Psikopatologi dalam Psikologi Islam by meutya

VIEWS: 9,376 PAGES: 27

									PSIKOPATOLOGI DALAM PSIKOLOGI ISLAM

“Tugas ini Diajukan Untuk Memenuhi Nilai Tugas Pada Mata Kuliah Psikometri”

Disusun Oleh: KELOMPOK 5 ALFIA AISARA ANINGETI PRIHANDINI ETNANINGTIYAS FADILA RUFIANA FAKHRIY WIBOWO M. SYIFA’UL QULUB MUTIA KUSUMA DEWI 107070002335 107070002376 107070002388 107070002350 10707000 107070002312

KELAS V/A

FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 2009

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum wr. wb. Segala puji hanya bagi Allah SWT yang senantiasa mencurahkan rahmat dan berkah-Nya kepada kita semua dan atas karunia-Nya lah makalah ini dapat ditulis dan diselesaikan. Shalawat serta salam semoga terlimpah kepada junjunan kita Nabi Muhammad SAW, yang selalu memberikan inspirasi bagi kita untuk selalu beristiqomah di jalan-Nya. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Abdul Mujib, M. Ag selaku dosen mata kuliah Islam dan Psikologi yang telah memberi kesempatan kepada penulis untuk membahas makalah yang berjudul ”Psikopatologi Dalam Psikologi Islam ”, dan sebagai salah satu syarat nilai tugas. Kepada orang tua yang telah memberi dukungan material ataupun inmaterial, dan seluruh pihak yang telah membantu penulis demi terwujudnya makalah ini. Tak ada gading yang tak retak, demikian juga kami sebagai penulis yang hanya manusia biasa dapat menyadari akan hal itu. Oleh karena itu, kritik dan saran yang sangat membangun untuk makalah ini, sangat penulis harapkan. Selanjutnya penulis hanya berharap, makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembacanya. Wassalamu’alaikum wr. wb. Jakarta, 7 Desember 2009

Penyusun

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................

1

DAFTAR ISI ................................................................................................................

2

BAB 1

PENDAHULUAN .........................................................................................

3

BAB 2

PEMBAHASAN 2.1. Pengertian dan Asumsi Psikopatologi Islam ......................................... 4

2.2. Macam-macam Psikopatologi dalam Islam ..........................................

7

2.3. Sebab Gangguan Kejiwaan (mental) .....................................................

22

2.4. Akibat Buruk dari Gangguan Kejiwaan ................................................

23

DAFTAR PUSTAKA

2

BAB I PENDAHULUAN

Keberadaan jiwa seseorang dapat diketahui dari sikap, perilaku, dan penampilannya, dimana dari fenomena tersebut seseorang dapat dinilai atau ditafsirkan apakah kondisi kejiwaannya berada dalam keadaan baik dan sehat atau buruk. Pola kehidupan yang selalu berubah-ubah setiap zaman, mengakibatkan situasi psikologis manusia berkembang ke arah yang semakin tidak menentu. Hal ini juga didukung oleh faktor-faktor sosial lainnya yang mendesak sehingga menyebabkan kepribadian seseorang menjadi tidak tertuntun sebagaimana mestinya. Disadari atau tidak, hal-hal tersebut juga telah merasuki kejiwaan umat Islam. Mereka seringkali merasakan kegelisahan dan kekhawatiran yang mendalam tanpa mengetahui sumbernya berasal dari mana. Bahkan dengan sengaja, banyak dari mereka yang meminta bantuan ke paranormal, psikiater, konselor atau melalui cara-cara baru yang diyakini keampuhannya, namun ternyata tidak membawa hasil yang diharapkan. Dengan mengetahui resep-resep agama yang mengatur perilaku psikologis, diharapkan kita dapat mengetahui apa yang semestinya harus kita perbuat di saat kondisi kejiwaan kita sedang mengalami perubahan yang tidak pasti.

3

BAB II PEMBAHASAN

2.1

Pengertian dan Asumsi Psikopatologi Islam
Patologi adalah cabang ilmu pengobatan yang berkaitan dengan sebab-sebab

penyakit dan prosesnya, serta pengaruhnya terhadap struktur dan fungsi tubuh manusia. Semua dokter terlibat secara luas dengan ilmu patologi, tetapi patologis secara khusus mengkaji proses penyakit dengan pengujian terhadap jaringan-jaringan dan cairan-cairan tubuh yang ditemukan selama pembedahan atau autopsi. Dua cabang besar patologi adalah patologi jaringan atau patologi anatomis dan patologi klinis. Patologi anatomi didasarkan pada pengujian organ-organ atau jaringanjaringan secara langsung untuk menentukan sifat, tingkat, dan ramalan terhadap penyakit pasien, seperti dalam biopsi atau untuk menjelaskan sebab-sebab kematian pasien dalam suatu autopsi. Patologi klinis melibatkan prosedur-prosedur laboratorium untuk menentukan pemusatan berbagai zat biokimia di dalam cairan tubuh, kumpulan sel-sel dan bentuk-bentuknya di dalam darah, tulang sum-sum, dan jaringan-jaringan lain, fungsi-fungsi organ seperti hati, ginjal, status kekebalan sistem, dan identifikasi organisma-organisma yang menular. Psikopatologi, atau sakit mental, adalah sakit yang tampak dalam bentuk perilaku dan fungsi kejiwaan yang tidak stabil. Istilah psikopatologi ini mengacu pada sebuah sindrom yang luas, yang meliputi ketidaknormalan kondisi indera, kognisi, dan emosi. Asumsi yang berlaku pada bidang ini adalah bahwa sindrom psikopatologis atau sejumlah simptom tidak semata-mata berupa respons terhadap gejala tekanan kejiwaan yang khusus, seperti kematian orang yang dicintai, tetapi lebih berupa manifestasi psikologis atau disfungsi biologis seseorang. Menurut Chaplin, patologi adalah pengetahuan tentang penyakit atau gangguan. Atau suatu kondisi penyakit atau gangguan. Sedang psikopatologi adalah cabang dari

4

psikologi yang berkepentingan untuk menyelidiki penyakit atau gangguan mental dan gejala-gejala lainnya. Studi tentang psikopatologi paling tidak dapat bertolak pada tiga asumsi, yang masing-masing asumsi memiliki implikasi psikologis yang berbeda-beda. Pertama, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sakit, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sehat; Kedua, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan netral. Sakit dan sehatnya tergantung pada proses perkembangan kehidupannya; Ketiga, pada dasarnya jiwa manusia itu dilahirkan dalam keadaan sehat, kecuali dalam kondisi tertentu ia dinyatakan sakit. Asumsi pertama dikembangkan aliran psikoanalisis Sigmund Freud. Menurut Freud, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi jahat, buruk, bersifat negatif atau merusak. Agar ia berkembang dengan positif, diperlukan cara-cara pendamping yang bersifat impersonal dan direktif atau mengarahkan. Kesimpulan demikian, didasarkan atas penyelidikan Freud terhadap beberapa pasien yang datang ke laboratoriumnya. Dari sini tampak bahwa teori Psikoanalisa Freud sebenarnya hanya cocok untuk orang yang sakit dan bukan dikonsumsikan untuk orang yang sehat. Asumsi ini selain bersifat psimistik juga menafikan eksistensi manusia sebenarnya, sehingga pada gilirannya mengakibatkan dehumanisasi dalam psikologi. Sedangkan asumsi kedua dikembangkan aliran Psikobehavioristik radikal B.F. Skinner. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi netral, seperti tabularasa, hanya lingkungan yang menentukan arah perkembangan arah jiwa tersebut. Lingkungan yang baik akan membentuk suasana psikologis yang baik dan harmonis, sebaliknya lingkungan yang buruk akan berimplikasi pada gejala psikologis yang buruk pula. Asumsi ini selain bersifat deterministik dan mekanistik, juga memperlakukan manusia seperti makhluk yang tidak memiliki jiwa yang unik. Jiwa manusia dianggap seperti jiwa hewan yang tidak memiliki kecenderungan apa-apa dan dapat diatur seperti mesin atau robot. Sementara asumsi ketiga dikembangkan aliran Psikohumanistik Abraham Maslow dan Carl Rogers. Menurutnya, jiwa manusia dilahirkan dalam kondisi sadar, bebas, bertanggung jawab yang dibimbing oleh daya-daya positif yang berasal dari dalam dirinya sendiri ke arah pemekaran seluruh potensi manusiawi secara penuh. Agar

5

berkembang ke arah yang positif, manusia tidak memerlukan pengarahan melainkan membutuhkan suasana dan pendamping personal yang serba penuh penerimaan dan penghargaan demi mekarnya potensi positif yang melekat dalam dirinya. Asumsi ketiga di atas menekankan kodrat manusia. Bukan abnormalitasnya. Normalitas manusia merupakan natur yang alami, fitri, dan dari semula dimiliki manusia, sedang abnormalitas merupakan natur yang baru datang setelah terjadi anomali pada diri manusia. Menurut Atkinson, terdapat enam kriteria untuk menetukan kesehatan mental seseorang, yaitu: pertama, adanya persepsi yang realistik dan efisien dalam mereaksi atau mengevaluasi apa yang terjadi di dunia sekitarnya; kedua, mengenali diri sendiri, baik berkaitan dengan kesadaran atau motifnya; ketiga, kemampuan untuk mengendalikan perilaku secara sadar, seperti menahan perilaku impulsif dan agrsif; keempat, memiliki harga diri dan dirinya dapat diterima oleh lingkungan sekitarnya; kelima, kemapuan untuk membentuk ikatan kasih, seperti tidak menurut berkelebihan pada orang lain dan dapat memuaskan orang lain bukan hanya memuaskan diri sendiri; keenam, ada jiwa yang antusias yang mendorong seseorang untuk mencapai produktivitas. Meskipun asumsi ini dikenal sebagai asumsi yang optimistik dan mengakui kekuatan jiwa manusia, namun sifatnya antroposentris yang hanya menggantungkan kekuatan manusia, tanpa mengaitkan teorinya pada kehendak mutlak Tuhan. Dalam Islam, meslipun menggunakan kerangka asumsi yang ketiga dalam membangun teoriteori psikopatologinya, namun ia tidak melepaskan diri dari paradigma teosentris. Sebagai Zat yang Suci dan Baik, Tuhan tidak memberikan jiwa manusia kecuali jiwa yang memiliki kecenderungan sehat, baik, dan suci. Kesehatan jiwa manusia tidak sekedar alami dan fitri, melainkan telah diatur sedemikian rupa oleh Sang Khalik. Dari kerangka ini, kriteria neurosis dan psychosis dalam psikopatologi Islam bukan hanya disebabkan oleh gangguan syarat atau gangguan kejiwaan alamiah, melainkan juga penyelewengan terhadap aturan-aturan Tuhan. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila teori psikopatologi Islam lebih banyak memfokuskan diri pada perilaku spiritual dan religius.

6

2.2

Macam-macam Psikopatologi dalam Islam
Psikopatologi dalam Islam dapat dibagi dalam dua kategori. Pertama, bersifat

duniawi. Dan macam-macam psikopatologi dalam kategori ini berupa gejala-gejala atau penyakit kejiwaan yang telah dirumuskan dalam psikologi kontemporer. Kedua, bersifat ukhrawi, berupa penyakit akibat penyimpangan terhadap norma-norma atau nilai-nilai moral, spiritual, dan agama. Pada model yang pertama, memiliki banyak kategori, karena disebabkan oleh perspektif masing-masing psikolog yang berbeda-beda. Ada empat perspektif dalam memperhatikan psikopatologi, antara lain : 1. Perspektif Biologis Memandang bahwa gangguan fisik seperti gangguan otak dan gangguan sistem saraf otonom yang menyebabkan gangguan mental seseorang. 2. Perspektif Psikoanalitik Memandang bahwa gangguan mental disebabkan oleh konflik bawah sadar yang biasanya berawal dari masa kanak-kanak awal dan pemakaian mekanisme pertahanan untuk mengatasi kecemasan yang ditimbulkan oleh impuls dan emosi yang direpresi. 3. Perspektif Perilaku Memandang gangguan mental dari titik pandang teori belajar dan berpendapat bahwa perilaku abnormal adalah cara yang dipelajari untuk melawan stress. 4. Perspektif Kognitif Memandang bahwa gangguan mental berakar dari gangguan proses kognitif dan dapat dihilangkan dengan mengubah kondisi yang salah.

Berdasarkan hasil dari American Psychiatric Association (1994), menyebutkan bahwa ada 15 jenis gangguan mental, yaitu : 1. Gangguan yang biasanya didiagnosis pertama kali pada masa bayi, masa kanakkanak, dan masa remaja. Seperti, gangguan belajar, gangguan keterampilan motorik, komunikasi, dll.

7

2. Delirium, demensia, gangguan amnestik, dan gangguan kognitif lainnya. Gangguan ini disebabkan karena fungsi otak yang terganggu, baik secara permanen ataupun sementara. 3. Gangguan yang berhubungan dengan zat. Disebabkan karena pemakaian alkohol yang berlebihan, cocaine, dan racun yang mengubah perilaku. 4. Skizofrenia dan gangguan psikotik lainnya. Ditandai oleh hilangnya kontak dengan realita, gangguan jelas pada proses berpikir dan persepsi. 5. Gangguan mood. Misalnya, terjadinya rasa gembira secara abnormal; adanya gangguan bipolar, yaitu individu merasa berganti-ganti antara periode depresi dan elasi atau mania; depresi, yaitu respons normal terhadap banyaknya stress kehidupan. 6. Gangguan kecemasan. Mencangkup gangguan dimana kecemasan menjadi sumber utama; fobia, yaitu ketakutan yang kuat dan irrasional yang ditimbulkan oleh suatu situasi khusus; gangguan obsesif kompulsif, yaitu mencoba menahan diri dan melakukan ritual tertentu; gangguan stress pascatraumatik 7. Gangguan somatoform, yaitu gejala gangguan pada fisik, tetapi tidak ditemukan penyebab organik dan faktor psikis yang berperan besar. 8. Gangguan disosiatif, yaitu perubahan sementara fungsi kesadaran, ingatan, atau identitas karena masalah emosional. 9. Gangguan seksual dan identitas jenis. Meliputi masalah gangguan gairah seksual, gangguan orgasmik, dll. 10. Gangguan makan, baik yang berkaitan dengan anoreksia nervosa dan bulimia nervosa. 11. Gangguan tidur, baik yang berkaitan dengan insomnia kronis, hipersomnia, apnea tidur, tidur berjalan, dan narkolepsi. 12. Gangguan pengendalian impuls. Mencangkup gangguan eksplosif intermiten, kleptomania, berjudi patologis, dan piromania. 13. Gangguan kepribadian. Pola perilaku maladaptif yang berlangsung lama, seperti perilaku antisosial. 14. Gangguan buatan, yaitu gejala fisik atau psikis yang ditimbulkan secara buatan.

8

15. Kondisi lain yang mungkin menjadi pusat perhatian klinis. Seperti masalah pekerjaan, masalah perkawinan, dll.

Dalam kategori diagnostik, psikopatologi dibagi menjadi dua bagian, yaitu neurosis dan psikosis. Salah satu perspektif spiritual dan religius adalah sebagaimana yang ditawarkan oleh Al-Ghazali. Psikopatologi yang merusak sistem kehidupan spiritualitas dan keagamaan seseorang oleh Al-Ghazali disebut dengan al-akhlaq alkhabisah. Salah satu model psikopatologi dalam Islam adalah semua perilaku batiniah yang tercela, yang tumbuh akibat menyimpang terhadap kode etik pergaulan, baik secara vertikal maupun horizontal. Akhlak tercela dianggap sebagai psikopatologi, sebab hal tersebut dapat mengakibatkan dosa. Dosa adalah kondisi emosi seseorang yang dirasa tidak tenang setelah ia melakukan suatu perbuatan dan merasa tidak enak jika perbuatannya itu diketahui oleh orang lain. Dan emosi negatif ini apabila terus menerus dialami oleh individu maka akan mendatangkan psikopatologi. Sabda Nabi SAW : ”Dosa adalah apa yang dapat membimbangkan hatimu dan engkau merasa benci apabila perbuatan itu diketahui oleh orang lain.” (HR. Muslim dan Ahmad dari Al-Nawas Ibn Sim’an Al-Anshari) Al-Gazali menyebutkan ada delapan kategori yang termasuk perilaku merusak yang mengakibatkan psikopatologi, yaitu : 1. Bahaya syahwat dan kelamin 2. Bahaya mulut 3. Bahaya marah, iri, dan dengki 4. Bahaya cinta dunia 5. Bahaya cinta harta dan pelit 6. Bahaya angkuh dan pamer 7. Bahaya sombong dan membanggakan diri 8. Bahaya menipu

Berbagai bentuk psikopatologi Islam yang telah dijabarkan di atas seringkali dilupakan oleh para psikiater atau ahli jiwa kontemporer, Atkinson mengemukakan lima kondisi yang kurang diperhatikan oleh para psikiater dalam upaya psikoterapinya, yaitu

9

hubungan interpersonal yang hangat dan saling percaya, ketentraman hati dan dukungan, penguatan respon adaptif, dan pemahaman. Bentuk-bentuk psikopatologi, antara lain : Pertama, menyekutukan Tuhan (syirik). Secara harfiah syirik diartikan sebagai menyekutukan Allah, sedangkan menurut psikologis adalah kepercayaan, sikap dan perilaku mendua atau lebih terhadap masalah-masalah yang sangat fundamental dalam kehidupan manusia. Penderita biasanya meninggalkan kesenangan abadi untuk mengejar kesenangan sesaat. Hampir semua bentuk psikopatologis dalam perspektif Islam bermuara pada syirik, karena menjadi sumber penganiayaan diri yang berat (Q. S. Luqman :13), sumber rasa takut (Q. S. Ali-Imran : 151), sumber dari segala kesesatan dan dosa yang tidak terampuni. Kedua, pengingkaran (kufur). Kufur adalah sikap dan perilaku yang tertutup dan mengingkari terhadap sesuatu yang sebenarnya. Kufur tergolong psikopatologi karena pelakunya tidak tahu diri, tidak sadar diri, dan tidak tahu berterima kasih. Adapun jenisjenis kufur yang dianggap sebagai psikopatologis adalah : (1) Kufur bi Allah, yaitu mengingkari akan ketuhanan Allah disebabkan imannya kurang atau lemah. (2) Kufur bi risalah Muhammad, yaitu mengingkari kerasulan Nabi Muhammad. (3) Kufur bi ni’ mat, yaitu mengingkari nikmat Allah yang diberikan kepada dirinya. Ketiga, bermuka dua (nifaq), yaitu menampakkan suatu yang dipandang baik oleh orang lain, padahal di dalam hatinya tersembunyi kebusukan, keburukan, dan kebobrokan. Nifaq termasuk kedalam psikopatologi karena tergolong karakter orang yang munafik. Keempat, penyakit riya’, yaitu melakukan suatu perbuatan karena pamrih, pamer, atau cari muka pada orang lain. Riya’ termasuk psikopatologis karena pelakunya berbuat sesuatu hanya untuk mencari muka, tanpa memperhitungkan produktivitas dan kualitas amaliyahnya.

      

    



10

      
Artinya : Dan (juga) orang-orang yang menafkahkan harta-harta mereka karena riya[297] kepada manusia, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa yang mengambil syaitan itu menjadi temannya, maka syaitan itu adalah teman yang seburuk-buruknya. (An-Nisa : 38) Para Ulama secara aklamasi menegaskan bahwa amalan yang dilakukan karena riya semata, akan mendapatkan hukuman, bahkan riya itu dapat menjadi penyebab datangnya kemurkaan dan siksaan. Apabila dilihat dari sudut wajah penampilan, menurut Imam Ghazali RA riya itu dapat dibagi menjadi lima bagian, yaitu : 1. Riya dalam masalah agama dengan penampilan jasmani, seperti memperlihatkan kurusnya badan dan pucatnya muka (agar dikira orang, ia banyak berjaga malam dan melakukan shalat tahajud). 2. Riya dalam penampilan sosok tubuh dan pakaian, seperti membiarkan bekasbekas sujud di dahi, supaya dikatakan rajin melakukan shalat, atau dengan memakai pakaian yang biasa dipakai oleh orang-orang shalih agar ia dikatakan termasuk orang shalih. 3. Riya dalam perkataan, seperti selalu berbicara masalah keagamaan supaya dikatakan orang bahwa ia ahli agama atau pencinta agama. 4. Riya dalam perbuatan, seperti sengaja memperbanyak shalat sunnat di hadapan orang supaya dikatakan orang shalih. 5. Riya dalam persahabatan, seperti sering memberati diri dengan mengiringi ulama supaya dikatakan orang bahwa ia termasuk orang alim. Dalam ajaran Islam, riya adalah virus batin yang sangat ganas dan dapat mengahancurkan cahaya amal ibadah maupun amal mu’amalah, bahkan Rasulullah SAW mengatakan riya sebagai suatu sikap yang mengarah kepada “Syirik Kecil”.

11

Kelima, marah (gadab). Marah menunjukkan tingkat kelabilan kejiwaan seseorang, sebab ia tidak mampu mengendalikan amarahnya. Menurut Al-Ghazali, penyakit ghadab disebabkan oleh dominasi unsur api atau panas, dan unsur tersebut mengalahkan atau melumpuhkan peran unsur kelembaban atau basah dalam diri manusia. Sabda Nabi SAW. riwayat Abu Dawud : ”Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan itu diciptakan dari api. Sesungguhnya api itu dapat dipadamkan dengan air, maka barangsiapa yang marah hendaklah berwudhu.” Wudhu dijadikan sebagai terapi marah karena air yang dibasuhkan pada bagian-bagian wudhu dapat mendinginkan dan menghilangkan ketegangan urat syaraf, wudhu juga dapat mengingatkan psikis manusia agar berzikir kepada Allah sebab zikir dapat menyembuhkan penyakit batin. Selain itu, membaca shalawat Nabi juga dapat meredakan kemarahan. Eksistensi kemarahan menurut Imam Al-Ghazali RA. berada pada dua tempat, yaitu : Kemarahan yang ada di dalam diri manusia untuk menjaganya dari kerusakan dan untuk menolak kehancuran dan kemarahan dari luar diri manusia, yang disebabkan karena terbenturnya manusia dengan kendala-kendala atau marabahaya. Untuk keperluan ini, yakni untuk menahan kendala atau marabahaya diperlukan satu kekuatan dan pengayoman dirinya untuk menolak marabahaya dan terjadilah gejolak api di dalam dirinya sebagaimana menyalanya api di dalam tungku. Sikap atau sifat mudah marah adalah suatu hal yang sangat membahayakan bagi perkembangan jiwa bahkan dapat memberikan celaka pada orang lain dan lingkungannya. Oleh karena itu ajaran islam membimbing individu dan masyarakat agar menjauhkan diri dari sifat pemarah dengan jalan melakukan upaya aktif mendekatkan diri kepada Allah SWT.







     

     

12

Artinya : (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. (Ali Imran : 134) Melenyapkan sikap atau sifat marah itu bukanlah suatu yang mudah, akan tetapi sangat diperlukan adanya pelatihan yang serius dan di bawah bimbingan seorang atau beberapa orang yang benar-benar ahli menyembuhkan penyakit-penyakit batin, mengusir bisikan-bisiskan dan tipu daya syaitan dan iblis. Karena kemarahan itu pada hakikatnya adalah hadirnya kedua makhluk jahat itu kedalam jiwa manusia, dengan tujuan ingin menghancurkan manusia dari dalam dirinya. Keenam, lupa (gaflah atau nisyan), yaitu sengaja menghilangkan atau tidak memperhatikan (inattention) sesuatu yang seharusnya menjadi bagian yang tak terpisahkan dari esensi kehidupannya. Secara fitrah manusia berpeluang untuk lupa dan kelupaan fitrah ini tidak termasuk dalam kategori psikopatologi Islami, sekalipun kelupaan itu masuk dalam kategori anmnestik, bahkan kelupaan ini dapat membebaskan seseorang dari tuntutan dan kewajiban sampai ia sadar kembali. Kelupaan yang menjadi bahasan psikopatologi Islami adalah kelupaan yang disengaja terhadap sesuatu keyakinan, nilai-nilai hidup yang mendasar dan pandangan hidupnya. Seseorang yang melupakan keyakinan, nilai-nilai hidup dan pandangan hidupnya maka segala tindakannya menjadi tidak teratur, merugikan, dan dapat menjerumuskan ke dalam kehancuran. Dalam Al-Qur’an, kelupaan yang termasuk psikopatologis adalah (1) lupa untuk mengingat Allah, karena dirinya telah dikuasai setan (QS. al-Mujadalah:16); (2) mendustakan ayat-ayat Allah setelah ia beriman, sehingga dirinya menjadi lupa darinya (QS. al-A’raf:146, Thaha:126); (3) lupa karena kemunafikan, sehingga mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah pun melupakan mereka (QS. al-Taubah:67); (4) lupa karena ia mengikuti hawa nafsunya, sehingga ia lupa kepada Allah (QS. al-Kahfi:28). Ayat tersebut mengingatkan bahwa salah satu penyebab kesempitan batin seseorang adalah lupa terhadap ingat (zikir) kepada Allah, baik zikir terhadap hukum, aturan, atau asma’ dan sifat-Nya. Mengingat Allah, dalam arti yang luas, dapat

13

memberikan arah kehidupan batin seseorang, sehingga dunia ini tidak terasa sempit baginya. Seseorang yang memiliki masalah itu dengan minum alkohol atau menghisap heroin atau zat adiktif lainnya, boleh jadi dapat menghilangkan masalah tersebut untuk sementara waktu, tetapi nantinya akan mendatangkan masalah baru yang lebih berat. Demikian juga, seseorang yang melakukan suatu kesalahan dan ia berusaha lepas tangan dengan cara bunuh diri, maka hal itu bukan menyelesaikan masalah, justru hal itu mendatangkan kesempatan yang luar biasa di kehidupan berikutnya (kehidupan di alam barzah dan alam akhirat). Satu-satunya cara yang efektif dalam menyelesaikan masalah adalah dengan mengingat Allah SWT. dalam arti yang luas. Ketujuh, mengikuti bisikan dari setan (waswas). Waswas merupakan bisikan halus dari setan yang mengajak seseorang untuk berbuat maksiat dan dosa yang pada akhirnya dapat merusak citra diri (self-image) dan harga diri (self-esteem)-nya. Mengikuti waswas sama artinya dengan melanggar fitrah asli manusia, sebab waswas berorientasi pada fitrah asli setan. Setan adalah makhluk yang sesat, berusaha menyesatkan manusia, dan selalu melanggar perintah Allah SWT. Manusia yang mengikuti bisikan setan boleh jadi dapat menggairahkan hidup untuk sementara waktu, tetapi akan mengalami kehancuran di masa yang akan datang. Karena itu, mengikuti bisikan setan tergolong psikopatologi bagi manusia. Menurut Al-Samaraqandi dalam Tanbih al-Ghafilin yang dikutip oleh AlSyarqawi mengemukakan bahwa waswas setan merasuki jiwa manusia melalui sepuluh pintu, yaitu : 1. Buruk sangka (su’ u al-zhan) kepada rahmat dan nikmat Allah maupun kebaikan manusia. 2. Kegemerlapan dunia dan banyak obsesi terhadapnya, sehingga ia menghalalkan semua cara. 3. Menginginkan kesejahteraan dan kekayaan tanpa ditopang oleh usaha dan untuk mendapatkannya ia menempuh jalan kiri. 4. Membanggakan diri (al-‘ujub) dan penipuan (al-ghurur). 5. Mengolok-olok dan merendahkan orang lain. 6. Melalui iri dan dengki. 7. Melalui riya’, karena ia merupakan syirik yang tersembunyi.

14

8. Melalui kikir. 9. Melalui kesombongan. 10. Melalui ketamakan atau rakus. Dalam Al-Qur’an, waswas setan terhadap manusia seringkali diwujudkan dalam bentuk permusuhan (al-‘adawah) dan kebencian (al-baghdha’ a) yang distimuli melalui khamer dan judi (Q. S. Al-Maidah : 91). Khamer secara luas mencakup racun psikoaktif dan zat adiktif yang mengakibatkan ketergantungan fisik. Khamer untuk sementara waktu dapat meningkatkan energi, mempermudah pergaulan, menghilangkan ketegangan, melepaskan inhibisi, dan biasanya menambah kegembiraan sementara. Namun demikian, untuk jangka waktu yang panjang akan mengakibatkan depresan sistem saraf pusat, sehingga menimbulkan hilangnya kecerdasan, melemahnya pertimbangan emosi sehingga mengakibatkan permusuhan , percekcokan, pembunuhan, dan pemerkosaan. Kedelapan, putus asa atau putus harapan (al-ya’ is wa qunut). Putus asa berarti hilangnya gairah, semangat (morale), sinergi, dan motivasi hidup setelah seseorang tidak berhasil menggapai sesuatu yang diinginkan. Akibat ketidakberhasilan maka seseorang tidak mau berusaha, apalagi mengulangipada pekerjaan yang sama, bahkan seringkali keputusasaan mengakibatkan bunuh diri. Putus asa dianggap sebagai patologis karena ia menafikan potensi hakiki manusiawi, tidak mempercayai takdir dan sunnah Allah, dan merasa putus asa terhadap rahmat dan karunia-Nya. Menghindari putus asa tidak berarti bersikap tamanni (mengkhayal dan berangan-angan mendapatkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi). Menghindari putus asa berarti menumbuhkan moril hidup, dalam arti, mengkondisikan mental dengan keteguhan hati (courage), semangat (zeal), kepercayaan (confidence), disiplin (discipline), kegairahan (enthusiasm), dan hasrat (willingness) untuk meraih sesuatu yang diinginkan. Di dalam Al-Qur’an, karakter orang-orang yang mudah putus asa adalah : (1) apabila diberikan kesenangan niscaya ia berpaling dan bersikap sombong kepada Allah SWT., tetapi ditimpa kesusahan niscaya mudah berputus asa (Q. S. Al-Isra’: 83); (2) karena kesesatannya, ia mudah berputus asa dari rahmat Tuhannya dan tidak mau berterima kasih pada-Nya (Q. S. Al-Hajr : 56, Hud : 9); (3) senantiasa memohon kebaikan kepada Allah, jika mereka ditimpa malapetaka dia

15

menjadi putus asa lagi putus harapan, tetapi diberi rahmat sesudah ditimpa kesusahan (Q. S. Fushshilat : 49-50). Kesembilan, rakus (thama’). Rakus adalah penyakit jiwa yang selalu merasa kurang terhadap apa yang dimiliki, meskipun apa yang dimiliki itu telah memenuhi standar kehidupan. Penyakit rakus bukan hanya berkaitan dengan harta benda, tetapi juga berkaitan dengan wanita/pria, tahta atau kekuasaan, maupun kesenangan hidup lainnya. Orang yang rakus dikatakan sebagai orang berpenyakit, sebab ia tidak dapat menguasai diri, bahkan tidak memiliki kebebasan hidup. Manusia seharusnya mengendalikan harta benda, namun karena kerakusannya, justru ia terbelenggu dan diperbudak oleh harta bendanya sendiri. Nabi SAW. telah memberikan ilustrasi mengenai orang-orang yang tamak dalam suatu sabdanya: “Jika anak Adam itu memiliki lembah yang memuat emas maka ia lebih suka untuk memiliki dua lembah lagi, dan mulutnya tidak akan penuh kecuali dengan tanah (ia tidak henti-hentinya memiliki keinginan itu kecuali ia telah mati), dan Allah menerima taubat bagi orang yang bertaubat” (HR. Al-Bukhari dari Anas bin Malik). Hadits tersebut memberikan sinyal bahwa motivasi kehidupan orangorang tamak adalah motivasi temporal dan duniawi, seperti menumpuk kekayaan dan harta benda. Ideologi hidupnya hanyalah materialisme yang berprinsip pada time is money (waktu adalah uang). Ketamakan seringkali mendatangkan permusuhan, meskipun terhadap saudara kandungnya sendiri. Kesepuluh, tertipu (ghurur). Ghurur adalah percaya atau meyakini sesuatu yang tidak hakiki dan tidak substantif. Wujud lahiriahnya boleh jadi sangat nyata, bahkan untuk sementara waktu dapat menyenangkan jiwa seseorang, namun secara hakiki wujud tersebut hanya fatamorgana belaka yang tidak realistik dan irrasional. Ghurur memiliki tingkat patologis lebih tinggi daripada sekedar ilusi, delusi, ataupun halusinasi, sebab ghurur berdimensi spiritual dan transendental yang jangkauannya lebih luas. Penyakit ghurur berjangkit pada jiwa manusia disebabkan oleh (1) janji-janji setan, sehingga dapat membangkitkan angan-angan kosong manusia, padahal setan itu tidak menjanjikan kepada manusia selain dari tipuan belaka (Q. S. Al-Nisa’: 120; Al-Isra’: 64); (2) keingkaran kepada pertolongan Allah Yang Maha Pemurah (Q. S. Al-Mulk : 20); (3) tipu daya kesenangan dunia yang sementara (Q. S. Ali-Imran : 185), padahal kesenangan yang

16

hakiki dan abadi adalah kesenangan dari Allah di akhirat kelak (Q. S. Al-Qashash : 60, Al-Dhuha : 4). Kesebelas, membanggakan diri (’ujub) dan sombong (takabbur).





  



  

  

     
Artinya : Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, Padahal ia adalah penantang yang paling keras. (Al-Baqarah : 204)

      

       



  

Artinya : Maka janganlah harta benda dan anak-anak mereka menarik hatimu. Sesungguhnya Allah menghendaki dengan (memberi) harta benda dan anak-anak itu untuk menyiksa mereka dalam kehidupan di dunia dan kelak akan melayang nyawa mereka, sedang mereka dalam keadaan kafir. (At-Taubah : 55) Ujub dan takabbur merupakan sikap congkak, sombong, dan menganggap besar diri sendiri tanpa dibarengi kemampuan yang memadai, sehingga merasa dirinya besar, padahal keadaan sebenarnya kecil. Ujub merupakan cela dan perasaan yang sangat buruk. Hati manusia yang ujub, disaat ia merasa ujub ia menjadi buta, sehingga ia melihat dirinya sebagai seorang yang memperoleh keselamatan padahal ia ada dalam kondisi

17

celaka; ia melihat dalam dirinya sebagai orang benar, padahal ia adalah orang yang salah. Orang yang ujub selalu meremehkan atas perbuatan dosa yang dilakukan dan selalu pula melupakan dosa yang telah dilakukannya, bahkan hatinya buta sehingga melihat perbuatan dosa yang dilakukannya sebagai perbuatan bukan dosa dan bahkan selalu mengecilkan perasaan takutnya kepada Allah SWT dan memperbesar rasa kesombngan kepada-Nya. Sombong dianggap sebagai penyakit, sebab pelakunya tidak menyadari akan kekurangannya dan memaksa diri untuk memasang harga diri (self-esteem) yang tinggi. Kehidupan orang yang sombong tidak akan tenang, karena ia tidak rela jika orang lain memiliki kelebihan, sedangkan ia sendiri tidak berusaha untuk meningkatkan kualitas dirinya. Iblis-lah yang pertama kali memunculkan penyakit batin berupa sombong. Iblis menduga bahwa substansi dirinya lebih baik daripada substansi manusia. Menurut iblis, api yang menjadi bahan dasar penciptaannya lebih baik naturnya daripada tanah yang menjadi bahan dasar penciptaan manusia. Karena kesombongan, iblis memandang kualitas manusia dengan sebelah mata. Firman Allah SWT dalam surat Al-Najm ayat 32 telah menunjukkan bahwa hanya Allah SWT yang patut membanggakan diri, karena hanya Dia Yang Maha Segala-galanya. Sedangkan manusia dengan segala relativitasnya tidak memiliki otoritas untuk sombong, karena ia tidak tahu pasti apakah prestasi ketakwaannya patut disombongkan. Terlebih lagi jika yang disombongkan itu selain ketakwaan, maka semakin tidak pantas lagi disombongkan. Firman Allah SWT :

                 
Artinya : Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya

18

Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (Luqman : 18) Keduabelas, iri dengki (hasud dan hiqid). Hasud adalah iri hati terhadap nikmat dan karunia yang dimiliki oleh orang lain. Ia tidak rela dengan kesejahteraan dan kesenangan orang lain, bahkan ia berobsesi agar karunia tersebut berpindah pada dirinya. Sedang hiqid adalah kedengkian pada orang lain dan berusaha agar orang yang dibenci tersebut tidak mendapatkan kesempatan dalam meraih kesejahteraan dan kenikmatan. Berdasarkan pengertian tersebut, hasud memiliki tingkat patologis lebih berat daripada hiqid. Meskipun keduanya menekankan pada iri hati atau dengki, namun berkonotasi pada aspek yang berbeda. Hiqid lebih terfokus pada upaya menghalangi dan menutup kesempatan orang lain dalam meraih kesejahteraan dan kenikmatan, sedangkan hasud menekankan pada angan-angan agar kenikmatan yang dirasakan oleh orang lain tersebut berpindah pada dirinya. Iri hati tergolong penyakit mental yang berat, sebab pelakunya senantiasa menanggung beban psikologis yang kompleks, seperti kebencian, amarah, buruk sangka, pelit, dan menghinakan orang lain. Dampak iri hati yang lebih lanjut dapat menyebabkan sulit mengaktualisasikan potensi positifnya, bahkan ia akan terisolir dari lingkungannya. Iri hati yang diperbolehkan dalam hadits Nabi SAW., yaitu : (1) iri hati terhadap orang yang diberi rizki oleh Allah SWT, kemudian ia mempergunakannya di jalan yang benar; (2) iri hati terhadap orang yang dianugerahi ilmu pengetahuan kemudian ia dapat mengamalkan apa yang diketahui dan mengajarkan pada orang lain. Firman Allah SWT. :

                             

19









 

Artinya : Sebahagian besar ahli kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka maafkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al-Baqarah : 109) Ketigabelas, menceritakan keburukan orang lain (al-ghibah) dan mengadu domba (al-namimah). Ghibah dianggap sebagai penyakit, sebab penderitanya tidak mampu mengadakan penyesuaian diri dengan lingkungan sosialnya. Ia sibuk menyebut-nyebut keburukan orang lain, padahal dirinya sendiri memiliki keburukan tidak jauh berbeda dengannya, bahkan mungkin lebih buruk lagi. Penyakit ghibah yang dibiarkan tanpa upaya mencari terapinya maka berkelanjutan menjadi penyakit namimah. Keempatbelas, cinta dunia (hubb al-dunya), pelit (al-bakhil) dan berlebih-lebihan atau menghambur-hamburkan harta benda (al-israf atau al-tadbir). Cinta dunia maksudnya adalah menjadikan dunia dan isinya sebagai tujuan akhir hidup dan bukan sebagai sarana hidup. Cinta semacam itu tergolong psikopatologi, sebab penderitanya tidak sadar akan tujuan hidup yang hakiki. Ciri-ciri penyakit ini adalah penderitanya memiliki sikap dan perilaku materialisme, hedonisme, dan egoisme. Di antara akibat dari cinta dunia adalah bakhil (pelit). Artinya, menahan diri dengan tidak mengeluarkan sebagian hartanya untuk keperluan kebaikan (baik untuk diri sendiri, keluarga, orang lain, atau agama) atau untuk membersihkan hartanya (zakat, infaq, atau sedekah). Pelit tergolong psikopatologi, sebab penderitanya tidak memiliki kesadaran pribadi dan kepekaan sosial. Penderita penyakit bakhil seringkali mengira bahwa dengan menahan hartanya itu dapat menyenangkan dan menenteramkan hidupnya, tetapi sesungguhnya tidak demikian, sebab nantinya harta itu akan mensengsarakan dan meresahkan hidupnya (Q. S. Ali-Imran : 180). Kelimabelas, memiliki suatu keinginan yang tidak mungkin terjadi (al-tamanni). Tamanni dianggap sebagai psikopatologi, sebab penderitanya tenggelam dalam dunia

20

khayalan yang tidak realistik. Ia berkeinginan besar untuk memiliki sesuatu, namun tidak dibarengi dengan aktivitas nyata, sehingga kehidupannya tidak kreatif dan produktif. Akibat dari gejala tamanni ini maka penderitanya tidak segan-segan mengambil jalan pintas, seperti memperdalam angan-angannya dengan mengkonsumsi zat adiktif, mencuri, merampok dan korupsi untuk kelangsungan hidupnya; dan mengumbar hawa nafsunya untuk memuaskan nafsu seksualnya. Dalam pandangan Islam, penyakit tamanni merupakan tingkat tertinggi dari penderitaan ilusi, delusi, dan halusinasi. Keenambelas, picik atau penakut (al-jubn). Picik atau penakut adalah sikap dan perilaku yang tidak berani menghadapi kenyataan yang sesungguhnya. Ciri-ciri penderitanya adalah apabila ia dihadapkan pada suatu masalah, maka ia berpikir dampak negatifnya terlebih dahulu, tanpa sedikitpun mempertimbangkan tingkat

kemashlahatannya. Karenanya ia tidak berani bertindak yang seharusnya ia lakukan. Kepicikan seseorang biasanya disebabkan oleh keimanan yang lemah, seperti sikap orang-orang munafik yang tidak berani berperang di jalan Allah SWT. karena takut mati, tidak mengeluarkan zakat karena takut miskin, menggugurkan kandungan karena takut malu, tidak memberantas yang munkar karena takut dibenci atau tidak mendapatkan posisi di suatu jabatan, dan tidak mengemukakan kebenaran atau keadilan karena takut ancaman. Sementara Hamdani Bakran dalam bukunya yang berjudul Konseling dan psikoterapi islam (2001) menyebutkan bahwa dendam kesumat juga merupakan salah satu indikasi gangguan kejiwaan. Dendam ialah sifat atau sikap suka membalas atas rasa sakit yang telah diderita sebelumnya kepada orang yang telah menyakiti atau kepada orang lain karena rasa ingin menumpahkan kemarahan dan kepuasan hawa nafsu yang ada di dalam dada; atau sifat tidak senang memberikan maaf kepada orang lain yang telah menyakiti dan atau telah menimpakan rasa tidak nyaman. Sifat dendam adalah penyakit hati yang sangat mempengaruhi mental atau kejiwaan seseorang; dan untuk mengusir atau menghilangkannya sangatlah sulit. Karena sifat ini sangat erat dengan sifat pemarah. Seorang pemarah selalu diiringi dengan membalas, dan apabila belum terbalas atas suatu perbuatan yang membuat ia marah, maka hatinya tidak tenang dan gelisah. Bahkan saat ia tidak dapat mengendalikan

21

marahnya, maka ia melampiaskan rasa dendamnya itu dengan melakukan perusakan apa saja yang ada di sekitarnya. Upaya untuk mengatasi penyakit jiwa ini, hanya dapat dilakukan dengan penghayatan terhadap aplikasi ketauhidan. Namun sebelumnya, seseorang yang telah terkena penyakit atau gangguan seperti ini, hatinya atau rohaninya harus dibersihkan terlebih dahulu dari bibit virus dendam yang berwarna kehitaman yang telah sengaja disebarkan oleh syaitan dan iblis. Jika tidak dibersihkan maka untuk melakukan pelatihan terhadap penghayatan tauhid akan terganggu dan tidak efektif. Yang dapat melakukan pembersihan itu hanyalah guru-guru atau Syaikh yang benar-benar telah menguasai seluk beluk penyakit batin dan metode menghilangkannya.

2.3

Sebab Gangguan Kejiwaan (Mental)
Faktor-faktor yang mempengaruhi kejiwaan individu dapat dibagi kedalam faktor

dari dalam atau bawaan (internal) dan faktor lingkungan, luar(eksternal). 1. Faktor Internal Dalam firman Allah Q. S. Ar-Rum ayat 30 menyatakan, yang artinya : Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, fitrah Allah, yang Dia telah ciptakan manusia diatas fitrah itu; tidak ada perubahan bagi penciptaan Allah itu;itulah agama yang lurus akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahuinya. Dan dalam sebuah HR. Bukhari dari Abu Hurairah Nabi Muhammad SAW menyatakan, ”Setiap anak di lahirkan adalah dalam keadaan suci, kemudian kedua orang tuanyalah yang menjadikan ia Yahudi, Nasrani atau Majusi.” Seperti ayat dan hadits diatas, setiap manusia yang lahir ke muka bumi ini telah tercipta dalam keadaan fitrah (suci); nuraninya senantiasa ingin menghadap Tuhannya dan mengikuti agama-Nya. Sehingga secara internal setiap manusia yang dilahirkan memiliki jiwa yang sehat dan baik namun dalam perkembangan dan pertumbuhan sejak masa perkawina, hubungan seksual hingga lahir lalu pendidikan dari nol sampai dewasa itulah yang banyak mempengaruhi nilai fitrah manusia. Secara umum faktor internal yang mempengaruhi kejiwaan adalah : 1. Proses pembuahan (perkawinan, hubungan seks).

22

Fase perkembangan manusia dalam perspektif psikologi Islam yang dikemukan oleh Prof. Mujib bahwa perkembangan manusia tidaklah dimulai dari pra-natal melainkan terdiri dari tiga fase yang fase keduanya merupakan fase kehidupan dunia dimulai dari penentuan pasangan pernikahan dan proses pernikahanya. Karena seorang anak yang dilahirkan di luar nikah dapat mengalami keadaan yang disebut ”deprivasi emosioanal” yang nantinya dapat menyebabkan personality disorder. Sebagaimana pernah dibuktikan pada sebuah penelitian di Inggris yang hasilnya menyatakan bahwa anak yang dilahirkan secara tidak sah mengalami perkembangan mental tidak sebaik anak yang dilahirkan secara sah dalam proses pernikahan. 2. Pendidikan spritual selama dikandungan. Semua anak terlahir dengan fitrahnya, namun sejak dalam kandungan anak telah dapat diberikan pendidikan yang dapat membantu perkembangan baik fisik maupun mentalnya. Jika pendidikan yang diberikan menyimpang dari tuntunan dan bimbingan Illahiyah, maka dapat terjadi juga gangguan pada mentalnya.

2. Faktor Eksernal Faktor eksternal yang menyebabkan gangguan kejiwaan akan lebih banyak tefokus pada system pendidikan sang anak.Sehingga dapat dijabarkan sebagai berikut : 1. Tidak pernah dikenalkan dengan dua kalimat syahadat sejak kecil. 2. Tidak pernah diperkenalkan dan ditanamkan hukum-hukum halal dan haram. 3. Tidak diperintahkan sholat (ibadah) sejak usia tujuh tahun dan kedua orang tua tidak memberi tauladan untuk itu. 4. Tidak ditanamkan nilai-nilai kecintaan terhadap Rasulullah SAW. 5. Tidak pernah diajarkan Al-Quran dan As-Sunah. 6. Lingkungan keluarga yang kurang harmonis. 7. Pendidikan dan lingkungan sekolah yang tidak Islami.

2.4

Akibat Buruk dari Gangguan Kejiwaan

23

Penyimpangan-penyimpangan perilaku seseorang dari tuntutan, bimbingan dan pimpinan fitrah Ilahiyah (Al-Qur’an) dan ketauladanan nubuwah (As-Sunnah) merupakan suatu indikasi yang sangat prinsip adanya gangguan psikologis dan tidak sehatnya mental. Sikap dan perilaku yang menyimpang itu akan berakibat buruk bagi diri seseorang dan lingkungannya, baik secara vertikal maupun horizontal. Artinya, ia akan memperoleh kesulitan besar untuk melakukan interaksi vertikal dengan Tuhannya dan interaksi sosial dengan lingkungan dan kehidupannya. Akibat-akibat buruk yang akan ditimbulkan oleh sikap, sifat dan perilaku yang tidak sehat secara psikologis dalam perspektif Islam adalah padamnya dan lenyapnya “Nur Ilahiyah” yang menghidupkan kecerdasan-kecerdasan hakiki dari dalam diri seorang hamba, sehingga ia sangat sulit melakukan adaptasi, baik dengan lingkungan vertikalnya maupun lingkungan horisontalnya. Indikasi-indikasi yang menandakan telah kehilangan Nur Ilahiyah yang menerangi kecerdasan-kecerdasan hakiki yang fitrah itu, antara lain adalah : 1. Jiwa kehilangan power dan energi untuk mendorong melakukan perbuatan, tindakan dan perjuangan dalam rangka menegakkan sikap, perilaku dan potensi muthmainnah (ketenangan, kedamaian dan sopan santun), potensi radhiyah (yang meridhai atau yang berlapang dada) dan potensi mardhiyah (yang diridhai atau dilapangdadai oleh Allah); Maksudnya adalah, sungguh beruntunglah orang yang senantiasa membesarkan dan meninggikan jiwanya dengan mentaati perintah Allah, dan sungguh merugi orang yang telah mengotori, menghinakan dan mengecilkan jiwanya dengan cara mendurhakai perintah serta larangan-Nya. 2. Akal pikiran telah kehilangan power dan energi untuk merenungkan, memikirkan dan menganalisa rahasia-rahasia ayat-ayat Allah, baik yang tertulis dalam Al-Qur’an maupun yang tertulis di seluruh alam semesta. Akal pikiran tidak kuasa berfikir tentang hakikat kebenaran dan kebenaran hakikat, bahkan yang paling fatal dari akibat sakitnya mental adalah akal pikiran tidak kuasa mencari dan menemukan jalanjalan untuk menuju pada perbaikan, kemanfaatan, keselamatan dan kebenaran Ilahiyah yang dapat memberikan kehidupan yang hidup. Kadang-kadang seseorang 24

ini tampak pandai berbicara teori-teori tentang kebaikan dan kebenaran dengan mengemukakan dalil-dalil dari ayat-ayat Al-Qur’an dan ketauladanan Rasul-Nya Muhammad SAW., akan tetapi ia tidak kuasa untuk berfikir keras bagaimana kebenaran-kebenaran yang telah diketahuinya dapat diaplikasikan secara kongkrit dalam dirinya pribadi, bahkan akal pikirannya menjadi pengecut dan tidak kesatria dalam berupaya mencarikan jalan-jalan untuk memanifestasikan kebenaran itu ke dalam dirinya sendiri. Hal ini termasuk akibat dari kedurhakaan kepada Allah adalah ia dapat membuat akal pikiran menjadi rusak, karena dalam pikiran itu ada cahaya, sedangkan kedurhakaan itu akan memadamkan cahaya yang terdapat dalam akal itu. Jika cahayanya telah padam, maka hal tersebut akan menjadi semakin lemah dan berkurang. Dan sungguh menakjubkan, jika akal pikiran itu sehat, niscaya Anda benar-benar dapat mengetahui jalan atau cara untuk meraih suatu kelezatan, kesenangan, kegembiraan serta indahnya kehidupan, yakni hanyalah dengan mencari keridhaan Allah dari kenikmatan yang seluruhnya berasal dari keridhaan-Nya. Dan itu semua hanya dapat dicapai dan dirasakan oleh seseorang atau siapa saja yang memiliki akal pikiran yang sehat dan normal dalam pandangan Allah. 3. Qolbu (hati yang lembut) telah kehilangan power dan energi untuk menangkap dan menerima hidayah, irsyad, firasat dan ilham, bahkan ia tidak dapat menampakkan ayat-ayat dan rahasia ketuhanan secara kasysyaf (penyingkapan alam gaib). kebenaran-

Sehingga, jika hati itu telah mati, maka seseorang akan kehilangan rasa kasih sayang, sikap toleransi dan kelembutan, bahkan justru sikap kejam, sadis dan bengis yang tumbuh subur. 4. Inderawi kehilangan power dan energi untuk menangkap obyek dari hakikat lahiriyah ayat-ayat Allah, hakikat fenomena dan peristiwa yang berada/terjadi

dilingkungannya. Seperti penglihatan hanya dapat melihat objek lahiriyah, pendengaran hanya dapat menangkap suara dan bunyi lahiriyah, penciuman hanya dapat membau aroma lahiriyah, peraba hanya dapat meraba objek lahiriyah.

Sedangkan objek batiniyah (hakikat) tidak dapat ditangkap, yaitu asal-usul dan

25

kondisi objek yang paling dalam lagi hakiki, apakah objek itu halal atau haram, hak atau batil, berasal dari syaitan, iblis, jin atau malaikat dan Allah. 5. Jasad kehilangan power dan energi untuk tegak berdiri kokoh dalam mengaplikasikan perbaikan, kebenaran, kemanfaatan dan keselamatan yang hakiki, akan tetapi justru jasad sangat kokoh dan kuat jika berdiri dalam melakukan aktifitas perusakan, kedustaan, kehancuran dan tipu daya. Apabila seseorang individu, akal pikiran, qalb, jiwa dan seluruh tubuhnya kotor dan penuh dengan karat-karat kedurhakaan dan dosa kepada Tuhannya, maka ia akan mengalami kehancuran dalam kehidupannya. Jadi, akibat mental atau jiwa yang sakit itu akan memiliki dampak yang sangat membahayakan baik bagi individu, lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan alam semesta.

DAFTAR PUSTAKA

Adz-Dzaky, M. Hamdani Bakran. (2001). Konseling dan psikoterapi islam. Yogyakarta : Fajar Pustaka Baru

Mujib, Abdul dan Jusuf Mudzakir. (2001). Nuansa-nuansa psikologi islam. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada

26


								
To top