Laba

					Retno Wulan Sari Ratna Pancawati Fitriyah Anisa Rahmansari Tanti Nurhidayah

06403241013 06403241017 06403241018 06403241048 06403241051



Laba komprehensif, dimaknai sebagai kenaikan asset bersih selain yang berasal dari transaksi dengan pemilik. Pengukuran pendapatan dan biaya sesuai PABU lebih didasarkan pada konsep kos historis sehingga laba yang dihasilkan tidak selalu setara dengan laba ekonomik, pada umumnya mempertimbangkan perubahan daya beli dan perubahan harga.

        

Indikator efisiensi penggunaan dana yang tertanan dalam perusahaan yang diwujudkan atas pengendalian investasi Pengukur prestasi atau kinerja badan usaha dan menejemen Dasar penentuan besarnya pengenaan pajak Alat pengendalian alokasi sumberdaya ekonomik suatu Negara Dasar penentuan dan penilaian kelayakan tarif dalam perusahaan publiK Alat pengendalian terhadap debitor dalam kontrak utang Dasar kompensasi dan pemberian bonus Alat motivasi menejemen dalam pengendalian perusahaan Dasar pembagian deviden





Satu laba untuk berbagai tujuan Pendekatan ini memformulasi konsep laba tunggal dan menyajikanya untuk memenuhi berbagai tujuan secara umum. Beda tujuan beda laba Menggunakan berbagai konsep laba dan menyajikannya secara jelas berbagai konsep laba tersebut secara khusus.

Kelemahan  Belum didefinisi secara semantik, sehingga secara intuitif dan ekonomik laba akuntansi bermakna  Penyajian dan pengukuran laba masih difokuskan pada pemegang saham biasa atau redsidual.  PABU sebagai pedoman pengukuran masih memberikan peluang ketaktaatasasan antar perusahaan  Laba akuntansi secara umum belum memperhitungkan pengaruh perubahan daya beli dan harga, karena didasarkan pada konsep kos historis.  Ketepatan laba akuntansi belum menjadi tuntutan yang mendesak.

Berkaitan dengan masalah makna apa yang harus dilekatkan oleh perekayasa pelaporan pada symbol atau elemen laba sehingga laba bermanfaat atau bermakna sebagai informasi.

Pengukur Kinerja Laba periode dimaknai sebagai kinerja masalalu yang meliputi daya melaba, akuntabilitas dan efisiensi. Kinerja perusahaan merupakan manifestasi dari kinerja menejemen sehingga laba dapat pula diintrepetasi sebagi pengukur keefektifan dan keefisienan menejemen sdalam mengelola sumberdaya yang dipercayakan kepadanya. Daya melaba merupakan laba semantic yang diharapkan dibawa oleh informasi akuntan melalui stetemen keuangan yaitu objek, ukuran dan hubungan.  Konfirmasi harapan investor Laba dapat diintrepetasi sebagai sarana untuk mengkonfirmasi harapan-harapan investor.




Laba akuntansi adalah laba dari kacamata peerekayasa akuntansi karena keperluan untuk menyajikan informasi secara objektif dan terandalkan. Laba akuntansi dihitung atas dasar depresiasi akuntansi . Laba akuntansi dilandasi oleh konsep kontinuitas usaha yang memandang aset sebagai sisa potensi jasa sehingga kos hitoris menjadi basis pengukurannya.



Laba ekonomik adalah laba dari kacamata investorkarena keperluan untuk menilai investasi dalam saham yang dalam banyak hal bersifat subjektif atau bergantung pada karakteristik investoar.
Laba ekonomik memperhitungkan perubahan daya beli dan perubahan harga spesifik aset. Dihitung atas dasar depresiasi ekonomik.Laba ekonomik dilandasi oleh konsep likuidasi yang melihat aset sebagai simpanan atau sediaan nilai setiap saat sehingga nilai sekarang menjadi basis pengukurannya.

Laba secara konseptual mempunyai karakteristik: 1. Kenaikan kemakmuran yang dimiliki atau dikuasai suatu entitas. 2. Perubahan terjadi dalam suatu kurun waktu, sehingga harus diidentifikasi kemakmuran awal dan akhir. 3. Perubahandapat dinikmati , didistribusi,ditarik oleh entitas yang menguasai kemakmuran asalkan kemakmuran awal dipertahankan.  Kemakmuran dapat berupa asset bersih, aset, modal pemegangf saham, kekayaaan, investasi, sumberdaya ekonomik, uang atau yang bernilai uang atau yang dapat dinilai dengan uang.Kapital yaitu ekuitas pemegang saham.




Pembahasan laba tidak dapat dipisahkan dengan pembahasan kapital tetapi makna keduanya harus dibedakan. Kapital dapat diasosiasikan dengan sediaan atau potensi jasa. Jadi, capital dapat dipandang sebagai sediaan kemakmuran pada saat tertentu. Laba dapat diasosiasikan dengan aliran kemakmuran. Jadi, laba adalah aliran potensi jasa yang dapat dinikmati dalam kurun waktu tertentu dengan tetap mempertahankan tingkat potensi jasa mula-mula.



Konsep ini dilandasi oleh gagasan bahwa entitas berhak mendapatkan kembalian/imbalan atau return dan menikmatinya setelah kapital dipertahankan keutuhannya atau pulih seperti sedia kala. Laba adalah tambahan kemampuan ekonomik yang ditandai dengan kenaikan kapital dalam suatu perioda yang berasal dari kegiatan produktif dalam arti luas yang dapat dikonsumsi atau ditarik oleh entitas penguasa tanpa mengurangi kemampuan ekonomik kapital mula-mula. Pemaknaan laba berbeda dan terpisah dengan pengukuran laba.



Konsep laba harus dapat dijabarkan dalam dalam tataran sintaktik. Konsep laba harus dioperasionalkan dalam bentuk standar dan prosedur akuntansi yang mantap dan objektif sehingga angka laba dapat diukur dan disajikan dalam statemen keuangan. Pengukuran dalam arti luas yang meliputi pengakuan, saat pengakuan, dan prosedur pengakuan ditambah cara mengungkapkan merupakan masalah pada tataran sintaktik. Masalah pengukuran pendapatan, terdapat dua criteria atau pendekatan dalam pengukuran laba, yaitu pendekatan transaksi dan pendekatan kegiatan.

Pendekatan transaksi Laba diukur dan diakui pada saat terjadinya transaksi yang kemudian terakumulasi sampai akhir periode.  Pendekatan kegiatan Laba dianggap timbul bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan atau kejadian bukan sebagai hasil suatu transaksi pada saat tertentu. Kedua pendekatan tidak dapat berdiri sendiri sendiri tetapi saling melengkapi.  Pendekatan Pemertahanan Kapital Nilai asset dan kewajiban merupakan konsekuensi dari pengukuran pendapatan dan biaya atas dasar konsep penandingan. Laba adalah perubahan atau kenaikan kapital dalam suatu periode.










Pengukuran dan Penilaian Kapital Cara menilai capital adalah jenis capital dan dasar penilaian. Jenis capital, dalam hal ini ada dua jenis konsep capital yaitu capital financial dan fisis. Skala Pengukuran Skala pengukuran adalah unit pengukur yang dapat dilekatkan pada suatu objek sehingga objek tersebut dapat dibedakan besar-kecilnya dari objek yang lain atas dasar unit pengukur tersebut. Skala yang dipakai adalah skala nominal dan skala daya beli. Dasar atau Atribut Pengukuran Dua dasar penilaian penting yang berpaut dengan penentuan laba yaitu kos historis dan kos sekarang yang keduanya merupakan nilai masukan. Pengukuran Laba dengan Mempertahankan Kapital Adanya tiga faktor penentu nilai capital yang saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basis penilaian akuntansi.

Adanya tiga faktor penentu nilai kapital (jenis, skala, dan dasar penilaian) yang saling berinteraksi menimbulkan berbagai macam pendekatan atau basis penilaian kapital.  Berbagai pendekatan penilaian kapital dan implikasinya terhadap penentuan laba antara lain adalah: 1. Kapitalisasi aliran kas harapan (capitalization of expected cash flows) 2. Penilaian pasar atas aset bersih perusahaan (market valuation of the firm) 3. Setara kas sekarang (current cash equivalent) 4. Harga masukan historis (historical input prices) 5. Harga msukan sekarang (current input prices) 6. Pemertahanan daya beli konstan (maintenance of constant purchasing power).


Pengukuran laba dilihat dari kaca mata pemegang saham atau investor sebagai entitas. Kapital di sini adalah kapital finansial berupa nilai investasi yang tertanam di perusahaan yang menjadi klaim pemegang saham.  Nilai kapitalisasian investasi pemegang saham ditentukan pada awal dan akhir perioda. Nilai kapitalisasian adalah nilai diskunan atau nilai sekarang semua aliran kas masa datang dari investasi selama perioda yang diharapkan investor. Aliran kas ini dapat berupa dividen kas periodik dan kas hasil penjualan atau likuidasi seluruh investasi di akhir perioda yang diharapkan.  Laba merupakan selisih nilai kapitalisasian awal dan akhir perioda. Untuk menghitung nilali kapitalisasian harus diketahui aliran kas harapan tiap perioda, faktor kapitalisasi, dan jangka investasi. Faktor kapitalisasi didasarkan pada tingkat kembalian harapan yang biasanya merupakan kos kesempatan investasi.




Konsep kapitalisasi mempunyai keunggulan dalam pengukuran labayang mendekati laba ekonomik, namun konsep ini tidak praktis dan operasional.



Beberapa keberatan yang diajukan terhadap konsep ini antara lain: 1. Tarif kapitalisasi yang digunakan di mata perusahaan tidak selalu sama dengan tarif menurut persepsi investor. 2. Angka laba yang dihasilkan tidak intuitif karena komponenkomponen pembentuknya tidak tampak. 3. Konsep ini terlalu menekankan pada nilai waktu uang dan aliran kas dan mengabaikan faktor-fektor ekonomik yang lain. 4. Informasi tentang operasi dan efisiensi manajemen perusahaan tidak dapat terungkap melalui laporan rugi-laba. 5. Karena laba dihubungkan dengan harapan-harapan masa mendatang, informasi yang disajikan kurang mempunyai daya konfirmasi terhadap harapan-harapan masa yang lalu. 6. Karena semua informasi yang digunakan dalam menghitung laba didasarkan pada prediksi yang sering tidak konsisten dari periodaperioda, informasi laba tidak dapat diverifikasi sehingga kurang dapat diandalkan.





Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital finansial. Kapital diukur atas dasar berapa jumlah rupiah yang investor bersedia membayar utnuk seluruh kekayaan perusahaan dikurangi seluruh kewajiban. Penilaian ini dimaksudkan untuk menghilangkan subjektivitas penyaji laporan. Untuk memperoleh nilai kapital yang wajar, dapat digunakan alternatif penilaian yaiotu kapital diukur atas dasar perkalian antara volume saham yang beredar dengan harga pasar saham pada awal dan akhir perioda.



Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Dasar pengukuran adalah gunggungan (sum) semua jumlah rupiah setara tunai pos aset dikurangi jumlah rupiah setara tunai semua utang. Jumlah rupiah setara tunai ini didasarkan atas harga pasar penjualan pos aset secara individual yang dimiliki/dikuasai perusahaan.

Pendekatan ini merupakan salah satu pendekatan penilaian dengan nilai masukan. Penilaian atas dsar harga masukan dilandasi oleh gagasan bahwa kapital dapat dikatakan telah dipertahankan apabila aset pada akhir perioda (dinilai dengan harga masukan) sama dengan aset pada awal perioda (juga dinilai dengan harga masukan). Laba merupakan kenaikan aset (setelah pengaruh transaksi ekuitas yang dikeluarkan).  Penilaian ini memandang kapital sebagai kapital fisis. Laba diukur berdasarkan selisih aset bersih awal dan akhir perioda yang msingmasing dinyatakan dalam kos historisnya. Hasilnya akan sama dengan laba yang dihitung sebagai selisih pendapatn dan biaya. Konsep laba dengan pendekatan ini akan sama dengan laba komprehensif (all-inclusive) karena laba didefinisi sebagai kenaikan aset bersih selain yang berasal dari transaksi sdengan pemilik.




Penilaian ini pada dasarnya sama dengan harga msukan historis kecuali bahwa dalam pendekatan ini memiliki komponenkomponen kepital awal dan akhir dengan kos masukan sekarang atau kos pengganti pada saat itu. Kos pengganti aset adalah jumlah rupiah yang harus dikorbankan seandainya suatu entitas tidak menguasai/memiliki aset bersangkutan.



Basis yang dipakai adalah kos historis. Kapital awal dan akhir dinyatakan dalam unit daya beli konstan pada indeks dasar tertentu (dapat indeks awal tahun, rata-rata, atau akhir tahu). Laba yang diukur berdasarkan selisih kapital awal dan akhir akan menggambarkan tambahan daya beli kapital yang dimiliki/dikuasai perusahaan tanpa harus mengurangi daya beli kapital mulamula.



Tataran ini membahas apakah informasi laba bermanfaat atau apakah informasi laba nyatanya digunakan. Kalau memang digunakan, utnuk kepentingan apa informasi laba digunakan sehingga angka laba benarbenar harus disediakan.



Aliran kas yang diterima atau diharapkan investor akan dipengaruhi oleh kemampuan perusahaan untuk menciptakan kas yang cukup untuk (a) membayar semua kewajiban pada saatmya, (b) mendanai keperluan operasi, (c) reinvestasi, (d) membayar bunga, dan (e) membayar dividen. Kemampuan menciptakan kas tersebut akan ditentukan oleh kemampuan perusahaan mendatangkan laba (earnings) jangka panjang yang memadai. Oleh karena itu, investor dan kreditor harus memprediksi kemampuan melaba (earning power) jangka panjang.



Kebermanfaatan laba dapat diukur dari hubungan antara laba dan harga saham, bahwa laba merupakan prediktor aliran kas ke investor, menunjukkan bahwa laba menentukan harga saham. Nilai intrinsik menentukan harga pasar saham yang terjadi di pasar modal pada saat tertentu. Investor atau analis akan membandingkan nilai intrinsik saham dan harga pasar sekarang (current market price) untuk menerangai apakah terjadi salah-harga (misprice). Salah haraga akan mengaktifkan perdagangan sekuritas melalui berbagai strategi investasi.







Bila NI > NPS berarti sekuritas dinilai lebih rendah oleh pasar sehingga harus dibeli atau ditahan bila telah dimiliki Bila NI , NPS berarti sekuritas dinilai lebih tinggi oleh pasar sehingga harus dihindari, dijual bila telah dimilik, atau lakukan short sale. Bila NI = NPS berarti sekuritas dinilai benar dan terjadi ekuilibrium harga.



Teori perkontrakan efisien (efficient contracting theory) merupakan bagian atau turunan dari teori keagenan (agency theory). Teori ini didasarkan atas berbagai aspek dan implikasi hubungan keagenan. Hubungan keagenan adalah hubungan antara prinsipal dan agen yang di dalamnya agen bertindak atas nama dan untuk kepentingan prinsipal dan atas tindakannya tersebut agen mendapatkan imbalan tertentu. Hubungan tersebut biasanya dinyatakan dalam bentuk kontrak.





Laba dapat digunakan untuk memotivasi perilaku manajer divisi untuk menuju pencapaian tujuan perusahaan secara keseluruhan. Perilaku manajer dikendalikan melalui laba dengan cara mengaitkan kompensasi sebagai pengukur kinerja. Laba (yang relevan) dijadikan basis kompensasi agar manajer memaksimumkan kepentingannya. Keselarasan tujuan tercapai bila usaha manajer untuk memaksimumkan dirinya juga memaksimumkan kepentingan perusahaan secara keseluruahan.



Dalam pasar modal. Reaksi pasar modal teradap informasi dapat digunakan untuk mengukur atau menguji kebermanfaatan informasi. Hubungan antara informasi dan harga saham dibahas dalam konteks yang disebut efisiensi harga saham atau hipotesis harga saham. Efisiensi pasar berkaitan dengan kecepatan suatu signal diceran dan tereflrksi dalam harga saham

Hipotesis pasar efisien hanya bermakna bila dikaitkan dengan seperangkat informasi yang disediakan atau tersedia dalam suatu sistem pelaporan keuangan. Pasar modal dikatakan efisien terhadap suatu informasi bila harga saham merefleksi secara penuh informasi tersebut. Atau, bila harga sekuritas merefleksi secara cepat dan penuh semua informasi yang tersedia dalam suatu sistem pelaporan keuangan







Bentuk Lemah. Efisien jika harga sekuritas merefleksi secara pnuh informasi harga dan volume sekuritas masa lalu. Bentuk Semi-Kuat. Efisien jika harga sekuritas merefleksi secara penuh semua informasi yang tersedia secara publik termasuk data statemen keuangan. Bentuk Kuat. Efisien jika harga sekuritas merefleksi semua informasi termasuk informasi privat atau dalam yang tidak dipublikasi atau off-the records

Laba akuntansi yang diumumkan via statemen keuangan merupakan salah satu signal dari himpunan informasi yang tersedia bagi pasar modal. Bagi investor, data laba digunakan untuk memprediksi laba dan harga masa datang. Laba mempunyai kandungan yang penting bagi pasar modal. Sementara itu, investor berusaha untuk mencari informasi untuk memprediksi laba yang akan diumumkan atas dasar data yang tersedia untuk publik. Oleh karena itu, informasi laba sangat diharapkan para analisis untuk menangkap informasi privat atau dalam yang dikandungnya dan untuk mengkonfirmasi laba harapan investor.

Untuk menguji kandungan informasi laba, dapat dilakukan dengan dua pendekatan yaitu :



pendekatan asosiasi dan pendekatan peristiwa.

 



Umumnya menggunakan model regresi. LK diregresi terhadap R, RA atau RAK dalam perioda jendela untuk perusahaan sampel. Koefisien R, RA atau RAK menunjukkan asosiasi. Bila koefisien secara statistis signifikan, berarti terdapat asosiasi. Ini berarti variabel akuntansi menjelaskan variasi variabel pasar (harga pasar). Dapat disimpulkan bahwa angka akuntansi mempunyai relevansi nilai.





Fokus pengujian adalah peristiwa pengumuman laba. Bila RAK atau RA mean perusahaan sampel dalam perioda jendela secara statistis berbeda dengan nol, berarti terdapat reaksi pasar terhadap peristiwa (misalnya pengumuman laba). Reaksi dapat positif atau negatif. Bila RAM dan RAKM statis positif berarti terjadi reaksi positif terhadap laba sehingga laba membawa berita baik demikian pula sebaliknya.

Membahas berbagai konsep entitas selain kesatuan usaha dan implikasinya terhadap pengertian dan penyajian laba (laba untuk siapa).
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7.

Usaha bersama Usaha atau bisnis Investor Pemilik Pemilik residual Pengendali Dana

Teori entitas menentukan:
1. 2. 3.

Bentuk persamaan akuntansi Komponen penentu laba (apakah suatu pos merupakan biaya atau pembagian laba) Siapa penerima laba







Dengan sudut pandang ini, kesatuan yang menjadi pusat perhatian akuntansi adalah kegiatan usaha bersama yang melibatkan berbagai pihak sebagai bagaian dari kegiatan ekonomik. Stakeholder terdiri atas manager, karyawan, pemegang saham, kreditor, pelanggan pemerintah, dan masyarakat. Perusahaan berfungsi sebagai pengikat usaha bersama.





Dengan sudut pandang ini, kesatuan yang menjadi perhatian akuntansi adalah kegiatan usaha bersama yang melibatkan berbagai pihak sebagai bagian dari kegiatan ekonomik. Semua partisipan menanggung segala aspek kegiatan bersama sehingga mereka disebut secara bersama sebagai pemegang pancang (stakeholders) yang terdiri dari para manajer, karywan, pemegang saham, kreditor, pelanggan, pemerintah, dan masyarakat. Perusahaan berfungsi sebagai alat, pengikat, pancang, atau pusat kegiatan. Sudut pandang ini menjadi relevan manakala perusahaan menjadi sangat besar. Dengan sudut pandang ini, laba didefinisi sebagai seluruh jumlah rupiah nilai-tambahan (kenaikan kemakmuran) yang dihasilkan oleh kegiatan para partisipan secara bersama-sama dikurangi dengan kos material dan mesin/peralatan (bahan baku, overhead nontenaga kerja dan depresiasi). Laba merupakan hasil upaya bersama para pemegang pancang. Jumlah rupiah yang dibayarkan kepada partisipan bukan merupakan biaya, melainkan distribusi nilai-tambahan (laba) atau pembagian laba. Statemen laba-rugi harus disusun dengan pendekatan nilai tambahan.

 





Teori ini mendasari konsep dasar kesatuan usaha. Perusahaan dipandang sebagai orang atau badan yang berdiri sendiri, bertindak atas namanya sendiri, serta terpisah dari investor, kreditor, dan pihak eksternal lainnya. Dengan teori ini, laba dipandang sebagai kenaikan aset karena pendapatan dianggap sebagai aliran masuk dan biaya sebagai aliran keluar aset akibat kegiatan operasi perusahaan. Aset = Ekuitas





Investor di sini adalah investor dalam arti luas, yaitu kreditor (jangka panjang) dan pemegang saham (preferen dan biasa). Jadi, investor adalah penyedia dana utama perusahaan. Persamaan Akuntansinya:
Aset – Utang Jangka Pendek = Ekuitas Investor





Teori ini memandang pemegang saham (biasa dan istimewa) sebagai pemilik dan menjadi pusat perhatian akuntansi. Persamaannya: Aset – Kewajiban = Ekuitas

 



Konsep ini memandang pemegang saham biasa sebagai pusat perhatian akuntansi. Persamaan Akuntansinya: Aset – Ekuitas Spesifik = Ekuitas Residual Ekuitas Spesifik = utang dan ekuitas saham istimewa.



Teori ini menitikberatkanpandangannya pada kepada pihak yang mengendalikan sumber ekonomik perusahaan tanpa memperhatikan pemilikan seperti konsep kesatuan yang lain.

Teori Ekuitas dana dapat dinyatakan dalam persamaan: Aset = Pembatasan Penggunaan Aset  fdPersamaan akuntansi dana pada awal dan akhir periode: Aset Likuid = Saldo Dana  Karena neraca hanya menyajikan aset dan utang likuid, aset tetap dan utang jangka panjang dicatat dalam sistem terpisah, dengan persamaan: Untuk Aset Tetap: Aset Tetap = Investasi dalam aset tetap Untuk Utang Jangka Panjang Dana Pelunasan harus disediakan + dana telah tersedia = Utang Jangka Panjang






Masalah konseptual yang erat kaitannya dengan penyajian laba adalah pemisahan pelaporan pos-pos transaksi dengan pemilik (transaksi modal). Pos-pos operasi dalam arti luas (transaksi non pemilik) pada umumnya dilaporkan melalui statemen laba-rugi sedangkan pos-pos yang jelas-jelas merupakan transaksi modal dilaporkan melalui statemen laba ditahan atau statemen perubahan ekuitas.