LAPORAN AKHIR PENELITIAN TA 2006 KAJI TINDAK (ACTION RESEARCH by smapdi62

VIEWS: 174 PAGES: 14

									                   LAPORAN AKHIR
                  PENELITIAN TA 2006


KAJI TINDAK (ACTION RESEARCH) PEMBERDAYAAN MASYARAKAT
          PERTANIAN DAERAH TERTINGGAL (TAHAP II)




                         Oleh :
                       Edi Basuno
                    Rita Nur Suhaeti
                     Gelar S. Budhi
                    Muhammad Iqbal
                    Kedi Suradisastra




PUSAT ANALISIS SOSIAL EKONOMI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN
      BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN
                 DEPARTEMEN PERTANIAN
                          2006
                              RINGKASAN EKSEKUTIF


PENDAHULUAN

Latar Belakang

(1)   Kegiatan pemberdayaan masyarakat di Jawa Barat telah lama dilakukan oleh
      pihak pemerintahan daerah, baik di tingkat provinsi maupun di tingkat
      kabupaten/kota. Sejak tahun 2005, PSE-KP telah melakukan kegiatan kaji
      tindak di dua lokasi, yaitu Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor. Di
      Kecamatan Nagrak, Sukabumi, fokus kegiatan pada upaya pemupukan modal
      kelompok, pelatihan dan studi banding. Di Kecamatan Babakan Madang, Bogor,
      fokus kegiatan pada pelatihan beternak ruminansia kecil dan menumbuhkan
      kegiatan sebagai alternatif sumber penghasilan.

(2)   Data dan informasi mengenai profil masyarakat, lingkungan biofisik, usahatani
      dominan, dan perencanaan kegiatan masyarakat secara partisipatif telah
      disajikan dalam laporan kegiatan tahun 2005. Di masing-masing lokasi telah
      diidentifikasi beberapa figur yang dapat dijadikan kader lokal, selain telah dirintis
      adanya kelompok yang akan dijadikan mitra kerja peneliti. Khusus di Sukabumi,
      kelompok tidak hanya terdiri dari para petani, tetapi juga anak-anak muda yang
      tertarik untuk mengorganisir diri.

(3)   Tujuan akhir pembangunan pertanian tidak semata untuk meningkatkan
      produksi, tetapi juga membangun masyarakat tani seutuhnya, sehingga
      masyarakat mampu meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan secara
      keseluruhan. Program-program mikro tampaknya justru dapat berperan bagi
      pemenuhan keperluan khas lingkungan budaya, pasar, dan iklim mikro dan
      dapat dibangun melalui        sumber daya            setempat, berupa pengetahuan
      tradisional, bakat-bakat kepemimpinan serta jenis-jenis organisasi setempat.

(4)   Inti pemberdayaan masyarakat adalah memfasilitasi masyarakat, agar mampu
      meningkatkan      kesejahteraannya          secara     mandiri.   Kegagalan   dalam
      mengakomodasi keinginan masyarakat menjadikan pelaksanaan kegiatan
      bersifat sementara, karena masyarakat tidak merasa bahwa kegiatan yang
      dilakukan milik mereka. Pemberdayaan yang bersifat partisipatif akan
      memberikan hasil yang lebih baik, terutama dari kelangsungan kegiatannya.



                                            iii
METODOLOGI

Kerangka Pemikiran

(5)   Pelaksanaan kaji tindak partisipatif merupakan kegiatan yang dilakukan secara
      berkelanjutan   dengan    tujuan   akhir   untuk   peningkatan    kesejahteraan
      masyarakat. Kegiatannya bervariasi dan sebagai manifestasi dari konsep
      partisipatif, maka bentuk kegiatannya ditentukan oleh peserta kaji tindak,
      dengan fasilitasi oleh peneliti. Pelatihan merupakan bagian yang paling penting
      dalam pemberdayaan masyarakat. Kegiatan ini merupakan ajang kegiatan
      transfer teknologi dan atau pengetahuan dari narasumber kepada peserta
      pelatihan. Dalam kaji tindak, pelatihan dilakukan di dalam kelas dan di lapangan
      dengan cara belajar sambil bekerja (learning by doing) dan materi pelatihan
      disesuaikan dengan keinginan dan kebutuhan peserta kaji tindak.

(6)   Studi banding merupakan kegiatan penting sebagai upaya belajar dalam
      menyelesaikan masalah dan mengantisipasi perubahan. Petani sukses yang
      dikunjungi dapat mentransfer ilmu dan pengalaman yang dimilikinya secara
      tulus, tanpa khawatir tersaingi. Pasca pelatihan dan studi banding diperlukan
      pendampingan untuk mengawal kegiatan yang dilakukan kelompok dan
      diharapkan mampu memotivasi secara berkelanjutan agar tingkat percaya diri
      kelompok optimal. Dengan fasilitasi tim peneliti, monev secara partisipatif
      dimaksudkan untuk melihat pelaksanaan kegiatan yang dapat memberikan
      manfaat bagi kelompok. Pelaksanaan kaji tindak untuk pemberdayaan
      masyarakat melibatkan semua pemangku kepentingan (stakeholders) yang
      berperan sebagai sumber teknologi, sekaligus penyandang dana. Jenis data
      dan informasi lebih banyak bersumber dari data dan informasi primer,
      sedangkan data dan informasi sekunder sebagai penunjang.


Lokasi Penelitian
(7)   Lokasi kaji tindak pada tahun ke dua ini tidak berubah, yaitu di dua kabupaten,
      yaitu Sukabumi dan Bogor. Kabupaten Sukabumi dipilih berdasarkan kriteria
      sebagai salah satu wilayah miskin di Provinsi Jawa Barat dan diwakili oleh
      Kecamatan Nagrak dengan fokus kegiatan pemberdayaan masyarakat petani
      lahan kering. Sebaliknya Kabupaten Bogor adalah lokasi yang sudah ditetapkan
      sebelumnya, yakni di Kecamatan Babakan Madang. Fokus kegiatan di Bogor


                                         iv
      adalah dalam rangka membantu Pemerintah Daerah dalam mensukseskan
      program pengendalian penyakit anthraks. Tepatnya penelitian dilaksanakan di:
      (a) Dusun Pasantren, Desa Balekambang, Kecamatan Nagrak, Kabupaten
      Sukabumi; dan (b) Dusun Leuwijambe, Desa Kadumanggu, Kecamatan
      Babakan Madang, Kabupaten Bogor.


Jenis dan Analisis Data
(8)   Data   dan   informasi   primer   diperoleh   dari   hasil   pengamatan   selama
      pendampingan, wawancara secara mendalam (in-depth interview) dengan
      sumber-sumber yang relevan dan validasi (triangulation). Alat yang digunakan
      antara lain catatan lapang (field notes), catatan kegiatan, dan dokumentasi
      lainnya. Seluruh informasi yang diperoleh dideskripsi untuk menjelaskan lebih
      lanjut hasil dari kegiatan yang dilakukan, sekaligus untuk penyusunan
      perencanaan kegiatan masyarakat secara partisipatif. Untuk mengetahui
      persepsi anggota dan bukan anggota kelompok terhadap kegiatan kelompok
      disiapkan daftar pertanyaan yang hasilnya diolah menurut Skala Likert. Untuk
      memperoleh angka penafsiran atau interpretasi dari skala Likert tersebut
      dipergunakan Weighted Mean Score (WMS). Analisis data dan informasi
      dilakukan dengan perhitungan sederhana berupa nilai rata-rata, frekuensi
      distribusi, dan tabulasi silang. Uraian deskriptif dibuat untuk menjelaskan
      keterkaitan antar variabel.


HASIL DAN PEMBAHASAN

(9)   Pada tahun ke dua, kegiatan masih terfokus pada memfasilitasi kelompok agar
      terbentuk kelompok yang kuat dan mandiri. Selain itu, terdapat kegiatan dalam
      rangka merespon berbagai keinginan masyarakat, yang tidak direncanakan
      sebelumnya, seperti pembentukan kelompok simpan pinjam ibu-ibu, pembuatan
      kios kelompok, persiapan kerjasama dengan Dompet Dhuafa, perintisan
      pemancar radio, mengikuti berbagai pameran dan pelatihan tataboga. Sedang
      kegiatan yang mengarah pada pemenuhan tujuan ke dua sampai ke empat
      belum dilaksanakan sepenuhnya karena kegiatan masih terbatas pada
      kelompok dan baru berjalan selama dua tahun. Kegiatan yang dilaksanakan
      tidak selalu tepat dengan butir-butir pada tujuan, mengingat berbagai modifikasi



                                          v
       yang harus dilakukan di tingkat lapang. Waktu dua tahun untuk suatu
       pemberdayaan masyarakat dirasakan sebagai waktu yang pendek.

(10)   Keinginan kelompok untuk mengumpulkan modal diupayakan dengan menanam
       pepaya. Alasan memilih pepaya adalah: (i) harganya relatif stabil, (ii) adanya
       langganan pedagang yang dinilai baik dan jujur serta (iii) tingkat keterampilan
       petani dalam menanam pepaya cukup memadai. Fasiltasi tim berupa
       penyediaan bibit dan pupuk kandang untuk pemupukan ke dua. Total pohon
       pepaya yang ditanam sebanyak 815 batang pohon. Pinjaman akan dilunasi
       pada saat panen, ditambah 10 persen dari hasil panen untuk kas kelompok.

(11)   Pelatihan pemberantasan hama kuuk, sekaligus pelatihan pembuatan pupuk
       organik yang diikuti oleh 37 orang petani, telah dilaksanakan 20 April 2006.
       Narasumber berasal dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro),
       Bogor, sekaligus sebagai Direktur Lembaga Pertanian Sehat (LPS) di Cinagara,
       Bogor. Materi pelatihan adalah:      (i) pengenalan LPS, (ii) pengalaman LPS
       bekerja sama dengan petani di Cijeruk, (iii) penjelasan tentang hama kuuk dan
       upaya pemberantasannya, serta (iv) penjelasan tentang pestisida nabati dan
       pupuk organik.

(12)   LPS adalah sebuah lembaga di bawah naungan Dompet Dhuafa (DD) harian
       Republika dan berkeinginan menjadi lembaga yang mandiri dan profesional
       dalam bidang penelitian dan perakitan teknologi, pembinaan dan usaha
       pertanian sehat yang bermanfaat bagi kepentingan petani dhuafa dan
       masyarakat secara luas. LPS fokus pada pengendalian hama penyakit tanaman
       secara biologis, dengan memproduksi biopestisida nuclear polyhedrosis virus
       (NPV) yang ramah lingkungan. Sejak tahun 2000 LPS telah mengembangkan
       pupuk organik OFER (organic fertilizer) dan pestisida nabati PASTI yang
       berbahan aktif ekstrak akar tuba (Derris sp.).

(13)   Pada tanggal 17 Mei 2006 telah dilakukan kunjungan ke LPS dan Ternak
       Domba Sehat (TDS). Petani melakukan praktek pembuatan pestisida nabati
       dan pupuk organik (aerob dan anaerob) dengan fasilitasi dari staf dan teknisi
       LPS. Dari kunjungan ke TDS petani memperoleh penjelasan tentang Program
       Kampoeng Ternak DD. Program ini terdiri dari (i) Riset dan Pengembangan, (ii)
       Pemberdayaan Masyarakat dan Pemasaran. Petani berharap menjadi bagian
       dari DD melalui Program Pemberdayaan Masyarakat dan Pemasaran. Pada


                                            vi
       September 2006, telah di lakukan Studi Kelayakan Wilayah (SKW) di Dusun
       Pasantren. Hasil SKW dinilai memadai, maka selanjutnya dilakukan Studi
       Kelayakan Mitra (SKM). Kerja sama antara DD dengan masyarakat minimal
       selama tiga tahun dengan pembagian keuntungan 60 persen bagi peternak dan
       40 persen untuk DD.

(14)   Pada tanggal 30 Mei 2006 melalui fasilitasi Bapemdes telah dilakukan
       presentasi hasil kegiatan tahun 2005 di aula Kecamatan Nagrak, yang dihadiri
       oleh kepala kantor dan Staf Bapemdes, pihak kecamatan, lima kepala desa
       yang berbatasan dengan Desa Balekambang, para penyuluh pertanian serta
       para petani anggota kelompok. Materi presentasi tampak mampu menggugah
       para pejabat untuk berbuat yang terbaik bagi masyarakat. Kehidupan
       masyarakat pedesaan yang semakin berat dijadikan ilustrasi dalam presentasi
       tsb. untuk menyentak nurani para pejabat yang hadir. Petani bertanya secara
       langsung tentang dana pembangunan yang dikelola desa. Secara keseluruhan,
       presentasi menjadi awal dalam menjadikan petani sebagai pihak yang kritis
       terhadap jalannya pembangunan.

(15)   Potensi remaja di Dusun Pasantren telah diidentifikasi pada tahun 2005.
       Beberapa orang menunjukkan ketertarikan dalam bertani. Dengan disewanya
       lahan seluas 1.000 m2 oleh tim, mereka akan menggarap lahan tsb. dengan
       menanam       pepaya.   Dari   pepaya, para    remaja    tersebut akan     mampu
       merencanakan kegiatan produktif lainnya di masa yang akan datang. Melihat
       respon para remaja, tampaknya fasilitasi tim mampu memberi motivasi kepada
       mereka untuk bangkit. Sebuah pemancar radio yang telah didirikan dan
       ditempatkan di kios saprotan memperoleh respon positif dari para remaja. Jenis
       pemberdayaan masyarakat memang tidak terbatas dan entry pointnya tidak
       selalu berawal dari sektor pertanian. Remaja putri akan lebih memperoleh
       perhatian di Dusun Pasantren diharapkan dapat mulai didampingi pada kegiatan
       tahun 2007.

(16)   Kelompok simpan pinjam berawal dari arisan harian yang dimodifikasi dan
       difasilitasi tim. Dimulai pada Juli 2006, kelompok terinspirasi oleh dua hal, yaitu
       (i) bergantungnya mereka pada bank keliling, dan (ii) arisan 20 orang ibu-ibu
       dengan uang harian Rp. 1.000. Simpan pinjam dimulai dengan 15 ibu-ibu yang
       domisilinya berdekatan. Setiap lima orang dipimpin oleh seorang ketua dengan



                                           vii
       tugas mengumpulkan angsuran harian. Ketua ini kemudian akan melapor ke
       pemegang buku dan menyetorkan uang tagihan kepada bendahara pada hari
       yang sama. Modal awal ditanggulangi oleh tim. Sebagai rambu-rambu awal,
       setiap orang dapat meminjam maksimal Rp. 100.000, diangsur selama 35 hari
       sebesar Rp. 3.000/hari, sehingga setiap anggota memberi kelebihan Rp. 5.000
       kepada kelompok dalam setiap putaran pinjaman.

(17)   Arah simpan pinjam adalah mengumpulkan modal bersama, dalam rangka
       pemberdayaan ibu-ibu, sedang modal awal sebagai media berlatih tahap awal.
       Ketidakberdayaan pada bank keliling serta arisan yang tidak menyisihkan
       sebagian uang yang diterima untuk mengisi kas kelompok menjadikan simpan
       pinjam menjadi lebih berarti. Kalau hasilnya positif, kemungkinan dikembangkan
       untuk kelompok ibu-ibu lainnya pada kegiatan tahun 2007. Tim Kaji Tindak akan
       terus mengikuti perkembangan usaha simpan pinjam ini

(18)   Analisis Skala Likert yang meliputi persepsi anggota dan non-anggota kelompok
       tani terhadap kegiatan kelompok, serta persepsi anggota dan non-anggota
       simpan pinjam terhadap simpan pinjam yang mereka ikuti memberi gambaran
       bahwa mereka memperoleh banyak manfaat. Namun, tampaknya pengumpulan
       dana bersama bukan merupakan hal yang mudah, karena selama ini umumnya
       petani menerima bantuan tanpa harus berpartisipasi secara penuh. Non
       anggota pada umumnya mengetahui keberadaan kelompok, manfaat kelompok
       bagi anggota dan keinginan menjadi anggota kelompok relatif tinggi. Sebaliknya,
       mereka kurang mengetahui detil tentang jenis kegiatan tim kaji tindak, kegiatan
       kelompok dan manfaat bagi non-anggota.

(19)   Tim berhubungan dengan empat instansi di Kabupaten Bogor, yaitu Badan
       Perencanaan Daerah (Bapeda), Badan Pemberdayaan Masyarakat dan
       Kesejahteraan Sosial (BPMKS), Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag)
       dan Dinas Peternakan dan Perikanan. Kerja sama dengan BPMKS dilakukan
       dalam bentuk presentasi hasil kajian tahun 2005 pada tanggal 9 Agustus 2006.
       Presentasi tersebut dihadiri antara lain dari Bapeda, Dinas Perindustrian dan
       Perdagangan, BPMKS, Dinas Peternakan dan Perikanan, Dinas Pertanian dan
       Kehutanan, Kepala Urusan Perekonomian Kecamatan Babakan Madang dan
       Kepala Desa Kadumanggu. Sebagian besar peserta presentasi baru memahami
       bahwa selama ini kegiatan pemberdayaan masyarakat masih berorientasi pada



                                         viii
       aspek administrasi. Mereka belum memahami bahwa kegiatan pemberdayaan
       masyarakat harus berawal dari masyarakat sendiri.

(20)   Melalui fasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan telah dilakukan pelatihan
       bertahap membuat kerajinan alat rumah tangga di Laa NoNa Galery yang
       merupakan kegiatan awal Kelompok Pengrajin Maju Bersama. Selain itu telah
       dilakukan pelatihan tataboga di Desa Kadumanggu pada tanggal 16-20
       November 2005 atas fasilitasi Bidang Pembinaan Keterampilan Binram,
       BPMKS. Pelatihan diikuti oleh 33 orang peserta, terdiri dari anggota Kelompok
       Maju Bersama dan non-anggota. Setiap peserta diberi uang insentif yang
       sebagian disisihkan untuk kas kelompok sebagai modal awal usaha kelompok
       tataboga.

(21)   Kontak dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor telah
       dilakukan sejak awal tahun 2005, khususnya dengan Bagian Kesehatan Hewan.
       Dinas tsb. mempunyai kebijakan untuk tidak melakukan pengembangan ternak
       di daerah endemik anthrax. Kebijakan tersebut mengakibatkan tidak ada
       bantuan bagi para peternak di Dusun Leuwijambe, kecuali program vaksinasi
       anthrax setiap enam bulan. Melalui berbagai pendekatan, telah terjalin
       kerjasama dengan para peternak dan telah terlaksana penyuluhan Sapta Usaha
       Peternakan sebanyak 9 kali, dengan dana dari Tim. Penyuluhan peternakan
       bertujuan memberikan pengetahuan praktis tata-cara pemeliharaan ternak yang
       baik dan menguntungkan. Informasi tentang cara beternak sehat, sehingga tidak
       akan mengganggu kesehatan peternak dan keluarganya serta lingkungannya
       juga diberikan.

(22)   Pelatihan di Laa NoNa Galery dilakukan secara “magang kintilan”, artinya,
       peserta melihat terlebih dulu, kemudian praktek dengan mengikuti cara orang
       yang sudah bisa, agar alih teknologi berjalan cepat. Antusiasme, keseriusan
       bahkan kreativitas anggota kelompok dapat diamati selama pelatihan. Setelah
       terampil, mereka mampu memproduksi sendiri berbagai jenis tudung saji, hiasan
       dinding dan tutup galon air minum. Kelompok Maju Bersama difasilitasi tim
       dengan modal, yang seluruh pengembalian modal dijadikan kas kelompok.

(23)   Pameran telah diikuti kelompok Maju Bersama dalam rangka promosi adalah: (i)
       dalam rangka Hari Jadi Kota Bogor ke 524 di Kantor Kecamatan Babakan
       Madang tanggal 10 Mei 2006, (ii) dalam rangka Seminar Nasional Usaha Kecil


                                          ix
       Menengah dan Koperasi (UKMK) di Universitas Nusa Bangsa (UNB) Bogor,
       tanggal 24 Juni 2006, (iii) pameran di JHCC tanggal 10 Juni 2006 dan 13-16 Juli
       2006 atas fasilitasi pemilik galery. (iv) pameran di komplek Pemda Bogor
       selama 3 hari yang dimulai tanggal 26 Juni 2006, (v) pameran di pertemuan
       Dharma Wanita Kelompok PSE-KP, 15 September 2006, (vi) pameran pada
       saat Bazaar Ramadhan Dharma Wanita Departemen Pertanian di Ragunan,
       tanggal 12 Oktober 2006 dan (vii) pameran di lokasi bedah kampung di Desa
       Cipambuan, Babakan Madang dalam rangka kunjungan PKK Provinsi Jambi
       yang dipimpin oleh ibu gubernur            Jambi. Melalui   pameran, kelompok
       diperkenalkan dengan berbagai peluang, sehingga wawasan para anggota terus
       berkembang.

(24)   Sementara ini telah ditumbuhkan tiga kelompok simpan pinjam di Leuwijambe,
       yaitu di RT 1, 2 dan 5 yang masing-masing kelompok terdiri dari 10 orang
       anggota. Semua peserta mempunyai usaha skala kecil, bervariasi dari
       pedagang bakso, warung di rumah, pedagang empek-empek, pedagang es,
       pedagang ayam dsb. Umumnya mereka menjadi langganan bank keliling yang
       menetapkan bunga lebih dari 30% per bulan. Simpan pinjam rintisan disambut
       dengan antusias oleh peserta, terbukti ada diantaranya yang menginginkan
       jumlah pinjaman lebih besar dari yang diberikan. Kegiatan simpan pinjam ini
       mungkin dapat dijadikan kegiatan utama pemberdayaan di Dusun Leuwijambe,
       karena masyarakat memerlukan modal untuk usaha, namun selama ini selalu
       bergantung pada jasa dari bank keliling.

(25)   Secara umum, anggota kelompok kerajinan memberi nilai baik terhadap
       kegiatan yang mereka ikuti, namun karena masih relatif dini untuk dapat menilai
       kegiatan kelompok, maka persepsi non-anggota belum dapat disajikan. Fasilitasi
       tim pada kegiatan kerajinan mendapatkan predikat baik (nilai 4,17). Peserta
       penyuluhan peternakan menilai waktu dan lamanya penyuluhan mendekati baik,
       masing-masing 3,60 dan 3,80. Kualitas narasumber dinilai cukup baik dengan
       nilai 4,60, sedang persepsi terhadap materi penyuluhan dan fasilitasi tim
       mendekati sangat baik (nilai 4,80). Uji penyerapan materi penyuluhan terhadap
       17 orang peserta menunjukkan nilai rata-rata 7,18. Seorang menjawab benar
       semua (nilai 10), sedang 4 orang peserta memperoleh nilai 9. Persepsi anggota
       terhadap kegiatan simpan pinjam sangat positif, bahkan untuk penentuan



                                           x
       anggota dan adanya aturan untuk pertemuan secara rutin memperoleh nilai
       tertinggi, yaitu 5.


KESIMPULAN DAN IMPLIKASI KEBIJAKAN

Kesimpulan

Kabupaten Sukabumi

26.   Di Dusun Pasantren, telah berhasil dibentuk kelompok tani yang bernama
      Kelompok Tani Binangkit. Kelompok tani ini terdiri dari kelompok inti (23 orang)
      dan kelompok pengembangan dengan jumlah anggota seluruhnya sekitar 40
      orang. Kelompok tani remaja pun menjadi bagian dari kelompok inti.
      Kepercayaan diri kelompok ini mulai berkembang sebagai hasil dari berbagai
      pelatihan dan studi banding serta fasilitasi dari Tim. Indikasinya adalah
      terwujudnya pengumpulan modal kelompok melalui usahatani pepaya dan
      pembentukan kios saprotan dan jual beli hasil pertanian.

27. Kelompok mulai menyadari arti penting melakukan usahatani yang ramah
      lingkungan, namun terdapat kendala baru, yaitu kurangnya persediaan bahan
      pembuatan pupuk organik. Kendala tersebut hampir dapat diselesaikan dengan
      cara kelompok tani menjadi mitra kerja Program Kampoeng Ternak, Dompet
      Dhuafa. Direncanakan setelah Idul Adha (Januari 2007), ternak Domba Garut
      akan diberikan kepada kelompok tani untuk dipelihara. Prosedur yang sudah
      dilalui adalah Studi Kelayakan Wilayah dan Studi Kelayakan Mitra.

28. Telah dilakukan ekspose hasil kegiatan 2005 di Kantor Kecamatan Nagrak pada
      tanggal 30 Mei 2006 yang dihadiri oleh Kepala Kantor Bapemdes Kabupaten
      Sukabumi. Tujuan ekspose adalah untuk menginformasikan hasil kegiatan 2005,
      disamping untuk tatap muka dan saling mengenal antara tim dengan berbagai
      pihak, seperti Staf Bapemdes, pihak kecamatan, lima desa yang berdekatan
      dengan Desa Balekambang dan para penyuluh di Kecamatan Nagraak.

29. Sebagian remaja tani telah memperoleh peluang untuk menggarap sebidang
      lahan sewa seluas 1.000 m2. Sebelum ditanami pepaya, lahan tersebut ditanami
      kacang panjang terlebih dahulu. Tim telah memfasilitasi biaya menanam kacang
      panjang dan pepaya. Dari hasil pepaya, sebagian keuntungan akan disetor ke
      kelompok sebagai modal untuk membiayai kegiatan produktif berikutnya.


                                          xi
      Fasilitasi tim tampak mampu memberi motivasi kepada mereka untuk bangkit
      perlahan-lahan dan mulai berkarya. Masalah utama yang dihadapi remaja adalah
      peluang berusaha yang belum pernah datang. Oleh karena itu, peningkatan
      keterampilan merupakan suatu keharusan agar kepercayaan diri meningkat dan
      disamping itu, pemberdayaan masyarakat tidak terbatas pada sektor pertanian.

30.   Kegiatan simpan pinjam ibu-ibu yang dimulai pada pertengahan 2006 merupakan
      salah satu upaya untuk pemberdayaan ibu-ibu yang selama ini ketergantungan
      mereka terhadap bank keliling ternyata relatif tinggi. Simpan pinjam ini pada
      tahap awal dimulai dengan 15 orang ibu-ibu yang domisilinya saling berdekatan.
      Modal awal ditanggulangi oleh tim, sedang pencatatan dilakukan sendiri oleh
      kelompok. Berkembangnya kegiatan simpan pinjam ibu-ibu menjadi indikator
      perlunya kegiatan ini diperluas di kelompok yang berbeda. Minimnya kemampuan
      masyarakat mengumpulkan modal bersama, dapat dijadikan salah satu
      pertimbangan untuk pengembangan pemupukan modal melalui simpan pinjam.
      Fokus kegiatan tahun 2007 dapat diarahkan pada simpan pinjam ini.

31. Tiga kegiatan kaji tindak yaitu (i) penguatan kelompok (ii) pelatihan LPS di
      Pasantren dan (iii) kunjungan ke LPS dan TDS dianalisis menurut persepsi
      anggota kelompok. Semua kegiatan yang berkaitan dengan penguatan kelompok
      di apresiasi dengan baik oleh para anggota kelompok, kecuali terjadi pada dua
      hal, yaitu mengisi kas kelompok dan memotong sebagian hasil panen. Terhadap
      pelatihan LPS dan kunjungan ke LPS dan TDS persepsi anggota umum nya baik.

32.   Persepsi non-anggota relatif berbeda dengan anggota. Hasil analisis Skala Likert
      relatif baik untuk pengetahuan mereka tentang keberadaan kelompok, manfaat
      kelompok dan keinginan menjadi anggota. Sebaliknya, pengetahuan mereka
      tentang jenis kegiatan tim kaji tindak, kegiatan kelompok dan manfaat bagi non-
      anggota. Demikian pula dengan kegiatan pelatihan oleh LPS termasuk
      materinya, pengetahuan mereka juga relatif rendah. Mereka menganggap
      kunjungan ke LPS bermanfaat bagi anggota, tetapi tidak bagi non-anggota.

33.   Persepsi anggota kelompok terhadap kegiatan simpan pinjam relatif bervariasi.
      Untuk fasilitasi tim, aturan pertemuan pemilihan, penentuan anggota dan
      prosedur pemberian pinjaman, dianggap baik, sebaliknya untuk besar pinjaman
      dan minimnya anggota yang menghadiri pertemuan kurang dianggap baik.
      Penilaian non-anggota terhadap prosedur pemberian pinjaman dan aturan


                                          xii
      pertemuan rutin cukup baik, sebaliknya untuk jenis fasilitasi tim dan besaran
      pinjaman kuraap baik.



Kabupaten Bogor

34. Terhadap empat instansi di tingkat Pemda Kabupaten Bogor telah dilakukan
      koordinasi, yaitu dengan Badan Perencanaan Daerah (Bapeda), Badan
      Pemberdayaan     Masyarakat   dan    Kesejahteraan   Sosial   (BPMKS),   Dinas
      Perindustrian dan Perdagangan (Indag) dan Dinas Peternakan dan Perikanan.
      Peran PSE-KP dalam pembangunan di Kabupaten Bogor dapat dilakukan antara
      lain dengan: (i) mengadakan kunjungan formal; (ii) mengupayakan seminar
      bersama, antara Pemda Bogor dengan PSE-KP; dan (iii) melakukan program
      pelatihan bagi aparat Pemda, sesuai kebutuhan.

35.   Pelatihan bagi kelompok pengrajin rumah tangga “Maju Bersama” di Laa NoNa
      Galery di Cikaret, Cibinong diawali melalui kontak dengan Dinas Perindustrian
      dan Perdagangan Pemda Kabupaten Bogor. Pelatihan dilakukan secara
      “magang kintilan” atau learning by doing. Dengan Dinas Peternakan dan
      Perikanan telah dilakukan 9 kali penyuluhan Sapta Usaha Peternakan dan
      dengan Bidang Pembinaan Keterampilan Masyarakat Binram, Kantor BPMKS
      telah dilakukan pelatihan tata boga selama lima hari, yang dimulai pada tanggal
      16 Nopember 2006.

36.   Kelompok pengrajin telah mampu membuat berbagai jenis kerajinan tangga,
      seperti tudung saji, hiasan dinding dan tutup galon air minum. Kemampuan tsb.
      dibuktikan dengan mengikuti berbagai pameran, antara lain di Kantor Kecamatan
      Babakan Madang, di Seminar Nasional Usaha Kecil Menengah dan Koperasi
      (UKMK) di Universitas Nusa Bangsa Bogor (24 Juni 2006), di kompleks Pemda
      Bogor (akhir Juni 2006) dan dua kali pameran di JHCC (10 Juni dan 13-16 Juli
      2006). Ke tiga pameran terakhir dilakukan bersama-sama dengan Laa NoNa
      Galery. Pameran berikutnya adalah di pertemuan Dharma Wanita Kelompok
      PSE-KP (15 September 2006), di Bazaar Ramadhan Dharma Wanita
      Departemen Pertanian di Ragunan (12 Oktober 2006) dan di Desa Cipambuan
      (24 November 2006).




                                          xiii
37. Presentasi hasil Kaji Tindak T.A. 2005 telah dilakukan melalui fasilitasi Bidang
      Kesejahteraan Sosial, Kantor BPMKS, pada tanggal 9 Agustus 2006 di aula
      Kantor BPMKS. Presentasi dimaksudkan untuk memberi peluang bagi jajaran
      Pemda yang hadir agar terdedah dengan kegiatan pemberdayaan masyarakat.
      Selain itu juga dimaksudkan agar timbul sinergisme diantara instansi Pemda
      dalam pemberdayaan masyarakat.

38.   Pemahaman      sebagian    besar    peserta      presentasi      terhadap        kegiatan
      pemberdayaan masyarakat yang harus berawal dari masyarakat belum
      memadai. Orientasi keberhasilan kegiatan pemberdayaan masyarakat baru
      berorientasi pada aspek administrasi. Keberlanjutan dan meningkatnya taraf
      kehidupan masyarakat sebagai indikator keberhasilan kegiatan juga belum
      menjadi acuan baku dalam melaksanakan program pembangunan.

39.   Peningkatan keterampilan dalam memelihara ruminansia kecil tampaknya dapat
      diupayakan melalui Penyuluhan Sapta Usaha Peternakan. Termasuk dalam
      paket penyuluhan adalah informasi tentang cara beternak yang sehat, tidak
      mengganggu     kesehatan    peternak     dan     keluarganya         serta   lingkungan.
      Pengembangan     masyarakat    melalui   usaha         peternakan     ruminansia    kecil
      menghadapi dilema dengan adanya kenyataan bahwa daerah endemik anthrax
      tidak boleh dilakukan pengembangan ternak rawan anthrax.

40.   Kelompok simpan pinjam yang dipersiapkan melalui ketua RT, seperti kasus di
      RT 2, relatif lebih baik dibanding dengan kelompok lainnya yang kurang
      disiapkan, sehingga dapat menjadi contoh. Kegiatan simpan pinjam dalam
      rangka    pemupukan    modal   kelompok        perlu     dijadikan    kegiatan     utama
      pemberdayaan di Dusun Leuwijambe. Ketiadaan modal di desa berakibat pada
      ketergantungan mereka kepada pihak bank keliling yang menetapkan bunga
      tinggi.

41.   Hasil analisis persepsi anggota kelompok pengrajin menunjukkan anggota
      kelompok menilai baik kegiatan yang mereka ikuti, termasuk partisipasi dalam
      pameran dan fasilitasi tim. Peserta penyuluhan Sapta Usaha Peternakan
      menganggap waktu dan lamanya penyuluhan hampir baik dan kualitas nara
      sumber dinilai cukup baik, sedang kualitas materi penyuluhan dan fasilitasi
      dianggap sangat baik. Dari seluruh materi penyuluhan, oleh peserta yang hadir
      pada penyuluhan terakhir dapat diserap sekitar 70 persen.


                                         xiv
42.   Anggota kelompok simpan pinjam sangat antusias, seperti tercermin dari
      persepsi mereka terhadap kegiatan ini dan analisis Skala Likert menunjukkan hal
      ini. Untuk penentuan anggota dan adanya aturan untuk pertemuan secara rutin
      dianggap sempurna. Besar pinjaman, prosedur peminjaman, besar angsuran,
      dan juga dianggap sangat baik. Hal ini berarti anggota sangat menyetujui
      pengaturan simpan pinjam tersebut.




                                           xv

								
To top