Docstoc

hukum perkawinan

Document Sample
hukum perkawinan Powered By Docstoc
					KATA PENGANTAR
Segala puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan YME, karena atas rahmatnya penyusun dapat menyelesaikan tugas kliping tanpa menemukan kesulitan yang berati. Jika terjadi kesalahan dalam pembuatan kliping ini penyusun meminta maaf, karena penyusun tidak luput dari kesalahan sebagai seorang manusia. Tidak ada gading yang tak retak.

Purwokerto

Penyusun

DAFTAR ISI kata pengantar …………………………………………………. i Artikel I ………………………………………………………... Pembahasan………………………………………………. Kesimpulan ………………………………………………. Saran……………………………………………………… 1 2 3 3

Artikel II ………………………………………………………. 4 Pembahasan……………………………………………… 6 Kesimpulan ……………………………………………... 7 Saran …………………………………………………….. 8 Artikel III …………………………………………………….... 9 Pembahasan…………………………………………….. 10 Kesimpulan …………………………………………….. 11 Saran……………………………………………………. 11 Daftar Pustaka ………………………………………………….. 12

ANALISA
Menurut undang-undang no 1 tahun 1974, perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. . Dari pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pernikahan itu

dilakukan oleh seorang pria dengan seorang wanita dengan berbagai macam tujuan, baik dari dilihat motivasi biologis, sosiologis, religious, psikologis, ekonomis, genetic, bahkan sampai tujuan politik. Pengertian perkawinan sejenis dapat diartikan sebagai ikatan yang dilakukan antar 2 manusia dengan jenis kelamin yang sama, baik sesama laki-laki maupun sesama perempuan. Perkawinan antarwaria atau perkawinan sesama jenis sungguh sangat bertolak belakang dengan pengertian dari perkawinan menurut undang-undang, yang

menyebabkan perkawinan itu ditolak di Indonesia. Mungkin diihat dari sudut tujuan biologis perkawinan ini dapat diterima, karena mereka mempunyai kelainan seks yang hanya dapat terpuaskan dengan berhubungan sesama jenis. Tapi bagaimana dengan tujuan dan motivasi yang lain? Manusia bukanlah binatang yang melakukan perkawinan hanya untuk kepuasan biologis semata, bahkan binatang melakukan perkawinan dengan pasangan jantan dan betina. Sebagai contoh, motivasi genetic sangat tidak masuk akal bila perkawinan ini ada, karena tidak mungkin pasangan perkawinan ini memiliki keturunan. Tujuan perkawinan yang paling inti adalah membentuk keluarga (walaupun tidak semua perkawian), Keluarga yang ideal adalah keluarga yang terdiri dari Ayah (lakilaki), Ibu (perempuan), dan anak. Jika ada perkawinan antarwaria/ sesama jenis , itu bukanlah bertujuan untuk membentuk suatu keluarga, karena dilihat dari aspek yang hanya terdiri dari laki-laki atau perempuan saja bagai mana akan ada ayah, ibu atau yang paling mustahil akan adanya anak. Perkawinan sesama jenis juga tidak memenuhi syarat-syarat perkawinan menurut undang-undang maupun agama. Dalam Kompilasi Hukum Islam buku I tentang

perkawinan pasal 14, untuk melaksanakan perkawinan harus ada: Calon suami, calon istri, Wali nikah, Dua orang saksi, ijab dan qobul. Dari sudut agama islam dalam surat Ar-Rum: 21 disebutkan “ Dan diantara tandatanda kekuasaan Allah ialah diciptakanNya untukmu dari jenis mu supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya , dan dijadikanNya diantara kasih dan saying. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir. “. Dari surat diatas dapat disimpulkan bahwa manusia secara kodratnya telah mempunyai pasangan hidup masing-masing yang berbeda jenis (kelamin) agar dapat saling mengisi. Dilihat dari sudut pandang kesehatan, pernikahan sesama jenis juga hanya akan menimbulkan mudarat (kejelekan). Secara biologis, baik laki-laki maupun perempuan telah memiliki alat yang mempunyai fungsi dan tugas masing-masing. Para pakar kesehatan mengatakan bahwa para pelaku seks sesama jenis lebih besar terkena resiko penyakit kelamin ,karena kebanyakan dari mereka melakukan seks secara “anal”(pada lubang dubur).

Kesimpulan Perkawinan sejenis adalah perkawinan yang dilakukan oleh manusia yang mempunyai jenis kelamin sama, baik sesama laki-laki maupun sesama perempuan. Undang-undang menolak perkawinan perkawian ini karena tidak sesuai baik dari sudut pengertian dari perkawinan itu sendiri maupun syarat-syarat perkawinan. Dari sudut pandang lain , agama dan system kepercayaan yang ada di Indonesia tidak ada yang dapat menerima perkawinan ini. Perkawinan ini dianggap lebih banyak mendatangkan mudarat daripada manfaat. Dilihat dari analisa diatas, maka langkah pemerintah dalam menolak pernikahan sesama jenis sangatlah masuk akal dan merupakan langkah yang bijak dalam menjaga harkat dan martabat sebagai bangsa yang bermoral.

Saran Sebaiknya para pelaku ( waria dan lesbian ) lebih didekatkan pada unsur agama, dan pemerintah membuatkan lembaga yang menampung para pelaku yang ingin bertobat.

ANALISA
Istilah poligami berasal dari dari bahasa Yunani, yaitu polu dan gamein, polu berati banyak dan gamein berati kawin, jadi poligami dapat diartikan sebagai perkawinan yang banyak. Menurut Sayuti Thalib (1985: 56) poligami yaitu seorang laki-laki beristri lebih dari satu orang perempuan dalam waktu yang sama memang diperbolehkan dalam hokum islam, tetapi pembolehan itu diberika sebagai suatu pengecualian, pembolehan diberikan dengan pembatasan-pembatasan yang berat, berupa syarat-syarat dan tujuan mendesak. Poligami menurut Undang-undang diperbolehkan asal memenuhi syarat-syarat tertentu. Undang-undang no 1 tahun 1974 pasal 3 ayat 1, membolehkan warga Negara Indonesia untuk berpoligami asal dikehendaki oleh para pihak yang bersagkutan dan menurut agama masing-masing memperbolehkan. Alasan-alasan yang harus dipenuhi untuk poligami diatur dalam ketentuan pasal 4 ayat (2) UU No. 1 Tahun 1974, sebagai berikut: 1. Istri tidak dapat menjalankan tugasnya sebagai istri 2. Istri mendapatkan cacat badan atau penyakit yang tidak dapat disembuhkan. 3. Istri tidak dapat melahirkan keturunan. Sedangkan syarat-syarat yang harus dipenuhi untuk melakukan poligami adalah sebagai berikut: 1. Adanya persetujuan dari istri/istri-istri 2. Adanya kepastian bahwa suami akan menjamin keperluan-keperluan istri dan anak mereka. 3. Adanya jaminan bahwa suami akan berlaku adil terhadap istri dan anak-anak mereka. Pembolehan poligami oleh agama islam ini merupakan jalan keluar dari

kewajiban berbuat adil yang mungkin tidak terlaksanaterhadap anak-anak yatim. Syarat utama laki-laki yang akan berpoligami adalah adil, apabila khawatir tidak dapat berbuat adi maka lebih baik kawin dengan satu orang istri saja. Hal ini terdapat dalam Al’quran surat An Nisa ayat 3 ” kemungkinan laki-laki berpoligami sampai sebanyak-banyaknya 4

orang istri, dengan syarat dapat berlaku adil , apabila dikhawatirkan tidak akan dapat berlaku adil, hendaklah kawin dengan seorang istri saja.” Dalam bukunya, Ahmad Azhar Basyir menulis pembenaran poligami dikarenakan hal-hal sebagai berikut: 1. Dikarenakan si laki-laki yang mempunyai nafsu syahwat yang kuat dan merasa tidak cukup dengan satu istri. Poligami di benarkan karena menjadi jalan yang lebih baik dari pada melakukan hubungan di luar nikah 2. Di karenakan si istri menderita penyakit yang menyebabkan tidak dapat melayani suami. 3. Istri tidak dapat memberikan keturunan untuk menyambung keturunan. 4. Jumlah perempuan lebih banyak dari jumlah laki-laki dalam satu daerah.

Walaupun dalam pandangan hukum maupun agama poligami bukanlah suatu pelanggaran dan dapat dibolehkan, tetapi sebagian besar dalam masyarakat, khusunya kaum wanita tidak dapat menerima poligami. Mereka beranggapan bahwa poligami merupakan bentuk pengunggulan kaum laki-laki terhadap perempuan. Dan dari kaum wanitalah yang merasakan dampak negatif dari poligami. Dalam diri seorang istri yang telah dipoligami maka akan timbul perasaan menyalahkan diri sendiri karena merasa kurang mampu memuaskan suami. Dan kebanyakan dari pihak suami akan cenderung berat kepada istri yang paling muda, baik dari segi materiil maupun batiniah.

Kesimpulan . Istilah poligami berasal dari dari bahasa Yunani, yaitu polu dan gamein, polu berati banyak dan gamein berati kawin, jadi poligami dapat diartikan sebagai perkawinan yang banyak. Poligami dalam pandangan hukum dan agama adalah hal yang sah setelah ada alasan dan telah memenuhi syarat-syarat tertentu. Walaupun dalam pandangan hukum maupun agama poligami bukanlah suatu pelanggaran dan dapat dibolehkan, tetapi sebagian besar dalam masyarakat, khusunya

kaum wanita tidak dapat menerima poligami. Mereka beranggapan bahwa poligami merupakan bentuk pengunggulan kaum laki-laki terhadap perempuan. Dan dari kaum wanitalah yang merasakan dampak negatif dari poligami.

Saran Pernikahan adalah sesuatu yang suci dengan tujuan membina rumahtangga yang bahagia dan kekal. Keluarga yang ideal adalah keluarga yang terdiri dari 1 ayah,1 ibu dan anak. poligami mungkin diperbolehkan menurut UU dan agama, tapi lebih baik tidak dilakukan, karena secara tidak langsung kita telah melukai orang yang kita sayang (istri) dan kita juga telah melanggar janji dengan psangan kita untuk setia. dan yang paling pasti, tidak ada manusia yang bisa adil baik secara materiil maupun batiniah kecuali Rosul.

ANALISA
Kawin kontrak sebenarnya di perbolehkan pada jaman nabi Muhamad. saat itu dibenarkan melihat keadaan dan situasi pada saat perang. Para sahabat nabi yang menjadi pasukan jauh dari keluarga, melihat dari sudut manfaat yang lebih banyak ketimbang Mudaratnya (zinah). Tetapi setelah peperangan berakhir, nabi melarang kawin kontrak karena nabi menganggap itu sama dengan menyewa perempuan hanya untuk kepuasan biologis saja. Istilah kawin kontrak sendiri muncul , ketika para pelaku (khususnya laki-laki) adalah mereka yang sedang menjalani tugas kerja, pada saat itu tidak diperbolehkan membawa keluarga atau memang belum berkeluarga. Untuk menghindari zinah, ia melakukan pernikahan dengan perempuan penduduk setempat. Setelah tugas kerja atau kontrak kerja selesai status pernikahanpun diujung tanduk. Seolah-olah pernikahan ini dibatasi oleh kontrak. Sebenarnya perkawinan ini sama dengan perkawinan biasa. Perkawinan ini dilakukan menurut agama, adat, dan juga memenuhi tatacara pernikahan yang baik. Kawin kontrak bisa dilakukan dibawah tangan atau mungkin juga yang sah menurut agama dan hukum Negara. Status anak dalam kawin kontrak yang sah adalah sama dengan status anak perkawinan biasa. Mereka mempunyai hak untuk dinafkahi, dicukupkan kebutuhannya, hingga mendapatkan bagian waris jika si ayah meninggal. Karena sebenarnya kawin kontrak itu hanya istilah saja, tata dan pelaksanaannya sama dengan perkawinan biasa. Yang menjadi permasalahan adalah ketika kawin kontrak itu dilakukan di bawah tangan. Maka secara hukum formal pernikahan itu tidak diakui. Dalam kasus ini pihak anak dan ibu yang biasanya menjadi korban. Setelah kontrak selesai maka status anak menjadi sulit. tidak akan menjadi soal jika siayah secara moral mau mengakui dan membiayai si anak hingga mandiri. Mungkin bagi pihak perempuan yang melakukan kawin kontrak dibawah tangan lebih baik membuat perjanjian akan status dan pencukupan kebutuhan anak setelah kontrak selesai.

Berdasarkan Undang-undang pernikahan status anak yang lahir dalam pernikahan dibawah tangan hanya memiliki hubungan perdata dengan ibunya sedangkangkan hubungan keperdataan dengan ayahnya akan terputus. Hal ini dapat diselesaikan jika sudah ada perjanjian sebelumnya.

Kesimpulan Status anak dalam pernikahan kontrak sebenarnya sama dengan status anak dari pernikahan biasa karena kawin kontrak yang sah menurut agama dan hukum Negara tata caranya sama dengan pekawinan biasa. Yang menjadi permasalahan adalah ketika kawin kontrak itu dilakukan di bawah tangan. Maka secara hukum formal pernikahan itu tidak diakui. Dalam kasus ini pihak anak dan ibu yang biasanya menjadi korban. Setelah kontrak selesai maka status anak menjadi sulit. tidak akan menjadi soal jika siayah secara moral mau mengakui dan membiayai si anak hingga mandiri. Masalah ini dapat diantisipasi dengan membuat perjanjian antara para pelaku kawin kontrak mengenai status, pemenuhan kebutuhan , mungkin hingga masalah waris jika kontrak telah selesai.

Saran Pernikahan dilakukan dengan tujuan membentuk keluarga yang bahagia dan kekal, bukan hanya bergantung pada kontrak. sepertinya lebih baik poligami dari pada kawin kontrak. Pihak wanita dan anak dalam kawin kontrak lebih diujung tanduk ketimbang yang dipoligami. Mungkin bagi perempuan yang sudah menjadi pelaku kawin kontrak, lebih baik membuat perjanjian mengenai status, pemenuhan kebutuhan , mungkin hingga masalah waris jika kontrak telah selesai.

DAFTAR PUSTAKA Romulyo, Idris. 1996. Hukum Perkawinan Islam. Jakarta: Sinar Grafika Offset. Subekti, Trusto. 2005. Diktat Hukum Keluarga dan Perkawinan. Purwokerto : FH UNSOED. Kompilasi Hukum Islam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Undang-undang no 1 Tahun 1974 tentang perkawinan


				
DOCUMENT INFO
Shared By:
Stats:
views:21189
posted:1/13/2010
language:Indonesian
pages:10