Cadangan Batubara Indonesia Sebesar 12 Miliar Ton

Document Sample
Cadangan Batubara Indonesia Sebesar 12 Miliar Ton Powered By Docstoc
					Cadangan Batubara Indonesia Sebesar 12 Miliar Ton

Oleh Pusdatin
Kamis, 19 April 2007 07:00 - Update Terakhir Kamis, 19 April 2007 23:21

Berdasarkan aplikasi sistem database yang dikembangkan oleh Badan Geologi Departemen
Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dengan NEDO, terjadi perubahan besarnya sumber
daya batubara di Indonesia. Jika sebelumnya jumlah sumber daya batubara sebesar 26 miliar
ton kini menjadi 65,4 miliar ton. Sedang cadangan dari 2,6 miliar ton menjadi 12 miliar ton.  “Sa
ya menyambut gembira kerjasama ini dengan fokus pengelolaan data dan informasi batubara
dalam meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kita tentang potensi sumber daya batubara
dan kualitasnya,’’ ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro saat memberikan sambutan pada
acara Presentasi Hasil Kerjasama Studi Sumber daya dan Cadangan Batubara di Indonesia,
Kamis (19/4), di Jakarta.

Diungkapkan oleh Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, peran batubara akan semakin
meningkat di waktu akan datang. Oleh sebab itu keberadaan data dan informasi yang lebih
akurat serta dapat diakses dengan mudah oleh para pelaku usaha batubara sangat penting.
Selanjutnya diharapkan akan menjadi daya tarik usaha dan investasi pertambangan usaha
batubara.

Produksi batubara Indonesia tahun 2006 sebesar 162 juta ton dan 120 juta ton diantaranya
digunakan keperluan ekspor. “Dari jumlah batubara yang diekspor tersebut, 29 juta  (26%)
dikirim ke Jepang,’’ ujar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Peningkatan konsumsi juga
terjadi di dalam negeri. Jika saat ini PT PLN membutuhkan 31 juta ton, diperkirakan tahun 2010
akan menjadi 113 juta ton.

Pada kesempatan tersebut Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro menyampaikan masalah yang
dihadapi saat ini dan ke depan dalam aspek pemanfaatan batubara adalah masalah lingkungan
dan konflik penggunaan lahan. “Masalah yang berkenaan dengan penggunaan lahan
pertambangan batubara perlu mendapatkan perhatian,’’ tegas Menteri ESDM Purnomo
Yusgiantoro.

Pertambahan penduduk dan tekanan untuk melindungi hutan dan sumber daya air membuat
perluasan atau ekstensifikasi akan semakin sulit. “Dengan demikian perhatian untuk
mengambangkan                                 underground harus sudah dimulai dari
sekarang,’’ papar Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro. Diharapkan database ini bisa
memberikan rangsangan bagi usaha pertambangan bawah tanah.




                                                                                           1/1