Peningkatan kemampuan menulis surat permohonan dangan pendekatan by ida17629

VIEWS: 6,247 PAGES: 166

									                                        SARI

Kusmiati, Vita. 2005. Peningkatan Kemampuan Menulis Surat Permohonan dengan
                       Pendekatan Kontekstual Elemen Konstruktivisme pada Siswa
                       Kelas VIIA SMP Negeri 5 Semarang Tahun Pelajaran
                       2004/2005. Skripsi, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia,
                       Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang.
                       Pembimbing I: Drs. Wagiran, M.Hum., Pembimbing II: Dra.
                       Mimi Mulyani, M.Hum.
Kata kunci : kemampuan menulis surat permohonan, pendekatan kontekstual, elemen
              konstruktivisme.

         Keterampilan menulis sebagai salah satu cara berkomunikasi dapat diartikan
sebagai kemampuan seseorang dalam menyusun dan menggunakan bahasa secara
tertulis dengan baik dan benar. Berdasarkan observasi awal dan wawancara dengan
guru kelas pembelajaran menulis kelas VIIA SMP Negeri 5 Semarang masih kurang.
Hal ini dibuktikan dengan skor rata-rata klasikal kurang dari 60. Rendahnya
kemampuan siswa dalam menulis disebabkan oleh faktor internal dan faktor
eksternal. Faktor internal berasal dari siswa, sedangkan faktor eksternal berasal dari
strategi guru dalam melaksanakan pembelajaran. Pemilihan pendekatan kontekstual
elemen konstruktivisme sebagai upaya untuk meningkatkan keterampilan menulis
surat permohonan berdasarkan tuntutan kurikulum berbasis kompetensi yang
memberikan kebebasan pada guru untuk memilih teknik yang beragam dan sesuai
dengan tujuan pembelajaran.
         Berdasarkan paparan di atas, penelitian ini mengangkat permasalahan yaitu
(1) bagaimanakah peningkatan keterampilan menulis surat permohonan siswa kelas
VIIA SMP Negeri 5 Semarang setelah mengikuti proses pembelajaran dengan
pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme? dan (2) bagaimanakah perubahan
perilaku siswa kelas VIIA SMP Negeri 5 Semarang setelah mengikuti proses
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme? Tujuan
penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan peningkatan keterampilan menulis surat
permohonan siswa kelas VIIA SMP Negeri 5 Semarang setelah mengikuti proses
pembelajaran dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme. Tujuan yang
kedua adalah mendeskripsikan perubahan perilaku siswa kelas VIIA SMP Negeri 5
Semarang setelah mengikuti proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual
elemen konstruktivisme.
         Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian
tindakan kelas dengan dua siklus yang dilksanakan pada siswa kelas VIIA SMP
Negeri Semarang. Tiap-tiap siklus terdiri atas tahap perencanaan, tindakan, observasi,
dan refleksi. Pengambilan data dilakukan dengan tes dan nontes. Alat pengambilan
data nontes yang digunakan berupa pedoman observasi, wawancara, jurnal, dan
dokumentasi. Analisis data dengan teknik kuantitatif dan teknik kualitatif. Analisis




                                          ii
data kuantitatif dihitung dengan menggunakan analisis SPSS 10.00 for windows untuk
memudahkan peneliti dalam mengolah data sehingga menjadi lebih cepat dan efisien.
        Berdasarkan analisis data penelitian kemampuan menulis surat permohonan
siswa dari pratindakan, siklus I sampai pada siklus II mengalami peningkatan sebesar
33,47%. Sebelum dilakukannya tindakan, nilai rata-rata klasikal menulis surat
permohonan sebesar 47,64. Pada siklus I terjadi peningkatan 26,64%, dengan nilai
rata-rata 74,28 dan pada siklus II mengalami peningkatan sebesar 6,83%, dengan nilai
rata-rata kelas sebesar 81,11. Jadi peningkatan kemampuan menulis surat
permohonan siswa dari pratindakan sampai siklus II sebesar 33,47%. Peningkatan
kemampuan menulis surat permohonan siswa ini juga diikuti dengan perubahan
perilaku negatif menjadi perilaku positif. Pada siklus II siswa semakin aktif dan
senang dalam proses pembelajaran.
        Dari hasil penelitian tersebut, saran yang dapat diberikan peneliti antara lain:
(1) guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses pembelajaran seyogyanya
berperan sebagai fasilitator dan motivator, karena dengan begitu pembelajaran akan
menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi siswa; (2) pendekatan kontekstual
elemen konstruktivisme dapat dijadikan alternatif pilihan guru dalam proses
pembelajaran di dalam dan di luar kelas; (3) penerapan konstruktivisme sebagai
upaya untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa hendaknya disesuaikan dengan
materi pelajaran yang sedang dibahas, mengingat penerapan pendekatan tersebut
belum tentu cocok untuk diterapkan pada semua materi pelajaran; (4) guru Bahasa
dan Sastra Indonesia harus dapat memilih metode yang tepat dalam menerapkan
pendekatan konstruktivisme, sehingga dalam proses pembelajaran siswa benar-benar
berkesempatan untuk dapat mengkonstruksikan konsep-konsep yang benar dalam
struktur kognitifnya.




                                          iii
                              KATA PENGANTAR



        Segala puji dan syukur peneliti panjatkan ke hadirat Tuhan Yang

Mahakuasa yang telah melimpahkan anugerah, tuntunan, dan lindungan-Nya,

sehingga peneliti masih diberi kekuatan untuk menyelesaikan skripsi dengan judul

Peningkatan   Kemampuan      Menulis   Surat   Permohonan    dengan   Pendekatan

Kontekstual Elemen Konstruktivisme pada Siswa Kelas VII SMP Negeri 5 Semarang

Tahun Pengajaran 2004/2005. Penyusunan skripsi ini sebagai syarat akhir untuk

memperoleh gelar Sarjana Pendidikan.

        Selesainya skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari

berbagai pihak yang sangat berguna bagi penulis. Oleh karena itu, perkenankanlah

penulis mengucapkan terima kasih kepada :

   1. Prof. Dr. Rustono selaku Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri

       Semarang yang telah memberikan izin penelitian;

   2. Drs. Mukh. Doyin, M.Si. selaku Ketua Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia

       yang telah memberikan izin dalam penyusunan skripsi ini;

   3. Drs. Wagiran, M.Hum., dosen pembimbing I yang telah memberikan

       bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini;

   4. Dra. Mimi Mulyani, M.Hum., dosen pembimbing II yang telah memberikan

       bimbingan dan pengarahan dalam penyusunan skripsi ini;

   5. Drs. Subagyo selaku Kepala Sekolah SMP Negeri 5 Semarang yang telah

       memberikan izin penelitian;

                                       viii
   6. Lies Mardiana, S.Pd. selaku guru Bahasa dan Sastra Indonesia di SMP Negeri

       5 Semarang yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian;

   7. Semua pihak yang telah memberi bantuan dan motivasi dalam menyelesaikan

       skripsi ini.

         Peneliti menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penulisan

skripsi ini. Oleh karena itu, kritik dan saran sangat diharapkan guna sempurnanya

skripsi ini. Akhirnya, semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.



                                                                          Peneliti




                                         ix
x
                                                                                    1



                                        BAB I

                                PENDAHULUAN



1.1 Latar Belakang Masalah

          Mulai tahun pengajaran 2004 kurikulum di Indonesia akan diwarnai

   dengan penerapan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Kurikulum ini

   mempunyai beberapa karakteristik, yaitu (a) menekankan pencapaian kompetensi

   siswa, (b) kurikulum dapat diperluas, diperdalam, dan disesuaikan dengan potensi

   siswa, (c) berpusat pada siswa, (d) orientasi pada proses dan hasil, (e) pendekatan

   dan metode yang digunakan beragam dan bersifat kontekstual, (f) guru bukan

   satu-satunya sumber ilmu pengetahuan, (g) buku pelajaran bukan satu-satunya

   sumber belajar, (h) belajar sepanjang hayat (Nurhadi 2004:19).

          Berdasarkan pengamatan dan informasi media massa, umumnya beberapa

   sekolah telah menjadi plot implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

   SMP Negeri 5 Semarang merupakan salah satu SMP yang tengah menyiapkan

   diri terhadap implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Berbagai

   usaha telah diupayakan untuk menyongsong implementasi Kurikulum Berbasis

   Kompetensi (KBK) tersebut seperti hal-hal berikut ini.

   1. Mendorong guru memahami Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

   2. Mengirim guru mengikuti seminar atau workshop Kurikulum Berbasis

      Kompetensi (KBK).

   3. Menyiapkan perangkat atau fasilitas yang dibutuhkan.
                                    1
                                                                             2



       Namun demikian, SMP Negeri 5 Semarng merupakan satu dari SMP di

Kota Semarang yang tampak belum siap menerapkan prinsip Kurikulum Berbasis

Kompetensi (KBK), salah satu penyebab ketidaksiapan SMP Negeri 5 Semarang

adalah kurangnya kreativitas dan motivasi para guru dalam menciptakan kegiatan

belajar-mengajar yang berorientasi pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK).

       Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) merupakan kurikulum yang

menggunakan pendekatan kompetensi yang menekankan pada pemahaman,

kemampuan, atau kompetnsi tertentu di sekolah yang berkaitan dengn pekerjaan

yang ada di masyarakat. Kurikulum Berbasis Kompetensi ini menggunakan

standar kompetensi yang memperhatikan perbedaan individu, baik kemampuan,

kecepatan belajar, maupun konteks sosial budaya (Mulyasa 2002:166).

       Bahasa    memungkinkan       manusia       untuk   saling   berhubungan

(berkomunikasi), saling berbagi pengalaman, saling belajar dari orang lain, dan

untuk meningkatkan kemampuan intelektual. Adapun kesastraan merupakan salah

satu sarana untuk menuju pemahaman tersebut. Kurikulum Berbasis Kompetensi

mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia adalah salah satu program untuk

mengembangkan pengetahuan, keterampilan berbahasa, dan sikap positif terhadap

Bahasa dan Sastra Indonesia (Depdiknas 2003:2).

       Berkomunikasi dapat dilakukan secara lisan maupun tertulis. Untuk

komunikasi secara lisan orang menggunakan keterampilan menyimak dan

berbicara, sedangkan dalam komunikasi secara tertulis orang memanfaatkan

keterampilan membaca dan menulis. Keterampilan menulis sebagai salah satu
                                                                               3



cara berkomunikasi dapat diartikan sebagai kemampuan seseorang dalam

menyusun dan menggunakan bahasa secara tertulis dengan baik dan benar,

sehingga apa yang ditulis, apa yang hendak disampaikan kepada orang lain bisa

diterima oleh pembaca atau orang lain dengan tepat sesuai dengan apa yang ada

dalam pikiran penulis. Keterampilan menulis dipergunakan untuk berkomunikasi

secara tidak langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Selain itu,

keterampilan menulis tidak datang secara otomtis, melainkan harus melalui

latihan dan praktik yang kontinyu.

         Komunikasi secara tidak langsung dapat dilakukan dengan menggunakan

bahasa tulis. Sarana komunikasi tertulis yang dapat digunakan untuk

menyampaikan informasi kepada pihak lain adalah surat. Menulis surat bertujuan

untuk menyampaikan informasi secara tertulis kepada pemberi informasi tidak

mungkin berhadap-hadapan dengan penerima informasi dan tidak mungkin

menggunakan media lain karena alasan tertentu. Jadi surat adalah sarana salah

satu sarana komunikasi tertulis untuk menyampaikan informasi dari satu pihak

(orang, instansi, atau organisasi) kepada pihak lain. Apabila surat yang dikirim

dari satu pihak kepada pihak lain berisi tentang informasi yang menyangkut

kepentingan tugas dan kegiatan dinas instansi yang bersangkutan disebut surat

resmi.

         Menyadari pentingnya peranan surat resmi dalam kehidupan sehari-hari,

dalam pembelajaran menulis surat resmi guru harusnya menelaah lebih jauh lagi

keberadaan dan kebenaran surat resmi yang ditulis oleh siswa, di mana hasil kerja
                                                                              4



siswa nanti dapat digunakan sebagai sarana komunikasi tertulis. Jadi, siswa

dituntut untuk mampu membuat surat resmi dengan bentuk dan bahasa yang baik

dan benar.

       Berdasarkan uraian di atas, pembelajaran menulis surat resmi menduduki

peranan penting dalam upaya meningkatkan keterampilan menulis. Untuk itu,

guru hendaknya memberikan perhatian yang lebih terhadap siswa tentang sejauh

mana kemampuan siswa dalam menulis surat resmi agar nanti setelah terjun di

masyarakat siswa tidak mengalami kesulitan atau keraguan tentang bentuk dan

bahasa dalam menulis surat resmi. Selama ini dalam membuat surat khususnya

surat resmi siswa hanya meniru bentuk-bentuk dan bahasa yang dilihat sehingga

tidak mengetahui secara tepat apakah bentuk-bentuk dan bahasa surat itu sudah

sesuai dengan aturan yang ada atau belum?

       Dari observasi di kelas, peneliti menemukan fenomena bahwa pada saat

diberi kesempatan menulis surat resmi, siswa banyak melakukan kesalahan.

Kesalahan-kesalahan tersebut dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor di antaranya

adalah faktor guru, faktor orang tua, dan faktor lingkungan yang sangat

berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan menulis siswa. Guru yang

kurang aktif dan kreatif, orang tua yang tidak pernah memberikan dorongan

menulis kepada anak, dan lingkungan yang kurang mendukung pendidikan.

       Berdasarkan hasil wawancara dengan guru mata pelajaran bahasa dan

sastra Indonesia SMP Negeri 5 Semarang yang mengajar di kelas VII A, saat ini

kemampuan menulis surat resmi kelas tersebut sangat rendah dibandingkan
                                                                              5



dengan kelas-kelas VII yang lain. Adapun rendahnya kemampuan siswa dalam

menulis surat resmi disebabkan masih banyaknya kesalahan pada aspek

kebahasaan dan sistematika dalam penulisan surat resmi. Sedangkan, hasil

wawancara dengan siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang tahun pengajaran

2004/2005 tentang menulis surat resmi menunjukkan bahwa sebanyak 31 siswa

tidak senang dan mengalami kesulitan dalam menulis surat resmi dan 16 siswa

lainnya mengatakan senang dan tidak mengalami kesulitan dalam menulis surat

resmi. Selain itu, pada umumnya mereka tidak termotivasi dalam menulis surat

resmi. Hal ini disebabkan metode yang digunakan guru cenderung membosankan.

       Usaha untuk meningkatkan pembelajaran menulis surat resmi sebenarnya

telah banyak dilakukan guru, tetapi proses belajar mengajar yang berlangsung

masih cenderung pada pengajaran yang kurang mengembangkan aktivitas belajar

siswa. Seperti yang terjadi pada observasi awal aktivitas cenderung lebih banyak

ceramah dengan hanya menerangkan hal-hal yang berhubungan dengan teori

menulis. Selain itu, guru juga kurang bervariasi dalam menggunakan metode dan

media pembelajaran, tidak banyak memberi pertanyaan, kurang merangsang

pemikiran siswa dan jarang memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengungkapkan ide atau gagasannya.

       Apabila cara-cara pengajaran yang kurang mengembangkan aktivitas

belajar siswa tetap dipertahankan, hal ini akan mematikan kreativitas berpikir

siswa. Oleh karena itu, perlu segera dilakukan upaya untuk meningkatkan

kemampuan meningkatkan kemampuan menulis siswa.
                                                                             6



         Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan

kemampuan dan minat siswa dalam menulis surat resmi, khususnya menulis surat

permohonan resmi adalah dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme dalam proses pembelajaran. Pendekatan kontekstual (Contextual

Teaching and Learning) merupakan konsep belajar yang membantu guru

mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan

mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan

anggota masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih

bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung secara alamiah dalam

bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan sekadar transfer

pengetahuan guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada

hasil.

         Dalam konstruktivisme guru berperan sebagai mediator dan fasilitator

yang membantu agar proses belajar-mengajar siswa berjalan baik, sehingga

proses belajar-mengajar bukanlah sekadar kegiatan memindahkan pengetahuan

dari guru ke siswa, melainkan suatu kegiatan yang memungkinkan siswa

membangun sendiri pengetahuannya melalui serangkaian kegiatan-kegiatan yang

dapat dilakukan oleh siswa.

         Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual diharapkan

dapat mengatasi kesulitan dalam menulis surat resmi siswa SMP Negeri 5

Semarang, khususnya kelas VII A. Dalam pembelajaran tersebut guru akan
                                                                                 7



   mengaitkan materi yang diajarkan dengan dunia nyata siswa. Di samping itu,

   dalam pembelajaran tersebut akan dihadirkan elemen konstruktivisme.

          Selama proses pembelajaran berlangsung, guru harus lebih aktif

   memberikan     pertanyaan-pertanyaan     yang   merangsang   pemikiran    siswa,

   menciptakan persoalan, dan memberi kesempatan kepada siswa untuk

   mengungkapkan gagasan dan konsepnya. Dari semua itu, yang terpenting adalah

   menghargai dan menerima pemikiran siswa apapun adanya sambil menunjukkan

   apakah pemikiran itu benar atau salah.

          Aktivitas semacam ini belum pernah dilakukan oleh guru, maka peneliti

   merasa tertarik untuk melakukan penelitian ini dengan menerapkan pendekatan

   kontekstual elemen konstruktivisme dalam proses pembelajaran. Dengan

   pendekatan ini, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis

   surat resmi, khususnya surat permohonan.



1.2 Identifikasi Permasalahan

          Suasana tidak aktif yang sering muncul dalam proses pembelajaran

   menulis surat resmi menimbulkan berbagai pertanyaan yaitu faktor-faktor apakah

   yang menyebabkan pembelajaran menulis surat resmi tidak aktif? Usaha-usaha

   apakah yang harus dilakukan agar siswa senang dengan kegiatan menulis surat

   resmi? Oleh karena itu, perlu segera dilakukan upaya untuk meningkatkan minat

   siswa dalam belajar menulis surat resmi dengan cara mengaktifkan siswa.
                                                                             8



       Selama ini pembelajaran menulis, terutama menulis surat resmi kurang

mendapat perhatian dari guru, sehingga guru tidak mengetahui bagaimana

sebenarnya hasil tulisan siswa. Penggunaan pendekatan atau metode yang kurang

tepat oleh guru dalam proses pembelajaran adalah salah satu penyebabnya.

Metode ceramah dijadikan sebagai pilihan utama dalam proses pembelajaran dan

selama ini sumber utama pengetahuan adalah guru.

       Selain faktor guru, siswa juga menentukan berhasil tidaknya pembelajaran

menulis, khususnya menulis surat resmi. Faktor itu adalah kurang sukanya siswa

terhadap pembelajaran menulis surat resmi. Kekurangsukaan siswa dalam

pembelajaran menulis surat resmi disebabkan kurang variatifnya pembelajaran

menulis surat resmi. Guru hanya menerangkan tentang teori-teori menulis surat

resmi saja. Harusnya guru lebih banyak menghadirkan situasi dan pengalaman

nyata bagi siswa sehingga pengetahuan akan lebih bermakna.

       Siswa kurang latihan menulis surat resmi juga merupakan faktor penyebab

kemampuan menulis surat resmi sangat rendah. Umumnya siswa membuat surat

resmi hanya untuk memenuhi tugas dari guru saja. Mereka tidak pernah

menerapkan pengetahuan menulis surat resmi ke dalam kehidupan sehari-hari.

Misalnya, membuat surat resmi untuk kegiatan di sekolah maupun kegiatan di

masyarakat.

       Untuk menarik minat siswa dalam menulis surat permohonan resmi

dengan ketentuan-ketentuan dan kaidah bahasa yang benar perlu dilakukan upaya

untuk meningkatkan minat siswa dalam belajar menulis surat permohonan resmi
                                                                              9



   dengan cara mengaktifkan siswa. Dalam hal ini, selama proses pembelajaran

   berlangsung guru harus lebih aktif memberikan pertanyaan-pertanyaan yang

   merangsang pemikiran siswa, menciptakan persoalan, dan memberikan

   kesempatan siswa untuk mengungkapkan gagasan dan konsepnya. Dari semua itu,

   yang terpenting adalah menghargai dan menerima pemikiran siswa apapun

   adanya sambil menunjukkan pemikiran itu benar atau salah. Oleh karena itu,

   dalam menerapkan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme guru harus

   lebih aktif memberi pertanyaan kepada siswa, menciptakan persoalan,

   mengungkapkan gagasan dan konsepnya, dan menghargai semua pemikiran siswa

   sehingga diharapkan siswa lebih aktif dan senang selama proses pembelajaran

   berlangsung.



1.3 Pembatasan Masalah

          Dari beberapa hal yang melatarbelakangi permasalahan di atas, peneliti

   mengambil satu batasan permasalahan yaitu kemampuan siswa dalam menulis

   surat resmi belum memuaskan. Pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme

   diharapkan dapat meningkatkan kemampuan siswa dalam menulis surat resmi

   sehingga kegiatan belajar-mengajar menjadi lebih baik.



1.4 Rumusan Masalah

          Berdasarkan pada latar belakang yang telah disampaikan di atas,

   permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
                                                                                       10



1.4.1    Bagaimanakah peningkatan kemampuan menulis surat permohonan resmi

         siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang setelah mengikuti pembelajaran

         dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme?

1.4.2    Bagaimanakah perubahan tingkah laku siswa kelas VII A SMP Negeri 5

         Semarang setelah mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi

         dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme?



1.5 Tujuan Penelitian

              Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1.5.1 Mendeskripsikan kemampuan menulis surat permohonan resmi siswa kelas VII

        A SMP N 5 Semarang dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.

1.5.2 Mendeskripsikan tingkah laku siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang

        setelah mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

        pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.



1.6 Manfaat Penelitian

              Adapun manfaat penelitian ini adalah manfaat teoretis dan manfaat

   praktis.

1.6.1 Manfaat Teoretis

        Penelitian ini bermanfaat untuk mengembangkan teori pembelajaran menulis

        dan penerapan strategi pembelajaran menulis yang tepat dengan menggunakan

        pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.
                                                                              11



1.6.2 Manfaat Praktis

1.6.2.1 Bagi Guru

       Guru bahasa dan sastra Indonesia akan memperoleh pengalaman langsung

       dalam menerapkan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme dalam

       pembelajaran menulis. Selain itu, keterampilan guru dalam memilih strategi

       pembelajaran yang bervariasi dapat meningkat dan dapat memperbaiki sistem

       pembelajaran dengan siswanya.

1.6.2.2 Bagi Siswa

       Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi siswa di kelas yaitu memudahkan

       siswa dalam menyusun surat permohonan resmi dan sebagai bekal untuk

       hidup bermasyarakat dalam berkomunikasi secara tidak langsung melalui

       surat.

1.6.2.3 Bagi Sekolah

       Dapat memberikan sumbangan yang baik berupa perbaikan proses

       pembelajaran yang diharapkan dapat mengoptimalkan hasil belajar siswa pada

       khususnya dan meningkatkan kualitas sekolah pada umumnya.
                                                                  12




    PENINGKATAN KEMAMPUAN MENULIS
 SURAT PERMOHONAN DENGAN PENDEKATAN
 KONTEKSTUAL ELEMEN KONSTRUKTIVISME
PADA SISWA KELAS VII SMP NEGERI 5 SEMARANG
        TAHUN PENGAJARAN 2004/2005


                       SKRIPSI
         untuk mencapai gelar Sarjana Pendidikan


                          Oleh
            Nama       : Vita Kusmiati
            NIM        : 2101401007
            Prodi      : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
            Jurusan    : Bahasa dan Sastra Indonesia




        FAKULTAS BAHASA DAN SENI
      UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
                         2005
13
                                     BAB II

            KAJIAN PUSTAKA DAN LANDASAN TEORETIS



2.1 Kajian Pustaka

          Salah satu keterampilan berbahasa yang harus dikuasai dalam

   berkomunikasi adalah keterampilan menulis. Keterampilan menulis merupakan

   suatu proses berpikir yang dituangkan dalam bentuk tertulis. Ide atau gagasan

   tersebut kemudian dikembangkan dalam wujud rangkaian-rangkaian kalimat.

   Bila menulis dikaitkan dengan kegiatan membaca, pada prinsipnya menulis

   adalah untuk dibaca orang lain, agar orang lain dapat membaca tulisan tersebut

   dituntut adanya bahasa yang sama.

          Dari paparan di atas, penulis memandang bahwa selama ini banyak

   dijumpai penelitian yang berkaitan dengan upaya peningkatan pembelajaran

   menulis, terutama pembelajaran menulis surat resmi. Penelitian itu dilakukan oleh

   Mahmudah (2000), Giati (2000), dan Haryuni (2004).

          Mahmudah (2000) mengadakan penelitian yang berkaitan dengan surat

   resmi dengan judul Peningkatan Kemampuan Menulis Surat Undangan Resmi

   dengan Teknik Pelatihan Berjenjang pada Siswa Kelas II SLTP Negeri 3 Ungaran

   Tahun Ajaran 1999/2000 yang menjelaskan bahwa teknik pelatihan berjenjang

   dapat dijadikan salah satu alternatif oleh guru sebagai upaya meningkatkan

   kemampuan siswa dan tingkah laku siswa dalam menulis surat undangan resmi.

   Hasil penelitian menunjukkan kemampuan siswa dalam menulis surat undangan

   resmi pada siklus I sebanyak 71,74% termasuk kategori berkemampuan cukup.

   Pada siklus II siswa yang berkategori cukup tinggal 20,83% karena sebanyak

                                       12
                                        9
                                                                                13




27,08% menduduki kategori kemampuan baik sehingga terjadi peningkatan sebesar

45,85%.

           Perbedaan penelitian ini dengan penelitian Mahmudah (2000) terletak pada

masalah yang dikaji dan tindakan yang dilakukan peneliti untuk mengatasi

permasalahan tersebut. Dalam penelitian Mahmudah (2000) masalah yang dikaji

adalah peningkatan kemampuan menulis surat undangan resmi dan perubahan

perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran dengan menggunakan teknik

pelatihan berjenjang, sedangkan masalah yang dikaji peneliti adalah peningkatan

kemampuan menulis surat permohonan resmi dan perubahan perilaku siswa setelah

dilakukan pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan

kontekstual elemen konstruktivisme.

           Tindakan yang dilakukan Mahmudah (2000) untuk mengatasi permasalahan

tersebut adalah dengan menerapkan teknik pelatihan berjenjang dalam proses

pembelajaran menulis surat undangan resmi, sedangkan tindakan yang dilakukan

peneliti     adalah   dengan    menggunakan     pendekatan     kontekstual   elemen

konstruktivisme pada proses pembelajaran menulis surat permohonan.

           Giati   (2000)   dalam   penelitiannya   yang     berjudul   Peningkatan

Kemampuan Menulis Surat Resmi dengan Keterampilan Proses pada Siswa

Kelas II SLTP Negeri 1 Talang Kabupaten Tegal mengungkapkan bahwa

pembelajaran menulis surat resmi dengan pendekatan keterampilan proses

berhasil meningkatkan kemampuan menulis surat resmi siswa SLTP Negeri 1

Talang Kabupaten Tegal. Hasil penelitian membuktikan bahwa pembelajaran

menulis surat surat resmi dengan menggunakan pendekatan keterampilan proses

berhasil meningkatkan kemampuan menulis surat resmi siswa. Hal ini

dibuktikan dengan semakin meningkatnya rata-rata skor hasil tes yang
                                                                               14




diujicobakan pada siswa kelas II E SLTP Negeri 1 Talang. Rata-rata skor hasil

tes menulis surat resmi pada siklus I mencapai 6,70%. Sementara rata-rata skor

pada siklus II mencapai 7,12%. Dengan demikian, pembelajaran menulis surat

resmi   dengan    pendekatan    keterampilan    proses   berhasil   meningkatkan

kemampuan menulis surat resmi siswa sebesar 0,24%.

        Perbedaan penelitian Giati (2000) dengan penelitian penulis juga terletak

pada masalah yang dikaji dan tindakan yang dilakukan. Masalah yang dikaji dalam

penelitian Giati (2000) adalah apakah pendekatan keterampilan proses mampu

meningkatkan kemampuan menulis surat resmi siswa kelas II E SLTP Negeri 1

Talang, sedangkan tindakan yang dilakukan oleh Giati (2000) untuk mengatasi

permasalahan yang muncul dalam proses pembelajaran surat resmi adalah dengan

menggunakan pendekatan keterampilan proses.

        Berbeda dengan penelitian Giati (2000), masalah yang dikaji peneliti dalam

penelitian ini adalah peningkatan kemampuan menulis surat permohonan dan

perubahan perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran menulis surat

permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme dan

tindakan yang dilakukan peneliti adalah dengan menggunakan pendekatan

kontekstual elemen konstruktivisme.

        Haryuni (2004) dalam penelitiannya yang berjudul Peningkatan

Penguasaan EYD dalam Surat Dinas dengan Teknik Tubian pada Siswa Kelas

IE MTs Al Asror Patemon Gunung Pati mengkaji tentang peningkatan

penguasaan EYD dalam surat dinas pada siswa kelas IE MTs Al Asror Patemon

Gunung Pati dengan teknik tubian. Hasil pratindakan rata-rata kelas sebesar

47,71% dan pada siklus I diperoleh hasil rata-rata kelas sebesar 14,48%. Pada

siklus II diperoleh hasil rata-rata kelas sebesar 75,18%. Hal ini menunjukkan
                                                                                   15




    peningkatan dari siklus I dan siklus II sebesar 12,99%. Jadi peningkatan yang

    terjadi dari pratindakan sampai siklus II sebesar 27,47%.

           Penelitian yang dilakukan peneliti ini berbeda dengan penelitian Haryuni

    (2004). Masalah yang dikaji peneliti adalah peningkatan kemampuan menulis surat

    permohonan resmi dan perubahan perilaku siswa setelah dilakukan pembelajaran

    menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen

    konstruktivisme, sedangkan masalah yang dikaji dalam penelitian Haryuni (2004)

    adalah peningkatan penguasaan EYD dalam surat dinas dan perubahan perilaku

    siswa setelah proses pembelajaran teknik tubian. Tindakan yang dilakukan Haryuni

    (2004) adalah dengan menggunakan teknik tubian dalam proses pembelajaran,

    sedangkan tindakan yang dilakukan peneliti adalah menggunakan pendekatan

    kontekstual elemen konstruktivisme.

           Persamaan penelitian Mahmudah (2000), Giati (2000), dan Haryuni (2004)

    dengan penelitian yang dilakukan peneliti adalah sama-sama mengkaji masalah

    yang muncul dalam proses pembelajaran menulis surat resmi.

           Dari beberapa hasil penelitian di atas, penelitian tentang pembelajaran

    menulis surat resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme

    menjadi pelengkap dalam upaya memperkaya metode pembelajaran menulis

    surat resmi di sekolah.



2.2 Landasan Teoretis

           Landasan teoretis yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1)

    keterampilan menulis, (2) surat resmi, dan (3) pendekatan kontekstual (CTL).
                                                                                 16




2.2.1 Keterampilan Menulis

2.2.1.1 Hakikat Menulis

              Menulis adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik

    yang menggambarkan suatu bahasa yang dapat dipahami oleh seseorang

    sehingga orang lain dapat membaca dan memahami lambang-lambang grafik itu

    ( Tarigan 1982:21).

              Menulis merupakan suatu medium yang penting untuk ekspresi diri

    pribadi, untuk berkomunikasi, dan untuk menemukan makna. Kebutuhan-

    kebutuhan tersebut semakin bertambah oleh adanya perkembangan media baru

    untuk komunikasi massa. Oleh karena itu, praktik latihan dan studi menulis tetap

    merupakan bagian yang signifikan (penting) dari kurikulum sekolah dan

    menjadi bagian sentral dalam pengajaran bahasa Indonesia.

              Keterampilan menulis dipergunakan untuk berkomunikasi secara tidak

    langsung, tidak secara tatap muka dengan orang lain. Selain itu, keterampilan

    menulis tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan

    praktik yang kontinyu dan teratur.

              Menulis menurut Akhadiah, dkk. (1988:2) adalah kemampuan kompleks,

    yang menuntut sejumlah pengetahuan dan keterampilan. Dengan menulis,

    penulis terdorong untuk terus belajar secara aktif. Penulis menjadi penemu

    sekaligus pemecah masalah, bukan sekadar menjadi penyadap informasi dari

    orang lain. Penulis akan lebih mudah memecahkan permasalahannya, yaitu

    menganalisisnya secara tersurat dalam konteks yang lebih kongkret. Kegiatan

    menulis yang terencana akan membiasakan kita berpikir serta berbahasa secara

    tertib.
                                                                                17




            Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli di atas, maka dapat

    disimpulkan       bahwa   hakikat   menulis   adalah   suatu   kegiatan   untuk

    mengekspresikan diri dan perasaan yang dapat digunakan sebagai alat

    komunikasi secara tidak langsung.



2.2.1.2 Hakikat Pembelajaran Menulis

            Tarigan (1982:9) berpendapat bahwa pembelajaran menulis adalah; 1)

    membantu siswa memahami cara mengekspresikan bahasa dalam bentuk tulis;

    2) mendorong siswa mengekspresikan diri secara bebas dalam bahasa tulis; 3)

    membantu siswa menggunakan bentuk bahasa yang tepat dan serasi dalam

    ekspresi tulis.

            Soenardji (1998:102) berpendapat bahwa pembelajaran menulis jika

    dikaitkan dengan proses pendidikan secara makro termasuk salah satu komponen

    yang sengaja disiapkan dan dilaksanakan oleh pendidik untuk menghasilkan

    perubahan tingkah laku sesudah kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Perubahan

    tingkah laku dalam pembelajaran menulis merupakan hasil pengaruh kemampuan

    berpikir, berbuat, dan merasakan perihal apa yang disampaikan sebagai bahan

    pembelajaran menulis.

            Bertumpu pada pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa pembelajaran

    menulis adalah upaya membantu dan mendorong siswa mengekspresikan bahasa

    dalam bentuk tulis, atau komponen yang disiapkan pendidik untuk menghasilkan

    perubahan tingkah laku dalam pembelajaran menulis.
                                                                                         18




2.2.2 Surat Resmi

2.2.2.1 Hakikat Surat Resmi

           Surat resmi atau surat dinas ialah komunikasi tertulis yang menyangkut

    kepentingan tugas dan kegiatan instansi. Menurut Arifin (1987:6) surat resmi

    adalah surat yang oleh suatu badan perusahaan, organisasi atau instansi tertentu.

    Oleh sebab itu, surat itu dapat berupa surat niaga, surat sosial, dan surat dinas.

           Kosasih, dkk. (2003:16) mengatakan bahwa surat resmi atau surat dinas

    adalah surat yang digunakan dalam kepentingan fungsi kedinasan, baik dinas

    pemerintah maupun dinas swasta. Surat ini umumnya bersifat resmi dengan

    menggunakan bahasa Indonesia yang baku.

           Dari kedua pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa surat resmi atau

    surat dinas adalah bentuk komunikasi tertulis dari satu pihak kepada pihak lain

    yang menyangkut kepentingan dinas atau organisasi.



2.2.2.2 Macam-Macam Surat Resmi

           Kosasih,     dkk.   (2003:115)     membagi      surat   resmi    berdasarkan

    maksud/isinya adalah sebagai berikut.

    a. Surat Undangan

                Surat undangan adalah surat yang berisikan ajakan atau permintaan

        agar si terkirim turut serta pada kegiatan yang diadakan oleh pengirim surat.

                Surat undangan, antara lain, ditandai oleh kalimat seperti berikut.

            1. Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara untuk hadir pada

                ….

            2. Kami mengharapkan kehadiran Saudara dalam acara ….
                                                                          19




      3. Dimohon Anda hadir untuk ….

b. Surat Pengantar

          Surat pengantar adalah surat yang berfungsi mengantarkan

   pengiriman sesuatu. Yang diantarkan dapat berupa barang, surat ataupun

   yang lainnya. Surat ini ditandai oleh penggunaan kalimat, seperti:

      1. Bersama surat ini kami kirimkan jadwal rapat ….

      2. Bersama ini kami kirimkan kepada Bapak tiga contoh surat

          undangan ….

      3. Bersama ini kami sampaikan fotokopi brosur ….

          Di samping berupa surat biasa, surat pengantar dapat pula disusun

   dalam bentuk blangko.

c. Surat Pemberitahuan

          Surat pemberitahuan adalah surat yang isinya mengemukakan

   sesuatu kepada orang lain agar orang itu mengetahuinya. Sesuatu yang perlu

   diketahui itu dapat berupa kegiatan, orang, atau benda.

          Surat pemberitahuan dapat ditandai oleh pernyataan-pernyataan

   berikut.

      1. Dengan ini kami beritahukan bahwa kami menyetujui kebijakan

          Saudara ….

      2. Dengan surat ini kami beritahukan bahwa karyawan kami yang

          bernama ….

      3. Berhubungan dengan surat kami … , dengan ini kami beritahukan

          bahwa ….
                                                                          20




d. Surat Keterangan

          Surat keterangan adalah surat yang menjelaskan atau menerangkan

   sesuatu (orang). Surat keterangan ditandai oleh pernyataan-pernyataan

   berikut.

      1. Yang bertanda tangan di bawah ini

              Nama                        :…

              Jabatan                     :…

              Alamat                      :…

              Menerangkan bahwa           :…

      2. Yang bertanda tangan di bawah ini … , dengan ini menerangkan

          bahwa ….

      3. Dengan surat ini kami menerangkan bahwa ….

e. Surat Rekomendasi

          Surat rekomendasi adalah surat yang isinya memberikan keterangan

   bahwa orang yang disebutkan itu dapat dipercaya, baik itu dalam hal

   kemampuan, keahlian, maupun kepribadiannya.

          Surat rekomendasi ditandai oleh pernyataan berikut.

      1. Kepala … memberikan rekomendasi kepada ….

      2. Atas        profesionalismenya   di   bidang   kepemimpinan,   kami

          merekomendasikan Saudara … untuk ….

      3. Berhubung dengan surat Saudara … , dengan ini kami beritahukan

          bahwa kami tidak berkeberatan atas ….
                                                                          21




f. Surat Penunjukan

          Surat penunjukan adalah surat yang berisikan pemberian jabatan atau

   wewenang kepada seseorang. Surat ini ditandai oleh pernyataan-pernyataan

   berikut.

      1. Kepala … dengan ini menunjuk pegawai di bawah ini untuk menjadi

          …

      2. Berhubung dengan ketidakhadiran Saudara …, dengan ini kamu

          menunjuk … untuk menjadi ….

      3. Dalam rangka pelaksanaan kegiatan …, kami menunjuk ….

g. Surat Tugas

          Surat tugas adalah surat yang berisikan suruhan atau perintah untuk

   melakukan sesuatu dengan memperhatikan aspek pelaksanaan atau kegiatan.

   Pernyataan yang menandai surat tugas adalah sebagai berikut.

      1. Yang bertandatangan di bawah ini … , dengan ini kami menugasi

          Saudara ….

      2. Berdasarkan … , dengan ini kami menugasi ….

      3. Pemimpin … , dengan ini menugasi ….

h. Surat Pengumuman

          Surat pengumuman adalah surat yang menyampaikan suatu

   informasi atau pemberitahuan kepada orang banyak. Surat pengumuman

   ditandai oleh pernyataan seperti berikut.

      1. Berdasarkan … , dengan ini kami umumkan bahwa ….

      2. Dengan ini kami umumkan kepada … bahwa ….

      3. Dalam rangka … , dengan ini kami umumkan bahwa ….
                                                                             22




i. Surat Edaran

          Surat edaran hampir menyerupai surat pengumuman, bedanya pihak

   yang dituju masih berada pada satu struktur. Isi surat edaran biasanya

   berupa anjuran, pemberitahuan, permintaan, peraturan, tawaran, ataupun

   larangan.

          Surat edaran ditandai oleh pernyataan-pernyataan berikut.

      1. Dalam      rangka    melaksanakan      …,    kami       mohon   Saudara

          memperhatikan ….

      2. Berdasarkan surat keputusan …, maka dipandang perlu ….

      3. Untuk menindaklanjuti peraturan … , dengan ini kami atur bahwa

          ….

j. Surat Permohonan

          Surat permohonan berisikan permintaan terhadap si terkirim

   mengenai sesuatu hal.     Yang diminta bisa berupa kebijakan, misalnya

   berupa izin penyelenggaraan suatu kegiatan, permintaan jasa, atau pun

   barang. Surat ini ditandai oleh pernyataan sebagai berikut.

      1. Untuk itu, kami memohon izin agar dapat menggunakan ….

      2. Dengan surat ini kami mohon menggunakan ruangan ….

      3. Melalui surat ini kami memohon Bapak untuk memberikan ceramah

          …

          Untuk sampai pada permohonannya, penulis surat hendaknya

   mengajukan latar belakang atau sejumlah alasan. Alasan-alasan haruslah

   jelas dan meyakinkan. Bila perlu, penulis mengemukakan fakta atau data

   yang memperkuat alasan-alasannya itu agar pihak termohon lebih

   meyakininya untuk kemudian mengabulkan permohonan itu.
                                                                            23




k. Surat Pemberian Izin

          Surat pemberian izin adalah surat yang digunakan untuk memberi

   izin kepada seseorang. Surat ini biasanya didahului oleh suatu permintaan

   atau permohonan. Kalimat awal dalam surat ini sering didahului oleh

   pernyataan-pernyataan berikut.

      1. Berdasarkan surat dari … , kami mengizinkan ….

      2. Dengan surat ini kami mengizinkan Saudara ….

      3. Berkenaan dengan surat nomor … , dengan ini kami beritahukan

          bahwa kami … menyetujui ….

l. Surat Peringatan

          Surat peringatan adalah surat yang berisikan teguran kepada

   penerima surat karena bersangkutan melakukan kesalahan atau pelanggaran-

   pelanggaran.   Surat   peringatan     ditandai   oleh   alasan-alasan   yang

   melatarbelakangi dikeluarkannya peringatan itu. Surat peringatan ditandai

   oleh pernyataan-pernyataan berikut.

      1. Karena pada bulan … , dengan ini kami minta Saudara untuk ….

      2. Karena tahun ini Saudara telah … , maka kami memutuskan untuk

          ….

      3. Dengan ini saya minta Saudara agar mendisiplinkan diri sehubungan

          ….

m. Surat Bantahan

          Surat bantahan adalah surat yang berisikan penolakan atau

   sanggahan atas tuduhan yang dikenakan penulis. Surat ini ditandai oleh

   pernyataan berikut.

      1. Kami … , dengan ini mengadakan bantahan sebagai berikut ….
                                                                             24




      2. Sehubungan dengan surat Saudara nomor … , dengan ini kami

           menolak tuduhan tersebut dengan alas an ….

      3. Dengan ini kami nyatakan bahwa kami tidak mengakui semua

           tuduhan dalam surat kabar … yang Saudara alamatkan pada

           perusahan kami ….

n. Surat Pernyataan

           Surat pernyataan adalah surat yang digunakan untuk permakluman.

   Isinya dapat berupa pernyataan kesediaan menduduki jabatan, penjelasan

   pelaksanaan tugas, pernyataan belum bekerja, dsb.

           Surat pernyataan ditandai oleh kalimat-kalimat seperti berikut.

      1. Dengan surat ini kami … menyatakan bahwa ….

      2.    Yang bertandatangan di bawah ini … menyatakan dengan

           sesungguhnya bahwa ….

o. Surat Perintah

           Surat perintah adalah surat yang berisikan suruhan kepada seseorang

   untuk melakukan suatu perbuatan atau kegiatan. Surat ini ditandai oleh

   pernyataan-pernyataan berikut.

      1. Yang bertanda tangan di bawah ini … memberikan perintah untuk

           … kepada ….

      2. Dengan ini … memerintahkan … untuk ….

p. Surat Keputusan

           Surat keputusan adalah surat yang berisikan suatu kebijakan atau

   ketetapan yang didasarkan alasan-alasan atau latar belakang tertentu.

   Dengan demikian surat keputusan terbagi ke dalam dua bagian, bagian

   pertama disebut konsideran dan bagian kedua disebut diktum. Surat ini
                                                                               25




   hanya    boleh     dibuat   dan   dikeluarkan   oleh   pejabat    yang   berhak

   mengeluarkannya.

q. Surat Pengusulan

           Surat pengusulan adalah surat yang digunakan untuk pengusulan

   sesuatu. Surat ini ditandai oleh pernyataan-pernyataan berikut.

      1. Berhubung dengan hal di atas, kami mengusulkan Saudara ….

      2. Berkaitan dengan … , bersama ini kami kirimkan ….

r. Surat Kuasa

           Surat kuasa adalah surat yang berisikan pemberian wewenang atas

   sesuatu atau untuk menentukan(memerintah, mewakili, mengurus) sesuatu.

   Ciri dari surat kuasa adalah ada si pemberi kuasa dan penerima kuasa.

           Surat kuasa ditandai oleh pernyataan seperti berikut.

      1. Yang bertanda tangan di bawah ini … memberikan kuasa kepada

           untuk .…

      2. Dengan surat ini kami … memberikan kuasa kepada … untuk ….

s. Surat Berita Acara

           Surat berita acara adalah surat yang berisikan keterangan mengenai

   suatu perkara atau peristiwa. Surat berita acara ditandai oleh pernyataan

   yang menerangkan sesuatu yang bersifat kronologis. Contohnya adalah

   sebagai berikut.

      1. Pada hari … ,tanggal .... , bertempat di … , saya … telah

           mengangkat sumpah saudara ….

      2. Pada hari ... , tanggal … , bertempat … , kami … mengadakan serah

           terima ….
                                                                                   26




    t. Surat Laporan

               Surat laporan adalah surat yang berfungsi untuk menyampaikan

        informasi sebagai bukti tanggung jawab penulis atas tugas yang telah

        dilaksanakannya. Surat ini ditandai pernyataan berikut.

           1. Dengan surat ini kami laporkan bahwa ….

           2. Berhubung dengan surat dari … , kami melaporkan bahwa ….

    u. Surat Perjanjian

               Surat perjanjian adalah surat yang digunakan untuk mengadakan

        persepakatan antara dua pihak berkaitan dengan satu urusan. Surat

        perjanjian dapat berupa rincian pasal-pasal dan dapat pula berupa

        pernyataan biasa. Isinya antara lain mengatur kewajiban dan hak kedua

        belah pihak.



2.2.2.3 Syarat Surat Resmi yang Baik

           Surat resmi sebagai sarana komunikasi tertulis sebaiknya menggunakan

    format menarik, tidak terlalu panjang, serta memahami batasan yang jelas,

    padat, dan sesuai dengan aturan yang ada.

           Menurut Arifin (1990:12) format surat dikatakan baik jika letak bagian-

    bagian surat teratur sesuai ketentuan. Bagian-bagian surat dinas tidak ditempatkan

    seenaknya menurut keinginan penulis surat. Surat resmi diusahakan tidak terlalu

    panjang agar tidak menjemukan. Bahasa surat jelas, mudah ditangkap, dan unsur-

    unsur gramatikal seperti subjek dan predikatnya dinyatakan tegas. Tanda baca pun

    harus digunakan dengan tepat. Bahasa surat dikatakan padat jika langsung

    mengungkapkan isi pokok pikiran yang ingin disampaikan. Bahasa surat dikatakan
                                                                                    27




    adab bila sopan dan tidak menyinggung perasaan si penerima surat. Selain itu, surat

    resmi atau surat dinas harus bersih dan rapi.



2.2.2.3.1 Bagian-Bagian Surat Resmi

            Kaidah penulisan bagian surat resmi oleh Kosasih, dkk. (2003:21-42) yaitu

    sebagai berikut.



    1. Kepala Surat

                Sesuai dengan namanya, kepala surat selalu terletak di bagian atas isi

        surat. Fungsinya sebagai identitas diri bagi instansi bersangkutan.

       Kepala surat terdiri dari:

        a. nama instansi

        b. alamat lengkap

        c. nomor telepon (apabila ada)

        d. nomor kotak pos (apabila ada)

        e. alamat kawat (apabila ada)

        f. lambang atau logo

                Nama instansi ditulis dengan menggunakan huruf kapital dan tidak

        boleh disingkat. Alamat surat yang terdiri dari nomor telepon, kotak pos, dan

        alamat kawat ditulis setelah kota tempat instansi itu berada. Penulisannya

        dapat menggunakan huruf kapital tiap awal kata atau seluruh kepala surat

        tersebut ditulis dengan huruf kapital.
                                                                            28




   Contoh:

              DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL

    SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 5 SEMARANG

                   JALAN SULTAN AGUNG SEMARANG



2. Tanggal Surat

          Tanggal surat ditulis sejajar dengan nomor surat. Tanggal surat

   ditulis secara lengkap yaitu tanggal ditulis dengan angka, bulan ditulis

   dengan huruf, dan tahun ditulis dengan angka. Sebelum tanggal surat tidak

   ditulis nama kota karena sudah tercantum pada kepala surat. Setelah tahun

   tidak diikuti tanda baca apapun, seperti tanda titik, tanda koma, atau pun

   tanda hubung. Nama bulan tidak boleh disingkat, dan penulisannya harus

   cermat. Kota tempat pembuatan surat tidak ditulis karena sudah tertulis pada

   kepala surat.

   Contoh:

                               Kepala Surat

                                                       25 Agustus 2004



3. Nomor, Lampiran, dan Hal

          Kata nomor, lampiran, dan hal ditulis dengan diawali huruf kapital

   diikuti tanda titik dua dan ditulis secara simetris ke bawah sesuai panjang

   ketiga kata tersebut. Penulisan ketiga kata tersebut juga harus konsisten

   artinya apabila kata nomor tidak disingkat, maka kata lampiran tidak
                                                                           29




   disingkat pula. Begitu pula sebaliknya jika kata nomor, disingkat No, maka

   kata lampiran juga harus disingkat menjadi Lamp.

   Contoh:

              Nomor     : 120/V/PPHBI/2004

              Lampiran : satu berkas

              Hal       : Permohonan Izin

              atau

              No.       : 120/V/PPHBI/2004

              Lamp.     : satu berkas

              Hal       : Permohonan Izin



4. Alamat Surat

   Hal-hal yang perlu diprhatikan dalam penulisan alamat surat adalah sebagai

   berikut.

   a. Penulisan nama penerima surat harus lengkap dan cermat, maksudnya sesuai

      dengan kebiasaan yang dilakukan yang bersangkutan dan yang mempunyai

      nama.

   b. Nama diri penerima surat diawali huruf kapital pada setiap

      unsurnya,bukan seluruhnya ditulis huruf kapital.

   c. Penulisan alamat penerima surat harus lengkap, cermat, dan informatif.

          Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menulis alamat

   penerima surat sebagai berikut.
                                                                          30




1) Untuk menyatakan yang terhormat , pada awal penerima surat cukup

   ditulis Yth. Dengan huruf awal kapital disertai tanda titik tanpa

   mengguankan kata kepada sebelu Yth.

2) Kata sapaan seperti Ibu, Bapak , Saudara dapat digunakan pada alamat

   surat sebelum nama penerima surat. Kata Bapak/Ibu ditulis sebelum

   nama penerima surat. Huruf kapital digunakan pada awal kata tersebut

   dan tidak diakhiri dengan tanda baca pada kata tersebut. Kata saudara

   cukup ditulis Sdr. Dengan huruf awal kapital dan diakhiri tanda titik

   pada akhir singkatan tersebut.

3) Jika nama orang yang dituju bergelar akademik sebelum namanya,

   seperti Dr., dr., atau Drs. atau memiliki pangkat seperti kapten atau

   kolonel, kata sapaan Bapak/Ibu, atau Sdr. tidak digunakan.

   Contoh : Yth. Dr. Amir Hamzah

4) Kata sapaan tidak digunakan apabila yang dituju nama jabatan

   seseorang, agar tidak terhimpit dengan gelar, pangkat ,atau jabatan.

   Contoh: Yth. Kepala SMP N 5 Semarang

5) Kata jalan pada alamat surat tidak disingkat, tetapi ditulis penuh dengan

   huruf awal huruf kapital tanpa tanda titik atau tanda titik dua pada akhir

   kata tersebut. Nama jalan, gang, nomor, RT, RW, nam kota atau propinsi

   ditulis lengkap dengan huruf awal huruf kapital setiap unsurnya dan

   tidak diberi garis bawah serta tidak diakhiri tanda baca apapun.

   Contoh: Yth. Ardi

           Jalan Pattimura No. 5 Salatiga

           Semarang
                                                                                   31




   6) Nama alamat yang dituju hendaknya nama orang yang disertai nama

      jabatan, atau nama jabatannya saja dan bukan nama instansinya.

      Contoh:

                Yth. Kepala SMP N 5 Semarang

                Jalan Sultan Agung

                Semarang



5. Isi Surat

          Pada dasarnya isi surat terdiri dari tiga bagian, yaitu bagian pertama

   merupakan paragraf pembuka, bagian kedua paragraf isi, dan bagian ketiga

   paragraf penutup. Paragraf pembuka surat adalah pengantar isi surat untuk

   mengajak pembaca surat menyesuaikan perhatiannya kepada pokok surat yang

   sebenarnya. Paragraf isi merupakan pokok surat yang memuat sesuatu yang

   diberitahukan. Isi surat harus singkat, lugas, dan jelas. Paragraf penutup dapat

   berisi harapan penulis atau berisi ucapan terima kasih kepada penerima surat.

          Sebelum paragraf pembuka diawali dengan salam pembuka,

   demikian pula setelah peragraf penutup diakhiri dengan salam penutup.

   Contoh salam pembuka:

                 Dengan hormat,

                 Assalamualaikum Wr. Wb.,

   Contoh salam penutup:

                 Hormat kami,

                 Salam takzim,

                 Wassalamualaikum Wr. Wb.,
                                                                                32




6. Nama Pengirim Surat

           Nama pengirim surat ditulis di sebelah bawah, disertai tanda tangan

   sebagai keabsahan surat dinas. Penulisan nama tidak perlu menggunakan

   huruf awal huruf kapital pada setiap unsur nama. Nama tidak perlu ditulis di

   dalam kurung, tidak diberi garis bawah, dan tidak diakhiri tanda titik. Nama

   jabatan dicantumkan di bawah nama pengirim.

   Contoh :

          Dra. Sulistyowati

          NIP 131611318



7. Tembusan

           Kata Tembusan ditulis dengan huruf awal huruf kapital diletakkan di

   sebelah kiri pada bagian kaki surat,lurus dengan nomor, lampiran, dan hal, serta

   sejajar dengan nama pengirim surat. Kata Tembusan diikuti tanda titik dua, tanpa

   garis bawah. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam penulisan tembusan adalah

   sebagai berikut.

   a. Apabila pihak yang diberi tembusan lebih dari satu, diberi nomor urut sesuai

       dengan jenjang jabatan, jika pihak yang diberi tembusan hanya satu tidak

       diberi nomor.

   b. Pihak yang diberi tembusan adalah nama jabatan atau nama orang dan bukan

       nama kantor atau instansi.

   c. Dalam tembusan tidak perlu digunakan ungkapan kepada Yth. atau Yth.

   d. Di belakang nama yang diberi tembusan tidak perlu diberi ungkapan untuk

       perhatian, sebagai laporan, atau ungkapan lain yang mengikat.
                                                                                    33




       e. Pada tembusan tidak perlu dicantumkan kata arsip atau pertinggal karena

           setiap surat dinas harus mempunyai arsip.

           Contoh tembusan hanya ditujukan pada satu tempat:

                  Tembusan :

                  Kepala Bagian Perlengkapan

           Contoh tembusan yang ditujukan ke beberapa tempat:

                  Tembusan:

                  1. Direktur CV AKASIA

                  2. Kepala Bagian Keuangan



2.2.2.3.2 Bahasa Surat Resmi

           Surat adalah salah satu sarana komunikasi tertulis yang ditulis oleh

    seseorang atau instansi atau organisasi yang ditujukan kepada pihak lain. Agar

    surat dapat mengemban tugasnya dengan baik sebagai sarana komunikasi

    tertulis, bahasa surat harusnya jelas, lugas, dan komunikatif. Jelas berarti bahasa

    yang digunakan memenuhi persyaratan kebahasaan, hubungan antarunsur dalam

    kalimat jelas yaitu subjek, predikat, objek, dan keterangan (SPOK).

           Lugas berarti bahasa yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda

    dan tidak menggunakan bahasa kiasan. Bentuk dan pilihan katanya sesuai

    dengan pedoman umum ejaan dan pilihan katanya, sesuai dengan pedoman

    umum ejaan yang disempurnakan, bahasa surat             tidak bertele-tele, tetapi

    langsung pada pokok persoalannya, bahasa yang digunakan efektif.

           Penggunaan ungkapan penghubung dalam suatu kalimat harus diperhatikan,

    banyak kesalahan dalam penggunaan ungkapan penghubung dalam kalimat,dan
                                                                            34




kesalahan-kesalahan tersebut tidak terasa. Oleh karena itu, penggunaan ungkapan

penghubung dalam kalimat diperlukan kecermatan.

        Komunikatif berarti ada kesamaan antara pikiran pembaca dan penulis

surat. Komunikatif ditentukan oleh kelogisan dan kesistematisan bahasa.

Kelogisan ditentukan oleh hubungan antar kalimat dan antar alinea yang

memperlihatkan adanya kepaduan antara pikiran pembaca dan pikiran penulis

surat. Kesisteman adalah runtutnya pokok pikiran yang terdapat di dalam surat.

Pokok pikiran akan runtut apabila pilihan kata dan ejaan, istilah, dan ungkapan

sesuai dengan kaidah bahasa.

        Sampai tidaknya isi surat kepada pembaca sangat ditentukan oleh bahasa

yang digunakan. Oleh karena itu, dalam menulis surat aspek kebahasaan harus

diperhatikan. Aspek kebahasaan yang perlu diperhatikan dalam penulisan surat

resmi adalah sebagai berikut.



a.   Ejaan

             Dalam surat resmi atau surat dinas, bahasa yang digunakan adalah

     bahasa yang resmi atau bahasa baku. Penulisan ejaan harus sesuai dengan

     pedoman Ejaan yang Disempurnakan (EYD). Oleh karena itu, penulisan surat

     resmi harus menguasai kaidah-kaidah ejaan yang benar.

             Berikut contoh ejaan yang benar:

             a.n. (atas nama) bukan a/n (atas nama)

             u.b. (untuk beliau) bukan u/b (untuk beliau)

             Semarang, 20 Mei 2000 bukan Semarang, 20 - 5 –2000
                                                                                    35




             Jadi ejaan yang baik adalah ejaan yang ditulis sesuai dengan Pedoman

   Ejaan yang Disempurnakan.



b. Bentuk dan Pilihan Kata

             Dalam surat resmi bentuk dan pilihan kata memegang peranan penting.

   Kata-kata yang dipilih harus memenuhi persyaratan, yaitu baku, lazim dan

   cermat.

             Kata yang baik dan baku adalah kata yang sudah tersusun sebagai kata

   baku dalam bahasa Indonesia. Dalam hal ini adalah kecermatan dalam

   pemilihan kata-kata yang baku. Contoh kata baku dan tidak baku : bagaimana

   bukan gimana, mengapa bukan kenapa, Februari bukan Pebruari, paham

   bukan faham, kualitas bukan kwalitas, apotik bukan apotek, dan lain-lain.

             Kata yang lazim adalah kata-kata yang sudah dikenal masyarakat,

   penggunaan kata yang lazim diperlukan untuk mempermudah kita dalam

   berkomunikasi. Contoh kata-kata yang sudah lazim digunakan di masyarakat.

   Misalnya hasil, pendapatan, informasi, dan lain-lain.

             Kata yang cermat adalah kata yang digunakan dalam surat yang

   disesuaikan dengan keadaan dan pesan yang akan disampaikan. Di samping itu,

   penggunaan kata sapaan pun harus cermat, sesuai dengan kedudukan, tugas dan

   status orang yang dikirim surat. Misalnya: Bapak, Saudara, Ibu, dan lain-lain.

             Jadi, dapat disimpulkan bahwa penggunaan kata yang baik dalam surat

   resmi adalah kata yang digunakan harus baik, baku, lazim, dan cermat.
                                                                                36




c. Kalimat

           Inti persoalan surat terdapat pada isi surat. Dalam surat resmi,

   kalimat yang digunakan harus singkat, jelas, sesuai dengan kaidah bahasa,

   dan enak dibaca.

           Kalimat yang singkat adalah kalimat yang tidak panjang dan tidak

   bertele-tele. Jelas berarti terlihat adanya unsur subjek, predikat, objek, serta

   keterangan. Lugas berarti informasi yang disampaikan dapat dipahami atau

   komunikatif, sesuai dengan kaidah bahasa, artinya tidak menyimpang dari

   kaidah-kaidah bahasa. Perhatikan contoh kalimat-kalimat yang efektif

   berikut ini.

          (1) Atas perhatian Saudara, saya ucapkan terima kasih.

          (2) Kehadiran Bapak sangat kami harapkan dan untuk itu, kami

              ucapkan terima kasih.

           Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa kalimat yang baik

   adalah kalimat yang singkat, jelas, lugas, dan komunikatif.



d. Paragraf

           Surat yang baik adalah surat yang mampu melaksanakan tugasnya

   sebagai media informasi atau komunikasi. Kejelasan informasi yang

   disampaikan adalah faktor utama yang perlu diperhatikan. Berbagai gagasan

   yang dituangkan hendaknya diatur dan ditata dengan baik, sehingga mudah

   dipahami oleh penerima surat.
                                                                          37




          Gagasan-gagasan penulis diwujudkan dalam bentuk paragraf-

paragraf. Paragraf yang baik adalah paragraf yang memiliki keutuhan, yaitu

paragraf yang memiliki kesatuan dan kepaduan. Suatu paragraf dikatakan

memiliki kesatuan apabila paragraf itu hanya berbicara satu persoalan. Suatu

paragraf dikatakan memiliki kepaduan apabila kalimat-kalimat dalam

paragraf itu saling berhubungan dan berkaitan.

          Kepaduan kalimat dalam paragraf ditandai dengan adanya unsur-unsur

penghubung dalam kalimat, seperti sebab, selain itu, di samping itu, tetapi,

namun, dan lain-lain.

          Jadi dapat disimpulkan bahwa paragraf yang baik harus memperhatikan

kepaduan makna (koherensi) dan kepaduan bentuk (kohesi).

Contoh paragraf yang memiliki kesatuan dan kepaduan:

          Sehubungan dengan akan diselenggarakannya kemah bakti siswa-
siswi SMP Negeri 5 Semarang di wilayah Bapak, kami mengajukan
permohonan izin menggunakan Lapangan Desa Harapan Jaya dan
lingkungan sekitarnya.
          Adapun waktu pelaksanaannya :
hari          : Sabtu s.d. Minggu
tanggal       : 23-24 Mei 2003
          Atas perhatian dan kerjasama yang baik, kami mengucapkan terima
kasih.
          Berdasarkan uraian di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

bahasa surat resmi yang baik adalah bahasa yang digunakan harus jelas, lugas,

dan komunikatif. Jelas berarti bahasa yang digunakan memenuhi persyaratan

kebahasaan dan hubungn antarunsur dalam kalimat jelas. Lugas berarti bahasa
                                                                                   38




       yang digunakan tidak menimbulkan makna ganda dan tidak menggunakan

       bahasa kiasan. Komunikatif berarti ada kesamaan antara pikiran pembaca dan

       penulis surat. Selain itu, aspek kebahasaan juga menentukan bahasa surat resmi.

       Aspek kebahasaan itu adalah ejaan, bentuk, dan pilihan kata, kalimat, dan

       paragraf.



2.2.3 Pendekatan Kontekstual (CTL)

2.2.3.1 Hakikat Pendekatan Kontekstual (CTL)

           Menurut Nurhadi dan Senduk (2003:4) pendekatan kontekstual

    (Contextual Teaching and Learning) merupakan suatu konsep belajar di mana

    guru menghadirkan situasi dunia nyata ke dalam kelas dan mendorong siswa

    membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya

    dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan

    konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses

    pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan

    mengalami bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi

    pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil belajar. Hasil pembelajaran

    diharapkan lebih bermakna bagi anak untuk memecahkan persoalan, berpikir

    kritis, dan melaksanakan observasi serta menarik kesimpulan dalam kehidupan

    jangka panjangnya. Dalam konteks ini, siswa perlu mengerti apa makna belajar,

    apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya.

           Jadi, pendekatan kontekstual adalah salah satu pendekatan pembelajaran

    yang menekankan pentingnya lingkungan alamiah yang diciptakan dalam proses

    belajar mengajar agar kelas lebih “hidup” dan lebih “bermakna” karena siswa
                                                                           39




“mengalami” sendiri apa yang dipelajarinya. Pendekatan kontekstual merupakan

pendekatan yang memungkinkan siswa untuk menguatkan, memperluas, dan

menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademik mereka dalam berbagai

macam tatanan kehidupan baik di sekolah maupun di luar sekolah. Selain itu,

siswa dilatih untuk dapat memecahkan masalah yang mereka hadapi dalam

suatu situasi, misalnya dalam bentuk simulasi, dan masalah yang memang ada di

dunia nyata.

       Pendekatan ini juga mengasumsikan bahwa secara natural pikiran

mencari makna konteks sesuai dengan situasi dunia nyata lingkungan seseorang

dan itu dapat terjadi melalui pencarian hubungan yang masuk akal dan

bermanfaat. Pemaduan materi pelajaran dengan konteks keseharian siswa di

dalam pembelajaran kontekstual akan menghasilkan dasar-dasar pengetahuan

yang mendalam di mana siswa kaya akan pemahaman masalah dan cara untuk

menyelesaikannya.    Siswa    mampu     secara    independen    menggunakan

pengetahuannya untuk menyelesaikan masalah-masalah baru dan belum pernah

dihadapi, serta memiliki tanggung jawab yang lebih terhadap belajarnya seiring

dengan peningkatan pengalaman dan pengetahuan mereka.

       Berkaitan dengan pendekatan ini, maka dalam pembelajaran kontekstual

diperlukan sebuah strategi pembelajaran yang mendekatkan pengetahuan yang

diperoleh siswa di sekolah dengan pengalamannya dalam konteks kehidupan

sehari-hari. Konsep-konsepnya diwadahi dalam pendekatan kontekstual, yakni

pendekatan yang berisi konsep pembelajaran yang berbasis pada kehidupan

siswa secara nyata dan memberikan makna pada pengetahuan yang dimilikinya

(Tim Pengkaji dan Pengembang Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia

2003:15). Sementara pengajaran kontekstual menurut The Washington State
                                                                            40




Consortium for Contextual Teaching and Learning dalam Nurhadi dan Senduk

(2003:12) jika diterjemahkan menyatakan pengajaran kontekstual adalah

pengajaran yang memungkinkan siswa memperkuat, memperluas, dan

menerapkan pengetahuan dan keterampilan akademisnya dalam berbagai latar

sekolah dan di luar sekolah untuk memecahkan seluruh persoalan yang ada

dalam dunia nyata. Pembelajaran kontekstual terjadi ketika siswa menerapkan

dan mengalami apa yang diajarkan dengan mengacu pada masalah-masalah real

yang berasosiasi dengan peranan dan tanggung jawab mereka sebagai anggota

masyarakat, siswa, dan selaku pekerja. Pengajaran dan pembelajaran kontekstual

menekankan berpikir tingkat tinggi, transfer pengetahuan melalui disiplin ilmu,

dan mengumpulkan , menganalisis, dan mensintesiskan informasi dan data dari

berbagai sumber dan sudut pandang.

       Pengajaran pembelajaran kontekstual juga merupakan satu pengajaran

dan pembelajaran yang membantu guru mengaitkan bahan subjek yang

dipelajari dengan situasi dunia sebenarnya dan memotivasi pelajar untuk

membuat kaitan antara pengetahuan dan aplikasinya dalam kehidupan mereka

sebagai ahli keluarga, warga masyarakat, dan pekerja (www.tutor.com).

       Dalam kelas kontekstual, tugas guru adalah membantu siswa mencapai

tujuan. Maksudnya, guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada

memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang

bekerja sama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa).

Pengetahuan dan keterampilan datang dari “menemukan sendiri”, bukan dari

“apa kata guru”. Begitulah peran guru di kelas yang dikelola dengan pendekatan

kontektual (www.bpgupg.go.id).
                                                                                  41




           Pendekatan kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru

    mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan

    mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya

    dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan

    tujuh komponen pembelajaran efektif, yakni: konstruktivisme (constructivism),

    bertanya (questioning), menemukan (inquiri), masyarakat belajar (learning

    community), pemodelan (modeling), dan penilaian sebenarnya (autehentic

    assessment) (Depdiknas 2002:5).

           Dari beberapa pengertian dan penjelasan di atas, dapat dibuat suatu

    simpulan   mengenai    pendekatan     kontekstual   yaitu    sebuah   pendekatan

    pembelajaran di mana siswa belajar untuk mengaitkan pengetahuan yang

    dipelajarinya dengan situasi dunia nyata. Siswa juga diberi keleluasaan untuk

    menemukan sendiri sesuatu yang baru, memecahkan suatu permasalahan, serta

    bekerja dan mengalami sendiri, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa.



2.2.3.2 Elemen Konstruktivisme

               Konstruktivisme berasal     dari   kata “construct” yang       berarti

       membangun sendiri suatu fenomena (teori) melalui serangkaian kegiatan-

       kegiatan yang dapat dilakukan oleh siswa. Konstruktivisme merupakan suatu

       pendekatan pembelajaran yang bermula dari pengetahuan dan pengalaman

       yang tersimpan dalam memori atau struktur kognitif siswa. Dalam proses

       pembelajaran, pengetahuan baru diproses dan diserap untuk dijadikan

       sebagian dari struktur kognitif di dalam pikiran siswa.
                                                                       42




       Secara sederhana konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan

kita itu merupakan konstruksi atau bentukan dari kita yang mengetahui

sesuatu. Pengetahuan ataupun pengertian dibentuk siswa secara aktif, bukan

hanya diterima secara pasif dari guru mereka.

       Siswa perlu dibiasakan memecahkan masalah, menemukan sesuatu

yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide-idenya. Dengan begitu

siswa dapat mengkonstruksikan gejala-gejala yang ada dengan pemikirannya

sendiri. Esensi dari teori konstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus

menemukan dan menstransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi

lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri

(Depdiknas 2002:11).

       Dengan konstruktivisme, siswa diharapkan dapat membangun

pemahaman sendiri dari pengalaman/pengetahuan terdahulu (asimilasi).

Pemahaman     yang     mendalam    dikembangkan    melalui   pengalaman-

pengalaman belajar bermakna (akomodasi). Siswa diharapkan mampu

mempraktikkan pengetahuan/pengalaman yang telah diperolehnya dalam

konteks kehidupan nyata. Siswa diharapkan juga melakukan refleksi

terhadap strategi pengembangan tersebut. Dengan demikian, siswa dapat

memiliki pemahaman yang berbeda terhadap pengetahuan yang dipelajari

(Nurhadi 2004:46).

       Atas dasar hal tersebut pembelajaran harus dikemas menjadi proses

mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran,

siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif

dalam proses pembelajaran. Siswa menjadi pusat kegiatan, bukan guru.

Aktivitas semacam ini akan terjadi jika guru menerapkan pendekatan
                                                                                        43




          kontekstual elemen konstruktivisme dalam proses pembelajaran. Siswa

          menjadi pusat kegiatan, bukan guru. Aktivitas semacm ini akan terjadi jika

          guru menerapkan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme dalam

          proses pembelajaran.

                 Dalam       pandangan      konstruktivis,   strategi   memperoleh    lebih

          diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan

          mengingat pengetahuan. Untuk itu, tugas guru adalah memfasilitasi proses

          tersebut dengan:

          a.    Menjadikan pengetahuan bermakna dan relevan bagi siswa.

          b.    Memberi kesempatan siswa menemukan dan menerapkan idenya

                sendiri.

          c.    Menyadarkan siswa agar menerapkan strategi mereka sendiri dalam

                belajar (Depdiknas 2002:11)

                 Dengan menerapkan proses pembelajaran tersebut diharapkan siswa

          dapat benar-benar memahami surat permohonan surat resmi. Dalam hal ini

          peran guru sebagai mediator dan fasilitator harus dilaksanakan sehingga

          siswa dapat menginterpretasikan hasil pembelajaran dengan benar.



2.2.3.3   Pembelajaran Menulis           Surat     Permohonan dengan          Pendekatan

          Kontekstual        Elemen Konstruktivisme

                 Model       pembelajaran     konstruktivisme     memperlihatkan     bahwa

          pembelajaran merupakan proses aktif dalam membuat sebuah pengalaman

          menjadi masuk akal, dan proses ini sangat dipengaruhi oleh apa yang

          diketahui orang sebelumnya. Karena itu, dalam setiap kegiatan pembelajaran

          guru harus memperoleh, atau sampai pada persamaan pemahaman dengan
                                                                               44




siswa. Dalam model konstruktivisme, pembelajaran melibatkan negoisasi

(pertukaran pikiran) dan interpretasi. Wacana penyesuaian pikiran ini dapat

dilakukan antara siswa dengan guru, atau antara sesama siswa. Karena itu

strategi pembelajaran kooperatif (kerjasama) adalah sangat ideal. Dalam

model konstruktivisme harus tercipta hubungan kerjasama antara guru

dengan siswa dan antara sesama siswa.

       Secara ringkas, model pembelajaran konstruktivisme adalah sebagai

berikut.

a. Murid harus selalu aktif dalam pembelajaran.

b. Proses aktif ini adalah proses membuat segala sesuatu masuk akal.

    Pembelajaran tidak terjadi melalui transmisi, tapi melalui interpretasi.

c. Interpretasi selalu dipengaruhi oleh pengetahuan sebelumnya.

d. Interpretasi dibantu oleh metode instruksi yang memungkinkan

    negoisasi pemikiran (bertukar pikiran), melalui diskusi, tanya jawab, dll.

e. Tanya jawab didorong oleh kegiatan inkuiri para murid. Jadi , kalau

    murid-murid tidak bertanya/tidak bicara, berarti murid tidak belajar

    secara optimal.

f. Kegiatan belajar mengajar tidak hanya merupakan suatu proses

    pengalihan pengetahuan, tapi juga pengalihan keterampilan dan

    kemampuan.
                                                                       45




       Menurut Mulyasa (2002:283) tahapan belajar mengajar dengan

menggunakan konstruktivisme adalah sebagai berikut.

              PEMANASAN-APRESIASI
     Tanya jawab tentang pengetahuan dan pengalaman



                      EKSPLORASI
           Memperoleh atau mencari informasi baru



         KONSOLIDASI PEMBELAJARAN
      Negoisasi dalam mencapai pengetahuan baru



      PEMBENTUKAN SIKAP DAN PERILAKU
  Pengetahuan diproses menjadi nilai, sikap, dan perilaku



                PENILAIAN FORMATIF



     Gambar 1. Skema Pembelajaran dengan Konstruktivisme

       Berdasarkan pada gambar 1 tentang tahapan belajar mengajar dengan

menggunakan elemen konstruktivisme dapat dijelaskan sebagai berikut.

a. Tahap pertama, disebut dengan pemanasan-apresiasi

   Langkah-langkah tahap ini adalah (1)pelajaran dimulai dengan hal-hal

   yang diketahui dan dipahami peserta didik, (2) memberi motivasi peserta

   didik dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik,

   (3) peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang

   baru.
                                                                           46




b. Tahap kedua, disebut eksplorasi

   Langkah     pada   tahap    ini   adalah   (1)   materi/keterampilan   baru

   diperkenalkan, (2) mengaitkan materi dengan pengetahuan yang sudah

   ada pada peserta didik.

c. Tahap ketiga, disebut konsolidasi pembelajaran

   Langkah pada tahap ini adalah (1) melibatkan peserta didik secara aktif

   dalam menafsirkan dan memahami materi ajaran baru, (2) melibatkan

   siswa secara aktif dalam problem solving, (3) penekanan pada kaitan

   stuktural, yaitu kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai

   aspek kegiatan/kehidupan di dalam lingkungan.

d. Tahap keempat, tahap pembentukan sikap dan perilaku

   Langkahnya adalah (1) peserta didik didorong untuk menerapkan

   konsep/pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari, (2)

   peserta didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan

   sehari-hari berdasarkan pengertian yang dipelajari.

e. Tahap kelima, disebut tahap penilaian formatif

   Langkah pada tahap ini adalah (1) mengembangkan cara-cara untuk

   menilai hasil pembelajaran peserta didik, (2) menggunakan hasil

   penilaian tersebut untuk melihat kelemahan/kekurangan peserta didik

   dan masalah-masalah yang dihadapi guru.

      Konstruktivisme beranggapan bahwa pengetahuan merupakan hasil

konstruksi manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui

interaksi   dengan    objek,   fenomena,      pengalaman,   dan   lingkungan.

Pengetahuan dianggap benar bila pengetahuan tersebut dapat berguna untuk

menghadapi dan memecahkan persoalan atau fenomena yang sesuai.
                                                                               47




      Pengetahuan tidak dapat ditransfer dari seseorang kepada orang lain,

      melainkan harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing orang.

      Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang

      berkembang terus menerus. Dalam proses tersebut, keaktifan seseorang

      sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.

            Berdasarkan pada perannya dalam proses pembentukan pengetahuan,

      peran guru yang sangat penting adalah menciptakan suasana belajar

      mengajar yang melibatkan siswa secara aktif, sehingga siswa dapat

      mengkonstruksi pengetahuan mereka melalui interaksi dengan objek,

      fenomena, pengalaman, dan lingkungan mereka. Selain itu, peran guru

      sangat penting dalam penguatan konsep pada diri siswa yang telah

      membangun pengetahuannya sesuai dengan konsep yang benar. Apabila

      siswa miskonsepsi pada pembelajaran, maka guru harus berusaha untuk

      mengubahnya menjadi konsep yang benar.



2.3   Kerangka Berpikir

            Konstruktivisme    merupakan     salah   satu   elemen    pendekatan

      kontekstual yang menekankan bahwa pengetahuan dibangun manusia oleh

      manusia sedikit demi sedikit yang hasilnya diperluas melalui konteks yang

      terbatas dan tidak secara tiba-tiba. Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-

      fakta, konsep, atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia

      harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui

      pengalaman nyata. Melalui konstruktivisme, siswa dibiasakan untuk

      memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan

      bergelut dengan ide-ide. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di
                                                                            48




benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa

harus menemukan dan mentransformasikan suatu informasi kompleks ke

situasi lain.

       Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses

mengkonstruksi bukan menerima pengetahuan. Dalam proses pembelajaran,

siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif

dalam proses belajar mengajar. Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.

       Keterampilan menulis surat resmi pada siswa kelas VII A SMP N 5

Semarang belum memuaskan. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Faktot itu di antaranya dari siswa itu sendiri maupun metode pembelajaran

yang digunakan oleh guru. Salah satu faktor yang berpengaruh besar adalah

pemilihan       metode   atau   strategi   dalam   pembelajaran.   Selama   ini

pembelajaran menulis resmi yang dilakukan guru masih dengan metode

ceramah dan pemberian contoh secara singkat sehingga siswa tidak mampu

mengingat dengan lama apa yang dipelajarinya karena siswa hanya

menghafal materi yang telah diberikan oleh guru.

       Berdasarkan beberapa alasan di atas, maka diadakanlah penelitian ini.

Penelitian dapat tercapai dengan menggunakan penelitian tindakan kelas.

Penelitian ini melalui dua siklus. Tiap siklus terdiri dari 4 tahap yaitu

perencanaan, tindakan, observasi dan refleksi.

       Siklus I dimulai dengan tahap perencanaan berupa rencana kegiatan

menentukan langkah-langkah yang dilakukan peneliti untuk memecahkan

masalah. Pada tahap tindakan, peneliti melakukan tindakan sesuai dengan

rencana yang telah disusun. Tindakan yang dilakukan adalah mengadakan

proses pembelajaran menulis surat permohonan dengan pendekatan
                                                                          49




 kontekstual elemen konstruktivisme. Tahap observasi dilakukan ketika

 proses pembelajaran berlangsung. Hasil yang diperoleh dalam proses

 pembelajaran kemudian direfleksi. Kelebihan yang didapat dalam siklus I

 dipertahankan sedangkan kekurangannya ditingkatkan dalm siklus II dengan

 memperbaiki perencanaan dalam siklus II.

       Setelah perencanaan pada siklus II diperbaiki, tahap berikutnya yaitu

 tindakan dan observasi dilakukan sama dengan siklus I. Hasil yang

 diperoleh pada tahap tindakan dan observasi dalam siklus II kemudian

 direfleksi. Gunanya adalah untuk menentukan adanya peningkatan-

 peningkatan yang telah tercapai selama proses pembelajaran. Hasil tes siklus

 I dan siklus II kemudian dibandingkan dalam hal pencapaian skor. Siklus II

 digunakan untuk mengetahui peningkatan kemampuan menulis surat

 permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.

       Bagan kerangka berpikir dapat digambarkan sebagai berikut.

Masalah

kurang terampil          Perencanaan

menulis surat resmi

                      Siklus I              Hasil Siklus I

                      Siklus II           Hasil Siklus II



Pembelajaran menulis surat resmi              Refleksi Siklus I

dengan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme
                                                                                 50




2.4    Hipotesis Tindakan

               Berdasarkan dasar pemikiran tersebut di atas, maka hipotesis tindakan

      penelitian ini adalah sebagai berikut.

      Kemampuan menulis surat permohonan resmi akan meningkat dan tingkah

      laku siswa kelas VII SMP N 5 Semarang akan berubah setelah pembelajaran

      menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen

      konstruktivisme”.
                                    BAB III

                           METODE PENELITIAN



3.1 Desain Penelitian

           Penelitian ini menggunakan prosedur penelitian tindakan kelas atau

    disingkat PTK. Penelitian tindakan kelas ini dapat didefinisikan sebagai bentuk

    kajian yang bersifat refleksi oleh pelaku tindakan, yang dilakukan untuk

    meningkatkan kemantapan rasional dari tindakan-tindakan mereka dalam

    melaksanakan tugas, memperdalam pemahaman terhadap tindakan-tindakan

    yang dilakukan, serta memperbaiki kondisi di mana praktek-praktek

    pembelajaran tersebut dilakukan (Tim Pelatih Proyek PGSM 1999:6).

    Untuk mewujudkan tujuan-tujuan tersebut, penelitian tindakan kelas itu

    dilaksanakan berupa proses pengkajian berdaur yang terdiri atas empat tahap

    yaitu: perencanaan, tindakan, pengamatan, dan refleksi. Penelitian ini

    menggunakan dua siklus seperti yang tergambar sebagai berikut.
                                    Perencanaan
Siklus 1

                                    Refleksi



                           Melakukan tindakan
                              pengamatan
                                                                   Perencanaan ulang
Siklus 2

                                    Refleksi



                           Melakukan tindakan
                              pengamatan
                                       9

                                                      Evaluasi
                                        53
                                                                              54




              Gambar 2. Prosedur Pelaksanaan Siklus I dan Siklus II

               ( Hopkins dalam Tim Proyek PGSM Jateng, 1999: 7)

3.1.1 Prosedur Penelitian pada Siklus I

       1. Perencanaan

                  Tahap perencanaan ini berupa rencana kegiatan menentukan

          langkah-langkah yang akan dilakukan peneliti untuk memecahkan

          masalah. Langkah ini merupakan upaya memperbaiki kelemahan dalam

          proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi yang telah

          berlangsung selama ini. Rencana kegiatan yang akan dilakukan adalah (1)

          menyusun rencana pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

          menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme, (2)

          membuat dan meyiapkan instrumen penelitian berupa lembar observasi,

          lembar wawancara, dan lembar jurnal untuk memperoleh data nontes, (3)

          menyiapkan perangkat tes menulis surat resmi yang berupa kisi-kisi soal

          tes, pedoman penskoran, dan penilaian.



          2. Tindakan

                 Tindakan adalah perbuatan yang dilakukan oleh guru sebagai

          upaya perbaikan, peningkatan, atau perubahan sebagai solusi. Tindakan

          yang dilakukan peneliti dalam proses pembelajaran menulis surat

          permohonan pada siklus I ini sesuai dengan perencanaan yang telah

          disusun.
                                                                       55




       Secara garis besar tindakan yang akan dilakukan peneliti adalah

melaksanakan proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi

dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme. Tindakan ini

dilaksanakan dalam lima tahap yaitu tahap pemanasan/apresiasi, tahap

eksplorasi, tahap konsolidasi pembelajaran, tahap pembentukan sikap dan

perilaku, dan tahap penilaian formatif.

       Tahap pertama, disebut dengan pemanasan-apresiasi. Langkah-

langkah tahap ini adalah (1) pelajaran dimulai dengan hal-hal yang

diketahui dan dipahami peserta didik, (2) memberi motivasi peserta didik

dengan bahan ajar yang menarik dan berguna bagi peserta didik, (3)

peserta didik didorong agar tertarik untuk mengetahui hal-hal yang baru.

       Tahap kedua, disebut eksplorasi. Langkah pada tahap ini adalah

(1) materi/keterampilan baru diperkenalkan, (2) mengaitkan materi

dengan pengetahuan yang sudah ada pada peserta didik.

       Tahap ketiga, disebut konsolidasi pembelajaran. Langkah pada

tahap ini adalah (1) melibatkan peserta didik secara aktif dalam

menafsirkan dan memahami materi ajaran baru, (2) melibatkan siswa

secara aktif dalam problem solving, (3) penekanan pada kaitan stuktural,

yaitu kaitan antara materi ajar yang baru dengan berbagai aspek

kegiatan/kehidupan di dalam lingkungan.

       Tahap keempat, tahap pembentukan sikap dan perilaku.

Langkahnya adalah (1) peserta didik didorong untuk menerapkan konsep /

pengertian yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari, (2) peserta
                                                                   56




didik membangun sikap dan perilaku baru dalam kehidupan sehari-hari

berdasarkan pengertian yang dipelajari.

       Tahap kelima, disebut tahap penilaian formatif. Langkah pada

tahap ini adalah (1) mengembangkan cara-cara untuk menilai hasil

pembelajaran peserta didik, (2) menggunakan hasil penilaian tersebut

untuk melihat kelemahan/kekurangan peserta didik dan masalah-masalah

yang dihadapi guru.



3. Observasi

       Observasi adalah mengamati hasil atau dampak dari tindakan-

tindakan yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran menulis surat

permohonan     resmi   dengan    elemen   konstruktivisme.   Observasi

dilaksanakan peneliti dengan bantuan teman peneliti selama proses

pembelajaran berlangsung. Observasi meliputi observasi siswa dan

observasi kelas. Observasi siswa digunakan untuk mengetahui perilaku

siswa selama proses pembelajaran berlangsung, sedangkan observasi

kelas meliputi keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru,

keaktifan siswa selama pembelajaran menulis surat permohonan,

keaktifan siswa dalam mengerjakan tes menulis surat permohonan,

kemampuan guru praktikan.
                                                                                   57




          4. Refleksi

                  Refleksi adalah mengkaji, melihat, dan mempertimbangkan hasil

          atau dampak dari tindakan. Berdasarkan hasil refleksi ini, peneliti dapat

          melakukan revisi terhadap rencana selanjutnya atau terhadap rencana

          awal tes siklus II.

                  Pada tahap ini, peneliti menganalisis hasil tes dan nontes siklus I.

          Jika hasil tes tersebut belum memenuhi nilai target yang telah ditentukan,

          akan dilakukan tindakan siklus II dan masalah-masalah yang timbul pada

          siklus I akan dicarikan alternatif pemecahannnya pada siklus II.

          Sedangkan kelebihan-kelebihannya akan dipertahankan dan ditingkatkan.



3.1.2 Prosedur Penelitian pada Siklus II

                  Proses penelitian tindakan kelas dalam siklus II dapat diuraikan

          sebagai berikut.

       1. Perencanaan

                  Perencanaan pada siklus II ini didasarkan temuan hasil siklus I.

          Adapun rencana tindakan yang akan dilakukan adalah (1) membuat

          perbaikan rencana pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

          menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme yang

          materinya sama dengan siklus I, tetapi diupayakan dapat memperbaiki

          masalah atau kekurangan-kekurangan pada siklus I, (2) menyiapkan

          lembar wawancara, lembar observasi, dan lembar jurnal                 untuk

          memperoleh data nontes siklus II, (3) menyiapkan perangkat tes menulis
                                                                         58




   surat permohonan resmi yang akan digunakan dalam evaluasi hasil belajar

   siklus II.



2. Tindakan

           Tindakan yang dilaksanakan peneliti dalam siklus II adalah (1)

   memberikan umpan balik mengenai hasil yang diperoleh pada siklus I,

   melaksanakan proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi

   dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme sesuai dengan

   rencana pembelajaran, memotivasi siswa agar berpartisipasi lebih aktif

   dan bersungguh-sungguh dalam menulis surat permohonan resmi.

           Proses pembelajaran siklus II ini disertai pemberian pemecahan

   kesulitan yang dialami siswa dalam menulis surat permohonan resmi,

   misalnya siswa tidak hanya menulis surat permohonan resmi sesuai

   dengan bentuk dan aturan yang ada, tetapi juga harus memperhatikan

   ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, dan kepaduan paragraf.



3. Observasi

           Observasi pada siklus II juga masih sama dengan siklus I yang

   meliputi observasi siswa dan observasi kelas. Kemajuan-kemajuan yang

   dicapai pada siklus I dan kelemahan-kelemahan yang masih muncul juga jadi

   pusat sasaran dalam observasi.
                                                                                  59




      4. Refleksi

                    Refleksi pada siklus II digunakan untuk merefleksi hasil evaluasi

          belajar siswa siklus I untuk menentukan kemajuan-kemajuan yang telah

          dicapai selama proses pembelajaran, dan untuk mencari kelemahan-kelemahan

          yang masih muncul dalam pembelajaran di kelas.



3.2 Subjek Penelitian

           Subjek penelitian yang penulis ambil adalah kemampuan menulis surat

    resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme pada siswa kelas

    VII A, yang merupakan salah satu dari delapan kelas VII yang ada di SMP

    Negeri 5 Semarang tahun pengajaran 2004/2005. Kelas VII A berjumlah 47

    siswa yang terdiri atas 24 siswa putra dan 23 siswa putri. Peneliti mengambil

    subjek tersebut dengan alasan.

     1. Menurut observasi awal peneliti, tingkat kemampuan menulis kelas II B

        masih rendah dibandingkan dengan kelas VII yang lain, sehingga dalam

        menulis surat resmi belum dapat dibanggakan. Tulisan siswa banyak yang

        menyimpang dari ketentuan penggunaan Ejaan Yang Disempurnakan

        (EYD), penggunaan tanda baca, maupun ketepatan pilihan kata. Oleh

        karena itu, diperlukan pembelajaran yang dapat meningkatkan keterampilan

        tersebut.     Pembelajaran    dengan     pendekatan    kontekstual   elemen

        konstruktivisme diharapkan dapat meningkatkan kemamnupan siswa dalam

        menulis surat permohonan resmi.
                                                                             60




     2. Pada saat PPL peneliti mengajar di kelas tersebut sehingga lebih

        mengetahui kondisi siswa dan kelas. Dengan demikian akan membantu

        kelancaran dalam memperoleh data.


3.3 Variabel Penelitian

           Variabel penelitian dalam skripsi ini adalah kemampuan menulis surat

    permohonan resmi dan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.

3.3.1 Variabel Kemampuan Menulis Surat Permohonan Resmi

     Variabel   kemampuan      menulis   surat   permohonan   resmi   merupakan

     keterampilan siswa dalam menulis surat permohonan resmi. Dalam hal ini

     kemampuan menulis surat resmi kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang dari

     hasil pengamatan yang diperoleh selama menagadakan latihan-latihan. Target

     yang diharapkan adalah siswa mampu menulis surat permohonan resmi sesuai

     dengan sistematika yang ada dan bahasa yang baku. Aspek kebahasaan di sini

     mencakup ejaan, pilihan kata, keefektifan kalimat, dan kepaduan paragraf.

     Dalam penelitian tindakan kelas ini, siswa dikatakan berhasil dalam

     pembelajaran menulis surat permohonan resmi apabila telah mencapai nilai

     ketuntasan belajar sebesar 75.

3.3.2 Variabel Pendekatan Kontekstual Elemen Konstruktivisme

     Variabel pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme yaitu konsep belajar

     yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi

     dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara

     pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka

     sehari-hari, di mana dalam proses pembelajarannya guru menghadirkan elemen
                                                                             61




     konstruktivisme. Selama proses pembelajaran siswa berkelompok dan

     berdiskusi tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan surat permohonan

     resmi setelah siswa mengkonstruksikan pengetahuan awal dalam benak

     mereka.


3.4 Instrumen

               Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data penelitian

      adalah soal tes dan nontes. Dengan menggunakan soal tes, penulis dan

      pengamat dapat mengetahui kemampuan menulis surat permohonan resmi

      siswa. Selain itu, soal tes ini mendorong siswa untuk membuat surat

      permohonan resmi sebaik-baiknya.

               Sedangkan bentuk instrumen/alat pengumpul data yang berupa nontes

      adalah observasi atau pengamatan, wawancara, dan jurnal yang digunakan

      untuk mengetahui perubahan tingkah laku siswa.



3.4.1 Instrumen Tes

               Soal tes yang digunakan dalam penelitian ini bentuknya surat

      permohonan resmi.. Siswa menulis surat permohonan resmi yang telah

      ditentukan. Nilai akhir menulis surat permohonan resmi adalah jumlah skor

      dari masing-masing aspek yang dinilai dalam menulis surat permohonan

      resmi.
                                                                                62




                                      Tabel 1 Skor Penilaian

                             Aspek dalam Surat Resmi          Skor
                                                             Maksimal
                          1. kelengkapan bagian surat          10
                          2. isi surat                         10
                          3. ketepatan penulisan bagian        10
                             surat
                          4. ejaan dan tanda baca                   20
                          5. diksi/pilihan kata                     15
                          6. penyusunan kalimat                     15
                          7. kepaduan paragraph                     15
                          8. kerapian tulisan                       5
                          Jumlah                                   100


                                 Tabel 2 Aspek yang Dinilai

       Aspek Penilaian             Skor             Kriteria               Kategori
1. kelengkapan bagian surat        8-10   Jumlah kesalahan kurang dari     Sangat
                                          3                                Baik
                                   5-7    Jumlah kesalahan 3-5             Baik
                                   2-4    Jumlah kesalahan 6-8             Cukup
                                   0-2    Jumlah kesalahan lebih dari 8    Kurang

2. isi surat                       8-10   Isi surat jelas                  Sangat
                                                                           Baik
                                   5-7    Isi surat cukup jelas            Baik
                                   2-4    Isi surat kurang jelas           Cukup
                                   0-2    Isi surat tidak jelas            Kurang

3. ketepatan penulisan bagian      8-10   Jumlah kesalahan kurang dari     Sangat
    surat                                 3                                Baik
                                   5-7    Jumlah kesalahan 3-5             Baik
                                   2-4    Jumlah kesalahan 6-8             Cukup
                                   0-2    Jumlah kesalahan lebih dari 8    Kurang


4. ejaan dan tanda baca           17-20   Jumlah kesalahan kurang dari     Sangat
                                          5                                Baik
                                  14-16   Jumlah kesalahan 5-10            Baik
                                  11-13   Jumlah kesalahan 10-15           Cukup
                                  1-10    Jumlah kesalahan lebih dari 15   Kurang
                                                                                  63




5. pilihan kata                13-15   Kesalahan penulisan kata baku     Sangat
                                       kurang dari 3                     Baik
                                9-12    Kesalahan penulisan kata         Baik
                                       baku 3-5
                                5-8    Kesalahan penulisan kata baku     Cukup
                                       6-8
                                0-4    Kesalahan penulisan kata lebih    Kurang
                                       dari 8
6. penyusunan kalimat          13-15   Kesalahan penulisan kalimat       Sangat
                                       efektif kurang dar 3              Baik
                                9-12   Kesalahan penulisan kalimat       Baik
                                       efektif 3-5
                                5-8    Kesalahan penulisan kalimat       Cukup
                                       efektif 6-8
                                0-4    Kesalahan penulisan kalimat       Kurang
                                       efektif lebih dari 8
7. kepaduan paragraf           13-15   Kohesi dan koherensi dalam        Sangat
                                       paragraf jelas                    Baik
                                9-12   Kohesi dan koherensi dalam        Baik
                                       paragraf cukup jelas
                                5-8    Kohesi dan koherensi dalam        Cukup
                                       paragraf kurang jelas
                                0-4    Kohesi dan koherensi dalam        Kurang
                                       paragraf tidak jelas
8. kerapian tulisan             4-5    Tulisan terbaca dan tidak ada     Sangat
                                       coretan                           Baik
                                2-3    Tulisan terbaca dan ada           Baik
                                       coretan kurang dari 5
                                1-2    Tulisan tidak terbaca dan tidak   Cukup
                                       bersih
                                0-1    Tulisan sulit dibaca              Kurang


3.4.2 Instrumen Nontes

3.4.2.1 Pedoman Observasi

            Observasi atau pengamatan yaitu mengamati perhatian dan sikap siswa,

    respon siswa dalam bertanya dan menjawab pertanyaan, dan aktivitas siswa

    ketika kegiatan pembelajaran menulis. Pedoman observasi memuat jenis tingkah

    laku siswa selama proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

    pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.
                                                                                64




           Jenis tingkah laku yang menjadi sasaran peneliti terbagi menjadi tiga

    kelompok, yaitu keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru,

    keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi,

    dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tes menulis surat permohonan resmi.



3.4.2.2 Pedoman Jurnal

           Jurnal digunakan untuk mencatat perubahan yang terjadi baik dari siswa

    maupun kejadian-kejadian yang menonjol dalam proses pembelajaran tentang

    menulis surat permohonan. Selesai proses pembelajaran, peneliti membuat

    jurnal sebagai alat untuk mengetahui tingkat keberhasilan pendekatan yang

    digunakan.

           Aspek-aspek yang diperhatikan dalam membuat jurnal adalah:

   a. sikap positif siswa pada saat mengikuti penjelasan tentang menulis surat

    permohonan;

   b. sikap negatif siswa pada saat mengikuti penjelasan tentang surat permohonan;

   c. respon positif siswa pada saat menulis surat permohonan;

   d. respon negatif siswa pada saat menulis surat permohonan.

           Selain guru, siswa juga membuat jurnal setelah proses pembelajaran

    selesai. Jurnal siswa berguna untuk mengetahui sampai di mana siswa mampu

    menyerap materi serta bagaimana siswa bersikap pada waktu menulis surat

    permohonan. Dalam jurnal siswa aspek yang perlu diperhatikan adalah:

   a. menjawab kesulitan siswa dalam menulis surat permohonan;

   b. menjawab keberhasilan dalam menulis surat permohonan;
                                                                                 65




   c. minat siswa terhadap metode yang digunakan oleh guru;

   d. kesan siswa terhadap proses pembelajaran menulis surat permohonan.



3.4.2.3 Pedoman Wawancara

               Wawancara bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang keadaan

    responden dengan cara tanya jawab yang berkaitan dengan variabel penelitian.

    Wawancara ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana minat siswa terhadap

    pelajaran bahasa Indonesia, khususnya tentang menulis surat permohonan.

               Wawancara dilaksanakan dengan teknik bebas. Teknik bebas maksudnya

    pertanyaan telah disiapkan pewawancara dan responden bebas menjawab tanpa

    terikat.

               Aspek-aspek yang digunakan untuk pedoman wawancara antara lain:

     a. sikap positif terhadap materi surat permohonan;

     b. sikap negatif terhadap materi pelajaran menulis surat permohonan;

     c. sikap siswa terhadap guru ketika menyampaikan materi menyusun surat

         permohonan;

     d. sikap dan pendapat siswa terhadap surat permohonan.



3.4.2.4 Dokumentasi Foto

               Dokumentasin foto penelitian ini diambil pada awal hingga akhir

    pembelajaran siklus I dan siklus II. Data-data dokumentasi foto ini berwujud

    gambar visual yang memuat rekaman segala perilaku siswa selama
                                                                                  66




    pembelajaran berlangsung. Pengambilan gambar visual tersebut dilakukan

    dengan cara meminta bantuan teman peneliti untuk melakukan pemotretan.

           Gambar-gambar foto yang telah terkumpul selanjutnya dilaporkan secara

    deskriptif sesuai dengan kondisi yang ada. Jika data lain hanya berwujud

    laporan secara tertulis, maka dalam teknik dokumentasi ini pembaca dapat

    langsung menikmati suasana secara visual beserta laporan deskriptifnya.

           Instrumen di atas digunakan untuk mendapatkan data. Data ini kemudian

    digunakan untuk mengambil kesimpulan. Untuk mengetahui instrumen itu valid

    atau tidak, penulis berkonsultasi dengan pembimbing sehingga pendapat itu

    dapat disimpulkan bahwa instrumen yang akan digunakan sudah valid.



3.5 Teknik Pengumpulan Data

           Pengumpulan     data   dilakukan   dengan   teknik   observasi,    jurnal,

    wawancara, dan perangkat tes untuk memperoleh gambaran hasil pembelajaran

    menulis surat permohonan dengan menggunakan pendekatan kontekstual

    elemen konstruktivisme.



3.5.1 Teknik Nontes

3.5.1.1 Observasi

           Observasi digunakan untuk mengungkap data keaktifan siswa selama

    proses pembelajaran menulis surat resmi dengan menggunakan pendekatan

    kontekstual elemen kontruktivisme. Observasi dilakukan peneliti sambil

    melakukan pembelajaran dengan dibantu oleh seorang teman.
                                                                              67




           Adapun tahap-tahap observasinya adalah sebagai berikut.

   a. Mempersiapkan lembar observasi yang berisi butir-butir pengamatan tentang

       keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru, keaktifan siswa dalam

       proses pembelajaran, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan soal tes.

   b. Melaksanakan observasi selama proses pembelajaran, mulai dari penjelasan

       guru, proses belajar mengajar sampai dengan mengerjakan tugas menulis

       surat permohonan resmi.

   c. Mencatat hasil observasi dengan mengisi lembar observasi yng telah

       dipersiapkan.



3.5.1.2 Jurnal

           Jurnal siswa dan guru dibuat setiap akhir pembelajaran menulis surat

    permohonan resmi. Jurnal siswa dibuat pada selembar kertas tentang kesulitan

    siswa dalam menulis surat permohonan resmi, pembelajaran yang dilakukan

    oleh peneliti, hal-hal yang ingin dikemukakan siswa berkaitan dengan

    pembelajaran menulis surat permohonan dengan pendekatan kontekstual elemen

    konstruktivisme. Jurnal guru dibuat untuk mengetahui segala sesuatu yang

    terjadi pada proses pembelajaran.



3.5.1.3 Pedoman Wawancara

           Wawancara digunakan untuk mengungkap data penyebab kesulitan dan

    hambatan dalam menulis surat resmi. Sasaran wawancara adalah beberapa siswa

    yang nilainya kurang cukup, dan baik dalam menulis surat resmi. Hal ini
                                                                              68




    dilakukan berdasarkan nilai tes pada tiap siklus dan observasi yang dilakukan

    guru selama proses pembelajaran.

           Teknik wawancara dilaksanakan peneliti setelah pembelajaran menulis

    surat resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme selesai

    dilaksanakan. Adapun tahap pelaksanaan wawancara adalah:

   1. mempersiapkan lembar wawancara yang berisi daftar pertanyaan yang akan

      diajukan pada siswa;

   2. menentukan siswa yang hasil menulis surat resminya kurang, cukup, dan baik

      untuk diwawancarai;

   3. merekam dan mencatat hasil wawancara dengan menulis tanggapan terhadap

      lima butir pertanyaan.



3.5.1.4 Dokumentasi Foto

              Teknik dokumetasi foto ini digunakan untuk merekam segala perilaku

    siswa selama penelitian siklus I dan siklus II berlangsung. Data-data

    dokumentasi foto ini berwujud gambar visual. Gambar-gambar foto yang telah

    terkumpul selanjutnya dilaporkan secara deskriptif sesuai dengan kondisi yang

    ada. Jika data lain hanya berwujud laporan secara tertulis, maka dalam teknik

    dokumentasi ini pembaca dapat langsung menikmati suasana secara visual

    beserta laporan deskriptifnya.
                                                                                   69




3.5.2 Teknik Tes

           Tes esei terbuka yang berupa penulisan surat permohonan digunakan

    sebagai alat evaluasi proses pembelajaran menulis surat resmi. Tes menulis surat

    resmi ini dilakukan sebanyak satu kali tiap siklus.

           Dengan tes, siswa diminta menulis surat permohonan resmi dengan

    memperhatikan aspek bagian surat, bahasa surat, dan kerapian tulisan. Soal tes

    pada siklus I masih sama dengan soal tes siklus II. Namun, agar bervariasi siswa

    diminta menulis surat resmi yang berbeda, tetapi masih dalam satu topik yaitu

    surat permohonan.


3.6 Teknik Analisis Data

           Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah teknik kualitatif dan

    teknik kuantitatif.    Teknik kualitatif digunakan untuk menganalisis data

    kualitatif. Analisis data diperoleh dari data nontes yaitu data observasi, jurnal,

    wawancara, dan dokumentasi foto. Langkah-langkahnya adalah dengan

    menganalisis lembar observasi yang diisi saat pembelajaran, menganalisis data

    jurnal, menganalisis data wawancara, dan menganalisis data dokumentasi foto.

           Analisis data tes secara kuantitatif atau deskriptif persentase ini dengan

    langkah-langkah sebagai berikut.

    a. Menghitung nilai responden dari masing-masing aspek.

    b. Merekap nilai siswa.

    c. Menghitung nilai rata-rata siswa

    d. Menghitung persentase nilai
                                                                           70




   Persentase ini dihitung dengan menggunakan rumus berikut.

          SK
   SP =      ×100 %
           R
   Keterangan:

  SP    : Skor Persentase
  SK : Skor Komulatif
  R     : Jumlah Responden



       Hasil penghitungan nilai siswa dari masing-masing tes ini kemudian

dibandingkan antara hasil tes siklus I dan hasil tes siklus II. Hasil ini akan

memberikan gambaran mengenai presentase peningkatan kemampuan menulis

surat permohonan resmi siswa dengan menggunakan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme.
                                                                                  72



                                      BAB IV

                 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Penelitian

        Hasil penelitian yang disajikan dalam bab ini meliputi hasil tes dan nontes.

Hasil penelitian ini terdiri atas kondisi awal yang diperoleh dari tes awal atau

pratindakan, hasil penelitian siklus I dan hasil penelitian siklus II. Hasil tes awal

atau pratindakan berupa keterampilan menulis surat permohonan siswa sebelum

tindakan penelitian dilakukan. Hasil tes siklus I dan siklus II berupa keterampilan

menulis surat permohonan siswa dengan pembelajaran kontekstual elemen

konstruktivisme, sedangkan hasil nontes berasal dari observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto.


4.1.1   Kondisi Awal

        Kondisi awal subjek penelitian yang menjadi dasar pemilihan kelas VII A

SMP Negeri 5 Semarang tahun pengajaran 2004/2005 adalah rendahnya

kemampuan menulis surat resmi siswa. Kemampuan menulis surat resmi

diketahui dari hasil tes awal yang diperoleh dari siswa kelas VII A SMP Negeri 5

Semarang.

        Hasil tes awal atau pratindakan adalah kemampuan menulis surat

permohonan resmi siswa sebelum dilakukan tindakan penelitian. Tes pratindakan

perlu dilakukan untuk mengetahui keadaan awal kemampuan siswa dalam menulis

surat permohonan resmi. Tes yang dilakukan adalah menulis surat permohonan


                                        72
                                                                                73



resmi yang isinya bebas dengan memperhatikan bentuk dan bahasa surat resmi

yang baik. Untuk lebih jelasnya gambaran perolehan nilai tes awal atau

pratindakan disajikan dalam tabel 3. adapun hasil tes terlampir (lampiran 1).

Tabel 3. Hasil Tes Awal Kemampuan Menulis Surat Permohonan Resmi

  No      Kategori          Rentang Nilai          Frekuensi   Persen (%)
 1      Sangat Baik            85-100                   0           0
 2      Baik                   75-84                    0           0
 3      Cukup                  60-74                    5         10,6
 4      Kurang                  0 -59                  42         89,4
        Jumlah                                         47         100
        Rata-rata nilai                            47,64

       Data tabel 3 menunjukkan bahwa keterampilan siswa kelas VII SMP

Negeri 5 Semarang dalam menulis surat permohonan masih kurang, ini terlihat

pada rata-rata skor yang dicapai siswa pada tes awal atau pratindakan sebesar

47,64. Rincian data tersebut adalah dari jumlah keseluruhan 47 siswa, 42 orang di

antaranya atau sebanyak 89,4% termasuk dalam kategori kurang dengan nilai 0-

59. Kategori cukup dengan nilai 60-74 hanya dicapai oleh 5 siswa atau 10,6%

yang termasuk dalam kategori tersebut. Masih rendahnya keterampilan siswa

dalam menulis surat permohonan resmi ini dikarenkn beberapa faktor yang

melingkupinya, yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini

berasal dari siswa sendiri. Bukti data tes menulis pratindakan menyatakan bahwa

kemampuan siswa dalam menyusun kalimat, pemilihan kata, penggunaan ejaan,

bahasa surat, isi surat, sistematika penulisan surat dan kerapian surat secara

klasikal masih kurang, di bawah nilai rata-rata.
                                                                                74



                                           Hasil Pratindakan
                           Cukup




                                                                Kurang




                                Gambar 3
  Diagram Pie Hasil Tes Awal Kemampuan Menulis Surat Permohonan Resmi

       Untuk lebih jelasnya hasil tes keterampilan menulis surat permohonan

resmi pratindakan siswa kelas VII SMP Negeri 5 Semarang dapat dilihat pada

grafik di bawah ini.

                100


                 80


                 60


                 40


                 20


                  0
                       1     4     7   10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46



                                  Gambar 4.
     Grafik Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Pratindakan

       Grafik di atas menunjukkan bahwa mayoritas jumlah skor siswa masih

berada pada level skor rendah antara 0-59 termasuk dalam kategori kurang ada 42

siswa. Lainnya termasuk dalam kategori cukup karena berada pada level skor 60-

74 sebanyak 5 siswa.
                                                                              75



        Dengan demikian keterampilan menulis surat permohonan resmi siswa

perlu ditingkatkan. Peningkatan tersebut dapat diwujudkan dengan melakukan

tindakan siklus I dengan pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme.


4.1.2   Hasil Penelitian Siklus I

        Siklus I ini merupakan pemberlakuan tindakan awal penelitian dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme. Tindakan siklus I

ini dilaksanakan sebagai upaya untuk memperbaiki dan memecahkan masalah

yang muncul pada pratindakan. Pelaksanaan pembelajaran menulis surat

permohonan resmi siklus I terdiri atas data tes dan nontes. Hasil kedua data

tersebut diuraikan secara rinci sebagai berikut.


4.1.2.1 Hasil Tes

        Hasil tes menulis surat permohonan resmi siklus I ini merupakan data awal

setelah diberlakukannya tindakan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme. Kriteria penilaian pada siklus I ini masih tetap sama

seperti pada tes pratindakan yang meliputi delapan aspek penilaian, meliputi: (1)

kelengakpan bagian surt; (2) isi surat; (3) ketepatan penulisan bagian surat; (4)

ejaan dan tanda baca; (5) diksi atau pilihan kata; (6) penyusunan kalimat; (7)

kepaduan paragraf; dan (8) kerapian tulisan. Secara umum, hasil tes keterampilan

menulis surat permohonan izin penggunaan lapangan dalam rangka pertandingan

sepakbola antar SMP se-Kota Semarang dapat dilihat pada tabel 4 berikut.
                                                                                     76



Tabel 4. Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus I

 No        Kategori                 Rentang Nilai       Frekuensi       Persen (%)
 1    Sangat Baik                      85-100                2              4,3
 2    Baik                             75-84               18              38,3
 3    Cukup                            60-74                26             55,3
 4    Kurang                            0-59                1               2,1
      Jumlah                                               47              100
      Rata-rata                                            74,28

       Data pada tabel 4 menunjukkan bahwa hasil tes keterampilan menulis

surat permohonan resmi siswa secara klasikal mencapai nilai rata-rata 74,28

dalam kategori cukup. Skor rata-rata tersebut dapat dikatakan sudah mengalami

peningkatan sebesar 56% dari hasil pratindakan. Namun demikian, peneliti masih

belum puas dengan hasil siklus I karena target maksimal klasikal sebesar 75

belum tercapai. Dari 47 siswa, hanya 4,3.% atau 2 siswa yang berhasil meraih

predikat sangat baik dengan skor 85-100. Selanjutnya, siswa lainnya sebanyak 18

siswa atau 38,3% memperoleh nilai baik yaitu dengan nilai antara 75-84.

Selebihnya, 26 siswa atau 55,3% memperoleh nilai cukup, yaitu antara 60-74.

Bahkan, terdapat 1 siswa atau 2,1% hanya mencapai nilai 0-59 dalam kategori

kurang.

                                             Siklus I
                      Sangat baik

                      Baik

                                                               Kurang




                                                                Cukup




                               Gambar 5.
   Diagram Pie Hasil Kemampuan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus I
                                                                                 77



       Masih minimnya keterampilan menulis surat permohonan resmi siswa ini,

kemungkinan dikarenakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme yang

digunakan guru dirasakan baru oleh siswa sehingga pola pembelajaran guru

merupakan proses awal bagi siswa untuk menyesuaikan diri dalam belajar.

       Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor delapan aspek keterampilan

menulis surat permohonan resmi yang diujikan, meliputi : (1) kelengkapan bagian

surt; (2) isi surat; (3) ketepatan penulisan bagian surat; (4) ejaan dan tanda baca;

(5) diksi atau pilihan kata; (6) penyusunan kalimat; (7) kepaduan paragraf; dan (8)

kerapian tulisan.


4.1.2.1.1 Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kelengkapan

           Bagian Surat

       Penilaian aspek kelengkapan bagian surat difokuskan pada kelengkapan

dalam menulis bagian surat permohonan resmi. Hasil penilaian tes kelengkapan

bagian surat dapat dilihat pada tabel 5 berikut.

Tabel 5. Hasil Tes Aspek Kelengkapan Bagian Surat

  No      Kategori        Rentang Nilai      Frekuensi        Persen (%)
 1      Sangat Baik       8 < Skor <10          26               55,3
 2      Baik              5 < Skor < 8          21               44,7
 3      Cukup             2 < Skor < 5           0                 0
 4      Kurang                 <2                0                 0
        Jumlah                                  47               100
        Rata-rata                                  7,6

       Data pada tabel 5 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan siswa untuk kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai oleh 26

siswa atau sebesar 55,3%. Kategori baik dengan skor 5-7 dicapai oleh 21 siswa

atau 44,7.%. Jadi, rata-rata skor klasikal pada kelengkapan menulis bagian surat
                                                                                  78



permohonan resmi yaitu sebesar 7,6 atau dalam kategori baik. Dengan demikian,

dapat dikatakan bahwa siswa sudah paham terhadap penulisan bagian-bagian surat

resmi. Bagian-bagian surat resmi tersebut di antaranya kepala surat, nomor,

lampiran, hal., tanggal penulisan, salam pembuka, isi surat, salam penutup, nama

dan tanda tangan pengirim, serta tembusan. Tembusan merupakan bagian surat

resmi yang harus penulisannya tidak terlalu wajib, artinya tembusan boleh ditulis

juga boleh tidak tergantung pada tujuan dan kepentingan instansi yang

bersangkutan. Dengan mengetahui bagian-bagian surat resmi diharapkan siswa

mampu menulis surat permohonan resmi dengan sistematika yang baik dan benar.


4.1.2.1.2   Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Isi Surat

       Penilaian aspek isi surat difokuskan pada kejelasan isi surat permohonan

yang ditulis oleh siswa yang meliputi isi surat jelas, cukup jelas, kurang jelas, dan

tidak jelas. Hasil penilaian tes ketepatan isi surat permohonan yang ditulis siswa

dapat dilihat pada tabel 6 berikut.

Tabel 6. Hasil Tes Aspek Isi Surat

 No       Kategori         Rentang Nilai         Frekuensi           Persen (%)
 1     Sangat Baik         8 < Skor <10             26                  55,3
 2     Baik                5 < Skor < 8             21                  44,7
 3     Cukup               2 < Skor < 5              0                    0
 4     Kurang                   <2                   0                    0
       Jumlah                                       47                  100
       Rata-rata                                   7,53

       Data pada tabel 6 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek isi surat untuk kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai

oleh 26 siswa atau sebesar 55,3%. Kategori baik dengan skor 5-7 dicapai oleh 21

siswa atau 44,7%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor pada aspek isi
                                                                               79



surat sebesar 7,53 atau dalam kategori baik. Dengan demikian, dapat dikatakan

bahwa kemampuan siswa dalam menulis isi surat permohonan sudah jelas, tidak

bertele-tele, lugas, dan tidak berambigu sudah tercapai. Siswa mulai memahami

dan mengerti arti isi surat yang baik dan benar.


4.1.2.1.3   Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Ketepatan

            Penulisan Bagian Surat

       Penilaian aspek ketepatan penulisan bagian surat difokuskan pada

ketepatan siswa dalam menulis bagian-bagian surat sesuai dengan letak dan cara

penulisannya. Hasil penilaian tes ketepatan menulis bagian-bagaian surat

permohonan resmi siswa dapat dilihat pada tabel 7 berikut ini.

Tabel 7. Hasil Tes Aspek Ketepatan Penulisan Bagian-Bagian Surat

  No      Kategori         Rentang Nilai       Frekuensi         Persen (%)
 1      Sangat Baik        8 < Skor <10           15                31,9
 2      Baik               5 < Skor < 8           32                68,1
 3      Cukup              2 < Skor < 5            0                  0
 4      Kurang                  <2                 0                  0
        Jumlah                                    47                100
        Rata-rata                                  7,13

       Berdasarkan tabel 7 tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal

mencapai nilai rata-rata 7,13 atau dalam kategori baik dalam menulis bagian-

bagian surat resmi dengan tepat. Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan

sebagai berikut. Siswa yang mendapat skor 8-10 dalam kategori sangat baik

dicapai oleh 15 orang atau sebanyak 31,9%, sedangkan untuk kategori baik

dengan jumlah skor antara 5-7 dicapai oleh 32 siswa atau sebesar 68,1%. Dengan

demikian, kemampuan siswa dalam menulis bagian-bagian surat permohonan

resmi dengan tepat sudah dapat dikatakan baik.
                                                                               80



4.1.2.4 Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Ejaan dan Tanda

        Baca

        Penilaian aspek ejaan dan tanda baca difokuskan pada pemakaian huruf

kapital, pemenggalan kata, tanda baca, dan penggunaan ejaan dalam menulis surat

permohonan resmi. Hasil penilaian tes ejaan dan tanda baca dapat dilihat pada

tabel 8 berikut ini.

Tabel 8. Hasil Tes Aspek Ejaan dan Tanda Baca

  No       Kategori         Rentang Nilai         Frekuensi       Persen (%)
 1       Sangat Baik        16 < Skor < 20            3               6,4
 2       Baik               13 < Skor <16            30              63,8
 3       Cukup              10 < Skor < 13           14              29,8
 4       Kurang             0 < Skor < 10             0                0
         Jumlah                                      47              100
         Rata-rata                               14,26

        Data pada tabel 8 tersebut menunjukkan bahwa keterampilan siswa pada

aspek ejaan dan tanda baca dengan kategori sangat baik dicapai oleh 3 orang atau

sebanyak 6,4%, sedangkan untuk kategori baik dengan jumlah skor antara 17-20

dicapai oleh 30 siswa atau sebesar 63,8%. Kategori cukup dengan skor antara 14-

16 dicapai oleh 14 siswa atau sebesar 29,8%. Setelah diakumulasikan didapat

hasil rata-rata klasikal sebesar 14,26 atau dalam kategori baik. Dengan demikian,

kemampuan siswa dalam menulis ejaan dan tanda baca secara keseluruhan sudah

dapat menggunakan ejaan dan tanda baca dengan benar, baik pemakaian huruf

kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda baca dalam surat permohonan

resmi yang ditulisnya. Peningkatan ini merupakan keberhasilan siswa dalam

mencerna dan memahami penjelasan guru. Peran guru dalam kelas kontekstual

juga sangat membantu demi kelangsungan pembelajaran yang bermutu.
                                                                                81



4.1.2.1.4   Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Diksi atau

            Pilihan Kata

        Penilaian aspek diksi atau pilihan kata pada surat difokuskan pada

pemilihan kata-kata yang baku. Hasil penilaian tes ketepatan pemilihan kata dapat

dilihat pada tabel 9 berikut ini.

Tabel 9. Hasil Tes Aspek Diksi atau Pilihan Kata

  No       Kategori          Rentang Nilai         Frekuensi       Persen (%)
 1       Sangat Baik         12 < skor <15            13              27,7
 2       Baik                8 < skor <12             33              70,2
 3       Cukup                4 < skor < 8             1               2,1
 4       Kurang               0 < skor < 4             0                0
         Jumlah                                       47              100
         Rata-rata                                  11,49

        Data pada tabel 9 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek pilihan kata atau diksi untuk kategori sangat baik dengan skor

13-15 dicapai oleh 13 siswa atau sebesar 27,7%. Kategori baik dengan skor 13-15

dicapai oleh 33 siswa atau 70,2%. Kategori cukup dengan skor 5-8 dicapai oleh 1

siswa atau sebesar 2,1%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor pada aspek

pilihan kata sebesar 11,49 atau dalam kategori baik. Data tersebut membuktikan

bahwa keterampilan siswa pada aspek pilihan kata atau diksi dalam menulis surat

permohonan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.2.1.5   Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Penyusunan

            Kalimat

        Penilaian aspek penyusunan kalimat pada surat resmi difokuskan pada

kohesi dan koherensi unsur-unsur pembentuk kalimat sehingga tersusun kalimat-

kalimat yang baik dan keterpaduan isi antarkalimat pun akan jelas. Hasil penilaian
                                                                               82



tes penyusunan kalimat dalam surat permohonan siswa dapat dilihat pada tabel 10

berikut ini.

Tabel 10. Hasil Tes Aspek Penyusunan Kalimat

  No       Kategori          Rentang Nilai        Frekuensi      Persen (%)
 1       Sangat Baik         12 < skor <15           12             25,5
 2       Baik                8 < skor <12            34             72,3
 3       Cukup                4 < skor < 8            1              2,1
 4       Kurang               0 < skor < 4            0               0
         Jumlah                                      47             100
         Rata-rata                              11,7


        Berdasarkan tabel 10 tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal

mencapai nilai rata-rata 11,7 atau dalam kategori baik dalam menulis bagian-

bagian surat resmi dengan tepat. Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan

sebagai berikut. Siswa yang mendapat skor 8-10 dalam kategori sangat baik

dicapai oleh 12 orang atau sebanyak 25,5%, sedangkan untuk kategori baik

dengan jumlah skor antara 5-7 dicapai oleh 34 siswa atau sebesar 72,3%. Kategori

cukup dengan skor antara 2-4 dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,1%. Dengan

demikian, kemampuan siswa dalam memadukan isi antarkalimat secara

keseluruhan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.2.1.6      Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kepaduan

               Paragraf

        Penilaian aspek kepaduan paragraf pada surat resmi difokuskan pada

kohesi dan koherensi unsur-unsur pembentuk kalimat sehingga tersusun kalimat-

kalimat yang baik dan keterpaduan isi antarparagraf pun akan jelas. Hasil
                                                                                  83



penilaian tes kepaduan paragraf dalam surat permohonan siswa dapat dilihat pada

tabel 11 berikut ini.

Tabel 11. Hasil Tes Aspek Penyusunan Kalimat

  No       Kategori         Rentang Nilai         Frekuensi          Persen (%)
 1       Sangat Baik        12 < skor <15             3                  6,4
 2       Baik               8 < skor <12             43                 91,5
 3       Cukup               4 < skor < 8             1                  2,1
 4       Kurang              0 < skor < 4             0                   0
         Jumlah                                      47                 100
         Rata-rata                                  11,02


        Data pada tabel 11 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek kepaduan paragraf untuk kategori sangat baik dengan skor 13-

15 dicapai oleh 3 siswa atau sebesar 6,4%. Kategori baik dengan skor 9-12 dicapai

oleh 43 siswa atau 91,5 %. Kategori cukup dengan skor 5-8 dicapai oleh 1 siswa

atau sebesar 2,1%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor pada aspek isi

surat sebesar 11,02 atau dalam kategori baik. Data tersebut membuktikan bahwa

keterampilan siswa pada aspek kepaduan paragraf dalam menulis surat

permohonan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.2.1.7   Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kerapian

            Tulisan

        Penilaian aspek kerapian tulisan surat difokuskan pada tulisan siswa

apakah bersih, tidak ada coretan, banyak coretan atau tulisan sulit terbaca. Hasil

penilaian kerapian tulisan surat dapat dilihat pada tabel 12 berikut ini.
                                                                              84



Tabel 12. Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kerapian Tulisan

 No      Kategori             Rentang Nilai     Frekuensi        Persen (%)
 1    Sangat Baik              4 < Skor <5          3                6,4
 2    Baik                     3 <Skor < 4         20               42,6
 3    Cukup                    1< skor < 3         24               51,1
 4    Kurang                   0 < skor < 1         0                 0
      Jumlah                                       47               100
      Rata-rata                                    3,55

       Data pada tabel 12 menunjukkan bahwa kerapian tulisan siswa dalam

menulis surat permohonan untuk kategori sangat baik dengan skor 4-5 dicapai

oleh 3 siswa atau sebesar 6,4%. Kategori baik dengan skor 3-4 dicapai oleh 20

siswa atau 42,6%. Kategori cukup dengan skor 2-3 dicapai oleh 24 siswa atau

sebesar 51,1%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor pada aspek kerapian

tulisan sebesar 3,55 atau dalam kategori baik. Data tersebut membuktikan bahwa

keterampilan siswa pada aspek kerapian tulisan dalam menulis surat permohonan

sudah dapat dikatakan baik.

       Hasil tes keterampilan menulis surat permohonan resmi pada siklus I dapat

dilihat pada grafik 2 di bawah ini.

            100
             90
             80
             70
             60
             50
             40
             30
             20
             10
              0
                  1   4   7   10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46


                                 Gambar 6.
        Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus I
                                                                                 85



          Grafik di atas menunjukkan bahwa mayoritas siswa masih berada pada

kategori cukup antara 60-74 sebanyak 26, dan pada kategori baik antara 75-84

hanya diperoleh 18 siswa. sedangkan predikat sangat baik dengan nilai 85-100

sebanyak 2 siswa, sisanya masuk pada kategori kurang dengan nilai 0-59

sebanyak 1 siswa.

          Pada siklus I ini, hasil tes keterampilan menulis surat permohonan resmi

secara klasikal masih menunjukkan kategori cukup dan belum meraih target

maksimal pencapaian nilai rata-rata kelas yang ditentukan, yaitu 75. Selain itu,

perubahan tingkah laku dalam pembelajaran menulis surat permohonan resmi

masih tergolong normal belum tampak perubahan yang berarti. Dengan demikian,

tindakan siklus II perlu dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut.


4.1.2.2     Hasil Nontes

          Hasil penelitian nontes pada siklus I ini didapatkan dari hasil observasi,

jurnal, wawancara, dan dokumentasi foto. Hasil selengkapnya dijelaskan pada

uraian berikut.


4.1.2.2.1    Hasil Observasi

          Kegiatan observasi dalam penelitian ini ada dua macam yaitu observasi

siswa dan observasi kelas. Observasi siswa dilaksanakan oleh peneliti sebagai

observator pertama sedangkan observasi kelas dilaksanakan oleh teman peneliti

sebagai observator kedua.

          Pengambilan data observasi dilakukan selama proses pembelajaran

menulis surat permohonan resmi dengan menggunakan pendekatan kontekstual
                                                                                86



elemen konstruktivisme pada siswa kelas VII SMP Negeri 5 Semarang.

Pengambilan data observasi ini bertujuan untuk memotret respon perilaku siswa

dalam menerima pembelajaran menulis surat permohonan melalui pendekatan

kontesktual elemen konstruktivisme.

a. Observasi Siswa

       Objek sasaran yang diamati dalam observasi siswa meliputi lima belas

perilaku siswa, baik positif maupun negatif yang muncul saat pembelajaran

berlangsung. Adapun objek sasaran tersebut adalah : (1) perhatian siswa terhadap

penjelasan guru; (2) keaktifan siswa dalam bertanya; (3) kualitas pertanyaan

siswa; (4) pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan; (5) keaktifan siswa

dalam diskusi dan kegiatan kelompok; (6) respon siswa terhadap contoh surat

yang dihadirkan guru; (6) kemampuan siswa dalam mengidentifikasi dan

memberikan contoh-contoh bagian surat baik secara lisan maupun tertulis; (7)

kreativitas siswa dalam menghasilkan karya yang lebih baik; (8) refleksi yang

dilakukan siswa terhadap materi yang diajarkan; (9) respon siswa terhadap

pembelajaran kurang; (10) siswa pasif; (11) semangat siswa dalam kegiatan

diskusi kurang; (12) siswa sering bergurau saat pembelajaran berlangsung; (13)

siswa sering jalan-jalan atau mondar-mandir saat pembelajaran; (14) siswa kurang

bersemangat mengerjakan tes; (15) siswa sering melihat pekerjaan temannya saat

tes berlangsung.

       Pada siklus I ini, terdapat beberapa perilaku siwa yang terdeskripsi melalui

observasi. Selama melakukan kegiatan pembelajaran menulis surat permohonan

resmi dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme,
                                                                           87



tidak semua siswa dapat mengikutinya dengan baik. Peneliti menyadari hal

tersebut, karena pola pembelajaran yang diterapkan peneliti merupakan hal baru

bagi mereka sehingga perlu proses untuk menyesuaikannya.

       Berdasarkan data yang ada diketahui bahwa sebagian besar siswa atau

sebanyak 75% dari jumlah siswa seluruhnya penuh konsentrasi memperhatikan

penjelasan guru. Sisanya sebanyak 25% kurang merespons penjelasan guru,

mereka asyik bicara sendiri dengan teman sebangkunya atau dengan teman

sekelompoknya. Beberapa siswa yang memperhatikan penjelasan guru banyak

bertanya dan pertanyaan siswa mengarah pada pemecahan masalah. Siswa yang

aktif bertanya tersebut di antaranya adalah Dedi Setiawan, Patrisa, Yeni

Oktaviani, Muhammad Ari Akmal, dan Endah. Kelima siswa ini lebih aktif

bertanya dibandingkan dengan teman-temannya yang cenderung pasif tidak mau

bertanya. Siswa yang pasif ini dimungkinkan karena siswa masih malu, malas

bertanya, dan tidak tahu apa yang harus ditanyakan. Sebagian besar siswa atau

sebanyak 65% siswa ini memilih diam daripada bertanya. Keadaan ini tentunya

harus dicarikan solusi pemecahannya agar siswa secara merata adil bertanya

ataupun berpendapat tanpa harus malu atau ragu. Masalah ini merupakan suatu

tugas bagi peneliti untuk memperbaikinya pada siklus selanjutnya.

       Pada kegiatan inti pembelajaran, guru menugaskan siswa untuk

mendiskusikan dua contoh surat permohonan yang diberikan oleh guru. Contoh

surat yang pertama merupakan surat permohonan yang salah dan contoh surat

yang kedua merupakan contoh surat permohonan yang benar. Selanjutnya siswa

diminta mendiskusikan atau mencari perbedaan contoh surat yang dibagikan dari
                                                                               88



segi isi, bahasa, dan sistematika surat. Respon yang diberikan siswa pada saat itu

adalah seluruh siswa tampak penasaran pada isi surat yang dibagikan karena

memang surat dibagikan dalam amplop tertutup. Siswa tampak senang dan

menikmati surat yang diterimanya. Dari dua contoh surat yang didiskusikan

sebagian besar siswa atau sebanyak 60% siswa dapat mengidentifikasi contoh-

contoh surat tersebut. Hal ini dibuktikan saat siswa ditugaskan guru maju ke

depan untuk mempresentasikan hasil diskusinya yaitu mencari perbedaan kedua

contoh surat tersebut.

       Pada    akhir     pembelajaran,   siswa   diminta   mereflesikan   kegiatan

pembelajaran saat itu. Adakah manfaat yang diperoleh siswa setelah mempelajari

surat permohonan resmi. Siswa pun aktif menjawab pertanyaan yang diajukan

guru tentang refleksi pembelajaran hari itu. Setelah itu kegiatan dilanjutkan

dengan tes menulis surat permohonan resmi untuk mengukur sejauh mana

kemampuan dan pemahaman siswa dalam menulis surat permohonan resmi

setelah dilaksanakannya proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme. Sebanyak 30 siswa atau 65% terlihat semangat

mengerjkan tugas yang diberikan guru, sedangkan siswa lainnya sebanyak 17 atau

35% masih terlihat kurang bersemangat dalam mengerjakan tes menulis surat

permohonan resmi.

       Berdasarkan pengamatan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa

perilaku negatif masih banyak menonjol. Siswa tampak belum siap menyesuaikan

pola pembelajaran yang diterapkan oleh guru. Keadaan ini merupakan masalah

besar yang harus dipecahkan peneliti. Rencana pembelajaran pada siklus
                                                                         89



berikutnya tentunya harus lebih dimatangkan lagi agar perilaku negatif yang

masih menonjol bergeser menjadi perilaku positif.


b. Observasi Kelas

       Observasi kelas yang dilakukan teman peneliti bertujuan untuk

mengevaluasi cara kerja guru praktikan dalam memberikan pembelajaran menulis

surat permohonan, sehingga strategi maupun pendekatan yang dilakukan guru

dapat dipertanggungjawabkan. Selain tugas utama tersebut teman peneliti juga

melakukan pengamatan terhadap respons anak didiknya selama mengikuti

pembelajaran menulis surat permohonan dari guru praktikan. Adapun objek

sasaran observasi kelas ini lebih difokuskan pada aspek kemampuan

berkomunikasi, aktivitas belajar, dan keterampilan guru praktikan dalam

mengajar.

       Aktifitas belajar pada proses pembelajaran pada umumnya siswa kurang

bersemangat, walaupun siswa tampak menikmati pembelajaran menulis surat

resmi. Kegiatan siswa dalam berdiskusi tampak tidak aktif, siswa cenderung

membicarakan masalah lain selain surat resmi. Pada saat melakukan tes siswa

tampak dengan senang hati menulis surat permohonan resmi, dalam waktu 30

menit siswa dapat menyelesaikan tes menulis surat permohonan resmi sesuai

dengan waktu yang telah ditentukan.

       Hasil pengamatan teman peneliti terhadap guru praktikan dijelaskan

bahwa kemampuan guru praktikan dalam membuka pelajaran, menyampaikan

materi, penguasaan materi, dan cara guru menjalin komunikasi dengan siswa

sudah baik. Dalam menerapkan pendekatan kontekstual elemen konstruktivsime
                                                                              90



juga sudah cukup baik. Kemampuan guru dalam mengelola kelas berbasis

kompetensi, baik dalam menggalakkan siswa dalam proses pembelajaran maupun

dalam menggali pengetahuan awal siswa sudah cukup baik. Cara menutup

pembelajaran dengan melakukan refleksi juga sudah baik. Secara keseluruhan

teman peneliti menilai pola pembelajaran yang dilakukan guru praktikan dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme sudah baik.


4.1.2.2.2   Hasil Jurnal

       Jurnal yang digunakan dalam penelitian ini ada dua macam yaitu jurnal

siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut berisi ungkapan perasaan siswa dan

guru selama proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi berlangsung.

a. Jurnal Siswa

       Jurnal siswa harus diisi oleh siswa tanpa terkecuali. Pengisian jurnal

tersebut dilakukan pada akhir pembelajaran menulis surat permohonan dengan

pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme. Tujuan diadakan jurnal siswa ini

untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat berlangsungnya proses

pembelajaran dan untuk mengungkap kesulitan-kesulitan siswa yang meliputi

enam pertanyaan, yaitu : (1) metode mengajar guru; (2) pendapat siswa mengenai

pembelajaran menulis surat permohonan resmi; (3) kesulitan siswa dalam menulis

surat permohonan resmi; (4) perasaan siswa selama mengikuti proses

pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme; (5) perasaan siswa setelah pembelajaran menulis surat

permohonan berakhir; (6) kesan dan pesan yang dapat diberikan siswa pada proses
                                                                         91



pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual

elemen konstruktivisme.

       Keadaan awal saat pembagian jurnal siswa sangat mengesankan. Kegiatan

baru ini cukup membuat penasaran siswa, terlihat siswa tampak antusias ingin

segera mendapatkan jurnal dan ingin segera mengisinya. Keadaan ini dapatlah

dipahami karena sebelumnya siswa tidak pernah melakukan pengisian jurnal di

akhir pembelajaran. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, siswa segera

mengisi jurnal tersebut. Namun, karena waktu pelajaran habis jurnal dibawa

pulang untuk diisi di rumah dan dikumpulkan pada pertemuan berikutnya. Hasil

jurnal yang telah direkap selengkapnya diuraikan sebagai berikut.

       Pada dasarnya sebagian besar siswa menanggapi baik terhadap metode

pembelajaran guru pada saat memberikan pembelajaran menulis surat

permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme. Siswa

menilai metode pembelajaran yang digunakan guru mudah dipahmi, jelas, dan

menyenangkan. Dengan demikian tugas guru dalam kelas kontekstual dapat

dikatakan berhasil karena guru telah membimbing siswa mencapai tujuannya

dengan menciptakan proses belajar kelas yang hidup, menyenangkan, dan lebih

bermakna. Dengan pembelajaran tersebut tentunya siswa merasa tidak terbebani

dalam menyerap materi pelajaran yang diberikan guru, karena pendekatan

kontektual lebih mengutamakan proses daripada produk. Dengan pengalaman

belajar yang menyenangkan dan mengkaitkan pembelajaran dengan dunia nyata

tentunya memudahkan siswa dalam menyerap pelajaran. Apalgi siswa merasa
                                                                            92



dekat dan simpati dengan guru, hal ini berdasarkan beberapa pernyataan siswa

yang berpendapat bahwa guru praktikan ramah, baik, dan tidak galak.

       Sebagian besar siswa merespon positif terhadap pembelajaran menulis

surat permohonan resmi. Pernyataan bagus dan menyenangkan banyak tertulis

dalam jurnal. Pernyataan siswa ini membuktikan kalau mereka tertarik dan

menyukai materi yang diajarkan guru. Siswa merespon bagus karena dalam proses

pembelajaran guru mengantarkan siswa ke dalam dunia nyata, dengan

membagikan surat permohonan resmi yang tertutup dalam amplop. Kondisi ini

merupakan pengalaman baru bagi siswa karena dalam pembelajaran sebelumnya

guru bidang studi. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan respon sebagian

besar siswa yang diungkapkan dalam jurnal. Hal ini merupakan bukti bahwa

selama proses pembelajaran siswa menikmati semua metode yang diberikan guru

mulai dari apersepsi, kegiatan inti yang diwarnai dengan diskusi dan permainan

serta penutup pelajaran yang diisi dengan kegiatan refleksi.

       Walaupun siswa terlihat menanggapi dan menerima dengan baik

pembelajaran menulis surat permohonan resmi. Namun, kesulitan-kesulitan yang

dialami oleh beberapa siswa ternyata masih ada. Berdasarkan hasil analisis,

kesulitan-kesulitan yang dihadapi siswa dalam menulis surat permohonan resmi

meliputi : (1) siswa kesulitan dalam menggunakan bahasa surat yang tepat; (2)

siswa susah memilih kata-kata atau diksi yang tepat; (3) siswa merasa kesulitan

karena mereka tidak paham dan kurang jelas dengan penjelasan guru; (4) siswa

susah berpikir karena teman sebangkunya ramai. Peneliti menilai bahwa

kesulitan-kesulitan yang muncul dan menyelimuti sebagian kecil siswa ini
                                                                           93



merupakan hal yang wajar karena tidak semua siswa dapat menyerap materi yang

diajarkan guru dengan mudah karena kapasitas pemahaman masing-masing siswa

berbeda. Namun setidaknya hal baru ini dapat memberikan pengalaman nyata

yang bermakna bagi siswa dan dapat ditingkatkan lagi pada kesempatan

berikutnya.

       Tanggapan siswa terhadap metode yang digunakan guru pada umumnya

beranggapan baik dan menyenangkan. Hal ini dikarenakan pada saat proses

pembelajaran guru menggali pengetahuan awal yang sudah dimiliki siswa

sehingga memudahkan siswa dalam memahami materi yang akan diajarkan.

Model surat yang dibagikan kepada tiap-tiap kelompok bertujuan untuk

mengaktifkan siswa dalam pemecahan masalah yang muncul dalam menulis surat

permohonan resmi dengan cara bekerja kelompok. Dalam kegiatan diskusi terjadi

aktifitas bertanya antara siswa dengan siswa, antara guru dengan siswa serta

antara siswa dan guru jika siswa menemukan kesulitan. Bagi guru, bertanya

digunakan untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir

siswa. Bagi siswa, kegiatan bertanya merupakan bagian penting dalam proses

pembelajaran. Mereka bertanya untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan

apa yang sudah diketahui dan mengarahkan pada hal-hal yang belum diketahuinya

dan tugas guru adalah memberikan penguatan terhadap apa yang telah diperoleh

siswa. Guru memberitahuakan apakah pemikiran siswa itu benar atau salah. Kalau

pemikiran siswa masih salah tugas guru adalah mengarahkannya sehingga

pemikiran itu benar.
                                                                            94



       Selanjutnya,   tanggapan   yang   diberikan   siswa   selama   mengikuti

pembelajaran menulis surat permohonan resmi cukup mengesankan. Ini terbukti

dengan pernyataan siswa yang senang mengikuti proses pembelajaran menulis

surat permohonan resmi. Siswa merasa senang karena pengalaman baru tentang

pembelajaran menulis surat permohonan resmi didapatkannya dengan metode

guru yang menarik. Guru menyisipkan kuis dan permainan yang sebelumnya tidak

didapatkan siswa selama pembeljaran menulis surat. Pembelajaran kontekstual

elemen konstruktivisme memberikan pengalaman baru yang bermakna bagi siswa

sehingga siswa merasa senang dan menikmati pembelajaran yang diberikan guru.

       Saran yang diberikan siswa selama proses pembelajaran menulis surat

permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme itu

pun berbeda-beda. Adapun saran yang diberikan siswa di antranya adalah

pembelajaran menulis surat permohonan perlu ditingkatkan menjadi lebih baik,

kegiatan berdiskusi perlu diperhatikan agar semua siswa aktif dan tidak hanya

beberapa saja yang aktif, dan pembelajaran harus dibuat lebih menarik lagi

sehingga siswa lebih bersemangat mengikuti pembelajaran.

b. Jurnal Guru

       Jurnal guru berisi segala hal yang dirasakan guru selama proses

pembelajaran berlangsung. Adapaun hal-hal yang menjadi objek sasaran jurnal

guru adalah : (1) minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis surat

permohonan dengan pendekatan kontekstual elemen kontruktivisme; (2) respon

siswa terhadap contoh yang dihadirkan guru; (3) keaktifan siswa selama

mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan; (4) perilaku siswa di kelas
                                                                            95



saat melakukan kegiatan diskusi kelompok; (5) fenomena-fenomena yang muncul

di kelas saat proses pembelajaran berlangsung.

       Berdasarkan objek sasaran yang diamati dan dirasakan peneliti saat

menjalankan pembelajaran yang tertuang dalam jurnal, dapat dijelaskan bahwa

guru belum merasa puas terhadap proses pembelajaran karena masih ada beberapa

siswa yang belum sepenuhnya mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan

dengan penuh konsentrasi. Namun, guru merasa berhasil jika siswa aktif dalam

proses pembelajaran. Selama pelaksanaan siklus I, diperoleh data bahwa masih

banyak siswa yang terlihat psif dan kurang serius dalam diskusi. Siswa tampak

masih malu bertanya dan takut salah menjawab pertanyaan guru. Hal ini diduga

disebabkan karena siswa belum terbiasa dengan model pembelajaran yang

diterapkan. Kurangnya kesiapan siswa dan sumber belajar yang kurang lengkap

dapat menghambat proses membangun pengetahuan. Kekurangan juga terlihat

pada faktor guru, guru belum sepenuhnya melakukan proses pembelajaran yang

direncanakan. Guru masih canggung dalam berinteraksi dengan siswa, kurang

memberi motivasi terhadap siswa, mengemukakan pendapat dan menanggapi

pendapat kelompok lain. Pengelolaan kelas dan waktu yang masih kurang baik

sehingga perlu perencanaan yang lebih baik.


4.1.2.2.3   Hasil Wawancara

       Pada siklus I, sasaran wawancara difokuskan pada tiga orang siswa yang

mendapat nilai tertinggi, cukup, dan nilai yang terendah pada hasil tes menulis

surat permohonan resmi. Wawancara ini mengungkap 5 butir pertanyaan sebagai

berikut : (1) apakah siswa senang dengan metode pembelajaran guru; (2) apakah
                                                                               96



ada perubahan cara guru mengajar; (3) apakah siswa mengalami kesulitan dalam

menulis surat permohonan resmi; (4) apakah penyebab kesulitan siswa dalam

menulis surat permohonan; (5) pendapat siswa mengenai pembelajaran yang

disukai. Hasil wawancara dari ketiga responden bernama Adhi Widyatko,

Purnaningsih, dan Yenni Oktaviani dapat dipaparkan sebagai berikut.

       Perasaan senang dilontarkan oleh ketiga siswa yang mendapat nilai

tertinggi, sedang, dan terendah yaitu Yenni, Purnaningsih, dan Adhi. Kenyataan

ini sangat sesuai dengan respon siswa terhadap pembelajaran yang diberikan guru.

Siswa umumnya menerima dan merespon positif terhadap pembelajaran yang

diberikan guru. Siswa banyak bertanya daripada guru, mereka juga aktif maju ke

depan untuk menjelaskan hasil diskusinya. Adanya permainan yang disisipkan

dalam pembelajaran menulis surat permohonan resmi menambah semangat siswa

dalam mengikuti pembelajaran. Walaupun ada sebagian kecil siswa yang ramai,

jalan-jalan sendiri namun mereka tampak senang dan menikmati pembelajaran

menulis surat permohonan resmi. Keadaan ini merupakan suatu peningkatan

perilaku positif siswa dari siklus I, sebelumnya mereka kurang bersemangat dalam

mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi, sekarang siswa lebih

aktif, kreatif, dan produktif dalam menghasilkan karya yang lebih baik.

       Perubahan    strategi   pembelajaran   yang    dilakukan    guru   ternyata

memberikan manfaat bagi siswa, siswa terlihat senang dan menikmati

pembelajaran yang diberikan guru. Seperti yang diungkapkan ketiga responden ini

mereka mengatakan ada perubahan cara guru mengajar lebih santai, dan

menyenangkan. Senada dengan pendapat Yenni, Purnaningsih juga berkomentar
                                                                             97



ada perubahan cara guru mengajar. Suasana kelas tidak menegangkan dan lebih

enak, sedangkan siswa bernama Adhi Widyatko mengatakan ada perubahan cara

guru mengajar, guru memberikan contoh-contoh dalam pembelajaran dan

mendiskusikannya dengan teman-teman satu kelompok.

       Kesulitan-kesulitan dalam pembelajaran yang siswa memang selalu ada.

Tidak semua siswa dapat menyerap pelajaran dengan mudah, seperti yang

dikatakan oleh Purnaningsih dan Adhi Widyatko yang berpredikat prestasi tes

menulis surat permohonan resmi sedang dan rendah, ternyata mereka mengalami

kesulitan dalam menulis surat permohonan resmi. Purnaningsih menyatakan

bahwa ia belum begitu paham cara menulis surat resmi dengan sistematika dan

bahasa yang baik dan benar, sedangkan Yenni mengaku tidak mempunyai

kesulitan yang berarti pada tes menulis surat permohonan karena ia sudah paham

dengan pembelajaran menulis surat permohonan resmi.

4.1.2.2.4   Hasil Dokumentasi Foto

       Pada siklus I ini, dokumentasi foto yang diambil difokuskan pada kegiatan

selama proses pembelajaran berlangsung, berupa kegiatan pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual, kegiatan diskusi, presentasi, dan kegiatan tes.

Dokumentasi berupa gambar ini merupakan bukti visual kegiatan pembelajaran

selama penelitian berlangsung. Deskripsi gambar pada siklus I selengkapnya

dipaparkan sebagai berikut.
                                                                              98




                                  Gambar 7.
            Aktivitas pembelajaran menulis surat permohonan resmi


       Gambar tersebut merupakan kegiatan diskusi yang dilakukan pada siklus

I. Pada kegiatan ini siswa mendiskusikan dua contoh surat yang dibagikan kepada

tiap kelompok, kemudian siswa mencari perbedaan kedua contoh surat tersebut

dari segi penulisan surat atau sistematikanya dan bahasa surat. Selain itu, siswa

juga mendiskusikan bagaimana cara menulis bagian-bagian surat resmi yang baik

dan benar. Tampak juga guru praktikan yang sedang memberi pengarahan pada

satu kelompok
                                                                               99




                                  Gambar 8.
  Kegiatan diskusi saat pembelajaran menulis surat permohonan resmi siklus I


       Pada gambar di atas tampak bahwa siswa mendiskusikan semua tugas

yang diberikan kepada tiap-tiap kelompok. Tampak dalam gambar siswa aktif

berdiskusi dengan teman kelompoknya masing-masing dan terlihat siswa antuisias

mengukuti diskusi dalam proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi.
                                                                         100




                                 Gambar 9.
                           Presentasi Hasil Diskusi

      Gambar di atas menunjukkan bahwa ada salah satu siswa yang merupakan

perwakilan dari kelompok maju ke depan untuk mempresentasikan hasil

diskusinya. Saat siswa tersebut mempresentsikan hasil diskusinya, sedangkan

siswa lain mendengarkan. Setelah itu, siswa mengomentari jawaban kelompok

yang maju ke depan. Dengan aktivitas semacam ini diskusi benar-benar berjalan

dengan lancar dan menyenangkan.
                                                                              101




                                   Gambar 10.
                                Aktivitas bertanya
         Pada gambar terlihat bahwa ada salah satu siswa yang bertanya. Aktivitas

bertanya berguna untuk merangsang pemikiran siswa tentang suatu hal yang

kurang atau tidak dipahami oleh siswa. Hal ini sesuai dengan pendekatan

kontekstual elemen konstruktivisme yang menitikberatkan pada hasil konstruksi

siswa tentang suatu pengetahuan yang sudah tersusun dalam struktur kognitif

siswa.


4.1.3    Hasil Siklus II

4.1.3.1 Hasil Tes

Tabel 13. Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus II

 No         Kategori       Rentang Nilai       Frekuensi         Persen (%)
 1       Sangat Baik          85-100               15               31,9
 2       Baik                 75-84               25                53,2
 3       Cukup                60-74                6                12,8
 4       Kurang                0-59                1                 2,1
         Jumlah                                   47                100
         Rata-rata                                81,11
                                                                             102



       Data pada tabel 13 menunjukkan bahwa hasil tes keterampilan menulis

surat permohonan resmi siswa secara klasikal mencapai nilai rata-rata 81,11

dalam kategori baik. Skor rata-rata tersebut dapat dikatakan sudah mengalami

peningkatan sebesar 6,83% dari hasil siklus I. Dari 47 siswa, 31,9% atau 15 siswa

yang berhasil meraih predikat sangat baik dengan skor 85-100 Selanjutnya, siswa

lainnya sebanyak 25 siswa atau 53,2% memperoleh nilai baik yaitu dengan nilai

antara 75-84. Selebihnya, 6 siswa atau 12,8% memperoleh nilai cukup, yaitu

antara 60-74. Bahkan, terdapat 1 siswa atau 2,1% hanya mencapai nilai 0-59

dalam kategori kurang.

                                     Siklus II
                      Sangat baik
                                                       Kurang

                                                        Cukup




                                                         Baik




                              Gambar 10.
   Diagram Pie Hasil Kemampuan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus II

       Nilai rata-rata skor pada siklus II ini sudah mencapai target bahkan

melampui target yang telah ditentukan yaitu 75. Hal ini merupakan hal yang

sungguh menggembirakan karena dengan adanya peningkatan nilai rata-rata siswa

pada siklus II ini menunjukkan bahwa pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme dalam pembelajaran menulis surat permohonan resmi dapat

dikatakan berhasil.
                                                                                  103



       Hasil tes tersebut merupakan jumlah skor delapan aspek keterampilan

menulis surat permohonan resmi yang diujikan, meliputi :           (1) kelengakapan

bagian surat; (2) isi surat; (3) ketepatan penulisan bagian surat; (4) ejaan dan tanda

baca; (5) diksi atau pilihan kata; (6) penyusunan kalimat; (7) kepaduan paragraf;

dan (8) kerapian tulisan.

4.1.3.2 Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kelengkapan

        Bagian Surat

       Penilaian aspek kelengkapan bagian surat difokuskan pada kelengkapan

dalam menulis bagian surat permohonan resmi. Hasil penilaian tes kelengkapan

bagian surat dapat dilihat pada tabel 14 berikut.

Tabel 14. Hasil Tes Aspek Kelengkapan Bagian Surat

  No      Kategori          Rentang Nilai    Frekuensi          Persen (%)
 1      Sangat Baik         8 < Skor <10        45                 95,7
 2      Baik                5 < Skor < 8         2                  4,3
 3      Cukup               2 < Skor < 5         0                   0
 4      Kurang                   <2              0                   0
        Jumlah                                  47                 100
        Rata-rata                                 8,34


       Data pada tabel 14 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan siswa untuk kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai oleh 45

siswa atau sebesar 95,7%. Kategori baik dengan skor 5-7 dicapai oleh 2 siswa atau

4,3%. Jadi, rata-rata skor klasikal pada kelengkapan menulis bagian surat

permohonan resmi yaitu sebesar 8,34.atau dalam kategori sangat baik. Dengan

demikian, dapat dikatakan bahwa siswa sudah paham terhadap penulisan bagian-

bagian surat resmi. Bagian-bagian surat resmi tersebut di antaranya kepala surat,

nomor, lampiran, hal., tanggal penulisan, salam pembuka, isi surat, salam
                                                                                 104



penutup, nama dan tanda tangan pengirim, serta tembusan. Tembusan merupakan

bagian surat resmi yang harus penulisannya tidak terlalu wajib, artinya tembusan

boleh ditulis juga boleh tidak tergantung pada tujuan dan kepentingan instansi

yang bersangkutan. Dengan mengetahui bagian-bagian surat resmi diharapkan

siswa mampu menulis surat permohonan resmi dengan sistematika yang baik dan

benar.


4.1.3.3 Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Isi Surat

         Penilaian aspek isi surat difokuskan pada kejelasan isi surat permohonan

yang ditulis oleh siswa yang meliputi isi surat jelas, cukup jelas, kurang jelas, dan

tidak jelas. Hasil penilaian tes ketepatan isi surat permohonan yang ditulis siswa

dapat dilihat pada tabel 15 berikut.

Tabel 15. Hasil Tes Aspek Isi Surat

  No        Kategori      Rentang Nilai       Frekuensi          Persen (%)
 1        Sangat Baik     8 < Skor <10           37                 78,7
 2        Baik            5 < Skor < 8           10                 21,3
 3        Cukup           2 < Skor < 5            0                   0
 4        Kurang               <2                 0                   0
          Jumlah                                 47                 100
          Rata-rata                              8,06


         Data pada tabel 15 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek isi surat untuk kategori sangat baik dengan skor 8-10 dicapai

oleh 37 siswa atau sebesar 78,7%. Kategori baik dengan skor 5-7 dicapai oleh 10

siswa atau 21,3%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kemampuan siswa

dalam menulis isi surat permohonan sudah jelas, tidak bertele-tele, lugas, dan
                                                                              105



tidak berambigu sudah tercapai. Siswa mulai memahami dan mengerti arti isi

surat yang baik dan benar.


4.1.3.4    Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Ketepatan

           Penulisan Bagian Surat

          Penilaian aspek ketepatan penulisan bagian surat difokuskan pada

ketepatan siswa dalam menulis bagian-bagian surat sesuai dengan letak dan cara

penulisannya. Hasil penilaian tes ketepatan menulis bagian-bagaian surat

permohonan resmi siswa dapat dilihat pada tabel 16 berikut in

Tabel 16. Hasil Tes Aspek Ketepatan Penulisan Bagian-Bagian Surat

 No      Kategori            Rentang Nilai    Frekuensi         Persen (%)
 1    Sangat Baik            8 < Skor <10        28                59,6
 2    Baik                   5 < Skor < 8        19                40,4
 3    Cukup                  2 < Skor < 5         0                  0
 4    Kurang                      <2              0                  0
      Jumlah                                     47                100
      Rata-rata                                 7,66


          Berdasarkan tabel 16 tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal

mencapai nilai rata-rata 7,66 atau dalam kategori baik dalam menulis bagian-

bagian surat resmi dengan tepat. Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan

sebagai berikut. Siswa yang mendapat skor 8-10 dalam kategori sangat baik

dicapai oleh 28 orang atau sebanyak 59,6%, sedangkan untuk kategori baik

dengan jumlah skor antara 5-7 dicapai oleh 19 siswa atau sebesar 40,4%. Dengan

demikian, kemampuan siswa dalam menulis bagian-bagian surat permohonan

resmi dengan tepat sudah dapat dikatakan baik.
                                                                              106



4.1.2.4 Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Ejaan dan Tanda

        Baca

        Penilaian aspek ejaan dan tanda baca difokuskan pada pemakaian huruf

kapital, pemenggalan kata, tanda baca, dan penggunaan ejaan dalam menulis surat

permohonan resmi. Hasil penilaian tes ejaan dan tanda baca dapat dilihat pada

tabel 17 berikut ini.

Tabel 17. Hasil Tes Aspek Ejaan dan Tanda Baca

  No       Kategori         Rentang Nilai        Frekuensi       Persen (%)
 1       Sangat Baik        16 < Skor < 20          16              34,0
 2       Baik               13 < Skor <16           30              63,8
 3       Cukup              10 < Skor < 13           1               2,1
 4       Kurang             0 < Skor < 10            0                0
         Jumlah                                     47              100
         Rata-rata                               15,51


        Data pada tabel 17 tersebut menunjukkan bahwa keterampilan siswa pada

aspek ejaan dan tanda baca dengan kategori sangat baik dicapai oleh 16 siswa atau

sebanyak 34%, sedangkan untuk kategori baik dengan jumlah skor antara 5-7

dicapai oleh 30 siswa atau sebesar 63,8%. Kategori cukup dengan skor antara 2-4

dicapai oleh 1 siswa atau sebesar 2,1%.Setelah diakumulasikan didapat hasil rata-

rata klasikal sebesar 15,51 atau dalam kategori baik. Dengan demikian,

kemampuan siswa dalam menulis ejaan dan tanda baca secara keseluruhan sudah

dapat menggunakan ejaan dan tanda baca dengan benar, baik pemakaian huruf

kapital, pemenggalan kata, dan penggunaan tanda baca dalam surat permohonan

resmi yang ditulisnya. Peningkatan ini merupakan keberhasilan siswa dalam

mencerna dan memahami penjelasan guru. Peran guru dalam kelas kontekstual

juga sangat membantu demi kelangsungan pembelajaran yang bermutu.
                                                                              107



4.1.3.5    Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Diksi atau

           Pilihan Kata

          Penilaian aspek diksi atau pilihan kata pada surat difokuskan pada

ketepatan pemilihan kata-kata yang baku. Hasil penilaian tes ketepatan pemilihan

kata dapat dilihat pada tabel 18 berikut ini.

Tabel 18. Hasil Tes Aspek Diksi atau Pilihan Kata

  No         Kategori      Rentang Nilai        Frekuensi      Persen (%)
 1         Sangat Baik     12 < skor <15           28             59,6
 2         Baik            8 < skor <12            19             40,4
 3         Cukup            4 < skor < 8            0               0
 4         Kurang           0 < skor < 4            0               0
           Jumlah                                  47             100
           Rata-rata                                12,68

          Data pada tabel 18 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek pilihan kata atau diksi untuk kategori sangat baik dengan skor

13-15 dicapai oleh 28 siswa atau sebesar 59,6%. Kategori baik dengan skor 9-12

dicapai oleh 19 siswa atau 40,4%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor

pada aspek isi surat sebesar 12,68 atau dalam kategori sangat baik. Data tersebut

membuktikan bahwa keterampilan siswa pada aspek pilihan kata atau diksi dalam

menulis surat permohonan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.3.6    Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Penyusunan

           Kalimat

          Penilaian aspek penyusunan kalimat pada surat resmi difokuskan pada

kohesi dan koherensi unsur-unsur pembentuk kalimat sehingga tersusun kalimat-

kalimat yang baik dan keterpaduan isi antarkalimat pun akan jelas. Hasil penilaian
                                                                            108



tes penyusunan kalimat dalam surat permohonan siswa dapat dilihat pada tabel 19

berikut ini.

Tabel 19. Hasil Tes Aspek Penyusunan Kalimat

  No            Kategori       Rentang Nilai    Frekuensi      Persen (%)
 1         Sangat Baik         12 < skor <15       27             57,4
 2         Baik                8 < skor <12        20             42,6
 3         Cukup                4 < skor < 8        0               0
 4         Kurang               0 < skor < 4        0               0
           Jumlah                                  47             100
           Rata-rata                              12,74


          Berdasarkan tabel 19 tersebut dapat dijelaskan bahwa secara klasikal

mencapai nilai rata-rata 12,74 atau dalam kategori sangat baik baik dalam aspek

penyusunan kalimat. Pemerolehan skor rata-rata secara rinci diuraikan sebagai

berikut. Siswa yang mendapat skor 8-10 dalam kategori sangat baik dicapai oleh

27 orang atau 57,4% sedangkan untuk kategori baik dengan jumlah skor antara 5-

7 dicapai oleh 20 siswa atau sebesar 42,6%. Dengan demikian, kemampuan siswa

dalam memadukan isi antarklimat secara keseluruhan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.3.7     Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kepaduan

            Paragraf

          Penilaian aspek kepaduan paragraf pada surat resmi difokuskan pada

kohesi dan koherensi unsur-unsur pembentuk kalimat sehingga tersusun kalimat-

kalimat yang baik dan keterpaduan isi antarparagraf pun akan jelas. Hasil

penilaian tes kepaduan paragraf dalam surat permohonan siswa dapat dilihat pada

tabel 20 berikut ini.
                                                                                 109



Tabel 20. Hasil Tes Aspek Kepaduan Paragraf

  No         Kategori       Rentang Nilai        Frekuensi        Persen (%)
 1         Sangat Baik      12 < skor <15           19               40,4
 2         Baik             8 < skor <12            28               59,6
 3         Cukup             4 < skor < 8            0                 0
 4         Kurang            0 < skor < 4            0                 0
           Jumlah                                   47               100
           Rata-rata                              12,26


          Data pada tabel 20 menunjukkan bahwa keterampilan menulis surat

permohonan aspek kepaduan paragraf untuk kategori sangat baik dengan skor 13-

15 dicapai oleh 19 siswa atau sebesar 40,4%. Kategori baik dengan skor 9-12

dicapai oleh 28 siswa atau 59,6%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor

pada aspek kepaduan paragraf sebesar 12,26 atau dalam kategori sangat baik. Data

tersebut membuktikan bahwa keterampilan siswa pada aspek kepaduan paragraf

dalam menulis surat permohonan sudah dapat dikatakan baik.


4.1.3.8    Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kerapian

           Tulisan

          Penilaian aspek kerapian tulisan surat difokuskan pada tulisan siswa

apakah bersih, tidak ada coretan, banyak coretan atau tulisan sulit terbaca. Hasil

penilaian kerapian tulisan surat dapat dilihat pada tabel 21 berikut ini.

Tabel 21. Hasil Tes Menulis Surat Permohonan Resmi Aspek Kerapian Tulisan

 No         Kategori         Rentang Nilai       Frekuensi          Persen (%)
 1     Sangat Baik            4 < Skor <5            8                  17
 2     Baik                   3 <Skor < 4           24                 51,1
 3     Cukup                  1< skor < 3           15                 31,9
 4     Kurang                 0 < skor < 1           0                   0
       Jumlah                                       47                 100
       Rata-rata                                     3,86
                                                                             110



         Data pada tabel 21 menunjukkan bahwa kerapian tulisan siswa dalam

menulis surat permohonan untuk kategori sangat baik dengan skor 13-15 dicapai

oleh 8 siswa atau sebesar 17%. Kategori baik dengan skor 9-12 dicapai oleh 24

siswa atau 51,1%. Kategori cukup dengan skor 5-8 dicapai oleh 15 siswa atau

sebesar 31,9%. Jadi, setelah direkapitulasikan rata-rata skor pada aspek kerapian

tulisan sebesar 3,86 atau dalam kategori baik. Data tersebut membuktikan bahwa

keterampilan siswa pada aspek kerapian tulisan dalam menulis surat permohonan

sudah dapat dikatakan baik.

         Hasil tes keterampilan menulis surat permohonan resmi pada siklus II

dapat dilihat pada grafik 3 di bawah ini.

   120

   100

    80

    60

    40

    20

     0
         1   4   7   10 13 16 19 22 25 28 31 34 37 40 43 46




                                  Gambar 11.
         Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Resmi Siklus II


         Grafik di atas menunjukkan bahwa mayoritas siswa masih berada pada

kategori baik antara 75-84 yang diperoleh 25 siswa, sedangkan predikat sangat

baik dengan nilai 85-100 sebanyak 15 siswa.
                                                                                111



4.1.3.2     Hasil Nontes

          Hasil penelitian nontes pada siklus II ini didapatkan dari data observasi,

jurnal, wawancara, dan dokumentasi. Keempat hasil penelitian nontes tersebut

dijelaskan pada uraian berikut ini.

4.1.3.2.1    Hasil Observasi

          Kegiatan observasi siswa dan observasi kelas pada siklus II dilaksanakan

selama      proses    pembelajaran    menulis    surat   permohonan   resmi   dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme di kelas VII SMP

Negeri 5 Semarang.

a. Observasi Siswa

          Pada siklus II ini, terdapat beberapa perilaku siswa yang terdeskripsi

melalui kegiatan observasi. Selama melakukan kegiatan pembelajaran menulis

surat permohonan resmi dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

konstruktivisme konstruktivisme, guru merasakan ada perubahan perilaku siswa,

siswa yang sebelumnya tidak dapat mengikutinya dengan baik, pada siklus II ini,

siswa mulai mengikuti dan menikmati pembelajaran yang diterapkan guru. Bukti

ini dapat dilihat pada data observasi yang menyebutkan 35 siswa atau sebanyak

85% siswa sudah mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi

dengan baik. peningkatan sebesar 10% dari siklus I merupakan hal yang

menggembirakan, berarti siswa sudah dapat menyesuaikan diri dengan

pendekatan kontekstual yang diberikan guru. Siswa sudah merespons positif

pembelajaran menulis surat dengan baik. siswa mulai menyadari bahwa

pembelajaran         dengan   menggunakan       pendekatan   kontekstual   komponen
                                                                            112



konstruktivisme sungguh mengasyikan. Guru berusaha mengemas berbagai

metode pembelajaran yang ada sehingga tidak membosankan siswa dalam proses

pembelajaran. Karena dalam proses pembelajaran kontekstual siswa diharapkan

tidak hanya menangkap materi pembelajaran yang diajarkan tetapi juga

menangkap makna dari pembelajaran itu sendiri.

       Berdasarkan data yang diketahui sebagian besar siswa atau sebanyak 85%

dari jumlah siswa seluuhnya penuh konsentrasi memperhatikan penjelasan guru.

Sisanya sebanyak 10% atau sebanyak 4 siswa kurang merespons penjelasan guru,

mereka asyik bicara sendiri dengan teman sebangkunya atau dengan teman

sekelompoknya. Beberapa siswa yang memperhatikan penjelasan guru banyak

bertanya dan pertanyaan siswa ini mengarah pada pemecahan masalah. Siswa

yang aktif bertanya tersebut diantaranya adalah Yenni Oktaviani, Patrisa, Dedi

Setiawan, Nanda Syahrial, Erine, dan Endah. Siswa-siswa ini lebih aktif bertanya

dibandingkan teman-teman yang cenderung pasif tidak mau bertanya.

       Pada kegiatan inti pembelajaran, guru menugaskan siswa untuk

menyunting surat permohonan resmi yang ditulis siswa pada siklus I baik dari

segi isi, bahasa, pilihan kata sampai sistematika surat. Siswa tampak senang dan

menikmati tugas yang diberikan kepadanya karena sebelumnya guru praktikan

sudah mendemonstrasikan bagaimana cara menyunting surat permohonan dengan

baik dan benar.

       Pada saat pemberian materi telah selesai, tes menulis surat permohonan

resmi dilaksanakan untuk mengukur sejauh mana kadar kemampuan dan

pemahaman siswa dalam menulis surat permohonan resmi yang telah diajarkan
                                                                              113



guru. Berdasarkan pengamatan secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa

perilaku negatif tergeser dan tergantikan pada perilaku positif. Peningkatan

perilaku siswa dari perilaku negatif ke dalam perikau positif merupakan hal yang

seharusnya terjadi, karena guru sudah berusaha secara maksimal merubah pola

pembelajaran yang disukai siswa. Namun, perubahan pola pembelajaran ini

tentunya      masih   dalam   konteks   pembelajaran     kontekstual   komponen

konstruktivisme. Rencana pembelajaran pada siklus II ini dilakukan perencanaan

matang serta melalui tahapan perbaikan tindakan yang sekiranya dapat diikuti

oleh siswa.


b. Observasi Kelas

       Observasi kelas yang dilakukan teman peneliti bertujuan untuk

mengevaluasi cara kerja guru praktikan dalam memberikan pembelajaran menulis

surat permohonan resmi, sehingga strategi atau pun pendekatan yang dilakukan

guru dapat dipertanggungjawabkan. Selain itu, tugas utama teman peneliti adalah

melakukan pengamatan respons anak didiknya selama mengikuti pembelajaran

menulis surat permohonan resmi dari guru praktikan. Adapun objek sasaran

observasi kelas sama seperti siklus I yaitu lebih dikhususkan pada keaktifan siswa

selama proses pembelajaran, keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan

guru, dan keaktifan siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru

praktikan.

       Pada aspek keaktifan siswa dalam mendengarkan penjelasan guru

sebagian besar siswa sudah mulai semangat dan antusias dalam mengikuti

penjelasan guru praktikan, siswa sudah berani mengemukakan pendapat mereka
                                                                            114



tentang kegiatan menulis     surat. Siswa sekarang lebih berani berkomentar

terhadap apa yang dirasakannya, baik mengenai kesulitan-kesulitan yang

dirasakannya atau hal-hal yang dianggapnya benar. Selain itu, siswa juga sudah

aktif bertanya dan menjawab pertanyaan yang duajukan guru praktikan. Pada

siklus II ini, sebagian besar siswa sudah dapat mengidentifikasikan surat dengan

lisan maupun tertulis.

       Keaktifan siswa selama proses pembelajaran menulis surat permohonan

pada siklus II, umumnya siswa bersemangat, mereka tampak senang dan

menikmati pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan

kontekstual komponen konstruktivisme yang diterapkan guru. Kegiatan siswa

dalam berdiskusi tampak aktif, siswa benar-benar menjalankan tugas dari guru.

Pada saat melakukan tes siswa tampak dengan senang hati sehingga dapat

menyelesaikan tes menulis surat permohonan resmi yang telah ditentukan.

       Hasil pengamatan teman peneliti terhadap guru praktikan, dijelaskan

bahwa kemampuan guru praktikan dalam membuka pelajaran sudah bagus,

absensi dan apersepsi selalu disampaikan guru dalam membuka pelajaran. Guru

menyampaikan materi sudah lancar karena materi diskusi dengan baik. Cara guru

menjalin komunikasi dengan siswa dua arah, selalu ada timbal balik. Dalam

menerapkan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme juga sudah baik

tujuh komponen yang melingkupi pendekatan kontekstual sudah dijalankan secara

seimbang. Kemampuan guru dalam mengelola kelas berbasis kompetensi sudah

cukup baik, terutama dalam hal menggalakkan siswa dalam proses pembelajaran

maupun dalam memberikan balikan. Cara menutup pembelajaran dengan
                                                                            115



melakukan refleksi juga sudah baik. secara keseluruhan teman peneliti menilai

pola pembelajaran yang dilakukan guru dengan menggunakan pendekatan

kontekstual komponen konstruktivisme semakin baik.


4.1.3.2.2   Hasil Jurnal

        Jurnal yang digunakan dalam penelitian siklus II masih sama seperti pada

siklus I ada dua macam yaitu jurnal siswa dan jurnal guru. Kedua jurnal tersebut

berisi ungkapan perasaan, tanggapan pesan dan kesan dari perasaan siswa dan

guru selama pembelajaran menulis surat permohonan resmi berlangsung.

        Jurnal siswa harus diisi oleh siswa tanpa terkecuali. Pengisian jurnal

tersebut dilakukan pada akhir pembelajaran menulis surat permohonan resmi

dengan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme. Tujuan diadakan

jurnal siswa ini untuk mengetahui segala sesuatu yang terjadi pada saat

berlangsungnya pembelajaran dan untuk mengungkap kesulitan-kesulitan siswa

meliputi lima pertanyaan, yaitu: (1) metode mengajar guru; (2) kesulitan siswa

dalam pembelajaran menulis surat permohonan resmi; (3) tanggapan siswa

mengenai manfaat kerja kelompok; (4) perasaan siswa terhadap kemampuan

menulis surat permohonan resmi; (5) manfaat yang dapat dipetik setelah

mengikuti pembelajaran kontekstual komponen konstruktivisme.

        Kegiatan pengisian jurnal ini merupakan hal yang tidak baru lagi, karena

pengisian jurnal ini sudah pernah dilakukan siswa pada saat siklus I. Pada saat

pengisian jurnal ini siswa tampak senang mendapatkan jurnal dan ingin segera

mengisinya. Setelah semua siswa mendapatkan bagiannya, siswa segera mengisi
                                                                                116



jurnal tersebut dengan situasi yang tenang. Hasil jurnal yang telah dianalisis

selengkapnya diuraikan di bawah ini.


a. Jurnal Siswa

       Pada   dasarnya   sebagian      besar   siswa   menanggapi   baik   metode

pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual

komponen konstruktivisme yang diterapkan guru. Siswa menilai metode

pembelajaran yang digunakan guru mudah dipahami, jelas, dan menyenangkan.

Dengan demikian, tugas guru dalam kelas kontekstual dapat dikatakan berhasil,

karena guru telah membimbing siswa mencapai tujuannya dengan menciptakan

proses belajar yang lebih hidup, menyenangkan, dan lebih bermakna. Dengan

pembelajaran tersebut tentunya siswa merasa tidak terbebani dalam menyerap

materi pelajaran yang diberikan guru, karena pendekatan kontekstual lebih

mengutamakan proses daripada produk. Dengan pengalaman belajar yang

menyenangkan dan mengaitkan pembelajaran dengan dunia nyata tentunya

memudahkan siswa dalam menyerap materi pelajaran. Apalagi siswa merasa

dekat dan bersimpati dengan guru, hal ini berdasarkan beberapa pernyataan siswa

yang berpendapat bahwa guru praktikan ramah, baik, disiplin, dan tidak galak.

       Berdasarkan data dari jurnal siswa pada siklus II didapat bahwa tidak ada

satu pun siswa yang menyatakan kesulitan. Seluruh siswa menyatakan sudah

paham terhadap pembelajaran dengan pendekatan kontekstual komponen

konstruktivisme ini mudah dipahami. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa

pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme ini telah berhasil membawa

siswa pada pemahaman pembelajaran yang sempurna.
                                                                         117



       Sebagian besar siswa merespons positif terhadap pembelajaran menulis

surat permohonan resmi. Pernyataan bagus dan menyenangkan banyak tertulis

dalam jurnal. Pernyataan siswa ini membuktikan kalau mereka tertarik dan

menyukai materi yang diajarkan guru. Siswa merespon bagus karena dalam

pembelajaran guru mengantarkan siswa ke dalam dunia nyata, dengan

membagikan surat permohonan resmi yang tertutup rapi dalam amplop. Kondisi

ini merupakan pengalaman baru bagi siswa karena dalam pembelajaran

sebelumnya guru pamong jarang menggunakan model nyata, hanya menghadirkan

contoh-contoh dari buku. Pembelajaran yang menyenangkan merupakan respons

sebagian besar siswa yang diungkapkan dalam jurnal. Hal ini merupakan bukti

bahwa selama proses pembelajaran siswa menikmati dengan diskusi dan

permainan serta penutup pelajaran yang diisi dengan kegiatan refleksi.

       Selanjutnya, tanggapan yang diberikan siswa selama mengikuti kegiatan

kelompok siswa umumnya menyatakan kegiatan kelompok dapat membantu

pemahamannya dalam memahami cara menulis surat permohonan resmi dengan

baik. kegiatan kelompok ini termasuk dalam kegiatan masyarakat belajar atau

learnng community kegiatan masyarakat belajar ini difokuskan pada kegiatan

diskusi mengenai surat permohonan resmi. Kegiatan diskusi pada siklus II ini

cukup kondusif, siswa sudah mulai aktif dalam kegiatan diskusi ini. Interaksi

antar kelompok mulai terjalin. Siswa tidak lagi bermalas-malasan, dengan

dipandu guru praktikan siswa mulai bersemangat dalam kegiatan diskusi.

       Selama mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme respons yang
                                                                               118



diberikan siswa cukup mengesankan seluruh siswa menyatakan senang selama

mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi. Siswa merasa senang

karena pengalaman baru tentang pembelajaran menulis surat permohonan resmi

didapatkannya dengan metode guru yang menarik. Guru menyisipkan kuis dan

permainan yang sebelumnya tidak didapatkan siswa selama pembelajaran menulis

surat.   Pembelajaran   kontekstual   komponen     konstruktivisme    memberikan

pengalaman baru yang bermakna bagi siswa sehingga siswa merasa senang, dan

menikmati pembelajaran yang diberikan guru.


b. Jurnal Guru

         Jurnal guru ini berisi segala hal yang dirasakan guru selama proses

pembelajaran berlangsung. Adapun hal-hal yang menjadi objek sasaran jurnal

guru ini adalah: (1) minat siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis surat

permohonan resmi dengan penekatan kontekstual komponen konstruktivisme; (2)

keaktifan siswa selama mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi;

(3) perilaku siswa di kelas saat melakukan kegiatan diskusi kelompok; (4)

fenomena-fenomena yang muncul di kelas sat pembelajaran berlangsung.

         Berdasarkan objek sasaran yang diamati dan dirsakan peneliti saat

menjalankan pembelajaran yang tertuang dalam jurnal, dapat dijelaskan bahwa

guru sudah merasa puas terhadap proses pembelajaran, karena hasil yang dicapai

pada siklus II ini sudah sesuai dengan target yang ditentukan, bahkan melampaui

target. Target minimal rata-rata klasical yang ditentukan pada siklus II adalah 75,

sedangkan hasil yang tercapai sebesar. Dengan demikian dapat dikatakan

keberhasilan ini merupakan keberhasilan guru dan siswa dalam memberikan dan
                                                                            119



menerima pembelajaran kontekstual komponen konstruktivisme. Guru merasa

puas karena pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme ternyata berhasil

dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis surat permohonan resmi.

Hal ini telah terbukti dengan hasil-hasil yang dicapai baik dari siklus I sampai

siklus II yang terus mengalami peningkatan. Siswa akhirnya dapat menerima

dengan baik saat pembelajaran berlangsung, siswa tampak menikmati

pembelajaran yang guru berikan. Tugas-tugas yang diberikan guru dijalankan

dengan baik oleh siswa.

       Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran sudah banyak mengalami

peningkatan, walaupun masih terdapat beberapa siswa yang malas untuk

melakukan diskusi kelompok. Sebagian kecil siswa yang berperilaku negatif tidak

menyurutkan siswa yang aktif dalam melakukan kegiatan diskusi. Siswa yang

aktif ini menjalankan semua tugas guru dengan baik dari mempresentasikan hasil

diskusinya sampai mengerjakan tes, jurnal, dan menjalankannya dengan senang

hati tanpa terbebani.

       Perilaku siswa pada saat pembelajaran siklus II ini sudah banyak

kemajuan. Pada siklus II ini siswa lebih banyak bertanya dan berkomentar

terhadap hal-hal yang ditanyakan guru. Siswa sudah berani mengeluarkan

pendapatnya tanpa ragu-ragu lagi. Keaktifan siswa dalam aspek communical

skills merupakan hal yang patut dibanggakan, karena pada siklus sebelumnya

banyak siwa yang masih merasa malu bila ditanya, ataupun bila disuruh bertanya.

       Fenomena-fenomena lain yang muncul di kelas saat pembelajaran siklus II

yang paling menonjol adalah siswa semakin aktif dan siswa makin akrab dengan
                                                                             120



guru. Hl ini dapat dilihat pada saat guru memberitahukan kepada seluruh siswa

bahwa pembelajaran siklus II ini adalah pembelajaran yang terakhir diajarkan

oleh guru praktikan, siswa tampak kecewa dan menginginkan guru praktikan tetap

mengajarkan pelajaran bahasa Indonesia pada mereka. Hal inilah yang membuat

guru praktikan merasa terharu, bahagia dan merasa dibutuhkan siswa, berari siswa

sudah begitu dekat dan cocok dengan pola pembelajaran yang guru terapkan.


4.1.3.2.3   Hasil Wawancara

        Wawancara pada siklus II dilakukan kepada tiga orang siswa yang

memperoleh nilai tertinggi, nilai sedang atau nilai rata-rata, dan nilai yang

terendah. Mereka bernama Adhi Widyatko, Septa Wiki, dan Erine. Tujuan

dilakukannya wawancara siklus II untuk mengetahui sejauh mana sikap-sikap

siswa terhadap proses pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan

menggunakan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme. Teknik

wawancara siklus II ini masih sama dengan siklus I, siswa menjawab semua

pertayaan yang dilontarkan guru praktikan atau pewawancara. Pertanyaan-

pertanyaan yang diajukan siswa pada siklus II ini tidak jauh berbeda dngan siklus

I namun, ada beberapa poin yang berbeda. Adapun pertanyaan yang diajukan

siswa meliputi: (1) apakah siswa senang dengan metode pembelajaran guru; (2)

apakah perubahan cara-cara guru dalam metode mengajar; (3) apakah siswa

merasa terganggu ketika harus mengerjakan tes menulis surat permohonan resmi;

(4) apakah siswa mengalami kesulitan dalam menulis surat permohonan resmi; (5)

apakah diskusi kelompok dapat membantu anda dalam memahami surat

permohonan resmi; (6) apakah contoh-contoh surat yang diberikan guru dapat
                                                                         121



anda pahami; (7) apakah sekarang siswa dapat mengidentifikasi dan membuat

contoh-contoh bagian-bagian surat sesuai dengan kaidah penulisan surat; (8)

apakah format serta kaidah penulisan surat permohonan resmi yang baik dan

benar pada contoh surat dapat ditiru; (9) apakah siswa merasa senang setelah

mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan

kontekstual komponen konstruktivisme; (10) kesan dan pesan siswa terhadap

pembelajaran menulis surat permohonan resmi dengan pendekatan kontekstual

komponen konstruktivisme.

       Pertanyaan pertama yang diajukan pewawancara dijawab oleh ketiga

responden dengan jawaban yang sama, ya mereka merasa senang terhadap pola

pembelajaran yang dilakukan guru. Pertanyaan yang kedua juga dijawab sama

oleh ketiga responden dari nilai yang tertinggi, sedang, dan terendah. Mereka

menyatakan ada perubahan cara mengajar guru. Dalam kegiatan pembelajaran

tiap siklus guru selalu berusaha memberikan yang terbaik bagi siswa, dengan

mengubah cara mengajar yang lebih baik tentunya dengan pola dan strategi yang

sesuai dalam lingkup kontekstual komponen konstruktivisme. Perubahan

pembelajaran pada siklus II sengaja direncanakan agar pembelajaran lebih

bermakna, dan siswa dapat menikmati dan tidak jenuh terhadap materi

pembelajaran yang sama, tentang menulis surat permohonan resmi.

       Tes menulis surat permohonan resmi dalam tiap siklus selalu dilakukan.

Hal ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keterampilan siswa dalam menulis

surat permohonan resmi dari pratindakan, siklus I sampai siklus II. Tes ini

dilakukan terus menerus sampai siswa mengalami peningkatan sesuai target yang
                                                                            122



diinginkan peneliti. Berdasarkan hasil wawancara dengan ketiga siswa diperoleh

jawaban bahwa siswa tidak merasa keberatan jika harus mengerjakan tes menulis

surat permohonan resmi.

       Diskusi merupakan salah satu kegiatan learning community dari

pembelajaran kontekstual. Pada siklus II ini kegiatan pembelajaran lebih

difokuskan pada diskusi kelompok. Kegiatan yang dilakukan dalam kerja

kelompok ini adalah tiap kelomok mendiskusikan contoh-contoh surat

permohonan resmi dari guru dan contoh surat permohonan resmi dari siswa

didiskusikan dan dibandingkan dari segi isi, bahasa, penyusunan kalmat, pilihan

kata, ejaan, dan sistematika surat. Dengan metode diskusi diharapkan siswa lebih

paham mengenai surat permohonan resmi. Untuk membuktikan kebenaran apakah

metode diskusi dapat meningkatkan pemahaman siswa dalam menulis surat

permohonan resmi, guru menanyakan kepada ketiga siswa responden ini jawaban

mereka adalah sama yaitu “ya”.

       Pembelajaran       kontekstual   komponen       konstruktivisme     lebih

mengutamakan proses daripada produk itu sendiri. Dalam kelas berbasis

kompetensi, pembelajaran yang bermakna lebih diutamakan untuk mencapai

kompetensi pembelajaran yang bermakna lebih diutamakan untuk mencapai

kompetensi pembelajaran yang diinginkan. Berdasarkan wawancara dengan

ketiga siswa diketahui mereka merasa senang terhadap pembelajaran menulis

surat permohonan resmi yang diajarkan guru.

       Kesan siswa terhadap pembelajaran menulis surat permohonan resmi

dengan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme tiap siswa berbeda.
                                                                            123



Restu Wulandari mengungkapkan perasaannya bahwa pembelajaran yang

diberikan guru menyenangkan, pembelajarannya pun mudah dipahami. Jawaban

Restu ini senada dengan Adhi Wiyatko yang mengatakan pembelajaran yang

diberikan guru mudah dipahami. Selanjutnya, Septa Wiki juga mengatakan bahwa

pembelajaran yang diberikan guru menyenangkan.

        Berdasarkan hasil wawancara dari ketiga siswa ini dapat disimpulkan

bahwa mereka sekarang sudah memahami materi pembelajaran menulis surat

permohonan resmi, baik dari segi isi, bahasa, penyusunan kalimat, pilihan kata,

penggunaan ejaan, dan sistematika surat. Hal ini karena dipengaruhi oleh metode

dan cara mengajar guru yang berbeda dari sebelumnya, siswa merasa senang

karena menemukan pengalaman baru. Dapat dikatakan pembelajaran kontekstual

komponen konstruktivisme yang diterapkan guru sudah berhasil meningkatkan

keterampilan siswa dalam menulis surat permohonan resmi.


4.1.3.2.4   Hasil Dokumentasi Foto

        Pada siklus II ini, dokumentasi foto yang diambil masih sama dengan foto

pada siklus I. pengambilan foto difokuskan pada kegiatan selama proses

pembelajaran, berupa kegiatan pembelajaran dengan pendekatan kontekstual,

kegiatan diskusi, kegiatan tes dan kegiatan pengisian jurnal. Dokumentasi berupa

gambar ini digunakan sebagai bukti visual kegiatan pembelajaran selama

penelitian berlangsung. Deskripsi gambar pada siklus II selengkapnya dipaparkan

sebagai berikut.
                                                                              124




                                Gambar 12
                     Kegiatan Awal Pembelajaran Siklus II


       Gambar di atas merupakan kegiatan awal pembelajaran pada siklus II

tampak guru praktikan mendemonstrasikan bagaimana cara menyunting surat

permohonan resmi dengan baik dan benar. Dengan kegiatan seperti ini diharapkan

siswa dapat mengetahui kesalahannya dalam menulis surat permohonan resmi

pada siklus I. Kegiatan inti pembelajaran pada siklus II ini berupa kegiatan siswa

dalam menyunting surat permohonan resmi hasil kerjaan temannya pada siklus I.
                                                                            125




                                 Gambar 13
                    Kegiatan Menyunting Surat Permohonan


        Gambar tersebut menunjukkan bahwa kegiatan siswa dalam menyunting

surat permohonan resmi cukup kondusif. Tampak pada gambar siswa serius

mengerjakan tugas dari guru, mereka menyunting surat permohonan resmi yang

ditulis temannya pada siklu I. Terlihat ada sekelompok siswa yang aktif bertanya

pada guru praktikan, bertanya dengan teman sebangkunya.
                                                                            126




       ]




                                 Gambar 14.
                   Kegiatan siswa dalam mengerjakan tugas

       Gambar di atas tampak siswa aktif mengerjakan tugas yang diberikan oleh

guru praktikan. Setelah siswa selesai menyunting hasil kerjaan temannya, siswa

kemudian mengerjakan soal tes menulis surat permohonan resmi yang diberikan

guru pada siklus II. Diharapkan setelah siswa menyunting hasil kerjaan temannya,

siswa dapat menulis surat permohonan resmi dengan memperhatikan sistematika

dan bahasa surat yang baik dan benar.

       Kemudian, kegiatan ini dilanjutkan dengan tes menulis surat permohonan

resmi siswa dan pembelajaran diakhiri dengan pengisian jurnal.
                                                                               127



4.2   Pembahasan

       Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil pratindakan, hasil

tindakan siklus I, dan hasil tindakan siklus II. Penelitian tindakan kelas ini

dilksanakan melalui dua tahapan yaitu siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil

penelitian meliputi hasil tes dan nontes. Pembahasan hasil tes penelitian mengacu

pada pemerolehan skor yang dicapai siswa dalam uji keterampilan menulis surat

permohonan dengan topik yang berbeda pada tiap siklusnya. Aspek-aspek yang

dinilai dalam keterampilan menulis surat permohonan resmi meliputi delapan

aspek, yaitu : (1) kelengkapan bagian surat, (2) isi surat, (3) ketepatan penulisan

bagian surat, (4) ejaan dan tanda baca, (5) pilihan kata atau diksi, (6) penyusunan

kalimat, (7) kepaduan paragraf, (8) kerapian tulisan. Pembahasan hasil nontes

berpedoman empat instrumen penelitian yaitu : (1) lembar observasi, baik

obervasi siswa maupun observasi kelas; (2) jurnal, baik jurnal siswa maupun

jurnal guru; (3) wawancara; dan (4) dokumentasi foto.

       Kegiatan pratindakan dilakukan sebelum tindakan siklus I dilakukan. Hal

ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran kondisi awal tentang

keterampilan dalam menulis surat permohonan resmi. Setelah melaksanakan

kegiatan menganalisis, peneliti melakukan tindakan siklus I dan siklus II. Proses

pembelajaran menulis surat resmi dengan pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme. Pada siklus I dan siklus II proses pembelajaran selalu diawali

dengan kegiatan mempresensi siswa terlebih dahulu. Kemudian guru melakukan

apersepsi dengan menanyakan keadaan siswa, memancing siswa ke pokok materi

ataupun dengan melatih memori ingatan siswa dengan mengadakan kuis berupa
                                                                             128



pertanyaan-pertanyaan secara lisan. Setelah siswa terpancing dan mengingat

pokok materi yang akan dibahas, maka guru mulai menjelaskan segala kegiatan

yang dilakukan selama 2 jam pelajaran. Kegiatan inti pembelajaran diawali

dengan guru membagi kelompok-kelompok kecil. Langkah selanjutnya guru

membagikan contoh surat permohonan resmi kepada masing-masing kelompok.

Siswa mencermati dan membaca dengan seksama contoh surat permohonan yang

sudah didapatnya. Kemudian siswa mendiskusikan hal-hal yang ditugaskan guru

berkaitan     dengan   menulis   surat   permohonan.   Kemudian   hasil   diskusi

dipresentasikan oleh perwakilan kelompok. Berdasarkan pendapat-pendapat siswa

tersebut guru memberikan penegasan serta penguatan bagi siswa. Pada akhir

pembelajaran guru bersama-sama siswa melakukan refleksi terhadap proses

pembelajaran menulis surat permohonan hari itu. Langkah selanjutnya guru

mengadakan tes menulis surat permohonan resmi dengan topik yang telah

ditentukan.

       Hasil menulis surat permohonan resmi kemudian dibagikan kepada siswa.

Siswa kemudian mengoreksi dan memperbaiki hasil kerja temannya. Hasil koreksi

siswa kemudian dikumpulkan dan dikoreksi ulang oleh guru untuk menghasilkan

nilai yang benar-benar valid. Hasil tes keterampilan menulis surat permohonan

resmi dapat dilihat pada tabel 22 di bawah ini.
                                                                               129



Tabel 22. Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Pratindakan,
          Siklus I, dan Siklus II.

                                                                      Peningkatan
 No        Aspek Penilaian              Nilai Rata-Rata Kelas             (%)
                                    Pratindakan     SI      S II       SI     S II
 1.   Kelengkapan Bagian                5.66       7.60     8.34      34% 10%
      Surat
 2.   Isi Surat                         5.68          7.53    8.06    33%     7%
 3.   Ketepatan Penulisan               5.30          7.13    7.66    35%     7%
      Bagian Surat
 4.   Ejaan dan Tanda Baca             10.57          14.26   15.51   35%     9%
 5.   Pilihan Kata atau Diksi           6.23          11.49   12.68   84%    10%
 6.   Penyusunan Kalimat               5.91           11.70   12.74   98%    9%
 7.   Kepaduan Paragraf                 5.64          11.02   12.26   95%    11%
 8.   Kerapian Tulisan                  2.83           3.55    3.85   26%     8%
      Jumlah                           47.64          74.28   81.11   56%    9%

       Berdasarkan rekapitulasi data hasil tes keterampilan menulis surat

permohonan resmi dari pratindakan, siklus I, dan siklus II sebagaimana tersaji

dalam tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa keterampilan siswa dalam menulis

surat permohonan pada setiap aspeknya mengalami peningkatan. Uraian tabel di

atas dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut.

       Hasil pratindakan skor rata-rata kelas mencapai 47,64 termasuk kategori

kurang karena masih berada pada rentang skor 0-59. Skor rata-rata tersebut

berasal dari jumlah rata-rata masing-masing aspek yang dinilai. Pada pratindakan,

aspek kelengkapan bagian surat sebesar 5,66. Aspek isi surat sebesar 5,68. Aspek

ketepatan penulisan bagian surat sebesar 5,30. Aspek ejaan dan tanda baca sebesar

10,57. Aspek pilihan kata atau diksi sebesar 6,23. Aspek penyusunan kalimat

sebesar 5,91. Aspek kepaduan paragraf sebesar 5,64 dan aspek kerapian tulisan

sebesar 2,83.
                                                                             130



       Keterampilan siswa dalam menulis surat permohonan resmi yang masih

tergolong rendah disebabkan oleh beberapa faktor yang melingkupinya yaitu

faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat dilihat pada

kemampuan siswa dalam aspek bahasa dan aspek nonkebahasaan yang masih

kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penilaian tiap aspek surat resmi

yang menunjukkan hasil yang tidak memuaskan dan jauh dari kategori baik.

Faktor eksternal berasal dari pola pembelajaran guru yang masih cenderung pada

pola pembelajaran tradisional. Pola pembelajaran yang berlangsung masih statis,

kaku, dan hanya mengutamakan produk tanpa mempertimbangkan proses

pembelajaran itu sendiri.

       Hasil tes siklus I menulis surat permohonan resmi dengan rata-rata skor

klasikal mencapai 74,28 atau dalam kategori baik, karena berada pada rentang 75-

84. Dengan demikian hasil tersebut belum memenuhi target nilai yang telah

ditetapkan. Skor rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian.

Pada aspek kelengkapan bagian surat sebesar 7,60 termasuk dalam kategori baik.

Hal ini dikarenakan siswa kelas VII SMP Negeri 5 Semarang sudah paham dan

mengerti dalam menulis bagian-bagian surat. Isi surat yang ditulis siswa sudah

relevan dengan topic. Pada aspek ketepatan penulisan bagian surat skor rata-rata

7,13 masuk kategori baik. Aspek ejaan dan tanda baca juga masuk dalam kategori

baik dengan skor rata-rata sebesar 14,26. Aspek pilihan kata atau diksi juga

masuk dalam kategori baik karena skor klasikal sebesar 11,49. Hal ini

dikarenakan hampir semua siswa sudah tidak kesulitan dalam memilih dan

memakai kata dalam surat permohonan resmi. Aspek penyusunan kalimat juga
                                                                              131



masuk dalam kategori baik, yaitu dengan skor rata-rata 11,70. Dengan demikian,

siswa sudah dapat menyusun kalimat dengan baik dan benar. Pada aspek

kepaduan paragraf rata-rata skor mencapai 11,02 termasuk dalam kategori sangat

baik. Hal ini dikarenakan hampir semua siswa sudah tidak kesulitan dalam

memilih dan memakai kata dalam surat permohonan resmi. Pada aspek kerapian

tulisan termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata 3,55. Jadi dapat

dikatakan kemampuan siswa secara klasikal sudah dapat menulis surat

permohonan resmi dengan baik, rapi, dan tanpa coretan. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis surat permohonan resmi

sudah banyak mengalami peningkatan sebesar 56% dari rata-rata skor

pratindakan.

       Hasil tes menulis surat permohonan resmi siklus II didapat skor rata-rata

kelas VII SMP Negei 5 Semarang sebesar 81,11 dengan kategori baik karena

berada pada rentang 75-84. pencapaian skor tersebut berarti sudah memenuhi

target bahkan melampaui target yang ditentukan, dengan demikian tindakan siklus

III tidak perlu dilakukan. Skor masing-masing aspek pada siklus II diuraikan

sebagai berikut.

       Pada aspek kelengkapan bagian surat mencapai skor rata-rata sebesar 8,34

atau dalam kategori sangat baik dan mengalami peningkatan sebesar 10% dari

skor rata-rata siklus I. Hal ini membuktikan bahwa siswa kini semakin paham

dalam menulis bagian-bagian surat resmi. Pada aspek ejaan dan tanda baca

mencapai skor rata-rata 15,51 atau dalam kategori baik dan mengalami

peningkatan sebesar 9%. Aspek pilihan kata mencapai rata-rata skor sebesar
                                                                                 132



12,68 dan mengalami peningkatan sebesar 10%. Pada aspek penyusunan kalimat

mencapai rata-rata skor 12,74 atau dalam kategori baik.

        Peningkatan keterampilan menulis siswa ini merupakan prestasi siswa

yang patut dibanggakan. Sebelum diberlakukannya tindakan siklus I dan siklus II

kemampuan siswa masih sangat kurang, kemudian setelah diberlakukannya

tindakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

konstruktivisme kemampuan menulis surat permohonan resmi siswa dari siklus I

sampai siklus II mengalami peningkatan. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme terbukti mampu

membantu siswa dalam menumbuhkan pengertian dan perkembangan bahasa serta

dapat   meningkatkan    kualitas,   kreativitas,   produktivitas,   dan   efektivitas

pembelajaran siswa dalam menulis surat permohonan resmi.

        Peningkatan prestasi siswa dalam menulis surat permohonan resmi ini

diikuti pula dengan adanya perubahan perilaku siswa dari pratindakan sampai

pada siklus II. Berdasrkan hasil nontes yaitu melalui observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto pada siklus I dapat disimpulkan bahwa

kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi,

dengan pendekatan kontekstual komponen konstruktivisme belum begitu

memuaskan. Sikap dari sebagian siswa atau sekitar 40% siswa masih

menunjukkan perilaku yang negative dalam menerima materi pembelajaran,

konsentrasi siswa dalam memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum

terfokus. Hal ini dibuktikan dengan beberapa siswa atau 10% siswa terlihat

kurang bersemangat mengikuti jalannya proses pembelajaran dengan pendekatan
                                                                             133



kontekstual. Setelah disinyalir melalui data jurnal dan wawancara yang dilakukan

peneliti, sebagian siswa ini ternyata masih bingung atau belum paham dengan

pola pembelajaran yang diberikan guru praktikan yang menerapkan pendekatan

kontekstual komponen konstruktivisme sebagai strategi pembelajaran menulis

surat pribasi. Kenyataan ini merupakan hal yang wajar sebab selama ini guru lebih

cenderung    menggunakan      pendekatan    tradisional   dalam    melaksanakan

pembelajaran.

       Kondisi yang tergambar pada siklus I merupakan permasalahan yang

harus dihadapi dan harus dicarikan solusinya. Untuk mengatasi permasalahan

tersebut peneliti sengaja merevisi dan mematangkan rencana pembelajaran pada

siklus II. Pola pembelajaran pada siklus II merupakan hasil pertimbangan

pendapat para siswa yang tercantum pada jurnal dan hasil wawancara pada siklus

I. siswa menginginkan pembelajaran yang sama yaitu dengan pendekatan

kntekstual komponen     konstruktivisme, mereka merasa pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual komponen. Pada siklus II ini konstruktivisme dengan

media surat tetap menjadi alternative pembelajaran kontekstual, metode diskusi,

kuis, dan permainan tetap menjadi menu utama pembelajaran kontekstual

komponen konstruktivisme. Penekanan siklus II ini lebih diutamakan pada proses

pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

       Penerapan replan siklus I ini ternyata berdampak positif yang memuaskan,

dari hasil observasi siklus II menggambarkan suasana kelas dalam pembelajaran

lebih kondusif. Siswa tampak siap mengikuti pembelajaran dengan segala tugas

yang diberikan guru. Siswa terlihat lebih senang dan menikmati pembelajaran
                                                                               134



guru. Selain itu, siswa lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran baik kegiatan

diskusi maupun aktif dalam mengajukan pertanyaan. Siswa pun kini dengan

lancar dan senang hati mengungkapkan segala pikiran dan perasaannya dalam

bentuk surat. Hal ini karena siswa mulai terbiasa pada latihan atau tes menulis

yang diajarkan guru. Dengan latihan yang terus-menerus ini siswa semakin

terlatih dan berdampak pula pada hasil tes menulis surat permohonan resmi.

Kenyataan ini telah dibuktikan pada hasil tes menulis surat permohonan resmi

siswa dari pratindakan, siklus I sampai siklus II kemampuan siswa semakin

meningkat, siswa pun semakin terampil dalam menulis surat permohonan resmi.

       Berdasarkan serangkaian analisis data dan situasi pembelajaran, dapat

dijelaskan bahwa perilaku siswa dalam pembelajaran menulis surat permohonan

menunjukkan perubahan. Perubahan-perubahan ini mengarah pada perilaku

positif. Siswa semakin giat dan sungguh-sungguh dalam belajar tanpa terbebani

dan tidak ada tekanan. Suasana kelas yang semula penuh dengan nuansa pasif kini

berganti dengan keceriaan belajar. Aktivitas bicara dan kegiatan menulis surat

permohonan resmi tidak lagi menjadi hal yang asing bagi siswa. Dengan

demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar dengan menggunakan pendekatan

kontekstual komponen konstruktivisme sangat menarik karena dapat membantu

siswa dalam memahami penulisan surat permohonan resmi dan mengidentifikasi

bagian-bagian surat, selain itu pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan

bermakna dapat dipetik dari pembelajaran ini. Siswa lebih termotivasi dan lebih

kreatif dalam mengungkapkan segala macam perasaannya dalam bentuk surat, tak

diragukan lagi produktivitas karya siswa tentu semakin baik dan lebih bagus.
                                     BAB V

                                   PENUTUP


5.1 Simpulan

          Berdasarkan hasil analisis dan pembahasan, penelitian ini dapat

   disimpulkan sebagai berikut.

   1. Kemampuan menulis surat permohonan resmi siswa kelas VIIA SMP Negeri

      5 Semarang setelah mengikuti pembelajaran dengan pendekatan kontekstual

      elemen konstruktivisme mengalami peningkatan. Hasil analisis data dari tes

      pratindakan, siklus I sampai dengan siklus II terus meningkat. Hasil tes

      pratindakan menunjukkan skor rata-rata sebesar 47,64% dan pada siklus I

      diperoleh hasil rata-rata kelas sebesar 74,28%, hal ini berarti terjadi

      peningkatan sebesar 26,64%. Pada siklus II diperoleh hasil rata-rata kelas

      sebesar 81,11%. Hal ini menunjukkan peningkatan dari siklus I dan siklus II

      sebesar 6,83%. Jadi peningkatan yang terjadi dari pratindakan sampai siklus II

      sebesar 33,47%.

   2. Perilaku siswa kelas VIIA SMP Negeri 5 Semarang setelah mengikuti

      pembelajaran menulis surat permohonan dengan pendekatan kontekstual

      elemen konstruktivisme mengalami perubahan. Perubahan-perubahan perilaku

      siswa ini dapat dibuktikan dari hasil data nontes yang meliputi observasi,

      jurnal siswa, dan dokumentasi foto. Perubahan perilaku siswa dapat dilihat

      secara jelas saat proses pembelajaran. Berdasarkan data nontes pada siklus I



                                       138
                                                                               139

      perilaku-perilaku positif dan negatif masih tampak pada saat proses

      pembelajaran berlangsung dan pada siklus II perilaku-perilaku negatif siswa

      semakin berkurang dan perilaku positif siswa juga semakin bertambah.



5.2 Saran

   1. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia dalam proses pembelajaran seyogyanya

      berperan sebagai fasilitator dan motivator, karena dengan begitu pembelajaran

      akan menjadi pengalaman yang sangat bermakna bagi siswa.

   2. Pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme dapat dijadikan alternatif

      pilihan guru dalam proses pembelajaran di dalam dan di luar kelas.

   3. Penerapan konstruktivisme sebagai upaya untuk mengoptimalkan hasil belajar

      siswa hendaknya disesuaikan dengan materi pelajaran yang sedang dibahas,

      mengingat penerapan pendekatan tersebut belum tentu cocok untuk diterapkan

      pada siswa materi pelajaran.

   4. Guru Bahasa dan Sastra Indonesia harus dapat memilih metode yang tepat

      dalam menerapkan pendekatan konstruktivisme, sehingga dalam proses

      pembelajaran     siswa     benar-benar     berkesempatan      untuk    dapat

      mengkonstruksikan konsep-konsep yang benar dalam struktur kognitifnya.
                                 PERNYATAAN


Saya menyatakan bahwa yang tertulis di dalam skripsi ini benar-benar hasil karya
saya sendiri, bukian jiplakan dari karya orang lain, baik sebagian atau seluruhnya.
Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk
berdasrkan kode etik ilmiah.



                                                   Semarang, 12 Agustus 2005



                                                   Vita Kusmiati




                                       vi
                        MOTTO DAN PERSEMBAHAN


Motto:

“Jarak dan waktu adalah rantai sutra yang menjadikan kita dekat dan rekat”




                                              Persembahan:
                                              Skripsi ini saya persembahkan untuk:
                                        1.    Bapak dan Ibu tercinta;
                                        2.    Adikku Vivi tersayang;
                                        3.    Mas Rondi terkasih;
                                        4.    Esti, Nana, Kiki, Ina, Yumi, dan Iing.
                                              Kalian semua adalah sahabat sejatiku;
                                        5.    Teman-teman PBSI’01;
                                        6.    Almamater.




                                        vii
                        PERSETUJUAN PEMBIMBING

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke Sidang Panitia Ujian
Skripsi.




                                                   Semarang, 12 Agustus 2005


Pembimbing I,                                      Pembimbing II,



Drs. Wagiran, M.Hum                                Dra. Mimi Mulyani, M.Hum
NIP 132050001                                      NIP 131863779




                                            v
                              DAFTAR PUSTAKA


Arifin, Syamsir. 1980. Pedoman Penulisan Surat Menyurat Indonesia. Padang:
             Angkasa Raya.

Akhadiah, Sabarti, Maidar G. Arsjad, dan Sakura H. Ridwan. 1988. Pembinaan
             Kemampuan Menulis Bahasa Indonesia. Jakarta: Erlangga.

Depdiknas. 2002. Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning).
             Jakarta: Depdiknas.

Depdiknas. 2003. Kurikulum Berbasis Kompetensi Standar Kompetensi Mata
            Pelajaran Bahasa Indonesia Sekolah Menengah dan Madrasah
            Tsanawiyah. Jakarta: Depdiknas.

Giati, Sri. 2000. Peningkatan Kemampuan Menulis Surat Resmi dengan Pendekatan
               Keterampilan Proses pada Siswa Kelas II SLTP Negeri 1 Talang.
               Skripsi. Semarang: Unnes.

Haryuni, Dwi. 2004. Peningkatan Penguasaan EYD dalam Surat Dinas dengan
             Teknik Tubian pada Siswa Kelas IE MTs. Al Asror Patemon Gunung
             Pati. Skripsi. Semarang: Unnes.

http: // www. bpgupg.go.id. / bulletin / pengembangan. php. Pendekatan Kontekstual
               (Contextual Teaching and Learning).

http: // www. tutor.com. / lada / tourism / edu. kontekstual. ntm. Kaedah
            Pembelajaran Kontekstual.

Kosasih dan Ice Sutari. 2003. Surat Menyurat dan Menulis Surat Dinas dengan
             Benar. Bandung: CV. Yrama Widya.

Mahmudah, Siti Ida Asrotul. 2000. Peningkatan Kemampuan Menulis Surat
           Undangan Resmi dengan Teknik Pelatihan Berjenjang pada Siswa
           SLTP Negeri 3 Ungaran Tahun Ajaran 1999/2000. Skripsi. Semarang:
           Unnes.

Mulyasa. 2002. Kurikulum Berbasis Kompetensi Konsep, Karakteristik, dan
            Implementsi. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Nurhadi dan Senduk. 2003. Pembelajaran Kontekstual dan Penerapannya Dalam
             KBK. Malang: Universitas Negeri Malang.

Nurhadi. 2004. Kurikulum 2004 Pertanyaan dan Jawaban. Jakarta: Grasindo.

Soenardji. 1998. Asas-Asas Menulis. Semarang: IKIP Semarang Press.

Tarigan, Henry Guntur. 1982. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
             Bandung: Angkasa.

Tim Pelatih Proyek PGSM. 1999. Penelitian Tindakan Kelas. Semarang: Depdikbud.

Tim Pengkaji dan Pengembang Kurikulum Bahasa dan Sastra Indonesia Jurusan
             Sastra Indonesia. 2003. Pendekatan Kontekstual dan Pembelajaran
             Bahasa dan Sastra Indonesia di Sekolah. Makalah disajikan dalam
             Seminar Regional FBS Unnes, Semarang, 5 Mei.
Hal     : Permohonan ijin penggunaan lapangan            Jakarta, 5 Juli 2004


Yth. Bapak Suharsono

      Ka. SLTP Negeri 104

      Jalan Mampang Prapatan 13

      Jakarta Selatan


Dengan hormat,

        Dalam rangka memperingati hari Kemerdekaan Bangsa Indonesia, kami atas

nama OSIS SLTP Negeri 104 akan mengadakan pertandingan persahabatan dengan

sekolah negeri yang ada di wilayah Mampang Prapatan. Adapun kegiatan itu akan

diselenggarakan pada

                   Tanggal         : 24 Agustus 2004

                   Waktu           : 14.00-selesai

                   Lokasi          : Lapangan voli SLTP 104

                   Acara           : Pertandingan bola voli

Untuk itu kami mohon ijin kepada Bapak menggunakan lapangan tersebut. Atas

perhatian Bapak, kami mengucapkan terima kasih.



Mengetahui                                                      Hormat kami,

Pembina OSIS                                                    Panitia

ttd                                                             ttd

Joko Suyono                                                     Sasongko
               ORGANISASI SISWA INTRA SEKOLAH (OSIS)
                       SMP NEGERI 2 PANGKAJENE
          Jl. Andi Mauraga No. 82 Labakkang-Pangkep-Sulawesi Selatan



Nomor : 031/OSIS/SMP 2/2003                                  20 Januari 2003
Lamp. : -
Hal   : Permohonan izin


Yth. Kepala Desa Sinar harapan
Kecamatan Labakkang
Kabupaten Pangkep


Dengan hormat,

      Sehubungan dengan akan diselenggarakannya kemah bakti siswa-siswi SMP
Negeri 2 Pangkajene di wilayah Bapak, kami mengajukan permohonan izin
menggunakan Lapangan Desa Harapan Jaya dan lingkungan sekitarnya.
      Adapun waktu pelaksanaannya:
      hari          : sabtu s.d. Minggu
      tanggal       : 23-24 Mei 2003
      Kami berharap Bapak berkenan memberikan izin pada kami untuk
menggunakan sarana-sarana tersebut. Atas perhtian dan kerjasama yang baik, kami
mengucapkan terima kasih.


Mengetahui                                                   Ketua OSIS,
Pembina OSIS,


Drs. Muhammad Reza                                           Verry Laude
NIP. 130876452




Tembusan:
   1. Kepala SMP Negeri 2 Pangkajene
   2. Kepala Kepolisian Sektor Kecamatan Pangkajene
                                                                               127




4.2 Pembahasan

4.2.1   Peningkatan Kemampuan Menulis Surat Permohonan Siswa Kelas
        VII A SMP Negeri 5 Semarang
        Pembahasan hasil penelitian ini didasarkan pada hasil pratindakan, hasil

tindakan siklus I, dan hasil tindakan siklus II. Penelitian tindakan kelas ini

dilksanakan melalui dua tahapan yaitu siklus I dan siklus II. Pembahasan hasil

penelitian meliputi hasil tes dan nontes. Pembahasan hasil tes penelitian mengacu

pada pemerolehan skor yang dicapai siswa dalam uji keterampilan menulis surat

permohonan dengan topik yang berbeda pada tiap siklusnya. Aspek-aspek yang

dinilai dalam keterampilan menulis surat permohonan resmi meliputi delapan

aspek, yaitu : (1) kelengkapan bagian surat, (2) isi surat, (3) ketepatan penulisan

bagian surat, (4) ejaan dan tanda baca, (5) pilihan kata atau diksi, (6) penyusunan

kalimat, (7) kepaduan paragraf, (8) kerapian tulisan. Pembahasan hasil nontes

berpedoman empat instrumen penelitian yaitu : (1) lembar observasi, baik

obervasi siswa maupun observasi kelas; (2) jurnal, baik jurnal siswa maupun

jurnal guru; (3) wawancara; dan (4) dokumentasi foto.

        Kegiatan pratindakan dilakukan sebelum tindakan siklus I dilakukan. Hal

ini dilakukan bertujuan untuk mengetahui gambaran kondisi awal tentang

keterampilan dalam menulis surat permohonan resmi. Setelah melaksanakan

kegiatan menganalisis, peneliti melakukan tindakan siklus I dan siklus II. Proses

pembelajaran menulis surat resmi dengan pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme. Pada siklus I dan siklus II proses pembelajaran selalu diawali

dengan kegiatan mempresensi siswa terlebih dahulu. Kemudian guru melakukan
                                                                             128



apersepsi dengan menanyakan keadaan siswa, memancing siswa ke pokok materi

ataupun dengan melatih memori ingatan siswa dengan mengadakan kuis berupa

pertanyaan-pertanyaan secara lisan. Setelah siswa terpancing dan mengingat

pokok materi yang akan dibahas, maka guru mulai menjelaskan segala kegiatan

yang dilakukan selama 2 jam pelajaran. Kegiatan inti pembelajaran diawali

dengan guru membagi kelompok-kelompok kecil. Langkah selanjutnya guru

membagikan contoh surat permohonan resmi kepada masing-masing kelompok.

Siswa mencermati dan membaca dengan seksama contoh surat permohonan yang

sudah didapatnya. Kemudian siswa mendiskusikan hal-hal yang ditugaskan guru

berkaitan     dengan   menulis   surat   permohonan.   Kemudian   hasil   diskusi

dipresentasikan oleh perwakilan kelompok. Berdasarkan pendapat-pendapat siswa

tersebut guru memberikan penegasan serta penguatan bagi siswa. Pada akhir

pembelajaran guru bersama-sama siswa melakukan refleksi terhadap proses

pembelajaran menulis surat permohonan hari itu. Langkah selanjutnya guru

mengadakan tes menulis surat permohonan resmi dengan topik yang telah

ditentukan.

       Hasil menulis surat permohonan resmi kemudian dibagikan kepada siswa.

Siswa kemudian mengoreksi dan memperbaiki hasil kerja temannya. Hasil koreksi

siswa kemudian dikumpulkan dan dikoreksi ulang oleh guru untuk menghasilkan

nilai yang benar-benar valid. Hasil tes keterampilan menulis surat permohonan

resmi dapat dilihat pada tabel 22 di bawah ini.
                                                                                   129



     Tabel 22. Hasil Tes Keterampilan Menulis Surat Permohonan Pratindakan,
               Siklus I, dan Siklus II.

                                                                    Peningkatan Peningkatan
                                       Nilai Rata-Rata Kelas
No        Aspek Penilaian                                               (%)        Total
                                    Pratindakan       SI    S II     SI     S II   2.68
1.   Kelengkapan Bagian Surat           5.66         7.60   8.34    1.94 0.74      2.38
2.   Isi Surat                          5.68         7.53   8.06    1.85 0.53      2.36
3.   Ketepatan Penulisan                5.30         7.13   7.66    1.83 0.53      4.94
     Bagian Surat
4.   Ejaan dan Tanda Baca              10.57        14.26   15.51    3.69   1.25     6.45
5.   Pilihan Kata atau Diksi            6.23        11.49   12.68   5.26    1.19    6.83
6.   Penyusunan Kalimat                5.91         11.70   12.74   5.79    1.04    6.62
7.   Kepaduan Paragraf                  5.64        11.02   12.26    5.38   1.24    1.02
8.   Kerapian Tulisan                  2.83          3.55    3.85   0.72    0.3     1.02
     Jumlah                            47.64        74.28   81.11   26.64   6.83    33.47

            Berdasarkan rekapitulasi data hasil tes keterampilan menulis surat

     permohonan resmi dari pratindakan, siklus I, dan siklus II sebagaimana tersaji

     dalam tabel di atas, dapat dijelaskan bahwa keterampilan siswa dalam menulis

     surat permohonan pada setiap aspeknya mengalami peningkatan. Uraian tabel di

     atas dapat dijelaskan secara rinci sebagai berikut.

            Hasil pratindakan skor rata-rata kelas mencapai 47,64 termasuk kategori

     kurang karena masih berada pada rentang skor 0-59. Skor rata-rata tersebut

     berasal dari jumlah rata-rata masing-masing aspek yang dinilai. Pada pratindakan,

     aspek kelengkapan bagian surat sebesar 5,66. Aspek isi surat sebesar 5,68. Aspek

     ketepatan penulisan bagian surat sebesar 5,30. Aspek ejaan dan tanda baca sebesar

     10,57. Aspek pilihan kata atau diksi sebesar 6,23. Aspek penyusunan kalimat

     sebesar 5,91. Aspek kepaduan paragraf sebesar 5,64 dan aspek kerapian tulisan

     sebesar 2,83.

            Keterampilan siswa dalam menulis surat permohonan resmi yang masih

     tergolong rendah disebabkan oleh beberapa faktor yang melingkupinya yaitu
                                                                             130



faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal ini dapat dilihat pada

kemampuan siswa dalam aspek bahasa dan aspek nonkebahasaan yang masih

kurang. Hal ini dapat dibuktikan dengan hasil penilaian tiap aspek surat resmi

yang menunjukkan hasil yang tidak memuaskan dan jauh dari kategori baik.

Faktor eksternal berasal dari pola pembelajaran guru yang masih cenderung pada

pola pembelajaran tradisional. Pola pembelajaran yang berlangsung masih statis,

kaku, dan hanya mengutamakan produk tanpa mempertimbangkan proses

pembelajaran itu sendiri.

       Hasil tes siklus I menulis surat permohonan resmi dengan rata-rata skor

klasikal mencapai 74,28 atau dalam kategori baik, karena berada pada rentang 75-

84. Dengan demikian hasil tersebut belum memenuhi target nilai yang telah

ditetapkan. Skor rata-rata tersebut diakumulasikan dari beberapa aspek penilaian.

Pada aspek kelengkapan bagian surat sebesar 7,60 termasuk dalam kategori baik.

Hal ini dikarenakan siswa kelas VII SMP Negeri 5 Semarang sudah paham dan

mengerti dalam menulis bagian-bagian surat. Isi surat yang ditulis siswa sudah

relevan dengan topic. Pada aspek ketepatan penulisan bagian surat skor rata-rata

7,13 masuk kategori baik. Aspek ejaan dan tanda baca juga masuk dalam kategori

baik dengan skor rata-rata sebesar 14,26. Aspek pilihan kata atau diksi juga

masuk dalam kategori baik karena skor klasikal sebesar 11,49. Hal ini

dikarenakan hampir semua siswa sudah tidak kesulitan dalam memilih dan

memakai kata dalam surat permohonan resmi. Aspek penyusunan kalimat juga

masuk dalam kategori baik, yaitu dengan skor rata-rata 11,70. Dengan demikian,

siswa sudah dapat menyusun kalimat dengan baik dan benar. Pada aspek
                                                                              131



kepaduan paragraf rata-rata skor mencapai 11,02 termasuk dalam kategori sangat

baik. Hal ini dikarenakan hampir semua siswa sudah tidak kesulitan dalam

memilih dan memakai kata dalam surat permohonan resmi. Pada aspek kerapian

tulisan termasuk dalam kategori sangat baik dengan skor rata-rata 3,55. Jadi dapat

dikatakan kemampuan siswa secara klasikal sudah dapat menulis surat

permohonan resmi dengan baik, rapi, dan tanpa coretan. Dengan demikian, dapat

disimpulkan bahwa kemampuan siswa dalam menulis surat permohonan resmi

sudah banyak mengalami peningkatan sebesar 26,64% dari rata-rata skor

pratindakan.

       Hasil tes menulis surat permohonan resmi siklus II didapat skor rata-rata

kelas VII SMP Negei 5 Semarang sebesar 81,11 dengan kategori baik karena

berada pada rentang 75-84. pencapaian skor tersebut berarti sudah memenuhi

target bahkan melampaui target yang ditentukan, dengan demikian tindakan siklus

III tidak perlu dilakukan. Skor masing-masing aspek pada siklus II diuraikan

sebagai berikut.

       Pada aspek kelengkapan bagian surat mencapai skor rata-rata sebesar 8,34

atau dalam kategori sangat baik dan mengalami peningkatan sebesar 0,74% dari

skor rata-rata siklus I. Hal ini membuktikan bahwa siswa kini semakin paham

dalam menulis bagian-bagian surat resmi. Pada aspek ejaan dan tanda baca

mencapai skor rata-rata 15,51 atau dalam kategori baik dan mengalami

peningkatan sebesar 1,25%. Aspek pilihan kata mencapai rata-rata skor sebesar

12,68 dan mengalami peningkatan sebesar 1,19%. Pada aspek penyusunan

kalimat mencapai rata-rata skor 12,74 atau dalam kategori baik.
                                                                           132



         Peningkatan keterampilan menulis siswa ini merupakan prestasi siswa

yang patut dibanggakan. Sebelum diberlakukannya tindakan siklus I dan siklus II

kemampuan siswa masih sangat kurang, kemudian setelah diberlakukannya

tindakan pembelajaran dengan menggunakan pendekatan kontekstual komponen

konstruktivisme kemampuan menulis surat permohonan resmi siswa dari siklus I

sampai siklus II mengalami peningkatan. Dengan demikian dapat disimpulkan

bahwa pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme terbukti mampu

membantu siswa dalam meningkatkan kualitas, kreativitas, produktivitas, dan

efektivitas pembelajaran siswa dalam menulis surat permohonan resmi dan

menjadikan proses pembelajaran bermakna bagi siswa.

         Peningkatan prestasi siswa dalam menulis surat permohonan resmi ini

diikuti pula dengan adanya perubahan perilaku siswa dari pratindakan sampai

pada siklus II. Berdasarkan hasil nontes yaitu melalui observasi, jurnal,

wawancara, dan dokumentasi foto pada siklus I dapat disimpulkan bahwa

kesiapan siswa dalam mengikuti pembelajaran menulis surat permohonan resmi,

dengan     pendekatan   kontekstual   elemen   konstruktivisme   belum   begitu

memuaskan. Sikap dari sebagian siswa masih menunjukkan perilaku yang

negative dalam menerima materi pembelajaran, konsentrasi siswa dalam

memperhatikan penjelasan guru belum penuh dan belum terfokus. Hal ini

dibuktikan dengan beberapa siswa terlihat kurang bersemangat mengikuti

jalannya proses pembelajaran dengan pendekatan kontekstual. Setelah disinyalir

melalui data jurnal dan wawancara yang dilakukan peneliti, sebagian siswa ini

ternyata masih bingung atau belum paham dengan pola pembelajaran yang

diberikan guru praktikan yang menerapkan pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme sebagai strategi pembelajaran menulis surat permohonan.
                                                                           133



Kenyataan ini merupakan hal yang wajar sebab selama ini guru lebih cenderung

menggunakan pendekatan tradisional dalam melaksanakan pembelajaran.

       Kondisi yang tergambar pada siklus I merupakan permasalahan yang

harus dihadapi dan harus dicarikan solusinya. Untuk mengatasi permasalahan

tersebut peneliti sengaja merevisi dan mematangkan rencana pembelajaran pada

siklus II. Pola pembelajaran pada siklus II merupakan hasil pertimbangan

pendapat para siswa yang tercantum pada jurnal dan hasil wawancara pada siklus

I. siswa menginginkan pembelajaran yang sama yaitu dengan pendekatan

kntekstual elemen konstruktivisme, mereka merasa pembelajaran dengan

pendekatan kontekstual komponen. Pada siklus II ini konstruktivisme dengan

media surat tetap menjadi alternatif pembelajaran kontekstual, metode diskusi,

kuis, dan permainan tetap menjadi menu utama pembelajaran kontekstual

komponen konstruktivisme. Penekanan siklus II ini lebih diutamakan pada proses

pembelajaran yang menyenangkan dan bermakna.

       Perencanaan ulang yang diterapkan pada siklus I ini ternyata berdampak

positif yang memuaskan, dari hasil observasi siklus II menggambarkan suasana

kelas dalam pembelajaran lebih kondusif. Siswa tampak siap mengikuti

pembelajaran dengan segala tugas yang diberikan guru. Siswa terlihat lebih

senang dan menikmati pembelajaran guru. Selain itu, siswa lebih aktif dalam

kegiatan pembelajaran baik kegiatan diskusi maupun aktif dalam mengajukan

pertanyaan. Siswa pun kini dengan lancar dan senang hati mengungkapkan segala

pikiran dan perasaannya dalam bentuk surat. Hal ini karena siswa mulai terbiasa

pada latihan atau tes menulis yang diajarkan guru. Dengan latihan yang terus-

menerus ini siswa semakin terlatih dan berdampak pula pada hasil tes menulis

surat permohonan resmi. Kenyataan ini telah dibuktikan pada hasil tes menulis
                                                                                134



surat permohonan resmi siswa dari pratindakan, siklus I sampai siklus II

kemampuan siswa semakin meningkat, dan siswa pun semakin terampil dalam

menulis surat permohonan resmi.



4.2.2. Perubahan Perilaku Siswa Kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang

        Berdasarkan serangkaian analisis data, dapat dijelaskan bahwa perilaku

siswa dalam pembelajaran menulis surat permohonan menunjukkan perubahan.

Perubahan-perubahan ini mengarah pada perilaku positif. Suasana kelas yang

semula pasif kini berganti dengan keaktifan siswa dalam belajar. Aktivitas

bertanya dalam kegiatan menulis surat permohonan resmi tidak lagi menjadi hal

yang asing bagi siswa. Perubahan perilaku siswa tersebut dapat dilihat pada tabel

berikut ini yang terbagi ke dalam perilaku positif dan perilaku negatif.

Tabel 23. Perubahan Perilaku Positif Siswa

No             Aspek Obsevasi                 Siklus I     Siklus II   Peningkatan
                                                (%)          (%)           (%)
1.   perhatian siswa penuh terhadap              72           79            7
     penjelasan guru
2.   siswa banyak bertanya daripada guru         30            53          23
3.   pertanyaan-pertanyaan           siswa       26            53          27
     mengarah pada pemecahan masalah
4.   siswa aktif dalam kegiatan diskusi          60            68          8
     kelompok
5.   siswa senang terhadap contoh yang           97           100          3
     dihadirkan guru
6.   siswa dapat mengidentifikasi contoh         72            85          13
     yang dihadirkan guru
7.   siswa      dapat     mengkonstruksi         72            85          13
     pengetahuan dalam kegiatan diskusi
8.   siswa aktif dalam kegiatan refleksi         64            74          10
                                                                            135



       Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa perhatian siswa terhadap

penjelasan guru pada siklus I sebesar 72% dan pada siklus II meningkat menjadi

79%. Hal ini berarti terjadi peningkatan sebesar 7%. Peningkatan ini tidak

terlepas dari kemampuan guru praktikan atau peneliti dalam mengkondisikan

kelas,sehingga perhatian siswa penuh terhadap penjelasan guru. Aspek siswa yang

banyak bertanya daripada guru juga mengalami peningkatan dari siklus I sebesar

30% dan siklus II sebesar 53%. Jadi aspek ini terjadi peningkatan sebesar 23%.

Aspek ketiga pada siklus I perilaku siswa berubah sebesar 26% dan pada siklus II

meningkat sebesar 53% dan aspek ini mengalami peningkatan sebesar 27%.

Aspek yang keempat perilaku siswa pada siklus I sebesar 60% dan pada siklus II

sebesar 68%, sehingga perilaku siswa pada aspek ini mengalami peningkatan

sebesar 8%.

       Dalam aspek kelima perubahan perilaku siswa pada siklus I sebesar 97%

dan pada siklus II sebesar 100%. Jadi, pada aspek ini mengalami peningkatan

sebesar 3%. Aspek keenam, perilaku siswa juga berubah sebesar 72% pada siklus

I dan pada siklus II meningkat sebesar 85%. Hal ini berarti terjadi peningkatan

sebesar 13%. Pada aspek ketujuh, perilaku siswa mengalami perubahan sebesar

72% pada siklusI dan pada siklus II berubah sebesar 85%. Jadi, aspek ketujuh ini

mengalami peningkatan sebesar 13%.         Aspek kedelapan juga mengalami

perubahan perilaku, dimana pada siklus I perilaku siswa berubah sebesar 64% dan

pada siklus II menjadi 74%. Hal ini, berarti perilaku siswa pada aspek kedelapan

mengalami peningkatan sebesar 10%. Perubahan perilaku siswa ini terjadi dalam

proses pembelajaran yang berlangsung di kelas. Siswa merasa senang dan tertarik
                                                                              136



dengan metode yang digunakan peneliti dalam menulis surat permohonan dengan

pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.

       Selain perubahan perilaku positif, dalam proses pembelajaran menulis

surat permohonan dengan menggunakan pendekatan kontekstual elemen

konstruktivisme pada siswa kelas VII A SMP Negeri 5 Semarang perilaku-

perilaku negatif siswa juga berkurang. Perubahan tersebut dapat dilihat pada tabel

24 di bawah ini.

Tabel 24. Perubahan Perilaku Negatif Siswa
No           Aspek Observasi               Siklus I    Siklus II    Peningkatan
                                                                        (%)
1. respon siswa terhadap penjelasan           26          17             9
   guru kurang
2. siswa kurang bersemangat dalam             30          17             13
   kegiatan diskusi kelompok
3. siswa banyak bicara dan bercanda           19          13              6
   dengan teman sekelompoknya
4. siswa cenderung pasif                      55          21             34
5. siswa sering jalan-jalan saat              13           9              4
   pembelajaran berlangsung
6. siswa      kurang      bersemangat         28          19              9
   mengerjakan tes menulis
7. siswa sering melihat pekerjaan             47          17             30
   temannya saat tes berlangsung



       Dari tabel di atas dapat dijelaskan bahwa respon siswa terhadap penjelasan

guru pada siklus I sebesar 26% dan pada siklus II berkurang menjadi 17%. Ini

berarti terjadi peningkatan sebesar 9%. Dalam aspek kedua perilaku negatif siswa

dari siklus I sebesar 30% dan siklus II berkurang sebesar 17%. Jadi aspek ini

terjadi peningkatan sebesar 13%. Aspek ketiga pada siklus I perilaku negatif

siswa sebesar 19% dan pada siklus II berkurang sebesar 13% dan aspek ini

mengalami peningkatan sebesar 6%. Aspek yang keempat perilaku negatif siswa
                                                                            137



pada siklus I sebesar 55% dan pada siklus II berkurang sebesar 21%, sehingga

perilaku siswa pada aspek ini mengalami peningkatan sebesar 34%.

       Dalam aspek kelima perilaku negatif siswa pada siklus I sebesar 13% dan

pada siklus II berkurang sebesar 9%. Jadi, pada aspek ini mengalami peningkatan

sebesar 4%. Aspek keenam, perilaku negatif siswa juga berubah sebesar 28%

pada siklus I dan pada siklus II berkurang sebesar 19%. Hal ini berarti terjadi

peningkatan sebesar 9%. Pada aspek ketujuh, perilaku negatif siswa pada siklus I

sebesar 47% dan pada siklus II berkurang sebesar 17%. Perilaku negatif siswa

pada aspek ini mengalami peningkatan sebesar 30%. Perubahan perilaku negatif

siswa pada siklus I dan siklus II semakin berkurang. Berkurangnya perilaku

negatif siswa ini tidak lepas dari kemampuan guru praktikan dalam mendorong

siswa untuk aktif dalam proses pembelajaran menulis surat permohonan dengan

menggunakan pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme.

       Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa belajar dengan menggunakan

pendekatan kontekstual elemen konstruktivisme sangat menarik karena dapat

membantu siswa dalam memahami dan mengidentifikasi penulisan surat

permohonan resmi, selain itu pengalaman-pengalaman yang menyenangkan dan

bermakna dapat dipetik siswa dari pembelajaran ini.
                       Rekap Jurnal Siswa Siklus I dan Siklus II


No      Aspek Jurnal            Jumlah Siswa          Persentase (%)      Peningkatan
                             Siklus I Siklus II   Siklus I    Siklus II       (%)
1.   Kesan siswa terhadap
     cara mengajar guru
     praktikan
         a. senang             35         45         74,5          95,7      21,2
         b. tidak senang       12          2         25,5           4,3      -21,2
2.   Tanggapan siswa
     terhadap
     pembelajaran
     menulis surat
     permohonan dengan
     pendekatan
     kontekstual elemen
     konstruktivisme
         a. senang             32         47         68,1          100       31,9
         b. tidak senang       15          0         31,9           0        -31,9
3.   Kesan siswa terhadap
     pembelajaran
     menulis surat
     permohonan dengan
     pendekatan
     kontekstual elemen
     konstruktivisme
         a. senang             38         43         80,9          91,5      10,6
         b. tidak senang        9          4         19,1           8,5      -10,6
4.   Kesulitan siswa
     terhadap materi
     pelajaran
         a. ya                 29         42         61,7          89,4      27,7
         b. tidak              18          5         38,3          10,6      -27,7
5.   Saran siswa terhadap
     kegiatan
     pembelajaran
         a. mendukung          30         44         63,8          93,6      29,8
         b. kurang             17          3         36,2           6,4      -29,8
             mendukung
                       Rekap Observasi Perilaku Positif Siswa

No             Aspek Obsevasi                  Siklus I     Siklus II    Peningkatan
                                                 (%)          (%)            (%)
1.   perhatian siswa penuh terhadap               72           79             7
     penjelasan guru
2.   siswa banyak bertanya daripada guru         30            53            23
3.   pertanyaan-pertanyaan           siswa       26            53            27
     mengarah pada pemecahan masalah
4.   siswa aktif dalam kegiatan diskusi          60            68             8
     kelompok
5.   siswa senang terhadap contoh yang           97           100             3
     dihadirkan guru
6.   siswa dapat mengidentifikasi contoh         72            85            13
     yang dihadirkan guru
7.   siswa      dapat     mengkonstruksi         72            85            13
     pengetahuan dalam kegiatan diskusi
8.   siswa aktif dalam kegiatan refleksi         64            74            10




                       Rekap Observasi Perilaku Negatif Siswa
No            Aspek Observasi                Siklus I     Siklus II     Peningkatan
                                                                            (%)
1. respon siswa terhadap penjelasan            26            17              9
   guru kurang
2. siswa kurang bersemangat dalam              30            17             13
   kegiatan diskusi kelompok
3. siswa banyak bicara dan bercanda            19            13             6
   dengan teman sekelompoknya
4. siswa cenderung pasif                       55            21             34
5. siswa sering jalan-jalan saat               13             9              4
   pembelajaran berlangsung
6. siswa      kurang      bersemangat          28            19             9
   mengerjakan tes menulis
7. siswa sering melihat pekerjaan              47            17             30
   temannya saat tes berlangsung
                   Rekap Observasi Kelas Siklus I dan Siklus II


Aspek Observasi    SB   B   C K SK             Persentase (%)         Peningkatan
                                            Siklus         Siklus         (%)
                                               I              II
A. Keaktifan
siswa
mendengarkan
penjelasan guru
1. Semangat
siswa dalam
mengikuti
penjelasan guru                         14 x 100 = 70   18x 100= 90      20%
2. Perhatian                            20              20
siswa terhadap
penjelasan guru
3. Pertanyaan
siswa terhadap
penjelasan guru
4. Jawaban siswa
terhadap
pertanyaan yang
diajukan guru
B. Keaktifan
siswa dalam
proses
pembelajaran
1. Kerjasama
antarsiswa dalam
belajar
2. Keaktifan
siswa dalam                             15 x 100= 75    19x100= 95       20%
bekerja                                 20              20
kelompok
3. Kekritisan
siswa dalam
menjawab
pertanyaan
4. Hasil karya
siswa yang
ditempel di
dinding
C. Keaktifan
siswa dalam
mengerjakan
tugas
1. Kesungguhan
siswa dalam
mengerjakan
tugas               12 x 100= 80   15x100=100   20%
2. Perilaku siswa   15             15
dalam
mengerjakan
tugas
3. Kecepatan
siswa dalam
melaksanakan
tugas
D. Keterampilan
Guru Praktikan
1. Kemampuan
membuka
pelajaran
2. Kemampuan
guru
menyampaikan
materi
3. Kemampuan        33 x 100= 73   41x100= 91   18%
guru dalam          45             45
menguasai
materi pelajaran
4. Kemampuan
guru menjalin
komunikasi
dengan siswa
5. Kemampuan
guru dalam
menggunakan
pendekatan
kontekstual
elemen
konstruktivisme
6. Kemampuan
guru mendorong
siswa dalam
pembelajaran
7. Kemampuan
guru dalam
mengelola kelas
8. Kemampuan
guru dalam
memberi balikan
9. Kemampuan
guru melakukan
refleksi
                                SOAL TES MENULIS

                       SURAT PERMOHONAN RESMI



Petunjuk Pengerjaan Soal!

Buatlah sebuah surat permohonan resmi dengan ketentuan sebagai berikut.

1. Nomor      : 08/OSIS/SMP 5/2005

   Lamp.      :-

   Hal        : Permohonan izin

2. Tempat dan tanggal penulisan surat : Semarang, 2 Mei 2005

3. Asal surat : Ketua OSIS SMP Negeri 5 Semarang dengan persetujuan Kepala

              Sekolah SMP Negeri 5 Semarang

4. Alamat yang dituju : Kepala sekolah SMP Negeri 30 Semarang (Bapak

              Suharyanto)       Jalan Jendral Sudirman 25 Semarang

5. Isi Surat : Ketua OSIS SMP Negeri 5 Semarang akan meminjam lapangan SMP

            Negeri 30 Semarang untuk pertandingan sepak bola antarSMP-SMP di

            Kota Semarang dalam rangka Hari Pendidikan Nasional

6. Hari     : Rabu s.d. Sabtu

 Tanggal    : 4-7 Mei 2005

 Waktu      : 15.00 WIB-selesai
                            PENGESAHAN KELULUSAN




Skripsi ini telah dipertahankan di hadapan siding Panitia Ujian Skripsi Jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang


                                                          pada hari : Selasa
                                                          tanggal   : 30 Agustus 2005




                                  Panitia Ujian Skripsi


Ketua,                                                        Sekretaris,




Prof. Dr. Rustono                                            Drs. Mukh. Doyin, M. Si.
NIP 131281222                                                 NIP 132106367




Penguji I,    Penguji II,                                                Penguji III,



Tommy Yuniawan, S. Pd, M. Hum.          Dra. Mimi Mulyani, M. Hum.Drs. Wagiran,
M. Hum.
NIP 132238498                            NIP 131863779                   NIP
132050001

								
To top