KARAKTERISTIK SISTEM PEMELIHARAAN KERBAU RAWA DI KALIMANTAN SELATAN by kvw36946

VIEWS: 1,628 PAGES: 9

									            Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




      KARAKTERISTIK SISTEM PEMELIHARAAN KERBAU
            RAWA DI KALIMANTAN SELATAN
                         AKHMAD HAMDAN, ENI SITI ROHAENI dan AHMAD SUBHAN

                          Balai Pengkajian Trknologi Pertanian Kalimantan Selatan
                      Jl. Panglima Batur Barat No. 4. Banjarbaru, Kalimantan Selatan

                                                ABSTARK

    Survei ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik sistem pemeliharaan kerbau rawa. Survei dilaksanakan
pada tahun 2005, di sentra pengembangan kerbau rawa Propinsi Kalimantan Selatan dengan
mempertimbangkan populasi ternak kerbau. Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan sekunder. Data
primer dikumpulkan menggunakan metoda PRA (Participatory Rapid Appraisal) melalui pendekatan pada
kelompok peternak dan tokoh masyarakat secara diskusi. Data sekunder dikumpulkan dari instansi terkait.
Ketersediaan hijauan pakan di padang penggembalaan dihitung berdasarkan pengambilan cuplikan sampel
dengan ukuran 100 cm x 100 cm secara acak, pengambilan cuplikan dilakukan 4 kali dan ditimbang,
selanjutnya rataan bobot hijauan pakan ini dikonversi kedalam luasan 1 hektar. Hasil menunjukkan bahwa
Kabupaten Hulu Sungai Utara merupakan daerah penyebaran kerbau rawa terbanyak (8 desa) dengan populasi
kerbau tertinggi, kemudian diikuti Kabupaten Hulu Sungai Selatan (6 desa), Hulu Sungai Tengah (3 desa) dan
Barito Kuala (2 desa). Rataan umur peternak kerbau adalah masuk kedalam kisaran umur produktif yaitu 42
tahun dengan pengalaman beternak 19,75 tahun. Tingkat pendidikan peternak sebagian besar adalah Sekolah
Dasar (73,57%) dengan pekerjaan utama beternak kerbau (59,14%), kemudian diikuti sebagai nelayan
(28,83%), pedagang (13,78%) dan PNS (4,79%). Rata-rata pemilikan kerbau per peternak 26,75 satuan ternak.
Sistem pemeliharaan kerbau rawa di lokasi survei dilakukan dengan sistem kalang secara ekstensif, yaitu
dengan menggembala kerbau secara bebas di padang penggembalan (sangat tergantung pada alam) sehingga
faktor musim sangat berpengaruh dan menggunakan kalang untuk kerbau beristirahat. Pada musim hujan (air
dalam) aktivitas kerbau dimulai di atas kalang, kerbau turun dari kalang mencari makan dimulai pagi hari
sekitar jam 7-9 dan sore harinya kembali ke atas kalang sekitar jam16-18. Sebaliknya pada musim kemarau
aktivitas kerbau sepenuhnya berada di padangan, pada saat ini kalang tidak digunakan lagi. Rataan curahan
waktu tenaga kerja untuk menggembala adalah sebesar 3,6 jam sehari. Pada saat kemarau peternak hanya
melakukan pengontrolan terhadap keberadaan ternaknya dan dilakukan 2 kali dalam seminggu. Penjualan
kerbau dilakukan berdasarkan keperluan (60,00%) dan secara rutin setiap tahun (40,00%) terutama terhadap
kerbau jantan (dianggap tidak produktif). Rataan produksi hijauan pakan di padang penggembalaan adalah
sebesar 13,13 ton per hektar.
Kata kunci : Kerbau rawa, karakteristik, sistem pemeliharaan


               PENDAHULUAN                                Populasi ternak kerbau di Kalimantan Selatan
                                                      tahun 2004 sebesar 38.488 ekor dengan
     Kerbau rawa adalah salah satu ternak             kontribusi produksi daging sebesar 819.040 kg.
 ruminansia dan merupakan plasma nutfah               Keadaan ini menunjukkan kenaikan yang cukup
 yang dimiliki dan berkembang secara turun            berarti dari tahun 2003, yaitu dengan jumlah
 temurun di Propinsi Kalimantan Selatan.              populasi 37.550 ekor (naik 2,50%) dan produksi
 Kerbau rawa tersebar hampir di semua                 daging 756.162 kg (naik 8,32%). Kerbau
 kabupaten terutama di 4 wilayah Kabupaten            mempunyai peran yang cukup penting dalam
 yang mempunyai kawasan rawa yang cukup               pemenuhan kebutuhan konsumen, produksi
 luas yaitu Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu             daging kerbau di Kalimantan Selatan adalah
 Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan             15,72% dari total produksi daging ternak besar
 (HSS) dan Barito Kuala (Batola) dengan               (DISNAK PROPINSI KALIMANTAN SELATAN,
 populasi yang berbeda. Ternak ini mampu              2004). Kontribusi produksi dari ternak kerbau ini
 beradaptasi dengan baik pada kondisi alam            tentunya dapat ditingkatkan bila usaha ternak
 berawa-rawa dan hampir sepanjang tahun               kerbau dikelola dengan baik, sehingga disamping
 tergenang air.                                       dapat meningkatkan pendapatan peternak yang
                                                      mengusahakannya juga dapat meningkatkan




170                                                                                                    177
                 Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




pendapatan asli daerah (PAD). Teknologi           Rataan bobot hijauan pakan ini kemudian
yang harus diterapkan harus disesuaikan           dikonversi kedalam luasan 1 hektar.
dengan potensi sumberdaya alam yang                       HASIL DAN PEMBAHASAN
tersedia dan kemampuan peternak. Menurut
SADERI et al., (2004) fungsi ekonomi dari
pemeliharaan ternak kerbau rawa masih             Gambaran umum wilayah
terbatas sebagai tabungan untuk memupuk
modal, dan pariwisata.                                Kalimantan Selatan merupakan salah satu
    Survei ini bertujuan untuk mengetahui         propinsi yang ada di Pulau Kalimantan dengan
sistem pemeliharaan ternak kerbau rawa di         luas 37.377 km2 dan terdiri atas 11 kabupaten dan
Propinsi Kalimantan Selatan dalam rangka          2 kota. Luas wilayah Kabupaten HSU, HST, HSS
untuk memperbaikinya guna meningkatkan            dan Batola masing-masing adalah 2.771, 1.472,
produktivitas melalui penerapan inovasi           1.703 dan 2.997 km2. Berdasarkan luas wilayah
teknologi spesifik lokasi.                        ini terlihat bahwa Kabupaten Batola mempunyai
                                                  luas wilayah yang terluas dan yang tersempit
                                                  adalah HST. Wilayah pemeliharaan kerbau rawa
    MATERI DAN METODOLOGI                         merupakan daerah rawa yang tergenang air 6-7
                                                  bulan/tahun dengan ketinggian air mencapai > 2
    Survei ini dilaksanakan di kawasan            m, kondisi ini menyebabkan kerbau rawa menjadi
sentra pengembangan kerbau rawa meliputi          pandai berenang.
Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Hulu               Penyebaran kerbau rawa di empat Kabupaten
Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Selatan          di Kalimantan Selatan sebagai lokasi survei
(HSS) dan Barito Kuala (Batola) Propinsi          seperti tertera pada Tabel 1. Kabupaten Hulu
Kalimantan Selatan pada tahun 2005.               Sungai Utara merupakan daerah dengan penye-
Lokasi terpilih adalah Kecamatan Danau            baran kerbau rawa terbanyak (8 desa), kemudian
Panggang (HSU), Kecamatan Labuan Amas             diikuti Kabupaten Hulu Sungai Selatan (6 desa),
Utara (HST), Kecamatan Daha Utara dan             Hulu Sungai Tengah (3 desa) dan Barito Kuala (2
Daha Selatan (HSS) dan Kecamatan                  desa). Keadaan ini juga diikuti dengan populasi
Kuripan (Batola).                                 kerbau rawa pada masing-masing daerah, dimana
    Data yang dikumpulkan meliputi data           Kabupaten HSU adalah daerah yang memiliki
primer dan sekunder. Data primer dikum-           populasi kerbau rawa yang tertinggi (Tabel 2).
pulkan menggunakan metoda PRA (Partici-
patory Rapid Appraisal) (BADAN LITBANG
PERTANIAN, 2005). Pelaksanaan metoda              Karakteristik peternak
PRA melalui pendekatan pada kelompok
peter-nak dan tokoh masyarakat secara                 Karakteristik peternak meliputi data umur
diskusi. Pengumpulan data individu melalui        peternak, pengalaman beternak, pekerjaan utama
wawan-cara langsung dengan peternak               dan tingkat pendidikan seperti tertera pada Tabel
mengguna-kan quesioner dan wawancara              3.
dengan beberapa informan kunci yang                   Berdasarkan rataan umur diketahui bahwa
dianggap mengetahui dan memahami                  peternak kerbau rawa di Kalimantan Selatan
tatalaksana pemeliharaan kerbau rawa di           termasuk dalam golongan umur produktif, yaitu
lokasi survei. Data sekunder dikumpulkan          42 tahun, dimana rataan umur tertinggi adalah
dari instansi terkait.                            peternak kerbau rawa di Kabupaten HSU dan
    Ketersediaan hijauan pakan di padang          terendah berada di Kabupaten HST. Menurut
penggembalaan dihitung berdasarkan peng-          NURMANAF (2001) dalam MUNIER (2003) bahwa
ambilan cuplikan sampel dengan ukuran             kisaran umur produktif adalah 15 – 54 tahun
100 cm x 100 cm secara acak, pengambilan          karena pada kisaran ini produktivitas kerja
cuplikan dilakukan 4 kali dan ditimbang.          tinggi yang umumnya teralokasi untuk beragam
                                                  aktifitas usahataninya.




                                                                                                      177
                                                                                                      188
         Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




   Tabel 1. Desa penyebaran kerbau rawa pada 4 kabupaten lokasi pengkajian
       Kabupaten              Kecamatan                           Desa
       HSU                    Danau Panggang                      1. Bararawa
                                                                  2. Sapala
                                                                  3. Pal Batu
                                                                  4. Ambahai
                                                                  5. Tampakang
                                                                  6. Paminggir
                                                                  7. Paminggir Seberang
                                                                  8. Tampakang
       HST                    Labuan Amas Utara                   1. Sungai Buluh
                                                                  2. Mantaas
                                                                  3. Rantau Bujur
       HSS                    Daha Utara                          1. Teluk Haur
                                                                  2. Hamayung
                                                                  3. Pandak Daun
                                                                  4. Paharangan
                              Daha Selatan                        1. Bajayau Baru
                                                                  2. Bajayau Lama
       Batola                 Kuripan                             1. Tabatan
                                                                  2. Tabatan Baru

   Tabel 2. Populasi (ekor) kerbau rawa di Kabupaten HSU, HST, HSS dan Batola
       No       Kabupaten                                 2000                 2004             Trend (%)*
       1        Hulu Sungai Utara (HSU)                   6.509                7.771               19.39
       2        Hulu Sungai Selatan (HST)                 1.801                1.895               5.22
       3        Hulu Sungai Tengah (HST)                  2.812                3.136               11.52
       4        Batola                                     493                  857                73.83
   Sumber: DINAS PETERNAKAN KALIMANTAN SELATAN (2004)
          * Berdasarkan perhitungan

   Tabel 3. Karakteristik peternak menurut kabupaten dan propinsi
                                                            Rata-rata                            Kalimantan
       Keterangan
                                        Kab. HSU      Kab. HST      Kab. HSS      Kab. Batola     Selatan
       Jumlah responden                    13            4             11             15           10,75
       Umur peternak                       47            39            42             40           42,00
       Pengalaman beternak (tahun)         22            22            20             15           19,75
       Pekerjaan Utama (%)
         a. Beternak                       53,8           50            72,7           60,0        59,14
         b. Nelayan                        45,5           25            18,2           26,7        28,83
         c. PNS                             7,7           0              0             6,7         4,79
         d. Dagang                          7,7           25            9,1            13,3        13,78
       Tingkat pendidikan (%)
         a. Sekolah Dasar                  61,5          100            72,7           60,0        73,57
         b. SLTP                           15,4           0             18,2           40,0        18,39
         c. SMU                             7,7           0             9,1            0,0         4,20
         d. Perguruan Tinggi                7,7           0              0              6,7         3,59
       Tanggungan keluarga (org)             5            3              4               3          3,75




 184
189
             Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




    Usaha utama peternak sebagian besar               pendapatan keluarga peternak yang mengusaha-
adalah beternak kerbau (59,14%) diikuti               kannya di Kalimantan Selatan.
sebagai nelayan (28,83%), pedagang                        Pada Tabel 4 disajikan rataan curahan tenaga
(13,78%) dan PNS (4,79%). Kenyataan ini               kerja untuk penggembalaan ternak kerbau rawa
menunjukkan bahwa ternak kerbau rawa                  di empat kabupaten di Kalimantan Selatan.
adalah sumber penghasilan (pendapatan)                Kegiatan menggembala ternak di 4 Kabupaten
utama bagi sebagian besar keluarga peternak           tidak jauh berbeda, yaitu dilakukan setiap hari
disamping menangkap ikan di rawa dan                  dan hanya dilakukan oleh kaum pria dengan
lainnya. Dengan kata lain ternak kerbau               alokasi penggunaan tenaga kerja 365 HOK per
memberikan sumbangan yang besar bagi                  tahun.

Tabel. 4. Rataan curahan waktu tenaga kerja untuk penggembalaan
                                                                 Rata-rata
 Kabupaten
                                   Jam/hari       Hari/bulan    Bulan/tahun    Jam/tahun      HOK/tahun
 Hulu Sungai Utara (HSU)              1,1             30             12           401,5         365
 Hulu Sungai Tengah (HST)             3,4             30             12           1241          365
 Hulu Sungai Selatan (HSS)            5,0             30             12          1825,0         365
 Barito Kuala (Batola)                5,0             30             12          1825,0         365


    Curahan tenaga kerja wanita lebih                 kepada pengontrolan         terhadap     keberadaan
banyak kepada pekerjaan rumah tangga dan              ternaknya saja.
sebagian waktunya untuk membantu laki-
laki di usahataninya. Rataan curahan tenaga
kerja untuk menggembala adalah 3,6 jam                Pemilikan ternak
sehari sedangkan curahan tenaga kerja
terendah dilakukan oleh peternak di                       Ternak kerbau yang dipelihara oleh peternak
Kabupaten HSU dibandingkan peternak di                umumnya adalah milik sendiri. Sebagian
kabupaten lainnya yaitu 1,1 jam sehari dan            peternak disamping menguasai milik sendiri juga
tertinggi oleh peternak di Kabupaten HSS              ada yang memelihara ternak milik orang lain
dan Batola yaitu 5 jam sehari. Perbedaan ini          sebagai gaduhan dan sebagian kecil lagi hanya
lebih disebabkan oleh faktor air, dimana              sebagai penggaduh saja. Tabel 5 menyajikan
pada saat musim hujan (air dalam) padang              rataan skala pemilikan ternak kerbau di lokasi
penggembalaan banyak yang tenggelam                   survei di 4 kabupaten di Kalimantan Selatan.
dalam waktu yang relatif lebih lama dan                   Tabel 5 menunjukkan rataan jumlah pemi-
dalam, sehingga menggembala dilakukan                 likan ternak kerbau rawa 20 – 77 ekor, dimana
hampir sepanjang hari dimulai sekitar jam 8           rataan pemilikan tertinggi di kabupaten HSS 77
pagi (menurunkan kerbau dari kalang)                  ekor. Tingginya rataan pemilikan ternak kerbau
hingga jam 4 sore (memasukkan kerbau ke               rawa di daerah ini karena merupakan sentra
atas kalang) . Hal ini dilakukan sekitar 2 – 4        pengembangan ternak kerbau rawa yang
minggu guna membiasakan kerbau terhadap               diprogramkan oleh Pemerintah Daerah Propinsi
kondisi dan padang penggembalaan baru.                Kalimantan Selatan disamping ketersediaan
Bila kerbau sudah terbiasa dan kenal dengan           hijauan pakan yang terdapat di lahan rawa cukup
penggembalaan yang baru maka kerbau                   tinggi. FORD, (1992) menyebutkan bahwa ternak
tidak harus ditunggui lagi. Pada saat musim           kerbau di Indonesia umumnya diusahakan oleh
kemarau rawa-rawa banyak yang kering dan              petani skala kecil, terutama di Pulau Jawa.
kalang tidak digunakan lagi. Pada saat ini            Kumpulan terbesar berada di Indonesia Bagian
aktifitas kerbau sebagian besar berada di             Timur, dengan rataan pemilikan 37 ekor di NTT
alam bebas padang penggembalaan dan                   dan beberapa diantaranya lebih dari 300 ekor
curahan tenaga kerja sangat sedikit, lebih            (ROBINSON, 1977).




    184                                                                                                   3
              Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




Tabel 5. Rataan jumlah pemilikan ternak kerbau

 Kabupaten                                    Jantan                           Betina             Jumlah
                                   Dewasa      Muda      Anak        Dewasa     Muda     Anak
 Hulu Sungai Utara (HSU)              3          1           1         19         8        7        39
 Hulu Sungai Tengah (HST)             2          1           1         14         14       7        39
 Hulu Sungai Selatan (HSS)            5          3           3         33         16       17       77
 Barito Kuala (Batola)                1          1           1          8         5        4        20
 Total                                11         6           6         74         43       35       175
 Persentase                          6,3        3,4       3,4          42,3      24,6     20,0      100



Ketersediaan hijauan pakan                              kabupaten (HSU, HST, HSS dan Batola) adalah
                                                        sama yaitu dengan cara menggembala ternak di
    Daya dukung lahan dari suatu wilayah                padang penggembalaan pada lahan rawa dan
terhadap bidang peternakan dapat diukur                 malam hari kerbau beristirahat di kalang.
dari kemampuan wilayah dalam menyedia-                  Kalang merupakan bangunan yang terbuat dari
kan pakan yang berasal dari hijauan pakan               susunan kayu sedemikian rupa di atas rawa
yang dapat dimanfaatkan oleh ternak.                    sebagai tempat untuk kerbau beristirahat di
Ketersediaan hijauan pakan di padang                    malam hari, juga tempat kerbau betina
penggembalaan kerbau rawa relatif cukup                 melahirkan dan merawat anak sebelum siap
tinggi dengan rataan berkisar 1,7 – 13                  untuk dilepas berenang mencari makan
ton/ha/tahun pada musim kemarau dan 11,9-               khususnya pada saat air dalam. Pemeliharaan
19,0 ton/ha/tahun pada musim hujan (Tabel               kerbau rawa sangat dipengaruhi oleh musim.
4). Jenis hijauan pakan ternak yang terdapat            Gambaran kondisi pemeliharaan kerbau rawa
pada padang penggembalaan didominasi                    pada musim kemarau dan hujan adalah sebagai
rumput alam seperti rumput (kumpai)                     berikut:
jariwit, pepedasan, galunggung, kangkung,
                                                        A.       Pemeliharaan kerbau rawa saat musim
hiring-hiring, sumpilang, kumpai batu,
                                                                 hujan
kumpai miyang, kumpai juluk dan lain-lain
                                                                 • Kalang digunakan untuk beristirahat
(Tabel 5). Hal ini menunjukkan bahwa
                                                                    sejak sore hingga pagi hari. Kerbau
berdasarkan daya dukung lahan yang ada
                                                                    diturunkan dari kalang untuk mencari
dan ketersediaan hijauan pakan Kabupaten
                                                                    makan sejak pagi hari yaitu dimulai
HSU, HST, HSS dan Batola mempunyai
                                                                    sekitar jam 7 - 9 pagi hari dan
potensi untuk pengembangan ternak kerbau
                                                                    dinaikkan ke atas kalang pada sore hari
rawa di Kalimantan Selatan.
                                                                    yaitu dimulai dari jam 4 - 6 sore hari,
    Permasalahan dalam penyediaan hijauan
                                                                    kecuali anak kerbau yang berumur di
pakan adalah adanya kecenderungan
                                                                    bawah 5 bulan (belum bisa berenang)
penyempitan lahan sebagai akibat pergeser-
                                                                    tetap berada di atas kalang.
an penggunaan lahan menjadi lahan
pertanian dan pemukiman seiring cepatnya                         • Pada saat tertentu (2-4 minggu) untuk
pertumbuhan penduduk. Oleh karena itu                               membiasakan ternak terhadap kondisi
perlu upaya dari pemerintah melalui                                 yang baru peternak menggembala
pengaturan tataguna lahan sesuai dengan                             kerbau sepanjang hari, dikarenakan
potensi sumber daya yang ada.                                       peternak harus mengarahkan kerbau
                                                                    dalam mencari makan dan menjaga
                                                                    keselamatan kerbau dari kelelahan
Tatalaksana pemeliharaan kerbau rawa                                berenang. Pada saat ini ketersediaan
                                                                    pakan sulit karena rumput tenggelam
   Tatalaksana pemeliharaan kerbau rawa                             dan mati (ketinggian air mencapai 2
di Kalimantan Selatan khususnya di 4                                meter). Upaya yang dilakukan peternak



    184                                                                                                  191
             Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




          adalah dengan menggembalakan                           tanah. Lama ternak kerbau berenang
          kerbau di daerah dimana hijauan                        mencari makan berkisar 2 – 3 jam
          mudah didapat dan kerbau dapat                         kemudian kerbau diistirahatkan ke atas
          berpijak ke tanah, kecuali di                          kalang atau di tempat yang lebih tinggi
          Kabupaten Batola ketinggian air                        (kerbau dapat berpijak di tanah) selama
          kurang dari 2 meter sehingga                           ± 3 jam dan digembalakan kembali
          kerbau masih bisa berpijak ke                          hingga sore hari.

Tabel 6.Rataan ketersediaan hijauan pakan di lahan rawa

 Kabupaten                                             Produksi (ton/ha/tahun)            Total tersedia
                                                      MK                  MH
 Hulu Sungai Utara (HSU)                              1,7                 19,0                20,7
 Hulu Sungai Tengah (HST)                              3,6                11,9                15,5
 Hulu Sungai Selatan (HSS)                             3,3                  -                  3,3
 Barito Kuala (Batola)                                13,0                 -                  13,0

Keterangan: MK = musim kemarau
            MH = musim penghujan

Tabel 5. Jenis hijauan pakan yang terdapat di padang penggembalan kerbau rawa
 No     Nama daerah            Jenis                                                Suku
 1      Kumpai jariwit         Paspalaum conjugatum Berg.                           Poaaceae
 2.     Pepedasan              Polygonum hydropiper L                               Polygonaceae
 3.     Galunggung/kayapu      Salvinia cucullata Roxb                              Salvinaceae
 4.     Kangkung rawa          Ipomea aquatica Forsk                                Convolvulaceae
 5.     Hiring-hiring          Cypperus platystylis R. Br                           Cypperaceae
 6.     Sumpilang              Cynodon dactylon (L.) Pers                           Poaaceae
 7.     Kumpai miyang          Hymenachne interrupta Buese                          Poaaceae
 8.     Kumpai juluk bini      Hymenachne Amplexicaulis Nees                        Poaaceae
 9.     Kumpai batu            Ischaemum barbatum Retz.                             Poaaceae
 10.    Kumpai juluk laki      Paspalum scrobiculatum L. Var bisppicatum Haek       Poaaceae
 11     Tanding                Nympphea pubescens Will                              Nymphaeceae
 12     Gugura                 Panicum repens L.                                    Poaaceae
 13     Banta                  Leersia hexandra Swartz                              Poaaceae
 14     Ilung/eceng gondok     Eichhornia crassipes (Mart.) Solms                   Pontederiaaceae


       • Terhadap kerbau betina ± 1                            melahirkan dan menyusui di atas kalang
         minggu      sebelum    melahirkan                     (± 1 bulan) dan sebagian lagi membiar-
         dipisah dari kelompoknya dan                          kan induk mencari makan sendiri di
         dipelihara di sekitar kalang,                         sekitar kalang.
         menjelang 3 hari sebelum melahir-                   • Anak kerbau (gudel) selama berada di
         kan kerbau betina dinaikkan ke                        atas kalang hanya mengkonsumsi air
         atas kalang dan dibuatkan kandang                     susu dari induknya untuk mencukupi
         pembatas dari kelompok lainnya                        kebutuhan hidupnya dan baru mulai
         sampai kerbau melahirkan dan                          belajar memakan rumput setelah ber-
         kuat kembali untuk berenang                           umur ± 1 bulan.
         mencari makan. Pada saat ini                        • Pada dasarnya gudel dapat berenang
         sebagian peternak menyediakan                         setelah berumur ± 1 minggu, akan tetapi
         hijauan untuk induk yang baru



192                                                                                                        177
            Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




          sebagian besar peternak baru akan         sebagai sumber pendapatan untuk mencukupi
          melepas gudel bergabung dengan            kebutuhan keluarga peternak. Berbeda dengan
          kelompoknya setelah berumur ± 1           kerbau betina pemeliharaan dilakukan selama
          bulan, dikarenakan pada saat ini          kerbau tersebut masih mampu melahirkan
          kondisi gudel dianggap kuat untuk         (menghasilkan anak) bahkan ada kerbau betina
          berenang dan mulai belajar                yang berumur > 35 tahun masih dipelihara
          makan.                                    peternak. Terhadap kerbau betina yang tidak
                                                    mampu menghasilkan anak (lambat) akan
B. Pemeliharaan kerbau rawa saat musim
                                                    dikeluarkan dari kelompok karena dinggap tidak
   kemarau:
                                                    menghasilkan.
    • Pada saat musim kemarau kalang                    Menurut FORD (1992) secara fisik kondisi
      tidak digunakan lagi. Aktivitas               alam di Indonesia memungkinkan untuk
      kerbau sepenuhnya dilakukan di                pengembangan ternak kerbau secara ekstensif.
      padangan, peranan peternak sangat             Lahan yang luas di Sumatra dan Kalimantan
      sedikit     sebatas    mengontrol             memungkinkan untuk pemeliharaan kerbau
      keberadaan, kesehatan, kelahiran              secara ranch untuk memproduksi daging
      dan kematian serta menjaga                    (COCKRILL, 1974). SADERI et al. (2004)
      hubungan antara peternak dan                  menyebutkan bahwa pemeliharaan kerbau rawa
      kerbau agar supaya tetap dekat                sangat dipengaruhi oleh musim, yaitu pada
      jangan sampai menjadi liar (tetap             musim       hujan/air    dalam      dengan   cara
      jinak). Upaya yang dilakukan                  digembalakan di rawa dan sore hari
      peternak adalah dengan membuat                dikandangkan dalam kalang, sedang pada musim
      kandang untuk tempat istirahat                kemarau kerbau digembalakan di padang
      kerbau di malam hari. Kandang ini             gembala. ROHAENI et al. (2005) menyebutkan
      lebih diperuntukkan kepada ternak             bahwa budidaya ternak kerbau rawa di
      kerbau yang berstatus sebagai                 Kalimantan Selatan dilakukan di lahan rawa yang
      kepala jalan (tetua) agar ternak              relatif terpencil dari daerah lain, secara
      kerbau yang lain tidak berkeliaran            tradisional dengan cara digembalakan secara
      terlalu jauh.                                 berkelompok dan berkembang biak hampir tidak
    • Pemeliharaan kerbau di musim                  ada campur tangan peternak. Selanjutnya
      kemarau lebih mudah dan curahan               disebutkan bahwa pada saat air dalam,
      waktu pemeliharaan juga lebih                 pemeliharaan kerbau rawa dilakukan dengan cara
      pendek dibandingkan pada saat air             digembalakan di padang penggembalaan dan sore
      dalam (musim hujan), peternak                 hari dinaikan ke atas kalang, sedangkan pada
      hanya sewaktu-waktu mengontrol                musim kemarau kalang tidak digunakan lagi
      keberadaan ternaknya (2 kali                  karena kerbau sepanjang hari hinggga malam
      seminggu).                                    berada di padang gembala, sebagian peternak
    • Terhadap kerbau bunting, melahir-             membuat kandang untuk beristirahat pada waktu
      kan dan menyusui hampir tidak                 malam hari. Kandang ini lebih ditujukan untuk
      ada campur tangan peternak.                   kerbau tetua (kepala jalan) agar kerbau yang lain
      Kerbau melahirkan dan menyusui                tidak berkeliaran terlalu jauh dari kelompoknya.
      anaknya di padangan. Peternak                     Penyapihan terhadap anak kerbau umumnya
      hanya mengawasi dan baru mela-                tidak dilakukan oleh peternak, penyapihan
      kukan bantuan apabila terjadi ke-             dilakukan secara alami, apabila induk bunting
      sulitan dalam proses melahirkan.              kembali maka induk akan melakukan penyapihan
    Pemeliharaan kebau jantan dilakukan             sendiri terhadap anaknya (1,5 tahun).
hingga kerbau berumur ± 4 tahun, setelah
itu kerbau jantan biasanya langsung dijual.         Pemasaran kerbau rawa
Kerbau jantan dianggap tidak menghasil-
kan kalau terus dipelihara dan kerbau                  Pemasaran kerbau rawa umumnya dilakukan
jantan yang sudah tua dianggap tidak                peternak dengan cara pembeli yang datang ke
mampu lagi untuk mengawini kerbau                   desa dan sebagian kecil peternak membawa
betina, sehingga lebih dititik beratkan




    184                                                                                          193
           Lokakarya Nasional Usaha Ternak Kerbau Mendukung Program Kecukupan Daging Sapi




ternaknya ke pedagang (hanya ternak yang                                  SARAN
sakit/keadaan terpaksa) ke luar desa.
Penjualan kerbau dilakukan dalam bentuk            1.     Perlu upaya pemerintah baik pusat maupun
kerbau hidup sewaktu-waktu apabila                        daerah untuk dapat meningkatkan dan
peternak memerlukan dana, tetapi umum-                    mengembangkan        ternak    kerbau di
nya dilakukan pada saat bulan Haji dan                    Kalimantan Selatan sesuai dengan potensi
bulan Maulid dengan pertimbangan pada                     wilayah.
bulan tersebut harga kerbau tinggi. Kerbau         2.     Pengaturan tataguna lahan dan budidaya
yang di jual terutama adalah kerbau jantan                hijauan pakan serta sistem penggembalaan
yang telah berumur > 2 tahun, karena kalau                penting dilakukan guna meningkatkan
dipelihara terus dirasakan rugi (tidak                    produktivitas ternak kerbau rawa.
menghasilkan anak). Harga seekor kerbau
ditentukan oleh peternak berdasar-kan
                                                                   DAFTAR PUSTAKA
kondisi kerbau, yaitu perkiraan daging
yang diperoleh dari seekor kerbau
                                                   BADAN LITBANG PERTANIAN. 2005. Panduan Teknis
(penaksiran) dan kesepakatan antara                    Participatory Rural Appraisal (PRA); Program
peternak dan pembeli.                                  Rintisan dan Akselerasi Pemasyarakatan Inovasi
    Berdasarkan hasil wawancara dengan                 Teknologi Pertanian.
responden diketahui bahwa harga jual anak
                                                   COCKRILL, W.R., 1974. The Buffaloes of Indonesia, In:
kerbau umur <1 tahun berkisar 1-1,5 juta
                                                       W. ROSS COCKRILL (Editor), The Husbandry and
rupiah, bakalan berumur >2 tahun                       Health of the Domestic Buffalo. F.A.O, Rome,
mencapai 3-4 juta rupiah dan induk/                    pp.276-312.
pejantan sekitar 6 juta rupiah. Namun
demikian penjualan anak dan kerbau betina          DINAS PETERNAKAN PROPINSI KALIMANTAN SELATAN.
                                                        2004. Laporan Tahunan. Dinas Peternakan
sangat jarang terjadi, peternak hanya
                                                        Kalimantan Selatan
menjual ternak kebau jantan bakalan saja,
karena dianggap hanya menjadi beban                FORD, B.D. 1992. Swamp Buffaloes in Large Scale
apabila terus dipelihara. Pembayaran ternak             Ranching System. Buffalo Production. School of
umumnya dilakukan secara tunai (kontan)                 Agriculture and Forestry, The University of
namun ada sebagian kecil yang hutang dulu               Melbourne, Parkville, Victoria 3052. Austalia.
dengan tenggang waktu pembayaran                   MUNIER, F.F. 2003. Karakteristik Sistem Pemeliharaan
berkisar 1 minggu sampai 1 bulan ber-                  Ternak Ruminansia Kecil di Lembah Palu
dasarkan kesepakatan (hanya pada pembeli               Sulawesi Tengah. Prosiding Seminar Nasional
tertentu).                                             Teknologi Peternakan dan Veteriner. Pusat
                                                       Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan
                                                       Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
      KESIMPULAN DAN SARAN                             Departemen Pertanian. Bogor.
                                                   ROBINSON, D.W. 1977. Preliminary Onservations on
1.    Tatalaksana pemeliharaan kerbau                   the Productivity of Working Buffalo in
      rawa di Kalimantan Selatan umumnya                Indonesia. Research Report N0.2. Pusat
      dilakukan dengan cara digembalakan                Penelitian Pengembangan Peternakan, Bogor.
      di padang penggembalaan sepanjang            ROHAENI, E.S., A. DARMAWAN, R. QOMARIAH, A.
      hari (ekstensif), dengan kisaran pemi-           HAMDAN dan A. SUBHAN, 2005. Inventarisasi dan
      likan 20-77 ekor/peternak dengan                 Karakterisasi Kerbau Rawa Sebagai Plasma
      populasi induk 42,3%.                            Nutfah di Kalimantan Selatan. Laporan Akhir.
2.    Peternak umumnya berpendidikan                   BPTP Kalimantan Selatan. Banjarbaru. Badan
      rendah dengan rataan umur 42 tahun.              Litbang Pertanian.
3.    Beternak kerbau merupakan sumber             SADERI, D. I., E. S. ROHAENI, A. DARMAWAN, A.
      pedapatan utama peternak disamping               SUBHAN dan A. RAFIEQ.         2004.    Profil
      usahataninya.                                    Pemeliharaan Kerbau Rawa di Kalimantan
                                                       Selatan. (Studi Kasus di Desa Bararawa dan
                                                       Desa Tampakang, Kecamatan Danau Panggang,
                                                       Kabupaten Hulu Sungai Utara). Laporan. BPTP
                                                       Kalsel.




194                                                                                                 177

								
To top