi antar variabel

        independen (Widarjono, 2005:138). Hasil analisis regresi antar variabel-

        variabel adalah :



                                     Tabel 4.4
                            Hasil Uji Multikolinieritas

                   R2         R2
    Variabel       Regresi    Variabel    Keterangan
    (X1)           0,952151 0,927183 Tidak ada Multikolinieritas
    (X2)           0,952151 0,871663 Tidak ada Multikolinieritas
    (X3)           0,952151 0,487326 Tidak ada Multikolinieritas
    (X4)           0,952151 0,912904 Tidak ada Multikolinieritas
     Sumber: Hasil Pengolahan data sekunder, 2007

                 Berdasarkan hasil uji multikolinieritas dengan metode deteksi

        klien diatas dapat dilihat bahwa R 2 regresi > r 2 variabel maka tidak

        terdapat masalah Multikolinearitas dari variabel PMDN, Ekspor,

        Pariwisata, dan Jumlah perusahaan disektor industri.



4.5.2   Uji Heterokedastisitas

                   Untuk mengetahui keberadaan heterokedastisitas digunakan uji

        White. Dengan membandingkan nilai chi squares hitung (χ2) lebih kecil
                                                                               51




     dari pada nilai kritis chi squares (χ2), maka hipotesis alternatif adanya

     heterokedastisitas dalam model ditolak.



                                 Tabel 4.5
                       Hasil Uji heteroskedastisitas


White Heteroskedasticity Test:

F-statistic                  2.597151     Probability            0.130634
Obs*R-squared                11.68393     Probability            0.168055



              Dari hasil regresi di atas dapat dilihat nilai koefisien determinasi

     (R2) sebesar 0,952151. Nilai Chi-Squares hitung (χ2) sebesar 2,597151,

     sedangkan nilai kritis chi squares (χ2) pada α=5% dengan df sebesar 10

     adalah 18,3070. Karena Nilai Chi-Squares hitung (χ2) < nilai kritis chi

     squares (χ2), maka dapat disimpulkan model tidak mengandung masalah

     heteroskedasitas.

              Model mengandung heteroskedastisitas bisa dilihat dari nilai

     probabilitas Chi-Squares sebesar 0,130634 atau pada α=13,06 yang lebih

     besar dari α=5%, berarti Ho diterima dan kesimpulannya tidak ada

     heteroskedastisitas.
                                                                                  52




                                     Tabel 4.5
                           Hasil Uji heteroskedastisitas


   White Heteroskedasticity Test:

  F-statistic                    2.597151     Probability           0.130634
   Obs*R-squared                 11.68393     Probability           0.168055



4.5.3   Uji Autokorelasi

                Untuk mendeteksi masalah autokorelasi digunakan Uji LM Test.

        Uji ini sangat berguna untuk mengidentifikasi masalah autokorelasi tidak

        hanya pada derajat pertama (first order) tetapi juga digunakan pada

        tingkat derajat. Jika hasil uji LM berada pada hipotesa nol (Ho) yaitu nilai

        chi squares hitung (χ2) < dari pada nilai kritis chi squares (χ2), maka model

        estimasi tidak terdapat autokorelasi, begitu pula sebaliknya jika berada

        pada hipotesa alternatif (Ha) yaitu nilai chi squares hitung (χ2) > dari pada

        nilai kritis chi squares (χ2), maka terdapat auto korelasi. Dengan Uji LM

        test diperoleh :



                                    Tabel 4.6
                              Hasil Uji Autokorelasi

        Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:

        F-statistic                0.074700     Probability            0.928661
        Obs*R-squared              0.274991     Probability            0.871538
                                                                         53




       Dari hasil regresi diatas dapat dilihat Nilai Chi square hitung (χ2),

sebesar 0,274991 pada kelambanan 2 kita menerima hipotesis nol karena

tingkat signifikansi α lebih besar dari 5% yaitu 87,15%. Berdasarkan uji

LM ini berarti model tidak mengandung Autokorelasi.
                                                                                54




4.6 Analisis Ekonomi

   LY = β0 + β1LX1 + β2LX2 + β3LX3 + β4LX4 + e

   LY = 3,373714 + 0,076583LX1 + 0,018497LX2 + 0,216146LX3 + 0,362358LX4

       +e

 4.6.1. Penanaman Modal Dalam Negeri

             Hasil analisis menunjukkan bahwa Penanaman Modal Dalam Negeri

      secara statistik positif dan tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi

      DIY. Tidak signifikannya Penanaman Modal Dalam Negeri terhadap

      pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta lebih disebabkan

      karena investasi yang dilakukan oleh Penanaman Modal Dalam Negeri

      tersebut nilainya masih relatif rendah. Kebanyakan investasi yang dilakukan

      hanya pada industri kecil, jadi keuntungan yang diperoleh tidak terlalu besar

      dan tingginya biaya yang harus dibayar oleh Investor untuk berinvestasi di

      Propinsi daerah Istimewa Yogyakarta karena panjangnya prosedur yang

      harus ditempuh investor, serta biaya birokrasi yang masih tinggi. Oleh

      karena itu Pemerintah propinsi DIY seyogianya menyederhanakan prosedur

      investasi agar minat investor untuk menanamkan investasinya di wilayah ini

      semakin besar.



 4.6.2. Ekspor

             Hasil analisis menunjukkan bahwa ekspor secara statistik positif dan

      tidak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY. Tidak signifikannya
                                                                           55




ekspor terhadap Pertumbuhan Ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta, ini

lebih disebabkan karena tidak semua industri melakukan ekspor, ekspor

hanya dilakukan oleh industri-industri besar saja atau ekspor tidak

semuanya diserap pada industri yang memberi akses pada masyarakat

sehingga konsumsi masyarakat pun tidak terdorong. Masih kecilnya ekspor

netto menunjukkan bahwa ekspor belum memberikan kontribusi yang cukup

besar terhadap pertumbuhan ekonomi. Selain itu masih banyaknya pungutan

yang ditentukan melalui peraturan daerah dalam rangka mencapai target

Pendapatan Asli Daerah (PAD), sehingga mengganggu dan meningkatkan

biaya tambahan bagi para pengusaha di daerah-daerah. Serta banyaknya

pungutan-pungutan liar di pelabuhan yang makin mempersempit marjin

keuntungan para pengusaha serta tidak profesionalnya pelayanan di

pelabuhan (kemampuan bongkar - muat kontainer rendah dan terminal

handling cost tinggi). Oleh karena itu usaha yang dilakukan oleh Pemerintah

Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendorong kegiatan ekspor

adalah menekan ekonomi biaya tinggi. Hal ini dapat dicapai dengan

meningkatkan     transparansi    kebijakan    termasuk    perizinan    sektor

perdagangan,    melakukan       deregulasi   dan   debirokratisasi    regulasi

perdagangan baik di pusat maupun di daerah, menyederhanakan prosedur

perizinan di sektor perdagangan (seperti SIUP, dokumen ekspor & impor),

serta yang tidak kalah pentingnya adalah peningkatan sarana dan prasarana

sektor perdagangan. Selain itu juga dengan cara memperlancar arus barang
                                                                              56




     dengan meningkatkan efisiensi distribusi, dengan cara antara lain

     pengurangan/penghapusan hambatan yang membebani distribusi (seperti

     Perda dan retribusi daerah), peningkatan ketersediaan sarana transportasi

     serta peningkatan pengamanan pasar dalam negeri.



4.6.3. Pariwisata

            Hasil analisis menunjukkan bahwa pariwisata secara statistik positif

     dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY. Sektor pariwisata

     mempengaruhi        pertumbuhan   ekonomi    Propinsi   Daerah    Istimewa

     Yogyakarta. Berdasarkan hasil uji statistik, variabel pariwisata secara

     statistik positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY sebesar

     0,216146 berarti sesuai dengan hipotesa awal. Artinya setiap kenaikan

     pariwisata sebesar 1% mengakibatkan kenaikan pertumbuhan ekonomi

     Propinsi DIY sebesar 0,216146%. Adanya kenaikan peranan sektor

     pariwisata maka akan menaikan pertumbuhan ekonomi Propinsi Daerah

     Istimewa       Yogyakarta.   Pengembangan    kepariwisataan    sangat   erat

     hubungannya dengan potensi daerah dari segi perekonomian maupun dari

     segi sosial budaya. Dalam hubungannya dengan ekstensifikasi penerimaan

     pendapatan asli daerah sektor pariwisata dapat merupakan salah satu

     alternatif bagi daerah yang memiliki potensi pariwisata kiranya sangat tepat

     untuk dikembangkan serta diupayakan ekstensifikasi dalam upaya

     meningkatkan pendapatan asli daerah. Perkembangan kepariwisataan pada
                                                                        57




hakekatnya merupakan upaya untuk mengembangkan dan memanfaatkan

obyek wisata seperti, misalnya kekayaan alam yang indah, keragaman

tradisi dan seni budaya serta peninggalan sejarah dan kepurbakalaan.

Apabila hal tersebut dipadukan dengan usaha jasa dan pariwisata seperti

biro perjalanan, penyediaan akomodasi dan transportasi yang memadai,

akan memberikan hasil yang optimal dan selanjutnya dapat memberikan

sumbangan yang besar terhadap pemerintah.

       Dalam peta kepariwisataan nasional, potensi DIY menduduki

peringkat kedua setelah Bali. Penilaian tersebut didasarkan pada beberapa

faktor yang menjadi kekuatan pengembangan wisata di DIY. Pertama,

berkenaan dengan keragaman obyek. Dengan berbagai predikatnya, DIY

memiliki keragaman obyek wisata yang relatif menyeluruh baik dari segi

fisik maupun non fisik, di samping kesiapan sarana penunjang wisata.

Sebagai kota pendidikan, Yogyakarta relatif memiliki sumber daya manusia

yang berkualitas. Disamping itu, terdapat tidak kurang dari 70.000 industri

kerajinan tangan, dan sarana lain yang amat kondusif seperti fasilitas

akomodasi dan transportasi yang amat beragam, aneka jasa boga, biro

perjalanan umum, serta dukungan pramuwisata yang memadai, tim

pengamanan wisata yang disebut sebagai Bhayangkara Wisata. Potensi ini

masih ditambah lagi dengan letaknya yang bersebelahan dengan Propinsi

Jawa Tengah, sehingga menambah keragaman obyek yang telah ada. Kedua,

berkaitan dengan ragam spesifisitas obyek dengan karakter mantap dan unik
                                                                            58




     seperti Kraton, Candi Prambanan, kerajinan perak di Kotagede. Spesifikasi

     obyek ini msih didukung oleh kombinasi obyek fisik dan obyek non fisik

     dalam paduan yang serasi. Kesemua faktor tersebut memperkuat daya saing

     DIY sebagai propinsi tujuan utama (primary destination) tidak saja bagi

     wisatawan nusantara maupun wisatawan mancanegara.

            Wisatawan Mancanegara maupun Wisatawan Domestik merupakan

     faktor penting dalam memberikan kontribusi yang positif di dalam dunia

     pariwisata. Perkembangan dan kemajuan obyek wisata dipengaruhi oleh

     banyaknya   jumlah   wisatawan    yang   berkunjung,   karena   dari   sisi

     operasionalnya pengembangan maupun perawatan obyek wisata didapatkan

     dari besarnya pendapatan yang diperoleh dari pemungutan retribusi.

     Semakin banyak jumlah wisatawan yang berkunjung maka jumlah retribusi

     yang dibayarkan akan semakin besar, sehingga akan meningkatkan jumlah

     pendapatan daerah. Pengembangan bidang pariwisata perlu mendapatkan

     perhatian khusus bagi pemerintah daerah karena ini merupakan salah satu

     asset daerah yang mampu memberikan kontribusi bagi pendapatan daerah

     (PAD) maupun pembentukan (PDRB).



4.6.4. Jumlah Perusahaan Disektor Industri

            Hasil analisis menunjukkan bahwa jumlah industri secara statistik

     positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY. Berdasarkan

     hasil uji statistik, variabel jumlah perusahaan disektor industri secara
                                                                       59




statistik positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi DIY sebesar

0,362356 berarti sesuai dengan hipotesa awal. Artinya setiap kenaikan

jumlah perusahaan disektor industri sebesar 1% mengakibatkan kenaikan

pertumbuhan ekonomi Propinsi DIY sebesar 0,362356%. Industri berperan

besar dalam perluasan kesempatan berusaha, kesempatan kerja dan

pengentasan     kemiskinan.   Adanya    industri   tersebut   juga   akan

mengurangi jumlah penganguran. Sehingga sektor industri makin

efektif menjadi penggerak utama pembangunan ekonomi.

       Terciptanya struktur industri yang makin kuat dan didukung

oleh kemampuan teknologi yang makin meningkat serta pemanfaatan

sumber daya ekonomi yang optimal akan meningkatnya daya saing

industri sehingga nantinya menghasilkan produk-produk unggulan

yang mampu menerobos pasar internasional dan mengurangi keter-

gantungan pada impor. Berkembangnya industri akan meningkatkan

peran serta masyarakat secara produktif dalam kegiatan industri sehingga

mampu mengembangkan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi dan potensi

sumber daya daerah, dalam upaya lebih memeratakan pembangunan

untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Oleh karena itu hal yang

perlu dilakukan oleh Pemerintah DIY adalah meningkatkan jumlah

perusahaan disektor industri yang ada sehingga nantinya akan

memperluas kesempatan kerja dan akan meningkatkan kegiatan

perekonomian.
                                                                                60




                                       BAB V

                        SIMPULAN DAN IMPLIKASI



5.1. SIMPULAN

         Berdasarkan    dari   hasil   penelitian   mengenai   faktor-faktor   yang

  mempengaruhi pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta yang

  parameternya menggunakan metode OLS telah mengungkapkan pengaruh dari

  penanaman modal dalam negeri (PMDN), ekspor, pariwisata, dan jumlah

  perusahaan disektor industri, maka dibuat kesimpulan sebagai berikut :

  1. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel pariwisata

     berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi

     Daerah Istimewa Yogyakarta.

  2. Hasil pengujian secara individual menunjukkan bahwa variabel jumlah

     perusahaan disektor industri berpengaruh secara positif dan signifikan

     terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa Yogyakarta.

  3. Hasil pengujian secara bersama-sama menunjukkan bahwa variabel

     Penanaman Modal Dalam Negeri, Ekspor, Pariwisata dan Jumlah Perusahaan

     Disektor Industri signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi Daerah Istimewa

     Yogyakarta.
                                                                                61




5.2. IMPLIKASI

         Berdasarkan dari kesimpulan yang telah dikemukakan diatas, maka

  implikasi kebijaksanaan yang berkaitan dengan hasil penelitian adalah :

  1. Dalam penelitian ini variabel Pariwisata memiliki pengaruh positif dan

     signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Oleh karena itu perlu adanya

     upaya peningkatan pendapatan daerah yang tercermin pada pendapatan

     pariwisata. Untuk itu pemerintah hendaknya mengupayakan agar pendapatan

     pariwisata setiap tahun meningkat. Maka dengan ini pariwisata dapat

     memberikan peningkatan pendapatan di DIY, agar tercipta pertumbuhan

     ekonomi yang cukup tinggi. Perkembangan kepariwisataan sebaiknya

     dipadukan dengan usaha jasa dan pariwisata seperti biro perjalanan,

     penyediaan akomodasi dan transportasi yang memadai, akan memberikan

     hasil yang optimal dan selanjutnya dapat memberikan sumbangan yang besar

     terhadap pemerintah.

  2. Dalam penelitian ini variabel Jumlah Perusahaan Disektor Industri memiliki

     pengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Hal ini

     berarti bahwa untuk mengupayakan peningkatan jumlah perusahaan disektor

     industri, perlu diusahakan agar selalu terjadi peningkatan pendapatan industri

     hal ini tercermin dalam jumlah perusahaan disektor industri. Untuk itu

     pemerintah hendaknya mengupayakan agar pendapatan industri setiap tahun

     meningkat. Maka dengan ini jumlah perusahaan disektor industri dapat

     memberikan peningkatan pendapatan di DIY, agar tercipta pertumbuhan
                                                                    62




ekonomi yang cukup tinggi. Hal yang perlu dilakukan oleh Pemerintah DIY

adalah meningkatkan jumlah perusahaan disektor industri yang ada

sehingga nantinya akan memperluas kesempatan kerja dan akan

meningkatkan kegiatan perekonomian dan pertumbuhan ekonomi.
                                                                                   63




                               DAFTAR PUSTAKA


________,     (1995-2005), Laporan Tahunan Bank Indonesia, berbagai edisi,
            Yogyakarta.

________, Statistik Indonesia berbagai edisi. Yogyakarta: Badan Pusat Statistik.

________, Statistik Pariwisata berbagai edisi. Yogyakarta: Dinas Pariwisata Daerah

            Istimewa Yogyakarta.

Arsyad, Lincolyn. (2004), Ekonomi Pembangunan, Yogyakarta, STIE YKPN.

Boediono (1992), Teori Pertumbuhan Ekonomi, BPFE, Yogyakarta.

Firmanto, M. Shodiq. (2005), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan
        Ekonomi Indonesia Periode 1984-2002, Skripsi Sarjana (Tidak
        dipublikasikan), Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia,
        Yogyakarta.

Gujarati, Damodar. (1995), Ekonometrika Dasar, Alih Bahasa Sumarno Zain,
         Erlangga, Jakarta,

Jhingan. (2000), Ekonomi Pembangunan dan Perencanaan. Jakarta, Rajawali Press.

Kusnadi, Ace. (1998), Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi di
        Jawa Barat Tahun 1983-1996, Skripsi Sarjana (Tidak dipublikasikan),
        Fakultas Ekonomi, Universitas Islam Indonesia, Yogyakarta.

Mangkoesoebroto, Guritno. (1998) Teori Ekonomi Makro, Yogyakarta, STIE YKPN

Samuelsen, Paul A & William D. Nordhaus, (1993), Makro Ekonomi, Erlangga,
      Jakarta.


Supranto, Prabowo. (2004), Analisis Factor-faktor yang Mempengaruhi
         Pertumbuhan Ekonomi Tahun 1986-2002, Skripsi Sarjana (Tidak
         dipublikasikan), Fakultas Ekonomi, Univestitas Islam Indonesia,
         Yogyakarta.

Todaro, Michael.P. dan Stephen C. Smith (1993), Pembangunan Ekonomi Di Dunia
      Ketiga, Edisi Kedelapan, Erlangga, Jakarta.
                                                                              64




Todaro, Michael. (2000), Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Jakarta, Erlangga.

Widarjono, Agus (2005), Ekonometrika, Teori dan Aplikasi, Edisis Pertama, FE UII,
      Yogyakarta.
                                                                          65




                           DATA OBSERVASI



 obs        Y              X1            X2               X3        X4
1990     9159241         306905        389100         25980213461   162
1991     9634857         412033        403036         23998046772   215
1992    10303121         530697        481733         20340666220   247
1993    10901831        625431        2117420         24061984333   248
1994    11699390        686307        2342510         28061983999   263
1995    12955802        905693        2528263         30559231000   290
1996    13958968        1064588       2702618         32776282900   358
1997    14449327        1283716       2703776         22696380121   362
1998    12833873        1299966       1656437         16261468848   400
1999    12960802        1962201       1629642         20214132771   347
2000    13480000        1815183       5360059         23671736991   397
2001    14056000        1814240       5952265         22665082879   394
2002    14689000        1961916       6265385         27212192095   397
2003    15360000        2405967       6724101         23028745903   402
2004    16149000        1801967       7022007         27738075532   411


Keterangan :

Y      : PDRB (Juta Rupiah)

X1     : PMDN (Juta Rupiah)

X2     : Ekspor (Juta Rupiah)

X3     : Pariwisata (Juta Rupiah)

X4     : Jumlah perusahaan disektor industri (Unit)
                                                              66




 obs    LOGY       LOGX1      LOGX2      LOGX3      LOGX4
1990   6.961859   5.487004   5.590061   10.41464   2.209515
1991   6.983845   5.614932   5.605344   10.38018   2.332438
1992   7.012969   5.724847   5.682806   10.30837   2.392697
1993   7.037499   5.796179   6.325807   10.38133   2.394452
1994   7.068163   5.836518   6.369681   10.44812   2.419956
1995   7.112464   5.956981   6.402822   10.48514   2.462398
1996   7.144853   6.027182   6.431785   10.51556   2.553883
1997   7.159848   6.108469   6.431971   10.35596   2.558709
1998   7.108358   6.113932   6.219175   10.21116   2.602060
1999   7.112632   6.292743   6.212092   10.30566   2.540329
2000   7.129690   6.258920   6.729170   10.37423   2.598791
2001   7.147862   6.258695   6.774682   10.35536   2.595496
2002   7.166992   6.292680   6.796948   10.43476   2.598791
2003   7.186391   6.381290   6.827634   10.36227   2.604226
2004   7.208146   6.255747   6.846461   10.44308   2.613842
                                                                           67




                                    UJI MWD


Dependent Variable: Y
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:37
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
        X1             0.218168    0.476879      0.457491        0.6582
        X2             0.097746    0.106955      0.913902        0.3846
        X3             0.000155    3.50E-05      4.414616        0.0017
        X4             21436.53    3300.024      6.495872        0.0001
        Z1            18052710     5268220.      3.426719        0.0075
        C              1447201.    1217094.      1.189062        0.2648
R-squared              0.972388    Mean dependent var          12839414
Adjusted R-squared     0.957048    S.D. dependent var           2100870.
S.E. of regression     435402.2    Akaike info criterion       29.09510
Sum squared resid      1.71E+12    Schwarz criterion            29.37832
Log likelihood        -212.2133    F-statistic                  63.38913
Durbin-Watson stat     1.393194    Prob(F-statistic)            0.000001




Dependent Variable: LOGY
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:39
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1            0.042570    0.069773      0.610124        0.5569
      LOGX2            0.074778    0.051118      1.462865        0.1775
      LOGX3            0.106556    0.118776      0.897114        0.3930
      LOGX4            0.264719    0.151839      1.743416        0.1152
        Z2            -5.35E-08    3.81E-08     -1.403593        0.1940
        C              4.603020    1.323604      3.477640        0.0070
R-squared             0.960744     Mean dependent var           7.102771
Adjusted R-squared    0.938936     S.D. dependent var           0.074523
S.E. of regression    0.018416     Akaike info criterion       -4.862071
Sum squared resid     0.003052     Schwarz criterion           -4.578851
Log likelihood        42.46553     F-statistic                  44.05318
Durbin-Watson stat    2.220347     Prob(F-statistic)            0.000005
                                                                           68




                 HASIL ANALISIS REGRESI UTAMA



Dependent Variable: LOGY
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:40
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1           0.076583     0.068530      1.117505        0.2899
      LOGX2           0.018497     0.033206      0.557025        0.5898
      LOGX3           0.216146     0.093749      2.305581        0.0438
      LOGX4           0.362358     0.141362      2.563343        0.0282
        C             3.373714     1.039419      3.245769        0.0088
R-squared             0.952151     Mean dependent var           7.102771
Adjusted R-squared    0.933012     S.D. dependent var           0.074523
S.E. of regression    0.019288     Akaike info criterion       -4.797458
Sum squared resid     0.003720     Schwarz criterion           -4.561441
Log likelihood        40.98094     F-statistic                  49.74804
Durbin-Watson stat    1.605877     Prob(F-statistic)            0.000001
                                                                             69




                       UJI HETEROSKEDASTISITAS



White Heteroskedasticity Test:
F-statistic             2.597151     Probability                 0.130634
Obs*R-squared           11.63893     Probability                 0.168055

Test Equation:
Dependent Variable: RESID^2
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:41
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable         Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
         C             -7.025962     1.774481      -3.959446       0.0075
       LOGX1            0.044571     0.073672       0.604990       0.5673
      LOGX1^2          -0.003845     0.005978      -0.643143       0.5439
       LOGX2            0.014446     0.015271       0.945939       0.3807
      LOGX2^2          -0.001240     0.001220      -1.016356       0.3487
       LOGX3            1.348688     0.342667       3.935862       0.0077
      LOGX3^2          -0.064904     0.016485      -3.937015       0.0077
       LOGX4           -0.130651     0.063678      -2.051728       0.0860
      LOGX4^2           0.028196     0.012358       2.281618       0.0627
R-squared               0.775929     Mean dependent var           0.000248
Adjusted R-squared      0.477167     S.D. dependent var           0.000368
S.E. of regression      0.000266     Akaike info criterion       -13.34426
Sum squared resid       4.24E-07     Schwarz criterion           -12.91943
Log likelihood          109.0819     F-statistic                  2.597151
Durbin-Watson stat      2.677487     Prob(F-statistic)            0.130634
                                                                             70




                             UJI AUTOKORELASI


Breusch-Godfrey Serial Correlation LM Test:
F-statistic             0.074700     Probability                 0.928661
Obs*R-squared           0.274991     Probability                 0.871538

Test Equation:
Dependent Variable: RESID
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:41
Presample missing value lagged residuals set to zero.
      Variable         Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1             0.001316     0.089263       0.014746       0.9886
      LOGX2             0.008465     0.048192       0.175653       0.8649
      LOGX3            -0.001336     0.103983      -0.012850       0.9901
      LOGX4            -0.025262     0.176115      -0.143439       0.8895
        C               0.015835     1.154053       0.013721       0.9894
     RESID(-1)          0.180534     0.472284       0.382258       0.7122
     RESID(-2)          0.090749     0.589165       0.154030       0.8814
R-squared               0.018333     Mean dependent var           1.42E-15
Adjusted R-squared     -0.717918     S.D. dependent var           0.016301
S.E. of regression      0.021366     Akaike info criterion       -4.549294
Sum squared resid       0.003652     Schwarz criterion           -4.218871
Log likelihood          41.11971     F-statistic                  0.024900
Durbin-Watson stat      1.804783     Prob(F-statistic)            0.999882
                                                                           71




                       UJI MULTIKOLINIERITAS



Dependent Variable: LOGX1
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:44
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX2            0.226445    0.129162      1.753187        0.1074
      LOGX3           -0.432681    0.391290     -1.105782        0.2924
      LOGX4            1.438563    0.445738      3.227371        0.0081
        C              5.488365    4.263210      1.287379        0.2244
R-squared             0.927183     Mean dependent var           6.027075
Adjusted R-squared    0.907324     S.D. dependent var           0.278756
S.E. of regression    0.084861     Akaike info criterion       -1.872419
Sum squared resid     0.079216     Schwarz criterion           -1.683605
Log likelihood        18.04314     F-statistic                  46.68770
Durbin-Watson stat    2.222202     Prob(F-statistic)            0.000002




Dependent Variable: LOGX2
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:49
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1           0.964467     0.550122      1.753187        0.1074
      LOGX3           1.950463     0.615430      3.169267        0.0089
      LOGX4           1.065674     1.242688      0.857556        0.4094
        C            -22.38141     6.598076     -3.392111        0.0060
R-squared             0.871663     Mean dependent var           6.349763
Adjusted R-squared    0.836662     S.D. dependent var           0.433340
S.E. of regression    0.175135     Akaike info criterion       -0.423344
Sum squared resid     0.337394     Schwarz criterion           -0.234531
Log likelihood        7.175080     F-statistic                  24.90392
Durbin-Watson stat    1.860796     Prob(F-statistic)            0.000033
                                                                           72




Dependent Variable: LOGX3
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:50
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1           -0.231207    0.209090     -1.105782        0.2924
      LOGX2            0.244707    0.077212      3.169267        0.0089
      LOGX4           -0.315988    0.444547     -0.710811        0.4920
        C              11.01423    0.383109      28.74962        0.0000
R-squared             0.487326     Mean dependent var           10.38505
Adjusted R-squared    0.347506     S.D. dependent var           0.076796
S.E. of regression    0.062034     Akaike info criterion       -2.499105
Sum squared resid     0.042330     Schwarz criterion           -2.310291
Log likelihood        22.74328     F-statistic                  3.485382
Durbin-Watson stat    1.840982     Prob(F-statistic)            0.053759




Dependent Variable: LOGX4
Method: Least Squares
Date: 01/13/08 Time: 17:50
Sample: 1990 2004
Included observations: 15
      Variable       Coefficient   Std. Error    t-Statistic       Prob.
      LOGX1            0.338090    0.104757      3.227371        0.0081
      LOGX2            0.058803    0.068571      0.857556        0.4094
      LOGX3           -0.138976    0.195518     -0.710811        0.4920
        C              1.530701    2.168416      0.705908        0.4949
R-squared             0.912904     Mean dependent var           2.498505
Adjusted R-squared    0.889150     S.D. dependent var           0.123565
S.E. of regression    0.041140     Akaike info criterion       -3.320507
Sum squared resid     0.018617     Schwarz criterion           -3.131694
Log likelihood        28.90380     F-statistic                  38.43235
Durbin-Watson stat    1.933119     Prob(F-statistic)            0.000004

								
To top